Anda di halaman 1dari 18

KAYU LAMINASI

Selli Novia F221 15 077

FAKULTAS TEKNIK

JURUSAN ARSITEKTUR

UNIVERSITAS TADULAKO
KATA PENGANTAR
Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya Penulis dapat menyelesaikan makalah
tentang Kayu Laminasi ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.

Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai Kayu Laminasi. Penulis juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Oleh sebab itu, Penulis berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah
yang telah Penulis buat di masa yang akan datang.

Palu, April 2016

Penulis

Kayu Laminasi 1
Daftar Isi
KATA PENGANTAR................................................................................................... 1

DAFTAR ISI............................................................................................................... 2

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang .................................................................................................. 3


1.2. Rumusan Masalah ............................................................................................ 4
1.3. Tujuan ............................................................................................................... 4
1.4. Metode Penelitian ............................................................................................ 5

BAB II ISI

2.1. Kayu Laminasi................................................................................................... 6

2.2. Sejarah Kayu Laminasi...................................................................................... 6

2.3. Keuntungan dan Kekurangan Kayu Laminasi ................................................... 7

2.4. Jenis-Jenis Kayu Laminasi ................................................................................ 8

2.5. Pembuatan Kayu Laminasi ............................................................................... 9

2.6. Pengaplikasian Kayu Laminasi......................................................................... 12

BAB II PENUTUP

3.1. Kesimpulan ...................................................................................................... 16


3.2. Saran ................................................................................................................ 16

DAFTAR ISI.............................................................................................................. 17

Kayu Laminasi 2
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Material kayu, sebenarnya merupakan salah satu material konstruksi yang dapat
diperbaharui dan sangat mendukung program ecogreen. Tanaman dan hutan kayu dapat
menjadi paru-paru dunia dan produksi material kayu konstruksi menghasilkan emisi gas
karbon yang paling sedikit dibandingkan material konstruksi lainnya.
Sayangnya, saat ini penebangan dan penanaman kembali tanaman kayu belum
mencapai keseimbangan. Masih banyak tanaman kayu yang ditebang dibandingkan dengan
penanaman kembali (reboisasi). Hal itu tentu menyebabkan ketersediaannya menjadi sangat
berkurang, apalagi untuk tanaman kayu jenis kayu keras dan lama tumbuhnya. Harga kayu
menjadi melambung tinggi.

Gambar 1.1. Hutan sebagai Paru-Paru Dunia


kaltim.tribunnews.com

nasional.kontan.co.id sumut-berita.blogspot.com
Gambar1.2. Penebangan Hutan yang Tidak Sesuai

Oleh karena itu, upaya mencari alternatif material kayu sebagai pengganti kayu keras
perlu dilakukan. Ketersediaannya dipenuhi dengan menanam tanaman kayu yang cepat
tumbuh dan cepat untuk dapat digunakan sebagai material konstruksi seperti sengon, jati
kebon, akasia, pinus dan kayu konifer lainnya. Konsekuensi tanaman kayu yang cepat

Kayu Laminasi 3
tumbuh tentunya akan menghasilkan kayu yang kurang keras dan mempunyai berat jenis
yang tidak tinggi, serta mempunyai bentuk geometri penampang yang tidak besar karena
umur tanaman yang relatif cepat.
Salah satu upaya adalah membuat kayu laminasi, atau terkadang ada yang menyebut
sebagai kayu glulam (glue laminated). Lembaran papan-papan kayu atau potongan kayu-
kayu yang relatif kecil disusun dan direkatkan dengan lem dengan arah serat yang sejajar.
Laminasi papan-papan kayu ini akan menyebabkan dimensi dan penampang kayu menjadi
lebih besar dan dengan memampatkan juga akan diperoleh berat jenis yang lebih besar.
Disamping itu, dengan dibuat lembaran-lembaran papan, maka kualitas dan kadar air
(kekeringan) kayu dapat dikontrol dengan baik.

1.2. Rumusan Masalah


Sejalan dengan latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan rumusan masalah
sebagai berikut:
1. Apakah kayu laminasi itu ?
2. Bagaimana sejarah pembuatan kayu laminasi ?
3. Apa Keuntungan dan Kekurangan penggunaan kayu laminasi!
4. Apasajakah jenis-jenis dari kayu laminasi?
5. Bagaimana cara pembuatan kayu laminasi ?
6. Bagaimana pengaplikasian Kayu Laminasi ?

1.3. Tujuan
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk
mengetahui:
1. Defenisi kayu laminasi
2. Sejarah pembuatan kayu laminasi
3. Keuntungan dan kekurangan kayu laminasi
4. Jenis-jenis kayu laminasi
5. Cara pembuatan kayu laminasi
6. Pengaplikasian kayu laminasi

Kayu Laminasi 4
1.4. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan langkah penting di dalam penyusunan makalah,
khusnya pada materi kayu laminasi ini. Di dalam kegiatan penyusunan makalah ini, saya
melakukan pengumpulan data melalui cara:
1. Pengambilan bahan materi dari situs-situs internet
Dalam penulisan makalah ini, untuk mendapatkan informasi tentang Kayu Lamasi,
maka saya melakukan suatu metode pengambilan bahan materi melalui situs-situs
internet terpercaya, yang berhubungan dengan materi Kayu Laminasi tersebut.

2. Pengambilan dari reverensi buku-buku


Selain mengambil data/informasi dari situs internet, saya juga mengambil
data/informasi dari reverensi buku-buku yang berhubungan dengan Kayu Laminasi.
Dengan tujuan, untuk melengkapi data yang ada.

BAB II ISI
Kayu Laminasi 5
2.1. Kayu Laminasi

nehcdraw.wordpress.com astudioarchitect-com.blogspot.com
Gambar2.1. Kayu Laminasi

Bodig dan Jayne (1982) menyatakan bahwa kayu laminasi adalah salah satu komponen kayu
komposit yang berfungsi untuk mengontrol atau mengatur sifat produk melalui desain dan
telah dipraktekkan selama beberapa tahun. Layered Composite System, khususnya kayu
laminasi dibuat untuk meningkatkan penggunaannya di dalam struktur perencanaan.

Kayu laminasi (glued laminated wood) adalah suatu batang yang dibuat dari beberapa
lapisan kayu dengan lebar tertentu, biasanya antara 2,5-5,0 cm direkat dengan lain sehingga
semua lapisan arah seratnya sama dengan sumbu memanjang (Hansen, 1948).
Melalui Konstruksi kayu Indonesia tahun 1961 balok laminasi disebut Konstruksi berlapis
majemuk, yaitu konstruksi yang menggunakan papan tipis yang diletakkan satu dengan
yang lain sehingga menjadi balok uang berukuran besar. Tetapi tebal tipisnya suatu papan
disarankan 25-50mm. Disamping itu, balok laminasi memilki cara penempatan berdasarkan
bebannya, yaitu: balok laminasi horizontal dan vertical. Sedangkan bentuk kayu yang
berdasarkan bentuk penampang melintang dibedakan menjadi balok T, balok I, balok papan
dan balok persegi panjang (Bodig dan Jayne, 1982). Balok laminasi memilki sifat fisis dan
mekanis yang dapat diketahui, yaitu: BJ (berat jenis) dari kayu, kadar air tidak boleh lebih
dari 18% dan antara papan kadar airnya paling besar 3%, proses pengembangan atau
penyusutan balok laminasi, sifat kekakuan, dan keteguhan lentur elastic statis (MOR).

2.2. Sejarah Pembuatan Laminasi


Laminasi pertama kali digunakan di eropa pada konstruksi sebuah auditorium di kota
Basel, Swiss, pada tahun 1893, sistem ini dipatenkan sebagai Hertzer System dan
menggunakan lem yang tidak waterproof. Dengan demikian aplikasi ini hanya dapat
digunakan pada kondisi kering. Perkembangan enis lem yang digunakan selama masa perang
dunia pertama menstimulasi penggunaan laminasi pada pesawat dan rangka bangunan. Di
Amerika salah satu dari lengkung laminasi pertama yang dibangun ada pada gedung USDA
Forest Service, Forest Product Laboratory, Madison, Wisconsin.
Perang dunia kedua memacu minat yang baru pada pengembangan lem dari resin
syntetic yang waterproof. Hal ini membuat laminasi dapat digunakan pada jembatan kayu

Kayu Laminasi 6
dan aplikasi ekterior lainnya. Pada awal tahun 1950an paling terdapat selusin pabrik kayu
laminasi yang tergabung dalam American Institute of Timber Construction (AITC). Pada
tahun 1963, Asosiasi ini membuat standar nasional pertama. Dan dan standar ini terus
diupdate oleh AITC. Pada pertengahan 1990an terdapat 30 perusahaan di seluruh Amerika
Serikat dan Kanada yang memproduksi laminasi sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh
AITC.

2.3. Keuntungan dan Kekurangan Penggunakan Kayu Laminasi


Serrano (2003) menyatakan bahwa keuntungan dan kekurangan penggunaan kayu
laminasi yaitu :
a. Keuntungannya :
1. Memberikan pilihan bentuk geometri lebih beragam.
2. Memungkinkan untuk penyesuaian kualitas laminasi dengan tingkat tegangan yang
diinginkan.
3. Meningkatkan akurasi dimensi, dan stabilitas bentuk.

Dan Kelebihan lainnya yaitu :


a) Pengadaan material kayu yang akan dilaminasi lebih mudah dan cepat.
b) Penggunaan kayu lebih optimal dan dapat dibuat dengan dimensi dan bentuk
(lengkung) sesuai dengan kebutuhan.
c) Sedikit menggunakan pengikat mekanis (baut, paku), karena hanya
menggunakan lem.
d) Proses pemilahan kayu yang cacat akan lebih mudah.
e) Kayu laminasi lebih kedap air.
f) Proses pengawetan dan ketahanan terhadap jamur dan serangga dapat langsung
dilakukan dengan lebih mudah.

Gambar 2.2. Balok Laminasi Bentuk Lengkung


repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/956/1/132303840.pdf

b. Kekurangannya :
1. Apabila kayu solid tersedia dalam ukuran yang diperlukan, maka proses tambahan
dalam pembuatan kayu laminasi akan meningkatkan biaya produksinya melebihi
kayu gergajian.
2. Pembuatan kayu laminasi memerlukan peralatan khusus, perekat, fasilitas pabrik
dan keahlian dalam pembuatannya, dibandingkan bila memproduksi kayu gergajian.

Kayu Laminasi 7
3. Semua tahap dalam proses pembuatan memerlukan perhatian untuk menjamin
produk akhir yang berkualitas tinggi (Moody et al. 1999).

2.4. Jenis Jenis Kayu Laminasi


1. Struktur lentur
Laminasi yang tersusun dari kayu yang berbeda kualitasnya atau biasa disebut dengan
laminasi. Laminasi biasanya digunakan untuk menahan gaya lentur. Jenis ini
dikembangkan untuk menghasilkan bahan yang ekonomis dan efisien untuk menahan
gaya lentur yang diakibatkan oleh beban tegak lurus sisi lebar kayu. Laminasi jenis ini
biasa digunakan untuk komponen yang dipasang horizontal. Untuk mengoptimalkan
kekakuan dari kayu, sejumlah kayu dengan kualitas bagus dapat ditambahkan di sisi luar
dengan jumlah yang sama antara sisi atas dan bawah. Untuk mengoptimalkan kekuatan
lentur dari balok, jumlah lapisan kayu kualitas bagus dapat diperbanyak pada sisi tekan
dari struktur.

2. Struktur tekan
Laminasi juga didesain untuk menahan gaya tekan dan gaya lentur yang searah dengn
sisi lebar dari kayu laminasi. Laminasi jenis ini biasanya digunakan untuk komponen yang
dipasang vertikal. Tidak seperti struktur lentur yang didesain dengan kualitas kayu yang
seragam, laminasi untuk struktur tekan dibuat dari kayu yang kualitasnya seragam.
Karena penempatan jenis material yang salah dapat menyebabkan kurangnya efisiensi
dan keuntungan ekonomi yang didapat bila dibandingkan dengan struktur lentur. Bagian
Lengkung (struktur lengkung) Kombinasi kualitas kayu yang efisien pada struktur
lengkung hampir sama dengan kombinasi kayu pada struktur horizontal. Tegangan dan
tekanan dianalisa sebagai gaya tangensial yang bekerja pada bagian lengkung dari
struktur. Ada perilaku unik yang ditunjukkan oleh struktur, jika jari jari kelengkungan
laminasi berkurang, tekanan radial yang terbentuk dibagian lengkung balok akan
meningkat. Karena kekuatan kayu tegak lurus serat yang lebih rendah dari kekuatan
sejajar serat, tekanan radial ini menjadi faktor kritis dari design laminasi lengkung.
Bagian lengkung ini biasa diproduksi dengan ketebalan standar 19 sampai 38 mm.
Normalnya sudut lengkung yang didapat dari kayu dengan tebal 19 mm akan lebih tebal
daripada kayu dengan tebal 38 mm. Disarankan rasio tebal kayu (t) berbanding jari jari
kelengkungan (R), tidak boleh melebihi 1/100 untuk kayu keras dan 1/125 untuk kayu
lunak.

3. Struktur Lengkung
Kombinasi kualitas kayu yang efisien pada struktur lengkung hampir sama
dengankombinasi kayu pad struktur horizontal. Tegangan dan tekanan dianalisa
sebagaigaya tangensial yang bekerja pada bagian lengkung dari struktur. Ada perilaku
unikyang ditunjukkan oleh struktur, jika jari jari kelengkungan laminasi
berkurang,tekanan radial yang terbentuk dibagian lengkung balok akan meningkat.
Karenakekuatan kayu tegak lurus serat yang lebih rendah dari kekuatan sejajar
serat,tekanan radial ini menjadi faktor kritis dari design laminasi lengkung.
Bagianlengkung ini biasa diproduksi dengan ketebalan standar 19 sampai 38
mm.Normalnya sudut lengkung yang didapat dari kayu dengan tebal 19 mm akan
lebihtebal daripada kayu dengan tebal 38 mm. Disarankan rasio tebal kayu (t)

Kayu Laminasi 8
berbanding jarijari kelengkungan (R), tidak boleh melebihi 1/100 untuk kayu keras dan
1/125untuk kayu lunak.

4. Struktur runcing
Balok laminasi seringkali diruncingkan, dikerat sisi- sisinya untuk memenuhi kebutuhan
arsitektur, menyediakan atap lengkung, mempermudah jalannya drainasi, dan
memenuhi persyaratan dinding yang lebih rendah pada ujung tiang. Peruncingan
dilakukan dengan menggergaji miring pada sisi yang diinginkan. Disarankan untuk
membuat potongan hanya pada sisi tekan dari balok. Karena mengusik sisi tarik dari
balok dapat menurunkan kekuatan kayu secara keseluruhan.

2.5. Pembuatan Kayu Laminasi


Pembuatan kayu laminasi (glulam timber) harus mengikuti standar nasional untuk
menyamakan nilai kualitasnya. Kualitas kayu dan kekuatan perekat harus mampu
menunjukkan keseimbangan dalam pengaplikasiannya pada suatu struktur. Proses
pembuatan kayu laminasi dapat dibagi menjadi 4 langkah, yaitu :
1. Pengeringan dan klasifikasi kayu
2. Penyambungan kayu
3. Perekatan antar lapisan papan kayu
4. Penyempurnaan dan fabrikasi
5. Pengawetan kayu

www.peluangproperti.com uruhara69.blogspot.com

Kayu Laminasi 9
Gambar 2.3. www.galleryparquet.com

Perbaikan dan Pemasangan Lantai yang Bahan Dasarnya dari Kayu Laminasi

Pada kondisi tertentu, jika kayu laminasi akan digunakan pada kondisi yang tingkat
kelembabannya tinggi, maka diperlukan juga perlakuan khusus dengan cara melakukan
proses pengawetan kayu. Selain itu, langkah akhir untuk menentukan kualitas kayu adalah
penjagaan kayu laminasi selama pemindahan dan penyimpanan kayu.

a. Pengeringan dan klasifikasi kayu


Untuk meminimalisir perubahan dimensi pada saat pembuatan dan untuk meningkatkan
kekuatan strukturalnya, maka kayu perlu dikeringkan dengan baik. Kadar air maksimum
yang diperbolehkan berdasarkan standar ANSI adalah 16%. Perbedaan maksimum kadar
air pada masing masing lapisan papan kayu yang diperbolehkan adalah 5%. Hal ini
untuk mencegah dan meminimalisir perubahan dimensi yang berbeda beda dari tiap
lapisan pada saat proses pembuatan. Kayu yang banyak digunakan untuk membuat kayu
laminasi biasanya memiliki kadar air sekitar 12%, alasannya adalah kayu dengan kadar
air tersebut akan mempermudah proses penyambungan kayu (menghasilkan rekatan
yang lebih kuat). Terdapat 2 cara untuk mengklasifikasi kayu yang digunakan sebagai
kayu laminasi, yaitu visual grading dan E-rating. Visual grading adalah klasifikasi kayu
yang dilakukan secara visual dengan memperhatikan keberadaan retak, mata kayu,
kemiringan serat, dan beberapa karakteristik lainnya. Sedangkan E-rating adalah
klasifikasi kayu dengan memperhatikan kombinasi dari tingkat kekakuan kayu serta
penampakan kayu secara visual. Tiap tiap kayu Bonifacius Rhyan Parahita 10 / 297984
/ TK / 36500 - Struktur Kayu dan Bambu 2011 diuji tingkat kekakuannya melalui proses
tertentu, setelah itu kayu kayu tersebut diperiksa secara visual untuk menentukan
apakah kayu tersebut layak digunakan sebagai kayu laminasi.

b. Penyambungan kayu
Untuk membuat kayu laminasi dengan panjang tertentu (melebihi panjang kayu masif
pada umumnya) diperlukan proses penyambungan kayu. Cara penyambungan kayu yang
paling banyak digunakan adalah fingerjoint. Keuntungan dari metode fingerjoint ini
adalah cara ini hanya mengurangi sedikit bagian kayu untuk membuat sambungan
tersebut, serta peralatan pembuatan fingerjoint ini sudah banyak tersedia, sehingga
dapat dilakukan dengan mudah dan berkelanjutan. Sebelum proses penyambungan,

Kayu Laminasi 10
dipastikan pada ujung kayu tidak terdapat cacat yang dapat mengurangi kekuatan
sambungan. Setelah itu, ujung ujung kayu dipotong dengan alat potong khusus,
kemudian diberi bahan perekat. Lalu kayu kayu tersebut disatukan, kemudian bahan
perekat tersebut akan bekerja dengan bantuan tekanan. Fingerjoint ini memiliki
kekuatan setidaknya 75% dari kekuatan kayu biasa.

c. Perekatan antar lapisan kayu


Langkah terbaik dalam menyatukan dua sisi lapisan laminasi adalah meratakan dan
menyamakan kedua sisi papan kayu tersebut sebelum proses perekatan, dengan tujuan
untuk menghasilkan kayu yang presisi dan tekanan yang diberikan dapat terdistribusi
secara merata. Setelah itu, bahan perekat dioleskan secara merata. Bahan perekat yang
biasa digunakan adalah phenol resorcinol. Kemudian kedua lapisan kayu tersebut
disatukan dan diberi tekanan. Metode yang biasa digunakan untuk memberi tekanan
tersebut adalah dengan menggunakan clamping beds, yang menggunakan sistem
mekanika dan atau hidraulik.

d. Penyempurnaan dan fabrikasi


Terdapat 3 jenis klasifikasi penyempurnaan, tergantung dari tujuan penggunaan kayu
laminasi tersebut. Jenis klasifikasi tersebut adalah industrial, arsitektural, serta premium.
Pada klasifikasi industrial, penampilan dari kayu tidak diperhatikan (tidak menjadi
prioritas). Kemudian pada klasifikasi arsitektural, penampilan dari kayu merupakan
persyaratan yang penting dan perlu diperhatikan. Sedangkan klasifikasi premium
merupakan klasifikasi tertinggi. Bonifacius Rhyan Parahita 10 / 297984 / TK / 36500 -
Struktur Kayu dan Bambu 2011. Langkah selanjutnya yang dilakukan adalah fabrikasi.
Pada proses fabrikasi ini, kayu dibentuk menjadi bentuk akhirnya, kayu dibor untuk
membuat lubang lubang yang digunakan untuk alat sambung (connectors), dan
kemudian semua alat sambung dipasang.

e. Proses pengawetan kayu


Jika keadaan sekitar dari penggunaan kayu laminasi mencapai atau melebihi 20%, maka
kayu laminasi perlu diberi perlakuan tambahan untuk mengawetkan kayu. Terdapat 3
cara untuk mengawetkan kayu laminasi tersebut, yaitu creosote solutions, oilborne
treatments, dan waterborne treatments.

Kayu Laminasi 11
2.6. Pengaplikasian Kayu Laminasi
1. Digunakan pada Konstruksi Bangunan

bayusaputra26.blogspot.com aryodaniseptiawans.blogspot.com

www.imagebali.net kayukuina.blogspot.com

Gambar 2.4. Kayu Laminasi pada Konstruksi Bangunan

Kayu Laminasi 12
2. Digunakan pada konstruksi jembatan

junaidawally.blogspot.com bebas-unik.blogspot.com

sma-muhamadiyah.blogspot.com

Gambar 2.5. Penggunaan Kayu Laminasi Pada Konstruksi Jembatan

3. Digunakan pada lantai

architectaria.com uruhara69.blogspot.com gudangparquet.net

Gambar 2.6. Penggunaan Kayu Laminasi Pada Lantai

Kayu Laminasi 13
4. Digunakan sebagai ornament dalam bangunan seperti pintu dan jendela

www.solusiproperti.com

danigunkid69.blogspot.com

Gambar 2.7. Penggunaan Kayu Laminasi pada Pintu dan Kusen Jendela

Kayu Laminasi 14
5. Digunakan pada perabot rumahan

kayukuina.blogspot.com kayukuina.blogspot.com

Gambar 2.8. Penggunaan Kayu Gambar2.9. Penggunaan


Laminasi pada Tempat Tidur Laminasi pada Lemari Pakaian
Gambar 2.8. Penggunaan Kayu
Laminasi pada Temat Tidur

inginbisa.com500 269
Gambar 210. Penggunaan Kayu Laminasi pada Rak di Dapur dan Meja

Kayu Laminasi 15
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Kayu laminasi (glued laminated wood) adalah suatu batang yang dibuat dari beberapa
lapisan kayu dengan lebar tertentu, biasanya antara 2,5-5,0 cm direkat dengan lain
sehingga semua lapisan arah seratnya sama dengan sumbu memanjang (Hansen, 1948).
Ada beberapa jenis-jenis kayu laminasi yaitu:
1. Struktur lentur
2. Struktur tekan
3. Struktur runcing
Proses pembuatan kayu laminasi dapat dibagi menjadi 4 langkah, yaitu :
1. Pengeringan dan klasifikasi kayu
2. Penyambungan kayu
3. Perekatan antar lapisan papan kayu
4. Penyempurnaan dan fabrikasi

3.2. Saran
Menggunakan kayu sebagaimana mestinya.

Kayu Laminasi 16
DAFTAR PUSTAKA

http://dok.joglosemar.co/baca/2014/05/25/material-kayu-laminasi.html

https://www.academia.edu/12018303/KAYU_LAMINASI

http://www.distrodoc.com/5143-kayu-laminasi

http://www.distrodoc.com/6275-pembuatan-kayu-laminasi

Kayu Laminasi 17