Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Kepailitan merupakan suatu proses dimana seorang debitur yang
mempunyai kesulitan keuangan untuk membayar utangnya dinyatakan pailit oleh
pengadilan, dalam hal ini pengadilan niaga, dikarenakan debitur tersebut tidak
dapat membayar utangnya. Harta debitur dapat dibagikan kepada kreditur sesuai
dengan peraturan pemerintah. Pada dasarnya Kepailitan dapat terjadi karena
makin pesatnya perkembangan perekonomian dan perdagangan dimana muncul
berbagai macam permasalahan utang piutang yang timbul dalam masyarakat.
Begitu juga dengan krisis moneter yang terjadi di Indonesia telah memberikan
dampak yang tidak menguntungkan terhadap perekonomian nasional sehingga
menimbulkan kesulitas besar terhadap dunia usaha dalam menyelesaikan utang
piutang untuk meneruskan kegiatan usahanya.
Dari sudut sejarah hukum, undang-undang kepailitan pada mulanya
bertujuan untuk melindungi para kreditur dengan memberikan jalan yang jelas dan
pasti untuk menyelesaikan utang ytang tidak dapat terbayar.
Definisi pailit atau bangkrut menurut Blacks Law Dictionary adalah
seorang pedagang yang bersembunyi atau melakukan tindakan tertentu yang
cenderung mengelabui pihak krediturnya. Sementara itu dalam Pasal 1 butir 1
Undang-undang Kepailitan, Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan
debitur pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh curator
dibawah pemgawasan hakim pengawas sebagaimana diatur dalam undang-undang
ini. Dalam hal ini curator merupakan Balai Harta Peninggalan (BHP) atau orang
perseorangan yang diangkat oleh pengadilan untuk mengurus dan membereskan
harta debitur pailit dibawah pengawasan hakim pengawas yang sesuai dengan
undang-undang.

1.2.Rumusan Masalah
Bertolak dari kerangka dasar berfikir sebagaimana diuraikan pada bagian latar
belakang, maka permasalahan yang akan diangkat adalah :

1
1. Kepailitan
2. Tata Cara Permohonan Pailit

1.3.Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
1. Untuk memenuhi tugas makalah Hukum Kepailitan
2. Mengetahui mengenai konsep kepailitan dan tata cara permohonan pailit .
3. Mengetahui mengenai proses dijatuhkannya pailit.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Dasar Hukum Kepailitan dan Pengertian Kepailita


2.1.1. Dasar Hukum Kepailitan
Semula lembaga hukum kepailitan diatur undang-undang tentang
Kepailitan dalam Faillissements-verordening Staatsblad 1905:217 juncto
Staatsblad 1906:348. Karena perkembangan perekonomian dan perdagangan serta
pengaruh globalisasi, serta modal yang dimiliki oleh para pengusaha umumnya
berupa pinjaman yang berasal dari berbagai sumber, undang-undang tersebut telah
menimbulkan banyak kesulitan dalam penyelesaian utang-piutang. Penyelesaian
utang-piutang juga bertambah rumit sejak terjadinya berbagai krisis keuangan
yang merembet secara global dan memberikan pengaruh tidak menguntungkan
terhadap perekonomian nasional. Kondisi tidak menguntungkan ini telah
menimbulkan kesulitan besar terhadap dunia usaha dalam menyelesaikan utang
piutang untuk meneruskan kegiatannya.
Undang-undang tentang Kepailitan (Faillissements verordening,
Staatsblad 1905:217 juncto Staatsblad 1906:348), sebab itu, telah diubah dengan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 1998
tentang Perubahan Atas Undang-Undang tentang Kepailitan, yang kemudian
ditetapkan menjadi Undang-Undang berdasarkan Undang-Undang Nomor 4
Tahun 1998. Perubahan tersebut juga ternyata belum memenuhi perkembangan
dan kebutuhan hukum di masyarakat, sehingga pada tahun 2004 pemerintah
memperbaikinya lagi dengan Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (Undang-undang
Kepailitan dan PKPU). Dan juga adapun BW secara umum khususnya pasal 1131
sampai dengan 1134.
2.1.2. Pengertian Kepailitan
Dalam pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (Undang-undang
Kepailitan dan PKPU), kepailitan diartikan sebagai sita umum atas semua
kekayaan Debitur Pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh

3
Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas. Menurut kamus, pailit berarti
bangkrut atau jatuh miskin. Dengan demikian maka kepailitan adalah keadaan
atau kondisi dimana seseorang atau badan hukum tidak mampu lagi membayar
kewajibannya (Dalam hal ini utangnya) kepada si piutang.
Tampak bahwa inti kepailitan adalah sita umum (beslaang ) atas kekayaan
debitor. Maksud dari penyitaan agar semua kreditor mendapat pembayaran yang
seimbang dari hasil pengelolaan asset yang disita. Dimana asset yang disita
dikelola atau yang disebut pengurusan dan pemberesan dilakukan oleh curator.
Dalam hal terjadi kepailitan, yaitu Debitur tidak dapat membayar
utangnya, maka jika Debitur tersebut hanya memiliki satu orang Kreditur dan
Debitur tidak mau membayar utangnya secara sukarela, maka Kreditur dapat
menggugat Debitur ke Pengadilan Negeri dan seluruh harta Debitur menjadi
sumber pelunasan utangnya kepada Kreditur. Namun, dalam hal Debitur memiliki
lebih dari satu Kreditur dan harta kekayaan Debitur tidak cukup untuk melunasi
semua utang kepada para Kreditur, maka akan timbul persoalan dimana para
Kreditur akan berlomba-lomba dengan segala macam cara untuk mendapatkan
pelunasan piutangnya terlebih dahulu. Kreditur yang belakangan datang
kemungkinan sudah tidak mendapatkan lagi pembayaran karena harta Debitur
sudah habis. Kondisi ini tentu sangat tidak adil dan merugikan Kreditur yang tidak
menerima pelunasan. Karena alasan itulah, muncul lembaga kepailitan dalam
hukum. Lembaga hukum kepailitan muncul untuk mengatur tata cara yang adil
mengenai pembayaran tagihan-tagihan para Kreditur dengan berpedoman pada
KUHPer, terutama pasal 1131 dan 1132, maupun Undang-undang Kepailitan dan
PKPU.
Pasal 1131 KUHPer:
Segala barang-barang bergerak dan tak bergerak milik debitur, baik yang sudah
ada maupun yang akan ada, menjadi jaminan untuk perikatan perorangan debitur
itu.
Pasal 1132 KUHPer:
Barang-barang itu menjadi jaminan bersama bagi semua kreditur terhadapnya;
hasil penjualan barang-barang itu dibagi menurut perbandingan piutang masing-

4
masing kecuali bila di antara para kreditur itu ada alasan-alasan sah untuk
didahulukan.
Dari dua pasal tersebut, dapat kita simpulkan bahwa pada prinsipnya pada setiap
individu memiliki harta kekayaan yang pada sisi positif di sebut kebendaan dan
pada sisi negatif disebut perikatan. Kebendaan yang dimiliki individu tersebut
akan digunakan untuk memenuhi setiap perikatannya yang merupakan kewajiban
dalam lapangan hukum harta kekayaan.

2.2.Permohonan Kepailitan
Permohonan kepailitan harus diajukan secara tertulis oleh pemohon yang
isinya antara lain :
1. Nama, tempat kedudukan perusahaan yang dimohonkan
2. Nama, tempat kedudukan pengurus perusahaan atau direktur perusahaan
yang berbentuk perseroan terbatas
3. Nama, tempat kedudukan para kreditor
4. Jumlah keseluruhan utang
5. Alasan pemohon
Selanjutnya, dalam pasal 6 UU No. 37 Tahun 2004 ditentukan bahwa panitera
pengadilan, setelah menerima permohonan itu, melakukan pendaftaran dalam
registernya dengan memberikan nomor pendaftaran dan kepada pemohon
diberikan tanda bukti tertulis yang ditandatangani panitera.
Tanggal bukti penerimaan itu harus sesuai dengan tanggal pendaftaran
permohonan. Dalam jangka waktu 1 x 24 jam, panitera menyampaikan
permohonan kepailitan itu kepada ketua pengadilan untuk dipelajari selama 2 x 24
jam untuk kemudian oleh ketua pengadilan akan ditetapkan hari persidangan.
Setelah hari persidangan ditetapkan, para pihak (permohonan dan termohon)
dipanggil untuk menghadiri pemeriksaan kepailitan. Pemeriksaan harus sudah
dilakukan paling lambat dua puluh hari sejak permohonan didaftarkan di
kepaniteraan.
Dalam hal pemanggilan para pihak, pasal 8 ayat 1 UU No. 4 tahun 2004
menentukan sebagai berikut :

5
1. Jika permohonan kepailitan diajukan debitur, pengadilan tidak wajib
memanggil debitur dalam persidangan.
2. Sebaliknya jika permohonan diajukan oleh kreditor/ para kreditor atau
kejaksaan, debitur wajib dipanggil. Pemanggilan tersebut dilakukan paling
lambat tujuh hari sebelum hari persidangan guna memberikan kesempatan
kepada debitur untuk mempelajari permohonan kepailitan.
Selama permohonan pailit belum ditetapkan oleh Pengadilan, setiap kreditor atau
jaksa, Bank Indonesia, Badan Pengawasan Pasar Modal, Badan Pengawasan Pasar
Modal atau Menteri Keuangan, yang mengajukan permohonan dapat juga
memohon kepada Pengadilan untuk:
a. Meletakkan sita jaminan terhadap sebagian atau seluruh harta kekayaan
debitur
b. Menunjuk curator sementara, yang bertugas:
c. Mengawasi pengelolaan usaha debitur
d. Mengawasi pembayarankepada para kreditur
e. Mengawasi pengalihan atau penggunaan harta kekayaan debitur
Apabila dalam pemeriksaan terbukti bahwa debitur berada dalam keadaan
berhenti membayar, hakim akan menjatuhkan putusan kepailitan kepada debitur.
Putusan atau penetapan kepailitan harus sudah dikeluarkan atau diucapkan paling
lambat tiga puluh hari sejak tanggal pendaftaraan permohonan kepailitan, dan
putusan ini harus diucapkan dalam siding terbuka untuk umum.
Setelah keputusan kepailitan dijatuhkan oleh hakim yang memeriksa, pengadilan
dalam jangka waktu dua hari harus memberitahukan dengan surat dinas tercatat
atau melalui kurir tentang putusan itu beserta salinannya, kepada:
a) Debitur yang dinyatakan pailit
b) Pihak yang mengajukan permohonan pernyataan pailit
c) Curator serta Hakim Pengawas
Di samping itu, dalam hal penetapan (putusan) telah dikeluarkan, dalam jangka
waktu paling lambat lima hari sejak tanggal diputuskannya permohonan
kepailitan, curator mengumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia dan
sekurang-kurangnya dalam dua surat kabar harian yang ditetapkan oleh Hakim
Pengawas. Dalam pengumuman itu harus dikemukakan hal-hal yang menyangkut:

6
a. Ikhtisar putusan kepailitan
b. Identitas, pekerjaan, dan alamat debitur
c. Identitas, pekerjaan, dan alamat anggota sementara kreditur (apabila telah
ditunjuk)
d. Tempat dan waktu penyelenggaraan rapat pertama kreditur
e. Identitas Hakim Pengawas
Di samping itu, Panitera Pengadilan wajib menyelenggarakan suatu daftar umum
untuk mencatat setiap perkara kepailitan, yang secara berurutan harus memuat:
a. Ikhtisar putusan pailit atau pembatalan pailit
b. Isi singkat perdamaian dan pengesahannya
c. Pembatalan perdamaian
d. Jumlah pembagian dalam pemberesan
e. Pencabutan kepailitan dan
f. Rehabilitasi, dengan menyebut tanggalnya masing-masing
Dalam putusan pernyataan kepailitan, selain dapat menetapkan debitur dalam
keadaan pailit, hakim juga dapat menetapkan curator tetap dan Pengawas
sepanjang diminta oleh debitur atau kreditor. Akan tetapi, apabila debitur atau
kreditor tidak meminta, Balai Harta Peninggalan (BHP) bertindak selaku curator.
Dengan demikian, selain penetapan kepailitan, yang akan ditetapkan dalam
putusan hakim adalah sebagai berikut.
a. Curator tetap
Pihak yang dapat ditunjuk sebagai curator adalah:
1. Balai Harta Peninggalan
2. Curator lainnya, yaitu
a) Perseorangan atau persekutuan perdata yang berdomisili di Indonesia,
yang memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan dalam rangka
mengurus dan atau membereskan harta pailit, dan telah terdaftar pada
kementerian yang lingkup dan tanggung jawabnya di bidang hukum
dan peraturan perundang-undangan
b) Telah terdaftar pada kementerian yang lingkup dan tanggung jawabnya
di bidang hukum dan peraturan perundang-undangan.

7
Tugas Kurator adalah:
a) Melakukan pengurusan atau pemberesan harta pailit
b) Melakukan perhitungan utang debitur dan jika didasarkan mampu
melakukan pembayaran terhadap utang debitur pailit
c) Melakukan penyegelan terhadap harta pailit dengan seizing Hakim
Pengawas
Pengadilan setiap waktu dapat mengabulkan usul penggantian curator, setelah
memanggil dan mendengar curator lain dan atau mengangkat curator tambahan
atas:
a) Permohonan curator sendiri
b) Permohonan curator lainnya (jika ada)
c) Usul Hakim Pengawas atau
d) Permintaan debitur pailit
Di samping itu, pengadilan harus memberikan atau mengangkat curator atas
permohonan atau atas usul kreditor konkuren berdasarkan rapat kreditor yang
diselenggarakan oleh semua kreditor, dengan persyaratan putusan tersebut diambil
berdasarkan suara setuju satu perdua dari jumlah kreditor konkuren atau kuasanya
yang hadir dalam rapat dan yang mewakili lebih dari (seperdua) jumlah piutang
kreditor konkuren atau kuasanya yang hadir dalam rapat tersebut. Selanjutnya,
Zainal Asikin (2001:75-76) menyatakan bahwa tugas Balai Harta Peninggalan
(selaku curator,pen) sebagai tersurat di atas, tampaknya cukup sederhana, tetapi di
dalamnya tersirat tugas yang cukup banyak, yang meliputi:
1) Mengumumkan keputusan hakim tentang kepailitan itu di dalam berita
negara dan surat-surat kabar yang disetujui oleh Hakim Komisaris
2) Melakukan penyitaan terhadap harta-harta si pailit, berupa perhiasan, efek-
efek, surat-surat berharga, uang tunai, dan benda-benda lainnya, kecuali
barang-barang dalam Pasal 22 UU No. 37 Tahun 2004
3) Menyusun inventarisasi harta pailit dan daftar utang-piutang si pailit
4) Membuka semua surat si pailit yang berkenaan dengan harta si pailit
5) Memberikan uang nafkah pada si pailit (yang diambilkan dari harta pailit),
setelah mendapat izin dari Hakim Komisaris

8
6) Menjual benda-benda si pailit apabila dipandang bahwa benda-benda itu
tidak tahan lama, dan hasil penjualannya dimasukkan menjadi kekayaan
(boedel) pailit
7) Membuat suara akor (akkoord-perdamaian) setelah terlebih dahulu
mendapat persetujuan dari hakim komisaris, dan nasihat dari panitia para
kreditor
8) Berhak untuk meneruskan perusahaan si pailit atas izin dari hakim
komisaris. Akan tetapi, apabila ada panitia para kreditor panitia ini tidak
dapat memberikan usul atau persetujuan untuk meneruskan perusahaan si
pailit tanpa perlu mendapat izin dari hakim komisaris.
Dalam melaksanakan tugas ini, curator:
1) Tidak diharuskan memperoleh persetujuan dari dan menyampaikan
pemberitahuan kepada si pailit
2) Dapat mengajukan pinjaman dari pihak ketiga hanya dalam rangka
meningkatkan nilai harta pailit. Dalam melakukan pinjaman dari pihak
ketiga, curator perlu membebani harta pailit dengan gadai, jaminan fidusia,
hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atas kebendaan lainnya, maka
pinjaman harus terlebih dahulu memperoleh persetujuan Hakim Pengawas.
Pembebanan harta pailit ini hanya dapat dilakukan terhadap bagian harta
pailit yang belum dijadikan jaminan utang.
b. Hakim Pengawas
Pihak yang dapat ditunjuk sebagai Hakim Pengawas adalah seorang Hakim
Pengadilan yang dianggap mampu menjalankan tugasnya. Tugas Hakim
Pengawas adalah:
1) Memimpin rapat verifikasi
2) Mengawasi pelaksanaan tugas curator/Balai Harta Peninggalan,
memberikan nasihat dan peringatan kepada curator/Balai Harta
Peninggalan atas pelaksanaan tugas tersebut
3) Menyetujui atau menolak daftar tagihan-tagihan yang diajukan oleh para
kreditor

9
4) Meneruskan tagihan-tagihan yang tidak dapat diselenggarakan dalam rapat
verifikasi kepada Hakim Pengadilan Niaga yang telah memutus perkara
tersebut
5) Mendengar saksi-saksi dan para ahli atas segala hal yang berkaitan dengan
kepailitan
6) Memberikan izin atau menolak permohonan si pailit untuk bepergian,
meninggalkan tempat kediamannya
7) Menentukan hari perundingan pertama atau rapat verifikasi dengan
kreditor
Hal-hal yang harus dibicarakan dalam rapat pertama adalah sebagai berikut:
1) Pencocokan utang, yaitu mencocokan jumlah utang yang tercatat dalam
perusahaan/ debitur pailit dengan catatan para kreditor
2) Penentuan kreditor konkuren, yaitu kreditor yang diutamakan pembayaran
utangnya. Pihak yang termasuk kreditor konkuren adalah:
1) Para pekerja dari perusahaan pailit yang gaji/upahnya belum dibayar
2) Para kreditor pemegang Hak Pertanggungan Atas Tanah (HPAT)
3) Mengadakan perdamaian. Hal yang perlu untuk diusahakan agar tercapai
perdamaian atau persetujuan para kreditor adalah: pembayaran gaji, uang
pesangon, dan uag penghargaan masa kerja pekerja/buruh yang
diberhentikan karena pailit dan penundaan pembayaran utang debitur.

2.3.Putusan Kepailitan
Zainal Asikin, menguraikan beberapa akibat hukum dari putusan pailit. Hal
yang utama adalah dengan telah dijatuhkannya putusan kepailitan, si debitur (si
pailit) kehilangan hak untuk melakukan pengurusan dan penguasaan atas harta
bendanya. Pengurusan dan penguasaan harta benda tersebut beralih ke tangan
curator/Balai Harta Peninggalan.
Menurut Pasal 8 ayat (5), putusan pengadilan atas permohonan pernyataan
pailit harus diucapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah tanggal
permohonan pernyataan pailit didaftarkan. Inilah yang membedakan antara
Pengadilan Niaga dan Peradilan umum dimana Hakim diberi batasan waktu untuk
menyelesaikan perkara. Putusan atas permohonan pernyataan pailit diucapkan

10
dalam sidang yang terbuka untuk umum. Majelis hakim dalam menjatuhkan
putusan harus memuat pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang
bersangkutan dan/atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk
mengadili; dan pertimbangan hukum dan pendapat yang berbeda dari hakim
anggota atau ketua majelis (dissenting opinion). Secara umum isi dan sistematika
putusan juga sama dengan putusan pada perkara perdata yang meliputi :
a. Nomor putusan
b. Kepala putusan Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa
c. Identitas pemohon pailit dan kuasa hukumnya, serta termohon pailit dan
kuasa hukumnya
d. Tentang duduk perkaranya
e. Tentang Pertimbangan Hukumnya
f. Amar Putusan
g. Tanda tangan Majelis Hakim dan Panitera
Perlu diketahui bahwa menurut Pasal 8 ayat (7) Undang-Undang Kepailitan,
putusan atas permohonan pernyataan pailit di Pengadilan Niaga dapat
dilaksanakan lebih dahulu, meskipun terhadap putusan tersebut masih diajukan
upaya hukum atau putusan tersebut bersifat serta merta. Undang-Undang
Kepailitan mewajibkan kurator untuk melaksanakan segala tugas dan
kewenangannya untuk mengurus dan atau membereskan harta pailit terhitung
sejak putusan pernyataan pailit ditetapkan. Meskipun putusan pailit tersebut di
kemudian hari dibatalkan oleh suatu putusan yang secara hierarkhi lebih tinggi.
Semua kegiatan pengurusan dan pemberesan oleh kurator yang telah dilakukan
terhitung sejak putusan kepailitan dijatuhkan hingga putusan tersebut dibatalkan,
tetap dinyatakan sah oleh undang-undang. Salinan putusan Pengadilan selanjutnya
wajib disampaikan oleh juru sita dengan surat kilat tercatat kepada Debitor, pihak
yang mengajukan permohonan pernyataan pailit, Kurator, dan Hakim Pengawas
paling lambat 3 (tiga) hari setelah tanggal putusan atas permohonan pernyataan
pailit diucapkan.

11
2.4 Akibat Hukum Pernyataan Pailit
Suatu Putusan Pernyataan pailit mengubah status hukum debitor menjadi
tidak cakap untuk melakukan perbuatan hukum, menguasai, dan mengurus harta
kekayaannya sejak putusan pernyataan pailit diucapkan. Akibat lain dari putusan
pernyataan pailit antara lain:
1. Debitor demi hukum kehilangan haknya untuk menguasai dan mengurus
kekayaannya yang termasuk dalam harta pailit.
2. Kepailitan hanya mengenai harta pailit dan tidak mengenai diri pribadi
debitor pailit.
3. Harta pailit diurus dan dikuasai kurator untuk kepentingan semua para
kreditor dan debitor dengan pengawasan dari Hakim pengawas
4. Tuntutan dan gugatan mengenai hak dan kewajiban harta pailit harus
diajukan oleh atau terhadap kurator.
5. Segala perbuatan debitor yang dilakukan sebelum dinyatakan pailit, apabila
dapat dibuktikan bahwa perbuatan tersebut secara sadar dilakukan debitor
untuk merugikan kreditor, maka dapat dibatalkan oleh kurator atau kreditor.
Istilah ini disebut dengan actio pauliana
6. Hibah yang dilakukan Debitor dapat dimintakan pembatalan kepada
Pengadilan, apabila Kurator dapat membuktikan bahwa pada saat hibah
tersebut dilakukan Debitor mengetahui atau patut mengetahui bahwa
tindakan tersebut akan mengakibatkan kerugian bagi Kreditor.
7. Perikatan selama kepailitan yang dilakukan debitor, apabila perikatan
tersebut menguntungkan bisa diteruskan. Namun apabila perikatan itu
merugikan,maka kerugian sepenuhnya ditanggung oleh debitor secara
pribadi,atau perikatan itu dapat dimintakan pembatalan.
8. Hak eksekusi kreditor dan pihak ketiga untuk menuntut yang berada dalam
penguasaan debitor pailit atau kurator, ditangguhkan dalam jangka waktu
paling lama 90 (sembilan puluh) hari.
9. Hak untuk menahan benda milik debitor (hak retensi) tidak hilang
10. Kepailitan suami atau istri yang kawin dalam suatu persatuan harta,
diperlakukan sebagai kepailitan persatuan harta tersebut.

12
Harta pailit ini meliputi seluruh kekayaan Debitor pada saat putusan
pernyataan pailit diucapkan serta segala sesuatu yang diperoleh selama kepailitan.
Harta tersebut pengurusannya beralih ke tangan kurator. Namun tidak semua harta
bendanya akan beralih penguasaan dan pengurusannya ke curator/ Balai Harta
Peninggalan. Dikecualikan dari hal ini (kepalitan) adalah:
a) Benda, termasuk hewan yang benar-benar dibutuhkan sehubungan
dengan pekerjaannya, perlengkapannya yang dipergunakan oleh debitur
dan keluarganya, dan bahkan makanan untuk tiga puluh hari bagi debitur
dan keluarganya
b) Segala sesuatu yang diperoleh debitur dari pekerjaannya sendiri sebagai
penggajian suatu jabatan atau jasa, upah, uang tunggu, dan uang
tunjangan, sejauh yang dientukan oleh Hakim Pengawas
c) Uang diberikan kepada debitur untuk memenuhi kewajibannya member
nafkah. (pasal 22 UU No. 37 tahun 2004)
Si pailit masih diperkenankan untuk melakukan perbuatan-perbuatan hukum
apabila dengan perbuatan hukum tersebut akan menambah harta kekayaannya.
Apabila ternyata di kemudian hari, perbuatan hukum itu merugikan kekayaan
pailit, curator/ Balai Harta Peninggalan dapat mengumukakan pembatalan
perbuatan hukum tersebut. Pasal 36 UU No. 37 Tahun 2004 menentukan sebagai
berikut:
a) Dalam hal pada saat penyataan pailit diucapkan, terdapat perjanjian
timbal balik yang belum atau sebagian dipenuhi, pihak yang mengadakan
perjanjian dengan debitur dapat meminta kepada curator untuk
memeberikan kepastian tentang kelanjutan pelaksanaan perjanjian
tersebut dalam jangka waktu yang disepakati oleh curator dan pihak
tersebut.
b) Dalam hal tidak tercapainya kesepakatan antara pihak tersebut dengan
curator mengenai jangka waktu di atas, Hakim Pengawas yang akan
menetapkan jangka waktu tersebut
c) Apabila dalam jangka waktu yang telah ditetapkan curator menyatakan
kesanggupannya, curator wajib memberikan jaminan atas
kesanggupannya untuk melaksanakan perjanjian tersebut. Sebaliknya,

13
jika curator tidak memberikan jawaban atau tidak bersedia melanjutkan
pelaksanaan perjanjian, maka perjanjian tersebut dinyatakan berakhir dan
pihak yang bersangkutandapat menuntut ganti rugi dan akan
diberlakukan sebagai kreditor konkuren.
d) Apabila dalam perjanjian sebagaimana dimaksudkan di atas, telah
diperjanjikan untuk menyerahkan benda dagangan yang biasa
diperdagangkan dalam jangka waktu tertentu, dan pihak yang harus
menyerahkan benda dagangan yang biasa diperdagangkan dalam jangka
waktu tertentu, dan pihak yang harus menyerahkan benda tersebut belum
menyerahkannya setelah putusan pailit dikeluarkan, perjanjian tersebut
menjadi hapus, dan dalam hal pihak lawan (yang mengadakan perjanjian)
dirugikan karena penghapusan perjanjian tersebut, yang bersangkutan
dapat mengajukan diri sebagai kreditor konkuren untuk
mendapatkanganti rugi.
e) Dalam hal debitur telah menyewa suatu benda, baik curator maupun
pihak yang menyewakan barang/benda dapat menghentikan perjanjian
sewa, dengan syarat pemberitahuan penghentian dilakukan sebelum
berakhirnya perjanjian sesuai dengan adat istiadat setempat dalam jangka
waktu paling singkat Sembilan puluh hari. Jika pembayaran uang sewa
telah dilakukan, pemberitahuan perjanjian sewa tidak bisa dilakukan
sebelum habisnya jangka waktu pembayaran sewa tersebut. Sejak
diputuskannya keadaan pailit, uang sewa dinyatakan sebagai boedel
pailit.
f) Wpekerja/buruh yang bekerja pada debitur dapat memutuskan hubungan
kerja, atau curator dapat menghentikan hubungan kerja dengan
mengindahkan perjanjian kerja dan peraturan yang berlaku, dengan
pengertian bahwa hubungan kerja tersebut dapat diputuskan dengan
memberitahukan paling singkat 45 hari sebelumnya. Sejak tanggal
putusan pailit ditetapkan, upah kerja/buruh yang terutang sebelum
maupun sesudah pernyataan pailit dinyatakan sebagai utang boedel pailit

14
g) Warisan dan hibah yang selama kepailitan jatuh kepada debitur pailit,
oleh curator tidak dapat diterima dengan izin Hakim Pengawas, kecuali
apabila menguntungkan harta pailit.
h) Pembayaran suatu utang yang sudah jatuh tempo hanya dapat dibatalkan
apabila dibuktikan bahwa penerima pembayaran mengetahui bahwa
permohonan pernyataan pailit debitur sudah didaftarkan, atau dalam hal
pembayaran utang tersebut merupakan akibat dari persengkokolan antara
debitor dengan kreditor dengan maksud menguntungkan kreditor tersebut
melebihi kreditor lainnya. Jika pembayaran yang sudah diterima oleh
pemegang surat pengganti atau surat atas tunjuk karena memang sudah
jatuh tempo, pembayaran tersebut tidak dapat diambil kembali.
Dengan demikian, apabila suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh
debitur dan perbuatan hukum tersebut dapat merugikan para kreditor serta
dilakukan dalam jangka waktu satu tahun sebelum pernyataan pailit ditetapkan,
sedangkan perbuatan hukum tersebut tidak wajib dilakukan debitur, (kecuali dapat
dibuktikan sebaliknya) debitur dan pihak dengan siapa perbuatan itu dilakukan
dianggap mengetahui/sepatutnya mengetahui bahwa perbuatan tersebut akan
mengakibatkan kerugian bagi kreditor. Perbuatan hukum tersebut:
a. Merupakan perikatan dimana kewajiban debitur jauh melebihi kewajiban
pihak dengan siapa perikatan tersebut dilakukan
b. Merupakan pembayaran atas atau pemberian jaminan untuk utang yang
belum jatuh tempo dan belum dapat ditagih
c. Dilakukan oleh debitur perorangan, dengan atau terhadap:
1) Anggota atau istrinya, anak angkat atau keluarganya sampai derajat
ketiga.
2) Suatu badan hukum dimana debitur atau pihak-pihak sebagaimana
dimaksud dalam angaka 1 adalah anggota direksi atau pengurus atau
apabila pihak-pihak tersebut, baik sendiri-sendiri atau bersama-sama,
ikut serta secara langsung dalam kepemilikan badan hukum tersebut
paling kurang sebesar 5o% dari modal disetor.
d. Dilakukan oleh debitur yang merupakan badan hukum, dengan atau
terhadap:

15
1. Anggota direksi atau pengurus debitur atau suami/istri atau anak angkat
atau keluarga sampai derajat ketiga, dari anggota direksi atau pengurus
tersebut
2. Perorangan baik sendiri atau bersama-sama dengan suami/istri atau
anak angkat/keluarga sampai derajat ketiga dari perorangan tersebut,
yang ikut serta secara langsung atau tidak langsung dalam kepemilikan
pada debitur paling kurang sebesar 50 % dari modal disetor
3. Perorangan yang suami/istri atau anak angkat/keluarga sampai derajat
ketiga, yang ikut secara langsung atau tidak langsung dalam
kepemilikan pada debitur paling kurang sebesar 50% dari modal disetor
e. Dilakukan oleh debitur yang merupakan badan hukum/dengan atau terhadap
badan hukum lainnya, apabila:
1. Perorangan anggota direksi atau penghubung pengurus pada kedua badan
usaha tersebut adalah orang yang sama
2. Suami/istri/anak angkat/keluarga sampai derajat ketiga merupakan anggota
direksi/pengurus pada badan hukum lainnya, atau sebaliknya
3. Perorangan anggota direksi atau pengurus, anggota badan pengawas pada
debitur, atau suami/istri/anak angkat/keluarga sampai derajat ketiga, ikut
serta secara langsung atau tidak langsung dalam kepemilikan pada debitur
paling kurang sebesar 50% dari modal disetor
4. Debitur adalah anggota direksi/pengurus pada badan hukum lainnya, atau
sebaliknya
5. Badan hukum yang sama, atau perorangan yang sama, baik bersama, atau
tidak dengan suami atau istrinya, dan atau para anak angkatnya dan
keluarga sampai derajat ketiga ikut serta secara langsung atau tidak
langsung dalam kepemilikan pada debitur paling kurang sebesar 50% dari
modal disetor
f. Dilakukan oleh debitur yang merupakan badan hukum dengan atau terhadap
badan hukum lainnya dalam kelompok badan hukum di mana debitur merupakan
anggotanya.
Selain itu, hal yang terpenting sebagai akibat hukum dijatuhkannya putusan
kepailitan, adalah hal-hal yang berkaitan dengan sebagai berikut.

16
a. Penghibahan
Dalam hal ini ditentukan bahwa hibah yang dilakukan debitur dapat
dimintakan pembatalan apabila curator dapat membuktikan bahwa pada saat
hibah tersebut dilakukan, debitur mengetahui atau patut mengetahui bahwa
tindakan tersebut akan mengakibatkankerugian bagi kreditor (pasal 44 UU
No. 37 Th 2004).
b. Pembayaran utang yang belum dapat ditagih (belum jatuh tempo), atau
debitur melakukan perbuatan yang tidak wajiib, perbuatan itu dapat
dibatalkan demi keselamatan harta pailit. Hal tersebut harus dibuktikan
bahwa pada waktu dilakukannya perbuatan tersebut, baik debitur maupun
pihak ketiga mengetahui bahwa perbuatannya (debitur) itu akan merugikan
pihak kreditor (pasal 45 UU No. 37 Th 2004)

2.5 Berakhirnya Kepailitan


Suatu kepailitan pada dasarnya bisa berakhir, ada beberapa macam cara
berakhirnya kepailitan :
a) Setelah adanya perdamaian (akkoord), yang telah dihomologasi dan
berkekuatan hukum tetap.
Sebagaimana kita ketahui bahwa apabila dalam kepailitan diajukan
rencana perdamaian, maka jika nantinya perdamaian tersebut disetujui secara sah
akan mengikat, baik untuk kreditor yang setuju, kreditor yang tidak setuju,
maupun untuk kreditor yang tidak hadir dalam rapat. Dengan diucapkanya
perdamaian tersebut, berarti telah ada kesepakatan di antara para pihak tentang
cara penyelesaian utang. Akan tetapi persetujuan dari rencana perdamaian tersebut
perlu disahkan (homologasi) oleh Pengadilan Niaga dalam sidang homologasi.
Apabila Pengadilan menolak pengesahan perdamaian karena alasan yang
disebutkan dalam undang-undang maka pihak-pihak yang keberatan dapat
mengajukan kasasi. Setelah putusan perdamaian tersebut diterima dan mempunyai
kekuatan hukum tetap maka proses kepailitan tidak perlu dilanjutkan lagi.

17
b) Insolvensi dan pembagian
Kepailitan bisa berakhir segera setelah dibayar penuh jumlah piutang-piutang
terhadap para kreditor atau daftar pembagian penutup memperoleh kekuatan yang
pasti. Akan tetapi bila setelah berakhirnya pembagian ternyata masih terdapat
harta kekayaan debitor, maka atas perintah Pengadilan Niaga, kurator akan
membereskan dan mengadakan pembagian atas daftar-daftar pembagian yang
sudah pernah dibuat dahulu (Munir Fuady, 1999 : 88).

c) Atas saran kurator karena harta debitor tidak cukup.


Apabila ternyata harta debitor ternyata tidak cukup untuk biaya pailit atau utang
harta pailit, maka kurator dapat mengusulkan agar kepailitan tersebut dicabut
kembali. Keputusan untuk mencabut kepailitan ini dibuat dalam bentuk ketetapan
hakim dan diputuskan dalam sidang yang terbuka untuk umum.

d) Pencabutan atas anjuran Hakim Pengawas


Pengadilan Niaga atas anjuran dari Hakim pengawas dapat mencabut kepailitan
dengan memperhatikan keadaan harta pailit. Dalam memerintahkan pengakiran
kepailitan tersebut, Pengadilan Niaga juga menetapkan biaya kepailitan dan
imbalan jasa kurator yang dibebankan terhadap debitor. Terhadap penetapan biaya
dan imbalan jasa tersebut, tidak dapat diajukan kasasi dan untuk pelaksanaanya
dikeluarkan Fiat Eksekusi.

e) Putusan pailit dibatalakan di tingkat kasasi atau peninjauan kembali.


Putusan pailit oleh Pengadilan Niaga berlaku secara serta merta. Dengan demikian
sejak saat putusan pailit maka status debitor sudah dalam keadaan pailit. Akan
tetapi, putusan pailit dapat diajukan upaya hukum, yaitu kasasi atau peninjauan
kembali terhadap putusan yang berkekuatan hukum tetap. Dalam proses kepailitan
tidak dimungkinkan upaya banding. Hal tersebut diatur dalam Pasal 11 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 yang menyatakan bahwa upaya hukum
yang dapat diajukan terhadap putusan atas permohonan atas pernyataan pailit
adalah kasasi ke Mahkamah Agung. Apabila pada tingkat kasasi ternyata putusan
pernyataan pailit itu dibatalkan, maka kepailitan bagi debitor juga berakhir.

18
Namun, segala perbuatan yang telah dilakukan kurator sebelum atau pada saat
kurator menerima pemberitahuan tentang putusan pembatalan dari Mahkamah
Agung, tetap sah. Setelah menerima pemberitahuan tentang pembatalan putusan
pernyataan pailit itu, selanjutnya kurator wajib mengiklankan pembatalan tersebut
dalam surat kabar. Dengan pembatalan putusan pernyataan pailit tersebut,
perdamaian yang telah terjadi hapus demi hukum.

19
2.6. CONTOH KASUS KEPAILITAN :

Pertama, dalam kasus kepailitan yang diajukan oleh PT Bank PDFCI sebagai
Pemohon pailit terhadap PT. Sarana Kemas Utama selaku Termohon Pailit.
Permohonan pailit dikabulkan hakim pengadilan niaga. Persoalan muncul dalam
kasasi karena Pemohon Kasasi keberatan atas status Termohon Kasasi/Pemohon
Pailit sebagai Bank BTO pada saat permohonan pailit diajukan. Menurut
Pemohon Kasasi atau termohon pailit, sejak tanggal 3 April 1998 status Termohon
Kasasi adalah bank BTO dan manajemen telah diambil alih atau dikuasai oleh dan
berada di bawah BPPN. Oleh karena itu surat kuasa Termohon Kasasi atau
Pemohon Pailit harus dengan sepengetahuan atau setidak-tidaknya diketahui oleh
BPPN. Keberataan ini sebenarnya pernah diajukan pada sidang pengadilan niaga,
namun judex factie sama sekali tidak mempertimbangkan keberatan tersebut
dalam putusannya. Karena itu judex factie telah melakukan kesalahan dalam
penerapan hukum.

Majelis Hakim Kasasi memandang bahwa Termohon Kasasi atau Pemohon


Pailit dalam status Bank BTO tetap sah sebagai Pemohon Pailit, karena
pernyataan BTO sama sekali tidak menghapuskan status Termohon Kasasi atau
Pemohon Pailit sebagai badan hukum yang dapat bertindak sebagai pihak dalam
proses perkara dan dengan demikian pembuatan surat kuasapun tetap sah dan
tidak perlu sepengetahuan dan atau ijin pemerintah c.q. BPPN. Karena itu Majelis
Hakim Kasasi membenarkan putusan Judex facxtie. Atas putusan ini Pemohon
Kasasi atau Termohon Pailit mengajukan PK.

Dalam permohonan PK, Pemohon PK atau Pemohon Kasasi atau Termohon


Pailit kembali mempersoalkan kewenangan hukum atau legal capacity Pemohon
Pailit dalam hal ini Bank PDFCI yang telah dikenakan status Bank BTO pada saat
mengajukan permohonan pernyataan pailit. Menurut Pemohon PK atau Pemohon
Kasasi atau Termohon Pailit, Majelis Hakim Kasasi dan Judex Facxtie telah
melakukan kesalahan berat dalam menerapkan hukum mengenai kewenangan
hukum Bank BTO. Dikatakan bahwa Termohon PK atau Termohon Kasasi atau

20
Pemohon Pailit sejak tanggal 3 April 1998 telah menjadi Bank BTO sehingga
manajemen dan operasional telah diambil alih oleh BPPN sesuai dengan
ketentuan Pasal 37 Ayat (1) UU No.10 Thn 1998. Pada hal permohonan pailit
yang diajukan Termohon PK atau Pemohon Pailit dilakukan pada tanggal 30
September 1998 yaitu pada saat Termohon PK atau Pemohon Pailit sudah
berstatus Bank BTO tanpa persetujuan kuasa dari BPPN.

Majelis Hakim PK dalam perkara ini membenarkan pendapat yang diajukan


Pemohon PK atau Termohon Pailit atau Pemohon Kasasi, karena menurut Majelis
terdapat kesalahan berat dalam menerapkan hukum tentang status dan
kewenangan Bank BTO sebab Direksi Bank PDFCI Tbk yang telah dinyatakan
dalam status BTO sejak 3 April 1998 tidak lagi memiliki kewenangan untuk
melakukan suatu perbuatan hukum ( legal capacity ) termasuk mengajukan
gugatan atau permohonan pailit di muka pengadilan untuk kepentingan bank
tersebut. Karena manajemen dan operasionalnya telah diambilalih atau dikuasai
oleh dan berada di bawah pengawasan BPPN, maka surat kuasa yang dibuat
Direksi yang menjadi dasar permohonan pailit terhadap Pemohon PK atau
Termohon Pailit adalah tidak sah. Berdasarkan pertimbangan tersebut, menurut
MA terdapat cukup alasan untuk mengabulkan permohonan PK yang diajukan PT
Sarana Kemas Utama selaku Termohon Pailit atau Pemohon Kasasi atau Pemohon
PK dan membatalkan Putusan MA 14 Desember 1998 No.04 K/N/1998.

21
BAB III
PENUTUP

3.1. Simpulan
3.1.1. Dasar Hukum Kepailitan dan Pengertian Kepailitan
Kepailitan berasal dari kata dasar pailit. Pailit adalah segala sesuatu yang
berhubungan dengan peristiwa keadaan berhenti membayar utang -utang debitur
yang telah jatuh tempo. Si pailit adalah debitur yang mempunyai dua orang atau
lebih kreditor dan tidak mampu membayar satu atau lebih utangnya yang telah
jatuh tempo dan dapat ditagih.
Pihak-pihak yang tergolong debitur atau seseorang yang dapat dinyatakan
pailit adalah :
1) Siapa saja/ setiap orang yang menjalankan perusahaan atau tigak menjalankan
perusahaan.
2) Badan hukum, baik yang berbentuk perseroan terbatas, firma,
koprasi,perusahaan Negara, dan badan-badan hukum lainnya.
3) Harta warisan dari seseorang yang meninggal dunia dapat dinyatakan pailit
apabila orang yang meninggal dunia itu semasa hidupnya itu berada dalam
keadaan berhenti membayar utangnya, atau harta warisannya pada saat
meninggal dunia si pewaris tidak mencukupi untuk membayar utangnya.
4) Setiap wanita bersuami (si istri )yang dengan tenaga sendiri melakukan suatu
pekerjaan tetap atau suatu perusahaan atau mempunyai kekayaan sendiri.
Seorang debitur hanya dikatakan pailit apabila telah diputuskan oleh
pengadilan Niaga. Pihak yang dapat mengajukan permohonan agar seorang
debitur dikatakan pailit adalah:
a. Debitur itu sendiri
b. Para kreditur
c. Jaksa penuntut umum
3.1.2. Permohonan Kepailitan
Tata Cara Permohonan Pailit diatur dalam pasal 6 UUK,yaitu sebagai berikut :
1) Permohonan pernyataan pailit diajukan kepada ketua pengadilan.

22
2) Penitera mendaftarkan permohonan pernyataan pailit pada tanggal
permohonan yang bersangkutan diajukan, dan kepada pemohon diberikan
tanda terima tertulis yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang
dengan tanggal yang sama dengan tanggal pendaftaran.
3) Penitera wajib menolak pendaftaran permohonan pernyataan pailit bagi
institusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3),(4) dan ayat (5) jika
dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan dalam ayat-ayat tersebut.
4) Panitera menyampaikan permohonan pernyataan pailit kepada ketua
pengadilan paling lambat 2 (dua) hari setelah tanggal permohonan
didaftarkan.
5) Dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) hari setelah tanggal
permohonan pernyataan pailit didaftarkan,pengadilan mempelajari
permohonan dan menetapkan hari sidang.
6) Sidang pemeriksaan atas permohonan pernyatan pailit diselenggarakan
dalam jangka waktu paling lambat 20 (dua puluh) hari setelah tanggal
permohonan didaftarkan.
7) Atas permohonan debitur dan berdasarkan alasan yang cukup, pengadilan
dapat menunda penyelenggaraan sidang sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) sampai dengan paling lambat 25 (dua puluh lima) hari setelah tanggal
permohonan didaftarkan.
3.1.3. Putusan Kepailitan
beberapa akibat hukum dari putusan pailit. Hal yang utama adalah dengan
telah dijatuhkannya putusan kepailitan, si debitur (si pailit) kehilangan hak untuk
melakukan pengurusan dan penguasaan atas harta bendanya. Pengurusan dan
penguasaan harta benda tersebut beralih ke tangan curator/Balai Harta
Peninggalan.

23
DAFTAR PUSTAKA

Jono. 2010. Hukum Kepailitan. Jakarta: Sinar Grafika


Hartini, Rahayu. 2008. Hukum kepailitan. Malang : UMM Press
Sutedi, Adrian. 2009. Hukum Kepailitan. Bogor : Ghalia Indonesia
Fuady, Munir. 2002. Hukum Pailit 1998 (dalam teori dan praktek). Bandung :
PT.Citra Aditya Bakti
http://bilongtuyu.blogspot.com/2013/05/syarat-permohonan-pernyataan-
kepailitan.html diakses pada tanggal 14 November 2017
http://law-wahyudisaputro.blogspot.com/2012/12/akibat-hukum-putusan-
pailit.html diakses pada tanggal 14 November 2017

24