Anda di halaman 1dari 52

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM PROSES KIMIA

MATERI :
REAKTOR IDEAL ALIRAN KONTINYU

Oleh :

Adyatmika Digda A NIM 21030115120055

Erwinda Febriyana NIM 21030115120039

Fitra Ramadhani NIM 21030115130147

Iin Mahardini K.N NIM 21030115120066

LABORATORIUM PROSES KIMIA


DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017
LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM PROSES KIMIA

MATERI :
REAKTOR IDEAL ALIRAN KONTINYU

Oleh :

Adyatmika Digda A NIM 21030115120055

Erwinda Febriyana NIM 21030115120039

Fitra Ramadhani NIM 21030115130147

Iin Mahardini K.N NIM 21030115120066

LABORATORIUM PROSES KIMIA


DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017

i
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan praktikum berjudul Reaktor Ideal Aliran Kontinyu yang disusun oleh :
Kelompok : 2/ Senin
Anggota : Adyatmika Digda A NIM 21030115120055
Erwinda Febriyana NIM 21030115120039
Fitra Ramadhani NIM 21030115130147
Iin Mahardini K.N NIM 21030115120066
Telah disetujui oleh dosen pembimbing pengampu materi Reaktor Ideal Aliran
Kontinyu pada
Hari :
Tanggal :

Semarang, November 2017


Mengetahui,
Dosen Pembimbing Asisten Pengampu

Ir.Didi Dwi Anggoro, M.Eng., Ph.D. Gabriella Ardhya Puspita


NIP. 196711141993031001 NIM. 21030115140154

ii
RINGKASAN

Reaktor tangki berpengaduk merupakan reaktor yang paling sering dijumpai dalam
industri kimia. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan harga orde reaksi
penyabunan etil asetat dengan NaOH, menghitung harga konstanta reaksi (k) penyabunan
etil asetat dengan NaOH, mengetahui pengaruh variabel terhadap konstanta reaksi (k)
penyabunan etil asetat dengan NaOH, dan membandingkan hasil percobaan dengan
perhitungan mode matematis reaksi penyabunan pada reaktor ideal aliran kontinyu.
Untuk menetukan sifat reaksi apakah berjalan eksotermis atau endotermis
apabila H bernilai negative maka reaksi yang berlangsung adalah reaksi eksotermis
yang menghasilkan panas, dan sebaliknya jika H bernilai posiif maka reaksi berlangsung
secara endotermis. Jika harga konstanta keseimbangan besar, maka reaksi
berlangsung searah (irreversible).
Pada praktikum ini, bahan yang digunakan adalah NaOH, etil asetat, HCl, indikator
MO, dan aquadest. Sedangkan alat yang dipakai antara lain pipet, reaktor batch, dan
rangkaian alat reaktor aliran kontinyu. Mula-mula percobaan dilakukan secara batch,
dimulai dengan menyiapkan bahan, merangkai alat, lalu mencampurkan bahan ke dalam
tangki, dan mengambil sampel 5 ml tiap 1 menit, dan dititrasi hingga 3 kali konstan.
Setelah percobaan batch dilakukan pada semua variable, percobaan dilanjutkan dengan
sistem kontinyu.
Berdasarkan hasil percobaan, diketahui bahwa reaksi penyabunan etil asetat
dengan NaOH berlangsung pada orde 2. Pada percobaan diperoleh nilai konstanta laju
reaksi (k) pada variabel tanpa pengadukan, pengadukan sedang dan pengadukan cepat
sebesar 0,3778;-0,0494 dan 0,2536. Ca percobaan lebih besar dari Ca model karena Ca
percobaan diperoleh dari percobaan sedangkan Ca model diperoleh dari perhitungan
matematis menggunakan metode Runge Kutta.
Kesimpulan dari percobaan kami adalah semakin tinggi konsentrasi, maka nilai
konstanta laju reaksi (k) menjadi lebih kecil. Nilai Ca yang diperoleh dari percobaan lebih
besar dari Ca model . Saran dari kami adalah praktikum ini dapat dikembangkan dengan
variasi variabel yang lain seperti tinggi cairan dalam reaktor, dan suhu reaksi.

iii
SUMMARY
The stirred tank reactor is the most common reactor in the chemical industry. The
objective of this practicum is to determine the value of the reaction order of saponification
of Ethyl Acetate with NaOH, calculating the reaction constant rate (k) of saponification of
Ethyl Acetate with NaOH, knowing the effect of the variables on the reaction constant (k)
sizing of ethyl acetate with NaOH, and comparing the experimental results with the
calculation mathematical mode of saponification reaction at the ideal continuous flow
reactor.
To determine the nature of the reaction as to whether it is exothermic or endothermic
if H is negative then the ongoing reaction is an exothermic reaction that generates heat,
and otherwise if H is positive then the reaction is endothermic. If the price of a large
equilibrium constants, then the reaction takes place in the direction (irreversible
In this practice, the materials used are NaOH, Ethyl Acetate, HCl, MO indicator, and
aquadest. While the tools used include pipette, batch reactor, and continuous flow reactor
circuit. First the experiment is done batch, starting with preparing the material, assembling
the tool, then mixing the material into the tank, and taking samples 5 ml every 1 minute,
and titrated to 3 times constant. After a batch experiment is performed on all variables, the
experiment continues with a continuous system.
Based on the experimental results, it is known that the reaction of saponification of
ethyl acetate with NaOH takes place in order 2. In the experiment, the reaction rate (k) on
the variable without stirring, medium stirring and fast stirring equal to 0,3778; -0,0494
and 0,2536 . Ca experiments were larger than Ca model because Ca experiments were
obtained from experiments while Ca model was obtained from mathematical calculations
using Runge Kutta
The conclusion of our experiment is that the higher the concentration, the value of
the reaction rate constant (k) becomes smaller. The Ca values obtained from the
experiments were larger than the Ca model. Our suggestion is that this lab can be
developed with other variations of variables such as the height of the liquid in the reactor,
and the reaction temperature.

iv
PRAKATA
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat dan rahmat-Nya Laporan
Praktikum Proses Kimia berjudul Reaktor Ideal Aliran Kontinyu dapat selesai
dengan baik. Penyusunan Laporan Praktikum Proses Kimia ini berdasarkan analis
hasil percobaan yang dilakukan saat praktikum dan pembahasan yang bersumber
pada literatur-literatur yang ada. Penyusun sampaikan terima kasih kepada:
1. Ir. Didi Dwi Anggoro, M. Eng., Ph.D selaku penanggung jawab Laboratorium
Proses Kimia dan dosen Pembimbing Laporan Reaktor Ideal Alir Kontinyu.
2. Fachmy Adji Pangestu sebagai Koordinator Asisten Laboratorium Proses
Kimia.
3. Gabriella Ardhya Puspita sebagai Asisten Pengampu Materi Reaktor Ideal Alir
Kontinyu.
4. Seluruh Asisten Laboratorium Proses Kimia Jurusan Teknik Kimia Fakultas
Teknik Universitas Diponegoro.
Laporan resmi ini merupakan tulisan yang dibuat berdasarkan percobaan
yang telah dilakukan. Tentu ada kelemahan dalam teknik pelaksanaan maupun
dalam tata penulisan laporan ini. Maka kritik dan saran dari pembaca sangat kami
harapkan dalam untuk peningkatan mutu dari laporan serupa di masa mendatang.
Akhir kata, selamat membaca dan terima kasih

Semarang, November 2017

Penyusun

v
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. ii
RINGKASAN ................................................................................................... iii
SUMMARY ...................................................................................................... iv
PRAKATA ......................................................................................................... v
DAFTAR ISI ..................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ........................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................... x
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................... 1
1.3 Tujuan Percobaan ................................................................................ 1
1.4 Manfaat Percobaan .............................................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Reaktor Batch ...................................................................................... 3
2.2 Reaktor Ideal Aliran Kontinyu / Reaktor Alir Tangki Berpengaduk
(CSTR) ................................................................................................ 4
2.3 Tinjauan Termodinamika ......................................................... 7
2.4 Tinjauan Kinetika......................................................................... 8
2.5 Sifat Fisis dan Kimia Reagen........................................................... 9
2.6 Menentukan Orde Reaksi................................................................... 10
2.7 Menghitung Harga Konstanta Reaksi Penyabunan (k) Etil Asetat dengan
NaOH ............................................................................................... 11
BAB III METODE PERCOBAAN
3.1 Rancangan Percobaan ........................................................................ 13
3.1.1 Skema Rancangan Percobaan...13
3.1.2 Variabel Operasi.......14
3.2 Alat dan Bahan yang Digunakan ........................................................ 14
3.2.1 Bahan...14
3.2.2 Alat...14
3.3 Gambar Alat....................................................... 15
vi
3.4 Respons Uji Hasil .............................................................................. 15
3.5 Prosedur Percobaan...16
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Penentuan Harga Orde Reaksi Penyabunan Etil Asetat dengan NaOH.17
4.2 Perhitungan Konstanta Orde Reaksi Penyabunan Etil Asetat dengan
NaOH ............................................................................................... 18
4.3 Pengaruh Variabel Pengadukan terhadap Konstanta O r d e Reaksi
Penyabunan Etil Asetat dengan NaOH ............................................. 19
4.4 Perbandingan Hasil Percobaan dengan Model Matematis................. 20
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ...................................................................................... 22
5.2 Saran ................................................................................................ 22
DAFTAR PUSTAKA...23

vii
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Harga R2 Reaksi Penyabunan Etil Asetat dengan NaOH pada Orde 1 dan
2 ............................................................................................................ 17
Tabel 4.2 Konstanta Orde Reaksi Penyabunan Etil Asetat dengan NaOH ........... 18

viii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Bagan neraca massa suatu sistem .................................................... 3
Gambar 2.2. Grafik Trial Reaksi Orede 1 .......................................................... 11
Gambar 2.3. Grafik Trial Reaksi Orde 2 (Ca=Cb) ............................................. 11
Gambar 2.4. Grafik Trial Orde 2 (Ca = Cb) ....................................................... 11
Gambar 2.5. Grafik Trial Orde n ........................................................................ 11
Gambar 3.1. Skema Proses Batch ...................................................................... 13
Gambar 3.2. Skema Proses Kontinyu ................................................................ 13
Gambar 3.3. Gambar alat utama proses batch.................................................... 15
Gambar 3.4. Gambar alat utama proses kontinyu .............................................. 15
Gambar 4.1 Grafik Perbandingan Ca Analitis dengan Ca Model terhadap Waktu
Tanpa Pengadukan ........................................................................ 20
Gambar 4.2 Grafik Perbandingan Ca Analitis dengan Ca Model terhadap Waktu
dengan Pengadukan Sedang ......................................................... 20
Gambar 4.3 Grafik Perbandingan Ca Analitis dengan Ca Model terhadap Waktu
dengan Pengadukan Cepat ............................................................ 20

ix
DAFTAR LAMPIRAN
Laporan Sementara..A-1
Lembar Perhitungan.A-2
Referensi..A-3

x
1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Reaktor tangki berpengaduk merupakan reaktor yang paling sering
dijumpai dalam industri kimia. Pada industri berskala besar, reaktor alir tangki
berpengaduk lebih sering diaplikasikan karena kemampuan operasinya yang
dapat diatur kapasitasnya. Unjuk kerja reaktor alir berpengaduk perlu dipelajari
untuk mengetahui karakteristik aliran fluida, reaksi yang terjadi secara optimasi
pengoperasian reaktor.
Pengoperasian reaktor alir tangki berpengaduk meliputi tiga tahap yaitu
pengisian reaktor tinggi overflow, kondisi kontinyu dan kontinyu steady state.
Evaluasi variabel-variabel operasi sangat mudah dilakukan pada kondisi steady
state.
Pemodelan matematik diperlukan untuk mempermudah analisa
permasalahan yang timbul dalam pengoperasian reaktor alir tangki
berpengaduk. Model matematika yang diusulkan diuji keakuratannya dengan
membandingkan dengan data-data percobaan. Model matematika yang
diusulkan diselesaikan dengan cara analisis jika persamaan itu mudah
diselesaikan. Namun untuk reaksi yang kompleks akan diperoleh model
matematika yang kompleks juga. Penyelesaian numerik sangat dianjurkan
untuk memperoleh nilai k, tetapan transfer massa, dan orde reaksi yang
merupakan adjustable parameter.
1.2.Rumusan Masalah
Dalam industri kimia, sering digunakan reaktor tangki berpengaduk
karena kemampuan operasinya yang dapat diatur kapasitasnya. Terdapat 3
proses dalam pengoperasian reaktor, diantaranya proses batch, semi-batch dan
kontinyu. Pada praktikum ini dilakukan proses batch, dan kontinyu, guna untuk
mengetahui harga orde reaksi, konstanta reaksi, variabel-variabel yaitu variabel
pengadukan yang berpengaruh terhadap konstanta reaksi,dan membandingkan
perhitungan model matematis penyabunan eitl asetat dengan NaOH
1.3.Tujuan Percobaan
1. Menentukan harga orde reaksi penyabunan etil asetat dengan NaOH.
2
2. Menghitung harga konstanta reaksi (k) penyabunan etil asetat dengan
NaOH.
3. Mengetahui pengaruh variabel pengadukan terhadap konstanta reaksi (k)
penyabunan etil asetat dengan NaOH.
4. Membandingkan hasil percobaan dengan perhitungan model matematis
reaksi penyabunan pada reaktor ideal aliran kontinyu.
1.4.Manfaat Percobaan
1. Mahasiswa dapat menentukan harga orde reaksi penyabunan etil asetat
dengan NaOH.
2. Mahasiswa dapat menghitung harga konstanta reaksi (k) penyabunan etil
asetat dengan NaOH.
3. Mahasiswa mampu mengetahui pengaruh variabel pengadukan terhadap
konstanta reaksi (k) penyabunan etil asetat dengan NaOH.
4. Mahasiswa mampu membandingkan hasil percobaan dengan perhitungan
model matematis reaksi penyabunan pada reaktor ideal aliran kontinyu
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Reaktor Batch


Neraca bahan pada reaktor secara simultan:
Output
Input Reaktor Reaktanbereaksi
Akumulasi
Gambar 2.1. Bagan neraca massa suatu sistem

input = 0
output = 0
Reaktan yang bereaksi = (-rA)
Input = output + reaktan yang bereaksi + akumulasi

()
0 = 0 + ( ) + (1)

[0 (1 )]
0 = 0 + ( ) + (2)

0 dXA
0 = ( ) + (3)

0
= dXA
( ) (4)


= 0
0 ( ) (5)

Pada volume konstan

= 0 (1 )

= 0 . (6)

Pers. (6) masuk ke pers. (5) diperoleh




= 0 =
0 (7)
0
4
2.2 Reaktor Ideal Aliran Kontinyu / Reaktor Alir Tangki Berpengaduk
(CSTR)
Tahapan yang terjadi pada reactor CSTR ini terbagi dalam 3 tahap proses,
yaitu:
a. Tahap Pertama
Tahap pertama dimulai saat t = 0 sampai terjadi overflow
Dari hukum kekekalan massa
Akumulasi = input-output

= . 0 0 (8)

= 0 . ,pada t = 0 V = 0
karena density laju alir dianggap konstan maka volumenya hanya
merupakan fungsi dari waktu.
= 0 . (9)
Sedangkan dari neraca komponen:
Akumulasi = input output laju konsumsi karena reaksi

= (. ) = 0 . 0 0 ( ) (10)

Dalam hal ini :


V = volume bahan dalam reaktor (l)
C = kondentrasi molar reaktan dalam reaktor (mol/l)
Fo = laju alir reaktan masuk (l/ menit)
Co = konsentrasi molar reaktan dalam feed (mol/l)
t = waktu reaksi (menit)
-rA = kecepatan reaksi (mol/menit)
Reaksi yang terjadi:
A+BC+D
- rA = k CA CB , karena CA = CB maka
- rA = k CA2 = k C2 (11)
Pers. (11) pers.(10)

= (. ) = 0 . 0 . . 2


+ = 0 . 0 . . 2 (12)

Pers. (9) pers. (12)


5

0 . . + . 0 = 0 . 0 . . . 2

(13)
0
= . 2 (14)

Dengan menggunakan boundary condition pada t=0 , C = Co dan


substitusi U = exp [k ] maka pers.14 menjadi :
2
2 + . . 0 . = 0 (15)
2

Pers. (15) diubah menjadi fungsi Bessel dengan substitusi z = t0,5 ,


menjadi :
2
2 2 + 4. . 0 . 2 . = 0 (16)

Pers. (16) merupakan modifikasi pers.Bessel yang mempunyai


bentuk umum sebagai berikut:
2
2 2 + ( + 2 ) + [ + 2 (1 ). +

2 2 ]. = 0 (17)
Dari pers.(5) didapatkan :
a=1
r=0

1 (1 )2
= =0
2

=0 =0 =0



=0 = 4. . 0

=
Sehingga penyelesaian pers. (16) adalah :
U = C1. zp. ( ) + Cz. zp.( (18)
Pada t = 0, z = 0 zp = ~
Sehingga Cz = 0
U=C

Karena p = 0 dan = imaginer


Maka = U = C
6

= 1 0 (4. . 0 . ) (19)

Dari Sherwood halaman 178 pers. (5.83) didapatkan



= 1 (4. . 0 . )0 (4. . 0 . ) (20)

Dari substitusi semula, diperoleh :



= 2. . 1 0 (4. . 0 . ) (21)

Maka pers. (14) dan (15) diperoleh :


1 (4. . 0 . )0 (4. . 0 . ) = . . 1 0 (4. . 0 . )
(4..0 .)0 (4..0 .)
= .. 0 (4..0 .)

0 1 . (2. .)
0
= .. (2. .)
(22)
0 0

b. Tahap Kedua
Pada tahap ini proses berjalan kontinyu, namun belum tercapai
kondisi steady state. Dapat dinyatakan dengan :
C = f(t) dan V= konstan = 0
Dari neraca massa komponen diperoleh :

(. ) = . 0 . . . 2 (23)


. = . 0 . . . 2 (24)

Apabila T = t waktu, menit



= konstanta waktu

Pers. (24) menjadi


0
= . 2 (25)

Pada keadaan steady state C = Co


Penyelesaian partikular pers. (25) adalah C Cs, dimana Cs adalah
konsentrasi pada keadaan steady.
Substitusikan C = Cs + 1
Pers. (25) berubah menjadi pers.differential orde 1 yang mana dapat
diselesaikan dengan metode factor integrasi
1
0 = (26)
.()

7
C1 adalah konsentrasi awal tiap tahap kedua yaitu pada saat t =
yang diperoleh dengan pengukuran konsentrasi contoh.
c. Tahap Ketiga
Pada tahap ini proses berjalan dalam keadaan steady state dan
akumulasi = 0 Dari neraca komponen , diperoleh :
F Co = F.C + Vr (27)
F Co = F.C + V.k.Cs2 (28)

Co = Cs + k. Cs 2 (29)

k. . Cs 2 + Cs Co = 0 (30)
Apabila k diketahui maka Cs dapat diprediksikan. Sebaliknya apabila Cs
diukur maka nilai k dapat dihitung. Pers. (30) merupakan persamaan
aljabar biasa dan dapat diselesaikan dengan mudah.

2.3 Tinjauan Termodinamika


Reaksi = CH3COOC2H5 + NaOH CH3COONa + C2H5OH
Untuk menetukan sifat reaksi apakah berjalan eksotermis/endotermis
maka perlu membuktikan dengan menggunakan panas permbentukan standart
(Hf) pada 1 atm dan 298 K dari reaktan dan produk
H298 = Hreaktan - Hproduk
Diketahui data sebagai berikut :
H CH3COOC2H5 = -444.500 J/mol
H NaOH = -425.609 J/mol
H CH3COONa = -726.100 J/mol
H C2H5OH = -235 J/mol
Sehingga
H reaksi =(H CH3COONa+H C2H5OH)(H CH3COOC2H5+H NaOH)
= (-726.100 + -235.609) (-444.500 - 425.609)
= -91600 J/mol
Karena H bernilai negatif maka reaksi yang berlangsung adalah reaksi
eksotermis yang menghasilkan panas.
Reaksi = CH3COOC2H5+ NaOH CH3COONa + C2H5OH
8
Untuk menentukan sifat reaksi apakah berjalan searah atau bolak balik
dapat diketahui dari nilai konstanta keseimbangan reaksi. Pada suhu kamar
diperoleh data :
G CH3COOC2H5 = -328 000 J/mol
G NaOH = -379 494 J/mol
G CH3COONa = -631 200 J/mol
G C2H5OH = -168 490 J/mol
Sehingga,
G reaksi = G produk - G reaktan
=[G CH3COONa+G C2H5OH] [G CH3COOC2H5+G
NaOH]
= [-631 200 - 168 490] J/mol [-328 000 -379 494]
= -92196 J/mol

( ) = 2

G = RT ln K
K pada standar 298 K = (/)
Dari data di atas diperoleh nilai konstanta keseimbangan pada
temperature 298 K adalah 4,179 x 1067. Pada temperature operasi, harga K
dihitung dengan persamaan:
1 1
= ( )
1
T = 27oC (suhu ruang) = 300 K
4,19.1067 91091 1 1
= 1,987 (298 300)

k= 1.168 x 10-66
Karena harga konstanta keseimbangan kecil, maka reaksi berlangsung
searah (irreversible).
2.4 Tinjauan Kinetika
Ditinjau dari kinetika reaksi, kecepatan reaksi saponifikasi etil asetat
dengan NaOH akan makin besar dengan kenaikan suhu, adanya pengadukan
dan perbedaan konsentrasi. Hal ini dapat dijelaskan oleh persamaan Arrhenius
yaitu
9

Dengan :
k = konstanta laju reaksi
A = faktor frekuensi tumbukan
T = suhu
EA = Energi aktivasi
R = konstanta gas ideal
= 1,98 cal/gm-mol.oK
= 1,98 Btu/lb-mol.oR
=82,06 cm3.atm/gm-mol.oK
Berdasarkan persamaan Arrhenius dapat dilihat bahwa konstanta laju reaksi
dipengaruhi oleh nilai faktor frekuensi tumbukan, suhu,dan energi aktivasi.
2.5 Sifat Fisis dan Kimia Reagen
1) NaOH
Sifat fisis :
- Berat Molekul = 40 gr/mol
- Titik didih = 134 C
- Titik lebur = 318, 4 C
- Berat jenis = 2, 130 gr/mol
- Kelarutan dalam 100 bagian air dingin 10 C = 42
- Kelarutan dalam 100 bagian air panas 100C = 32
Sifat kimia :
- Dengan Pb(NO3)2 membentuk endapan Pb(OH)2 yang larut dalam
reagen excess, merupakan basa kuat, mudah larut dalam air.
2) Etil Asetat
Berat jenis = 1, 356 gr/mol
Titik didih = 85 C
Berat molekul = 88 gr/mol
Titik lebur = -111 C
Sifat kimia:
10
Bereaksi dengan Hg+ membentuk endapan Hg2Cl2 putih yang tidak
larut dalam air panas dan asam encer tetapi larut dalam ammonia encer dan
KCN tiosulfat, beraksi dengan Pb2+ membentuk PbCl2 putih, mudah
menguap apabila dipanaskan.
3) HCl
Sifat Fisika :
1. Massa atom : 36,45
2. Massa jenis : 3,21 gr/cm3.
3. Titik leleh : -1010C
4. Energi ionisasi : 1250 kj/mol
5. Kalor jenis : 0,115 kal/gr0C
6. Pada suhu kamar, HCl berbentuk gas yang tak berwarna
7. Berbau tajam.
Sifat Kimia :
1. HCl akan berasap tebal di udara lembab.
2. Gasnya berwarna kuning kehijauan dan berbau merangsang.
3. Dapat larut dalam alkali hidroksida, kloroform, dan eter.
4. Merupakan oksidator kuat.
5. Berafinitas besar sekali terhadap unsur-unsur lainnya, sehingga dapat
6. Racun bagi pernapasan.
2.6 Menentukan Orde Reaksi
Trial orde reaksi pada reaktor batch
1. Diberikan data waktu (t) dan Ca, Cao adalah Ca pada t=0
2. Membuat data -ln(Ca/Cao) dan 1/Ca
3. Pertama menebak orde reaksi pertama dengan membuat grafik
ln(Ca/Cao) vs t, hasil grafik harus lurus
a. Jika hasil grafik tidak lurus, maka menebak orde reaksi kedua dari
grafik antara 1/Ca vs t, hasil grafik harus lurus. (Apabila Cao = Cbo)
b. Jika hasil grafik tidak lurus, maka menebak orde reaksi kedua dari
grafik antara ln Cb/Ca vs t, hasil grafik harus lurus. (Apabila Cao
Cbo)
11
4. Membentuk persamaan y = a + bx, a = intercept dan b = slope dari grafik
log t vs ln Cao

Gambar 2.2. Grafik Trial Reaksi Orede 1 Gambar 2.3. Grafik Trial
Reaksi Orde 2 (Ca0=Cb0)

Gambar 2.4. Grafik Trial Orde 2(Ca0 Cb0) Gambar 2.5.Grafik Trial Orde n
(Levenspiel. O., 1999)
2.7 Menghitung Harga Konstanta Reaksi Penyabunan (k) Etil Asetat dengan
NaOH
Reaksi : NaOH + CH3COOC2H5 CH3COONa + C2H5OH
A+B C+D
Orde reaksi 2
Persamaan kecepatan reaksi:
dCa
ra = = k. Ca. Cb dimana Ca = Cb
dt

= . 2


2 = .

0 2 = 0 .

1
[]
0 = .
12
1 1
0 = .

1 1
= . + 0

y = mx + c
Harga k didapat dari least square. Dimana harga k merupakan nilai dari m.
(Levenspiel. O., 1970)
Orde reaksi 1

= = .


0
= 0 .

[]
0 = .

[ln ln 0] = .


= .
0

=
13
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Rancangan Praktikum


3.1.1 Skema Rancangan Percobaan

Siapkan reaktan

Rangkai alat sesuai gambar

Masukkan kedua reaktan dengan perbandingan 1:1


hingga tinggi reaktor mencapai yang diinginkan

Ambil sampel sebanyak 5 ml saat t0 lalu ditirasi dengan


HCl

Jalankan Stirrer

Ambil sampel sebanyak 5 ml setiap 1,5 menit untuk


dititrasi dengan HCl

Hentikan sistem setelah volume titran konstan

Gambar 3.1 Skema Proses Batch

Siapkan reaktan
Rangkai alat sesuai gambar
Pompa kedua reaktan ke dalam reaktor dengan
perbandingan 1:1 hingga overflow

Buka kran output reaktor, atur hingga tinggi reaktor


tetap sesuai yang diinginkan
Ambil sampel sebanyak 5 ml saat t0 lalu ditirasi
dengan HCl + MO 3 tetes
Jalankan Stirrer
Ambil sampel sebanyak 7,5 ml setiap 1,5 menit untuk
dititrasi dengan HCl + MO 3 tetes

Hentikan sistem setelah volume titran konstan


Gambar 3.2 Skema Proses Kontinyu
14
3.1.2 Variabel Operasi
a. Variabel Berubah
1. Tanpa pengadukan
2. Pengadukan sedang
3. Pengadukan cepat
b.Variabel Tetap
- Konsentrasi NaOH 0.1 N 2 liter
- Etil Asetat 0.1 N 2 liter
- HCl 0.05 N 500 ml
- Ketinggian reactor 8 cm
- Pengambilan tiap 1.5 menit
- Perbandingan reaktan volume 1:1
- Suhu ruang
3.2. Bahan dan Alat yang digunakan
3.2.1 Bahan
1. NaOH 0.1 N
2. Etil Asetat 0.1 N
3. HCl 0.05 N
4. Indikator MO 3 tetes
5. Aquades
3.2.2 Alat
1. Pipet
2. Reaktor batch
3. Gelas ukur
4. Buret
5. Statif dan klem
6. Erlenmeyer
7. Rangkaian alat reaktor aliran kontinyu
15
3.3 Gambar Alat
a. Proses Batch

Gambar 3.3. Gambar alat utama proses batch


Keterangan :
1. Reaktor Batch
2. Stirer
3. Statif
b. Proses kontinyu

Gambar 3.4. Gambar alat utama proses kontinyu


Keterangan :
1. Reaktor Kontinyu
2. Stirrer
3. Statif
4. Tangki Reaktor
3.4 Respon Uji Hasil
Konsentrasi NaOH sisa yang dapat diamati dengan konsentrasi titran HCl
sampai TAT.
16
3.5 Prosedur Percobaan
A. Percobaan Batch
1. Siapkan reagen yang dibutuhkan: etil asetat 0.1 N, HCl 0.05 N, dan
NaOH 0.1 N.
2. Masukkan etil asetat 0.1 N dan NaOH 0.1 N dengan volume masing
masing 1 liter
3. Ambil sampel 5 ml tiap 1.5 menit, kemudian tambahkan indikator MO 3
tetes ke dalam sampel dan titrasi dengan HCl sampai warna merah
orange. Titrasi dihentikan sampai volume titran yang digunakan 3 kali
konstan.
4. Dengan perhitungan dapat diperoleh nilai Ca (konsentrasi NaOH sisa).
5. Lakukan langkah 1 sampai 4 dengan variable yang berbeda.
B. Percobaan Kontinyu
1. Siapkan reagen yang dibutuhkan: etil asetat 0.1 N, HCl 0.05 N, dan
NaOH 0.1 N.
2. Masukkan etil asetat dan NaOH ke dalam tangki umpan masing-masing.
3. Pompa masing-masing reaktan ke dalam CSTR yang kosong dan
menjaga konstan laju alirnya serta mereaksikannya.
4. Ambil sampel 5 ml tiap 1.5 menit, kemudian tambahkan indikator MO 3
tetes ke dalam sampel dan titrasi dengan HCl sampai warna merah
orange. Titrasi dihentikan sampai volume titran yang digunakan 3 kali
konstan.
5. Dengan perhitungan dapat diperoleh nilai Ca (konsentrasi NaOH sisa).
6. Lakukan langkah 1 sampai 5 dengan variabel yang berbeda.
17
BAB IV
HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN

4.1 Penentuan Harga Orde Reaksi Penyabunan Etil Asetat dengan NaOH
Tabel 4.1 Harga R2 Reaksi Penyabunan Etil Asetat dengan NaOH pada Orde 1
dan 2

R2
Variabel
Orde 1 Orde 2
Tanpa Pengadukan 0,4306 0,5185
Pengadukan Sedang -0,0503 0,0005
Pengadukan Cepat 0,2223 0,382
Reaksi yang terjadi pada percobaan penyabunan etil asetat dengan
NaOH adalah:
CH3 COOH + NaOH CH3 COONa + C2 H5OH
Nilai konstanta kecepatan reaksi (k) dapat diperoleh dari proses reaksi
secara batch. Orde reaksi dapat dicari dengan persamaan:
-rA = k [CH3 COOH] [NaOH]
-rA= k [Ca] [Cb] dimana Ca = Cb
-rA = k [Ca]2
Orde 1: -ln (Ca/Ca0) = k.t
Orde 2: 1/Ca = k.t + 1/Ca0
Regresi adalah suatu metode analisis statistik yang digunakan untuk
melihat pengaruh antara dua atau lebih variabel. Hubungan antar variabel
tersebut bersifat fungsional yang diwujudkan dalam suatu model matematis.
Salah satu cara melihat kelayakan model regresi ialah dengan cata melihat nilai
R2 dalam regresi. Semakin mendekati 1 nilai R2 maka kesesuaian model
semakin tinggi sebaliknya nilai R2 semakin rendah kecocokan model semakin
rendah. Nilai R2 merupakan nilai koefisien korelai Pearson yang dikuadratkan.
Oleh karena itu, jika koefisien korelasi kecil maka nilai R2 juga akan kecil. Dari
percobaan didapat data pada varibel tanpa pengadukan, pengadukan sedang dan
pengadukan cepat harga orde 1 yaitu 0,4306; -0,0503 dan 0,2223 sedangkan
18
untuk orde 2 yaitu 0,5185; 0,0005 dan 0,382. Berdasarkan data dari seluruh
variabel dapat dilihat hasil yang menunjukkan nilai regresi kuadrat yang
mendeketi satu adalah pada orde reaksi 2, Maka dari itu formula kecepatan
reaksi mengikuti formula dalam (Levenspiel, 1999) :
-dCa/dt=k Ca Cb
Dalam hal ini konsentrasi Ca = Cb sehingga formula laju reaksi menjadi:
-dCa/dt=k [Ca]2
Pada percobaan merupakan reaksi ireversibel (searah) bimolekuler dan berorde-
dua, dengan persamaan kinetika:
-rA = rR = k. Ca2
Reaksi yang terjadi tergolong reaksi elementer dikarenakan persamaan
kecepatan reaksinya berkaitan langsung dengan persamaan stoikiometrinya.

Contoh :
A+B R -rA = k Ca. Cb
2A R -rA = k Ca2 ( Iqmal, 2012)

Persamaan kecepatan reaksinya sesuai dengan reaksi stokiometrinya


(elementer) (Levenspiel, 1999).

4.2 Perhitungan Konstanta Orde Reaksi Penyabunan Etil Asetat dengan


NaOH
Tabel 4.2 Konstanta Orde Reaksi Penyabunan Etil Asetat dengan NaOH
Variabel Waktu (menit) Ca (mol/L) k (L/mol.menit)
Tanpa
4 0,009 2,5689
Pengadukan
Pengadukan
4 0,007 -0,0494
Sedang
Pengadukan
4 0,007 0,2536
Cepat
Pada variabel tanpa pengadukan dipilih orde reaksi 2, hal ini karena harga
R2 yang lebih mendekati 1 yaitu orde 2, harga R2 orde reaksi 2 sebesar 0,5185
lebih mendekati 1 dibandingkan R2 orde reaksi 1 yaitu sebesar 0,4306. Didapat
persamaan garis untuk variabel tanpa pengadukan sebagai berikut:
19
y = 2,5689x +122,62
y = mx +C
1 1
= kt + 0

m = k = 2,5689
Pada variabel pengadukan sedang dipilih orde reaksi 2, hal ini karena
harga R2 yang lebih mendekati 1 yaitu orde 2, harga R2 orde reaksi 2 sebesar
0,0005 lebih mendekati 1 dibandingkan R2 orde reaksi 1 yaitu -0,0503. Didapat
persamaan garis untuk variabel pengadukan sedang sebagai berikut:
y = -0,0494x +127,73
y = mx +C
1 1
= kt + 0

m = k = -0,0494
Pada variabel pengadukan dipilih orde reaksi 2, hal ini karena harga R 2
yang lebih mendekati 1 yaitu orde 2, harga R2 orde reaksi 2 sebesar 0,382
lebih mendekati 1 dibandingkan R2 orde reaksi 1 yaitu sebesar 0,2223. Didapat
persamaan garis untuk variabel pengadukan sedang sebagai berikut:
y = 0,2536x+18,963
y = mx +C
1 1
= kt + 0

m = k = 0,2536
4.3 Pengaruh Variabel Pengadukan terhadap Konstanta Orde Reaksi
Penyabunan Etil Asetat dengan NaOH
Pada tabel 4.2 dapat dilihat bahwa harga konstanta laju orde reaksi
penyabunan etil asetat dengan NaOH berurutan dari tanpa pengadukan,
pengadukan sedang, dan pengadukan cepat yaitu 2,5689; -0,0494 dan 0,2536.
Namun pada praktikum ini, konstanta kecepatan reaksi cenderung
menurun seiring dengan semakin besarnya konsentrasi NaOH. Hal ini
disebabkan konsentrasi awal Etil asetat (Cb0) lebih kecil dari pada konsentrasi
awal NaOH (Ca0), sehingga jika dimasukkan kedalam persamaan berikut,

ln = ( ). + ln

y = mx + c
20
maka harga k yang didapatkan bernilai negatif (Levenspiel. O., 1999)

4.4 Perbandingan Hasil Percobaan dengan Model Matematis


0.012
0.01

Ca (mol/L)
0.008
0.006
Ca analitis
0.004
0.002 Ca model

0
0 1 2 3 4 5
Waktu (menit)

Gambar 4.1 Grafik perbandingan Ca analitis dengan Ca model terhadap


waktu tanpa pengadukan
0.012
0.01
Ca (mol/L)

0.008
0.006
0.004
Ca analitis
0.002
0 Ca model
0 1 2 3 4 5
Waktu (menit)

Gambar 4.2 Grafik perbandingan Ca analitis dengan Ca model terhadap


waktu dengan pengadukan sedang
0.012
0.01
Ca (mol/L)

0.008
0.006
Ca analitis
0.004
Ca model
0.002
0
0 1 2 3 4 5
Waktu (menit)

Gambar 4.3 Grafik perbandingan Ca analitis dengan Ca model terhadap


waktu dengan pengadukan cepat
21
Berdasarkan grafik, dapat dilihat bahwa Ca analitis pada variabel
tanpa pengadukan, pengadukan sedang, dan pengadukan cepat lebih besar dari
Ca model. Hal ini dikarenakan Ca model yang diperoleh dari perhitungan
matematis menggunakan metode Runge Kutta. Dipilih metode ini karena Runge
Kutta dianggap metode yang memberikan keakuratan tinggi.
Ca model matematis merupakan Ca Ideal. Sedangkan Ca percobaan
diperoleh dari percobaan dengan variabel pengadukan pengadukan sehingga
keakuratannya lebih rendah dari Ca model matematis. Ca model matematis
diperoleh dari data hasil percobaan yang kemudian diaplikasikan ke dalam
perhitungan teoritis metode Runge Kutta. Karena hasil perhitungan k1, k2, k3,
k4 adalah negatif, maka nilai Ca bertanda negatif, sehingga Ca matematis
lebih kecil daripada Ca percobaan.
22
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Reaksi penyabunan etil asetat dengan larutan NaOH merupakan reaksi
orde 2
2. Konstanta reaksi dari variabel tanpa pengadukan adalah 0,3778L/mol.menit,
variabel pengadukan sedang adalah -0,0494 L/mol.menit, dan variabel
pengadukan cepat adalah 0,2536 L/mol.menit.
3. Semakin cepat pengadukan, nilai konstanta reaksi (k) akan semakin kecil.
4. Pada semua variabel Ca analitis lebih besar dari Ca model matematis.
5.2 Saran
1. Gunakan pengaduk tangki yang mempunyai skala rotasi yang pasti untuk
mempermudah perhitungan
2. Mengatur debit input dan output saat proses kontinyu supaya seimbang
3. Praktikum ini dapat dikembangkan dengan variasi variabel yang lain seperti
tinggi cairan dalam reaktor, dan suhu reaksi. Hal ini ditujukan agar
didapatkan kondisi operasi yang paling optimal.
23
DAFTAR PUSTAKA
Levenspiel, 1999. Chemical reaction Engineering 3rded, Mc. Graw Hill Book
Kogakusha Ltd, Tokyo.
Smith, A. K., Ayanian, J. Z., Covinsky, K. E., Landon, B. E., McCarthy, E. P.,
Wee,C. C., & Steinman, M. A. (2011). Conducting high-value secondary
dataset analysis: Anintroductory guide and resources. Journal of General
Internal Medicine, 28(8), 920.
LAPORAN SEMENTARA
PRAKTIKUM PROSES KIMIA

Materi :
REAKTOR IDEAL ALIR KONTINYU

NAMA : Digda, Iin, Erwinda, Dhani


GROUP : 2/Senin
REKAN KERJA : Adyatmika Digda A NIM 21030115120055
Erwinda Febriyana NIM 21030115120039
Fitra Ramadhani NIM 21030115130147
Iin Mahardini K.N NIM 21030115120066

LABORATORIUM PROSES KIMIA


DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017
A-1
I. TUJUAN PERCOBAAN
1. Menentukan harga orde reaksi penyabunan etil asetat dengan NaOH.
2. Menghitung harga konstanta reaksi (k) penyabunan etil asetat dengan
NaOH.
3. Mengetahui pengaruh variabel terhadap konstanta reaksi (k) penyabunan
etil asetat dengan NaOH.
4. Membandingkan hasil percobaan dengan perhitungan model matematis
reaksi penyabunan pada reaktor ideal aliran kontinyu.
II. PERCOBAAN
2.1.Bahan yang Digunakan
1. NaOH 0.1 N
2. Etil Asetat 0.1 N
3. HCl 0.05 N
4. Indikator MO 3 tetes
5. Aquades
2.2.Alat yang Digunakan
1. Pipet
2. Reaktor batch
3. Gelas ukur
4. Buret
5. Statif dan klem
6. Erlenmeyer
7. Rangkaian alat reaktor aliran kontinyu
a. Proses Batch

Gambar alat utama proses batch

A-1
Keterangan :
1. Reaktor Batch
2. Stirer
3. Statif
a. Proses kontinyu

Gambar alat utama proses kontinyu


Keterangan :
1. Reaktor Kontinyu
2. Stirrer
3. Statif
4. Tangki Reaktor
2.3. Prosedur Percobaan
A. Percobaan Batch
1. Siapkan reagen yang dibutuhkan: etil asetat 0.1 N, HCl 0.05 N, dan
NaOH 0.1 N.
2. Masukkan etil asetat 0.1 N dan NaOH 0.1 N dengan volume masing
masing 1 liter.
3. Ambil sampel 5 ml tiap 1.5 menit, kemudian tambahkan indikator
MO 3 tetes ke dalam sampel dan titrasi dengan HCl sampai warna
merah orange. Titrasi dihentikan sampai volume titran yang
digunakan 3 kali konstan.
4. Dengan perhitungan dapat diperoleh nilai Ca (konsentrasi NaOH
sisa).
5. Lakukan langkah 1 sampai 4 dengan variable yang berbeda.
B. Percobaan Kontinyu

A-1
1. Siapkan reagen yang dibutuhkan: etil asetat 0.1 N, HCl 0.05 N, dan
NaOH 0.1 N.
2. Masukkan etil asetat dan NaOH ke dalam tangki umpan masing-
masing.
3. Pompa masing-masing reaktan ke dalam CSTR yang kosong dan
menjaga konstan laju alirnya serta mereaksikannya.
4. Ambil sampel 5 ml tiap 1.5 menit, kemudian tambahkan indikator
MO 3 tetes ke dalam sampel dan titrasi dengan HCl sampai warna
merah orange. Titrasi dihentikan sampai volume titran yang
digunakan 3 kali konstan.
5. Dengan perhitungan dapat diperoleh nilai Ca (konsentrasi NaOH
sisa).
6. Lakukan langkah 1 sampai 5 dengan variabel yang berbeda.
2.4. Hasil Percobaan
H = 6.3 cm
1. Batch
Tanpa Pengadukan Pengadukan
Pengadukan (ml) Sedang (ml) Cepat (ml)
to 4 3.8 3.8
t1 4.2 4.1 4
t2 3.8 3.9 3.7
t3 3.8 3.9 3.7
t4 3.8 3.9 3.7

2. Kontinyu
Tanpa Pengadukan Pengadukan
Pengadukan (ml) Sedang (ml) Cepat (ml)
to 4.9 3.5 3.7
t1 4.3 3.8 3.7
t2 4.5 3.5 3.8
t3 4.5 3.5 3.8
t4 4.5 3.5 3.8

A-1
Semarang, November 2017
Mengetahui,
Praktikan, Asisten,

Digda Erwinda Gabriella Ardhya P.


NIM 21030115120055 NIM 21030115120039 NIM. 21030115140154

Iin Dhani
NIM 21030115120066 NIM 21030115130147

A-1
LEMBAR PERHITUNGAN
1. Reagen
Variabel berubah
1) Tanpa pengadukan
2) Pengadukan sedang
3) Pengadukan cepat
Variabel tetap
1) Etil asetat = 0,086 N
2) NaOH = 0,086 N
3) HCl = 0,068 N
4) Volume = 1 Liter
a. Berat NaOH 0,086 N
1000
= %

1000
0,086 = 98%1
40 1000
= 3,51
b. Etil Asetat 0,086 N
= 1,148 /
. 1000
= % 1

1,148 1000
0,068 = 25% 1
36,5 1000
= 8,648
2. Lembar Perhitungan
a. Batch
Reaksi : NaOH + CH3COOC2H5 CH3COONa + C2H5OH
A + B C + D
Orde reaksi 1

= = .


0
= 0 .

[]
0 = .

[ln ln 0] = .

A-2

= .
0

=
Orde reaksi 2
Persamaan kecepatan reaksi:

= = . . =


= . 2


2 = .

0 2 = 0 .
1
[]
0 = .

1 1
0 = .

1 1
= . + 0

y = mx + c
1.) Tanpa pengadukan
Waktu (menit) VHCl N NaOH (Ca) -Ln Ca/Cao 1/Ca
0 4 0,0544 0 125
1 4,2 0,05712 -0,04879 119,0476
2 3,8 0,05168 0,051293 131,5789
3 3,8 0,05168 0,051293 131,5789
4 3,8 0,05168 0,051293 131,5789

0.08
0.06
0.04
-ln Ca/Ca0

y = 0.0138x
0.02 R = 0.4306
0
-0.02 0 1 2 3 4 5

-0.04
-0.06
Waktu (menit)

A-2
20
19.5
19

1/Ca
18.5 y = 0.3778x + 18.032
18 R = 0.5185
17.5
17
0 1 2 3 4 5
Waktu (menit)

Dari grafik diatas, dapat dilihat harga R2 pada orde reaksi 1 0,4306
dan orde reaksi 2 0,5185. Harga R2 yang mendekati 1 adalah orde reaksi
2 sehingga dapat ditentukan harga konstanta kecepatan reaksi pada
variabel tanpa pengadukan adalah 0,3778.
2.) Pengadukan sedang
Waktu (menit) VHCl N NaOH (Ca) -Ln Ca/Cao 1/Ca
0 3,8 0,05168 0 131,5789
1 4,1 0,05576 -0,07599 121,9512
2 3,9 0,05304 -0,02598 128,2051
3 3,9 0,05304 -0,02598 128,2051
4 3,9 0,05304 -0,2598 128,2051

0
-0.01 0 1 2 3 4 5
-0.02
-ln Ca/Ca0

-0.03
-0.04
-0.05
-0.06
y = -0.0103x
-0.07
R = -0.503
-0.08
Waktu (menit)

A-2
134
132
130
128

1/Ca
126
124
y = -0.0494x + 127.73
122 R = 0.0005
120
0 1 2 3 4 5
Waktu (menit)

Dari grafik diatas, dapat dilihat harga R2 pada orde reaksi 1 -0,0503
dan orde reaksi 2 0,0005. Harga R2 yang mendekati 1 adalah orde reaksi
2 sehingga dapat ditentukan harga konstanta kecepatan reaksi pada
variabel pengadukan sedang adalah -0,0494.
3.) Pengadukan cepat
Ln
t(menit) VHCl NNaOH 1/Ca
Ca/Cao
0 3.8 0,05168 0 131.5789
1 4 0,0544 -0.05129 125
2 3.7 0,05032 0.026668 135.1351
3 3.7 0,05032 0.026668 135.1351
4 3.7 0,05032 0.026668 135.1351

0.04

0.02 y = 0.0063x
-ln Ca/ Ca0

R = 0.2223
0
0 1 2 3 4 5
-0.02

-0.04

-0.06
Waktu (menit)

A-2
20.5
20
19.5

1/ Ca
y = 0.2536x + 18.963
19 R = 0.382
18.5
18
0 1 2 3 4 5
Waktu (menit)

Dari grafik diatas, dapat dilihat harga R2 pada orde reaksi 1 0,2223
dan orde reaksi 2 adalah 0,382. Harga R2 yang mendekati 1 adalah orde
reaksi orde reaksi 2 sehingga harga konstanta kecepatan reaksi pada
variabel pengadukan cepat adalah 0,2536.
b. Kontinyu
Neraca massa total
Input output = Akumulasi

l F0 0 = l

dV = F0 . dt
V = F0 . t (1)
Neraca massa komponen
Akumulasi = input output laju konsumsi karena reaksi

= (. ) = 0 . 0 0 ( )

(.)
= k0 . Ca0 0 V . k . Ca2

(.)
= k0 . Ca0 V . k . Ca2

(.)
= . V = FA0 . Ca0 = V . k . Ca2


F0 . Ca + (F0 . t) = F0 . Ca0 (F0 . t) k. Ca2


Ca + . t = Ca0 t . k . Ca2...............................(2)

Dari persamaan (1) dan (2) di selesaikan dengan Runge Kutta


(CA0CA)
k1 = [ - k . Ca2]

(CA0(CA+k1/2)
k2 = [ - k . (Ca + k1/2)2]
t+h/2

A-2
(CA0(CA+k2/2)
k3 = [ - k . (Ca + k2/2)2]
t+h/2
(CA0(CA+k3/2)
k4 = [ - k . (Ca + k3)2]
t+h/2
k1+2k2 +2k3+k4
Ca = 6

Ca model = Ca + Ca
1.) Tanpa pengadukan
Waktu V HCl N NaOH
K1 K2 K3 K4 Ca Ca Model
(menit) (mL) (Ca)
0 4,9 0,0098 0 0 0 0 0 0,011
1 4,3 0,0086 -0,00138 -0,00052 -0,00084 -0,00131 -0,000901 0,007698
2 4,5 0,009 -0,00109 -0,00068 -0,00078 -0,00158 -0,000930 0,00807
3 4,5 0,009 -0,00084 -0,00062 -0,00066 -0,00157 -0,000829 0,008171
4 4,5 0,009 -0,00072 -0,00057 -0,00059 -0,00156 -0,000768 0,008231

2.) Pengadukan sedang


Waktu V HCl N NaOH Ca
K1 K2 K3 K4 Ca
(menit) (mL) (Ca) Model
0 3,5 0,007 0 0 0 0 0 0,011
1 3,8 0,0076 -0,00165 -0,00058 -0,00097 -0,00104 -0,000963 0,006637
2 3,5 0,007 -0,00061 -0,00039 -0,00044 -0,00088 -0,000522 0,006478
3 3,5 0,007 -0,00047 -0,00035 -0,00037 -0,00087 -0,000465 0,006535
4 3,5 0,007 -0,0004 -0,00033 -0,00034 -0,00086 -0,00043 0,006569

3.) Pengadukan cepat


Waktu V HCl N NaOH
K1 K2 K3 K4 Ca Ca Model
(menit) (ml) (Ca)
0 3,7 0,0074 0 0 0 0 0 0,011
1 3,7 0,0074 -0,00088 -0,00028 -0,00047 -0,00041 -0,000465 0,006935
2 3,8 0,0076 -0,0005 -0,00029 -0,00033 -0,00043 -0,000360 0,00724
3 3,8 0,0076 -0,00031 -0,00021 -0,00022 -0,00037 -0,000257 0,007343

A-2
-
4 3,8 0,0076 -0,00021 -0,00016 -0,00016 -0,00032 0,0001953 0,007405
24

A-2
REFERENSI

A-3
A-3
A-3
A-3
A-3
LEMBAR ASISTENSI
DIPERIKSA TANDA
KETERANGAN
NO. TANGGAL TANGAN
1. 12 November 2017 Perbaiki format cover,
prakata, BAB I, BAB III,
Tambahkan halaman,
tambahkan daftar
lampiran dan lembar
asistensi.
2. 14 November 2017 Perbaiki Daftar Isi, Daftar
Gambar, Daftar Lampiran,
Prakata
Lengkapi BAB I dan III
Perbaiki Halaman
Lampiran.
3. 15 November 2017 Rapikan lembar
pengesahan, daftar isi dan
daftar gambar
Perbaiki keterangan
gambar di Bab 3