Anda di halaman 1dari 4

Percobaan ke-6 kamis, 10 November 2016

Penentuan kadar asam askorbat dalam tablet

A. Tujuan :
1. Mengetahui prinsip titrasi iodometri
2. Mengetahui prinsip titrasi asam basa
3. Menentuan kandungan Na2S2O3 dengan metode iodometri
4. Menentukan kadar (%) asam askorbat dalam tablet
5. Menentukan konsentrasi NaOH dengan metode titrasi asam basa
6. Menentukan kadar sampel menggunakan titrasi asam basa dengan larutan standar NaOH
B. Pembahasan

Vitamin C atau 2,3-didehydro-L-threo-hexeno-1,4-lactone dengan rumus molekul C6H12O6 dan


berat molekul 176,13 memiliki karakteristik kristal tidak berwarna atau serbuk keristal putih atau
kuning pucat, tidak berbau, atau hampir tidak berbau dan berasa asam. Vitamin C stabil dalam
keadaan kering, namun mudah teroksidasi, terutama dalam kelarutan alkali. Oksidasi dipercepat
dengan adanya panas, cahaya, oksidator dan logam berat. Vitamin C inkompatibel dengan
garam, besi, agen pengoksidasi dan garam dari logam berat.

Pada kasus ini asam askorbat mudah dioksidasi menjadi asam dehiaskorbat. Penentuan asam
askorbat dalam tablet pada percobaan ini dilakukan dengan cara prinsip titrasi iodometri dan
titrasi asam basa. Dimana titrasi iodometri ini melibatkan proses oksidasi dan reduksi. Kedua
proses ini selalu terjadi bersamaan. Dalam titrasi ini biasanya menggunakan potensiometri untuk
mendeteksi titik akhir. Untuk mengetahui kadar vitamin C metode titrasi yang digunakan adalah
titrasi langsung yang menggunakan iodium. Iodium akan mengoksidasi senyawa-senyawa yang
mempunya potensial reduksi yang lebih kecil daripada iodium sehingga dilakukan titrasi
langsung dengan iodium, dengan pendeteksian titik akhir pada titrasi iodometri ini adalah dengan
menggunakan indikator amilum yang akan memberikan warna biru pada saat tercapainya titik
ekivalen. Karena asam askorbat adalah asam yang lemah, oleh karena itu dilakukan juga titrasi
asam basa yang mana pada titrasi ini hanya satu atom hidrogen dari tiap molekul asam askorbat
yang cukup kuat untuk bereaksi dengan asam kuat yang pada percobaan ini digunakan NaOH
sebagai asam kuat serta indikator yang digunakan untuk mendeteksi titik ekivalen adalah
indikator PP.

Pada percobaan penentuan asam askorbat dalam tablet ini dilakukan dengan tujuan untuk
menentukan kandungan asam askorbat dalam tablet dengan titrasi redoks atau iodometri, dan
titrasi asam basa. Dalam percobaan ini dilakukan beberapa percobaan diantaranya menentukan
konsentrasi larutan Na2S2O3 dengan cara pembakuan larutan Na2S2O3 dengan larutan KIO3,
menentukan kadar asam askorbat dalam sampel, menentukan konsentrasi NaOH dengan cara
pembakuan larutan NaOH, serta menentukan kadar sampel melalui titrasi dengan NaOH.
Pada percobaan pembakuan larutan Na2S2O3 dengan larutan KIO3. Hal pertama yang dilakukan
dalam percobaan ini ialah dengan menimbang sebanyak 3,1621 gram Na2S2O3 dalam bentuk
padatan berwarna putih yang kemudian dilarutkan dalam 40 ml aquadest dari hasil perhitungan
didapat konsentrasi Na2S2O3 adalah 0,5M, setelah itu dilakukan pengenceran kembali dengan
cara dilarutkannya 40 ml larutan Na2S2O3 didalam 200 ml aquadest serta dari hasil perhitungan
didapat konsentrasi Na2S2O3 setelah pengenceran adalah 0,1M, lalu larutan ditempatkan dalam
buret. Kemudian langkah selanjutnya larutan ini akan dititrasi dengan larutan KiO3 yang mana
dalam pembuatan larutannya dengan menimbang sebanyak 25 gram KiO3 dalam bentuk padatan
berwarna putih yang kemudian dilarutkan dalam 250 ml aquadest. Lalu, larutan dipipet sebanyak
25ml ke labu titrasi dan ditambahkan dengan 10 ml KI 10% yang mana dalam pembuatan
larutannya dilakukan dengan menimbang sebanyak 25 gram KI dalam bentuk padatan yang
kemudian dilarutkan dalam 250ml aquades dan terbentuk larutan tak berwarna serta 5ml H2SO4
2M yang mana dalam pembuatan larutannya dilakukan dengan cara memipet sebanyak 10,8784
ml H2SO4 pekat yang kemudian dilarutkan dalam 200 ml aquadest, lalu larutan menjadi
berwarna coklat, serta ditambahkan 5ml aquadest. Terbentuk larutan berwarna coklat.

Setelah semua perlakuan diatas dilakukan pentitrasian antara larutan KIO3 dan Na2S2O3 dalam
buret. Setelah ditirasi larutan berubah menjadi kuning pucat. Setelah itu larutan ditambahkan
dengan 2ml amilum 0,2% yang mana dalam pembuatan larutannya dilakukan dengan cara
menimbang sebanyak 0,2 gram amilum dalam bentuk serbuk berwarna putih yang kemudian
dilarutkan dalam 100 ml aquadest. Dalam hal ini amilum merupakan larutan tak berwarna, ketika
ditambahkan kedalam larutan KIO3, warna larutan berubah menjadi kuning pucat ++, lalu
dititrasi kembali dengan na2s2o3 dalam buret warna larutan berubah menjadi biru dan kemudian
warna biru perlahan menghilang, serta pentitrasian dihentikan ketika warna biru tepat hilang.
Pentitrasian dilakukan secara duplo untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Dari hasil
percobaan didapat V1= 9,8 dan V2= 9,8 , Vpakai=19,6 serta vrata rata yang didapat adalah 9,8.
Dari hasil data yang didapat berdasarkan hasil perhitungan didapat konsentrasi na2s2o3 adalah
0,0225 M.

Fungsi dari penambahan KI adalah sebagai garam pengoksidasi iodide secara kuantitatif menjadi
iodium dalam larutan.Larutan kanji ditambahkan tidak tepat pada saat sebelum titik akhir titrasi
dicapai karena katika pada saat itu konsetrasi i2 sudah dalam keaadan seminimal mungkin.
Artinya konsentrasi i2 sudah sangat kecil. Pada titrasi iodometri titrasi harus dalam keadaan
asam lemah atau nertal karena dalam keadaan alkali akan terbentuk iodat yang terbentuk dari ion
hipoiodit yang merupakan reaksi mula-mula antara iodin dan ion hidroksida, sesuai dengan
reaksi :

I2 + O2 HI + IO

3 IO IO3 + 2 I
Dalam keadaan alkali ion-ion ini akan mengoksidasi sebagian tiosulfat menjadi ion sulfat
sehingga titik kesetaraannya tidak tepat lagi. pada proses iodometri juga perlu dihindari
konsentrasi asam yang tinggi karena asam tiosulfat yang dibebaskan akan mengendap dengan
pemisahan belerang, oleh sebab itu pada percobaan ini dilakukan penambahan aquadest
sebanyak 5 ml dengan tujuan untuk mengencerkan atau mengurangi keasaman dari h2so4 yang
merupakan asam kuat. sesuai dengan reaksi berikut :

S2O3= + 2 H+ H2S2O3

8 H2S2O3 8 H2O + 8 SO2 + 8 S

Selanjutnya percobaan yang kedua adalah penentuan kadar asam askorbat dalam sampel. Sampel
yang digunakan dalam percobaan ini adalah tablet vitacimin. Sampel ini akan digunakan untuk
menentukan kadar asam askorbat didalam tablet tersebut. Hal yang pertama dilakukan dalam
percobaan ini adalah dengan menggerus tablet vitacimin yang berwarna kuning pucat hingga
halus, lalu ditimbang sebanyak 2,5 gram, dan dilarutkan dalam 250ml di labu takar untuk
selanjutnya dipipet sebanyak 25 ml kedalam erlemeyer dan terebentuk larutan berwarna kuning.
Lalu ditambahkan 10 ml larutan Kio3 serta 10 ml larutan Ki 10 %. Pada saat penambahan kedua
larutan tak terjadi perubahan secara visual, lalu ditambahkan kembali dengan 5 ml H2SO4 2m
larutan berubah warna menjadi coklat. Kemudian larutan sampel dititrasi dengan na2s2o3 dalam
buret. Pada saat dititrasi nlarutan berubah menjadi kuningpucat, kemudian ditambahkan 2ml
amilum 0,2%. Amilum merupakan larutan tak berwarna, pada saat ditambahkan pada larutan
sampel tidak terjadi perubahan secara visual, larutan tetap berwarna kuning pucat. Kemudian
larutan sampel dititrasi kembali dengan na2c2o3 dalam buret. Pada saat pentitrasian timbul
warna biru sesaat kemudian warna biru tersebut hilang lagi lalu larutan berubah menjadi kuning
bening dan pentitrasian pun dihentikan. Percobaan dilakukan secara duplo untuk mendapatkan
hasil yang lebih akurat. Dari percobaan ini v1 v2 vpakai kadar asam askorbat dalam
sampel.

Fungsi penambahan ki adalah sebagai pereaksi untuk memperlihatkan jumlah vitac yang terdapat
dalam sampel menjadi senyawa dehidroksiaskorbat sehingga akan biru karena pereaksi yang
berlebih. Fungsi lain dari penambahan KI adalah untuk membentuk ion I3-. Penambahan h2so4
ini untuk memberikan suasana asam sebab titrasi hanya dapat dilakukan pada ph 5-8. Sebab
larutan yang terdiri dari kalium iodat dan kalium iodide berada dalam kondisi netral dan
memiliki keasaman yang rendah.

Kesimpulan
Kemudian percobaan selanjutnya ialah penentuan kadar asam askorbat melalui titrasi asam basa .
karena asam askorbat adalah asam lemah, oleh karena itu asam askorbat dapat juga ditentukan
dengan titrasi asam basa. pada percobaan ini asam askorbat dititrasi dengan larutan NaOh yang
telah distandarisasi sebelumnya dengan indikator yang digunakan dalam percobaan ini adalah
indikator pp. sebelum dilakukan penentuan kadar asam askorbat dalam sampel melalui titrasi ini
. terlebih dahulu dilakukan penstandarisasian larutan NaOH dengan cara menimbang sebanyak 1
gram Naoh dalam bentuk padatan berwarna putih yang kemudian dilarutkan dalam 250 ml
aquadest dalam labu takar . dari hasil perhitungan didapat konsentrasi NaOh adalah 0,1M.
setelah itu dipipet sebanyak 40 ml dan diencerkan pada 200 ml aquadest , lalu didapat
konsentrasi larutan NaOh setelah pengenceran adalah sebesar 0,02M dan ditempatkan pada buret
50ml . kemudia larutan ini akan distandarisasi dengan larutan Na2s203 yang mana dalam
pembuatan larutannya dilakukan dengan cara menimbang sebanyak 3,3134 gram dalam bentuk
padatan yang kemudian dilarutkan dalam 250 aquadest pada labu takar dan dipipet sebanyak 10
ml kedalam erlemeyer . lalu larutan pada labu titrasi diberi perlakuan dengan menambahakan
indikator pp sebanyak 2 tetes . larutan na2s2o3 merupakan larutan tak berwarna ketika
ditambhakan indikator pp yang merupakan larutan tak berwarna tidaka terjadi perubahan secara
visual . setelah perlakuan diatas dilakukan pentitrasian pun dilakukan antara naoh dan na2s2o3 .
pada saat dititrasi larutan berubahah menjadi merah muda yang menandakan telah mencapai titik
ekivalen . dan pentitrasian pun dihentikan . pemakaian titik akhir titrasi ditandai dengan
perubahan warna menjadi merah muda karena adanya penambahan indikator pp tersebut. Titrasi
dilakukan secara duplo untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat dengan v1.. v2 v pakai v
rata rata.. konsentrasi naoh yang didapat adalah..

Setelah itu percobaan terakhir adalah penentuan kadar sampel dengan titrasi asam masa yang
mana pada percobaan ini larutan sampel dipipet sebanyak 10 ml kedalam erlemeyer yang
kemudian ditambahkan 3 tetes indikator pp. setelah perlakuan tersebut dilakukan pentitrasian
antara larutan sampel dengan naoh dapat dilakukan. Pada saat titrasi dilakukan larutan sampwl
yang semula berwara kuning berubah menjadi coklat seulas . hal ini menandakan telah terjadi
titik ekivalen larutan sampel dan pentitrasian pun dihentikan. Pada percobaan ini dilakukan
duplo untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat

Tablet Vitamin C mempunyai BM 176,13 direaksikan dengan NaOH. Reaksi yang terjadi
adalah reaksi alkalimetri. Alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa yang bersifat asam
dengan menggunakan larutan baku basa. Alkalimetri termasuk reaksi netralisasi, yaitu
reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal
dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan
sebagai reaksi antara donor proton (asam) dengan penerima proton (basa).