Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama dan


pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin di dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai
komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas (uu no
18 keamanan pangan ). Pangan yang aman, bermutu, bergizi, berada dan tersedia
cukup merupakan prasyarat utama yang harus dipenuhi dalam upaya
terselenggaranya suatu sistem pangan yang memberikan perlindungan bagi
kepentingan kesehatan serta berperan dalam meningkatkan kemakmuran dan
kesejahteraan rakyat.
Kesadaran akan pentingnya keamanan pangan telah terjadi meningkat
secara nasional dan internasional akibat terjadinya- Kehadiran berbagai patogen
dan bahaya pangan dari impor dan makanan yang diproduksi di dalam negeri.
Ancaman seperti bovine spongi- bentuk ensefalopati (BSE), flu burung,
salmonella, mikotoksin, akrilamida, dioksin, dan residu dari antibiotik, serta radi-
telah mempengaruhi banyak negara dan mengakibatkan penurunan kepercayaan
masyarakat terhadap regulasi keamanan pangan dan sistem manajemen. Pesatnya
perkembangan perdagangan pangan internasional dan Perluasan sistem distribusi
pangan telah meningkat pesat potensi penyebaran penyakit bawaan makanan dan
kontaminan (dina alkandari 2012). Maka dari itu Keamanan pangan merupakan
tanggung jawab bersama antara pemerintah, industri yang meliputi produsen
bahan baku, industri pangan dan distributor, serta konsumen. Keterlibatan ketiga
sektor tersebut sangat berpengaruh terhadap keberhasilan keamanan pangan. Kita
tidak bisa hanya menyerahkan tanggung jawab kepada pemerintah atau pihak
produsen saja akan tetapi semua pihak termasuk konsumen punya andil cukup
penting dalam meningkatkan keamanan pangan.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari makalah ini adalah

1. Apa yg dimaksud dengan keamanan pangan


2. Bagaimana hubungan keamanan pangan dengan kesehatan
3. Bagaiman dampak kerusakan pangan terhadap ekonomi
1.3 Tujuan

1. Mengeahui pengerian keamana pangan


2. Mengetahui hubungan keamana pangan dengan kesehatan manusia
3. Mengeahui dampak kerusakan pangan terhadap ekonomi

1.4 Manfaat

Dengan adanya makalah ini diharapkan pembaca dapat lebih memahami


mengenai kemanan pangan , hubungannya dengan kesehatan dan pengaruh
keamanan pangan terhadap ekonomi.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Keaman pangan


2.1.1 Pengertian keamana pangan
Menurut Undang-undang Republik Indonesia no. 18/2012 tentang
pangan, bahwa keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan
untuk mencegah Pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan
benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan
kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan
budaya masyarakat, sehingga aman untuk dikonsumsi.
2.1.2 dampak dari keusakan pangan
Keamanan pangan merupakan isu kesehatan masyarakat yang
semakin penting. Wabah penyakit bawaan makanan dapat merusak
perdagangan dan pariwisata, dan menyebabkan hilangnya pendapatan,
pengangguran dan proses pengadilan Secara global, kejadian penyakit
bawaan makanan meningkat dan in- Perdagangan pangan ternasional
terganggu oleh perselisihan makanan yang sering terjadi persyaratan
keselamatan dan kualitas Penyebab makanan yang tidak aman banyak
penyakit akut dan seumur hidup, mulai dari penyakit diare untuk berbagai
bentuk kanker. Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO, 2002 ) memperkirakan
bahwa penyakit bawaan makanan dan penyakit diare dibawa bersama
membunuh sekitar 2,2 juta orang per tahun, 1,9 juta di antaranya anak-anak.
Di negara industri, persentase penduduk yang menderita dari penyakit
bawaan makanan setiap tahun telah dilaporkan sampai 30%. Di Amerika
Serikat (AS), misalnya, sekitar 76 juta kasus penyakit bawaan makanan,
mengakibatkan 325.000 rawat inap dan 5000 kematian, diperkirakan terjadi
setiap tahunnya. Tingginya prevalensi penyakit diare di banyak negara
berkembang masalah keamanan pangan yang mendasari utama (Myo Min
Aung and Yoon Seok Chang,2013)
Dalam dua dekade terakhir ketertelusuran makanan telah menjadi
impor- Masalah karena krisis pangan seperti penyakit kaki dan mulut,
bovine spongiform encephalopathy (BSE), krisis dioksin, flu burung,
kontaminasi melamin susu, dan makanan lainnya insiden keselamatan yang
melibatkan produk akuatik dan juga makanan- terfeiting dan isu produksi
berkelanjutan termasuk masalah ketenagakerjaan Makanan Krisis kualitas
dan keamanan pada gilirannya menyebabkan krisis ekonomi yang signifikan
dan hubungan pemasaran di tingkat nasional dan internasional.( Liu et al
2012)

Secara historis, ketakutan makan telah banyak dialami manusia tahun.


Atkins (2008) telah dibahas bahwa, di Eropa, takut makanan (terutama
bahaya zonotik) telah menyertai masyarakat Inggris di paling tidak 150
tahun Saltini dan Akkerman (2012) menyebutkan bahwa hanya dalam
Makanan yang mengandung makanan di Eropa mempengaruhi sekitar 1%
populasi (kira- imately tujuh juta orang) setiap tahun. Baru di tahun 2011,
kira-kira 16,7% populasi (47,8 juta orang) jatuh sakit di Amerika dan di
Indonesia hubungan dengan penyakit terkait makanan (Techane Bosona and,
Girma Gebresenbet2013)
2.1.3. Sistem pengendalian makanan
Dalam sistem yang terintegrasi, tanggung jawab untuk pengendalian
makanan dapat dibagi menjadi empat tingkat operasi. Ini adalah:
(1) penilaian risiko dan manajemen, perumusan kebijakan dan
pengembangan undang-undang, peraturan dan standar;
(2) koordinasi pengendalian pangan, pemantauan dan audit;
(3) pemeriksaan dan penegakan hukum;
(4) pendidikan dan pelatihan. Instansi pusat harus bertanggung jawab
kegiatan di tingkat 1 dan 2, sedangkan tanggung jawab untuk kegiatan
tingkat 3 dan 4 harus tetap dengan banyak lembaga yang ada. Keuntungan
dari sistem semacam itu mencakup kolaborasi dan koordinasi yang efektif
antar lembaga di seluruh rantai makanan. Indonesia, Yordania, Thailand, dan
UEA telah memilih pendekatan terpadu . ( Dina Al-Kandari 2012
Industri makanan di beberapa negara mengadopsi konsep internasional
Tujuan Keamanan Pangan (FSO) 2 untuk mengelola makanan risiko bahaya.
Hal ini diakui bahwa Seluruh rantai makanan produksi dan distribusi
memegang tanggung jawab untuk memasok dengan aman dan makanan
sehat. Upaya dilakukan untuk menyelaraskan peraturan pengendalian
pangan antara negara untuk memastikan konsumen yakin kualitas dan
tingkat keamanan tertentu dimanapun makanan tersebut diproduksi dalam
proses globalisasi pasokan pangan (MS Jairath dan Purnima Purohit 2013)
2.1.4 Peraturan mengenai pangan
Kutipan dari UU india Bab IV, Bagian 19-25. Undang-undang
termasuk beberapa ketentuan utama untuk meningkatkan keamanan
pangan pada makanan primer produksi untuk konsumsi Contohnya,
(1) Bagian 21 dari Undang-undang tersebut menyatakan bahwa
makanan tidak mengandung insektisida atau residu pestisida, residu
obat veteriner, residu antibiotik, pelarut residu, zat aktif farmakologis
dan mikrobiologis kontaminan yang melebihi batas yang ditentukan
berdasarkan peraturan. Satu Klausul penting dari Undang-undang
tersebut mewajibkan kewajiban pada produsen, pengemas, pedagang
grosir, distributor dan penjual jika sebuah artikel makanan gagal
memenuhi persyaratan UU ini Ini memberikan penalti bergradasi di
mana pelanggaran pembuatan, penyimpanan atau penjualan makanan
yang salah merek atau sub standar dihukum dengan denda, dan
pelanggaran yang lebih serius dengan hukuman penjara. Tindakan
juga memaksa pembentukan prosedur recall makanan
Menurut uu no 18. Pasal 71. Mengenai pangan
(1) Setiap Orang yang terlibat dalam rantai Pangan wajib
mengendalikan risiko bahaya pada Pangan, baik
yang berasal dari bahan, peralatan, sarana produksi, maupun
dari perseorangan sehingga Keamanan Pangan terjamin.
(2) Setiap Orang yang menyelenggarakan kegiatan atau proses
produksi, penyimpanan, pengangkutan, dan/atau peredaran Pangan
wajib: a. memenuhi Persyaratan Sanitasi; dan
b. menjamin Keamanan Pangan dan/atau keselamatan manusia.
(3) Ketentuan mengenai Persyaratan Sanitasi dan jaminan Keamanan
Pangan dan/atau keselamatan manusia sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
BAB III
METODOLOGI

3.1 Metedologi pengumpulan data

Jenis data yang di gunakan penulis dalam penulisan makalah ini adalah data
sekunder , yaiu di peroleh dari jurnal, buku UU , dekomenasi dan internet
3.1.1. Dokumenttasi
Dokumenasi merupakan metode untuk mencari dokumen dengan
menggunakan bukti yang akurat dari pencatatan sumber-sumber informasi
khusus dari karangan/ tulisan, wasiat, buku, undang-undang, dan sebagainya
3.1.2. Studi literature
Study literature adalah mencari referensi teori yang relefan dengan kasus
atau permasalahan yang ditemukan. Study literature yang diambil makalh ini
bersumber dari 5 jurnall internasional ,1 buku dan internet
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Pengertian keamanan pangan


Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk
pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik
yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau
minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan Pangan, bahan baku
Pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan,
dan/atau pembuatan makanan atau minuman.
Menurut Undang-undang Republik Indonesia no. 18/2012 tentang pangan,
bahwa keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk
mencegah Pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang
dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak
bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, sehingga aman
untuk dikonsumsi.menurut (FAO/WHO 1997) Keamanan pangan adalah jaminan
bahwa pangan tidak akan menyebabkan bahaya kepada konsumen jika disiapkan
atau dimakan sesuai dengan maksud dan penggunaannya
Makanan yang tidak aman adalah penyebab tingginya tingkat kerawanan
pangan dan kesehatan yang buruk. Makanan- Penyakit bawaan adalah bahaya
kesehatan yang serius dan kejadiannya bisa tinggi tanpa perlindungan lingkungan
yang kita temukan di daerah miskin dan kurang berkembang di negara ini. Sana
merupakan beban tambahan akibat kerugian ekonomi akibat dampak negatif pada
perdagangan pangan domestik dan internasional (Techane Bosona * , Girma
Gebresenbet 2013)
Aman untuk dikonsumsi adalah pangan tersebut tidak mengandung bahan-
bahan yang dapat membahayakan kesehatan atau keselamatan manusia misalnya
bahan yang dapat menimbulkan penyakit atau keracunan.
Pada dasarnya keamanan pangan (food safety) merupakan hal yang komplek
dan berkaitan erat dengan aspek toksisitas mikrobiologik, kimia, status gizi dan
ketentraman batin. Masalah keamanan pangan ini kondisinya terus berkembang,
bersifat dinamis seiring dengan berkembangnya peradaban manusia yang meliputi
aspek sosial budaya, kesehatan, kemajuan Iptek dan segala yang terkait dengan
kehidupan manusia
4.2 Hubungan keamanan pangan dengan kesehatan
Pangan merupakan komponen penting yang sangat dibutuhkan manusia
untuk mempertahankan hidupnya. Saat ini, banyak jenis pangan yang diolah untuk
menambah daya tarik pangan dengan menambah cita rasa, bentuk, dan penampilan
menarik lainnya.
Namun terkadang, kegiatan pengolahan makanan tidak sesuai dengan standar
sehingga mengakibatkan menurunnya kualitas dan mutu pangan, terutama dari
kandungan gizi dan keamanan (George O. Abong 1 and, Jackson N. Kabira 2015)
Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak lepas dari makanan dan
minuman. Agar asupan makanan tersebut bermanfaat untuk kelangsungan fungsi-
fungsi tubuh, tentu harus mengandung zat-zat gizi yang baik serta terjamin
keamanannya. Gizi merupakan salah satu faktor penentuutama kualitas
sumberdaya manusia. Penentu gizi yang baik terdapat pada jenis pangan yang baik
pula yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Jenis pangan yang baik harus
mempunyai ketahanan pangan dan keamanan pangan yang baik. Ketahanan pangan
(food security) ini harus mencakup aksesibilitas, ketersediaan, keamanan dan
kesinambungan. Aksesibilitas di sini artinya setiap rumah tangga mampu
memenuhi kecukupan pangan keluarga dengan gizi yang sehat. Ketersediaan
pangan adalah rata-rata pangan dalam jumlah yang memenuhi kebutuhan konsumsi
di tingkat wilayah dan rumah tangga. Sedangkan keamanan pangan (food safety)
dititikberatkan pada kualitas pangan yang memenuhi kebutuhan gizi. Keamanan
pangan sangat berpengaruh pada status gizi masyarakat. Keamanan pangan
merupakan masalah kompleks sebagai hasil interaksi antara toksisitas
mikrobiologik, toksisitas kimiadan status gizi. Hal ini saling berkaitan, dimana
pangan yang tidak aman akan mempengaruhi kesehatan manusia yang pada
akhirnya menimbulkan masalah terhadap status gizi
4.2.1 Dampak pangan terhadapa kesehatan
. Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO, 2002 ) memperkirakan bahwa
penyakit bawaan makanan dan penyakit diare dibawa bersama membunuh sekitar
2,2 juta orang per tahun, 1,9 juta di antaranya anak-anak. Di negara industri,
persentase penduduk yang menderita dari penyakit bawaan makanan setiap tahun
telah dilaporkan sampai 30%. Di Amerika Serikat (AS), misalnya, sekitar 76 juta
kasus penyakit bawaan makanan, mengakibatkan 325.000 rawat inap dan 5000
kematian, diperkirakan terjadi setiap tahunnya. Tingginya prevalensi penyakit
diare di banyak negara berkembang masalah keamanan pangan yang mendasari
utama (Myo Min Aung and Yoon Seok Chang,2013)
Dalam dua dekade terakhir ketertelusuran makanan telah menjadi impor-
Masalah karena krisis pangan seperti penyakit kaki dan mulut, bovine spongiform
encephalopathy (BSE), krisis dioksin, flu burung, kontaminasi melamin susu, dan
makanan lainnya insiden keselamatan yang melibatkan produk akuatik dan juga
makanan- terfeiting dan isu produksi berkelanjutan termasuk masalah
ketenagakerjaan Makanan Krisis kualitas dan keamanan pada gilirannya
menyebabkan krisis ekonomi yang signifikan dan hubungan pemasaran di tingkat
nasional dan internasional.( Liu et al 2012)
Secara historis, ketakutan makan telah banyak dialami manusia tahun. Atkins
(2008) telah dibahas bahwa, di Eropa, takut makanan (terutama bahaya zonotik)
telah menyertai masyarakat Inggris di paling tidak 150 tahun Saltini dan Akkerman
(2012) menyebutkan bahwa hanya dalam Makanan yang mengandung makanan di
Eropa mempengaruhi sekitar 1% populasi (kira- imately tujuh juta orang) setiap
tahun. Baru di tahun 2011, kira-kira 16,7% populasi (47,8 juta orang) jatuh sakit di
Amerika dan di Indonesia hubungan dengan penyakit terkait makanan (Techane
Bosona and, Girma Gebresenbet2013)
4.3 Dampak kerusakan pangan terhadap ekonomi
WHO (2002) menyatakan bahwa penyakit bawaan makanan tidak hanya secara
signifikan mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, tapi juga memiliki
konsekuensi ekonomi bagi individu, keluarga, nities, bisnis dan negara. Penyakit ini
memberlakukan substan- beban serius pada sistem layanan kesehatan dan secara nyata
mengurangi ekonomi produktifitas. Hanya ada data terbatas mengenai konse-
kondisi kontaminasi makanan dan penyakit bawaan makanan. Pada tahun 1995, studi
di AS melaporkan bahwa biaya tahunan 3.3e12 juta Kasus penyakit bawaan makanan
disebabkan oleh tujuh pathogen sekitar US $ 6,5e35 miliar. Baru-baru ini, mantan US
Food dan Ekonom Drug Administration (FDA) Robert L. Scharff memperkirakan
dampak ekonomi total penyakit bawaan makanan di seluruh Indonesia menjadi
gabungan $ 152 miliar per tahun ( Scharff 2010 , hal. 1e28). Departemen Pertanian
AS (USDA) memperkirakan biaya penyakit yang berhubungan dengan biaya
pengobatan dan kerugian dalam produktivitas dari lima jenis penyakit bawaan
makanan sebesar $ 6,9 miliar per tahun ( Vogt, 2005 ). Di Uni Eropa, biaya tahunan
diratakan pada Sistem perawatan kesehatan sebagai konsekuensi infeksi salmonella
diperkirakan sekitar 3 miliar euro ( Produktivitas Asia Organisasi, 2009 ). Biaya
medis dan nilai nyawa hilang hanya dalam lima wabah makanan di Inggris dan Wales
di Indonesia 1996 diperkirakan mencapai 300, 700 juta poundsterling. Biaya dari
Diperkirakan 11.500 keracunan makanan sehari-hari di Australia terjadi dihitung pada
AU $ 2,6 miliar per tahun. Meningkatnya kejadian Penyakit bawaan makanan akibat
bahaya mikrobiologis adalah hasil dari banyak faktor, semua terkait dengan dunia kita
yang cepat berubah ( WHO, 2002 ).
4.4 Dampak lingkungan
Dengan pertumbuhan perdagangan pangan internasional, lingkungan Dampak
dari rantai pasokan pangan telah menjadi perhatian yang semakin meningkat. Jarak
yang ditempuh makanan dari peternakan tempat produk itu diproduksi ke dapur di
mana ia dikonsumsi lebih lama dari sebelumnya sebelum. Oleh karena itu,
penggunaan energi, sumber daya dan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di seluruh siklus
makanan, termasuk pro- Duksi, konsumsi, dan transportasi tidak dapat dihindari. Ini-
mulai menggunakan pelabelan karbon (yaitu jejak karbon dari produk) dan konsepsi
mil makanan (jarak makanannya Diangkut saat bepergian dari produsen ke konsumen)
menunjukkan hal itu rantai makanan membutuhkan solusi yang lebih ramah
lingkungan mengurangi dampak lingkungan seperti polusi dan global pemanasan. Di
banyak negara, salah satu masalah keamanan pangan dan kualitasnya adalah
pembusukan makanan. Pembusukan makanan itu boros, mahal dan dapat
mempengaruhi kepercayaan konsumen dan perdagangan. Tentu saja semua makanan
memiliki waktu hidup yang terbatas dan sebagian besar makanan menjadi
busuk. Aman dan makanan dingin kualitas tinggi memerlukan kontaminasi minimal
selama pembuatan, pendinginan cepat dan pengatur suhurantai ( Martin & Ronan,
2000 , hlm. 5e33). Penyalahgunaan suhu di Rantai dingin makanan bisa membuat
pertumbuhan mikroba dan pembusukan makanan dan merupakan faktor penyebab
penyakit bawaan makanan. Internasional Institute of Refrigeration (IIR) menunjukkan
bahwa sekitar 300 juta ton hasil panen terbuang setiap tahun melalui kekurangan
refriger- di seluruh dunia Di AS, industri makanan setiap tahunnya membuang USD
35 miliar barang manja. Pemborosan makanan dan re-
Sumber yang digunakan untuk menumbuhkan produk yang tidak terpakai juga
menjadi masalah besar lingkungan ( Flores & Tanner, 2008 ). Rumah tangga Inggris
menghabiskan 6,7 juta ton makanan setiap tahunnya.

4.5 Pengendalian pangan

Menurut uu no 18. Pasal 71. Mengenai pangan (1) Setiap Orang yang
terlibat dalam rantai Pangan wajib mengendalikan risiko bahaya pada Pangan, baik
yang berasal dari bahan, peralatan, sarana produksi, maupun dari perseorangan
sehingga Keamanan Pangan terjamin. Maka dari itu Keamanan pangan merupakan
tanggung jawab bersama antara pemerintah, industri yang meliputi produsen bahan
baku, industri pangan dan distributor, serta konsumen. Keterlibatan ketiga sektor
tersebut sangat berpengaruh terhadap keberhasilan keamanan pangan. Kita tidak
bisa hanya menyerahkan tanggung jawab kepada pemerintah atau pihak produsen
saja akan tetapi semua pihak termasuk konsumen punya andil cukup penting dalam
meningkatkan keamanan pangan
Penyelenggaraan Keamanan Pangan untuk kegiatan atau proses Produksi
Pangan untuk dikonsumsi harus dilakukan melalui Sanitasi Pangan, pengaturan
terhadap bahan tambahan Pangan, pengaturan terhadap Pangan produk rekayasa
genetik dan Iradiasi Pangan, penetapan standar Kemasan Pangan, pemberian
jaminan Keamanan Pangan dan Mutu Pangan, serta jaminan produk halal bagi
yang dipersyaratkan. Pelaku Usaha Pangan dalam melakukan Produksi Pangan
harus memenuhi berbagai ketentuan mengenai kegiatan atau proses Produksi
Pangan sehingga tidak berisiko merugikan atau membahayakan kesehatan
manusia. Pelaku Usaha Pangan bertanggung jawab terhadap Pangan yang
diedarkan, terutama apabila Pangan yang diproduksi menyebabkan kerugian, baik
terhadap gangguan kesehatan maupun kematian orang yang mengonsumsi Pangan
tersebut.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapa diambil dari pembahasan makalah ini adalah
1. keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk
mencegah Pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda
lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan
manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya
masyarakat, sehingga aman untuk dikonsumsi.
2. Hubungan antara keamanan pangan dengan keshaan ialah semakin tinggi
tingkat keamanan suatu pangan maka kandungan gizi atau nutrisi yang
ada dalam pangan tersebut akan semakin terjaga kualitas serta
kuantitasnya dengan baik sehingga masyarakat yang mengkonsumsinya
dapat memperoleh manfaat dari zat gizi dalam pangan tersebut yang
tentunya akan meningkatkan status gizi dan kesehatan masyarakat,
semakin rendah maka akan menimbulkan penyakin teradap ubuh kia
3. penyakit bawaan makanan tidak hanya secara signifikan mempengaruhi
kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, tapi juga memiliki konsekuensi
ekonomi bagi individu, keluarga, suku, bisnis dan negara.
5.2 Saran
Meskipun penulis menginginkan kesempurnaan dalam penyusunan makalah
ini tetapi kenyataannya masih banyak kekurangan yang perlu penulis perbaiki. Hal
ini dikarenakan masih minimnya pengetahuan yang penulis miliki. Oleh karena itu
kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat penulis harapkan
untuk perbaikan ke depannya Meskipun penulis menginginkan kesempurnaan
dalam penyusunan makalah ini tetapi kenyataannya masih banyak kekurangan
yang perlu penulis perbaiki. Hal ini dikarenakan masih minimnya pengetahuan
yang penulis miliki. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari para
pembaca sangat penulis harapkan untuk perbaikan ke depannya
BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

Aufa Aulia Kanza dan Sukma CM,Mutu ,Gizi,dan Keamanan Pangan.


Depertemen keamanan gizi. UNPAD: 2015
Dina Al-Kandari dan David J. Jukes (2012). The food control system in Saudi
Arabia e Centralizing food control activities. Food Control 28 (2012) 33e46
George O. Abong dan Jackson N. Kabira (2015). Potential Food Safety Concerns
in Fried Potato Products in Kenya. Open Access Library Journal.
Myo Min Aung dan Yoon Seok Chang (2013). Traceability in a food supply chain:
Safety and quality perspectives. Food Control 39 (2014) 172e184
M.S. Jairath and Purnima Purohit.(2013). Food Safety Regulatory Compliance in
India: A Challenge to Enhance Agri-businesses. Ind. Jn. of Agri. Econ.
Vol.68, No.3.
Techane Bosona dan Girma Gebresenbet (2013). Food traceability as an integral
part of logistics management in food and agricultural supply chain. Food
Control 33 (2013) 32e48
Repoblik Indonesia. 2012.Undang Undang No.18 Tahun 2012. Tentang pangan.