Anda di halaman 1dari 15

TINDAK TUTUR DALAM

PRAGMATIK
[Type the document subtitle]

Makalah ini telah dipresentasikan oleh Ulfa Putri


Andalasia. S.Pd., dalam mata kuliah pragmatik program
studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris Universitas
Bengkulu

Ulfa Putri Andalasia (A2B016029)


11/13/2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tindak tutur sebenarnya merupakan salah satu fenomena dalam masalah yang
lebih luas, yang dikenal dengan istilah pragmatik. Para pakar pragmatik mendefinisikan
istilah ini secara berbeda-beda. Yule, misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik,
yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna
menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan,
mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4)
bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan
yang terlibat dalam percakapan tertentu. Thomas menyebut dua kecenderungan dalam
pragmatik terbagi menjadi dua bagian, pertama, dengan menggunakan sudut pandang
sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan
kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik
dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). Selanjutnya Thomas (1995: 22),
dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan
negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial,
dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran , mendefinisikan
pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in
interaction).
Dalam studi sosiolinguistik telah seringkali dijelaskan, bahwa bahasa merupakan
sebuah sistem, artinya bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola
secara tetap dan dapat dikaidahkan. Di sisi lain bahasa juga bersifat dinamis,
maksudnya, bahasa itu tidak terlepas dari berbagai kemungkinan perubahan yang
sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat terjadi pada tataran apa saja:
fonologis, morfologis, sintaksis, semantik, dan leksikon. Bahasa juga merupakan alat
interaksi sosial atau alat komunikasi manusia. Dalam konteks yang terakhir ini, diakui
bahwa manusia dapat juga menggunakan alat lain untuk berkomunikasi, tetapi
tampaknya bahasa merupakan alat komunikasi yang paling baik di antara alat-alat
komunikasi lainnya. Apalagi bila dibandingkan dengan alat komunikasi yang digunakan
makhluk sosial lain, yakni hewan. Dalam setiap komunikasi manusia saling
menyampaikan informasi yang dapat berupa pikiran, gagasan, maksud, perasaan,
maupun emosi secara langsung. Maka, dalam setiap proses komunikasi ini terjadilah
apa yang disebut peristiwa tutur dan tindak tutur dalam satu situasi tutur.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka pada tulisan ini masalah yang dapat kami
rumuskan adalah apa yang dimaksud peristiwa tutur dan tindak tutur?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui teori-teori tentang
peristiwa tutur dan tindak tutur.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Peristiwa Tutur
Peristiwa tutur (inggris: speech event) adalah terjadinya atau berlangsungnya
interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak,
yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam waktu, tempat, dan
situasi tertentu. Jadi, interaksi yang berlangsung antara seorang pedagang dan pembeli
di pasar pada waktu tertentu dengan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya
adalah sebuah peristiwa tutur. Peristiwa serupa kita dapati pula dalam acara diskusi di
ruang kuliah, rapat dinas di kantor, sidang di pengadilan, dan sebagainya.
Sebuah percakapan dapat disebut sebagai sebuah peristiwa tutur kalau
memenuhi beberapa persyaratan. Del Hymes (1972), seorang pakar linguistik terkenal
menjelaskan, bahwa suatu peristiwa tutur harus memenuhi delapan komponen, yang
apabila huruf-huruf pertamannya dirangkaikan menjadi akronim SPEAKING. Kedelapan
komponen tersebut adalah:
S (= Setting and scene)
P (=Participants)
E (= Ends : Purpose and goal)
A (= Act sequences)
K (= Key : tone or spirit of act)
I (= Instrumentalities)
N (=Norms of Interaction and interpretation)
G (= Gennres)[1][3]
Setting and scene. Di sini setting berkenaan dengan waktu dan tempat tutur
berlangsung, sedangkan scene mengacu pada situasi tempat dan waktu, atau situasi
psikologis pembicaraan. Waktu, tempat, dan situasi tuturan yang berbeda dapat
menyebabkan penggunaan variasi bahasa yang berbeda. Berbicara di lapangan sepak
bola pada waktu ada pertandingan sepak bola dalam situasi ramai tentu berbeda
dengan pembicaraan di ruang perpustakaan pada waktu banyak orang membaca dan
dalam keadaan sunyi. Di lapangan sepak bola kita bisa berbicara keras-keras, tapi di
ruang perpustakaan harus seperlahan mungkin.
Participants adalah pihak-pihak yang terlibat dalam pertuturan, bisa pembicara
dan pendengar, penyapa dan pesapa, atau pengirim dan penerima pesan. Dua orang
yang bercakap-cakap dapat berganti peran sebagai pembicara atau pendengar, tetapi
dalam khutbah di masjid, khotib sebagai pembicara dan jamaah sebagai pendengar
tidak dapat bertukar peran. Status sosial partisipan sangat menentukan ragam bahasa
yang digunakan. Misalnya, seorang anak akan menggunakan ragam atau gaya bahasa
yang berbeda bila berbicara dengan orang tuanya atau gurunya bila dibandingan kalau
dia berbicara terhadap teman-teman sebayannya.
Ends, merujuk pada maksud dan tujuan pertuturan. Peristiwa tutur yang terjadi
di ruang pengadilan bermaksud untuk menyelesaikan suatu kasus perkara, namun, para
partisipan di dalam peristiwa tutur itu mempunyai tujuan yang berbeda. Jaksa ingin
membuktikan kesalahan si terdakwa, pembela berusaha membuktikan bahwa si
terdakwa tidak bersalah, sedangkan hakim berusaha memberikan keputusan dengan
adil.
Act sequence, mengacu pada bentuk ujaran dan isi ujaran. Bentuk ujaran ini
berkenaan dengan kata-kata yang digunakan, bagaimana penggunaannya dan hubungan
antara apa yang dikatakan dengan topik pembicaraan. Bentuk ujaran dalam kuliah
umum, dalam percakapan biasa, dan dalam pesta adalah berbeda. Begitu pula dengan isi
yang dibicarakan.
Key, mengacu pada nada, cara dan semangat di mana suatu pesan disampaian
dengan senang hati, dengan serius, dengan singkat, dengan sombong, dengan mengejek,
dan sebagainya. Hal ini dapat juga ditunjukkan dengan gerak tubuh dan isyarat.
Instrumentalities, mengacu pada jalur bahasa yang digunakan, seperti jalur lisan,
tertulis, melalui telegraf atau telepon. Instrumentalities ini juga mengacu pada kode
ujaran yang digunakan, seperti bahasa, dialek, ragam, atau register.
Norm of interaction and interpretation, mengacu pada norma atau aturan dalam
berinteraksi. Misalnya, yang berhubungan dengan cara berinterupsi, bertanya, dan
sebagainya. Juga mengacu pada norma penafsiran terhadap ujaran dari lawan bicara.
Genre, mengacu pada jenis bentuk penyampaian, seperti narasi, puisi, pepatah,
doa dan sebagainya.
B. Sejarah Tindak Tutur
Bahasa dalam keadaannya yang abstrak (karena berada di dalam benak) tidak
bisa langsung dicapai oleh pengamat tanpa melalui medium buatan seperti kamus dan
buku tata bahasa. Menurut pengalaman nyata, bahasa itu selalu muncul dalam bentuk
tindakan atau tingkah tutur individual. Karena itu tiap telaah struktur bahasa harus
dimulai dari pengkajian tindak tutur. Wujudnya ialah bahasa lisan.
Peristiwa tutur merupakan peristiwa sosial karena menyangkut pihak-pihak
yang bertutur dalam satu situasi dan tempat tertentu. Peristiwa tutur ini pada dasarnya
merupakan rangkaian dari sejumlah tindak tutur (inggris: speech act) yang
terorganisasikan untuk mencapai suatu tujuan. Kalau peristiwa tutur merupakan gejala
sosial seperti disebut di atas, maka tindak tutur merupakan gejala individual, bersifat
psikologis, dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur
dalam menghadapi situasi tertentu. Kalau dalam peristiwa tutur lebih dilihat pada
tujuan peristiwannya, tetapi dalam tindak tutur lebih dilihat pada makna atau arti
tindakan dalam tuturannya. Tindak tutur dan peristiwa tutur merupakan dua gejala
yang terdapat pada satu proses, yakni proses komunikasi.
Istilah dan teori mengenai tindak tutur mula-mula diperkenalkan oleh J.L. Austin,
seorang guru besar di Universitas Harvard, pada tahun 1956. Teori yang berasal dari
materi kuliah itu kemudian dibukukan oleh J.O. Urmson (1965) dengan judul How to do
Thing with Word ? tetapi teori tersebut baru menjadi terkenal dalam studi linguistik
setelah Searle (1969) menerbitkan buku berjudul Speech Act and Essay in The
Philosophy of Language.
C. Teori Tindak Tutur
Tindak tutur atau tindak ujar (speech act) merupakan entitas yang bersifat
sentral dalam pragmatik sehingga bersifat pokok di dalam pragmatik. Tindak tutur
merupakan dasar bagi nanalisis topik-topik pragmatik lain seperti praanggapan,
perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerja sama, dan prinsip kesantunan. Kajian
pragmatik yang tidak mendasarkan analisisnya pada tindak tutur bukanlah kajian
pragmatik dalam arti yang sebenarnya.
Suwito dalam bukunya Sosiolinguistik: Teori dan Problem mengemukakan jika
peristiwa tutur (speech event) merupakan gejala sosial dan terdapat interaksi antara
penutur dalam situasi dan tempat tertentu, maka tindak tutur lebih cenderung sebagai
gejala individual, bersifat psikologis dan ditentukanm oleh kemampuan bahasa penutur
dalam menghadapi situasi tertentu. Jika dalam peristiwa tutur orang menitikberatkan
pada tujuan peristiwa, maka dalam tindak tutur lebih memperhatikan makna atau arti
tindakan dalam tuturan itu.
Dari literatur pragmatik, dapat dijelaskan bahwa tindak tutur adalah tuturan
dari seseorang yang bersifat psikologis dan yang dilihat dari makna tindakan dalam
tuturannya itu. serangkaian tindak tutur akan membentuk suatu peristiwa tutur (speech
event). Jadi dapat disimpulkan bahwa tindak tutur merupakan suatu ujaran yang
mengandung tindakan sebagai suatu fungsional dalam komunikasi yang
mempertimbangkan aspek situasi tutur.
Sebelum membicarakan teori mengenai tindak tutur itu lebih lanjut lagi, ada
baiknya kita bicarakan dulu mengenai pembagian jenis kalimat yang dilakukan oleh
para ahli tata bahasa tradisional. Menurut tata bahasa tradisional ada tiga jenis kalimat
yaitu, kalimat deklaratif, kalimat interogatif, dan kalimat imperatif.
Kalimatdeklaratif adalah kalimat yang isinya hanya meminta pendengar atau yang
mendengar kalimat itu untuk menaruh perhatian saja, tidak usah melakukan apa-apa
sebab maksud si pengujar hanya untuk memberitahukan saja.
Kalimat interogatif adalah kalimat yang isinya meminta agar pendengar atau orang
yang mendengar kalimat itu untuk memberi jawaban secara lisan. Jadi yang diminta
bukan hanya sekedar perhatian, melainkan juga jawaban. Sedangkan
kalimat imperatif adalah kalimat yang isinya meminta agar si pendengar atau yang
mendengar kalimat itu memberi tanggapan berupa tindakan atau perbuatan yang
diminta.
Pembagian kalimat deklaratif, interogatif, dan imperatif adalah berdasarkan
bentuk kalimat secara terlepas. Artinya kalimat dilihat atau dipandang sebagai satu
bentuk keutuhan tertinggi. Kalau kalimat-kalimat itu dipandang pada tataran yang lebih
tinggi yakni dari tingkat wacana maka kalimat-kalimat tersebut dapat saja menjadi
tidak sama antara bentuk formalnya dengan bentuk isinya. Ada kemungkinan sebuah
kalimat deklaratif atau kalimat interogatif tidak lagi berisi pernyataan dan pertanyaan
melainkan menjadi berisi perintah. Hal ini dilakukan untuk mempertimbangkan norma
sosial dan etika tutur. Jadi, bukan kalimat imperatif yang diujarkan melainkan kalimat
deklaratif atau interogatif.
Austin(1962) membedakan kalimat deklaratif berdasarkan maknanya menjadi
kalimat konstatif dan kalimat performatif. Yang dimaksud dengan
kalimat konstatifadalah kalimat yang berisi pernyataan belaka seperti Ibu dosen kami
cantik sekali, atau Pagi tadi dia terlambat bangun. Sedangkan yang dimaksud dengan
kalimatperformatif adalah kalimat yang berisi perlakuan. Artinya apa yang diucapkan
oleh si pengujar berisi apa yang dilakukannya. Misalnya, kalau seorang rektor
mengatakan, Dengan mengucapkan Bismillah acara pelatihan ini saya buka, maka
makna kalimat itu adalah apa yang diucapkannya. Atau dengan kata lain, apa yang
dilakukannya itu adalah apa yang diucapkannya.
Kalimat performatif dapat digunakan untuk mengungkapkan sesuatu secara
eksplisit dan implisit. Secara eksplisit, artinya, dengan menghadirkan kata-kata yang
mengacu pada pelaku seperti saya atau kami. Umpamanya, Saya berjanji akan
mengirimkan uang itu secepatnya. Sedangkan kalimat performatif yang implisit adalah
yang tanpa menghadirkan kata-kata yang menyatakan pelaku. Misalnya jalan ditutup
(yang secara implisit memperingatkan untuk tidak melewati jalan itu). Di balik kalimat-
kalimat performatif yang implisit itu tentunya ada pihak yang meminta agar kita
melakukan apa yang dimintanya.
Austin (1960:150-163) membagi kalimat performatif menjadi lima kategori,
yaitu (1) kalimat verdiktif yakni kalimat perlakuan yang menyatakan keputusan atau
penilaian, misalnya, Kami menyatakan terdakwa bersalah; (2) kalimat eksersitif yakni
kalimat perlakuan yang menyatakan nasihat, peringatan, dan sebagainya, misalnya,
Kami harap kalian setuju dengan keputusan ini; (3) kalimat komisif adalah kalimat
perlakuan yang dicirikan dengan perjanjian, pembicara berjanji dengan Anda untuk
melakukan sesuatu, misalnya, Besok kita menonton sepak bola; (4) kalimat behatitif
adalah kalimat perlakuan yang berhubungan dengan tingkah laku sosial karena
seseorang mendapat keberuntungan atau kemalangan, misalnya, Saya mengucapkan
selamat atas pelantikan Anda menjadi mahasiswa teladan; dan (5) kalimat ekspositif
adalah kalimat perlakuan yang memberi penjelasan, keterangan, atau perincian kepada
seseorang, misalnya, Saya jelaskan kepada Anda bahwa dia tidak bersalah.
Tindak tutur yang dilangsungkan dengan kalimat performatif oleh Austin (1962:
100-102) dirumuskan sebagai tiga peristiwa tindakan yang berlangsung sekaligus,
yaitu:
1) Tindak tutur lokusi, yakni tindak tutur yang menyatakan sesuatu dalam arti berkata
atau tindak tutur dalam bentuk kalimat yang bermakna dan dapat dipahami
(pernyataan). Misalnya, Ibu berkata kepada saya agar saya membantunya.
2) Tindak tutur ilokusi, adalah tindak tutur yang biasanya diidentifikasikan dengan
kalimat performatif yang eksplisit. Tindak tutur ilokusi biasanya berkenaan dengan
pemberian izin, mengucapkan terima kasih, menyuruh, menawarkan, dan menjanjikan.
Misalnya Ibu menyuruh saya agar segera berangkat. Kalau tindak tutur ilokusi hanya
berkaitan dengan makna, maka makna tindak tutur ilokusi berkaitan dengan nilai, yang
dibawakan oleh preposisinya.
3) Tindak tutur perlokusi, adalah tindak tutur yang berkenaan dengan adanya ucapan
orang lain sehubungan dengan sikap dan perilaku nonlinguistic dari orang lain itu.
Misalnya, karena adanya ucapan dokter (kepada pasiennya) Mungkin ibu menderita
penyakit jantung koroner, maka si pasien akan panik dan sedih.
Tindak tutur lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu sebagaimana
adanya atau The Act of Saying Something tindakan untuk mengatakan sesuatu. Fokus
lokusi adalah makna tuturan yang diucapkan, bukan mempermasalahkan maksud atau
fungsi tuturan itu. Rohmadi mendefinisikan bahwa lokusi adalah tindak bertutur
dengan kata, frasa, dan kalimat sesuai dengan makna yang dikandung oleh kata, frasa,
dan kalimat itu. Lokusi dapat dikatakan sebagai the act of saying something. Tindak
lokusi merupakan tindakan yang paling mudah diidentifikasi karena dalam
pengidentifikasiannya tidak memperhitungkan konteks tuturan. Dengan kata lain,
tindak tutur lokusi adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu dalam arti berkata
atau tindak tutur dalam bentuk kalimat yang bermakna dan dapat dipahami. Misalnya:
1. Jembatan Suramadu menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura
2. Tahun 2004 gempa dan tsunami melanda Banda Aceh.
Dua kalimat di atas dituturkan oleh seorang penutur semata-mata hanya untuk
memberi informasi sesuatu belaka, tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu. apalagi
untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Informasi yang diberikan pada kalimat pertama
adalah mengenai jembatan Suramadu yang menghubungkan pulau Jawa dan Pulau
Madura. Sedangkan kalimat kedua memberi informasi mengenai gempa dan tsunami
yang pada tahun 2004 melanda Banda Aceh. Lalu, apabila disimak baik-baik tampaknya
tindak tutur louksi ini hanya memberi makna secara harfiah, seperti yang dinyatakan
dalam kalimatnya.
Tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang biasanya diidentifikasikan dengan
kalimat performatif yang eksplisit. Menurut pendapat Austin ilokusi adalah tindak
melakukan sesuatu. Ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandung maksud dan
fungsi atau daya tuturan. Bagi Austin, tujuan penutur dalam bertutur bukan hanya
untuk memproduksi kalimat-kalimat yang memiliki pengertian dan acuan tertentu.
Bahkan tujuannya adalah untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang memberikan
konstribusi jenis gerakan interaksional tertentu pada komunikasi. Tindak tutur ilokusi
ini biasanya berkenaan dengan pemberian izin, mengucapkan terima kasih, menyuruh,
menawarkan, dan menjanjikan. Misalnya:
1. Sudah hampir pukul tujuh
Kalimat di atas bila dituturkan oleh seorang suami kepada istrinya di pagi hari,
selain memberi informasi tentang waktu, juga berisi tindakan yaitu mengingatkan si
istri bahwa si suami harus segera berangkat ke kantor, jadi minta disediakan sarapan.
Oleh karena itu, si istri akan menjawab mungkin seperti kalimat berikut, Ya Pak!
Sebentar lagi sarapan siap.
Tindak tutur perlokusi adalah tindak tutur yang berkenaan dengan adanya
ucapan orang lain sehubungan dengan sikap dan perilaku nonlinguistik dari orang lain.
Misalnya:
1. Rumah saya jauh sih
2. Minggu lalu saya ada keperluan keluarga yang tidak dapat ditinggalkan
Tuturan pada kalimat pertama bukan hanya memberi informasi bahwa rumah si
penutur itu jauh, tetapi juga bila dituturkan oleh seorang guru kepada kepala sekolah
dalam rapat penyusunan jadwal pelajaran pada awal tahun menyatakan maksud bahwa
si penutur tidak dapat datang tepat waktu pada jam pertama. Maka efeknya atau
pengaruhnya yang diharapkan si kepala sekolah akan memberi tugas mengajar tidak
pada jam-jam pertama, melainkan pada jam-jam lebih siang. Kalimat kedua selain
memberi informasi bahwa si penutur pada minggu lalu ada kegiatan di keluarga, juga
bila dituturkan pada lawan tutur yang pada minggu lalu mengundang untuk hadir pada
resepsi pernikahan, bermaksud juga minta maaf. Lalu, efek yang diharapkan adalah agar
si lawan tutur memberi maaf kepada si penutur.
Untuk memperjelas pemahaman kita tentang lokusi, ilokusi dan perlokusi dapat
kita lihat dengan memberi contoh dalam satu tuturan.
Anjing galak itu ada di kebun
Jika penutur yang mengatakan kalimat tersebut sedang berusaha memproduksi
kalimat yang maknanya didasarkan pada acuan anjing dan kebun tertentu dalam dunia
luar, maka penutur ini sedang memproduksi tindak lokusi. Sedangkan jika si penutur
bermaksud memperingatkan seseorang agar tidak masuk ke dalam kebun karena di
dalam kebun ada anjing galak, maka peringatan merupakan daya ilokusi ujaran itu. Dan
Jika dengan mengujarkan Anjing galak itu ada di kebun, penutur berhasil menghalangi
pendengarnya untuk masuk ke dalam kebun, maka melalui ujaran ini, penutur telah
melakukan suatu tindak perlokusi.
Pencetus teori tindak tutur, Searle membagi tindak tutur menjadi lima kategori:
1. Representative/asertif, yaitu tuturan yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas
apa yang diujarkan. Tindak tutur jenis ini juga disebut dengan tindak tutur asertif. Yang
termasuk tindak tutur jenis ini adalah tuturan menyatakan, menuntut, mengakui,
menunjukkan, melaporkan, memberikan kesaksian, menyebutkan, berspekulasi. Contoh
jenis tuturan ini adalah: Adik selalu unggul di kelasnya. Tuturan tersebut termasuk
tindak tutur representatif sebab berisi informasi yang penuturnya terikat oleh
kebenaran isi tuturan tersebut. Penutur bertanggung jawab bahwa tuturan yang
diucapkan itu memang fakta dan dapat dibuktikan di lapangan bahwa si adik rajin
belajar dan selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya. Contoh yang lain
adalah: Tim sepak bola andalanku menang telak, Bapak gubernur meresmikan
gedung baru ini.
2. Direktif/impositif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar si pendengar
melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu. Tindak tutur direktif disebut
juga dengan tindak tutur impositif. Yang termasuk ke dalam tindak tutur jenis ini antara
lain tuturan meminta, mengajak, memaksa, menyarankan, mendesak, menyuruh,
menagih, memerintah, mendesak, memohon, menantang, memberi aba-aba. Contohnya
adalah Bantu aku memperbaiki tugas ini. Contoh tersebut termasuk ke dalam tindak
tutur jenis direktif sebab tuturan itu dituturkan dimaksudkan penuturnya agar
melakukan tindakan yang sesuai yang disebutkan dalam tuturannya yakni membantu
memperbaiki tugas. Indikator dari tuturan direktif adalah adanya suatu tindakan yang
dilakukan oleh mitra tutur setelah mendengar tuturan tersebut.
3. Ekspresif/evaluatif. Tindak tutur ini disebut juga dengan tindak tutur evaluatif. Tindak
tutur ekspresif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar tuturannya
diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu, meliputi
tuturan mengucapkan terima kasih, mengeluh, mengucapkan selamat, menyanjung,
memuji, meyalahkan, dan mengkritik. Tuturan Sudah kerja keras mencari uang, tetap
saja hasilnya tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Tuturan tersebut merupakan
tindak tutur ekspresif mengeluh yang dapat diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang
dituturkannya, yaitu usaha mencari uang yang hasilnya selalu tidak bisa memenuhi
kebutuhan hidup keluarga. Contoh tuturan lain adalah Pertanyaanmu bagus sekali
(memuji), Gara-gara kecerobohan kamu, kelompok kita didiskualifikasi dari kompetisi
ini (menyalahkan), Selamat ya, Bu, anak Anda perempuan (mengucapkan selamat).
4. Komisif. Tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk
melaksanakan segala hal yang disebutkan dalam ujarannya, misalnya bersumpah,
berjanji, mengancam, menyatakan kesanggupan, berkaul. Contoh tindak tutur komisif
kesanggupan adalah Saya sanggup melaksanakan amanah ini dengan baik. Tuturan itu
mengikat penuturnya untuk melaksanakan amanah dengan sebaik-baiknya. Hal ini
membawa konsekuensi bagi dirinya untuk memenuhi apa yang telah dituturkannya.
Cotoh tuturan yang lain adalah Besok saya akan datang ke pameran lukisan Anda,
Jika sore nanti hujan, aku tidak jadi berangkat ke Solo.
5. Deklaratif/establisif/isbati, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk
menciptakan hal (status, keadaan, dsb) yang baru. Tindak tutur ini disebut juga dengan
istilah isbati. Yang termasuk ke dalam jenis tuutran ini adalah tuturan dengan maksud
mengesankan, memutuskan, membatalkan, melarang, mengabulkan, mengizinkan,
menggolongkan, mengangkat, mengampuni, memaafkan. Tindak tutur deklarasi dapat
dilihat dari contoh berikut ini.
Ibu tidak jadi membelikan adik mainan. (membatalkan)
Bapak memaafkan kesalahanmu. (memaafkan)
Saya memutuskan untuk mengajar di SMA almamater saya. (memutuskan).
Tindak tutur juga dibedakan menjadi dua yaitu tindak tutur langsung dan tindak
tutur tidak langsung. Tindak tutur langsung merupakan bentuk deklaratif yang
digunakan untuk membuat suatu pernyataan, sedangkan tindak tutur tidak langsung
merupakan bentuk deklaratif yang digunakan untuk membuat suatu permohonan.
Penggunaan tuturan secara konvensional menandai kelangsungan suatu tindak tutur
langsung. Tuturan deklaratif, tuturan interogatif, dan tuturan imperatif secara
konvensional dituturkan untuk menyatakan suatu informasi, menanyakan sesuatu, dan
memerintahkan mitra tutur melakukan sesuatu. Kesesuaian antara modus dan
fungsinya secara konvensional inilah yang merupakan tindak tutur langsung.
Sebaliknya, jika tututan deklaratif digunakan untuk bertanya atau memerintah atau
tuturan yang bermodus lain yang digunakan secara tidak konvensional, tuturan itu
merupakan tindak tutur tidak langsung. Misalnya, pernyataan Di luar dingin. Jika
tuturan ini digunakan untuk membuat suatu pernyataan dengan maksud
menginformasikan kepada pendengar tentang cuaca maka tuturan tersebut berfungsi
sebagai tindak tutur langsung. Sedangkan jika tuturan itu digunakan untuk membuat
suatu perintah atau permohonan dalam arti si penutur memohon kepada pendengar
agar menutup pintu, maka tuturan tersebut berfungsi sebagai suatu tindak tutur tidak
langsung.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan pada bab sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa :
1) Tindak tutur merupakan gejala individual, bersifat psikologis, dan keberlangsungannya
ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu.
2) Peristiwa tutur merupakan peristiwa sosial karena menyangkut pihak-pihak yang
bertutur dalam satu situasi dan tempat tertentu. Peristiwa tutur ini pada dasarnya
merupakan rangkaian dari sejumlah tindak tutur (inggris: speech act) yang
terorganisasikan untuk mencapai suatu tujuan.
3) Austin(1962) membedakan kalimat deklaratif berdasarkan maknanya menjadi kalimat
konstatif dan kalimat performatif.
4) Pencetus teori tindak tutur, Searle membagi tindak tutur menjadi lima kategori yakni
representative, komisif, direktif, ekspresif, dan deklaratif.
5) Tindak tutur yang dilangsungkan dengan kalimat performatif oleh Austin dirumuskan
sebagai tiga peristiwa tindakan yang berlangsung sekaligus, yaitu: lokusi, ilokusi dan
perlokusi.

B. Saran
Besar harapan kami dari penulis agar apa yang telah kami paparkan dalam
makalah ini bisa bermanfaat dan dapat menambah wawasan bagi pembaca. Serta apa
yang kami sajikan dapat dipergunakan untuk kepentingan yang positif sehingga
berdampak baik bagi penulis maupun pembaca.
Dalam penulisan makalah ini kami sebagai penulis merasa bahwa apa yang telah
kami sajikan masih jauh dari kesempurnaan. Olehnya kami masih mengharapkan kritik
dan saran dari pembaca demi penyempurnaan makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Agustina. 1995. Pragmatik dalam Pengajaran Bahasa Indonesia. Padang: IKIP Padang.

Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik. Jakarta: Rineka Cipta.

Cummings, Louise. 2007. Pragmatik (Sebuah Perspektif Multidisipliner). Yogyakarta:


Pustaka Pelajar.

Hasanuddin WS, dkk. 2009. Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia. Bandung: Angkasa.

Rahardi, R. Kunjana. Pragmatik (Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia). Jakarta:


Erlangga.

Schiffrin, Deborah. 2007. Ancangan Kajian Wacana. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

Tarigan, Henry Guntur. 1986. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa.

Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford. Oxford University Press.

http://asrulnazar.blogspot.co.id/2013/03/tindak-tutur.html