Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya untuk masyarakat.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu
kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya
untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap
pembaca.
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Trauma ekstremitas jarang menimbulkan kematian pada penderita trauma,
sehingga tidak mengherankan bila pembentukan dan pemeliharaan jalan
pernapasan yang memuaskan, Ventilasi yang tepat serta Pengendalian dan
Pendarahan, Pemulihan pendarahan bias mendahului Penatalaksanaannya.
Perlu diingat bahwa akibat trauma ekstrimitas dapat memperberat masalah yang
mengancam nyawaini.
Nyeri yang menyertai trauma Ekstremitas bias menyokong Pasien,
Ekstremitas dapat merupakan tempat kehilangan cairan. Membahas masalah
trauma Ekstremitas tidak terlepas dengan hubungannya kulit, dimana kulit
berfungsi melindungi Tubuh dari trauma dan merupakan benteng pertahanan
terhadap bakteri, Virus dan jamur. Kehilangan panas dan penyimpangan panas
diatur melalui Vasodilatasi Pembuluh Darah kulit atau sekresi kelenjar keringat
Setelah kehilangan seluruh Kulit,maka cairan tubuh yang penting akan
menguap dan Elektrolit-elektrolit akan hilang dalam beberapa jam saja. Contoh
dari keadaan ini adalah Penderita luka bakar.Kulit yang menutupi ke empat
ekstremitas meliputi lebih dari 50 persen permukaan tubuh dan bila terbakar,
terpotong atau terabrasi, maka ia berpotensi sebagai tempat masuk infeksi.
Pengenalan dini dan perhatian yang tepat terhadap luka ini termasuk pemakaian
pembalut steril, penggunaan antibiotik dapat mencegah terjadinya infeksi.
Sehingga penting mengenal bahwa terapi tepat bagi ekstremitas yang
cedera yang tidak hanya penting bagian tersebut nantinya tetapi bias
memainkan peranan besar dalam melangsungkan hidup pasien.
1.2 MANFAAT PENULISAN
1.2.1 Manfaat Bagi Penulis
Penulis dapat menambah pengetahuan dan pengalaman serta menerapkan
ilmu atau teori yang didapat
1.2.2 Manfaat Bagi Masyarakat
Menambah pengetahuan masyarakat mengenai tindakan
kegawatdaruratan trauma ekstremitas
BAB II
KONSEP PENYAKIT DAN LANDASAN TEORI
2.1 DEFINISI TRAUMA EKSTREMITAS
Terdapat beberapa pengertian mengenai fraktur, sebagaimana yang dikemukakan
para ahli melalui berbagai literature. Menurut FKUI (2000), fraktur adalah rusaknya
dan terputusnya kontinuitas tulang, sedangkan menurut Boenges, ME., Moorhouse,
MF dan Geissler, AC (2000) fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Back
dan Marassarin (1993) berpendapat bahwa fraktur adalah terpisahnya kontinuitas
tulang normal yang terjadi karena tekanan pada tulang yang berlebihan.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa fraktur merupakan suatu
gangguan integritas tulang yang ditandai dengan rusaknya atau terputusnya
kontinuitas jaringan tulang dikarenakan tekanan yang berlebihan.
2.2 MACAM-MACAM TRAUMA EKSTREMITAS
2.2.1 Fraktur
Cedera skelet yang paling signifikan dapat terjadi disebut fraktur. Selain
berakibat ke jaringan tulang, cedera dapat terjadi disekitar jaringan lunak,
pembuluh darah, dan saraf. Resiko komplikasi yang signifikan, seperti infeksi
yang sering dikaitkan dengan fraktur yang meliputi cedera jaringan lunak
mayor.
a. Fraktur tertutup
Fraktur tertutup adalah fraktur tanpa cedera jaringan lunak terbuka.
Prognosis umumnya lebih baik untuk fraktur tertutup karena resiko
infeksi terbatas. Fraktur tertutup juga diklasifikasikan berdasarkan
tipenya : compression impacted, green stick, oblique, spiral,
transversal, komunitif
b. Fraktur terbuka
Adalah fraktur dengan cedera jaringan lunak terbuka. Fraktur ini
kadang sulit ditentukan bila luka pada bagian proksiml fraktur benar-
benar terkain dengan fraktur tersebut. Pedoman atau prinsip yang
berdasarkan praktik menganggap luka sebagai fraktur terbuka sampai
dapat dibuktikan sebaliknya.

Fraktur terbuka ditangani sebagai kedaruratan


ortopedik karena resiko infeksi dan kemungkinan
komplikasi. Fraktur terbuka dapat diklasifikasikan
berdasarkan tingkat keparahannya.

Klasifikasi fraktur terbuka


Derajat I Luka kecil, panjang < 1 cm yang tertusuk dari
bawah
Derajat II Luka melingkar penuh sampai panjang 5 cm
dengan sedikit atau tanpa kontaminasi dan
tidak ada kerusakan jaringan lunak berlebihan
atau kepingan periosteal
Derajat III Luka > 5 cm dan dikaitkan dengan
kontaminasi atau cedera jaringan lunak
signifikan (kehilangan jaringan, avulse,
cedera remuk) dan sering mencakup fraktur
segmental; dapat ditemukan kepingan
jaringan lunak tulang, cedera vaskuler mayor
atau kepingan periosteal.
Data dari American College of Surgeons: Advance trauma life support, student
manual, ed 2, Chicago, 1993. The College; Geiderman, JM: Orthopedic Injuries:
management principles. In Rosen P et al, editors: Emergency medicine concepts and
clinical practice, ed 4. St Louis, 1998 Mosby.

c. Fraktur ekstremitas bawah


Fraktur pelvic
Fraktur ini dapat mengakibatkanhipovolemi akibat kemungkinan
kehilangan darah sampai 4 L yang dapat terjadi karena robekan
arteri, kerusakan pembuluh vena pleksus, dan permukaan
kanselosa tulang yang fraktur.

Gejala :
Deformitas eksternal ringan mungkin terjadi, sebagai
akibat jaringan lunak yang bertumpuk banyak
Darah dapat terlihat di meatus dan pada pemeriksaan
rectal (cedera rectal, uretra dan kandung kemih adalah
komplikasi fraktur pelvis)
Ekimosis perineal atau hematoma skrotum mungkin
terlihat
Rotasi abnormal pada panggul atau kaki mungkin ada
Perdarahan eksternal mungkin teramati pada fraktur
terbuka
Sirkulasi distal mungkin berpotensi terganggu
Pasien merasa nyeri ketika tekanan diberikan pada
Krista iliaka anteriorsuperior dan simpisis pubis
Fraktur femoral
Fraktur femur bilateral dapat menunjukkan cedera mengancam
jiwa sekumder akibat hipovolemi (kehilangan darah pada setiap
femur mungkin sebanyak 2 L)
Fraktur lutut
Fraktur patella umumnya disertai dislokasi akibat transmisi energy
tinggi, dan fraktur ini dapat dikaitkan dengan cedera pembuluh
popliteal
Fraktur tibia dan fibula
Fraktur tibia dan fibula dapat terjadi bersamaan atau sendiri-sendiri
dan umunya akibat benturan langsung. Tibia umumya fraktur saat
jatuh karena sifatnya yang menyokong beban berat tubuh.
Gejala :
Fraktur tibia dapat dikaitkan dengan memburuknya
sindrom kompartemen. Evaluasi nyeri progresif yang
tampak hebat pada cedera ringan menetap, nyeri
peregangan pasif pada otot yang terkena, tegangan pada
area yang terkena, penurunan sensasi, dan kelemahan
tungkai bawah.
Pasien dengan fraktur tibia dan fibula yang stabil
mungkin dapat menyokong berat tubuh pada
ekstremitas. Pemeriksaan posterior tungkai bawah dapat
menunjukkan gejala yang konsisten dengan fraktur.
d. Fraktur ekstremitas atas
Fraktur scapula
Curigai adanya fraktur scapula dengan cedera jaringan lunak yang
signifikan pada bahu dan saat mekanisme cedera menunjukkan
tingkat transmisi energy kinetic tinggi. Fraktur scapula menuntut
evaluasi yang cermat untuk kerusakan pada struktur disekitarnya
karena sering dikaitkan dengan dislokasi bahu, kontusio paru,
fraktur iga dengan potensi pneumotoraks, fraktur kompresi
vertebra dan fraktur ekstremitas atas.
Gejala :
Pasien sering menunjukkan keterbatasan rentang gerak
ekstremitas ipsilateral.
Fraktur klavikula
Fraktur klavikula sering menyebabkan kerusakan pada struktur
dibawahnya, seperti paru (pneumotoraks, hemotoraks), dan vena
subklavia.
Gejala :
Pasien sering menunjukkan bahu yang tidak stabil
karena kehilangan penyokong pada gelang bahu
Evaluasi status neuro vascular ekstremitas karena
fraktur ini sering dikaitkan dengan gangguan
neurovascular
Fraktur ini dapat dikaitkan dengan pneumotoraks,
hematotoraks, atau kompresi pleksus brakialis
Fraktur humerus
fraktur humerus dapat dikaitkan dengan kerusakan arteri brakialis
dan kerusakan saraf radialis, ulnaris dan saraf medialis. Oleh
karena lokasi anatomic berkas neurovascular, fraktur humerus
distal yang dicurigai harus menjalani pemeriksaan neurovascular
dengan seksama dan terdokumentasi. Benturan langsung pada
prosesus olekranon dapat mengakibatkan fraktur indirek pdaa
humerus distal.
Fraktur radius dan ulna
Gejala :
Perhatikan fraktur dekat siku dan pergelangan yang
berkaitan dengan gangguan neurovascular; fraktur pada
daerah ini memerlukan evaluasi neurovascular dan
dokumentasi yang cermat.
Fraktur Colle adalah salah satu dari fraktur yang paling
umum pada radius dan ulna. Fraktur ini umumnya
ditandai dengan tipe penampilan garpu perak, dengan
pergelangan tangan memutar keatas yang berhubungan
dengan radius dan ulna.

2.2.2 Sindrom kompartemen


Sindrom kompartemen adalah kondisi kedaruratan yang terjadi ketika
tekanan didalam kompartemen otot meningkat sampai tingkat yang
mempengaruhi sirkulasi mikrovaskular dan merusak integritas neurovascular.
Setelah beberapa jam tekanan jaringan nintersitial meningkat diatas dasar
kapiler, yang mengakibatkan iskemia saraf dan jaringan otot.
Sindrom ini paling
umum disebabkan
oleh edema atau
perdarahan
kedalam ruang
kompartemen
karena cedera
remuk, fraktur,
kompresi yang lama pada ekstremitas, luka bakar (listrik, termal) atau gigitan
(binatang, manusia). Penyebab iatrogenic sindrom kompartemen meliputi
MAST, manset TD otomatis, gips atau balutan yang terlalu ketat.
Gejala :
Nyeri progresif dan berat yang melebihi kondisi cedera lapisan
dibawahnya, nyeri meningkat dengan gerakan pasif otot yang
terkena
Penurunan sensasi terhadap sentuhan
Bengkak tegang, asimetris
Parastesi
Ekstremitas pucat

2.2.3 Dislokasi
Dislokasi merupakan cedera sendi yang serius dan jarang terjadi.
Dislokasi terjadi bila sendi lepas dan terpisah, dengan ujung-ujung tulang
tidak lagi menyatu. Bila ujung tulang hanya berubah posisi secara parsial,
cedera disebut subluksasio. Bahu, siku, jari, panggul, lutut dan pergelangan
kaki merupakan sendi-sendi yang paling sering mengalami dislokasi
Gejala :
Nyeri hebat pada daerah sendi yang sakit
Deformitas sendi
Pembengkakan sendi
Kehilangan rentang sendi
Kebas, kehilangan sensasi dan tidak terabanya nadi pada bagian
distal cedera (dislokasi dapat mengganggu fungsi arteri dan saraf
dibagian proksimal)

2.2.4 Sprain (keseleo)


Sprain (keseleo) merupakan cedera pada sendi yang sering terjadi.
Pada keadaan tersebut, ligament dan jaringan lain rusak karena peregangan
atau puntiran yang keras. Usaha untuk menggerakkan atau menggunakan
sendi meningkatkan rasa nyeri. Lokasi yang sering mengalami sprain
(keseleo) meliputi pergelangan kaki, pergelangan tangan, atau lutut.

Gejala:
Derajat I Peregangan atau robekan kecil pada
ligament
Pembengkakan dan hemoragi minimal,
nyeri tekan lokal
Tidak ada gerakan sendi abnormal
Derajat II Robekan parsial ligament
Nyeri
Gerakan sendi abnormal
Derajat III Ligament terputus komplet
Sendi secara nyata mengalami
deformasi
Nyeri tekan dan bengkak
Sendi tidak dapat menopang beban
Gerakan sendi sangat abnormal

2.2.5 Strain (peregangan)


Strain otot, dikenal juga sebagai tarikan otot, terjadi bila otot terlalu
meregang atau robek. Otot punggung sering mengalami strain bila seseorang
mengangkat benda berat.

Gejala :
Derajat I Peregangan ringan-robekan minor
Nyeri local, nyeri tekan, bengkak, spasme
otot ringan
Derajat II Peregangan sedang-peningkatan jumlah
serat yang robek
Nyeri local, nyeri tekan, bengkak,
dislokasi dan ketidakmampuan untuk
menggunakan tungkai untuk periode lama
Derajat Peregangan hebat-pemisahan komplet
I otot dari otot, otot dari tendo, atau tendon
I dari tulang
I Nyeri local, nyeri tekan, bengkak, pucat
2.2.6 Vulnus (Luka)
Terdapat beberapa jenis luka terbuka :
Abrasi : lapisan atas kulit terkelupas, dengan sedikit kehilangan
darah. Nama lain untuk abrasi adalah goresan (scrape), road rush,
dan rug burn.
Laserasi : kulit yang terpotong dengan pinggir bergerigi. Jenis luka
ini biasanya disebabkan oleh robeknya jaringan kulit secara paksa
Insisi : potongan dengan pinggir rata seperti potongan pisau atau
teriris kertas
Pungsi : cedera akibat benda tajam (seperti pisau, pemecah es
atau peluru). Benda yang menembus dapat merusak organ-organ
internal. Resiko infeksi tinggi. Benda yang menyebabkan cedera
tersebut dapat tetap tertanam dalam luka.
Avulse : potongan kulit yang robek lepas dan menggantung pada
tubuh.
Amputasi : terpotong atau robeknya bagian tubuh

2.3 ETIOLOGI TRAUMA EKSTREMITAS


a. Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang
patah secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur
melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya.
b. Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi
benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur
klavikula.
2.4 PATOFISIOLOGI
1) Kehilangan Darah

Bila tulang dan sendi berpindah posisi dapat menekan pembuluh darah
dan syaraf-syaraf sekitar sehingga menyebabkan perubahan-perubahan
patofisiologys dibagian distal injuri. Terjadi obstruksi aliran darah arteri,
oksigenasi jaringan berkurang, mengakibatkan iskemik jaringan dan kematian
sel. Selama proses ini, rasa sakit semakin bertambah, denyut arteri semakin
sulit teraba dan anggota gerak menjadi pucat, sianosis, dingin, waktu capillary
refill melambat.
2) Trauma Jaringan Lunak
Kerusakan kulit dapat menimbulkan gangguan cairan tubuh, elektrolit,
atau pengontrolan suhu, dan menjadi jalan masuk mikroorganisme yang akan
menyebabkan infeksi, terutama bila didapat jaringan yang nekrosis.

3) Defisit Neurologis
Bila syaraf mengalami tekanan/robekan, konduksi akan terputus dan
relay impuls syaraf akan berkurang, akibatnya terjadi trauma syaraf dengan
gejala-gejala hilangnya fungsi motorik dan sensorik parsial atau komplit.
2.5 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Hemoglobin dan hematokrit
Untuk pasien fraktur pelvis, femur, atau multiple, ukur hemoglobin dan
hematokrit karena berpotensi kehilangan darah.
b. Mioglobin urine
Mioglobin urine adalah protein otot yang dilepaskan dari sel ketika sel rusak
berat, seperti pada cedera remuk atau sindrom kompartemen. Mioglobin di
ekskresikan kedalam urine dan akan mengubah urine menjadi coklat
kemerahan.
c. Radiografi
Radiografi adalah alat pemeriksaan paling bermanfaat dalam mendiagnosis
fraktur. Foto anteroposterior dan lateral harus dilakukan untuk melihat
keseluruhan tulang, baik sendi proksimal maupun distal.
d. Arteriogram
Lakukan arteriogram untuk memastikan atau menyingkirkan dugaan sedera
vaskuler pada kasus penurunan atau tidak terabanya nadi.
e. CT Scan
CT scan sering kali digunakan untuk mengidentifikasi fraktur asetabulum dan
untuk mengevaluasi integritas permukaan artikulasi seperti lutut, tangan,
pergelangan tangan dan pergelangan kaki.
f. MRI
MRI mengidentifikasi kerusakan tulang, ligament, kartilago dan meniscus.
2.6 PENATALAKSANAAN
Tujuan tindakan penanggulangan cedera musculoskeletal menurut definisi
orthopedic adalah untuk mencapai rehabilitasi pasien secara maksimum dan utuh
dilakukan dengan cara medic, bedah dan modalitas lain untuk mencapai tujuan
terapi. Ada 4 hal yang harus diperhatikan :

a. Recognition
Pada trauma ekstremitas perlu diketahui kelainan yang terjadi sebagai
akibat cedera tersebut, baik jaringan lunak atau tulangnya. Dengan mengenali
gejala dan tanda pada penggunaan fungsi jaringan yang terkena cedera.
Fraktur merupakan akibat suatu kekerasan yang menimbulkan kerusakan
tulang disertai jaringan lunak sekitarnya.
Dibedakan pada trauma tumpul dan trauma tajam, langsung dan tidak
langsung. Pada umumya trauma tumpul akan memberikan kememaran yang
difus pada jaringan lunak termasuk ganggguan neurovaskuler yang
menentukan vitalitas ekstremitas bagian distal dari bagian yang cedera.
b. Reduction atau reposisi
Reposisi adalah tindakan untuk mengembalikan jaringan atau fragmen
tulang pada posisi semula. Tindakan ini diperlukan guna mengembalikan
kepada bentuk semula sebaik mungkin agar fungsi dapat kembali semaksimal
mungkin.
ORIF (Open Reduction Internal Fixation)
fiksasi internal dengan pembedahan terbuka akan mengimmobilisasi
fraktur dengan melakukan pembedahan dengan memasukan paku,
sekrup atau pin ke dalam tempat fraktur untuk memfiksasi bagian-
bagian tulang yang fraktur secara bersamaan.
OREF (Open Reduction External Fixation)
c. Retaining
Retaining adalah tindakan imobilisasi atau fiksasi untuk
mempertahankan hasil reposisi dan memberi istirahat pada spasme otot pada
bagian yang sakit agar mencapai penyembuhan dengan baik. Imobilisasi yang
tidak adekuat dapat memberikan dampak pada penyembuhan dan rehabilitasi.
d. Rehabilitasi
Rehabilitasi berarti mengembalikan kemampuan anggota gerak yang
cedera untuk dapat berfungsi kembali. Falsafah lama mengenai rehabilitasi
adalah tindakan setelah tindakan kuratif dalam mengatasi kendala kecacatan.
Rehabilitasi menekan upaya pada fungsi dan akan lebih berhasil dilaksanakan
sedini mungkin.
2.7 ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT
2.7.1 PENGKAJIAN
a. Mengkaji ABCD
Airway
Kaji : bersihan jalan nafas, ada tidaknya sumbatan jalan nafas,
distress pernafasan, tanda-tanda perdarahan dijalan nafas, muntahan,
edema laring
Breathing
Kaji : frekuensi nafas, usaha dan pergerakan dinding dada,
suara pernafasan melalui hidung atau mulut, udara yang dikeluarkan
dari jalan nafas
Circulation
Kaji : denyut nadi karotis, tekanan darah, warna kulit, kelembaban
kulit, tanda tanda perdarahan eksternal dan internal
Disability
Kaji : tingkat kesadaran dengan AVPU (alert, verbal, pain,
unrespon), gerakan ekstremitas, GCS, ukuran pupil dan respon pupil
terhadap cahaya
b. Kaji riwayat dan kondisi pasien
Riwayat SAMPLE (Sign and symptom, Allergy, Medication, Past
medical history, Last oral intake, Event Preceding the injury)
Tentukan mekanisme cedera untuk membantu memperkirakan
kelanjutan cedera
Kaji disfungsi segera atau lambat atau nyeri yang dialami
Perhatikan adanya riwayat cedera musculoskeletal
Singkirkan benda yang berpotensi menekan ekstremitas yang cedera,
seperti pakaian, perhiasaan
Evaluasi adanya luka terbuka pada ekstremitas. Tentukan panjang
dan dalamnya luka. Laserasi diatas tempat yang dicurigai fraktur
ditangani sebagai fraktur terbuka sampai pengkajian selanjutnya
membuktikan sebaliknya.
Perhatikan adanya hematoma
Evaluasi stabilisasi tulang-krepitasi tulang indikasi adnaya fraktur
Inspeksi apakah ada pembengkakan, deformitas, rotasi abnormal
atau pemendekan tulang
c. Mengevaluasi ekstremitas apakah ada 5 P
Pain (nyeri)
Keluhan paling umum pada cedera musculoskeletal adalah nyeri.
Titik nyeri tekan dapat menunkukkan fraktur dibawahnya. Nyeri yang
tidak konsisten dengan perluasan cedera menunjukkan terjadinya
sindrom kompartemen.
Pallor (pucat)
Iskemik menimbulkan perubahan warna dan suhu
Pulse (nadi)
Palpasi nadi pada semua ekstremitas. Nadi harus diperiksa
dengan palpasi, atau dengan Doppler bila tidak dapat diraba.
Parestesia
Paralisis

2.8 TINDAKAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT


2.8.1 Perawatan untuk cedera tulang
1) Buka dan periksa area tempat cedera
Cari deformitas, luka terbuka, memar, dan pembengkakan
Rasakan area yang cedera untuk memeriksa adakah deformitas
dan nyeri tekan saat disentuh
Tanyakan apakah korban merasakan nyeri dan mampu
menggunakan bagian yang cedera secara normal.
2) Stabilkan bagian yang cedera untuk mencegah gerakan
Ikuti tindakan pencegahan
Jika layanan medis darurat segera tiba, stabilkan bagian yang
cedera dengan tangan penolong sampai mereka tiba
Jika layanan medis darurat lambat, atau jika penolong membawa
korban ke perawatan medis, stabilkan bagian yang cedera
dengan bidai
3) Jika cedera adalah fraktur terbuka, jang mendorong tulang yang
prostusi. Tutup luka dan tulang yang terpajan dengan kassa. Tempelkan
gulungan kassa disekitar tulang, dan perban cedera tanpa menekan
tulang
4) Kompres dengan es batu atau kantong dingin (cold pack) jika
memungkinkan untuk membantu mengurangi pembengkakan dan nyeri.
5) Cari pertolongan medis. Telpon 118 atau layanan medis darurat
setempat untuk setiap fraktur terbuka atau fraktur tulang besar (seperti
paha) atau bila membawa korban sulit atau akan mempercepat cedera.
2.8.2 Perawatan untuk cedera sendi
1) Jika dicurigai terjadi dislokasi, pasang bidai jika layanan medis
darurat (EMS) terlambat datang. Berikan perawatan seperti pada
fraktur. Jangan mencob mengembalikan bagian yang mengalami
dislokasi ke posisi normalnya, karena kerusakan saraf dan pembuluh
darah dapat terjadi.
2) Jika dicurigai terjadi sprain (keseleo) terapkan prosedur RICE.
Rest (istirahat) : hentikan menggunakan bagian yang cedera
Ice (es) :kompres dengan kantong es pada area yang cedera.
Gunakan perban elastic untuk menahan kantong es agar tidak
bergeser selama 20 sampai 30 menit.
Compression (kompresi) : ambil esnya dan gunakan perban
kompresi dan biarkan ditempatnya selama 3 sampai 4 jam
Elevation (elevasi) : tinggikan area yang cedera melebihi tinggi
jantung, jika memungkinkan.
3) Cari pertolongan medis. Telepon 118 atau layanan medis darurat
setempat jika dislokasi atau cedera yang terjadi tidak
memungkinkan membawa korban atau akan memperberat
cedera.
2.8.3 Perawatan untuk cedera otot
Perawatan untuk strain meliputi mengistirahatkan otot yang terkena
dan kompres dengan es atau kantong dingin (cold pack)

2.9 DIAGNOSA KEPERAWATAN


a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebih
melalui perdarahan masif

b. Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas jaringan dan spasme otot sekunder


terhadap luka trauma mekanik (kecelakaaan)

c. Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan Kehilangan integritas struktur


tulang, tidak nyaman/nyeri, kerusakan muskuloskeletal dan neuromuskuler
d. Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan kehilangan cairan
berlebih melalui perdarahan massif

e. Infeksi berhubungan dengan paparan lingkungan pada fraktur terbuka

2.10 INTERVENSI
a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebih
melalui perdarahan masif

No Intervensi Rasional

1 Kaji tanda-tanda dehidrasi Tanda-tanda dehidrasi


pada klien meliputi CRT, dapat dikategorikan
turgor kulit, konjungtiva menurut derajad
mata, mukosa bibir dan dehidrasi sehingga
kelemahan intervensi dapat
dilakukan dengan
tepat

2 Berikan cairan parenteral Mengatasi terjadinya syok


sesuai indikasi hipovolemik
Replacement cairan
4cc/kgBB/jam untuk 10 kg
pertama BB, 2cc/kgBB/jam
untuk 10kg ke dua BB, dan
1cc/kgBB/jam untuk kg BB sisa
3 Kaji TTV klien secara periodic Pengukuran tersebut
dan teliti sangat penting untuk
mengetahui
perubahan kondisi dan
keparahan

b. Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas jaringan dan spasme otot sekunder


terhadap luka trauma mekanik (kecelakaaan)
No Intervensi Rasional
1 Berikan balutan dan Untuk menjaga stabilitas
pembidaian atau traksi bagian yang sakit dan
pada ekstremitas yang mengurangi gerakan
mengalami deformitas yang dapat menciderai
jaringan dan
menyebabkan nyeri
2 Tinggikan daerah ekstremitas Untuk mengurangi nyeri
yang sakit
3 Istirahatkan bagian yang Meminimalisir gerakan yang
mengalami cedera dapat memperberat nyeri

c. Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan Kehilangan integritas struktur


tulang, tidak nyaman/nyeri, kerusakan muskuloskeletal dan neuromuskuler

No Intervensi Rasional
1 Ambulasi Meningkatkan dan membantu
berjalan untuk mempertahankan
atau memperbaiki fungsi tubuh
2 Mobilitas Sendi penggunaan untuk mempertahankan atau
pergerakan tubuh aktif memperbaiki fleksibilitas
sendi
3 perubahan posisi untuk memberikan
memindahkan pasienatau kenyamanan, menurunkan
bagian tubuh resiko kerusakan kulit
mendukung integritas kulit
dan meningkatkan
penyembuhan.

d. Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan kehilangan cairan


berlebih melalui perdarahan massif

N Intervensi Rasional
o
1 Kaji adanya tanda-tanda Menilai ketidakadekuatan
sianosis dan perlambatan perfusi
CRT
2 Anjurkan pasien untuk Memperlancar sirkulasi
menurunkan ekstremitas darah ke ekstremitas
dibawah jantung
3 Pemberian cairan intravena Meningkatkan sirkulasi ke
perifer

e. Infeksi berhubungan dengan paparan lingkungan pada fraktur terbuka

No Intervensi Rasional
1 Pertahankan teknik anti septik Meminimalkan kesempatan
bila mengganti balutan / introduksi bakteri
perawatan luka
2 Inspeksi balutan dan luka Deteksi dini terjadinya
infeksi memberi
kesempatan intervensi
tepat waktu dan mencegah
komplikasi serius
3 Berikan Penggunaan antibiotic
antibiotic (kolaborasi) dapat disesuai kan dengan
organisme penyebab
BAB III
HASIL PENELITIAN TRAUMA EKSTREMITAS