Anda di halaman 1dari 5

Nama : Ayunani Agustina

NPM : 230110140095

Edible Packaging, Kemasan Biodegradable yang Ramah Lingkungan

Pengemasan adalah salah satu hal yang sangat penting dalam industri pangan. Dalam
industri pangan, pengemasan berkaitan langsung dengan keamanan produk disamping pada
aspek lainnya. Kemasan memiliki fungsi utama untuk melindungi produk dari kerusakan
yang ditimbulkan oleh lingkungan. Hal ini sangat jelas mengingat produk-produk perikanan
dan industri perikanan kebanyakan sangat rentan mengalami kerusakan yang berakibat pada
turunnya kualitas produk. Selain untuk menjaga kualitas produk, kemasan juga berfungsi
sebagai media informasi produk kepada konsumen. Pada kemasan dapat dicantumkan segala
macam informasi tentang produk seperti komposisi, kandungan nilai gizi, dan standard mutu
yang digunakan. Selain itu, kemasan juga memiliki nilai penting dalam bidang pemasaran.
Oleh karenanya, disamping mempertimbangkan aspek keamanan produk, juga harus
diperhatikan aspek estetika dan preferensi konsumen yang berhubungan dengan kemasan
produk.
Secara umum kemasan produk atau packaging diartikan sebagai bagian paling luar
dari suatu produk. Kemasan produk berfungsi untuk membungkus produk tersebut demi
menghindari pengaruh buruk sinar matahari berlebih, guncangan, dan benturan dengan benda
lain, kelembaban yang tidak sesuai serta pengaruh handling yang tidak benar. Kemasan
produk membuat image bagi produknya, sehingga sering kali kemasan dibuat sedemikian
unik dan menarik sehingga pesan yang akan disampaikan bisa ditangkap oleh pemakai
produk.
Kemasan atau packaging selalu menjadi salah satu unsur yang sangat penting bagi
para produsen untuk menawarkan produknya, oleh sebab itu kemasan produk tidak hanya
sekedar menjadi pembungkus saja. Apapun jenis produk yang akan dijual, dikala produk
dikemas dengan unik dan menarik maka dari kemasan tersebut tergambarkan kulitas, benefit,
nilai, dan merek produk yang dijual.
Pemilihan bahan kemasan sangat penting karena pada setiap produk yang akan
dikemas memiliki sifat yang berbeda-beda. Selain itu penting juga untuk mengetahui sifat
bahan pengemas yang digunakan dan tujuan dari pengemasan, apakah pendistribusian untuk
retail atau jarak jauh. Kemasan produk harus kuat namun tetap fleksibel untuk dibuat menjadi
berbagai bentuk desain kemasan.
Kemasan makanan telah menjadi fokus utama dalam upaya pengurangan limbah.
Limbah kemasan makanan dapat didaur ulang dan dapat digunakan kembali, namun pada
kenyataannya kapasitas sistem daur ulang yang ada saat ini belum mampu sepenuhnya
menangani limbah kemasan makanan yang begitu melimpah. Umumnya jenis pengemas yang
sering digunakan adalah kemasan plastik. Plastik merupakan salah satu bahan yang paling
umum kita lihat dan gunakan. Bahan plastik secara bertahap mulai menggantikan gelas, kayu,
dan logam. Hal ini disebabkan bahan plastik mempunyai beberapa keunggulan, yaitu ringan,
kuat, mudah dibentuk, anti karat, tahan terhadap bahan kimia, mempunyai sifat isolasi listrik
yang tinggi, dapat dibuat berwarna maupun transparan, dan biaya proses yang lebih murah.
Namun sebagai bahan pengemas, kemasan plastik memiliki kelemahan yaitu dapat
mencemari lingkungan karena karakternya yang nonbiodegradable, selain itu plastik juga
dapat mencemari bahan pangan yang dikemas karena adanya zat-zat tertentu yang berpotensi
karsinogen yang dapat berpindah ke dalam bahan pangan yang dikemas. Oleh sebab itu, perlu
dicari bahan pengemas yang mempunyai karakter biodegradable sehingga ramah lingkungan,
namun tetap kuat dan elastis menyerupai kemasan plastik biasa.
Jenis plastik biodegradable sering disebut dengan edible. Edible packaging dari
polimer alam merupakan salah satu solusi alternatif kemasan makanan yang bersifat ramah
lingkungan dan dapat mempertahankan kualitas makanan. Edible didefinisikan sebagai
lapisan tipis (ketebalan < 0,25 mm), dapat dimakan, dilapisi pada makanan yang berfungsi
sebagai barrier terhadap transfer massa (kelembaban, oksigen, lipid, dan zat terlarut).
Edible packaging dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu yang berfungsi
sebagai pelapis (edible coating) dan yang berbentuk lembaran (edible film). Edible coating
banyak digunakan untuk pelapis produk daging beku, makanan semi basah (intermediate
moisture foods), produk hasil laut, sosis, buah-buahan dan sayur-sayuran. Edible film adalah
lapisan tipis yang dibuat dari bahan yang dapat dimakan, dibentuk di atas komponen
makanan yang berfungsi sebagai penghambat transfer massa (misalnya kelembaban, oksigen,
lemak, dan zat terlarut) dan atau sebagai carrier bahan makanan dan untuk meningkatkan
penanganan makanan. Prinsip pembentukan edible adalah interaksi rantai polimer
menghasilkan agregat polimer yang lebih besar dan stabil.
Edible packaging adalah kemasan yang bersifat plastis, tidak berwarna, berasa, dan
berbau yang dapat dimakan bersama dengan bahan yang dikemasnya. Kemasan ini juga dapat
bermanfaat sebagai agen penambah masa simpan produk karena sirkulasi udara kebahan
bersifat minimal, sehingga proses respirasi dapat ditekan. Selain itu, kombinasi dengan zat
antioksidan juga dapat dilakukan untuk menambah sifat fungsional bahan pangan yang
dikemas.
Jenis kemasan ini mempunyai sifat yang sama dengan plastik. Dengan semakin
berkembangnya penelitian mengenai jenis pengemas yang alami ini, diharapkan
ketergantungan akan kemasan plastik dapat menurun. Di negara-negara maju, plastik
biodegradable sudah menjadi tren baru dan mulai diproduksi secara masal untuk konsumsi
industri. Di Indonesia, sayangnya, penelitian masih sebatas skala laboratorium. Dunia industri
belum mau melirik.
Apabila melihat potensi yang ada di Indonesia, seharusnya Indonesia sudah mulai
beralih ke edible packaging seperti negara-negara maju. Indonesia memiliki potensi yang
besar dalam produksi kitosan yang dapat dijadikan sebagai bahan pembuatan edible. Potensi
besar tersebut salah satunya berasal dari rajungan (Portunus pelagicus).
Secara umum morfologi rajungan berbeda dengan kepiting bakau, di mana rajungan
(Portunus pelagicus) memiliki bentuk tubuh yang lebih ramping dengan capit yang lebih
panjang dan memiliki berbagai warna yang menarik pada karapasnya. Duri akhir pada kedua
sisi karapas relatif lebih panjang dan lebih runcing. Rajungan hanya hidup pada lingkungan
air laut dan tidak dapat hidup pada kondisi tanpa air. Bila kepiting hidup di perairan payau,
seperti di hutan bakau atau di pematang tambak, rajungan hidup di dalam laut. Rajungan
memang tergolong hewan yang bermukim di dasar laut, tapi malam hari suka naik ke
permukaan untuk mencari makan. Oleh karena itu, rajungan disebut juga swimming crab
alias kepiting yang bisa berenang.
Di Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Cirebon merupakan wilayah yang memberikan
kontribusi paling besar setelah kabupaten Indramayu terhadap hasil penangkapan ikan.
Jumlah produksi di Kabupaten Cirebon sebesar 19.875 ton, sedangkan total jumlah produksi
untuk Provinsi Jawa Barat adalah sebesar 83.067 ton (Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa
Barat 2004). Hasil tangkapan ikan yang cukup prospektif di Kabupaten Cirebon adalah
rajungan. Rajungan dengan nama latin Portunus pelagicus merupakan salah satu komoditas
sektor perikanan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan termasuk ke dalam komoditas
perikanan yang memiliki nilai ekspor penting bagi Indonesia. Menurut Direktorat Jenderal
Industri Agro (2015), ekspor komoditas perikanan rajungan (Portunus pelagicus)
menyumbang sebesar US$ 130,9 atau sekitar Rp 5 triliun. Nilai ekspor rajungan meningkat
pesat sejak tahun 2013. Rajungan banyak diekspor dalam bentuk rajungan beku atau kemasan
daging dalam kaleng, selain untuk memenuhi keperluan gizi di dalam negeri.
Dalam proses pengambilan daging rajungan, dihasilkan limbah kulit (cangkang)
cukup banyak hingga mencapai sekitar 40-60 persen dari total berat rajungan. Meningkatnya
jumlah limbah cangkang rajungan masih menjadi masalah yang perlu dicarikan upaya
pemanfaatannya. Hal ini bukan saja memberikan nilai tambah pada usaha pengolahan
rajungan, akan tetapi juga dapat menanggulangi masalah pencemaran lingkungan yang
ditimbulkan, terutama masalah bau yang dikeluarkan serta estetika lingkungan yang kurang
bagus. Di pihak lain, limbah cangkang rajungan mengandung senyawa kimia bermanfaat
seperti protein, mineral, dan kitin dalam jumlah cukup banyak. Cangkang rajungan
mengandung kitin yang persentasenya paling besar berupa polisakarida. Berdasarkan data
Departemen Kelautan dan Perikanan 2003, limbah kitin yang belum dimanfaatkan sebesar
56.200 metrik ton per tahun. Limbah ini belum termanfaatkan secara baik dan berdaya guna,
bahkan sebagian besar merupakan buangan yang juga turut mencemari lingkungan. Di pihak
lain, buangan tersebut ternyata sangat potensil untuk dimanfaatkan sebagai kitosan. Data
Sanford (2003) menyatakan bahwa pada tahun 2002 sejumlah 10.000 ton kitin diproduksi
secara komersil dari industri kelautan, dan sekitar 25 persennya dibuat menjadi kitosan
dengan harga pasaran dunia 10.000 USD per ton. Dengan demikian dapat terlihat dengan
jelas bahwa limbah cangkang rajungan sangat potensial untuk diolah menjadi kitosan yang
selanjutnya dapat dijadikan sebagai bahan pembuatan edible packaging. Berdasarkan
penelitia Kittur et al. (1998), edible film dari kitosan mempunyai nilai permeabilitas air yang
cukup dan bisa digunakan untuk meningkatkan umur simpan produk segar dan sebagai
cadangan makanan dengan nilai aktivitas air yang lebih tinggi. Edible film kitosan telah
menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap pertumbuhan jamur.
Masalah utama yang dihadapi dalam memproduksi kitin dan kitosan di Indonesia
adalah kualitas produk masih rendah, kontinuitas suplainya belum pasti, dan belum bisa
diakses oleh semua kalangan. Pembuatan kitosan dengan bahan baku rajungan masih
terbatas. Selain itu, banyak masyarakat yang belum mengetahui fungsi dari kitin dan kitosan
pada produk perikanan.
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan plastik sebagai bahan
kemasan produk pangan berdampak besar bagi kelestarian lingkungan. Masalah terbesar yang
ditimbulkan adalah masalah sampah plastik yang tidak dapat terurai secara alami dan dapat
menjadi polutan bagi tanah dan air. Solusi masalah sampah plastik terbaik untuk saat ini
adalah dengan metode 3 R, yaitu reduce, reuse, dan recycle karena pengolahan sampah
menggunakan incinerator dapat menimbulkan masalah pencemaran udara. Perlu dilakukan
upaya-upaya untuk mecari pengganti plastik sebagai bahan kemasan produk pangan yang
lebih ramah lingkungan. Edible packaging dapat dijadikan sebagai solusi kemasan yang
ramah lingkungan. Selain itu, pemanfaatannya yang berasal dari limbah cangkang rajungan
yang dapat mengurangi limbah. Sebuah keputusan yang sangat logis mengingat produk
industri perikanan memiliki shelf life yang sangat pendek jika dibandingkan dengan kemasan
plastik yang dapat bertahan selama ratusan tahun.