Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kulit adalah lapisan tubuh yang paling luar dan cukup sensitif terhadap berbagai macam
benda asing yang datang dari luar tubuh, yang menyebabkan penyakit. Penyakit kulit bisa
disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya faktor lingkungan dan pola tingkah laku sehari-hari.
Lingkungan yang sehat dan bersih akan membawa efek yang baik bagi kulit. Sebaliknya,
lingkungan kotor yang tidak terjaga kebersihannya bisa menjadi penyebab timbulnya berbagai
macam penyakit (Faulkner, 2008).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang , rumusan masalah yang dapat kami angkat yaitu :
1. Apa yang dimaksud dengan kulit / integumen ?
2. Bagaimana anatomi kulit / integumen ?
3. Apa fungsi kulit / integumen ?

C. Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan kulit.
2. Mengetahui fungsi-fungsi dari kulit.

D. Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah agar mahasiswa mampu memahami tentang
dermis yang terdiri dari serabut saraf, pembuluh darah, kelenjar keringat, kelenjar sebasea,
folikel rambut, epidermis yang terdiri dari stratum kornium,melanosit, serta
hipodermis sehingga mahasiswa mampu meningkatkan kemampuan dalam mengkonstrusikan
ilmu tentang konsep anatomi fisiologi kulit. Tidak hanya mampu memahami tetapi juga mampu
menguraikan dan menerapkan konsep anatomi fisiologi kulit saat memberikan asuhan
keperawatan kepada pasien/klien.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Anatomi dan Fisiologi Integumen


Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh, merupakan organ
terberat dan terbesar dari tubuh. Kulit memiliki fungsi melindungi bagian tubuh dari berbagai
macam gangguan dan rangsangan luar. Fungsi perlindungan ini terjadi melalui sejumlah
mekanisme biologis, seperti pembentukan lapisan tanduk secara terus menerus keratinisasi
dan pelepasan sel-sel kulit ari yang sudah mati), respirasi dan pengaturan suhu tubuh,
produksi sebum dan keringat serta pembentukan pigmen melanin untuk melindungi kulit dari
bahaya sinar ultra violet matahari
Kulit tersusun dari tiga lapisan, yaitu: epidermis, dermis,dan hipodermis.
1. Kulit Ari (epidermis)
Epidermis merupakan bagian kulit paling luar. Ketebalan epidermis berbeda-beda
pada berbagai bagian tubuh, yang paling tebal berukuran 1 milimeter misalnya pada
telapak tangan dan telapak kaki, dan yang paling tipis berukuran 0,1 milimeter terdapat
pada kelopak mata, pipi, dahi dan perut. Sel-sel epidermis disebut keratinosit. Epidermis
melekat erat pada dermis karena secara fungsional epidermis memperoleh zat-zat
makanan dan cairan antar sel dari plasma yang merembes melalui dinding-dinding
kapiler dermis ke dalam epidermis. Pada epidermis dibedakan atas lima lapisan kulit,
yaitu :
a. Lapisan tanduk (stratum corneum), merupakan lapisan epidermis yang paling
atas, dan menutupi semua lapisan epiderma lebih ke dalam. Lapisan tanduk
terdiri atas beberapa lapis sel pipih, tidak memiliki inti, tidak mengalami
proses metabolisme, tidak berwarna dan sangat sedikit mengandung air. Pada
telapak tangan dan telapak kaki jumlah baris keratinosit jauh lebih banyak,
karena di bagian ini lapisan tanduk jauh lebih tebal. Lapisan tanduk ini
sebagian besar terdiri atas keratin yaitu sejenis protein yang tidak larut dalam
air dan sangat resisten terhadap bahan-bahan kimia. Lapisan ini dikenal
dengan lapisan horny, terdiri dari milyaran sel pipih yang mudah terlepas dan
digantikan oleh sel yang baru setiap 4 minggu, karena usia setiap sel biasanya

2
hanya 28 hari. Pada saat terlepas, kondisi kulit akan terasa sedikit kasar
sampai muncul lapisan baru. Proses pembaruan lapisan tanduk, terus
berlangsung sepanjang hidup, menjadikan kulit ari memiliki self repairing
capacity atau kemampuan memperbaiki diri. Bertambahnya usia dapat
menyebabkan proses keratinisasi berjalan lebih lambat. Ketika usia mencapai
sekitar 60 tahunan, proses keratinisasi, membutuhkan waktu sekitar 45 - 50
hari, akibatnya lapisan tanduk yang sudah menjadi lebih kasar, lebih kering,
lebih tebal, timbul bercak-bercak putih karena melanosit lambat bekerja dan
penyebaran melanin tidak lagi merata serta tidak lagi cepat digantikan oleh
lapisan tanduk baru. Daya elastisitas kulit pada lapisan ini sangat kecil, dan
lapisan ini sangat efektif untuk mencegah terjadinya penguapan air dari
lapislapis kulit lebih dalam sehingga mampu memelihara tonus dan turgor
kulit, tetapi lapisan tanduk memiliki daya serap air yang cukup besar.
b. Lapisan bening (stratum lucidum) disebut juga lapisan barrier, terletak tepat
di bawah lapisan tanduk, dan dianggap sebagai penyambung lapisan tanduk
dengan lapisan berbutir. Lapisan bening terdiri dari protoplasma sel-sel jernih
yang kecil-kecil, tipis dan bersifat translusen sehingga dapat dilewati sinar
(tembus cahaya). Lapisan ini sangat tampak jelas pada telapak tangan dan
telapak kaki. Proses keratinisasi bermula dari lapisan bening.
c. Lapisan berbutir (stratum granulosum) tersusun oleh sel-sel keratinosit
berbentuk kumparan yang mengandung butir-butir di dalam protoplasmanya,
berbutir kasa dan berinti mengkerut. Lapisan ini tampak paling jelas pada kulit
telapak tangan dan telapak kaki.
d. Lapisan bertaju (stratum spinosum) disebut juga lapisan malphigi terdiri atas
sel-sel yang saling berhubungan dengan perantaraan jembatan-jembatan
protoplasma berbentuk kubus. Jika sel-sel lapisan saling berlepasan, maka
seakan-akan selnya bertaju. Setiap sel berisi filamen-filamen kecil yang terdiri
atas serabut protein. Sel-sel pada lapisan taju normal, tersusun menjadi
beberapa baris. Bentuk sel berkisar antara bulat ke bersudut banyak
(polygonal), dan makin ke arah permukaan kulit makin besar ukurannya. Di
antara sel-sel taju terdapat celah antar sel halus yang berguna untuk peredaran

3
cairan jaringan ekstraseluler dan pengantaran butir-butir melanin. Sel-sel di
bagian lapis taju yang lebih dalam, banyak yang berada dalam salah satu tahap
mitosis. Kesatuankesatuan lapisan taju mempunyai susunan kimiawi yang
khas; intiinti sel dalam bagian basal lapis taju mengandung kolesterol, asam
amino dan glutation.
e. Lapisan benih (stratum germinativum atau stratum basale) merupakan lapisan
terbawah epidermis, dibentuk oleh satu baris sel torak (silinder) dengan
kedudukan tegak lurus terhadap permukaan dermis. Alas sel-sel torak ini
bergerigi dan bersatu dengan lamina basalis di bawahnya. Lamina basalis
yaitu struktur halus yang membatasi epidermis dengan dermis. Pengaruh
lamina basalis cukup besar terhadap pengaturan metabolisme demo-epidermal
dan fungsi-fungsi vital kulit. Di dalam lapisan ini sel-sel epidermis bertambah
banyak melalui mitosis dan sel-sel tadi bergeser ke lapisan-lapisan lebih atas,
akhirnya menjadi sel tanduk. Di dalam lapisan benih terdapat pula sel-sel
bening (clear cells, melanoblas atau melanosit) pembuat pigmen melanin
kulit.

2. Dermis
Dermis membentuk bagian terbesar kulit dengan memberikan kekuatan dan
struktur pada kulit (Eckert, 1992). Dermis atau Korium (Kulit Jangat) adalah lapisan
jaringan ikat bagian bawah. Pada permukaan dermis tersusun papil-papil kecil yang berisi
ranting-ranting pembuluh/kapiler darah, kandung rambut, serta ujung-ujung saraf dari
alat indera. Dermis dipisahkan dari lapisan epidermis dengan adanya membrane dasar
atau lamina. Membran ini terusun dari dua lapisan jaringan ikat yaitu lapisan papilaris
dan lapisan retikularis. Lapisan ini mengikat epidermis dengan struktur yang ada di
bawahnya. Lapisan papilaris dermis berada langsung di bawah epidermis dan tersusun
dari sel-sel fibroblast yang dapat menghasilkan salah satu bentuk kolagen yaitu suatu
komponen dari jaringan ikat. Lapisan retikularis terletak di bawah lapisan papilaris dan
juga memproduksi kolagen serta berkas-berkas serabut elastik.

4
a. Serabut saraf
Pada lapisan dermis kulit terdapat puting peraba yang merupakan ujung
akhir saraf sensoris. Ujung-ujung saraf tersebut merupakan indera perasa
panas, dingin, nyeri, dan sebagaiannya Oleh karena itu kulit merupakan organ
terluas dimana pada organ ini terdapat reseptor panas (ruffini), tekanan
(paccini), dingin (krause), rasa nyeri atau sakit (ujung saraf bebas), serta
reseptor sentuhan (meissner). Permukaan kulit mengandung saraf-saraf yang
memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda-beda. Ujung saraf tersebut yaitu
sebagai berikut :
1) Korpuskula Pacini (vater pacini) merupakan ujung saraf pada kulit
yang peka terhadap rangsangan berupa tekanan, letaknya di sekitar
akar rambut. Ditemukan di jaringan subkutan pada telapak tangan,
telapak kaki, jari, puting, periosteum, mesenterium, tendo, ligamen dan
genetalia eksterna. Bentuknya bundar atau lonjong, dan besar (panjang
2 mm, dan diameter 0,5 1 mm). Bentuk yang paling besar dapat
dilihat dengan mata telanjang, karena bentuknya mirip bawang. Setiap
korpuskulus disuplai oleh sebuah serat bermielin yang besar dan juga
telah kehilangan sarung sel schwannya pada tepi korpuskulus. Akson
saraf banyak mengandung mitokondria. Akson ini dikelilingi oleh 60
lamela yang tersusun rapat (terdiri dari sel gepeng). Sel gepeng ini
tersusun bilateral dengan dua alur longitudinal pada sisinya.
2) Korpuskula Ruffini, merupakan ujung saraf pada kulit yang peka
terhadap rangsangan panas. Korpuskulus ini ditemukan pada jaringan
ikat termasuk dermis dan kapsula sendi. Mempunyai sebuah kapsula
jaringan ikat tipis yang mengandung ujung akhir saraf yang
menggelembung. Korpuskulus ini merupakan mekanoreseptor, karena
mirip dengan organ tendo golgi. Korpuskulus ini terdiri dari berkas
kecil serat tendo (fasikuli intrafusal) yang terbungkus dalam kapsula
berlamela. Akhir saraf tak bermielin yang bebas, bercabang disekitar
berkas tendonya. Korpuskulus ini terangsang oleh regangan atau

5
kontraksi otot yang bersangkutan juga untuk menerima rangsangan
panas.
3) Korpuskula Meisner, merupakan ujung saraf perasa pada kulit yang
peka terhadap sentuhan. Korpuskulus peraba (Meissner) terletak pada
papila dermis, khususnya pada ujung jari, bibir, puting dan genetalia.
Bentuknya silindris, sumbu panjangnya tagak lurus permukaan kulit
dan berukuran sekitar 80 mikron dan lebarnya sekitar 40 mikron.
Sebuah kapsul jaringan ikat tipis menyatu dengan perinerium saraf
yang menyuplai setiap korpuskel. Pada bagian tengah korpuskel
terdapat setumpuk sel gepeng yang tersusun transversal. Beberapa sel
saraf menyuplai setiap korpuskel dan serat saraf ini mempunyai
banyak cabang mulai dari yang mengandung mielin maupun yang tak
mangandung mielin. Korpuskulus ini peka terhadap sentuhan dan
memungkinkan diskriminasi/ pembedaan dua titik (mampu
membedakan rangsang dua titik yang letaknya berdekatan).
4) Korpuskula Krause, merupakan ujung saraf perasa pada kulit yang
peka terhadap rangsangan dingin. Korpuskulus gelembung (krause)
ditemukan di daerah mukokutis (bibir dan genetalia eksterna), pada
dermis dan berhubungan dengan rambut. Korpuskel ini berbentuk
bundar (sferis) dengan diameter sekitar 50 mikron. Mempunyai sebuah
kapsula tebal yang menyatu dengan endoneurium. Di dalam
korpuskulus, serat bermielin kehilangan mielin dan cabangnya tetapi
tetap diselubungi dengan sel schwann. Seratnya mungkin bercabang
atau berjalan spiral dan berakhir sebagai akhir saraf yang
menggelembung sebagai gada. Korpuskel ini jumlahnya semakin
berkurang dengan bertambahnya usia.Korpuskel ini berguna sebagai
mekanoreseptor yang peka terhadap dingin.
5) Lempeng Merkel, merupakan ujung perasa sentuhan dan tekanan
ringan, terletak dekat permukaan kulit.
6) Ujung saraf tanpa selaput, merupakan ujung saraf perasa nyeri. Serat
saraf sensorik aferen berakhir sebagai ujung akhir saraf bebas

6
padabanyak jaringan tubuh dan merupakan reseptor sensorik utama
dalam kulit.Serat akhir saraf bebas ini merupakan serat saraf yang tak
bermielin, atau seratsaraf bermielin berdiameter kecil, yang semua
telah kehilangan pembungkusnya sebelum berakhir, dilanjutkan serat
saraf terbuka yang berjalan di antara sel epidermis. Sebuah serat saraf
seringkali bercabang-cabang banyak dan mungkin berjalan ke
permukaan, sehingga hampir mencapai stratum korneum. Serat yang
berbeda mungkin menerima perasaan raba, nyeri dan suhu.
Sehubungan dengan folikel rambut, banyak cabang serat saraf yang
berjalan longitudinal dan melingkari folikel rambut dalam dermis.
Beberapa saraf berhubungan dengan jaringan epitel khusus. Pada
epidermisberhubungan dengan sel folikel rambut dan mukosa oral, akhir
sarafmembentuk badan akhir seperti lempengan (diskus atau korpuskel
merkel).Badan ini merupakan sel yang berwarna gelap dengan banyak
juluransitoplasma. Seperti mekanoreseptor badan ini mendeteksi pergerakan
antarakeratinosit dan kemungkinan juga gerakan epidermis sehubungan
denganjaringan ikat di bawahnya. Telah dibuktikan bahwa beberapa diskus
merkelmerespon rangsangan getaran dan juga resepor terhadap dingin.
b. Pembuluh darah
Pembuluh darah dalam papilla dermal juga dikenalkan oleh sistem saraf.
1) Jika pembuluh darah berdilatasi, aliran darah ke permukaan kulit
meningkat, sehingga konduksi pans apada bagian eksterior dapat terjadi
2) Pembuluh darah berkonstriksi untuk menurunkan aliran darah ke
permukaan kulit dalam upaya mempertahankan panas tubuh sentral.
c. Kelenjar keringat
Kelenjar keringat ditemukan pada kulit sebagian besar permukaan tubuh.
Kelenjar ini terutama terdapat pada telapak tangan dan kaki. Hanya glans
penis, bagian tepi bibir (margo labium oris), telinga luar dan dasar kuku yang
tidak mengandung keringat. Kelenjar keringat (sudoriferus) menghasilkan
keringat. kelenjar keringat yang berbentuk tabung berbelit-belit dan
yang banyak jumlahnya, terletak di sebelah dalam kulit jangat, bermuara di

7
atas pemukaan kulit di dalam lekukan halus yang disebut pori. Kelenjar
keringat diklasifikasikan menjadi dua jenis berdasarkan struktur dan
lokasinnya yaitu kelenjar keringat ekrin dan kelenjar keringat apokrin.
1) Kelenjar keringat ekrin ditemukan pada semua daerah kulit. Saluran
keluarnya bermuara langsung ke permukaan kulit. Kelenjar keringat
ekrin adalah kelenjar tubuar simpel dan berpilin serta tidak
berhubungan dengan folikel rambut. Kelenjar ini penyebarannya
menyebar ke seluruh tubuh, terutama pada telapak tangan, telapak kaki
dan dahi. Sekresi dari kelenjar ini (keringat mengandung air dan
membantu pendinginan evaporatif tubuh untuk mempertahankan suhu
tubuh.
2) Kelenjar keringat apokrin berukuran lebih besar dan berbeda dengan
kelenjar keringat ekrin, secret kelenjar ini mengandung fragmen sel-sel
sensorik. Kelenjar apokrin adalah kelenjar keringat terspesialisasi yang
besar dan bercabang dengan penyebaran yang terbatas. Kelenjar ini
terdapat di daerah aksila, anus, skrotum da labia mayora. Kelenjar
apokrin memproduksi keringat yang keruh seperti susu dan diuraikan
oleh bakteri untuk menghasilkan bau ketiak yang khas.
(a) Kelenjar apokrin yang ditemukan di lipatan ketiak dan area
anogenital memiliki duktus yang membuka ke bagian atas folikel
rambut. Kelenjar ini mulai berfungsi pada masa pubertas untuk
merespons stres atau kegembiraan dan mengeluarkan semacam
sekresi yang tidak berbau dan kemudian akan berbau jika bereaksi
dengan bakteri.
(b) Kelenjar seruminosa ditemukan pada saluran telinga luar tempat
kelenjar tersebut memproduksi serumen atau getah telinga, dan
kelenjar siliaris Moll pada kelopak mata juga termasuk kelenjar
apokrin.
(c) Kelenjar mammae adalah kelenjar apokrin termodifikasi yang
mengalami spesialisasi untuk memproduksi susu.

8
d. Kelenjar sebasea
Kelenjar sebasea adalah kelenjar holokrin (sel-sel sekretori menghilang
selama sekresi sebum). Kelenjar sebasea adalah kelenjar kantong di dalam
kulit. Bentuknya seperti botol dan bermuara di dalam folikel rambut. Kelenjar
ini banyak terdapat di atas kepala dan muka, sekitar hidung, mulut, telinga,
tetapi sama sekai tidak terdapat dalam kulit tapak tangan dan telapak kaki.
Kelenjarnya dan saluranya dilapisi epitel. Kelenjar sebasea mengeluarkan
sebum yang biasanya dialirkan ke folikel rambut. Kelenjar sebasea, rambut
dan kelenjar keringat apokrin membentuk unit pilosebasea, tetapi hanya
terbentuk pada rambut di area genitalia, bibir, puting susu, dan areola
payudara.
1) Sebum adalah campuran lemak, zat lilin, minyak dan pecahan-
pecahan sel. Zat ini berfungsi sebagai emoliens atau pelembut kulit
dan merupakan suatu barier untuk evaporasi. Zat ini juga memiliki
aktivitas bakterisida.
2) Jerawat adalah gangguan pada kelenjar sebasea di wajah, leher, dan
punggung yang terjadi terutama pada decade kedua masa kehidupan.
Kelenjar sebasea ini dapat terifeksi sehingga menyebabkan furunkel
(bisul).
e. Folikel rambut
Rambut pada beberapa bagian tubuh memiliki fungsi yang bermacam-
macam. Rambut merupakan suatu pertumbuhan keluar dari kulit, rambut atau
pili terdapat pada hampir seluruh bagian tubuh, kecuali pada telapak tangan
dan kaki, tetapi sebagian besar berupa rambut vellus yang kecil dan tidak
berwarna atau tersamar. Rambut terminal biasanya kasar dan dapat dilihat.
Rambut ini tertanam di kulit kepala, alis dan bulu mata, ketika masa pubertas
rambut ini akan menggantikan posisi rambut vellus di area ketiak dan pubis
(dan di wajah laki-laki) sebagai bagian dari karakteristik seksual sekunder.
Rambut tumbuh dalam sebuah rongga yang dinamakan folikel rambut
yang terbentuk melalui pertumbuhan dari epidermis ke dalam dermis. Folikel

9
rambut akan mengalami siklus pertumbuhan dan istirahat. Folikel rambut
tubular membengkak pada bagian dasarnya, kemudian membentuk bulbus
rambut. Bulbus rambut kemudian diinavigasi suatu masa yang tersusun dari
jaringan ikat renggang, pembuluh darah, dan saraf yang disebut papilla dermal
yang memberikan nutrisi untuk pertumbuhan rambut.
Sel-sel bulbus rambut yang terletak tepat di atas papilla disebut matriks
germinal rambut dan analog dengan sel-sel stratum basalis pada epidermis.
Setelah mendapat nutrisi dari pembuluh darah pada papilla, sel-sel matriks
germinal kemudian membelah dan terdorong kea rah permukaan kulit untuk
menjadi rambur yang terkeratinisasi penuh.
Rambut terdiri dari akar, bagian yang tertanam dalam folikel dan batang
bagian di atas permukaan kulit. Akar dan batang rambut tersusun dari 3
lapisan yaitu :
1) Kutikel adalah lapisan terluar yang tersusun dari sel-sel mati yang
bersisik.
2) Korteks adalah lapisan tengah yang terkeratinisasi, membentuk bagian
utama batang rambut. Bagian ini mengandung jumlah pigmen beragam
yang menentukan warna rambut.
3) Sebuah medulla atau aksis sentral, tersusun dari dua sampai tiga
lapisan sel. Pertumbuhan medulla buruk bahkan sering kali tidak
terjadi, terutama pada rambut pirang.
Otot arektor pili adalah pita tipis otot polos yang berhubungan dengan
folikel rambut. Kontraksi otot ini menyebabkan ujung-ujung rambut berdiri
(merinding) dan mengakibatkan keluarnya sekresi kelenjar sebasea. Setiap
folikel rambut mengandung satu atau beberapa kelenjar sebasea.
Kecepatan pertumbuhan rambut bervariasi. Pertumbuhan rambut janggut
berlangsung paling cepat dan kecepatan pertumbuhan rambut ini diikuti oleh
rambut pada kulit kepala, aksila, paha serta alis mata. Fase pertubuhan,
anangen, dapat berlangsung sampai 6 tahun untuk rambut kulit kepala,
sementara fase isitirahat atau telogen kurang lebih selama 4 bulan (Baden,
1991). Selama fase telogen, rambut akan rontok dari tubuh.

10
Folikel rambut akan mengalami daur ulang secara spontan ke dalam fase
pertumbuhan atau dapat diinduksi dengan mencabut rambut. Rambut dalam
fase pertumbuhan dan istirahat dapat ditemukan saling berdampingan
pada semua bagian tubuh. Sekitar 90% dari 100.000 folikel rambut pada kulit
kepala yang normal berada hingga 100 lembar rambut kulit kepalaakan rontok
setiap harinya (Baden, 1991).

3. Hipodermis
Hipodermis atau jaringan subkutan merupakan lapisan kulit yang paling dalam.
Lapisan ini terutama berupa jaringan adipose yang memberikan bantalan antar lapisan
kulit dan struktur internal seperti otot dan tulang. Jaringan ini memungkinkan mobilitas
kulit, perubahan kontur tubuh dan penyekatan panas tubuh (Halbrook, 1991). Lemah atau
gajih akan bertumpuk dan tersebar menurut jenis kelamin seseorang dan secara parsial
menyebabkan perbedaan bentuk tubuh laki-laki dengan perempuan. Makanan yang
berlebihan akan menyebabkan penimbunan lemak di bawah kulit. Jaringan subkutan dan
jumlah lemak yang tertimbun merupakan faktor dalam pengaturan suhu tubuh.

B. Fungsi Kulit
1. Perlindungan
Kulit memberikan perlindungan invasi bakteri dan benda asing lainnya. Bagian
sternum korneum epidermis meripakan barrier yang paling efektif terhadap berbagai
faktor lingkungan, seperti zat-zat kimia, sinar matahari, virus, fungus, gigitan serangga,
luka karena gesekan angin, dan trauma. Lapisan dermis kulit memberikan kekuatan
mekanis dan keuletan lewat jaringan ikat fibrosa dan serabut kolagennya. Serabut elastic
dan kolagen yang saling berjalin dengan epidermis memungkinkan kulit untuk
berperilaku sebagai satu unit.
2. Sensibilitas
Fungsi utama reseptor pada kulit adalah untuk mengindera suhu, rasa nyeri,
sentuhan yang ringan dan tekanan. Berbagai ujung saraf bertanggung jawab untuk
bereaksi terhadap stimuli yang berbeda.

11
3. Keseimbangan Air
Stratum korneum memiliki kemampuan untuk menyerap air sehingga lapisan
tersebut dapat mencegah kehilangan air dan elektrolit yang berlebihan dari bagian
internal tubuh dan mempertahankan kelembaban dalam jaringan subkutan. Selain itu,
kulit juga akan mengalami evaporasi secara terus-menerus dari permukaan kulit.
Evaporasi ini yang dinamakan perspirasi tidak kasat mata (insensible perspiration)
berjumlah kurang-lebih 600 ml per hari untuk orang dewasa yang normal. Pada penderita
demam, kehilangan ini dapat meningkat. Ketika terendam dalam air, kulit dapat
menimbun air tiga sampai empat kali berat normalnya.
4. Pengatur Suhu
Tubuh secara terus menerus akan menghasilkan panas sebagai proses
metabolisme makanan yang memproduksi energi. Tiga proses fisik yang penting terlibat
dalam kehilangan panas dari tubuh ke lingkungan, yaitu radiasi (perpindahan panas ke
banda lain yang suhunya lebih panas), konduksi (pemindahan panas dari tubh ke benda
lain yang lebih dingin), dan konveksi (pergerakkan massa molekul udara hangat yang
meninggalkan tubuh). Dalam kondisi normal, produk panas dari metabolism akan
diimbangi oleh kehilangan panas, dan suhu internal tubuh akan dipertahankan agar tetap
konstan pada suhu kurang-lebih 37oC.
Pengeluaran keringat merupakan proses lainnya yang digunakan tubuh untuk
mengatur laju kehiangan panas. Pada hawa lingkungan yang sangat panas, laju produksi
keringat dapat setinggi 1 L/jam. Dalam keadaan tertentu, misalnya pada stress emosional,
perspirasi dapat terjadi secara refleks dan tidak ada hubungannya dengan keharusan
untuk menghilangkan panas dari tubuh.
5. ProduksiVitamin
Kulit yang terpajan sinar ultraviolet dapat mengubah substansi yang diperlukan
untuk mensintesis vitamin D. Vitamin D merupakan unsur esensial untuk mencegah
penyakit riketsia, suatu keadaan yang terjadi akibat defisiensi vitamin D, kalsium serta
fosfor dan yang menyebabkan deformitas tulang (Morton, 1993 dalam Brunner and
Suddarth, 2002).

12
6. Fungsi Respons Imun
Hasil-hasil penelitian terakhir (Nicholoff, 1993 dalam Brunner dan Suddarth,
2002) menunjukkan bahwa beberapa sel dermal (sel-sel Langerhans, IL-1 yang
memproduksi keratinosit, dan sub kelompok limfosit-T) merupakan komponen penting
dalam sistem imun.

13
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kulit tersusun dari tiga lapisan yaitu epidermis, dermis, dan hipodermis atau
jaringan subkutan. Fungsi kulit antara lain sebagai perlindungan, sensibilitas,
keseimbangan air, pengaturan suhu, produksi vitamin, dan fungsi respon imun. Dermis
membentuk bagian terbesar kulit dengan memberikan kekuatan dan struktur pada kulit
(Eckert, 1992). Dermis atau Korium (Kulit Jangat) adalah lapisan jaringan ikat bagian
bawah. Dermis terdiri dari serabut saraf, kelenjar keringat, kelenjar sebasea dan folikel
rambut. Epidermis adalah bagian terluar kulit. Epidermis membentuk lapisan paling luar
dengan ketebalan sekitar 0,1 mm pada kelopak mata hingga sekitar 1 mm pada telapak
tangan dan kaki (Morton, 1993). Hipodermis atau jaringan subkutan merupakan lapisan
kulit yang paling dalam. Lapisan ini terutama berupa jaringan adipose yang memberikan
bantalan antar lapisan kulit dan struktur internal seperti otot dan tulang.
B. Saran
1. Diharapkan kepada seluruh mahasiswa untuk dapat merawat tubuh termasuk kulit,
agar kulit tetap bersih dan indah.
2. Agar seluruh mahasiswa memperhatikan kebersihan tubuh, terutama kulit , agar tidak
terkena penyakit yang tidak diinginkan.
3. Kepada tenaga kesehatan untuk dapat mengadakan penyuluhan dan puskesmas
keliling di desa desa yang sumber dayanya kurang.

14
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta : EGC.

Davenport, Joan. Patient Assessment:Integumentary System Chapter 51.


Ethel Sloane. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC.

Physical Assessment - Chapter 2 Integumentary System.


Potter dan Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Konsep, Proses & Praktik.

Jakarta: EGC.

15