Anda di halaman 1dari 2

BACAAN INJIL (Lukas 6:46-49)

Orang bilang cinta itu butuh pengorbanan. Pepatah ini akan lebih pantas dalam
hidup perkawinan. Maka marilah kita membuka hati untuk mendengarkan sabda Tuhan.
Semoga sabda ini menggerakan hati kita supaya semakin rela berkorban demi
kebahagiaan orang yang kita cintai.....
DUA MACAM DASAR
7:24 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan
orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. 7:25 Kemudian turunlah
hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak
rubuh sebab didirikan di atas batu. 7:26 Tetapi setiap orang yang mendengar
perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang
mendirikan rumahnya di atas pasir. 7:27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah
banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah
kerusakannya."
RENUNGAN
Kelompok yang paling kecil dalam masyarakat adalah keluarga. Keluargalah kesatuan
yang paling erat dan mendasar, dan dari keluarga-keluarga ini dibangun jemaat
beriman sebagaimana yang telah dilakukan oleh kita dan terutama kedua saudara kita
yang hari ini kita syukuri pernikahan mereka beberapa waktu yang lalu.
Bacaan hari ini sangat menarik, ada dua rujukan iman untuk setiap keluarga
kristiani yang ditawarkan Yesus dalam membangun suatu rumah keluarga; pertama
mendirikan di atas batu. Kita tahu dimana-mana batu menjadi bahan dasar dalam
mendirikan sebuah rumah atau gedung. Peranan batu sangat menentukan seberapa kuat
suatu bangunan di samping material pendukung lainnya. Sebagaimana digambarkan dalam
bacaan Injil tadi badai apapun tidak akan merubuhkan. Kita ibaratkan batu adalah
sabda dan pribadi Yesus sendiri. Maka jika kita mendirikan rumah keluarga kita atas
batu iman akan Yesus maka keluarga yang kita bangun pun akan kuat menghadapi setiap
tantangan dan kesulitan hidup ini. Kedua, mendirikan di atas pasir. Kita tahu
sendiri bagaimana membangun rumah di atas pasir maka yang terjadi adalah kegoyahan.
Bagaimana mungkin sebuah keluarga jika tidak dibangun atas iman akan pribadi Yesus,
akan luluh lantak, goyah, tidak kuat.
Ketika mengawali hidup berkeluarga hal yang dirasakan mungkin serba manis bagaikan
madu yang selalu manis dan menghangatkan suasana. DIA yang kita cintai, sayangi
menjadi segalanyma, tak mau dilepaskan, tak mau ditinggalkan sendiri, rasanya ingin
selalu berdua, tak mau dipisahkan oleh apapun.
Seiring perjalanan diantara dua pribadi semakin mendalam untuk saling mengenal.
Dalam tahap inilah dua pribadi menyatu padu, mensejajarkan dan menyesuaikan diri
satu sama lain. Yang satunya barangkali keras harus menerima kelembutan yang ada
dalam diri pasangannnya, yang satunya mungkin cerewet dan yang lainnya kalem atau
tenang tidak banyak bicara. Disiinilah setiap pribadi membuka diri satu sama lain.
Cinta adalah jika kamu kehilangan rasa, gairah, romantika dan masih tetap perduli
padanya. Ada hal-hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu
dengar dari orang yang kamu harapkan untuk mengatakannya. Namun demikian, janganlah
menulikan telinga untuk mendengar dari orang yang mengatakannya dengan sepenuh
hati.
Nah tahun demi tahun, hari berlangkah demi langkah, waktu terus bergulir....tibalah
suatu tahap dimana kedua insan bisa saling ber-adu karena masing-masing saling
mungkin mempertahankan ide atau pendapatnya. Cinta yang dulunya madu berubah
menjadi racun lantaran di hadapkan dengan aneka perbedaan yang mungkin baru muncul
atau memang dari dulu disembunyikan. Krisis perkawinan mungkin saja akan terjadi,
menguji seberapa jauh cinta yang dulunya menggebu-gebu kepada dia apakah harus
pupus lantaran dia semakin buruk rupa, ada PIL atau WIL, semakin tua, dan beragam
hal lain yang bisa mengikis kehidupan perkawinan.
Di tengah krisis semacam ini kita diteguhkan Yesus dengan dua pijakan firman Yesus
dalam Injil tadi. Jika kita sungguh-sungguh bijaksana maka kita memilih untuk tetap
bertahan karena kita meletakkan pijakkan atau fundasi kita dalam iman akan Yesus
sendiri.
Pesan terakhir:
Setiap suami isteri harus tahu berlutut, tahu duduk, dan tahu melangkah. Apa
maksudnya? Suami isteri yang tahu berlutut artinya suami isteri yang selalu
berlutut, bersimbah serta bertekuk di hadapan tahkta Tuhan. Persembahkan segala
suka dan duka, ketika krisis melanda rumah keluargamu di hadapan Tuhan. Tahu duduk
artinya sharing bersama untuk saling meneguhkan, rembuklah berdua tatkala ada
problem yang harus dibicarakan berdua. temukannlah jalan terbaik untuk membina
rumah tangga, win-win solution. Dan yang terakhir suami isteri juga tahu melangkah
artinya menatap ke depan, tahu akan apa yang harus dilakukan dalam membina rumah
tangga entah itu rejeki maupun cita-cita sejati yang harus diwujudkan.
Pada waktu kamu lahir, banyak orang yang tertawa dan hanya kamu yang menangis, maka
jalanilah hidup Anda dengan kebaikan dan kasih sayang supaya pada waktu
kamu mati banyak orang menangis dan hanya kamu tertawa.
Selamat memasuki hidup berkeluarga dan selamat berproses menjadi seorang bapak dan
bagaimana menjadi seorang ibu. Kiranya berkat Tuhan selalu melimpah atas kita
semua.... terus berjuang berjuang menjadi satu sampai ajal menjemput...