Anda di halaman 1dari 11

PORTOFOLIO

Nama Peserta: dr. Audra Firthi Dea Noorafiatty


Nama Wahana: Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo
Topik: Bronkhopneumonia
Tanggal Kasus: 11 Desember 2015
Nama Pasien: An. A / 20 bulan No. RM: 15-5158
Tanggal Presentasi: Pendamping: dr. Latifah
Tempat presentasi: Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo
Obyektif Presentasi: Makalah
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi: Anak 20 bulan, sesak 1 hari SMRS, disertai batuk dan demam 2 hari SMRS.
Tujuan: Menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan bronkhopneumonia
Bahan bahasan Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Cara membahas Diskusi Presentasi & E-mail Pos
diskusi

Data Pasien Nama: An. A No. Registrasi: 15-5158

Nama Klinik: Puskesmas Kecamatan Telp. - Terdaftar sejak:


Pasar Rebo
Data Utama Untuk Bahan Diskusi
1. Diagnosis / Gambaran Klinis :
Bronkopneumonia. Sesak 1 hari ini, sebelumnya terdapat batuk dan pilek sejak 4 hari SMRS
selain itu juga terdapat demam tinggi sejak 2 hari SMRS. Semakin lama keluhan semakin
memberat dan tidak membaik. Batuk timbul terus menerus, berdahak namun susah keluar.
Sesak saat bernapas namun bunyi nafas ngik-ngik disangkal, riwayat tersedak sebelum timbul
sesak napas tidak ada. Keluhan ini baru pertama kali dialami. Makan dan minum berkurang
bila pasien batuk-batuk. Tidak ada penurunan berat badan yang signifikan. Tidak ada riwayat
pergantian makanan atau minuman, tidak ada riwayat alergi makanan dan yang lain, tidak ada
penurunan kesadaran, pasien tampak aktif. Demam timbul mendadak dan terus menerus, turun
bila diberikan obat penurun panas. Tidak ada keluhan pada BAB dan BAK.

1
Pada pemeriksaan fisik ditemukan suhu 38.30C, RR: 52x/mnt, status gizi baik, terdapat
pernapasan cuping hidung dan sekret pada hidung, faring hiperemis, tonsil T1-T1 hiperemis,
pergerakan dinding dada simetris, retraksi intercostal (+), rhonchi +/+, wheezing +/+.
2. Riwayat Pengobatan :
o Pasien di beri obat batuk dan penurun panas yang dibeli di warung, namun belum ada
perbaikan
3. Riwayat Penyakit Dahulu :
o Pasien sering mengalami batuk dan pilek sebelumnya, tetapi membaik dengan pengobatan
di puskesmas atau bidan.
o Tidak ada riwayat demam lama.
o Tidak ada riwayat sesak nafas sebelumnya.
o Tidak ada riwayat alergi.
o Tidak ada riwayat kejang sebelumnya.
4. Riwayat keluarga : Dalam keluarga pasien tidak ada yang menderita sakit seperti ini
5. Riwayat Kehamilan : Ibu pasien teratur memeriksakan kehamilannya ke bidan secara teratur,
mendapatkan imunisasi TT 2x, tidak ada keluhan yang berarti selama kehamilannya.
6. Riwayat Persalinan : Bayi lahir cukup bulan, spontan, langsung menangis, berat badan lahir
2900 gram, panjang 48 cm. Pasien anak pertama di keluarga ini
7. Riwayat Imunisasi
BCG : 1x, umur 1 bulan
Polio : 4x, umur 1 hari, 2,3,4 bulan
DPT : 3x, umur 2,3,4 bulan
Campak : 1x usia 9 bulan
Hepatitis B : saat baru lahir
8. Riwayat Makanan
Umur:
0 - 4 bulan: ASI + Susu formula
4 - 5 bulan: ASI + Susu formula + Bubur susu + Buah
6 12 : Susu formula + Bubur susu + Buah + Nasi tim saring

2
Daftar Pustaka:
1. Pelayanan Kesehatan anak di Rumah Sakit. Pneumonia. Jakarta : WHO. 2009. h. 86-93
2. Rahajoe, Nastiti. Dkk, Buku Ajar Respirologi Anak Edisi Pertama. Jakarta : IDAI. 2012.
H 350-364
3. Anonim, 1996. Program Pemberantasan Penyakit ISPA untuk penanggulangan Pnemonia
pada Balita Dalam Pelita VI, Jakarta
4. Ravighone M, OBrien R.Bronkhopneumoniae. Dalam : Harrisons Principles of Internal
Medicine Edisi 16. New York: McGraw-Hill. 1998. h. 1004 1014.
5. Bronchopneumonia. Available at :
http://www.healthline.com/health/bronchopneumonia#Prevention7
Accessed on : 15 desember 2015

Hasil Pembelajaran

1. Definisi Bronkobronkhopneumonia
2. Etiologi Bronkobronkhopneumonia
3. Epidemiologi Bronkobronkhopneumonia
4. Klasifikasi Bronkobronkhopneumonia
5. Patogenesis Bronkobronkhopneumonia
6. Stadium Bronkobronkhopneumonia
7. Manifestasi Klinis Bronkobronkhopneumonia
8. Penegakan Diagnosis Bronkobronkhopneumonia
9. Pengobatan Bronkobronkhopneumonia
10.Komplikasi Bronkhobronkhopneumonia
11.Prognosis Bronkhobronkhopneumonia
Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio

1. Subjektif
Sesak 1 hari, sebelumnya terdapat batuk dan pilek sejak 4 hari SMRS, dan disertai demam
tinggi sejak 2 hari SMRS. Semakin lama keluhan semakin memberat dan tidak membaik.
Batuk timbul terus menerus, berdahak namun susah keluar. Sesak saat bernapas namun
bunyi nafas ngik-ngik disangkal, riwayat tersedak sebelum timbul sesak napas tidak ada.
Keluhan ini baru pertama kali dialami. Makan dan minum berkurang bila pasien batuk-
batuk. Tidak ada penurunan berat badan yang signifikan. Tidak ada riwayat pergantian
makanan atau minuman, tidak ada riwayat alergi makanan dan yang lain, tidak ada

3
penurunan kesadaran, pasien tampak aktif. Demam timbul mendadak dan terus menerus,
turun bila diberikan obat penurun panas. Tidak ada keluhan pada BAB dan BAK.

2. Objektif
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : CM/TSS
Tanda vital: N=120 x/mnt, RR=52 x/mnt, Suhu =38,3C
Status Antropometri: Gizi baik
PB: 83 cm (-2 SD s.d 0 SD)
BB: 11 kg (-2 SD s.d 0 SD)
Status generalis
1. Kepala: normochepali
2. Mata: Konjungtiva anemis (-), sclera ikterik (-), refleks cahaya (+/+).
3. Telinga: Bentuk normal, simetris, liang lapang, serumen (-/-)
4. Hidung: Bentuk normal, septum deviasi (-), nafas cuping hidung (+), sekret (+)
5. Mulut: Bibir tidak kering, sianosis (-), faring hiperemis, tonsil T1-T1 hiperemis
6. Thorax:
Paru
Inspeksi: Pergerakkan dinding dada simetris, Retraksi intercostal (+)
Palpasi: Pergerakkan dinding dada simetris, fremitus simetris
Perkusi: sonor kedua lapang paru
Auskultasi: rhonki +/+, wheezing +/+
Jantung
Inspeksi: tidak tampak ictus cordis
Palpasi: teraba ictus cordis di ICS V MCL sinistra
Perkusi: batas kanan ICS III-IV Parasternal dex, batas kiri ICS V 1 cm lateral
MCL sin
Auskultasi: murmur (-), gallop (-)
7. Abdomen:
Inspeksi : Datar, simetris
Palpasi : Supel, turgor cukup, hepar dan lien tidak teraba.
Perkusi : Timpani.
Auskultasi : Bising usus (+) normal

4
8. Ekstremitas:
Atas: akral hangat, tidak sianosis, CRT <2
Bawah: akral hangat, tidak sianosis, CRT <2

3. Assesment
Definisi
Bronkopneumonia atau disebut juga pneumonia lobularis yaitu suatu peradangan pada
parenkim paru yang terlokalisir yang biasanya mengenai bronkiolus dan juga mengenai
alveolus disekitarnya, yang sering menimpa anak-anak dan balita terutama diusia <2 bulan,
yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing.
Ada dua tipe dari bronkhopneumonia: lobaris dan bronchialis. Pada
bronkhopneumonia lobaris, yang terinfeksi adalah satu atau lebih dari lobus atau paru.
Sedangkan pada bronchialis bronkhopneumonia yang terinfeksi adalah bronkus.
Bronkobronkhopneumonia ada tipe ringan dan berat, pada infeksi virus biasanya ringan.

Epidemiologi
Di seluruh dunia setiap tahun diperkirakan terjadi lebih 2 juta kematian balita karena
pneumonia. Di Indonesia menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2001 kematian balita
akibat pneumonia 5 per 1000 balita per tahun. Ini berarti bahwa pneumonia menyebabkan
kematian lebih dari 100.000 balita setiap tahun, atau hampir 300 balita setiap hari, atau 1 balita
setiap 5 menit.

Etiologi
Faktor Infeksi:
Neonatus: Streptococcus grup B, Respiratory Sincytial Virus (RSV)
Bayi: Virus parainfluensa, virus influenza, Adenovirus, RSV, Cytomegalovirus.
Chlamidia trachomatis, Pneumocytis. Streptokokus pneumoni, Haemofilus influenza,
Mycobacterium tuberculosa, B. pertusis.
Anak-Anak: Parainfluensa, Influensa Virus, Adenovirus, RSV. Mycoplasma pneumonia,
Pneumokokus, Mycobakterium tuberculosa.
Dewasa muda: Mycoplasma pneumonia, C. trachomatis. Pneumokokus, B. Pertusis, M.
tuberculosis
Faktor Non Infeksi

5
Patogenesis
Dalam keadaan sehat pada paru tidak akan terjadi pertumbuhan mikroorganisme,
keadaan ini disebabkan oleh adanya mekanisme pertahanan paru. Terdapatnya bakteri di dalam
paru merupakan ketidakseimbangan antara daya tahan tubuh, sehingga mikroorganisme dapat
berkembang biak dan berakibat timbulnya infeksi penyakit. Masuknya mikroorganisme ke
dalam saluran nafas dan paru dapat melalui berbagai cara, antara lain :
Inhalasi langsung dari udara
Aspirasi dari bahan-bahan yang ada di nasofaring dan orofaring
Perluasan langsung dari tempat-tempat lain
Penyebaran secara hematogen
Mekanisme daya tahan traktus respiratorius bagian bawah sangat efisien untuk
mencegah infeksi yang terdiri dari :
Susunan anatomis rongga hidung
Jaringan limfoid di nasofaring
Bulu getar yang meliputi sebagian besar epitel traktus respiratorius dan sekret lain yang
dikeluarkan oleh sel epitel tersebut.
Refleks batuk.
Refleks epiglotis yang mencegah terjadinya aspirasi sekret yang terinfeksi.
Drainase sistem limfatis dan fungsi menyaring kelenjar limfe regional.
Fagositosis aksi limfosit dan respon imunohumoral terutama dari Ig A.
Sekresi enzim enzim dari sel-sel yang melapisi trakeo-bronkial yang bekerja sebagai
antimikroba yang non spesifik.
Bila pertahanan tubuh tidak kuat maka mikroorganisme dapat melalui jalan nafas sampai
ke alveoli yang menyebabkan radang pada dinding alveoli dan jaringan sekitarnya.
Setelah itu mikroorganisme tiba di alveoli membentuk suatu proses peradangan yang
meliputi empat stadium, yaitu :
1. Stadium I (4 12 jam pertama/kongesti)
Disebut hiperemia, mengacu pada respon peradangan permulaan yang
berlangsung pada daerah baru yang terinfeksi. Hal ini ditandai dengan peningkatan
aliran darah dan permeabilitas kapiler di tempat infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat
pelepasan mediator-mediator peradangan dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel
imun dan cedera jaringan. Mediator-mediator tersebut mencakup histamin dan
prostaglandin. Degranulasi sel mast juga mengaktifkan jalur komplemen.

6
Komplemen bekerja sama dengan histamin dan prostaglandin untuk
melemaskan otot polos vaskuler paru dan peningkatan permeabilitas kapiler paru.
Hal ini mengakibatkan perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang interstisium
sehingga terjadi pembengkakan dan edema antar kapiler dan alveolus. Penimbunan
cairan di antara kapiler dan alveolus meningkatkan jarak yang harus ditempuh oleh
oksigen dan karbondioksida maka perpindahan gas ini dalam darah paling
berpengaruh dan sering mengakibatkan penurunan saturasi oksigen hemoglobin
2. Stadium II (48 jam berikutnya)
Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel darah
merah, eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu (host) sebagai bagian dari
reaksi peradangan. Lobus yang terkena menjadi padat oleh karena adanya
penumpukan leukosit, eritrosit dan cairan, sehingga warna paru menjadi merah dan
pada perabaan seperti hepar, pada stadium ini udara alveoli tidak ada atau sangat
minimal sehingga anak akan bertambah sesak, stadium ini berlangsung sangat
singkat, yaitu selama 48 jam.
3. Stadium III (3 8 hari)
Disebut hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih
mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin
terakumulasi di seluruh daerah yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel. Pada
stadium ini eritrosit di alveoli mulai diresorbsi, lobus masih tetap padat karena
berisi fibrin dan leukosit, warna merah menjadi pucat kelabu dan kapiler darah tidak
lagi mengalami kongesti.
4. Stadium IV (7 11 hari)
Disebut juga stadium resolusi yang terjadi sewaktu respon imun dan
peradangan mereda, sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan diabsorsi oleh
makrofag sehingga jaringan kembali ke strukturnya semula.

Diagnosis
Gambaran Klinis
Bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas selama
beberapa hari. Suhu dapat naik secara mendadak sampai 39-400C dan mungkin disertai
kejang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, dispnu, pernafasan cepat dan
dangkal disertai pernafasan cuping hidung dan sianosis di sekitar hidung dan mulut. Batuk

7
biasanya tidak dijumpai pada awal penyakit,anak akan mendapat batuk setelah beberapa
hari, di mana pada awalnya berupa batuk kering kemudian menjadi produktif.
Pemeriksaan Fisik
Dinding thorak terlihat retraksi intercostali dan kalau berat disertai retraksi
epigastrium. Stemfremitus teraba mengeras bila beberapa kelainan kecil menyatu. Pada
perkusi sering tidak ditemukan kelainan, tetapi kalau sarang bronkopneumonia menjadi
satu, pada perkusi terdengar redup. Pada auskultasi terdengar vesikuler mengeras, ronkhi
basah halus dan sedang nyaring yang terdengar pada stadium permulaan dan stadium
resolusi sedangkan pada stadium hepatisasi ronkhi tidak terdengar.
Pemeriksaan Laboratorium
Gambaran darah menunjukkan leukositosis, biasanya 15.000 40.000/ mm3 dengan
pergeseran ke kiri. Jumlah leukosit yang tidak meningkat berhubungan dengan infeksi
virus atau mycoplasma.
Nilai Hb biasanya tetap normal atau sedikit menurun.
Peningkatan LED.
Kultur dahak dapat positif pada 20 50% penderita yang tidak diobati. Selain kultur
dahak, biakan juga dapat diambil dengan cara hapusan tenggorok (throat swab).
Analisa gas darah (AGDA) menunjukkan hipoksemia dan hiperkarbia.Pada stadium
lanjut dapat terjadi asidosis metabolik.
Diagnosis etiologi dibuat berdasarkan pemeriksaan mikrobiologi serologi, karena
pemeriksaan mikrobiologi tidak mudah dilakukan dan bila dapat dilakukan kuman penyebab
tidak selalu dapat ditemukan. Oleh karena itu WHO mengajukan pedoman diagnosa dan tata
laksana yang lebih sederhana. Berdasarkan pedoman tersebut bronkopneumonia dibedakan
berdasarkan:
Bronkopneumonia sangat berat: Bila terjadi sianosis sentral dan anak tidak sanggup
minum,maka anak harus dirawat di rumah sakit dan diberi antibiotika.
Bronkopneumonia berat: Bila dijumpai adanya retraksi, tanpa sianosis dan masih sanggup
minum,maka anak harus dirawat di rumah sakit dan diberi antibiotika.
Bronkopneumonia: Bila tidak ada retraksi tetapi dijumpai pernafasan yang cepat

Penatalaksanaan
1. Tatalaksana Umum
Pada pneumonia berat, asupan oral dikurangi atau dihentikan, diberikan cairan

8
intravena dan dilakukan balans cairan ketat
Antipiretik dan analgetik dapat diberikan untuk menjaga kenyamanan pasien dan
mengontrol batuk.
Nebulisasi B2 agonis dan/atau NaCl dapat diberikan untuk memperbaiki mucocilliary
clearance
Pasien yang mendapatkan terapi oksigen harus diobservasi setidaknya setiap 4 jam
sekali, termasuk pemeriksaan saturasi oksigen
2. Antibiotik
Rekomendasi UKK Respirologi
Neonatus-2 bulan : Ampisilin + Gentamisin
> 2 bulan : Lini pertama Ampisilin (bila dalam 3 hari tidak ada perbaikan dapat
ditambahkan kloramfenikol). Lini kedua golongan sefalosporin, contoh: ceftriaxone,
cefotaxime
Pilihan antibiotik intravena untuk pneumonia
Antibiotik Dosis Frekuensi Keterangan
Penisilin G 50.000 unit/kg/x. Dosis Tiap 4 jam S. Pneumonia
tunggal maksimal 4.000.000
unit
Ampisilin 100 mg/kg/hari Tiap 6 jam
Kloramfenikol 100 mg/kg/hari Tiap 6 Jam
Ceftriaxone 50 mg/kg/kali Tiap 24 Jam S.Pneumonia, H. Influenzae
Cefuroxime 50 mg/kg/kali Tiap 8 Jam S. Pneumonia, H. Influenzae
Clindamycin 10 mg/kg/kali Tiap 6 Jam
Eritromisin 10 mg/kg/kali Tiap 6 jam
Gentamisin 3-5 mg/kg/hari Tiap 12 Jam
3. Nutrisi
Pada anak dengan distres pernafasan, pemberian makanan peroral harus dihindari.
Makanan dapat diberikan lewat NGT atau Intravena. Tetapi harus diingat bahwa
pemasangan NGT dapat menekan pernafasan khususnya pada bayi/anak dengan ukuran
lubang hidung kecil. Jika memang dibutuhkan, sebaiknya menggunakan ukuran yang
terkecil
Perlu dilakukan pemantauan balans cairan ketat agar anak tidak mengalami overhidrasi
karena pada pneumonia berat terjadi peningkatan sekresi hormone antidiueretik.

9
Kriteria Pulang
Gejala dan tanda pneumonia menghilang
Asuhan per oral adekuat
Pemberian antibiotic dapat diteruskan di rumah (per oral)
Keluarga mengerti dan setuju untuk pemberian terapi dan rencana control
Kondisi rumah memungkinkan untuk perawatan lanjutan di rumah

Diagnosis Banding
Secara klinis pneumonia yang disebabkan oleh kuman (bakteri), virus tidak dapat
dibedakan. Keadaan yang menyerupai pneumonia secara klinik:
Bronkhiolitis
TB Paru
Payah jantung
Aspirasi benda asing

Komplikasi
Otitis media
Bronkiektasis
Abses paru
Empiema

Prognosis
Sembuh total, mortalitas kurang dari 1 %, mortalitas bisa lebih tinggi didapatkan pada
anak-anak dengan keadaan malnutrisi energi-protein dan datang terlambat untuk pengobatan.
Interaksi sinergis antara malnutrisi dan infeksi sudah lama diketahui. Infeksi berat dapat
memperjelek keadaan melalui asupan makanan dan peningkatan hilangnya zat-zat gizi esensial
tubuh. Sebaliknya malnutrisi ringan memberikan pengaruh negatif pada daya tahan tubuh
terhadap infeksi. Kedua-duanya bekerja sinergis, maka malnutrisi bersama-sama dengan infeksi
memberi dampak negatif yang lebih besar dibandingkan dengan dampak oleh faktor infeksi dan
malnutrisi apabila berdiri sendiri.

4. Plan
1. Diagnosis: bronchopneumonia

10
2. Pengobatan:
Non Farmakologis: Bed Rest
Farmakologis
1. Pasang O2 3 liter per menit
2. Nebulizer: salbutamol 1/3 ampul, bisolvon 5 tetes, NaCl 2cc
3. Amoxicillin sirup 125 mg 3x3/4 cth p.o
4. GG 20 mg
CTM 0,8 mg 3x1 pulv
Salbutamol 0,8mg
Bcomplex 1/4tab
3. Pendidikan:
Menjelaskan kepada orang tua pasien tentang penyakit yang diderita oleh
anaknya (infeksi saluran pernafasan bawah), apa saja yang perlu dihindari dan
upaya yang perlu dilakukan guna kesembuhan penyakit ini.
Menjelaskan kemungkinan perkembangan penyakit dan pentingnya kerjasama
pasien dan keluarga dalam pengobatan.
Menjaga kecukupan kuantitas dan kualitas makanan dan minuman sesuai
anjuran dokter
Mengikuti rencana terapi dengan baik dan sesuai dengan petunjuk dokter

Jakarta, 15 Desember 2015

Pembimbing

(dr. Latifah)

11