Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN


PENCERNAAN (TYPHUS ABDOMINALIS)

OLEH :

NI MADE DWI ASTITI WULANDARI

P07120013033

2.1 REGULER

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR


JURUSAN KEPERAWATAN
2014
LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN PENCERNAAN


(TYPHUS ABDOMINALIS)

1. KONSEP DASAR PENYAKIT

A. PENGERTIAN
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman
salmonella thypi dan salmonella para thypi A, B, dan C. Sinonim dari penyakit ini
adalah Typhoid dan Paratyphoid Abdominalis (Syaifullah Noer, 1998).
Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai
saluran pencernaan dengan gejala demanm lebih dari tujuh hari, gangguan pada
saluran cerna, gangguan kesadaran, dan dan lebih banyak menyerang pada anak usia
12-13 tahun (70%-80%), pada usia 30-40 tahun (10%-20%) dan di atas usia pada anak
12-13 tahun sebanyak (5%-10%) (Mansjoer Arif, 1999).
Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai
saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 1 minggu, gangguan
pencernaan dan gangguan kesadaran (FKUI, 1999).
Thypus Abdominalis adalah penyakkit infeksi akut yang biasanya terdapat
pada saluran cerna dengan gejala demam lebih dari satu minggu dan terdapat
gangguan kesadaran (Suriadi, Yuliani Rita, 2001). Jadi tifus abdominalis adalah
penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh kuman salmonella typhi dan terdapat
pada saluran pencernaan yang disertai dengan demam lebih dari satu minggu, dan
gangguan kesadaran.

B. ETIOLOGI
Faktor Etiologi dari demam typhoid adalah disebabkan oleh makanan yang
tercemar oleh salmonella typhoid dan salmonella paratyphoid A, B dan C yang
ditularkan melalui makanan, jari tangan, lalat dan feses, serta muntah diperberat bila
klien makan tidak teratur. Faktor predisposisinya adalah minum air mentah, makan
makanan yang tidak bersih dan pedas, tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah
makan, dari WC dan menyiapkan makanan.
Salmonella typhosa, merupakan basil gram negatif yang bergerak dengan bulu
getar, tidak berspora. Mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu
antigen O (Ohne Hauch) yaitu somatic antigen (tidak menyebar), terdiri dari zat
kompleks lipopolisakarida, antigen H (Hauch/menyebar) terdapat pada flagella,
antigen Vi merupakan polisakarida kapsul verilen. Ketiga jenis antigen tersebut
didalam tuibuh manusia akan menimbulkan pembentukan tiga macam antibody yang
lazim disebut aglutinin (Ngastiyah,1997).
Selain itu penyakit Tipus Abdomnalis juga bisa didukung oleh faktor-faktor
antara lain : pengetahuan tentang kesehatan diri dan lingkungan yang relative rendah,
penyediaan air bersih yang tidak memadai. Keluarga dengan hygiene sanitasi yang
rendah, pemasalahan pada identifikasi dan pelaksanaan karier, keterlambatan
membuat diagnosis yang pasti, patogenesis dan faktor virulensi yang belum
dimengerti sepenuhnya serta belum tersedianya vaksin yang efektif, aman dan murah
Pang dalam (Soegijanto Soegeng, 2002).

C. EPIDEMOLOGI
Epidemiologi Demam tifoid dan paratifoid merupakan salah satu penyakit
infeksi endemik di Asia, Afrika, Amerika Latin Karibia dan Oceania, termasuk
Indonesia. Penyakit ini tergolong penyakit menular yang dapat menyerang banyak
orang melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Insiden demam tifoid di
seluruh dunia menurut data pada tahun 3002 sekitar 16 juta per tahun, 600.000 di
antaranya menyebabkan kematian. Di Indonesia prevalensi 91% kasus demam tifoid
terjadi pada umur 3-19 tahun, kejadian meningkat setelah umur 5 tahun. Ada dua
sumber penularan S.typhi : pasien yang menderita demam tifoid dan yang lebih sering
dari carrier yaitu orang yang telah sembuh dari demam tifoid namun masih
mengeksresikan S. typhi dalam tinja selama lebih dari satu tahun
D. PATOFISIOLOGI
Kuman Salmonella masuk bersama makanan atau minuman yang
terkontaminasi, setelah berada dalam usus halus mengadakan invasi ke jaringan
limfoid usus halus (terutama plak peyer) dan jaringan limfoid mesenterika. Setelah
menyebabkan peradangan dan nekrosis setempat kuman lewat pembuluh limfe masuk
ke darah (bakteremia primer) menuju organ retikuloendotelial sistem (RES) terutama
hati dan limpa. Di tempat ini kuman difagosit oleh sel-sel fagosit retikuloendotelial
sistem (RES) dan kuman yang tidak difagosit berkembang biak.
Pada akhir masa inkubasi 5-9 hari kuman kembali masuk ke darah menyebar
ke seluruh tubuh (bakteremia sekunder) dan sebagian kuman masuk ke organ tubuh
terutama limpa, kandung empedu yang selanjutnya kuman tersebut dikeluarkan
kembali dari kandung empedu ke rongga usus dan menyebabkan reinfeksi usus.
Dalam masa bakteremia ini kuman mengeluarkan endotoksin. Endotoksin ini
merangsang sintesa dan pelepasan zat pirogen oleh lekosit pada jaringan yang
meradang. Selanjutnya zat pirogen yang beredar di darah mempengaruhi pusat
termoregulator di hipothalamus yang mengakibatkan timbulnya gejala demam.
Makrofag pada pasien akan menghasilkan substansi aktif yang disebut
monokines yang menyebabkan nekrosis seluler dan merangsang imun sistem,
instabilitas vaskuler, depresi sumsum tulang dan panas. Infiltrasi jaringan oleh
makrofag yang mengandung eritrosit, kuman, limfosist sudah berdegenerasi yang
dikenal sebagai tifoid sel. Bila sel ini beragregasi maka terbentuk nodul terutama
dalam usus halus, jaringan limfe mesemterium, limpa, hati, sumsum tulang dan organ
yang terinfeksi.
Kelainan utama yang terjadi di ileum terminale dan plak peyer yang hiperplasi
(minggu I), nekrosis (minggu II) dan ulserasi (minggu III). Pada dinding ileum terjadi
ulkus yang dapat menyebabkan perdarahan atau perforasi intestinal.
Bakteri Sallmonela
Thypii
Masuk ke saluran cerna
melalui makanan dan
Sebagian dimusnahkan
minuman
di lambung
Peradangan pada saluran
cerna
Peningkatan produksi
asam lambung
Merangsang pelepasan
zat pirogen oleh leukosit
Mual, muntah

Zat pirogen beredar


Penurunan nafsu dalam darah
makan
Hipotalamus
Berat badan menurun
Peradangan pada
Merespon dengan
usus halus
MK : Nutrisi Kurang meningkatkan
dari Kehilangan Tubuh suhu tubuh
Demam thypoid Reaksi
Inflamasi

Peningkatan suhu Infasi kuman pada MK : nyeri


tubuh usus halus

MK : Hipertermi Illeum terminalis

Sebagian menetap Sebagian


dan hidup di menembus
Kurang informasi illeum terminalis lamina propia

Perdarahan dan Masuk ke


perforasi aliran darah
MK : Kurang
Pengetahuan Tubuh banyak Masuk dan
kelihangan cairan peradangan hati dan
(darah) limfa
Hepatomegal, splenomegali
MK : Kekurangan Volume
(pembesaran hati dalam
Cairan limfa)
E. MANIFESTASI KLINIK/TANDA DAN GEJALA
Gejala klinis demam typhoid pada anak biasanya lebih ringan jika
dibandingkan dengan penderita dewasa. Masa tunas rata-rata 10-20 hari. Masa tunas
tersingkat adalah empat hari, jika infeksi terjadi melalui makanan. Sedangkan, masa
tunas terlama berlangsung 30 hari, jika infeksi melalui minuman. Selama masa
inkubasi, mungkin ditemukan gejala prodomal, yaitu perasaan tidak enak badan, lesu,
nyeri kepala, pusing, dan tidak bersemangat, yang kemudian disusul dengan gejala-
gejala klinis sebagai berikut :
1. Demam
Demam berlangsung selama 3 minggu, bersifat febris remiten, dan dengan suhu
tubuh yang tidak terlalu tinggi. Selama minggu pertama, suhu berangsur-angsur
meningkat, biasanya turun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan
malam hari. Pada minggu kedua, penderita terus demam dan pada minggu ketiga
demam penderita berangsur-angsur normal.
2. Gangguan pada Saluran Pencernaan
Nafas berbau tidak sedap, bibir kering, dan pecah-pecah, lidah putih kotor (coated
tounge) ujung dan tepi kemerahan, perut kembung, hati dan limpa membesar,
disertai nyeri pada perabaan.
3. Gangguan Kesadaran
Kesadaran menurun, walaupun tidak terlalu merosot, yaitu apatis sampai
samnolen atau somnolence (keinginan untuk tidur dan terus tidur). Di samping
gejala-gejala tersebut , pada punggung dan anggota gerak juga dijumpai adanya
roseola, yaitu bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Untuk melakukan diagnosis penyakit typhus abdominalis, perlu


dilakukan pemeriksaan laboratorium yang mencakup pemeriksaan-
pemeriksaan sebagai berikut ;
1. Pemeriksaan darah tepi : dapat ditemukan leukopenia, limfositosis relatif,
aneosinofilia, trombositopenia, anemia.
2. Biakan empedu : basil salmonella typhii ditemukan dalam darah penderita
biasanya dalam minggu pertama sakit.
3. Uji Widal
Uji Widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi
(aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat
dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah
divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi
salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari
uji widal ini adalah menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang
disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh Salmonella Thypi, klien
membuat antibodi atau aglutinin yaitu :
1. Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari
tubuh kuman).
2. Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari
flagel kuman).
3. Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari
simpai kuman).
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan
titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien
menderita typhoid.
4. Pemeriksaan SGOT/SGPT
SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat
kembali normal setelah sembuhnya typhoid.

G. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan dari penyakit ini dapat dibedakan menjadi tiga bagian sebagai
berikut (Rahmad Juwono, 1996) :
1. Perawatan
a. Tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih
selama 14 hari.
b. Posisi tubuh harus diubah setiap 2 jam untuk mencegah dekubitus.
c. Mobilisasi sesuai kondisi.
2. Diet
a. Makanan diberikan secara bertahap sesuai dengan keadaan penyakitnya (mula-
mula air, lalu makanan lunak, dan kemudian makanan biasa).
b. Makanan mengandung cukup cairan, kalori, dan tinggi protein, tidak boleh
mengandung banyak serat, tidak merangsang maupun menimbulkan banyak
gas.
3. Obat
1. Antimikroba : Kloramfenikol, Tiamfenikol, Co-trimoksazol (Kombinasi
Trimetoprim dan Sulkametoksazol).
2. Obat Symptomatik ; Antipiretik, Kortikosteroid diberikan pada pasien yang
toksik.
3. Supportif : vitamin-vitamin.
4. Penenang : diberikan pada pasien dengan gejala neuropsikiatri.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
Pengumpulan Data
a. Identitas
Di dalam identitas meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan,
No. Registrasi, status perkawinan, agama, pekerjaan, tinggi badan, berat badan
dan tanggal MRS.
b. Keluhan utama
Pada pasien Typhoid biasanya mengeluh perut merasa mual dan kembung,
nafsu makan menurun, panas, dan demam.
c. Riwayat Penyakit dahulu
Apakah pasien sebelumnya pernah mengalami sakit Typhoid, dan apakah
menderita penyakit lainnya.
d. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada umumnya pasien Typhoid demam, anorexia, mual, muntah, diare,
perasaan tidak enak di perut, pucat (anemi), nyeri kepala/pusing, nyeri otot,
lidah kotor, gangguan kesadaran berupa somnolen sampai koma.
e. Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah dalam kesehatan keluarga ada yang pernah menderita Typhoid atau
sakit yang lainnya.
f. Riwayat Psikososial
Psikososial sangat berpengaruh sekali terhadap psikologis pasien, dengan
timbul gejala-gejala yang dialami, apakah pasien dapat menerima pada apa
yang di deritanya.
g. Pola-pola fungsi kesehatan
1. Pola nutrisi dan metabolisme
Adanya mual dan muntah, penurunan napsu makan selama sakit, lidah
kotor, dan rasa pahit waktu makan sehingga dapat mempengaruhi status
nutrisi berubah.
2. Pola aktivitas dan latihan
Pasien akan terganggu aktivitasnya akibat adanya kelemahan fisik serta
pasien akan mengalami keterbatasan gerak akibat penyakitnya.
3. Pola tidur dan aktivitas
Kebiasaan tidur pasien akan terganggu dikarenakan suhu badan yang
meningkat, sehingga pasien merasa gelisah, pada waktu tidur.
4. Pola Eliminasi
Kebiasaan dalam BAK akan terjadi retensi bila dehidrasi karena panas yang
meninggi, konsumsi cairan yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
5. Pola reproduksi dan seksual
Pola reproduksi dan seksual pada pasien yang telah atau sudah menikah
akan terjadi perubahan.
6. Pola persepsi dan pengetahuan
Bagaimanakah persepsi terhadap status kesehatan saat ini dan sampai
sejauh mana pasien memahami penyakit dan perawatannya.
7. Pola konsep diri
Adakah gangguan konsep diri.
8. Pola Penaggulangan Stres
Kaji apakah yang biasa dilakukan pasien dalam menghadapi setiap stressor.
9. Pola hubungan interpersonal
Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi terhadap hubungan interpersonal
dan mengalami hambatan dalam menjalankan perannya selama sakit.
10. Pola tata nilai dan kepercayaan
Adakah gangguan dalam pelaksanaan ibadah sehari-hari.
h. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum
Biasanya pada pasien Typhoid mengalami badan lemah, panas, pucat, mual,
perut tidak enak, dan anorexia.
2. Kepala dan leher
Konjungtiva anemia, mataa cowong, muka pucat/bibir kering, lidah kotor,
ditepi dan di tengah merah.
3. Dada dan abdomen
Di daerah abdomen ditemukan nyeri tekan
4. Sistem integument
Turgor kulit menurun, pucat, berkeringat banyak, akral hangat.
5. Sistem eliminasi
Pada pasien Typhoid kadang-kadang diare atau konstipasi, produk kemih
pasien bisa mengalami penurunan (kurang dari normal), normal - 1 cc/kg
BB/jam.
Analisa data
Data yang sudah terkumpul dikelompokkan dan dianalisis untuk menentukan
masalah klien. Untuk mengelompokkan data ini dilihat dari jenis data yang meliputi
data subyek dan dan data obyek. Data subyek adalah data yang diambil dari ungkapan
klien atau keluarga klien sedangkan data obyek adalah data yang didapat dari suatu
pengamatan atau pendapat yang digunakan untuk menentukan diagnosis keperawatan.
(Lismidar, 1990).

2. Diagnosa Keperawatan
Dari analisa data yang diperoleh maka diagnosa keperawatan yang muncul pada
kasus demam typhus abdominalis yaitu sebagai berikut :
a. Nyeri akut berhubungan dengan proses peradangan
b. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan
makanan yang tidak adekuat, karena pasien tidak nafsu makan, mual, dan
kembung.
d. Risiko tinggi terjadinya kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan
kurangnya asupan (intake) cairan dan peningkatan suhu tubuh.
e. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tidak adekuatnya masukan nutrisi
(mual dan muntah) dan pembatasan aktivitas.
f. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit yang diderita berhubungan dengan
kurangnya informasi.

3. Intervensi Keperawatan
Rencana keperawatan yang digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan
klien pada dasarnya sesuai dengan masalah yang ditemukan pada klien dengan
demam tifoid dan hal ini sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ada.
Perencanaan berisi suatu tujuan pelayanan keperawatan dan rencana tindakan
yang akan digunakan itu untuk mencapai tujuan, kriteria hasil dan rasionalisai
berdasarkan susunan diagnosa keperawatan diatas, maka perencanaan yang dibuat
sebagai berikut :
a. Diagnosa 1
Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi.
Tujuan : Hipertermi teratasi
Kriteria hasil :
1. Suhu dalam batas normal.
2. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi.
3. Turgor kulit elastis
4. Pengisian kapiler kurang dari 3.
5. Membrane mukosa

Intervensi Rasional
1. Kaji dan catat suhu tubuh setiap 2 1. Tindakan ini sebagai dasar untuk
atau 4 jam. menentukan intervensi.
2. Observasi membrane mukosa, 2. Untuk mengidentifikasi tanda-tanda
pengisian kapiler, dan turgor kulit. dehidrasi akibat panas.
3. Berikan minum 2-2,5 liter sehari 3. Kebutuhan cairan dalam tubuh cukup
selama 24 jam. mencegah terjadinya panas.
4. Berikan kompres hangat pada dahi, 4. Kompres hangat memberi efek
ketiak, dan lipat paha. vasodilatasi pembuluh darah,
sehingga mempercepat penguapan
tubuh.
5. Anjurkan pasien untuk tirah baring 5. Menurunkan kebutuhan metabolisme
(bed rest) sebagai upaya tubuh sehingga turut menurunkan
pembatasanaktivitas selama fase akut. panas.
6. Anjurkan pasien untuk menggunakan 6. Pakaian tipis memudahkan
pakaian yang tipis dan menyerap penguapan panas. Saat suhu tubuh
keringat. naik, pasien akan banyak
mengeluarkan keringat.
7. Berikan terapi obat golongan 7. Untuk menurunkan atau mengontrol
antipiretik sesuai program medis panas badan.
evaluasi efektivitasnya.
8. Pemberian antibiotik sesuai program 8. Untuk mengatasi infeksi dan
medis. mencegah penyebaran infeksi.
9. Pemberian cairan parenteral sesuai 9. Penggantian cairan akibat penguapan
program medis. panas tubuh.

10. Observasi hasil pemeriksaan 10. Untuk mengetahui perkembangan


darah dan feses. penyakit tipes dan efektivitas terapi.
11. Observasi adanya peningkatan 11. Peningkatan suhu secara terus-
suhu secara terus-menerus, menerus setelah pemberian antiseptik
distensi abdomen, dan nyeri dan antibiotik, kemungkinan
abdomen. mengindikasikan terjadinya
komplikasi perforasi usus.

b. Diagnosis 2
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan
makanan yang tidak adekuat, karena pasien tidak nafsu makan, mual, dan
kembung.
1. Tujuan : Pemenuhan kebutuhan nutrisi yang tidak memadai
2. Kriteria hasil :
a. Tidak terjadi mual dan kembung
b. Nafsu makan meningkat
c. Pasien mampu menghabiskan satu porsi makanan
d. Berat badan meningkat/normal
Intervensi Rasionalisasi
1. Kaji pola makan dan status pasien 1. Sebagai dasar untuk menentukan
intervensi.
2. Berikan makan yang tidak 2. Mencegah iritasi usus dan distensi
merangsang (pedas, asam, dan abdomen.
mengandung gas).
3. Berikan makanan lunak selama fase 3. Mencegah terjadinya iritasi usus dan
akut (masih ada panas atau suhu lebih komplikasi perforasi usus.
dari normal).
4. Berikan makan dalam porsi kecil tapi 4. Mencegah rangsangan mual/muntah.
sering.
5. Timbang berat badan pasien setiap 5. Untuk mengetahui masukan
hari. makanan/penambahan berat badan.
6. Lakukan perawatan mulut secara 6. Meningkatkan nafsu makan.
teratur dan sering.
7. Jelaskan pentingnya asupan 7. Agar pasien bersikap kooperatif
nutrisi yang memadai dalam pemenuhan nutrisi.

8. Berikan terapi antiematik sesuai 8. Untuk mengontrol mual dan muntah,


program medis. sehingga dapat meningkatkan
masukan makanan.
9. Berikan nutrisi parenteral sesuai 9. Untuk mengistirahatkan
program terapi medis, jika gastrointestinal dan memberikan
pemberian makanan oral tidak nutrisi penting untuk metabolisme
dapat diberikan. tubuh.

c. Diagnosis 3
Risiko tinggi terjadinya kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan
kurangnya asupan (intake) cairan dan peningkatan suhu tubuh.
1. Tujuan : keseimbangan cairan tubuh memadai.
2. Kriteria hasil :
a. Asupan (intake) dan keluaran (output) cairan seimbang
b. Tanda-tanda vital dalam batas normal
c. Membran mukosa lembab.
d. Pengisian kapiler baik (<3).
e. Produksi urine normal.
f. Berat badan normal.
g. Hematokrit dalam batas normal.

Intervensi Rasional
1. Observasi tanda-tanda vital setiap 4 1. Hipotensi, takikardia, dan demam
jam. menunjukkan respon terhadap
kehilangan cairan tubuh.
2. Monitor tanda-tanda kekurangan 2. Tanda-tanda tersebut menunjukkan
cairan (turgor kulit tak elastis, kehilangan cairan
produksi urine menurun, membran berlebihan/dehidrasi.
mukosa kering, bibir pecah-pecah, dan
pengisian kapiler lambat).
3. Observasi dan catat masukan serta 3. Untuk mendeteksi keseimbangan
keluaran cairan setiap 8 jam. cairan dan elektrolit.
4. Berikan cairan per oral 2-2,5 liter per 4. Untuk pemenuhan kebutuhan cairan
hari, jika pasien tidak muntah. tubuh.
5. Timbang berat badan pasien setiap 5. Berat badan merupakan indikator
hari dengan alat ukur yang sama. kekurangan cairan dan status nutrisi.
6. Berikan cairan parenteral sesuai 6. Untuk memperbaiki kekurangan
program medis. volume cairan.
7. Awasi data laboratorium (hematokrit). 7. Indikator status cairan pasien,
evaluasi adanya hemokonsentrasi.

d. Diagnosis 4
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tidak adekuatnya masukan nutrisi
(mual dan muntah) dan pembatasan aktivitas.
1. Tujuan : toleran terhadap aktivitas
2. Kriteria hasil :
a. Tidak ada keluhan lelah
b. Tidak ada takikardia dan takipnea saat melakukan aktivitas.
c. Kebutuhan aktivitas pasien terpenuhi.

Intervensi Rasional
1. Kaji tingkat toleransi pasien terhadap 1. Sebagai dasar untuk menentukan
aktivitas. intervensi
2. Kaji jumlah makanan yang 2. Untuk mengidentifikasi asupan
dikonsumsi pasien. nutrisi pasien
3. Anjurkan tirah baring (bed rest) 3. Untuk menurunkan metabolisme
selama fase akut. tubuh dan mencegah iritasi usus
4. Jelaskan pentingnya pembatasan 4. Untuk mengurangi gerak peristaltik
aktivitas selama perawatan. usus, sehingga mencegah iritasi
5. Bantu pasien melakukan aktivitas usus
sehari-hari sesuai kebutuhan. 5. Kebutuhan aktivitas pasien
terpenuhi dengan energi minimal,
6. Melibatkan keluarga dalam sehingga mengurangi gerak
pemenuhan kebutuhan kebutuhan peristaltik usus
aktivitas sehari-hari. 6. Partisipasi keluarga meningkatkan
7. Berikan kesempatan kepada pasien sikap bekerja sama pasiendalam
untuk melakukan aktivitas sesuai perawatan.
kondisinya (jika telah bebas panas 7. Meningkatkan partisipasi pasien
selama beberapa hari, hasil dapat meningkatkan harga diri
laboratorium menunjukkan pasien dan meningkatkan toleransi
perbaikan. aktivitas
8. Berikan terapi multivitamin sesuai
program terapi medis.
8. Meningkatkan daya tahan tubuh,
sehingga meningkatkan aktivitas
pasien

e. Diagnosis 5 : Kurangnya pengetahuan tentang penyakit yang diderita


berhubungan dengan kurangnya informasi.
1. Tujuan : pasien dan keluarga mendapatkan pemahaman tentang
penyakitnya.
2. Kriteria hasil : pasien dapat menjelaskan penyakitnya, perawatan penyakit
tersebut, pengobatannya, waktu kontrol ulang.

Intervensi Rasional
1. Kaji tingkat pengetahuan pasien 1. Sebagai dasar menentukan
tentang penyakitnya. intervensi.
2. Jelaskan pada pasien tentang 2. Pasien mendapat kejelasan tentang
penyakit Typhus abdominalis penyakitnya.
(pengertian, penyebab, tanda, dan
gejala, pengobatan, serta komplikasi
penyakit).
3. Jelaskan pada pasien tentang 3. Pasien mendapat kejelasan tentang
perawatan penyakit. perawatan di rumah setelah pulang
dari rumah sakit.
4. Jelaskan kepada pasien tentang 4. Untuk mencegah terulangnya
pentingnya menjaga kebersihan infeksi usus yang yang berasal dari
makanan dan kebersihan diri. makanan, alat makan, dan
kebersihan diri yang kurang.
5. Berikan catatan tertulis waktu 5. Agar pasien mudah mengingat
kontrol ulang setelah sakit. kapan waktu kontrol yang tepat.
DAFTAR PUSTAKA

Haryono, Rudi.2012.Keperawatan Medikal Bedah Sistem Pencernaan.Yogyakarta : gosyen


Publishing.

Ardiansyah, Muhamad.2012.Medikal Bedah untuk Mahasiswa.Jogjakarta : Diva Press.

Murwani.2012.Perawatan Pasien Penyakit Dalam.Jogjakarta : Gosyen Publishing.

Fely, Andrifebri.2012.Thypus Abdominalis.Dalam


http://anfebfel.blogspot.com/2012/10/thypus-abdominalis.html(pada tanggal 10
September 2014)

Abi, Benedikta.2012.Thypus Abdominalis.Dalam


http://askepdikta.blogspot.nl/2012/09/thypus-abdominalis.html(diakses pada tanggal
10 September 2014)
Mengetahui,
Pembimbing Praktik Mahasiswa

( ) ( )
NIP. NIM. P07120013033

Mengetahui,
Pembimbing Akademik

( )
NIP.