Anda di halaman 1dari 4

PENCEGAHAN VENTILATOR-ASSOCIATED PNEUMONIA DENGAN

PEMBERIAN PROFILAKSIS STRESS ULCERS


Adinta Anandani
Residen Mikrobiologi Klinik FK-UNDIP

Abstrak : Ventilator-associated pneumonia (VAP) adalah pneumonia yang terjadi lebih dari 48 jam setelah
pemasangan intubasi endotrakeal akibat dari mikroorganisme yang masuk saluran pernapasan bagian bawah
melalui aspirasi sekret orofaring yang berasal dari bakteri endemik di saluran pencernaan atau patogen eksogen
yang diperoleh dari peralatan yang terkontaminasi atau petugas kesehatan. Terapi dengan menggunakan proton
pump inhibitor sebagai profilaksis terhadap stress ulcer yang mungkin ditimbulkan akibat pemakaian ventilator
mekanik mungkin terkait dengan peningkatan risiko terjadinya hospital acquired pneumonia (HAP). Berdasarkan
datadata komparatif dari beberapa penelitian randomized IDSA (2005) merekomendasikan penggunaan
sukralfat dibandingkan dengan H2-blocker dalam PSU untuk mengurangi kemungkinan timbulnya VAP.

PREVENTION OF VENTILATOR-ASSOCIATED PNEUMONIA


PROPHYLAXIS WITH STRESS ULCERS
Abstract: Ventilator-associated pneumonia (VAP) is pneumonia that occurs more than 48 hours after
endotracheal intubation due to microorganisms that enter the lower respiratory tract by aspiration of secretions
oropharynx derived from endemic bacteria in the digestive tract or pathogen exogenous obtained from
contaminated devices or health workers. Therapy using proton pump inhibitors as prophylaxis against stress
ulcer (PSU) which may be incurred as a result of the use of a mechanical ventilator may be associated with an
increased risk of hospital acquired pneumonia (HAP). Based on comparative data from several randomized
studies IDSA (2005) recommends the use of sucralfate compared with H2-blockers in the PSU to reduce the
likelihood of onset VAP.

Korespondensi : aureus. Pada host yang sehat,


dr. Adinta Anandani pembersihan mukosiliar dan kekebalan
Residen Mikrobiologi Klinik FK UNDIP bawaan melindungi terhadap terjadinya
Jl. Prof. H. Soedarto, SH, Tembalang,Jawa pneumonia. Pemasangan alat endotrakeal
TengahTelepon:(024) 76928010
merusak pembersihan mukosiliar
Email : adinta.teguh@gmail.com
sehingga dapat terjadi inokulasi pada
saluran pernapasan bagian bawah dan
PENDAHULUAN
penyebaran secara langsung pada pasien
Ventilator-associated pneumonia (VAP)
critiical ill dengan ventilasi mekanik dan
adalah pneumonia yang terjadi lebih dari
kekebalan tubuh yang lemah dapat
48 jam setelah pemasangan intubasi
memicu terjadinya pneumonia.1, 2
endotrakeal.1
Strategi pencegahan yang berfokus
Ventilator-associated pneumonia (VAP)
untuk menurunkan kolonisasi bakteri dari
terjadi dari mikroorganisme yang masuk
orofaring adalah mengurangi frekuensi
saluran pernapasan bagian bawah melalui
aspirasi, menjaga sistem kekebalan tubuh,
aspirasi sekret orofaring yang berasal dari
dan membebaskan pasien dari ventilator
bakteri endemik di saluran pencernaan
sedini mungkin. Strategi ini telah
atau patogen eksogen yang diperoleh dari
berkembang selama dekade terakhir dan
peralatan yang terkontaminasi atau
menurunkan beban penyakit. VAP
petugas kesehatan.1, 2
sebelumnya terjadi pada 9-18% pasien
Pneumonia terjadi apabila mikroba
ventilasi mekanik dan dikaitkan dengan
masuk ke saluran nafas pernapasan
angka kematian 20-50% dan dari 7 hari
bagian bawah. Ada empat cara masuknya
mengalami peningkatan menjadi 9 hari di
mikroba tersebut ke dalam saluran nafas
rawat inap.2
bagian bawah yaitu:aspirasi, inhalasi
Infectious Diseases Society of America
secara langsung, penyebaran hematogen
dan American Thoracic Society pada
dan penyebaran langsung.1
tahun 2005 telah menerbitkan pedoman
Etiologi yang paling umum adalah
yang komprehensif untuk pencegahan
Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella
VAP yang berfokus pada faktor risiko yang
pneumoniae, Escherichia coli,
dapat dimodifikasi.1, 2
Acinetobacter, dan Staphylococcus
16 The Indonesian Journal of Infectious Disease
1, 2
Tabel 1. Rekomendasi Pencegahan VAP di ICU dewasa
Hindari intubasi dan re-intubasi jika mungkin

Pilih intubasi orot rakeal dari pada intubasi nasotrakeal

Aspirasi berkesinambungan sekret epiglottis


0
Posisisemi-recumbent (bagian kepala/atas tempat tidur ditinggikan 30-45 jika mungkin)

Enteral feeding dengan post-pyloric feeding tube

Pengaplikasian standar pengendalian infeksi

Interupsi sedasi harian bersama dengan protocol weaning ventilator

Kebijakan transfuse konservatif

Profilaksis stress ulcer dengan sukralfat atau H2-blocker dari pada dengan proton pump inhibitor
(PPI)

Profilaksis stress ulcer (PSU) pada ulcer. Faktor risiko yang paling umum
pasien rawat ICU adalah pemakaian ventilasi mekanik yang
Istilah stress ulcer terkait perdarahan berkepanjangan dan koagulopati. Faktor
gastrointestinal (GI) pertama kali risiko yang diidentifikasi lainnya
3
dikemukakanpada tahun 1969. Profilaksis termasukcedera tulang belakang, skor
stress ulcer telah menjadi bagian penting keparahan cedera (Injury severity score /
dari perawatan untuk kondisi kritis selama ISS) lebih besar dari 15, gagal hati akut,
lebih dari 20 tahun. Fisiologi penyakit kritis pemakaian tabung nasogastrik selama
seringkali terkomplikasi dengan beberapa lebih dari 5 hari, riwayat penyalahgunaan
kelainan inflamasi sistemik serta alkohol, gagal ginjal, serologi positif
perubahan status hemodinamik. Helicobacter pylori dan kebutuhan steroid
Hipoperfusi sistemik yang terkait dengan dosis tinggi3,4
katekolamin, penurunan curah jantung, Bila PSU akan dimulai, maka
hipovolemia, vasokonstriksi dan seharusnya dilakukan pada saat ada atau
pelepasan sitokin inflamasi berhubungan timbulnya factor risiko. Akan tetapi masih
dengan hipoperfusi splanknikus. belum jelas kapan profilaksis tersebut
Dibandingkan dengan pasien normal, dihentikan. Walaupun telah
pasien kritis memiliki gangguan pada direkomendasikan bahwa profilaksis dapat
lapisan pelindung lendir dan dihentikan paling sedikit setelah 7 hari, hal
bikarbonatakibat perubahan dalam ini gagal memperlihatkan perbedaan
mikrosirkulasi mukosa.4Selama beberapa keluaran mortalitas atau perdarahan
dekade terakhir, penggunaan PSU telah saluran cerna. Banyak penelitian yang
menjadi topik yang kontroversial dalam merekomendasikan melanjutkan PSU
perawatan pada pasien kritis. Masih ada sepanjang lamanya kondisi kritis atau
pertanyaan mengenai diagnosis, faktor lamanya perawatan di ICU.4
risiko perdarahan dan kebutuhan serta Terdapat beberapa pilihan farmakologi
pilihan obat profilaksis.3 dalam pencegahan stress ulcer yang
Stress ulcer adalah penyebab paling meliputi penggunaan H2-blocker,
umum dari perdarahan gastrointestinal penghambat pompa proton / proton pump
pada pasien di unit perawatan intensif.5 inhibitor (PPI), zat sitoprotektif, dan enteral
Beberapa studi telah mengidentifikasi feeding.3,4
berbagai faktor risiko terjadinya stress

The Indonesian Journal of Infectious Disease 17


3
Tabel 2. Analisis multivariate factor risiko perdarahan saluran cerna akibat stress ulcer
6 7
Faktor risiko Cook dkk (OR) Ellison dkk (OR)
b
Ventilasi mekanik 15,6 TS
b
Koagulopati 4,3 TS
Hipotensi TS TS
b
Gagal hati akut 1,6 (TS) 6,7
c
Gagal ginjal kronik 1,6 (TS) 3
b
NGT yang lama TS 2,6
c
Riwayat penggunaan alkohol Tidak dilaporkan 2,2
c
Helicobacter pylori Tidak dilaporkan 1,9
Catatan :
a. Keluaran yang dilaporkan berupa hematemesis, melena, emesis berwarna kopi, aspirat NGT yang
berdarah
b. P<0,001
c. P<0,05
TS :tidak signifikan

Kaitan profilaksis stress ulcer dengan Pemilihan obat untuk PSU masih cukup
pencegahan VAP sulit terbukti dengan kualitas menengah
Alhazzani dkk (2012) mengemukakan mendukung penggunaan PPI daripada
dalam reviewnya bahwa tak satu pun dari H2-blocker pada pendarahan saluran
uji klinis sebelumnya dan meta-analisis cerna bagian bawah tanpa adanya bukti
yang menunjukkan manfaat dari PSU peningkatan risiko HAP dan tanpa adanya
dalam mengurangi angka kematian atau perubahan dalam mortalitas. Sedangkan
lama tinggal di ICU, baik bila dibandingkan bukti dengan kualitas menengah hingga
dengan placebo atau antarobat yang tinggi mendukung penggunaan H2-blocker
berbeda.3 Hal tersebut menimbulkan dalam mencegah pendarahan salurna
pertanyaan yang tidak hanya mencakup cerna dengan adanya potensi peningkatan
efek obat yang berbeda pada pendarahan risiko HAP. Akan tetapi, sebagian besar
saluran cerna, tetapi juga pada ventilator- penelitian tersebut dilakukan sebelum era
associated pneumonia (VAP) dan yang pencegahan VAP secara luas, sehingga
terkini adalah pertanyaan seputar efek H2- faktor-faktor yang mempengaruhi
blocker dan PPI pada insiden Clostridium keputusan penggunaan PSU adalah laju
difficile.3 VAP pada masing-masing institusi.
Beberapa penelitian menunjukkan Contohnya adalah, misalnya pada suatu
bahwa terapi PPI mungkin terkait dengan insitusi dengan laju VAP kurang dari 5 per
peningkatan risiko terjadinya hospital 1000 hari ventilator, tidak merubah
acquired pneumonia (HAP). Mekanisme kebijakan pemilihan obat SPU.3
yang menimbulkan fenomena ini adalah Dalam penelitiannya, Eddlestone dkk
peningkatan pH lambung menimbulkan (Abstrak, 1991) merekomendasikan
pertumbuhan bakteri dalam lambung pemberian secara rutin sukralfat untuk
(terutama bakteri batang gram negatif di mencegah timbulnya stress ulcer.9
duodenum), selanjutnya dengan refluks Sedangkan Bonten dkk (Abstrak, 1994)
esofagus dan aspirasi isi lambung dapat mengemukakan hasil bahwa pemberian
menyebabkan kolonisasi bakteri pada sukralfat pada pasien-pasien ICU dapat
saluran napas ataupun pneumonia. mencegah kolonisasi bakteri yang secara
Karena asam lambung mempunyai potensial pathogen.10
peranan penting dalam mengeliminasi Berdasarkan datadata komparatif dari
bakteri yang tertelan dari saluran cerna, beberapa penelitian randomized IDSA
sehingga jelas terlihat secara biologi (2005) merekomendasikan penggunaan
bahwa peningkatan pH lambung dapat sukralfat dibandingkan dengan H2-blocker
menyebabkan peningkatan jumlah bakteri dalam PSU untuk mengurangi
patogen dan infeksi selanjutnya.3 Selain kemungkinan timbulnya VAP, walau ada
itu ada juga kekhawatiran tentang risiko yang sedikit lebih tinggi terjadinya
peningkatan risiko colitis terkait pendarahan saluran cerna. Tetapi bila
Clostridium difficile.8 dibutuhkan PSU dengan H2-blocker
ataupun sukralfat masih dapat diterima.1
18 The Indonesian Journal of Infectious Disease
KESIMPULAN Canadian Critical Care Trials Group.
N Engl J Med 1994;330:377-81.
Semua pasien dalam perawatan ICU 7. Ellison RT, Perez-Perez G, Welsh
dengan faktor risiko yang berkaitan CH, Blaser MJ, Riester KA, Cross AS,
seharusnya mendapatkan obat untuk et al. Risk factors for upper
PSU. Semua obat-obatan PSU tampaknya gastrointestinal bleeding in intensive
memiliki keadekuatan yang sama sebagai care unit patients: role of helicobacter
profilaksis stress ulcer. Dalam kaitannya pylori. Federal Hyperimmune
dengan timbulnya VAP akibat pemberian Immunoglobulin Therapy Study
PSU, maka sukralfat lebih Group. Crit Care Med 1996;24:1974-
direkomendasikan. 81.
8. Leonard J, Marshall JK, Moayyedi P.
Systematic review of the risk of
UCAPAN TERIMA KASIH enteric infection in patients taking acid
Ucapan terima kasih penulis sampakan suppression. Am J Gastroenterol
kepada Prof.Dr.dr.Hendro Wahjono, DMM, 2007;102:2047-56; quiz 57.
MSc.Trop.Med, SpMK(K) selaku kepala 9. Eddleston JM, Vohra A, Scott P,
departement Mikrobiologi, Prof.Dr.dr. Tooth JA, Pearson RC, McCloy RF, et
Winarto, DMM, Sp.MK, Sp.M(K) selaku al. A comparison of the frequency of
kepala program studi, dr.Jati Listiyanto, stress ulceration and secondary
SpAN(KIC) selaku kepala RSUP dr. pneumonia in sucralfate- or ranitidine-
Kariadi Semarang. treated intensive care unit patients.
Crit Care Med 1991;19:1491-6.
Bonten MJ, Gaillard CA, van Tiel FH,
DAFTAR PUSTAKA van der Geest S, Stobberingh EE.
Continuous enteral feeding
1. American Thoracic S, Infectious counteracts preventive measures for
Diseases Society of A. Guidelines for gastric colonization in intensive care
the management of adults with unit patients. Crit Care Med
hospital-acquired, ventilator- 1994;22:939-44.
associated, and healthcare-
associated pneumonia. Am J Respir
Crit Care Med 2005;171:388-416.
2. Prescott HC, O'Brien JM. Prevention
of ventilator-associated pneumonia in
adults. F1000 medicine reports
2010;2.
3. Alhazzani W, Alshahrani M, Moayyedi
P, Jaeschke R. Stress ulcer
prophylaxis in critically ill patients:
review of the evidence. Pol Arch Med
Wewn 2012;122:107-14.
4. Guillamondegui O, Gunter J, OL,
Bonadies Jea. Practice Management
Guidelines For Stress Ulcer
Prophylaxis. In: Eastern Association
for the Surgery of Trauma; 2008:1-24.
5. IHI Ventilator Bundle: Peptic Ulcer
Disease Prophylaxis. In: Institute for
Healthcare Improvement.; 2014.
6. Cook DJ, Fuller HD, Guyatt GH,
Marshall JC, Leasa D, Hall R, et al.
Risk factors for gastrointestinal
bleeding in critically ill patients.

The Indonesian Journal of Infectious Disease 19

Anda mungkin juga menyukai