Anda di halaman 1dari 192
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM D I R E K T O R A T J E

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

D I R E K T O R A T

J E N D E R A L

C I P T A

K A R Y A

DIREKTORAT PENGEMBANGAN PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN

Jalan Pattimura No. 20, Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Telp. 021-72797175/6/8 Fax 021-7261939

TATA CARA PERENCANAAN, PELAKSANAAN, OPERASI DAN PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

1

OPERASI DAN PEMELIHARAAN SISTEM POMPA TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 1

KATA PENGANTAR

Sebagai salah satu upaya untuk melindungi permukiman dari daya rusak air sesuai amanat UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan PP No. 38 Tahun 2011 tentang Sungai, penyelenggaraan sistem drainase perkotaan ditujukan untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat dan bebas genangan.

Dalam rangka penanggulangan genangan/ banjir pada lokasi dan saat tertentu, diperlukan juga sistem pemompaan yang memenuhi kaidah teknis yang berlaku. Untuk mewujudkan penyelenggaraan sistem drainase yang diinginkan tersebut diperlukan buku tata cara sistem pompa yang memuat sejak dari perencanaan, pelaksanaan, uji coba, operasi dan pemeliharaan. Diharapkan buku tata cara ini dapat menjadi acuan bagi para pemangku kepentingan bidang drainase perkotaan di seluruh Indonesia.

Penyusunan Tata Cara ini melibatkan para akademisi, pakar dan praktisi bidang drainase melalui berbagai tahapan-tahapan kegiatan seperti, konsinyasi-konsinyasi dan workshop. Namun demikian disadari bahwa panduan ini bersifat dinamis dan apa yang telah disusun dimungkinkan untuk berubah dan berkembang. Oleh karena itu, kami akan senantiasa terbuka untuk berbagai masukan guna penyempurnaan lebih lanjut.

Jakarta, 2013 Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum

Ir. Imam Santoso Ernawi, MCM, MSc

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

2

Umum Ir. Imam Santoso Ernawi, MCM, MSc TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

2

DAFTAR ISI

3

DAFTAR GAMBAR

6

DAFTAR TABEL

8

BAB I

9

DESKRIPSI

9

1.1 LATAR BELAKANG

9

1.2 KONSEP POMPA

10

1.3 MAKSUD DAN TUJUAN

12

1.3.1 Maksud

12

1.3.2 Tujuan

12

1.4

RUANG LINGKUP

13

1.5

PENGERTIAN

13

1.6.

KETENTUAN-KETENTUAN

17

1.6.1

Standar Kriteria

17

1.6.2.

Komponen Sistem Pompa

19

1.6.3.

Tahapan Pengembangan Sistem Pompa

19

1.6.4.

Persiapan Pelaksanaan Pekerjaan

20

BAB II

22

POMPA DRAINASE

22

2.1.

KLASIFIKASI POMPA DRAINASE

22

2.1.1. Pompa ulir/screw (pompa aliran permukaan bebas)

22

2.1.2. Pompa impeler (pompa aliran pipa bertekanan)

24

2.1.3. Pompa Submersibel (Submersible Pumps)

28

2.1.4. Pump Gate

29

2.1.5. Pompa Lumpur (Sludge Pump)

30

2.1.6. Perbandingan Pompa Ulir dan Pompa Impeller

31

2.2.

BEBERAPA HAL YANG PERLU DIPAHAMI DALAM MERENCANAKAN SISTEM POMPA DRAINASE

38

2.2.1.

Hukum-Hukum Keserupaan Pompa

38

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

3

2.2.1. Hukum-Hukum Keserupaan Pompa 38 TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 3

2.2.2.

Kavitasi

39

2.2.3. Tinggi Hisap Positif Netto (Net Positive Suction Head-NPSH)

40

2.2.4. Pemilihan Penggerak Mula

43

2.2.5. Motor Elektrikal/Listrik

44

 

2.2.6.1. Daya Motor dan Kecepatan Rotasi Motor

47

2.2.6.2. Voltase Motor

48

2.2.6.3. Metode Start Motor

48

2.2.6.4. Pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan untuk memilih Metode Start Motor

53

2.2.6.5. Pemilihan Kabel

54

2.2.6. Konversi Unit

57

2.2.7. Standar Proteksi /Index Protection (IP)

57

2.3.

PERENCANAAN POMPA DRAINASE

59

2.3.1. Umum

59

2.3.2. Penentuan Lokasi Stasiun Pompa

60

2.3.3. Ketentuan-ketentuan Umum untuk Perencanaan Stasiun Pompa

61

2.3.4. Tahapan Perencanaan

61

2.3.5. Perhitungan/Analisis Yang diperlukan

70

2.3.6. Metode dan Prosedur Perhitungan/Analisis

75

2.3.7. Penentuan Dimensi Kolam Pompa

94

2.3.8. Pemompaan Secara Paralel

96

2.3.9. Pemilihan Pompa dan Perencanaan Kolam Pompa

98

2.3.10. Perencanaan Sistem Tampungan (Storage)

102

2.3.11. Material Pompa dan Kelengkapannya

110

2.3.12. Perencanaan Supply Daya

116

2.3.13. Sensor Level Air (WLC)

117

2.3.14. Perencanaan Saringan Sampah

117

2.2.15. Perencanaan Bak Penangkap (Grit Chamber)

120

2.2.16. Overhead Crane

121

BAB III

123

PELAKSANAAN KONSTRUKSI POMPA

123

3.1. PERSYARATAN DAN LINGKUP PELAKSANAAN KONSTRUKSI

123

3.2. PEKERJAAN SIPIL

123

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

4

123 3.2. PEKERJAAN SIPIL 123 TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 4

3.3

PEKERJAAN MEKANIKAL

129

3.4.

PEKERJAAN ELEKTRIKAL SISTEM POMPA

136

BAB IV

142

UJI LAPANGAN (Test Commisioning) dan PELATIHAN

142

4.1. PENDAHULUAN

142

4.2. PENGUJIAN DI STASIUN POMPA

142

4.2.1. Hal-hal awal yang perlu diperhatikan

144

4.2.2. Pengujian Awal

Error! Bookmark not defined.

4.2.3. Pengujian

144

4.3.

Pelatihan

152

BAB V

154

OPERASI DAN PEMELIHARAAN

154

5.1.

PENDAHULUAN

154

5.1.1.

Deskripsi

154

5.1.2

Ruang Lingkup

154

5.2.

OPERASIONAL POMPA

154

5.2.1. Cara Pengoperasian Pompa

5.2.2. Persiapan-Persiapan Yang Mungkin Dilakukan Dalam Pengoperasian

Error! Bookmark not defined.

Pompa

5.3. PEMELIHARAAN POMPA

Error! Bookmark not defined. Error! Bookmark not defined.

LAMPIRAN

181

CONTOH PERHITUNGAN HEAD POMPA

189

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

5

181 CONTOH PERHITUNGAN HEAD POMPA 189 TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 5

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Klasifikasi Pompa Perpindahan Positif

 

11

Gambar 1.2 Klasifikasi Pompa Perpindahan Positif

12

Gambar 2.1

Klasifikasi Pompa Drainase

22

Gambar 2.2 Pompa ulir tipe terbuka. (Sumber: Hydro Delft, 1972)

22

Gambar 2.3 Pompa ulir tipe terbuka

23

Gambar 2.4 Hubungan antara debit dan efisiensi pompa dengan ketinggian hisap (suction level)

23

Gambar 2.5 Pompa Aliran Aksial

25

Gambar 2.6 Impeler pompa aliran aksial

 

25

Gambar 2.7 Pompa Aliran Radial (Single Volute Casing)

26

Gambar 2.8 Pompa Aliran Campur (Mixed-flow pump)

27

Gambar 2.9 Impeler Mixed Flow

27

Gambar 2.10 Pompa Submersibel

28

Gambar 2.11 Contoh Pompa Submersibel

29

Gambar 2.12 Potongan Pump Gate Tipe Vertikal Shaft

29

Gambar 2.13 Potongan Pump Gate Tipe Horizontal Shaft

30

Gambar 2.14 Aplikasi Pump Gate Pada Saluran Drainase

Error!

Bookmark not

defined. Gambar 2.15 Pompa Lumpur

 

31

Gambar 2.16 Hubungan Debit-NPSH

40

Gambar

2.17

Ilustrasi NPSH

41

Gambar 2.18 Hubungan antara koefisien kavitasi dengan kecepatan spesifik (n s )

43

Gambar 2.19 Tipe Motor Elektrik

44

Gambar 2.20 Contoh Tanda-tanda Peringatan dan Kelengkapan K3 pada Sistem Pompa

66

Gambar 2.21 Tipikal Kurva Massa Inflow

78

Gambar 2.22 Contoh Metode Grafik Kurva Massa Inflow

80

Gambar 2.23 Estimating total pumping rate

84

Gambar 2.24 Komponen-komponen dalam TDH

85

Gambar

2.25 Diagram Moody

87

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

6

85 Gambar 2.25 Diagram Moody 87 TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 6

Gambar 2.26 Tipe Impeller Berdasarkan Kecepatan Spesifik

89

Gambar 2.27 Nomogram Pemilihan Pompa

90

Gambar 2.28 Posisi Skematik dari Pompa

91

Gambar 2.29 Efisiensi Pompa Maksimum Yang Dicapai Sebagai Fungsi n sq

92

Gambar 2.30 Bagan Alir Perhitungan Perencanaan Dasar Pompa Drainase

94

Gambar 2.31 Kolam Pompa untuk Pompa Tunggal

95

Gambar 2.32 Kolam Pompa untuk lebih dari Satu Pompa

96

Gambar 2.33 Operasi pemompaan secara paralel

97

Gambar 2.34 Diagram hubungan dari Q 0 , H 0 dan Kecepatan Pompa

99

Gambar 2.35 Nomograph untuk Menentukan Ukuran Impeler, D 1 dan D 2

100

Gambar 2.36 Contoh dari Assembly dan Drive untuk Stasiun dengan Tiga Pompa

Jenis Campuran dengan Rumah Beton

101

Gambar 2.37 Section dari Rumah Pompa dengan Pompa Aliran Aksial

101

Gambar 2.38 Tipikal Tipe Stasiun Pompa

103

Gambar 2.39 Hidrograf disalurkan melalui stasiun pompa

103

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

7

disalurkan melalui stasiun pompa 103 TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 7

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1

Perbandingan Pompa Ulir dan Pompa Impeller

32

Tabel 2.2 Jenis dan Karakteristik Pompa untuk Sistem Drainase

34

Tabel 2.3 Perbandingan antara motor induksi tipe squirrel cage dan wound rotor 45

Tabel 2.4 Perbandingan antara synchrounous motor dan motor induksi

46

Tabel 2.5 Indeks Proteksi

58

Tabel 2.6

IK (Impact Energy)

59

Tabel 2.7 Urutan yang diperlukan dari proses desain tergantung pada pendekatan

 

yang dipilih atau diperlukan

67

Tabel 2.8

Pengembangan dari Inflow kumulatif

77

Tabel 2.9 Referensi Penentuan Langkah

81

Tabel 2.10 Prosedur untuk Mengestimasi Kapasitas dan Kebutuhan Jumlah Pompa

82

Tabel 2.11 Range dari n s untuk setiap tipe pompa

89

Tabel 2.12 Prosentase pengurangan daya akibat efek temperatur dan ketinggian . 93 Tabel 2.13 Tabel Keputusan Hubungan antara titik terendah daerah pelayanan (sistem polder) dengan ketinggian air pada titik terendah

 

(HWR (max))

106

Tabel 2.14

Tabel Contoh Perhitungan Storage

110

Tabel 2.15 Klasifikasi Umum Material Untuk Komponen-Komponen Pompa

111

Tabel 2.16 Tipikal material yang sering digunakan pada beberapa casing pompa111

Tabel 2.17 Tipikal material yang sering digunakan pada impeller pompa

112

Tabel 2.18 Tipikal Material yang digunakan untuk Perpipaan Utama

114

Tabel 2.19 Tipikal Material yang digunakan untuk Katup Butterfly

114

Tabel 2.20

Tipikal Material yang digunakan untuk Katup Sluice

114

Tabel 2.21 Tipikal Material yang digunakan untuk Katup Check

115

Tabel 2.22 Tipikal Material yang digunakan untuk Katup Flap

115

Tabel 2.23 Tipikal Material yang digunakan untuk Kopling Hidrolik

115

Tabel 2.24 Tipikal Material yang digunakan untuk Reduction Gears

116

Tabel 2.25

Persyaratan Teknis Saringan

120

Tabel 2.26 Persyaratan Teknis Bak Pengendap

121

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

8

2.26 Persyaratan Teknis Bak Pengendap 121 TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 8

BAB I

DESKRIPSI

1.1 LATAR BELAKANG Dalam rangka penanganan genangan, khususnya daerah perkotaan dengan tipologi perkotaan yang dipengaruhi oleh pasang surut dan/ atau elevasi muka air pada saluran lebih rendah dari pada badan air penerima diperlukan pembangunan sistem pompa. Sistem pompa tersebut berfungsi untuk melayani aliran genangan yang mana lokasi pembuangan air lebih tinggi dari saluran drainase sehingga tidak dimungkinkan pengaliran dilakukan dengan gravitasi.

Dalam perencanaan sistem pompa, pada tahapan awal mengacu pada tata cara perencanaan sebagaimana dituangkan dalam Petunjuk tentang Pengelolaan Sistem Drainase Perkotaan I D: Tata Cara Perencanaan Kolam Detensi, Kolam Retensi Dan Sistem Polder, dimana diuraikan secara detil tahapan perencanaan mulai dari tahapan pengumpulan data, survei topografi, penyelidikan tanah, survei sosial ekonomi, analisis hidrologi, analisis hidrolika, sampai dengan menentukan sistem aliran saluran dan kapasitas pompa untuk menghitung volume kolam tampungan yang dibutuhkan serta perhitungan kebutuhan head pompa dari elevasi muka air minimum di kolam retensi ke muka air maksimum banjir di sungai atau muka air pasang tertinggi di laut.

Dalam upaya membantu Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kabupaten/ Kota dan berbagai pihak yang berkepentingan untuk mengatasi genangan di perkotaan dengan menggunakan sistem pemompaan, diperlukan suatu perencanaan, pelaksanaan pembangunan/ konstruksi serta operasi dan pemeliharaan sistem pompa yang handal, efektif, efisien dan dapat dipertanggungjawabkan.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

9

efisien dan dapat dipertanggungjawabkan. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 9

1.2 KONSEP POMPA Pompa adalah suatu peralatan mekanik fluida yang memiliki fungsi memindahkan atau menaikkan fluida dengan cara mendorong fluida langsung secara mekanik, atau dengan cara mengubah energi mekanik menjadi energi tekan atau energi kinetik fluida yang dapat menghisap fluida dari satu tempat dan memancarkannya ke tempat yang diinginkan.

Pada pompa dengan cara kerja mengubah energi mekanik menjadi energi tekan fluida, pengubahan energi tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:

a) Mengubah energi mekanis dengan menggunakan alat semacam sudu atau impeller dengan bentuk tertentu.

b) Dengan menggunakan gerak bolak-balik piston atau semacamnya

c) Dengan penukaran energi menggunakan fluida perantara, baik gas atau cair. Fluida perantara ini diberi kecepatan tinggi dan dicampur dengan fluida yang dipompa dengan kecepatan rendah. Cara ini bisa menggunakan pompa jet.

d) Dengan menggunakan udara atau gas bertekanan tinggi yang diinjeksikan ke dalam suatu saluran yang berisi fluida yang dipompa.

(Sumber: Sunarno, “Mekanikal Elektrikal”. 2005: 55)

Penghisapan fluida pada sisi hisap (suction) pompa dilakukan elemen pompa dengan menurunkan tekanan di dalam ruang pompa, agar terjadi perbedaan tekanan antara ruang pompa dengan mulut hisap pompa, sehingga fluida akan mengalir dari mulut hisap pompa ke ruang pompa. Selanjutnya elemen pompa akan mendorong fluida atau memberikan tekanan terhadap fluida sehingga fluida tersebut akan mengalir dari ruang pompa ke dalam saluran tekan (discharge) melalui lubang tekan.

Untuk menentukan jenis pompa, perlu diketahui karakteristik pada pompa yang akan dioperasikan, dengan demikian pompa tersebut bisa mencapai efisiensi maksimum sesuai dengan batas-batas kondisi kerja yang ditentukan.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

10

batas-batas kondisi kerja yang ditentukan. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 10

Secara garis besar pompa dapat diklasifikasikan menjadi 2, yaitu: pompa perpindahan positif (positive displacement pump) dan pompa rotodinamik (rotodynamic pump atau non positive displacement pump).

Pompa Perpindahan Positif (Positive Displacement Pump) Pompa perpindahan positif terdiri dari 2, yaitu: pompa reciprocating (reciprocating pump) dan pompa rotari (rotary pump).

Positive Displacement
Positive Displacement
Positive Displacement

Positive Displacement

Positive Displacement
Positive Displacement
Positive Displacement
Positive Displacement
) dan pompa rotari ( rotary pump ). Positive Displacement Reciprocating Rotary Piston Plunger Diaphragm Single
) dan pompa rotari ( rotary pump ). Positive Displacement Reciprocating Rotary Piston Plunger Diaphragm Single
Reciprocating
Reciprocating
Reciprocating

Reciprocating

Reciprocating
Reciprocating
Reciprocating
Reciprocating
Rotary
Rotary
Rotary

Rotary

Rotary
Rotary
Rotary
Rotary
Piston Plunger Diaphragm
Piston
Plunger
Diaphragm

Single Suction

Double Suction

Simplex Duplex Triplex Multiplex
Simplex
Duplex
Triplex
Multiplex
Controlled Volume
Controlled
Volume

Mechanical Diaphragm

Piston/ Plunger

Hydraucally Actuated

Diaphragm

Simplex Duplex Triplex Multiplex
Simplex
Duplex
Triplex
Multiplex
Single Rotor
Single Rotor

Vane

Piston

Flexible Member

Screw

Multiple RotorSingle Rotor Vane Piston Flexible Member Screw Gear Lobe Circumerential Piston Screw Sumber:

Gear

Lobe

Circumerential Piston

Screw

Sumber: Troubleshooting dan Overhaul Pompa, Learning Outcome PTFI Gambar 1.1 Klasifikasi Pompa Perpindahan Positif

Pompa Rotodinamik (Non Positive Displacement Pump) Pompa Rotodinamik juga dikarakteristikkan oleh cara pompa tersebut beroperasi yaitu impeller yang berputar mengubah energi kinetik menjadi tekanan atau kecepatan yang diperlukan untuk memompa fluida.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

11

yang diperlukan untuk memompa fluida. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 11
Non Positive Displacement Pump
Non Positive Displacement Pump
Non Positive Displacement Pump

Non Positive Displacement Pump

Non Positive Displacement Pump
Non Positive Displacement Pump
Non Positive Displacement Pump
Non Positive Displacement Pump
Centrifugal Peripheral Special Single Stage Multi Stage Radial Flow Axial Flow Mixed Flow Single Suction
Centrifugal
Peripheral
Special
Single Stage Multi
Stage
Radial Flow
Axial Flow
Mixed Flow
Single Suction
Ejector Boosted
Electromagnetic
Gas Lift
Single Suction

Double Suction

Single Stage Multi Stage
Single Stage Multi
Stage
Single Suction Double Suction Single Stage Multi Stage Self Priming Non-self Priming Open Impeller Semi Open

Self Priming

Non-self Priming

Single Stage Multi Stage Self Priming Non-self Priming Open Impeller Semi Open Impeller Closed Impeller

Open Impeller Semi Open Impeller Closed Impeller

Source: Troubleshooting dan Overhaul Pompa, Learning Outcome PTFI Gambar 1.2 Klasifikasi Pompa Perpindahan Positif

1.3 MAKSUD DAN TUJUAN

1.3.1 Maksud Tata Cara ini dimaksudkan sebagai pegangan yang dapat digunakan sebagai acuan bagi Pemerintah, Pemerintah Propinsi, dan Pemerintah Kabupaten/ Kota dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam

merencanakan, membangun serta mengoperasikan dan melakukan pemeliharaan sistem pompa dalam rangka penanganan genangan sesuai dengan karakteristik dan kondisi daerah masing-masing.

1.3.2 Tujuan Tujuan penyusunan pedoman tata cara ini adalah untuk mendapatkan keseragaman pemahaman dalam melaksanakan perencanaan, pelaksanaan, operasi dan pemeliharaan sistem pompa yang handal, efektif, efisien dan dapat dipertanggungjawabkan.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

12

efisien dan dapat dipertanggungjawabkan. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 12

1.4 RUANG LINGKUP Pedoman tata cara sistem pompa ini memuat pengertian, ketentuan-ketentuan, kriteria (perencanaan, pembangunan dan operasi & pemeliharaan), tahapan pengerjaan penyusunan perencanaan teknis sistem pompa, tahapan pelaksanaan konstruksi dan cara pengerjaan konstruksi, dan cara pengerjaan operasional serta pemeliharaan sistem pompa.

1.5 PENGERTIAN Yang dimaksud dengan:

Badan air penerima adalah wadah-wadah air alamiah atau buatan seperti laut, sungai, danau, kolam retensi, kolam detensi, kolam tandon; Daerah genangan adalah kawasan yang tergenang air akibat tidak berfungsinya sistem drainase yang mengganggu dan/ atau merugikan aktivitas masyarakat;

Debit adalah volume air yang dapat dipompa per satuan waktu, dam dinyatakan dalam liter/detik atau m 3 /menit;

Debit banjir rencana adalah debit maksimum dari suatu sistem drainase yang didasarkan kala ulang tertentu yang dipakai dalam perencanaan; Daerah Pengaliran Saluran (DPSal) adalah daerah yang mengalirkan air hujan ke dalam saluran dan/ atau badan air penerima lainnya; Efisiensi Pompa adalah perbandingan antara daya fluida terhadap daya poros pompa, Efisiensi Pompa adalah perbandingan antara daya hidraulik yang dihasilkan pompa dan daya elektrik/mekanik yang dipakai pompa; Hoist adalah alat pengangkat/ katrol penggerek yang terdapat pada rumah pompa maupun diletakan pada overhead crane untuk keperluan operasi dan pemeliharan instalasi pompa maupun saringan sampah otomatis/manual; Impeler adalah bagian pompa yang berfungsi memberikan impuls kepada fluida sehingga energi yang dikandungnya berubah bertambah besar;

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

13

yang dikandungnya berubah bertambah besar; TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 13

Katup isap adalah komponen utama dari pompa torak yang fungsinya adalah untuk menahan kembalinya zat cair setelah langkah isap dilakukan piston pada pompa torak; Katup tekan adalah komponen utama dari pompa torak yang fungsinya adalah menahan kembalinya zat cair setelah langkah tekan dilakukan oleh piston pada pompa torak; Kavitasi adalah gejala menguapnya zat cair yang sedang mengalir akibat tekanan hisap yang berkurang sampai dibawah tekanan uap jenuh, sehingga mengakibatkan timbulnya gelembung-gelembung uap dalam aliran. Gelembung uap ini bila tidak terbawa aliran, akan pecah menghantam dinding permukaan impeler sisi hisap secara terus-menerus sehingga dapat merusak permukaan impeler (erosi permukaan/bopeng) dan akan menurunkan unjuk kerja pompa; Indikasi terjadinya kavitasi adalah timbulnya suara berisik dan adanya getaran yang berlebihan. Agar tidak terjadi kavitasi, NPSH yang tersedia harus lebih besar dari NPSH yang diperlukan.

Tinggi hisap positif bersih ( Net Positive Suction Head/NPSH) adalah tinggi total hisap mutlak diatas tinggi tekanan uap, relatif terhadap bidang referensi NPSH;

Kolam retensi adalah prasarana drainase yang berfungsi untuk menampung dan meresapkan air hujan di suatu wilayah;

Kolam detensi adalah prasarana drainase yang berfungsi untuk menampung sementara air hujan di suatu wilayah;

Kolam tandon adalah prasarana drainase yang berfungsi untuk menampung air hujan agar dapat digunakan sebagai sumber air baku; Mass Curve Routing adalah proses menghitung volume debit aliran (outflow) sebagai fungsi dari volume aliran masuk (inflow), rata-rata pemompaan, dan storage; Operasi adalah kegiatan untuk menjalankan dan memfungsikan sistem pompa sesuai dengan maksud dan tujuannya; Overhead Crane adalah alat angkat/ kran gantung berjalan yang digerakkan oleh motor atau sekurang-kurangnya digerakkan oleh gerakan

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

14

sekurang-kurangnya digerakkan oleh gerakan TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 14

katrolnya (hoist), yang terbuat dari baja dengan bentangan balok horizontal yang memiliki rel dan memiliki katrol penjepit yang dapat bergerak sendiri dari ujung yang satu ke ujung lainnya dalam rel balok horizontal tersebut;

Pemeliharaan adalah kegiatan yang dilakukan untuk menjamin fungsi sistem pompa bekerja sesuai dengan rencana;

Pemeliharaan berkala adalah usaha untuk mempertahankan kondisi dan fungsi sistem pompa yang dilaksanakan secara berkala;

Pemeliharaan rutin adalah usaha untuk mempertahankan kondisi dan fungsi sistem pompa yang dilaksanakan setiap waktu;

Pengamanan adalah usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan untuk melindungi keselamatan bangunan sistem pompa dari bahaya yang mungkin ditimbulkan pihak lain (manusia, binatang dan benda padat/cair). Dalam hal ini juga termasuk juga keselamatan pihak lain dari dampak yang disebabkan oleh bangunan pintu air;

Pengamanan sistem pompa adalah upaya menjaga kondisi dan fungsi pompa serta mencegah terjadinya hal-hal yang merugikan terhadap pompa dan perlengkapan pompa maupun fasilitasnya baik yang diakibatkan oleh manusia, hewan maupun proses alami;

Pompa adalah suatu peralatan mekanik fluida yang memiliki fungsi memindahkan atau menaikkan fluida dengan cara mendorong fluida langsung secara mekanik, atau dengan cara mengubah energi mekanik menjadi energi tekan atau energi kinetik fluida yang dapat menghisap fluida dari satu tempat dan memancarkannya ke tempat yang diinginkan;

Pompa drainase adalah pompa yang berfungsi memindahkan air dari area drainase atau saluran yang elevasinya lebih rendah ke badan air penerima yang elevasinya lebih tinggi, dan biasanya dibutuhkan pada daerah pasang surut, daerah muara sungai atau daerah cekungan;

Pompa lumpur atau sludge pump adalah pompa yang ditempatkan pada kolam pompa (pump sump) dan berfungsi menyedot air dan lumpur untuk membersihkan kolam pompa dari endapan lumpur yang dapat mengganggu fungsi pompa;

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

15

lumpur yang dapat mengganggu fungsi pompa; TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 15

Poros pompa adalah salah satu komponen utama dari pompa yang fungsinya sebagai batang penghubung yang menghubungkan antara motor penggerak pompa dengan impeller yang terdapat didalam rumah pompa;

Rumah jaga adalah tempat tinggal petugas pengawas pompa untuk melaksanakan operasi dan pemeliharan pompa sehingga pompa dapat beroperasi sesuai kebutuhannya dan untuk keamanan lingkungan;

Rumah pompa adalah bangunan pelengkap untuk melindungi peralatan seperti genset, panel-panel, pompa banjir, ruang operasi dan pemeliharaan;

Sistem polder adalah suatu sistem yang secara hidrologis terpisah dari sekelilingnya baik secara alamiah maupun buatan yang dilengkapi dengan tanggul, sistem drainase internal, pompa dan/ atau waduk, serta pintu air;

Sudu-sudu pompa adalah salah satu komponen utama dari pompa sentrifugal yang berbentuk piringan tempat melekatnya impeller pompa;

SOP sistem pompa adalah pedoman atau acuan untuk melaksanakan operasional pompa (dari awal mulai operasi sampai berakhirnya operasi), pemeliharaan pompa drainase dan peralatan, secara berurutan sesuai dengan buku petunjuk/ manual book dari pabrik dan kondisi di lokasi yang bertujuan untuk menjaga keselamatan manusia/ operator, keamanan peralatan dan meningkatkan kinerja dari sistem pompa;

Total Dynamic Head (TDH) adalah jumlah total energi yang diperlukan untuk menaikan air dalam kolam detensi dan atau saluran drainase ke titik pelepasan atau ke badan air penerima yang terdiri dari 4 (empat) komponen, yakni: kehilangan tekan (head) statis, gesekan, kecepatan dan tekanan dalam satuan meter;

Trash rack atau saringan sampah adalah peralatan yang berfungsi mencegah sampah masuk ke kolam pompa, yang dapat dioperasikan secara mekanik atau manual;

Uji lapangan (Commisioning Test) adalah merupakan pengujian dan kajian terhadap konstruksi bangunan (pekerjaan sipil) dan peralatan mekanikal dan elektrikal (M&E) dengan melakukan pengamatan, pengujian dan pengukuran langsung di lapangan (sipil), pengujian di pabrik maupun di

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

16

(sipil), pengujian di pabrik maupun di TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 16

lapangan (M&E), serta pengujian operasional sistem pompa, yang pelaksanaannya disaksikan oleh wakil yang berkompeten dari pihak pengguna jasa, sebelum hasil pekerjaan konstruksi dan instalasi diserahkan kepada pengguna jasa.

1.6.

KETENTUAN-KETENTUAN 1.6.1 Standar Kriteria Beberapa standar kriteria yang digunakan dalam penyusunan Buku Tata Cara Perencanaan, Pelaksanaan, Operasi dan Pemeliharaan Sistem Pompa ini adalah:

Pekerjaan Sipil dan Arsitektural:

KP-04 Irigasi, 2011;

AASHTO (American Association of State Highway Transportation Organisation);

ASTM (American Society for Testing and Materials);

USBR (United State Biro of Reclamation);

ANSI (America National Standards Institute) 98 HI 1998;

Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia, PPBBI 1984;

Peraturan Muatan Indonesia, PMI (pembebanan);

Peraturan Gempa Indonesia;

SNI 03-1729-2002 mengenai Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung;

SNI 02-2406-1991 mengenai Tata Cara Perencanaan Umum Drainase Perkotaan;

SNI No. 03-3424-1994 atau SNI No. 03-1724-1989 SKBI-1.3.10.1987 mengenai Tata Cara Perencanaan Hidrologi dan Hidrolika untuk bangunan di sungai;

SNI 03-1750-1990 mengenai Mutu dan Cara Uji Agregat Beton;

SNI 15-2049-1990 mengenai Mutu dan Cara Uji Semen Portland;

SNI 03-2052-1990 mengenai Baja Tulangan Beton;

SNI 03-6861.1-2002 mengenai Spesifikasi air sebagai Bahan Bangunan;

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

17

Spesifikasi air sebagai Bahan Bangunan; TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 17

SNI 07-2052-2002 mengenai Baja Tulangan Beton;

SNI 7518-2009 mengenai Pompa Rotodinamik-cara uji unjuk kerja hidrolis;

SNI 03-6883-2002 mengenai Spesifikasi Toleransi untuk Konstruksi dan Bahan Beton;

NI-2 Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) 1997;

NI-3 Peraturan Umum untuk Bahan Bangunan Indonesia;

NI-5 Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI);

NI-8 Semen Potland;

Tata Cara Perencanaan Sistem Drainase Perkotaan (Buku Jilid I, Direktorat Pengembangan PLP DJCK Kementerian PU, Edisi tahun

2012);

Tata Cara Pelaksanaan Konstruksi Sistem Drainase Perkotaan (Buku Jilid II, Direktorat Pengembangan PLP DJCK Kementerian PU, Edisi tahun 2012);

Tata Cara Operasi Dan Pemeliharaan Sistem Drainase Perkotaan (Buku Jilid III, Direktorat Pengembangan PLP DJCK Kementerian PU, Edisi tahun 2012);

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi Sistem Drainase Perkotaan (Buku Jilid IV, Direktorat Pengembangan PLP DJCK Kementerian PU, Edisi tahun 2012). Pekerjaan Mekanikal:

SII (Standar Industri Indonesia);

SNI (Standar Nasional Indonesia);

EN (European Norm);

DIN (Deutsche Institute for Norm);

JIS (Japan Industrial Standards);

BS (British Standards);

ASTM (American Society of Testing Materials);

IEC (International Electronic Council);

AISC (American Institute of Steel Construction);

AWS (American Welding Society);

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

18

);  AWS ( American Welding Society ); TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM

SSPC (Steel Structure Painting Council);

ANSI (America National Standards Institute). Pekerjaan Elektrikal:

Peraturan umum instalasi listrik (Perusahaan Umum Listrik Negara, PLN);

Standar yang dikeluarkan oleh Komisi Electrotecnical Internasional (IEC);

Standar yang dikeluarkan oleh Verband Deutscher Elektrotechniker (VDE).

1.6.2.

Komponen Sistem Pompa

Komponen-komponen utama sistem pompa antara lain:

Pompa banjir;

Ruang penampung (wet well);

Rumah pompa (termasuk didalamnya: ventilasi, AC, peralatan tangga, crane dan hoist, peralatan keselamatan kerja/ K3, peralatan keamanan dan perlengkapan pemadam kebakaran, peralatan penangkal petir, pertanahan (grounding);

Pipa penghisap (suction pipe);

Pompa lumpur/ sedimen/ sampah (sump pump);

Pipa buang (discharge pipe), digunakan untuk membawa fluida;

Kolam penampung (storage pond);

Mesin penggerak (motor listrik, mesin bakar);

Peralatan control, panel pompa;

Sumber daya (PLN atau genset);

Sarana pendukung lainnya seperti diantaranya pintu air, trash rack dan pengangkat sampah (rake), pos keamanan, akses jalan, instalasi penerangan dll).

1.6.3. Tahapan Pengembangan Sistem Pompa Proses pengembangan sistem pompa dimulai dari penetapan konsep penanganan di suatu kawasan DPSal (Daerah Pengaliran Saluran)

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

19

kawasan DPSal (Daerah Pengaliran Saluran) TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 19

sebagai kawasan dengan sistem polder (diatur dalam Tata Cara Perencanaan Sistem Drainase Perkotaan, Buku Jilid I, Direktorat Pengembangan PLP DJCK Kementerian Pekerjaan Umum, Edisi tahun 2012). Selain itu juga penetapan konsep penanganan suatu kawasan DPSal juga dibatasi oleh kawasan yang berada pada daerah cekungan dan atau kawasan yang mana elevasi muka air sistem drainasenya lebih rendah dari pada badan air penerima sehingga pembangunan sistem pompa perlu dilakukan.

Dalam dokumen spesifikasi teknis perencanaan, pembangunan maupun operasi dan pemeliharaan sistem pompa harus dijelaskan cakupan pelayanan sistem pompa tersebut dalam sistem drainase yang ada,

yaitu peranan

sistem pompa dalam sistem penanganan genangan

dalam sebuah wilayah DPSal (Daerah Pengaliran Saluran).

Tahapan dalam pengembangan sistem pompa meliputi:

1. Perencanaan (Planning) diantaranya:

a. Pengembangan skematik fasilitas sistem pompa

b. Perencanaan teknis fasilitas (Detailed Design)

c. Rencana-rencana, spesifikasi dan nota perhitungan (Plans, Spesifications and Estimates/PS&E)

2. Pelaksanaan pembangunan,

3. Uji lapangan (commissioning test),

4. Pelatihan,

5. Operasi dan pemeliharaan,

6. Evaluasi kinerja pompa.

Sumber: Highwater Stormwater Pump Station Design 24, February 2001

1.6.4. Persiapan Pelaksanaan Pekerjaan Pertemuan Konsultansi Masyarakat (PKM) PKM dilaksanakan dengan maksud untuk mensosialisasikan untuk mendapatkan masukan dari masyarakat tentang rencana pembangunan sistem pompa. Hasil dari PKM dijadikan masukan dalam pelaksanaan perencanaan maupun dalam pelaksanaan konstruksi sistem pompa,

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

20

dalam pelaksanaan konstruksi sistem pompa, TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 20

sehingga hasil pengembangan sistem pompa dapat diterima oleh semua pihak. Koordinasi Koordinasi Berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) dimaksudkan untuk mensinergikan stakeholders dalam pengembangan dan pembangunan sistem pompa. Stakeholders dalam pembangunan sistem pompa di lapangan antara lain : Bappeda, Dinas Teknis/Bidang Drainase, Dinas PSDA atau BBWS, dsb.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

21

Drainase, Dinas PSDA atau BBWS, dsb. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 21

BAB II POMPA DRAINASE

2.1. KLASIFIKASI POMPA DRAINASE Pada dasarnya pompa drainase mempunyai karakteristik debit besar dan head relatif rendah. Secara umum klasifikasi pompa untuk keperluan pompa drainase dapat diklasifikasikan menjadi 2, yaitu pompa ulir (pompa aliran permukaan bebas) dan pompa impeller (pompa aliran pipa bertekanan) seperti digambarkan sebagai berikut:

Pompa Ulir (pompa aliran permukaan bebas) Pompa Drainase Pompa Aliran Radial (Pompa Sentrifugal) Pompa Impeler
Pompa Ulir
(pompa aliran
permukaan bebas)
Pompa Drainase
Pompa Aliran Radial
(Pompa Sentrifugal)
Pompa Impeler
(pompa aliran pipa
bertekanan)
Pompa Aliran Campur
Pompa Aliran Aksial

Sumber: Pendidikan dan Pelatihan PSDA dan Pantai, Prayogo Endarjo, 2003

Gambar 2.1 Klasifikasi Pompa Drainase

2.1.1. Pompa ulir/screw (pompa aliran permukaan bebas) Pompa ulir/screw terdiri dari rotor tipe ulir/screw, dengan poros miring dan sudu helikal yang dilekatkan pada poros, dan selubung/casing setengah lingkaran, seperti diperlihatkan pada Gambar 2.2 dan 2.3.

lingkaran, seperti diperlihatkan pada Gambar 2.2 dan 2.3. SUMBER: HYDRO DELFT, 1972 Gambar 2.2 Pompa ulir

SUMBER: HYDRO DELFT, 1972 Gambar 2.2 Pompa ulir tipe terbuka.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

22

1972 Gambar 2.2 Pompa ulir tipe terbuka. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA
Sumber: Search Engine Gambar 2.3 Pompa ulir tipe terbuka Pompa ulir digunakan untuk mendapatkan debit

Sumber: Search Engine

Gambar 2.3 Pompa ulir tipe terbuka

Pompa ulir digunakan untuk mendapatkan debit besar dengan head rendah, serta air yang dipompakan terdapat sampah. Prinsip kerja pompa ulir adalah ulir berputar dan volume air yang dibatasi oleh permukaan bebas, sudu-sudu ulir, poros ulir, dan selubung ulir terangkat keatas, secara berkesinambungan, oleh dorongan gerakan ulir dan dikeluarkan di ujung ulir ke tampungan atas untuk selanjutnya dialirkan melalui outlet ke saluran pemasok. Putaran pompa ulir berkisar antara 20 120 rpm dan kemiringan pompa berkisar antara 25 0 35 0 . Gambar 2.4 menjelaskan hubungan antara debit dan efisiensi pompa dengan ketinggian hisap (suction level).

efisiensi pompa dengan ketinggian hisap ( suction level ). Sumber: Hydro Delft, 1972 Gambar 2.4. Hubungan

Sumber: Hydro Delft, 1972 Gambar 2.4. Hubungan antara debit dan efisiensi pompa dengan ketinggian hisap (suction level)

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

23

dengan ketinggian hisap ( suction level ) TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

2.1.2. Pompa impeler (pompa aliran pipa bertekanan) Pompa impeler, berdasarkan bentuk impeler dan selubung pompanya diklasifikasikan dalam tiga tipe utama, yakni pompa aliran aksial, pompa aliran radial (pompa sentrifugal) dan pompa aliran campur. 1) Pompa Aliran Aksial (AxialFlow Pumps) Pompa dijalankan oleh motor, sebagai penggerak utama, yang memutar poros impeler sehingga sudu-sudu impeler berputar dan memaksa cairan masuk ke dalam gerakan berputar yang cepat. Selubung pompa mengarahkan cairan dari bukaan hisap ke mata impeler dan selanjutnya membimbing keluar dari peluar impeler (impeller outlet) masuk ke bukaan tekan. Aliran masuk dari bukaan hisap dalam arah aksial dan keluar dari peluar impeler dalam komponen aliran arah aksial dan tangensial. Untuk pompa aliran aksial, berdasarkan tipe sudu impelernya, dibagi menjadi dua tipe, yaitu tipe sudu tetap dan tipe sudu yang dapat bergerak. Kecepatan spesifik dari pompa aliran aksial berkisar antara 1.300 sampai 2.500 yang mana pompa dengan kecepatan spesifik yang berkisar antara 1.500 sampai 2.500 yang paling sering digunakan. Pompa aksial merupakan pompa dengan karakteristik berkapasitas besar, dan biasanya digunakan untuk memompa dengan head kecil, dengan debit yang besar, sehingga banyak digunakan sebagai pompa banjir.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

24

banyak digunakan sebagai pompa banjir. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 24
Keterangan: 1. Discharge pipe 2. Pump casing 3. Guide vane 4. Suction chamber 5. Impeller
Keterangan:
1. Discharge pipe
2. Pump casing
3. Guide vane
4. Suction chamber
5. Impeller
5

Sumber : Sularso, pompa dan kompresor, 2000 Gambar 2.5. Pompa Aliran Aksial

pompa dan kompresor, 2000 Gambar 2.5. Pompa Aliran Aksial Sumber : Sularso, pompa dan kompresor, 2000

Sumber : Sularso, pompa dan kompresor, 2000 Gambar 2.6. Impeler pompa aliran aksial.

2)

Pompa aliran radial (RadialFlow Pumps) atau pompa sentrifugal Fluida dihisap pompa melalui sisi hisap adalah akibat berputarnya impeler yang menghasilkan tekanan vakum pada sisi hisap. Selanjutnya fluida yang telah terhisap terlempar keluar impeler akibat gaya sentrifugal yang dimiliki oleh fluida itu sendiri. Dan selanjutnya ditampung oleh rumah volut (volute casing) sebelum dibuang kesisi buang. Aliran masuk dari bukaan hisap dalam arah aksial dan keluar dari peluar impeler dalam komponen aliran arah radial dan tangensial. Rumah volut terdiri dari dua tipe, yaitu tipe tunggal dan tipe ganda. Rumah volut tipe ganda digunakan untuk mengurangi dorongan

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

25

tipe ganda digunakan untuk mengurangi dorongan TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 25

radial dan memiliki volut ganda dengan posisi 180 o antara satu dengan yang lainnya, yang membagi cairan menjadi dua dengan jumlah yang sama. Rumah volut tipe Ganda digunakan ketika dorongan radial sangat tinggi karena beban yang besar pada shaft utama dan bearing. Pompa difuser yang sering juga disebut pompa turbin merubah energi kecepatan menjadi energi tekan melalui diffuser (guide vane) yang dipasang di sekeliling impeler. Kecepatan spesifik dari pompa volut berkisar dari 100 sampai 700 dan pompa difuser berkisar antara 100 sampai 250. Sekarang ini pompa difuser jarang digunakan dikarenakan konstruksinya yang kompleks. Pompa sentrifugal biasanya diproduksi untuk memenuhi kebutuhan head medium sampai tinggi dengan kapasitas aliran yang medium. Dalam aplikasinya pompa sentrifugal banyak digunakan untuk kebutuhan proses pengisian ketel dan pompa-pompa rumah tangga.

proses pengisian ketel dan pompa-pompa rumah tangga. Sumber : Sularso, pompa dan kompresor, 2000 Gambar 2.7.

Sumber : Sularso, pompa dan kompresor, 2000 Gambar 2.7. Pompa Aliran Radial (Single Volute Casing)

3)

Pompa Aliran Campur (MixedFlow Pumps) Pompa ini merupakan peralihan antara pompa radial flow dan pompa axial flow. Cara kerja pompa ini hampir sama dengan cara kerja dengan pompa sentrifugal. Casing pompa menuntun aliran cairan dari bukaan hisap menuju mata impeler. Sudu impeler yang berputar meneruskan dan memberikan gaya putar sentrifugal kepada cairan sehingga cairan bergerak menuju keluar impeler dengan kecepatan tinggi. Cairan tersebut kemudian sampai dan

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

26

tinggi. Cairan tersebut kemudian sampai dan TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 26

mengumpul pada bagian terluar casing yaitu volute. Volute ini merupakan area atau saluran melengkung yang semakin lama semakin membesar ukurannya, dan seperti halnya diffusor, volute berperan besar dalam hal peningkatan tekanan cairan saat keluar dari pompa, merubah energi kecepatan menjadi tekanan. Setelah itu cairan keluar dari pompa melalui saluran discharge. Sama dengan pompa aliran aksial, pompa aliran campuran berdasarkan tipe sudu impelernya dibagi menjadi dua tipe, yaitu tipe sudu tetap dan tipe sudu yang dapat bergerak. Kecepatan spesifik dari pompa aliran campur berkisar antara 350 sampai 1300. Pompa aliran campur biasanya digunakan pada pemompaan dengan head dan debit menengah.

digunakan pada pemompaan dengan head dan debit menengah. Sumber : Sularso, pompa dan kompresor, 2000 Gambar

Sumber : Sularso, pompa dan kompresor, 2000

Gambar 2.8. Pompa Aliran Campur (Mixed-flow pump)

2000 Gambar 2.8. Pompa Aliran Campur ( Mixed-flow pump ) Sumber : Sularso, pompa dan kompresor,

Sumber : Sularso, pompa dan kompresor, 2000 Gambar 2.9. Impeler Mixed Flow

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

27

2000 Gambar 2.9. Impeler Mixed Flow TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 27

2.1.3. Pompa Submersibel (Submersible Pumps) Pompa sumersibel atau submersible pumps memiliki motor penggerak yang digabungkan menjadi satu kesatuan dengan impeler dan selubung impeler pompa yang secara keseluruhan dapat terendam air. Sedangkan jenis impelernya bisa dari jenis aliran radial, aliran campur atau aliran aksial. Gambar 2.10 dan Gambar 2.11 memperlihatkan pompa submersibel dengan impeler jenis aliran campur dan aliran aksial.

dengan impeler jenis aliran campur dan aliran aksial. Impeler mixed flow Impeler axial flow Sumber :
dengan impeler jenis aliran campur dan aliran aksial. Impeler mixed flow Impeler axial flow Sumber :

Impeler mixed flow

jenis aliran campur dan aliran aksial. Impeler mixed flow Impeler axial flow Sumber : Sularso, pompa

Impeler axial flow

Sumber : Sularso, pompa dan kompresor, 2000

Gambar 2.10 Pompa Submersibel

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

28

kompresor, 2000 Gambar 2.10 Pompa Submersibel TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 28
Sumber : Highway Stormwater Pump Station Design, Hydraulic Engineering Circular No. 24, February 2001 Gambar

Sumber : Highway Stormwater Pump Station Design, Hydraulic Engineering Circular No. 24, February 2001 Gambar 2.11. Contoh Pompa Submersibel

2.1.4. Pump Gate Pump gate merupakan unit sistem pompa, yang pada banyak kasus tidak diperlukan kolam detensi dan rumah pompa. Komponen pump gate meliputi submersible pump, roller gate, actuator, flap valve, screen (rotary/hidraulic screen), belt conveyor, debris box dan pintu air. Konstruksi pump gate dapat dilihat pada Gambar 2.12, 2.13 dan 2.14.

pump gate dapat dilihat pada Gambar 2.12, 2.13 dan 2.14. Gambar 2.12 Potongan Pump Gate Tipe

Gambar 2.12 Potongan Pump Gate Tipe Vertikal Shaft

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

29

2.12 Potongan Pump Gate Tipe Vertikal Shaft TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA
Gambar 2.13 Potongan Pump Gate Tipe Horizontal Shaft Gambar 2.14 Aplikasi Pump Gate Pada Saluran

Gambar 2.13 Potongan Pump Gate Tipe Horizontal Shaft

Gambar 2.13 Potongan Pump Gate Tipe Horizontal Shaft Gambar 2.14 Aplikasi Pump Gate Pada Saluran Drainase

Gambar 2.14 Aplikasi Pump Gate Pada Saluran Drainase

2.1.5. Pompa Lumpur (Sludge Pump) Pompa lumpur atau sludge pump pada dasarnya adalah pompa submersibel dengan spesifikasi khusus untuk pemompaan lumpur. Pada instalasi sistem pompa drainase, pompa lumpur ditempatkan di kolam pompa (pump sump) untuk membersihkan lumpur yang dapat mengganggu fungsi pompa drainase.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

30

yang dapat mengganggu fungsi pompa drainase. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 30
Gambar 2.15 Pompa Lumpur 2.1.6. Perbandingan Pompa Ulir dan Pompa Impeller Kelebihan pompa ulir dibandingkan

Gambar 2.15 Pompa Lumpur

2.1.6. Perbandingan Pompa Ulir dan Pompa Impeller Kelebihan pompa ulir dibandingkan dengan pompa impeller:

Kecepatan putarnya rendah, bervariasi dari 1/3 putaran per detik untuk ulir dengan diameter besar sampai 2 putaran per detik untuk ulir dengan diameter kecil, sehingga keausan dapat diabaikan dan kavitasi tidak terjadi;

Ruang antara sudu-sudu cukup besar, sehingga dapat menampung air yang mengandung banyak sampah;

Distribusi aliran di bagian penghisapan tidak mempengaruhi perilaku hidrolik, sehingga kolam hisap dapat dibuat sederhana;

Di atas ketinggian hisap tertentu, debit selalu konstan sementara efisiensi cukup baik;

Di bawah ketinggian hisap tertentu, debit berkurang sementara efisiensi cukup baik;

Ulir dapat berputar terus tanpa adanya resiko kerusakan meskipun pasokan air terhenti;

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

31

kerusakan meskipun pasokan air terhenti; TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 31

Konstruksi ulir terbuka sehingga memungkinkan untuk memeriksa seluruh operasi pengangkatan air;

Dalam keadaan tertentu, pondasi ulir tidak perlu sedalam pondasi pompa impeller. Kekurangan pompa ulir dibandingkan dengan pompa impeller:

Dimensi ulir lebih besar dari pada dimensi pompa impeller karena selama proses pengangkatan air tetap bertekanan atmosfir;

Kemampuan ulir terbatas pada kondisi pemompaan dari reservoir terbuka ke reservoir terbuka. Tidak dimungkinkan untuk menghubungkan dengan jaringan pipa bertekanan;

Untuk dapat beroperasi dengan efisiensi yang cukup baik, ketinggian hisap harus diatas suatu nilai tertentu;

Tinggi angkat terbatas, karena aliran balik melalui tepi luar sudu akan banyak mengurangi jumlah air yang dapat dipindahkan apabila tinggi angkat terlalu besar;

Seluruh struktur bangunan dilaksanakan dengan presisi yang baik serta sesuai standar teknik yang berlaku untuk menjaga agar celah antara tepi luar ulir yang berputar dengan selubung tetap kecil agar aliran balik tidak terlalu besar. Perbandingan lainnya antara pompa ulir dan pompa impeller dapat dilihat pada Tabel 2.1 di bawah ini.

Tabel 2.1 Perbandingan Pompa Ulir dan Pompa Impeller

 

Pompa Ulir

Pompa Impeller

Dimensi

- Lebih besar dari pompa Impeller sehingga lebih berat.

- Dimensi pompa lebih kecil

- Poros pompa berbentuk kipas

- Poros pompa berbentuk Screw/ Ulir

- Bentuk pompa lebih sederhana

- Lebih rumit dan presisi

Harga

- Mahal karena desainnya perlu ketelitian dan kepresisian serta toleransi yang tinggi

Pada aliran volum yang sama harga pembelian lebih murah

- Material besar, harga tinggi

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

32

murah - Material besar, harga tinggi TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 32

Penggunaan

- Dapat digunakan di cairan yang mempunyai kekentalan tinggi (limbah, lumpur dll)

- Cocok untuk cairan yang viskositasnya rendah - Harganya yang murah dan

- Cocok digunakan untuk pemindahan air karena kapasitasnya yang besar

sederhana sehingga banyak dipilih untuk pompa drainase - Lebih sedikit memerlukan

- Lebih tahan terhadap sampah

tempat.

Beberapa jenis pompa diatas merupakan jenis-jenis pompa drainase, yang pada umumnya bisa digunakan untuk mengatasi permasalahan drainase di suatu daerah.

Dari uraian yang sudah dipaparkan di atas, jenis dan karakteristik pompa untuk sistem drainase dapat diichtisarkan seperti terlihat pada Tabel 2.2 di bawah ini.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

33

seperti terlihat pada Tabel 2.2 di bawah ini. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM

Tabel 2.2 Jenis dan Karakteristik Pompa untuk Sistem Drainase

JENIS

KARAKTERISTIK

KETERANGAN

POMPA ULIR

Debit menengah dan Head rendah,

Direkomendasikan apabila lahan relatif besar dan jauh dari pemukiman penduduk

(SCREW PUMP)

Sampah juga bisa terambil. Dengan range:

Q (200 - 500.000) gpm (0,757 - 1.892) m 3 /menit dan H (3 - 20 ) ft, (1 - 6) m.

Bentuk kurva hubungan head dan debit mendatar karena debit aliran konstan.

 

Dapat dioperasikan kapan saja tanpa perlu dipanasi terlebih dahulu.

Pada saat dioperasikan Head mengalami fluktuasi namun debit aliran konstan.

Komponen pompanya sederhana diantaranya peredam kecepatan, universal coupling, tangkai ulir yang panjang dan oli sebagai pelumas.

Dimensinya besar dan agak berat.

Membutuhkan rumah pompa yang besar.

Cara pengoperasian relatif mudah namun membutuhkan perawatan rutin.

Penggantian komponen pompa sulit dilakukan.

Harga pompa jenis ini relatif mahal.

Pompa ulir membutuhkan lahan yang relatif luas dan kebisingan relatif besar.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTIM POMPA

34

relatif luas dan kebisingan relatif besar. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTIM POMPA 34

JENIS

KARAKTERISTIK

KETERANGAN

POMPA ALIRAN AKSIAL (AXIAL FLOW)

Debit besar dan Head rendah

Direkomendasikan apabila lahan relatif besar

Dengan range:

 

Q (200 - 500.000) gpm (0,757 - 1.892) m 3 /menit dan H (3 - 20 ) ft, (1 - 6) m

 

Hubungan antara Debit dan Head ditunjukkan melalui kurva miring kebawah (down ward-sloping curve).

Head dapat diatur sesuai dengan kebutuhan.

Komponen pompa agak rumit.

Membutuhkan komponen tambahan berupa seal pompa, fasilitas cooling water, pump priming.

Dimensinya besar dan agak berat.

Membutuhkan rumah pompa yang besar.

Cara pengoperasian yang mudah namun membutuhkan perawatan pada fasilitas pump priming.

Penggantian komponen yang rusak sulit untuk dilakukan.

Harganya mahal.

Pompa aliran aksial membutuhkan lahan yang relatif luas.

POMPA ALIRAN RADIAL (RADIAL FLOW)

Debit medium dan Head medium-tinggi Dengan range :

Direkomendasikan apabila lahan relatif besar

Q (0,5 - 1,5 m 3 /dt) dan H (20 - 60) m Pompa aliran radial membutuhkan lahan yang relatif luas.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTIM POMPA

35

radial membutuhkan lahan yang relatif luas. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTIM POMPA 35

JENIS

KARAKTERISTIK

KETERANGAN

POMPA ALIRAN CAMPURAN (MIXED FLOW)

Debit besar dan Head relatif menengah. Dengan range:

 

Q (2000 - 500.000) gpm (7,57 - 1.892) m 3 /menit dan H (20 - 150) ft, (6 - 45) m Pompa aliran campuran membutuhkan lahan yang relatif luas.

Direkomendasikan apabila lahan relatif besar

POMPA SUBMERSIBLE (SUBMERSIBLE PUMP/ MIXED FLOW)

Debit besar dan Head relatif menengah. Dengan range:

Dapat diaplikasikan pada daerah yang lahannya sempit

Q (200 - 500.000) gpm (0,757 - 1.892) m 3 /menit dan H (20 - 150 ) ft, (6 - 45) m.

 

Hubungan antara Debit dan Head ditunjukkan melalui kurva miring kebawah (down ward-sloping curve).

 

Dapat dinyalakan kapan saja tanpa perlu dipanasi terlebih dahulu.

Head dapat diatur sesuai dengan kebutuhan.

Komponennya sederhana dan tidak memerlukan komponen tambahan untuk operasional.

Dimensi pompa kecil dan ringan.

Tidak membutuhkan rumah pompa yang besar.

Cara pengoperasian yang mudah tanpa komponen tambahan, tapi agak rumit dalam penggantian seal pompa.

Jika ada kerusakan, penggantian komponen mudah.

Harga pompa agak mahal.

Kualitas material harus tahan korosi.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTIM POMPA

36

 Kualitas material harus tahan korosi. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTIM POMPA 36

JENIS

 

KARAKTERISTIK

KETERANGAN

PUMP GATE(*

Diaplikasikan pada saluran drainase dengan lebar minimal: 0,85 -3,38

Diaplikasikan pada kawasan yang tidak tersedia lahan untuk pembangunan Kolam Detensi dan rumah pompa.

m

dengan tinggi minimal 1,0-2,25. Dengan range:

Q

(8 - 280) m 3 /menit.

Power Output (Kw) 7,5 400 Head (1,8 -12 meter)

Kualitas material harus tahan korosi.

 

Space kecil dan multi fungsi.

Tidak boleh ada sampah (kondisi air harus bersih) supaya gate dapat tertutup dan terbuka dengan sempurna.

POMPA LUMPUR

Digunakan untuk memompa lumpur. Dengan range :

Untuk memompa cairan yang mengandung lumpur

(SLUDGE PUMP)

Q

(200500.000) gpm

(0,757-1.892) m 3 /menit dan H (20 - 150 ) ft, (6-45) m. Kualitas material harus tahan korosi.

 

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTIM POMPA

37

material harus tahan korosi.   TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTIM POMPA 37

2.2. BEBERAPA HAL YANG PERLU DIPAHAMI DALAM MERENCANAKAN SISTEM POMPA DRAINASE Dalam merencanakan sistem pompa drainase diperlukan pemahaman atas beberapa hal yang meliputi pemahaman tentang efisiensi pompa (η), daya yang dibutuhkan pompa (P s ), kecepatan spesifik pompa (n s ), hukum-hukum keserupaan pompa, kavitasi, tinggi hisap positif neto (net positive suction head - NPSH), pemilihan penggerak mula, motor listrik, konversi unit, standar proteksi/index protection (IP).

2.2.1. Hukum-Hukum Keserupaan Pompa Karakteristik hidraulik dari dua buah pompa yang identik baik desain maupun bentuknya, yang disebut sebagai pompa-pompa yang mempunyai kesesuaian (comfortable pumps), namun ukurannya berbeda dan kecepatan impelernya juga berbeda, satu dengan yang lain dihubungkan oleh hukum- hukum keserupaan. Jika karakteristik hubungan debit dan head, dan hubungan debit dan daya dari suatu pompa yang ada diketahui, maka dimungkinkan untuk memperkirakan karakteristik yang serupa untuk suatu pompa lain yang mempunyai kesesuaian dengan pompa yang ada sebelumnya, dengan ukuran dan kecepatan yang berbeda dengan pompa yang ada.

Tinggi hukum keserupaan tak berdimensi adalah sebagai berikut:

Q e /Q c = (D e /D c ) 3 . (n e /n c )

2.1

H e /H c = (D e /D c ) 2 . (n e /n c ) 2

2.2

P e /P c = (D e /D c ) 5 . (n e /n c ) 3

2.3

Dimana:

D = Diameter peluar impeler Subkrib e menunjuk pada pompa yang ada, subkrib c menunjuk pada pompa lain yang mempunyai kesesuaian dengan pompa yang ada.

Berdasarkan hukum-hukum keserupaan, dapat diturunkan satu set persamaan-persamaan yang disederhanakan untuk menentukan karakteristik hidraulik dari suatu pompa dengan dimensi yang sama dengan

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

suatu pompa dengan dimensi yang sama dengan TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

38

pompa yang ada dan hanya kecepatan impelernya yang berbeda sebagai berikut:

Q e /Q c = (n e /n c )

2.4

H e /H c = (n e /n c ) 2

2.5

P e /P c = (n e /n c ) 3

2.6

η e = η c

2.7

2.2.2. Kavitasi Proses terjadinya kavitasi, pada saat dimana pada impeller pompa terjadi tekanan rendah, dan biasanya nilai tekanan rendah ini dibatasi pada nilai tekanan uap pada temperatur normal dari cairan yang dipompa. Pada saat tekanan rendah mencapai nilai tekanan uap, cairan mulai mendidih dan membentuk gelembung-gelembung yang selanjutnya terangkut bersama cairan. Ketika gelembung-gelembung ini mencapai daerah bertekanan lebih tinggi, gelembung-gelembung ini pecah. Gejala ini dikenal sebagai kavitasi dan kejadiannya disertai dengan bunyi yang tipikal. Pada pompa-pompa kecil, terjadi getaran ringan sebagai akibat dari suara kavitasi ringan seperti “menggoreng daging”, sedangkan pada pompa-pompa besar, terjadi getaran berat sebagai akibat dari suara kavitasi berat seperti “memompa batu-batu”. Kavitasi secara umum akan berdampak sebagai berikut:

Berkurangnya kapasitas pompa;

Berkurangnya head (pressure);

Terbentuknya gelembung-gelembung udara pada area bertekanan di dalam selubung pompa (volute);

Kerusakan pada impeller atau selubung pompa (volute);

Suara pompa bising, getaran dan korosi.

Beberapa cara dapat digunakan untuk menghindari kavitasi diantaranya:

1. Tekanan sisi isap tidak boleh terlalu rendah. Pompa tidak boleh diletakkan jauh di atas permukaan cairan yang dipompa sebab menyebabkan head statisnya besar; 2. Kecepatan aliran pada pipa isap tidak boleh terlalu besar. Bagian yang

mempunyai kecepatan tinggi maka tekanannya akan rendah. Oleh karena

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

maka tekanannya akan rendah. Oleh karena TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 39

39

itu besarnya kecepatan aliran harus dibatasi, caranya dengan membatasi diameter pipa isap tidak boleh terlalu kecil;

3. Menghindari instalasi berupa belokan-belokan tajam Pada belokan yang tajam kecepatan aliran fluida akan meningkat sedangkan tekanan fluida akan turun sehingga menjadi rawan terhadap kavitasi;

4. Pipa isap dibuat sependek mungkin, atau dipilih pipa isap satu nomer lebih tinggi untuk mengurangi kerugian gesek;

5. Tidak menghambat aliran cairan pada sisi isap;

6. Head total pompa harus sesuai dengan yang diperlukan pada kondisi operasi sesungguhnya.

2.2.3. Tinggi Hisap Positif Netto (Net Positive Suction Head-NPSH) Perilaku kavitasi pada impeller pompa dijelaskan dengan lengkung debit- NPSH, seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

working point s NPSH H H NPSH Q s 0 Discharge Q Sumber: Pendidikan dan
working point
s
NPSH
H
H
NPSH
Q s
0
Discharge Q
Sumber: Pendidikan dan Pelatihan PSDA dan Pantai, Prayogo Endarjo, 2003
Gambar 2.16 Hubungan Debit-NPSH

NPSH didefinisikan sebagai selisih antara tinggi energi absolut (tinggi tekanan statik absolut + tinggi kecepatan) pada bukaan hisap pompa dan tinggi tekanan uap pada temperatur normal dari cairan yang dipompa, diukur dari pusat bukaan hisap pompa seperti dijelaskan pada gambar 2.17.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

pompa seperti dijelaskan pada gambar 2.17. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 40

40

absolute energy level at suction opening

hv

h v
h v NPSH
NPSH

NPSH

absolute energy level at suction opening h v NPSH h 0 energy level at suction opening

h0

absolute energy level at suction opening h v NPSH h 0 energy level at suction opening

energy level at suction opening

HA

vapour pressure level

level of suction opening of pump
level of suction opening of pump
suction opening pressure opening
suction opening
pressure opening

Sumber: Pendidikan dan Pelatihan PSDA dan Pantai, Prayogo Endarjo, 2003

Gambar 2.17 Ilustrasi NPSH

Formula untuk perhitungan NPSH, sesuai SNI 7518:2009 adalah sebagai berikut:

NPSH= H -Z D +

2.8

Dimana: NPSH adalah tinggi hisap positif bersih (m) adalah tekanan atmosfir (Pa)

adalah tekanan uap jenuh dari fluida yang digunakan (Pa)

H

adalah tinggi hisap diukur terhadap bidang referensi

pompa

(meter kolom fluida, m)

Z D

adalah perbedaan tinggi antara bidang referensi NPSH dan

bidang referensi

ρ

adalah massa jenis fluida yang dipindahkan (kg/m 3 )

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

jenis fluida yang dipindahkan (kg/m 3 ) TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

41

g adalah percepatan gravitasi, m/det 2

Tekanan udara absolut pada permukaan laut sekitar 10 m (1 bar). Tinggi tekanan uap dari air tawar pada temperatur 15 0 C sampai 30 0 C adalah 0,4 m (0,04 bar). Disamping nilai NSPH, didalam praktek digunakan juga bilangan tak berdimensi Thoma, σ (lihat gambar 2.16), yang didefinisikan sebagai:

2.9

dimana:

σ

= Bilangan Thoma (-);

NPSH

= NPSH pada debit normal (m);

H

= Tinggi angkat pompa pada debit normal (m)

Lengkung debit-NPSH pada gambar 2.16 memberikan indikasi tinggi tekanan yang dibutuhkan pada bukaan hisap pompa agar tekanan di pompa selalu diatas nilai tertentu untuk mencegah apa yang disebut sebagai “besar kavitasi tertentu”. Besar kavitasi yang dapat ditoleransi merupakan persoalan ekonomik. Sebagai contoh, apabila dipakai kriteria tanpa kavitasi sama sekali, maka diperlukan nilai NPSH yang tinggi, sehingga pompa harus ditempatkan pada posisi yang sangat rendah. Berdasarkan hasil sejumlah pengetesan kavitasi terhadap berbagai tipe

pompa, dibuat lengkung hubungan antara kecepatan spesifik pompa, n sq , pada titik efisiensi terbaik, dan nilai bilangan Thoma, σ, minimum dimana kinerja pompa yang baik masih dijamin (Gambar 2.18). Lengkung ini dibuat berdasarkan penurunan tinggi sebesar 0,1 sampai 0,2 % dibandingkan

dengan kondisi pemompaan tanpa kavitasi.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

dengan kondisi pemompaan tanpa kavitasi. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 42

42

2.00 1.50 1.00 0.80 0.60 0.50 0.40 0.30 0.20 0.15 0.10 0.08 0.06 0.05 0.04
2.00
1.50
1.00
0.80
0.60
0.50
0.40
0.30
0.20
0.15
0.10
0.08
0.06
0.05
0.04
0.03
100 200
300
400
600
800
1000
1500
2000
Kecepatan spesifik n
S = 1.200
Koefisien Kavitasi

Sumber: SNI 7518-2009 Gambar 2.18 Hubungan antara koefisien kavitasi dengan kecepatan spesifik (n s )

Untuk menghindari terjadinya “besar kavitasi tertentu”, NPSH yang tersedia untuk setiap pompa dan sistemnya harus lebih tinggi dari pada NPSH yang dibutuhkan oleh pabrik untuk kriteria tipikal tersebut. Dalam tahap permulaan pekerjaan, kebutuhan bilangan Thoma dan selanjutnya NPSH dapat ditentukan dengan menggunakan Gambar 2.18.

2.2.4. Pemilihan Penggerak Mula Dalam merencanakan instalasi pompa, sering kali dipertanyakan apakah

akan digunakan motor listrik atau motor torak sebagai penggerak mula. Untuk menentukan mana yang tepat bagi setiap kasus, harus dilihat kondisi kerja dan tempatnya, karena kedua jenis penggerak mula tersebut mempunyai keuntungan dan kerugiannya masing-masing. A. Motor Listrik

1. Keuntungan motor listrik

Jika tenaga listrik dari PLN atau sumber lain tersedia dengan tegangan yang sesuai di sekitar tempat tersebut, maka penggunaan motor listrik dapat memberikan ongkos yang murah.

Pengoperasian lebih mudah.

Ringan dan hampir tidak menimbulkan getaran.

Pemeliharaan dan pengaturan mudah.

2. Kerugian motor listrik

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

pengaturan mudah. 2. Kerugian motor listrik TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 43

43

Jika listrik padam, pompa tidak dapat bekerja sama sekali.

Jika pompa jarang dipakai, biaya operasinya akan tinggi karena biaya beban tetap harus dibayar.

Jika lokasi pompa jauh dari jaringan distribusi listrik yang ada, maka biaya penyambungan tenaga listrik akan mahal.

B. Motor torak

1. Keuntungan

Operasi tidak tergantung pada tenaga listrik.

Biaya fasilitas tambahan dapat lebih rendah dari pada motor listrik.

2. Kerugian

Motor torak lebih berat dari pada motor listrik.

Memerlukan air pendingin yang jumlahnya cukup besar.

Getaran dan suara mesin sangat besar.

2.2.5. Motor Elektrikal/Listrik Motor elektrikal/ listrik adalah motor yang mengubah energi elektrik menjadi energi mekanik. Motor elektrikal dapat diklasifikasikan menjadi 2 tipe, yaitu motor AC dan motor DC. Pada umumnya tipe motor penggerak drainase yang banyak digunakan diantaranya aInduction Motor, 3-Phase Induction Motor, Cage Type. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.19 di bawah ini:

Cage Type 3-Phase Induction Motor Induction Wound Rotor Motor Single Phase Induction Motor Synchronous AC
Cage Type
3-Phase
Induction Motor
Induction
Wound Rotor
Motor
Single Phase
Induction Motor
Synchronous
AC
Motor
Motor
Commutator
Motor
Electric Motor
DC
Motor

Sumber Engineering Manual for Irrigation & Drainage, ”Pump Facilities”, The Japanese Institute of Irrigation and Drainage, 1991.

Gambar 2.19 Tipe Motor Elektrik

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

1991. Gambar 2.19 Tipe Motor Elektrik TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 44

44

Bagian-bagian motor listrik antara lain: rumah motor, sistem ventilasi, sistem pendingin dan sistem perlindungan. Pada umumnya motor elektrik terdiri dari porsi stasioner (stator) dan porsi rotasi (rotor). Baik stator maupun rotor mempunyai winding (kumparan), dan hubungan antara medan gaya dihasilkan oleh stator dan rotor menghasilkan rotasi. Motor AC adalah motor elektrikal/ listrik yang digerakkan oleh arus bolak- balik. Motor AC terdiri dari dua bagian utama, yaitu stasioner luar berupa kumparan stator yang dialiri dengan arus bolak-balik untuk menghasilkan medan magnet yang berputar, dan rotor di dalam melekat pada batang output yang diberikan torsi oleh medan berputar. Ada dua jenis motor AC, tergantung pada jenis rotor yang digunakan diantaranya sebagai berikut:

1. Motor Induksi (Induction Motor) Motor induksi dibagi menjadi dua tipe: squirrel cage dan wound rotor. Pada umumnya motor induksi digunakan untuk driver pump dikarenakan motor induksi mudah dalam pemasangan, pengoperasian dan harganya relatif lebih murah dibanding driver lainnya. Perbandingan squirrel cage dan wound rotor dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 2.3 Perbandingan antara motor induksi tipe squirrel cage dan wound rotor

Variabel Pembanding

Tipe Squirrel Cage

Tipe Wound Rotor

Konstruksi

Sederhana

Agak komplek

Arus Awal

Besar (500 650%)

Small (100 150%)

Torsi Awal

100 150%

100 150%

Efisiensi Torsi

Rendah

Tinggi

Efisiensi

Hampir sama dengan tipe wound rotor

Hampir sama dengan tipe squirrel cage

Faktor Daya

Hampir sama dengan tipe wound rotor

Hampir sama dengan tipe squirrel cage

Slip

Hampir sama dengan tipe wound rotor

Hampir sama dengan tipe squirrel cage

Pemeliharaan

Rendah

Agak tinggi

Metode Start

Line-start atau reduced voltage start

Secondary resistance start

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

voltage start Secondary resistance start TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 45

45

2. Synchronous Motor Synchronous Motor mempunyai kutub magnetik pada motornya. Metode untuk menggunakannya sama dengan motor induksi tipe squirrel cage. Fitur yang ada pada synchronous motor yang tidak ada pada motor induksi tipe squirrel cage adalah faktor tenaga yang dapat mudah menyesuaiankan dan motor dapat dioperasikan pada kecepatan yang tetap meskipun beban torsi (load torque) berubah. Dikarenakan synchronous motor dapat menghasilkan daya yang maksimal, sehingga arus yang hilang dapat dikompensasikan sehingga harga daya dan kapasitas kawat dapat dikurangi. Synchronous Motor biasanya digunakan pada mesin drive yang dioperasikan pada kecepatan yang tetap atau terus-menerus untuk periode yang panjang, dan digunakan untuk kapasitas sebesar 100 kW atau lebih dengan 16 kutub.

Tabel 2.4 Perbandingan antara synchrounous motor dan motor induksi

Variabel Pembanding

Synchrounous Motor

Motor Induksi

Arus Awal

Hampir sama dengan motor induksi tipe squirrel cage:

Besar (500 650%) untuk tipe squirrel cage; Small (100

500

650%

150%) untuk tipe wound rotor

Torsi Awal

100

150%

100 150%

Efisiensi Torsi

Rendah

Tinggi

Efisiensi

Lebih besar dari motor induksi

Sedikit lebih rendah dari synchronous motor

Faktor Daya

100

%

Lagging

Slip

Tidak ada

1 4%

Exciting Device

Diperlukan

Tidak diperlukan

Harga Perlengkapan

Lebih tinggi dibanding motor induksi

Lebih kecil dibanding synchronous motor

Harga Operasi

Lebih rendah dibanding motor induksi

Lebih tinggi dibanding synchronous motor

Pemeliharaan

Agak tinggi

Rendah

3. Motor Pembalik (Commutator Motor) Motor pembalik adalah kombinasi dari motor dengan regulator voltase untuk mengatur kecepatan rotasi.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

voltase untuk mengatur kecepatan rotasi. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 46

46

a) Motor dipasang dengan sebuah rotor dan dikoneksikan dengan sumber daya. Pemasangan rotor serupa dengan motor DC. Winding disambung ke pembalik, winding utama membawa arus rotor dan winding yang lain yang terletak di bawah alur rotor menahan percikan dan meningkatkan pemulihan.

b) Regulator voltase untuk mengatur kecepatan rotasi tersedia untuk shaft vertikal dan horisontal. Regulator untuk voltase kapasitas rendah adalah untuk shaft vertikal sedangkan voltase kapasitas tinggi adalah untuk tipe shaft horisontal. Regulator voltase terdiri dari kombinasi dari regulator induksi regulator tipe single dan transformer. Regulator voltase memiliki stator dan rotor winding dan pengaturan posisi yang saling terhubung antara stator dan rotor winding yang merubah keluaran voltase dan mengatur kecepatan rotasi. Stator winding disambung ke sumber daya dan rotor winding ke motor brush.

Motor DC memerlukan suplai tegangan yang searah pada kumparan medan untuk diubah menjadi energi mekanik. Kumparan medan pada motor DC disebut stator dan kumparan jangkar disebut rotor. Jika terjadi putaran pada rotor medan magnet, maka akan timbul tegangan (GGL) yang berubah-ubah arah pada setiap setengah putaran. Prinsip kerja dari arus searah adalah membalik phasa tegangan dari gelombang yang mempunyai nilai positif dengan kumparan jangkar yang berputar dalam medan magnet. Bentuk motor paling sederhana memiliki kumparan satu lilitan yang bisa berputar bebas di antara kutub-kutub magnet permanen. 2.2.6.1. Daya Motor dan Kecepatan Rotasi Motor 1. Daya Motor Daya motor ditentukan dengan membuat kelonggaran daya shaft yang ditentukan dengan mempertimbangkan tipe dan kondisi operasi dari pompa. Kelebihan kelonggaran akan meningkatkan harga perlengkapan dan operasi. Daya motor merupakan fungsi dari arus voltase, faktor daya dan efisiensi seperti yang terdapat pada formula dibawah ini.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

yang terdapat pada formula dibawah ini. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 47

47

P =

Dimana:

E .

I

.

Pf . η

P

= Daya motor

Pf

= Faktor daya

E

= laju voltase

η

= efisiensi

I

= beban arus maksimal

2.10

2. Kecepatan Rotasi Motor Kecepatan rotasi motor dapat dilihat pada formula dibawah ini:

N sy = 120 f / p

2.11

Dimana:

N sy = Kecepatan motor tipe synchronous

f

= Frekuensi

p

= jumlah pole pada motor

2.2.6.2. Voltase Motor Voltase bergantung pada kapasitas pompa. Apabila pompa yang direncanakan merupakan kapasitas dengan debit besar, maka akan berpengaruh pada diameter kabel. Apabila tegangan tinggi, arus rendah maka dimensi kabel kecil. Pada umumnya laju voltase motor meningkat sebanding dengan meningkatnya laju keluaran daya.

Voltase yang tersedia sebagai berikut:

Voltase rendah : Kelas 200 V, Kelas 400 V

Voltase tinggi : Kelas 3000 V, Kelas 6000 V (khusus untuk pompa kapasitas besar) Voltase tinggi jarang digunakan untuk pompa sedangkan untuk industri sering menggunakan voltase yang tinggi.

2.2.6.3. Metode Start Motor 1) Metode start untuk motor induksi tipe squirrel cage Motor induksi tipe squirrel cage mempunyai kelebihan antara lain mudah dalam pemasangan, konstruksinya kuat dan harganya murah. Motor induksi tipe squirrel cage memiliki arus awal sebesar 500 650% dari tingkat nilai dan faktor tenaga permulaan cukup

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

nilai dan faktor tenaga permulaan cukup TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 48

48

rendah antara 15 30%. Pada motor tipe ini, sumber daya yang kecil menyebabkan voltase itu dapat turun, yang menyebabkan kerugian pada perlengkapan lain yang berada pada sistem tersebut. Oleh karenanya, pada motor induksi tipe squirrel cage, arus awal harus dibatasi dengan mengurangi voltase awal. Kondisi yang perlu pada motor untuk mengakselerasi pompa adalah jika T m > T p. Dengan perkataan lain, torsi motor (T m ) harus lebih besar dari pada pompa gaya tahan torsi (T p ). ΔT A = T m - T p , dimana ΔT A adalah akselerasi torsi pompa. Jika akselerasi torsi pompa terlalu rendah, maka waktu start menjadi lebih lama. Apabila torsi motor dan pompa resisten membuat kurva yang saling melintas maka pompa tidak dapat lagi diakselerasi. Jika ΔT A tinggi maka arus awal menjadi besar. Oleh karenanya penting dipilih metode start yang sesuai untuk pompa untuk tujuan perawatan pompa. Berikut beberapa metode start yang sering digunakan dalam pompa drainase:

a. Metode Direct On Line (DOL) Metode line-start merupakan metode starter yang paling sederhana yang mana motor distarter secara langsung untuk menghasilkan laju voltase pada motor tersebut. Metode ini dapat menghasilkan akselerasi torsi yang tinggi dan metode ini hanya digunakan pada motor yang relatif memiliki kapasitas rendah karena kapasitas sumber daya rendah menyebabkan voltase turun menjadi tinggi. Starter model ini sangat banyak dipakai saat ini, terutama untuk motor motor kecil. Komposisi komponennya terdiri dari satu contactor dan satu proteksi arus dengan TOR atau elektronik. Kelemahan starter model ini adalah kemungkinan timbulnya arus start yang sangat tinggi. biasanya bisa mencapai 6 sampai 7 kali. Pada saat starter ini di start, torsi saat start ini juga sangat tinggi dan biasanya lebih tinggi dari kebutuhan. Ini dapat terlihat adanya lonjakan/ gerakan yang keras saat motor di start. Tingginya torsi start ini juga akan memberikan tekanan

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

torsi start ini juga akan memberikan tekanan TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

49

lebih pada coupling dan beban. Komponen penyusun starter ini harus mempunyai ampacity yang cukup besar. Perlu diperhitungkan juga arus saat start motor, demikian juga ukuran range overloadnya. b. Metode Start Star-delta (-Δ) Starter ini mengurangi lonjakan arus dan torsi pada saat start. Tersusun atas 3 buah contactor yaitu Main Contactor, Star Contactor dan Delta Contactor, Timer untuk pengalihan dari Star ke Delta serta sebuah overload relay. Pada saat start, starter terhubung secara Star. Gulungan stator hanya menerima tegangan sekitar 0,578 (seper akar tiga) dari tegangan line. Jadi arus dan torsi yang dihasilkan akan lebih kecil dari pada DOL Starter. Setelah mendekati speed normal starter akan berpindah menjadi terkoneksi secara Delta. Starter ini akan bekerja dengan baik jika saat start motor tidak terbebani dengan berat. Pada metode start star-delta (-Δ), stator winding dari motor adalah start secara eksternal tersambung selama dijalankan sehingga voltase pada setiap fase dari winding berkurang

sebesar 1/3, dan delta terkoneksi setelah akselerasi. Melalui metode ini, arus awal dan torsi yang dipergunakan sebesar 1/3 dari metode line-start. Kelemahan metode ini antara lain sebagai berikut: Sumber daya tidak dikoneksikan untuk peralihan dari star to delta menyebabkan arus yang cepat dan besar dapat mengalir karena keluar dari fase dengan sumber daya ketika peralihan berakhir pada koneksi delta terjadi. Meskipun arus yang cepat ini terjadi untuk periode singkat, voltase turun menjadi lebih besar jika generator lebih rendah kapasitasnya dari motor yang digunakan. Pada perhitungan kapasitas generator, arus awal seharusnya sebesar 2/3. Jika kapasitas generator dipengaruhi oleh arus yang cepat, metode starter start-delta harus dihentikan, dengan

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

starter start-delta harus dihentikan, dengan TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 50

50

cara mengkoneksikan sebuah resisten ke motor sehingga motor tidak tersambung dari sumber daya ketika daya dibutuhkan untuk koneksi delta. Pada saat ini arus tiba- tiba/arus cepat tidak terlalu bermasalah jika sumber daya tersebut adalah sebuah transformer. Metode start star-delta digunakan untuk motor dengan voltase yang rendah dan menggunakan konektor yang murah. c. Soft Starter Softstarter sangat berbeda dengan starter lain. Alat ini mempergunakan thyristor sebagai komponen utamanya. Tegangan yang masuk ke motor akan diatur dimulai dengan sangat rendah sehingga arus dan torsi saat start juga rendah. Pada saat start ini tegangan yang masuk hanya cukup untuk menggerakkan beban dan akan menghilangkan kejutan pada beban. Secara perlahan tegangan dan torsi akan dinaikan sehingga motor akan mengalami percepatan kehingga tercapai kecepatan normal. Salah satu keuntungan mempergunakan alat ini adalah kemungkinan dilakukannya pengaturan torsi pada saat yang diperlukan, tidak terpengaruh ada atau tidaknya beban. d. Metode Inverter Metode Inverter (VFD) bekerja dengan prinsip tegangan AC dikonversi menjadi tegangan DC. Tegangan DC tersebut kemudian diubah kembali menjadi pulsed DC yang nilai RMS- nya mensimulasikan tegangan AC. Frekuensi output dari tegangan AC biasanya bervarisai antara 0 sampai dengan line frequency sesuai masukan AC. Pada penggunaan tertentu frekuensi dapat bekerja diatas dari line frequency. Meskipun kinerja tinggi yang diatur AC drive mampu beroperasi dalam mode "torsi" yang tersedia, tegangan yang lebih umum per drive hertz yang dibahas di sini. VFD yang paling umum yang diproduksi pabrikan menggunakan modulasi pulse untuk menciptakan sine wive. Komponen konduksi digunakan dalam

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

sine wive . Komponen konduksi digunakan dalam TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

51

drive adalah dioda, SCR, transistor dan IGBT. Inverter ini memiliki tiga bagian yang berbeda dan beberapa bagian-bagian yang berbeda yang menuju power sirkuit yang berbeda seperti yang ditunjukkan dalam diagram inventer block. Pada bagian pertama menggunakan dioda atau SCR penghantar gelombang penuh untuk mengubah tegangan ac ke dc. Penyaringan dc ini dilakukan dalam bagian kedua, menggunakan kapasitor untuk memasok penghantar inverter dengan sumber listrik dc yang stabil. Choke pada jaringan DC biasanya sebesar 10 horsepower dan driver yang besar. Pada bagian akhir menggunakan transistor atau IGBT bridge untuk menyalurakan pulse widht modulated (PWM) tegangan DC ke motor penggerak. Tingkat keefektifan tegangan rms yang dikirimkan ke motor tergantung pada frekuensi output yang ada pada inverter bridge. Inilah yang mengarah ke "volt per drive hertz". Bagian logika inverter atau kontrol dan setting yang diprogram pengguna menentukan output frekuensi inverter. Selama percepatan, frekuensi akan bervariasi sesuai dengan algoritma yang telah ditentukan seperti s-kurva, dari minimum atau 0 Hz sampai dengan kecepatan yang ditentukan. Drive juga dapat diprogram untuk melewatkan frekuensi tertentu yang dapat menyebabkan resonansi mekanik. 2) Metode start untuk motor induksi tipe wound rotor Metode start untuk motor induksi tipe wound rotor dijalankan dengan menyambungkan sebuah eksternal resisten ke rotor winding melewati slip ring untuk mengurangi resisten ketika kecepatan bertambah. Dikarenakan motor tersebut dijalankan dengan arus awal (torsi) hampir konstan, motor tipe ini memiliki faktor daya dan memiliki karakteristik awal yang lebih baik dibandingkan induksi motor tipe squirrel cage. Dengan perkataan lain, induksi motor tipe wound

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

perkataan lain, induksi motor tipe wound TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 52

52

rotor merupakan konstruksi yang lebih rumit dan mahal dibandingkan dengan induksi motor tipe squirrel cage. Motor induksi tipe wound rotor biasanya digunakan ketika:

Torsi yang tinggi dibutuhkan untuk start dan induksi motor tipe squirrel cage tidak dapat di start karena beban selama start.

Start membutuhkan waktu yang lama karena tingginya GD2 dari beban.

Arus start terbatas karena sumber kapasitas daya yang rendah

Frekuensi start tinggi.

2.2.6.4. Pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan untuk memilih Metode Start Motor 1) Pemilihan daya untuk start motor Apabila daya yang digunakan menggunakan genset, maka pemilihan start motor perlu memperhatikan penjelasan fitur start motor diatas terutama pada karakteristik arus start yang bervariasi

antara start motor yang satu dengan yang lain. Sedangkan untuk start motor PLN, tidak perlu mengikuti penjelasan fitur start motor diatas karena PLN memiliki balance current tidak seperti genset. Namun kelemahan PLN adalah apabila gardu terendam air akibat banjir, maka listrik akan mati sehingga pompa tidak dapat dihidupkan. 2) Efek turbulensi sumber daya listrik akibat arus permulaan. Ketika motor dinyalakan, akan terjadi efek turbulensi saat permulaan menghidupkan motor. Ketika memilih metode start motor, perlu dipertimbangkan kesiapan voltase dari sumber daya apakah sesuai kapasitas dan perlu ditinjau beban koneksi lain yang terhubung dengan sumber daya. 3) Beban yang diijinkan saat terjadi putaran mesin Dalam hal ini perlu untuk mencegah kelebihan tenaga dikarenakan penerapan beban yang tiba-tiba pada saat awal dinyalakan. Oleh karenanya, pemilihan metode start seharusnya dipilih dengan mempertimbangkan hubungan antara tenaga mesin yang diijinkan dan tenaga motor.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

tenaga mesin yang diijinkan dan tenaga motor. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

53

4) Perlawanan tenaga akibat beban Pada beberapa motor, efisiensi tenaga secara signifikan turun ketika arus untuk menyalakan motor terbatas. Perawatan secara seksama seharusnya dilakukan terhadap perlawanan torsi pada mesin. 5) Beban inersia dan frekuensi start Ketika beban dengan inersia besar dimulai dan ketika starting dilakukan terus-menerus, menyebabkan panas pada bagian motor sehingga menyebabkan motor terbakar. Ketika beban mendapatkan inersia yang besar, pemilihan frekuensi start harus menjadi pertimbangan. 2.2.6.5. Pemilihan Kabel Dalam pemilihan kabel untuk suatu keperluan tertentu, diperlukan suatu pengetahuan khusus terhadap jenis ataupun type kabel serta spesifikasi teknisnya, agar pemilihan yang dilakukan benar-benar sesuai dengan persyaratan teknis yang dibutuhkan Berikut ini adalah beberapa tipe kabel dari berbagai jenis kabel daya dan pemakaiannya:

1) Kabel Tegangan Menengah

Tipe

Bahan : (PVC insulated, Galvanized Flat Steel Wire and Tape Armoured, PVC Sheated)

Ukuran

Pemakaian :

: NYFGbY 3,5/6 KV

: 3 x 25 240 mm2

Untuk pemakaian pada ruangan tertutup,

tanah, untuk stasiun pembangkit, ndustri, stasiun pembagi daya

pada saluran dalam

Tipe

Bahan

Ukuran

: N2XSEFGbY 8,7/15 KV dan 12/20 KV

: (Circular Compacted Copper or Alumunium Conductor XLPE insulated, Copper Tape Screened, Flat Steel Wire and Tape Armoured, PVC Sheated Cable)

: 3 x 35 300 mm2

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

PVC Sheated Cable ) : 3 x 35 – 300 mm2 TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN

54

Pemakaian :

Untuk pemakaian dalam ruangan, dalam saluran kabel ataupun tempat terbuka dan jaringan bawah tanah bisa ditimbun langsung tanpa saluran untuk industri dan stasiun pembagi daya 2) Kabel Tegangan Rendah

Tipe : NYFGbY 0,6/1 KV

Bahan : (PVC insulated, Galvanized Flat Steel Wire and Tape Armoured, PVC Sheated)

Ukuran : 2, 3, 4, 5 x 1,5 300 mm2

Pemakaian :

Untuk pemakaian pada ruangan tertutup, pada saluran dalam tanah, untuk stasiun pembangkit, industri, stasiun pembagi daya dengan tegangan yang lebih rendah

Tipe : NYY 0,6/1 KV

Bahan : (PVC insulated and sheated)

Ukuran : 1, 2, 3, 4 x 1,5 300 mm2

Pemakaian :

Untuk kabel daya dalam ruangan, dalam saluran kabel maupun tempat terbuka dan jaringan bawah tanah. Kabel ini memerlukan perlindungan tambahan untuk menghindari kerusakan karena pengaruh mekanis

Tipe : Alumunium Twisted Cable 1 KV

Ukuran : 2, 3 x 10 70 mm2 + 1 x 10 50 mm2

Pemakaian :

Untuk kabel hubungan dari tiang distribusi kawat hantaran udara ke bangunan 3) Kabel Instalasi

Tipe : NYM 500 Volt

Bahan : (Cooper Conductor,PVC Insulation,PVC inner & outer sheath)

Ukuran : 1,2,3,4,5 x 1,5 35 mm2

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

)  Ukuran : 1,2,3,4,5 x 1,5 – 35 mm2 TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI

55

Pemakaian :

Untuk instalasi dimana adanya kemungkinan pengaruh mekanis, dapat digunakan pada tempat yang kering maupun tempat yang lembab.

: NYMHY 500 Volt

: (Heavy Thermoplastic Cords)

: 2,3,4,5 x 0,75 2,5 mm2

Tipe

Bahan

Ukuran

Pemakaian :

Didalam ruangan untuk hubungan peralatan bergerak

Tipe : NYMT 500 Volt

Bahan

: (Self Supporting PVC Aerial Cables w/Black Outer Sheath)

Ukuran

Pemakaian :

: 2,3,4,5 x 1,5 35 mm2

Penerangan jalan, instalasi bangunan dan penerangan pada tempat-tempat terbuka

Tipe : NYA 1000 Volt

Bahan

Ukuran : 1 500 mm2

Pemakaian :

: (Thermo plastic Building Wire)

Untuk instalasi dalam ruangan yang kering, instalasi Bangunan. Tidak diperkenankan untuk ditempatkan pada tempat yang lembab/basah ataupun ditempat terbuka.

Tipe

Bahan

Ukuran : 0,5 400 mm2

Pemakaian :

: NYAF 1000 Volt

: (Thermo plastic Building Wire)

Untuk instalasi dalam ruangan yang kering dan untuk Pemakaian yang membutuhkan kabel flexible. Kabel ini tidak sesuai untuk tempat terbuka/lembab dan basah.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

sesuai untuk tempat terbuka/lembab dan basah. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 56

56

2.2.6. Konversi Unit Dalam perencanaan sistem pompa, perencana harus selalu memperhatikan satuan perhitungan dan dimensi yang digunakan yang biasanya berbasiskan Sistem Internasional (Le Système International d’Unités - SI). Perencana sistem pompa biasanya menggunakan satuan SI, dapat juga dimungkinkan menggunakan satuan-satuan lain sesuai dengan pabrikan namun pada praktiknya, suatu persamaan ditambah dengan faktor konversi dapat digunakan di dalam perencanaan sistem pompa karena tidak semua pabrikan menggunakan satuan unit standar seperti satuan SI. Banyak pompa yang diproduksi oleh pabrik terutama yang berasal dari Amerika Serikat dan Eropa (Inggris) menggunakan spesifikasi teknis yang disampaikan dalam Satuan Inggris atau English Units yang berbeda nilainya dengan satuan SI.

2.2.7. Standar Proteksi /Index Protection (IP) Indeks Proteksi atau sering disebut IP adalah satuan dari kemampuan untuk melindungi peralatan (mekanik dan elektrik) dari pengaruh benda asing. Benda asing itu bisa berupa unsur-unsur solid maupun benda cair. Indeks Proteksi harus diperhatikan dan dicantumkam dalam spesifikasi komponen mesin, ketika ingin membeli atau menggantinya. Karena hal ini sangat berpengaruh terhadap lifetime peralatan yang kita pakai untuk menjadi optimal. Indeks Proteksi biasanya dicantumkan dalam setiap komponen mesin, seperti: motor induksi, motor stepper, load cell, motor dc, stop kontak, dll. Perlu kita ketahui indeks proteksi minimum adalah IP.00 dan maksimal IP.68. Dalam penulisannya IP terdapat 2 digit angka:

1. Digit pertama : Perlindungan dari unsur-unsur yang solid.

2. Digit kedua: Perlindungan dari benda cair.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

2. Digit kedua: Perlindungan dari benda cair. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

57

Tabel 2.5 Indeks Proteksi

Tabel 2.5 Indeks Proteksi Sebagai contoh dalam motor induksi tertera IP.55, artinya: motor tersebut mampu bekerja

Sebagai contoh dalam motor induksi tertera IP.55, artinya: motor tersebut mampu bekerja dengan baik walaupun dalam kondisi berdebu dan kehujanan atau kena cipratan air. Dibawah ini juga dilampirkan Tabel IK (Impact Energy).

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

juga dilampirkan Tabel IK ( Impact Energy ). TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM

58

Tabel 2.6 IK (Impact Energy)

Tabel 2.6 IK ( Impact Energy ) 2.3. PERENCANAAN POMPA DRAINASE 2.3.1. Umum Dalam perencanaan kapasitas

2.3. PERENCANAAN POMPA DRAINASE 2.3.1. Umum Dalam perencanaan kapasitas pompa drainase, perlu diperhatikan beberapa hal, diantaranya:

Apabila pompa rencananya akan dibangun di ujung saluran, maka kapasitas pompanya dicari kapasitas yang maksimal;

Apabila pompa akan dikombinasikan dengan kolam retensi yang besar maka perlu dilakukan routing;

Apabila pompa akan dikombinasikan dengan kolam retensi yang kecil, maka routing tidak diperlukan.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

yang kecil, maka routing tidak diperlukan. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 59

59

Ketentuan-Ketentuan lainnya yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:

1. Rencana penyusunan sistem pompa harus memperhatikan faktor sosial, ekonomi dan lingkungan;

2. Kelayakan dalam pembangunan sistem pompa harus mencakup kelayakan teknis, kelayakan sosial ekonomi dan kelayakan lingkungan;

3. Rencana pembangunan sistem pompa harus sesuai dengan RUTRK;

4. Ketersediaan lahan;

5. Perencanaan sistem pompa dilaksanakan berdasarkan prioritas yang telah ditentukan dalam rencana induk sistem drainase perkotaan yang bersinergis dengan rencana pengelolaan sumber daya air;

6. Perencanaan pembangunan sistem pompa harus melibatkan dan diterima masyarakat.

2.3.2. Penentuan Lokasi Stasiun Pompa

Penentuan lokasi stasiun pompa perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

1. Pompa drainase harus ditempatkan pada titik terendah dalam suatu wilayah drainase. Kondisi tanah pada lokasi ini biasanya jelek. Peletakan pondasi pada ketinggian yang berbeda tidak dianjurkan, karena daya dukung tanah dapat berbeda pada setiap ketinggian;

2. Ketinggian air tanah akan berubah setelah stasiun pompa beroperasi. Perlu dilakukan upaya-upaya mencegah terjadinya aliran air tanah yang berlebihan dibawah stasiun pompa;

3. Stasiun pompa harus mudah dicapai. Harus dimungkinkan untuk mengangkut bahan bakar melalui jalan darat atau jalan air, atau menyediakan sambungan listrik secara mudah dengan jaringan listrik

yang ada;

4. Stasiun pompa tidak boleh ditempatkan pada atau di dekat tanggul yang mempunyai lapisan-lapisan dengan permeabilitas tinggi, misalnya pasir, atau membangun stasiun pompa diatas tanggul yang sudah tua;

5. Tanggul baru dan lahan yang baru didrainase biasanya mengalami tingkat penurunan yang berbeda-beda, yang sulit untuk diperkirakan

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

berbeda-beda, yang sulit untuk diperkirakan TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 60

60

secara tepat. Jalur pipa atau bangunan beton yang ditempatkan atau melalui daerah ini harus fleksibel; 6. Sampah-sampah yang terkumpul harus dapat diambil dari saringan sampah secara mudah; harus ada tempat penimbunan sampah sebelum dibuang ke tempat pembuangan yang sudah ditentukan.

2.3.3. Ketentuan-ketentuan Umum untuk Perencanaan Stasiun Pompa Agar stasiun pompa dapat beroperasi dengan kinerja yang diharapkan, diperlukan ketentuan-ketentuan umum untuk perencanaan sebagai berikut:

NPSH yang tersedia di stasiun pompa harus lebih baik dari pada yang disyaratkan oleh produsen pompa atau lebih besar dari nilai yang diperoleh dari gambar 2.18. Hal ini untuk menghindari efek kavitasi.

Kecepatan menuju bukaan hisap pompa harus konstan atau dipercepat, tetapi tidak boleh diperlambat. Hal ini akan menjamin distribusi kecepatan yang merata di dalam impeller.

Kehilangan hidrolik di bagian hisap dari sistem pemompaan harus sekecil mungkin. Ini berarti pipa hisap harus pendek, tanpa sudut-sudut tajam atau belokan-belokan.

Pipa hisap dengan belokan tidak sebidang harus dihindari. Hal ini akan menimbulkan aliran berotasi yang kuat di bukaan hisap pompa.

Mulut pipa hisap harus berada cukup dalam di bawah permukaan air di reservoir hisap untuk mencegah terjadinya pusaran yang membawa udara masuk ke pipa.

Pompa harus beroperasi pada atau dekat di sekitar efisiensi terbaiknya.

2.3.4. Tahapan Perencanaan Tahapan perencanaan (design phase) meliputi:

1)

Survei Lapangan dan Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan sebagaimana data yang biasa dikumpulkan dalam perencanaan drainase, antara lain: data spasial, datum yang digunakan, batas (interception drainage channel), data hidrologi, data hidrolika, data sistem drainase yang ada, dimensi berbagai utilitas yang

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

yang ada, dimensi berbagai utilitas yang TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 61

61

2)

ada di lokasi, letak dan kepemilikan lahan, lokasi outfall (badan air untuk pembuangan air limpasan dari sistem pompa), potongan memanjang, kemiringan dan karakteristik kekasaran, luas wilayah pelayanan dan karakteristik limpasan, dimensi saluran pengumpul, layout dan profil, elevasi wilayah pelayanan, data non teknik. Perencanaan Lokasi (site planning) Pada tahapan ini perlu dilakukan evaluasi terhadap berbagai alternatif kemungkinan lokasi peletakan sistem pompa, ketetapan lokasi, ketersediaan lahan baik luasan peruntukan unit kolam detensi maupun rumah pompa. Pada tahapan ini termasuk juga status lahan, dan bilamana pembebasan lahan bila diperlukan.

a) Wilayah Pelayanan Sistem Pompa Pertimbangan utama dalam perencanaan sistem pompa adalah daerah pelayanan (catchment area). Perhitungan kebutuhan kapasitas pompa dan kebutuhan biaya investasi pembangunan sistem pompa meningkat seiring dengan semakin luasnya wilayah pelayanan. Oleh karena itu, perencana harus berusaha untuk meminimalkan daerah yang akan dikeringkan oleh sistem pompa yang direncanakan. Cara utama untuk meminimalkan wilayah pelayanan sistem pompa adalah:

Berusaha mengoptimalkan jaringan saluran drainase dalam wilayah polder yang masih dapat mengalirkan secara gravitasi langsung ke badan air penerima.

Membangun tanggul mengelilingi sistem polder sehingga aliran yang masuk ke sistem pompa hanya merupakan aliran yang berasal dari wilayah polder, tidak berasal dari daerah diluar sistem. Sehingga keamanan sistem polder yang dibangun akan optimal sejalan dengan kapasitas pompa yang didisain.

Mengoptimalkan usaha-usaha pengelolaan hujan terintegrasi dengan upaya konservasi, sehingga debit air hujan yang menuju ke sistem pompa hanyalah limpasan yang sudah tidak terkelola (upaya infiltrasi maupun pemanfaatan kembali). Ini akan mengurangi kebutuhan kapasitas pompa yang pada akhirnya

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

kebutuhan kapasitas pompa yang pada akhirnya TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 62

62

mengurangi biaya investasi dan operasi pemeliharaan yang harus dikeluarkan.

b) Proximity (faktor kedekatan) Dalam penetapan lokasi sistem pompa biasanya dipilih lokasi dengan kontur yang terendah dalam wilayah sistem polder. Umumnya, wilayah dengan kontur terendah memiliki beberapa permasalahan yang perlu diperhatikan oleh perencana, antara lain sebagai berikut:

Stasiun pompa biasanya akan rentan kerusakan akibat banjir;

Bila perangkat keamanan tidak didesain baik dan memadai, akan beresiko terhadap personil, operasi dan pemeliharaan;

Akses jalan ke stasiun pompa akan relatif sulit;

Bila berdekatan dengan permukiman, akan menyebabkan gangguan kebisingan dan lalu lintas;

Daya dukung lahan (tanah) pada banyak lokasi sangat rendah sehingga membutuhkan biaya tinggi pada konstruksi pondasi. Pada beberapa kasus, berada pada daerah dengan jenis tanah yang berasal dari endapan/alluvial baru (tanah lunak) sehingga membutuhkan perbaikan struktur tanah untuk mendukung konstruksi sipil bangunan rumah pompa dan bangunan- bangunan pendukung lainnya;

Perlu pertimbangan jarak dari seluruh wilayah pelayanan ke stasiun pompa bila pertimbangan kontur lokasi menjadi perhatian.

c) Akses ke Lokasi Dalam pengelolaan sistem pompa, perlu dilakukan inspeksi dan perawatan secara rutin, sehingga perlu diperhatikan pertimbangan akses ke lokasi dalam perencanaan. Kemudahan akses, dan kapasitas serta kemampuan jalan menuju ke lokasi stasiun pompa oleh kendaraan pengangkut peralatan perlu menjadi perhatian dalam penyiapan disain. Beberapa komponen akses yang perlu didisain antara lain:

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

akses yang perlu didisain antara lain: TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 63

63

Jalan akses ke stasiun pompa (termasuk geometrik dan kemampuan jalan sebagaimana diatur dalam peraturan jalan);

Area parkir dan putar balik untuk kendaraan operasi dan pemeliharaan;

Area untuk station loading;

Area untuk pengangkutan alat berat dan;

Kelengkapan alat peringatan lalu lintas.

d) Sumber Daya Listrik PLN Perencana harus juga mempertimbangkan bagaimana suplai sumber daya listrik menuju stasiun pompa. Perencana agar melakukan koordinasi dan konsultansi dengan pihak PLN jika menggunakan daya listrik PLN tentang informasi kapasitas listrik, kualitas dan keseimbangan tegangan listrik yang ada dikawasan perencanaan, termasuk bagaimana menjangkau sumber daya. Hal ini akan sangat terkait dengan pertimbangan pemilihan lokasi sumber daya. Bilamana ditemui informasi seringnya terjadi pemadaman listrik pada musim hujan/banjir maka perlu direncanakan pengadaaan back up daya dari genset (hubungan dengan pemilihan start motor). Pada beberapa kasus, sumber daya genset merupakan sumber daya utama untuk kapasitas pompa besar, sedangkan pada pompa- pompa kapasitas kecil yang dioperasikan setiap hari (harian) dan atau sump pump atau sludge pump mengandalkan pada daya listrik PLN. Dalam penerapannya kualitas sumber tegangan dari PLN sebesar kurang lebih 5%.

e) Kolam Detensi Ketersediaan lahan untuk kolam detensi menjadi pertimbangan

terkait pemilihan lokasi. Semakin luas lahan yang tersedia kemungkinan kapasitas pompa yang dibutuhkan akan semakin kecil. Akan tetapi juga terkait dengan investasi pembangunan bila status lahan dimiliki oleh masyarakat/swasta.

f) Saluran pembuangan air

g) Bangunan rumah pompa

h) Saluran limpas

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

air g) Bangunan rumah pompa h) Saluran limpas TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM

64

i) Kualitas dan Dampak Lingkungan Dalam tahapan perencanaan, berdasarkan ketentuan peraturan perlu disusun dokumen UKL/UPL yang dalam penyusunannya mempertimbangkan dampak penting dari kegiatan-kegiatan dalam pengembangan sistem pompa terhadap lingkungan. Pada beberapa kasus dapat pula pembangunan sistem pompa dilakukan bersamaan dengan pembangunan sistem polder dan prasarana sarana drainase lainnya sehingga perlu penyusunan dokumen AMDAL. Setiap komitmen yang dimuat dalam UKL/UPL maupun RKL/RPL dalam AMDAL harus dimuat dalam dokumen perencanaan. Biasanya isu- isu utama terkait antara lain: kualitas udara, kebisingan dan kualitas air.

j) Aspek Keselamatan (Safety) Aspek keselamatan harus menjadi pertimbangan utama untuk semua desain stasiun pompa. Aspek keselamatan mencakup pertimbangan keselamatan bagi:

personil konstruksi;

inspeksi dan pemeliharaan peralatan;

pengendara lalu lintas dan;

masyarakat umum.

Mendesain akses jalan merupakan aspek keamanan utama untuk personil inspeksi dan pemeliharaan. Pertimbangan lainnya harus memenuhi persyaratan OSHA. Sarana utama untuk memastikan keselamatan publik meliputi:

meminimalkan bahaya lalu lintas dengan lokasi stasiun pompa;

memasang tanda-tanda peringatan bahaya;

memenuhi persyaratan zona yang jelas untuk jalan raya atau menyediakan perlindungan yang tepat;

melengkapi sarana keselamatan kerja di lokasi.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

melengkapi sarana keselamatan kerja di lokasi. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 65

65

( Sumber : Dari Survey Lapangan Semarang Pumping Station) Gambar 2.20 Contoh Tanda-tanda Peringatan dan
( Sumber : Dari Survey Lapangan Semarang Pumping Station) Gambar 2.20 Contoh Tanda-tanda Peringatan dan

( Sumber : Dari Survey Lapangan Semarang Pumping Station) Gambar 2.20 Contoh Tanda-tanda Peringatan dan Kelengkapan K3 pada Sistem Pompa

3)

Identifikasi Kriteria Desain Tahapan yang perlu dilakukan antara lain:

Frekuensi penggunaan pompa;

Peak outflow (jika dibutuhkan);

Pemilihan tipe stasiun pompa (wet-pit station atau dry-pit station, outdoor type dan pump gate type);

Jumlah minimun kebutuhan volume tampungan;

Maksimum ketinggian air yang dapat dilayani dan;

4)

Debit yang dipompa. Analisis Hidrologi Tahapan analisis hidrologi ini menentukan antara lain:

Catchment area;

Karakteristik dan besaran limpasan;

Intensitas hujan

Hidrograf desain limpasan;

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

hujan  Hidrograf desain limpasan; TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 66

66

Kumulatif debit yang masuk.

5)

Perhitungan Kebutuhan Kolam Detensi

6)

Perhitungan kebutuhan kolam detensi dituangkan dalam Petunjuk tentang Pengelolaan Sistem Drainase Perkotaan I D: Tata Cara Perencanaan Kolam Detensi, Kolam Retensi Dan Sistem Polder Uji Konfigurasi Pompa Proses desain pompa dilakukan secara berulang-ulang. Proses ini membutuhkan perencana untuk menetapkan tipe dari percobaan yang akan dilakukan, ukuran dan jumlah pompa. Tahap berikutnya adalah mengevaluasi kinerja dari konfigurasi percobaan tersebut. Jika konfigurasi memberikan hasil yang lebih kecil/ besar dari yang diharapkan, maka perencana harus mengulang kembali seperti proses awal untuk mendapatkan konfigurasi yang baik untuk pompa. Konfigurasi percobaan pompa dapat dipakai dalam kriteria desain. Tabel berikut ini menunjukkan urutan yang diperlukan dari proses desain tergantung pada pendekatan yang dipilih atau diperlukan.

Tabel 2.7 Urutan yang diperlukan dari proses desain tergantung pada pendekatan yang dipilih atau diperlukan

Jika pendekatan perencanaan

Maka:

adalah untuk :

Menangani debit puncak

Konfigurasi percobaan pompa dapat dilakukan setelah

pengembangan volume inflow kumulatif (kebanyakan mass

inflow curve) dan sebelum mengevaluasi penampungan.

Optimalisasi kapasitas kolam

Konfigurasi percobaan pompa harus mengikuti

detensi/ pompa banjir

perkembangan hidrograf dan hasil evaluasi sistem

penampungan. Serangkaian iterasi (perulangan) dari ukuran

penampungan dan konfigurasi pompa akan diperlukan untuk

menetapkan kombinasi yang mencapai keseimbangan

antara ukuran pompa, ukuran penampungan unit, dan biaya

konstruksi

Menyesuaikan volume kolam

Konfigurasi percobaan pompa harus mengikuti

detensi

perkembangan volume aliran kumulatif dan sidang evaluasi

sistem penampungan.

7)

Uji Sistem Evaluasi

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

sistem penampungan. 7) Uji Sistem Evaluasi TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 67

67

Sistem percobaan tahap evaluasi mencakup berbagai prosedur untuk memastikan percobaan pompa konfigurasi dan sistem penampungan mencapai tujuan:

Peak outflow harus sama atau lebih rendah dari puncak target;

Level air tertinggi tidak boleh melebihi tinggi air maksimum dari desain;

konfigurasi pompa tidak boleh berlebihan dan;

pompa yang dipilih harus sesuai dengan spesifikasi pabrik, seperti waktu putaran dan Net Positive Suction Head (NPSH). Prosedur-prosedur yang perlu dilalui dalam uji sistem evaluasi:

pengembangan hidrograf inflow,

pengembangan kurva hidrograf inflow dari volume limpasan,

menentukan ukuran penampungan unit untuk percobaan,

Menentukan Low Water Level (LWL) dan High Water Level (HWL) yang akan dipompa

pemilihan dimensi bak basah awal,

pengembangan pentahapan terhadap bak penampung,

pembuatan bak penampung yang dapat digunakan,

pembuatan percobaan pump switching/ sequencing (cut-on, memotong ketinggian),

Massa kurva routing,

pengecekan kecukupan dalam routing,

penentuan TDH,

pengembangan kurva TDH sistem,

menetapkan range dari operasi,

menetapkan kebutuhan daya yang dibutuhkan,

pemilihan pompa dan pipa dari kurva performa manufaktur dan data katalog,

melakukan pemeriksaan siklus waktu dan,

optimasi desain (keseimbangan antara penampungan dengan jenis serta kapasitas pepompaan), jika diinginkan.

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

serta kapasitas pepompaan), jika diinginkan. TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 68

68

8)

Penyusunan dan Anggaran Biaya

Terdiri dari kegiatan penyusunan:

a. Layout lokasi dan detil perencanaan Layout spesifik lokasi dan detil perencanaan harus mencakup seperti antara lain:

Rencana

Pengembangan

Disain,

Spesifikasi

dan

Tata letak lokasi (site layout);

Sistem pengumpulan rencana dan profil;

Unit penampung rencana;

Kolam rencana;

Rumah pompa rencana;

Debit dalam pipa dan rencana pembuangan dan profil;

Elektrikal dan mekanik rencana.

b. Spesifikasi, ketentuan-ketentuan khusus dan syarat umum Perencana sebaiknya menggunakan spesifikasi standar yang sangat

praktis. Namun, pada beberapa kasus stasiun pompa biasanya akan membutuhkan spesifikasi khusus, ketentuan khusus, dan syarat umum untuk memasukkan barang-barang seperti:

Spesifikasi kinerja pompa dan peralatannya;

Pemasangan dan pengujian pengadaan peralatannya dan;

Persyaratan khusus konstruksi.

Selain itu, pelatihan diperlukan calon operator sehingga calon operator tersebut dapat dengan mudah dalam pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sistem pompa.

c. Review Design Pengelola drainase perkotaan perlu melakukan review/ evaluasi secara internal terhadap dokumen perencanaan untuk memastikan:

kecukupan asumsi dan kriteria;

akurasi perhitungan dan rinciannya;

kesesuaian dengan kriteria desain, kebijakan dan peraturan, dan;

TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA

kriteria desain, kebijakan dan peraturan, dan; TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 69

69

Kesesuaian dengan komitmen yang dibuat dalam dokumen lingkungan (termasuk Analisis Dampak Lingkungan atau UKL/UPL).

2.3.5. Perhitungan/Analisis Yang diperlukan

Di

analisis yang meliputi:

1. Perhitungan debit dan kualitas air yang diperoleh dari data perhitungan

hidrologi seperti antara lain:

a. Total debit air yang akan dipompa

b. Debit setiap pompa yang akan dipasang

c. Pengaturan ketinggian air pada kolam retensi/ detensi (mass curve routing ) seperti: HWL (High Water Level), LWL (Low Water Level),

elevasi saluran pembuangan pompa, elevasi saluran limpas/ pintu limpas, elevasi pasang surut saluran penerima air, asumsi penurunan tanah disekitar rumah pompa setiap tahun (cm), jenis air yang akan dipompa (air limbah, air asin , lumpur dll),

pompa

perhitungan/

dalam

merencanakan

sistem