Anda di halaman 1dari 15

ETIKA TAOISME, MEMPERKENALKAN

FILSAFAT TAOISME

Google Images

Technorati Tags:tao,taoisme,filsafat,etika wu wei


Reza A.A Wattimena
Apakah anda mengetahui salah satu bela diri asal Jepang yang disebut
sebagai Aikido? Nah, Aikido adalah bentuk ilustrasi hidup dari konsep
etika wu-wei. Di dalam aikido, orang bergerak mengikuti keinginan dan arah
gerakan lawannya, dan sama sekali tidak melakukan perlawanan. Teknik
mengalahkan lawan bukan dengan menyerangnya dengan kekerasan, tetapi
dengan secara pasif menggunakan kekuatannya untuk menjatuhkannya
sendiri. Wu-wei, yang secara literer biasanya diterjemahkan sebagai non-
tindakan (non-action), atau tidak bertindak apapun (doing nothing), adalah
konsep terpenting di dalam etika Taoisme. Di dalam filsafat Tao, non
tindakan berarti orang bertindak seturut dengan hukum-hukum langit
(heaven). Jika dikaitkan dengan kehidupan manusia, non-tindakan mengacu
pada sikap untuk tidak memaksakan hal-hal yang berjalan secara alami di
dalam realitas. Dengan demikian, demikian tulis Alan Watts dalam
bukunya tentang Taoisme, non tindakan adalah suatu gaya hidup dari
seseorang yang mengikuti Tao, dan harus dimengerti pertama-tama
sebagai suatu bentuk kecerdasan.[1] Jadi, non-tindakan adalah suatu
bentuk kecerdasan tertentu, dan sekaligus tuntutan bagi orang untuk hidup
berdasarkan Tao. Dua hal ini saling berkaitan, yakni seseorang mengikuti
Tao karena ia memiliki kecerdasan untuk melakukan itu, atau karena ia
memiliki kecerdasan tertentu, maka ia dapat mengikuti jalan Tao.
Pesan mendasar dari Taoisme adalah bahwa kehidupan ini terdiri
keseluruhan yang bersifat organik dan saling terhubung (organic and
interconnected whole), yang terus berubah secara konstan. Gerak perubahan
yang bersifat tetap ini merupakan bagian dari tatanan alamiah alam
semesta. Manusia berubah bersama alam yang terus berubah secara alami.
Dengan menyadari adanya kesatuan antara alam dan manusia, dan belajar
untuk hidup menyesuaikan diri dengan gerak alamiah alam, orang akan
sampai pada keadaan yang sepenuhnya bebas dan merdeka, sekaligus
secara langsung terhubung dengan gerak kehidupan dari alam semesta.
Pada tahap ini, orang hidup bersama dan melalui Tao. Orang hidup dalam
kesatuan dengan Tao. Ini adalah tingkat tertinggi di dalam kehidupan
manusia.[2]
Secara literal, kata Taoisme mengacu pada suatu aliran pemikiran yang
berfokus pada arti penting dari Tao, atau apa yang disebut sebagai Jalan
(The Way). Definisi ini memang bernada terlalu umum. Akibatnya, banyak
orang yang mengklaim sebagai seorang Taois memiliki definisi yang
berbeda-beda tentang apa yang sesungguhnya dimaksud dengan Tao. Jadi,
bahkan setiap individu yang mengklaim mengikuti Jalan Tao pun
memiliki arti yang berbeda-beda tentang apa itu Tao sebenarnya.
Walaupun tidak ada pengertian yang cukup umum diterima tentang apa itu
Tao sebenarnya, tetapi di dalam Taoisme, kata Tao memiliki tempat yang
lebih tinggi, jika dibandingkan dengan aliran-aliran lain yang juga
menggunakan kata tersebut, seperti pada Konfusianisme misalnya.[3] Tao
adalah konsep utama di dalam aliran pemikiran yang dirumuskan pertama
kali oleh Lao Tzu dan Chuang Tzu. Di dalam aliran pemikiran ini, Tao
dipandang sebagai sebuah konsep sentral yang bersifat metafisis yang
memberi dasar bagi keseluruhan kehidupan.
Tao adalah sebuah konsep yang dirumuskan untuk secara langsung
memahami berbagai peristiwa yang ada di dunia, baik peristiwa yang
sederhana maupun peristiwa yang kompleks. Di dalam literatur-literatur
klasik Cina, kata Taoisme pertama kali ditemukan di dalam tulisan-
tulisan Shi Chi (Historical Records) yang ditulis oleh Ssu-ma Chien (145-867
BC), yakni empat ratus tahun setelah kematian Lao Tzu. Menurut Ssu-ma
Chien, Taoisme memiliki tradisi yang sangat dipengaruhi oleh aliran
Huang Lao. Huang Lao adalah aliran pemikiran yang didirikan oleh Kaisar
Kuning (Yellow Emperor) yang dianggap sebagai salah satu nenek moyang
orang-orang Cina. Aliran Huang Lao muncul pada sekitar abad ke-3 atau
keempat sebelum Masehi, tepatnya pada masa Warring (Warring Period), dan
menjadi semakin terkenal pada abad kedua sebelum Masehi, tepatnya pada
masa pemerintahan Dinasti Han. Sejak saat itulah arti kata Tao menjadi
semakin beragam dan rumit. Pada abad ketiga setelah Masehi, Taoisme
tidak lagi diidentikan dengan aliran Huang Lao, tetapi dengan ajaran-
ajaran Lao Tzu dan Chuang Tzu. Di titik inilah Taoisme tidak lagi berperan
sebagai ajaran tentang kehidupan bersama dan tentang politik, tetapi lebih
sebagai ajaran spiritual dan ajaran mistik (mystical learning). Taoisme pun
menjadi suatu gerakan religius yang ditandai dengan upaya manusia untuk
mencapai keabadian (immortality) dengan Lao Tzu sebagai tokoh utamanya.
Para ahli di Cina sekarang ini membedakan antara Taoisme sebagai filsafat,
dan Taoisme sebagai agama. Taoisme sebagai filsafat disebut juga
sebagai Tao Chia, sementara Taoisme sebagai agama disebut juga
sebagai Tao Chiao. Sebagai sebuah ajaran filsafat, Taoisme bersama dengan
Konfusianisme dan Buddhisme mendominasi kehidupan masyarakat Cina
pada abad ketiga setelah Masehi. Ketiga aliran ini disebut juga sebagai
Ketiga Ajaran (three teachings). Di dalam masyarakat Cina kontemporer,
Konfusianisme memang memiliki pengaruh yang masih besar, tetapi tidak
pernah menjadi sebuah ajaran yang memiliki institusi resmi, seperti
misalnya yang terdapat di dalam Taoisme.[4]
Filsafat Taoisme
Sebagai suatu ajaran filosofis, Taoisme didirikan oleh Lao Tzu pada abad
keenam sebelum Masehi. Ajaran ini terus berkembang sampai abad kedua
sebelum Masehi. Filsafat Taoisme juga terdiri dari aliran Chuang Tzu dan
Huang Lao. Di dalam ajaran-ajaran awal tentang Taoisme ini, Tao
dipandang sebagai sumber yang unik dari alam semesta dan menentukan
semua hal; bahwa semua hal di dunia terdiri dari bagian yang positif dan
bagian yang negatif; dan bahwa semua yang berlawanan selalu mengubah
satu sama lain; dan bahwa orang tidak boleh melakukan tindakan yang
tidak alami tetapi mengikuti hukum kodratnya.[5] Sikap pasrah terhadap
hukum kodrat dan hukum alam ini disebut juga sebagai wu-wei.
Di dalam masyarakat Cina kuno, filsafat dan agama belumlah dibedakan
secara tegas. Sejak Taoisme mulai dikenal di dalam dunia berbahasa
Inggris, pembedaan antara Taoisme sebagai filsafat dan Taoisme sebagai
agama belumlah ada. Pada pertengahan 1950, para ahli sejarah dan Filsafat
Cina berpendapat bahwa ada perbedaan tegas di antara keduanya,
walaupun memang keduanya berdiri di atas tradisi yang sama. Marcel dan
Granet dan Henri Maspero adalah orang-orang yang melakukan penelitian
mendalam di bidang ini.
Memang, ada keterkaitan erat antara filsafat Taoisme dan agama Taoisme.
Para filsuf Tao sendiri dianggap sebagai pendiri Taoisme, baik sebagai
filsafat maupun sebagai agama. Buku paling awal yang memuat ajaran Tao
ini berjudul Classic of Great Peace (Tai-ping Ching) yang dianggap merupakan
tulisan tangan langsung dari Lao Tzu. Dalam arti tertentu, Lao Tzu sendiri
seringkali dianggap sebagai dewa. Ia punya beberapa julukan,
seperti Saint Ancestor Great Tao Mysterious Primary Emperor,[6] dan Yang
memiliki status sebagai Dewa (The Divine) itu sendiri.[7]
Perbedaan dasar antara filsafat Taoisme dan agama Taoisme juga terletak
pemahaman tentang tujuan dari keberadaan manusia itu sendiri. Para
filsuf Taois berpendapat bahwa tujuan setiap orang adalah mencapai
transendensi spiritual. Oleh sebab itu, mereka perlu menekuni ajaran Tao
secara konsisten. Sementara, para pemuka agama Taoisme berpendapat
bahwa tujuan setiap manusia adalah untuk mencapai keabadian, terutama
keabadian tubuh fisik (physical immortality) yang dapat dicapai dengan hidup
sehat, sehingga bisa berusia panjang. Pada titik ini, kedua ajaran Taoisme
ini berbeda secara tajam. Para filsuf Taoisme berpendapat bahwa usia
panjang itu tidaklah penting. Hanya orang-orang yang tidak mencari
kehidupan setelah mati, demikian tulis Lao Tzu di dalam Tao Te Ching pada
bagian ke-13, yang lebih bijaksana di dalam memaknai hidup.[8] Di
dalam beberapa tulisannya, Chuang Tzu menyatakan, Orang-orang Benar
pada masa kuno tidak mengetahui apapun tentang mencintai kehidupan,
dan mereka juga tidak mengetahui apapun tentang membenci
kematian.[9] Lao Tzu juga menambahkan, Hidup dan mati sudah
ditakdirkan sama konstannya dengan terjadinya malam dan subuh
manusia tidak dapat berbuat apapun tentangnya.[10] Jelaslah bahwa para
filsuf besar Taoisme menyatakan bahwa orang tidaklah perlu untuk
memilih antara kehidupan atau kematian. Alih-alih hidup di dalam
keresahan di antara keduanya, orang harus melampaui perbedaan di antara
keduanya. Sikap transenden dari filsafat Taoisme terhadap hidup dan
kematian, demikian tulis Xiaogan, ..adalah mengikuti alam dan tidak
melakukan tindakan-tindakan yang tidak alamiah.[11] Sikap mengikuti
alam disebut juga sebagai tzu-jan, dan sikap pasif dengan tidak melakukan
tindakan-tindakan yang tidak alami disebut juga sebagai wu-wei. Kontras
dengan itu, Taoisme sebagai agama justru menekankan pentingnya
keabadian jiwa sebagai prinsip utama.
Filsafat Taoisme dan agama Taoisme juga berbeda pendapat tentang
bagaimana seharusnya orang bersikap di hadapan penguasa politik. Filsafat
Taoisme menolak tradisi (antitraditional) dan berupaya melampaui nilai-nilai
yang diakui bersama. Lao Tzu dan Chuang Tzu bersikap kritis terhadap
penguasa pada jamannya, dan juga terhadap nilai-nilai Konfusianisme
tradisional. Mereka berdua berpendapat bahwa masyarakat akan jauh lebih
baik, jika semua bentuk aturan, moralitas, hukum, dan penguasa
dihapuskan. Di sisi lain, para pemuka agama Taoisme sangat menghormati
penguasa dan aturan-aturan Konfusianisme. Orang-orang yang hendak
memiliki keabadian, demikian tulis Ko Hung (284-343), seorang pemuka
agama Taoisme, haruslah menempatkan kesetiaan kepada penguasa dan
kesalehan yang tulus kepada orang tua mereka sebagai prinsip
dasar.[12] Kou Chien Chih, seorang pemuka agama Toaisme lainnya, juga
berpendapat bahwa setiap orang haruslah mempelajari Konfusianisme,
serta secara aktif membantu kaisar di dalam mengatur dunia. Agama
Taoisme memang memberikan perhatian besar pada kepentingan-
kepentingan praktis yang bersifat temporal. Jika filsafat Taoisme lebih
bersifat individualistik dan kritis, maka agama Taoisme dapat dipandang
sebagai ajaran yang lebih bersifat sosial dan praktis.[13] Dalam arti ini,
para filsuf Taoisme memiliki pengertian-pengertian yang agak berbeda
tentang konsep-konsep dasar Taoisme, seperti wu-wei, Tao, dan te, jika
dibandingkan dengan pengertian para pemuka agama Taoisme.
Metafisika Taoisme
Lao Tzu dapatlah dipandang sebagai perumus sistem pemikiran metafisis
pertama di dalam sejarah intelektual Cina. Fokus dari metafisikanya adalah
konsep Tao itu sendiri. Secara literer, seperti sudah disinggung
sebelumnya, Tao berarti Jalan. Definisi yang sangat umum membuat
banyak aliran di dalam Taoisme mendefinisikan implikasi Tao bagi
kehidupan bermasyarakat secara amat beragam. Menurut Lao Tzu, Tao
adalah sumber umum bagi seluruh alam semesta.[14] Tao, dengan
demikian, adalah suatu konsep metafisis. Tidaklah mungkin mencari
padanan kata yang tepat untuk menggambarkan secara akurat arti dari
kata Tao, bahkan di dalam bahasa Cina.
Akan tetapi, ada beberapa deskripsi yang kiranya bisa memberi gambaran
yang cukup memadai tentang Tao. Tao adalah asal usul yang unik tentang
dunia.[15] Lao Tzu secara eksplisit menulis, Tao menghasilkan Yang Satu.
Yang Satu menghasilkan yang Dua. Yang Dua menghasilkan yang Tiga, dan
yang Tiga menghasilkan sepuluh ribu hal lainnya.[16] Tao adalah sumber
utama. Yang Satu (the One) adalah ada yang bersifat primordial (primordial
being), atau Chaos itu sendiri. Yang Dua disebut juga sebagai yin, atau sisi
feminin, sekaligus yang, atau sisi maskulin. Yin juga dikenal sebagai sisi
negatif, dan Yang adalah sisi positif. Yang Tiga adalah kesatuan
antara yin danyang. Selain menjadi ajaran metafisis di dalam Taoisme,
konsep-konsep seperti Tao, yang Satu, yang Dua, dan yang Tiga ini juga
menjadi asal usul dari alam semesta itu sendiri. Ini adalah kisah penciptaan
versi Taoisme.[17]
Tao menentukan segala sesuatu, dan segala sesuatu bergantung pada Tao.
Lao Tzu sangat yakin, bahwa Tao bersifat universal. Segala sesuatu berasal
dari Tao, dan merupakan pengembangan dari Tao itu sendiri. Tao, dengan
demikian, juga merupakan proses yang bersifat universal dan prinsip
tertinggi. Ini adalah ontologi yang paling mendasar dari Taoisme.
Tao juga memiliki sifat yang misterius. Kita memandang Tao, demikian
tulis Lao Tzu, tetapi tidak melihatnya kita mendengar Tao tetapi tidak
mendengarkannyaKita menyentuhnya tetapi tidak menemukannya
Bergerak ke atas, tetapi tidak terang, dan bergerak rendah ke bawah, tetapi
tidak gelap. Tidak terbatas dan tidak bisa diberikan nama
apapun.[18] Tao tidaklah bisa dimengerti dengan akal budi dan panca
indera manusia, tetapi Tao itu adalah ada-yang-nyata (real being). Tao
berada di level yang melampaui pengetahuan biasa yang diperoleh melalui
intelek manusia. Akan tetapi, Tao dapatlah diketahui melalui intuisi.
Pengejaran dalam hal pembelajaran, demikian tambah Lao Tzu,
bergerak maju dari hari ke hari. Pengejaran dalam hal Tao menurun dari
hari ke hari.[19]Untuk menyadari keberadaan Tao, orang haruslah
bergerak melampaui kemampuan kognitif mereka. Pengenalan atas Tao
membutuhkan lebih dari sekedar ketrampilan kognitif biasa yang dimiliki
oleh orang pada umumnya.[20] Orang, demikian Lao Tzu, dapat
melihat Tao Surga tanpa perlu melihat melalui jendela.[21]
Tao bergerak secara alami dan spontan. Tao tidak memiliki kehendak
ataupun tujuan. Manusia, demikian Lao Tzu, mendapatkan modelnya
dari bumi, bumi dari surga, surga dari Tao, dan Tao dari
spontanitas.[22] Tao menyelesaikan tugasnya, tetapi tidak mengklaim
kredit darinya. Tao memberikan pakaian dan makanan kepada semua hal
tetapi tidak mengklaim menjadi penguasa atasnya. Tao selalu bergerak
tanpa keinginan segala sesuatu datang kepadanya dan Tao tidak
menguasainya;[23] Jadi, Tao bergerak secara alami. Akan tetapi, Tao
bukanlah seperti Tuhan yang menciptakan dunia dengan tujuan tertentu.
Di dalam Konfusianisme, Tao adalah prinsip umum yang mengatur
moralitas dan politik, sementara Te adalah keutamaan individual. Akan
tetapi, bagi Lao Tzu, Tao adalah realitas yang paling ultim sekaligus prinsip
umum dari alam semesta. Sementara, Te adalah partikularisasi dari Tao
yang terwujud dalam diri seseorang, ketika ia hidup sesuai dengan Tao.
Etika wu-wei
Seperti sudah disinggung sebelumnya, filsafat Lao Tzu sangat kritis
terhadap tradisi. Metode yang ia pakai di dalam berfilsafat pun terkesan
tidak umum. Misalnya, ia menyatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini
mengandung dua unsur yang saling berlawanan, dan setiap unsur yang
berlawanan tersebut saling tergantung satu sama lain. Ada dan Non-Ada,
demikian tulisnya, menghasilkan satu sama lain, hal yang susah dan hal
yang mudah menyempurnakan satu sama lain; panjang dan pendek saling
berlawanan satu sama lain depan dan belakang mengikuti satu sama lain.
Dengan begitu, pesan agung yang ingin disampaikan adalah ketiadaan
tindakan, dan menyebarkan doktrin tanpa kata-kata.[24] Teori bahwa
segala sesuatu yang bertentangan selalu mengandaikan dan mengubah satu
sama lain merupakan dasar dari metafisika Taoisme, sekaligus fondasi bagi
etika wu-wei, yang merupakan inti dari ajaran etika Taoisme. Aforisme Cina
berikut ini menggambarkan dengan jelas pengandaian dasar etika Taoisme,
Malapetaka adalah sesuatu yang menjadi dasar bagi kebahagiaan;
kebahagiaan adalah ketika malapetaka menjadi tersembunyi.[25]
Di dalam tulisan-tulisannya, Lao Tzu membagi menjadi sekitar tujuh puluh
konsep yang saling bertentangan, namun mengandaikan satu sama lain.
Sebagian besar diantaranya dapat diringkas ke dalam perbedaan antara
pasivitas dan aktivitas, antara kelembutan dan kekerasan, dan antara
kompetisi dan kesabaran. Ia kemudian berpendapat, bahwa pasitivitas itu
lebih menguntungkan daripada aktivitas. Kelembutan lebih berguna
daripada kekerasan, dan kesabaran lebih berguna daripada kompetisi.
Memahami kemuliaan, demikian tulisnya, tetapi sekaligus menjaga
kerendahatian, memahami yang putih tetapi juga menjaga yang
hitam.[26] Karena orang mudah sekali jatuh ke dalam hal-hal yang
berlawanan dari yang diinginkannya, maka adalah lebih baik bagi setiap
orang, jika ia mulai dengan hal-hal yang tidak diinginkannya, lalu bergerak
ke hal-hal yang diinginkannya. Untuk memperoleh sesuatu, demikian
Lao Tzu, adalah perlu bagi orang untuk pertama-tama memberi.[27] Jadi,
untuk mencapai sesuatu, orang harus pertama-tama memulai dengan yang
berlawanan dari yang ingin dia capai. Dengan demikian, esensi dari
pendekatan Lao Tzu adalah dengan mulai mengejar tujuan dari titik yang
secara diametral bertentangan dengan tujuan itu.[28]
Dari kesimpulan di atas, kita bisa menarik poin bahwa inti dari etika
Taoisme yang ditawarkan oleh Lao Tzu adalah wu-wei, yang dalam bahasa
Cina secara literer berarti tidak adanya tindakan, atau tidak melakukan
apa-apa. Hal ini tidak berarti bahwa orang murni tidak melakukan apapun
secara mutlak. Wu-wei, demikian tulis Xiaogan dalam tulisannya tentang
Taoisme, adalah suatu konsep atau ide yang digunakan untuk menegasi
atau mengurangi tindakan manusia.[29] Dengan kata lain, wu-weiberarti
pembatalan dan sekaligus pembatasan tingkah laku manusia, terutama
tingkah laku di dalam dunia sosial. Ada beberapa tingkatan wu-wei di dalam
Taoisme, mulai dariwu-wei sebagai tidak melakukan apapun, wu-wei sebagai
melakukan tindakan seminimal mungkin, wu-wei sebagai tindakan pasif ke
dalam dunia sosial, wu-wei sebagai sikap menunggu perubahan alami dari
hal-hal yang ada, dan wu-wei sebagai bertindak seturut kondisi obyektif yang
hakekat dari permasalahan yang ada. Yang terakhir ini sering juga disebut
sebagai bertindak alami (acting naturally). Semua hal ini, menurut Xiaogan,
bisa dipahami dalam satu konsep, yakni konsep non-tindakan (non-
action).[30]Etika wu-wei adalah etika non-tindakan.
Lao Tzu sendiri sangat yakin, bahwa wu-wei akan dapat menciptakan
kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan damai. Semakin besar
hukum dan tatanan diberlakukan, demikian tulisnya, maka semakin
banyak pencuri dan perampok.. oleh karena itu seorang bijak akan berkata:
saya tidak bertindak apa-apa dan orang itu sendiri akan
berubah.[31] Lawan dari sikap wu-wei adalah yu-wei, atau apa yang disebut
sebagai bertindak. Yu-wei ini menciptakan hukum dan tatanan, serta
dengan itu juga menciptakan para pencuri dan orang-orang yang
melanggar tatanan. Sementara kontras dengan itu, wu-wei menciptakan
kemakmuran bersama, harmoni, dan kedamaian. Sebuah kerajaan,
demikian tulis Lao Tzu, seringkali diberikan kepada orang yang tidak
melakukan tindakan. Jika orang melakukan tindakan, maka ia tidak cukup
memadai untuk memenangkan sebuah kerajaan.[32]Kehidupan yang ideal
hanya dapat dicapai, jika orang menerapkan etika wu-wei ini di dalam
hidupnya.
Wu-wei sangat menekankan nilai-nilai spesifik, seperti pasivitas, sikap mengalah, dan
ketenangan. Menurut Lao Tzu, nilai-nilai ini sangatlah penting, terutama bagi orang-
orang yang lemah dan tidak beruntung di dalam hidupnya. Dengan menerapkan wu-
wei di dalam hidupnya, orang-orang yang lemah bisa menaklukan orang-orang yang
kuat dengan kelembutannya. Inilah keuntungan dari sikapwu-wei. Hal yang paling
lembut di dunia, demikian Lao Tzu, dapat melampaui hal yang paling keras di
dunia melalui inilah saya mengetahui keuntungan untuk tidak mengambil
tindakan apapun.[33] Di dalam dunia manusia, menurutnya, negara-negara
yang kuat dapat dengan mudah mendeklarasikan sebuah perang. Akan
tetapi pada akhirnya, negara-negara yang lebih lemahlah yang akan
menang. Ini adalah kebenaran yang nyata, bahwa kelemahlembutan dapat
melampaui kekerasan. Walaupun begitu nyata, tetapi orang begitu cepat
lupa dengan hal ini, sekaligus begitu sulit untuk mempertahankan
kesadaran semacam ini.
Konsep lainnya yang sangat penting di dalam etika Taoisme adalah tzu-jan,
atau apa yang disebut sebagai spontanitas. Tzu-jan juga bisa berarti menjadi
alami (being natural). Karena Tao adalah sesuatu yang alami, dan segala
sesuatu berasal dari Tao, maka segala sesuatu di dunia ini juga bersifat
alami. Dan segala sesuatu yang bersifat alami selalu berjalan dengan
spontanitas. Suatu sikap yang didasarkan pada sesuatu yang tidak natural
biasanya akan berakhir dengan kegagalan. Kepercayaan bahwa alam
semesta dan kehidupan sosial akan berkembang secara spontan, demikian
tulis Xiaogan, adalah fondasi dari teori etika wu-wei, sekaligus fondasi dari
filsafat Tao.[34] Di dalam penafsiran-penafsiran kontemporer, tzu-jan juga
dipahami sebagai suatu kesadaran bahwa realitas ini akan berubah tanpa
keterputusan total, dan perubahan itu sendiri akan datang tanpa konflik
dan tanpa kekerasan.
Taoisme tentang Politik dan Masyarakat
Pemikiran Taoisme Lao Tzu juga bisa diterapkan dalam konteks kehidupan
sosial. Masyarakat ideal Taoisme adalah masyarakat primitif dengan tata
kehidupan yang alami, harmonis, sederhana, dan berjalan tanpa kompetisi
ataupun perang.
Biarlah ada sebuah negara kecil dengan populasi yang kecil biarlah
orang memberi nilai tinggi bagi kehidupan mereka dan tidak bermigrasi ke
tempat yang jauh biarlah mereka makan dengan senang, menikmati
pakaian mereka, nyaman dengan rumah mereka, dan puas dengan budaya
mereka.[35]
Ini adalah gambaran indah tentang masyarakat yang dicita-citakan oleh
Lao Tzu, yakni masyarakat agraris primitif yang hidup dengan kedamaian,
kebahagiaan, dan kepuasan.
Gambaran ini juga sekaligus merupakan kritik terhadap masyarakat
kontemporer. Lao Tzu secara tegas mengutuk para penguasa. Warga
kelaparan, demikian tulisnya, karena para penguasa mengambil terlalu
banyak pajak gandum warga memandang kematian dengan begitu mudah
dan begitu gampang karena penguasa memelihara kehidupan mereka
secara berlebihan.[36] Di dalam pandangan filsafat Taoisme, kekuasaan
adalah sumber dari segala ketidakberuntungan dan kekacauan.
Filsafat Taoisme telah mempengaruhi budaya Cina secara mendalam. Akan
tetapi, arti penting Taoisme justru baru bisa dimengerti, jika kita
mengontraskan ajaran ini dengan Konfusianisme. Konfusianisme
menekankan bahwa setiap orang haruslah menerima kewajiban dan
tanggung jawab sosial mereka. Bahkan seringkali dikatakan, bahwa
Konfusius adalah orang yang akan melakukan kewajibannya, walaupun hal
itu tampak tidak mungkin untuk dilakukan. Manusia yang ideal adalah
manusia adalah manusia yang rela mengorbankan dirinya untuk
melakukan kewajiban dan tugasnya kepada negara.
Akan tetapi, tidak semua orang yang bisa hidup dengan cara seperti itu.
Manusia membutuhkan suatu cara untuk mengembangkan dirinya sendiri,
walaupun hal itu dilakukan bertentangan dengan kewajiban dan tanggung
jawab sosialnya. Inilah yang ingin ditawarkan oleh Taoisme. Taoisme,
demikian tulis Xiaogan, mengajarkan orang untuk melihat konflik
manusia dari perspektif seluruh alam semesta.[37] Di dalam Taoisme,
perbedaan antara keberuntungan dan ketidakberuntungan, antara
kemuliaan dan penghinaan, antara kesuksesan dan kegagalan, tidaklah
boleh dipikirkan terlalu serius. Jika dilihat dari sudut pandang keseluruhan
alam semesta, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan di muka bumi ini.
Dengan menjadikan filsafat Tao sebagai panduan hidupnya, orang akan
bisa melepaskan diri dari perjuangan tanpa henti, dan menenangkan
dirinya, ketika ia sedang menderita secara spiritual.
Beberapa ahli mengkritik sikap semacam ini sebagai suatu bentuk
penipuan diri. Misalnya di masa revolusi kebudayaan Cina, banyak orang
mengalami penderitaan berat. Ada seseorang yang sedang dipenjara. Ia
dipenjara selama 10 tahun tanpa alasan yang jelas. Jika ada seorang Taois
di sana, ia akan berkata pada orang yang dipenjara tersebut, Memang, kau
mengalami kehilangan besar di dalam hidupmu. Akan tetapi, jika
dibandingkan dengan mantan presiden Liu-Shao-chi yang mati karena
dipenjara secara ilegal, apa yang kau derita sekarang ini bukanlah apa-apa.
Cobalah berpikir betapa beruntungnya dirimu karena kamu masih hidup
dan memiliki keluarga.[38]Karena selalu masih ada orang yang lebih
menderita di dunia ini, maka penderitaan yang kamu alami sekarang
tidaklah berarti. Kesadaran semacam ini memang memberikan rasa
nyaman tersendiri. Filsafat Tao mengajak orang untuk membuka pikiran
dan melebarkan perspektif mereka, sehingga mereka bisa merasa tenang di
dalam penderitaan. Orang yang menghayati filsafat Tao di dalam hidupnya
akan menjalankan hidup yang sehat, walaupun banyak krisis dan
penderitaan yang dihadapi.
Di dalam seluruh tulisan ini, mengikuti Liu Xiaogan, saya memfokuskan
filsafat Tao pada konsep etikawu-wei. Apa relevansinya bagi kehidupan kita?
Xiaogan memberikan contoh tentang mobil. Setiap mobil pasti memiliki
mesin dan rem. Tidak ada orang yang mau mengendarai mobil yang tidak
memiliki rem. Bahkan, setiap benda bergerak di muka bumi ini selalu
membutuhkan semacam rem. Bagaimana dengan motivasi dan aktivitas
sosial manusia, apakah ini juga membutuhkan semacam rem? Dapatkah
orang mengejar apa yang mereka inginkan secara tanpa batas? Dapatkah
suatu gerakan sosial, walaupun memiliki cita-cita yang sangat luhur, dapat
bergerak cepat langsung mewujudkan tujuan mereka? Jawabannya jelas,
tidak! Motivasi manusia dan gerakan sosial, demikian Xiaogan, juga
membutuhkan sesuatu yang bekerja sebagai rem, yang dapat mengatur dan
membatasi tindakan manusia untuk melindungi masyarakat
manusia.[39] Jadi, apa yang kiranya dapat menjadi rem untuk
masyarakat? Salah satu jawaban yang mungkin adalah konsep etika wu-wei,
yang merupakan inti dari seluruh etika yang diajarkan oleh Lao Tzu.
Tampaknya, berhenti sejenak bersama etika wu-wei memang mudah
diucapkan, tetapi sangat sulit dilakukan. Salah satu hal yang paling sulit
yang bisa dilakukan manusia sekarang ini adalah diam.
Daftar Rujukan
Liu Xiaogan, Taoism, dalam Our Religions, Arvind Sharma (ed), New York:
HarperCollins, 1993, hal. 231-287.
http://www.taopage.org/nondoing.html
http://www.jadedragon.com/archives/june98/tao.html

[1] Alan Watts, Tao: The Watercourse Way, Pantheon Books, 1973,
dalamhttp://www.taopage.org/nondoing.html
[2] http://www.jadedragon.com/archives/june98/tao.html
[3] Untuk bagian kedua dan ketiga tulisan ini, saya menggunakan tulisan
Liu Xiaogan, Taoism, dalam Our Religions, Arvind Sharma (ed), New York:
HarperCollins, 1993, hal. 231-287.
[4] Lihat, Ibid, hal. 232.
[5] Ibid.
[6] Liu Xiaogan, 1993, hal. 238.
[7] Ibid.
[8] Seperti dikutip Ibid, hal. 239.
[9] Dikutip Xiaogan dari Lao Tzu, chap. 14, dengan berdasar pada
terjemahan dari D.C. Lau,Chinese Classics: Tao Te Ching, Hongkong: Chinese
University Press, 1982.
[10] Dikutip Xiaogan dari Burton Watson, The Complete Works of Chuang Tzu,
New York and London: Columbia University Press, 1968, hal. 78-80.
[11] Xiaogan, 1993, hal. 239.
[12] Dikutip oleh Xiaogan dari Pao Pu Tzu Nei-Pien Chiao-Shih. Peking: Chung-
hua Shu-ch, 1985, chap. 3, hal. 53.
[13] Xiaogan, 1993, hal. 240.
[14] Ibid, hal. 241.
[15] Ibid.
[16] Dikutip Xiaogan dari chapter 42, dalam D.C Lau, Chinese Classics, 1982.
[17] Lihat, Xiaogan, 1993, hal. 241.
[18] Dikutip Xiaogan dari D.C Lau, 1982, chapter 14.
[19] Ibid, chapter 48.
[20] Xiaogan, 1993, hal. 241.
[21] Dikutip Xiaogan dari Lau, 1982, chapter. 48.
[22] Ibid, chapter. 25.
[23] Ibid, chapter. 34.
[24] Ibid, chapter. 2.
[25] Xiaogan, 1993, hal. 242.
[26] Dikutip Xiaogan dari Lau, 1982, chapter. 28.
[27] Ibid, chapter. 36.
[28] Xiaogan, 1993, hal. 242.
[29] Ibid, hal. 243.
[30] Lihat, ibid.
[31] Dikutip Xiaogan dari Lau, 1982, chapter. 57.
[32] Ibid, chapter. 48.
[33] Ibid, chapter. 43.
[34] Xiaogan, 1993, hal. 244.
[35] Ibid.
[36] Ibid.
[37] Ibid, hal. 281.
[38] Ibid, hal. 282.
[39] Ibid.
Sudah dipublikasikan di www.dapunta.com
Penulis:
Reza A. A Wattimena
Pengajar di Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya, Anggota
Komunitas Diskusi Lintas Ilmu COGITO, dan peneliti di Forum Kajian Multikulturalisme
(FORKAM), Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya