Anda di halaman 1dari 59

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kota Pontianak memiliki potensi yang besar dalam wisata bahari atau tirta

karena kota Pontianak memiliki kondisi geografis yang mempunyai ratusan

sungai besar dan kecil, selain itu kota Pontianak juga merupakan kota yang

tumbuh dan berkembang di tepian sungai Kapuas. Beberapa sungai besar sampai

saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah

pedalaman, walaupun prasarana jalan darat telah dapat menjangkau sebagian

besar kecamatan. Itulah sebabnya kota Pontianak juga disebut sebagai kota tepian

air. Selain itu, kota Pontianak juga disebut kota Khatulistiwa karena garis lintang

nol derajat berada tepat diatas kota Pontianak.

Kota Pontianak mendapat julukan kota tepian sungai, Karena keberadaan

Kota Pontianak yang terletak di sepanjang tepian sungai Kapuas sehingga menjadi

ciri khas kebudayaannya. Menurut sejarahnya, sungai Kapuas merupakan urat

nadi bagi kehidupan masyarakat Kota Pontianak, karena Sungai Kapuas

merupakan wadah untuk melakukan berbagai aktifitas masyarakat kota Pontianak

diantaranya sarana transportasi, sumber mata air baku untuk penyediaan air

bersih, peragangan dan sebagai sumber mata pencarian (nelayan). Selain itu

sungai kapuas juga mempunyai potensi lain yang meliputi keramba ikan, galangan

perahu tradisional, galangan speed boat dan wisata air. Selain itu, letak wilayah

Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia Timur (serawak)

1
2

menyebabkan kota Pontianak memiliki potensi yang besar untuk mendatangkan

wisatawan mancanegara.

Berdasarkan hasil pendataan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota

Pontianak, Perkembangan pariwisata dapat dilihat dari indikator jumlah

kunjungan wisata. Dalam lima tahun terakhir angkanya menunjukan peningkatan

yang cukup signifikan. Pada tahun 2009 jumlah wisatawan yang berkunjung

sebanyak 310.230 orang, dibandingkan dengan tahun 2012 sebanyak 503.529

orang dengan peningkatan rata rata per tahun sebesar 18,6% dan sampai bulan

Desember 2013 jumlah kunjungan wisata sebesar 537.937 orang. Peningkatan ini

terjadi pada wisatawan domestik dari periode 2009-2012 dengan rata rata

sebesar 16,7% dan juga wisatawan manca negara yakni rata rata sebesar 65,7%.

Berdasarkan PERDA (Peraturan Daerah) Kota Pontianak Tahun 2013

tentang RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Kota Pontianak Tahun 2013-2033,

PPK (Pusat Pelayanan Kota) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a

meliputi Kelurahan Mariana, Tengah, Darat Sekip, sebagian Kelurahan Benua

Melayu Darat di Kecamatan Pontianak Kota, sebagian Kelurahan Benua Melayu

Laut, Kelurahan Akcaya, sebagian Kelurahan Parit Tokaya di Kecamatan

Pontianak Selatan, serta sebagian Kelurahan Siantan Tengah Di Kecamatan

Pontianak Utara dan Kelurahan Dalam Bugis di Kecamatan Pontianak Timur yang

memiliki fungsi-fungsi yang meliputi perdagangan dan jasa, perkantoran,

pariwisata skala regional, simpul transportasi regional dan perumahan kepadatan

tinggi.
3

Kelurahan Benua Melayu Laut merupakan ciri permukiman yang berdiri

di tepian sungai Kapuas, dengan jumlah penduduk di daerah tersebut pada tahun

2015 mencapai 10.101 jiwa (5.077 jiwa penduduk laki-laki dan 5.024 jiwa

penduduk perempuan) dan luas wilayah sebesar 56 Ha. Batas wilayah Kelurahan

Benua Melayu Laut Kecamatan Pontianak Selatan di sebelah Utara berbatasan

dengan Sungai Kapuas, sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Benua

Melayu Darat Kecamatan Pontianak Selatan, sebelah Barat berbatasan dengan

Kelurahan Darat Sekip Kecamatan Pontianak Kota dan sebelah Timur dengan

Kelurahan Bansir Laut Kecamatan Pontianak Tenggara.1

Berdasarkan observasi, permukiman di Kelurahan Benua Melayu Laut

Kecamatan Pontianak Selatan ini juga memiliki beberapa masalah diantara

jalanlingkungan yang ada dibeberapa titik tertentu kondisinya buruk, sistem

sanitasi yang tidak layak, sistem persampahan yang belum tersedia sehingga

masyarakat sekitar membuang sampah pada tepian sungai Kapuas, bangunan-

bangunan yang padat dan bersifat temporer dan semi permanen sehingga rawan

akan terjadinya kebakaran, jaringan air bersih yang minim sehingga kebanyakan

dari masyarakat masih menggunakan air sungai kapuas untuk MCK (Mandi Cuci

Kakus), dan masyarakat yang berpenghasilan rendah serta rawan akan prilaku

menyimpang dan tindak kriminal. Sehingga Keberadaan Permukiman di wilayah

Pontinak Tenggara khususnya pada kawasan Bansir Laut kawasan tepian sungai

kapuas tergolong wilayah permukiman yang kurang tertata.

Oleh karena itu, dari fenomena dan fakta yang ada di Kelurahan Benua

Laut tersebut. Maka pengembangan kawasan kota tepian sungai (Waterfront City)

1
Kantor Lurah Benua Melayu Laut, Kota Pontianak 2015
4

merupakan alternatif pilihan pengembangan permukiman di tepian sungai Kapuas

sebagai kawasan pendukung kegiatan perekonomian yang diharapkan menjadi

salah satu tujuan bagi penanaman investasi dan sebagai pusat kawasan wisata.

Agar dapat meningkatkan wisatawan baik lokal maupun manca negara di Kota

Pontianak diperlukan suatu wadah wisatawan yang sesuai dengan keadaan alam dan

sejarah kota Pontianak yang tumbuh dan berkembang di tepian sungai Kapuas.

Dan apabila dilihat dari potensi dan keunggulan karakteristik yang dimiliki oleh

kota Pontianak yakni keadaan alam berupa sungai-sungai besar dan sejarah

perkembangan kota Pontianak yang tumbuh dan berkembang di tepian sungai

Kapuas dan juga letak wilayah Kalimantan Barat yang berbatasan langsung

dengan Malaysia Timur (Sarawak) maka perlu suatu wadah pariwisata berupa

Waterfront City. Maka judul yang diambil untuk Tugas Besar mata kuliah Studio

Perancangan Kawasan Perumahan dan Permukiman adalah PERENCANAAN

WATERFRONT CITY TEPIAN SUNGAI KAPUAS KELURAHAN BENUA

MELAYU LAUT KECAMATAN PONTIANAK SELATAN KOTA

PONTIANAK.

1.2. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang diatas, masalah yang terjadi di kawasan tepian

sungai Kapuas yaitu adanya pertumbuhan permukiman secara alami pada kawasan

tepian sungai tersebut, kawasan permukiman membentuk kawasan yang tak

beraturan sehingga perlu mengetahui pola dan intesitas ruang permukiman pada

tepian sungai Kapuas, khususnya yang terletak di Kelurahan Benua Melayu Laut.
5

Berdasarkan hal di atas, maka permasalahan yang dapat disampaikan antara

lain yaitu:

1. Bagaimana penataan pemukiman tepian sungai Kapuas Kelurahan Benua

Melayu Laut agar menjadi waterfront city sebagai kawasan wisata tepian

sungai Kapuas Kota Pontianak ?.

2. Bagaimana merencanakan desain kawasan waterfront city sebagai kawasan

wisata tepian sungai Kapuas di Kelurahan Benua Melayu Laut ?.

1.3. Batasan Masalah

Berasarkan permasalahan yang telah dirumuskan tersebut, adapun batasan

masalah yang akan dibahas sesuai dengan judul di atas yaitu sebagai berikut:

1. Wilayah penataan hanya pada pemukiman tepian sungai Kapuas Kelurahan

Benua Melayu Laut tepatnya RW III, IV, V,VI, VII, VIII dan IX (dari parit

Tokaya sampai dengan gang irian).

2. Merencanakan desain kawasan waterfront city sebagai kawasan wisata tepian

sungai Kapuas.

1.4. Tujuan

Adapun tujuan dalam penulisan Laporan Tugas Besar ini terbagi menjadi

dua bagian yaitu:

1.4.1 Tujuan Umum

Tujuan umum dari penulisan Tugas Besar ini adalah untuk sebagai

persyaratan penilaian dalam Mata Muliah Studio Perancangan Kawasan


6

Perumahan dan Permukiman Semester 7 Program Diploma IV Program Studi

Teknik Perencanaan Perumahan dan Permukiman Jurusan Teknik Sipil dan

Perencanaan Politeknik Negeri Pontianak.

1.4.2 Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari penulisan Laporan Tugas Besar ini adalah

sebagai berikut:

1. Mendapatkan penataan pemukiman tepian sungai Kapuas yang baik sehingga

menciptakan kawasan waterfront city sebagai tempat wisata tepian sungai

Kapuas Kota Pontianak.

2. Mendapatkan Masterplan kawasan waterfront city sebagai kawasan wisata

tepian sungai Kapuas.

1.5. Manfaat Hasil Penulisan

Manfaat yang diharapkan dari hasil penataan pemukiman tepian sungai

Kapuas menjadi kawasan kota tepian sungai (waterfront city) ini adalah sebagai

berikut:

1. Dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat dengan memanfaatkan

partisipasi masyarakat sekitar dalam pengembangan kawasan wisata, serta

mewujudkan pemukiman yang tertata, bersih dan sehat.

2. Sebagai masukan bagi pemerintah Kota Pontianak dalam menentukan

kebijakan penataan kawasan pemukiman tepian sungai Kapuas terutama dalam


7

mengatasi pemukiman kumuh yang semakin meningkat di sepanjang tepian

sungai Kapuas.

3. Dapat menjadi bahan masukan kepada Dinas Pariwisata dalam melestarikan

wisata dan budaya yang ada di kota Pontianak.

1.6 Metodelogi

Dalam penyelesaian penulisan Laporan Tugas Besar ini menggunakan

metode kualitatif dan kuantitatif. Adapun metedologi yang digunakan adalah

sebagai berikut :

1.6.1 Pengumpulan Data Primer

Pengumpulan Data Primer diperoleh dengan melakukan pengamatan

langsung di lapangan, pengambilan foto-foto di lokasi untuk mendapatkan

gambaran kawasan yang akan ditata, serta melakukan wawancara untuk

mendapatkan informasi dan data dari pelaku yang berada di lokasi pengamatan.

1.6.2 Pengumpulan Data Sekunder

Pengumpulan Data Sekunder diperoleh dengan mengumpulkan data dari berbagai

pihak atau instansi terkait, berupa data kawasan, peta kawasan, studi literatur serta

data-data penunjang lainnya yang berhubungan dengan lokasi pengamatan.


8

1.6. Alir Penyusunan


MULAI

Adanya Adanya Fakta dan


Tuntutan/Keinginan Identifikasi Masalah Fenomena
Masyarakat
Pengumpulan Data

Data Sekunder: Data Primer:


1. Monografi Kelurahan 1. Observasi/Pengamatan
2. Literatur langsung Lapangan
3. Dokumentasi RTRW 2. Wawancara
4. Standar-Standar 3. Dokumentasi Lapangan
5. Studi Banding

5 PRINSIP Waterfront City:


1. Konservasi Alam Tidak
2. Ekonomi Kontrol
3. Partisipasi Masyarakat Ulang
4. Pendidikan
5. wisata

Ya
ANALISIS DAN PENGOLAHAN DATA
1. Analisis Penataan Pemukiman tepian sungai
2. Analisis Perencanaan Kawasan Waterfront City
3. Analisis pendukung Kawasan Waterfront City

KONSEP DASAR PERENCANAAN


1. Perencanaan tata guna lahan
2. Perencanaan infrastruktur pendukung kawasan waterfront city
3. Perencanaan teknis prasarana kawasan waterfront city

RANCANGAN RENCANA
1. Master Plan
2. Desain Struktur : Gedung, Persampahan, Air limbah domestik

Analisa Struktur & Rencana Anggran Biaya

KESIMPULAN DAN SARAN SELESAI

Gambar 1.1 Bagan Alir Penyusunan


9

1.7. Lokasi Pengamatan

Site Location

Gambar 1.2 Kedeudukan Kota Pontianak dalam


Provinsi Kalimantan Barat Gambar 1.3 Kedeudukan
Lokasi dalam Kota
Pontianak

Site Location

Gambar 1.4 Kelurahan Benua Melayu Laut


10

1.8 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan Laporan Tugas Besar ini, terdiri atas :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisikan tentang Latar Belakang, Permasalahan, Batasan

Masalah, Tujuan, Manfaat Hasil Penulisan, Metodelogi, Alir Penulisan,

Lokasi Pengamatan Dan Sistematika Penulisan.

BAB II DASAR TEORI

Bab ini berisikan tentang landasan teori yang digunakan oleh para ahli

tentang teori pasar, penataan bangunan dan lingkungan, komponen

perencanaan kawasan, struktur peruntukan lahan, intensitas pemanfaatan

lahan, tata bangunan, sistem sirkulasi dan penghubung, sistem ruang terbuka

dan tata hijau, tata kualitas lingkungan, prasarana dan utilitas bangunan.

BAB III DATA DAN ANALISA

Bab ini berisikan tentang data dan analisa penataan pemukiman tepian

sungai Kapuas Kelurahan Benua Melayu Laut menjadi waterfront city

sebagai kawasan wisata tepian sungai Kapuas Kota Pontianak.

BAB IV PEMBAHASAN

Bab ini berisikan tentang pembahasan penataan, perhitungan, dan

detail materi yang akan direncanakan.

BAB V PENUTUP

Bab ini berisikan tentang kesimpulan dan saran.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
11

BAB III

DATA DAN ANALISIS

3.1 Data Kawasan

3.1.1 Gambaran Umum Lokasi Perencanaan


Kelurahan Benua Melayu Darat Merupakan salah satu bagian dari

Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak. Kelurahan Benua Melayu Laut

berjarak + 4 Km dari pusat pemerintah kecamatan dan kota, sedangkan jarak ke

pusat pemerintah provinsi + 5 Km.

Gambar 3.1 Peta Kelurahan Benua Melayu Laut

Secara Administratif batas-batas wilayah Kelurahan Benua Melayu Laut

adalah sebagai berikut:

11
12

a. Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kelurahan Darat Sekip

Kecamatan Pontianak Kota

b. Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kelurahan Bansir Laut

Kecamatan Pontianak Tenggara

c. Sebelah Selatan : Bebatasan dengan Kelurahan Benua Melayu Darat

Kecamatan Pontianak Tenggara

d. Sebelah Utara : Berbatasan dengan Sungai Kapuas

Luas wilayah admnitrasi Kelurahan Benua melayu Laut adalah seluas 56

Hektar/0,58 Km2. Luas wilyah tersebut terbagi atas 6 (enam) bagian antara lain:

a. Luas pemukiman : 54,84 Ha

b. Luas pemakaman : 0,80 Ha

c. Luas Jalur Hijau : 0,10 Ha

d. Lapangan Olahraga : 0,05 Ha

3.1.2 Fungsi Kawasan Perencanaan

Berdasarkan PERDA (Peraturan Daerah) Kota Pontianak Tahun 2013

tentang RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Kota Pontianak Tahun 2013-2033,

PPK (Pusat Pelayanan Kota) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a

meliputi Kelurahan Mariana, Tengah, Darat Sekip, sebagian Kelurahan Benua

Melayu Darat di Kecamatan Pontianak Kota, sebagian Kelurahan Benua Melayu

Laut, Kelurahan Akcaya, sebagian Kelurahan Parit Tokaya di Kecamatan

Pontianak Selatan, serta sebagian Kelurahan Siantan Tengah Di Kecamatan

Pontianak Utara dan Kelurahan Dalam Bugis di Kecamatan Pontianak Timur yang
13

memiliki fungsi-fungsi yang meliputi perdagangan dan jasa, perkantoran,

pariwisata skala regional, simpul transportasi regional dan perumahan kepadatan

tinggi.

Gambar 3.2 RTRW Kota Pontianak Tahun 2013-2033


14

3.1.3 Kondisi Fisik Wilayah Perencanaan

Kondisi fisik dasar merupakan gambaran kondisi fisiografis suatu wilayah

yang meliputi topografi, hidrologi dan klimatologi, demografi, kondisi

kependudukan, kondisi pendidikan dan kondisi pendapatan. Kondisi ini

diperlukan untuk mengetahui keadaan di daerah pengamatan, sehingga data

tersebut mempermudah dalam sebuah perencanaan dan perbaikan di daerah yang

di tinjau. Berikut ini mengenai penjelasan yang mendetail di daerah yang dibahas.

1. Topografi

Kondisi topografi di Kelurahan Benua Melayu Laut relatif datar dan tidak

terdapat perbedaan permukaan yang signifikan. Ketinggian tanah terhadap

permukaan laut berkisar antara 1 m 3 m dan kemiringan lahan untuk daerah

ini berkisar antara 0 2 %. Sehingga pada musim hujan kelurahan benua

melayu laut ini sering pasang surut. Dengan kondisi daerah yang tiap tahun

mengalami pasang surut, maka bentuk kontruksi rumahnya panggung agar

terhindar dari banjir.

2. Hidrologi dan Klimatologi

Kota Pontianak merupakan daerah daerah yang berada pada jalur garis

Khatulistiwa, maka suhu di daerah studi berkisar antara 230 C 340 C. curah

hujan harian maksimum di Kelurahan Benua Melayu Laut adalah sebesar 502

mm/tahun (BMKG Baandara Supadio Pontianak tahun 2012).


15

3. Geologi

Umumnya jenis tanah di Kota Pontianak berupa tanah gambut. Menurut hasil

digitasi Peta Penggunaan Lahan 1999/2000 RTRW Kota Pontianak, kedalaman

kawasan gambut dapa dibagi menjadi dua jenis yaitu:

1. lahan gambut dengan kedalaman kurang dari 1 meter.

2. lahan gambut dengan kedalaman lebih dari 1 meter.

Secara umum kawasan dengan kealaman gambut kurang dari 1 (satu) meter

berlokasi mulai tepian sungai Kapuas hingga 2-3 Km dari tepian sungai ke arah

daratan. Selan itu lapisan gambut dengan ketebalan 1 (satu) meter atau lebih

terdapat pada jarak di atas 2-3 Km dari tepian sungai Kapuas.

4. Demografi

Secara Administratif Kelurahan Benua Melayu Laut terbagi menjadi 11 RW

(sebelas Rukun Warga) dan 41 RT (Rukun Tetangga). Dengan kepadatan

penduduk di Kelurahan ini mencapai 20.826 jiwa/Km2 (RP4D Kota Pontianak,

2008).

5. Kondisi Kependudukan

Berdasarkan data monografi dari Kelurahan Benua Melayu Laut Tahun 2015

jumlah kepala keluarga (KK) di aerah ini mencapai 2.674 KK. Untuk lebih

jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:


16

Tabel 3.1
Data Kependudukan Berdasarkan Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Total


1 Laki Laki 5.077
2 Perempuan 5.024
Jumlah Penduduk ( Jiwa ) 10.101
Sumber : Monografi Kelurahan Benua Melayu Laut, 2015

Tabel 3.2
Data Kependudukan Berdasarkan Kewarganegaraan

WNI WNA
Laki Laki Perempuan Laki Laki Perempuan
5.077 5.024 - -
10.101 -
Sumber : Monografi Kelurahan Benua Melayu Laut, 2015

Tabel 3.3
Data Kependudukan Berdasarkan Kewarganegaraan

Jumlah Penduduk Menurut Usia

Usia Jumlah
(Tahun) (Jiwa)
0 15 2.266
15 - 65 7.006
65 ke atas 829
Jumlah Penduduk 10101
Sumber : Monografi Kelurahan Benua Melayu Laut, 2015
17

Tabel 3.4
Data Kependudukan Berdasarkan Pendidikan Masyarakat

No Pendidikan Jumlah (Jiwa)


1 TK/Belum Tamat SD 3.004
2 Sekolah Dasar 1.725
3 SMP 1.429
4 SMA/Sederajat 3.092
5 Akademi / D1 D3 360
6 Sarjana 450
7 Pascasajana 29
Sumber : Monografi Kelurahan Benua Melayu Laut, 2015

6. Kondisi Pendidikan

Sarana pendidikan di daerah Kelurahan Benua Melayu Laut dapat dilihat pada

tabel berikut ini:

Tabel 3.5
Data Sarana Pendidikan

No Tingkatan Jumlah
1 Pendidikan anak Usia Dini (PAUD) 3 Buah
2 Taman Kanak Kanak (TK) 1 Buah
3 Sekolah Dasar Negeri (SD N) 2 Buah
Sumber : Monografi Kelurahan Benua Melayu Laut, 2015

Sarana pendukung lainnya yang ada di daerah Kelurahan Benua Melayu Laut

dapat dilihat pada tabel berikut ini:


18

Tabel 3.6
Data Sarana Pendukung

No Sarana Pendukung Jumlah


1 UKBM (Posyandu) 6 Buah
2 Masjid 5 Buah
3 Mushola 7 Buah
4 Gereja 1 Buah
5 Klenteng 1 Buah
6 Kantor Kelurahan 1 Buah
Sumber : Monografi Kelurahan Benua Melayu Laut, 2015

7. Kondisi Pendapatan

Mata pencaharian penduduk di Kelurahan Benua Melayu Laut ini pada

umumnya berbagai jenis bentuk pekerjaan diantaranya adalah Pegawai Negeri

Sipil (PNS), ABRI, Swasta, Wiraswasta/Pedagang, Petani, Pertukangan, Buruh

Tani, Pensiunan, Nelayan dan Jasa. Lebih detailnya terlihat pada tabel berikut ini:

Tabel 3.7
Data Mata Pencaharian Penduduk
Jumlah Jumlah
No Pekerjaan No Pekerjaan
(Jiwa) (Jiwa)
1 PNS 155 6 Pertukangan 40
2 ABRI 18 7 Buruh Tani 6
3 Swasta 1.778 8 Pensiunan 60
4 Wiraswasta/ 829 9 Nelayan 14
Pedagang
5 Tani 5 10 Jasa 27
Sumber : Monografi Kelurahan Benua Melayu Laut, 2015
19

3.1.4 Daya Dukung Fisik Sarana dan Prasarana Lingkungan

Adapun sarana dan prasarana yang sudah ada pada lingkungan

perencanaan waterfront city koridor sungai kapuas adalah sarana peribadatan,

sarana kesehatan, sarana transportasi, jalan, persampahan, listrik, air bersih dan

drainase.

1. Sarana Peribadatan

Pada umumnya masyarakat yang berada di lingkungan perencanaan

waterfront city koridor sungai kapuas mayoritas beragama islam. Ada beberapa

sarana peribadatan baik muslim maupun non muslim dari kawasan perencanan

adalah sebagai berikut:

Tabel 3.8
Sarana Peribadatan

Jarak Dari
No Sarana Peribadatan Lokasi
Centre Perencanaan
Berada pada Kawasan Tepian Sungai Kapuas Gang
1 Masjid Nurul Huda
Perencanaan Kamboja Lama
2 Masjid Nurul Islam 150 M Jl. Tj. Pura Gg. Kamboja Baru
Berada pada Kawasan
3 Masjid Nurul Hidayah Gang. Aden 1
Perencanaan
4 Masjid Al Ikhlas 400 M Jl. Ketapang
5 Masjid Darussalam 500 M Jl. Tj Pura
6 Kelenteng Cina 550 M Jl. Ketapang
7 Masjid Baitul Rahman 700 M JL. Tj Pura Gg. Buntu
8 Masjid At-Taufiq 700 M Jl. Pahlawan Gg Banyuates
9 Masjid Pancasila 750 M Jl. Imam Bonjol Gg. Garuda 1
10 Gereja 750 M Jl. Dewi Sartika
11 Gereja 800 M JL. Wr. Supratman
Sumber : Analisa Lapangan, 2016
20

2. Sarana Kesehatan

Sarana Kesehatan yang ada dilingkungan penataan adalah Posyandu, apotik

dan Tempat Bersalin, sedangkan untuk puskesmas, rumah sakit umum/swasta

berada cukup jauh dari kawasan perencanaan. Lebih jelasnya dapat dilihat pada

tabel berikut ini:

Tabel 3.9
Sarana Kesehatan

Jarak Dari
No Sarana Kesehatan Lokasi
Centre Perencanaan
1 Posyandu 80 m Gang Landak
2 Klinik Herbal 100 m Gang Kamboja
3 Apotek Damai 160 m Jl. Tj. Pura Gang Satu
4 Apotek Kimia Farma 300 m Jl. Tj. pura
5 Bersalin Kal-Bar 450 m Jl. Tj. pura Gg. Martapura 3
6 Apotek Imbon 800 m Jl. Imam Bonjol
Sumber : Analisa Lapangan, 2016

3. Sarana Pendidikan

Pada kawasan perencanaan waterfront city tidak ada satu pun sarana

pendidikan yang berada dalam kawasan perencanaan tersebut. Melainkan berada

diluar kawasan perencanaan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di

bawah ini:

Tabel 3.10

Sarana Pendidikan

Jarak Dari
No Sarana Pendidikan Lokasi
Centre Perencanaan
1 SMP N 6 500 m Jl. Hijas
2 SD Bruder Dahlia 600 m Gang Gj. Mada XVII
21

Jarak Dari
No Sarana Pendidikan Lokasi
Centre Perencanaan
TK Komplek Gembala
3 600 m Jl. Sultan Muhammad
Baik
4 Yayasan Kuning Agung 600 m Jl. Sultan Muhammad
SD Komplek Gembala
5 600 m Jl. Sultan Muhammad
Baik
6 Kampus ASMI/ABA 750 m Jl. Imam Bonjol
7 SD 20 800 m Jl. Letjend Suprapto
8 SMPN 10 800 m Jl. Wr. Supratman
9 SMUN 3 800 m Jl. Wr. Supratman
10 ASMI 800 m Jl. Gajah Mada
Sumber : Analisa Lapangan, 2016

4. Sarana Keamanan

Sarana keamanan pada lingkungan Perencanaan Waterfront City Kelurahan

Benua Melayu Laut Kecamatan Pontianak Selatan pada umumnya sudah ada 2

(dua) unit pos yaitu pos kambling yang terletak pada jalan Gang Irian dan pos

polisi yang teletak pada tepian sungan Kapuas tepatnya di depan Gang Bayu.

5. Sarana Pendukung Lainnya

Untuk sarana pendukung lainnya seperti sarana parkir, perbankan dan ATM,

kantor lurah, serta SPBU berada di luar kawasan perencanaan Waterfront City.

Sedangkan sarana parkir berada di dalam kwasan perencanaan yang hanya

menggunakan kiri kanan jalan sebagai tempat parkir. Untuk lebih jelas dapat

dilihat pada tabel dibawah ini:


22

Tabel 3.11
Sarana Pendidikan

Jarak Dari
No Sarana Pendidikan Lokasi
Centre Perencanaan
Berada pada Kawasan Gg. Irian, Gg. Landak dan
1 Parkir
Perencanaan Gg. Kamboja
Kantor Lurah Benua
2 350 m Gg. Irian
Melayu Laut
3 SPBU 400 m Jl. Tj pura
4 BRI Barito 500 m Jl. Barito
Kantor Lurah Benua
5 550 m Jk. Setia Budi
Melayu Darat
Jl. Imbon Gang H.
6 BANK BTN 650 m
Mursyid 1
7 BANK Mandiri 800 m Jl. Agus Salim
Sumber : Analisa Lapangan, 2016

6. Prasarana Jalan

Dari hasil pengamatan yang dilakukan di lapangan, kondisi jalan Kelurahan

Benua melayu Laut sebagian besar sudah menggunakan cor beton dan aspal.

Namun jalan tersebut tidak memiliki garis sempadan bangunan dan tidak adanya

jarak antara bangunan.

7. Prasarana Persampahan

Kondisi sampah yang kami lihat langsung dilapangan sangatlah

memprihatinkan, karena pada kawasan Kelurahan Benua melayu Laut ini belum

tersedianya bak sampah disetiap 20-30 m. sehingga masyarakat yang berada di

lingkungan tersebut banyak yang membuang sampah sembarangan, bahkan juga

ada masyarakat yang membuang sampah ditepian sungai Kapuas.


23

8. Prasarana Drainase

Drainase kawasan perencanaan sudah tidak berfungsi dengan baik, bahkan

ada di beberapa titik draiase hanya menjadi tempat sampah. Demesi drainase juga

memprihatinkan dengan ukuran lebar 25 cm dan kedalaman 20 cm yang terdapat

di Gang Irian dan Gang Landak.

9. Prasarana Air Bersih

Dari hasil pengamatan dilapangan, masayarakat di Kelurahan Benua Melayu

Laut sebagaian besar menggunakan air sungai Kapuas untuk MCK. Hanya

masyarakat yang jauh dari tepian sungai Kapuas yang menggunakan supplay dari

PDAM dan penampungan air hujan.

10. Prasana Listrik

Bedasarkan pengamatan di lapangan, untuk pemenuhan kebutuhan

penerangan lingkungan Kelurahan Benua Melayu Laut, energi listrik pada

lingkungan tersebut, listrik di supplay yang berasal dari perusahaan listrik negara

(PLN).
24

3.1.5 Kondisi Eksisting Kawasan Perencanaan

1. Kondisi Jalan Lingkungan

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2015

Gambar 3.3 Kondisi Jalan Lingkungan

Kondisi jalan lingkungan yang terdapat pada lokasi perencanaan pada umumnya

sudah menggunakan cor beton seiring perkembangan dari masa ke masa. Namun

kurangannya jarak antara bangunan dengan jalan, kurangnya perawatan jalan,

Sehigga keadaan jalan sangat sempit dan kondisi jalan sangat buruk.

2. Kondisi Persampahan

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2015

Gambar 3.4 Kondisi Jalan Lingkungan


25

Kondisi penampungan sampah tidak ada terlihat satu pun, sehingga

membuang sampah sembarangan di tepian sungan Kapuas dan kelihatan kesan

kotor pada daerah pemukiman tersebut.

3. Kondisi Drainase

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2015

Gambar 3.5 Kondisi Kondisi Drainase Yang Ada

Kondisi drainase yang ada di Kelurahan Benua Melayu Laut ini sudah

tidak berfungsi dengan baik, bahkan hampir seluruh gang drainase tidak

terpelihara dan sebagian jalan gang yang tidak memiliki drainase.

4. Kondisi Tata Bangunan

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2015

Gambar 3.6 Kondisi Tata Bangunan


26

Penggunaan lahan untuk bangunan pada umumnya diupayakan seoptimal

mungkin dengan tanpa adanya menyisakan kelebihan ruang untuk halaman dan

jarak antara bangunan sangat kecil.

5. Kondisi Ruang Terbuka Hijau

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2015

Gambar 3.7 Kondisi Ruang Terbuka Hijau

Pada kawasan perencanaan waterfront city di Kelurahan Benua Melayu

Laut Kecamatan Pontianak Selatan, kondisi ruang terbuka hijau merupakan hal

yang dominan karena lahan untuk pemukiman sangat padat dan sebagaian lahan

juga terletak pada daerah pasang surut. Terlihat pada gambar di atas lahan terbuka

hijau sangat minim, dan hanya terdapat pada beberapa titik jalan gang saja.
27

6. Kondisi Ruang Parkir

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2015

Gambar 3.8 Kondisi Ruang Parkir

Kondisi ruang parkir kawasan perencanaan waterfront city di Kelurahan


Benua Melayu Laut Kecamatan Pontianak Selatan, terlihat parkir kendaraan
memakan badan jalan, sehingga akan menimbulkan kemacetan yang lebih parah
pada jalan.

7. Limbah Domestik

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2015

Gambar 3.9 Kondisi Limbah Domestik

Kondisi jaringan limbah domestik tidak di salurkan dengan baik sehingga

keadaan lingkungan terlihat suasana yang berkesan kotor.


28

3.2 Analisa Data

3.2.1 Teknik Pengumpulan Data

Proses pemecahan masalah untuk kawasan Kelurahan Benua Melayu Laut

memerlukan analisis yang teliti terhadap data yang dikumpulkan dalam setiap

parameter yang akan digunakan dalam pemecahan permasalahan. Penyajian data

yang lengkap akan memberikan hasil perencanaan yang baik. Adapun metode

yang digunakan dalam penulisan Tugas Studio Perencanaan Perumahan dan

Pemukiman ini adalah sebagai berikut:

1. Observasi/Pengamatan Langsung Lapangan, yaitu pengamatan yang dilakukan

dengan peninjauan secara langsung ke lapangan untuk mengetahui kondisi

eksisting prasarana yang ada di lokasi perencanaan.

2. Wawancara, yaitu metode pengumpulan data dengan tanya jawab langsung

kepada sebagian warga dan ketua RT/RW di lokasi perencanaan tentang

tanggapan warga mengenai kondisi nyata dan tingkat kepuasan akan sarana dan

prasarana yang ada dilokasi perencanaan.

3.2.2 Analisa Data Waterfront City dan Prasarana Lingkungan

1. Analisa Waterfront City

a. Observasi

Pengamatan yang dilakukan pada lokasi perencanaan utuk dijadikan kawasan

Waterfront City di tepian sungai Kapuas Kelurahan Benua Melayu Laut dengan

mempertimbangkan 5 prinsip kawasan wisata sangat memungkinkan karena

daerah tersebut telah memenuhi.


29

b. Wawancara

Wawancara dilakukan kepada masyarakat yang tinggal di lokasi perencanaan

koridor tepian sungai Kapuas Kelurahan Benua Melayu Laut, RW III, IV, V,

VI, VII. VIII dan IX sangat setuju dengan program yang ditawarkan, karena

dengan konsep Waterfront City dapat melibatkan masyarakat setempat agar

dapat membuka lapangan pekerjaan dan dapat mendukung program kerja

pemerintah yang menjaikan kawasan tersebut sebagai kawasan wisata sungai.

2. Analisa Jalan Lingkungan

a. Obsevasi

Pengamatan yang dilakuakan di lokasi perencanaan untuk kondisi jalan

lingkungan terdapat di beberapa titik jalan yang kondisinya tidak

memungkinkan atau belum memenuhi standard jalan pemukiman seperti pada

jalan Gang Aden, Gang Tiga, Gang Kamboja Baru dan jalan tepian sungai.

b. Wawancara

Wawancara yang dilakukan kepada masyarakat yang tinggal di lokasi

perencanaan, untuk kondisi jalan Gang Kamboja, Gang Landak dan Gang Irian

masyarakat merasa nyaman, sedangkan untuk jalan Gang Aden, Gang Tiga dan

beberapa titik jalan lingkung tepian sungai banyak masyarakat mengeluh

dengan kondisi jalan karena kondisi jalan ada sempit da nada yang rusak.
30

3. Analisa Persampahan

a. Observasi

Hasil pengamataan yang dilakukan dilapangan masyarakat di Kelurahan Benua

Melayu Laut beberapa titik sampah yang tidak ada pengelolaan pembuangan

dengan baik, tetapi ada beberapa dari warga mengelola sampah dengan cara

membakarnya. Permasalahan yang timbul dikarenakan tidak tersedianya

pengelolaan sampah seperti wadah komunal, gerobak sampah, dan TPS

(Tempat Pembuangan Semetara).

b. Wawancara

Hasil wawancara yang dilakukan pada masyarakat lokasi perencanaan, adapun

harapan masyarakat Kelurahan Benua Melayu Laut terhadap pihak pemerintah

daerah agar menyediakan tempat pengelolaan sampah dengan baik, agar

sampah tidak lagi dibuang pada sungai. Sehingga sungai kelihatan suasana

bersih dari sampah.


31

3.2.3 Analisa Batasan Wilayah Perencanaan

1. Data

Site Location

Gambar Kedeudukan Kota Pontianak dalam Gambar Kedeudukan


Provinsi Kalimantan Barat Lokasi dalam Kota Pontianak

Site Location

Gambar 3.10 Kedudukan Lokasi RW III, IV, V, VI, VII, VIII


dan IX Kelurahan Benua Melayu Laut

Secara administratif daerah perencanaan ini terletak di Kelurahan Benua

Melayu Laut Kecamatan Pontianak Selatan yang terdiri atas 11 RW (Rukun

Warga) dan 41 RT (Rukun Tetangga). Lokasi perencanaan yang terdapat di

Kelurahan Benua Melayu Laut ini mempunyai luas lahan sekitar 18,65 Ha dan
32

terdiri atas RW III, IV, V, VI, VII, VIII dan IX. Adapun batas batas wilayah

perencanaan sebagai berikut:

1. Sebelah Utara Berbatasan dengan Sungai Kapuas

2. Sebelah Selatan Berbatasan dengan Pemukiman Warga Kelurahan Benua

Melayu Laut.

3. Sebelah Barat Berbatasan dengan RW II (Gang Irian)

4. Sebelah Barat Berbatasan dengan RW X (Parit Tokaya)

Sebelah Barat Berbatasan


dengan RW II (Gang Irian)
Sebelah Utara Berbatasan
dengan Sungai Kapuas

Sebelah Barat Berbatasan


Sebelah Selatan Berbatasan dengan Parit Tokaya
dengan Pemukiman Warga
Kelurahan Benua Melayu Laut.

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2015

Gambar 3.11 Batas Wilayah Perencanaan


33

2. Hasil Analisa dan Respon

a) Sebelah Utara Berbatasan dengan sungai Kapuas yang terdapat keindahan

tradisional Masjid Jami, Keraton Kadriah, Rumah panggung tepian Sungai

serta aktifitas masyarakat yang menggunakan speed boat sebagai salah satu

transportasi penyebrangan.

b) Sebelah Selatan berbatasan dengan rumah warga yang memiliki kepadatan

yang tinggi serta kurang tertata dengan baik dan penduduknya mayoritas

sebagai pedagang dan swasta.

c) Sebelah Barat berbatasan dengan RW II yaitu Gang Irian yang merupakan jalur

akses keluar masuk masyarakat serta terdapat Kantor Lurah Kelurahan Benua

Melayu Laut.

d) Sebelah Barat Berbatasan dengan Parit Tokaya yang memiliki potensi

keindahan jembatan sungai Kapuas dan terdapat tempat berbelanja yaitu

Ramayana.

Oleh karena itu, akan direncanakan penataan kawasan tersebut dengan baik

sehingga dapat dijadikan objek wisata Kota Pontianak. Detail gambar tersebut

dapat dilihat pada Bab III.


34

Aksesbilitas/Pencapaian

Waterfront

Rumah Deret

Hotel dan Restaurant

Sumber: Hasil Analisa, 2015


Gambar 3.12 Batas Wilayah Perencanaan

3.2.4 Kondisi Aksesbilitas /Pencapaian

1. Data

Prasarana lingkungan yang sangat pengaruh pada kualitas lingkungan yang

utama adalah prasarana jalan lingkungan, baik kondisi, luasan maupun

polanya. Jaringan jalan yang terdapat pada lokasi studi pada umumnya sudah

menggunakan cor beton seiring perkembangan dari masa ke masa.


35

Kondisi jalan lingkungan


Kondisi jalan lingkungan yang tidak memiliki jarak
dan saluran yang terletak di antarabangunan dengan
Gang Irian. jalan pada Gang Landak

Kondisi jalan lingkungan


yang sempit terdapat pada
tepian sungai Kapuas

kondisi jalan yang sangat


sempit dan terdapat
tumpukan sampah terletak
di Gang Aden.

Kondisi jalan lingkungan


tepian sungai Kapuas
yang buruk

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2015

Gambar 3.13 Kondisi Jalan


36

2. Hasil Analisa dan Respon

pada jalan lingkungan masih banyak saluran atau drainase pada kiri-kanan

jalan yang tidak bermanfaat dengan baik, bahkan ada jalan lingkungan yang tidak

memiliki saluran. Selain itu banyak bangunan (hunian) yang tidak memenuhi

aturan baik itu garis sempadan bangunan dan garis sungai maupun jarak antara

bangunan dengan jalan, sehingga hal ini sangat berbahaya bagi pengguna jalan

jika tidak berhati-hati. Jalan lingkungan masih banyak yang tidak menerus, dan

berhenti pada posisi tertentu denga kata lain buntu. Sehingga para pengguna jalan

memanfaatkan halaman hunian orang lain untuk dilalui, hal ini sangat merugikan

penghuni disamping itu juga tidak ada privasi maupun keamanan yang terjamin

pada kawasan itu.

Oleh karena itu, akan direncanakan jalan lingkungan dan jalan akses

keluar masuk kawasan tepian sungai Kapuas yang lebih baik dan aman bagi

pengguna jalan. Detail gambar terlihat pada bab III.

Akses Masuk

Akses Lingkungan

Jln. Tanjung Pura


Akses Keluar

Sumber: Hasil Analisa, 2015

Gambar 3.14 Rencana Jalur Akses/Pencapaian


37

3.2.5 Persampahan

1. Data

Sampah yang bertaburan Sampah yang dibuang ke


pada Gang Landak badan Sungai Kapuas

Sampah yang dibiarkan


Sampah yang dibuang begitu saja pada tepian
dibawah bangunan hunian sungai Kapuas.
masyarakat Gang Landak

Sampah yang dibuang


pada tepian sungai kapuas
Tanpa adanya pengelolaan
sampah, sehingga sampah
terdapat dimana-mana.
Salah satunya pada Gang
Asean Sampah yang tedapat di
tepian jalan lingkungan
Gang. Kamboja

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2015

Gambar 3.15 Kondisi Pembuangan Sampah


38

2. Hasil Analisa dan Respon

Untuk pengelolaan persampaahan kawasan perencanaan masih belum

dikelola dengan baik, hal ini ditandai dengan belum tersedianya tempat

pembuangan sampah pada lokasi. Oleh karena itu, masih banyak masyarakat

setempat yang membuang sampah sembarangan tanpa memikirkan dampak

pembuangan sampah tersebut. Banyak terdapat masyarakat yang memiliki hunian

diatas bantaran sungai sehingga mereka membuang sampah pada badan sungai.

Oleh karena itu, akan direncanakan tempat pembuangan sampah sementara

pada titik tertentu dengan jarak 25-30 m sesuai dengan standar. Detail gambar

dapat dilihat pada Bab III.

Rencana Titik-Titik Tempat


PemPuangan Sampah

Sumber: Hasil Analisa, 2015

Gambar 3.16 Rencana Titik Tempat Pembuangan Sampah


39

3.2.6 Drainase

1. Data

Saluran drainase Jalan


Kondisi saluran drainase
Jalan Gang Landak yang
Jalan Gang Irian
mempunyai lebar 25 cm,
mempunyai ukuran lebar
dan kedalaman 20 cm.
20 cm, dan kedalaman
20 cm.

Kondisi Jalan Yang


sempit dan tidak
Kondisi Jalan Kamboja
mempunyai drainase
yang tidak mempunyai
terdapat pada jalan
saluran drainase
Gang Aden.

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2015

Gambar 2.12 Kondisi Saluran/Drainase


40

2. Hasil Analisa dan Respon

Setelah dilakukan analisa di lapangan, ditemukan beberapa hal antara lain

tidak adanya saluran drainase pada kiri kanan jalan, drainase pada kiri-kanan jalan

yang ada tidak bermanfaat dengan baik, serta banyak tumpukan saampah yang

terdapat di dalam drainase. Oleh karena itu, akan direncanakan drainase di

sekeliling bangunan dan di kiri kanan jalan untuk memperlancar aliran air hujan

atau yang jatuh agar tidak tergenang demi menjaga kualitas, kenyaman dan

kelancaran aktivitas sebuah kawasan waterfront tersebut. Lebih detailnya lihat

gambar pada bab III.

Jaringan Saluran Drainase

Sumber: Hasil Analisa, 2015

Gambar 2.13 Rencana Jaringan Saluran Drainase


41

3.2.7 Air Limbah Domestik

1. Data

Sistem pengelolaan limbah domestik mesyarakat di Kelurahan Benua

Melayu Laut rata-rata sudah memiliki MCK pribadi, akan tetapi untuk beberapa

hunian yang terletak di darat dan tepian sungai belum tersedia pengelolaan limbah

domestik sehingga mereka langsung buang ke sungai.

Hunian warga yang tidak


memiliki sistem pembuangan
limbah domestik
Hunian warga yang sudah
memiliki pengelolaan
limbah domestik

Terlihat hunian warga yang


tidak memiliki pengelolaan
limbah domestik terdapat
pada hunian tepian sungai
Akibat limbah tidak diolah kapuas
dengan baik sehingga
lingkungan terlihat kesan
kotorter dapat pada gang
tiga.

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2015

Gambar 2.14 Kondisi Pengelolaan Air Limbah Domestik


42

2. Hasil Analisa dan Respon

Berdasarkan observasi di lapangan, sistem pengelolaan limbah domestik

masyarakat di Kelurahan Benua Melayu Laut rata-rata tidak memiliki sistem

pembuangan limbah domestik, hanya ada beberapa hunian yang terletak di daratan

memiliki sistem pembuangan limbah domestik. dikarenakan kurangnya kesadaran

akan pentingnya kesehatan dan menjaga lingkungan agar tetap bersih. Masyarakat

sekitar lebih memilih membuang limbah domestik secara langsung tanpa melalui

pengelolaan limbah domestik terlebih dahulu. Oleh karena itu, akan direncanakan

pengelolaan limbah domestik baik berupa saluran dan WC komunal. Detail

gambar tersebut dapat dilihat pada Bab III.

Rencana
Jaringan
Pengelolaan
Limbah Rencana WC Komunal
Domestik
Masyaraakat

Sumber: Hasil Analisa, 2015

Gambar 3.15 Rencana Jaringan Limbah Domestik dan WC Komunal


43

3.2.8 Tata Bangunan


1. Data

Kondisi hunian masyarakat


yang tidak ada halaman, Kondisi hunian masyarakat
sehingga anak-anak hanya bisa yang kurang tertata pada Gang
bermain di jalan, pada Gang Bayu
Aden.

Kondisi hunian masyarakat


Kondisi hunian masyarakat yang berada di tepian sungai
yang begitu sempit dan padat Kapuas sangat padat sehinga
pada Gang Kamboja Baru. jarak antar bangunn tidak ada,
serta kontruksi bangunan
sebagian besar terbuat dari
kayu, yang memungkinkan
rawan bahaya kebakaran.

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2015

Gambar 3.16 Keadaan Hunian Masyarakat


44

2. Hasil Analisa dan Respon

Berdasarkan analisa yang dilakukan di lapangan, pada umumnya kondisi

bangunan (hunian) tepian sungai Kapuas Kelurahan Benua Melayu Laut masih

banyak bangunan yang terbuat dari kayu dan jarak antara bangunan sangat sempit,

kurangnya jarak antara bangunan dengan jalan, tidak adanya jarak antar bangunan

dengan tepian sungai. Penggunaan lahan pada umumnya diupayakan seoptimal

mungkin untuk mendirikan sebuah bangunan tanpa adanya menyisakan kelebihan

ruang untuk halaman. Sehingga kawasan di Kelurahan Benua Melayu Laut

tergolong sebuah kawasan permukiman yang padat dan kurang tertata. Oleh

karena itu akan direncanakan penataan hunian masyarakat tersebut. Detail gambar

dapat dilihat di BAB III .

Area
Penataaan
Hunian
Masyarakat

Sumber: Hasil Analisa, 2015

Gambar 2.17 Keadaan Hunian Masyarakat


45

3.2.9 Kebisingan (Noise)

1. Data

Prasarana Jalan Utama Keadaan sungai Kapuas sore


Tanjung Pura menuju lokasi hari
Perencanaan

Kondisi jalan Gang kamboja


sebagai jalan masuk menuju
lokasi tepian sungai Kapuas

Sumber: Hasil Analisa, 2015

Gambar 2.18 Kebisingan

2. Hasil Analisa

Berdasarkan pengamatan dilapangan kebisisngan sangat berpegaruh

kepada kenyamanan pelaku pada pusat waterfront city, terutama untuk tempat

yang memerlukan ketenangan seperti restoran, caf, hotel, dan lainnya.

Kebisisngan terdapat pada jalan tanjung pura saja karena diakibatkan arus lalu

lintas kendaraan.
46

3.2.10 Analisa Orientasi Bangunan Terhadap Cahaya Matahari

1. Data

Matahari berada tepat


diatas site pada pukul
12.00 wib

Matahari
tenggelam
pukul
17.00wib

Matahari
terbit pukul
06.00wib

Sumber: Hasil Analisa, 2015

Gambar 3.19 Orientasi Cahaya Matahari

2. Hasil Analisa

Setelah dilakukan analisa terik matahari tidak akan mempengaruhi kegiatan

masyaratkaat setempat. Banyak kegiatan yang dilakukan masyrakat mulai pukul

pukul 14.00 22.00 WIB. Sinar matahari dan sungai Kapuas hanya

mempengaruhi tata letak bangunan, rata-rata bangunan menghadap ke sungai

Kapuas dan menerima sinar matahari pagi.


47

3.3 Analisa dan Pertimbangan Potensi Kawasan Waterfront

3.3.1 Analisa Pendukung Kawasan Waterfront

Kawasan perencanaan berada pada lingkungan sistem Waterfront City kota

Pontianak, dimana terdapat beberapa lokasi destinasi wisata disekitar kawasan,

sehingga berpotensi sebagai pengembangan wisata terpadu. Diantaranya yaitu

keraton kadariyah, Tugu Khatulistiwa, masjid Jami dan Kampung Beting, makam

batu layang, kampung jeruju, taman alun kapuas, cafe serasan dan kota Siantan,

dimana bisa dikunjungi dengan menggunakan transportasi air dan darat.

3.3.2 Analisa Potensi Kawasan Waterfront

adapun potensi yang ada dikawasan rencana Waterfront diantaranya masih

terdapat meriam karbit, kano, transportasi air (speed boat), pembuatan kue

tradisional kota Pontianak, dan galangan perahu.

3.4 Analisa Kegiatan

3.4.1 Ungkapan Kegiatan

1. Rekreasi

Kegiatan rekreasi merupakan kegiatan yang paling diutamakan dan

menjadi nilai jual dalam pengembangan kawasan. Terlebih lagi dengan ditunjang

keadaan fisik sekitar kawasan serta Sungai Kapuas yang merupakan pusat

kegiatan rekreasi kawasan wisata tepian sungai Kapuas.


48

2. Penelitian dan Pendidikan

Kegiatan pendidikan merupakan kegiatan penunjang yang mampu

menambah nilai jual kawasan kegiatan pendidikan ini sengaja di rancang

mengingat letak lokasi yang berada pada kawasan masih terdapat rumah

tradisional dan makanan khas kota Pontianak.

3. Pengelolaan

Kegiatan pengelolaan merupakan kegiatan penunjang yang mengelola

semua kegiatan yang terjadi dalam kawasan Waterfront City sebagai wisata tepian

sungai kapuas agar kegiatan yang ada dapat teratur

Dari berbagai tingkatan daerah asal dan usia yang datang berkunjung

dengan motivasi antar lain :

a. Untuk rekreasi, utamanya pada rekreasi di perairan yang tenang

b. Untuk berpetualang (adventure) di alam terbuka

c. Sebagai tujuan sampingan bagi pengunjung yang mempunyai kepentingan

dikota sekitarnya

d. Sebagai tempat istirahat untuk jangka waktu yang agak lama bagi seseorang

misalnya ingin mendapatkan inspirasi dan ketenangan

4. Kegiatan Komersial

Kedatangan wisatawan bisa perorangan atau individu, keluarga, rombongan

dalam suatu paket tour. Sifat kunjungan tidak terbatas tergantung dari motivasi

kunjungan masing-masing, tetapi secara umum adalah menikmati pemandangan


49

sungai kapuas dalam satu hari penuh ( pagi-sore/malam ) atau menginap lebih dari

1 malam untuk dapat menikmati wisata tepian Sungai Kapuas ini.

Sesuai dengan kegiatan-kegiatan diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan

yang terdapat dalam perencanaan kawasan Waterfront City sebagai wisata tepian

sungai Kapuas akan difokuskan pada sifat rekreatif

3.4.2 Pelaku Kegiatan

Berdasarkan tingkat usianya, pengunjung yang terdapat pada kawasan

wisata tepian sungai Kapuas antara lain :

1) Anak-anak

2) Remaja

3) Dewasa

Berdasarkan daerah asla pengunjung, terdiri dari :

1) Wisatawan Mancanegara

2) Wisatawan Nusantara

3) Wisatawan Lokal

Berdasrkan tujuan, terdiri dari :

1) Wisatawan

2) Pengelola

3) Peneliti
50

3.4.3 Program Kegiatan

Rekreasi dikawasan kawasan Waterfront City sebagai wisata tepian sungai

Kapuas yang direncanakan sesuai dengan kondisi alami fisik Sungai Kapuas

adalah :

1. Rekreasi Permukaan Kawasan Sungai Kapuas

Rekreasi di atas permukaan air Sungai Kapuas yang direncanakan sesuai

dengan kondisi alam fisik sungai kapuas adalah :

a. Jetsport atau sepeda motor air

b. Dayung

c. Memancing

d. Berenang

Untuk kenyamanan dan keamanan berekreasi, maka kegiatan di atas permukaan

air sungai ini hanya diijinkan berlangsung dari pagi hingga sore hari.

2. Rekreasi diruang terbuka

Termasuk di dalamnya rekreasi tepi danau yang mencakup :

a. Berjalan santai

b. Duduk duduk menikmati Pemandangan

c. Berjemur dibawah sinar matahari

d. Bermain ( bagi anal-anak)

e. Bersepeda
51

Kegiatan ini dapat berlangsung sepanjang hari dari pagi-malam hari tergantung

kebutuhan gerak pengunjung

3. Rekreasi diruang tertutup

Kegiatan rekreasi da dalam ruang tertutup bertujuan menjaring wisatawan

agar lebih lama tinggal dikawasan wisata dan menikmati berbagai hiburan

alternatif. Mengingat bahwa kegiatan rekreasi diatas permukaan air sungai hanya

berlangsung pada waktu pagi sampai sore hari. Maka kegiatan ini adalah sebagai

alternatif untuk malam hari. Rekreasi ini mencakup kegiatan seperti, bersantai di

cafe dan restoran.

4. Penelitian dan pendidikan

Kegiatan penelitian bertujuan untuk mewadahi wisatawan yang ingin

melakukan kegiatan penelitian terhadap flora , fauna serta kebudayaan yang di

dapat di Sekitar Sungai Kapuas. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah :

a. Melakukan penelitian terhadap objek yang dituju

b. Melakukan kunjungan serta wawancara bagi kegiatan penelitian kebudayaan

warga sekitar.

5. Perdagangan dan jasa

Kegiatan perdagangan dikawasan wisata ini terbatas pada penjualan barang

untuk kepentingan rekreasi dan berlangsung dari pagi hingga malam hari,

misalnya :
52

a. Cindera mata

b. Toko pakaian dan perlengkapan ringanb untuk olahraga

c. Toko olahraga terbatas

d. Kaki lima

e. Penukaran uang (Money Changer)

f. Perlengkapan wisata lainnya seperti kamera , film, dan lain-lain.

6. Promosi dan Informasi

Kegiatan promosi berfungsi memperkenalkan kawasan Waterfront City

sebagai wisata tepian sungai Kapuas baik di dalam lokasi wisata itu sendiri

maupun diberbagai lokasi. Kawasan Waterfront City sebagai wisata tepian sungai

Kapuas ini sesuai dengan tujuan Pengadaannya dituntut untuk bersifat dinamis,

aktif dan aktraktif dan oleh karena itu tidak menutup kemungkinan diadakannya

perubahan perubahan baik menyangkut fasilitas atraksi atau aktifitasnya. Bagian

promosi bertanggung jawab untuk terus memantau hal hal lain yang menarik

disekitar kawasan yang layak dijual, menginventariskannya dan

mempromosikan. Dengan demikian selalu tersedia informasi yang terperinci

mengenai kawasan ini. Kegiatan promosi berlangsung dari pagi hingga malam

hari.

Bagian informasi dapat memberikan petunjuk kepada wisatawan mengenai

kegiatan apasaja yang dapat dilakukannya, fasilitas apa yan tersedia, transportasi,

akomodasi dan hal-hal lainya mengenai kawasan ini meskipun tidak terkait

dengan kegiatan nrekreasi. Informasi diberikan kepada pengunjung melalui pusat


53

informasi dan perpustakaan dan berlangsung dari pagi hingga malam hari, dimana

ruangan untuk informasi pada satu gedung dengan ruang pengelola .

7. Istirahat

Kegiatan istirahat sangat erat kaitannya dengan maslah akomodasi yaitu

tempat menginap bagi pelaku pelaku kegiatan dalam kawasan rekreasi ini .

kegiatan istirahat bila disesuaikan dengan wisatawan akan terdiri dari :

a. Akomodasi untuk wisatawan individu dengan tujuan hanya untuk berekreasi

b. Akomodasi untuk wisatawan rombongan peserta tour

c. Akomodasi untuk wisatawan yang selain untuk berekreasi di sungai kapuas,

juga untuk rekreasi ke tempat lainnya.

d. Akomodasi untuk wisatawan yang ingin istirahat sehingga tinggal agak lama

e. Akomodasi untuk wisatawan remaja

f. Akomodasi untuk wisatawan

Istirahat untuk pelaku wisatawan terdiri dari fasilitas penginapan / rumah

tinggal diantaranya pemanfaatan rumah tradisional kota Pontianak menjadi

Homestay. Kegiatan istirahat untuk wisatawan tidak diatur oleh waktu, melainkan

dapat dilakukan setiap saat tergantung kebutuhan istirahat setiap pengunjung.

8. Keamanan dan Pengawasan

Bagian pengamanan dan pengawasan yang merupakan penunjang sangat

penting mengingat aktifitas rekreasi Sungai Kapuas termasuk dalam jenis kegiatan

beresiko. Resiko yang ada misalnya perahu yang tiba tiba rusak di tengah-tengah
54

sungai, resiko tenggelam, hujan dan sebagainya. Meski demikian peminatnya

tidak berkurang dan digemari baik oleh orang dewasa, remaja pria dan wanita.

9. Pengelolaan

Merupakan kegiatan yang mengurus , memantau, dan mempertanggung

jawabkan sarana kawasan Kawasan Waterfront City sebagai wisata tepian sungai

Kapuas meliputi penyewaan banguna untuk fungsi tertentu, pengelolaan fasilitas

rekreasi, pemeliharaan kawasan wisata dan penyediaan prasarana penunjang.

3.4.5 Uraian Kelompok Kegiatan

Pengelompokan berdasarkan hirarki keperluan:

1. Aktifitas utama adalah kegiatan didasarkan pada atraksi utama suatu kawasan

ekowisata . apa yang menjadi fokus kegiatan sehingga dapat menarik

kedatangan pengunjung.

2. Aktifitas pendukung adalah kegiatan yang timbul karena keterkaitan dengan

kegiatan utama, yang dapat memberi nilaitambah pada kegiatan utama

sehingga pengunjung diberikan rekreasi alternatif yang variatif.

3. Aktifitas penunjang adalah aktoifitas yang perlu disediakan untuk

memperlancar, memberi keamanan, kenyamanan bagi pengunjung agar

bertahan lama di lokasikawasan ekowisata yang direncanakan.

4. Aktifitas pelengkap yaiutu kegiatan yang mengatur dan melayani kegiatan

utama, kegiatan pendukung dan kegiatan penunjang diatas.


55

Sesuai dengan pengelompokkan berdasarkan hirarki kepentingan maka

dapat dibuat tabel kelompok kegiatan , seperti tabel dibawah ini :

Tabel 3.13

Uraian Kelompok Kegiatan

No Aktifitas Program kegiatan

1 Utama Rekreasi Permukaan Sungai


Rekreasi di ruang terbuka
Rekreasi di ruang tertutup
2 Pendukung Penelitian atau pendidikan

3 Penunjang Promosi dan informasi


Istirahat
Keamanan dan pengawasan
Pengelolaan
4 Pelengkap Perdagangan dan jasa

Sumber: Analisa, 2015

3.5 Analisa Pendekatan Kebutuhan Ruang

Kebutuhan ruang pada proses perencanaan kawasan Waterfront City

sebagai wisata tepian sungai Kapuas ditentukan berdasarkan pertimbangan

sebagai berikut :

1. Macam, sifat dan unsur pelaku kegiatan dibagi atas :

a. Sifat publik yaitu bersifat terbuka atau umum bagi setiap pengunjung

ssehingga harus memiliki akses langsung dari luar dan mudah dikenali.

b. Sifat semi publik yaitu fasilitas yang hanya dapat digunakan dengan

berbagai syarat tambahan , misalnya membayar tiket tambahan atau ada


56

ijin masuk , hanya dapat digunakan oleh pengunjung yang menginap atau

hanya digunakan pada jam-jam tertentu.

c. Sifat pribadi yaitu fasilitas yang hganya dapat digunakan secara eklusif

oleh orang orang yang berkepentingan langsung ke fasilitas tersebut.

d. Service yaitu fasilitas yang melayani semua kebutuhan dari 3 jenis fasilitas

di atas.

2. Kelompok-kelompok kegiatan

a. Rekreasi permukaan Sungai Kapuas

b. Rekreasi di ruang terbuka

c. Rekreasi diruang tertutup

d. Penelitian

e. Perdagangan dan jasa

f. Promosi dan informasi

g. Istirahat

h. Keamanan dan pengawasan

i. Pengelolaan

3. Efektifitas dan kelancaran dari pelaksanaan kegiatan secara meneyeluruh

Berdasrkan pertimbangan tersebut di atas, maka kebutuhan ruang dapat

diuraikan sesuai dengan pengelompokan kegiatan sebagai berikut :

Tabel 3.14
Rencana Kebutuhan Sarana Dan Prasarana

NO SARANA DAN PRASARANA NO SARANA DAN PRASARANA


1. Parkir Komunal 10. Pusat Keamanan dan Informasi
2. WC Komunal 11. Sistem Limbah Domestik
57

NO SARANA DAN PRASARANA NO SARANA DAN PRASARANA


3. Balai Pertemuan 12. Rumah Deret
4. ATM Centre 13. Masjid
5. Homestay 14. Warung Tradisional
6. Restoran 15. Jalan Akses
7. Hotel 16. Tempat Pembuangan Sampah
8. Caf 17. Area Mancing
9. Steher
Sumber: Analisa, 2015

3.5.1 Analisa Besaran Ruang

Parkir yang akan digunakan pada lingkungan kawasan ini menggunakan

pola parkir menyudut dengan sudut kemiringan sebesar 900 dan golongan II.

Lebih detailnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Sumber: Internet

Gambar 3.20 Pola Parkir Menyudut


58

Kebutuhan ruang parkir untuk 100 buah mobil adalah sebagai berikut:

Parkir yang digunakan sudut 900 golongan II berada di kiri kanan jalan parkir.

- Jumlah parkir = 100

- Ukuran 1 petak parkir = 2,5 m x 11,2 m

- Indek parkir (IP) = 1,5

Luasan parkir yang dibutuhkan = 100 x 2,5 x 11,2 x 1,5 = 4200 m2

Tabel 3.12
Analisa Besaran Ruang

No Uraian Panjang Lebar Jumlah Besaran Ruang


1 Area Perencanaan 620 m 100 m - 62000 m2
2 Area parkir Mobil 5,4 m 2,5 m 100 4200 m2
3 Area Parkiran Motor 2m 1m 500 1000 m2
4 Luas Lahan Rumah 20 m 10 m 200 12000 m2
5 Jalan Utama 620 m 8m 1 5200 m2
6 ATM Centre 4m 2m 1 8 m2
7 WC komunal 5m 2m 2 20 m2
8 Caf 20 m 8m 3 480 m2
9 Hotel 50 m 20 m 1 800 m2
10 Balai pertemuan 30 m 10 m 1 40 m2
11 Jalan Waterforn 650 m 10 m 1 6500 m2
12 Warung Tradisional 20 m 6m 1 120 m2
13 Restoran 30 m 10 m 1 300 m2
Sumber: Anailisa, 2015
59

3.6 Analisa Konsep Penzoningan