Anda di halaman 1dari 10

Dermawan, dkk.

, Kajian Sistem Manajemen Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dalam Upaya Pelestarian Sumber Daya Air 189

KAJIAN SISTEM MANAJEMEN PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN


SUNGAI DALAM UPAYA PELESTARIAN SUMBER DAYA AIR
(STUDI KASUS: DAS BONE PROVINSI GORONTALO)

Reynaldo Jeffry Polie1), Rispiningtati2), Very Dermawan3)


1
Mahasiswa Magister Sumber Daya Air, Teknik Pengairan, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Indonesia
2,3
Pengajar, Program Studi Magister Sumber Daya Air, Teknik Pengairan, Universitas Brawijaya,
Malang, Jawa Timur, Indonesia

Abstrak: Potensi sumber daya air DAS Bone yang besar merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat
Gorontalo, terutama sebagai sumber air baku air minum PDAM yang memasok kebutuhan air bersih bagi
masyarakat Kabupaten Bone Bolango. Daerah hulu di sebuah DAS umumnya menggunakan air lebih kecil dari
hak guna air dan daerah hilir umumnya memanfaatkan air lebih tinggi dari hak guna airnya. Kelebihan penggu-
naan air tersebut sudah pasti akan mengambil/memanfaatkan sisa hak guna air di hulu. Dengan adanya
permasalahan tersebut maka perlu suatu kajian sistem manajemen yang sesuai dengan kondisi DAS yang
bersangkutan. Sistem insentif / disinsentif merupakan suatu bentuk manajemen yang dapat dijadikan sebagai
alternatif dalam upaya pengelolaan DAS dan upaya pelestarian sumber daya air secara terpadu. Adapun
tujuan ari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah debit yang digunakan oleh stakeholder, mengetahui
debit operasional yang dibutuhkan dalam menjaga kelestarian DAS, dan mengetahui arah kebijakan dalam
pengelolaan DAS dengan sistem insentif/disinsentif.

Kata kunci: Hak Guna Air, Insentif, Disinsentif

Abstract: The potential of water resources Bone is the source of life for the people of Gorontalo, especially
as a source of water, supply fresh water for the people of Bone Bolango. Generally in upstream of watershed
use less water than the water right of it downstream, and the areas generally utilize water higher than the
water use right. Excess use of water in downdstream will take from the remaining water rights of upstream.
Because of these problems, it is necessary to study type of management system in related with conditions of
watershed. System of incentives / disincentives is a form of integrated watershed management. The purpose
of this study are to investigate the discharge quantity is used by the stakeholders, determine the required
operational discharge in conservation the watershed, and establish the policy in watershed management
with a system of incentives / disincentives.

Keywords: Water Right, Incentives, Disincentives

Pengelolaan sumber daya air tidak dapat dipisahkan di wilayah Kabupaten Bone Bolango, berhulu di Pe-
dari pengelolaan sumber daya alam lainnya. Tujuan gunungan Perantanaan dan Pegunungan Tilontuade
pengembangan dan pengelolaan sumber daya alam yang membentang dari timur mengalir ke barat dan
secara terpadu adalah tercapainya pemanfaatan se- bermuara di Teluk Tomini, Kota Gorontalo.
mua sumber daya alam secara efisien dan efektif. DAS Bone secara administratif terdiri dari satu
Tujuan ini akan menuju ke perlindungan sumber daya kabupaten dan satu kota (terletak di Kabupaten Bone
air dan peningkatan upaya pelestarian lingkungan. Bolango dan Kota Gorontalo). Di lihat secara topo-
Daerah Aliran Sungai (DAS) Bone merupakan ba- grafis, ekosistem daerah hulu DAS Bone mempunyai
gian dari Satuan Wilayah Sungai (SWS) Limboto- fungsi sebagai perlindungan dan daerah hilir meru-
Bolango-Bone (LBB) yang sebagian besar berada pakan daerah manfaat. Daerah hulu memiliki peluang

189
190 Jurnal Teknik Pengairan, Volume 5, Nomor 2, Desember 2014, hlm 189198

hak guna air yang lebih besar dibanding daerah hilir. air. Harus selalu disadari bahwa biaya yang dikelu-
Melihat permasalahan tersebut, maka diperlukan su- arkan untuk rehabilitasi DAS jauh lebih mahal dari-
atu kajian sistem manajemen DAS yang sesuai de- pada biaya yang dikeluarkan untuk usaha-usaha
ngan kondisi DAS bersangkutan. Salah satu bentuk pencegahan dan perlindungan DAS.
sistem manajemen adalah Insentif / Disinsentif (sub-
sidi silang) dapat dijadikan sebagai alternatif dalam Hak Guna Air Bagi Daerah Otonom Kabupaten/
pengelolaan DAS dan upaya pelestarian sumber daya Kota
air secara terpadu (Integrated Water Resources Ketersediaan SDA dipengaruhi beberapa aspek,
Management) dengan tujuan kelestarian daerah seperti aspek geografis, ekosistem, pemanfaat, serta
tangkapan air di Kabupaten Bone Bolango dapat aspek waktu dan siklus alaminya. Sesuai teknis hi-
terjaga, serta mencegah kerusakan ekosistem dan drologis, air bersumber dari curah hujan yang turun
bencana alam yang lebih besar. dalam kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS). Ke-
Tujuan dari penelitian ini adalah: (1). Untuk me- terkaitan ekosistem bagian hulu dan bagian hilir, ins-
ngetahui jumlah debit yang dipergunakan oleh stake- tream dan offstream, air permukaan dan air tanah,
holder sehingga dapat teridentifikasikan potensi sum- juga sangat berpengaruh terhadap ketersediaan air
ber daya air di DAS Bone; (2). Untuk mengetahui baik segi kuantitas maupun kualitasnya.
debit operasional yang dibutuhkan dalam menjaga Mengacu pada Undang-Undang SDA dan Un-
(operasi/operasional) kelestarian sumber daya air dang-Undang Pemerintahan Daerah (UU. No. 32/
DAS Bone; (3). Mengetahui arahan perimbangan 2004), dirumuskan konsep hak guna air untuk peme-
nilai ekonomi HGA dalam pengelolaan SDA dengan rintah kabupaten/kota, pengertian Hak Guna Air
konsep sistem Insentif / Disinsentif pada DAS Bone; Kabupaten adalah hak pemerintah kabupaten/kota
(4). Mengetahui arahan kebijakan pengelolaan Sum- untuk memperoleh, memakai dan mengusahakan air
ber Daya Air dengan konsep sistem Insentif/Disin- yang ada di daerah administrasinya untuk kepentingan
sentif pada DAS Bone. masyarakat daerah tersebut tanpa merugikan daerah
lainnya. Air di daerah kabupaten/kota yaitu jumlah
TINJAUAN PUSTAKA air hujan dalam setahun (rata-rata hujan tahunan)
Daur hidrologi adalah merupakan potensi dari hak daerah kabupaten
Daur atau siklus hidrologi merupakan proses per- otonom atas air.
jalanan air dari permukaan laut ke atmosfer kemudian Menurut Hukum Kekekalan Massa, dalam alam
ke permukaan tanah dan kembali lagi ke laut yang berlaku hukum di mana massa jumlahnya tetap, tidak
tidak pernah berhenti, air tersebut akan tertahan (se- bertambah dan tidak berkurang. Berdasar hukum ter-
mentara) disungai, danau/waduk, dan dalam tanah sebut maka dalam keseimbangan air (neraca air) pa-
sehingga dapat dimanfaatkan oleh manusia atau da DAS, air yang masuk kedalam DAS harus sama
makhluk hidup lainnya. dengan air yang keluar dari DAS. Dari Gambar 1,
dapat dirumuskan bahwa besarnya aliran air mening-
Pengelolaan DAS galkan DAS sama dengan curah hujan dikurangi eva-
Pengelolaan DAS adalah suatu proses formulasi potranspirasi ditambah perubahan air tampungan
dan implementasi kegiatan atau program yang bersifat (storage) (Natasaputra, 2005). Secara matematik
(lihat Gambar 1):
menipulasi sumber daya alam dan manusia yang
terdapat di daerah aliran sungai untuk memperoleh
manfaat produksi dan jasa tanpa menyebabkan ter-
jadinya kerusakan sumber daya air dan tanah. Ter-
masuk dalam pengelolaan DAS adalah identifikasi
keterkaitan antara tata guna lahan, tanah dan air, dan
keterkaitan antara daerah hulu dan hilir suatu DAS
(Asdak, 2004).
Konsep pengelolaan DAS yang baik perlu didu-
kung oleh kebijakan yang dirumuskan dengan baik
pula. Dalam hal ini kebijakan yang berkaitan dengan
pengelolaan DAS seharusnya mendorong dilaksa-
nakannya praktek-praktek pengelolaan lahan yang
kondusif terhadap pencegahan degradasi tanah dan
Gambar 1. Tipikal DAS.
Dermawan, dkk., Kajian Sistem Manajemen Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dalam Upaya Pelestarian Sumber Daya Air 191

Q = P ET DS dengan debit pemeliharaan. Dengan demikian maka


secara matematis:
dengan: Qout Qm ; atau Qk + Qin Qm
Q = aliran air
P = curah hujan Dalam bentuk lain:
ET = evapotranspirasi Qk + Qin Quse = Q m
DS = perubahan storage
Atau:
Apabila DAS dibagi menjadi beberapa Sub- Quse = (Qk Q m) + Qin
Das berdasarkan batas administrasi kabupaten, ma-
ka hukum kekekalan massa pada kabupaten adalah Dengan:
(lihat Gambar 2): Q m = debit pemeliharaan
Q use = air yang digunakan kabupaten bersangkutan

Sesuai definisi, maka hak guna air kabupaten


adalah jumlah air maksimum yang dapat digunakan
kabupaten, sehingga dengan demikian maka debit hak
guna air adalah (Natasaputra, 2005):
Qhga = Qk Q m

Dengan:
Q hga = debit hak guna air kabupaten
Q k = debit akibat hujan yang turun di kabupaten
tertentu
Q m = debit minimum untuk kepentingan lingkungan

Gambar 2. Tipikal Sub DAS Kabupaten. Dalam penelitian analisa debit minimum diambil
berdasarkan kebutuhan biota sungai sebesar 1,5 lt/
Qin Qout + Pk ETk = DSk dt/ha (Natasaputra, 2005).

dengan: Biaya Dasar Pengelolaan Air


Qi n = aliran air yang masuk Harga air tidak mudah untuk dikenalkan kepada
Q out = aliran air yang keluar masyarakat. Mengingat air merupakan karunia Tuhan
Pk = curah hujan pada kabupaten k Yang Maha Esa untuk semua mahluknya di bumi ini
ETk = evapotranspirasi pada kabupaten k secara gratis, maka kiranya tidak etis untuk dipak-
DS k = perubahan storage pada kabupaten k sakan kepada masyarakat yang kurang mampu. De-
ngan demikian maka konsep yang diajukan untuk me-
Sebagaimana telah didefinisikan di atas, maka nentukan harga dasar air baku adalah minimal sama
Hak Guna Air kabupaten merupakan hak pemerintah dengan biaya konservasi (perlindungan, pengawetan),
kabupaten/kota otonom untuk mengelola potensi dan biaya pendayagunaan SDA per tahun dibagi de-
sumber daya air yang ada di daerahnya tanpa meru- ngan volume air per tahun yang dapat dimanfaatkan
gikan kabupaten lainnya. untuk memenuhi semua kebutuhan. Secara mate-
Qk = Pk ETk DSk , matis dapat dirumuskan (Natasaputra, 2005):

Sehingga persamaan menjadi : BK DAS


BWP
Qin Qout + Qk = 0 , atau VDAS ; untuk VDAS > 0
Qk + Qin = Qout
Dengan:
Untuk pemeliharaan lingkungan, sepanjang su- BWP = Basic Water Pricing (harga dasar air)
ngai diperlukan aliran minimal yang disebut debit pe- BK DAS = Biaya konservasi DAS
meliharaan (maintenance flow), sehingga aliran ke- V DAS = Volume air yang dapat dimanfaatkan
luar dari suatu kabupaten harus lebih besar atau sama
192 Jurnal Teknik Pengairan, Volume 5, Nomor 2, Desember 2014, hlm 189198

Setiap sungai berbeda-beda biaya konservasinya NPADAS = nilai perolehan air seluruh kabupaten
tergantung dari tingkat kerusakan DAS dan prasa-
rana yang diperlukan untuk pemanfaatannya. Sungai- dalam DAS, [Rp]
sungai di Jawa barangkali memerlukan biaya kon- BK DAS = total biaya konservasi DAS [Rp]
servasi yang lebih tinggi dibanding sungai di luar
n
Jawa. Q HGA ( k ) = hak guna air kabupaten k yang diman-

faatkan Kabupaten n; n k
Sistem Insentif/Disinsentif (Subsidi Silang)
Daerah kabupaten kota yang berada di dalam Q HGA = total hak guna air seluruh kabupaten da-
DAS (sebagian atau seluruhnya) baik yang berada lam DAS, [m3]
di hulu, di tengah, atau di hilir, pada umumnya memiliki Cb = koefisien bobot
karakteristik yang berbeda-beda terutama mengenai
kondisi hidrologi (seperti curah hujan), topografi, Apabila didefinisikan:
ataupun fungsi kawasannya. Curah hujan di hulu bia-
sanya lebih tinggi daripada di hilir. Dilihat secara to- Cs
Q HGA ( k ) QUSE ( k )
, maka C s adalah
pografis, ekosistem daerah hulu pada umumnya mem- QHGA( k )
punyai fungsi perlindungan dan daerah hilir merupa- koefisien sisa yang menunjukan besarnya sisa HGA
kan daerah manfaat. Daerah hulu memiliki peluang kabupaten k yang belum dimanfaatkan. Besarnya
hak guna air yang lebih besar dibanding daerah hilir, Cs berkisar antara 0 dan 1 atau ( 0 Cs 1 ). Semakin
sedangkan daerah tengah dan hilir mungkin peluang- tinggi Cs semakin tinggi peluang untuk mendapat in-
nya lebih rendah. sentif, dan begitu juga sebaliknya.
Berdasarkan kondisi tersebut, diajukan konsep Kemudian apabila didefinisikan:
bahwa pengguna air melebihi hak guna harus mem-
n
bayar insentif (terkena disinsentif) dari hasil penda-
Cm
Q HGA ( k )
yagunaan atau pengusahaan air kepada kabupaten , dengan Cm adalah koefisien
penghasil air di hulunya. Emporial egoistis sebagai
Q HGA

daerah otonom, tidak otomatis mengklaim bahwa se- manfaat, yang menunjukan besarnya sisa HGA ka-
suatu yang ada di daerahnya menjadi milik kabupa- bupaten penghasil air, yang dapat dimanfaatkan oleh
ten/kota, apalagi air yang sifatnya mengalir dinamis. kabupaten pemanfaat di hilirnya. Oleh karena itu se-
Air yang berada di wilayahnya mengandung sisa hak makin tinggi koefisien, Cm , semakin tinggi kabupaten
guna air kabupaten di atasnya, yang apabila diman- k mendapat insentif. Nilai Cm = 0 menunjukan semua
faatkan maka kabupaten tersebut wajib bayar in- sisa HGA tidak dimanfaatkan oleh kabupaten lain
sentif. dihilirnya. Untuk meningkatkan Cm, kabupaten peng-
Dengan demikian maka besarnya insentif akan hasil air perlu kerjasama dengan kabupaten hilirnya
tergantung dari berapa sisa hak guna air kabupaten untuk mengembangkan prasarananya. Dengan de-
hulu, dan berapa dari sisa tersebut yang dapat di- mikian maka diharapkan ada upaya kebersamaan da-
manfaatkan oleh kabupaten hilir. Atau secara mate- lam keseluruhan pengelolaan DAS.
matis dapat dirumuskan sbb (Natasaputra, 2005): Untuk kompensasi bagi kabupaten yang mem-
bangun waduk di daerahnya, diberi tambahan insentif
yang besarnya proporsional dengan volume efektif
waduk yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan
umum. Secara matematik, insentif waduk dapat
diformulasikan:
Dengan:
PB DAS = pendapatan bersih DAS [PB DAS = V DAM
I NW C b C S ( k ) PBDAS ,
NPADAS - BKDAS ] [Rp] V DAS
I N (k ) = insentif kabupaten k [Rp] Dengan:
Vdam = volume efektif waduk [m3], dan
QHGA(k ) = debit hak guna air kabupaten k [m3] CS(k) = koefisien sisa kabupaten yang bersangkutan.
QUSE (k ) = debit yang dimanfaatkan kabupaten k
Koefisien bobot, Cb , dimaksudkan untuk me-
[m3 ] nyediakan anggaran dari hasil pajak atau retribusi
Dermawan, dkk., Kajian Sistem Manajemen Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dalam Upaya Pelestarian Sumber Daya Air 193

nilai perolehan air untuk biaya operasional keperluan ANALISA DAN PEMBAHASAN
publik yang akan dikelolah oleh pemerintah daerah
Debit Andalan DAS Bone (Qk)
propinsi.
Berdasarkan dari data hasil curah hujan bisa di-
Dalam penelitian ini, secara umum koefisien bo-
dapatkan debit andalan untuk DAS Bone adalah se-
bot diformulasikan sebagai berikut (Natasaputra,
besar 27,534 m3/det. Sehingga jika dibuat dalam ben-
2005):
tuk grafik maka dapat dilihat pada Gambar 4 berikut:
Cb C mn xC sn

Dengan:
C mn = koefisien manfaat kabupaten n yang dapat
insentif.
n
C s = koefisien sisa kabupaten n yang dapat in-
sentif.

Dengan demikian maka alokasi pendapatan un-


tuk pemerintah propinsi dapat diformulasikan sebagai
berikut:
Gambar 4. Debit Andalan (Q80) DAS Bone.
I n ( p ) C mn C sn PB DAS Sumber: Rancangan Sumber Daya Air 2011

Besarnya disinsentif bagi kabupaten pemanfaat Debit Minimum Untuk Lingkungan DAS Bone
air dihitung secara proporsional dengan penggunaan (Qm)
airnya, atau secara matematis adalah sebagai berikut: Dalam menganalisa debit minimum untuk ke-
HGA ( k ) perluan lingkungan DAS Bone (Qm) perlu diperhi-
Q
DIN ( n) n
HGA ( k )
I
k tungkan kebutuhan biota sungai sebesar 1,5 lt/dt/ha
Q n (Natasaputra, 2005).
Hasil analisa debit minimum untuk keperluan ling-
METODE PENELITIAN kungan DAS Bone didapatkan sebesar 4,32 m3/dt.
Langkah-langkah analisis yang dilakukan dalam
Debit HGA DAS Bone (QHGA)
metodologi penelitian adalah: (1) Menganalisis debit
Berdasarkan data hasil perhitungan yang ada
andalan DAS Bone; (2) Menganalisis debit minimum
dari debit andalan (Qk) dan juga debit minimum untuk
DAS Bone; (3) Menghitung debit HGA DAS Bone;
keperluan lingkungan (Qm) DAS Bone maka akan
(4) Menganalisis debit andalan DAS Bone di Kabu-
didapatkan debit hak guna air DAS Bone (QHGA).
paten Mongondouw; (5) Menganalisa debit minimum
Hak guna air ditetapkan dalam satuan volume air
DAS Bone di Kabupaten Mongondouw; (6) Meng-
per tahun dengan distribusinya dalam dua mingguan.
hitung debit HGA DAS Bone di Kabupaten Mongon-
Sehingga debit HGA DAS Bone bisa didapatkan
douw; (7) Menganalisis debit yang digunakan DAS
dengan persamaan berikut:
Bone di Kabupaten Mongondouw; (8) Menganalisa
pendapatan dari penjualan air DAS Bone; (9) Meng- QHGA Qk Qm
analisis biaya konservasi DAS Bone; (10) Menghi-
27,534 4,31
tung pendapatan bersih DAS Bone; (11) Menghitung
debit HGA DAS Bone di Kabupaten Bone Bolango; 23,224 m 3 / dtk
(12) Menghitung C s; (13) Menghitung C m; (14)
Menghitung C b; (15) Menghitung insentif; (16)
Debit Andalan DAS Bone di Kabupaten Mo-
Menghitung disinsentif; (17) Menganalisa tarif dasar
air. ngondouw (Qk Mongondouw)
Secara grafis langkah-langkah pengerjaan di- Debit andalan DAS Bone di Kabupaten Mo-
gambarkan dalam bentuk bagan alir seperti Gambar ngondouw didapatkan dari perbandingan rasio luas
3. DAS Bone yang melewati Kabupaten Mongondouw.
194 Jurnal Teknik Pengairan, Volume 5, Nomor 2, Desember 2014, hlm 189198

Debit andalan DAS Bone di Kabupaten Mo- Debit Minimum untuk Lingkungan DAS Bone
ngondouw bisa diperoleh melalui persamaan berikut: di Kabupaten Mongondouw (Qm Mongondouw)
Analisis debit minimum untuk keperluan lingkung-
Luas kab Mongondouw
Qk ( Mongondouw) Qk an DAS Bone (Qm) perlu diperhitungkan kebutuhan
Luas DAS Bone biota sungai sebesar 1,5 lt/dt/ha (Natasaputra, 2005).
288,4529 Sehingga didapatkan debit minimum untuk ke-
27,534
1304,39 perluan lingkungan DAS Bone di Kabupaten Mo-
6,088 m 3 / dtk ngondouw sebesar 0,211 m3/dt. Perhitungan debit mi-
nimum dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Analisa Perhitungan Debit Minimum DAS Bone dan Debit Minimum DAS Bone di Kabupaten Mongondouw.

Gambar 3. Bagan Alir Penelitian.


Dermawan, dkk., Kajian Sistem Manajemen Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dalam Upaya Pelestarian Sumber Daya Air 195

Debit HGA DAS Bone di Kabupaten Mongon- Nilai Cs = 1 artinya adalah peluang Kabupaten
douw (QHGA mongondouw) Mongondouw untuk mendapatkan insentif sangat
Untuk debit hak guna air di DAS Bone di Ka- tinggi.
bupaten Mongondouw bisa didapatkan dengan per- Dengan diketahuinya niai koefisien manfaat (Cm)
samaan berikut: dan juga koefisien sisa (Cs), maka bisa didapatkan
koefisien bobot (Cb). Koefisien bobot (Cb), dimak-
QHGA Mongondouw Qk mongondouw Qm Mongondouw sudkan untuk menyediakan anggaran dari hasil pajak
6,088 0,211 atau retribusi nilai perolehan air untuk biaya opera-
sional keperluan publik yang akan dikelola oleh pe-
5,878 m 3 / dtk
merintah daerah propinsi. Persamaan yang digunakan
untuk menghitung koefisien bobot adalah:
Debit HGA DAS Bone di Kabupaten Bone-
Bolango (QHGA Bone Bolango) Cb C m xCs
Debit hak guna air DAS di Kabupaten Bone- 0,25 1
Bolango diperoleh dari hasil perhitungan selisih hak 0,25
guna air pada DAS Bone dengan hak guna air pada
DAS Bone di Kabupaten Mongondouw.
Debit HGA DAS di Kabupaten Bone-Bolango Nilai koefisien bobot (Cb) sebesar 0,25 berarti
didapatkan melalui persamaan berikut: bahwa anggaran yang harus disediakan dari hasil pa-
jak atau retribusi adalah sebesar 0,25.
QHGA Bone Bolango QHGA QHGA Mongondouw
23,224 5,878 Analisa Pendapatan dari Penjualan Air di DAS
17,346 m 3 / dtk Bone (NPABone)
Dalam menganalisa pendapatan dari penjualan
air di DAS Bone, perlu menginventarisasi pendapatan
Debit yang Digunakan di DAS Bone di Kabu- dari seluruh stake holder. Nilai perolehan air (NPA)
paten Mongondouw (Quse) yaitu volume air yang dimanfaatkan dikalikan dengan
Untuk debit yang digunakan di DAS Bone di harga dasar air. Pajak air adalah 10% dari NPA (Per-
Kabupaten Mongondouw (Quse) dianggap 0. Hal aturan Gubernur No 27 Tahun 2012).
tersebut dikarenakan di DAS bone di Kabupaten Pada tahun 2006 volume yang dimanfaatkan
Mongondouw tidak ada debit air yang digunakan/ adalah sebesar 3.729.000 m3/th dan dengan tarif rata-
dimanfaatkan sehingga Quse dianggap 0. rata sebesar Rp. 2.056, maka didapatkan nilai NPA
Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan sebesar Rp. 7.668.264.000/th. Dan untuk nilai pajak
diatas, maka bisa didapatkan nilai dari koefisien man- air sebesar 10% adalah sebesar Rp. 766.826.000/
faat (Cm). th. Sehingga bisa diestimasikan sampai dengan tahun
2015, dimana pada tahun 2015 nilai dari NPA adalah
Cm
Q HGA ( Mongondouw) Quse sebesar Rp. 21.527.000.000/th dan nilai pajak air
sebesar Rp. 2.152.000.000/th.
Q HGA

5,878 0 Biaya Konservasi DAS Bone (BKBone)



23,224 Biaya konservasi DAS adalah semua biaya yang
0,25 diperlukan untuk pengelolaan DAS dalam rangka
melestarikan ketersediaan air baku secara berkelan-
Adapun koefisien sisa (Cs) di DAS Bone di Ka- jutan. Biaya konservasi didalamnya termasuk biaya
bupaten Mongondouw sebagai berikut: perlindungan SDA seperti biaya rehabilitasi hutan dan
biaya rehabilitasi kawasan lindung non hutan, peng-
Cs
Q HGA ( Mongondouw ) QUSE
awetan SDA seperti pemeliharaan kawasan lindung,
Q HGA ( Mongondouw ) pemeliharaan daerah sempadan sungai dan sumber
5,878 - 0 air, operasi dan pemeliharaan (O&P) infrastruktur
SDA meliputi O&P jaringan irigasi, jaringan air baku
5,878
dan lain-lain.
1
196 Jurnal Teknik Pengairan, Volume 5, Nomor 2, Desember 2014, hlm 189198

Namun pada DAS Bone nilai dari biaya kon- Dari hasil perhitungan di atas diperoleh insentif
servasi dianggap 0. Hal ini dikarenakan pada DAS untuk Kabupaten Mongondouw sebesar Rp.
Bone masih belum dilakukan adanya konservasi di 1.449.603.701/th atau Rp. 120.800.300/bln yang
sekitar wilayah DAS Bone. Semakin tinggi tingkat harus dialokasikan oleh Kabupaten Bone Bolango
kerusakan DAS maka semakin besar pula biaya kon- untuk Kabupaten Mongondouw. Insentif ini bisa me-
servasi yang dibutuhkan. Prasarana yang dapat me- ningkat jika volume air yang dimanfaatkan juga
ningkatkan volume air yang dapat dimanfaatkan se- meningkat sehingga dengan meningkatnya volume
cara signifikan dapat menurunkan harga dasar air. air yang dimanfaatkan akan meningkatkan nilai per-
Tetapi sebaliknya pembangunan prasarana yang tidak olehan air (NPA), sehingga menyebabkan insentif
meningkatkan manfaat akan meningkatkan harga yang diterima juga meningkat.
dasar air. Adapun analisis disinsentif Kabupaten Bone-
Dengan diketahui besarnya biaya konservasi Bolango dapat diperoleh melalui persamaan berikut:
DAS Bone dan juga Nilai Perolehan Air DAS Bone,
maka bisa diketahui berapa besarnya pendapatan QHGA Mongondouw
bersih DAS Bone (PBBone), persamaan yang digu-
DIN ( n ) I
k
QHGA
nakan untuk menghitung pendapatan bersih DAS
5,878
Bone adalah: 1.449.603.710
23,224
PBBone NPABone BKBone 366.891.000
7.668.264.000 0
7.668.264.000 Dari hasil perhitungan di atas nilai disinsentif
Kabupaten Bone Bolango adalah sebesar Rp.
Analisa Insentif/Disinsentif 366.891.000/th atau sebesar Rp. 30.574.250/bln.
Pada DAS Bone hasil analisa HGA menunjuk-
kan bahwa untuk di daerah hulu memiliki HGA yang Tarif Dasar Air
surplus jika dibandingkan dengan di daerah hilir. De- Dengan diketahuinya insentif Kabupaten Mo-
ngan demikian kelebihan HGA di bagian hulu dapat ngondouw dan juga disinsentif Kabupaten Bone-
dimanfaatkan oleh daerah hilir. Bolango, maka dapat diperoleh tarif dasar air. Tarif
Dengan model insentif/disinsentif dari total dasar air didapatkan dari biaya yang dikeluarkan oleh
penghasilan pajak sebesar Rp. 766.826.000/th bisa pemerintah dalam memberikan insentif dan disin-
diketahui insentif untuk Kabupaten Mongondouw sentif dalam pengelolaan sumber daya air.
adalah: Dalam menghitung tarif dasar air juga perlu di-
perhatikan aspek-aspek yang lain seperti tenaga ker-
n
QHGABone ja, listrik serta bahan bakar, biaya operasi serta biaya
PB Bone
Bolango
I N ( k ) Cb Cs pemeliharaan dan biaya administrasi yang lainnya.
QHGA Perhitungan tarif dasar air bisa dilihat pada Tabel
17,346 2.
0,25 1 7.668.264.000 Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa untuk tarif dasar
23,224
air pada tahun 2006 untuk Kabupaten Bone-Bolango
1.449.603.710 adalah sebesar Rp. 2.812/m3, dimana nilai tarif air

Tabel 2. Perhitungan Tarif Dasar Air.


Dermawan, dkk., Kajian Sistem Manajemen Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dalam Upaya Pelestarian Sumber Daya Air 197

tersebut didapatkan dari nilai tarif dasar air ditam- Kabupaten/kota yang berada diluar DAS yang
bahkan dengan nilai insentif dan nilai pajak air. Se- ditinjau, tetapi lokasinya berdekatan setidaknya diberi
hingga jika diestimasikan untuk tahun 2015 tarif air alokasi air sesuai permintaannya dengan memper-
untuk Kabupaten Bone-Bolango adalah sebesar Rp. timbangkan sisa hak guna air yang masih tersedia
3.377/m3. dan kebutuhan dari kabupaten/kota yang bersang-
Sedangkan untuk tarif air di Kabupaten Mongon- kutan.
douw pada tahun 2006 adalah sebesar Rp. 2.522/
m3, dimana nilai tarif air didapatkan dari hasil pe- KESIMPULAN
nambahan nilai tarif dasar air dengan disinsentif dan Dari hasil pengumpulan data, analisa dan pem-
pajak air. Jika diestimasikan untuk tahun 2015 be- bahasan dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu.
sarnya tarif air untuk Kabupaten Mongondouw ada- Dari hasil perhitungan didapatkan bahwa untuk
lah sebesar Rp. 2.914/m3. Nilai tarif air ini tiap ta- debit andalan DAS Bone adalah sebesar 27,534 m3/
hunnya akan terus berubah dan cenderung meng- det.
alami kenaikan, dikarenakan volume air yang digu- Debit Hak Guna Air (HGA) DAS Bone di wila-
nakan terus bertambah tiap tahunnya sehingga de- yah Kabupaten Mongondouw adalah sebesar 6,088
ngan semakin besarnya volume air yang digunakan m3 /det.
maka nilai tarif air akan semakin naik juga. Dengan sistem insentif / disinsentif maka bisa
diketahui besarnya nilai insentif untuk Kabupaten
Rekomendasi dalam Upaya Pelestarian Mongondouw adalah sebesar Rp. 1.449.603.701/th
Sumber Daya Air atau Rp. 120.800.300/bln. Sedangkan disinsentif
Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan maka untuk Kabupaten Bone-Bolango adalah Rp.
ada beberapa hal yang dapat direkomendasikan ter- 366.891.000/th atau sebesar Rp. 30.574.250/bln.
hadap pihak-pihak yang terkait sebagai upaya pe- Rekomendasi yang bisa diberikan antara lain
lestarian sumber daya air, antara lain. adalah: (a) Kabupaten Bone Bolango. Sosialisasi la-
Dengan adanya kerjasama dalam pengelolaan rangan untuk tidak melakukan tindakan perambahan
sumber daya air, dana investasi dalam rangka pe- hutan di Taman Nasional Nani Bogani Wartabone;
ngembangan sumber daya air pada dasarnya dapat Penetapan kembali fungsi hutan dan Pengaturan pe-
diperoleh dari tiap-tiap kabupaten/kota dalam DAS manfaatan air tanah secara efisien; Pengaturan pe-
bersangkutan, sesuai dengan kemampuannya dan da- ngelolaan tambang emas rakyat beserta pengolahan
pat diperhitungkan sebagai penyertaan saham. limbahnya; Pengaturan pengelolaan tambang emas
Pemerintah propinsi perlu membentuk lembaga rakyat beserta pengolahan limbahnya; Pembangunan
koordinasi yang profesional dengan melibatkan selu- bangunan pengendali erosi dan sedimen; Sosialisasi
ruh perwakilan stake holder. tentang sempadan sungai sesuai PP No. 38 Tahun
Hasil dari penelitian ini dapat dipergunakan se- 2011; Penataan Batasan sempadan dan Reboisasi
bagai masukan dalam penyusunan kebijakan terutama bantaran sungai melalui program GERHAN (Gerakan
mengenai pembagian peran bagi pemerintah daerah Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan) dengan jenis
otonom yang wilayahnya masuk dalam suatu DAS tanaman bambu dengan jarak tertentu dari bibir su-
tertentu. Dan kebijakan tersebut sebaiknya dikuatkan ngai; Sosialisasi RPP tentang air tanah terhadap ma-
dalam peraturan daerah setelah melalui pembahasan syarakat dan dunia usaha; Pembangunan Waduk
dan diskusi diantara pemerintah yang bersangkutan. serbaguna. (b) Kabupaten Bolaang Mongondow. So-
Dalam kurun waktu tertentu model matematik sialisasi hukum dan beragai kebijakan tentang ke-
yang dibangun perlu dijustifikasi kembali, terutama hutanan; Penetapan kembali fungsi hutan; Penanam-
mengenai besaran koefisien-koefisiennya, an reboisasi kawasan hutan yang rusak, terbuka, per-
sehubungan dengan adanya perubahan baik kondisi ladangan dan semak belukar; Pembuatan bangunan
fisik atau karakteristik DAS ataupun perubahan konservasi air permukaan (Arboretum); Pembangun-
kondisi sosial ekonomi dari tahun ke tahun an bangunan pengendali erosi dan sedimen; Sosiali-
Dalam analisis harga dasar air baku belum di- sasi RPP tentang air tanah terhadap masyarakat dan
perhitungkan biaya lingkungan khususnya mengenai dunia usaha.
kemungkinan terjadinya perubahan morfologi sungai
dan abrasi pantai sebagai dampak dari pengelolaan Saran
SDA Dari hasil analisia yang telah dilakukan maka
ada beberapa hal yang dapat dijadikan saran terhadap
198 Jurnal Teknik Pengairan, Volume 5, Nomor 2, Desember 2014, hlm 189198

pihak-pihak yang terkait sebagai upaya pelestarian kemungkinan terjadinya perubahan morfologi sungai
sumber daya air, yaitu. dan abrasi pantai sebagai dampak dari pengelolaan
Dengan adanya kerjasama dalam pengelolaan SDA
sumber daya air, dana investasi dalam rangka pe- Kabupaten/kota yang berada diluar DAS yang
ngembangan sumber daya air pada dasarnya dapat ditinjau, tetapi lokasinya berdekatan sebaiknya diberi
diperoleh dari tiap-tiap kabupaten/kota dalam DAS alokasi air sesuai permintaannya dengan memper-
bersangkutan, sesuai dengan kemampuannya dan da- timbangkan sisa hak guna air yang masih tersedia
pat diperhitungkan sebagai penyertaan saham. dan kebutuhan dari kabupaten/kota yang bersangkutan
Pemerintah propinsi perlu membentuk lembaga
koordinasi yang profesional dengan melibatkan se- DAFTAR PUSTAKA
luruh perwakilan stake holder. Asdak, Chay. 2004. Hidrologi Dan Pengelolaan Daerah
Hasil dari penelitian ini dapat dipergunakan se- Aliran Sungai. Yogyakarta : Gajah Mada University
bagai masukan dalam penyusunan kebijakan terutama Press.
mengenai pembagian peran bagi pemerintah daerah Natasaputra, Suardi dan Sri Legowo. 2005. Sistem Insentif
otonom yang wilayahnya masuk dalam suatu DAS / Disinsentif, Sebagai Dasar Kebijakan Pengelolaan
DAS Cimanuk dalam Rangka Konservasi Sumber
tertentu. Dan kebijakan tersebut sebaiknya dikuatkan
Daya Air. Bandung: Makalah Disertasi Departemen
dalam peraturan daerah setelah melalui pembahasan Teknik Sipil ITB.
dan diskusi diantara pemerintah yang bersangkutan. Soemarto, CD. 1986. Hidrologi Teknik. Surabaya: Usaha
Dalam kurun waktu tertentu model matematik Nasional.
yang dibangun perlu dijustifikasi kembali, terutama Soewarno. 1995. Hidrologi: Aplikasi Metode Statistik
mengenai besaran koefisien-koefisiennya, sehubung- Untuk Analisa Data Jilid 1. Bandung: Nova.
an dengan adanya perubahan baik kondisi fisik atau Soewarno. 1995. Hidrologi: Aplikasi Metode Statistik
karakteristik DAS ataupun perubahan kondisi sosial Untuk Analisa Data Jilid 2. Bandung: Nova.
ekonomi dari tahun ke tahun Sosrodarsono, Suyono dan Kensaku Takeda. 1977. Hi-
Dalam analisis harga dasar air baku belum di- drologi Untuk Pengairan. Jakarta: PT. Pradnya Pa-
ramita.
perhitungkan biaya lingkungan khususnya mengenai