Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Umat Islam mengalami puncak keemasan pada masa pemerintahan Abbasyiah. Pada

masa itu bermunculan para pemikir Islam kenamaan yang sampai sekarang pemikirann masih

diperbincangkan dan dijadikan dasar pijakan bagi pemikiran dimasa mendatang, baik dalam

bidang keagamaan maupun umum. Kemajuan ini tercipta berkat berbagai usaha berbagai

komponen masyarakat, baik ilmuwan, birokrat, agamawan, militer, dan ekonom maupun

masyarkat umum.

Keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali

setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar, yaitu Utsmani di Turki, Mughal di

India, dan Syafawi di Persia. Kerajaan Utsmani di samping merupakan kerajaan Islam

pertaman yang berdiri juga yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua kerajaan

lainnya.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Sejarah Perkembangan Turki Utsmani?

2. Bagaimana Perkembangan Ilmu Pengetahuan Di Zaman Turki Utsmani?

3. Bagaimana Sejarah Perkembangan Moghul India

4. Bagaimana Perkembangan Ilmu Pengetahuan Di Zaman Moghul India?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui Sejarah Perkembangan Turki Utsmani?

2. Untuk mengetahui Perkembangan Ilmu Pengetahuan Di Zaman Turki Utsmani?

3. Untuk mengetahui Sejarah Perkembangan Moghul India

4. Untuk mengetahui Perkembangan Ilmu Pengetahuan Di Zaman Moghul India?


BAB II

PEMBAHASAN

A. SEJARAH KERAJAAN OTTOMAN TURKI DAN MUGHAL INDIA

1. Sejarah Kerajaan Ottoman di Turki (1300-1922)

Kerajaan Ottoman didirikan dan diproklamasikan kemerdekaannya oleh Utsman I dari

bangsa Turki Utsmani, setelah Sultan Alauddin dari Dinasti Saljuk meninggal dunia tahun 1300

M.

Utsman I dinobatkan sebagai raja (sultan) pertama dan kerajaan Ottoman, yang disusul

dengan raia-raja berikutnya. Kerajaan Ottoman mengalami kemajuan pada masa pemerintahan

Sultan Muhammad II (1451-1481 M). Sultan ini berjasa besar, karena telah menyebarluaskan

Islam ke Benua Eropa, melalui penaklukan kota Benteng Konstantinopel ibu kota Romawi

Timur pada tahun 1453 M. Karena keberhasilan ini, kemudian Sultan Muhammad II mendapat

julukan Al-Fatih yang artinya Sang Penakluk.

Kerajaan Ottoman mengalami masa keemasan pada masa pemerintahan Sultan Sulaeman

I (1521-1566 M), yang bergelar Sulaeman Agung dan Sulaeman Al-Qanuni. Pada masa

pemerintahannva kerajaan Ottoman memiliki wilayah kekuasaan yang cukup luas, yaitu :

Afrika Utara, Mesir, Hedzjaz, Irak, Armenia, Asia kecil, Krimea, Balkan, Yunani, Bulgaria,

Bosnia, Hongaria, Rumania, sampai ke batas Sungai Danube dengan tiga lautan, yaitu Laut

Merah, Laut Tengah dan Laut Hitam.

Namun, setelah Sulaeman Agung meninggal dunia, kerajaan Ottoman Turki mengalami

kemunduran sehingga satu demi satu wilayah kekuasaannya melepaskan diri.

Biografi Sulaiman Al-Qanuni (6 November 1494 - 5 September 1566 M)

Sulaeman Al-Qanuni, yang disebut juga Sulaeman adalah putra pasangan Sultan Salim

I (yang wafat pada tahun 1520 M) dan Aisya Sultan. Perkataan Al-Qanuni merupakan julukan
yang diberikan oleh masyarakat Turki Utsmani kepada Sulaeman I, yang berarti Si Pembuat

Undang-Undang.

Sulaeman Al-Qanuni, menjadi Sultan Ottoman Turki dari tahun 1520 M sampai dengan

1566 M. Beliau merupakan Sultan Turki Utsmani terbesar dan paling berhasil dalam

menjalankan roda pemerintahan. Keberhasilan-keberhasilan tersebut antara lain dalam hal :

1) Perluasan wilayah kekuasaan seperti berhasil menguasai Beograd, yang sekarang menjadi

ibukota Serbia, Yugoslavia (dulu) pada tahun 1521 M; menguasai Budapest, ibukota

Hongaria pada tahun 1524 M; menguasai Pulau Rhodos tahun 1522 M; merebut pangkalan

angkatan laut di bagian tenggara Prancis yaitu kota Nicea, memperoleh kemenangan dalam

berperang melawan Austria pada tahun 1531 M. Karena demikian kuat dan luasnya wilayah

kekuasaan Sulaeman Al-Qanuni. orang-orang Eropa memberi julukan kepadanya dengan

nama Solomon the Magnificent atau Solomon the Great (Sulaeman yang Agung).

2) Membangun armada laut pertama pada tahun 1534 M. yang diperkuat oleh admiral laut

yang cakap Khairuddin Barbarossa. Armada laut ini dibentuk untuk menghadapi

perlawanan pasukan Kaisar Karel V dari Spanyol.

3) Mendirikan Universitas As-Sulaemaniyyah pada tahun 1550, membangun istana, hotel,

rumah sakit, lembaga pendidikan Al-Quran, dan masjid. Sedangkan arsitekturnya bernama

Sinan.

4) Menulis salinan Al-Quran dengan tangannya sendiri, yang kini disimpan dengan baik di

Masjid Agung Sulaeman yang dibangun tahun 1550-1556 M.

2. Sejarah Kerajaan Moghul di India (1526-1857)

Peranan umat Islam India dalam penyebarluasan agama Islam dapat dilihat dalam

empat periode, yaitu periode sebelum kerajaan Mogul (705-1526 M). periode Mogul (1526-
1858 M). periode masa penjajahan lnggris (1858-1947 M), dan periode negara India Sekuler

(1947-sekarang).

Kerajaan Mogul didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur, keturunan Jengiz Khan

bangsa Mongol, pada tahun (1526-1530M) dan sultan terakhirnya bernama Sultan Bahadur

Syah II (1837-1858 M). ). Kerajaan Mogul berpusat di Delhi (India). Pada tahun 1530M,

Zahiruddin Babur meninggal dunia setelah berkuasa lebih kurang 30 tahun. Selanjutnya

Kerajaan Mongol dipimpin oleh putranya Humayun (1530-1539). Pada masa pemerintahannya

banyak terjadi perlawanan. Akibat dari semua itu maka perintahan menjadi lemah. Humayun

berkuasa selama 9 th.

Pengganti Humayun adalah putranya Syah Jihan ( Syah Johan) yang bergelar Sultan

Akbar, berkuasa ketika berusia 14 tahun. Karena usianya yang masih relatif muda maka

pemerintahan dijalankan oleh Bairam Khan, seorang tokoh dari aliran Syiah. Pada masa

pemerintahannya kekuasaan dijalankan seperti gaya militer. Sultan Akbar terkenal dengan

kebijakan politiknya yang disebut Sullakhul (toleransi universal). Kemajuan yg telah dicapai

oleh Akbar masih bisa dipertahankan oleh 3 Sultan berikutnya, yakni Sultan Jehangir (1605-

1628), Syah Jehan (1628-1658), dan Aurangzab (1658-1707).

Kerajaan Mongol di India banyak kemajuan yang telah dicapai, diantaranya : Kemajuan

bidang ekonomi dan Kemajuan bidang seni dan budaya.

Puncak kejayaannva tatkala diperintah oleh Akbar Syah I (1556-1605 M), Jahangir atau

Nuruddin Muhammad Jahangir (1605-1627 M), Syah Jihan (1627-1658 M), dan Aurangzeh

atau Alamgir I (1658-1707 M). Wilayah kejuasaan Mogul meliputi Kabul, Lahore, Multan,

Delhi, Agra, Oud, Allahabad. Ajmer, Guzarat, Melwa, Bihar, Bengal, Khandes, Berar, Ahmad

Nagar, Ousra. Kashmir, Bajipur, Galkanda, Tajore, dan Trichinopoli.


B. PERKEMBANGAN PENDIDIKAN PADA MASA TURKI UTSMANI DAN

MOGHUL INDIA

1. PENDIDIKAN PADA MASA TURKI UTSMANI

a. Pendidikan Pada Masa Turki Utsmani

Setelah mesir jatuh dibawah kekuasaan Utsmaniyah Turki, lalu Sultan Salim

memerintahkan, supaya kitab-kitab diperpustakaan dan barang-barang yang berharga di Mesir

dipindahkan ke Istambul. Anak-anak Sultan Mamluk, ulama-ulama, pembesar-pembesar

yang berpengaruh di Mesir, semuanya dibuang ke Istambul, setelah mengundurkan diri sebagai

khalifah dan menyerahkan pangkat khalifah itu kepada Sultan Turki.

Dengan demikian Sultan Turki memegang dua kekuasaan: kekuasaan sebagai sultan

dalam urusan duniawi dan kekuasaan sebagai Khalifah dalam urusan agama.

Dengan berpindahnya ulama-ulama dan kitab-kitab perpustakaan dari Mesir ke

Istanbul, maka Mesir menjadi mundur dalam ilmu pengetahuan dan pusat pendidikan

berpindah ke Istambul, tempat kedudukan Sultan dan Khalifah. Dan Istambullah yang menjadi

pusat pendidikan dan kebudayaan saat itu.

Selain itu Sultan Salim mengumpulkan kepala-kepala perusahaan yang termashur di

Mesir berjumlah kurang lebih 1000 orang banyaknya. Semua mereka dipindahkan ke

Istambul,Mesir terpaksa ditutup. Itulah salah satu sebab mundurnya perusahaan di Mesir pada

masa Utsmaniyah Turki.

Setelah Sultan Salim wafat, lalu digantikan oleh anaknya Sultan Sulaiman Al-Qanuni

(926-974 H = 1520-1566 M). Pada masa Sultan Sulaiman itu kerajaan Utsmaniyah sampai

kepuncak kebesaran dan kemajuan yang gilang gemilang dalam sejarahnya. Laut putih tengah,

laut hitam, dan laut merah semua dalam kekuasaannya. Luas negaranya dari Makkah ke
Budapes dan dari Baghdad ke Aljazair. Tetapi sesudah wafat Sultan Sulaiman kerajaan

Utsmaniyah mulai mundur sedikit demi sedikit.

Pada masa Utsmaniyah Tuki pendidikan dan pengajaran mengalami kemunduran,

terutama diwilayah-wilayah, seperti Mesir, Baghdad dan lain-lain. Yang mula-mula

mendirikan madrasah pada masa Utsmaniyah Tuki ialah Sultan Orkhan (wafat tahun 761 H =

1359 M.). kemudian diikuti oleh Sultan-Sultan keluarga Utsmaniyah dengan mendirikan

madrasah-madrasah, yang didirikan oleh Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Sultan-sultan pada masa

Utsmaniyah banyak mendirikan masjid-masjid dan madrasah-madrasah terutama di Istambul

dan Mesir. Tetapi tingkat pendidikan itu tidak mengalami perbaikan dan kemajuan sedikitpun.

Pada masa itu banyak juga perpustakaan yang berisi kitab-kitab yang tidak sedikit bilangannya.

Tiap-tiap orang bebas membaca dan mempelajari isi kitab itu. Bahkan banyak pula ulama,

guru-guru, ahli sejarah dan ahli syair pada masa itu. Tetapi mereka-mereka itu hanya

mempelajari kaidah-kaidah ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab, serta sedikit ilmu berhitung

utuk membagi harta warisan dan ilmu miqat untuk mengetahui waktu sembahyang. Mereka

tidak terpengaruh oleh pergerakan ilmiyah di Eropa dan tidak mau pula mengikuti jejak zaman

kemajuan Islam pada masa Harun Ar-Rasyid dan masa Al-Makmun, yaitu masa keemasan

dalam sejarah Islam. Demikianlah keadaan pendidikan dan pengajaran pada masa Utsmaniyah

Turki, sampai jatuhnya sultan atau khalifah yang terakhir tahun 1924 M.[4]

Sistem pengajaran yang dikebangkan pada Turki Utsmani adalah menghafal matan-

matan meskipun murid-murid tidak mengerti maksudnya, seperti menghafal Matan Al-

Jurumiyah, Matan Taqrib, Matan Alfiyah, Matan Sultan, dan lain-lain. Murid-murid setelah

menghafal matan-matan itu barulah mempelajari syarahnya. Karena pelajaran itu bertambah

berat dan bertambah sulit untuk dihafalkannya. Sistem pengajaran diwilayah ini masih

digunakan sampai sekarang. Pada masa pergerakan yang terakhir, masa pembaharuan

pendidikan Islam di Mesir dan Syiria (tahun 1805 M) telah mulai diadakan perubahan-
perubahan di sekolah-sekolah (madrasah) sedangkan di Masjid masih mengikuti sistem yang

lama.

Meskipun pada masa Turki Utsmani pendidikan Islam kurang mendapat

perhatian[5] yang serius dan juga terhambat kemajuannya, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa

tiap-tiap masa pasti akan memunculkan tokoh-tokoh atau ulama-ulamaternama. Walaupun

jumlah ulama pada masa itu tidak sebanyak pada masa Abbasiyah yang merupakan puncak

keemasan Islam.[6]

b. Sistem Pengajaran di Turki

Sistem pengajaran pada masa Turki seperti yang telah dijelaskan di atas yaitu dengan

cara menghafal matan-matan, seperti menghafal Matan Al-Jurumiyah, Matan Taqrib, Matan

Alfiyah, Matan Sulam dan lain-lain.[7]

Adapun tingkat-tingkat pengajaran di Turki adalah sebagai berikut:

1. Tingkat Rendah (SR) 5 tahun

2. Tingkat Menengah (SMP) 3 tahun

3. Tingkat Menengah Atas (SMA) 3 tahun

4. Tingkat tinggi (Universitas) 4 tahun

Dikelas IV dan V SR diajarkan ilmu agama jika mendapatkan izin dari orang tua murid.

Begitu juga diajarkan agama dikelas III Sekolah Menengah (SMP) jika diminta oleh orang tua

murid.

Selain itu ada juga sekolah Imam Chatib (sekolah agama) 7 tahun, 4 tahun pada tingkat

menengah pertama dan tiga tahun pada tingkat menengah atas. Murid-murid yang diterima

masuk sekolah imam chatib itu ialah murid-murid tamatan SR 5 tahun. Untuk melanjutkan dari
sekolah Imam Chatib didirikan Institut Islam di Istambul pada tahun 1959, dan pengajarannya

berlangsung selama 4 tahun.

Dasar-dasar pengajarannya adalah sebagai berikut:

a. Tafsir

b. Hadits

c. Bahasa Arab

d. Bahasa Turki

e. Filsafat

f. Sejarah Kebudayaan islam

g. Ilmu Bumi

h. Dan lain-lain

c. Ulama-Ulama yang Termashur Pada Masa Turki Utsmani

Ulama-ulama yang termashur pada masa Utsmaniyah Turki diantaranya yaitu:

1. Syeikh Hasan Ali Ahmad As-Syafii yang dimasyhurkan dengan Al-Madabighy,Jamul

Jawami dan syarah Ajrumiyah (wafat tahun 1170 H = 1756M) pengarang Hasiyah.

2. Ibnu Hajar Al-Haitsami (wafat tahun 975H = 1567M) pengarang Tuhfah.

3. Syamsuddin Ramali (wafat tahun 1004H = 1959H) pengarang Nihayah.

4. Muhammad bin Abdur Razak, Murtadla Al-Husainy Az-Zubaidy, pengarang syarah Al-

Qamus, bernama Tajul Urus (wafat tahun 1205H = 1790M).

5. Abdur Rahman Al-Jabarity (wafat tahun 1240H = 1825M), pengarang kitab tarikh Mesir,

bernama Ajaibul-Atsar Fit-Tarajim Wal-Akhbar.

6. Syekh Hasan Al-Kafrawy As-Syafii Al-Azhary (wafat tahun 1202H = 1787M)pengarang

kitab nahwu Syarah Al-Jurumiyah, barnama Kafrawy.


7. Syeikh Sulaiman bin Muhamad bin Umar Al-Bijirmy As-Syafii (wafat tahun 1212H =

1806M), pengarang syarah-syarah dan hasyiah-hasyiah.

8. Syeikh Hasan Al-Attar (wafat tahun 1250H = 1834M), ahli ilmu pasti dan ilmu kedokteran.

9. Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Arfah Ad-Dusuqy Al-Maliki (wafat tahun 1230H =

1814M) ahli filsafat dan Imu falak serta ahli ilmu ukur.

10. Nuruddin Ali Al-Buhairi (wafat tahun 944H = 1537M).

11. Abdurrahman Al-Manawy (wafat tahun 950 H = 1543M).

12. Syahabuddin Al-Quliyuby.

13. Abdul-Baqybin Yusuf Az-Zarqany Al-Maliki (1099H = 1687M).

14. Syeikh Abdulah Al-Syarqawy (Syeikh Al-Azhar) (wafat tahun 1227H= 1812M).

15. Syekh Musthafa bin Ahmad As-Shawy (wafat tahun 1216H = 1801 M).

16. Syeikh Musthafa Ad-Damanhury As-SyafiI (wafat tahun 1216H = 1801 M).
2. PENDIDIKAN PADA MASA MOGHUL INDIA

A. Sejarah Dinasti Mughal

Mughal terletak di India dan merupakan salah satu kerajaan yang berjasa dalam

perkembangan Islam di India. Islam sudah masuk ke India lima belas tahun setelah Nabi

Muhammad wafat. Sedangkan awal kekuasaan Islam di India terjadi pada masa Khalifah Al-

Walid dari Bani Umayyah yang dilanjutkan oleh Ghaznawiyah yang mampu menakhlukkan

kerajaan Hindu pada tahun 1020 M. Sebelum kerajaan Mughal ini ada beberapa pemerintahan

yang ada di India, yang disebut dengan Kesultanan Delhi yaitu:

1. Dinasti Guri (1173-1206)

2. Kerajaan Mamluk (1206-1290)

3. Dinasti khiljia (1290-1320)

4. Tuqluq (1230-1412)

5. Lody (1415-1526)

Mughal adalah sebuah dinasti yang diperintah oleh raja-raja yang berasal dari Asia

Tengah, keturunan Timur Lenk, penguasa Islam asal Mongol. Dinasti ini berkuasa di India

antara tahun 1526-1858. Kerajaan Mughal ini didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur.

Babur seorang Turki Chagatai yang masih memiliki hubungan darah atau Keturunan timur

Lenk dan garis ayahnya yang dipisah lima generasi, sedangkan dari garis ibunya, ia masih

keturunan Jengis Khan dari Mongol. Babur menjadi penguasa Farghana pada tahun 1500

menggantingkan ayahnya Umar Mirza bin Abu Said. Dari garis keturunan, Babur memang

keturunan-keturunan orang-orang terkenal sebagai penguasa.

Babur sempat kehilangan kekuasaan di Fraghana sehingga ia mengalihkan

perhatiaannya ke daerah India dan diperintah oleh raja-raja yang berasal dari Asia Tengah

keturunan Timur Lenk. Dengan bantuan Raja Khurasan, ia dengan berani menyeberangi
Hindukush dan merebut Kabul dan Ghazani pada tahun 1540 M. Akan tetapi Babur sekali lagi

ingin memantapkan kembali kedudukannya di Asia Tengah, sebagai penerus timur. Karena

mampu memperoleh bantuan Shah Ismail Safavi dari Persia melawan Shaibani Khan, kepala

suku Uzbeg. Babur Sekali lagi mencoba menduduki Samarkand, tetapi gagal. Karena keputus

asaannya, Babur kembali ke Kabul. Sekarang ia memutuskan untuk mencoba peruntungan ke

Timur yaitu India.

Penyerbuan pertamanya diarahkan ke orang-orang Yusufzais pada tahun 1516 M. Suatu

ekspedisi juga dikirimkan untuk melawan Bajaur pada tahun 1520 M. Pada tahun 1524 M

Babur maju sampai Dilpalpur yang diserbunya dengan serentak. Akan tetapi dia harus mundur

ke Lahore dan kembali ke Babul. Dia bergantung pada kerja sama Daulat Khan Lodi dan Alam

Khan, yang atas serunya Babur menyerbu India, tetapi mereka berbalik melawannya ketika

mereka mengetahui bahwa dia tidak bermaksud menghentikan usaha penaklukkan India.

Babur sekarang benar-benar bertekad menghanjurkan kerajaan Afghan di Delhi yang sedang

terhuyung-huyung. Dan bergerak maju menentang sultan Ibrahim yang pada waktu itu menjadi

penguasa kota Delhi dan kerajaan Hindustan.

Babur bertempur dengan Ibrahim lodi yaitu sultan Delhi terakhir karena memenjarakan

sejumlah bangsawan yang menentangnya. Ibrahim Lodi terbunuh dan kekuasaanya dikuasai

oleh Babur, dan sejak itulah Dinasti Mughal berdiri dan Delhi sebagai ibu kotanya.

Setelah meninggal, Zahirudin Babur digantikan oleh anaknya yang Nashirudin

Humayun (1530-1556 M), dan digantikan oleh anaknya, Akbar Khan (1556-1605 M). Pada

masa Akbar Khan dinasti Mughal mengalami kejayaan. Penguasa atau kaisar Dinasti Mughal

adalah:
No Nama Uraian

1 Zahiruddin

Babur (1526-

1530)

2 Humayun Menghadapi beberapa pemberontaan dari Bahadur

(1530-1556) Syah, saudaranya Kamran, dan pasukannya yang

tidak setia kepadanya.

3 Akbar Syah Menerapkan Undang-undang yang terkenal dengan

(Khan)/ Din Ilahi (pandangan dan sikap keagamaan resmi

Jalaluddin kerajaan yang terdiri dari unsur agama Islam,

Akbar (1556- Hindu, Budha, Persia, dan lainnya). Ia berani

1605) menggebrak untuk menyatukan semua agama,

bukan menciptakan agama baru tetapi menyingkap

kelebihan tiap agama dan membuat Islam berbau

taurat atau hukuman. Ia hanya dididik mengaji Al-

Quran oleh Ayahnya tetapi kekurangannya dalam

pendidikan membuatnya memperdalam akan

tanggungjawabnya.

4 Jahangir Menghadapi pemberontakan anaknya yaitu

(1605-1627) Khusraw dan Syah Jehan

5 Syah Jehan Mampu merebut kota Qandahar kembali dari

(1627-1658) penguasa Persia


6 Aungrangzeb Memindahkan ibukota dari Agra ke Delhi. Ia

(1658-1707) menghadapi pemberontakan karena tidak toleransi

dengan agama lain seperti praktek agama Hindu.

7 Bahadur Syah Tidak setegas ayahnya, sehingga kebijakan

(1707-1712) Auerangzeb tidak diteruskan.

8 Jihadur Syah Pribadi yang lemah, administrasi kerajaan yang

(1712-1713) kacau dan dibunuholeh Farrukh Siyyar.

9 Muhammad Wazirnya yaitu Nizham Al-Mulk. Ia menghadapi

(1719-1740) kekuatan syiah sehingga 30.000 orang di Delhi

terbunuh oleh Nadar Syah, Raja Persia.

10 Ahmad Syah Menghadapi pemberontakan wazirnya, Safdar dan

(1748-1754) cucunya Nizam Al-Mulk yaitu Imadul Mulk.

11 Alamgir II Anaknya Jihadur Syah yang diangkat dan dibunuh

(1754-1759) oleh Imadul Mulk.

12 Alam II Masa ini menghadapi Inggris dan dia dibunuh oleh

(1759-1806) Rohila.

13 Akbar II Masih menghadapi kekuasaan Inggris dan

(1806-1837) pemberontakan suku India.

14 Bahadur Syah Kekuasaan Inggris semakin kuat

II (1837-

1858)
B. Kemajuan Dinasti Mughal

1. Kenegaraan

Pada masa Akbar, banyak sekali kemajuan dalam kenegaraan:

a. Ia dibantu oleh Menteri-Menteri. Menteri yang derajatnya mendekati Perdana

Menteri (Wasir) adalah Menteri keuangan. Panglima perang besar bergelar Khan

Qanan. Menteri penyelenggara Negara disebut Bilath Sulthani. Menteri

kehakiman disebut Ash Sadr. Hindustan dibagi menjadi 18 Provinsi. Tentara

tetapnya sebanyak 140.000.

b. Pemungut pajak tidak boleh memaksa, memeras dan bersikap keras.

c. Pada musim paceklik dan hasil bumi sangat buruk, Akbar mengeluarkan bantuan

bibit dan pupuk pada petani.

d. Akbar juga mempunyai persediaan untuk wilayah yang menderita kelaparan

karena tidak turun hujan.

e. Akbar melarang janda yang membakar dirinya hidup-hidup karena ditinggal mati

suaminya, membiarkan janda yang berumur kurang dari 10 tahun untuk terus

menjadi janda seumur hidup dan melarang gadis menikah pada usia muda.

f. Akbar membuat aturan untuk membolehkan menikah untuk laki-laki pada usia 16

tahun dan gadis pada usia 13 tahun.

2. Agama

Secara umum para penguasa (sultan) Mughal beraliran mazhab sunni. Bahkan sebagian

mereka terkenal ortodoksinya. Diantara mereka adalah Jahangir, Syah Jahan, dan Aurangzeb.

Aurangzeb bahkan tampak ortodoksinya. Dalam bidang keagamaan ini terutama pada zaman

Jahangir, muncul seorang mujaddid terkemuka, Syeh Ahmad Sirhindi. Ia mempraktekkan

tarekat Naqsabandiyah. Meskipun sebagian penguasa cenderung terhadap ortodoksi Sunni, saat

itu juga muncul pemikiran sintesa dalam agama.


Di bidang agama Akbar mempunyai pendapat yang liberal dan ingin menyatukan semua

agama dalam satu bentuk agama baru yang diberi nama Din Illahi. Akbar dikenal sebagai tokoh

perbandingan agama karena konsep pemikiran Din Illahi-nya itu. Inti dari konsep ajaran

tersebut adalah bahwa agama merupakan gejala dari rasa tunduk kepada satu Dzat Yang Maha

Kuasa. Menurut sultan Akbar, agama-agama tersebut pada hakekatnya adalah satu. Oleh

karena itu, perlu dicari satu kesatuan inti agama dan dia membuat agama baru yang disebutnya

Din Illahi. Selain itu ia juga mengajarkan ajaran yang disebut Sulhe Kul yang memiliki arti

perdamaian universal.

3. Seni Lukis

Pada masa Akbar terdapat lukisan Mirr Syed Ali, Farrukh Beg, Abdus Samad (Shiren

Qalam) dan Istana Agra sedangkan pada masa Jahangir terdapat lukisan M. Nadir Khan,

Muhhammad Murad, dan Aga Reza.


4. Seni Arsitektur

a. Masjid Agung di Sabhal dan Masjid Kabul Path di Panipat pada masa Babur.

b. Gedung Fatehpur Sikri bangunan bersejarah yang bercorak Hindu dan Islam yang

dibangun Sultan Akbar Syah I pada 1569. Bangunan ini didirikan untuk mengenang

seorang sufi dan wali Allah bernama Hazrat Salim Christi. Di kota ini terdapat sebuah

masjid agung dan Pintu Tinggi (Buland Darwaza) yang dikenal sangat indah.

c. Masjid Agung Delhi dan Taj Mahal. Bangunan yang sangat indah ini dibangun oleh

Syah Jehan selama dua belas tahun dari 1631 sampai 1643. Berdiri di tepi Sungai

Jamuna di Agra, di Taj Mahal inilah dimakamkan istri Syah Jehan, Mumtaz Mahal.

d. Benteng Merah atau Lal Qila. Dibangun pada 1638, Syah Jehan merancangnya

sebagai benteng, istana, sekaligus dihiasi taman yang indah. Di dalam benteng itu

terdapat bangunan istana raja yang berhiaskan aneka lukisan dan ornamen kaca,

paviliun, jalanan lebar, pasar, tempat ibadah, tempat tinggal istri raja, tempat

pemandian anggota keluarga raja, dan taman.

e. Masjid Moti atau Masjid Mutiara (Masjid di dalam Benteng Merah). Dibangun pada

1659 oleh Aurangzeb. Masjid Moti memiliki tiga buah kubah berukuran kecil

berhiaskan marmer putih. Arsitektur lain yang menonjol dari bangunan masjid ini

adalah desain lengkung yang menghiasi tiga buah lorong yang meghubungkan bagian

ruang utama masjid dengan halaman.

e. Masjid Badsyahi yang terletak di sebelah barat Benteng Lahore dibangun oleh

Aurengzeb. Pintu besarnya terletak di bagian timur yang terbuat dari batu merah.

Untuk mencapai pintu ini, harus melalui 22 anak tangga. Di setiap sudut masjid

terdapat empat menara. Di dalam setiap menara tersebut terdapat 204 anak tangga.
Masjid terbesar yang kini berada di Pakistan ini mampu menampung sekitar 75 ribu

jamaah.

5. Seni Sastra

Babur Nameh adalah kumpulan syair yang dibuat Babur karena ia menyukai syair

Robayat Omar Khayam. Kumpulan ini dicetak di Turki, diterjemahkan ke bahasa Persia dan

Eropa.

6. Seni Musik

Pada masa Humayun ada seni musik yang bernama Baccu. Dan pada masa Syah Jehan

terdapat seni musik yang bernama Jagan Nath.

C. Kemunduran Dinasti Mughal

Kemunduran dinasti ini sebenarnya dimulai sejak Alamgir II, dimana para pejabat mulai

memperhatikan kepentingannya sendiri bukan pada upaya memperkokoh kerajaan. Hal ini

mempengaruhi stabilitas d bidang lain seperti administrasi kerajaan mulai kacau, kecilnya

perhatian pada kebutuhan kerajaan yaitu pembinaan pasukan yang ada pada akhirnya

memudarnya loyalitasnya. Kondisi ini diperparah oleh penjajah Inggris. Secara detailnya

adalah:

1. Terjadinya stagnasi pembinaan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah

pantai tidak dapat dipantau

2. Kemerosotan Moral dan hidup mewah di kalangan elite politik yang mengakibatkan

pemborosan dan penggunaan uang negara

3. Pendekatan Auerangzeb yang kasar dalam mendakwahkan agama

4. Pewaris tahta pada mas-masa terakhir adalah pribadi yang lemah.


D. Pendidikan

1. Pendidikan Islam dinasti Mughal dibagi dalam tiga jenjang dan bidang:

a. Pendidikan Dasar yang dilaksanakan di masjid (maktab). Bidang ilmu yang yang

dipelajari adalah pendidikan agama. Pendidikan didorong dengan hadiah uang

untuk masjid. Semua masjid selalu mempunyai sekolah rendah.

b. Pendidikan lanjutan yaitu madrasah. Bidang ilmu yang dipelajari adalah

pendidikan moral. Ini berarti perhatian sejumlah penguasa Mughal terhadap

pembinaan agama dengan membangun sejumlah masjid misalnya amat

bermanfaat bagi pengembangan pendidikan Islam dan ajaran Islam di kalangan

masyarakat. Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan pendidikan bagi orang-

orang kaya, pihak kerajaan juga telah menyediakan madrasah-madrasah khusus.

Pendidikan atau sekolah khusus ini juga disediakan bagi orang Hindu yang

disebut Pat Shala. Namun demikian, di samping sekolah khusus bagi kelompok

agama tertentu pihak kerajaan juga menyediakan sekolah tempat anak-anak

muslim dan Hindu belajar bersama.

c. Pendidikan tinggi atau universitas. Bidang ilmu yang dipelajari adalah ilmu

profesi. Dalam perkembangannya, masjid raya telah berkembang menjadi sebuah

universitas. Universitas untuk kekhususan ilmu seperti ilmu tafsir dan hadits, fiqh

berbagai madzab, ilmu (thib) kedokteran dan falsafah, ilmu pasti, ilmu musik dan

ilmu eksak lainnya. Di masa Syah Jahan didirikan perguruan tinggi di Delhi.

Aurangzeb mendirikan pusat pendidikan di Lucknow sehingga banyak ilmuan

yang belajar di India. Sedangkan Aurangzeb dikenal banyak orang sebagai lelaki

yang saleh, adil, keras dan energetik yang menjadi teladan kerajaan Islam.

Hidupnya ditandai kesederhanaan dan tenaga yang tak terbatas. Dialah yang

paling terpelajar di antara semua penguasa Mughal.


Pendidikan memperoleh perhatian yang cukup besar. Untuk keperluan ini pihak

kerajaan mendorong untuk menjadikan masjid selain sebagai tempat ibadah juga sebagai

tempat belajar agama bagi masyarakat. Di masjid memang telah tersedia ulama yang akan

memberikan pengajaran berbagai cabang ilmu agama. Bahkan, di masjid juga telah disediakan

ruangan khusus bagi para pelajar yang ingin tinggal di masjid selama mengikuti pendidikan.

Karena itu, hampir setiap masjid merupakan pengembang ilmu-ilmu agama tertentu dengan

guru-guru spesialis.

Ilmu yang wajib dimiliki oleh semua orang adalah ilmu thib untuk memelihara

kesehatan, ilmu hitung untuk keseharian, ilmu falak juga diperlukan untuk menetapkan waktu

sembahyang. Dinasti ini ada ahli yang muncul dibidang agama yaitu Syekh Fathullah Syirazi.

Ahli bidang tasawuf adalah Mubarak, Abul Faidl, dan Abul Fadhl.

2. Perpustakaan

Selain itu, pihak kerajaan juga menyediakan perpustakaan yang bisa dimanfaatkan oleh

siapa saja. Akbar dikenal sebagai raja yang gemar membaca dan mengoleksi buku. Pada era

ini juga banyak buku-buku terjemahan yang diterbitkan. Diantaranya buku terjemahan kisah

Mahabaratha dan Ramayana yang dibuat oleh Badayuni, Kitab Injil ke dalam bahasa Persia.

Bahkan Akbar juga mengizinkan anaknya (Murad) untuk belajar ilmu pengetahuan kepada

Pendeta Katholik. Raja lainnya, Jahangir dikenal sebagai raja pelindung para ilmuwan. Ia juga

menulis biografinya sendiri dengan judul Tuzk-i-Jahangiri.

Berbagai kegiatan tulis menulis dalam masalah agama, sejarah, maupun syair, ikut

melengkapi koleksi perpustakaan kerajaan sekaligus penyebaran ilmu pengetahuan sehingga

banyak dijumpai perpustakaan yang ada di berbagai wilayah kerajaan Mughal. Pada tahun 1641

misalnya, terdapat sebuah perpustakaan di Agra yang memiliki koleksi 20.000 buku. Karena
itu, semangat dan perkembangan agama Islam yang telah berkembang di kalangan kerajaan

maupun masyarakat pada umumnya sebetulnya bersamaan dengan tumbuhnya lembaga-

lembaga keagamaan, pendidikan, dan ilmu pengetahuan. Di masa dinasti ini juga lahirnya

Mausuat yaitu buku kumpulan berbagai ilmu dan masalah seperti ensiklopedia.

3. Khanqah (Pesantren)

Pencetus Khanqah atau Pesantren yang dipimpin ulama atau wali. Khanqah pada era ini

merupakan pusat studi Islam yang dinilai baik. Di khanqah diajarkan berbagai ilmu

pengetahuan seperti matematika, mantik atau logika, filsafat, tafsir Quran, hadits, fiqih,

sejarah, dan geografi. Bahasa Persia pada masa itu merupakan bahasa pengantar dalam

kegiatan pendidikan dan pengajaran agama Islam. Pendidikan yang diselenggarakan ini diikuti

oleh siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Karena itu sejumlah kaum wanita dari

keluarga terdidik, misalnya Gulbadan Begum, Maham Anga, Nur Jahan, Mumtaz Mahal, Jahan

Ara Begum, dan Zaibun Nisa yang kemudian menjadi penulis terampil. Perkembangan

khanqah ini berlangsung pesat karena memperoleh dukungan dari para bangsawan.

4. Penulis

a. Amir Syakib Arselan menulis Tuzk-i Baburi tentang biografi Babur.

b. Gulbadan Bagun yang menulis biografi Hamayun

c. Jahan Ara yang menulis Munis Al-Arwah

d. Tarikh Alfi dan Muntakib At-Tawarikh, sebuah buku sejarah.

e. Absul Fazl dengan karyanya Akbar Nameh (Biografi Akbar), Ainil Akbar (Pemikiran

Akbar).

f. Jahangir menulis biografinya sendiri yaitu Tuzk-i-Jahangiri.


5. Pengetahuan Bahasa

Bahasa yang dipakai adalah bahasa Arab, sebagai bahasa Agama, bahasa Turki sebagai

bahasa kaum bangsawan dan bahasa Persia sebagai bahasa istana dan kasusteraaan. Dan ia

menciptakan bahasa Urdu yaitu perpaduan bahasa itu tetapi diperkaya dengan bahasa daerah

sehingga menjadi bahasa Nasional.

6. Kemajuan Pendidikan saat Revolusi Multiny

Pada tahun 1857, ketika terjadi Revolusi Multiny (puncak perlawanan umat Islam terhadap

Inggris. Revolusi ini dipicu oleh sikap Inggris yang tidak menyertakan Islam dalam parlemen.

Hal ini ini kemudian mendorong Inggris untuk merangkul umat Hindu dan mengucilkan Islam.

Sehingga, Sayyid Ahmad Khan berusaha menyelamatkan Islam melalui sikap kooperatif

terhadap pemerintahan Inggris. Dalam hal pendidikan ia berusaha dalam:

a. Mendirikan lembaga The Translation Society, untuk menerjemahkan buku-

buku sendi dan sains.

b. Membentuk majalah Tahdzib al-Akhlaq (1870 M) untuk meningkatkan moral atau

akhlak.

c. Mendirikan perguruan tinggi Mohammadan Anglo Oriental College yang kemudian

dirubah menjadi Universitas Aligarh (1920 M) dengan menggunakan kurikulum

Barat.

E. India Masa Kini

New Delhi sudah menjadi pusat Islam Kerajaan Moghul. Sampai sekarang juga Islam

tumbuh dengan baik di ibu kota India itu. Di jajaran pemerintahan, tak sedikit seorang

profesional Muslim menjadi pejabat. Tak sedikit pula, cendekiawan-cendekiawan di New

Delhi yang merupakan alumnus dari perguruan-perguruan tinggi Islam.


Pemerintah juga memberlakukan hari libur saat perayaan hari besar agama Islam.

Sedangkan dari sisi busana, Muslimah di New Delhi meski tak berjilbab namun menggunakan

baju panjang yang relatif tertutup. Dari sisi mazhab, umat Islam di New Delhi pada umumnya

menganut Mazhab Hanafi dan hanya sebagian kecil saja yang bermazhab Syiah.

Sejak tahun 2000, kesadaran untuk mempelajari Islam mulai menyebar di New Delhi.

Hal ini ditandai dengan ber munculannya Taman Pengajian Alquran (TPA). Hingga saat ini

setiap masjid memiliki TPA. TPA dinilai sangat efektif membangkitkan ajaran Islam. Dengan

membuka TPA dari pagi hingga sore, tiap anak bisa menyesuaikan waktu belajarnya di TPA

tanpa mengganggu studinya di sekolah umum. Kegiatan belajar bisa diikuti oleh anak-anak

dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Dari TPA ini pula

lahirlah banyak penghafal Alquran. Pengaruh Islam memang sangat kental di India. Salah satu

kota yang menjadi rumah bagi Muslim India adalah Delhi. Kota Delhi terbagi atas dua bagian

besar, yaitu Old Delhi dan New Delhi yang menjadi ibu kota India sejak 1947.

F. Rekonstruksi

Dari sejarah pendidikan dari Dinasti Mughal dapat diambil rekonstruksi pada masa

sekarang yaitu:

1. Mendirikan Pondek Pesantren Modern, Madrasah, atau Sekolah berbasis Islam lainnya

yang menerapkan program pengkayaan yang lebih mendalam ke bahasa Arab, Inggris,

Indonesia (bahasa Nasional), dan daerah (Jawa, Sunda, Sumatera, Sulawesi, Papua dan

lainnya).

2. Menghasilkan lulusan pendidikan yang mampu menghasilkan karya, baik majalah,

buku, jurnal ilmiah maupun karya ilmiah.

3. Mengembalikan ciri khas Pesantren untuk dipimpin oleh satu pimpinan atau Kyai agar

tetap dalam satu komando dan menjadikan Pemerintah pusat dan daerah selalu

mendukung segala bentuk aktivitas Pesantren.


4. Membuat sekolah di lingkungan Masjid, dari tingkat Taman Kanak-Kanak, Sekolah

Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas sampai Perguruan tinggi.

5. Membuat bangunan yang identik dengan Islam seperti Masjid yang mempunyai

arsitektur yang tinggi, Museum untuk mempelajari lebih mendalam tentang

peninggalan sejarah Islam, dan perpustakaan yang memiliki buku-buku tentang Islam.

6. Membuat sanggar khusus untuk seni lukis Islami, seperti membuat kaligrafi, lukisan

para tokoh, maupun ciptaan Allah SWT.


BAB III

PENUTUP

Dinasti yang terbentuk dari aktivitas politik yang menegangkan tidak membuat semua

aspek dipenuhi dengan hal yang negatif. Kemajuan Dinasti ini tidak hanya dalam kenegaraan,

tetapi juga bidang agama, seni lukis, seni arsitektur, seni sastra dan seni musik. Dan diantara

semua kemajuan itu, Taj Mahal lah yang menjadi ciri khas Dinasti ini karena termasuk tujuh

keajaiban dunia. Kemajuan itu merupakan bukti konkret bahwa Mughal juga mempunyai

peranan penting dalam mengembangkan Islam di dunia pada umumnya, dan di India pada

khususnya.

Dalam pendidikan, Dinasti ini mampu memberikan nuansa intelektual pada tiap

tingkatan sekolah, dari sekolah dasar, madrasah sampai perguruan tinggi untuk profesi. Masjid

menjadi unsur yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan Islam karena didalamnya ada ketiga

tingkatan tersebut. Perpustakaan juga sudah didirikan untuk membantu masyarakat untuk

belajar, selain itu juga sebagian besar dari penguasa sangat menyukai buku dan

mengkoleksinya. Munculnya seorang wali atau ulama yang memimpin suatu Khanqah atau

Pesantren juga membuat suatu lingkungan yang Islami dan tertib. Penulis pada masa ini juga

tidak sedikit yang telah membuat biografi para penguasa Dinasti.

Dinasti ini juga mempunyai pengetahuan bahasa yang tinggi karena pada masa Akbar

Khan ahasa yang dipakai adalah bahasa Arab, sebagai bahasa Agama, bahasa Turki sebagai

bahasa kaum bangsawan dan bahasa Persia sebagai bahasa istana dan kasusteraaan. Dan ia

menciptakan bahasa Urdu yaitu perpaduan bahasa itu tetapi diperkaya dengan bahasa daerah

sehingga menjadi bahasa Nasional.


Pada saat penjajah Inggris juga tidak menyurutkan aktivitas pendidikan seperti

Mendirikan lembaga The Translation Society, untuk menerjemahkan buku-buku sendi dan

sains, membentuk majalah Tahdzib al-Akhlaq (1870 M) untuk meningkatkan moral atau

akhlak, Mendirikan perguruan tinggi Mohammadan Anglo Oriental College yang kemudian

dirubah menjadi Universitas Aligarh (1920 M) dengan menggunakan kurikulum Barat.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik dkk. 2002. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jilid 2. Jakarta: Ichtiar Baru

Van Hoeve.

Ahmad, Jamil. 2000. Seratus Muslim Terkemuka. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Asari, Hasan. 1993. Menyingkap Zaman Keemasan Islam. Bandung: Mizan.

Abu bakar, Istianah. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Malang: UIN Malang Press.

Fuadi, Imam. 2012. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Yogyakarta: Teras.

Gazalba, Sidi. 1994. Masjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Al-Husna

Hamka. 1975. Sejarah Ummat Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Hasymy. 1975. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Karim, Abdul. 2007. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka Book

Publisher.

Maman, dkk. 2005. Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan

Kalijaga Yogyakarta.

Mahmudunnasir, Syeh. 2005. Islam Persepsi dan Sejarahnya. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mubarok, Jain. 2009. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Bani Quraisy.

Rofik. 2012. Perkuliahan Sejarah Kebudayaan Islam Dinasti Mughal. Yogyakarta: Fakultas

Tarbiyah dan Keguruan.

Munir Amin, Syamsul. Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah, 2009

Nata, Abuddin, Sejarah Pendidikan Islam,Jakarta: Kencana, 2011

Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1989
Yunus, Mahmud, Perbandingan Pendidikan Modern di Negara Islam dan Intisari Pendidikan

Barat, Jakarta: C.v. Al-Hidayah, 1968

Yunus, Abd. Rahim, Drs. Abu Hanif, M. Hum. Sejarah Islam Pertengahan, Yogyakarta;

Ombak, 2013

Referensi Internet: http://www.republika.co.id/