Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PRAKTIKUM

ELEKTRONIKA DASAR II

HALAMAN JUDUL

Judul Percobaan : Rangkaian RLC

Nama Lengkap : Dalma Delfira Hamul

Nomor Pokok Mahasiswa : 150401070068

Kelas / kelompok Praktikum : 2015 C / IV

Tanggal Percobaan : 15 Mei 2017

Tanggal Penyerahan : 22 Mei 2017

Dosen Pembimbing : Kurriawan Budi Pranata, S.Si., M.Si.

Asisten Praktikum : Rahmwaty Muktar

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG

2017
ABSTRAK
Telah dilakukan praktikum berjudul Rangkaian RLC. Tujuan dari praktikum
ini adalah mempelajari pengertian impendansi, hubungan antara impendansi,
resistansi dan reaktansi pada rangkaian seri RLC, mempelajari hubungan antara
tegangan dengan arus, serta melihat perbedaa fase tegangan dengan fase arus pada
rangkaian seri RLC.
Dalam prakrikum ini kita menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan,
lalu merangkai alat sesuai gambar yang terdapat pada modul praktikum lalu
mencatat hasil pengukuran yaitu Vc, VL, VR, dan VT pada table.
Dari percobaan kita mencari perhitungan dari I, XC, XL, , L, C, Z, da Vt. Untuk

mencari nilai I menggunak rumus i= , nilai XC= , XL= , karena nilai XL>

1
maka rumus = , nilai L= , C= , nilai Z= 2 + ( )2 dan

VT= 2 + ( )2.
Untuk tegangan 12V nilai i= 0,08, XC= 31,25, XL= 82,5, = 47,65, L= 0,26, C=
1,0710-10, Z= 69,53, dan VT= 5,59.
Untuk tegangan 18V nilai i= 0,12, XC= 31,67, XL= 81,67, = 46,66, L= 0,26,
C= 1,6810-10, Z= 68,62 dan VT=8,34.
Untuk tegangan 24V nilai i= 0,15, XC= 33,33, XL= 85,33, = 47,72, L= 0,27,
C= 9,5610-10, Z= 70,09 dan VT=10,82.

Kata kunci: Rangkain RLC, Impendansi, Reaktansi, Resisansi,Tegangan, Kuat


Arus.
ABSTRACT
Has done practical work entitled "RLC Circuit". The purpose of this lab course is
a study of the relationship between the notions of impendansi, impendansi,
resistance and reactance in series a series RLC, studying the relationship between
voltage, current, and voltage phase with perbedaa see the phase current in RLC
series circuit.
In this prakrikum we prepare the tools and materials needed, then stringing tools
fit the images contained on the practical module and then record the results of
measurement i.e. Vc, VL, VR, and VT on a table. From the experiment we look
for calculation of I, , XL, XC, L, C, Z, da Vt. To search for the value I used the

formula i = , value XC= , XL = , because the value of the XL > XC then
1
formula = , the value of L = , C = , the value of Z

= 2 + ( )2 and VT = 2 + ( )2.
For 12V voltage value i = 0.08, XC = XL = 31.25 82.5, = 47.65 0.26, L =, C =
1.07 10-10, 69.53, and Z = VT = 5.59. For voltage 18V value i = 0.12, XC = XL
= 31.67 81.67, = 46.66, L = 0.26, C = 1.68 10-10, Z = 68.62 and VT = 8.34.
For 24V voltage value i = 0.15, XC = 33.33, XL = 85.33, = 47.72, L =, C = 0.27
9,56 10-10, Z = 70.09 and VT = 10,82.

Key words: RLC Circuit, impendansi, reactance, resistance, voltage, current


capacity.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i

ABSTRAK ............................................................................................................ iii

ABSTRACT .......................................................................................................... iv

DAFTAR ISI .......................................................................................................... v

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... vii

DAFTAR TABEL .............................................................................................. viii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang ......................................................................................... 1

1.2. Rumusan Percobaan ................................................................................. 2

1.3. Tujuan Percobaan ..................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 3

2.1. Dasar Teori ............................................................................................... 3

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN ........................................................... 8

3.1. Variabel Percobaan ................................................................................... 8

3.2. Bahan Percobaan ...................................................................................... 8

3.3. Alat Percobaan ....................................................................................... 10

3.4. Prosedur Percobaan ................................................................................ 10

3.5. Diagram Alir Percobaan ......................................................................... 11

3.5.1. Diagram Alir Prosedur .................................................................... 11

3.5.2. Diagram Alir Perhitungan ............................................................... 12

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN .................................. 13

4.1. Hasil Percobaan ...................................................................................... 13

4.2. Pembahasan ............................................................................................ 14

BAB V KESIMPULAN ...................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 17


DAFTAR NOTASI .............................................................................................. 19

APENDIKS .......................................................................................................... 20

LAMPIRAN ......................................................................................................... 22

1. Data Percobaan........................................................................................... 22

2. Jawaban Tes Pertanyaan ............................................................................ 23


DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.2.1. Rangakain RC .. 4
Gambar 2.2.2. Rangkaian RL .. 4
Gambar 2.2.3. Rangkaian RLC ..5

Gambar 3.2.1. Kapasitor .. ........ 8


Gambar 3.2.2. Induktor 8
Gambar 3.2.3. Kapasitor ..8

Gambar 3.2.4. Kabel Penghubung 9

Gambar 3.2.5. Papan Rangkaian .10

Gambar 3.3.1. AC Power Supply 10

Gambar 3.3.2. Multimeter 10

Gambar 3.3.3. Transformator ....................................................................... 10


DAFTAR TABEL
Table 4.4.1. Hasil Percobaan . 13
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Resonansi RLC merupakan suatu rangkaian yang memiliki komponen-komponen
seperti Resistor, Kapasitor, dan Induktor yang disusun secara seri maupun paralel
dan apabila terjadi keadaan resonansi maka nilai tegangan reaktansi kapasitif
sama dengan nilai tegangan reaktansi induktif dengan kata lain tegangan reaktansi
kapasitif dan tegangan reaktansi induktif lebih besar dari pada tegangan sumber
disebut faktor kualitas.

Penggunaan rangkaian yang memuat resistor, kapasitor dan induktor dapat


dijumpai di dalam beragam aplikasi elektronik, seperti tuning radio, amplifier,
sistem kontrol otomatis, dan berbagai aplikasi elektronik lainnya. Dalam
penggunaan aplikasi elektronik yang memuat kapasitor dan resistor tersebut ada
yang menggunakan arus DC dan arus AC. Pada arus DC, arusnya akan konstan
terhadap waktu. Sedangkan pada Arus AC, arusnya akan berubah terhadap waktu.
Namun, tidak akan tahu bagaimana keluaran dari arus AC jika tidak ada
percobaan. Keluaran tersebut divisualisasikan oleh osiloskop. Setiap rangkaian
yang memuat kapasitor dan induktor akan mengalami gejala transien yang juga
dapat divisualisaikan outputannya melalui osiloskop.
Didalam praktikum ini kita akan mempelajari pengertian impendansi, hubungan
antara impendasi, reaktansi, resistansi pada rangkaian seri RLC, mempelajari
hubungan antara tegangan dengan arus di rangkaian seri RLC, serta melihat
perbedaan fase tegangan dengan fase arus pada rangkaian seri RLC.

1
1.2.Rumusan Percobaan
Dari latar belakang diatas dapat dibuat Rumusan Masalah sebagai berikut :

Bagaimana pengertian impendansi, serta hubungan antara impendansi,


reaktansi dan resistansi pada rangkaian seri RLC?
Bagaimana hubungan antara tegangan dengan arus dirangkaian seri RLC?
Bagaimana perbedaan fase tegangan dengan fase arus pada rangkaian seri
RLC?

1.3.Tujuan Percobaan
Dari Rumusan Masalah diatas dapat dibuat tujuan sebagai berikut :
Mahasiswa mempelajari pengertian impendansi, serta mempelajari
hubungan antara impendansi, resistansi, dan reaktansi pada
rangkaian seri RLC.
Mempelajari hubungan antara tegangan dengan arus di rangkaian
seri RLC.
Melihat perbedaan fase tegangan dengan fase arus pada rangkaian
seri RLC.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Dasar Teori


Resistor adalah komponen pasif yang digunakan untuk membatasi atau
menghambat arus listrik yang mengalir dalam suatu rangkaian. Satuan resistor
adalah ohm() dan dalam menyatakan kemampuan resistor dalam membatasi
atau menghambat arus dinamakan dengan resistansi. Resistor bekerja dengan
dialiri arus listrik yang akan menyebabkan terjadinya disipasi daya berupa
panas. Semakin besar ukuran resistor menunjukkan semakin besar
kemampuan daya disipasinya
Induktor adalah komponen pasif elektronika yang dapat menyimpan energy
pada medan magnet yang ditimbulkan oleh arus listrik yang melintasinya.
Kemampuan induktor dalam menyimpan energy dalam bentuk magnet
ditentukan oleh induktansinya dalam satuan Henry. Induktor terbuat dari
sebuah kawaang dibentuk menjadi kumparan, lilitan yang dapat membantu
medan magnet yang kuat di dalam kumparan dikarenakan hukum induksi
Faraday. Fungsi utama induktor dalam suatu rangkaian adalah untuk melawan
fluktuasi arus yang melewatinya
Kapasitor adalah komponen pasif yang mempunyai kemampuan menyimpan
energi, menyimpan dan melepaskan muatan listrik. Kapasitor terbuat dari dua
buah plat metal yang dipisahkan oleh bahan dielektrikum yang non-konduktif.
Kapasitor terhadap tegangan DC merupakan hambatan yang besar, sedangkan
terhadap tegangan AC mempunyai hambatan yang berubah-ubah sesuai dengan
frekuensi, waktu dan akan menimbulkan pergeseran fase, dimana arus
90o mendahului tegangannya
Komponen aktif adalah komponen yang dapat memberikan energi atau beda
potensial kepada rangkaian. Sedangkan komponen pasif adalah komponen
yang bersifat menyerap energi maupun mendisipasikan energi. Sebagai
contoh komponen pasif adalah resistor, kapasitor, dan induktor. Secara umum
rangkaian terdiri dari tiga komponen dasar tersebut. Sebelumnya telah
dipahami bahwa resistor bersifat mendisipasikan energi menjadi berbagai

3
bentuk, seperti panas. Sedangkan kedua komponen pasif lainnya memiliki
sifat yang sedikit berbeda. Kapasitor adalah komponen elektronika yang
didesain untuk menyimpan energi pada medan listrik diantara kedua
platnya..Namun pada rangkaian Alternating-Current (AC) ada sedikit
perbedaan dalam sifat karakteristiknya. Untuk resistor selain mendisipasikan
energy, resistor berguna untuk menurunkan amplitude dari sinyal keluaran
dari rangkaian. Sedangkan inductor dan kapasitor juga memiliki sifat sejenis
dengan resistor namun berguna untuk menolak adanya perubahan nilai dari
arus AC. Seringkali dinamakan impedansi dan reaktansi.
Rangkaian RC yang disusun secara seri yang dihubungkan dengan sumber
tegangan AC terjadi pembagian tegangan. Arus yang mengalir sama besar
pada resistor dan kapasitor. Arus mendahului 90o terhadap tegangan kapasitor.
Tidak terjadi perubahan fasa pada tegangan resistor dengan arus[4]

Gambar 2.2.1. Rangkaian Seri RC


Rangkaian RL secara seri yang dihubungkan dengan sumber tegangan AC terjadi
pembagian tegangan, tetapi arus yang mengalir sama pada resistor dan induktor.
Arus tertinggal 90o terhadap tegangan induktor[4].

Gambar 2.2.2. Rangkaian Seri RL

Rangkaian Seri RLC Pada Arus Bolak-Balik

4
Rangkaian seri RLC yaitu rangkaian yang terdiri atas hambatan, induktor dan
kapasitor yang dihubungkan seri, kemudian dihubungkan dengan sumber
tegangan AC. Telah diterangkan bahwa pada rangkaian hambatan arus tegangan
sefase, sedangkan pada induktor tegangan mendahului arus, dan pada kapasitor
arus mendahului tegangan.

Gambar 2.2.3. Rangkaian RLC


Besarnya tegangan jepit pada rangkaian seri RLC dapat dicari dengan
menggunakan diagram fasor sebagai berikut :
VR =Imax R sin t Vmax sin t
VL = Imax XL sin (t + 90o) = Vmax sin (t + 90o)
VC = Imax XC sin (t 90o) = Vmax sin (t 90o)
Jika sudut t kita pilih sebagai sumbu x, maka diagram fasor untuk I, VR, VL, dan
VCdapat digambarkan dengan gambar diatas. Dan besarnya tegangan jepit pada
rangkaian seri RLC dapat dicari dengan menjumlahkan fasor dari VR, VL, dan
VC menjadi :

V=

Dimana
V= Tegangan jepit susunan RLC (volt)
VR= Tegangan pada Hambatan (volt)
VL= Tegangan pada Induktor (volt)
VC= Tegangan pada Kapasitor (volt)

Dari gambar diagram fasor terlihat bahwa antara tegangan dan arus terdapat beda
sudut fase sebesar yang dapat dinyatakan dengan :

5
Besarnya arus yang melewati rangkaian RLC adalah sama, sehingga besarnya
tegangan pada masing masing komponen R, L, dan C dapat dinyatakan : VR = I R
, VL = I XL danVC = I XC

Berdasarkan hukum Ohm bahwa = R, akan tetapi dalam rangkaian arus AC

besaran = Z yang disebut dengan impedansi rangkaian RLC yang disusun seri
dinyatakan :

Z=
Dimana
Z= Impendansi ()
R= Hambatan ()
XL= Reaktansi Induktor ()
XC= Reaktansi Kapasitor ()

Pada rangkaian seri RLC dapat mempunyai beberapa kemungkinan yaitu :

a. Jika nilai XL > XC maka rangkaian akan bersifat seperti induktor, yaitu
tegangan mendahului arus dengan beda sudut fase yang besarnya

dinyatakan dengan

6
b. Jika nilai XL < XC maka rangkaian akan bersifat seperti kapasitor, yaitu
tegangan ketinggalan terhadap arus dengan beda sudut fase yang

besarnya dinyatakan dengan


c. Jika nilai XL = XC maka besarnya impedansi rangkaian sama dengan nilai
hambatannya (Z = R) maka pada rangkaian akan terjadi resonansi yang
disebut resonansi deret/seri yang besarnya frekuensi resonansi dapat dicari

yaitu :

Penggunaan rangkaian seri RLC pada rangkaian bolak-balik dapat kita temuai
pada rangkaian pengatur nada.

7
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1. Variabel Percobaan


Variable Bebas : Frekuensi
Variable Kontrol : Kapasitor, Induktor, dan Resistor
Variable Terikat : Kuat Arus Dan Tegangan AC

3.2. Bahan Percobaan


Nama Bahan Gambar
Kapasitor

Gambar 3.2.1. Kapasitor

Induktor

Gambar 3.2.2. Induktor

Resistor

Gambar 3.2.3. Resistor

8
Kabel Penghubung

Gambar 3.2.4. Kabel Penghubung

Papan Rangkaian

Gambar 3.2.5. Papan Rangkaian

9
3.3. Alat Percobaan
Nama Alat Gambar
AC power supply

Gambar 3.3.1. AC Power Supply

Multimeter

Gambar 3.3.2. Multimeter

Transformator

Gambar 3.3.3. Transformator

3.4. Prosedur Percobaan


1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Menyusun rangkaian seperti skema dibawah ini :
3. Menghidupkan sumber tegangan AC 12 V
4. Menutup saklar atau posisi ON, membaca Vr (tegangan pada hambatan R )
pada voltmeter, dan mencatat hasil pada tabel pengamatan
5. Membuka saklar atau posisi OF, kemudian memindahkan volmeter ke
komponen induktor atau membaca VL (tegangan pada induktor L),
kemudian memindahkan volmeter ke komponen induktor atau membaca
Vc (tegangan pada Kapasitor ) dan mencatat hasil pada tabel pengamatan

10
6. Membuka saklar atau posisi OF, kemudian memindahkan voltmeter ke
ujung komponen R dan L untuk mencari tegangan total atau VT.
7. Menutup saklar atau posisi On, membaca VT ( tegangan rangkaian ), dan
mencatat hasil pada tabel pengamatan.
8. Mengulangi langkah 2,3,4,5,6 dan 7 dengan rangkaian yang sama dengan
hanya mengganti sumber tegangan AC sebesar 18 V da 24 V.

1. Diagram Alir Percobaan


3.5.1. Diagram Alir Prosedur

Mulai

Menyiapkan alat dan bahan

Menyusun rangkaian seperti skema dibawah ini

Menghidupkan sumber tegangan AC 12 V

Menutup saklar atau posisi ON, membaca Vr (tegangan


pada hambatan R ) pada voltmeter, dan mencatat hasil pada
tabel pengamatan

Membuka saklar atau posisi OF, kemudian memindahkan volmeter


ke komponen induktor atau membaca VL (tegangan pada induktor
L), kemudian memindahkan volmeter ke komponen induktor atau
membaca Vc (tegangan pada Kapasitor ) dan mencatat hasil pada
tabel pengamatan

Membuka saklar atau posisi OF, kemudian memindahkan


voltmeter ke ujung komponen R dan L untuk mencari
tegangan total atau VT.
11
Menutup saklar atau posisi On, membaca VT ( tegangan
rangkaian ), dan mencatat hasil pada tabel pengamatan.

Mengulangi langkah 2,3,4,5,6 dan 7 dengan rangkaian yang


sama dengan hanya mengganti sumber tegangan AC
sebesar 18 V da 24 V.

Selesai

3.5.2. Diagram Alir Perhitungan

Mulai

Mengetahui nilai Vac, VC, VL, VR dan VT

Mencari nilai I, XC, XL, , L, C, Z, dan VT

Memasukan nilai I, XC, XL, , L, C, Z, dan VT dengan rumus :



Untuk mencari nilai i=

Untuk mencari nilai XC=

Untuk mencari nilai = , karena XL > XC


Untuk mencar nilai L=
1
Untuk mencari nilai C=

Untuk mencari niali Z= 2 + ( )2

2 + ( )2
Untuk mencari nilaiVT= 12
BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Percobaan

13
4.2. Pembahasan

Rangkaian seri RLC yaitu rangkaian yang terdiri atas hambatan, induktor dan
kapasitor yang dihubungkan seri, kemudian dihubungkan dengan sumber
tegangan AC. Telah diterangkan bahwa pada rangkaian hambatan arus
tegangan sefase, sedangkan pada induktor tegangan mendahului arus, dan
pada kapasitor arus mendahului tegangan.
Dari percobaan kita mencari perhitungan dari I, XC, XL, , L, C, Z, da Vt. Untuk

mencari nilai I menggunak rumus i= , nilai XC= , XL= , karena nilai XL>

1
maka rumus = , nilai L= , C= , nilai Z= 2 + ( )2 dan

VT= 2 + ( )2.
Untuk tegangan 12V nilai i= 0,08, XC= 31,25, XL= 82,5, = 47,65, L= 0,26, C=
1,0710-10, Z= 69,53, dan VT= 5,59.
Untuk tegangan 18V nilai i= 0,12, XC= 31,67, XL= 81,67, = 46,66, L= 0,26,
C= 1,6810-10, Z= 68,62 dan VT=8,34.
Untuk tegangan 24V nilai i= 0,15, XC= 33,33, XL= 85,33, = 47,72, L= 0,27,
C= 9,5610-10, Z= 70,09 dan VT=10,82.

14
BAB V
KESIMPULAN
Dari hasil percobaan Rangkaian RLC dapat disimpulkan bahwa :
Resistor adalah komponen pasif yang digunakan untuk membatasi atau
menghambat arus listrik yang mengalir dalam suatu rangkaian. Satuan
resistor adalah ohm() dan dalam menyatakan kemampuan resistor dalam
membatasi atau menghambat arus dinamakan dengan resistansi.
Induktor adalah komponen pasif elektronika yang dapat menyimpan
energy pada medan magnet yang ditimbulkan oleh arus listrik yang
melintasinya. Kemampuan induktor dalam menyimpan energy dalam
bentuk magnet ditentukan oleh induktansinya dalam satuan Henry.
Kapasitor adalah komponen pasif yang mempunyai kemampuan
menyimpan energi, menyimpan dan melepaskan muatan listrik.
Kapasitor terbuat dari dua buah plat metal yang dipisahkan oleh bahan
dielektrikum yang non-konduktif.
Rangkaian RC yang disusun secara seri yang dihubungkan dengan sumber
tegangan AC terjadi pembagian tegangan. Arus yang mengalir sama besar
pada resistor dan kapasitor. Arus mendahului 90o terhadap tegangan
kapasitor.
Rangkaian RL secara seri yang dihubungkan dengan sumber tegangan AC
terjadi pembagian tegangan, tetapi arus yang mengalir sama pada resistor
dan induktor.
Rangkaian seri RLC yaitu rangkaian yang terdiri atas hambatan, induktor
dan kapasitor yang dihubungkan seri, kemudian dihubungkan dengan
sumber tegangan AC. Telah diterangkan bahwa pada rangkaian hambatan
arus tegangan sefase, sedangkan pada induktor tegangan mendahului arus,
dan pada kapasitor arus mendahului tegangan.
Dari percobaan kita mencari perhitungan dari I, XC, XL, , L, C, Z, da Vt.

Untuk mencari nilai I menggunak rumus i= , nilai XC= , XL= ,

1
karena nilai XL> maka rumus = , nilai L= , C= , nilai

Z= 2 + ( )2 dan VT= 2 + ( )2.
Untuk tegangan 12V nilai i= 0,08, XC= 31,25, XL= 82,5, = 47,65, L=
0,26, C= 1,0710-10, Z= 69,53, dan VT= 5,59.
Untuk tegangan 18V nilai i= 0,12, XC= 31,67, XL= 81,67, = 46,66, L=
0,26, C= 1,6810-10, Z= 68,62 dan VT=8,34.
Untuk tegangan 24V nilai i= 0,15, XC= 33,33, XL= 85,33, = 47,72, L=
0,27, C= 9,5610-10, Z= 70,09 dan VT=10,82.

15
16
DAFTAR PUSTAKA
Blocher, R. (2004). Dasar Elektronika.
Heru, R. (2009). Teori Dasar Rangkaian Listrik. Yogjakarta: Laksbang
Mediatama.
Sudirham. (2002). Analisis Rangkaian Listrik. Bandung.

17
18
DAFTAR NOTASI
No Simbol Keterangan simbol Satuan

1 VAC Sumber Tegangan AC Volt

2 VL Tegangan Induktor Volt

3 VR Tegangan Resistor Volt

4 VT Tegangan Trial Volt

5 R Hambatan (ohm)

6 I Kuat Arus Amper

7 XL Reaktansi Induktor (ohm)

8 Sudut Fase Derajat

9 C Nilai Kapasitnsi Kapasitor Farad (F)

10 L Induktansi Henry

11 Z Impendansi (ohm)

19
APENDIKS
Untuk tegangan 12V

I=
Xc= Xl=
Tan =

3,8 2,5 6,6 82,531,25
I= 47
= 0,08 Xc= 0,08 = 31,25 XL= 0,08 = 82,5 Tan = 47
XL> = Tan -1 1,09
= 47,65

1
C= L= Z= 2 + ( )2 VT= 2 + ( )2

82,5 Z= 472 + (82,5 31,25)2 VT= 3,82 + (6,6 2.5)2
L=
1 23,1450
C= 23,145031,25 L= 0,26 Z= 4835,5625 VT= 31,25
1 Z= 69,53 VT= 5,59
C= 9812,5
C= 1,07
1010

Untuk Tegangan 18V


I=
Xc=
Xl=
Tan =
81,6731,67
5,8 3,8 9,8 Tan =
I= = 0,12 Xc= 0,12 = 31,67 XL= 0,12 = 81,67 47
47
= Tan -1 1,06
= 46,66
XL>

1
C= L= Z= 2 + ( )2 VT= 2 + ( )2

81,67
L= 23,1450 Z= VT= 5,82 + (9,8 3,8)2
1 2 2
47 + (81,67 31,67) VT= 69,64
C= 23,145031,67
1 L= 0,26 Z= 4709
C= 9944,38 VT= 8,34
C= 1,68 1010 Z= 68,62

20
Untuk Tegangan 24V


I=
Xc=
Xl=
Tan =
85,3333,33
7,5 5,0 12,8 Tan =
I= = 0,15 Xc= 0,15 = 33,33 XL= 0,15 = 85,33 47
47
= Tan -1 1,1
= 47,72

1
C= L= Z= 2 + ( )2 VT= 2 + ( )2

85,33 Z= VT=
L= 23,1450
1 472 + (85,33 33,33)2 7,52 + (12,8 5,0)2
C= 23,145033,33
1 L= 0,27 Z= 4913 VT= 117,09
C= 10465,62
C= 9,56 1011 Z= 70,09 VT= 10,82

21
LAMPIRAN

1. Data Percobaan

22
2. Jawaban Tes Pertanyaan
1. Tuliskan persamaan tegangan dan arus pada masing masing variasi
tegangan AC 12 V, 18 V, dan 24 V!
Catatan : XL >XC

a. 12 V
V = Vm sin ( + )
V = 7,77 sin ( 314 + 47,65)
I = Im sin ( )
I = 0,08 sin ( 314 47,65)

b. 18 V
V = Vm sin ( + )
V = 11,73 sin ( 314 + 46,66)
I = Im sin ( )
I = 0,12 sin ( 314 83,56 )

c. 24 V
V = Vm sin ( + )
V = 18,27 sin ( 314 + 47,72)
I = Im sin ( )
I = 0,15 sin ( 314 47,72 )

2. Gambarkan persamaan tegangan dan arus jika terdapat perbedaan fase


antara tegangan dan arus pada setiap variasi tegangan AC 12 V, 18 V,
dan 24 V!
a. 12 V

12 V
10
8
6
4
2
0 V
-2 0 10 223
0 30 40 50 60 I
-4
-6
-8
b. 18 V

18 V
15

10

0 V
0 10 20 30 40 50 60
I
-5

-10

-15
WAKTU ( SEKON )

c. 24 V

24 V
25
20
15
10
5
0 V
0 10 20 30 40 50 60
-5 I
24
-10
-15
-20
25