Anda di halaman 1dari 36

Lab/Smf Ilmu Kesehatan Anak Tutorial Klinik

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

INFEKSI SALURAN KEMIH

Disusun oleh
Desy Ekamadayani A 1610029017
Revyta Salsabila R 1610029023

Pembimbing

dr. Sherly Yuniarchan, Sp. A

Dibawakan dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik pada

Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak

Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman

Samarinda

2016
Tutorial Klinik

INFEKSI SALURAN KEMIH

Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian stase Anak

Menyetujui,

dr. Sherly Yuniarchan, Sp. A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
NOVEMBER 2016

2
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat,
hidayat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan yang
berjudul Infeksi Saluran Kemih

Penulis menyadari bahwa keberhasilan penulisan laporan ini tidak lepas


dari bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan
penghargaan dan ucapan terima kasih kepada :
1. dr. Sherly Yuniarchan, Sp. A sebagai dosen pembimbing klinik selama divisi
Nefrologi-Kardiologi Stase Anak.
2. Dosen-dosen klinik dan preklinik FK UNMUL khususnya staf pengajar
Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak, terima kasih atas ilmu yang telah diajarkan
kepada kami.
3. Rekan-rekan dokter muda di Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD
AWS/FK UNMUL dan semua pihak yang telah membantu, baik secara
langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
4. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu oleh penulis.
Akhir kata, Tiada gading yang tak retak. Oleh karena itu, penulis
membuka diri untuk berbagai saran dan kritik yang membangun. Akhir kata
penulis menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para
pembaca untuk perbaikan kepenulisan di masa mendatang. Terakhir, semoga
Tutorial Kasus yang sederhana ini dapat membawa berkah dan memberikan
manfaat bagi seluruh pihak serta turut berperan demi kemajuan ilmu pengetahuan.

Samarinda, 29 Mei 2017

Penulis

3
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...................................................................................................................... 4

BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................................................. 5

BAB 2 KASUS ................................................................................................................... 6

BAB 3 TINJAUAN PUSTAKA...................................................................................... 17

BAB 4 PEMBAHASAN .................................................................................................. 45

BAB 5 PENUTUP ........................................................................................................... 32

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 33

4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Infeksi Saluran Kemih (ISK) termasuk salah satu penyakit infeksi yang
sering terjadi pada anak, selain infeksi saluran napas atas dan diare. ISK sering
terjadi terutama pada bayi muda perempuan. Manifestasi ISK bervariasi dan
tergantung pada usia anak, mulai dengan asimtomatik hingga bergejala berat,
sehingga ISK sering tidak terdeteksi dengan baik oleh para tenaga medis atau
orang tua. Berhubung kultur bakeri biasanya tidak tersedia, maka dISK
didiagnosis berdasarkan tanda klinis dan mikroskopis urin. Bila diagnosis ISK
sudah dapat ditegakkan, maka perlu ditentukan lokasi dan beratnya invasi ke
jaringan, karena hal tersebut sangat berpengaruh pada pemberian tatalaksana dan
perkiraan morbiditas penyakit. Diagnosis dan tataaksana yang dilakukan
bertujuan untuk mencegah teradinya komplikasi ISK seperti hipertensi dan gagal
ginjal kronik.

1.2. Tujuan Penulisan


1. Menambah ilmu pengetahuan mengenai penyakit yang dilaporkan.
2. Mengkaji ketepatan penegakan diagnosis dan penatalaksanaan terhadap
infeksi saluran kemih.

5
BAB II
STATUS PASIEN

Allonamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan pada hari Selasa, 8


November 2016 pukul 09.45 WITA. Alloanamnesis diberikan oleh ibu pasien.

1. Anamnesis
Identitas Pasien
Nama : an. NH
Usia : 11 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : PL Miang Sangkulirang Kutai Timur
Anak Ke : 2 dari 3 bersaudara

Identitas Orangtua
Nama Ayah : Tn. H
Usia : 50 tahun
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan Terakhir : SD
Ayah perkawinan ke : 3
Nama Ibu : Ny. N
Usia : 31 tahun
Pekerjaan : IRT
Pendidikan Terakhir : SMA
Ibu perkawinan ke : 1

Tanggal MRS : 8 November 2016


Tanggal pemeriksaan : 8 November 2016

6
Keluhan Utama
Pasien mengalami kejang 1 kali selama 3 jam 30 menit, kejang seluruh
badan.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengalami trauma yang disebabkan oleh terjatuh dari perahu dan
menghantam kipas mesin perahu tersebut. Kemudian pasien segera dibawa ke
IGD dan masuk RS. Pasien mengalami cedera pada kepala serta bahu kanan dan
kiri. Pasien mengalami luka bakar pada daerah pelipis kiri, pipi kiri, leher kiri,
bahu kiri, bahu kanan, dan lengan kanan atas. Pasien juga mengalami luka lecet
pada daerah punggung tangan kanan, lengan kiri bawah, Saat pasien mengalami
trauma menghantam kipas mesin, pasien pingsan selama 2 jam. Saat pasien sadar,
pasien belum bisa mengenali orang-orang di sekitarnya, hanya bisa mengerang.
Kemudian 2 hari setelahnya pasien sudah bisa mengenali orang-orang di
sekitarnya dan bisa diajak berbicara. Kemudian 3 hari setelahnya, pasien
mengalami kejang selama 3 jam 30 menit pada seluruh tubuhnya. Kejang hanya
terjadi 1 kali. Setelah kejang selesai, pasien sadar tetapi merasa lemas dan tidak
mau diajak berbicara. Pasien mau diajak berbicara lagi 30 menit setelah kejang
selesai. Tidak ada riwayat penyakit infeksi pada mata, hidung, maupun telinga.
Saat hari ke-2 pasca trauma, pasien mengeluh bahwa ia merasa sakit perut,
kemudian dilakukan pemasangan kateter urin. Saat selang kateter urin sudah
terpasang, urin yang keluar berwarna agak keruh. Selanjutnya 1 hari kemudian
terlihat darah pada kantung urin. Pasien mengeluh kesakitan pada bagian
genitalnya, kemudian selang kateter urinnya diganti. Kemudian 1 hari setelah
kateter urinnya diganti, tidak terdapat lagi darah pada urin pasien. Tidak ada
riwayat diare selama pasien dirawat di rumah sakit.

Riwayat Penyakit Dahulu


1. Riwayat mengalami trauma terkena kipas mesin
2. Riwayat mengonsumsi obat ceftriaxone, ketorolak, ranitidine, phenytoin.

7
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga lainnya yang memiliki keluhan serupa. Dari
pihak ayah ada yang memiliki riwayat hipertensi.

Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak :


Berat badan lahir : 3000 gram
Panjang badan lahir : lupa
Berat badan sekarang : 25 kg
Tinggi badan sekarang : 132 cm
Gigi keluar : lupa
Tersenyum : 2 bulan
Miring : 2 bulan
Tengkurap : 2,5 bulan
Duduk : 3 bulan
Merangkak : lupa
Berdiri : 8 bulan
Berjalan : 1 tahun
Berbicara 2 suku kata : lupa

Makan dan minum anak


ASI : dari lahir sampai usia 1 tahun 2 bulan,
dihentikan karena anak tidak mau
menyusu lagi
Susu sapi/ buatan : -
Jenis susu : -
Takaran : -
Bubur susu : 5 bulan
Tim saring : -
Buah : 10 bulan
Lauk dan makan padat : -

Pemeliharaan Prenatal
Periksa di : bidan
8
Penyakit Kehamilan : -
Obat-obatan yang sering diminum :-

Riwayat Kelahiran :
Lahir di : rumah
Persalinan ditolong oleh : bidan
Berapa bulan dalam kandungan : 9 bulan 15 hari
Jenis partus : spontan

Pemeliharaan postnatal :
Periksa di : bidan
Keadaan anak : sehat
Keluarga berencana : ya, suntik 3 bulan

Riwayat Imunisasi Dasar


Imunisasi Usia saat imunisasi
I II III IV Booster I Booster II
BCG (+) //////////// //////////// //////////// //////////// ////////////
Polio (+) (+) (+) (+)
Campak (-) //////////// //////////// //////////// ////////////
DPT (+) (+) (+) ////////////
Hepatitis B (+) (+) (+)

1. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 8 November 2016

Keadaan umum : Sakit sedang


Kesadaran : Composmentis, GCS E4V5M6

Tanda-tanda vital
Frekuensi Nadi : 98x/menit, regular, kuat angkat
Frekuensi Nafas : 26x/menit, regular
Suhu : 37,5oC, aksiler
9
Tekanan darah : 100/60 mmHg

Status gizi :
Berat badan : 25 kg
Tinggi Badan : 132 cm

10
Berdasarkan kurva CDC , status gizi pasien tersebut adalah. :
(BB sekarang) / (BB ideal) = 25 / 27
= 92% gizi baik

Regio Kepala/Leher
1. Bentuk kepala normal.
2. Ubun-ubun besar cekung (-),ubun-ubun besar cembung (-)
3. Edema palpebra (-/-), konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), sianosis
(-), pembesaran kelenjar getah bening (-)
4. Pernapasasan cuping hidung (-)
5. Faring hiperemis (-)
6. Mulut berselaput putih (-)
7. Combutio grade III pada regio facei lateral sinistra, combutio grade II B
pada regio bahu sinistra.

Regio Thorax
Paru-paru
1. Inspeksi : Bentuk dada normal, pergerakan dinding dada simetris,
retraksi intercosta (-).
2. Palpasi : Pergerakan dada simetris, raba fremitus simetris.
3. Perkusi : Sonor pada seluruh lapang paru
4. Auskultasi : Suara napas simetris, rhonki (-/-), wheezing (-/-).
Jantung
1. Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
2. Auskultasi : S1 S2 tunggal, regular, murmur (-), gallop (-)

Regio Abdomen
1. Inspeksi : permukaan abdomen cembung normal
2. Auskultasi : bising usus (+) normal
3. Perkusi : timpani pada keempat kuadran abdomen

11
4. Palpasi : soefl (+), nyeri tekan (+) pada keempat kuadran
abdomen

Regio Ekstremitas
1. Inspeksi : Edema (-), deformitas (-). Petekie (-), combutio grade
IIB pada regio brachii dextra seluas 1%.
2. Palpasi : Akral hangat, edema (-), nyeri tekan (-),

Pemeriksaan Neurologis
o GCS E4V5M6
o Nervus kranialis : pupil : simetris kanan kiri, ukuran bentuk posisi
normal, refleks cahaya positif kanan kiri, pupil anisokor (-), pin
prick test (+), pergerakan lidah (+)
o kekuatan motorik:
ekstremitas bawah kanan : 5
ekstremitas bawah kiri : 5
o refleks fisiologis :
APR : 2/2
KPR : 2/2
Triseps : -/2
Biseps : -/2
Klonus : -/-
o refleks patologis:
Hoffman : 2
Tromner : 2
Babinski : 2
Chaddock : 2

1. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium Darah
Tabel 2.1 Hasil Pemeriksaan Penunjang

12
Tanggal 8 November 2016
Hb 10,4gr/L
Hct 30,8 %
Leukosit 13.720
Trombosit 640.000
Albumin 3,3 gr/dL
Natrium 139 mmol/L
Kalium 4,5 mmol/L
Klorida 9,6 mmol/L

Urinalisa
Tabel 2.2 Hasil Pemeriksaan Penunjang
Tanggal 8 November 2016
Berat Jenis 1000
Protein +++
Hemoglobin/Darah ++
Warna Kuning
Kejernihan Keruh
pH 9.0
Sel epitel +
Leukosit 5-10
Eritrosit 5-10

Kultur Urin
Tabel 2.3 Hasil Pemeriksaan Penunjang
Tanggal 12 November 2016
Pewarnaan Gram Coccus Gram Positif
Nama Bakteri Staphylococcus haemolyticus
Jumlah Kuman 200.000/ml

13
Amoxicillin R Doripenem R Cefditoren R
Ampicillin R Ertapenem R Cefixime R
Flucioxacillin R Faropenem R Clarithromycin R
Piperacillin R Imipenem R Erythromycin R
Oxacillin R Meropenem R Clindamycin S
Cefaclor R Gentamicin R Quinupristin S
Cefadroxil R Ciprofloxacin R Linezolid S
Cefalexin R Moxifloxacin R Vancomycin S
Cefalotin R Ofloxacin R Doxycycline S
Cefazolin R Azithromycin R Minocycline S
Cefetamet R Cefonicid R Tetracycline S
Cefpodoxime R Cefprozil R Tigecycline S
Ceftibuten R Cefradine R Nitrofurantoin S
Cefmenoxim R Cephapirin R Rifampicin S
Cefoperazone R Loracarbef R Trimethoprim/Sulfamethoxazole S
Cefotaxime R Cefamandole R Levofloxacin R
Ceftazidime R Cefuroxime R Carbenicillin R
Ceftizoxime R Cefmetazole R Ticarcillin R
Ceftriaxone R Cefotetan R Azlocillin R
Cefepime R Cefoxitin R Mezlocillin R
Cefpirome R Cefdinir R Oxacillin R

2. Diagnosis
Diagnosis Kerja
Observasi konvulsi + hiponatremi + Infeksi Saluran Kemih + Combutio
14% + Cedera Kepala Ringan + Fraktur Clavicula sinistra + Close
Fracture Pelvis + Multiple V.Laserasi

3. PENATALAKSANAAN IGD

1. IVFD NaCl 0,9% 16 tpm

14
2. Injeksi Ceftriaxone 2x500 mg
3. Injeksi Antrain 3x250 mg
4. Oksigen 2lpm nasal
5. Tutup luka di IGD
6. Head Up 30o
7. Diet Lunak TKTP
8. Pro debridement

4. PROGNOSIS

Prognosis pada pasien ini adalah dubia

5. FOLLOW UP

HARI/TANGGAL PEMERIKSAAN PLANNING


9 November 2016 S: Demam (-), kejang (-), Tx. :
kesadaran penuh - IVFD NaCl 0,9% 10 tpm
O : KU lemah, Composmentis, - Inj. Ceftriaxone 2x650 mg
GCS E4V5M6, hemodinamik - Inj. Antrain 3x250 mg
stabil, urine bag = kemerahan, - Pro debridement
luka membesar - Diet oral lunak
A: combutio grade IIb+III 14% - Kosongkan urine bag
ec. Heat Injury+multiple V.
laceratum + CKR+ old fracture
depressed parietal dextra +
fracture occipital sinistra+ bone
loss clavicula sinistra
10 November 2016 S: nyeri pada luka P:
O : Composmentis, hemodinamik - Pro debridement
stabil, - Tunggu panggilan dari OK
A: combutio grade IIb+III 14% - Puasa (+)
ec. Heat Injury+multiple V.
laceratum + CKR+ old fracture

15
depressed parietal dextra +
fracture occipital sinistra+ bone
loss clavicula sinistra
11 November 2016 S: nyeri pada luka P.
O : GCS E4V5M6, hemodinamik injeksi ceftriaxone 2x650 mg
stabil, parese N.VII (-), urine bag Inj santagesic 2x250 mg
= kemerahan Diet bebas TKTP
A: combutio grade IIb+III 14% Mobilisasi
ec. Heat Injury+multiple V. Rencana debridement ulang 1
laceratum + CKR+ old fracture minggu
depressed parietal dextra + Control urologi untuk keluhan BAB
fracture occipital sinistra+ bone merah
loss clavicula sinistra+ post IVFD NaCl 0,9% 10 tpm
debridement H+1post Konfirmasi hasil albumin, UL,
debridement H+1 kultur darah, dan urin
12 November 2016 S: kejang (-), gatal(+) P. Tx. Idem
O : composmentis, GCS
E4V5M6, hemodinamik stabil,
A: combutio grade IIb+III 14%
ec. Heat Injury+multiple V.
laceratum + CKR+ old fracture
depressed parietal dextra +
fracture occipital sinistra+ bone
loss clavicula sinistra+ post
debridement H+2
13 November 2016 S: kejang (-), gatal(+) P. Tx. Idem
O : composmentis, GCS
E4V5M6, hemodinamik stabil,
A: combutio grade IIb+III 14%
ec. Heat Injury+multiple V.
laceratum + CKR+ old fracture
depressed parietal dextra +

16
fracture occipital sinistra+ bone
loss clavicula sinistra
Lapor hasil UL (+++) ISK
14 November 2016 S: suhu naik turun, tidak BAB 3 P.
hari Tx lanjut
O : KU sedang, injeksi vancomycin 3x500 mg (skin
A: CKR+ old fraktur depresi + test)
combusio+ bone loss left Laxadin/Dulcolax 3x1 cth
clavicula Antasid 3x II cth
15 November 2016 S: pusing (+) kadang-kadang, P: Tx idem
demam (+) - Bladder training
O : composmentis, GCS15,
rembesan di punggung (+), urine
jernih (+)
A: combutio grade IIb+III 14%
ec. Heat Injury+multiple V.
laceratum + CKR+ old fracture
depressed parietal dextra +
fracture occipital sinistra+ bone
loss clavicula sinistra

17
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah bertumbuh dan berkembang biaknya
kuman atau mikroba dalam saluran kemih dalam jumlah bermakna, lokasi
terjadinya meliputi paremkim ginjal sampai infeksi di kandung kemih (IDAI,
2009).

3.2 Epidemiologi
ISK merupakan penyakit yang relatif sering pada anak. Kejadian ISK
tergantung pada umur dan jenis kelamin (IDAI, Konsensus Infeksi Saluran Kemih
Pada Anak, 2011).
Prevalensi ISK pada neonatus berkisar antara 0,1 % hingga 1% dan
meningkat menjadi 14% pada neonatus dengan demam, dan 5,3% pada bayi. Pada
bayi asimtomatik, bakteriuria didapatkan pada 0,3 hingga 0,4%. Risiko ISK pada
anak sebelum pubertas 3-5% pada anak perempuan dan 1-2% pada anak laki. Pada
anak dengan demam berumur kurang dari 2 tahun, prevalensi ISK 3-5% (IDAI,
Konsensus Infeksi Saluran Kemih Pada Anak, 2011).

3.3 Etiologi
Escherecia coli (E.coli) merupakan kuman penyebab tersering (60-80%) pada
ISK serangan pertama. Penelitian di dalam negeri antara lain di RSCM Jakarta
juga menunjukkan hasil yang sama. Kuman lain penyebab ISK yang sering adalah
Proteus mirabilis, Klebsiella pneumonia, Klebsiella oksitoka, Proteus vulgaris,
Pseudomonas aeroginosa, Enterobakter aerogenes, dan Morganella morganii,
Stafilokokus, dan Enterokokus (Kanellopoulos, Salako, Spiliopoulou, & al, 2006)

Pada ISK kompleks, sering ditemukan kuman yang virulensinya rendah


seperti Pseudomonas, golongan Streptokokus grup B, Stafilokokus aureus atau
epiderdimis. Hemofilus influenza dan parainfluenza dilaporkan sebagai penyebab

18
ISK pada anak. Kuman ini tidak dapat tumbuh pada media biakan standar
sehingga sering tidak diperhitungkan sebagai penyebab ISK (Bensman, Dunand,
& Ulinski, 2009). Bila penyebabnya Proteus menghasilkan enzim urease yang
memecah ureum menjadi ammonium, sehingga pH urin meningkat menjadi 8-8,5.
Pada urin yang alkalis, beberapa elektrolit seperti kalsium, magnesium, dan fosfat
akan mudah mengendap (Lambert & Coultrad, 2003).

3.4 Manifestasi klinis


Gejala ISK pada anak sangat bervariasi, ditentukan oleh intensitas reaksi
peradangan, letak infeksi (ISK atas atau bawah), dan umur pasien. Sebagian ISK
pada anak merupakan ISK asimtomatik, umumnya ditemukan pada anak umur
sekolah, terutama anak perempuan dan biasanya ditemukan pada uji tapis. ISK
asimtomatik umumnya tidak berlanjut menjadi pielonefritis dan prognosis jangka
panjang baik (Jodal, 1994)
Pada masa neonatus, gejala klinik tidak spesifik dapat berupa apatis,
anoreksia, ikterus atau kolestatis, muntah, diare, demam, hipotermia, tidak mau
minum, oliguria, iritabel, atau distensi abdomen. Peningkatan suhu tidak begitu
tinggi dan sering tidak terdeteksi. Kadang-kadang gejala klinik hanya berupa
apatis dan warna kulit keabu-abuan (grayish color) (Jodal, 1994)
Pada bayi sampai 1 tahun, gejala klinik dapat berupa demam, penurunan berat
badan, gagal tumbuh, nafsu makan berkurang, cengeng, kolik, muntah, diare,
ikterus, dan distensi abdomen. Pada palpasi ginjal anak merasa kesakitan. Demam
yang tinggi dapat disertai kejang (IDAI, Konsensus Infeksi Saluran Kemih Pada
Anak, 2011).
Pada umur lebih tinggi yaitu sampai 4 tahun, dapat terjadi demam yang tinggi
hingga menyebabkan kejang, muntah, diare, bahkan dapat timbul dehidrasi. Pada
anak besar gejala klinik umum biasanya berkurang dan lebih ringan, mulai tampak
gejala klinik lokal saluran kemih berupa polakisuria, disuria, urgency, frequency,
ngompol, sedangkan keluhan sakit perut, sakit pinggang, atau pireksia lebih
jarang ditemukan (management of urinary tract infection in children, 2002)

19
Pada pielonefritis dapat dijumpai demam tinggi disertai menggigil, gejala
saluran cerna seperti mual, muntah, dan diare. Tekanan darah pada umumnya
masih normal, dapat ditemukan nyeri pinggang. Gejala neurologis dapat berupa
iritabel dan kejang. Nefritis bakterial fokal akut adalah salah satu bentuk
pielonefritis, yang merupakan nefritis bakterial interstitial yang dulu dikenal
sebagai nefropenia lobar (Kanellopoulos, Salako, Spiliopoulou, & al, 2006)
Pada sistitis, demam jarang melebihi 38oC, biasanya ditandai dengan nyeri
pada perut bagian bawah, serta gangguan berkemih berupa frekuensi, nyeri waktu
berkemih, rasa tidak nyaman suprapubik, urgensi, kesulitan berkemih, retensio
urin, dan enuresis (Kanellopoulos, Salako, Spiliopoulou, & al, 2006)

3.5 Diagnosis
Diagnosis ISK ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan laboratorium yang dipastikan dengan biakan urin. ISK serangan
pertama umumnya menunjukkan gejala klinik yang lebih jelas dibandingkan
dengan infeksi berikutnya. Gangguan kemampuan mengontrol kandung kemih,
pola berkemih, dan aliran urin dapat sebagai petunjuk untuk menentukan
diagnosis. Demam merupakan gejala dan tanda klinik yang sering dan kadang-
kadang merupakan satu-satunya gejala ISK pada anak (IDAI, 2011).
Pemeriksaan tanda vital termasuk tekanan darah, pengukuran
antropometrik, pemeriksaan massa dalam abdomen, kandung kemih, muara uretra,
pemeriksaan neurologik ekstremitas bawah, tulang belakang untuk melihat ada
tidaknya spina bifida, perlu dilakukan pada pasien ISK. Genitalia eksterna
diperiksa untuk melihat kelainan fimosis, hipospadia, epispadia pada laki-laki atau
sinekie vagina pada perempuan (IDAI, 2011).
Pemeriksaan urinalisis dan biakan urin adalah prosedur yang terpenting.
Oleh sebab itu kualitas pemeriksaan urin memegang peran utama untuk
menegakkan diagnosis.American Academy of Pediatrics (AAP) membuat
rekomendasi bahwa pada bayi umur di bawah 2 bulan, setiap demam harus
dipikirkan kemungkinan ISK dan perlu dilakukan biakan urin. Pada anak umur 2
bulan sampai 2 tahun dengan demam yang tidak diketahui penyebabnya,
kemungkinan ISK harus dipikirkan dan perlu dilakukan biakan urin, dan anak

20
ditata laksana sebagai pielonefritis. Untuk anak perempuan umur 2 bulan sampai 2
tahun, AAP membuat patokan sederhana berdasarkan 5 gejala klinik yaitu:1. suhu
tubuh 39oC atau lebih, 2. demam berlangsung dua hari atau lebih, 3. ras kulit
putih, 4.umur di bawah satu tahun, 5. tidak ditemukan kemungkinan penyebab
demam lainnya. Bila ditemukan 2 atau lebih faktor risiko tersebut maka
sensitivitas untuk kemungkinan ISK mencapai 95% dengan spesifisitas 3% (IDAI,
2011).

3.6 Pemeriksaan penunjang


3.6.1 Urinalisis
Pemeriksaan urinalisis meliputi leukosituria, nitrit, leukosit esterase, protein,
dan darah. Leukosituria merupakan petunjuk kemungkinan adanya bakteriuria,
tetapi tidak dipakai sebagai patokan ada tidaknya ISK. Leukosituria biasanya
ditemukan pada anak dengan ISK (80-90%) pada setiap episode ISK simtomatik,
tetapi tidak adanya leukosituria tidak menyingkirkan ISK. Bakteriuria dapat juga
terjadi tanpa leukosituria (Jones & Asscher, 1992). Leukosituria dengan biakan
urin steril perlu dipertimbangkan pada infeksi oleh kuman Proteus sp., Klamidia
sp., dan Ureaplasma urealitikum (Kher & Leichter, 1992)
Pemeriksaan dengan stik urin dapat mendeteksi adanya leukosit esterase,
enzim yang terdapat di dalam lekosit neutrofil, yang menggambarkan banyaknya
leukosit dalam urin (Lambert & Coultrad, 2003)
Uji nitrit merupakan pemeriksaan tidak langsung terhadap bakteri dalam
urin. Dalam keadaan normal, nitrit tidak terdapat dalam urin, tetapi dapat
ditemukan jika nitrat diubah menjadi nitrit oleh bakteri. Sebagian besar kuman
Gram negatif dan beberapa kuman Gram positif dapat mengubah nitrat menjadi
nitrit, sehingga jika uji nitrit positif berarti terdapat kuman dalam urin. Urin
dengan berat jenis yang tinggi menurunkan sensitivitas uji nitrit (Yilmaz,
Sevketoglu, Gedikbasi, Karyagar, & Kiyak, 2009)
Hematuria kadang-kadang dapat menyertai infeksi saluran kemih, tetapi
tidak dipakai sebagai indikator diagnostik. Protein dan darah mempunyai
sensitivitas dan spesifitas yang rendah dalam diagnosis ISK (IDAI, 2011).

21
Neutrophil gelatinase associated lipocalin urin (uNGAL) dan rasio
uNGAL dengan kreatinin urin (uNGAL/Cr) merupakan petanda adanya ISK.
NGAL adalah suatu iron-carrier-protein yang terdapat di dalam granul neutrofil
dan merupakan komponen imunitas innate yang memberikan respon terhadap
infeksi bakteri. Peningkatan uNGAL dan rasio uNGAL/Cr > 30 ng/mg merupakan
tanda ISK. Bakteri sulit dilihat dengan mikroskop cahaya, tetapi dapat dilihat
dengan mikrokop fase kontras. Pada urin segar tanpa dipusing (uncentrifuged
urine), terdapatnya kuman pada setiap lapangan pandangan besar (LPB) kira-kira
setara dengan hasil biakan 107 cfu/mL urin, sedangkan pada urin yang dipusing,
terdapatnya kuman pada setiap LPB pemeriksaan mikroskopis menandakan
jumlah kuman lebih dari 105 cfu/mL urin. Jika dengan mikroskop fase kontras
tidak terlihat kuman, umumnya urin steril. Anti coated bacteri (ACB) dalam urin
yang diperiksa dengan menggunakan fluorescein-labeled anti-immunoglobulin
merupakan tanda pielonefritis pada remaja dan dewasa muda, namun tidak
mampu laksana pada anak (IDAI, 2011).

3.6.2 Pemeriksaan darah


Berbagai pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan untuk membantu
menegakkan diagnosis dan membedakan ISK atas dan bawah, namun sebagian
besar pemeriksaan tersebut tidak spesifik. Leukositosis, peningkatan nilai absolut
neutrofil, peningkatan laju endap darah (LED), C-reactive protein (CRP) yang
positif, merupakan indikator non-spesifk ISK atas. Kadar prokalsitonin yang
tinggi dapat digunakan sebagai prediktor yang valid untuk pielonefritis akut pada
anak dengan ISK febris (febrile urinary tract infection) dan skar ginjal. Sitokin
merupakan protein kecil yang penting dalam proses inflamasi. Prokalsitonin, dan
sitokin proinflamatori (TNF-; IL-6; IL-1) meningkat pada fase akut infeksi,
termasuk pada pielonefritis akut (Gurgoze, Akarsu, & Yilmaz, 2005)

6.2.3 Biakan Urine


Idealnya, teknik pengumpulan urin harus bebas dari kontaminasi, cepat,
mudah dilakukan untuk semua umur, murah, dan menggunakan peralatan
sederhana. Sayangnya tidak ada teknik yang memenuhi persyaratan ini.

22
Pengambilan sampel urin untuk biakan urin dapat dilakukan dengan cara aspirasi
suprapubik, kateter urin, pancar tengah (midstream), dan menggunakan urine
collector. Cara terbaik untuk menghindari kemungkinan kontaminasi ialah dengan
aspirasi suprapubik, dan merupakan baku emas pengambilan sampel urin untuk
biakan urin. Kateterisasi urin merupakan metode yang dapat dipercaya terutama
pada anak perempuan, tetapi cara ini traumatis. Teknik pengambilan urin pancar
tengah merupakan metode non-invasif yang bernilai tinggi, dan urin bebas
terhadap kontaminasi dari uretra. Pada bayi dan anak kecil, urin dapat diambil
dengan memakai kantong penampung urin (urine bag atau urine collector).
Pengambilan sampel urin dengan metode urine collector, merupakan metode yang
mudah dilakukan, namun risiko kontaminasi yang tinggi dengan positif palsu
hingga 80%. Child Health Network (CHN) guideline (2002) hanya
merekomendasikan 3 teknik pengambilan sampel urin, yaitu pancar tengah,
kateterisasi urin, dan aspirasi supra pubik, sedangkan pengambilan dengan urine
bag tidak digunakan. Pengiriman bahan biakan ke laboratorium mikrobiologi
perlu mendapat perhatian karena bila sampel biakan urin dibiarkan pada suhu
kamar lebih dari jam, maka kuman dapat membiak dengan cepat sehingga
memberikan hasil biakan positif palsu. Jika urin tidak langsung dikultur dan
memerlukan waktu lama, sampel urin harus dikirim dalam termos es atau
disimpan di dalam lemari es. Urin dapat disimpan dalam lemari es pada suhu 4oC,
selama 48-72 jam sebelum dibiak (Alatas, 1993)
Interpretasi hasil biakan urin bergantung pada teknik pengambilan sampel
urin, waktu, dan keadaan klinik. Untuk teknik pengambilan sampel urin dengan
cara aspirasi supra pubik, semua literatur sepakat bahwa bakteriuria bermakna
adalah jika ditemukan kuman dengan jumlah berapa pun. Namun untuk teknik
pengambilan sampel dengan cara kateterisasi urin dan urin pancar tengah, terdapat
kriteria yang berbeda-beda. Berdasarkan kriteria Kass, dengan kateter urin dan
urin pancar tengah dipakai jumlah kuman 105 cfu per mL urin sebagai
bakteriuria bermakna. Dengan kateter urin, Garin dkk., (2007) menggunakan
jumlah > 105 cfu/mL urin sebagai kriteria bermakna, dan pendapat lain
menyebutkan bermakna jika jumlah kuman > 50x103 cfu/mL dan ada yang
menggunakan kriteria bermakna dengan jumlah kuman > 104 cfu/mL. Paschke

23
dkk. (2010) menggunakan batasan ISK dengan jumlah kuman > 50x 103 cfu/mL
untuk teknik pengambilan urin dengan midstream/clean catch, sedangkan pada
neonatus, Lin dkk. (1999) menggunakan jumlah > 105 cfu/mL, dan Baerton dkk.,
menggunakan batasan kuman > 104 cfu/mL jika sampel urin diambil dengan urine
bag. Interpretasi hasil biakan urin bukanlah suatu patokan mutlak dan kaku karena
banyak faktor yang dapat menyebabkan hitung kuman tidak bermakna meskipun
secara klinis jelas ditemukan ISK (Lambert & Coultrad, 2003)

3.7 Penatalaksanaan
Tata laksana ISK didasarkan pada beberapa faktor seperti umur pasien, lokasi
infeksi, gejala klinis, dan ada tidaknya kelainan yang menyertai ISK. Sistitis dan
pielonefritis memerlukan pengobatan yang berbeda. Keterlambatan pemberian
antibiotik merupakan faktor risiko penting terhadap terjadinya jaringan parut pada
pielonefritis. Sebelum pemberian antibiotik, terlebih dahulu diambil sampel
urin untuk pemeriksaan biakan urin dan resistensi antimikroba. Penanganan
ISK pada anak yang dilakukan lebih awal dan tepat dapat mencegah terjadinya
kerusakan ginjal lebih lanjut (Smellie, 1994)

Sampai saat ini masih belum ada keseragaman dalam penanganan ISK pada
anak, dan masih terdapat beberapa hal yang masih kontroversi. Beberapa
protokol penanganan ISK telah dibuat berdasarkan hasil penelitian multisenter
berupa uji klinis dan meta-analisis, meskipun terdapat beberapa perbedaan tetapi
protokol penanganan ini saling melengkapi (Smellie, 1994)

Tujuan eradikasi infeksi akut adalah mengatasi keadaan akut, mencegah


terjadinya urosepsis dan kerusakan parenkhim ginjal. Jika seorang anak dicurigai
ISK, berikan antibiotik dengan kemungkinan yang paling sesuai sambil menunggu
hasil biakan urin, dan terapi selanjutnya disesuaikan dengan hasil biakan urin
(Jones & Asscher, 1992)

Pemilihan antibiotik harus didasarkan pada pola resistensi kuman setempat


atau lokal, dan bila tidak ada dapat digunakan profil kepekaan kuman yang
terdapat dalam literatur. Umumnya hasil pengobatan sudah tampak dalam 48-72
jam pengobatan. Bila dalam waktu tersebut respon klinik belum terlihat mungkin
24
antibiotik yang diberikan tidak sesuai atau mungkin yang dihadapi adalah ISK
kompleks, sehingga antibiotik dapat diganti. Selain pemberian antibiotik,
dianjurkan untuk meningkatkan asupan cairan (Jones & Asscher, 1992)

Penelitian tentang lama pemberian antibiotik pada sistitis menunjukkan tidak


ada perbedaan dalam outcome anak dengan pemberian antibiotik jangka pendek
dibandingkan dengan jangka panjang. Oleh karena itu, pada sistitis diberikan
antibiotik jangka pendek (Bensman, Dunand, & Ulinski, 2009)

Biasanya, untuk pengobatan ISK simpleks diberikan antibiotik per oral


selama 7 hari, tetapi ada penelitian yang melaporkan pemberian antibiotik per oral
dengan waktu yang lebih singkat (3-5 hari), dan efektifitasnya sama dengan
pemberian selama 7 hari (Keren & Chan, 2002)

NICE merekomendasikan penanganan ISK fase akut, sebagai berikut (


National Institute for Health and Clinical Excellence, 2007)

1. Bayi < 3 bulan dengan kemungkinan ISK harus segera dirujuk ke dokter
spesialis anak, pengobatan harus dengan antibiotik parenteral.

2. Bayi 3 bulan dengan pielonefritis akut/ISK atas:

Pertimbangkan untuk dirujuk ke spesialis anak .

Terapi dengan antibiotik oral 7-10 hari, dengan antibiotik yang


resistensinya masih rendah berdasarkan pola resistensi kuman, seperti
sefalosporin atau ko-amoksiklav.

Jika antibiotik per oral tidak dapat digunakan, terapi dengan antibiotik
parenteral, seperti sefotaksim atau seftriakson selama 2-4 hari
dilanjutkan dengan antibiotik per oral hingga total lama pemberian 10 hari.

3. Bayi 3 bulan dengan sistitis/ ISK bawah:

Berikan antibiotik oral selama 3 hari berdasarkan pola resistensi


kuman setempat. Bila tidak ada hasil pola resistensi kuman, dapat
diberikan trimetroprim, sefalosporin, atau amoksisilin.

25
Bila dalam 24-48 jam belum ada perbaikan klinis harus dinilai kembali,
dilakukan pemeriksaan kultur urin untuk melihat pertumbuhan bakteri
dan kepekaan terhadap obat.

Di negara berkembang didapatkan resistensi kuman uropatogen yang


tinggi terhadap ampisilin, kotrimoksazol, dan kloramfenikol, sedangkan
sensitivitas sebagian besar kuman patogen dalam urin mendekati 96% terhadap
gentamisin dan seftriakson (Bensman, Dunand, & Ulinski, 2009)

Berbagai antibiotik dapat digunakan untuk pengobatan ISK, baik antibiotik


yang diberikan secara oral maupun parenteral, seperti terlihat pada tabel 1 dan
tabel 2.

Tabel 1. Pilihan antimikroba oral pada infeksi saluran kemih

Tabel 2. Pilihan antimikroba parenteral pada infeksi saluran kemih.

26
Pengobatan sistitis akut

Anak dengan sistitis diobati dengan antibiotik per oral dan umumnya
tidak memerlukan perawatan di rumah sakit,namun bila gejala klinik cukup
berat misalnya rasa sakit yang hebat, toksik, muntah dan dehidrasi, anak
harus dirawat di rumah sakit dan diberi pengobatan parenteral hingga gejala klinik
membaik. Lama pengobatan umumnya 5 7 hari, meskipun ada yang
memberikan 3-5 hari, 6 atau 7 hari (Garin, Olvarria, Araya, Broussain, & Barreca,
2009)

Untuk sistitis akut, direkomendasikan pemberian antibiotik oral seperti


trimetoprim-sulfametoksazol, nitrofurantoin, amoksisilin, amoksisilinklavulanat,
sefaleksin, dan sefiksim. Golongan sefalosporin sebaiknya tidak diberikan
untuk menghindari resistensi kuman dan dicadangkan untuk terapi pielonefritis.
ISK simpleks umumnya memberikan respon yang baik dengan amoksisilin,
sulfonamid, trimetoprim-sulfametoksazol, atau sefalosporin (Jacobson & Hanson,
1999)

Pengobatan pielonefritis
Para ahli sepakat bahwa antibiotik untuk pielonefritis akut harus mempunyai
penetrasi yang baik ke jaringan karena pielonefritis akut merupakan nefritis
interstitialis. Belum ada penelitian tentang lamanya pemberian antibiotik pada
pielonefritis akut, tetapi umumnya antibiotik diberikan selama 7-10 hari,meskipun
ada yang menuliskan 7-14 hari atau 10-14 hari (Lambert & Coultrad, 2003)

Pemberian antibiotik parenteral selama 7 - 14 hari sangat efektif dalam


mengatasi infeksi pada pielonefritis akut, tetapi lamanya pemberian parenteral
menimbulkan berbagai permasalahan seperti masalah kesulitan teknik
pemberian obat, pasien memerlukan perawatan, biaya pengobatan yang relatif
mahal, dan ketidaknyamanan bagi pasien dan orangtua, sehingga dipikirkan
untuk mempersingkat pemberian parenteral dan diganti dengan pemberian
oral. Biasanya perbaikan klinis sudah terlihat dalam 24-48 jam pemberian
antibiotik parenteral. sehingga setelah perbaikan klinis, antibiotik dilanjutkan

27
dengan pemberian antibiotik per oral sampai selama 7-14 hari pengobatan (Jones
& Asscher, 1992)

Secara teoritis pemberian antibiotik yang lebih singkat pada anak


mempunyai keuntungan antara lain efek samping obat lebih sedikit dan
kemungkinan terjadinya resistensi kuman terhadap obat lebih sedikit. Pada
kebanyakan kasus, antibiotik parenteral dapat dilanjutkan dengan oral setelah 5
hari pengobatan bila respons klinik terlihat dengan nyata atau setidak-tidaknya
demam telah turun dalam 48 jam pertama. Tidak ada bukti yang meyakinkan
bahwa pengobatan 14 hari lebih efektif atau dapat mengurangi risiko
kekambuhan. Dianjurkan pemberian profilaksis antibiotik setelah pengobatan fase
akut sambil menunggu hasil pemeriksaan pencitraan. Bila ternyata kasus yang
dihadapi termasuk ke dalam ISK kompleks (adanya refluks atau obstruksi) maka
pengobatan profilaksis dapat dilanjutkan lebih lama (Kher & Leichter, 1992)

Berbagai penelitian untuk membandingkan pemberian antibiotik parenteral


dengan antibiotik per oral telah dilakukan. Hoberman dkk. melakukan
penelitian multisenter, uji klinik tersamar (randomized clinical trial) pada 306
anak dengan ISK dan demam, yang diterapi dengan sefiksim oral dan
dibandingkan dengan sefotaksim selama 3 hari yang dilanjutkan dengan
sefiksim per oral sampai 14 hari, dan hasil pengobatan tidak berbeda bermakna.
Disimpulkan bahwa sefiksim per oral dapat direkomendasikan sebagai terapi
yang aman dan efektif pada anak yang menderita ISK dengan demam.
Montini dkk., melaporkan penelitian pada 502 anak dengan diagnosis pielonefritis
akut, yang diterapi dengan antibiotik ko-amoksiklav peroral (50 mg/kgbb/hari
dalam 3 dosis) selama 10 hari dibandingkan dengan seftriakson parenteral (50
mg/kgbb/hari dosis tunggal) selama 3 hari, dilanjutkan dengan pemberian ko-
amoksiklav peroral (50 mg/kgbb/hari dalam 3 dosis) selama 7 hari. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pada pielonefritis akut, efektivitas antibiotik
parenteral selama 10 hari sama dengan antibiotik parenteral yang dilanjutkan
dengan pemberian per oral (Montini, Toffolo, & Zuccheta, 2007)

Pengobatan ISK pada neonatus


28
Pada masa neonatus, gejala klinik ISK tidak spesifik dapat berupa
apati, anoreksia, ikterus, gagal tumbuh, muntah, diare, demam, hipotermia,
tidak mau minum, oliguria, iritabel, atau distensi abdomen. Kemampuan
neonatus mengatasi infeksi yang belum berkembang menyebabkan mudah terjadi
sepsis atau meningitis, terutama pada neonatus dengan kelainan saluran kemih.
Pengobatan terutama ditujukan untuk mengatasi infeksi bakteri Gram negatif.
Antibiotik harus segera diberikan secara intravena. Kombinasi aminoglikosidadan
ampisilin pada umumnya cukup memadai. Lama pemberian antibiotik pada
neonatus dengan ISK adalah 10-14 hari. Pemberian profilaksis antibiotik segera
diberikan setelah selesai pengobatan fase akut (Jones & Asscher, 1992)

Bakteriuria asimtomatik
Pada beberapa kasus ditemukan pertumbuhan kuman > 10cfu/mL dalam
urin tanpa gejala klinik, baik gejala klinik ISK bawah (disuria, urgency, dan
frekuensi) ataupun gejala klinik ISK atas seperti demam, menggigil, nyeri
sekitar ginjal. Bakteri pada bakteriuria asimtomatik biasanya bakteri dengan
virulensi rendah dan tidak punya kemampuan untuk menyebabkan kerusakan
ginjal meskipun kuman tersebut mencapai ginjal (Lambert & Coultrad, 2003)
Secara umum disepakati bahwa bakteriuria asimtomatik tidak
memerlukan terapi antibiotik, malah pemberian antibiotik dapat menambah
risiko komplikasi antara lain meningkatkan rekurensi pada 80% kasus. Kuman
komensal dan virulensi rendah pada saluran kemih dapat menghambat invasi
kuman patogen, dengan demikian kuman komensal tersebut dianggap berfungsi
sebagai profilaksis biologik terhadap kolonisasi kuman patogen (Jones & Asscher,
1992)

Pengobatan suportif

Selain terapi kausal terhadap infeksi, pengobatan suportif dan simtomatik


juga perlu diperhatikan, misalnya pengobatan terhadap demam dan muntah.
Terapi cairan harus adekuat untuk menjamin diuresis yang lancar. Anak yang
sudah besar dapat disuruh untuk mengosongkan kandung kemih setiap miksi.
29
Higiene perineum perlu ditekankan terutama pada anak perempuan. Untuk
mengatasi disuria dapat diberikan fenazopiridin HCl (Pyridium) dengan dosis 7
10 mg/kgbb/hari. Perawatan di rumah sakit diperlukan bagi pasien sakit berat
seperti demam tinggi, sakit perut, muntah, sakit perut maupun sakit pinggang
(Lambert & Coultrad, 2003)

3.8 Komplikasi
ISK dapat menyebabkan gagal ginjal akut, bakteremia, sepsis dan
meningitis. Komplikasi ISK jangka panjang adalah parut ginjal, hipertensi, gagal
ginjal, komplikasi pada masa kehamilan seperti preeclampsia. Parut ginjal terjadi
pada 8-40% pasien setelah mengalami episode pielonefritis akut. Faktor risiko
terjadinya parut ginjal antara lain umur muda, keterlambatan pemberian antibiotic
dalam tatalaksana ISK, infeksi berulang, RVU, dan obstruksi saluran kemih
(IDAI, Konsensus Infeksi Saluran Kemih Pada Anak, 2011)

30
BAB 4
PEMBAHASAN

TEORI KASUS

ANAMNESIS

1. Demam, muntah, mencret, 1. Kejang 1 x selama 3 jam 30


problem minum menit
2. Berat badan sukar naik atau 2. Susah kencing
anoreksia 3. Ada darah pada urin
3. Disuria, poliuria, nyeri 4. Ada luka bakar pada beberapa
perut/pinggang, polakisuria, regio tubuh
frekuensi miksi meningkat,
mengompol
4. Urin yang berbau menyengat
5. Nyeri ketok sudut kosto-vertebral,
nyeri supra simfisis
6. Kelainan pada genitalia eksterna
7. Kelainan pada tulang belakang
seperti spina bifida
PEMERIKSAAN FISIK
1. Demam 1. Combutio grade III pada regio
2. Nyeri ketok sudut kosto-vertebral, facei lateral sinistra
nyeri tekan suprasimfisis 2. Combutio grade IIb pada regio
3. Kelainan pada genitalia eksterna bahu sinistra dan brachii dextra
seperti sinekia vulva 3. Sakit perut
4. Kelainan pada tulang belakang
seperti spina bifida
PEMERIKSAAN PENUNJANG

31
Urinalisis :
1. Proteinuria
2. Leukosituria (leukosit >5/LPB)
3. Hematuria (eritrosit >5/LPB) Urinalisis
Kultur urin: 1. Proteinuria : +3
Bakteriuria 2. Leukosituria : 5-10
(betapapun jumlahnya jika melalui 3. Hematuria : 5-10
aspirasi suprapubik, > 105 cfu/ml jika Kultur urin:
melalui urin pancar tengah, >105 Staphylococcus haemolyticus
cfu/ml jika menggunakan kateter urin, Jumlah kuman: 200.000/ml (lebih
dan >104 jika menggunakan urin bag) dari 105 cfu/ml positif
Pemeriksaan darah: bakteriuria)
1. Leukositosis Pemeriksaan darah
2. Peningkatan nilai absolut Leukosit : 13.720
neutrofil
3. Peningkatan laju endap darah

PENATALAKSANAAN
IVFD NaCl 0,9% 16 tpm
Injeksi Ceftriaxone 2x500 mg
kemudian diganti dengan Inj.
- Pemberian antibiotik sesuai hasil Vancomycin sesuai dengan hasil
biakan urin kultur urin
- Selain terapi kausal terhadap Injeksi Antrain 3x250 mg
infeksi, pengobatan suportif dan Oksigen 2 lpm nasal
simtomatik juga perlu Tutup luka di IGD
diperhatikan, misalnya pengobatan Head Up 30o
terhadap demam dan muntah. Diet Lunak TKTP
Pro debridement

32
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang
didapatkan bahwa pasien menunjukkan manifestasi klinis yang sama dengan
literatur yang ada sehingga dapat didiagnosis dengan ISK.

33
BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Pasien an. NH, laki-laki, berusia 11 tahun, datang dengan keluhan utama
kejang 1 kali dengan durasi 3 jam 30 menit. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik, dan pemeriksaan penunjang ditegakkan diagnosis pada pasien ini adalah
Infeksi Saluran Kemih.
Tatalaksana yang diperoleh pasien ini adalah terapi dengan antibiotik dan
terapi suportif.
Secara umum, penegakan diagnosis, alur penatalaksanaan sudah sesuai
dengan literatur yang ada. Prognosis pada pasien ini berdasarkan perjalanan
penyakit dan penatalaksanaan yang telah didapatkan adalah dubia.

5.2 Saran
Mengingat masih banyaknya kekurangan dari makalah tutorial ini, baik
dari segi diskusi, penulisan dan sebagainya, untuk itu kami mengharapkan kritik
dan saran dari dosen-dosen yang mengajar, dari rekan-rekan sesama dokter muda
dan dari berbagai pihak demi kesempurnaan laporan ini.

34
DAFTAR PUSTAKA

National Institute for Health and Clinical Excellence. (2007). urinary tract
infection in children.

management of urinary tract infection in children. (2002). Child health network


guideline.

Alatas, H. (1993). Penatalaksanaan infeksi saluran kemih kompleks pada anak.


Naskah lengkap Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Kesehatan
Anak.

Bensman, A., Dunand, O., & Ulinski, T. (2009). Urinary tract infection. Pediatric
Nephrology.

Garin, E., Olvarria, F., Araya, C., Broussain, M., & Barreca, C. (2009).
Diagnostic significance of clinical and laboratory findings to localize site
of urinary infection. Pediatrics.

Gurgoze, M., Akarsu, S., & Yilmaz, E. (2005). Proinflammatory cytokines and
procalcitonin in children with acute pyelonefritis. Pediatr nephrol.

IDAI. (2011). Konsensus Infeksi Saluran Kemih Pada Anak. Jakarta: Ikatan
Dokter Anak Indonesia Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nefrologi.

IDAI. (2011). Pedoman Pelayanan Medis. Jakarta: IDAI.

Jacobson, B., & Hanson, S. (1999). Minimum incidence and diagnostic rate of
first urinary tract infection. Pediatrics.

Jodal, U. (1994). Urinary tract infection: Sifnificance, pathogenesis, clinical


feature, and diagnosis. Clinical pediatric nephrology.

Jones, K., & Asscher, A. (1992). Urinary tract infection and vesico-uretral reflux.
Pediatric Kidney Disease vol. 2 Edisi 2.
35
Kanellopoulos, T., Salako, C., Spiliopoulou, I. E., & al, e. (2006). First urinary
tract infection in neonate, infants, and young children: a comparative
study. Pediatr Nephrol.

Keren, R., & Chan, E. (2002). A meta-analysis of randomized, controlled trials


comparing short-and long-course antibiotic therapy for urinary tract
infections in children. Pediatrics.

Kher, K., & Leichter, H. (1992). urinary tract infection. clinical pediatric
nephrology.

Lambert, H., & Coultrad, M. (2003). The child with urinary tract infection.
Clinical Pediatric Nephrology.

Montini, G., Toffolo, A., & Zuccheta, P. (2007). Antibiotic treatment for
pyelonefritis in children, multicentre randomized controlled non-
inferiority trial. Br Med.

Smellie, J. (1994). Management and investigation of children with urinary tract


infection . Pediatric nephrology.

Yilmaz, A., Sevketoglu, E., Gedikbasi, A., Karyagar, S., & Kiyak, A. (2009).
Early prediction of urinary tract infection with urinary neutrophyl
gelatinase associated lipocalin. Pediatr nephrol.

36