Anda di halaman 1dari 28

TUJUAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA

DAN STRATEGI PENCAPAIANNYA

Oleh:
KELOMPOK 2
I WAYAN ANGGA WIRADARMA 1506205013
MAULANA HIDAYAT 1506205099
DEWA PUTU WISNU P P 1506205161

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2017

i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat rakhmat beliau paper Perekonomian Indonesia ini dapat terselesaikan.
Terimakasih juga kami sampaikan kepada rekan-rekan kelompok 2 yang
telah bekerja sama untuk menyelesaikan paper ini. Adapun dalam paper ini
membahas mengenai Tujuan Pembangunan Ekonomi Indonesia dan Strategi
Pencapaiannya yang akan membahas mengenai susunan dari Tujuan, Strategi,
dan Penerapan dari Strategi Pembangunan Ekonomi Indonesia. Kami juga
berharap agar paper ini dapat bermanfaat selain bagi kami sebagai penulis,
juga bagi para pembaca paper ini.

Tidak lupa kami juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam


paper ini masih banyak terdapat kekurangan baik dalam hal materi maupun
penulisan serta penyajiannya. Akhir kata kami ucapkan terimakasih.

Denpasar, 25 September 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii

DAFTAR ISI.........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 2

1.3 Tujuan Masalah ......................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 3

2.1 Tujuan Pembangunan Ekonomi Indonesia ............................................... 3

2.1.1 Pertumbuhan Ekonomi .................................................................... 3

2.1.2 Elemen Pertumbuhan Ekonomi ....................................................... 3

2.1.3 Pertumbuhan Ekonomi (Kurva Kemungkinan Produksi)................ 4

2.1.4 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia.................................................... 5

2.1.5 Tujuan Masyarakat Adil .................................................................. 6

2.1.6 Tujuan Inti Pembangunan.............................................................. 10

2.1.7 Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index)....... 12

2.2 Strategi Pembangunan Ekonomi Indonesia ............................................ 15

2.2.1 Strategi Pembangunan Ekonomi Indonesia ................................... 17

2.2.2 Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Strategi


Pembangunan Ekonomi ................................................................. 19

2.3 Penerapan Sistem Pelaksanaan Pembangunan Sebagai Strategi Untuk


Mencapai Tujuan yang Ditetapkan ......................................................... 20

BAB III PENUTUP ............................................................................................. 25

3.1 Simpulan ................................................................................................. 25

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses mutlak yang dilakukan oleh
suatu bangsa dalam meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan seluruh bangsa
tersebut. Dalam hal ini, pembangunan ekonomi di Indonesia hingga tahun 2017
bisa dikategorikan bagus walaupun masih terjadi beberapa kekurangan dalam hal
pembangunan ekonomi. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat
Statistik (BPS) inflasi Januari 2017 sebesar 0,97 persen lebih tinggi dibanding
kondisi Januari 2016 yang mengalami inflasi sebesar 0,51 persen. Pada
tahun 2016, perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,02 persen, karena dihitung
per triwulan, maka data untuk tahun 2017 belum keluar hingga bulan Februari ini.
Pembangunan ekonomi di negara berkembang memiliki kesamaan dengan negara-
negara maju yang dimana membutuhkan beberapa faktor yang menjadi modal
pembangunan, yaitu sumber daya manusia, sumber daya alam, pembentukan
modal, dan tingkat teknologi. Kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu
faktor yang paling menghambat pertumbuhan ekonomi di negara berkembang.
Bertambahnya jumlah penduduk juga akan mendorong bertambahnya jumlah
lapangan kerja yang tidak dapat disangkal lagi bahwa ini merupakan salah satu
masalah pokok yang dihadapi dalam pembangunan. Lapangan kerja sendiri
berfungsi sebagai wahana untuk menempatkan tenaga kerja dalam posisi sentral
pada pembagunan. Berdasarkan data BPS pada Agustus 2016, diketahui bahwa
jumlah pengangguran terbuka di Indonesia adalah sebanyak 7,03 juta orang.
Tujuan mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia salah satunya
adalah mengadakan pembangunan ekonomi di Indonesia dapat ditemukan pada
Pembukaan UUD 1945, yakni pada prinsipnya adalah mewujudkan masyarakat
adil dan makmur, material, dan spiritual. Rumusan lain dapat ditemukan misalnya,
pada sila-sila dalam Pancasila, atau pada terbitan-terbitan lain, seperti memerangi
kemiskinan, kebodohan, dan sebagainya. Pada paper ini akan dibahas mengenai
tujuan pembangunan ekonomi Indonesia secara umum, yakni menciptakan

1
masyarakat adil makmur, material dan spiritual, dan rumusan tujuan yang umum
yakni membangun masyarakat seutuhnya.
Dalam pencapaian tujuan pembangunan ekonomi Indonesia ini tentunya
dibutuhkan strategi yang mendukung pembangunan itu sendiri. Untuk di
Indonesia sendiri tidak bisa mengadopsi strategi yang ditempuh oleh negara maju,
dikarenakan dalam negara maju pencapaian pembangunan lebih mengutamakan
kemakmuran setelah itu baru memperjuangkan keadilan. Hal tersebut tidak sejalan
dengan ideologi Pancasila, jadi Indonesia dalam melakukan pembangunan
ekonominya melaksanakan pembangunan yang bersamaan untuk mencapai
masyarakat yang makmur dan adil. Pada akhirnya tujuan dari pembangunan
ekonomi Indonesia ini adalah menciptakan masyarakat Indonesia seutuhnya yang
mana akan dibahas lebih lanjut dalam bab pembahasan paper ini.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana tujuan pembangunan ekonomi Indonesia?
1.2.2 Bagaimana strategi pembangunan ekonomi Indonesia untuk mencapai
tujuan yang ditetapkan?
1.2.3 Bagaimana penerapan sistem pelaksanaan pembangunan sebagai strategi
untuk mencapai tujuan yang ditetapkan?

1.3 Tujuan Masalah


1.3.1 Untuk memahami tujuan pembangunan ekonomi Indonesia.
1.3.2 Untuk mengetahui strategi pembangunan ekonomi Indonesia untuk
mencapai tujuan yang ditetapkan.
1.3.3 Untuk mengetahui penerapan sistem pelaksanaan pembangunan sebagai
strategi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tujuan Pembangunan Ekonomi Indonesia


2.1.1 Pertumbuhan Ekonomi
Dalam kehidupan sehari-hari kita melihat tetangga adalah keluarga kaya
raya; mereka mempunyai dua mobil, tiga sepeda motor, dan rumah, peralatan
rumah serta gaya hidupnya mewah. Sedangkan di lain pihak kita juga mempunyai
tetangga yang miskin, hidup pas-pasan. Apalagi mobil, sepeda gayung pun
mereka tidak punya. Kita sering mendengar pernyataan bahwa keluarga yang
disebut pertama adalah keluarga makmur dan yang disebut kemudian adalah
keluarga yang kurang makmur. Kalau demikian halnya, mungkin dapat
dibenarkan kalau kita mengatakan bahwa ukuran untuk kemakmuran adalah
tingkat pendapatan keluarga tersebut, atau dengan kata lain, tingkat pendapatan
nasional perkapita.

Namun salah satu tujuan pembangunan ekonomi pada umunya adalah agar
pendapatan nasional (total maupun per kapita) tumbuh untuk memperoleh tingkat
kemakmuran (pendapatan nasional) yang lebih tinggi. Kalau demikian halnya,
ukuran mengenai kemakmuran dapat dikatakan sebagai tingkat pertumbuhan
ekonomi (tingkat pertumbuhan pendapatan nasional).

2.1.2 Elemen Pertumbuhan Ekonomi


Ada tiga faktor atau komponen utama dalam pertumbuhan ekonomi dari
setiap bangsa. Ketiga factor tersebut adalah :

1. Akumulasi modal, yang meliputi semua bentuk investasi baru yang


ditambahkan pada tanah, peralatan fisik, dan modal atau sumber daya
manusia.
2. Pertumbuhan penduduk, yang pada akhirnya akan memperbanyak jumlah
angkatan kerja.
3. Kemajuan teknologi

3
2.1.3 Pertumbuhan Ekonomi (Kurva Kemungkinan Produksi)
Dengan bekal pemahan awal perihal dua komponen pertama dan utama dari
pertumbuhan ekonomi itu, maka kita dapat mempelajari interaksi yang
berlangsung antara kedua komponen utama tersebut melalui kurva kemungkinan
produksi (productionpossibility curve) guna memahami peningkatan potensi total
output dari satu perekonomian. Pada tingkat penguasaan teknologi tertentu pula,
kurva kemungkinan produksi memperlihatkan jumlah output maksimum yang bisa
dicapai berupa kombinasi dua jenis komoditi, misalkan saja beras (padat karya)
dan radio (padat modal atau teknologi), seandainya segenap sumber daya yang
tersedia dalam perekonomian yang bersangkutan benar-benar digunakan secara
penuh dan efesien. Peraga satu berikut memperlihatkan kurva-kurva kemungkinan
produksi beras dan radio.
Jika kita andaikan teknologi produksi sama sekali tidak mengalami
perubahan, kuantitas sumber daya manusia dan fisik akan meningkat dua kali lipat
sebagai hasil dari investasi pada pengadaan sumber daya yang baru, seperti
menambah luas tanah, modal, dan juga jumlah tenaga kerja. Pada peraga 1 terlihat
bahwa peningkatan kualitas sumber daya sampai dua kali lipat akan menggeser
kurva kemungkinan produksi keluar secara sejajar, dari P-P ke P-P. Hal ini jelas
menunjukkan bahwa perekonomian atau negara yang bersangkutan sedang dapat
memproduksi lebih banyak radio dan beras.

4
Karena sejak semula telah diasumsikan bahwa perekonomian tersebut
hanya memproduksi dua jenis barang saja, maka jelas peningkatan produksi beras
dan radio langsung menambah total PNB (yakni jumlah seluruh nilai barang dan
jasa yang di produksi). Berkat kenaikan produksi itu, PNB negara tersebut
meningkat lebih tinggi dari pada sebelumnya. Dengan kata lain, negara atau
perekonomian tadi tengah mengalami proses pertumbuhan ekonomi.
Perhatikan bahwa walaupun negara tersebut beroperasi di bawah kapasitas
sumber daya yang ada pada titik X pada peraga di atas, kenaikan sumber daya
produktif tetap dapat meningkatkan output pada titik X, meskipun disitu terdapat
pengangguran dan penggunaan tanah dan modal di bawah kapasitas maksimal.
Penambahan sumber daya juga belum tentu akan meningkatkan output
(menciptakan pertumbuhan ekonomi). Hal ini bukan merupakan satu kepastian
yang baku sehingga menjadi satu hukum ekonomi, seperti telah dibuktikan oleh
negara-negara berkembang yang pertumbuhan ekonominya relative rendah. Selain
itu, pertumbuhan sumber daya ternyata tidak selalu merupakan syarat mutlak bagi
adanya pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek, mengingat pemanfaatan
sumber daya yang tersedia secara lebih baik ternyata juga dapat meningkatkan
output, seperti terlihat dari pergeseran titik X ke X pada peraga di atas. Meskipun
demikian, dalam jangka panjang peningkatan kualitas sumber daya yang ada serta
investasi baru yang memperbanyak kuantitas sumber daya (menciptakan sumber-
sumber daya yang baru) jelas merupakan syarat mutlak untuk mempercepat
pertumbuhan output nasional.

2.1.4 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia


Sejalan dengan pendapat kebanyakan ekonom bahwa kemajuan teknologi
merupakan sumber pertumbuhan yang paling penting, Presiden Sukarno pada
sekitar tahun 1960 menyarankan agar bangsa Indonesia loncat jauh (frog jump)
dalam pemilihan teknologi. Artinya adalah bahwa kita sebaiknya memakai
teknologi yang paling mutakhir, tidak perlu lagi memakai teknologi yang sudah
usang di Negara maju, maka jumlah produksi nasional akan meloncat jauh dan
mungkin akan mampu mendekati produksi nasional Negara-negara maju.
Sehubungan dengan anjuran ini, Indonesia tidak memperkenankan impor barang

5
modal bekas. Yang diimpor mestinya hanya mesin-mesin terbaru dan paling
canggih untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Kemudian sekitar 1970an telah
diperkenankan teknologi menumbuk beras, ani-ani diganti dengan sabit, bajak
dengan traktor dan banyak lagi kemajuan teknologi yang diterapkan di sector
pertanian. Demikain juga halnya di sector lain, penerapan teknologi baru di sector
industry dengan memakai mesin pemintalan otomatis sebagai pengganti ATBM,
pemakain computer dan sebagainya. Namun, barangkali dewasa ini, pintu impor
barang bekas sudah dibuka lagi, seperti misalnya impor pesawat terbang bekas
dan barang modal lainnya.

2.1.5 Tujuan Masyarakat Adil


a. Distribusi Pendapatan

Kalau satu keluarga di antara tetangga kita adalah seorang kepala rumah
tangga dengan lima anak dan semua anaknya (laki/perempuan) disekolahkan dan
kesemuanya diberikan warisan tanah yang kurang lebih sama, mungkin kuta
mengatakan bahwa kepala rumah tangga tersebut adit kepada semua anaknya.
Tetapi di lain pihak, satu keluarga juga mempunyai lima anak, hanya
menyekolahkan anak yang laki-laki sedang anak perempuannya tidak sekolah.
Pembagian warisannya juga diutamakan anak laki-lakinya. Tentu kita dapat
mengatakan bahwa keluarga ini kurang adil dibandingkan dengan keluarga yang
disebut pertama. Kalau demikian halnya, maka kita dapat mengatakan bahwa
keasdilan diukur melalui bagaimana kekayaan (pendapatan) didistribusikan di
antara yang berhak. Makin merata pembagiannya makin adil dan sebaliknya
makin timpang pembagiannya makin kurang adil.

b. Mengukur Masyarakat Adil

Para ekonom berusaha mengukur tingkat keadilan pembagian pendapatan


nasional satu negara dengan menghitung Rasio Gini dan Rasio Kuznets. Cara lain
untuk mengukur ketimpangan pembagian penghasilan masyarakat adalah dengan
memakai Kurva Lorenz, memakai kurva distribusi penghasilan fungsional dan
memakai koefisien variasi distribusi pendapatan perorangan (rumah tangga).

6
Rasio Gini merupakan perangkat yang paling sering digunakan untuk
mengukur derajat keadilan/ketimpangan pendapatan relative di satu negara. Rasio
ini dapat dihitung dengan memakai rums yang sangat rumit (kompleks) dan oleh
karenanya rumus tersebut tidak disajikan kali ini. Rasio ini juga dikenal dengan
nama konsentrasi Gini atau koefisien Gini yang angkanya berkisar antara nol
(pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan sempurna). Pada prakteknya
koefisien Gini untuk negara-negara yang derajat ketimpangannya tinggi berkisar
0,50 - 0,70, sedangkan untuk negara-negara dengan distribusi pendapatan relative
merata, angkanya berkisar antara 0,20 hingga 0,35. Rasio Gini antara 0,36 hingga
0,49 menunjukkan pembagian pendapatan dengan keadilan yang sedang.

Rasio Kuznets adalah perbandingan antara jumlah pendapatan dari 40


persen individu (rumah tangga) termiskin dengan jumlah pendapatan dari 20
persen individu (rumah tangga) terkaya. Rasio ini diberi nama sesuai dengan
nama penganjurnya, yakni nama pemenang hadiah Nobel Simon Kuznets.

c. Pencapaian Masyarakat Adil di Indonesia

Pemerintah Indonesia telah berusaha memperbaiki keadilan pembagian


pendapatan nasionalnya dengan menjalankan berbagai kebijaksanaan ekonomi.
Sesungguhnya setiap kebijaksanaan ekonomi pemerintah bersifat memperparah
ketimpangan (kalau kebijaksanaan tersebut bersifat lebih menguntungkan kaum
kaya dibandingkan dengan kaum miskin), atau bersifat mengurangi ketimpangan
(kalau kebijaksanaan tersebut bersifat lebih memihak kaum miskin). Di bawah ini
disajikan beberapa kebijakan pemerintah yang bersifat memperbaiki dan
memperburuk kesenjangan distribusi pendapatan nasional.

1. Undang-undang pokok Agraria tahun 1960.


2. Pajak penghasilan untuk perorangan dan untuk badan (dari laba).
3. Berbagai kebijaksanaan kredit perbankan yang bersifat memihak kepada
rakyat kecil (kaum yang lebih rendah tingkat pengahasilannya).
4. Berbagai program pengeluaran pemerintah yang lebih memihak kepada
mereka yang berpenghasilan rendah.

7
5. Berbagai kebijaksanaan jarring pengaman social yang dilaksanakan baru-
baru ini yang bersifat khusus untuk memerangi kemiskinan.

Kesemua kebijaksanaan ini dimaksudkan untuk mengurangi kesenjangan


pembagianpendapatan nasional, atau dengan kata lain untuk mencapai pembagian
pendapatan yang lebih adil di antara masyarakat Indonesia. Namun sayang
pemerintah yang tujuannya untuk orang miskin sebagian, dan malah sebagian
besar dinikmati oleh golongan yang lebih kaya yang tidak dimaksudkan oleh
program tersebut.

Di samping kebijaksanaan tersebut di atas yang dimaksudkan untuk


mengurangi ketimpangan pembagian pendapatan nasional, ternyata pemerintah
juga melaksanakan kebijaksanaan yang mengutamakan orang kaya, atau membuat
modal menjadi lebih murah dari semestinya dan membuat tenaga kerja relative
mahal, sehingga kaum pengusaha dan investor lebih memilih teknologi yang
padat modal, memerlukan lebih sedikit tenaga kerja yang muaranya memperburuk
distribusi pendapatan nasional. Di antara kebijaksanaan yang ternyata lebih
memihak kaum kaya dan/ atau menyebabkan harga modal relatif murah, antara
lain, adalah:

1. Undang-undang Penanaman Modal Asing, yang memberi fasilitas kepada


investor asing (investor besar) untuk menanamkan modalnya di dalam
negeri.
2. Undang-undang Penanaman Modal Dalam Negeri, yang menyediakan
fasilitas kredit kepada investor besar dalam negeri untuk lebih aktif dalam
pembangunan ekonomi.
3. Kredit dan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, yang memberikan fasilitas
kredit dengan Bungan yang relative rendah atau malah tanpa bunga kepada
bank nasional yang mengalami kesulitan likuiditas.
4. Tingkat bunga kredit yang relative lebih rendah untuk investasi jangka
panjang dibandingkan dengan tingkat bunga untuk kredit konsumtif.
5. Pembebasan bea masuk bagi investor yang memasukkan barang modal
dari luar negeri

8
6. Nilai rupiah yang dibuat terlalu mahal (over valued currency) oleh
pemerintah terhadap mata uang asing (terutama US$) sehingga pemerintah
berkali-kali melaksanakan kebijaksanaan devaluasi nilai rupiah.

Titik berat Pembangunan Nasional diletakkan pada bidang ekonomi, yang


merupakan penggerak utama pembangunan, seiring dengan kualitas sumber daya
manusia dan didorong secara saling memperkuat, saling terkait dan terpadu
dengan pembangunan bidang-bidang lainnya yang dilaksanakan seirama, selaras,
dan serasi dengan keberhasilan pembangunan bidang ekonomi dalam rangka
mencapai tujuan dan sasaran pembangunan nasional.
Arah Pembangunan bidang ekonomi di antaranya ada secara langsung atau
tidak langsung berkaitan dengan bidang ekonomi. Arah yang dimaksud secara
ringkas dapat dirumuskan sebagai berikut.
1. Meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia yang cinta
tanah air.
2. Menjadikan potensi sumber daya nasional sebagai kekuatan
ipoleksosbudhankam yang nyata, didukung oleh sumber daya manusia
berkualitas.
3. Mewujudkan perekonomian nasional yang mandiri dan andal.
4. Menjadikan pembangunan industri sebagai penggerak utama ekonomi
yang efisien dan berdaya saing tinggi.
5. Arah pembangunan di 3 (tiga) bidang:
A. Perdagangan: dapat menunjang peningkatan produksi,
mendukungpemerataan memperlancar distribusi, memperkuat daya
saing;
B. Perhubungan: makin memperlancar area lalu lintas orang, barang,
dan jasa; menunjang pertumbuhan ekonomi, stabilitas nasional,
pemerataan dan penyebaran, meningkatkan kepariwisataan;
C. Pariwisata: meningkatkan devisa dan pendapatan daerah dan
masyarakat, menciptakan lapangan kerja, mendorong kegiatan
ekonomi yang terkait dengan budaya bangsa.

9
6. Sumber daya alam didayagunakan secara terencana dan sertanggung
jawab: lingkungan hidup didayagunakan bagi pembangunan yang
berkelanjutan; tata ruang nasional berwawasan nusantara.
7. Kekayaan bumi seperti hutan dan tambang harus dikelola selain untuk
memberikan manfaat masa kini, namun juga menjamin kehidupan masa
depan.
8. Biaya pernbangunan/keuangan digali dari sumber kemampuan sendiri;
dana luar negeri sebagai pelengkap dengan prinsip kemandirian; tabungan
nasional ditingkatkan; kebijaksanaan fiskal dengan prinsip anggaran
berimbang dan dinamis; kestabilan nilai masa uang dijaga; pengembangan
lembaga keuangan dan perbankan yang efisien dan makin meluas
jangkauannya.
9. Pembangunan daerah yang bertujuan untuk memacu pemerataan
pembangunan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat,
menggalakkan peran serta rakyat, meningkatkan potensi daerah;
pembangunan daerah dan kawasan kurang berkembang (kawasan timur
Indonesia, daerah terpcncil, daerah perbatasan) perlu ditingkatkan.

2.1.6 Tujuan Inti Pembangunan


Kalau dilihat dari pengertian pembangunan sendiri secara luas adalah
membangun manusia (masyarakat) Indonesia seutuhnya ini berarti sebagai suatu
proses yang berkesinambungan atas suatu sistem sosial secara keseluruhan
menuju kehidupan yang lebih baik atau lebih manusiawi. Tapi pada dasarnya
kehidupan yang lebih baik dan manusiawi tersebut masih menjadi pertanyaan.
Menurut para ahli (Profesor Gaulet dan Tokoh yang lainnya) paling tidak ada tiga
komponen dasar atau yang menjadi inti yang harus dijadikan kerangka konseptual
yang dijadikan acuan dalam memahami kehidupan yang lebih baik atau lebih
manusiawi tersebut hal tersebut adalah kecukupan, harga diri, dan kebebasan yang
tentunya ketiga hal tersebut harus dapat dicapai melalui pembangunan ini.
Kecukupan dalam hal ini adalah semua hal yang mewakili segala
kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi yang tentunya apabila kebutuhan
ini tidak dipenuhi tentunya akan berdampak signifikan bagi kehidupan manusia.

10
Fungsi dasar dari kegiatan ekonomi adalah untuk menyediakan sebanyak mungkin
masyarakat yang siap dalam menghadapi berbagai gejolak perekonomian
diantaranya kerurangan pangan, sandang, papan, dan juga kebutuhan lainnya yang
menjadi kebutuhan pokok manusia. Atas dasar itulah kita dapat mengukur tingkat
keberhasilan pembangunan yang dilakukan. Tanpa adanya kemajuan ekonomi
secara berkesinambungan maka realisasi potensi manusia, baik ditingkat individu
ataupun masyarakat tidak dapat terealisasi. Selain itu kecukupan sendiri juga
harus terlaksana dalam kehidupan manusia dengan adanya, kenaikan pendapatan
perkapita, pengentasan kemiskinan absolut, perluasan lapangan kerja dan lain
sebagainya yang tentunya dapat menunjang darti tingkat kecukupan dari hidup
manusia itu sendiri.

Komponen yang selanjutnya adalah harga diri dimana harga diri ini
adalah adanya dorongan dari dalam diri sendiri untuk lebih baik lagi, untuk
menghargai diri sendiri, untuk merasa diri pantas dan layak melakukan atau
mengejar sesuatu dan sebagainya. Dalam suatu tatanan masyarakat sifat harga diri
itu sendiri berbeda antara yang satu dengan yang lainnya hal ini terjadi
dikarenakan adanya pengeruh dari perkembangan jaman yang sangat modern ini.
Dengan pengaruh perkembangan jaman modern juga banyak yang mengadopsi
budaya barat yang pada dasarnya sangat berbeda dengan budya yang sudah ada
sehingga menimbulkan pro dan kontra dibanyak negara. Derasnya pengaruh barat
tentunya telah mengikis jati diri masyarakadi beberapa negra berkembang.
Dengan adanyapengaruh barat yang merubah jati diri tersebut banyak negara
berkembng merasa dirinya kecil dan tidak berarti hal ini dikarenakan mereka tidak
memiliki perkembangan ekonomi secepat negara maju serta teknoligi yang
sangant mutahir. Hal inilah yang selanjutnya dikejar oleh masyarahat dengan
berkaca dari negara maju sehinga tak ayal mereka sampai melupakan ajati dirinya
sendiri.

Unsur yang relevan disini adalah keterblakangan tersebut merupakan nasib


buruk bagi sebagian besar penduduk dunia. Maka dari itu pembangunan itu harus
diabsahkan sebagai suatu tujuan karena itu merupakan kunci untuk meraih sesuatu
yang sangat penting, dan itu bukanlah kekayaan melainkan penghargaan.

11
Selanjutnya komponen yang ketiga menurut para ahli tersebut adalah kebebasan (
Freedom ) dimana kebebasan tersebut dapat diartikan sebagai kemampuan untuk
berdiri tegak sehingga tidak diperbudak oleh pengejaran aspek aspek materiil
dalam kehidupan ini. Sekali kita menjadi budak materi, maka sederet
kecenderungan negatif mulai dari sikap acuh tak acuh, sikap mementingkan diri
sendiri, dan sebagainya akan meracuni diri kita. Kebebasan disini juga dapat
diartikan sebagai kebebasan terhadap ajaran dogmatis. Jika kita memiliki
kebebasan tersebut maka selamanya kita tidak dapat berfikir jernih dan menilai
hal dari dalam diri sendiri. Konsep kebebasan manusia juga melingkupi segala
komponen yang ada meliputi; politik, keamanan diri sendiri, kepastian hukum,
kebebasan berekspresi, partisipasi politik dan pemetaan kesempatan dan lain
sebagainya.

2.1.7 Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index)


Terdapat tiga nilai menuju kehidupan yang lebih baik atau lebih manusiawi,
yakni kecukupan, harga diri, dan kebebasan yang merupakan tujuan pokok dan
harus digapai oleh setiap orang dan masyarakat melalui pembangunan. Program
Pembangunan PBB (UNDP) telah berusaha menyusun alat pengukuran holistis
atas tingkat kehidupan manusia yang disebut Indeks Pembangunan Manusia
(IPM). Indeks ini dapat dipergunakan untuk menganalisis status pembangunan
sosial ekonomi secara sistematis dan komprehensif baik untuk negara maju
maupun negara berkembang. IPM mencoba memeringkat semua negara
berdasarkan tiga tujuan atau produk akhir dari pembangunan yakni masa hidup
(longevity), yang diukur dengan usia harapan hidup, pengetahuan, yang diukur
dengan kemampuan baca tulis orang dewasa secara tertimbang, serta standar
kehidupan yang diukur dengan pendapatan riil per kapita, disesuaikan dengan
paritas harga beli dari mata uang setiap negara untuk mencerminkan biaya hidup
dan untuk memenuhi asumsi utilitas marjinal yang semakin menurun dari
pendapatan.

12
Tabel 1. Data Indeks Pembangunan Manusia tiap Provinsi di Indonesia periode
2010-2015.

Sumber : Badan Pusat Statistik

[Metode Baru] Indeks Pembangunan Manusia


Kabupaten
2010 2011 2012 2013 2014 2015
ACEH 67.09 67.45 67.81 68.30 68.81 69.45
SUMATERA UTARA 67.09 67.34 67.74 68.36 68.87 69.51
SUMATERA BARAT 67.25 67.81 68.36 68.91 69.36 69.98
RIAU 68.65 68.90 69.15 69.91 70.33 70.84
JAMBI 65.39 66.14 66.94 67.76 68.24 68.89
SUMATERA SELATAN 64.44 65.12 65.79 66.16 66.75 67.46
BENGKULU 65.35 65.96 66.61 67.50 68.06 68.59
LAMPUNG 63.71 64.20 64.87 65.73 66.42 66.95
KEP. BANGKA BELITUNG 66.02 66.59 67.21 67.92 68.27 69.05
KEP. RIAU 71.13 71.61 72.36 73.02 73.40 73.75
DKI JAKARTA 76.31 76.98 77.53 78.08 78.39 78.99
JAWA BARAT 66.15 66.67 67.32 68.25 68.80 69.50
JAWA TENGAH 66.08 66.64 67.21 68.02 68.78 69.49
DI YOGYAKARTA 75.37 75.93 76.15 76.44 76.81 77.59
JAWA TIMUR 65.36 66.06 66.74 67.55 68.14 68.95
BANTEN 67.54 68.22 68.92 69.47 69.89 70.27
BALI 70.10 70.87 71.62 72.09 72.48 73.27
NUSA TENGGARA
61.16 62.14 62.98 63.76 64.31 65.19
BARAT
NUSA TENGGARA
59.21 60.24 60.81 61.68 62.26 62.67
TIMUR
KALIMANTAN BARAT 61.97 62.35 63.41 64.30 64.89 65.59
KALIMANTAN TENGAH 65.96 66.38 66.66 67.41 67.77 68.53
KALIMANTAN SELATAN 65.20 65.89 66.68 67.17 67.63 68.38
KALIMANTAN TIMUR 71.31 72.02 72.62 73.21 73.82 74.17
KALIMANTAN UTARA - - - 67.99 68.64 68.76
SULAWESI UTARA 67.83 68.31 69.04 69.49 69.96 70.39
SULAWESI TENGAH 63.29 64.27 65 65.79 66.43 66.76
SULAWESI SELATAN 66 66.65 67.26 67.92 68.49 69.15
SULAWESI TENGGARA 65.99 66.52 67.07 67.55 68.07 68.75
GORONTALO 62.65 63.48 64.16 64.70 65.17 65.86
SULAWESI BARAT 59.74 60.63 61.01 61.53 62.24 62.96

13
MALUKU 64.27 64.75 65.43 66.09 66.74 67.05
MALUKU UTARA 62.79 63.19 63.93 64.78 65.18 65.91
PAPUA BARAT 59.60 59.90 60.30 60.91 61.28 61.73
PAPUA 54.45 55.01 55.55 56.25 56.75 57.25
INDONESIA 66.53 67.09 67.70 68.31 68.90 69.55

Tabel 2. Data Angka Harapan Hidup Penduduk Beberapa Negara Tahun 1995-
2015

Sumber : Badan Pusat Statistik

1995- 2000- 2005- 2010-


Negara
2000 2005 2010 20151
Amerika Serikat 76,4 77,1 r 78,1 r 78,9
Arab Saudi 71,6 r 73,1 r 74,3 r 75,4
Australia 78,9 r 80,4 r 81,7 r 82,4
Bangladesh 64,1 r 66,4 r 68,4 r 70,5
Belanda 77,8 r 78,7 80,2 80,9
Belgia 77,3 r 78,3 r 79,5 r 80,4
Brazil 69,4 r 71,0 r 72,4 r 73,8
Cina 70,9 r 73,4 r 74,4 r 75,2
Denmark 76,0 77,3 r 78,6 r 79,3
Federasi Rusia 65,7 65,0 r 67,2 r 67,9
Filipina 66,4 67,1 67,8 68,6
Finlandia 77,0 78,3 79,5 r 80,5
Hongkong SAR 79,4 81,3 r 82,4 r 83,3
India 61,2 r 63,1 r 64,9 r 66,3
Indonesia 2 66,0 67,8 69,1 70,1
Inggris 77,1 78,4 79,6 80,4
Italia 78,7 80,2 81,5 r 82,3
Jepang 80,5 81,8 82,7 83,5
Jerman 77,2 r 78,6 r 79,8 80,7
Kamboja 59,8 r 64,5 r 69,5 r 71,6
Kanada 78,5 79,7 80,5 81,4
Kazakhstan 63,0 64,6 65,7 r 66,4
Korea Selatan 74,9 77,4 80,0 81,4
Kuwait 72,9 r 73,4 r 73,8 r 74,2
Malaysia 72,3 r 73,3 r 74,0 r 74,9
Meksiko 68,0 r 69,0 r 69,9 r 71,1
Mesir 73,7 r 75,0 r 76,3 r 77,4
Myanmar 61,3 r 62,8 r 64,2 r 65,1
Nigeria 46,3 r 47,3 r 50,2 r 52,3

14
Norwegia 78,2 79,2 80,6 r 81,4
Pakistan 63,1 r 64,5 r 65,7 r 66,5
Perancis 78,3 r 79,5 r 80,9 r 81,7
Singapura 77,7 r 79,2 r 81,2 r 82,2
Sri Lanka 69,1 r 73,2 73,4 74,2
Swedia 79,2 80,1 r 81,1 r 81,7
Thailand 70,6 r 71,5 r 73,3 r 74,3
Venezuela 72,1 72,8 r 73,7 74,5
Vietnam 73,0 r 74,4 r 75,1 r 75,9
Catatan: r) Angka diperbaiki
1) Data estimasi dengan ragam fertilitas medium
2) Data bersumber dari BPS
Sumber: United Nations: World Population Prospect: The 2010 Revision Population
Database

2.2 Strategi Pembangunan Ekonomi Indonesia


Ada dua cara untuk mencapai masyarakat adil makmur, yakni
a. Makmur dan Adil (Growth and Equity)
Cara dimana semula dikejar kemakmuran (tingakat pendapatan nasional
secara maksimum), setelah kue nasionalnya besar baru dikejar keadilannya
(diadakan pembagian pendapatan nasional yang lebih merata). Cara ini
cocok diterapkan di negara maju.
b. Makmur dengan Adil ( Growth with Equity)
Cara dimana kemakmuran dan keadilan dikejar dalam waktu bersamaan dan
cara ini dianggap lebih cocok untuk negara yang sedang berkembang.

Setiap negara selalu berusaha mewujudkan masyarakat adil dan makmur.


Untuk mencapai tujuan tersebut, setiap negara melaksanakan pembangunan
ekonomi. Salah satu ukuran berhasilnya pembangunan ekonomi adalah
pertumbuhan ekonomi. Hampir semua negara di dunia pasti melaksanakan
pembangunan ekonomi. Hal ini karena pembangunan ekonomi merupakan upaya
untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan
pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk
dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara
dan pemerataan pendapatan bagi penduduk suatu negara.

15
Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi
(economic growth); pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi,
dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan
ekonomi.Yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan
kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan
pendapatan nasional. Suatu negara dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi
apabila terjadi peningkatan GNP riil di negara tersebut. Adanya pertumbuhan
ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.
Perbedaan antara keduanya adalah pertumbuhan ekonomi keberhasilannya
lebih bersifat kuantitatif, yaitu adanya kenaikan dalam standar pendapatan dan
tingkat output produksi yang dihasilkan, sedangkan pembangunan ekonomi lebih
bersifat kualitatif, bukan hanya pertambahan produksi, tetapi juga terdapat
perubahan-perubahan dalam struktur produksi dan alokasi input pada berbagai
sektor perekonomian seperti dalam lembaga, pengetahuan, sosial dan teknik.
Selanjutnya pembangunan ekonomi diartikan sebagai suatu proses yang
menyebabkan pendapatan perkapita penduduk meningkat dalam jangka panjang.
Di sini terdapat tiga elemen penting yang berkaitan dengan pembangunan
ekonomi.
Pembangunan sebagai suatu proses
Pembangunan sebagai suatu proses, artinya bahwapembangunan merupakan
suatu tahap yang harus dijalani olehsetiap masyarakat atau bangsa. Sebagai
contoh, manusia mulai lahir, tidak langsung menjadi dewasa, tetapi untuk menjadi
dewasa harus melalui tahapan-tahapan pertumbuhan. Demikian pula, setiap
bangsa harus menjalani tahap-tahap perkembangan untuk menuju kondisi yang
adil, makmur, dan sejahtera.
Pembangunan sebagai suatu usaha untuk meningkatkan pendapatan
perkapita
Sebagai suatu usaha, pembangunan merupakan tindakan aktif yang harus
dilakukan oleh suatu negara dalam rangka meningkatkan pendapatan perkapita.
Dengan demikian, sangat dibutuhkan peran serta masyarakat, pemerintah, dan
semua elemen yang terdapat dalam suatu negara untuk berpartisipasiaktif dalam

16
proses pembangunan. Hal ini dilakukan karena kenaikan pendapatan perkapita
mencerminkan perbaikan dalam kesejahteraan masyarakat.
Peningkatan pendapatan perkapita harus berlangsung dalam jangka
panjang
Suatu perekonomian dapat dinyatakan dalam keadaan berkembang apabila
pendapatan perkapita dalam jangka panjang cenderung meningkat. Hal ini tidak
berarti bahwa pendapatan perkapita harus mengalami kenaikanterus menerus.
Misalnya, suatu negara terjadi musibah bencana alam ataupunkekacauan politik,
maka mengakibatkan perekonomian negara tersebut mengalami kemunduran.
Namun, kondisi tersebut hanyalah bersifat sementara yang terpenting bagi negara
tersebut kegiatan ekonominya secara rata-rata meningkat dari tahun ke tahun.

2.2.1 Strategi Pembangunan Ekonomi Indonesia


Dalam mempelajari perekonomian suatu Negara, salah satu konsep yang
penting untuk diperhatikan yaitu mengetahui strategi pembangunan ekonomi.
menurut Suroso ( 1993 ) strategi pembangunan ekonomi diberi batasan sebagai
suatu tindakan pemilihan atas faktor-faktor yang akan dijadikan faktor utama yang
menjadi penentu jalannya proses pertumbuhan. adapun beberapa strategi
pembangunan ekonomi yaitu :
1. Strategi pertumbuhan
Adapun inti dari konsep strategi yang pertama ini adalah :
Strategi pembangunan ekonomi suatu negara akan terpusat pada upaya
pembentukan modal, serta bagaimana menanamkannya secara seimbang,
menyebar, terarah dan memusat, sehingga dapat menimbulkan efek
pertumbuhan ekonomi.
Selanjutnya bahwa pertumbuhan ekonomi akan dinikmati oleh golongan
lemah melalui proses merambat ke bawah (trickledown effect )
pendistribusian kembali.
Jika terjadi ketimpangan atau ketidakmerataan hal tersebut merupakan
syarat terciptanya pertumbuhan ekonomi.
Kritik paling keras dari strategi yang pertama ini adalah bahwa pada
kenyataan yang terjadi adalah ketimpangan yang semakin tajam.

17
2. Strategi dengan Pemerataan Pembangunan
Inti dari konsep strategi ini adalah dengan ditekankannya peningkatan
pembangunan melalui teknik sosial, seperti halnya melalui penyusunan
perencanaan induk, dan paket program terpadu.
3. Strategi Ketergantungan
Tidak sempurnanya konsep strategi pertama dan kedua mendorong para ahli
ekonomi mencari alternatif lain sehingga pada tahun 1965 muncul strategi
pembangunan dengan nama strategi ketergantungan. Inti dari konsep strategi
tergantungan adalah :
Kemiskinan di negara negara berkembang lebih disebabkan karena adanya
ketergantungan negara tersebut dari pihak / negara lainnya. oleh karena itu
jika suatu Negara ingin terbebas dari kemiskinan dan keterbelakangan
ekonomi, Negara tersebut harus mengarahkan upaya pembangunan
ekonominya pada usaha melepaskan diri dari ketergantungan dari pihak lain.
langkah yang dapat ditempuh diantaranya adalah : meningkatkan produksi
nasional yang disertai dengan peningkatan kemampuan dalam bidang
produksi, lebih mencintaiproduk nasional, dan sejenisnya.
Teori ketergantungan ini kemudian dikritik oleh Kothari dengan
mengatakan . Teori ketergantungan tersebut memang cukup relevanm
namun sayangnya telah mnjadi semacam dalih terhadap kenyataan dari
kurangnya usaha untuk membangun masyarakat sendiri (Self Development).
sebab selalu akan gampang sekali bagai kita untuk menumpahkan semua
kesalahan pada pihak luar yang memeras, sementara pemerasan yang terjadi
di dalam lingkungan masyarakat kita sendiri dibiarkan saja . (Kothari
dalam Ismid Hadad, 1980).
4. Strategi yang Berwawasan Ruang
Strategi ini dikemukakan oleh Myrdall dan Hirschman, yang
mengemukakan sebab sebab kurang mampunya daerah miskin berkembang
secepat daerah yang lebih kaya / maju. Menurut mereka kurang mampunya daerah
miskin berkembang secepat daerah maju dikarenakan kemampuan / pengaruh
menyetor dari kaya ke miskin (Spread Effects) lebih kecil daripada terjadnya
aliran sumber daya dari daerah miskin ke daerah kaya (Back-wash-effects).

18
Perbedaan pandangan kedua tokoh tersebut adalah, bahwa Myrdall tidak percaya
bahwa keseimbangan daerah kaya dan miskin akan tercapai, sedangkan
Hirschman percaya, sekalipun baru akan tercapai dalam jangka panjang.
5. Strategi Pendekatan Kebutuhan Pokok
Sasaran dari strategi ini adalah menanggulangi kemiskinan secara masal.
Strategi ini selanjutnya dikembangkan oleh Organisasi Perburuhan Sedunia (ILO)
pada tahun 1975, dengan menekankan bahwa kebutuhan pokok manusia tidak
mungkin dapat dipenuhi jika pendapatan masih rendah akibat kemiskinan yang
bersumber pada pengangguran. Oleh karena itu sebaiknya usaha-usaha diarahkan
pada penciptaan lapangan kerja, peningkatan kebutuhan pokok dan sejenisnya.

2.2.2 Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Strategi


Pembangunan Ekonomi
Faktor-faktor yang mempengaruhi strategi pembangunan adalah
berdasarkan tujuan yang hendak di capai. Jika yang ingin dicapai adalah tingkat
pertumbuhan yang tinggi, maka faktor yang mempengaruhi digunakannya strategi
tersebut adalah tingkat pertumbuhan ekonomi yang rendah, akumulasi kapital
yang rendah, tingkat pendapatan pada kapital yang rendah, serta masalah ekonomi
yang berat ke sektor tradisional yang kurang berkembang.
Faktor faktor yang mempengaruhi diberlakukannya strategi pembangunan
yang berorientasu pada penghapusan kemiskinan pada dasarnya dilandasi oleh
keinginan berdasarkan norma tertentu, bahwa kemiskinan harus secepat mungkin
diatasi. Sementara itu, strategi-strategi pembangunan lain ternyata sangan sulit
mempengaruhi/memberikan manfaat secara langsung kepada golongan miskin ini.
Secara garis besar faktor yang mempengaruhi strategi pembangunan ekonomi
Indonesia ini dikelompokkan menjadi 2 (dua) yaitu:
1. Faktor-faktor Ekonomi, meliputi sumber daya alam, sumber daya manusia,
modal, kewirausahaan dan teknologi (faktor produksi)
2. Faktor Non-Ekonomi, seperti stabilitas ekonomi dan keamanan negara,
pelayanan birokrasi yang memihak masyarakat, etos kerja dan kondisi sosial
masyarakat.

19
2.3 Penerapan Sistem Pelaksanaan Pembangunan Sebagai Strategi Untuk
Mencapai Tujuan yang Ditetapkan
Seperti telah dibahas pada sub materi sebelumnya yakni mengenai strategi
pencapaian tujuan pembangunan ekonomi Indonesia terdapat 5 (lima) strategi
yang ditempuh yakni:
a. Strategi Pertumbuhan
b. Strategi Pemerataan Pembangunan
c. Strategi Ketergantungan
d. Strategi Berwawasan Ruang
e. Strategi Pendekatan Kebutuhan Pokok
Dalam penerapannya pemerintah tentunya melaksanakannya melalui sistem
dan kebijakan tertentu sehingga mampu mencapai tujuan yang sebelumnya telah
dicanangkan.
a. Strategi Pertumbuhan
Strategi ini lebih menitikberatkan pada pembentukan modal, serta
bagaimana menanamkannya secara seimbang, menyebar, terarah dan memusat,
sehingga dapat menimbulkan efek pertumbuhan ekonomi. Usaha pembentukan
modal tersebut telah dilakukan oleh pemerintah dengan memberikan paket
kebijakan ekonomi melalui kemudahan untuk akses modal, dalam hal ini
kemudahan dalam mengurus modal berupa tanah yaitu dengan mempermudah
pengurusan sertifikat tanah. Kemudian pemerintah juga memperluas kerangka
peraturan bagi pemberi layanan untuk menggunakan perbankan lewat ponsel
(mobile banking). Saat ini peraturan Bank Indonesia memperkenankan pemberi
layanan non-bank untuk menerbitkan uang elektronik hanya untuk kepentingan
pembayaran. Rintangan utama adalah persyaratan ijin yang dibutuhkan.
Reformasi kebijakan juga dapat membantu memperluas peran Bank Perkreditan
Rakyat (BPR), terutama untuk membantu mereka yang beroperasi di daerah-
daerah yang lebih terpencil. Selain itu, pengecualian persyaratan NPWP dari
syarat pemberian kredit berukuran kecil dapat membuka akses terhadap banyak
rumah tangga miskin dan usaha mikro. Sejumlah perubahan kebijakan yang
berguna dapat menetapkan suatu tingkat yang rendah bagi modal awal minimum

20
untuk BPR kecil di lokasi terpencil dan memperkenankan investor dan LSM asing
untuk bermitra dengan BPR yang lebih besar yang mencari permodalan.
Sebagai penjamin simpanan bank, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)
telah berprestasi baik sejak pendiriannya di tahun 2005 dalam menutup BPR yang
mengalami masalah dan membayar kembali simpanan yang dijamin. Selain
memastikan bahwa LPS terus mendapat pendanaan yang memadai, juga terdapat
kebutuhan akan komunikasi yang lebih baik akan batas jaminan simpanan kepada
para penabung, terutama di daerah-daerah dengan pemahaman keuangan yang
masih rendah.
Indonesia memiliki sejumlah besar koperasi simpan pinjam yang
memberikan layanan keuangan kepada rumah tangga berpenghasilan rendah.
Dibutuhkan pengawasan koperasi yang memadai untuk memastikan sektor
koperasi yang sehat dan memangkas risiko yang dapat dihadapi oleh penabung
UMKM dan rumah tangga miskin yang disebabkan oleh kepailitan suatu koperasi.
Selain itu, penyesuaian lain terhadap kebijakan dapat memperkenankan suku
bunga berbasis pasar yang lebih lentur, kemudahan untuk membuka kantor cabang
baru, dan memberikan kriteria yang lebih longgar bagi pelaporan dan
pengungkapan.
Kebijakan lainnya dari pemerintah dalam kemudahan mengumpulkan modal
adalah dengan memberikan kesempatan bagi asing untuk berinvestasi di
Indonesia. Hal tersebut berdampak positif dalam perluasan sumber modal di
Indonesia walaupun masih banyak kalangan yang menentang masuknya modal
asing ke Indonesia.
Dengan berbagai kebijakan tersebut maka target pemerintah untuk
mempermudah akses modal bagi semua kalangan masyarakat akan lebih mudah
tercapai.
b. Strategi Pemerataan Pembangunan
Dalam usahanya melakukan pemerataan pembangunan ekonomi,
pemerintah telah melakukan berbagai cara agar pembangunan ekonomi tidak
hanya terpusat pada kota-kota besar saja. Terdapat 4 hal yang harus dilakukan
pemerintah yakni:
1. Distribusi Pendapatan

21
2. Mekanisme Pemerataan
3. Pembangunan dan Potensi Masyarakat
4. Hubungan Antara Peningkatan Pendapatan dengan Kesejahteraan
Masyarakat.
Selain itu munculnya Demokrasi Lokal dengan keluarnya UU No 32 Tahun
2004 tentang Otonomi Daerah. UU yang dahulunya mengamanatkan kebijakan
sentralisasi oleh pemerintah pusat, kini telah diserahkan kembali ke masing-
masing daerah. UU ini diharapkan membuka ruang agar terjadinya pemerataan
pembangunan sosial di seluruh daerah yang dianggap tertinggal akibat sentralisasi
pada zaman orde baru. Namun Sampai saat ini pembangunan masih
berkonsentrasi di daerah pusat khususnya di Ibukota dan sekitarnya, keadaan
seperti ini sangatlah jauh dari apa yang dicita-citakan dalam tujuan nasional
Indonesia mengenai usaha-usaha untuk pemerataan pembangunan termasuk
pembangunan dalam bidang ekonomi.

c. Strategi Ketergantungan

Berangkat dari terlalu mengantungkan pada modal asing dan utang luar
negeri. Revrisond Baswir pernah mengatakan Ekonomi Nasionalis Populis, yakni
Ekonomi yang sangat menekankan arti kemandirian dalam pentas ekonomi
internasional dan mendudukan Indonesia sebagai sebuah negara merdeka.
Ekonomi ini memaknai nasionalisme ekonomi dalam pengertian kepentingan
ekonomi seluruh rakyat Indonesia, artinya pergaulan ekonomi dunia bukanlah
harga mati, ini dilakukan hanya sejalan dengan kepentingan seluruh rakyat.
Tinggal dibutuhkan kemauan ekonomi ( Economic Will) untuk melaksanakan
ekonomi nasionalis ini dalam negeri Indonesia. Untuk mendukung ekonomi ini
beberapa perlakuan-perlakuan solusi untuk tidak menggantungkan pembangunan
pada utang luar negeri yaitu

Pertama, Meningkatkan daya beli masyarakat, yakni melalui pemberdayaan


ekonomi pedesaan dan pemberian modal usaha kecil seluasnya. Dengan
peningkatan daya beli masyarakat ini membuat barang-barang hasil buatan dalam

22
negeri terjual habis tentu akan memberikan peningkatan kesejahteraan
masyarakat.

Kedua, meningkatkan pajak secara progresif terhadap barang mewah dan


impor. Realitas yang ada saat ini pemerintah mengambil pajak barang mewah

Ketiga, Konsep pembangunan yang berkesinambungan, berlanjut dan


mengarah pada satu titik maksimalisasi kekuatan ekonomi nasional, melepaskan
secara bertahap ketergantungan utang luar negeri. Telah di jelaskan pada awal
prinsip pembangunan yang diusung Orde Baru yakni mengutang untuk
pembangungan, sekarang saatnya membangun Indonesia dari keringat peluh yang
dihasilkan diri sendiri Indonesia walaupun harus bertahap sesuai dengan
pendapatan yang diraih.

Keempat, menggalakan kebanggaan akan produksi dalam negeri,


meningkatkan kemauan dan kemampuan ekspor produk unggulan dan membina
jiwa kewirausahaan masyarakat. Hal yang memprihatinkan dengan televisi atau
surat kabar di negeri ini yakni banyaknya iklan swasta produk luar negeri
berkembang di dalam negeri, sadar atau tidak iklan-iklan ini mempengaruhi
pergaulan masyarakat di negeri ini, para remaja lebih suka makanan produk luar
negeri daripada produk-produk dalam negeri seperti kacang rebus, ketela godok.

Kelima, mengembangkan sumber daya manusia berkualitas dan


menempatkan kesejateraan yang berkeadilan dan merata sebagai landasan
penyusunan operasionalisasi pembangunan ekonomi.

d. Strategi Berwawasan Ruang

Strategi ini memfokuskan diri bahwa penyebab dari tersendatnya


pembangunan perekonomian karena adanya penyebaran kekayaan dari daerah
kaya ke daerah miskin kurang baik. Oleh karena itu kembali disini peran
pemerintah dalam menciptakan pemerataan pembangunan ekonomi, untuk
mengatasi permasalahan ini maka pemerintah dapat menciptakan sarana dan
prasarana transportasi yang mendukung mobilitas dari perekonomian ini agar

23
daerah miskin dan kaya memiliki akses yang lancar. Selain itu pemerintah juga
dapat memberikan kemudahan dalam transaksi keuangan dengan menambah
cabang-cabang bank, atm, serta mensosialisasikan mengenai mobile banking.

e. Strategi Pendekatan Kebutuhan Pokok

Inti dari strategi ini adalah seseorang tidak dapat bertahan hidup jika
kebutuhan pokoknya tidak terpenuhi. Lalu bagaimana agar masyarakat dapat
memenuhi kebutuhan pokoknya tersebut? Tentunya masyarakat harus memiliki
kemampuan finansial untuk memperoleh kebutuhan pokoknya tersebut. Untuk
dapat mendapatkan dana tersebut tentunya masyarakat harus memiliki suatu
pekerjaan yang menghasilkan upah atau gaji bagi mereka. Disinilah peran
pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja. Melalui paket kebijakan
ekonominya, Presiden Jokowi juga kembali menggalakkan UMKM yang
didukung dengan penurunan tingkat bunga pinjaman KUR serta memperluas
cakupan peminjam dana tersebut. Selain itu pemerintah juga membekali
masyarakat dengan kemampuan atau skill untuk nantinya menjadi bekal mereka di
dunia kerja. Untuk mengatasi masalah pengangguran ini pemerintah melakukan
pelatihan bagi tenaga kerja sehingga tenaga kerja memeiliki keahlian sesuai
dengan lapangan kerja yang tersedia, pembukaan investasi baru, terutama yang
bersifat padat karya, pemberian informasi yang cepat mengenai lapangan kerja

24
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses mutlak yang dilakukan oleh
suatu bangsa dalam meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan seluruh bangsa
tersebut. Tujuan dari pembangunan Indonesia adalah menciptakan masyarakat
yang adil dan makmur. Adil diwujudkan dari dibuatnya peraturan perundang-
undangan untuk mendukung adanya distribusi pendapatan yang baik, sedangkan
masyarkat yang makmur diciptakan melalui peningkatan pendapatan nasional
(total maupun per kapita) tumbuh untuk memperoleh tingkat kemakmuran
(pendapatan nasional) yang lebih tinggi. Kalau demikian halnya, ukuran mengenai
kemakmuran dapat dikatakan sebagai tingkat pertumbuhan ekonomi (tingkat
pertumbuhan pendapatan nasional). Dilihat dari pengertian pembangunan sendiri
secara luas adalah membangun manusia (masyarakat) Indonesia seutuhnya ini
berarti sebagai suatu proses yang berkesinambungan atas suatu sistem sosial
secara keseluruhan menuju kehidupan yang lebih baik atau lebih manusiawi.

25