Anda di halaman 1dari 3

Kelompok (11)

- Denny Setiawan Imansyah (2301170349)


- Ibnu Yudhi Wibowo (2301170397)
- Siti Aisyah (2301170465)
Kelas 3.4

Atasi Kegagalan Memimpin Perubahan

Perubahan itu akan selalu ada dalam berbagai aspek kehidupan, apa yang menjadi tren dan dianggap cara
yang terbaik kemarin atau masa lalu menjadi usang untuk saat ini, tidak ada yang tetap kecuali perubahan itu
sendiri. Perubahan teknologi, ekonomi, sosial dan globalisasi menuntut keberhasilan para manajer sebagai agent
of change dalam melakukan perubahan, karena pada dasarnya karyawan memilili resistensi terhadap suatu
perubahan. Oleh karena itu, dibawah ini dijabarkan faktor-faktor pendukung keberhasilan serorang manajer
(Pemimpin);

1. SDM itu penting, dan partisipasi karyawan dalam membuat strategi

Dalam organisasi, strategi penting untuk mencapai tujuan organisasi, tetapi yang tidak kalah penting
adalah sumber daya manusianya yang akan mengeksekusi sebuah strategi. Setiap perubahan yang terjadi di luar
perusahaan akan mempengaruhi sebuah strategi perusahaan, setiap individu dalam organisasi harus berpartisipasi
aktif dalam mengembangkan rencana strategis yang digagas oleh pemimpin. Keterlibatan karyawan diperlukan
karena strategi yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan dan skill dari karyawan, keselarasan antara strategi
dan kemampuan karyawan akan membuat strategi berjalan lebih efisien dan efektif. Partsipasi karyawan juga
akan membuat karyawan merasa perlu bertnggung jawab untuk melaksanakan strategi yang diusulkannya.

2. Menggunakan emosi dalam berlogika

Fakta dan kondisi realitas pasar perlu dipahami oleh karyawan sebagai faktor pendorong perubahan.
Karyawan biasanya memiliki resistensi terhadap suatu perubahan, bergesernya suatu titik kenyamanan membuat
mereka merasa gelisah , karyawan berfikir perlukah perubahan tersebut dan apa untung ruginya bagi mereka.
Pemimpin sebagai penggagas perubahan perlu menjelaskan kepada karyawan tentang konsekuensi jika tidak
berubah dan bagaimana mengantisipasi perubahan tersebut.

Pemimpin dituntut untuk menyampaikan faktafakta diatas dengan melibatkan emosi karyawan,
menjelaskan bahwa perubahan perlu dilakukan untuk kesejahteraan mereka sendiri dan dari merekalah perubahan
tersebut bisa dilaksanakan. Pemimpin bisa menggunakan cerita bagaimana sebuah perusahaan menjadi kalah
bersaing karena orang-orang yang didalamnya tidak melakukan perubahan dalam bekerja dan akibatnya banyak
karyawan yang putus bekerja. Dengan menggunakan cerita tersebut pemimpin memberikan makna tentang
perlunya perubahan untuk kesejahteraan karyawan sendiri.

3. Memberikan contoh dan teladan itu penting tidak hanya dengan kata-kata

Pemimpin yang pintar dalam menggunakan kata-kata inspiratif, mencerahkan, dan mengubah orang
adalah modal yang berharga , dengan begitu dapat memotivasi karyawan untuk berubah ke arah yang lebih baik.
Tetapi perjuangan eksekutif untuk meyakinkan para karyawan tidak sampai disitu, pemimpin juga harus
memberikan contoh perilaku dan teladan sesuai dengan apa yang disampaikannya baik dalam bekerja dan
bersikap. Kesamaan perilaku dan ucapan pemimpin menunjukkan konsistensi dan keyakinan kepada karyawan
akan pentingnya perubahan tersebut.

4. Mementingkan Komunikasi Formal daripada jaringan informal

Organisasi adalah campuran struktur hirarki dan jaringan informal. Tidak satupun saat ini yang bisa
terhindar dari interaksi sosial dan jaringan informal yang merupakan saluran hingga 70 persen dari semua
informasi organisasi. Untuk mengkomunikasikan perubahan yang akan atau pun sedang dilakukan, selain
menggunakan komunikasi formal seperti pidato resmi pemimpin harus menggunakan cara komunikasi dengan
melibatkan emosional seperti intonasi atau nada berbicara , ekspresi wajah dan bahasa tubuh.

Jaringan formal dan informal sama-sama dibutuhkan, perubahan yang ditulis dalam suatu peraturan resmi
lebih mengikat secara hukum ke seluruh karyawan dan dapat dipertanggungjawabkan sedangkan jaringan
informal yang sifatnya tidak terlalu kaku digunakan para pemimpin untuk mengkomunikasikan perubahan
tersebut, kesungguhan dan antusiasme pemimpin untuk melakukan perubahan dapat terlihat dalam pembicaraan
yang santai dan tidak terlalu kaku. Dengan begitu rasa kedekatan dan kekeluargaan muncul sehingga karyawan
setuju dan bahkan mendukung perubahan yang diharapkan oleh pemimpin.

Dengan semakin majunya teknologi, jaringan informal tumbuh dengan cepat seperti media sosial dan
instant mesengger, desas-desus perubahan akan menyebar secara cepat dan para pemimpin juga harus terjun
langsung dalam jaringan informal ini, meyakinkan kepada karyawan bahwa perubahan yang dilakukan diperlukan
dan tidak merugikan salah satu pihak.

5. Menggunakan Key Performance Idicator (Evaluasi)

Yang menjadi masalah utama dalam kegagalan mengatasi perubahan adalah pemimpin tidak tahu kondisi
real organisasi. Sehingga tidak tahu apa saja yang harus diperbaiki atau pun dirubah untuk mencapai tujuan
organisasi secara efektif dan efisien.
Hal ini dapat kita minimalisir dengan cara melakukan evaluasi rutin terhadap kinerja organisasi dan
budaya organisasi. Kita analogikan, seperti cek kesehatan yang seharusnya dilakukan secara rutin. Dengan cara
seperti itu, proses perubahan tidak hanya dilakukan oleh bagian SDM / Umum, tetapi juga pada semua bagian
termasuk pegawai yang memiliki jabatan maupun tidak karena mereka semua memiliki indeks kinerja masing-
masing yang mempengaruhi organisasi. Jika semua lapisan mengetahui indeks kinerja masing-masing sehingga
perubahan bisa diprediksi dan diantisipasi. Seperti halnya seseorang yang merasa sehat, setelah melakukan check
up, hasilnya terindikasi kolesterol tinggi sehingga antisipasi yang harus dilakukan adalah menjaga pola makan
dan aktivitasnya agar terhindar dari penyakit yang disebabkan kolesterol tinggi.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor diatas, manajer diharapkan menjadi agent of change yang
berhasil membawa perubahan ke arah yang lebih baik, sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif
dan efisien walaupun dihadapkan dengan perubahan dunia yang terjadi begitu cepat.