Anda di halaman 1dari 28

Excecutive Summary

Pemimpin (leader) adalah seorang pemimpin yang mempunyai sifat-sifat


kepemimpinan personality atau authority (berwibawa). Ia disegani dan berwibawa
terhadap bawahan atau pengikutnya karena kecakapan dan kemampuan serta
didukung perilakunnya yang baik. Pemimpin (leader) dapat memimpin organisasi
formal maupun informal, dan menjadi panutan bagi bawahan (pengikut)nya.
Biasanya tipe kepemimpinannya adalah partisipatif leader dan falsafah
kepemimpinannya adalah pimpinan untuk bawahan.
Sedangkan manajer juga merupakan seorang pemimpin, yang dalam
praktek kepemimpinannya hanya berdasarkan kekuasaan atau authority
formalnya saja. Bawahan atau karyawan atau staf menuruti perintah-perintahnya
karena takut dikenakan hukuman oleh manajer tersebut. Manajer biasanya hanya
dapat memimpin organisasi formal saja dan tipe kepemimpinannya ialah
autocratis leader dengan falsafahnya ialah bahwa bawahan adalah untuk
pemimpin.

1
Kata pengantar

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat dan RahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Mini
Riset mata kuliah Kepemimpinan ini yang berjudul Kepemimpinan Di suku
Batak Toba. Penulis berterima kasih kepada Bapak dosen yang bersangkutan
yang sudah memberikan bimbingannya.
Penulis juga menyadari bahwa tugas ini masih banyak kekurangan oleh
karena itu penulis minta maaf jika ada kesalahan dalam penulisan dan penulis
juga mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan
tugas ini.
Akhir kata penulis ucapkan terima kasih semoga dapat bermanfaat dan
bisa menambah pengetahuan bagi pembaca.

Medan,14 November 2017

2
DAFTAR ISI

EXCECUTIVE SUMMARY ................................................................................ 1


KATA PENGANTAR ......................................................................................... 2
DAFTAR ISI ...................................................................................................... 3

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ................................................................. 4
1.2 Identifikasi Masalah ........................................................................ 4
1.3 Batasan Masalah ............................................................................ 4
1.4 Rumusan Masalah .......................................................................... 5
1.5 Tujuan Survey ................................................................................. 5
1.6 Manfaat Survey ............................................................................... 5
BAB II. LANDASAN TEORI
2.1 Teori Kepemimpinan ....................................................................... 6
2.2 Konsep dan Nilai-Nilai Kepemimpinan etnik.................................... 9
2.3 Kerangka Berpikir ...........................................................................11
BAB III.METODE SURVEY
3.1 Tempat dan Waktu Survey .............................................................17
3.2 Subject Survey ................................................................................17
3.3 Teknik Pengambilan Data ...............................................................17
3.4 Instrumen Survey ............................................................................17
3.5 Teknik analisis data .........................................................................17
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Hasil Survey ..................................................................18
4.2 Pembahasan ...................................................................................19
4.3 Temuan Lapangan ..........................................................................24
BAB V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan .....................................................................................25
5.2 Saran ...............................................................................................25

DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................26


LAMPIRAN ........................................................................................................27

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Indonesia kaya akan berbagai suku dan bangsa. Setiap tradisi dan budaya
lokal di setiap daerah memiliki cirri khas yang beraneka ragam. Aturan adat dan
tradisi serta norma-norma yang berkembang dalam masyarakat diwariskan secara
turun temurun dari generasi kegenerasi.

Sebuah daerah sama halnya seperti sebuah organisasi. Sebuah organisasi


memiliki struktur dan aturan-aturan yang telah ditetapkan. Begitu juga dengan
sebuah daerah, pasti memiliki struktur kepemimpinan daerah local dan diikat
dengan aturan-aturan yang sesuai dengan kondisi daerah tersebut.

Salah satu contoh daerah yang masih kental dengan adat dan tradisi
adalah Sumatera Utara, khususnya suku Batak Toba. Suku batak toba memiliki
banyak keunikan yang sangat menarik untuk diteliti. Mini riset ini kami lakukan
untuk meneliti bagaimana sebenarnya struktur kepemimpinan dalam adat suku
Batak Toba.

1.2 Identifikasi Masalah


1. Pendapat narasumber tentang pengertian kepemimpinan di suku batak
toba.
2. Struktur kepemimpinan di suku batak toba.
3. Apa saja tugas dan fungsi setiap komponen yang termasuk dalam struktur
kepemimpinan suku batak toba

1.3 Batasan Masalah


Agar penelitian ini dapat dilakukan lebih fokus, sempurna, dan mendalam
maka penulis memandang permasalahan penelitian yang diangkat perlu dibatasi
variabelnya. Oleh sebab itu, penulis membatasi diri hanya berkaitan dengan
Struktur Kepemimpinan dalam suku Batak Toba.

4
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah yang telah penulis pilih maka dapat
dirumuskan permasalahan penelitian ini sebagai berikut:

1. Apa saja struktur dalam suku adat batak toba?


2. Apa saja fungsi komponen yang ada dalam suku adat batak toba?
3. Siapa saja tokoh bersejarah dalam suku batak toba?

1.5 Tujuan Survey


1. Untuk menylesaikan tugas mini riset kepemimpinan
2. Untuk meneliti kepemimpinan di suku batak toba

1.6 Manfaat Survey


1. Supaya mengetahui kepemimpianan di batak toba
2. Supaya mengetahui pendapat ahli mengenai kepemimpinan di batak toba

5
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Teori Kepemimpinan


A. Defenisi Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan suatu upaya dari seorang pemimpin untuk
dapat merealisasikan tujuan organisasi melalui orang lain dengan
komunikasi, kerja sama, motivasi agar orang lain tersebut mau
melaksanakannya dan untuk itu diperlukan adanya keseimbangan antara
kebutuhan individu para pelaksana dengan tujuan perusahaan.
Yukl, (2010) mendefinisikan kepempinan adalah proses mempengaruhi
orang lain untuk memahami dan setuju tentang apa yang perlu dikerjakan
dan bagaimana tugas itu dapat dilakukan secar efektif dan proses untuk
memfasilitasi usaha individu dan kelompok untuk mencapai tujuan
bersama. Drucker, (2011) mendefinsikan kepemimpinan adalah saat
dimana seseorang mampun membuat visi organisasi yang tinggi dengan
mengeluarkan semua kemampuanya sampai batasnya.Dari pengertian di
atas, dapat disimpulkan bahwa pemimpin adalah seseorang yang memiliki
kemampuan khusus dalam mempengaruhi orang lain dalam kelompoknya
dengan atau tidak tanpa pengangkatan secara resmi untuk mencapai
tujuan tertentu.Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi
penggerakkan (actuating) dalam manajemen. Fungsi penggerakkan
mencakup kegiatan memotivasi,kepemimpinan, komunikasi, pelatihan, dan
bentuk-bentuk pengaruh pribadilainnya. Fungsi tersebut juga dianggap
sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang
perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi.
Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena unsur
manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi.
Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah
diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi.
Budaya merupakan segala sesuatu yang diperoleh dari hasil cipta, rasa dan
karya manusia, diatur dan disepakati bersama untuk dijadikan tradisi,

6
mempengaruhi cara berfikir cara bersikap dan berperilaku bagi setiap individu
dalam masyarakat untuk diberlakukan secara terus menerus.
Hofstede,( 1993) mengemukakan budaya adalah pemrograman pikiran secara
kolektif yang membedakan sekelompok manusia satu dengan kelompok yang lain
(culture is the collective programming of mind which distinguishes one human
group to another).
Konsep kepemimpinan yang ditanamkan dalam budaya batak adalah dalihan
natolu. Menurut Aritonang, (2006) konsep dalihan natolu memilki arti yakni tungku
yang berkaki tiga, bukan berkaki empat atau lima. Tungku yang berkaki tiga
sangat membutuhkan keseimbangan yang mutlak. Jika satu dari ketiga kaki
tersebut rusak, maka tungku tidak dapat digunakan.
Konsep kepemimpinan Batak yakni Dalihan naTolu sangat bermakna yang
terdiridari 3 aspek kepemimpinan yaitu: Somba Marula-ula Elek Marboru,Manat
Mardongan Tubu.

B. Karakteristik Kepemimpinan
Ada 10 karakteristik dalam kepemimpinan yaitu :

1. Penyingkapan diri

2. Wawasan ( knowledge )

3. Tanggung jawab pribadi

4. Agen perubahan ( Agent of Change)

5. Pengembang

6. Pemegang saham

7. Keterampilan mengatasi stress

8. Ekspresi

9. Menjinakkan anomi perusahaan/organisasi

7
10. Harmoni

C. Perbedaan pemimpin dan manager

a) Manajer mengelola dan Pemimpin Berinovasi


b) Manajer Menerima Status Quo dan Pemimpin Menentang Status Quo
c) Manajer Bertanya Bagaimana dan Kapan,Pemimpin Bertanya Apa dan
Mengapa
d) Manajer Mengandalkan Kontrol dan Pemimpin Membangun Kepercayaan
e) Manajer Menjaga Fungsi Perusahaan dan Pemimpin Membangun Visi
Bersama
f) Manajer Mengatur Sistem dan Pemimpin Memimpin Orang-Orang

D. Kepemimpinan formal dan informal

Kepemimpinan formal ialah kepemimpinan yang memimpin organisasi


formal seperti perusahaan, lembaga pemerintahan (eksekutif, legislative,
yudikatif), organisasi militer, dan sebagainya. Pemimpin formal ialah seseorang
yang oleh organisasi tertentu dipilih sebagai pemimpin, berdasarkan keputusan
dan pengangkatan resmi untuk memegang suatu jabatan dalam struktur
organisasi, dengan segala hak dan kewajiban yang berkaitan dengannya, untuk
mencapai sasaran organisasi yang telah ditetapkan.

Kepemimpinan informal adalah kepemimpinan yang dasarnya tidak dipilih


atau diangkat secara formal. Seseorang menjadi pemimpin informal kalau ia diakui
mempunyai keunggulan fisik, keunggulan psikologi, ilmu pengetahuan dan
keterampilan yang diakui oleh para anggota organisasi. karena memiliki sejumlah
kualitas unggul, dia mencapai kedudukan sebagai orang yang mampu
mempengaruhi kondisi psikis dan perilaku suatu kelompok. Dalam organisasi
formal, pemimpin informal tidak mempunyai wewenang untuk memberi perintah
dan menghukum para anggota organisasi.

8
2.2 Konsep dan Nilai-Nilai Kepemimpinan etnik
Salah satu nilai budaya yang menjadi kebanggaan orang Batak Toba yaitu
sistem hubungan sosial dalihan na tolu yang terwujud dalam hubungan
kekerabatan yang sangat kental berdasarkan keturunan darah (genealogis) dan
perkawinan yang berlaku secara turun-temurun hingga sekarang ini. Sebagai
sistem budaya, dalihan na tolu atau sering juga diterjemahkan dengan istilah
tungku nan tigapengertian tungku nan tiga dalam budaya Batak ini tentu akan
berbeda pengertian dan maknanya dengan nilai budaya lain yang ada di
Sumatera, seperti tungku tiga sejarangan, benang tiga sepilin, payung tiga
sekaki, dan lain sebagainyaberfungsi sebagai pedoman yang mengatur,
mengendalikan dan memberi arah kepada tata laku (perilaku) dan perbuatan
(sikap atau pola tindak) orang Batak Toba. Oleh karena itu dalihan na tolu
merupakan satu sistem budaya yang bagi orang Batak Toba nilai yang
dikandungnya dijadikan tatanan hidup dan sekaligus menjadi sumber motivasi
berperilaku. Orang Batak Toba menghayati dalihan na tolu sebagai satu sistem
nilai budaya yang memberi pedoman bagi orientasi, persepsi, dan definisi
terhadap kenyataan atau realitas (Harahap dan Siahaan, 1987).
Bagi orang Batak Toba salah satu ciri khas dalihan na tolu yang dinilai tinggi
adalah sistem kekerabatan dalam konteks keluarga luas (umbilineal). Dalam
konteks ini dalihan na tolu berperan mengatur hubungan sosial di antara tiga
kerabat secara fungsional, yaitu kerabat semarga (dongan tubu), kerabat
penerima isteri atau yang disebut dengan istilah boru, dan kerabat pemberi isteri
atau yang dikenal dengan istilah hula-hula. Perlu kita ketahui bahwa marga dalam
sistem kekerabatan orang Batak Toba, demikian juga orang Minang, berdasarkan
keturunan sedarah (genealogis) berbeda dengan pengertian fam yang ada di
daerah lain. Oleh karena itu, perkawinan semarga bagi orang Batak sangat
dilarang meskipun daerah asal mereka berbeda. Apabila terjadi perkawinan orang
Batak dengan orang suku lain mereka akan melakukan upacara adat untuk orang
tersebut agar dapat diberikan marga tertentu dari salah satu marga orangtuanya.
Secara operasional hubungan sosial yang dibangun dalam sistem budaya dalihan
na tolu dilakukan dalam bentuk perilaku hati-hati kepada kerabat semarga atau
disebut manat mardongan tubu, perilaku membujuk kepada pihak penerima isteri

9
atau yang dikenal dengan istilah elek marboru, dan berperilaku bersembah sujud
kepada pemberi isteri atau dikatakan juga sebagai somba marhula-hula.
Oleh karena itu, bagi orang Batak Toba pengejawantahan hubungan sosial
yang ada dalam budaya dalihan na tolu menuntut adanya kewajiban individu untuk
bersifat dan berperilaku pemurah kepada orang yang memiliki hubungan kerabat,
yaitu dongan tubu, boru, dan hula-hula. Orang Batak Toba mempunyai tingkat
kepatuhan dan ketaatan dalam hubungan sosial sebagaimana yang diatur dalam
struktur budaya dalihan na tolu sehingga dipersepsi sebagai salah satu cara atau
metode dalam pencapaian kehidupan. Nilai budaya ini dijadikan sebagai
pandangan dan sekaligus tujuan hidup yang dapat dirumuskan sebagai satu
rangkaian tiga kata, yaitu kekayaan (hamoraon), banyak keturunan atau banyak
anak (hagabeon), dan kehormatan (hasangapon). Rangkaian ketiga kata tersebut
diungkapkan dalam petuah adat yang berbunyi molo naeng ho mamora, elek ma
ho marboru, molo naeng ho gabe, somba maho marhula-hula, molo naeng ho
sangap manta ma ho mardongan tubu. Artinya, jika engkau ingin kaya
berperilakulah membujuk kepada pihak penerima isteri atau boru, apabila engkau
ingin mendapatkan keturunan atau anak bersembah sujudlah kepada kerabat
pemberi isteri, dan jika engkau ingin dihormati berhati- hatilah kepada kerabat
semarga. Berdasarkan petuah tersebut orang Batak Toba dalam sistem budaya
dalihan na tolu dituntut berperilaku tolong-menolong atau peduli terhadap kerabat
pada setiap kesempatan dan perilaku tersebut bagi orang Batak Toba dipersepsi
sebagai nilai yang tinggi dan merupakan pula satu perbuatan yang mulia serta
luhur (Pasaribu, 2004). Dalam kehidupan sehari-hari, secara umum orang Batak
Toba mempunyai komitmen yang tinggi terhadap nilai budaya dalihan na tolu. Hal
ini dapat kita lihat bagaimana mereka secara konsisten mematuhi nilai budaya
yang diwarisi oleh leluhurnya tersebut, seperti yang terungkap dalam petatah-
petitih berikut ini omputta na di jolo martungkot siala gundi, adat na pinukka ni
parjolo ingkon ihuthonon ni parpudi. Petuah yang terungkap dalam petatah-petitih
ini mempunyai makna yang dalam sekali, yaitu semua tata aturan yang telah
ditetapkan oleh leluhur mereka harus dituruti dan ditaati serta dilaksanakan secara
turun-temurun. Oleh karena itu, seluruh tatanan nilai adat dan budaya dalihan na
tolu oleh orang Batak Toba dianggap suci. Mereka juga beranggapan bahwa
budaya ini mempunyai nilai sakralitas dalam membangun hubungan sosial bagi

10
kehidupan. Hal ini terungkap dalam petuah adat yang mereka dapat dari
leluhurnya sebagai berikut martagan sipiliton, maransimun so bolaon, adat ni ama
dohot ompu tokka siuban. Nilai yang terkandung dalam petuah adat ini
mengisyaratkan adanya satu kepatuhan dan ketaatan kepada leluhur bahwa adat
yang telah diwarisi oleh leluhur sesunguhnya tidak dapat diubah.

2.3 Kerangka Berpikir


Setiap kelompok masyarakat tertentu akan mempunyai cara yang berbeda
dalam menjalani kehidupannya dengan sekelompok masyarakat yang lainnya.
Cara-cara menjalani kehidupan sekelompok masyarakat dapat didefinisikan
sebagai budaya masyarakat tersebut. Satu definisi klasik mengenai budaya
adalah sebagai berikut, budaya adalah simbol-simbol sistem dianut bersama,
yang maknanya dipahami oleh kedua belah pihak dengan persetujuan (Parson,
1980) menjalani kehidupannya dengan sekelompok masyarakat yang lainnya.
Cara-cara menjalani kehidupan sekelompok masyarakat dapat didefinisikan
sebagai budaya masyarakat tersebut. Satu definisi klasik mengenai budaya
adalah sebagai berikut, budaya adalah simbol-simbol sistem dianut bersama,
yang maknanya dipahami oleh kedua belah pihak dengan persetujuan (Parson,
1980).
Hofstede, (1993) mengemukakan budaya adalah pemrograman pikiran
secara kolektif yang membedakan sekelompok manusia satu dengan kelompok
yang lain (culture is the collective programming of mind which distinguishes one
human group to another). Definisi tersebut menunjukkan bahwa budaya
merupakan cara menjalani hidup dari suatu masyarakat yang ditransmisikan
pada anggota masyarakatnya dari generasi ke generasi berikutnya. Proses
transmisi dari generasi ke generasi tersebut dalam perjalanannya mengalami
berbagai proses distorsi dan penetrasi budaya lain. Hal ini dimungkinkan karena
informasi dan mobilitas anggota suatu masyarakat dengan anggota masyarakat
yang lainnya mengalir tanpa hambatan.
Taylor, (1871) mengemukakan kebudayaan adalah kompleks keseluruhan dari
pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan semua
kemampuan dan kebiasaan yang lain yang diperoleh oleh seseorang sebagai
anggota masyarakat. Bila dinyatakan lebih sederhana, kebudayaan adalah segala

11
sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara sosial oleh para anggota
suatu masyarakat. Seseorang menerima kebudayaan sebagai bagian dari warisan
sosial dan bisa membentuk kebudayaan kembali dan mengenalkan perubahan-
perubahan yang kemudian menjadi bagian dari warisan generasi berikutnya.
Kebudayaan Batak mengandung unsur-unsur yang memiliki kesamaan
dengan kebudayaan daerah lain di Indonesia, bahkan terdapat unsur-unsur
universal-nya. Penjabaran rumusan tersebut meliputi banyak unsur, seperti adat-
istiadat, bahasa, sopan santun, kaidah pergaulan, kesusastraan, kesenian,
keindahan (estatika), mistik, falsafah dan apapun yang temasuk unsur
kebudayaan pada umumnya.
Salah satu unsur budaya Batak diantaranya adalah bahasa Batak. Bahasa
Batak sebagai produk masyarakat Batak mencerminkan budaya Batak. Sifat dan
perilaku budaya masyarakat Batak akan dapat dilihat melalui bahasanya.
Ungkapan yang melebur ke dalam kepemimpinan nasional Indonesia diantaranya
seperti somba marula-ula, elek marboru dan manat mardongan tubu.
Salah satu unsur budaya Batak diantaranya adalah bahasa Batak. Bahasa
Batak sebagai produk masyarakat Batak mencerminkan budaya Batak. Sifat dan
perilaku budaya masyarakat Batak akan dapat dilihat melalui bahasanya.
Ungkapan yang melebur ke dalam kepemimpinan nasional Indonesia diantaranya
seperti somba marula-ula, elek marboru dan manat mardongan tubu.
Aritonang, (2006) mengemukakan pengertian ungkapan tersebut
adalah:1.Somba Marula-ula : ada yang menafsirkan pemahaman ini menjadi
menyembah hula-hula, namun ini tidak tepat. Memang benar kata Somba, yang
tekanannya pada som berarti menyembah, akan tetapi kata somba disini
tekananya ba yang adalah kata sifat dan berarti hormat. Sehingga somba Marula-
ula berarti hormat pada sesama.2.Elek Marboru artinya lemah lembut terhadap
perempuan. Rasa sayang yang tidak memiliki sifat tersembunyi atau
pamrih.3.Manat mardongan tubu adalah suatu sikap berhati-hati kepada sesame
agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam kegiatan adat.
Robbins, (2013) mengemukakan kepemimpinan adalah kemampuan
seseorang untuk mempengaruhi suatu kelompok (masyarakat dalam suatu
organisasi formal maupun tidak formal) ke arah terciptanya tujuan. Seseorang
dapat menjalankan suatu kepemimpinan semata karena kedudukannya dalam

12
organisasi, tetapi tidak semua pemimpin itu adalah pemimpin. Dari pengertian
tersebut dapat disimpulkan sementara bahwa kepemimpinan adalah kemampuan
seseorang untuk mempertemukan keinginan antara pengikut dengan pemimpin
sehingga pengikut bersedia mengikuti pemimpin dengan sukarela, penuh
dedikasi serta komitmen karena adanya kepercayaan.
Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena unsur
manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi.
Kepemimpinan terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan
organisasi terdiri dari para manajer, para supervisor, dan para pelaksana. Manusia
memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-
masing, yang bahkan saling berbeda. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar
individu di dalam organisasi, tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana
individu tersebut berada. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal
yang sederhana, namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam. Tanpa
kepemimpinan yang baik, hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan
pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan. Kepemimpinan sangat
diperlukan agar semua sumberdaya dalam organisasi dapat digerakkan untuk
merealisasikan tujuan organisasi.
Kepemimpinan yang efektif hanya akan terwujud apabila dijalankan sesuai
dengan fungsinya. Fungsi kepemimpinan itu berhubungan langsung dengan
situasi sosial dalam kehidupan kelompok/organisasi masing-masing, yang
mengisyaratkan bahwa setiap pemimpin berada di dalam dan bukan di luar situasi
itu. Pemimpin harus berusaha agar menjadi bagian di dalam situasi social
kelompok/organisasinya.
Pemimpin yang membuat keputusan dengan memperhatikan situasi sosial
kelompok/organisasinya, akan dirasakan sebagai keputusan bersama yang
menjadi tanggung jawab bersama pula dalam melaksanakannya. Dengan
demikian akan terbuka peluang bagi pemimpin untuk mewujudkan fungsi-fungsi
kepemimpinan sejalan dengan situasi sosial yang dikembangkannya.
Sistem kepemimpinan Batak sangat berpengaruh terhadap kehidupan Batak,
karena kepemimpinan Batak sangat dipengaruhi oleh budayanya. Budaya batak
secara kuat mempengaruhi kepemimpinan Batak yang sangat unik dan khas.
(Rajamarpodang Gultom1992) menekankan bahwa sistem pemerintahan

13
Harajaon Batak Toba tidak boleh dibandingkan dengna sistem pemerintahan
dengan bentuk sekarang, dimana suatu negara dipimpin oleh seorang kepala
negara. Budaya batak mempengaruhi kepemimpinan batak.
Wujud pancaran kuasa Mulajadi Na Bolon ini nyata pada paham yang dianut
sebagai: pertama, Debata Na Tolu pada fungsi kebijakan. Kedua, Batara Guru
pada fungsi kebenaran dan kesucian. Ketiga, Debatasori Sohaliapan/
Debatabalabulan pada fungsi kekuatan. Orang Batak yakin bahwa setiap
pemimpin Batak Toba sejak dari Siraja Batak sampai dengan Sisingamangaraja
XII semuanya merupakan titisan Mulajadi Na Bolon. Keyakinan inilah yang
membuat maka setiap pemimpin Harajaon Batak menjadi kepala pemerintahan,
pemimpin ugamo sekaligus Raja Adat. Hal ini jelas kelihatan ketika Raja
Sisingamangaraja XII memimpin Harajaon Batak (Rajamarpodang Gultom
1992)melalui konsep Dalihan NaTolu ( tungku berkaki tiga) yang merupakan
penerapan kuasa Mulajadi Na Bolon di bumi ini (Rajamarpodang Gultom 1992).
Sejak munculnya Siraja Batak (sebagai asal/nenek moyang semua orang
Batak), ia terlebih dahulu mengkonsolidasikan pemerintahannya untuk
melanjutkan kuasa kerajaan Batak dengan terlebih dahulu menanamkan
kesadaran berbangsa dan bernegara dengan penanaman pandangan ideal
Dalihan Na Tolu sesuai dengan pandangan kepercayaan Batak terhadap Mula
Jadi Nabolon. Siraja Batak adalah kepala Negara sekaligus sebagai kepala
pemerintahan, pemimpin keagamaan dan Raja Adat. Karena pemerintahan belum
dapat dijalankan sesuai dengan kedudukannya sebagai kepala Negara maka jalan
satu-satunya yang ditempuh adalah dengan menyatukan masyarakatnya dengan
keagamaan dengan adat istiadat. Keagamaan dan adat istiadat sudah dapat
dijalankan dengan baik, tetapi dalam hal pemerintahan belum terlaksana dengan
sempurna dalam pengertian yang sebenarnya menurut hukum ketatanegaraan.
Sementara itu nyata bahwa sudah datang pula paham-paham baru yang
mempengaruhi pandangan masyarakat Batak.
Menurut T.M.Sihombing Dalihan Na Tolu atau yang sering disebut dengan
Tungku nan Tiga adalah suatu ungkapan yang menyatakan kesatuan hubungan
kekeluargaan pada suku Batak. Sedangkan menurut Kamus Budaya Batak Toba
yang disebut dengan Dalihan Na Tolu adalah dasar kehidupan bermasyarakat

14
bagi seluruh warga masyarakat Batak, yang terdiri dari tiga unsur atau kerangka
yang merupakan kesatuan yang tak terpisah (Marbun dan Hutapea, 1987: 37).
Istilah Dalihan Na Tolu berasal dari kata Dalihan yang artinya Tungku dan Na
Tolu berarti Nan Tiga. Jadi dalam hal ini ada tiga buah batu yang membentuk satu
tungku. Tungku yang terdiri dari tiga batu tersebut adalah landasan atau dasar,
tempat meletakkan dengan kokoh periuk untuk memasak.
Suatu tungku baru dapat disebut tungku yang sederhana dan praktis bila terdiri
dari tiga buah batu yang membentuk suatu kesatuan atau tritunggal. Hal inilah
yang menjadi kesamaan bentuk kesatuan tritunggal pada suku Batak yang terdiri
dari 3 unsur hubungan kekeluargaan. Banyak sekali tritunggal, namun tritunggal
ketiga batu tungkulah yang dijadikan orang Batak menjadi simbol hubungan
kekeluargaanya.
Menurut orang Batak, tungku mempunyai kesamaan (analogi) dengan
hubungan kekeluargaan. Persamaannya secara terperinci adalah sebagai berikut
:a.Tungku tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari.Manusia
memerlukan makanan untuk hidup. Berbicara tentang makanan, selalu terkait
dengan dalihan (tungku) yaitu alat untuk memasak makanan. Selain itu tungku
mempunyai fungsi yang lain yaitu tempat untuk berdiang menghangatkan tubuh
dari udara dingin. Oleh karena itu pada masa lalu, manusia tidak dapat hidup
wajar (di Toba) tanpa adanya dalihan (tungku). Falsafah Batak tentang tungku
tercermin dalam ungkapan berikut ini:Si dua uli songon na mangkaol dalihan,
Masak sipanganon huhut malum na ngalian.Artinya: Memeluk (mempergunakan)
tungku memberi keuntungan yaitu makanan masak, dan hilang perasaan
dingin.Dalihan Na Tolu adalah falsafah yang melandasi hubungan sosial
masyarakat Batak. Dengan berpedoman pada Dalihan Na Tolu, segera dapat
ditentukan status, fungsi, dan sikap sosialnya dalam berhubungan dengan
anggota masyarakat lainnya.b.Dalihan Na Tolu atau Tungku nan Tiga, ketiga batu
tungku sebagai satu kesatuan adalah landasan atau dasar tempat meletakkan
dengan kokoh periuk untuk menanak atau memasak lainnya, sehingga tidak ada
isi periuk yang tumpah dan dapat masak dengan sempurna.
Demikian dengan halnya Dalihan Na Tolu, berfungsi dengan sempurna
menopang masyarakat Batak secara penuh keseimbangan. Kalau ada persoalan
seperti kemalangan atau musibah, akan ditopang dan ditanggulangi oleh ketiga

15
unsur Dalihan Na Tolu secara bersama-sama sesuai dengan kedudukannya
masing-masing, sehingga beban yang berat akibat musibah atau kemalangan
dapat teratasi dengan baik.c.Untuk memanaskan atau memasak harus ada api.
Api yang ada di tungku harus tetap menyala, agar tungku tersebut dapat
berfungsi dan bermanfaat dengan sempurna. Api yang menghidupkan hubungan
sosial dan solidaritas sesama orang Batak adalah marga.
Dongan sabutuha, hula-hula, dan boru yang merupakan unsur Dalihan Na
Tolu, merupakan suatu lembaga adat atau dewan musyawarah yang akan
menentukan segala hal dalam kelompoknya. Dalihan Na Tolu memiliki mekanisme
untuk menyelesaikan semua konflik yang terjadi di kelompoknya melalui
musyawarah keluarga dekat, rapat adat ataupun rapat warga. Unsur - unsur
Dalihan Na Tolu dapat berfungsi sebagai mediator diantara dua pihak yang
sedang berkonflik. Tetapi jika mediasi ini mengalami kegagalan, maka hula-hula
dapat bertindak sebagai arbitrator yang menyelesaikan konflik dengan
menggunakan kekuasaannya untuk mengambil keputusan yang bersifat memaksa
( Sigalingging, 2000: 17).

Gambar Kerangka Pemikiran Penelitian

16
BAB III
METODE SURVEY

3.1 Tempat dan Waktu Survey


Tempat survey : Unimed
Waktu Survey : Jam 15:30
Tanggal Survey : 13 November 2017

3.2 Subject Survey


Nama : Septian siallagan
Alamat : Jalan tuasan
Umur : 25 tahun
Suku : Batak toba

3.3 Teknik Pengambilan Data


Teknik pengambilan data dengan mewawancarai narasumber atau orang yang
mengetahui tentang kepemimpinan adat batak toba

3.4 Instrumen Survey


1. Bagaimana struktur kepemimpinan di suku Batak Toba?
2. Apa saja tugas dan fungsi pemimpin di Batak Toba?
3. Bagaimana kepemimpinan dalam adat Batak Toba ?
4. Bagaimana proses menjadi pemimpin dalam adat Batak Toba ?

5. Adat istiadat dalam suku Batak Toba adalah contoh seperti adat istiadat?

3.5 Teknik analisis data


Membuat tabel dan struktur kepemimpinan di batak toba.

17
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Hasil Survey

Masyarakat batak Tua mempunyai kepercayaan bahwa DALIHAN NA TOLU


adalah penerapam kuasa Mulajadi Na Bolon. Mulajadi Na Bolon merupakan
sebuah konsep mistis dan religius sebagai sumber kebenaran dan kekuasaan.
Mulajadi Na Bolon sebagai kepercayaan yang lama berkembang dalam
masyarakat Batak mempunyai wujud pancaran kekuasan Debata Na Tolu yaitu :

1. Batara guru sebagai fungsi kebijakan (Fungsi kebenaran)


2. Debatasori Sohaliapan sebagai kesucian
3. Debata Balabulan sebagai fungsi kekuatan

Dari keyakinan tersebut ada anggapan dan kepercyaan bahwa setiap pimpinan
dan pemimpin Batak sejak dari Si Raja Batak sampai dengan SI Singamangaraja
XII adalah merupakan titipan Mulajadi Na Bolon. Keyakinan ini pula yang
membuat setiap pemimpin Harajaaon Batak menjadi Kepala Pemerintahan,
Pemimpin Ugamo dan Raja Adat. Semua kekuasaan bertumpu pada satu tangan
dan dia merupakan Primus Interpares . Hal ini jelas kelihatan pada saat Raja Si
Singamangaraja XII memimpin Harajaon Batak. Mungkin hal inilah yang membuat
si Raja Batak tidak mendirikan istananya dalam bentuk fisik, karena istananya
adalah rakyatnya sendiri. Dan kebudayaan yang berkembang tersebut yang
sesuai pada zamannya sulit untuk di telusuri perkembangan dan perubahan yang
terjadi pada masyarakat Batak Tua.
Jika membahas masalah Pemerintahan Batak Tradisional, maka yang ada adalah
sistem kekerababatan atau kemasyarakatan batak yang selalu berlandaskan
Dalihan Na Tolu, yang hidup dan berkembang dalam bentuk budaya, yang sampai
saat ini, warisan budaya tersebut masih hidup dan berkembang ditengah-tengah
masyarakat Batak modern.
Dalam tataran terentu, sistem kebudayaan bersifat universal. Demikian pula
halnya dengan nilai Budaya Batak, sehingga dalam setiap hubungan

18
kemasyarakatan yang memegang peranan adalah Hukum Adat, termasuk
didalamnya penyelesaian setiap sengketa atau pertikaian. Timbulnya
permasalahan-permasalahan dalam kehidupan bermasyarakat, sebagai akibat
dari adanya benturan-benturan antara kepercayaan Agama (religion) dengan
keyakinan budaya yang berkembang serta hukum yang berlaku dengan Hukum
Budaya Adat. Benturan yang terjadi menghasilkan sebuah generalisasi bahwa
budaya yang ada serta penerapannya tidak dapat dilakukan secara konsekwen
sebagai akibat dari kemajuan zaman, atau ketertinggalan budaya mensejajarkan
diri dengan kemajuan zaman. Karena hal tersebut, maka pada masyarakat Batak
Tradisional. Lembaga-lembaga Adat yang di bentuk ( atau terbentuk) berperan
dalam menengahi ataupun menyelesaikan setiap permasalahan yang timbul
dalam hubungan kemasyarakatan.

4.2 Pembahasan

Dari hasil pembahasan kami , kami mendapati perkembangan pertumbuhan


kepemimpinan di Batak Toba yaitu Harajaon batak dipimpin oleh Si Raja batak
mula-mula berpusat di Pusuk Buhit, sesuai dengan mitos bahwa orang Batak
pertama sekali berawal dari Sianjur Mula-mula (Limbong Sagala). Harajaon itu
kemudian berkembang sampai ke Bakkara pada Dinasti Si Singamangaraja I.
Harajaon Batak terdiri atas 4 (empat) wilayah yang disebut Raja Maropat yaitu :

1. Raja Maropat Samosir dengan wilayah Pulau Samosir dan sekitarnya


2. Raja Maropat Humbang dengan wilayah daerah Humbang sekarang
sampai ke Samudera hindia dan Aceh (singkil)
3. Raja Maropat Silindung, dengan wilayahnya Silindung sekarang sampai
samudera Hindia dan perbatasan Pagaruyung.
4. Raja Maropat Toba dengan wilayahnya Toba sekarang sampai dengan
pantai Timur berbatasan dengan Riau (kerajaan Johor)

Secara terperinci struktur harajaon Batak terdiri dari mulai unit bius, sebagai
wilayah daerah pemerintahan yang bersatu dengan Ugamo dan Adat. Maka
pengertian Bius sekarang adalah sebuah wilayah kebudayaan. Kemudian tiap
Bius terdiri dari Horja, yang juga merupakan wilayah kekuasaan pemerintahan,

19
Ugamo dan Adat. Satu Horja adalah gambaran dari kesatuan Paradaton
kemudian tiap Horja terdiri dari beberapa Lumban atau Huta Bolon yang juga
sebagai wilayah Pemerintahan Ugamo dan Adat dan didukung oleh marga-marga
(genealogis). Struktur dan sistem demokrasi yang bertingkat dan sederhana ini
mengandung prinsip Check and balance yang digambarkan dengan ungkapan
Huta do mula ni Horja, horja do mula ni Bius
Sistem Pemerintahan Harajaon Batak pada masa lalu tidak bisa dibandingkan
dengan sistem pemerintahan sekarang, dimana satu negara dipimpin oleh
seorang Kepala Negara. Munculnya Si Raja batak baru ada ketika Kerajaan Haru
di taklukkan oleh Rayendra Cola III dari India Selatan tahun 1029. Gelapnya
perjalanan sejarah masyarakat Batak sejak dahulu hanya terungkap sedikit, yang
menyatakan bahwa sepanjang pulau Sumatera sudah ada rumpun Batak yang
disebut sebagai Melayu Tua, yang mendirikan kerajaan di Pulau Sumatera.
Si Raja Batak adalah Kepala Negara, kepala pemerintahan, pemimpin agama,
dan raja adat. Karena pemerintahan belum dapat dijalankan sesuai dengan
kedudukan sebagai kepala negara maka jalan satu-satunya yang ditempuh
adalah dengan jalan menyatukan masyarakatnya dengan sistem keagamaan dan
adat istiadat. Pada saat itu pemerintahan belum terlaksana dengan sempurna
dalam pengertian sebenarnya menurut hukum dan ketatanegaraan. Tetapi
keagamaan dan adat istiadat sudah berjalan dengan baik.
Harajaon Batak berpusat di Bakkara pada Dinasti Raja Si Singamangaraja
berperan sebagai kepala pemerintahan, pemimpin ugamo dan adat. Raja Si
Singamangaraja sebagai pemimpin kerajaan tersebut di dampingi oleh para cerdik
cendikiawan yang disebut dengan Parmalim. Para Parmalim diangggap orang
suci, di samping sebagai petugas ugamo dia berkedudukan pula sebagai pemberi
pandangan dan nasehat kepada Raja Si Singamangaraja untuk menyusun
kegiatan apa yang harus dilakukan rakyatnya tiap-tiap tahun. Sedangkan
panglima-panglimanya adalah dari daerah-daerah Raja Maropat.
Walaupun disebutkan terdapat pembagian wilayah Harajaon Batak, pada
hakekatnya sistem pemerintahan Raja Si Singamangaraja ia langsung
memerintah rakyatnya. Sekali amanat Raja Si Singamangaraja dikatakan maka
titah tersebut akan menyebar dengan begitu cepat keseluruh wilayah Harajaon
dan dilaksanakan oleh rakyatnya dengan penuh kesungguhan. Hal ini didasarkan

20
dengan keyakinan bahwa setiap pemimpin Batak sejak dari Si Raja Batak sampai
pada Raja Si Singamangaraja XII adalah merupakan titisan Mulajadi Na Bolon.
Sebelum sistem pemerintahan dapat berjalan dengan sempurna, maka
Raja Maropat hanya dapat bertindak dalam lingkungan musyawarah mewakili
wilayah masing-masing dan masih belum dapat terwujud dalam bentuk Kepala
wilayah pemerintahan yang mempunyai wewenang sebagaimana pembagian
wilayah berdasarkan struktur pemerintahan. Sistem Pemerintahan Batak
Tradisional baru jelas kelihatan pada wilayah dalam bentuk Bius, Horja,
Lumban/Huta Bolon dan Huta.
Disamping keberadaan parmalim sebagai petugas Ugamo, sebagai cerdik
cendikiawaan mereka selalu meneliti apa yang berguna bagi rakyat bius. Mereka
selalu mengaitkan kegiatan alam dengan kehidupan manusia dengan melihat dan
mengikuti petunjuk alam. Parhalaan (Perbintangan), Pane Na Bolon (makrosmos)
serta Desa Na Ualu ( arah mata angin). Mereka juga memberi pertimbangan-
pertimbangan kepada raja-raja Bius.
Bius adalah struktur wilayah dari sistem pemerintahan Harajaon batak yang
mempunyai wilayah tertentu dan mempunyai rakyat serta pemerintahan sendiri.
Pusat kegiatan bius disebut Parbiusan dan menjadi tempat persidangan Raja-
raja Bius. Mereka adalah pemilik tuho dari rumpun keluarga mereka sesuai
dengan hikmat kebijaksanaan yang dimiliki berdasarkan kelahiran atau Partubu.
Apa yang menjadi keputusan Raja-raja bius adalah sah dan mutlak menjadi
keputusan rumpum keluarga yang diwakilinya. Raja-raja bius bisa memilih Raja
Na Opat yang membantunya dalam kegiatan pemerintahan sehari-hari, sesuai
dengan keahliannya masing-masing yaitu:

1. Raja Parmalim yang berfungsi merencanakan dan menata organisasi


bidang kepercayaan rakyat Bius (Religi)
2. Raja Adat, yang berfungsi merencanakan dan menata mengenai Uhum
(hukum) dan Paradaton (Adat)
3. Raja Parbaringin, yang berfungsi merencanakan dan menata bidang
sosial politik dan keamanan Bius
4. Raja Bondar yang berfungsi merencanakan dan menata perekonomian

21
Pimpinan Bius yang disebut Ulu Bius dipilih oleh raja-raja bius. Ulu bius pada
mulanya disebut ihutan karena fungsinya sama dengan Primus Interpares yang
dituakan sesama mereka dan kemudian berkembang menjadi Raja adat,
Pemimpin Ugamo dan Pemimpin Pemerintahan. Raja-raja Bius dari sudut
keberadaanya adalah berasal dari Raja Jolo marga dan dapat diwakili oleh Anak
Sibulang-bulangan marga itu sendiri. Raja-raja bius adalah wakil dari Horja.

Kembali pada peran Raja Na Opat, setiap rencana dari Raja Na Opat
disampaikan kepada Raja-raja bius, apabila rencana tersebut telah mendapat
persetujuan dari Raja-raja Bius maka akan diteruskan kepada Ihutan untuk
direstui, lalu di umumkan pada rakyat bius melalui Ulubalang dengan memukul
gong (ogung) sekeliling bius. Dan sebaliknya apabila ada rencana dari ihutan
yang hendak yang hendak dijalankan pada wilayah bius, maka rencana tersebut
diminta persetujuan dari Raja-raja Bius atau disodorkan kepada bius atau
Parbaringin, lalu di umumkan melalui Ulubalang juga dan dilaksanakan ole Raja
Na Opat bius. Kedudukan Ihutan adalah untuk mengayomi program-program
tadi.
Sebagai pelaksana dilapangan disebut sebagai Parhobas dengan sebutan
sebagai Raja dan Pande. Seperti Raja Bondar yang mengurusi tali air, Raja
Parhata yang bertugas memberi penjelasan kepada masyarakat, Pande bosi atau
Pandai Besi atau Pande ruma yang mempunyai keahlian di bidang masing-
masing.
Yang menyangkut Hukum, baik Hukum yang menyangkut Perdata maupun
yang menyangkut Pidana termasuk adat adalah di tangan Raja-raja bius pemilik
Tuho, setelah mendengar Panimbangi atau Ihutan. Dalam hal ini Panimbangi
juga berasal dari marga-marga tanah yang ahli akan masalah itu, atau juga ahli
dalam masalah-masalah tertentu. Kuasa untuk menyetujui dan melaksanakan
suatu ketetapan berada ditangan Raja-raja Bius. Walaupun demikian bukan
berarti bahwa Ihutan tidak memegang peranan. Ihutan pun mempunyai
peranan untuk itu karena dipandang sebagai pemilik hikmat dan kebijaksanaan
karena kedudukannya.
Raja bius juga menentukan semacam pajak bagi masyarakatnya. Sedangkan
untuk Ihutan akan tetap mendapat Upa Raja yang besarnya berdasarkan

22
keikhlasan. Semacam pajak atau gugu oleh masyarakat bius tersebut akan
dipergunakan untuk balas jasa Parhobas untuk membiayai setiap kegiatan yang
sifatnya bersama.
Keunikan sistem Pemerintahan Tradisional ini terliahat dengan digambarkannya
Ihutan sebagai pemimpin pemerintahan, pemimpin Ugamo dan pemimpin adat,
padahal kekuatan utama berada di tangan raja-raja Bius, baik sebagai wakil rakyat
maupun untuk menyelenggarakan pemerintahan berada di tangan Uluan. Dan
hal inilah yang memungkinkan maka wilayah Raja Maropat, wilayah Harajaon dan
kuasa pemerintahan sulit di tuliskan berdasarkan ketentuan bagaimana
sebenarnya Hukum-hukum Tata Negara.
Cita-cita sistem pemerintahan harajaon Batak adalah untuk membentuk Raja
Mar Opat, bius, Horja, Lumban dan Huta menjadi wilayah pemerintahan. Tetapi
hal itu tidak pernah dapat terwujud. Yang dapat terwujud hanyalah membuat Raja
Mar Opat menjadi musyawarah dari wakil-wakil Bius. Yang dapat terwujud
sebagai wilayah daerah Pemerintahan Harajaon batak baru pada tahap Bius,
Horja, Lumban dan Huta.
Secara umum sistem pemerintahan Tradisional Batak ini lebih banyak dilihat
dari sudut kejiawaan yang berhikmat. Hukum lahir memang kuat tetapi ikatan yang
paling mendasar adalah dari segi kerohanian yang dianggap Spritual.
Dalam kehidupan orang batak toba lahir nya anak laki laki merupakan
lahirnya harapan penerus kepemimpinan marga . karena dalam kepemimpinan
adat batak toba seorang laki laki yang akan menjadi pemimpin dalam acara acara
adat tertentu .
Harus memenuhi syarat harajaon yang memiliki kriteria syarat moral
. Masyarakat sudah mulai melakukakan penggemblengan bibit , bebet , bobot
pada keturunan nya .

Masyarakat batak sangat menjunjung tinggi adatnya , Untuk masyarakat batak


sebelum lahir kedunia pun sudah melakoni acara adat sampai seorang batak
tersebut menjadi tulang pun masih a da serangkaian acara adat .

23
4.3 Temuan Lapangan

Kami Menemukan struktur kepemimpinan yang baru di Batak Toba yaitu:

SI RAJA BATAK

RAJA MAROPAT Sebagai wilayah musyawarah, tidak otonom

BIUS-BIUS Wilayah yang otonom dipimpin oleh Ulu Bius


atau Ihutan

HORJA
Wilayah yang otonom dipimpin oleh Raja Oloan

LUMBAN Wilayah yang otonom dipimpin oleh Raja Huta

HUTA Wilayah yang otonom dipimpin oleh Raja Huta

24
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasannya, maka dapat diambil suatu


kesimpulan sebagai berikut:
Dengan filosofi tersebut, kepemimpinan sangat kental penekanan tiga prinsip
yaitu:
1)Somba Marula-ula yang menekankan pentingnya untuk menghormati orang lain
2)Elek Marboru yang menekankan pentingnya untuk berlaku lembut kepada orang
lain dan
3) Manat Mardongan Tubu yang menekankan untuk berbaiklah kepada sesama
manusia.Gaya kepemimpinan Batak dengan berpegang pada prinsip Dalihan na
Tolu tersebut.

5.2 Saran

Pemerintah hendaknya membuat pemetaan terhadap jumlah keseluruhan etnis


dan budaya di Indonesia melalui Provinsi masing-masing, untuk selanjutnya
memb erdayakan tokoh adat dan kekerabatannya untuk berpartisipasi dalam
mengambil keputusan dengan bergandeng dengan DPRD dalam rangka
pelaksanaan otonomi daerah yang dituangkan dalam peraturan daerah sebagai
dasar hukum kebijakan yang dibuat oleh kepala daerah bersama-sama dengan
DPRD, sehingga keberadaan masyarakat hukum adat jelas sebagai partisipan
pelaksanaan pembangunan di daerah, baik Provinsi maupan Kabupaten/kota.

25
DAFTAR PUSTAKA

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=474854&val=4727&title=PER
AN%20KEPEMIMPINAN%20BATAK%20(Studi%20Eksplorasi%20pada%20Gane
sha%20Operation%20Medan)

https://media.neliti.com/media/publications/78784-ID-kearifan-lokal-batak-toba-
dalihan-na-tol.pdf

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/50489/Chapter%20I.pdf;jse
ssionid=395FB455EC8F2DA42D98651072FB1962?sequence=5

https://www.researchgate.net/profile/Muhammad_Takari/publication/307955462_K
EBUDAYAAN_DAN_KEPEMIMPINAN/links/57d3070108ae601b39a423f0/KEBUD
AYAAN-DAN-KEPEMIMPINAN.pdf?origin=publication_detail

26
LAMPIRAN

A. Organisasi Tim dan Tugas Masing-masing Anggota Tim

Dokumentasi : Cindy Pati Karlina


Pembuat Laporan : Utami Ramadhani
Pewawancara : - Andre Bendictus Sianturi
- Hasian LumbanRaja

B. Instrumen survey

1. Bagaimana struktur kepemimpinan di suku Batak Toba?


2. Apa saja tugas dan fungsi pemimpin di Batak Toba?

C. Struktur organisasi

struktur kepemimpinan yang baru di Batak Toba yaitu:

SI RAJA BATAK

RAJA MAROPAT Sebagai wilayah musyawarah, tidak otonom

BIUS-BIUS Wilayah yang otonom dipimpin oleh Ulu Bius


atau Ihutan

HORJA Wilayah yang otonom dipimpin oleh Raja


Oloan

LUMBAN Wilayah yang otonom dipimpin oleh Raja


Huta

HUTA Wilayah yang otonom dipimpin oleh Raja


Huta

27
Tokoh Adat Batak Toba

Gambaran Tentang Rumah Adat Batak Toba

28