Anda di halaman 1dari 44

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Umumnya fraktur disebabkan oleh trauma atau aktivitas fisik dimana


terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang. Fraktur lebih sering terjadi pada
laki-laki daripada perempuan dengan umur di bawah 45 tahun dan sering
berhubungan dengan olahraga, pekerjaan atau luka yang disebabkan oleh
kecelakaan kendaraan bermotor .

Jumlah korban kecelakaan lalu lintas di Indonesia cenderung turun, yaitu


47.401 orang pada tahun 1989, menjadi 32.815 orang pada tahun 1995. Rasio
jumlah korban cedera besar 16,80 per 10.000 penduduk dan rasio korban
meninggal sebesar 5,63 per 100.000 penduduk. Angka kematian tertinggi berada
berada di wilayah Kalimantan Timur, yaitu 11,07 per 100.000 penduduk dan
terendah di Jawa Tengah, yaitu sebesar 2,67 per 100.000 penduduk (Depkes, 1996)

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep dasar fraktur?
2. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan fraktur?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep dasar fraktur
2. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan frakt
2

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian

Banyak sekali batasan yang dikemukakan oleh para ahli tentang fraktur.
Fraktur menurut Smeltzer (2002) adalah terputusnya kontinuitas tulang dan
ditentukan sesuai jenis luasnya. Demikian pula menurut Sjamsuhidayar (2005),
fraktur atau patah tlang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau
tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Sementara Doenges
(2000) memberikan batasan, fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang.
Fraktur adalah patah tulang , biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik
(Price, 1995). Sedangkan fraktr menurut Reeves (2001), adalah setiap retak atau
patah pada tulang yang utuh.

Berdasarkan batasan di atas dapat disimpulkan bahwa, fraktur adalah


terputusnya kontinuitas tulang, retak atau patahnya tulang yang utuh., yang
biasanya disebabkan oleh trauma/rudapaksa atau tenaga fisik yang ditentukan jenis
dan luasnya trauma.

B. Etiologi

Fraktur disebabkan oleh pukulan langsung , gaya meremuk gerakan putir


mendadak dan bahkan kontraksi otot ekstrim (Smeltzer, 2002). Umumnya fraktur
disebabkan oleh trauma di mana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang.
Fraktur cenderung terjadi pada laki-laki , biasanya fraktur terjadi pada umur di
bawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan, atau luka
yang disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor . sedangkan pada orang tua,
perempuan lebih sering mengalami fraktur daripada laki-laki yang berhubungan
dengan meningkatnya insiden yang terkait dengan perubahan hormon pada
monopause
3

C. Prevalensi

Fraktur lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan dengan umur
di bawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan, atau
kecelakaan. Sedangkanpada usia lanjut (usila) prevalensi cenderung lebih banyak
terjadi pada wanita berhubungan dengan adanya osteoporosis yang terkait dengan
perubahan hormon.

D. Klasifikasi Fraktur

Ada lebih 150 klasifikasi fraktur pada tabel 3.1 dapat dilihat beberapa
klasifikasi fraktur menurut beberapa ahli . fraktur tertutup fraktur simpel adalah
fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit atau kulit tida ditembus oleh
fragmen tulang. Sedangkan fraktur terbuka fraktur komplikata/
kompleks/compound) merupakan fraktur dengan luka pada kulit atau membran
mukosa sampai kepatahan tulang. Konsep penting yang harus diperhatikan pada
fraktur terbuka adalah apakah terjadi kontaminasi oleh lingkungan pada tempat
terjadinya fraktr tersebut.

Sehingga fraktur terbuka terbagi dlam beberapa gradasi. Gradasi fraktur


terbuka dibagi menjadi tiga grade I dengan luka bersih kurang dari 1cm panjangnya
grade II luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensi dan grade III
sangat terkontaminasi serta mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif,
merupakan yang paling berat (Smeltzer , 2002)

Fraktur komplit adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan
biasanya mengalami pergeseran (bergeser dari posisi normal). Sebaliknya fraktur
tidak komplit terjadi ketika tulang yang patah hanya terjadi pada sebagian dari
garis tengah tulang.

Berdasarkan klasifikasi price (1995), klasifikasi patah tulang ditinjau


menurut sudut patah terdiri atas fraktur transversal, fraktur oblik dan fraktur spiral.
Fraktur transversal adalah fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu
panjang tulang. Pada fraktur semacam ini, segmen-segmen tulang yang patah
diresposisi atau direduksi kembali ke tempatnya semula, maka egmen-segmen itu
4

akan stabil, dan biasanya mudah dikontrol dengan bidai gips. Raktur oblik adalah
fraktur yang garis patahnya membentuk sudut terhadap tulang. Fraktur ini tidak
stabil dan sulit diperbaiki. Sedangkan fraktur spiral adalah fraktur meluas yang
mengelilingi tulang (Reeves, 2001). Fraktur memuntir biasanya terjadi di seputar
batang tulang (Smeltzer,2002), timbul akibat torsi pada ekstermitas dan merupakan
jenis fraktur rendah energi yang hanya menimbulkan sedikit kerusakan jaringan
lunak serta cenderung cepat sembuh dengan imobilisasi luar (Price, 1995).

Fisura disebabkan oleh beban lama atau trauma ringan yang terus menerus
yang disebut fraktur kelelahan, misalnya diafisis metatarsal (Sjamsuhidayat, 1997).
Fraktur impaksi adalah fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen
tulang lainnya. Sedangkan fraktur kompresi adalah fraktur dimana antara dua
tulang mengalami kompresi pada tulang ketiga yang berada di antaranya (terjadi
pada tulang belakang ).

Fraktur komunitif adalah fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa


bagian serpihan-serpihan di mana terdapat lebih dari dua fragmen tulang.
Sementara fraktur segmental adalah dua fraktur berdekatan pada satu tulang yang
menyebabkan terpisahnya segmen sentral dari suplai darahnya. Untuk fraktur tidak
sempurna, di mana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok
dan sering terjadi pada anak-anak, dinamakan fraktur greenstick.

Fraktur yang ditandai dengan tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau
tendon pada perlekatan disebut fraktur avulsi . fraktur patologis adalah fraktur yang
terjadi pada daerah tulang yang berpenyakit karena terjadinya penurunan densitas
tulang seperti kista tulang, penyakit piaget, metastasistulang, tumor.
5

E. Patofisiologi

F. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan


ekstermitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan warna (Smeltzer,2002).
Gejala umum fraktur menurut Reeves (2001) adalah rasa sakit, pembengkakan, dan
kelainan bentuk.

1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang


diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai
alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antarfragmen tulang.

2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian yang tak dapat digunakan dan cenderung
bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya tetap rigid seperti
normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan
deformitas (terlihat maupun teraba) ekstermitas yang bisa diketahui dengan
membandingkan ekstermitas normal. Ekstermitas tak dapat berfungsi dengan baik
karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melengketnya
otot.
6

3. Pada fraktur tulsng panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena
kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. Fragmen sering
saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5-5 cm (1-2 inchi).

4. Saat ekstermitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan
krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya. Uji
krepitus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lunak yang lebih berat.

5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat
trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa baru terjadi setelah
beberapa jam atau hari setelah cedera.

G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Kedaruratan
Bila dicurigai adanya fraktur, penting untuk melakukan imobilisasi bagian
tubuh segera sebelum klien dipindahkan. Bila klien mengalami cedera sebelum
dapat dilakukan pembidaian, ekstermitas harus disangga di atas sampai bawah
tempat patahan untuk mencegah gerakan rotasi maupun angulasi. Pembidaian
sangat penting untuk mencegah kerusakan jaringan lunak oleh fragmen tulang.
Gerakan fragmen patahan tulang dapat menyebabkan timbulnya rasa nyeri,
kerusakan jaringan lunak, dan perdarahan lebih lanjut. Nyeri yang terjadi karena
fraktur yang sangat berat dapat dikurangi dengan menghindari fragmen tulang.
Daerah yang cedera diimobilisasi dengan memasang bidai sementara dengan
bantalan yang memadai, dan kemudian dibebat dengan kencangnamun tetap harus
memperhatikan nadi perifer. Imobilisasi tulang panjang ekstermitas bawah dapat
juga dilakukan dengan membebat kedua tungkai bersama, dengan ekstermitas yang
sehat bertindak sebagai bidai bagian ekstermitas yang cedera.
Luka ditutup dengan pembalut steril (bersih) untuk mencegah kontaminasi
jaringan yang lebih dalam pada luka terbuka. Jangan sekali kali melakukan reduksi
fraktur, bahkan bila ada fragmen tulang yang keluar melalui luka/ menembus kulit.
Evaluasi klien dengan lengkap. Pakaian dilepas dengan lembut, diawali dari bagian
tubuh yang sehat dan dianjurkan pada sisi yang cedera. Pakaian mungkin harus
7

dipotong pada sisi yang cedera. Ekstermitas sebisa mungkin jangan sampai
digerakan untuk mencegah kerusakan jaringan lunak lebih lanjut.
Pertolongan pertama pada penderita patah tulang di luar rumah sakit adalah
sebagai berikut .

a. Jalan napas

Bila penderita tak sadar, jalan napas dapat tersumbat karena lidahnya sendiri
yang jatuh ke dalam faring, sehingga menutup jalan napas atau adanya sumbatan
oleh lendir, darah, muntahan, atau benda asing. Untuk mengatasi keadaan ini,
penderita dimiringkan sampai tengkurap. Rahang dan lidah ditarik ke depan dan
bersihkan faring dengan jari-jari.

b. Perdarahan pada luka

Cara yang paling efektif dan paling aman adalah dengan meletakkan kain
yang bersih (kalau bisa steril) yang cukup tebal dan dilakukan penekanan dengan
tangan atau dibalut dengan verban yang cukup menekan. Torniket sendiri
mrmpunyai kelemahan dan bahaya. Kalau dipasang terlalu kendur menyebabkan
perdarahan vena berlebihan. Kalau dipasang terlalu kuat dan terlalu lama dapat
menyebabkan kerusakan saraf dan pembuluh darah. Dalam melakukan penekanan
atau pembebatan pada daerah yang mengalami perdarahan, harus diperhatikan
denyut nadi perifer, serta pengisian kapiler untuk mencegah terjadinya kematian
jaringan.

c. Syok

Pada suatu kecelakaan kebanyakan syok yang terjadi adalah syok


hemoragik. Syok bisa terjadi bila orang kehilangan darahnya 30% dari volume
darahnya. Pada fraktur femur tertutup orang dapat kehilangan darah 100-1500cc.

Empat tanda syok yang dapat terjadi setelah trauma adalah sebagai berikut.

1. Denyut nadi lebih dari 100x/menit.


2. Tekanan sistolik kurang dari 100mmHg
3. Wajah dan kuku menjadi pucat dan sianotik
4. Kulit tangan dan kaki dingin.
8

Gejala-gejala yang dapat berupa sakit (bukan gejala yang dominan), otot-
otot menjadi lunak, timbul rasa haus, pernapasan menjadi cepat dan dalam, serta
kesadaran normal, apatis atau koma.

Paling baik untuk mengatasi syok karena perdarahan adalah diberikan darah
(transfusi darah), sedangkan cairan lainnya seperti plasma, dextran, dan lain-lain,
kurang tepat karena tidak dapat menunjang perbaikan karena tidak ada sel darah
yang sangat diperlukan untuk transportasi oksigen.

d. Fraktur dan dislokasi

Fraktur dan dislokasi dari anggota gerak harus dilakukan imobilisasi


sebelum penderita dibawa ke rumah sakit. Guna bidai selain untuk imobilisasi atau
mengurangi sakit, juga untuk mencegah kerusakan jaringan lunak yang lebih parah.
Pada fraktur/dislokasi servikal dapat dipergunakan gulungan kain tebal atau
bantalan pasir yang diletakan di alas keras. Fraktur/dislokasi di daerah bahu atau
lengan atas cukup diberikan sling (mitella). Untuk lengan bawah dapat dipakai
papan dan bantalan kapas. Fraktur femur atau dislokasi sendi panggul dapat dipakai
Thomas Splint atau papan panjang dipasang yang dari aksila sampai pedis dan
difiksasi dengan tungkai sebelah yang normal. Fraktur tungkai bawah dan lutut
dapat dipakai papan ditambah bantalan kapas dari pangkal paha sampai pedis.
Untuk trauma di daerah pedis dapat dipakai banatalan pedis.

Prinsip Penanganan Fraktur

Prinsip penanganan fraktur meluputi reduksi, imobilisasi, dan pengembalian


fungsi serta kekuatan normal dengan rehabilitasi (Smeltzer,2002). Reduksi fraktur
berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya rotasi anatomis.
Metode untuk mencapai reduksi fraktur adalah dengan reduksi tertutup, traksi, dan
reduksi terbuka. Metode dipilih untuk mereduksi frakturmbergantung pada sifat
frakturnya.

Pada kebanyakan kasus reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan


fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan
manipulasi dan traksi manual. Selanjutnya, traksi dapat dilakukan untk
9

mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan


spasme otot yang terjadi.

Pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka. Dengan pendekatan


bedah, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin kawat,
sekrup, plat, paku atau batangan logam dapat digunakan untuk mempertahankan
fragmen tulang dalam posisinya sampai tulang solid terjadi.

Tahapan selanjutnya setelah fraktur direduksi adalah mengimobilisasi dan


mempertahankan fragmen tulang dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai
terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi interna atau eksterna.
Metode fiksasi eksterna meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin, dan
teknik gips. Sedangkan implant logam digunakan untuk fiksasi interna.

Mempertahankan dan mengembalikan fragmen tulang, dapat dilakukan


dengan mempertahankan reduksi dan imobilisasi, pantau status neurovaskuler,
latihan isometrik, dan memotivasi klien untuk berpartisipasi dan memperbaiki
kemandirian fungsi dan harga diri.

Empat R pada Fraktur

Istilah empat R fraktur disampaikan oleh Price (1995), yang rekognisi,


reduksi, retensi, dan rehabilitasi. Rekognisi menyangkut diagnosis fraktur pada
empat kejadian dan kemudian di rumah sakit. Riwayat kecelakaan, derajat
keparahan, jenis kekuatan yang berperan, dan deskripsi tenyang peristiwa yang
terjadi oleh penderita sendiri, menentukan apakah ada kemungkinan fraktur dan
apakah perlu dilakukan pemeriksaan spesifik untuk mencari adanya fraktur.

Reduksi adalah usaha dan tindakan memanipulasi fragmen-fragmen tulang


yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak asalnya. Fraktur tertutup
pada tulang panjang sering ditangani dengan reduksi tertutup. Untuk evaluasi awal
biasanya dapat dilaksanakan pemasangan bidai-gips dan untuk mengurangi nyeri
selama tindakan, klien dapat diberi narkotika intravena, sedatif atau blok saraf
lokal,. Retensi, sebagai aturan umum, maka gips yang dipasang untuk
mempertahankan reduksi harus melewati sendi di atas fraktur dan di bawah fraktur.
Bila kedua sendi posisinya membentuk sudut dengan sumbu longitudinal tulang
10

patah, maka koreksi angulasi dan oposisi dapat dipertahankan, sekaligus mencegah
perubahan letak rotasional.

Penatalaksanaan Fraktur Terbuka

Patah tulang terbuka memerlukan pertolongan segera. Penundaan waktu


dalam memberikan pertolongan akan mengakibatkan komplikasi infeksi karena
adanya pemaparan dari lingkungan luar. Waktu yang optimal untuk melaksanakan
tindakan sebelum 6-7 jam sejak kecelakaan, disebut golden period

Secara klinis patah tulang terbuka dibagi menjadi tiga derajat (Pusponegoro
A.D., 2007), yaitu :

Derajat I : terdapat luka tembuh kecil seujung jarum, luka ini di dapat dari tusukan
fragmen-fragmen tulang dari dalam

Derajat II : luka lebih besar disertai dengan kerusakan kulit subkutis. Kadang-
kadang ditemukan adanya benda-benda asing disekitar luka

Derajat III : luka lebih besar dibandingkan denga luka pada derajat II. Kerusakan
lebih hebat karena sampai mengenai tendon dan otot-otot saraf tepi.

Pada luka derajat I biasanya tidak mengalami kerusakan kulit, sehingga


penutupan kulit dapat ditutup secara primer. Namun pada derajat II, luka lebih
besar dan bila dipaksakan menutup luka secara primer akan terjadi tegangan kulit.
Hal ini akan mengganggu sirkulasi bagian distal. Sebaiknya luka dibiarkan terbuka
dan luka ditutup setelah 5-6 hari (delayed primary suture). Untuk fiksasi tulang
pada derajat II dan III paling baik menggunakan fiksasi eksterna. Fiksasi eksterna
yang sering dipakai adalah judet, Roger Anderson, dan Methyl Methacrylate.
Prmakaian gips masih dapat diterima, bila peralatan tidak ada. Namun, kelemahan
pemakaian gips adalah perawatan yang lebih sulit.

Salah satu tindakan untuk fraktur terbuka yaitu dilakukan debridemen.


Debidremen bertujuan untuk membuat kembali keadaan luka yang kotor menjadi
bersih, sehingga sevcara teoritis fraktur tersebut dapat dianggap fraktur tertutup.
Namun secara praktis, hal tersebut tidak pernah tercapai. Tindakan debridemen
11

dilakukan dalam anastesi umum dan selalu harus disertai dengan pencucian luka
dengan air yang steril/ NaCl yang mengalir.

Pencucian ini memang peranan penting untuk membersihkan kotoran-


kotoran yang menempel pada tulang.

Pada fraktur terbuka tidak boleh dipasang torniket, hal ini penting untuk
menentukan batas jaringan yang vitas dan nekrotik. Daerah luka dicukur
rambutnya, dicuci dengan detergen yang lunak (misal Physohex) sabun biasa
dengan sikat lamanya kira-kira 10 menit,dan dicuci dengan air mengalir. Dengan
siraman air mengalir diharapkan kotoran-kotoran dapat terangkat mengikuti aliran
air.

Tindakan pembedahan berupa eksisi pinggir luka, kulit, subkutis , fasia, dan
pada otot-otot nekrosis yang kotor. Fragmen tulang yang kecil dan tidak
memengaruhi stabilitas tulang dibuang. Fragmen yang cukup besar tetap
dipertahankan.

H. Konsep Asuhan Keperawatan


Pengkajian
1. Aktivitas/ istirahat
Tanda : Keterbatasan gerak/kehilangan fungsi motorik padabagian yang terkena
(dapat segera atau sekunder, akibat pembengkakan/nyeri). Adanya kesulitan dalam
istirahat tidur akibat dari nyeri.
2. Sirkulasi
Tanda : Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respons terhadap nyeri/ansietas)
atau hipotensi (hipovolemia), Tatikardia (respons stress, hipovolemia),
Penurunan/tak teraba nadi distal, pengisian kapiler lambat (capillary refill), kulit
dan kuku pucat/sianotik. Pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada sisi
cedera.
3. Neurosensori
Gejala : Hilang gerak/sensasi, spasme otot.
Kebas/ kesemutan (parestesi0.
Tanda : Deformitas lokal, angulasi abnormal, pemendekan, rotasi krepitasi, spasme
otot, kelemahan/ hilang fungsi.
12

Agitasi berhubungan dengan nyeri, ansietas, rauma lain.


4. Nyeri/ Kenyamanan
Gejala : nyeri berat tiba-tiba saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area jaringan/
kerusakan tulang, dapat berkurang pada imobilisasi), tak ada nyeri akibat kerusakan
saraf
Spasme/keram otot (setelah imobilisasi).
5. Keamanan
Tanda : Laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, dan perubahan warna kulit.
Pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba).

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan Rotgen menentukan lokasi/ luasnya fraktur/ trauma, dan jenis fraktur
2. Scan tulang, tomogram, CT Scan/MRI : Memperlihatkan tingkat keparahan fraktur,
juga dapat untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
3. Arteriogram : dilakukan bila dicurigai adanya kerusakan vaskuler
4. Hitung darah lengkap : Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun
(perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada multipel trauma).
Peningkatan jumlah SDP adalh proses stress normal setelah trauma
5. Kreatinin : trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal
6. Profil koagulasi ; perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi multipel
atau cedera hati.

DIAGNOSIS KEPERAWATAN

Secara umum Doenges (2002) merumuskan delapan masalah/ diagnosis


keperawatan, yaitu : 1) risiko tinggi trauma tambahan, 2) nyeri berhubungan dengan
spasme otot, gerakan fragmen tulang, cedera pada jaringan luna, stress, ansietas, alat
traksi/imobilisasi, 3) resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler, perifer, 4) risiko
tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas, 5) kerusakan mobilitas fisik berhubungan
dengan kerusakan rangka neuromuskular, 6) kerusakan integritas kulit/ jaringan
(aktual/ risiko tinggi) berhubungan dengan cedera tusuk, fraktur terbuka, pemasangan
pen, traksi, perubahan sensasi, imobilisasi fisik, 7) risiko tinggi terhadap infeksi 8)
kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan.
13

Sementara Smeltzer (2002) merumuskan tiga diagnosis/ masalah keperawatan


yang dapat terjadi pada fraktur tertutup, yaitu 1) nyeri berhubungan dengan fraktur, 2)
risiko terhadap cedera berhubungan dengan kerusakan neurovaskular, tekanan, dan
disuse, 3) kurang perawatan diri berhubungan dengan hilangnya kemampuan
menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa ada sembilan


masalah/diagnosis keperawatan yang dapat ditemukan pada klien fraktur yaitu sebagai
berikut :

1. Risiko tinggi trauma tambahan berhubungan dengan kerusakan neurovaskular,


tekanan dan disuse.

2. Nyeri berhubungan spasme otot, gerakan fragmen tulang, cedera pada jaringan
lunak, stres, ansietas, alat traksi/ imobilisasi.

3. Risiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskular perifer.

4. Risiko tinggi terhadap pertukaran gas

5. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuskular

6. Kurang perawatan diri berhubungan dengan hilangnya kemampuan menjalankan


aktivitas kehidupan sehari-hari

7. Kerusakan integritas kulit/jaringan (aktual/risiko tinggi) berhubungan dengan


cedera tusuk fraktur terbuka, pemasangan pen traksi, perubahan sensasi, imobilisasi
fisik

8. Risiko tinggi infeksi

9. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan.

RENCANA KEPERAWATAN
Rencana asuhan keperawatan berikut ini diuraikan meliputi diagnosis keperawatan,
tindakan keperawatan mandiri dan kolaborasi, serta rasionalisasi dan masing-
masing tindakan keperawatan.
14

Diagnosis Keperawatan: Risiko tinggi trauma tambahan berhubungan dengan


kerusakan neurovascular, tekanan, dan disuse.

Tindakan Rasional
Mandiri 1. Meningkatkan stabilitas,
1. Pertahankan tirah baring sesuai menurunkan kemungkinan
indikas. Berikan sokongan sendi di gangguan posisi/penyembuhan.
atas dan di bawah fraktur bila 2. Tempat tidur lembut atau lentur
bergerak/membalik. dapat membuat deformasi gips yang
2. Letakkan papan di bawah tempat masih basah, mematahkan gips yang
tidur atau tempatkan klien pada sudah kering atau memengaruhi
tempat tidur ortopedik. dengan penarikan traksi.
Gips/bebat 3. Mencegah gerakan yang tak perlu
3. Sokong fraktur dengan dan perubahan posisi. Posisi yang
bantal/gulungan selimut. tepat dari bantal juga dapat
Pertahankan posisi netral pada mencegah tekanan deformitas pada
bagian yang sakit dengan bantal gips yang kering.
pasir, pembebat, gulungan trokanter 4. Gips panggul/tubuh atau multiple
atau papan kaki. dapat membuat berat dan tidak
4. Tugaskan petugas yang cukup untuk praktis secara ekstrem. Kegagalan
membalik klien. Hindari untuk menyokong ekstremitas yang
menggunakan papan abduksi untuk di gips dapat menyebabkan gips
membalik klien dengan gips spika. patah.
5. Evaluasi pembebat ekstremitas 5. Pembebat koaptis (misalnya jepitan
terhadap resolusi edema. Jones-Sugar) mungkin digunakan
untuk memberikan imobilisasi
fraktur di mana edema jaringan
berlebihan. Seiring dengan
berkurangnya edema, penilaian
kembali pembebat atau penggunaan
gips plester mungkin diperlukan
untuk mempertahankan kesejajaran
fraktur.
Traksi 6. Traksi memungkin tarikan pada
6. Pertahankan posisi/integritas traksi aksis panjang fraktur tulang dan
(missal, Buck, Dunlop, Pearson, mengatasi tegangan
Russel). otot/pemendekan untuk
7. Yakinkan bahwa semua klem memudahkan posisi/penyatuan.
berfungsi. Memberi minyak pada Traksi tulang (pen, kawat, jepitan)
katrol dan periksa tali terhadap memungkinkan penggunaan berat
tegangan. Amankan dan tutup ikatan lebih besar untuk penarikan traksi
dengan plester perekat. daripada digunakan untuk jaringan
8. Pertahankan katrol tidak terhambat kulit.
dengan beban bebas menggantung, 7. Meyakinkan bahwa susunan traksi
hindari mengangkat/menghilangkan berfungsi dengan tepat untu
berat. menghindari interupsi
9. Bantu meletakkan beban di bawah penyambungan fraktur.
roda tempat tidur bila ada indikasi. 8. Jumlah beban traksi optimal
10. Kaji ulang tahanan yang mungkin dipertahankan.
15

timbul karena terapi, contoh 9. Membantu keketapan posisi klien


pergelangan tidak menekuk/duduk dan fungsi traksi dengan
dengan traksi Buck atau tidak memberikan keseimbangan timbal
memutar di bawah pergelangan balik.
dengan traksi Russel. 10. Mempertahankan integritas tarikan
11. Kaji integritas alat fiksasi eksternal. traksi.
11. Traksi Hoffman memberikan
stabilisasi dan sokongan kaku untuk
tulang fraktur tanpa menggunakan
katrol, tali atau beban,
memungkinkan
mobilitas/kenyamanan klien lebih
besar dan memudahkan perawatan
luka.
Kolaborasi 12. Memberikan bukti visual mulainya
12. Kaji ulang/evaluasi foto. pembentukan kalus/proses
13. Berikan/pertahankan stimulasi listrik penyembuhan untuk menentukan
bila digunakan. tingkat aktivitas dan kebutuhan
perubahan/tambahan terapi.
13. Mungkin diindikasikan untuk
meningkatkan pertumbuhan tulang
pada keterlambatan
penyembuhan/tidak menyatu.

Diagnosis Keperawatan: Nyeri berhubungan denagn spasme otot, gerakan fragmen


tulang, cedera pada jaringan lunak, stress, ansietas, alat traksi atau imobilisasi.

Tindakan Rasional
Mandiri 1. Mengurangi nyeri dan mencegah
1. Pertahankan imobilisasi bagian yang kesalahan posisi tulang/tegangan
sakit dengan tirah baring, gips, jaringan yang cedera.
pembebat. 2. Meningkatkan aliran balik vena,
2. Tinggikan ekstremitas yang sakit. mengurangi edema, dan mengurangi
3. Hindari penggunaan sprei/bantal nyeri.
plastic di bawah ekstremitas dalam 3. Meningkatkan kenyamanan karena
gips. peningkatan produksi panas dalam
4. Tinggikan penutup tempat tidur, gips yang kering.
pertahankan linen terbuka pada ibu 4. Mempertahankan kehangatan tubuh
jari kaki. tanpa ketidaknyamanan karena
5. Evaluasi nyeri; lokasi, karakteristik, tekanan selimut pada bagian yang
intensitas (skala 0-10). Pertahankan sakit.
petunjuk nyeri nonverbal 5. Memengaruhi efektifitas intervensi.
(perubahan tanda vital dan Tingkatkan ansietas dapat
emosi/prilaku). memengaruhi persepsi/reaksi
6. Dorong klien untuk terhadap nyeri.
mengekspresikan masalah 6. Membantu mengatasi ansietas. Klien
berhubungan dengan cedera. dapar merasakan kebutuhan untuk
7. Jelaskan prosedur sebelum memulai menghilangkan pengalaman
16

tindakan. kecelakaan.
8. Berikan obat sebelum perawatan 7. Memungkinkan klien untuk siap
latihan/aktivitas. secara mental dalam melakukan
9. Lakukan dan awasi latihan rentang aktivitas, dan berpartisipasi dalam
gerak pasif/aktif. mengontrol tingkat
10. Berikan alternative tindakan ketidaknyamanan.
kenyamanan, seperti pijatan 8. Meningkatkan relaksasi otot dan
punggung, perubahan posisi. partisipasi klien.
11. Dorong penggunaan manajemen 9. Mempertahankan kekuatan/mobilitas
stress, seperti rwlaksasi progresif, otot yang sakit dan memudahkan
latihan napas dalam, imajinasi resolusi inflamasi pada jaringan yang
visualisasi, sentuhan terapeutik. cedera.
12. Identifikasi aktivitas terapeutik yang 10. Meningkatkan sirkulasi umum,
tepat untuk usia klien, kemampuan menurunkan area tekanan local dan
fisik, dan penampilan pribadi. kelelahan otot.
13. Observasi adanya keluhan nyeri 11. Memfokuskan kembali perhatian,
yang tidak biasa, tiba-tiba atau meningkatkan rasa control, dan dapat
dalam, lokasi progresif atau buruk meningkatkan kemampuan koping
tidak hilang dengan analgesic. dalam manajemen nyeri, yang
mungkin menetap untuk periode
yang lama.
12. Mencegah kebosanan, menurunkan
tegangan, meningkatkan kekuatan
otot, dan dapat meningkatkan harga
diri dan kemampuan koping klien.
13. Dapat mengindikasikan terjadinya
komplikasi, seperti infeksi, iskemia
jaringan, sindrom kompartemen.
Kolaborasi 14. Menurunkan edema atau
14. Lakukan kompres dingin 24-48 jam pembentukan hematom, menurunkan
pertama sesuai kebuthan. sensasi nyeri.
15. Berikan obat sesuai order: berikan 15. Untuk menurunkan nyeri dan atau
narkotik, NSAID. Berikan narkotik spasme otot.
sesuai order selama 3-5 hari. 16. Pemberian rutin mempertahankan
16. Berikan/awasi analgesic yang kadar analgesic darah secara
dikontrol klien. adekuat, mencegah fluktuasi dalam
menghilangkan nyeri akibat
spasme/tegangan otot.

Diagnosis Keperawatan: Risiko tinggi terhadap disfungsi neurovascular perifer

Tindakan Rasional
Mandiri 1. Dapat menyebabkan bendungan
1. Lepaskan perhiasan dari ekstremitas sirkulasi bila terjadi edema.
ayang sakit. 2. Penurunan/tak adanya nadi dapat
2. Evaluasi kualitas nadi perifer distal menggambarkan cedera vascular dan
terhadap cedera dengan palpasi. perlunya evaluasi medic segera
Bandingkan dengan ekstremitas terhadap status sikulasi. Waspadai
17

yang sehat. bahwa kadang-kadang nadi dapat


3. Kaji aliran kapiler, warna kulit, dan terhambat oleh bekuan halus di mana
kehangatan distal pada fraktur. pulsasi mungkin teraba. Selain itu
4. Lakukan pengkajian neurovascular. perfusi melalui arteri lebih besar
Perhatikan perubahan fungsi dapat berlanjut setelah meningkatnya
motoric atau sensori. Minta klien tekanan kompartemen yang telah
untuk melokalisasi nyeri. mengempiskan sirkulasi
5. Tes sensasi saraf perifer dengan arteriol/venula otot.
menusuk pada kedua selaput antara 3. Kembalinya warna harus cepat (< 3).
ibu jari pertama dan kedua, Warna kulit putih menunjukan
kemudian kaji kemampuan untuk gangguan arterial. Sianotik diduga
dorsofleksi ibu jari bila ada gangguan vena.
diindikasikan. 4. Perasaan kebas, kesemutan,
6. Kaji jarinagna sekitar akhir gips peningkatan penyebaran nyeri terjadi
untuk titik kasar/tekanan. Selidiki bila sirkulasi pada saraf tidak
keluhan rasa terbakar di bawah adekuat atau saraf rusak.
gips. 5. Panjang dan posisi saraf perifer
7. Awasi posisi/lokasi cincin meningkatkan risiko cedera pada
penyokong bebat. adanya fraktur kaki, edema/sindrom
8. Pertahankan peninggian ekstremitas kompartemen, atau malposisi alat
yang cedera kecuali ada traksi.
kontraindikasi, seperti adanya 6. Factor ini disebabkan atau
sindrom kompartemen. mengindikasikan tekanan
9. Kaji panjangnya ekstremitas yang jaringan/iskemia, menimbulkan
cedera terhadap edema, bandingkan kerusakan/nekrosis.
dengan area yang tidak cedera. 7. Alat traksi dapat menyebabkan
Perhatikan luasnya hematom. tekanan pada pembuluh darah/saraf,
10. Observasi tanda iskemia tiba-tiba, terutama pada aksila dan lipat paha,
missal penurunan suhu kulit, dan mengakibatkan iskemia dan
peningkatan nyeri. kerusakan saraf permanen.
11. Dorong klien untuk secara rutin 8. Meningkatkan drainase
latihan jari/sendi distal yang cedera. vena/mengurangi edema. Pada
Ambulasi sesegera mungkin. sindrom kompartemen peninggian
12. Selidiki nyeri tekan, pembengkakan ektremitas menghalangi aliran arteri,
pada dorsofleksi (tanda Homan menurunkan perfusu.
positif). 9. Peningkatan lingkar ekstremitas yang
13. Pantau tanda vital, pertahankan cedera diduga adanya edema umum,
tanda-tanda pucat, sianotik umum, tetapi dapat menunjukan adanya
kulit dingin, perubahan mental. perdarahan.
10. Dislokasi fraktur sendi (khususnya
lutut/fremur) dapat menyebabkan
kerusakan arteri yang berdekatan,
dengan akibat hilangnya aliran darah
ke distal.
11. Meningkatkan sirkulasi dan
menurunkan pengumpulan darah
khususnya pada ekstremitas bawah.
12. Terdapat peningkatan potensial
untuk tromboplebitis dan emboli
18

paru pada klien imobilisasi selama


lima hari atau lebih.
13. Ketidakadekuatan volume sirkulasi
akan memengaruhi system perfusi
jaringan.
Kolaborasi 14. Menurunkan edema/pembentukan
14. Berikan kompres es sekitar fraktur hematoma, yang dapat mengganggu
sesuai indikasi. sirkulasi.
15. Buat bebat/spalk sesuai kebutuhan. 15. Mungkin dilakukan pada keadaan
16. Siapkan untuk intervensi, seperti darurat untuk menghilangkan retriksi
fasiotomi. sirkulasi yang diakibatkan oleh
17. Pantau awasi Hb/Ht, pemeriksaan pembentukan edema pada
koagulasi. ekstremitas yang cedera.
18. Berikan warfarin natrium bila ada 16. Kegagalan untuk menghilangkan
indikasi. tekanan/memperbaiki sindrom
19. Berikan kaos kaki antiembolik kompartemen dalam 4-6 jam dapat
sesuai indikasi. mengakibatkan kontraktur
berat/kehilangan fungsi dan
kecacatan ekstremitas distal cedera
atau perlu amputasi
17. Membantu dalam kalkulasi
kehilangan darah dan membutuhkan
keefektifan terapi penggantian.
18. Mungkin diberikan secara profilaktik
untuk menurunkan thrombus vena
dalam.
19. Menurunkan pengumpulan vena dan
dapat meningkatkan aliran balik
vena, sehingga menurunkan risiko
pembentukan thrombus.

Diagnosis Keperawatan: Risiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas

Tindakan Rasional
Mandiri 1. Takipnea, dyspnea, serta perubahan
1. Pantau frekuensi pernapasan dan mental merupakan tanda dini
upaya napas. Perhatikan adanya insufiensi pernapasan dan mungkin
stridor, penggunaan otot bantu hanya indicator terjadi emboli paru
pernapasan, retraksi, dan terjadinya pada tahap awal. Masih adanya
sianotik sentral tanda/gejala menunjukan distress
2. Auskultasi bunyi napas, perhatikan pernapasan luas/cenderung
adanya ketidaksamaan, bunyi kegagalan.
hipersonan, juga adanya 2. Adanya bunyi tambahan menunjukan
ronchi/mengi, inspirasi mengorok, terjadinya komplikasi pernapasan,
dan sesak napas. misalnya atelectasis, pneumonia,
3. Atasi jaringan/tulang dengan emboli. Inspirasi mengorok
lembut, khususnya selama beberapa menunjukkan edema jalan napas atas
hari pertama. dan diduga emboli lemak.
19

4. Instruksikan dan bantu latihan napas 3. Untuk mencegah terjadinya emboli


dalam dan batuk efektif. Reposisi lemak biasanya terlihat pada 12-72
dengan sering. jam pertama, yang erat berhubungan
5. Perhatikan peningkatan kegelisahan, dengan fraktur, khususnya tulang
letargi, stupor. panjang dan pelvis.
6. Inspeksi kulit dari adanya petekie di 4. Meningkatkan ventilasi alveolar dan
atas putting, pada aksila, meluas ke perfusi. Reposisi meningkatkan
abdomen/tubuh, mukosa mulut, drainase secret dan menurunkan
palatum. kongesti pada area paru dependen.
5. Gangguan pertukaran gas/adanya
emboli paru dapat menyebabkan
penyimpangan kesadaran klien,
seperti terjadinya
hipoksemia/asidosis.
6. Itu adalah karakteristik paling nyata
dari tanda emboli lemak, yang
tampak dua sampai hari setelah
cedera.
Kolaborasi 7. Memaksimalkan ventilasi/oksigenasi
7. Bantu dalam spirometri insentif. dan meminimalkan atelectasis.
8. Berikan oksigen tambahan, sesuai 8. Meningkatkan sediaan oksigen untuk
order. oksigenisasi sediaan optimal.
9. Pantau pemeriksaan laboratorium, 9. Memberikan data penunjang, missal:
missal: AGD. menurunkan PaO2 dan peningkatan
Hb, kalsium, LED, lipase serum. PaCO2 menunjukan gangguan
10. Berikan obat sesuai order: heparin pertukaran gas/terjadinya kegagalan.
dosis rendah. Anemia, hipokalsemia, peningkatan
Kortikosteroid. LED dan kadar lipase, gelembung
lemak dalam darah/urine/sputum dan
penurunan jumlah trombosit sering
berhubungan dengan emboli lemak.
10. Blok siklus pembekuan dan
mencegah bertambahnya pembekuan
pada tromboplebitis.
Steroid telah digunakan dengan
beberapa keberhasilan untuk
mencegah/mengatasi emboli lemak.

Diagnosis Keperawatan : Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan


rangka neuromuscular

Tindakan Rasional
Mandiri
1. Kaji derajat imobilitas yang 1. Klien mungkin dibatasi oleh persepsi
dihasilkan oeh cedera/pengobatan tentang keterbatasan fisik actual,
dan perhatikan persepsi klien memerlukan informasi,/intervensi
terhadap imobilisasi. untuk meningkatkan kemajuan
2. Dorong partisipasi pada kesehatan
20

aktivitas/rekreasi. Pertahankan 2. Memberikan kesempatan untuk


rangsang lingkungan, seperti radio, mengeluarkan energy, memfokuskan
TV, Koran, barang milik pribadi, kembali perhatian, meningkatkan
jam, kalender, kunjungan rasa control harga diri, dan
keluarga/teman. membantu menurunkanisolasi social.
3. Instruksikan klien untuk latihan 3. Meningkatkan aliran darah ke otot
rentang gerak aktif/pasif pada dan tulang untuk meningkatkan
ekstremitas yang sehat/sakit. tonus otot, mempertahankan gerakan
4. Dorong penggunaan latihan sendi, mencegah kontraktur/atrofi,
isometric mulai dengan tungkai dan reabsorsi kalsium karena tidak
yang sakit. digunakan.
5. Berikan ppn kaki, bebat 4. Kontraksi otot isometric tanpa
pergelangan, gulungan menekuk sendi atau menggerakan
trokanter/tangan yang sesuai. tungkai dan membantu
6. Bantu dalam mobilisasi dengan mempertahankan kekuatan dan
kursi roda, kruk, tongkat, sesegera massa otot. Catatan: kontraindikasi
mungkin. Instruksikan keamanan pada perdarahan akut/edema.
dalam alat mobilisasi. 5. Mempertahankan posisi fungsional
7. Pantau TD dalam melakukan ekstremitas tangan/kaki, dan
aktivitas. Perhatikan adanya keluhan mencegah komplikasi.
pusing. 6. Mobilisasi dini menurunkan
8. Ubah posisi secara periodic serta komplikasi tirah baring (missal,
dorong untuk latihan batuk dan phlebitis) dan meningkatkan
nafas dalam. penyembuhan dan normalisasi fungsi
9. Auskultasi bising usus. Pantau organ.
kebiasaan eliminasi/defekasi rutin. 7. Hipotensi postural adalah masalah
10. Dorong peningkatan intake cairan umum yang menyertai tirah baring
2.000-3.000 ml/hari, termasuk lama dan memerlukan intervensi
pemberian jus. khusus (missal, kemiringan meja
11. Tingkatkan jumlah diet serat. Batasi dengan peninggian secara bertahap
makanan pembentuk gas. sampai posisi tegak).
8. Mencegah komplikasi
pernapasan/kulit, missal decubitus,
pneumonia, atelectasis.
9. Tirah baring, penggunaan analgesic,
dan perubahan diet dapat
memperlambat peristaltic usus
sehingga memnyebabkan konstipasi.
10. Mempertahankan hidrasi tubuh,
menurunkan risiko infeksi urinearius,
pembentukan baru, dan konstipasi
11. Makanan kasar (serat) mencegah
konstipasi. Makanan pembentuk gas
dapat menyebabkan distensi
abdominal, khususnya pada adanya
penurunan motilitas usus.
Kolaborasi 12. Berguna dam membuat jadwal
12. Konsul dengan ahli terapi fisik, aktivitas klien. Klien dapat
okupasi, rehabilitasi. memerlukan bantuan jangka panjang
21

13. Gunakan pelunak feses, enema, dan dengan gerakan, kekuatan, dan
laksatif sesuai indikasi. aktivitas yang mengandalkan berat
badan, juga penggunaan alat, seperti
walker, kruk.
13. Meningkatkan evakuasi isi usus.

Diagnosis Keperawatan: Kurang perawatan diri berhubungan dengan hilangnya


kemampuan menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari.

Tindakan Rasional
Mandiri 1. Fraktur memengaruhi kemampuan
1. Dorong klien mengekspresikan seseorang melakukan aktivitas
perasaan dan mendiskusikan cedera sehari-hari seperti kehilangan
dan masalah yang berhubungan pekerjaan, perubahan gaya hidup.
dengan cedera. Dengarkan secara 2. Pengehentian rutinitas dan rencana
aktif. memerlukan mekanisme
2. Motivasi penggunaan mekanisme penyelesaian masalah.
penyelesaian masalah secara adaptif. 3. Orang lain dapat membantu klien
3. Libatkan orang yang berarti dan melakukan aktivitas sehari-hari.
layanan dukungan bila diperukan. 4. Akomodasi untuk pelaksanaan di
4. Modifikasi lingkungan rumah bila rumah mungkin diperlukan untuk
diperlukan. meningkatkan perawatan diri dan
5. Dorong klien berpartisiasi dam keamanan.
pengembangan program terapi. 5. Klien mampu memperoleh kembali
6. Jelaskan berbagai program terapi. kemandirian dengan partisipasi aktif
7. Dorong partisipasi aktivitas sehari- dalam pengambilan keputusan
hari dalam batasan terapeutik. rencana terapi.
8. Ajarkan penggunaan modalitas 6. Pendidikan dan pemahaman klien
terapi dan bantuan mobilisasi secara dapat meningkatkan kepatuhan.
aman. Lakukan supervise agar 7. Rasa harga diri dapat ditingkatkan
pemakaiannya terjamin. dengan aktivitas perawatan diri.
9. Evaluasi kemampuan klien untuk 8. Cedera akibat penggunaan modalitas
melakukan perawatan di rumah: atau alat bantu mobilisasi dapat
merencanakan regimen terpi, dicegah melalui pendidikan.
mengenali risiko masalh, mengenali 9. Meyakinkan kemampuan klien untuk
situasi yang tidak aman, dan menangani fraktur di rumah.
meneruskan supervisi kesehatan Kekurangan pengetahuan dan
persiapan perawatan diri yang buruk
di rumah menyumbang terjadinya
ansietas dan ketidaksiplinan terhadap
program terapi.
Diagnosis Keperawatan: kerusakan integritas kulit/jaringan (actual/risiko tinggi)
berhubungan dengan cedera tusuk, fraktur terbuka, pemasangan pen, traksi,
perubahan sensasi, imobilisasi fisik.

Tindakan Rasional
Mandiri 1. Memberikan informasi tentang
1. Kaji kulit dari adanya benda asing, sirkulasi kulit dan masalah yang
22

kemerahan, perdarahan, perubahan mungkin disebabkan oleh alat


warna (kelabu atau memutih). dan/atau pemasangan gips/bebat atau
2. Masase kulit dan area tonjolan traksi, pembentukan edema yang
tulang. membutuhkan intervensi medic
3. Ubah posisi dengan sering. lanjut.
4. Kaji posisi cincin bebat pada alat 2. Menurunkan tekanan pada area yang
traksi. peka dan risiko abrasi/kerusakan
5. Penggunaan gips dan perawatan kulit.
kulit. 3. Mengurangi tekanan konstan pada
- Bersihkan kulit dengan sabun dan area yang sama dan meminimalkan
air. Gosok perlahan dengan alcohol, risiko kerus?p-p;-=akan kulit.
dan/atau bedak dengan sedikit 4. Posisi yang tidak tepat dapat
borat/stearate seng. menyebabkan cedera/kerusakan
- Potong pakaian dalam yang kulit.
menutup area dan perlebar beberapa 5. Penggunaan gips dan perawatan
inchi di ats gips. kulit.
- Gunakan telapak tangan untuk - Mempertahankan gips tetap kering
memasang, mempertahankan atau dan bersih. Terlalu banyak bedak
melepas gips, dan dukung bantal dapat membuat lengket bila kontak
setelah pemasangan dengan air/keringat.
- Potong kelebihan plester dari ujung - Berguna untuk bantalan benjolan
gips sesegera mungkin saat gips tulang, mengakhiri ujung gips, dan
lengkap. melindungi kulit.
- Tingkatkan pengeringan gips - Mencegah lekukan/dataran di atas
dengan mengangkat linen tempat tonjolan dan area penyokong berat
tidur, memajankan pada sirkulasi badan (missal punggung tumit), yang
udara. akan menyebabkan abrasi/trauma
- Observasi area yang beresiko jaringan. Bentuk yang tidak tepat
tertekan, khususnya pada ujung dan atau gips kering mengiritasi kulit di
bawah bebatan/gips. bawahnya dan dapat menimbulkan
- Beri bantalan pada akhir gips gangguan sirkulasi.
dengan plester tahan air. - Plester yang lebih dapat mengiritasi
- Bersihkan kelebihan plester dari kulit dan dapat mengakibatkan
kulit saat masih basah, bila abrasi.
mungkin. - Mencegah kerusakan kulit yang
- Lindungi gips dan kulit pada area disebabkan oleh tertutup pada
perineal. Berikan perawatan yang kelembaban di bawah gips dalam
sering. jangka lama.
- Instruksikan klien/keluarga untuk - Tekanan dapat menyebabkan
menghindari memasukkan benda ke ulserasi, nekrosis, dan kelumpuhan
dalam gips. saraf. Tidak ada nyeri bila ada
- Masase kulit sekitar akhir gips kerusakan saraf.
dengan alcohol. - Mengefektifkan perlindungan pada
- Ubah posisi klien sesering lapisan gips dan kelembaban.
mungkin., dengan posisi Membantu mencegah kerusakan
tengkurapdan kaki di atas kasur. material gips pada akhir dan
6. Traksi kulit dan perawatan kulit. mengurangi iritasi kulit/ekskoriasi.
- Bersihkan kulit dengan air sabun - Plester yang kering dapat melekat ke
hangat. dalam gips yang telah lengkap dan
23

- Berikan tintur bezoin menyebabkan kerusakan kulit.


- Gunakan plester traksi kulit - Mencegah kerusakan jaringan dan
memanjang pada sisi tungkai yang infeksi oleh kontaminasi fekal
sakit. - Gesekan benda asing menyebakan
- Lebarkan plester sepanjang tungkai. kerusakan jaringan
- Tandai garis dimana plester keluar - Mempunyai efek mongering, tidak
sepanjang ekstremitas menguatkan kulit. Krim dan lotion
- Letakkan bantalan pelindung di tidka dianjurkan karena terlalu
bawah kaki dan diatas tonjolan banyak minyak sehingga dapat
tungkai menutup perimeter gips, tidak
- Balut lingkar tungkai, termasuk memungkinkan gips untuk bernafas.
plester dan bantalan dengan perban Bedak tidak dianjurkan karena resiko
elastis, hati-hati dalam membalut. akumulasi berlebihan di dalam gips.
Balutlah dengan rapat tapi tidak - Meminimalkan tekanan pada kaki
terlalu ketat. dan sekitar tepi gips.
- Palpasi jaringan yang diplester tiap 6. Traksi kulit dan perawatan kulit
hari dan catat adanya nyeri tekan/ - Menurunkan kadar kontaminasi
nyeri. kulit.
- Lepaskan traksi kulit tiap 24 jam - Kekuatan kulit untuk penggunaan
sesuai order, lakukan inspeksi dan traksi kulit.
lakukan perawatan kulit. - Plester traksi melingkari tungkai
7. Traksi tulang dan perawatan kulit dapat mempengaruhi sirkulasi
- Tekuk ujung kawat/ tutup ujung - Traksi dimasukan dalam garis
kawat/pen dengan karet atau gabus dengan akhir plester yang bebas.
pelindung/tutup jarum. - Memungkinkan untuk pengkajian
- Dari bantalan/pelindung dari kulit cepat terhadap benda yang terselip.
domba busa. - Meminimalkan tekanan pada area
tersebut.
- Memberikan tarikan pada traksi yang
tepat yang tepat tanpa mempengaruhi
sirkulasi
- Bila area di bawah plester
mengalami nyeri tekan, diduga ada
iritasi kulit, dan siapkan untuk
membuka system balutan.
- Mempertahankan integritas kulit
7. Traksi tulang dan perawatan kulit
- Mencegah cedera pada bagian tubuh
lain
- Mencegah tekanan berlebihan pada
kulit
Kolaborasi 8. Karena immobilisasi, bagian tubuh
8. Gunakan tempat tidur busa, bulu atau tulang yang menonjol dan sakit
domba, bantal apung atau kasur akibat gips akan mengalami
udara. penurunan sirkulasi.
9. Buat gips dengan katup tunggal, 9. Memungkinkan pengurangan
katup ganda/jendela sesuai order. tekanan dan memberikan akses untuk
perawatan luka/kulit.
24

Diagnose keperawatan : risiko tinggi terhadap infeksi

Tindakan Rasional
Mandiri 1. Pin atau akwat tidak harus
1. Inspeksi kulit terhadap adanya dimasukan melalui kulit yang
iritasi/robekan kontinuitas. terinfeksi, kemerahan atau abrasi dan
2. Kaji sisi pin/kawat, perhatikan dapat menimbulkan indeksi
keluhan peningkatan nyeri atau rasa 2. Dapat mengindikasikan timbulnya
terbakar atau adanya edema, infeksi klokal/ nekrosis jaringan,
eritema, drainase/bau tak enak. yang dapat menimbulkan
3. Lakukan perawatan pin atau kawat osteomyelitis.
steril sesuai protocol dan mencuci 3. Mencegah kontaminasi silang dan
tangan kemungkinan infeksi
4. Instruksikan klien untuk tidak sisi 4. Meminimalkan kesempatan untuk
insersi kontaminasi
5. Tutupi pada akhir gips pertineal 5. Gips yang lembab, padat
dengan plastic. meningkatkan pertumbuhan bakteri
6. Observasi luka dari pembentukan 6. Tanda perkiraan infeksi gas gangrene
bula, krepitasi, perubahan warna 7. Kekakuan otot, spasme tonus otot
kulit kecoklatann, bau drainase tidak rahang, dan disfagia menunjukan
enak. terjadinya tetanus.
7. Kaji tonus otot, reflex tendon dalam 8. Mengindikasikan terjadinya
dan kemampuan berbicara. osteomyelitis.
8. Selidiki adanya nyeri tiba tiba / 9. Adanya drainase purulent akan
keterbatasan gerak dengan edema memerlukan kewaspadaaan
local/eritema ekstremitas cedera luka/linen untuk mencegah
9. Lakukan prodesur isolasi. kontaminasi silang.
Kolaborasi 10. Memantau hasil pemeriksaan
10. Awasi pemeriksaan laboratorium, laboratorium
seperti : - Anemia dapat terjadi pada osteomielitis,
- Hitung lengkap darah leukositosis biasanya ada proses infeksi
- LED - Meningkat pada oateomielitis
- Kultur dan sensitivitas luka/serum/tulang - Mengidentifikasi organisme penyebab
- Scan adioisotop infeksi
11. Berikan obat sesuai order : - Titik panas menunjukkan peningkatan area
-Antibiotik IV/topikal vaskularitas indikasi osteomielitis
- Tetanus toksoid 11. obat sesuai order :
12. Irigasi luka/tulang dan berikan sabun - Antibiotik spektrum luas dapat digunakan
basah/ hangat sesuai indikasi. secara profilaksis atau ditunjukkan pada
13. siapkan pembedahan sesuai dengan mikroorganisme khusus
prosedur. -Profilatik karena kemungkinan adanya
tetanus pada luka terbuka
12. Debridemen lokal/ pembersihan luka
mengurangi mikroorganisme dan insiden
infeksi sistemik.
13. sequestrektomi (pengangkatan tulang
nekrotik diperlukan untuk membantu
penyembuhan dan mencegah perluasan
proses infeksi.
25

Diagnosa Keperawatan : Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan


pengobatan penyakit.

Tindakan Rasional
Mandiri 1. Memberikan dasar pengetahuan di
1. Kaji tulang patologi,prognosis, dan mana klien dapat membuat pilihan
harapan yang akan datang. informasi.
2. Berikan penguatan metode mobilitas 2. Banyak fraktur memerlukan gips,
dan ambulasi sesuai intruksi terapis bebat atau penjepit elama proses
fisik bila di indikasikan. penyembuhan. Kerusakan lanjut dan
3. Buat daftar aktivitas, minta klien keterlambatan penyembuhan dapat
melakukan secara mandiri dan yang terjadi sekunder terhadap
memerlukan bantuan. ketidaktepatan penggunaan alat
4. Identifikasi adanya sumber ambulasi.
pelayanan di masyarakat, misal tim 3. Penyusunan aktivitas seputar
rehabilitasi, pelayanan perawatan di kebutuhan dan yang memerlukan
rumah bantuan.
5. Dorong klien melakukan latihanaktif 4. Memberikan bantuan untuk
untuk sendi di atas dan di bawah memudahkan perawatan diri dan
fraktur. mendukung kemandirian.
6. Diskusikan pentingnya evaluasi Meningkatkan perawatan diri dan
klinis mengoptimalkan penyembuhan.
7. Kaji ulang perawatan pin atau luka 5. Mencegah kekakuan sendi,
yang tepat kontraktur, dan kelelahan otot,
8. Diskusikan perawatan gips yang meningkatkan kembalinya aktivitas
hijau atau basah. sehari-hari secara dini.
9. Anjurkan penggunaan pengering 6. Penyembuhan fraktur memerlukan
rambut untuk mengeringkan area waktu tahunan untuk sembuh total,
gips yang lembab. dn kerjasama klien dalam program
10. Demontrasikan penggunaan kantung pengobatan membantu penyatuan
plastik untuk menutup plester gips yang tepat dari tulang.
selama cuaca lembab atau mandi. 7. Menurunkan resiko trauma tulang/
11. Anjurkan penggunaan pakaian yang jaringan dan infeksi yang dapat
adaptif berlanjut menjadi osteomielitis.
12. Ajarkan cara-cara menutupi ibu jari 8. Meningkatkan perawatan untuk
kaki, contoh sarung tangan atau kaus mencegah deformitas gips dan iritasi
kaki halus. kulit/ kesalahan postur.
13. Diskusikan perawatan pasca 9. Mempercepat pengeringan
pengangkatan gips : 10. Melindungi dari kelembaban, yang
- Anjurkan melanjutkan latihan melunakkan plester gips dan
sesuai perintah melembabkan gips.
- Informasikan bahwa kulit di 11. Membantu akyivitas, berpakaian
bawah gips secara umum lembab rapih.
dan tertutup dengan kalus atau 12. Membantu mempertahankan
serpihan kulit yang mati. kehangatan/ melindungi dari cedera
- Mencuci kulot secara perlahan 13. Perawatan pasca pengangkatan gips :
dengan sabun, betadin, dan air. - Mengurangi kekakuan dan
Minyaki dengan minyak memperbaiki kekakuan serta
pelindung. fungsi ekstermitas yang sakit
26

- Informasikan bahwa otot dapat - Membutuhkan waktu


lembek dan atropi. Anjurkan berminggu-minggu sebelum
untuk memberi sokongan pada kembali ke penampilan normal.
sendi di atas dan di bawah - Kulit yang baru, nyeri tekan
bagian yang sakit dan gunakan karena telah melindungi oleh
alat bantu mobilitas, misal gips.
verban elastik, bebat, kruk,, - Kekakuan otot akan menurun
walker atau tongkat dan rasa sakit yang baru dan
- Tinggikan ekstermitas sesuai nyeri sementara sekunder
kebutuhan. terhadap kehilangan dukungan.
27

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. H

RISIKO TINGGI INFEKSI BERHUBUNGAN DENGAN PORT DE ENRTI


/TEMPAT MASUKNYA MIKROORGANISME KE DALAM SEL

DI RUANG TERATAI MERAH ATAS

RSUD R SYAMSUDIN SH

A. PENGKAJIAN
Tanggal Masuk RS : 31 Maret 2016
Tanggal Pengkajian : 4 April 2016
Waktu : 08.00 WIB
Oleh : Kelompok 6

BIODATA KLIEN
I. Identitas Klien
Nama : Tn. H
No. RM : A305131
Usia : 21 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Karyawan Swasta
Suku/Bangsa : Sunda/Indonesia
Alamat : Kp. Cikukulu RT 27 RW 8 Tegal Panjang Cirenghas
Diagnosa Medis : Ruptur Tendons Pedis Open Around
II. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn. S
Usia : 53 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Hubungan dengan Klien : Ayah kandung
28

Agama : Islam
Pekerjaan : Petani

B. ANAMNESA RIWAYAT KESEHATAN


1. Alasan Masuk RS :
Klien dibawa keluarganya pada tanggal 31 Maret 2016 ke rumah sakit karena
mengalami kecelakaan.
2. Keluhan Utama :
Nyeri pada area luka patah tulang terbuka di kaki kanan.
3. Riwayat Kesehatan Sekarang :
Saat dikaji, klien mengeluh nyeri pada area luka patah tulang terbuka di kaki
kanannya. Nyeri terasa seperti ditusuk-tusuk benda tajam dan terasa panas. Nyeri
dirasakan bertambah ketika klien menggerakan kakinya, dan nyeri berkurang bila
klien tidak menggerakan kakinya. Klien mengatakan, skala nyerinya 3 (0-5).
4. Riwayat Kesehatan Masa Lalu :
Klien sebelumnya tidak pernah mengalami patah tulang, tidak mempunyai riwayat
hipertensi, diabetes melitus, dan tuberculosis paru.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga :
Klien mengatakan, keluarganya tidak ada yang mempunyai riwayat hipertensi,
diabetes mellitus dan tuberculosis paru.
6. Riwayat psikologis:
Keadaan psikologis klien cukup baik, tidak mengalami gangguan.
7. Data social:
Klien mampu bersosialisasi dengan baik terutama dengan perawat, pasien lain, dan
anggota keluarganya.
8. Data biologis
NO POLA AKTIVITAS SEBELUM SAAT DI KELUHAN DAN
HARIAN MASUK RUMAH TINGKAT
RUMAH SAKIT KEMANDIRIAN
SAKIT
1. Pola nutrisi T. A. K
a. Makan
Frekuensi 3X1 hari 3X1 hari
29

Porsi I porsi porsi


Jenis Nasi + lauk Bubur
b. Minum pauk
Frekuensi 5X1 hari
Jumlah 5X1 hari 1 liter
Jenis 2 Liter Air putih
Air putih
2. Pola eliminasi Klien perlu dibantu
a. BAB
Frekuensi 1X1 hari 1X2 hari
Warna Kuning Kuning
Konsistensi Lembek Lembek
b. BAK
Frekuensi 4X1 hari 4X1 hari
Warna Kuning Kuning
Bau Khas amoniak Khas
amoniak
3. Pola istirahat T. A. K
a. Tidur siang
Lama 2 jam 1 jam
Kualitas Nyenyak Nyenyak
b. Tidur malam
Lama 8 jam 8 jam
Kualitas Nyenyak Nyenyak
4. Personal hygiene Klien perlu dibantu
a. Mandi 2X1 hari -
b. Gosok gigi 2X1 hari 2X1 hari
c. Keramas 1X1 hari -

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Pemeriksaan umum
a. Kesadaran:
Compos mentis, dengan GCS 15 (E=4, M=6, V=5), keadaan umum sakit sedang.
30

Penampilan: klien tampak lemah, klien meringis kesakitan, klien tampak cemas,
terdapat luka fraktur pada kaki kanan metatarsal, klien terpasang infus RL 20 tpm.
b. Tanda vital:
1) Tekanan Darah : 120/80 mmHg
2) Suhu : 36,8C
3) Respirasi rate : 20X/menit
4) Pulse : 88X/menit
2. Pemeriksaan fisik persistem
a. System penglihatan: bentuk mata simetris, konjungtiva pucat, sclera putih, reaksi
pupil terhadap cahaya (+/+), tidak ada nyeri tekan yang terasa di bagian mata
ditekan.
b. System pendengaran: bentuk telinga simetris, tidak ada kotoran pada organ
pendengaran, tidak ada nyeri tekan pada daerah telinga, fungsi pendengaran baik.
c. System kardiovaskuler: tidak ada keluhan pada system kardiovaskuler, bunyi
jantung regular (s1 dan s2), tidak ada suara tambahan.
d. System pernapasan: hidung simetris, tidak ada pernapasan cuping hidung, tidak ada
retraksi dinding dada, terdengar vasikular, tidak ada massa di hidung, tidak ada
nyeri tekan, dapat membedakan bau.
e. System pencernaan: bentuk perut simetris, bising usus 10x/menit, tidak ada nyeri
tekan epigastrium.
f. System musculoskeletal: ekstremitas atas tidak ada fraktur, kedua tangan dapat
digerakan. Ekstremitas bawah, kaki kanan tidak dapat digerakan karena ada fraktur
terbuka.
Kekuatan otot:
5 5
3 5

g. System perkemihan: vesica urinaria teraba kosong, tidak ada nyeri tekan pada
vesica urinaria.
h. System reproduksi: tidak dikaji, klien mengatakan tidak ada masalah dengan
system reproduksinya.
i. System integument: terdapat luka terbuka pada kaki kanan, luka tampak
kemerahan, turgor kulit baik.
j. System endokrin: tidak ada perbesaran kelenjar tiroid dan getah bening.
31

k. System persyarafan:
1) N1: Klien dapat membedakan antara bau kulit jeruk dan kayu putih.
2) N2: Klien dapat membaca name tag yang dipegang perawat pada jarak kurang
lebih 30cm, tanpa menggunakan alat bantu penglihatan.
3) N3: Klien dapat menggerakan bola matanya ke segala arah saat disinari dengan
menggunakan penlight, pupil dapat menngecil dan membesar (isokor) kelopak
mata dapat membuka dan menutup.
4) N4: Klien dapat menggerakan bola mata ke bawah dalam.
5) N5: Klien dapat merasakan usapan tangan di pipi, reflex mata saat disentuh
dengan kapas masih responsive.
6) N6: Pergerakan bola mata lateral.
7) N7: Klien dapat mengerutkan dahinya, mimic, mengangkat alis, menutup mata
masih normal, klien dapat menyengir, memoncongkan bibirnya, klien dapat
memperlihatkan dahinya.
8) N8: Klien dapat mendengar dan menjawab pertanyaan pengkajian dalam jarak
1-2 meter, serta klien dapat mendengar detikan jarum yaitu pada jarak 20 cm
9) N9: Klien dapat membuka mulut dan dapat mengatakan huruf A, pengecapan
1/3 posterior lidah klien masih normal dan responsive.
10) N10: Bersamaan dengan pemeriksaan nervous 9
11) N11: Klien dapat mengangkat pundaknya, klien dapat menoleh ke kanan dan
kiri.
12) N12: Klien dapat berbicara dengan baik dan kalimat terdengar jelas, lidah
simetris, klien dapat menjulurkan lidahnya ke berbagai sisi.
3. Pemeriksaan penunjang tanggal 5 April 2016
NO PEMERIKSAAN HASIL NILAI NORMAL INTERPRETASI
1 Hemoglobin 13, 9 g/dL 12-14 g/dL Normal
2 Leukosit 8300/L 4000-10000/L Normal
3 Hematocrit 42% 37-47% Normal
4 Eritrosit 4,7 juta/L 3,8-5,2 juta/L Normal
5 Trombosit 286000/L 150000-450000/L Normal

D. MANAJEMEN MEDIS
32

NO NAMA OBAT DOSIS CARA WAKTU


1 Ceftriaxone 2X1gram IV 11.00 WIB
dan 23.00
WIB
2 Ranitidine 2X25gram IV 11.00 WIB
dan 23.00
WIB
3 Ketorolac 2X35gram IV 11.00 WIB
DAN 23.00
WIB

E. ANALISA DATA

SYMPTOM ETIOLOGI PROBLEM


DS: klien mengatakan Trauma Risiko infeksi
lukanya terasa panas
DO: Ada luka fraktur Fraktur
terbuka di kaki sebelah
kanan, luka tampak Luka terbuka
kemerahan.
Port de entri

Risiko infeksi
DS: Klien mengatakan nyeri Trauma Nyeri
pada daerah luka di kakinya.
Nyeri terasa seperti ditusuk- Fraktur
tusuk benda tajam. Nyeri
dirasakan bertambah ketika Cedera sel
klien menggerakan kakinya,
dan nyeri berkurang bila Degranulasi sel mask
klien tidak menggerakan
kakinya. klien mengatakan Pelepasan mediator kimia
33

skala nyerinya 3 (0-5).


DO: Klien tampak meringis, Nociceptor
ada luka fraktur terbuka kaki
kanan. Medulla spinalis

Korteks serebri

Nyeri dipersepsikan
DS: Klien mengatakan sulit Trauma Gangguan mobilisasi
merubah posisi tubuhnya
karena nyeri. Fraktur
DO: Klien tampak berbaring
saja, tidak merubah posisi. Cedera sel
Kekuatan otot
Kelemahan
5 5

3 5
ketidakmampuan

Klien sulit mobilisasi

F. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Risiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan terdapatnya port de
entri/tempat masuknya mikroorganisme ke dalam sel.
2. Nyeri berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang, cedera pada
jaringan lunak, proses inflamasi.
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan dan ketidakmampuan
klien untuk melakukan pergerakan akibat fraktur.
34

G. INTERVENSI KEPERAWATAN

NO DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL


DX KEPERAWATAN
1. Risiko tinggi Tupan: 1. Observasi tanda- 1. Perubahan suhu
penyebaran infeksi setelah tanda vital yang tinggi,
berhubungan dilakukan 2. Lakukan perawatan membuktikan
dengan tindakan luka secara septik adanya tanda
terdapatnya port keperawatan dan anti septic infeksi.
de entri/tempat selama 6x24 sesuai protocol dan 2. Mencegah
masuknya jam, masalah mencuci tangan kontaminasi silang
mikroorganisme teratasi. 3. Observasi tanda dan kemungkinan
ke dalam sel. Tupen: infeksi infeksi
setelah 4. Kolaborasi: 3. Rasa nyeri, rasa
dilakukan Berikan obat panas,
tidakan antibiotic sesuai pembengkakan,
keperawatan order kemerahan, dan
selama 1x24 perubahan fungsi
jam masalah merupakan tanda
teratasi infeksi.
dengan 4. Antibiotik spektrum
kriteria: luas dapat
-tidak ada digunakan secara
tanda infeksi profilaksis atau
-Suhu normal ditunjukkan pada
mikroorganisme
khusus

2. Nyeri Tupan: 1. Pertahankan 1. Mengurangi nyeri


berhubungan setelah imobilisasi bagian dan mencegah
dengan spasme dilakukan yang sakit dengan kesalahan posisi
otot, gerakan tindakan tirah baring, tulang/tegangan
fragmen tulang, keperawatan pembebat. jaringan yang
35

cedera pada selama 6x24 2. Tinggikan cedera.


jaringan lunak, jam, masalah ekstremitas yang 2. Meningkatkan
proses inflamasi. teratasi. sakit. aliran balik vena,
Tupen: 3. Evaluasi nyeri; mengurangi edema,
setelah lokasi, karakteristik, dan mengurangi
dilakukan intensitas (skala 0- nyeri.
tindakan 5). Pertahankan 3. Memengaruhi
keperawatan petunjuk nyeri efektifitas
selama 1x24 nonverbal intervensi.
jam, masalah (perubahan tanda Tingkatkan ansietas
teratasi vital dan dapat memengaruhi
dengan emosi/prilaku). persepsi/reaksi
kriteria: 4. Dorong penggunaan terhadap nyeri.
-skala nyeri manajemen nyeri, 4. Memfokuskan
berkurang seperti relaksasi kembali perhatian,
menjadi 2 (0- progresif, latihan meningkatkan rasa
5) napas dalam, control, dan dapat
-klien rileks imajinasi meningkatkan
-nyeri visualisasi, kemampuan koping
terkonrol distraksi, sentuhan dalam manajemen
terapeutik. nyeri, yang
5. Kolaborasi: mungkin menetap
Berikan/awasi untuk periode yang
analgesic yang lama.
dikontrol klien. 5. Pemberian rutin
mempertahankan
kadar analgesic
darah secara
adekuat, mencegah
fluktuasi dalam
menghilangkan
nyeri akibat
spasme/tegangan
36

otot.
3. Gangguan Tupan: 1. Kaji kekuatan otot 1. Mengidentifikasi
mobilitas fisik setelah berkesinambungan kelemahan/kekuata
berhubungan dilakukan 2. Instruksikan klien n dan dapat
dengan kelemahan tindakan untuk latihan memberikan
dan keperawatan rentang gerak informasi bagi
ketidakmampuan selama 6x24 aktif/pasif pada pemulihan.
klien untuk jam, masalah ekstremitas yang 2. Meningkatkan
melakukan teratasi. sehat/sakit. aliran darah ke otot
pergerakan akibat Tupen: 3. Dorong atau dan tulang untuk
fraktur. setelah motivasi meningkatkan tonus
dilakukan penggunaan latihan otot,
tindakan isometric mulai mempertahankan
keperawatan dengan tungkai gerakan sendi,
selama 1x24 yang sakit. mencegah
jam, masalah 4. Bantu ubah posisi kontraktur/atrofi,
teratasi klien secara periodic dan reabsorsi
dengan kalsium karena
kriteria: tidak digunakan.
-klien dapat 3. Kontraksi otot
bermobilisasi isometric tanpa
secara menekuk sendi atau
bertahap menggerakan
-tidak ada tungkai dan
komplikasi membantu
pernapasan/ku mempertahankan
lit kekuatan dan massa
-tidak terjadi otot. Catatan:
atropi kontraindikasi pada
-kekuatan otot perdarahan
normal akut/edema.
4. Mencegah
komplikasi
37

pernapasan/kulit,
missal decubitus,
pneumonia,
atelectasis.

H. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN TANGGAL 5 APRIL 2016

NO DIAGNOSA WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI PARAF


DX KEPERAWATAN
1 Risiko tinggi 09.00 1. Mengobservasi tanda- S: klien
penyebaran infeksi WIB tanda vital merasa
berhubungan R/ TD: 120/80 mmHg nyaman
dengan 09.15 Suhu: 36,8C O:
terdapatnya port WIB RR: 20X/menit TD: 120/80
de entri/tempat Pulse: 88X/menit mmHg.
masuknya Suhu: 36,8C.
mikroorganisme 2. Melakukan perawatan RR:
ke dalam sel. 09.30 luka secara steril sesuai 20X/menit.
WIB protocol dan mencuci Pulse:
tangan 88X/menit
R/ Balutan klien diganti, Balutan klien
klien merasa nyaman diganti, tidak
ada
3. Mengobservasi luka dari pembentukan
09.35 pembentukan bula, bula, Klien
WIB perubahan warna kulit diberikan
kecoklatan. ceftriaxone.
R/ Tidak ada A: masalah
pembentukan bula, teratasi
warna kulit kemerahan. sebagian.
P: intervensi
4. Memberikan obat 1, 2, 3, dan 4
antibiotic sesuai order dilanjutkan.
38

R/ Klien diberikan
ceftriaxone
2 Nyeri 09.40 1. Mempertahankan S:
berhubungan WIB imobilisasi bagian yang Skala nyeri
dengan spasme sakit dengan tirah klien 3 (0-5).
otot, gerakan baring, pembebat. klien merasa
fragmen tulang, R/ Imobilisasi klien rileks saat
cedera pada dipertahankan pada didorong
jaringan lunak, 09.45 bagian yang sakit dengan
proses inflamasi. WIB penggunaan
2. Meninggikan manajemen
09.50 ekstremitas yang sakit. stress.
WIB R/ Ekstremitas yang O:
sakit ditinggikan Imobilisasi
klien
3. Mengevaluasi nyeri; dipertahankan
lokasi, karakteristik, pada bagian
intensitas (skala 0-5). yang sakit,
Pertahankan petunjuk ekstremitas
09.55 nyeri nonverbal yang sakit
WIB (perubahan tanda vital ditinggikan,
dan emosi/prilaku). klien
R/ Skala nyeri klien 3 diberikan
(0-5) ranitidine
A: masalah
4. Mendorong penggunaan teratasi
manajemen stress, sebagian
seperti relaksasi P: intervensi
10.05 progresif, latihan napas 1, 2, 3, 4, dan
WIB dalam, imajinasi 5 dilanjutkan.
visualisasi, sentuhan
terapeutik.
R/ klien merasa rileks
39

saat didorong dengan


penggunaan manajemen
stress.

5. Memberikan/awasi
analgesic yang dikontrol
klien.
R/ Klien diberikan
ranitidine
3 Gangguan 10.10 1. Mengkaji derajat S:
mobilitas fisik WIB imobilitas yang Klien
berhubungan dihasilkan oeh mengerti dan
dengan kelemahan cedera/pengobatan mulai
dan dan perhatikan melakukan
ketidakmampuan persepsi klien latihan gerak
klien untuk terhadap imobilisasi. aktif/pasif
melakukan R/ Kekuatan otot O:
pergerakan akibat 10.20 klien pada kaki Kekuatan otot
fraktur. WIB sebelah kanan adalah klien pada
3 (0-5) kaki sebelah
kanan adalah
2. Menginstruksikan 3 (0-5), klien
klien untuk latihan mulai
10.30 rentang gerak melakukan
WIB aktif/pasif pada latihan gerak
ekstremitas yang aktif/pasif,
sehat/sakit. klien
R/ Klien mengerti dilakukan
10.40 dan mulai melakukan latihan
WIB latihan gerak isometric,
aktif/pasif klien mulai
mengubah
3. Mendorong posisi secara
40

penggunaan latihan periodic.


isometric mulai A: masalah
dengan tungkai yang teratasi
sakit. sebagian
R/ Klien dilakukan P: intervensi
latihan isometric 1, 2, 3, dan 4
dilanjutkan.
4. Mengubah posisi
secara periodic.
R/ Klien mulai
mengubah posisi
secara periodic

I. CATATAN PERKEMBANGAN
1. Catatan perkembangan tanggal 6 April 2016

NO Diagnosa Waktu Catatan Perkembangan Paraf


DX Keperawatan
1. Risiko tinggi 08.00 S: klien merasa nyaman
penyebaran infeksi WIB O:
berhubungan dengan TD: 110/80 mmHg.
terdapatnya port de Suhu: 35,8C.
entri/tempat RR: 20X/menit.
masuknya Pulse: 80X/menit
mikroorganisme ke Balutan klien diganti, tidak ada
dalam sel. pembentukan bula, Klien diberikan
ceftriaxone.
A: masalah teratasi sebagian.
P: intervensi 1, 2, 3, dan 4 dilanjutkan.
2. Nyeri berhubungan 09.00 S:
dengan spasme otot, WIB Skala nyeri klien 3 (0-5).
gerakan fragmen klien merasa rileks saat didorong dengan
tulang, cedera pada penggunaan manajemen stress.
41

jaringan lunak, O:
proses inflamasi. Imobilisasi klien dipertahankan pada
bagian yang sakit, ekstremitas yang sakit
ditinggikan, klien diberikan ranitidine
A: masalah teratasi sebagian
P: intervensi 1, 2, 3, 4, dan 5 dilanjutkan.
3. Gangguan mobilitas 10.00 S:
fisik berhubungan WIB Klien mengerti dan mulai melakukan
dengan kelemahan latihan gerak aktif/pasif
dan O:
ketidakmampuan Kekuatan otot klien pada kaki sebelah
klien untuk kanan adalah 3 (0-5), klien mulai
melakukan melakukan latihan gerak aktif/pasif, klien
pergerakan akibat dilakukan latihan isometric, klien mulai
fraktur. mengubah posisi secara periodic.
A: masalah teratasi sebagian
P: intervensi 1, 2, 3, dan 4 dilanjutkan.

2. Catatan perkembangan tanggal 7 April 2016

NO Diagnosa Waktu Catatan Perkembangan Paraf


DX Keperawatan
1. Risiko tinggi 08.00 S: klien merasa nyaman
penyebaran infeksi WIB O:
berhubungan dengan TD: 120/70 mmHg.
terdapatnya port de Suhu: 36,4C.
entri/tempat RR: 20X/menit.
masuknya Pulse: 78X/menit
mikroorganisme ke Balutan klien diganti, tidak ada
dalam sel. pembentukan bula, Klien diberikan
ceftriaxone.
A: masalah teratasi sebagian.
P: intervensi 1, 2, 3, dan 4 dilanjutkan.
42

2. Nyeri berhubungan 09.00 S:


dengan spasme otot, WIB Skala nyeri klien 3 (0-5).
gerakan fragmen klien merasa rileks saat didorong dengan
tulang, cedera pada penggunaan manajemen stress.
jaringan lunak, O:
proses inflamasi. Imobilisasi klien dipertahankan pada
bagian yang sakit, ekstremitas yang sakit
ditinggikan, klien diberikan ranitidine
A: masalah teratasi sebagian
P: intervensi 1, 2, 3, 4, dan 5 dilanjutkan.
3. Gangguan mobilitas 10.00 S:
fisik berhubungan WIB Klien mengerti dan melakukan latihan
dengan kelemahan gerak aktif/pasif
dan O:
ketidakmampuan Kekuatan otot klien pada kaki sebelah
klien untuk kanan adalah 3 (0-5), klien melakukan
melakukan latihan gerak aktif/pasif, klien dilakukan
pergerakan akibat latihan isometric, klien mulai mengubah
fraktur. posisi secara periodic.
A: masalah teratasi sebagian
P: intervensi 1, 2, 3, dan 4 dilanjutkan.

3. Catatan perkembangan tanggal 8 April 2016

NO Diagnosa Waktu Catatan Perkembangan Paraf


DX Keperawatan
1. Risiko tinggi 08.00 S: klien merasa nyaman
penyebaran infeksi WIB O:
berhubungan dengan TD: 120/80 mmHg.
terdapatnya port de Suhu: 36C.
entri/tempat RR: 20X/menit.
masuknya Pulse: 86X/menit
mikroorganisme ke Balutan klien diganti, tidak ada
43

dalam sel. pembentukan bula, Klien diberikan


ceftriaxone.
A: masalah teratasi
P: pasien pulang
2. Nyeri berhubungan 09.00 S:
dengan spasme otot, WIB Skala nyeri klien 2 (0-5).
gerakan fragmen klien merasa rileks saat didorong dengan
tulang, cedera pada penggunaan manajemen stress.
jaringan lunak, O:
proses inflamasi. Imobilisasi klien dipertahankan pada
bagian yang sakit, ekstremitas yang sakit
ditinggikan, klien diberikan ranitidine
A: masalah teratasi sebagian
P: pasien pulang
3. Gangguan mobilitas 10.00 S:
fisik berhubungan WIB Klien mengerti dan mulai melakukan
dengan kelemahan latihan gerak aktif/pasif
dan O:
ketidakmampuan Kekuatan otot klien pada kaki sebelah
klien untuk kanan adalah 3 (0-5), klien melakukan
melakukan latihan gerak aktif/pasif, klien dilakukan
pergerakan akibat latihan isometric, klien mengubah posisi
fraktur. secara periodic.
A: masalah teratasi sebagian
P: pasien pulang
44

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, retak atau patahnya


tulang yang utuh., yang biasanya disebabkan oleh trauma/rudapaksa atau tenaga
fisik yang ditentukan jenis dan luasnya trauma. Patah tulang terbuka memerlukan
pertolongan segera. Penundaan waktu dalam memberikan pertolongan akan
mengakibatkan komplikasi infeksi karena adanya pemaparan dari lingkungan luar.

Klien dirawat di ruang teratai atas selama 5 hari, dengan diagnose


keperawatan:

1. Risiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan terdapatnya port de


entri/tempat masuknya mikroorganisme ke dalam sel.
2. Nyeri berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang, cedera pada
jaringan lunak, proses inflamasi.
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan dan ketidakmampuan
klien untuk melakukan pergerakan akibat fraktur.

B. Saran
1. Bagi klien
Diharapkan setelah diberikan pendidikan kesehatan, klien dapat mengerti
dan memahami pengertian perawatan fraktur/patah tulang sehingga dapat terhindat
dari penyakit tersebut. Umumnya fraktur disebabkan oleh trauma di mana terdapat
tekanan yang berlebihan pada tulang.
2. Bagi perawat
Hendaknya para perawat RSUD R Syamsudin, SH. Dapat lebih
meningkatkan kinerja dengan mengacu kepada standar operasional yang ditetapkan
oleh rumah sakit.
3. Bagi mahasiswa
Diharapkan setelah menjalani dines di RSUD R syamsudin, SH., mahasiswa
dapat memahami dan mampu untukmenjalankan ilmu praktek keperawatan medikal
bedah untuk klien dengan kasus yang diterapkan dengan landasan teori yang baik.