Anda di halaman 1dari 23

TUGAS MAKALAH BELAJAR PEMBELAJARAN

PENDEKATAN PEMBELAJARAN

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Belajar Pembelajaran


Dosen Pengampu :
Dr. Didimus Tanah Boleng, M.Kes

Disusun Oleh: Kelompok IV (Empat)

1. Andika (1605015009)

2. Dewi Yulaikah (1605015005)

3. Hosniyah (1605015029)

4. Rizka Nur Saputri (1605015015)


5. Jenny Seftiansyah (1405015067)
Kelas: Reguler A 2016

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2017
2

ANGGOTA KELOMPOK EMPAT

ANDIKA JENNY SEFTIANSYAH


(1605015009) (1405015067)

RIZKA NUR SAPUTRI HOSNIYAH


(1605015015) (1605015029)

DEWI YULAIKAH
(1605015005)
3

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kita
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kita semua tidak terkecuali penyusun,
sehingga dapat menyelesaikan makalah Belajar Pembelajaran ini yaitu tentang
Pendekatan Pembelajaran
Adapun makalah Belajar Pembelajaran ini telah penyusun usahakan
semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga
dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu, penyusun tidak lupa
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam pembuatan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, penyusun menyadari sepenuhnya bahwa
terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa maupun segi lainnya. Oleh
karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka penyusun membuka selebar-
lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi kritik dan saran, sehingga penulis
dapat memperbaiki makalah Belajar Pembelajaran ini.
Penyusun mengharapkan semoga dari makalah Belajar Pembelajaran ini dapat
diambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inspirasi terhadap
pembaca.

Samarinda, 03 Oktober 2017

Kelompok Empat
4

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................. i
DAFTAR ISI................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................ 1
B. Rumusan Masalah................................................................... 2
C. Tujuan..................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendekatan Dalam Pembelajaran.......................... 3
B. Fungsi Pendekatan Dalam Pembelajaran................................ 4
C. Jenis-Jenis Pembelajaran yang Berkaitan Dengan
Pendekatan Pembelajaran.
1. Teacher Center Approach.................................................. 4
2. Student Center Approach................................................... 5
D. Macam-Macam Pendekatan Dalam Proses
Belajar-Mengajar.
1. Pendekatan Individual........................................................ 8
2. Pendekatan Kelompok....................................................... 12
3. Pendekatan Bervariasi....................................................... 13
4. Pendekatan Edukatif......................................................... 14
5. Pendekatan Keagamaan..................................................... 15
6. Pendekatan Kebermaknaan................................................ 15
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan............................................................................ 18
DAFTAR PUSTAKA
5

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada saat ini, proses belajar mengajar pada beberapa sekolah baik SD, SMP,
maupun SMA umumnya masih menggunakan paradigma lama, yaitu
didominasi oleh peran dan kegiatan guru, dimana guru yang lebih aktif dalam
mengajar daripada peserta didiknya. Peserta didik hanya mendengarkan
penjelasan yang guru sampaikan. Peserta didik cenderung tidak diajak untuk
mengetahui dan memahami peristiwa dan konsep mengenai materi yang
diajarkan, sehingga peserta didik lambat dalam memahami materi tersebut.
Dalam kegiatan belajar mengajar sangat diperlukannya interaksi antara guru
dan murid. Dalam interaksi tersebut, guru sangat perlu untuk membuat
interaksi antara kedua belah pihak berjalan dengan menyenangkan dan tidak
membosankan. Hal ini selain agar mencapai target dari guru itu sendiri, siswa
juga menjadi menyenangkan dalam kegiatan belajar mengajar, serta lebih
merasa bersahabat dengan guru yang mengajar.
Untuk menjalankan interaksi tersebut, diperlukan pendekatan dalam
pembelajaran. Pendidik harus pandai menggunakan pnedekatan secara arif dan
bijaksana. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan
perbuatan. Setiap pendidik tidak selalu memiliki suatu pandangan yang sama
dalam hal mendidik anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang
pendidik ambil dalam pengajaran. Pendidik yang memandang anak didik
sebagai pribadi yang berbeda dengan anak didik lainnya, akan berbeda dengan
pendidik yang memandang anak didik sebagai makhluk yang sama dan tidak
ada perbedaan dalam segala hal. Maka penting untuk meluruskan pandangan
yang keliru dalam anak didik. Untuk itu pendidik perlu menyadari dan
memaklumi bahwasanya anak didik itu merupakan individu dengan segala
perbedaannya sehingga diperlukan beberapa pendekatan dalam proses belajar
mengajar.
6

Untuk itulah, penyusun dari makalah ini mengambil pembahasan mengenai


pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam proses belajar-mengajar,
sehingga kita sebagai calon pendidik lebih memahami bagaimana pendekatan-
pendekatan yang cocok digunakan dalam setiap pembelajaran yang tentu
kondisinya berbeda setiap saatnya.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penyusun dapat mengambil masalah
yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu :
1. Apa Pengertian dari pendekatan dalam pembelajaran?
2. Apa saja fungsi pendekatan bagi suatu pembelajaran?
3. Apa saja jenis-jenis pembelajaran yang berkaitan dengan pendekatan
pembelajaran?
4. Bagaimana macam-macam pendekatan dalam proses belajar-mengajar?

C. Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Belajar Pembelajaran pada semester
tiga.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk dapat mengetahui pengertian dari pendekatan dalam pembelajaran.
b. Untuk dapat mengetahui fungsi pendekatan dalam pembelajaran.
c. Untuk dapat mengetahui jenis-jenis pembelajaran yang berkaitan dengan
pendekatan pembelajaran.
d. Untuk dapat mengetahui macam-macam pendekatan dalam proses
belajar-mengajar.
7

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendekatan Dalam Pembelajaran


Proses interaksi pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar pada
siswa ialah bagaimana cara guru melakukan pendekatan yang sesuai dengan
karakter pembelajaran (Eka, 2010: 3).
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan juga sebagai titik tolak atau sudut
pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan
tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya
mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran
dengan cakupan teoretis tertentu (Eka, 2010: 3).
Pendekatan pembelajaran merupakan suatu himpunan asumsi yang saling
berhubungan dan terkait dengan sifat pembelajaran. Suatu pendekatan bersifat
aksiomatik dan menggambarkan sifat-sifat dan ciri khas suatu pokok bahasan
yang diajarkan (Suyono, 2016: 18).

Gambar1.1: Model Pembelajaran Yang Diawali Dengan


Pendekatan Pembelajaran
Sumber: jeckprodeswijaya.blogspot.co.id
Diakses pada tanggal 08 Oktober 2017 (23.15 WITA)
8

B. Fungsi Pendekatan Dalam Pembelajaran


Menurut Eka (2016: 3), bahwa beberapa fungsi dari pendekatan dalam
pembelajaran diantaranya sebagai berikut.
1. Sebagai pedoman umum dalam menyusun langkah-langkah metode
pembelajaran yang akan digunakan. Sering dikatakan bahwa pendekatan
melahirkan metode. Artinya metode suatu bidang studi, ditentukan oleh
pendekatan yang digunakan. Tidak jarang nama metode pembelajaran
diambil dari nama pendekatannya.
2. Memberikan garis-garis rujukan untuk perancangan pembelajaran.
3. Menilai hasil-hasil pembelajaran yang telah dicapai.
4. Mendiaknosis masalah-masalah belajar yang timbul, dan
5. Menilai hasil penelitian dan pengembangan yang telah dilaksanakan.
C. Jenis-jenis Pembelajaran yang Berkaitan Dengan Pendekatan Pembelajaran
Dilihat dari pendekatannya pembelajaran, terdapat dua jenis pendekatan,
yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa
(student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi
atau berpusat pada guru (teacher centered approach) (Sudrajat, 2008: 1).
1. Teacher center approach
Pendekatan pembelajaran yang konvensional di-mana guru sebagai
seorang yang ahli menyampaikan ilmu pengetahuan kepada muridnya
seperti ini biasa disebut dengan Techer Centered Learning. Dalam
perkembangannya pendekatan Teacher Centered Learning (TCL) tidak lagi
sesuai dengan yang terjadi pada kehidupan nyata. TCL merupakan
pendekatan yang dinilai memandang semua murid sama (Antika, 2014: 252)
Pada proses pembelajaran Tarikh, TCL lebih efektif dalam meningkatkan
hasil belajar siswa. Hal ini dikarenakan proses pembelajaran dengan TCL,
seluruh kondisi kelas dapat dikuasi sepenuhnya oleh guru, sehingga kelas
menjadi tenang dan kondusif untuk proses pembelajaran, di mana sebagian
besar materi Tarikh berisi kisah-kisah yang perlu diingat atau dihafal, dan
dijelaskan oleh guru. Walaupun terkadang membosankan dan ada siswa
9

yang mengantuk, hal itu tergantung guru pelajaran dalam mengelola suasana
kelas (Ramadhani, 2014:11).
Untuk beberapa kondisi kegiatan TCL memang sudah cukup baik, akan
tetapi ketika berhadapan dengan kondisi murid yang memiliki beragam
karakter yang berbeda-beda maka paradigma ini sudah tidak bijak
diterapkan lagi (Antika, 2014: 252).

Gambar 3.1: Skema Teacher Center Approach


Sumber: bit514.blogspot.com
Diakses pada tanggal 08 Oktober 2017 (23.22 WITA)
2. Student center approach
Student Centered Learning merupakan salah satu pendekatan pengajaran
dalam pendidikan. Pendekatan ini memberikan kebebasan kepada siswa
untuk memiliki kesempatan dan fasilitas menggali sendiri ilmu
pengetahuannya sehingga akan didapat pengetahuan yang mendalam (deep
learning) dan mampu meningkatkan kualitas siswa (Antika, 2014: 251).
10

Gambar 3.1: Skema Teacher Center Approach


Sumber: bit514.blogspot.com
Diakses pada tanggal 08 Oktober 2017 (23.22 WITA)
SCL (Student Centered Learning) muncul sebagai alternative pendekatan
pendidikan untuk menjawab permasalahan ketidaksesuaian pendekatan
TCL. SCL merupakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa.
Dalam pendekatan pembelajaran SCL, guru harus mampu melaksanakan
perannya dengan baik yaitu tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga
sebagai motivator, fasilitator, dan inovator. Guru tidak hanya dituntut untuk
mengajar saja di depan kelas melainkan juga berperan membantu murid
untuk memecahkan masalah saat murid mengalami kesulitan dalam proses
pembelajaran (Antika, 2014: 252-253).
Proses pembelajaran berbasis Student Centered Learning memanfaatkan
berbagai sumber belajar yang ada di sekitar sekolah. Perpustakaan mini
yang ada di sekolah memiliki buku yang menunjang proses pembelajaran,
selain itu perpustakaan ini juga berisi buku-buku yang bersifat rekreatif
yang dapat dibaca untuk mengisi waktu luang siswa. Lingkungan sekitar
sekolah selain perpustakaan dapat dimanfaatkan untuk proses pembelajaran.
Contohnya untuk pelajaran PKN, OSIS dan kegiatan ekstrakurikuler dapat
dijadikan laboratorium demokrasi di luar kelas. Setiap tahun SMP Islam
Baitul 'Izzah Ngan-juk mengadakan pemilihan ketua OSIS, hal ini secara
langsung melatih siswa berani berpendapat dan latihan berorganisasi
(Antika, 2014: 254-255).
Pembelajaran berbasis Student Centered Learning membina siswa untuk
belajar, berpikir dan mencari informasi sehingga dalam proses pembelajaran
yang tercipta suasana yang aktif dan kreatif. Murid pada pembelajaran
berbasis Student centered Learning harus selalu didorong untuk mempunyai
motivasi yang tinggi untuk bisa mencapai kompetensi yang diharapkan.
Murid dimotivasi dengan cara sering melakukan diskusi sehingga murid
berani mengemukakan pendapat serta belajar untuk memecahkan masalah.
Murid juga dibiasakan untuk dapat me-nyampaikan atau mempresentasikan
11

pe-ngetahuan yang dimilikinya. Dalam pem-belajaran berbasis Student


Centered Le-arning murid juga tidak boleh takut de-ngan guru, jika murid
memiliki ketakutan pada guru tidak bisa melakukan diskusi atau sharing
dengan nyaman (Antika, 2014: 246).

Gambar 3.2: Siswa Aktif Menyampaikan Pendapat


Sumber: prioritaspendidikan.org
Diakses pada tanggal 07 Oktober 2017 (15.14)
Menurut Antika (2014: 257), Penerapan proses pembelajaran berbasis
Student Centered Learning memerlukan strategi pembelajaran yang tepat
agar dalam penerapannya dalam berjalan dengan baik dan tidak menjadi
pembelajaran yang membosankan bagi para murid. Dua strategi
pembelajaran dalam praktek penyampaian proses pembelajaran berbasis
Student Centered Learning, yaitu Active Learning dan Contextual Learning.
a. Active Learning
Active learning adalah salah satu strategi pembelajaran yang berbasis
pada murid (Student Centered Learning). Strategi pembelajaran active
learning merupakan pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas murid
dan menerapkan prinsip learning by doing. Rasa ingin tahu murid pada
hal yang belum diketahui mendorong keterlibatannya secara aktif dalam
proses pembelajaran (Pannen, 2001: 42). Hal ini berarti bahwa sistem
pembelajaran menempatkan murid sebagai subyek pembelajaran yang
aktif. Murid bukan objek pembelajaran yang dijejali dengan informasi,
tetapi murid adalah subyek yang memiliki potensi. Sehingga proses
12

pembelajaran harus diarahkan untuk mengembangkan seluruh potensi


yang dimiliki murid.
b. Contextual Learning
Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar dan mengajar yang
membantu guru untuk mengaitkan materi pembelajaran dengan
kehidupan nyata para siswa dan mendorong para siswa untuk
menerapkan pembelajaran yang diperoleh di sekolah dalam kehidupan
nyata siswa di lingkungan keluarga ataupun masyarakat luas dengan
tujuan akhir untuk menemukan makna materi tersebut untuk
kehidupannya.
D. Macam-Macam Pendekatan Dalam Proses Belajar-Mengajar
Menurut Dimyati (2009 161-168), bahwa pendekatan pembelajaran terdiri
dari pendekatan pembelajaran secara individual dan pendekatan pembelajaran
secara kelompok, yaitu dengan penjelasan sebagai berikut.
1. Pendekatan Pembelajaran secara Individual
Pembelajaran secara individual adalah kegiatan mengajar guru yang
menitik beratkan pada bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-
masing individu. Bantuan dan bimbingan belajar kepada individu juga
ditemukan pada pembelajaran klasikal, tetapi prinsipnya berbeda. Pada
pembelajaran individual, guru memberi bantuan pada masing-masing
pribadi. Sedangkan pada pembelajaran klasikal, guru memberi bantuan
individual secara umum. Sebagai ilustrasi, bantuan guru kelas tiga kepada
siswa yang membaca dalam hati dan menulis karangan adalah pembelajaran
individual. Pada pembaca dalam hati secara individual siswa menemukan
kesukaran sendiri-sendiri.
a. Tujuan Pengajaran Pada Pembelajaran Secara Individual
Pelaku belajar mengajar disekolah yang menganut sistem klasikal
tampak serupa. Dalam kelas terdapat siswa yang rata-rata yang berjumlah
empat puluhan orang. Guru membantu siswa yang menghadapi
kesukaran. Adapun tujuan pengajaran yang menonjol adalah:
13

1) Pemberian kesempatan dan keleluasaan siswa untuk belajar


berdasarkan kemampuan sendiri; dalam pengajaran klasikal guru
menggunakan ukuran kemampuanrata-rata kelas. Dalam pembelajaran
individual awal pelajaran adalah kemampuan tiap individual,
sedangkan pada pengajaran klasikal awal pelajaran adalah
kekmampuan tiap individual, sedangkan pada pengajaran klasikal
awal pelajaran berdasarkan kemampuan rata-rata kelas.
2) Pengembangan kemampuan tiap individu secara optimal. Tiap
individu memiliki pakel belajar sendiri-sendiri, yang sesuai dengan
tujuan belajarnya secara individual juga.
b. Siswa dalam Pembelajaran Secara Individual
Kedudukan siswa dalam pembelajaran individual bersifat sentral.
Pembelajaran merupakan pusat layanan pengajaran. Berbeda dengan
pengajaran klasikal, maka siswa memiliki keleluasaan berupa, (i)
keleluasaan belajar berdasarkan kemampuan sendiri, (ii) kebebasan
menggunakan waktu belajar, dalam hal ini siswa bertanggung jawab atas
semua kegiatan yang melakukannya, (iii) keleluasaan dalam mengontrol
kegiatan, kecepatan, dan intensitas belajar, dalam rangka mencapai
tujuan belajar yang telah ditetapkan, (iv) siswa melakukan penilaian
sendiri atas hasil belajar, (v) siswa dapat mengetahui kemampuan dan
hasil belajar sendiri, serta (iv) siswa memiliki kesempatan untuk
menyusun program belajarnya sendiri.
c. Guru dalam Pembelajaran Secara Individual
Kedudukan guru dalam pembelajaran individual bersifat membantu.
Bantuan guru berkenaan dengan komponen pembelajaran berupa (i)
perencanaan kegiatan belajar, (ii) pengorganisasian kegiatan belajar, (iii)
penciptaan pendekatan terbuka antara guru dan siswa, dan (iv) fasilitas
yang mempermudah belajar.
Peranan guru dalam merencanakan kegiatan belajar sebagai berikut:
(i) membantu merencanakan kegiatan belajar siswa; dengan musyawarah
guru membantu siswa menetapkan tujuan belajar, membuat program
14

belajar sesuai kemampuan siswa, (ii) membicarakan pelaksanaan belajar,


mengemukakan kriteria keberhasilan belajar, menentukan waktu dan
kondisi belajar, (iii) berperan sebagai penasihat atau pembimbing, dan
(iv) membantu siswa dalam penilaian hasil belajar dan kemajuan sendiri.
Peranan guru dalam pengorganisasian kegiatan belajar adalah
mengatur dan memonitor kegiatan belajar sejak awal sampai akhir.
Peranan guru adalah sebagai berikut: (i) memberikan orientasi umum
sehubungan dengan belajar topik tertentu, (ii) membuat variasi kegiatan
belajar agar tidak terjadi kebosanan, (iii) mengkoordinasikan kegiatan
dengan memperhatikan kemajuan, materi, media, dan sumber, (iv)
membagi perhatian pada sejumlah pebelajar, menurut tugas dan
kebutuhan pebelajar, (v) memberikan balikan terhadap setiap pebelajar,
dan (vi) mengakhiri kegiatan belajar dalam suatu unjuk hasil belajar
beeupa laporan atau pameran hasil kerja; unjuk kerja hasil belajar
tersebut umumnya diakhiri dengan evaluasi kemajuan belajar.
Peranan guru dalam penciptaan hubungan terbuka dengan siswa
bertujuan menimbulkan perasaan bebas dalam belajar. Hubungan terbuka
tersebut dilakukan dengan cara-cara (i) membuat hubungan akrab dan
peka terhadap kebutuhan siswa, (ii) mendengarkan secara simpatik
terhadap segala ungkapan jiwa siswa, (iii) tanggap dan memberikan
reaksi positif pada siswa, (iv) membina hubungan saling mempercayai,
(v) kesiapam membantu siswa, (vi) membina suasana aman sehingga
siswa leluasa bereksplorasi, memberi kemungkinan penemuan-
penemuan, dan mendorong terjadinya emansipasi dengan penuh
tanggung jawab.
Peranan guru yang sangat penting adalah menjadi fasilitator belajar.
Tujuannya adalah mempermudah prosel belajar. Cara yang dilakukan
guru antara lain adalah (i) membimbing siswa belajar, (ii) menyediakan
media dan sumber belajar, (iii) memberi penguatan belajar, (iv) memjadi
teman dalam mengevaluasi pelaksanaan, cara, dan hasil belajar, serta (v)
memberi kesempatan siswa untuk memperbaiki diri.
15

d. Program Pembelajaran dalam Pembelajaran Individual


Program pembelajaran individual meruakan usaha memperbaiki
kelemahan pengajaran klasikal. Dari segi kebutuhan pebelajar, program
pembelajaran individual lebih efektif, sebab siswa belajar sesuai dengan
programnya sendiri. Dari segi guru, yang terkait dengan jumlah
pebelajar, tampak kurang efisien. Jumlah siswa sebesar empat puluh
orang meminta perhatian besar guru, dan hal itu akan melelahkan guru.
Dari segi usia perkembangan pebelajar, maka program pembelajaran
individual cocok bagi siswa SLTP keatas. Hal ini disebabkan oleh (i)
umumnya siswa sudah dapat membaca dengan baik, (ii) siswa mudah
memahami petunjuk atau perintah dengan baik, dan (iii) siswa dapat
bekerja mandiri dan bekerja sama dengan baik.
Dari segi bidang studi, maka tidak semua bidang studi cocok untuk
diprogramkan secara individual. Bidang studi yang dapat diprogramkan
secara individual adalah pengajaran bahasa, matematika, IPA, IPS bagi
bahan ajaran tertentu. Bagi bidang studi musik, kesenian, dan olah raga
yang bersifat perorangan, juga cocok untuk program pembelajaran
individual.
Program pembelajaran individual dapat dilaksanakan secara efektif,
bila mempertimbangkan hal-hal berikut; (i) disesuaikan dengan
kebutuhan dan kemampuan siswa, (ii) tujuan pembelajaran dibuat dan
dimengerti oleh siswa, (iii) prosedur dan cara kerja dimengerti oleh
siswa, (iv) kriteria keberhasilan dimengerti oleh siswa, (v) keterlibatan
guru dalam evaluasi dimengerti siswa.
e. Orientasi dan Tekanan Utama Pelaksanaan
Program pembelajaran individual berorientasi pada pemberian
bantuan kepada setiap siswa agar ia dapat belajar secara mandiri.
Kemandirian belajar tersebut merupakan tuntutan perkembangan
individu. Dalam menciptakan pembelajaran individual, rencana guru
berbeda dengan pengajaran klasikal. Dalam pelaksanaan guru berperan
16

sebagai fasilitator, pembimbing, pendiagnosis kesukaran belajar, dan


rekan diskusi. Guru berperan sebagai guru pendidik, bukan instruktur.
2. Pembelajaran Secara Kelompok
Dalam kegiatan belajar-mengajar dikelas adakalanya guru membentuk
kelompok kecil, guru memberikan bantuan atau bimbingan kepada tiap
anggota kelompok agar lebih intensif. Hal ini dapat terjadi, sebab (i)
hubungan antar guru-siswa menjadi lebih sehat dan akrab, (ii) siswa
memperoleh bantuan, kesempatan, sesuai dengan kebutuhan, kemampuan
dan minat, serta (iii) siswa dilibatkan dengan penentuan tujuan belajar, cara
belajar, kriteria keberhasilan. Ciri-ciri yang menonjol pada pembelajaran
secara kelompok dapat ditinjau dari segi (i) tujuan pengajaran, (ii)
pembelajaran, (iii) guru sebagai pembelajar, (iv) program pembelajaran, dan
(v) orientasi dan tekanan utama pelaksanaan pembelajaran.
a. Tujuan Pengajaran pada Kelompok Kecil
Tujuan pembelajaran pada kelompok kecil adalah:
1) Memberi kesempatan kepada setaip siswa untuk mengembangkan
kemampuan memecahkan masalah secara rasional
2) Mengembangkan sikap sosial dan semangat bergotong-royong dalam
kehidupan
3) Mendinamiskan kegiatan kelompok dalam belajar sehingga setiap
anggota merasa diri sebagai bagian kelompok yang bertanggung
jawab
4) Mengembangkan kemampuan kepemimpinan-kepemimpinan pada
tiap anggota kelompok dalam pemecahan masalah kelompok.
b. Siswa dalam Pembelajaran Kelompok Kecil
Siswa dalam kelompok kecil adalah anggota kelompok yang belajar
untuk memecahkan masalah kelompok. Ciri-ciri kelompok kecil yang
menonjol sebagai berikut: (i) setiap siswa merasa sadar diri sebagai
anggota kelompok, (ii) setiap siswa merasa diri memiliki tujuan bersama
berupa tujuan kelompok, (iii) memiliki rasa saling membutuhkan dan
17

saling tergantung, (iv) ada interaksi dan kemunikasi beranggota, serta (v)
ada tindakan bersama sebagai perwujudan tanggung jawab kelompok.
Agar kelompok kecil berperan konstruksif dan produktif, diharapkan:
(i) anggota kelompok sadar diri menjadi anggota kelompok, (ii) siswa
sebagai kelompok memiliki rasa tanggung jawab, (iii) tiap anggota
kelompok membina hubungan akrab yang mendorong timbulnya
semangat tim, dan (iv) kelompok mewujud dalam satuan kerja yang
kohesif.
c. Guru sebagai Pembelajar dalam Pembelajaran Kelompok
Pembelajaran kelompok bermaksud menimbulkan dinamika kelompok
agar kualitas belajar meningkat. Peranan guru dalam pembelajaran
kelompok terdiri dari: (i) pembentukan kelompok, (ii) perencanaan tugas
kelompok, (iii) pelaksanaan, dan (iv) evaluasi hasil belajar kelompok.
Dalam pelaksanaan mengajar, guru dapat berperan sebagai berikut: (i)
pemberi informasi umum tentang proses belajar kelompok, (ii0 setelah
kelompok memahami tugasnya, maka kelompok melaksanakan tugas,
(iii) pada akhir pelajaran, tiap kelompok melaporkan hasil kerja, dan 9iv)
guru melakukan evaluasi.
Menurut Eka, (2010: 7), bahwa selain Pendekatan Individual dan
Pendekatan Kelompok, terdapat pula pendekatan-pendekatan yang dapat
digunakan dalam proses belajar-mengajar. Diantaranya sebagai berikut.
1. Pendekatan Bervariasi
Ketika guru dihadapkan kepada permasalahan anak didik yang
bermasalah, maka guru akan berhadapan dengan permasalahan yang
bervariasi. Setiap masalah yang dihadapi oleh anak didik tidak selalu sama,
terkadang ada perbedaan.
Permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didik bervariasi, maka
pendekatan yang digunakan pun akan lebih tepat dengan pendekatan
bervariasi pula. Pendekatan bervariasi bertolak dari konsepsi bahwa
permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didik dalam belajar
bermacam-macam. Kasus yang biasanya muncul dalam penagajaran dengan
18

berbagai motif, sehingga diperlukan variasi teknik pemecahan untuk setiap


kasus. Maka kiranya pendekatan bervariasi ini sebagai alat yang dapat guru
gunakan untuk kepentingan pengajaran.
2. Pendekatan Edukatif
Dalam pendidikan, guru akan kurang arif dan bijaksana bila
menggunakan kekuasaan. Karena hal itu bisa merugikan pertumbuhan dan
perkembangan kepribadian anak didik. Pendekatan yang benar bagi guru
adalah dengan melakukan pendekatan edukatif. Setiap tindakan dan
perbuatan yang dilakukan guru harus bernilai pendidikan dengan tujuan
untuk mendidik anak didik agar menghargai norma hukum, norma susila,
norma sosial dan norma agama.
Cukup banyak sikap dan perbuatan yang harus guru lakukan untuk
menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak didik. Salah satu contohnya,
misalnya ketika lonceng tanda masuk kelas telah berbunyi, anak-anak
jangan dibiarkan masuk dulu, tetapi suruhlah mereka berbaris di depan pintu
masuk dan perintahkanlah ketua kelas untuk mengatur barisan. Semua anak
perempuan berbaris dalam kelompok sejenisnya. Demikian juga semua anak
laki-laki, berbaris dalam kelompok sejenisnya. Jadi, berisan dibentuk
menjadi dua dengan pandangan terarah kepintu masuk. Di sisi pintu masuk
guru berdiri sambil mengontrol bagaimana anak-anak berbaris di depan
pintu masuk kelas. Semua anak di persilahkan masuk oleh ketua kelas.
Mereka pun satu persatu masuk kelas, mereka satu persatu menyalami guru.
Semua anak-anak masuk dan pelajaran pun dimulai.
Contoh diatas menggambarkan pendekatan edukatif yang di lakukan
telah oleh guru dengan menyuruh anak didik berbaris di depan pintu masuk
kelas. Guru telah meletakkan tujuan untuk membina watak anak didik
dengan pendidikan akhlak yang mulia.
Kasus yang terjadi di sekolah biasanya tidak hanya satu, tetapi
bermacam-macam jenis dan tingkat kesukarannya. Hal ini menghendaki
pendekatan yang tepat. Berbagai kasus yang terjadi selain dapat didekati
dengan pendekatan individual, pendekatan kelompok, dan juga pendekatan
19

bervariasi. Namun yang penting untuk di ingat adalah bahwa pendekatan


individual harus bedampingan dengan pendekatan edukatif. Pendekatan
kelompok harus berdampingan dengan pendekatan edukatif, dan pendekatan
bervariasi harus berdampingan dengan pendekatan edukatif. Dengan
demikian, semua pendekatan yang dilakukan oleh guru harus bernilai
edukatif, dengan tujuan mendidik.
3. Pendekatan Keagamaan
Pendidikan dan pelajaran disekolah tidak hanya memberikan satu atau
dua macam mata pelajaran, tetapi terdiri dari banyak mata pelajaran. Dalam
prateknya tidak hanya digunakan satu, tetapi bisa juga penggabungan dua
atau lebih pendekatan.
Dengan penerapan prinsip-prinsip mengajar seperti prinsip korelasi dan
sosialisasi, guru dapat menyisipkan pesan-pesan keagamaan untuk semua
mata pelajaran. Khususnya untuk mata pelajaran umum sangat penting
dengan pendekatan keagamaan. Hal ini dimaksudkan agar nilai budaya ini
tidak sekuler, tetapi menyatu dengan nilai agama. Tentu saja guru harus
menguasai ajaran-ajaran agama yang sesuai dengan mata pelajaran yang
dipegang. Mata pelajaran biologi, misalnya, bukan terpisah dari masalah
agama, tetapi ada hubunganya. Persoalannya sekarang terletak mau atau
tidaknya guru mata pelajaran tersebut.
Pendekatan agama dapat membantu guru untuk memperkecil kerdilnya
jiwa agama didalam diri siswa, agar nilai-nilai agamanya tidak
dicemoohkan dan dilecehkan, tetapi diyakini, dipahami, dihayati dan
diamalkan.
4. Pendekatan Kebermaknaan
Bahasa adalah alat untuk menyampaikan dan memahami gagasan pikiran,
pendapat, dan perasaan, secara lisan atau tulisan. Bahasa merupakan alat
untuk mengungkapkan makna yang diwujudkan melalui struktur (tata
bahasa dan kosa kata). Dengan demikian struktur berperan sebagai alat
pengungkapan makna (gagasan, pikiran, pendapat dan perasaan). Jadi
pendekatan kebermaknaan adalah pendekatan yang memasukkan unsur-
20

unsur terpenting yaitu pada bahasa dan makna. Misalnya pendekatan dalam
rangka penguasaan bahasa Inggris.
Bahasa Inggris adalah bahasa asing yang pertama di indonesia yang
dianggap penting untuk tujuan penyerapan dan pengembangan ilmu
pengetahuan. Kegagalan penguasaan bahasa inggris oleh siswa salah satu
sebabnya kurang tepatnya pendekatan yang digunakan oleh guru selain
faktor lain seperti faktor sejarah, fasilitas, dan lingkungan serta kompetensi
guru itu sendiri. Karenanya perlu dipecahkan. Salah satu alternatif ke arah
pemecahan masalah tersebut diajukanlah pendekatan baru, yaitu pendekatan
kebermaknaan. Ada beberapa konsep penting yang menyadari pendekatan
ini sebagai berikut :
a. Bahasa merupakan alat untuk mengungkapkan makna yang diwujudkan
melalui struktur ( tata bahasa dan kosa kata).
b. Makna ditentukan oleh lingkup kebahasaan maupun lingkup situasi yang
merupakan konsep dasar dalam pendekatan kebermaknaan pengajaran
bahasa yang natural.
c. Makna dapat diwujudkan melalui kalimat yang berbeda, baik secara lisan
maupun tertulis. Suatu kalimat dapat mempunyai makna yang berbeda
tergantung pada situasi saat kalimat digunakan.
d. Belajar bahasa asing adalah belajar berkomunikasi melalui bahasa
tersebut, sebagai bahasa sasaran, baik secara lisan maupun tertulis.
Belajar berkomunikasi ini perlu didukung oleh pembelajaran unsur-unsur
bahasa sasaran.
e. Motivasi belajar siswa merupakan faktor utama yang menentukan
keberhasilan belajarnya. Kadar motivasi ini banyak ditentukan oleh kadar
kebermaknaan bahan peljaran dan kegiatan pembelajaran siswa yang
bersangkutan.
f. Bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran menjadi lebih penting
bermakna bagi siswa jika berhubungan dengan kebutuhan siswa yang
berkaitan dengan pengalaman, minat, tata nilai, dan masa depannya.
21

g. Dalam proses belajar mengajar siswa merupakan subjek utama, tidak


hanya sebagai objek belaka. Karena itu, ciri-ciri dan kebutuhan mereka
harus dipertimbangkan dalam segala keputusan yang berkaitan dengan
pengajaran.
h. Dalam proses belajar mengajar guru berperan sebagai fasilitator yang
membantu siswa mengembangkan ketrampilan berbahasanya.
22

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pada pembahasan yang terdapat di atas, maka penyusun
mengambil beberapa kesimpulan, yaitu sebagai berikut.
1. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan juga sebagai titik tolak atau sudut
pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan
tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di
dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode
pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
2. beberapa fungsi dari pendekatan dalam pembelajaran diantaranya yaitu
sebagai pedoman umum dalam menyusun langkah-langkah metode
pembelajaran yang akan digunakan, memberikan garis-garis rujukan untuk
perancangan pembelajaran, menilai hasil-hasil pembelajaran yang telah
dicapai, mendiaknosis masalah-masalah belajar yang timbul, dan menilai
hasil penelitian dan pengembangan yang telah dilaksanakan.
3. Dilihat dari pendekatannya pembelajaran, terdapat dua jenis pendekatan,
yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada
siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang
berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
4. Macam-Macam Pendekatan Dalam Proses Belajar-Mengajar diantaranya
yaitu pendekatan pembelajaran secara individual, pendekatan pembelajaran
secara kelompok, pendekatan secara bervariasi, pendekatan secara edukatif,
pendekatan secara keagamaan, dan pendekatan kebermaknaan serta
pendekatan-pendekatan lainnya.
23

DAFTAR PUSTAKA

Eka, Rina. 2010. Pendekatan Dalam Pembelajaran. https://www.academia.edu.


Diakses pada tanggal 07 Oktober 2017 pada pukul 09.22 WITA.

Sudrajat, Akhmad. 2008. Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan


Model Pembelajaran. http://eprintis.walisongo.ac.id. Diakses pada tanggal
07 Oktober 2017 pada pukul 09.35 WITA.

Suyono., dan Hariyanto. 2016. Belajar Dan Pembelajaran: Teori Dan Konsep
Dasar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Antika, Rindy. 2014. Proses Pembelajaran Berbasis Student Centered Learning


(Studi Deskriptif di Sekolah Menengah Pertama Islam Baitul Izzah,
Nganjuk). http://lib.unair.ac.id. Diakses pada tanggal 07 Oktober 2017 pada
pukul 09.39 WITA.

Dimyati, Mudijono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Ramadhani, Alif. 2014. Perbandingan Strategi Pembelajaran Teacher Center


Learning Dengan Student Centering Learning Terhadap Hasil Belajar Pada
Mata Pelajaran Tarikh Siswa Kelas VIII SMP Muhammadiyah 4 Surakarta .
http://eprints.ums.ac.id. Diakses pada tanggal 07 Oktober 2017 pada pukul
09.45 WITA.