Anda di halaman 1dari 45

LAPORAN KASUS

SEORANG BAYI PEREMPUAN USIA 6 HARI DENGAN PRE


TERM, BBLR DAN DISTRESS PERNAFASAN

Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan


Klinik Stase Ilmu Kesehatan Anak

Diajukan Kepada :

Pembimbing : dr. Galuh Ramaningrum Sp.A


Disusun Oleh :

Rr. Dewi Susilojati H2A013052


Kepaniteraan Klinik

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
RSUD Dr.ADHYATMA, MPH SEMARANG
2017

1
LEMBAR PENGESAHAN KOORDINATOR KEPANITERAAN
ILMU KESEHATAN ANAK

LAPORAN KASUS

PRE TERM, BBLR DAN DISTRESS PERNAFASAN

Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik


Stase Ilmu Kesehatan Anak

RSUD Dr.ADHYATMA, MPH SEMARANG

Disusun Oleh:
Rr. Dewi Susilojati H2A013052

Telah disetujui oleh Pembimbing:

Tanggal : 20 September 2017

Pembimbing Klinik
Ilmu Kesehatan Anak

dr. Galuh Ramaningrum Sp.A

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang Maha Pengasih dan
Maha Penyayang atas segala nikmat dan karunia-Nya sehingga dapat
menyelesaikan Laporan Kasusini, yang diajukan untuk memenuhi tugas dan
melengkapi syarat mengikuti ujian kepaniteraan klinikStase Ilmu Kesehatan Anak
Laporan Kasus ini berjudul BBLR, Pte Term dan Distress Pernafasan.
Dengan selesainya laporan kasus ini, perkenankanlah penulis menyampaikan rasa
terima kasih kepada :
1. Prof. dr. Rifky Muslim, Sp.B Sp.U, selaku Dekan Fakultas beserta
jajaran di Prodi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Semarang
2. dr.Galuh Ramaningrum, Sp.A;dr. Laily Babgei, Sp.A; dr.Agus
Saptanto, Sp.A dan dr Noor Hidayati,Sp.A selaku koordinator
sekaligus pembimbing Stase Ilmu Kesehatan Anak
3. RSUD Dr.Adhyatma, MPH seluruh direksi dan karyawan
4. Semua pihak dan teman-teman lain yang tidak dapat disebutkan
namanya satu persatu.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih jauh dari sempurna. Untuk
itu penulis mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang membangun
demi kesepurnaan laporan kasus ini. Semoga laporan kasus ini berguna bagi kita
semua.
Semarang, September 2017
Penulis

3
BAB I

PENDAHULUAN

World Health Organization (WHO) mendefinisikan Berat Badan Lahir


Rendah (BBLR) sebagai bayi yang terlahir dengan berat kurang dari 2500gram.
BBLR masih terus menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan secara
global karena efek jangka pendek maupun panjangnya terhadap kesehatan (WHO
(2014). Pada tahun 2011, 15% bayi di seluruh dunia (lebih dari 20 juta jiwa), lahir
dengan BBLR (UNICEF, 2013). Sebagian besar bayi dengan BBLR dilahirkan di
negara berkembang termasuk Indonesia, khususnya di daerah yang populasinya
rentan (WHO, 2014). BBLR bukan hanya penyebab utama kematian prenatal dan
penyebab kesakitan. Studi terbaru menemukan bahwa BBLR juga meningkatkan
risiko untuk penyakit tidak menular seperti diabetes dan kardiovaskuler di
kemudian hari (WHO, 2014). Begitu seriusnya perhatian dunia terhadap
permasalahan ini hingga World Health Assembly pada tahun 2012 mengesahkan
Comprehensive Implementation Plan on Maternal, Infant and Young Child
Nutrition dengan menargetkan 30% penurunan BBLR pada tahun 2025 (WHO,
2014).
Di Indonesia sendiri persentase BBLR tahun 2013 mencapai 10,2%
(Balitbangkes and Kemenkes RI, 2013), artinya, satu dari sepuluh bayi
diIndonesia dilahirkan dengan BBLR. Jumlah ini masih belum bisa
menggambarkan kejadian BBLR yang sesungguhnya, mengingat angka tersebut
didapatkan dari dokumen/catatan yang dimiliki oleh anggota rumah tangga,
seperti buku Kesehatan Ibu dan Anak dan Kartu Menuju Sehat. Sedangkan jumlah
bayi yang tidak memiliki catatan berat badan lahir, jauh lebih banyak. Hal ini
berarti kemungkinan bayi yang terlahir dengan BBLR jumlahnya jauh lebih
banyak lagi.
Berat badan lahir dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Wardlaw (2004)
mengemukakan bahwa berat badan lahir tidak lepas dari gaya hidup (merokok,
alkohol, penyalahgunaan obat terlarang), nutrisi, aktivitas fisik ibu, asupan
makanan ibu selama hamil, usia ibu dan penyakit yang mungkin diderita ibu

4
(hipertensi, diabetes, malaria, HIV atau penyakit menular seksual). Berbagai
penelitian juga mengungkapkan bahwa ibu dalam kondisi sosial-ekonomi sangat
kekurangan lebih sering memiliki bayi dengan berat lahir rendah. Pada keadaan
seperti ini, berat badan bayi lahir rendah berarti disebabkan oleh ibu yang
kekurangan nutrisi dalam jangka waktu yang lama.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Prematuritas
1. Definisi
Prematuritas adalah kelahiran yang berlangsung pada umur
kehamilan 20 minggu hingga 37 minggu dihitung dari hari pertama haid
terakhir.1 Terdapat 3 subkategori usia kelahiran prematur berdasarkan
kategori World Health Organization (WHO), yaitu: 7
1) Extremely preterm (< 28 minggu)
2) Very preterm (28 hingga < 32 minggu)
3) Moderate to late preterm (32 hingga < 37 minggu).
2. Epidemiologi
Angka kejadian prematur yang tinggi masih menjadi pusat perhatian
dunia hingga kini. Tingkat kelahiran prematur di Amerika Serikat sekitar
12,3% dari keseluruhan 4 juta kelahiran setiap tahunnya dan merupakan
tingkat kelahiran prematur tertinggi di antara negara industri.8
Angka kejadian kelahiran prematur di Indonesia belum dapat dipastikan
jumlahnya, namun berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
Departemen Kesehatan tahun 2007, 8
proporsi BBLR di Indonesia mencapai 11,5%, meskipun angka BBLR tidak
mutlak mewakili angka kejadian kelahiran prematur.8 Dalam studi yang
dilakukan di RSUP Dr. Kariadi Semarang tahun 2002 didapatkan kelahiran
prematur sebesar 138 kasus (4,6%).9
3. Patofisiologi
Secara umum, penyebab persalinan prematur dapat dikelompokan
dalam 4 golongan yaitu : 10,11
1) Aktivasi prematur dari pencetus terjadinya persalinan
2) Inflamasi/infeksi
3) Perdarahan plasenta
4) Peregangan yang berlebihan pada uterus

6
Mekanisme pertama ditandai dengan stres dan anxietas yang biasa terjadi
pada primipara muda yang mempunyai predisposisi genetik. Adanya stres
fisik maupun psikologi menyebabkan aktivasi prematur dari aksis
Hypothalamus-Pituitary-Adrenal (HPA) ibu dan menyebabkan terjadinya
persalinan prematur. Aksis HPA ini menyebabkan timbulnya insufisiensi
uteroplasenta dan mengakibatkan kondisi stres pada janin. Stres pada ibu
maupun janin akan mengakibatkan peningkatan pelepasan hormon
Corticotropin Releasing Hormone (CRH), perubahan pada
Adrenocorticotropic Hormone (ACTH), prostaglandin, reseptor oksitosin,
matrix metaloproteinase (MMP), interleukin-8, cyclooksigenase-2, 9
dehydroepiandrosteron sulfate (DHEAS), estrogen plasenta dan
pembesaran kelenjar adrenal.12,13
Mekanisme kedua adalah decidua-chorio-amnionitis, yaitu infeksi
bakteri yang menyebar ke uterus dan cairan amnion. Keadaan ini
merupakan penyebab potensial terjadinya persalinan prematur.13 Infeksi
intraamnion akan terjadi pelepasan mediator inflamasi seperti pro-
inflamatory sitokin (IL-1, IL-6, IL-8, dan TNF- ). Sitokin akan
merangsang pelepasan CRH, yang akan merangsang aksis HPA janin dan
menghasilkan kortisol dan DHEAS. Hormon-hormon ini bertanggung
jawab untuk sintesis uterotonin (prostaglandin dan endotelin) yang akan
menimbulkan kontraksi. Sitokin juga berperan dalam meningkatkan
pelepasan protease (MMP) yang mengakibatkan perubahan pada serviks
dan pecahnya kulit ketuban.10,13
Mekanisme ketiga yaitu mekanisme yang berhubungan dengan
perdarahan plasenta dengan ditemukannya peningkatan hemosistein yang
akan mengakibatkan kontraksi miometrium.15 Perdarahan pada plasenta
dan desidua menyebabkan aktivasi dari faktor pembekuan Xa
(protombinase). Protombinase akan mengubah protrombin menjadi
trombin dan pada beberapa penelitian trombin mampu menstimulasi
kontraksi miometrium.13

7
keempat adalah peregangan berlebihan dari uterus yang bisa
disebabkan oleh kehamilan kembar, polyhydramnion atau distensi berlebih
yang disebabkan oleh kelainan uterus atau proses operasi pada serviks.
Mekanisme ini dipengaruhi oleh IL-8, prostaglandin, dan COX-2.12
B. Faktor Risiko
1. Usia Ibu
Persalinan prematur meningkat pada usia <20 tahun dan >35 tahun.
Berdasarkan penelitian di Purwokerto tahun 2009 angka persalinan
prematur pada usia <20 tahun sebesar 30% sedangkan pada persalinan usia
reproduksi (20-35 tahun) angka kejadian prematur sebesar 10%, hal ini
menunjukan ibu usia muda meningkatkan kejadian prematur sebesar 38,8
kali lebih besar.7 11
Kehamilan usia muda lebih memungkinkan mengalami penyulit
pada masa kehamilan dan persalinan yaitu karena wanita muda sering
memiliki pengetahuan yang terbatas tentang kehamilan atau kurangnya
informasi dalam mengakses sistem pelayanan kesehatan. Pada usia ini juga
belum cukup dicapainya kematangan fisik, mental dan fungsi organ
reproduksi dari calon ibu. Golongan primigravida muda dimasukkan
dalam golongan risiko tinggi, karena angka kesakitan dan angka kematian
ibu dan bayi pada kehamilan remaja 2-4x lebih tinggi dibandingkan
dengan usia reproduksi.15
Persalinan prematur di usia >35 tahun sebesar 16,9% di Semarang
tahun 2008. Pada usia ibu yang tua telah terjadi penurunan fungsi organ
reproduksi, penurunan fungsi ini akan mempengaruhi kesehatan baik ibu
maupun janin yang dikandungnya sehingga ibu dan bayi yang
dikandungnya memiliki banyak hal yang dapat mempersulit dan
memperbesar risiko kehamilan.
2. Penyakit Dalam Kehamilan
a. Preeklampsia/Eklampsia
Preeklampsia adalah hipertensi yang timbul setelah usia 20 minggu
kehamilan dan disertai dengan proteinuria, sedangkan eklampsia adalah

8
preeklampsia yang disertai dengan kejang dan atau koma.18 Preeklampsia
meningkatkan risiko terjadinya solusio plasenta, persalinan prematur,
Intrauterine Growth Retardation (IUGR), dan hipoksia akut. Preeklampsia
menyumbang sekitar 15% dari semua kelahiran prematur.
Preeklampsia/eklamspia didasari oleh beberapa teori, namun teori
yang saat ini paling banyak digunakan adalah teori iskemia plasenta,
radikal bebas dan disfungsi endotel. Berdasarkan teori ini terjadi
kegagalan remodeling arteri spiralis sehingga menyebabkan plasenta
mengalami iskemia dan terjadi disfungsi endotel. Spasme pembuluh darah
arteriola yang menuju organ penting dalam tubuh dapat menyebabkan
mengecilnya aliran darah yang menuju retroplasenta sehingga
mengakibatkan gangguan pertukaran CO2, O2 dan nutrisi pada janin. Hal
ini menyebabkan terjadinya vasospasme dan hipovolemia sehingga janin
menjadi hipoksia dan malnutrisi. Hipoksia menyebabkan plasenta
mengtransfer kortisol dengan kadar yang tinggi ke dalam sirkulasi janin.
Konsentrasi kortisol yang tinggi akan mensintesis prostaglandin yaitu
protasiklin (PGE-2) yang menyebabkan timbulnya kontraksi, perubahan
pada serviks dan pecahnya kulit ketuban, sehingga bayi sering terlahir
prematur. 13,18,20-22 13
b. Penyakit Kardiovaskular
Penyakit kardiovaskular adalah sekelompok gangguan pada
jantung dan pembuluh darah. Penyakit jantung/kardiovaskular terjadi pada
0,5 - 3 % kehamilan, yang dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas
pada ibu hamil di dunia.23
Masa kehamilan, persalinan maupun pasca persalinan berhubungan
dengan perubahan fisiologis yang membutuhkan penyesuaian dalam
sistem kardiovaskular. Fisiologi hemodinamik mencapai puncak pada
akhir trimester kedua, pada masa ini perubahan hemodinamik dapat
menyebabkan timbulnya manifestasi klinik pada jantung yang telah sakit
sebelumnya. Perubahan hormonal yaitu aktivasi estrogen oleh sistem
renin-aldosteron menyebabkan retensi air dan natrium yang akan

9
meningkatkan volume darah 40%. Hal ini menyebabkan peningkatan
volume darah sebesar 1200-1600 ml lebih banyak dibanding dalam
keadaan tidak hamil.24,26
Selama masa kehamilan curah jantung akan mengalami
peningkatan 30-50%. Perubahan curah jantung ini disebabkan karena
peningkatan preload akibat bertambahnya volume darah, penurunan
afterload akibat menurunya resistesi vaskular sitemik, dan peningkatan
denyut jantung ibu saat istirahat 10-20 kali/menit. Peningkatan curah
jantung dipengaruhi juga oleh isi sekuncup jantung yang meningkat 20-
30% selama kehamilan.26 Pada penyakit jantung yang disertai kehamilan,
pertambahan denyut jantung dan volume sekuncup jantung dapat
menguras cadangan kekuatan jantung. Payah jantung akan menyebabkan
stres maternal sehingga terjadi pengaktifan aksis HPA yang akan
memproduksi kortisol dan prostaglandin, kemudian mencetuskan
terjadinya persalinan prematur.24-26
New York Heart Association (NYHA) kelas III dan IV dengan
aktivitas fisiknya sangat terbatas, tidak dianjurkan untuk hamil. Jika
kehamilan masih awal sebaiknya diterminasi, dan jika kehamilan telah
lanjut sebaiknya kehamilan diteruskan dengan persalinan pervaginam dan
kala II dipercepat serta kehamilan berikutnya dilarang.24-26
c. Anemia
Anemia adalah suatu kelainan darah yang terjadi ketika tubuh
menghasilkan terlalu sedikit sel darah merah (SDM), penghancuran SDM
berlebihan, atau kehilangan banyak SDM.27 Angka kejadian anemia pada
kehamilan berkisar 24,1% di Amerika dan 48,2% di Asia Tenggara pada
tahun 1993-2005.
Selama kehamilan, tubuh ibu mengalami mengalami banyak
perubahan salah satunya adalah hubungan antara suplai darah dengan
respon tubuh. Seperti yang telah dijelaskan pada subbab penyakit
kardivaskular, total jumlah plasma pada wanita hamil dan jumlah SDM
meningkat dari kebutuhan awal, namun peningkatan volume plasma lebih

10
besar dibandingkan peningkatan massa SDM dan menyebabkan penurunan
konsentrasi hemoglobin, sehingga mempengaruhi kadar O2 yang masuk
ke dalam jaringan. Keadaan ini dapat menyebabkan hipoksia jaringan yang
kemudian akan memproduksi kortisol dan prostaglandin, yang
mencetuskan terjadinya persalinan prematur pada ibu dengan
anemia.26,27
d. Hipotiroid
Penyakit tiroid adalah suatu kelainan yang menyerang glandula
tiroid.29 Secara global, hipotiroid yang terjadi pada kehamilan sebesar
0,2% kasus dan hipotiroid sub klinis 2,3% kasus.30,31
Saat awal gestasi, janin bergantung sepenuhnya pada hormon tiroid
ibu yang melewati plasenta karena fungsi tiroid janin belum berfungsi
sebelum 12-14 minggu kehamilan.30 Pada kehamilan 12 minggu pertama
kadar hormon chorionic gonadotropin (HCG) akan mencapai puncaknya
dan kadar tiroksin bebas akan meningkat, sehingga menekan kadar
tirotropin. Namun, kadar hormon tiroid yang rendah pada hipotiroid
kehamilan akan memacu aksis HPA untuk memacu produksi TRH untuk
memenuhi kebutuhan hormon tiroid ibu dan janin. Pengaktifan aksis HPA
ini yang dapat memacu pelepasan kortisol kedalam darah sehingga
memproduksi prostaglandin yang dapat memacu terjadinya persalinan
prematur. 30,32
3. Paritas
Paritas adalah jumlah anak yang pernah dilahirkan hidup. Paritas
dapat diklasifikasikan berdasarkan jumlah anak yang dilahirkan yaitu:
1) Nulipara, adalah seorang wanita yang belum pernah menyelesaikan
kehamilan melewati gestasi 20 minggu.
2)Primipara, yaitu seorang wanita yang pernah satu kali melahirkan bayi yang
lahir hidup atau meninggal dengan perkiraan lama gestasi 20 minggu atau
lebih.
3) Multipara, adalah seorang wanita yang pernah menyelesaikan dua atau
lebih kehamilan hingga 20 minggu atau lebih.

11
Jumlah paritas merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya
kelahiran prematur karena jumlah paritas dapat mempengaruhi keadaan
kesehatan ibu dalam kehamilan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di
Jerman tahun 2004 didapatkan data bahwa pada wanita primipara angka
kejadian kelahiran prematur lebih besar yaitu 9,5%, sedangkan angka
kejadian pada multipara adalah sebesar 7,5%. Hal ini di karenakan oleh
kenyataan bahwa wanita multipara akan mencari pengetahuan yang lebih
untuk menghindari risiko yang akan terjadi pada kehamilan berikutnya
berdasarkan pengalaman dari proses persalinan sebelumnya, sehingga dapat
mengurangi risiko persalinan berikutnya.36
4. Riwayat Partus Prematurus
Riwayat persalinan prematur sebelumnya merupakan penanda risiko
paling kuat dan paling penting. Berdasarkan data Health Technology
Assessment Indonesia tahun 2010 bahwa insiden terjadinya persalinan
prematur selanjutnya setelah 1x persalinan prematur meningkat hingga 14,3%
dan setelah 2x persalinan prematur meningkat hingga 28%. Wanita yang
mengalami persalinan prematur memiliki risiko untuk mengalaminya kembali
pada kehamilan selanjutnya.8

5. Ketuban Pecah Dini


Ketuban pecah dini adalah pecahnya kulit ketuban sebelum persalinan,
sedangkan pecahnya kulit ketuban pada usia kehamilan <37 minggu disebut
ketuban pecah dini kehamilan prematur.18 Ketuban pecah dini kehamilan
prematur terjadi pada 1% -3% dari seluruh kehamilan dan bertanggung jawab
untuk sepertiga dari semua kelahiran prematur. Ketuban pecah selama
persalinan secara umum disebabkan oleh kontraksi uterus dan peregangan
berulang, keseimbangan antara sintesis dan degradasi ekstraseluler matriks,
perubahan struktur, jumlah sel, dan katabolisme kolagen menyebabkan
aktivitas kolagen berubah. Degradasi kolagen dimediasi oleh matriks
metaloproteinase (MMP) yang dihambat oleh inhibitor jaringan spesifik dan
inhibitor protease. Mendekati waktu persalinan, keseimbangan antar MMP

12
dan Tissue Inhibitor of Metalloproteinase (TIMP-1) mengarah pada degradasi
proteolitik dari matriks ekstraseluler dan membran janin.
Pecahnya selaput ketuban yang berfungsi melindungi atau menjadi
pembatas dunia luar dan ruangan dalam rahim pecah dan mengeluarkan air
ketuban menyebabkan hubungan langsung antara dunia luar dan ruangan
dalam rahim yang memudahkan terjadinya infeksi asenden. Semakin lama
periode laten maka semakin besar kemungkinan infeksi dalam rahim,
persalinan prematur dan selanjutnya meningkatkan kejadian kesakitan dan
kematian ibu dan bayi atau janin dalam rahim. 2,18
6. Perdarahan Antepartum
Perdarahan antepartum adalah perdarahan jalan lahir setelah kehamilan 24
minggu hingga sebelum kelahiran bayi. Perdarahan antepartum menyebabkan
seperlima bayi lahir dengan prematur dan juga menyebabkan bayi yang
dilahirkan mengalami cerebral palsy. Penyebab paling sering dari perdarahan
antepartum adalah plasenta previa dan solusio plasenta.38
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi di segmen bawah
rahim demikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari ostium
uteri internum. Terjadinya implantasi plasenta di segmen bawah rahim dapat
disebabkan karena: 18,39
1) Endometrium di fundus uteri belum siap menerima implantasi.
2) Lapisan endometrium tipis sehingga diperlukan perluasan plasenta
untuk mencukupi kebutuhan nutrisi janin
3) Vili khorialis pada chorion leave yang persisten.
Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau seluruh permukaan
plasenta maternal dari tempat implantasinya sebelum waktunya. Perdarahan
tidak dapat berhenti dikarenakan uterus yang sedang mengandung tidak
mampu berkontraksi untuk menjepit pembuluh arteria spiralis yang terputus.
Pada penjelasan pada subbab prematur sebelumnya telah dijelaskan bahwa
perdarahan pada plasenta dan desidua menyebabkan aktivasi dari faktor
pembekuan Xa (protombinase). Protombinase akan mengubah protrombin

13
menjadi trombin dan pada beberapa penelitian trombin mampu menstimulasi
kontraksi miometrium dan menginduksi persalinan prematur.

7. Gemelli
Gemelli/kehamilan ganda adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih
intrauteri. Kehamilan ganda dianggap mempunyai risiko tinggi karena dapat
menyebabkan komplikasi lebih tinggi untuk mengalami hiperemesis
gravidarum, hipertensi dalam kehamilan, kehamilan dengan hidramnion,
persalinan dengan prematuritas, pertumbuhan janin terhambat.2,40 Gemelli
merupakan 30% penyebab terjadinya prematur di Indonesia pada tahun
2010.8
Fisiologi dari kehamilan ganda yaitu dua ovum yang dibuahi pada saat
hampir besamaan atau berasal dari satu ovum yang mengalami pemecahan
disaat dini. Persalinan prematur pada kehamilan ganda dapat terjadi
dikarenakan terjadinya overdistensi, maka retraksi akibat ketegangan otot
uterus makin dini sehingga dimulailah proses Braxton Hicks, kontraksi makin
sering dan menjadi HIS persalinan.2,40
8. Bakterial Vaginosis
Vagina yang sehat mengandung berbagai jenis bakteri yang penting dalam
memerangi infeksi.41 Bakterial Vaginosis (BV) diperkirakan terjadi pada
40% wanita dan merupakan faktor risiko kuat penyebab prematur. BV dapat
meningkatkan risiko prematur 2 kali lipat terutama jika dijumpai pada usia
kehamilan kurang dari 20 minggu. Di Indonesia, angka kejadian persalinan
prematur sebesar 20,5% pada wanita hamil muda dengan BV dan 10,7%
terjadi pada akhir kehamilan.
BV merupakan suatu kondisi tanpa dijumpai adanya peradangan. Bakteri
BV menghasilkan enzim mukolitik yang mempermudah bakteri tersebut
menembus barier lendir serviks masuk kedalam traktus genitalis bagian atas.
Selain itu jumlah mikroflora vagina normal yaitu Lactobacillus fakultatif
menurun, maka akan mempengaruhi tingkat keasaman vagina dan
mempermudah pertumbuhan bakteri anaerob.

14
9. Infeksi Saluran Kemih
Infeksi saluran kemih/urinary tract infection (UTI) adalah tumbuh dan
berkembang biaknya mikroba dalam saluran kemih dalam jumlah bermakna.
Pada wanita hamil dikenal 2 keadaan infeksi saluran kemih yakni:
1) Bakteriuria asimtomatik (asymptomatic bacteriuria, covert bacteriuria)
adalah terdapatnya bakteri dalam saluran kemih tanpa menimbulkan
manifestasi klinis.
2) ISK simtomatik adalah ISK yang disertai gejala dan tanda klinik.
Perubahan morfologi kehamilan, dimana asal dari traktus genital dan
traktus urinarius adalah sama secara embriologi. Selain itu, letaknya yang
sangat berdekatan, maka adanya perubahan pada salah satu sistem akan
mempengaruhi sistem yang lain.

B. Luaran Maternal
1. Kematian Maternal
Kematian maternal adalah kematian seorang wanita saat hamil atau
dalam 42 hari penghentian kehamilan, dengan penyebab yang
berhubungan atau diperburuk oleh kehamilan dan penanganannya tetapi
bukan dari penyebab kecelakaan atau insidental.
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun
2001, angka kematian maternal yaitu sebesar 396 per 100.000 kelahiran
hidup. Penyebab obstetrik langsung terhadap kematian maternal sebagian
besar dikarenakan perdarahan (28%), eklampsia (24%) dan infeksi (11%).
Penyebab tak langsung kematian ibu berupa kondisi kesehatan yang
dideritanya misalnya Kurang Energi Kronis (37%), anemia (40%) dan
penyakit kardiovaskuler.47,48 26
2. Persalinan Tindakan
Persalinan tindakan adalah persalinan yang tidak dapat berjalan
normal secara spontan atau tidak berjalan sendiri, oleh karena terdapat
indikasi adanya penyulit. Sehingga persalinan tersebut dilakukan dengan
memberikan tindakan menggunakan alat bantu.49 Data penelitian di

15
Surakarta tahun 2005 tercatat jumlah kelahiran sebanyak 1.469, terdiri dari
persalinan normal sebanyak 731 (49,8%), sedangkan persalinan dengan
komplikasi yang memerlukan tindakan sebanyak 738 (50,2%).21
Persalinan tindakan dilakukan jika kelahiran spontan diduga
berisiko lebih besar pada ibu atau anak daripada tindakannya. Hal-hal
yang menyebabkan peralinan dilakukan tindakan adalah adanya faktor
penyulit pada saat persalinan yang berasal dari faktor kekuatan HIS ibu
(power), faktor bayi (passager) atau faktor jalan lahir (passage). Pada
prematuritas dengan gawat janin hanya diindikasikan untuk melalukan
seksio sesaria, dikarenakan syarat tindakan vakum dan forseps adalah bayi
aterm dimana struktur tulang telah matang.49
3. Lama Rawat Inap
Rawat inap adalah pelayanan kesehatan yang meliputi observasi,
diagnosa, pengobatan, keperawatan, rehabilitasi medik, dengan menginap
di ruang rawat inap pada sarana kesehatan oleh karena penyakitnya
sehingga penderita harus menginap. Lama rawat inap adalah istilah yang
umum digunakan untuk mengukur durasi satu episode rawat inap. Lama
rawat inap dinilai dengan mengekstraksi durasi tinggal di rumah sakit yang
diukur dalam jam atau hari. Sebagian besar ahli obstetrik merawat inapkan
lebih lama pasien dengan komplikasi persalinan, diantaranya adanya
ketuban pecah dini kelahiran prematur, eklampsia, infeksi dan
perdarahan.51
C. Luaran Perinatal
1. Asfiksia
Asfiksia neonatorum adalah kegagalan napas secara spontan dan
teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah saat lahir yang ditandai
dengan hipoksemia, hiperkarbia dan asidosis.52
Organ pada bayi prematur belum sepenuhnya berkembang, bayi
membutuhkan perawatan khusus hingga organ pada bayi tersebut dapat
berkembang cukup dalam mendukung kehidupan bayi tanpa dukungan dari
alat medis. Pematangan organ mungkin memakan waktu berminggu-minggu

16
hingga berbulan-bulan. Kortikosteroid perlu diberikan 7 hari sebelum
kelahiran hingga paling lambat 24 jam sebelum bayi lahir untuk
meningkatkan maturasi paru fetus.52,53
Skor apgar adalah suatu metode sederhana yang digunakan untuk
menilai keadaan umum bayi sesaat setelah kelahiran.
Tanda 0 1 2 Akronim
Warna Seluruh warna kulit warna kulit Appearance
kulit badan biru tubuh normal tubuh, tangan
atau pucat merah muda, dan kaki
tetapi tangan normal merah
dan kaki muda, tidak
kebiruan ada sianosis
Denyut Tidak ada <100 >100 Pulse
Jantung kali/menit kali/menit
Respon Tidak ada Meringis atau Meringis atau Grimace
refleks respon menangis bersin atau
terhadap lemah ketika di batuk saat
stimulasi stimulasi stimulasi
saluran napas
Tonus Lemah atau Sedikit Gerakan aktif Activity
Otot tidak ada gerakan
Pernapa Tidak ada Lemah atau Menangis kuat, Respiration
san tidak teratur pernapasan
baik dan
teratur

2. Berat Bayi Lahir


Berat badan merupakan salah satu indikator kesehatan bayi baru
lahir. Rerata berat bayi normal (usia gestasi 37 sampai dengan 41 minggu)
adalah 2500 4000 gram.54 Prevalensi global BBLR adalah 15,5 %, yang
berarti bahwa sekitar 20,6 juta tersebut bayi yang lahir setiap tahun, 96,5 %
dari mereka di negara berkembang.
Berat badan lahir rendah ( BBLR ) telah didefinisikan oleh WHO
sebagai berat saat lahir kurang dari 2500 gram. BBLR dapat menjadi
konsekuensi dari kelahiran prematur atau karena ukurannya yang kecil
untuk usia kehamilan (SGA, didefinisikan sebagai berat untuk usia

17
kehamilan < 10 persentil). Bayi dengan BBLR dapat dibagi menjadi 2
golongan, yaitu :
1. Prematur murni adalah neonatus dengan usia kehamilan kurang dari 37
minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa
kehamilan, atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai masa
kehamilan.
2. Dismaturitas adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat
badan sesungguhnya untuk masa kehamilan. Hal ini dikarenakan janin
mengalami gangguan pertumbuhan dalam kandungan dan merupakan bayi
yang kecil untuk masa kehamilan.
3. Hipoglikemia
Hipoglikemi adalah keadaan hasil pengukuran kadar glukosa darah
kurang dari 45 mg/dL (2.6 mmol/L). Hipoglikemi sering terjadi pada
kelahiran prematur dengan BBLR, karena cadangan glukosa yang rendah.
Bayi prematur sangat rentan mengalami hipoglikemia disebabkan karena
mekanisme kontrol glukosa yang masih immatur. Glukosa merupakan
sumber kalori yang penting untuk ketahanan hidup selama proses persalinan
dan hari-hari pertama pasca lahir. Setiap stress yang terjadi mengurangi
cadangan glukosa yang ada disebabkan karena meningkatkan penggunaan
cadangan glukosa, misalnya pada asfiksia, hipotermi, hipertermia dan
gangguan pernapasan. Kondisi ini menjadi penyebab ketergantungan
pemberian glukosa dari luar, karenanya pemberian dekstrosa melalui
intravena merupakan suatu kebutuhan pada bayi prematur. Hipoglikemi
adalah masalah serius pada bayi baru lahir, karena dapat menimbulkan
kejang yang berakibat terjadinya hipoksia otak. Bila tidak dikelola dengan
baik akan menimbulkan kerusakan pada susunan saraf pusat bahkan sampai
kematian.56
4. Sepsis Neonatorum
Bayi prematur sangat rentan untuk terjadinya infeksi dan sepsis.
Sepsis neonatorum merupakan infeksi berat yang menyebar keseluruh tubuh
bayi baru lahir dan terjadi pada bayi berusia di bawah 90 hari. Infeksi

18
bakteri 5 kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya
kurang dari 2,75 kg dan 2 kali lebih sering mengenai bayi laki-laki.58,59
Sejumlah bakteri bisa menyebabkan terjadinya sepsis neonatorum,
misalnya Eschericia coli, dan Streptococcus strain tertentu. Sepsis
neonatorum onset paling dini terjadi dalam waktu 24 jam lahir, bayi
mendapatkan infeksi dari ibu sebelum atau saat di lahirkan. Pada bayi
prematur dengan BBLR yang dicurigai mengalami sepsis perlu diberikan
antibiotik dengan spektrum yang luas.
5. Hiperbilirubinemia
Hiperbilirubinemia adalah ikterus dengan konsentrasi bilirubin
serum yang menjurus ke arah terjadinya kern ikterus atau ensefalopati
bilirubin bila kadar bilirubin tidak dikendalikan. Ikterus fisiologi adalah
ikterus yang timbul pada hari kedua dan hari ketiga serta tidak mempunyai
dasar patologi atau tidak mempunyai potensi menjadi kern ikterus. Ikterus
patologis adalah ikterus yang mempunyai dasar patologis atau kadar
bilirubin mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia. Ikterus pada
hari ke-2 sampai hari ke-5 dapat disebabkan karena ikterus fisiologik, sepsis
darah ekstravaskular, polisitemia sferositosis kongenital, dan bayi prematur
karena belum berfungsinya hepar.
Ikterus ditandai dengan berlebihnya akumulasi bilirubin dalam darah
>5 mg/dL pada bayi yang mengakibatkan jaudice, warna kuning yang jelas
pada kulit, mukosa, sklera dan urin bayi dengan hiperbilirubinemia dapat
dikelola dengan efektif dengan cara memantau kadar bilirubin dan terapi
sinar/fototerapi.

19
BAB III

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN

Nama anak : By Ny N
Umur : 6 hari
Jenis Kelamin : laki-laki
Agama : Islam
No RM : 515679
Tgl masuk bangsal : 23 Agustus 2017

Nama bapak : Tn. S


Umur : 35 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Semarang

Nama ibu : Ny. N


Umur : 35 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Semarang

II. ANAMNESIS

Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis pada Ibu Pasien


tanggal 4 september 2017 pukul 10.00 WIB di Bangsal Tulip. Sedangkan
untuk pemeriksaan fisik pada pasien dilakukan pada tanggal 29 Agustus
2017 pukul 14.00 WIB.
Keluhan Utama : bayi kecil
20
Riwayat Penyakit Sekarang :
Bayi lahir dengan SC (umur kehamilan 36 mg) 6 hari yang lalu
(23-8-2017 Jam 08.38), lahir dari seorang ibu usia 35 tahun G2P0A1,
dengan Berat Badan 1800 gram, Panjang Badan 44 cm, Lingkr Kepala 32
cm, Lingkar Dada 31 cm, jenis kelamin perempuan, Apgar Score 7-8-9.
Riwayat Penyakit Dahulu (ibu):
Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat DM : disangkal
Riwayat Batuk lama : disangkal
Riwayat pengobatan lama: disangkal
Riwayat Mondok : disangkal
Riwayat Alergi : disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga :
Riwayat bayi dengan BBLR pernah terjadi pada ayah bayi.
Riwayat hipertensi disangkal
Riwayat DM disangkal
Riwayat Pribadi Ekonomi Sosial
Ibu pasien mempunyai pekerjaan yang membutuhkan pemikiran
yang cukup berat dan waktu kerja yang tidak menentu. Sehingga sering
mengharuskan ibu pasien untuk melakukan perjalanan jauh dan kerja
lembur.
Orang tua dan keluarga pasien tidak mengkonsumsi minuman
beralkohol dan obat-obatan.

Kesan : Keadaan sosial dan ekonomi cukup

Data Khusus
1. Riwayat Kehamilan/Pre Natal :
- Pasien adalah anak kedua.

21
- Kehamilan pertamanya mengalami abortus pada usia kehamilan 10
minggu.
- Kontrol kehamilan: rutin setiap bulan (ANC > 4 kali) di bidan praktek
- Imunisasi TT: 2 kali
- Keluhan atau sakit saat hamil: mual dan tidak bisa makan nasi selama
hamil. Pada usia 32 minggu pasien mengalami oedem kaki dan
proteinuria. Sementara untuk tekanan darahnya 130/90 mmHg. Pasien
sempat opname diRS selama satu minggu (usia kehamilan 34 minggu).
Seminggu setelahnya sebenarnya dianjurkan kontrol,tetapi ny Nia
tidak kontrol. Seminggu kemudian pada usia 36 minggu datang ke RS
dan langsung diprogram operasi.
- Obat obatan : vitamin dan tablet besi, dan obat penguatan kandungan,
obat keras lainnya disangkal
- Konsumsi alkohol, rokok : disangkal
- Perdarahan Antepartum : disangkal
- Asupan gizi kehamilan : kurang karena ny N tidak pernah
makan nasi selama hamil
- Usia kehamilan : 36 minggu
2. Riwayat persalinan/natal :
Lahir secara SC, bayi menangis,lemah dan tidak dirawat
gabung bersama ny N .Berat badan saat lahir 1800 gram, panjang
badan 44 cm. Saat operasi SC ny N diberitahukan oleh Dokter bahwa
dalam kandungannya terdapat Myoma Uteri. Kemudian myoma
tersebut sekalian diangkat.
3. Riwayat pasca persalinan/ post natal :
Perdarahan post SC disangkal, ny N dirawat dibangsal terpisah dengan
pasien.
4. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan anak

Bayi lahir pada usia 36 minggu dengan berat badan 1800


gram. Kesimpulan: Neonatus Kurang Bulan Kecil Masa Kehamilan

22
5. Riwayat Imunisasi
Immunisasi Hb 0 belum dilakukan.

6. Riwayat makan dan minum: ASI

III. PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal4 Januari 2017
1. Keadaan umum : lemah
2. Kesadaran : sulit dinilai
3. GCS : sulit dinilai
4. Status gizi
BB : 1800 gram
PB : 44 cm
5. Tanda vital:
Respirasi :43x/ menit
Nadi : 152x/ menit, isi tegangan cukup, regular
Suhu axiller : 36,9 oC
SpO2 : 98%
BB :
6. Status generalis
Kulit
Warna : kemerahan (+), pucat (-), kuning (-)
Turgor : cepat kembali < 2detik
Kelembaban : cukup
Kepala : Bentuk mesosefal, simetris, UUB dan UUK masih
membuka. Rambut lengket sulit dipilah, wajah simetris.
Mata: membuka simetris, sekret (-/-), epichantus melebar (-),
Hidung : Bentuk simetris, Pernafasan cuping hidung (-),sekret: (-/-),
terpasang CPAP.
Mulut: Bentuk simetris, tidak ada kelainan,bibir sianosis (-), reflek
sucking lemah,reflek rooting lemah.

23
Telinga: normotia, sekret (-/-), tulang rawan sudah matang, recoil (+)
Leher: simetris, pergerakan bebas, massa (-)
Toraks:
Dextra Sinistra
Depan
1. Inspeksi
Bentuk dada Lateral>Antero Lateral>Antero
posterior posterior
Hemitorak Simetris Simetris
Dinamis Simetris Simetris
Retraksi - -
2. Palpasi Sulit dinilai Sulit dinilai
3. Perkusi Sulit dinilai Sulit dinilai

4. Auskultasi
Suara dasar Vesikuler Vesikuler
Suara tambahan Wheezing(-), Wheezing(-),
ronki (-/-) ronki (-/-)
Belakang
1. Inspeksi
Bentuk dada Dalam batas normal Dalam batas normal
Hemitorak Simetris Simetris
2. Palpasi - -
3. Perkusi - -

4. Auskultasi
Suara dasar Vesikuler Vesikuler
Suara tambahan Wheezing(-), ronki (-) Wheezing(-), ronki (-)

Tampak anterior paru Tampak posterior paru

SD : vesikuler (+/+) SD : vesikuler (+/+)


ST : ronki (-/-), wheezing (-/-) ST : ronki (-/-), wheezing (-)
24
Cor
Inspeksi : ictus cordis tampak, retraksi (+).
Palpasi : ictus cordis teraba, tidak kuat angkat
Perkusi :-
Auskultasi: Reguler
Suara jantung murni: SI,SII (normal) reguler.
Suara jantung tambahan (-).
Abdomen:
Inspeksi:
bentuk : datar
warna : sesuai dengan kulit sekitar
umbilikus : terpasang infus
Auskultasi :
bunyi peristaltik : (+)
Perkusi : sulit dinilai
Palpasi:
defans muscular : (-)
benjolan : (-)
hepar dan lien : tidak teraba
turgor kulit : cukup
Ekstremitas
Superior Inferior
Akral dingin -/- -/-
Oedem -/- -/-
Sianosis -/- -/-
Kapilary refill < 2 detik < 2 detik

IV. PEMERIKSAAN BALLARD SCORE

25
Hasil pemeriksaan bayi ny N:
Postur: 5
Jendela pergelangan tangan: 3
Arm recoil: 5
Sudut poplitea: 5
Tanda selendang:5
Knee to ear: 5
Total: 28

Pemeriksaan pada bayi ny N:


Kulit: 5
Lanugo: 4
Garis telapak kaki: 5
Payudara: 4
Mata/telinga: 5
Genitalia pria:-
Genitalia wanita:3
Total: 27

26
V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
A. Laboratorium Kimia Klinik tanggal 26-08-2017
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Metode
normal
Bilirubin total 10,67 Mg/dl 0,10-12,0 CalorimetricDCA
Bilirubin direk 0,31 Mg/dl 0,00-0,20 CalorimetricDCA
Bilirubin indirek 10,36 Mg/dl 0,10-0,80

B. Laboratorium Darah Rutin dan KimiaKlinik tanggal 30 Agustus 2017


Pemeriksaan Hasil Satuan Rujukan
Leukosit 12,61 ribu/ul 5,0-21
Eritrosit 4,33 juta/ul 3,7-6,1
Hb 13,90 g/dl 12,7-18,7
Hematokrit L 40,90 % 4262
MCV 94,50 Fl 84 128
MCH 32,10 Pg 26 38
MCHC 34,00 g/Dl 26 - 34
Trombosit 321 10^3/ul 229 - 553
RDW 16,00 H % 11,5 - 14,5
PLCR 26,0 %
Eosinofil absolut 0,34 10^3/ul 0,045 - 0,44
Basofil absolut 0,02 10^3/ul 0 0,2
Netrofil absolut 6,69 10^3/ul 1,8 8
Limfosit absolut 3,92 10^3/ul 0,9-5,2
Monosit absolut 1,64 10^3/ul 0,16-1
Eosinofil 2,70 % 2-4
Basofil 0,20 % 0-1
Neutrofil 53,00 % 50-70
Limfosit 31,10 % 20-70
Monosit 13,00 % 1-1
Golongan Darah B Rh (+)
KIMIA KLINIK:
Natrium 134,3 mmol/L 132 147
Chlorida 102,7 mmol/L 95- 116
Calsium 10,6 H mg/dL 7,6 10,4
Bilirubin Total 5,90 H mg/dL 0,00-1,00
Bilirubin Direk 0,40 H mg/dL 0,00-0,20
Bilirubin Indirek 5,50 H mg/dL 0,10- 0,80

27
VI. RESUME
Bayi lahir dengan SC (umur kehamilan 36 mg) 6 hari yang lalu
(23-8-2017 Jam 08.38), lahir dari seorang ibu usia 35 tahun G2P0A1,
dengan Berat Badan 1800 gram, Panjang Badan 44 cm, Lingkr Kepala 32
cm, Lingkar Dada 31 cm, jenis kelamin perempuan, Apgar Score 7-8-9.
Ibu pasien mempunyai pekerjaan yang membutuhkan pemikiran
yang cukup berat dan waktu kerja yang tidak menentu. Sehingga sering
mengharuskan ibu pasien untuk melakukan perjalanan jauh dan kerja
lembur.
Pasien adalah anak kedua.Kehamilan pertamanya mengalami
abortus pada usia kehamilan 10 minggu. Kontrol kehamilan: rutin setiap
bulan (ANC > 4 kali) di bidan praktek. Keluhan atau sakit saat hamil:
mual dan tidak bisa makan nasi selama hamil. Pada usia 32 minggu pasien
mengalami oedem kaki dan proteinuria. Sementara untuk tekanan
darahnya 130/90 mmHg. Pasien sempat opname diRS selama satu minggu
(usia kehamilan 34 minggu). Seminggu setelahnya sebenarnya dianjurkan
kontrol,tetapi ny Nia tidak kontrol. Seminggu kemudian pada usia 36
minggu datang ke RS dan langsung diprogram operasi.
Saat operasi SC ny N diberitahukan oleh Dokter bahwa dalam
kandungannya terdapat Myoma Uteri. Kemudian myoma tersebut sekalian
diangkat.
Pemeriksaan fisik: BB 1800 gram, PB 44 cm, RR: 43x/menit,
HR:152x/menit. Terpasang CPAP.

28
VII. ASSESMENT
A. DAFTAR MASALAH
Anamnesis Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Penunjang
1. Lahir SC 5. BB: 1800 7. Hasil lab :, terjadi
2. Kurang bulan 6. Retraksi (+) peningkatan calcium,
3. BB kuarang GDS tidak stabil.
4. Sesak nafas

B. DIAGNOSIS BANDING
1. BBLR
2. Distress Respirasi
3. Hipoglikemi
4. Hiperkalsemi
5. Hiperbilirubin
6. Sepsis Neonatorum

C. DIAGNOSIS KERJA
Diagnosis Klinis : BBLR
Distress Respirasi
Hipoglikemi
Hiperkalsemi
Hiperbilirubin
Sepsis Neonatorum

Diagnosis Pertumbuhan : NKB KMK


Diagnosis Perkembangan : pemeriksaan Ballard score dengan
total score 28 berarti mendekati usia kehamilan 36 minggu.
Diagnosis Gizi : NKB KMK
Diagnosis Imunisasi : belum dilakukan imunisasi.

29
D. INITIAL PLAN
1. Ip Diagnosis
a. BBLR
b. Distress respirasi
c. Hipoglikemi
d. Hipokalsemi
e. Hiperbilirubin
f. Sepsis neonatorum
2. Ip Pemeriksaan: -
3. Ip Terapi
a. Nonmedikamentosa
1) Kanul O2 1 Liter/menit
2) Infus D10% 5 tpm
3) CPAP: PEEP 6 FiO2 25%
4) Infus KaEN 4B 5 tetes/menit
5) Aminosteril infant 18 cc, 0,75 cc/jam
6) ASI 6x5cc
7) Interlac 1X5 tetes / hari
8) Fototerapi 2x24 jam
b. Medikamentosa
1) Vitamin K 1x1mg IM paha kiri
2) Bolus D10% 3,6cc
3) Koreksi elektrolit
NaCl 3% 1,8cc/jam
KCl 2,2 cc
Ditambah D5% 12 cc
0,5 cc/jam
4) Aminophillin 3x2,6mg
5) Inj. Amoxillin 2x100mg
30
6) Inj. Gentamycin 2x7,5mg.
7)

4. Ip Monitoring
a. Keadaan umum dan tanda vital
b. Monitoring GDS
c. Tanda-tanda sianosis pada pasien
d. Keadaan umum dan tanda vital
e. Monitoring kemungkinan komplikasi pemasangan CPAP
f. Monitoring laboratorium Kimia Klinik

5. Ip Edukasi
a. Menjelaskan kepada orang tua tentang BBLR, hipoglikemi,
distress respirasi, hipercalsemi, hiperbilirubun, sepsis
neonatorum.
b. Menjelaskan orangtua tentang penyebab penyakitnya
c. Menjelaskan pengobatan, dan komplikasi penyakit

J. FOLLOW UP
Tanggal Hasil Pemeriksaan
23-8-2017 S: bayi menangis kuat, demam(-), BAB (-), BAK (-), bayi lahir pada usia
kehamilan 36 minggu
O: Keadaan umum :KU : baik, gerak aktif (+), menangis kuat (+), kemerahan (+)
Kesadaran : Compos mentis
- HR : 130x/menit
- RR : 35x/menit
- Suhu : 36,8 C
- BB : 1800 gr
- Lingkar kepala :32 cm
- Lingkar dada : 31 cm
- Kepala : mesosefal, fontanel anterior dan posterior masih terbuka,
moulage (-),
- Mata : terbuka, sekret (-), Conjungtiva anemis -/-, Sklera Ikterik -/-
- Hidung : Sekret (-), darah (-), nafas cuping hidung (-)
- Mulut : reflek (-), labioschisis (-)
- Thorax : cor SI SII intensitas N reguler, retraksi (-)
Pulmo SDV +/+, suara tambahan -/-;
- Abdomen : Datar, BU (+) normal, supel, terpasang infus umbilikal.

31
- Ekstremitas: akral hangat (+), ptekie (-), sianosis (-)
- Kulit : kemerahan
Pemeriksaan GDS: 44 mg/dl

A: Neonatus kurang bulan kurang masa kehamilan


BBLR
Riwayat Asfiksia Ringan
Hipoglikemi

P : O2 nasal kanul1 lt/menit.


Infus D10% 5 cc/jam
Bolus D10% 3,6 cc
Inj Vit K 1mg.
Inj. Amoxillin 2x100mg
Inj Aminophillin 3x2,6mg

24-8-2017 S: bayi menangis kuat, demam(-), BAB (-), BAK (-), bayi lahir pada usia
kehamilan 36 minggu
O: Keadaan umum :KU : baik, gerak aktif (+), menangis kuat (+), kemerahan (+)
Kesadaran : Compos mentis
- HR : 136x/menit
- RR : 35x/menit
- Suhu : 36,5 C
- BB : 1800 gr
- PB : 44 cm
- Lingkar kepala :32 cm
- Lingkar dada : 31 cm
- Kepala : mesosefal, fontanel anterior dan posterior masih terbuka,
moulage (-),
- Mata : terbuka, sekret (-), Conjungtiva anemis -/-, Sklera Ikterik -/-
- Hidung : Sekret (-), darah (-), nafas cuping hidung (-)
- Mulut : reflek (-), labioschisis (-)
- Thorax : cor SI SII intensitas N reguler, retraksi (-)
Pulmo SDV +/+, suara tambahan -/-;
- Abdomen : Datar, BU (+) normal, supel, terpasang infus umbilikal.
- Ekstremitas: akral hangat (+), ptekie (-), sianosis (-)
- Kulit : kemerahan
Pemeriksaan GDS: 108 mg/dl

A: Neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan


BBLR
Riwayat Asfiksia Ringan

P : O2 nasal kanul1 lt/menit.


Infus D10% 5 cc/jam
Bolus D10% 3,6 cc
Inj. Amoxillin 2x100mg
Inj Aminophillin 3x2,6mg

25-8-2017 S: bayi menangis kuat, demam(-), BAB (+), BAK (+).


O: Keadaan umum :KU : baik, gerak aktif (+), menangis kuat (+), kemerahan (+)
Kesadaran : Compos mentis
- HR : 144x/menit
(1jam sebelumnya HR:195x/menit, RR:38x/menit)
- RR : 44x/menit

32
- Suhu : 36,8 C
- BB : 1800 gr
- Lingkar kepala : 32 cm
- Lingkar dada : 31 cm
- Kepala : mesosefal, fontanel anterior dan posterior masih terbuka,
moulage (-),
- Mata : terbuka, sekret (-), Conjungtiva anemis -/-, Sklera Ikterik -/-
- Hidung : Sekret (-), darah (-), nafas cuping hidung (-)
- Mulut : reflek (-), labioschisis (-)
- Thorax : cor SI SII intensitas N reguler, retraksi (+)
Pulmo SDV +/+, suara tambahan -/-;
- Abdomen : Datar, BU (+) normal, supel, terpasang infus umbilikal.
- Ekstremitas: akral hangat (+), ptekie (-), sianosis (-)
- Kulit : kemerahan
GDS: 107 mg/dl

A: Neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan


BBLR
Riwayat Asfiksia Ringan

P : CPAP:PEEP 6 FiO2 25.


Infus D10% 5 cc/jam
Inj. Amoxillin 2x100mg
Inj. Aminophillin 3x2,6mg
Inj. Gentamycin 2x7.5%.
Diet: 6x5cc

26-8-2017 S: bayi menangis kuat, demam(-), BAB (+), BAK (+), kuning (-)
O: Keadaan umum :KU : baik, gerak aktif (+), menangis kuat (+).
Kesadaran : Compos mentis
- HR : 136x/menit
- RR : 38x/menit
- Suhu : 36,4 C
- BB : 1800 gr
- Lingkar kepala :32 cm
- Lingkar dada : 31 cm
- Kepala : mesosefal, fontanel anterior dan posterior masih terbuka,
moulage (-), wajah kekuningan (+)
- Mata : terbuka, sekret (-), Conjungtiva anemis -/-, Sklera Ikterik -/-
- Hidung : Sekret (-), darah (-), nafas cuping hidung (-)
- Mulut : reflek (-), labioschisis (-).
- Leher : kuning (+)
- Thorax : cor SI SII intensitas N reguler, retraksi (+) berkurang.
Pulmo SDV +/+, suara tambahan -/-;
- Abdomen : Datar, BU (+) normal, supel, terpasang infus umbilikal,
kuning (+).
- Ekstremitas: akral hangat (+), ptekie (-), sianosis (-), kuning (-)
- Kulit : kekuningan (kramer III)
Hasil laboratorium kimia klinik tanggal 26-8-2017) :
Bilirubin total : 10,67 mg/dl (0,10-12,0)
Bilirubin direct : 0,31 mg/dl (0,00-0,20)
Bilirubin indirect : 10,36 mg/dl (0,10-0,80)

A: Neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan


BBLR

33
Distress respirasi
Ikterik nenonatorum

P : CPAP:PEEP 6 FiO2 25.


Infus KaEN 4B 5 tetes/menit
Inj. Amoxillin 2x100mg
Inj. Aminophillin 3x2,6mg
Inj. Gentamycin 2x7.5%.
Diet: 6x5cc
Fototerapi 2x24 jam
28-8-2017 S: bayi menangis kuat, demam(-), BAB (+), BAK (+), kuning (-)
O: Keadaan umum :KU : baik, gerak aktif (+), menangis kuat (+).
Kesadaran : Compos mentis
- HR : 140x/menit
- RR : 40x/menit
- Suhu : 36,4 C
- BB : 1800 gr
- Lingkar kepala :32 cm
- Lingkar dada : 31 cm
- Kepala : mesosefal, fontanel anterior dan posterior masih terbuka,
moulage (-), wajah kekuningan (-)
- Mata : terbuka, sekret (-), Conjungtiva anemis -/-, Sklera Ikterik -/-
- Hidung : Sekret (-), darah (-), nafas cuping hidung (-)
- Mulut : reflek (-), labioschisis (-).
- Leher : kuning (-)
- Thorax : cor SI SII intensitas N reguler, retraksi (-)
Pulmo SDV +/+, suara tambahan -/-;
- Abdomen : Datar, BU (+) normal, supel, terpasang infus umbilikal,
kuning (-).
- Ekstremitas: akral hangat (+), ptekie (-), sianosis (-), kuning (-)
- Kulit : kekuningan (-)

A: Neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan


BBLR
Distress respirasi

P : CPAP:PEEP 6 FiO2 25%.


Infus D10% 8cc/jam
- NaCl 3% 1,8cc/jam
- KCl 2,2 cc
- Ditambah D5% 8cc
- 0,5 cc/jam
Inj. Amoxillin 2x100mg
Inj. Aminophillin 3x2,6mg
Inj. Gentamycin 2x7.5%.
Interlac 1x5tetes
Diet ASI: 6x5cc

29-8-2017 S: bayi menangis kuat, demam(-), BAB (+), BAK (+), kuning (-)
O: Keadaan umum :KU : baik, gerak aktif (+), menangis kuat (+).
Kesadaran : Compos mentis
- HR : 152x/menit
- RR : 43x/menit
- Suhu : 36,9 C
- SpO2 : 98%

34
- BB : 1800 gr
- Lingkar kepala :32 cm
- Lingkar dada : 31 cm
- Kepala : mesosefal, fontanel anterior dan posterior masih terbuka,
moulage (-), wajah kekuningan (-)
- Mata : terbuka, sekret (-), Conjungtiva anemis -/-, Sklera Ikterik -/-
- Hidung : Sekret (-), darah (-), nafas cuping hidung (-), terpasang
CPAP
- Mulut : reflek (-), labioschisis (-).
- Leher : kuning (-)
- Thorax : cor SI SII intensitas N reguler, retraksi (+) berkurang.
Pulmo SDV +/+, suara tambahan -/-;
- Abdomen : Datar, BU (+) normal, supel, terpasang infus umbilikal,
kuning (-).
- Ekstremitas: akral hangat (+), ptekie (-), sianosis (-), kuning (-)
- Kulit : kemerahan (+)

A: Neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan


BBLR
Distress respirasi

P : CPAP:PEEP 6 FiO2 21%.


Infus D10% 8cc/jam
- NaCl 3% 1,8cc/jam
- KCl 2,2 cc
- Ditambah D5% 12 cc
- 0,5 cc/jam
Inj. Amoxillin 2x100mg
Inj. Aminophillin 3x2,6mg
Inj. Gentamycin 2x7.5%.
Interlac 1x5tetes
Diet ASI: 6x5cc

30-8-2017 S: bayi menangis kuat, demam(-), BAB (+), BAK (+), kuning (-)
O: Keadaan umum :KU : baik, gerak aktif (+), menangis kuat (+).
Kesadaran : Compos mentis
- HR : 112x/menit
- RR : 44x/menit
- Suhu : 37,4 C
- BB : 1830 gr
- Lingkar kepala :32 cm
- Lingkar dada : 31 cm
- Kepala : mesosefal, fontanel anterior dan posterior masih terbuka,
moulage (-), wajah kekuningan (-)
- Mata : terbuka, sekret (-), Conjungtiva anemis -/-, Sklera Ikterik -/-
- Hidung : Sekret (-), darah (-), nafas cuping hidung (-),
- Mulut : reflek (-), labioschisis (-).
- Leher : kuning (-)
- Thorax : cor SI SII intensitas N reguler, retraksi (-) berkurang.
Pulmo SDV +/+, suara tambahan -/-;
- Abdomen : Datar, BU (+) normal, supel, terpasang infus umbilikal,
kuning (+).
- Ekstremitas: akral hangat (+), ptekie (-), sianosis (-), kuning (-)
- Kulit : kemerahan (+)

35
Lab darah rutin terlampir
A: Neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan
BBLR
Distress respirasi

P : nasal kanul O2 2 lt/menit


Infus D10% 8cc/jam
- NaCl 3% 1,8cc/jam
- KCl 2,2 cc
- Ditambah D5% 12 cc
- 0,5 cc/jam
Inj. Amoxillin 2x100mg
Inj. Aminophillin 3x2,6mg (stop)
Inj. Gentamycin 2x7.5%.
Aminosteril infant 18 cc, 0,75 cc/jam
Interlac 1x5tetes
Diet ASI: 6x5cc

31-8-2017 S: bayi menangis kuat, demam(-), BAB (+), BAK (+), kuning (-)
O: Keadaan umum :KU : baik, gerak aktif (+), menangis kuat (+).
Kesadaran : Compos mentis
- HR : 122x/menit
- RR : 42x/menit
- Suhu : 36,7 C
- SpO2 : 98%
- BB : 1800 gr
- Lingkar kepala :32 cm
- Lingkar dada : 31 cm
- Kepala : mesosefal, fontanel anterior dan posterior masih terbuka,
moulage (-), wajah kekuningan (-)
- Mata : terbuka, sekret (-), Conjungtiva anemis -/-, Sklera Ikterik -/-
- Hidung : Sekret (-), darah (-), nafas cuping hidung (-)
- Mulut : reflek (-), labioschisis (-).
- Leher : kuning (-)
- Thorax : cor SI SII intensitas N reguler, retraksi (-) berkurang.
Pulmo SDV +/+, suara tambahan -/-;
- Abdomen : Datar, BU (+) normal, supel, terpasang infus umbilikal,
kuning (+).
- Ekstremitas: akral hangat (+), ptekie (-), sianosis (-), kuning (-)
- Kulit : kemerahan (+)

A: Neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan


BBLR
Distress respirasi

P : O2 1liter/menit .
Infus D10% 8cc/jam
- NaCl 3% 1,8cc/jam
- KCl 2,2 cc
- Ditambah D5% 12 cc
- 0,5 cc/jam
Inj. Amoxillin 2x100mg
Inj. Aminophillin 3x2,6mg
Inj. Gentamycin 2x7.5%.

36
Interlac 1x5tetes
Diet ASI: 8x15cc

2-9-2017 S: bayi menangis kuat, demam(-), BAB (+), BAK (+), kuning (-)
O: Keadaan umum :KU : baik, gerak aktif (+), menangis kuat (+).
Kesadaran : Compos mentis
- HR : 136x/menit
- RR : 32x/menit
- Suhu : 36,8 C
- SpO2 : 99%
- BB : 1735 gr
- Lingkar kepala :32 cm
- Lingkar dada : 31 cm
- Kepala : mesosefal, fontanel anterior dan posterior masih terbuka,
moulage (-), wajah kekuningan (-)
- Mata : terbuka, sekret (-), Conjungtiva anemis -/-, Sklera Ikterik -/-
- Hidung : Sekret (-), darah (-), nafas cuping hidung (-)
- Mulut : reflek (-), labioschisis (-).
- Leher : kuning (-)
- Thorax : cor SI SII intensitas N reguler, retraksi (-) berkurang.
Pulmo SDV +/+, suara tambahan -/-;
- Abdomen : Datar, BU (+) normal, supel, terpasang infus umbilikal,
kuning (-).
- Ekstremitas: akral hangat (+), ptekie (-), sianosis (-), kuning (-)
- Kulit : kemerahan (+)

A: Neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan


BBLR
Distress respirasi

P : O2 1liter/menit .
Infus D10% 8cc/jam
- NaCl 3% 1,8cc/jam
- KCl 2,2 cc
- Ditambah D5% 12 cc
- 0,5 cc/jam
Inj. Amoxillin 2x100mg
Inj. Gentamycin 2x7.5%.
Interlac 1x5tetes
Diet ASI: 8x15cc- 20cc

4-9-2017 S: bayi menangis kuat, demam(-), BAB (+), BAK (+), kuning (-)
O: Keadaan umum :KU : baik, gerak aktif (+), menangis kuat (+).
Kesadaran : Compos mentis
- HR : 130x/menit
- RR : 36x/menit
- Suhu : 36,6 C
- SpO2 : 99%
- BB : 1820 gr
- Lingkar kepala :32 cm
- Lingkar dada : 31 cm
- Kepala : mesosefal, fontanel anterior dan posterior masih terbuka,
moulage (-), wajah kekuningan (-)

37
- Mata : terbuka, sekret (-), Conjungtiva anemis -/-, Sklera Ikterik -/-
- Hidung : Sekret (-), darah (-), nafas cuping hidung (-)
- Mulut : reflek (-), labioschisis (-).
- Leher : kuning (-)
- Thorax : cor SI SII intensitas N reguler, retraksi (-) berkurang.
Pulmo SDV +/+, suara tambahan -/-;
- Abdomen : Datar, BU (+) normal, supel, terpasang infus umbilikal,
kuning (-).
- Ekstremitas: akral hangat (+), ptekie (-), sianosis (-), kuning (-)
- Kulit : kemerahan (+)

A: Neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan


BBLR
Distress respirasi

P : O2 1liter/menit .
Infus KAEN 4B 8cc/jam
- NaCl 3% 1,8cc/jam
- KCl 2,2 cc
- Ditambah D5% 12 cc
- 0,5 cc/jam
Inj. Amoxillin 2x100mg
Inj. Gentamycin 2x7.5%.
Interlac 1x5tetes
Diet ASI: 8x20cc

6-9-2017 S: bayi menangis kuat, demam(-), BAB (+), BAK (+), kuning (-)
O: Keadaan umum :KU : baik, gerak aktif (+), menangis kuat (+).
Kesadaran : Compos mentis
- HR : 120x/menit
- RR : 36x/menit
- Suhu : 36,8 C
- SpO2 : 100%
- BB : 1835 gr
- Lingkar kepala :32 cm
- Lingkar dada : 31 cm
- Kepala : mesosefal, fontanel anterior dan posterior masih terbuka,
moulage (-), wajah kekuningan (-)
- Mata : terbuka, sekret (-), Conjungtiva anemis -/-, Sklera Ikterik -/-
- Hidung : Sekret (-), darah (-), nafas cuping hidung (-)
- Mulut : reflek (-), labioschisis (-).
- Leher : kuning (-)
- Thorax : cor SI SII intensitas N reguler, retraksi (-) berkurang.
Pulmo SDV +/+, suara tambahan -/-;
- Abdomen : Datar, BU (+) normal, supel, tali pusat lepas, infus
umbilikal (-), kuning (-).
- Ekstremitas: akral hangat (+), ptekie (-), sianosis (-), kuning (-)
- Kulit : kemerahan (+)

A: Neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan


BBLR
Distress respirasi

P : Infus KAEN 4B 8cc/jam

38
Inj. Amoxillin 2x100mg
Inj. Gentamycin 2x7.5%.
Interlac 1x5tetes
Diet ASI: 12x30cc
KMC
OGT stop, ibu belajar meneteki

7-9-2017 S: bayi menangis kuat, demam(-), BAB (+), BAK (+), kuning (-)
O: Keadaan umum :KU : baik, gerak aktif (+), menangis kuat (+).
Kesadaran : Compos mentis
- HR : 140x/menit
- RR : 48x/menit
- Suhu : 37,5 C
- SpO2 : 100%
- BB : 1845 gr
- Lingkar kepala :32 cm
- Lingkar dada : 31 cm
- Kepala : mesosefal, fontanel anterior dan posterior masih terbuka,
moulage (-), wajah kekuningan (-)
- Mata : terbuka, sekret (-), Conjungtiva anemis -/-, Sklera Ikterik -/-
- Hidung : Sekret (-), darah (-), nafas cuping hidung (-)
- Mulut : reflek (-), labioschisis (-).
- Leher : kuning (-)
- Thorax : cor SI SII intensitas N reguler, retraksi (-) berkurang.
Pulmo SDV +/+, suara tambahan -/-;
- Abdomen : Datar, BU (+) normal, supel, terpasang infus umbilikal,
kuning (-).
- Ekstremitas: akral hangat (+), ptekie (-), sianosis (-), kuning (-)
- Kulit : kemerahan (+)

A: Neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan


BBL
Distress respirasi

P : PMK
ASI ad lib.

8-9-2017 S: bayi menangis kuat, demam(-), BAB (+), BAK (+), kuning (-)
O: Keadaan umum :KU : baik, gerak aktif (+), menangis kuat (+).
Kesadaran : Compos mentis
- HR : 130x/menit
- RR : 30x/menit
- Suhu : 36,8 C
- SpO2 : 100%
- BB : 1855 gr
- Lingkar kepala :32 cm
- Lingkar dada : 31 cm
- Kepala : mesosefal, fontanel anterior dan posterior masih terbuka,
moulage (-), wajah kekuningan (-)
- Mata : terbuka, sekret (-), Conjungtiva anemis -/-, Sklera Ikterik -/-
- Hidung : Sekret (-), darah (-), nafas cuping hidung (-)
- Mulut : reflek (-), labioschisis (-).
- Leher : kuning (-)

39
- Thorax : cor SI SII intensitas N reguler, retraksi (-) berkurang.
Pulmo SDV +/+, suara tambahan -/-;
- Abdomen : Datar, BU (+) normal, supel, terpasang infus umbilikal,
kuning (-).
- Ekstremitas: akral hangat (+), ptekie (-), sianosis (-), kuning (-)
- Kulit : kemerahan (+)

A: Neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan


BBL
Distress respirasi

P : PMK
ASI ad lib.
Pulang

FOLLOW-UP DIET
Tanggal Umur Diet Keterangan
23-8-2017 1 hari ASI 20 cc Acc sufor
24-8-2017 2 hari Menggunakan dot 15 cc
25-8-2017 3 hari ASI 6x5cc KU menurun,
26-8-2017 4 hari ASI 6x5cc Terpasang OGT
27-8-2017 5 hari ASI 6x5cc
28-8-2017 6 hari ASI 6x5cc
Interlac 1x5tetes
29-8-2017 7 hari ASI 6x5cc
Interlac 1x5tetes
30-8-2017 8 hari ASI 6x8cc
Interlac 1x5tetes
31-8-2017 9 hari ASI 6x8cc
Interlac 1x5tetes
1 10 hari ASI 6x8cc
Interlac 1x5tetes
2 11 hari ASI 8x15cc
Interlac 1x5tetes
3 12 hari ASI 8x15-20cc
Interlac 1x5tetes
4 13 hari ASI 8x15cc Dot (+)
Interlac 1x5tetes
5-9- 2017 14 hari Interlac 1x5 tetes Belajar menetek
ASI 8x 15-20 cc
6 15 hari ASI 12x30cc Belajar menetek
Interlac 1x5tetes dot(-)
7 16 hari ASI 8x15cc Menetek (+)
Interlac 1x5tetes Dot (-)
8 17 hari Pasien pulang

40
Quo ad Vitam : dubia ad bonam
Quo ad Sanam : dubia ad bonam
Quo ad Fungsionam : dubia ad bonam

41
BAB IV

PEMBAHASAN

Dari anamnesis didapatkan bahwa hari pertama haid terakhir (HPHT)


adalah 14 Desember 2016, hari perkiraan tanggal bayi dilahirkan adalah 21
September 2017, sehingga berdasarkan data tersebut dapat diketahui usia gestasi
saat bayi dilahirkan yaitu sekitar 36 minggu. Kemudian dari data antropometri
bayi yaitu berat badan bayi 1800 gram sesuai dengan kriteria BBLR yaitu berat
bayi lahir kurang dari 2500 gram dan jika berat badan disesuaikan dengan usia
gestasi adalah kecil masa kehamilan sehingga memenuhi kriteria prematuritas
murni (lihat grafik Lubchenko untuk penilaian klasifikasi maturitas bayi baru
lahir) (Asnah, 2004).
Pada pasien ini juga dilakukan scoring untuk menentukan usia gestasi
dengan penilaian neuromuskular dan maturitas fisik menggunakan ballard score.
Pada penilaian tersebut didapatkan ballard score 27 yang menunjukkan usia
gestasi sesuai untuk kehamilan 36 minggu (Anonim, 2007). Berdasarkan
pemeriksaan fisik pada hari keempat (umur 4 hari), pasien ini, ditemukan warna
kulit yang tampak kekuningan. Setelah dilakukan pemeriksaan Laboratorium
darah pada hari perawatan keempat,didapatkan hasil bahwa terjadi peningkatan
bilirubin total menjadi 10,67 mg/dL, bilirubin direk 0,31 mg/dl, dan bilirubin
indirek 10,36 mg/dl. Ikterus yang timbul pada bayi ini merupakan ikterus
fisologis, karena ikterus fisiologis yang terjadi pada neonatus kurang bulan
biasanya terlihat pada hari 3-4 dan akan hilang pada hari ke 10-20 dengan kadar
tertinggi < 15 mg/dl. Pemeriksa melakukan pemeriksaan pada hari keenam, dan
kondisi pasien sudah membaik dan kulit kemerahan.
Pada pasien ini peningkatan kadar bilirubin terutama bilirubin indirek
diduga karena faktor prematuritas neonatus dan penurunan asupan enteral akibat
belum sempurnanya sistem oral motor sehingga terjadi peningkatan sirkulasi
bilirubin enterohepatik yang akhirnya bermanifestasi sebagai hiperbilirubinemia
(Martin dkk, 2004).

42
Pada pasien ini diberikan terapi antibiotik Amoxycillin 2x100 mg dan
Gentamycin 2x7,5 mg. Pemberian antibiotik karena pada BBLR memiliki resiko
tinggi terhadap infeksi disebabkan karena bayi kurang bulan tidak mengalami
transfer transplasental igG maternal selama trismester tiga, fagositosis terganggu,
penurunan berbagai faktor komplemen. Selain itu, angka kematian neonatus di
unit perinatologi hampir menyumbang 60 % dari total kematian bayi.
Pseudomonas selalu muncul di unit perawatan Neonatologi dan dihubungkan
dengan tingginya angka kematian pada neonatus di unit perawatan intensif.
Reservoir potensial untuk pseudomonas meliputi alat-alat resusitasi, humidifier,
inkubator, susu formula, pompa payudara, bayi dengan perawatan lama, dan
tangan petugas kesehatan (Polin dkk, 2003).
Pada pasien ini diberikan aminofilin 3x2,6 mg karena mengingat usia
gestasi 36 minggu. Jika usia gestasi 36 minggu kemungkinan dapat menimbulkan
masalah pernapasan akibat dari defisiensi surfaktan paru yang mengarah ke
syndrome gawat pernafasan, risiko aspirasi karena refleks tersedak dan batuk yang
buruk, pengisapan dan penelanan yang tidak terkoordinasi, thoraks yang dapat
menekuk dan otot pernafasan yang lemah, serta pernafasan periodic dan apnue
(Anonim, 2012).Oleh karena itu pemberian aminofilin pada pasien ini dinilai tepat
karena aminofilin memiliki efek merangsang pusat napas dengan meningkatkan
kepekaan terhadap CO2, meningkatkan frekuensi napas, menyebabkan relaksasi
otot termasuk otot polos bronkus, menurunkan hipoksia akibat depresi
napas,meningkatkan aktivitas diafragma (Anonim, 2012).
Pada pasien ini diberikan minum menggunakan selang OGT karena bayi
memiliki refleks rooting dan isap yang lemah. Minum dimulai dengan dosis 0,5-1
cc/kgbb/jam. Pada bayi dengan BB 1800 gr, maka minum yang diberikan yaitu
5,1 cc (5 cc/ 3 jam). Pemberian nutrisi secara enteral pada pasien ini sudah tepat
karena memberi keuntungan berupa memberi makan sel-sel usus dan
menstimulasi produksi hormon-hormon usus yang akan mempercepat proliferasi
sel-sel usus yang penting untuk adaptasi usus setelah lahir (Hendarto, 2002).
Selain itu pada pasien ini tidak ditemukan faktor-faktor risiko (asfiksia/nilai apgar
rendah, sindrom gawat napas, apneu/bradikard, sepsis, hipotensi) sehingga kondisi

43
tersebut dapat menjadi pegangan dalam pemberian nutrisi enteral (Hendarto,
2002). Namun pada proses pemberiannya digunakan selang OGT dikarenakan
pada pasien ini usia gestasi 36 minggu dan terdapat ketidakmatangan pada sistem
neurologis berupa refleks menghisap dan menelan yang tidak sempurna.
Kebutuhan cairan dan elektrolit disesuaikan dengan BB bayi dan umur bayi. Pada
bayi dengan BB 1800 gr, umur 6 hari (hari ke 6). Kebutuhan cairannya adalah 110
cc/kg/hr. Sehingga kebutuhan cairan bayi tersebut = 1,8 x 110 cc/hr= 198 cc/hr.
Tetesan infus D10 melalui infus pump yaitu 198cc/24 jam = 8cc/jam (Pardo,
2007).

44
DAFTAR PUSTAKA

1. Stanton BF, editors. Nelsons Textbook of Pediatrics, 18th Edition.


Philadelphia:Saunders. 2007.hlm 701-10.

2. Behrman, Kliegman: Nelson textbook pediatrics Edisi 15, Philadelphia:


W.B Saunders,Company 2000. hlm 543-99.

3. Dubowitz LMS, Dubowitz V, Goldberg C. Clinical assessment of


gestational age in the newborn infant.J Pediatri. 1970; 77: 1-10

4. Martin CR, Cloherty JP. Neonatal hiperbilirubinemia. Dalam: Cloherty


JP, EichenwaldEC, Stark AR, penyunting. Manual of neonatal care. Edisi
ke-5. Philadelphia:Lippincolt Williams & Wilkins. 2004. hlm 183-221.

5. Mupanemunda R, Watkinson M. Key Topics in Neonatology, 2nd Ed.


New York: Taylor & Francis Group: 2005

6. New Ballard Score & Maturational Assessment of Gestational Age


[Online]. 2007 Dec [cited 2009 Dec 21]; Available from: URL:
/www.ballardscore.com/Pages/mono_neuro_posture.aspx. [diakses pada
tanggal 24 Agustus 2017, pukul 12.00 WIB].

7. Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Medula, Volume 2, Nomor 3,


Maret 2014

8. Sukadi A. Pedoman Terapi Penyakit Pada Bayi Baru Lahir. Bandung:


FKUP 2002.

9. Sylvia D. Klasifikasi bayi menurut berat lahir dan masa gestasi. Dalam:
Buku Ajar Neonatologi. Jakarta: Badan Penerbit IDAI 2008; 11-30.

45