Anda di halaman 1dari 6

RMK

TEORI PASAR MODAL

Efek yang Diperdagangkan di Pasar Modal

Dosen Pengempu : Dr. Gerianta Wirawan Yasa SE., M.Si..

Oleh

PUTU VIO NARAKUSUMA ARDAYANI


1515351012

Program Ekstensi Jurusan Akuntansi


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana
2017
EFEK YANG DIPERDAGANGKAN DI PASAR MODAL

I. Pasar Uang
Pasar Uang merupakan tempatdimana kegiatan permintaan dan penawaranakan
surat-surat berharga dengan jangka waktu jatuh tempo kurang dari satu tahun saling
bertemu. Para Pelaku di Pasar Uang yaitu: Lembaga pemerintah (Bank Sentral,
Departemen Keuangan), Lembaga Keuangan Perbankan (Bank Pemerintah, Bank
Komersial), Lembaga Keuangan non Perbankan (Asuransi, Dana Pensiun, Lembaga
Pembiayaan, Lembaga Jasa Keuangan), Lembaga di Pasar Modal, dan Institusi umum
dan perorangan. Ciri ciri pasar uang yaitu jangka waktu jatuh tempo kurang dari 1
tahun, tidak terikat pada tempat tertentu, pada umumnya para pelaku bertemu secara
langsung (OTC), dan tidak memerlukan adanya guarantor/underwriter. Adapun fungsi
pasar uang antara lain:
1) Bagi pihak yang membutuhkan dana:
a. Untuk memenuhi kebutuhan dana jangka pendek
b. Untuk menjaga likuiditas jangka pendek
c. Untuk memenuhi kebutuhan modal kerja
d. Untuk memenuhi kebutuhan kalah kliring
2) Bagi pihak yang menyalurkan dana:
a. Sebagai sarana untuk menabung dan berjaga-jaga
b. Sebagai sarana investasi
3) Bagi Lembaga Pemerintah:
a. Sebagai sarana untuk memobilisasi dana masyarakat
b. Sebagai sarana untuk melakukan kebijakan moneter (ekspansi dan kontraksi
moneter)

Instrumen utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau bank sentral atas unjuk
dengan jumlah tertentu yang akan dibayarkan kepada pemegang pada tanggal yang
telah ditetapkan. Instrumen ini berjangka waktu jaruh tempo satu tahun atau kurang.
Adapun instrument instrument tersebut yaitu Surat Berharga Pasar Uang (SBPU),
Surat Perbendaharaan Negara (SPN), Deposito, Commercial Paper, Call Money,
Repurchase Agreement (REPO), dan Banker's Acceptance. Adapun indikator
pasar uang sangat diperlukan untuk mengukur atau paling tidak mengamati
perkembangan pasar uang meliputi: Suku bunga Pasar Uang Antar Bank (Rp),
Volume transaksi Pasar Uang Antar Bank (Rp), Suku bunga Pasar Uang Antar Bank
(US$), Volume transaksi Pasar Uang Antar Bank (US$), JIBOR (Jakarta Interbank
Offered), Suku bunga deposito Rupiah (%/th), Suku bunga deposito US$ (%/th), Nilai
Tukar Rupiah (Kurs), Suku bunga kredit tingkat, Inflasi Kenaikan tingkat, Indeks
Harga Konsumen (IHK), Sertifikat Bank Indonesia (SBI)

II. Pasar Modal


UU No. 8/1995 tentang Pasar Modal (UUPM), menyebutkan bahwa Pasar Modal
merupakan wadah untuk melakukan transaksi perdagangan berbagai instrumen
keuangan jangka panjang, seperti:surat utang (obligasi), ekuitas (saham), reksa dana,
instrumen derivatif maupun instrumen lainnya. Transaksi jual beli efek pasar modal
dilakukan di Bursa Efek. Adapun Efek-efek yang ditransaksikan di Pasar Modal di
Indonesia
1) Saham

Jenis Saham Berdasarkan Hak Klaim yaitu Saham Biasa (Common Stock)
dan Saham Preferen (Preferred Stock). Adapun jenis-jenis saham preferen yaitu:
Participating preferred (saham preferen partisipasi), Participating Non preferred,
Cummulative preferred (saham preferen kumulatif), Non cumulative preferred
(saham preferen nonkumulatif), dan Convertible preferred (saham preferen
konvertibel). Jenis Saham berdasarkan Bentuk Kepemilikan yaitu Saham atas
unjuk (Bearer Stock) dan Saham atas nama (Registered Stock).

Pada dasarnya, ada tiga keuntungan yang diperoleh investor dengan membeli
atau memiliki saham yaitu: 1) Dividen, Dividen merupakan pembagian keuntungan
yang diberikan perusahaan dan berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan.
Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa Dividen tunai dan Dividen Saham.
2) Capital Gain, Capital Gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. 3)
Saham Bonus, Saham Bonus adalah saham yang dibagikan secara cuma-cuma
kepada para pemegang saham, sesuai dengan proporsi kepemilikan sahamnya.
Sebagai instrument investasi, saham memiliki risiko, antara lain: Capital Loss,
Risiko Kebangkrutan, Risiko Likuiditas Aset, Risiko Delisting, Risiko Suspending,
Risiko Unik (unsystematic risk) dan Risiko Pasar (systematic risk)

2) Obligasi
Obligasi merupakan surat utang jangka menengah-panjang yang dapat
dipindahtangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar
imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu
yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut. Jenis obligasi
berdasarkan penerbit yaitu: Corporate Bonds, Government Bonds, Municipal
Bond. Jenis obligasi berdasarkan sistem pembayaran bunga yaitu: Zero
Coupon Bonds dan Coupon Bonds (Fixed Coupon Bonds dan Floating Coupon
Bonds). Jenis obligasi berdasarkan hak penukaran/opsi yaitu: Convertible
Bonds, Exchangeable Bonds, Callable Bonds, dan Putable Bonds. Jenis obligasi
berdasarkan jaminan atau kolateralnya yaitu: Secured Bonds (Guaranteed
Bonds, Mortgage Bonds, dan Collateral Trust Bonds), dan Unsecured Bonds. Jenis
Obligasi dilihat dari sisi segi nilai nominal yaitu: Konvensional Bonds dan
Retail Bonds. Adapun karakteristik Obligasi yaitu Memiliki Nilai Nominal (Face
Value), Kupon (the Interest Rate), dan Waktu Jatuh Tempo (Maturity).
Imbal Hasil Investasi di Obligasi berupa Bunga, Capital Gain, Hak klaim
pertama, Hak konversi menjadi saham untuk pemegang Obligasi Konversi. Risiko
Investasi pada Obligasi yaitu Inflation Risk, Political Risk, Credit Risk/ Default Risk,
Rating Risk, Likuiditas, Interest rate risk, Call risk, Yield curve risk, Prepayment
Risk, Reinvestment Risk, Foreign Exchange Risk, Volatility Risk, Event Risk, dan
Public Policy Risk. Untuk menentukan kualitas dan risiko dari sebuah obligasi, maka
investor dapat menggunakan peringkat atau rating obligasi. Semakin tinggi rating-
nya, semakin aman pula obligasi tersebut. Sebaliknya, semakin rendah peringkatnya,
semakin tinggi risikonya.

3) Reksa Dana

Mengacu kepada Undang-Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995, pasal 1 ayat
(27) didefinisikan bahwa Reksa Dana adalah wadah yang dipergunakan untuk
menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam
portofolio efek oleh manajer investasi. Berdasarkan Undang-undang Pasar Modal
Nomor 8 Tahun 1995 pasal 18, ayat (1), bentuk hukum Reksadana di Indonesia
terdiri dari ada dua bentuk yaitu Reksa Dana Perseroan Terbatas (Terdapat 2
bentuk RD PT: Reksadana Terbuka (Open-EndFund) dan Reksadana Tertutup
(Close-EndFund) ) dan Reksa Dana Kontrak Investasi Kolektif. Jenis Reksa Dana
Berdasarkan Isi Portofolio yaitu Reksa Dana Saham, Reksa Dana Campuran, Reksa
Dana Pendapatan Tetap, dan Reksa Dana Pasar Uang. Jenis Reksa Dana berdasarkan
Peraturan Bapepem No. IV.C.4 yaitu Reksa Dana Terproteksi, Reksa dana
Penjaminan, dan Reksa Dana Indeks.

4) Exchange Traded Fund (ETF)

ETF atau Exchange Traded Fund secara sederhana dapat diartikan sebagai
Reksa Dana yang diperdagangkan di Bursa. Sama seperti reksa dana konvensional,
ETF merupakan Kontrak Investasi Kolektif, perbedaannya adalah unit penyertaan
ETF dicatatkan dan diperdagangkan di Bursa seperti saham. Sebagaimana halnya
reksa dana konvensional, dalam ETF terdapat pula manajer investasi dan bank
kustodian. Akan tetapi, ETF juga mengenal satu pihak lagi yang memiliki peran
penting dalam perdagangan, yaitu market maker. Market maker adalah broker yang
ditunjuk oleh manajer investasi untuk bertanggung jawab dalam menyediakan
likuiditas ETF, sehingga ETF bisa dibeli dengan harga dan jumlah yang diinginkan
oleh pasar.

5) Dana Investasi Real Estate (DIRE)/REITs

DIRE atau dikenal juga sebagai Real Estate Investment Trust adalah salah satu
sarana investasi baru yang secara hukum di Indonesia akan berbentuk KIK. DIRE
diartikan sebagai kumpulan uang pemodal yang oleh perusahaan investasi akan
diinvestasikan ke bentuk aset properti baik secara langsung seperti membeli
gedung maupun tidak langsung dengan membeli saham/obligasi perusahaan
properti. DIRE merupakan sebuah alternative pendanaan real estate/properti yang
efisien. Selama ini perusahaan properti di Indonesia masih menggunakan dana
segar melalui skema IPO.

6) Derivatif (rights, waran, options, futures)

Derivatif merupakan kontrak atau perjanjian yang nilai atau peluang


keuntungannya terkait dengan kinerja aset lain. Aset lain ini disebut sebagai
underlying assets. Instrument derivatif yang terdapat di Bursa Efek adalah derivatif
keuangan (financial derivative). Derivatif keuangan merupakan instrumen
derivatif, di mana variabelvariabel yang mendasarinya adalah instrumen-instrumen
keuangan, yang dapat berupa saham, obligasi, indeks saham, indeks obligasi, mata
uang (currency), tingkat suku bunga dan instrumen-instrumen keuangan lainnya.
Instrumen-instrumen derivatif sering digunakan oleh para pelaku pasar (pemodal
dan perusahaan efek) sebagai sarana untuk melakukan lindung nilai (hedging) atas
portofolio yang mereka miliki.

Rights/ Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD)

Menurut penjelasan pasal 82 ayat 1 UUPM, HMETD adalah hak yang melekat pada
saham yang memberikan kesempatan bagi pemegang saham yang bersangkutan
untuk membeli saham baru sebelum ditawarkan kepada pihak lain. Rights issue
dilakukan atas dasar persetujuan rapat umum pemegang saham.

Waran (Warrant)

Istilah Waran sebenarnya berasal dari Covered Warrant. Waran hampir sama
dengan opsi saham (option), dipergunakan sebagai sarana lindung nilai (hedging).
Karena di Indonesia yang dimaksud Waran adalah call warrant, maka berarti
investor mempunyai hak membeli saham pada harga tertentu. Pemegang Waran
akan untung jika harga saham di pasar lebih tinggi dari exercise price plus harga
pembelian Waran.

Futures

Futures adalah kontrak untuk membeli atau menjual suatu underlying (dapat berupa
indeks, saham, obligasi, dll) di masa mendatang. Dalam index futures, pembeli
futures harus memperhatikan harga indeks yang berlaku saat itu, harga indeks yang
diprediksi, margin awal, dan harga penyelesaian harian (HPH) yang ditetapkan di
akhir hari. Marjin awal akan dikembalikan ketika pembeli menjual futuresnya.
Marjin awal yang ditetapkan BEI untuk LQ45 futures adalah sebesar adalah 4% x
harga indeks x Rp500.000 x jumlah kontrak.

Options

Options adalah kontrak resmi yang memberikan Hak (tanpa adanya kewajiban)
untuk membeli atau menjual sebuah asset pada harga tertentu yang ditetapkan
(strike price) dalam jangka waktu tertentu. Biaya penjualan/pembelian dari options
dari tersebut dikenal dengan istilah premium. Options diperdagangkan dengan dua
metode, yaitu: American style memberikan kesempatan kepada pemegang options
(taker) untuk meng-exercise haknya setiap saat hingga waktu jatuh tempo dan
European style hanya memberikan kesempatan kepada taker untuk meng-exercise
haknya pada saat waktu jatuh tempo.