Anda di halaman 1dari 17

Om Swastyastu,

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala anugerahNYA sehingga
kami dapat menyusun Paper Pengauditan 1 dalam hal Struktur Pengendalian Intern hingga
selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan terima kasih atas bantuan dari pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan tambahan materi.

Dan harapan kami semoga Paper ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
dalam proses belajar, serta untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah
isi Paper agar menjadi lebih baik.

Karena keterbatasan pengetahua maupun pengalaman kami, kami yakin masih banyak
kekurangan dalam Paper ini. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik
yang membangun demi kesempurnaa Paper ini.

Om Santhi Santhi Santhi Om.

Denpasar, April 2017

Penyusun

BAB I

STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN Page 1


PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dunia usaha di Indonesia saat ini sudah maju, bisa dilihat dari semakin banyaknya berdiri
usaha-usaha baru yang didirikan oleh masyarakat. Salah satu aspek penting pada suatu
perusahaan adalah Sistem Pengendalian Internal. Karena suatu perusahaan tidak dapat
berjalan dengan baik tanpa adanya Sistem Pengendalian Internal yang baik.

Sistem Pengendalian Internal merupakan kebijakan dan prosedur yang melindungi


aktiva dari penyalahgunaan. Sistem Pengendalian Internal dapat digunakan lebih efektif
untuk mencegah penggelapan atau penyimpangan. Pada suatu perusahaan, pengendalian
internal sangat dibutuhkan mengingat faktor-faktor yang meliputi luas dan entitas perusahaan
yang sangat kompleks. Hal ini mengakibatkan manajemen harus percaya pada laporan-
laporan serta analisis untuk operasi pengendalian Internal yang efektif.

Pada Sistem Pengendalian Internal juga terdapat elemen-elemen penting yang juga
harus ditanamkan pada tiap perusahaan yaitu lingkungan pengendalian, sistem akuntansi, dan
pengendalian prosedur. Kas merupakan alat pembayaran yang siap dan bebas dipergunakan
untuk membiayai kegiatan umum perusahaaan. Kas perlu dikendalikan agar dapat terlindungi
dari hal-hal yang dapat merugikan kas perusahaan. Hal ini dikarenakan Kas merupakan harta
lancar perusahaan yang sangat menarik dan mudah diselewengkan,dan banyak transaksi
perusahaan yang menyangkut penerimaan dan pengeluaran kas. Karena itu, diperlukan
adanya pengendalian internal yang baik.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja unsur-sunsur dari struktur pengendalian intern?
2. Bagaimana hubungan antara SPI dengan prosedur audit lainnya?

DAFTAR ISI

STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN Page 2


KATA PENGANTAR...2

BAB I PENDAHULUAN :

A. Latar belakang......3
B. Rumusan masalah.....3

DAFTAR ISI..4

BAB II PEMBAHASAN :

- Arti pentingnya struktur pengendalian intern...5


- Pengertian struktur pengendalian intern...6
- Unsur-unsur struktur pengendalian intern....7
- Keterbatasan Sruktur Pengendalian Intern Suatu Satuan Usaha..8
- Fungsi audit intern....9
- Pemerolehan Pemahaman Tentang Struktur Pengendalian Intern.......9
- Pengujian dan Evaluasi Terhadap Efektivitas Operasi Kebijakan Dan Prosedur
Struktur Pengendalian Intern....9
- Kelemahan Dalam Struktur Pengendalian Intern Satuan Usaha11
- Pemahaman Struktur Pengendalian Intern.....13
- Hubungan SPI dengan prosedur audit lainya.....14
- Hubungan Antara Pemeriksaan Praktisi Atas Pengendalian Intern Dengan
Pendapat Yang Diperoleh Melalui Audit..16

BAB III PENUTUP :

A. KESIMPULAN18

DAFTAR PUSTAKA......19

BAB II

STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN Page 3


PEMBAHASAN

Arti Pentingnya Struktur Pengendalian Intern


Arti pentingnya struktur pengendalian intern (SPI) bagi manajemen dan auditor independen
sudah lama diakui dalam profesi akuntasi, dan pengakuan tersbut semakin meluas dengan
alasan:
Semakin luas lingkup dan ukuran perusahaan mengakibatkan di dalam banyak hal
manajemen tidak dapat melakukan pengendalian secara langsung atau secara pribadi terhadap
jalannya operasi perusahaan. Manajemen hanya harus mempercayai berbagai laporan dan
hasil analisis mengenai keefektifan operasinya. Sedangkan tanggung jawab yang utama untuk
menjaga keamanan harta milik perusahaan dan untuk mencegah kesalahan-kesalahan dan
ketidakberesan terletak di tangan manajemen.
Pengecekan dan review yang melekat pada system pengendalian intern yang baik
akan dapat melindungi dari kelemahan manusia dan mengurangi kemungkinan kekeliruan
dan penyimpangan yang akan terjadi.
Di lain pihak, adalah tidak praktis bagi auditor untuk melakukan pengauditan secara
menyeluruh atau secara detail untuk hamper semua transaksi perusahaan di dalam waktu dan
biaya yang terbatas.
Oleh karena itu bagi manajemen mempertahankan terus adanya struktur pengendalian intern
(SPI) termasuk struktur pelaporan yang baik adalah sangat diperlukan agar dapat melepaskan,
menyerahkan atau mendelegasikan wewenang dan tanggung jawabnya dengan tepat.

Pengertian Struktur Pengendalian Intern

STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN Page 4


Pengertian Struktur Pengendalian Intern menurut Mulyadi adalah Pengendalian Intern
meliputi struktur organisasi metode dan prosedur yang dikoordinasikan dan diterapkan dalam
perusahaan dengan tujuan untuk mengamankan harta milik perusahaan, mengecek ketelitian
dan keandalan data akuntansinya, mendorong efisiensi, dan mendorong dipatuhinya
kebijakan manajemen yang telah ditetapkan sebelumnya.
Sedangkan menurut Bodnar and Hopwood, Struktur Pengendalian Intern adalah kebijakan
dan prosedur untuk menyediakan jaminan yang memadai bahwa tujuan perusahaan dapat
dicapai.
Secara umum, Pengendalian Intern merupakan bagian dari masing-masing sistem yang
dipergunakan sebagai prosedur dan pedoman pelaksanaan operasional perusahaan atau
organisasi tertentu.
Sedangkan Sistem Pengendalian Intern merupakan kumpulan dari pengendalian intern yang
terintegrasi, berhubungan dan saling mendukung satu dengan yang lainnya.
Di lingkungan perusahaan, pengendalian intern didifinisikan sebagai suatu proses yang
diberlakukan oleh pimpinan (dewan direksi) dan management secara keseluruhan, dirancang
untuk memberi suatu keyakinan akan tercapainya tujuan perusahaan yang secara umum
dibagi kedalam tiga kategori, yaitu :
a) Keefektifan dan efisiensi operasional perusahaan
b) Pelaporan Keuangan yang handal
c) Kepatuhan terhadap prosedur dan peraturan yang diberlakukan
Suatu pengendalian intern bisa dikatakan efektif apabila ketiga kategori tujuan perusahaan
tersebut dapat dicapai, yaitu dengan kondisi :

Direksi dan manajemen mendapat pemahan akan arah pencapain tujuan perusahaan, dengan,
meliputi pencapaian tujuan atau target perusahaan, termasuk juga kinerja, tingkat
profitabilitas, dan keamanan sumberdaya (asset) perusahaan.
1. Laporan Kuangan yang dipublikasikan adalah handal dan dapat dipercaya,
yang meliputi laporan segmen maupun interim.
2. Prosedur dan peraturan yang telah ditetapkan oleh perusahaan sudah ditaati
dan dipatuhi dengan semestinya.

1. Unsur Struktur Pengendalian Intern

STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN Page 5


12 Unsur- unsur yang membentuk struktur pengendalian intern suatu satuan usaha
adalah suatu fungsi definisi strukur pengendalian intern yang dipilih oleh manajemen.
Sebagai contoh, manajemen dapat memilih definisi struktur pengendalian intern yang
terdapat dalam SA Seksi 319 (PSA No.23),Pertimbangan Struktur Pengendalian
Intern dalam Audit atas Laporan Keuangan. Paragraph 13 sampai dengan paragraph
16 menjelaskan unsur-unsur yang membentuk struktur pengendalian intern satuan
usaha sebagimana didefinisikan dalam SA Seksi 319 (PSA No.23) tersebut. Jika
manajemen memilih definisi lain suatu struktur pengendalian intern, penjelasan
unsure yang membentuknya dalam paragraph tersebut mungkin tidak relevan.

13 SA Seksi 319 (PSA No. 23) menjelaskan struktur pengendalian intern satuan usaha
terdiri dari tiga unsure : lingkungan pengendalian, system akuntansi, dan prosedur
pengendalian.

14 Lingkungan pengendalian suatu satuan usaha mencerminkan sikap, kesadaran, dan


tindakan secara menyeluruh dewan komisaris, manajemen, pemilik, dan pihak lain
tentang pentingnya pengendalian dan penekanan yang diletakkan atas pengendalian
tersebut dalam satuan usaha. Lingkungan pengendalian mencerminkan dampak
kolektif berbagai faktor, sebagaimana dijelaskan dalam paragraph 27a, atas
pembentukan, perluasan atau berkurangnya efektivitas prosedur dan kebijakan
struktur pengendalian intern khusus. Lingkungan pengendalian yang efektif
berinteraksi dengan unsur system akuntansi dan dengan prosedur pengendalian untuk
membantu penyediaan keyakinan memadai bahwa tujuan khusus satuan usaha dapat
dicapai.

15 Sebagaimana dijelaskan lebih lanjut dalam paragraph 27b, system akuntansi satuan
usaha terdiri dari metode dan catatan yang diciptakan untuk mengidentifikasi,
merakit, menganalisis, menggolongkan, mencatat, dan melaporkan transaksi satuan
usaha serta mempeertahankan pertanggungjawaban aktiva dan utang bersangkutan.

16 Prosedur pengendalian adalah kebijakan dan prosedur, disamping lingkungan


pengednalian dan system akuntansi yang dibuat oleh manajemen utuk membantu
memastikan bahwa tujuan spesifik satuan usaha dipenuhi. Sebagaimana dijelaskan
dalam paragraph 27c, prosedur pengendalian memiliki berbagi tingkat pengolahan

STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN Page 6


data dan organisasi dalam suatu satuan usaha. Prosedur pengendalian dapat juga
diintegrasikan ke dalam komponen khusus lingkungan pengendalian dan system
akuntansi.

Keterbatasan Sruktur Pengendalian Intern Suatu Satuan Usaha


17 Terdapat keterbatasan bawaan yang arus disadari bila praktisi mempertimbangkan
efektivitas struktur pengendalian intern apapun. Dalam penerapan banyak kebijakan dan
prosedur pengendalian, erdapat kemungkinan kekeliruan potensial yang timbul dari sebab-
sebab seperti instruksi yang salah dimengerti, salah dalam pertimbangan, serta kecerobohan,
kebingungan dan kelelahan pribadi. Disamping itu, kebijakan dan prosedur yang
efektivitasnya tergantung atas pemisahan tugas dapat disimpangi oleh persekongkolan
(collusion). Begitu pula ketidakberesan yang dilakukan oleh manajemen tidak dapat dicegah
atau dideteksi dengan kebijakan atau prosedur pengendalian tertentu, karena manajemen
mungkin tidak terkena pengendalian yang digunakan untuk mencegah karyawan dari
perbuatan yang menyimpang atau karena manajemen dapat mengesampingkan pengendalian
tersebut.

18 Adat, budaya, dan system pemerintahan perusahaan mungkin menghalangi


dilakukannya ketidakberesan oeleh manajemen namun hal itu bukanlah alat pencegah yang
tanpa cacat. Lingkungan pengendalian yang efektif dapat juga membantu mengurangi
kemungkinan dilakukannya ketidakberesan semacam itu. Sebagai contoh, factor lingkungan
pengendalian seperti dewan komisaris, komite audit, dan fungsi audit intern yang efektif
dapat menghalangi perbuatan manajemen yang tidak semestinya. Di lain pihak, suatu
lingkungan pengendalian yang tidak efektif dapat berakibat negative terhadap efektivitas
prosedur dan kebijakan pengendalian dalam system akuntansi dan prosedur pengendalian
yang lain.

Fungsi Audit Intern

STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN Page 7


23 Faktor lain yang harus dipertimbangkan oleh praktisi pada waktu merencanakan
penugasan adalah apakah satuan usaha memiliki fungsi audit intern. Tanggung jawab penting
fungsi audit intern adalah memantau kinerja pengendalian satuan usaha. Satu cara yang
ditempuh auditor intern dalam memantau kinerja tersebut adalah dengan melaksanakan
pengujian yang memberikan bukti mengenai efektivitas design dan pelaksanaan kebijakan
dan prosedur struktur pengendalian intern. Hasil pengujian ini seringkali merupakan dasar
penting bagi asersi manajemen tentang efektivitas struktur pengendalian intern satuan usaha.
Praktisi harus mempertimbangkan panduan dalam SA Seksi 332 (PSA No. 33),
Pertimbangan Auditor atas Fungsi Audit Intern dalam suatu Audit atas Laporan Keuangan,
pada waktu menetapkan kompetensi dan objektivitas auditor intern, luas pekerjaan yang
dilaksanakan, dan masalah lain.

Pemerolehan Pemahaman Tentang Struktur Pengendalian Intern


25 Praktisi umumnya memperoleh pemahaman tentang desain kebijakan dan prosedur
tertentu dengan mengajukan pertanyaan kepada manajemen, pengawas, karyawan staf yang
semestinya; dengan melakukan inspeksi dokumen satuan usaha; dan dengan mengamati
aktivitas dan operasi satuan usaha. Sifat dan luas prosedur yang dilaksanakan oleh praktisi
dapat bervariasi dari satuan usaha yang satu satuan usaha yang lain dan dipengaruhi oleh
factor-faktor seperti yang dijelaskan dalam paragraph 12 sampai dengan paragraph 16.

Pengujian dan Evaluasi Terhadap Efektivitas Operasi Kebijakan Dan Prosedur


Struktur Pengendalian Intern
31 Untuk mengevaluasi efektivias operasi struktur pengendalian intern suatu satuan
usaha, praktisi melaksanakan pengujian kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern
yang relevan untuk memperoleh bukti yang cukup untuk mendukung pendapat praktisi yang
dicantumkan dalam laporannya. Pengujian atas efektivitas operasi kebijakan atau prosedur
struktur pengendalian intern bersangkutan dengan :
a. Bagaimana kebijakan atau prosedur tersebut diterapkan.
b. Konsistensi penerapannya.
c. Siapa yang menerapkan kebijakan atau prosedur tersebut.
Pengujian biasanya meliputi prosedur seperti pengajuan pertanyaan kepada karyawan yang
semestinya, inspeksi terhadap dokumentasi yang relevan, pengamatan atas operasi satuan
usaha, penerapan kembali atau pelaksanaan kembali prosedur struktur pengendalian intern.

STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN Page 8


32 Bukti audit yang cukup untuk mendukung pendapat praktisi atas asersi manajemen
merupakan masalah pertimbangan professional. Namun praktisi harus mempertimbangkan
masalah-masalah yang disajikan.
33 Manajemen atau karyawan satuan usaha dapat menyediakan hasil pengujian
mereka atas efektivitas operasi kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern tertentu
bagi praktisi. Meskipun praktisi harus mempertimbangkan hasil pengujian tersebut pada
waktu mengevaluasi efektivitas kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern,
tanggung jawab praktisi adalah untuk memperoleh bukti yang cukup untuk mendukung
pendapatnya dan, jika berlaku, menguatkan hasil pengujian yang dilakukan oleh manajemen
atau karyawan satuan usaha tersebut.
34 Sifat kebijakan dan prosedur mempengaruhi sifat pengujian pengendalian yang
dapat dilakukan oleh praktisi. Sebagai contoh, praktisi dapat memeriksa dokumen mengenai
kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern yang ada bukti dokumenternya. Namun,
bukti documenter mengenai beberapa kebijakan dan prosedur lingkungan pengendalian
(seperti filosofi manajemen dan gaya operasi) seringkali tidak terdapat dalam satuan usaha.
Dalam situasi ini, pengujian pengendalian yang dilakukan oleh praktisi akan terdiri atas :
a. Pengajuan pertanyaan kepada karyawan yang semestinya.
b. Pengamatan atas aktivitas satuan usaha
35 Pemilihan periode waktu yang diterapi pengujian pengendalian merupakan
masalah pertimbangan praktisi, namun pertimbangan ini bervariasi dengan sifat kebijakan
dan prosedur pengendalian yang diuji dan dengan frekuensi operasi prosedur
pengendalian tertentu dan penerapan kebijakan tertentu. Beberapa kebijakan dan prosedur
struktur pengendalian intern tertentu dilaksanakan terus-menerus (sebagai contoh
pengendalian terhadap penjualan) sedangkan yang lain dilaksanakan hanya pada waktu
tertentu (seperti pengendalian atas penyusunan laporan keuangan interim dan
pengendalian atas perhitungan fisik persediaan).
36 Manajemen dapat menyajikan suatu asersi tertulis tentang efektivitas kebijakan
dan prosedur struktur pengendalian intern yang berkaitan dengan penyusunan informasi
keuangan interim. Tergantung asersi manajemen, praktisi harus melaksanakan pengujian
atas kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern yang berlaku selama satu atau
lebih periode interim untuk merumuskan suatu pendapat tentang efektivitas kebijakan dan
proseur seperti itu dalam mencapai tujuan yang berkaitan dengan tujuan pelaporan
interim.

STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN Page 9


37 Sebelum tanggal penyajian asersi, manajemen dapat mengubah kebijakan dan
prosedur struktur pengendalian intern satuan usaha untuk membuatnya lebih efektif dan
efisien, atau ditujukan untuk mengatasi kelemahan pengendalian. Dalam keadaan ini,
praktisi tidak perlu mempertimbangkan kebijakan dan prosedur struktur pengendalian
intern yang telah diganti.

Kelemahan Dalam Struktur Pengendalian Intern Satuan Usaha

39 Selama pelaksanaan penugasannya, praktisi dapat menyadari kelemahan signifikan


dalam struktur pengendalian satuan usaha. Tanggung jawab praktisi untuk
mengomunikasikan kelemahan tersebut dijelaskan dalam paragraph 45 dan paragraph 46.
Kondisi yang dapat dilaporkan
40 SA Seksi 325 (PSA No.35), komunikasi masalah yang berhubungan dengan
Struktur Pengendalian Intern yang ditemukan dalam suatu audit, mendefinisikan kondisi yang
dapat dilaporkan sebagai masalah yang diketahui oleh auditor yang mencerminkan
kelemahan signifikan dalam desain atau pelaksanaan struktur pengendalian intern yang
berdampak buruk terhadap kemampuan satuan usaha untuk mencatat, mengolah, meringkas,
dan melaporkan data keuangan konsisten dengan asersi manajemen dalam laporan keuangan.
Kelemahan material
41 Suatu kondisi yang dapat dilaporkan dapat sedemikian besarnya untuk
diperhitungkan sebagai suatu kelemahan material. SA Seksi 325 (PSA No. 35), Komunikasi
Masalah yang Berhubungan dengan Struktur Pengendalian Intern yang Ditemukan dalam
Suatu Audit, mendefinisikan suatu kelemahan material sebagai suatu kondisi yang
didalamnya desain dan pelaksanaan satu atau lebih unsure struktur pengendalian intern tidak
mengurangi terjadinya kekeliruan atau ketidakberesan dalam jumlah ke tingkat risiko yang
secara relative rendah yang material dalam hubungannya dengan laporan keuangan dan tidak
terdeteksi pada waktu yang tepat oleh karyawan dalam pelaksanaan normal fungsi yang
dibebankan kepadanya.
42 Pada waktu mengevaluasi apakah kondisi yang dapat dilaporkan juga berupa suatu
kelemahan material, praktisi harus menyadari bahwa :
a. Jumlah kekeliruan atau ketidakberesan yang mungkin terjadi dan tetap tidak terdeteksi
berkisar dari nol sampai ke lebih dari jumlah bruto laporan keuangan atau transaksi
yang dibeberkan sebagai kondisi yang dapat dilaporkan.

STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN Page 10


b. Risiko kekeliruan atau ketidakberesan mungkin berbeda untuk jumlah yang mungkin
berbeda dalam kisaran tersebut.

43 Dalam mengevaluasi apakah kombinasi dampak kondisi yang dapat dilaporkan


secara individu menghasilkan kelemahan material, praktisi harus mempertimbangkan
:
a. Kisar atau distribusi jumlah kekeliruan atau ketidakberesan yang mungkin sebagai
akibat dari satu atau lebih kondisi yang dapat dilaporkan secara individual selama
periode akuntansi yang sama.
b. Risiko bersama atau probabilitas bahwa suatu kombinasi kekeliruan atau
ketidakbersan akan material.

44. Evaluasi apakah suatu kondisi yang dapat dilaporkan juga suatu kelemahan
material merupakan proses yang bersifat subyektif yang tergantung atas factor-faktor
seperti sifat system akuntansi dan jumlah laporan keuangan apapun atau transaksi
yang dibeberkan sebagai kondisi yang dapat dilaporkan, lingkungan pengendalian
secara keseluruhan, prosedur pengendalian yang lain, dan pertimbangan orang yang
melakukan evaluasi.

Pemahaman Struktur Pengendalian Intern

STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN Page 11


Langkah pertaman dalam metodologi untuk memenuhi standar pekerjaan lapangan, yang
kedua adalah memperoleh pemahaman SPI untuk perencanaan audit. Untuk tujuan
perencanaan audit, pemahaman yang harus diperoleh meliputi:
1. Perencanaan (design) kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan masing-masing
elemen struktur pengendalian
2. Penerapan dalam operasi atau kegiatan perusahaan sehari-hari.

Pemahaman struktur pengendalian intern akan digunakan oleh auditor untuk :


1. Identifikasi type atau jenis salah saji yang potensial
2. Mempertimbangkan factor-faktor yang mempengaruhi resiko salah saji yang material
3. Merancang pengujian subtantif

Prosedur pemahaman pengendalian intern dalam arti penilaian secara kritis terhadap
kelemahan dan kebaikan struktur pengendalian intern yang berlaku dapat dibagi menjadi
beberapa tahap sebagai berikut :
1) Melakukan review pendahuluan atau memahami pengendalian intern yang diterapkan
manajemen, serta menentukan potensi dapat dipercayanya pengendalian intern tersebut
2) Mendokomentasi hasil pemahaman
3) Melakukan pengamatan transaksi secara sepintas
4) Identifikasi dapat tidaknya pengendalian tersebut diandalkan atau dipercaya
5) Menentukan pengaruh SPI terhadap pengujian subtantif
Sifat, saat dan luasnya prosedur yang dipilih auditor untuk memperoleh pemahaman akan
bervariasi dengan ukuran dan kompleksitas entitas, pengalaman sebelumnya dengan entitas,
sifat pengendalian khusus yang terkait, dan sifat dokumentasi pengendalian khusus yang
diselenggarakan oleh entitas. Apakah suatu pengendalian telah dioperasikan adalah berbeda
dari efektivitas operasinya.Dalam memperoleh pengetahuan tentang apakah pengendalian
telah dioperasikan, auditor menentukan bahwa entitas telah menggunakannya. Di lain pihak,
efektivitas operasi, berkaitan dengan bagaimana pengendalian tersebut diterapkan,
konsistensi penerapannya, dan oleh siapa pengendalian tersebut diterapkan.

2.Hubungan SPI dengan prosedur audit lainya

STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN Page 12


Pada prosedur audit ini, auditor harus memusatkan perhatian pada rancangan dan operasi
dari aspek-aspek SPI sampai seluas yang diperlukan untuk dapat merencanakan audit dengan
efektif. Lima jenis prosedur audit yang berhubungan dengan pemahaman auditor atas SPI,
yaitu

1. Pengalaman auditor pada periode sebelumnya terhadap satuan usaha tersebut.


2. Tanya jawab dengan pegawai perusahaan
3. Pemeriksaan pedoman kebijakan dan prosedur.
4. Inspeksi atas dokumen dan catatan.
5. Pengamatan aktivitas dan operasi satuan usaha tersebut.

A. Pengujian atas Pengendalian


Penggunaan utama atas pemahaman SPI adalah untuk menetapkan risiko
pengendalian relatif terhadap berbagai tujuan pengendalian intern yang ada. Auditor dapat
menetapkan risiko pengendalian pada tingkat yang mencerminkan evaluasi atas SPI klien ,
tetapi harus dibatasi sampai tingkat yang didukung oleh bahan bukti yang diperoleh.
Pengujian atas pengendalian diarahkan pada efektivitas pengendalian yang mencakup
jenis bahan bukti sbb :
Tanya jawab dengan pegawai klien
Inspeksi dokumen dan catatan
Pengamatan penerapan kebijakan dan prosedur spesifik
Pelaksanaan ulang oleh auditor terhadap penerapan kebijakan dan prosedur
spesifik
Perbedaan dengan prosedur untuk memperoleh pemahaman atas SPI adalah bahwa
dengan pengujian atas pengendalian, tujuan menjadi lebih spesifik dan pengujian menjadi
lebih ekstensif.
Jika auditor memutuskan untuk menetapkan risiko pengendalian dibawah tingkat
maksimum untuk satu tujuan pengendalian intern tertentu, maka prosedur satu dapat
digabung dengan prosedur dua.

B. Pengujian Substantif atas Transaksi

STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN Page 13


Pengujian substantif adalah prosedur yang dirancang untuk menguji kekeliruan atau
ketidakberesan dalam bentuk uang yang langsung mempengaruhi kebenaran saldo L/K
Tujuan dari pengujian ini adalah untuk menentukan apakah transaksi pembukuan klien telah
diotorisasi dengan pantas, dicatat dan diikhtisarkan dalam jurnal dengan benar dan
dipindahbukukan ke buku besar dan buku tambahan dengan benar.

C. Prosedur analitis
Prosedur analitis mencakup perbandingan jumlah yang dicatat dengan perkiraan yang
dikembangkan oleh auditor. Prosedur analitis ini sering berupa perhitungan rasio oleh auditor
untuk dibandingkan dengan rasio tahun lalu dan data lain yang berhubungan.
Tujuan penggunaan prosedur analitis :
1. Memperoleh pemahaman atas bidang usaha klien.
2. Menetapkan kemampuan kelangsungan hidup suatu satuan usaha.
3. Indikasi timbulnya kemungkinan kekeliruan dalam L/K.
4. Mengurangi pengujian audit yang lebih rinci.

D. Pengujian Terinci atas Saldo


Pengujian ini menitikberatkan pada saldo akhir buku besar untuk Neraca maupun rugi
laba dengan penekanan utama pada Neraca.Merupakan pengujian yang penting karena bahan
bukti diperoleh dari sumber yang independen dari klien sehingga berkualitas tinggi.

Pengujian ini bertujuan memberikan kebenaran moneter atas perkiraan yang


berkaitan, sehingga merupakan pengujian substantif juga.

Hubungan Antara Pemeriksaan Praktisi Atas Pengendalian Intern Dengan Pendapat


Yang Diperoleh Melalui Audit

STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN Page 14


79 Tujuan pemeriksaan praktisi atas asersi manajemen tentang efektivita
pengendalian intern entitas adalah untuk menyatakan pendapat tentang apakah asersi
manajemen bahwa entitas menyelenggarakan pengendalian intern yang efektif pada saat
tertentu disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, berdasarkan criteria
pengendalian. Di lain pihak, tujuan pertimbangan auditor atas pengendalian intern dalam
audit atas laporan keuangan yang dilaksanakan berdasarkan standar auditing yang ditetapkan
Institut Akuntan Publik Indonesia adalah untuk memungkinkan auditor merencanakan
auditnya dan menentukan sifat, waktu, dan lingkup pengujian yang harus dilaksanakan.
Akhirnya, hasil pengujian auditor akan membentuk dasar bagi pendapat auditor atas
kewajaran lapoan keuangan entitas sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.
Tanggung jawab auditor dalam mempertimbagkan pengendalian intern entitas dijelaskan
dalam SA Seksi 319 (PSA No, 23) Pertimbangan Intern dalam Audit Laporan Keuangan.

80 Dalam audit atas laporan keuangan, auditor memperoleh pemahaman tentang


pengendalian intern dengan melaksanakan prosedur seperti permintaan keterangan,
pengamatan, dan inspeksi dokumen. Setelah auditor memperoleh pemahaman, ia menentukan
risiko pengendalian untuk asersi yang bersangkutan dengan saldo akun atau golongan
transaksi signifikan. Auditor menentukan risiko pengendalian untuk suatu asersi pada tingkat
maksimum jika ia percaya bahwa pengendalian tidak mungkin berkaitan dengan asersi
tersebut, bahwa pengendalian tidak mungkin efektif, atau bahwa evaluasi efektivitasnya tidak
efisien. Bila auditor menentukan risiko pengendalian untuk suatu asersi pada tingkat di
bawah maksimum, ia mengidentifikasi pengendalian intern yang mungkin mencegah atau
mendeteksi salah saji material dalam asersi tersebut dan melakukan pengujian pengendalian
untuk mengevaluasi efektivitas pengendalian semacam itu.

81 Pertimbangan auditor atas pengendalian intern dalam audit atas laporan keuangan
lebih terbatas sifatnya dibandingkan dengan yang dilakukan oleh praktisi yang mengadakan
perikatan untuk memeriksa asersi manajemen tentang efektivitas pengendalian intern entitas.
Namun pengetahuan yang diperoleh praktisi tentang pengendalian intern entitas sebagai
bagian dari pemeriksaan atas asersi manajemen yang dapat dipakai sebagai dasar untuk
pemahaman terhadap pengendalian intern dalam audit atas laporan keuangan entitas. Begitu
pula, praktisi dapat mempertimbangkan hasil pengujian pengendalian yang dilaksanakan
dalam pemeriksaan atas asersi manajemen, beserta kelemahan material yang
diidentifikasinya, pada waktu menentukan risiko pengendalian dalam audit atas laporan
keuangan entitas.

STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN Page 15


82 Sementara pemeriksaan atas asersi manajemen tentang efektivitas pengendalian
intern entitas dan audit atas laporan keuangan entitas dapat dilaksanakan oleh praktisi yang
sama, masing masing perikatan tersebut dapat dilakukan oleh praktisi yang berbeda. Jika
audit atas laporan keuangan entitas dilaksanakan oelh praktisi lain, praktisi dapat
mempertimbangkan kelemaham material dan kondisi yang dpat dilaporkan yang
diidentifikasi oleh auditor dan ketidaksepakatan antara manajemen dan auditor tersebut
mengenai masalah itu.

BAB III

PENUTUP

STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN Page 16


KESIMPULAN

Dalam akuntansi, SPI yang berlaku dalam perusahaan/entitas merupakan faktor yang
menentukan keandalan laporan keuangan yang dihasilkan oleh entitas tersebut. Oleh karena
itu dalam memberikan pendapat atas kewajaran laporan yang di auditnya, Auditor
meletakkan kepercayaan atas efektivitas SPI dalam mencegah terjadinya kesalahan yang
material dalam proses akuntansi.

Pengendalian intern merupakan suatu proses-yang dijalankan oleh dewan komisaris,


manajemen, dan personel lain entitas-yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai
tentang pencapaian tiga golongan tujuan berikut ini :

(a) keandalan pelaporan keuangan,

(b) efektivitas dan efisiensi operasi, dan

(c) kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.

Arti pentingnya SPI bagi manajemen dan auditor independen karena manajemen tidak dapat
melakukan pengendalian secara langsung atau secara pribadi terhadap jalannya perusahaan.
Pengecekan dan review yang melekat pada sistem pengendalian intern yang baik dapat akan
pula melindungi dari kelemahan manusia dan mengurangi kekeliruan dan penyimpngan yang
akan terjadi, tidak praktis bagi auditor untuk melakukan pengauditan secara menyeluruh atau
secara detail untuk hampir semua transaksi perusahaan dalam waktu dan biaya terbatas.

Pemahaman auditor tentang struktur pengendalian intern yang berkaitan dengan suatu asersi
adalah untuk digunakan dalam kegiatan mungkin atau tidaknya audit dilaksanakan, salah saji
material yang potensial dapat terjadi, resiko deteksi, perancangan pengujian substantif.

DAFTAR PUSTAKA

- Mulyadi. Auditing (Buku 1), Salemba Empat. Jakarta:2002.

STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN Page 17