Anda di halaman 1dari 13

Tugas Take Home

Antropologi Gizi

Adat Istiadat, Kebiasaan Makan Suatu Daerah dan Status


Kesehatan

Ariani Tri Rahmi

1511222004

Program Studi Gizi


Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Andalas
Pendahuluan

Sistem nilai budaya merupakan tingkat yang paling tinggi dan abstrak dari
adat istiadat. Hal itu disebabkan karena nilai budaya merupakan konsep-konsep
mengenai yang ada dalam alam pikiran sebagian besar masyarakat yang mereka
anggap memiliki nilai berharga dan penting dalam hidup sehingga berfungsi
sebagai pedoman yang memberi arah dan orientasi pada kehidupan masyarakat.

Makanan tidak hanya penting untuk memenuhi kebutuhan manusia akan


makan, namun makanan juga terkait erat dengan adat istiadat, kebiasaan, dan
kebudayaan serta kepercayaan masyarakat. Makanan tidak akan memiliki makna
kecuali makanan itu dilihat dalam kebudayaannya atau jaringan interaksi
sosialnya.

Disadari atau tidak, faktor-faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya


seperti konsepsi-konsepsi mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab-akibat
antara makanan dan kondisi sehat-sakit, kebiasaan dan ketidaktahuan, seringkali
membawa dampak positif maupun negatif terhadap kesehehatan. Setiap daerah
mempunyai pola makan tertentu yang disertai dengan kepercayaan akan
pantangan, tabu, dan anjuran terhadap beberapa makanan tertentu.

Kebiasaan makan adalah perilaku yang berhubungan dengan makanan,


frekuensi makan seseorang, pola makanan yang dimakan, distribusi makanan dan
cara memilih makanan. Kebiasaan makan yang tidak sesuai dengan kaidah sehat
maka dapat menyebabkan berbagai macam gangguan kesehatan.

Makanan dalam pandangan sosial-budaya, memiliki makna yang lebih luas


dari sekedar sumber nutrisi. Terkait dengan kepercayaan, status, prestise,
kesetiakawanan, dan ketentraman di dalam kehidupan komuniti manusia. Sistem
sosial budaya makan dan makanan pada komuniti mengimplikasikan adanya
sejumlah aturan yang menyangkut mengenai apa yang boleh dan yang tidak boleh
dimakan, baik secara ketat maupun secara temporer dalam kaitannya dengan
kondisi-kondisi tertentu.

Isi
Berikut adalah beberapa adat istiadat, kebiasaan makan dan status kesehatan
beberapa wilayah :
1.Kebiasaan Makan Masyarakat Zambia
Penelitian oleh Audrey Richards pada orang Bantu, Afrika Selatan tentang
Bemba (Zambia) di Rhodesia Utara menyatakan bahwa nutrisi sebagai suatu
proses biologis diatur dalam sebuah kebudayaan. Masyarakat Bemba sendiri
mengakui hubungan antara intake energy yang rendah dan kekurangan energi
untuk melakukan pekerjaan, dan secara sadar mereka selalu menghemat energi
selama masa kurus dan cuaca dingin. Masyarakat Bemba tidak mau menjadi
pekerja keras seperti pekerja tambang bukanlah sebuah pernyataan yang berkaitan
dengan kemalasan namun berkaitan dengan persoalan kurang gizi. Semenjak laki-
laki bekerja keras di tambang, perempuan-perempuan merasa sangat sulit
melakukan tugas lain yang biasanya dilakukan oleh laki-laki. Selama masa itu
perempuan lebih membutuhkan makanan bergizi untuk mendukung pekerjaan
dengan kondisi supplai makanan yang sangat sedikit. Kemudian, akhirnya mereka
terlibat dalam siklus yang terus menerus karena kebiasaan dan dalam kondisi
kurang produksi serta kurang gizi. Hubungan kekerabatan mereka dibentuk oleh
aturan-aturan yang telah ditetapkan dan bagaimana kewajiban-kewajiban tersebut
dapat rusak dalam waktu singkat, ketika mereka hanya bisa menimbun supplai
makanan yang sangat sedikit dibanding pekerjaan berat yang harus dilakukan.

2.Kebiasaan Makan Masyarakat Melanesia, Mikronesia dan Polinesia


Penelitian lainnya menekankan pada fungsi dan peranan makanan dalam
masyarakat di wilayah Melanesia, Mikronesia dan Polinesia, bahwa makanan
mempunyai peranan sosial sebagai sarana adat komunikasi, standar kekayaan,
sebuah barometer status sosial, dan sebagai mediator simbolik dalam
mendefinisikan dan memanipulasi kekerabatan serta hubungan sosial. Makanan
sebagai pembentuk identitas etnis, yang dapat dikenali dari jenis masakannya
yang memiliki karakterisitik rasa yang khusus. Banyak kepercayaan masyarakat
yang dihubungkan dengan hakekat makanan secara magic dan semimagic,
beberapa makanan mengacu pada prestise dan larangan atau pantangan makan
yang dapat dipandang sebagai sebuah sebuah ketetapan Tuhan dan kebiasaan
masyarakat yang telah turun temurun. Seringkali, kepercayaan-kepercayaan
tersebut berpengaruh terhadap gizi mereka, misalnya pada orang Papago yang
melarang makan garam dan gula pada ibu sampai tali pusar bayi lepas, atau
larangan terhadap binatang menjijikkan atau makanan yang kelihatan menjijikkan
untuk melindungi bayi dari pertumbuhan yang dianggap tidak baik. Namun,
beberapa tabu makanan akibat kebiasaan dan adat istiadat dapat membuang zat-
zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh, khususnya pada masa-masa kritis. Misalnya
larangan terhadap mengkonsumsi telur pada wanita usia produktif untuk
menghindari sterilitas dan komplikasi kelahiran, larangan minum susu bagi ibu
menyusui, dan lain sebagainya.

3.Kebiasaan Makan di Minangkabau


Penelitian Davis (1995) di Minangkabau menemukan bahwa makanan bagi
orang Minangkabau berfungsi sebagai sesuatu yang bermakna dalam komunikasi
antar kelompok, ekspresi yang penting dalam hubungan-hubungan sosial seperti
kepercayaan-kepercayaan, kecurigaan, konflik, keselarasan, status, dan simbol
hubungan baru dan berkelanjutan. Pola-pola distribusi makanan dalam keluarga
juga memperlihatkan kebiasaan dan status gizi. Masalah makan, identitas atau
status individu dalam sebuah keluarga sering menentukan dan menjadi pilihan
pertama dalam penyeleksian makanan, dan metode menyiapkan makanan untuk
anggota. Secara umum ada beberapa peranan makanan pada masyarakat yaitu
seperti makanan sebagai ungkapan ikatan sosial, makanan sebagai ungkapan
kesetiakawanan kelompok, hubungan makanan dan stress serta sebagai
simbolisme dalam bahasa. Keluarga mempengaruhi siapa yang mendapatkan porsi
makanan dengan nilai gizi baik atau buruk. Walaupun beberapa ahli percaya
bahwa kebiasaan makan sangat sulit diubah karena berkaitan dengan fungsi dan
peranan sosialnya dan merupakan sebuah ekspresi diri.
Masakan Minangkabau yang identik dengan cabai, santan, dan bumbu
rempah-rempah menjadikan masakannya khas sebagai makanan Minangkabau.
Makanan juga sebagai pembentuk identitas individual yang berkaitan dengan
kelas dan gender. Masalah kebiasaan makan sebagai suatu bentuk tingkah laku
berpola yang sangat terkait dengan kebudayaan, yang mencakup juga kepercayaan
dan pantangan makan yang berkembang dalam sekelompok masyarakat. Makanan
dengan pengesahan budaya berarti akan berkaitan dengan kepercayaan,
pantangan, aturan, teknologi, dan sebagainya yang tumbuh dan berkembang
dalam sekelompok masyarakat, sehingga menjadi kebiasaan makan yang menjadi
ciri khas sekelompok masyarakat dan yang membedakan dengan kelompok
masyarakat lainnya. Makanan sebagai simbol-simbol tertentu akan memiliki
makna-makna tertentu dalam banyak aktivitas sosial. Misalnya dalam makanan
yang digunakan dalam perayaan adat, upacara adat atau upacara perkawinan.
Makanan juga sebagai pembentuk identitas etnis, yang dapat dikenali dari jenis
masakannya yang memiliki karakterisitik rasa yang khusus. Makanan dan
perubahan budaya makan sebagai akibat masuknya makanan-makanan asing tidak
hanya mempengaruhi praktik makan sehari-hari, namun juga pada acara-acara
tradisional seperti perkawinan. Namun, karena masyarakat masih menerapkan
kebiasaan adat istiadat dalam penyelenggaraan makanan pada suatu acara, hal
tersebut dapat mempertahankan kebudayaan yang masih ada berupa makanan
tradisional masyarakat yang dianggap mempunyai makna tertentu seperti daging
kerbau di Minangkabau yang diselenggarakan di setiap acara adat.

4. Pola Makan Masyarakat Suku Alas Terhadap Status Gizi Penderita Hipertensi
di Kutambaru Kabupaten Aceh Tenggara
Masyarakat suku Alas masih memegang teguh pada adat istiadat nenek
moyang. Hampir semua kegiatan dikaitkan dengan upacara adat seperti acara
perkawinan, kematian, khitanan, perayaan hari besar agama, kenduri, dan bahkan
acara berkunjung ke tempat saudara lainnya masih terjaga dengan baik. Hal ini
tidak terlepas dari makanan yang disajikan di setiap upacara adat tersebut
berlangsung yang ada kaitannya dengan status gizi dan kejadian hipertensi pada
masyarakat tersebut. Hampir semua makanan yang disajikan mengandung tinggi
karbohidrat, tinggi lemak jenuh, tinggi protein dan tinggi garam serta kurang
mengkonsumsi makanan berserat.
Dalam acara kenduri, penyajian makan pada masyarakat suku bangsa Alas
ada sesuatu yang khas. Hidangan pertama terdiri dari ketan yang dimakan dengan
kuah. Untuk hidangan ini ketan putih dihidangkan dalam piring (porsinya relatif
besar) lalu kuahnya dihidangkan dalam mangkuk. Selanjutnya disajikan makanan
nasi lengkap yang disebut nakan kepel atau nasi hangat yang dibungkus dengan
daun pisang yang diletakkan dalam piring makan dan satu macam lauk diletakkan
dalam mangkuk (piring kecil) dengan segelas air minum dan satu cuci tangan. Di
dalam menghidangkan, makanan biasanya ditempatkan dalam cambung-cambung
kecil yang disebut cawan. Jenis makanan yang selalu dihidangkan dalam setiap
upacara kenduri yaitu gulai daging kambing dan gulai nagka. Kedua gulai ini
dalam penyajiannya dipisahkan sendiri-sendiri dan tidak bercampur. Daging
kambing yang sudah dimasak tersebut apabila dihidangkan untuk ketua adat maka
dipisahkan dalam pingggan besar yang disebut dengan istilah pahar.
Setiap acara upacara adat berlangsung, bagi saudara terdekat diwajibkan
membawa bahan makanan seperti kambing, ayam, bebek, beras, ketan, gula
merah, gula pasir, teh, kopi, ikan mas, telur, dan kelapa ataupun makanan seperti
gulai nangka, gulai ikan, rendang ayam atau kambing dan lainnya. Kebudayaan
masyarakat mempunyai kekuatan yang berpengaruh terhadap pemilihan bahan
makanan yang digunakan untuk dikonsumsi. Fungsi pangan dalam masyarakat
yang berkembang sesuai dengan keadaan lingkungan, agama, adat, kebiasaan, dan
pendidikan masyarakat tersebut. Rata-rata, makanan yang dibawa dan
dihidangkan pada setiap acara dalam lingkup masyarakat tersebut mempunyai
nilai lemak yang tinggi sehingga apabila dikonsumsi secara tidak teratur
menyebabkan timbulnya hipertensi atau tingginya tekanan darah pada masyarakat
suku Alas.

5. Kajian Budaya dan Makna Simbolis Prilaku Ibu Hamil dan Nifas Pada Suku
Banjar di Kecamatan Martapura Timur Kabupaten Banjar
Ibu nifas suku banjar mempunyai beberapa pantangan makanan, ibu nifas
tidak boleh makan makanan yang berbau amis dan ikan berpatil karena
menyebabkan ASI nya akan berbau amis yang mempengaruhi terhadap kesukaan
anak. Selain itu ibu nifas tidak boleh makan ikan papuyu atau betok karena akan
mengakibatkankan sakit kepala. Ibu nifas juga tidak boleh mengkonsumsi
makanan berlemak (daging-dagingan, kuah bersantan) karena dikhawatirkan luka
vagina setelah melahirkan akan lambat kering. Ibu menyusui tidak boleh minum
es karena mengakibatkan bayinya terkena flu. Sedangkan penularan flu secara
medis adalah melalui udara dan bukan melalui ASI yang diminum bayi dari
payudara ibunya. Seorang bayi akan menjadi flu jika tertular oleh ibunya yang
sedang flu. Pantangan tersebut sebenarnya menurut kesehatan justru merugikan.
Hal tersebut karena protein hewani yang dilarang konsumsi terhadap ibu hamil
dan nifas tersebut merupakan protein lengkap (sempurna) yang mengandung
berbagai asam amino esensial lengkap yang dapat memenuhi unsur-unsur
biologis. Penelitian juga menyatakan bahwa daging, lemak hewani dan lemak
nabati justru sangat diperlukan untuk pemenuhan kebutuhan gizi ibu nifas. Ibu
nifas dianjurkan makan makanan yang mengandung asam lemak omega 3 yang
banyak terdapat pada ikan. Zat tersebut penting untuk perkembangan otak yang
optimal bagi bayi.

6. Pola Konsumsi Pangan, Kebiasaan Makan, dan Densitas Gizi Pada Masyarakat
Kasepuhan Ciptagelar Jawa Barat serta Ketahanan Pangan dan Gizi serta
Mekanisme Bertahan pada Masyarakat Tradisional Suku Ciptagelar di Jawa Barat

Kasepuhan Ciptagelar merupakan salah satu kampung adat yang termasuk


dalam kesatuan adat Banten Kidul. Kasepuhan Ciptagelar dahulu berasal dari
kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi yang bertempat di Cipatat, Bogor.
Kemudian, karena alasan yang tidak dijelaskan, para tokoh adat di kerajaan
tersebut berpencar untuk mendirikan kampung atau kasepuhan sendiri-sendiri
dengan wewenang yang berbeda-beda dan harus selalu dilestarikan secara turun
temurun. Para sesepuh mendapat wewenang untuk tetap melestarikan sistem
pertanian tradisional secara turun temurun. Hal inilah yang kemudian menjadi
cikal bakal suku Ciptagelar yang sangat erat dan identik dengan sistem pertanian
tradisional yang bagus. Padi bagi masyarakat kampung adat Kasepuhan Ciptagelar
bukanlah sekedar komoditas pangan, tetapi simbol dari kehidupan. Padi tidak
boleh diperjualbelikan, siklus dan budidaya sistem pertaniannya diatur lewat
aturan adat.
Salah satu aspek sosio-budaya pangan yang masih terus diyakini dan
dipraktikkan oleh masyarakat Kasepuhan Ciptagelar adalah tabu makanan.
Sebanyak 64,6 persen rumah tangga di Kasepuhan Ciptagelar masih mempercayai
adanya tabu makanan, khususnya rumah tangga yang memiliki anak perempuan,
remaja putri yang belum menikah, dan ibu hamil. Beberapa jenis pangan tertentu
yang dianggap tabu di Kasepuhan Ciptagelar meliputi buah pisang ambon dan
jenis ikan tertentu seperti ikan asin dan kerang. Pemilihan jenis pangan yang
disukai umumnya dipengaruhi dan terbentuk dari gabungan pengaruh genetik dan
faktor lingkungan. Pada masyarakat Kasepuhan Ciptagelar, kesukaan terhadap
jenis makanan umumnya cenderung pada jenis makanan tradisional dan terbentuk
karena pengaruh lingkungan yang masih tergolong tradisional dan alami.
Kebiasaan mengonsumsi pangan tradisional terbukti dapat mencegah risiko
obesitas serta penyakit degenerative. Jenis lauk hewani yang paling disukai oleh
sebagian besar masyarakat adalah ikan asin dan ikan air tawar. Pangan nabati
tidak terlalu disukai oleh sebagian besar masyarakat karena tidak dapat diproduksi
sendiri dan harganya yang relatif mahal untuk masyarakat setempat. Jenis sayur
yang menjadi preferensi sebagian besar rumah tangga meliputi daun singkong,
bayam, kangkung, mentimun, tomat, dan labu yang dikonsumsi cukup sering oleh
rumah tangga. Sementara itu, meskipun terdapat banyak jenis buah yang disukai
oleh rumah tangga seperti jeruk, mangga, sawo, apel, kelengkeng, dan melon,
akan tetapi frekuensi konsumsi buah-buahan pada sebagian besar rumah tangga
tergolong jarang karena harganya yang relatif mahal serta beberapa jenis buah
bersifat musiman. Beberapa jenis pangan tertentu yang mengandung sejumlah
asupan zat gizi yang cukup namun dianggap tabu di Kasepuhan Ciptagelar justru
dapat menyebabkan remaja putri dan ibu hamil di daerah tersebut kehilangan
kesempatan memperoleh kontribusi asupan zat gizi dari pangan tersebut.

Dalam situasi keterbatasan ekonomi, masyarakat mungkin akan melakukan


proses adaptasi yang mengarah pada perubahan kebiasaan makan. Yang pertama
dilakukan masyarakat untuk menghadapi kendala pendapatan adalah membeli
makanan yang lebih murah. Makanan umumnya dapat disubstitusi jika terjadi
kelangkaan komoditas atau ada kendala pendapatan. Misalnya, pangan hewani
daging atau telur bisa diganti dengan pangan nabati tahu atau tempe yang
harganya lebih murah. Namun, ada pula makanan yang sulit tergantikan oleh
pangan lain seperti beras. Beras menjadi makanan pokok bagi masyarakat
Indonesia umumnya termasuk masyarakat di Kasepuhan Ciptagelar. Meski
sebagai sumber energi beras dapat digantikan oleh umbi-umbian, umumnya
masyarakat akan berupaya dengan segala kemampuan untuk memperoleh beras
bagi keluarganya.

7.Pola Makan dan Status Gizi Keluarga Etnis Tionghoa Kelurahan Asam
Kumbang Kecamatan Medan Selayang

Dari seluruh bangsa di dunia, Cina adalah negara yang paling banyak
memiliki jenis makanan yang khas. Indonesia memiliki berbagai etnis, salah
satunya adalah etnis Tionghoa. Masyarakat etnis Tionghoa dikenal dengan
kemahirannya memasak dan keanekaragaman makanannya. Sedikit banyak jenis
makanan penduduk Tionghoa mempengaruhi jenis makanan dari penduduk etnis
lain. Seluruh keluarga etnis Tionghoa mengkonsumsi mie dan nasi sebagai sumber
karbohidrat. Kebudayaan etnis Tionghoa, kegemaran dan ketersediaan yang
menjadikan mie sebagai salah satu sumber karbohidrat pengganti nasi yang paling
digemari tetapi tidak dapat menggantikan posisi nasi. Banyak keluarga etnis
Tionghoa mengonsumsi buah jeruk dikarenakan semua anggota keluarga
menyukai buah jeruk selain itu adanya anggapan bahwa warna kuning pada jeruk
seperti warna emas yang melambangkan kemakmuran. Keluarga Tionghoa
memprioritaskan pembagian makanan pada ayah dikarenakan ayah adalah orang
yang paling tua dalam keluarga dan sebagai kepala keluarga yang mencari nafkah.
Keluarga Tionghoa berasumsi bahwa daging babi adalah jenis makanan yang
mempunyai nilai tinggi karena etnis Tionghoa menganggap daging babi adalah
simbol kemakmuran sedangkan daging sapi dianggap sebagai pantangan dengan
alasan larangan dari agama yang sebagian besar etnis Tionghoa beragama Budha.
Status gizi keluarga etnis Tionghoa dapat dikatakan baik karena diimbangi dengan
frekuensi makan sayur dan buah yang dapat menetralisir makanan berlemak yang
dikonsumsi.
Penutup

Peran makanan dalam kebudayaan merupakan sesuatu yang dapat


memperkuat hubungan dengan kehidupan sosial, sanksi-sanksi, agama, ekonomi,
ilmu pengetahuan serta berbagai dampaknya. Dengan kata lain, kebiasaan atau
pola makan tidak hanya sekedar mengatasi tubuh manusia saja namun juga
berperan penting terhadap ciri-ciri dan hakikat budaya makan.
Dominasi kebudayaan manusia menjadi sangat berperan dalam pola
makannya. Makanan terkategorisasi menjadi makanan yang boleh dan tidak boleh
dimakan. Makanan yang dianggap mengandung nilai gizi tertentu belum tentu
menjadi makanan yang boleh dimakan, begitupun sebaliknya.
Dengan demikian kategori makanan menjadi pemicu munculnya berbagai
hal seperti perilaku makan, perubahan gaya hidup, persepsi masyarakat, nilai
keagamaan, dan ekspresi simbolik. Pola hubungan antara perilaku masyarakat
dengan perilaku budayanya merupakan pola yang terstruktur oleh kesadaran
masing-masing individu terutama pada kebiasaan dan pola makan yang salah yang
dapat mengganggu status kesehatan.
Daftar Pustaka

Koentjaraningrat.2009.Pengantar Ilmu Antropologi.Jakarta:Rineka Cipta

Eliska.2016. Pengaruh Pola Makan Masyarakat Suku Alas Terhadap Status Gizi
Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Kutambaru
Kabupaten Aceh Tenggara dalam Jurnal JUMANTIK Vol. 1 No.1
Nopember 2016 melalui

http://www.jurnal.uinsu.ac.id/index.php/kesmas/article/view/1014 Diunduh
pada 24 September 2017 pukul 13.50

Ilmi,Bahrul,Lia Susvita Sari dan Husaini.2016. Kajian Budaya dan Makna


Simbolis Perilaku Ibu Hamil dan Ibu Nifas dalam Jurnal Berkala
Kesehatan, Vol. 1, No.2, Mei 2016 melalui
http://ppjp.unlam.ac.id/journal/index.php/berkalakesehatan/article/view/314
6/2695 Diunduh pada 24 September 2017 pukul 14.23 WIB.

Khomsan,Ali,Linda Dwi Jayati dan Siti Madanijah.2014. Pola Konsumsi


Pangan,Kebiasaan Makan,dan Densitas Gizi Pada Masyarakat Kasepuhan
Ciptagelar Jawa Barat dalam Jurnal Penel Gizi Makan Vol. 37 (1) Juni
2014 melalui
http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/pgm/article/view/4006/3823
Diunduh pada 24 September 2017 pukul 13.47 WIB.
Khomsan,Ali,Hadi Riyadi dan Sri Anna Marliyati.2013. Ketahanan Pangan dan
Gizi serta Mekanisme Bertahan pada Masyarakat Tradisional Suku
Ciptagelar di Jawa Barat dalam Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia (JIPI)
Desember 2013 Vol. 18 (3) ISSN 0853 4217 melalui
http://jesl.journal.ipb.ac.id/index.php/JIPI/article/view/8396/6542 Diunduh
pada 24 September 2017 pukul 14.15 WIB.

Nurti,Yevita.2017. Kajian Makanan Dalam Perspektif Antropologi dalam


Jurnal Antropologi Vol. 19(1) Juni 2017 ISSN 1410-8356 melalui
http://jurnalantropologi.fisip.unand.ac.id/index.php/jantro/article/download/
74/68 Diunduh pada 24 September 2017 pukul 13.38 WIB.

Susianita,Pangaribuan, Evawany Y Aritonang dan M. Arifin Siregar.2014. Pola


Makan dan Status Gizi Keluarga Etnis Tionghoa Kelurahan Asam Kumbang
Kecamatan Medan Selayang Tahun 2014 melalui
https://jurnal.usu.ac.id/index.php/gkre/article/view/9408/4403 Diunduh pada
24 September 2017 pukul 14.45 WIB.