Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU FAAL

Topik : Metabolisme Energi


Kelompok : B10
Tgl. Praktikum : 15 Maret 2017
Pembimbing : Dr. Anis Irmawati, drg., MKes.

Penyusun:

1. Andari Sarasati 021611133146


2. Nadya Melinda 021611133147
3. Febrianti Nuraisyah 021611133148
4. Yayas Qori A 021611133149
5. Monica Cynthia H. 021611133150
6. Annisa Zahra N. 021611133151
7. Amalia Nurul Fitri 021611133152

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS AIRLANGGA
2017
1. TUJUAN
Tujuan praktikum ini adalah:
a. Menghitung dan menyimpulkan besar metabolisme basal dan metabolisme
kerja subyek.
b.Mempelajari perlunya menghitung BMR dan bukan hanya hanya Metabolic
Rate saja.
c. Menghitung dan membandingkan pengukuran B.M.R dengan rumus Reed:
B.M.R={(frekuensi nadi) + 0,74 (tekanan nadi)}-72
d.Mempelajari pengaruh faktor-faktor fisiologis yang mempengaruhi hasil
pengukuran BMR.

2. METODE
2.1 Pemeriksaan Metabolisme Basal
a. Pemeriksaan secara tak langsung dilakukan dengan menggunakan alat
spirometer. Spirometer termasuk jenis kalorimetri tertutup dimana
hawa inspirasi dan ekspirasi ditampung dalam satu sungkup. CO2
dalam pemeriksaan ini dihilangkan dengan pengikat gas CO2 oleh
soda lime. Penurunan tabung sungkup dari awal menunjukkan
besarnya pemakaian oksigen.
b. Persiapan subyek (ingat pada kenyataan subyek alam keadaan basal).
c. Catat : nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa, pekerjaan.
d. Hitung luas badan subyek dengan cara mengukur tinggi dan berat
badan, selanjutnya dengan menggunakan Nomogram dari Aub Du
Bois dicari luas badannya.
e. Suruh subyek istirahat berbaring tenang minimal setengah jam.

2.1.1 Persiapan alat-alat


a. Catat suhu ruang dan tekanan udara yang terbaca pada barometer.
b. Spirometer
Bilas sungkup 2 3 kali dengan udara atmosfer dengan cara
menekan ke bawah dan menarik ke atas sungkup. Pastikan terlebih
dahulu kran pengatur aliran udara pada ujung pipa dalam keadaan
terbuka agar sungkup dapat ditekan dan ditarik.
Periksalah soda limenya apakah sudah mengalami kejenuhan
dengan cara melihat perubahan warnanya.
Periksalah pipa pipa aliran udara terpasang dengan benar,
hawa ekspirasi keluar melewati soda lime masuk ke dalam sungkup.
Isi sungkup dengan oksigen melalui kran pengisi oksigen.
Perhatikan kran pengatur aliran udara pada ujung pipa napas dalam
keadaan tertutup.
Pasang kertas pada drum (tromol).
Isi tinta penulis jika perlu.
Pasang pipa mulut ( mouth piece) yang telah disterilkan.
Hubungkan arus listrik dan periksalah jalannya tromol.
Gunakan kecepatan yang paling rendah.

2.1.2 Jalannnya pemeriksaaan


a. Setelah istirahat, menjelang pemeriksaan ukurlah suhu tubuh,
frekuensi nadi, tekanan darah, serta frekuensi pernapasan.
Pastikan keadaan jiwa betul betul tenang.
b. Pasanglah pipa mulut pada subyek, kemudian jepitlah
hidungnya dengan penjepit hidung. Biarkan subyek
membiasakan diri dengan alatnya (masih bernapas dengan
udara luar).
c. Setelah pernapasan teratur jalankan tromol pencatat,
kemudian pada saat akhir ekspirasi bukalah kran pengatur
aliran udara sehingga subyek bernapas dengan udara dalam
spirometer.
d. Periksalah, jangan sampai ada kebocoran gas melalui mulut,
maupun hidung ( lakukan dengan menggunakan cermin kecil).
e. Ukurlah kembali frekuensi nadi, frekuensi pernapasan pada
pertengahan percobaan.
f. Catat suhu spirometer. Ini adalah suhu udara di dalam
spirometer.
g. Lanjutkan percobaan sampai didapat grafik yang teratur,
paling sedikit dalam 6 menit.
h. Setelah selesai, lepaskan semua alat dari subyek.
i. Jangan lupa menghitung kembali frekuensi nadi dan frekuensi
pernapasan subyek setelah percobaan.
j. Untuk menghitung pemakaian oksigen buatlah garis lurus
yang banyak menyinggung titik ujung akhir ekspirasi dari
grafik yang didapat. Besarnya pemakaian oksigen
diperhitungkan dari tingginya kenaikan grafik selama 6 menit.

2.2 Pemeriksaan Metabolisme Kerja


Prosedur persiapan dan pelaksanaan sama dengan pemeriksaan
metabolisme basal (BMR) hanya saja selama pengukuran subyek melakukan kerja
dengan kedua tangannya menggenggam beban di kanan kiri yang beratnya kurang
lebih 500 gram, kemudian subyek melakukan gerakan fleksi lengan bawah sampai
sudut sendi siku kurang lebih 90 derajat lalu meluruskannya lagi dengan frekuensi 20
kali per menit ( ikuti irama metronom ) selama 2 menit saja dan selanjutnya
pengukuran oksigen tetap diteruskan sampai 4 menit tanpa melakukan kerja sehingga
total keseluruhan adalah 6 menit. Metabolisme kerja subyek dihitung dengan cara
seperti pada pemeriksaan metabolisme basal (BMR).
3. HASIL PRAKTIKUM
Nama Subyek : Alwino
Umur : 19 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Mahasiswa
Tingggi Badan : 170 cm
Berat Badan : 61 kg
Luas Badan : 1,69 m2
Suhu Tubuh : 36,5oC
Suhu Spirometer : 25 oC
Tekanan Barometer : 759 mmHg
Tekanan Uap Jenuh : 25 mmHg
Tekanan Darah : 110/90 mmHg

3.1 Pemeriksaan Laju Metabolisme Istirahat


Frekuensi nadi :
- Permulaan : 64
- Pertengahan : 60
- Akhir : 60
Frekuensi pernapasan :
- Permulaan : 24
- Pertengahan : 16
- Akhir : 16

Hitungan :

Hitungan :
V1 = 0,45 L/6 menit = 4,5 L/jam
P1 = Pbarometer Puap jenuh = 759 25 = 734 mmHg
T1 = 273 + Tspirometer = 273 + 25 = 297K

T2 = 273 K
P2 = 760 mmHg
V1P1T2
V2 = P2T1

4,5 x 734 x 273


=
760 x 297

=4L
2
Metabolic Rate =

4 4,825
=
1,69

= 11,42 kcal/m2/jam

BMR = x 100%
11,42
= x 100%
41

= 0,28 %

- Banyaknya pemakaian oksigen 6 menit = 0,45 liter ATPS


- Banyaknya pemakaian oksigen 6 menit = 0,4 liter STPD
- Banyaknya pemakaian oksigen 1 jam = 4 Liter STPD
- Metabolisme rate = 11,42 kcal/m2/jam
- Metabolism baku Aub de Bois/Fleisch = 41 kcal/m2/jam
BMR Subyek = 0,28 %
A. Pemeriksaan Laju Metabolisme Kerja
Frekuensi Nadi
- Permulaan : 64
- Pertengahan : 56
- Akhir : 64
Frekuensi Pernapasan
- Permulaan : 24
- Pertengahan : 16
- Akhir : 32

Hitungan :
V1P1T2
V2 = P2T1

5,1 x 734 x 273


=
760 x 297
1021948.2
=
225720

= 4,53 L
2
Metabolic Rate =

4,53 4,825
=
1,69

= 12,9 kcal/m2/jam

- Banyaknya pemakaian oksigen 2 menit kerja = 0,15 liter ATPS


- Banyaknya pemakaian oksigen 4 menit pemulihan= 0,3 liter ATPS
- Banyaknya pemakaian oksigen 6 menit = 0,51 liter ATPS
- Banyaknya pemakaian oksigen 6 menit = 0,453 liter STPD
- Banyaknya pemakaian oksigen 1 jam = 4,53 liter STPD
Metabolic rate = 12,9 kcal/m2/jam

4. TINJAUAN PUSTAKA
Metabolisme adalah segala proses reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh
makhluk hidup, mulai dari makhluk hidup bersel satu sampai makhluk hidup yang
susunan tubuhnya sangat kompleks. Metabolisme terdiri atas dua proses sebagai
berikut.
a. Anabolisme adalah proses-proses penyusunan energi kimia melalui
sintesis senyawasenyawa organik.
b. Katabolisme adalah proses penguraian dan pembebasan energi dari
senyawa-senyawa organik melalui proses respirasi. Semua reaksi
tersebut dikatalisis oleh enzim, baik oleh reaksi yang sederhana
maupun reaksi yang rumit. (subardi dkk, 2008)
Basal metabolic rate adalah kebutuhan energi minimal yang diperlukan
oleh tubuh untuk mempertahankan fungsi alat pernapasan, sirkulasi darah,
temperatur tubuh, kegiatan kelenjar, serta fungsi vegetatif lain (Arisman, 2004:
162).
Laju metabolisme basal (bahasa Inggris: basal metabolic rate, BMR)
dikembangkan sebagai perbandingan antara kecepatan metabolisme dengan,
awalnya, sebuah konteks klinis untuk menentukan status tiroid ( Hulbert AJ,
2004) seperti diketahui, beberapa analog hormon tiroid, seperti tiroksin, tri-
iodotironina dan asamdi-iodotiro propionat menginduksi angiogenesis di
dalam sel dan mengirimkan sinyal yang disekresi sebagai faktor
pertumbuhan fibroblas basal.(Davis PJ dkk. 2009)

5. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini dilakukan percobaan metabolisme energi untuk
menghitung dan menyimpulkan besar metabolisme basal, mempelajari perlunya
menghitung BMR dan bukan hanya Metabolic Rate saja, serta mempelajari
pengaruh faktor-faktor fisiologis yang mempengaruhi hasil pengukuran BMR.
Dalam melakukan praktikum ini dibutuhkan beberapa alat, seperti
spirometer yang dihubungkan dengan pipa mulut (mouth piece) pada orang coba
yang berbaring atau dalam kondisi istirahat, barometer, alat pencatat suhu
ruangan, penjepit hidung, timbangan dan pengukur tinggi badan, tabel monogram
aub du boiss, dll. Hidung orang coba dijepit agar pernafasan terjadi lewat mulut
dan harus dipastikan bahwa tidak ada kebocoran. Karena kebocoran ini akan
mempengaruhi hasil praktikum karena udara yang seharusnya masuk ke dalam
pipa mulut dan menggerakkan alat spirometer ternyata keluar dari sistem.
Setelah alat disiapkan dengan benar, orang coba melakukan ekspirasi dan
inspirasi melalui mulut selama 6 menit. Orang coba mendapatkan udara dari
tabung oksigen yang telah dihubungkan dengan pipa mulut dan mengeluarkan
oksigen kembali. Sementara itu tabung pada spirometer akan bergerak naik turun
dan mencatat grafik pernafasan secara otomatis.
Grafik pernafasan yang terbentuk merupakan cerminan dari keadaan
inspirasi (grafik naik) dan keadaan ekspirasi (grafik turun) yang terjadi pada
orang coba. Dari grafik inilah kemudian dapat diketahui besarnya oksigen yang
dibutuhkan orang coba dalam proses pernafasan serta besarnya oksigen yang telah
digunakan untuk metabolisme. Grafik ini semakin lama akan semakin naik karena
karbon dioksida akan semakin habis seiring dengan bertambahnya oksigen di
dalam sistem. Hal ini dikarenakan karbon dioksida diikat oleh soda lime.
Selanjutnya, dengan mengetahui besarnya pemakaian oksigen dalam
volume ATPS (Ambient Temperature Pressure Saturated) maka dapat
dikonversikan pula pemakaian oksigen tersebut dalam volume STPD (Standard
Temperature Pressure Dry). Rumus yang digunakan adalah :
1 1 2 2
=
1 2
1 1 2
2 =
1 2

Dengan V1 adalah pemakaian oksigen selama 6 menit, P1 didapat dari


tekanan barometer ruangan dikurangi tekanan uap jenuh, T1 adalah suhu absolut
(297 K) ditambah suhu spirometer, P2 bernilai 760 mmHg dan T1 bernilai 273 K
(suhu absolut). Sedangkan V2 adalah volume STPD yang akan dicari.
Dari rumus tersebut di atas, diperoleh pemakaian oksigen dalam keadaan
basal sebesar 0,401 liter STPD dalam 6 menit, dan pemakaian oksigen dalam
keadaan kerja 0,46 liter STPD dalam 6 menit. Kemudian metabolisme rate bisa
dihitung menggunakan rumus:
( 2 1 ) 4,825
=

Sehingga dihasilkan nilai sebesar 11,45 kcal/m2/jam dalam keadaan basal


dan 13,13 kcal/m2/jam dalam keadaan kerja. Sementara itu untuk Basal
Metabolisme Rate (BMR)-nya dihitung menggunakan rumus :


. . =

Dan dihasilkan nilai sebesar +0,28 %.


Hal ini berarti metabolisme orang coba mengalami keadaan normal, yaitu
memiliki BMR berkisar antara -10% sampai dengan +15%. Dalam praktikum ini
sebenarnya yang dicari bukanlah BMR, tetapi Metabolic Rate dalam keadaan
istirahat. Jadi, hasil tersebut masih tergolong normal. Karena pada saat sebelum
melakukan percobaan orang coba tidak mengkonsumsi makanan yang terlalu
banyak mengandung protein, lemak, ataupun karbohidrat yang pada dasarnya
membutuhkan waktu relatif lama untuk diserap tubuh. Dan pada saat itu
percobaan dilakukan pada pagi hari sebelum orang coba melakukan aktifitas berat
apapun.

6. PERTANYAAN
1. Apa yang dimaksud dengan pemeriksaan metabolic rate cara langsung
dan tidak langsung?
Secara langsung : pemeriksaan produksi panas per satuan waktu yang
dilakukan setelah bangun tidur di pagi hari dengan menggunakan kalorimeter
ruangan.
Secara tak langsung : pemeriksaan produksi panas persatuan waktu yang
dilakukan setelah beristirahat selama beberapa menit dengan menggunakan
kalorimeter tertutup.

2. Apa yang dimaksud dengan kalorimeter tertutup dan kalorimeter


terbuka?
Kalorimeter tertutup : Alat pengukur kalori yang sirkulasi udaranya tertutup
(O2 yang didapatkan dari dalam tabung gas).
Kalorimeter terbuka : Alat pengukur kalori yang sirkulasi udaranya terbuka
(O2 yang didapatkan dari udara di sekitar ruangan tidak didalam tabung gas).

3. Faktor apa saja yang mempengaruhi hasil pemeriksaan metabolic rate?


a. Usia. Saat usia anda bertambah, maka jumlah otot cenderung untuk berkurang
dan lemak semakin bertambah, sehingga memperlambat proses pembakaran
kalori. BMR cendererung berkurang seiring dengan bertambahnya usia. BMR
seseorang dapat turun sekitar 2% per decade
b. Jenis kelamin. Pria biasanya punya lemak lebih sedikit dan otot lebih banyak
dibanding wanita dengan usia dan berat yang sama, sehingga pria akan
membakar kalori lebih banyak.
c. Aktivitas. Semakin banyak aktivitas semakin banyak membakar kalori dalam
penggunaan energi.
d. Hormon, hormon yang mempengaruhi tingkat BMR adalah hormon tiroksin.
Hormon tiroksin sebagai regulator BMR, yang mengatur kecepatan
metabolisme tubuh. Semakin banyak homon tiroksin yang disekresikan, maka
akan semakin tinggi BMRnya. Hormon tiroksin dapat melambatkan atau
meningkatkan laju metabolisme di dalam tubuh.
e. Suhu. Suhu lingkungan berpengaruh pada tingkat BMR seseorang. Ini
berkaitan dengan upaya penstabilan suhu tubuh. Semakin rendah suhu
lingkungan, BMR akan cenderung lebih tinggi. Suhu tubuh juga berpengaruh,
kaitannya dengan banyaknya aktivitas, semakin banyak aktivitas yang
dilakukan maka suhu tubuh semakin meningkat.
f. Makanan. Makan makanan yang mengandung banyak karbohidrat dan lemak
maka kecepatan metabolisme meningkat 4% dan protein mempercepat
metabolisme hingga 30%.
g. Kondisi tubuh atau Emosi. Emosi mempengaruhi proses metabolisme jika
seseorang mengalami peningkatan emosi maka meningkat pula hormon
adrenalin. Jika adrenalin meningkat maka pacu jantung juga meningkat maka
suhu tubuh ikut meningkat.
h. Obat-obatan. Beberapa obat seperti efredin dan kokain meningkatkan pacu
jantung sehingga suhu tubuh ikut meningkat. Maka BMR pada seseorang
yang tengah mengonsumsi obat cenderung lebih cepat daripada seseorang
pada kondisi normal.

4. Mengapa perlu dilakukan perubahan pengukuran kondisi ATPS ke


STPD?
Perubahan pengukuran dari ATPS ke STPD dilakukan untuk merubah
nilai yang didapat menjadi nilai standarisasi normal. Perubahan ini harus
dilakukan karena adanya sifat-sifat yang dimiliki oleh gas itu sendiri. Suhu
yang meningkat dapat menyebabkan peningkatan pada volume gas (dengan
catatan pada tekanan yang sama). Karena itu, mengumpulkan sampel gas dari
individu yang sama dengan jumlah pekerjaan yang sama dalam kondisi
temperatur lingkungan yang berbeda akan menghasilkan jumlah yang berbeda
pada volume gas yang dihembuskan. Perubahan nilai ATPS ke STPD
memberikan nilai batasan awal yang sama yaitu 0 derajat celcius dan pada
tekanan 760 mmHg (permukaan laut). Dengan merubah nilai yang didapatkan
ke dalam STPD, maka data yang didapatkan dapat dibandingkan dengan
semua data yang tersedia di seluruh belahan dunia. Itulah mengapa
pengukuran ATPS harus diubah ke STPD. (Draper, 2008)
5. Apa pengaruh SDA terhadap hasil pemeriksaan metabolic rate?
SDA( Specific Dynamic Action) adalah peristiwa fisiologis yang
mereprensentasikan energi yang dipakai dalam aktivitas incidental,
penelanan, pencernaan, absorpsi, dan asimilasi makanan. Kenaikan minimum
yang diakibatkan dari proses pencernaan pada penghitungan metabolic rate
pada manusia adalah 25%. Tipe, ukuran, komposisi, temperature makanan,
ukuran tubuh, dan beberapa factor lingkungan ( ambient temperature gas dan
konsentrasi gas dalam pengukuran metabolic rate) bisa memberi pengaruh
yang signifikan pada respon SDA. Pengaruh SDA dapat memberi kenaikan
pada postpranadial metabolic rate. ( Secor, 2009)
6. Bagaimana pendapat saudara mengenai pengukuran metabolic rate
menggunakan rumus Reed?
Terdapat beberapa rumus yang digunakan untuk menghitung BMR (Basal
Metabolic Rate) dan REE ( Resting Energy Expanditure) yaitu persamaan
dari Robetson and Reid (Reed), Owen, dan Bernstein. Berdasar penelitian
persamaan yang digunakan untuk mengukur BMR yang paling tepat pada
subject dengan berat badan normal adalah Owen, Bernstein pada subject
overweight, dan Reed pada subject obesitas. (Siervo, Boschi, et.al, 2003)

7. KESIMPULAN
Hasil praktikum metabolisme energi orang coba tersebut masih tergolong
normal. Karena pada saat sebelum melakukan percobaan orang coba tidak
mengkonsumsi makanan yang terlalu banyak mengandung protein, lemak,
ataupun karbohidrat yang pada dasarnya membutuhkan waktu relatif lama untuk
diserap tubuh. Dan pada saat itu percobaan dilakukan pada pagi hari sebelum
orang coba melakukan aktifitas berat apapun.
Ukuran metabolisme tiap orang juga berbeda tergantung dari faktor faktor,
seperti: usia, jenis kelamin, aktivitas, hormon, suhu, makanan, kondisi tubuh atau
emosi, dan obat-obatan.
8. DAFTAR PUSTAKA

1. Arisman. 2010. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
2. "Basal metabolic rate: history, composition, regulation, and
usefulness". Metabolic Research Centre, University of Wollongong; Hulbert
AJ, Else PL.2004. Diakses tanggal 2017-03-18
3. Ganong, WF. 2015. Review of Medical Physiology. 22th Edition., Aplpleton
& Lange A Simon & Schuster Co., Los Altos, California.
4. Guyton, AC. and Hall, JE. 2013. Textbook of Medical Physiology. 11th
Edition., W.B. Saunders Co., Philadelphia.
5. Marieb, EN. 2009. Human Anatomy and Physiologi. 7th Edition, The
Benjamins/Cumming Publishing Co. Inc., California.
6. Subardi, dkk. BIOLOGI 3 Untuk Kelas XII SMA dan MA. 2008. Pusat
Perbukuan Departemen Pendidkan Nasional; Jakarta.
7. "Thyroid hormone-induced angiogenesis". Ordway Research Institute, Inc.,
Davis PJ, Davis FB, Mousa SA.2009. Diakses tanggal 2017-03-18