Anda di halaman 1dari 11

Pengaruh suhu dan umur terhadap laju respirasi pada kecambah kacang hijau

(Vigna radiata)

Amalia Nurul Arfianti1, Deiva Ayu Puspitaningrum2, Dhita Wulansari3, Merinda


Oktaviana4, Syahida Widyaningsih5, Lingga Mofa Diah Lorentin6

Amalia Nurul Arfianti1 (160341606078) Universitas Negeri Malang


Deiva Ayu Puspitaningrum2 (160341606085) Universitas Negeri Malang
3
Dhita Wulansari (160341606017) Universitas Negeri Malang
Merinda Oktaviana4 (160341606002) Universitas Negeri Malang
Syahida Widyaningsih5 (160341606025) Universitas Negeri Malang
6
Lingga Mofa Diah Lorentin (160341606034) Universitas Negeri Malang
Kelompok 2, Offering B

Abstrak : Respirasi merupakan proses biologis pada makhluk hidup artinya proses penyerapan O2 yang
digunakan dalam proses pembakaran (oksidatif) dengan menghasilkan energi dan diikuti adanya proses
pengeluaran sisa pembakaran berupa gas karbodioksida dan air. Faktor yang mempengaruhi laju respirasi
terletak pada lingkungan penyimpanan, terutama dengan mempertimbangkan nya suhu dan gas komposisi
kelembaban. Selain itu faktor eksternal lain yang mempengaruhi proses respirasi yaitu komposisi yang
terdapat di dalam udara. Karena didalam udara mengandung senyawa senyawa yang dibutuhkan oleh
tumbuhan seperti CO2dan O2. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui laju respirasi dari kecambah
kacang hijau dengan Metode pengukuran laju respirasi pada penelitian ini menggunakan metode
penghitungan kadar CO2 dengan titrasi.

Kata kunci : respirasi,CO2, dan O2

PENDAHULUAN

Respirasi merupakan proses biologis pada makhluk hidup artinya proses


penyerapan O2 yang digunakan dalam proses pembakaran (oksidatif) dengan
menghasilkan energi dan diikuti adanya proses pengeluaran sisa pembakaran berupa gas
karbodioksida dan air. Karbohidrat dan asam-asam organik merupakan subtart utama
dalam jaringan yang diperlukan oleh kebanyakan tumbuhan dalam proses respirasi.
Proses respirasi dapat dibedakan dalam 3 fase yaitu (a) pemecahan polisakarida menjadi
gula sederhana, (b) gula yang dioksidasi menjadi asam piruvat, (c) transformasi asm-
asam organik dan asam piruvat secara aerobik menjadi CO2, air dan energi (Paramita,
2010).

Menurut Lakitan (2013) berpendapat bahwa, proses respirasi pada tumbuhan


terdiri dari beberapa aktivitas yaitu yang pertama diawali dengan adanya proses
glikolisis. Glikolisis merupakan penguraian gula untuk menghasilkan etil alkohol atau
etanol. Akan tetapi apabila terjadi penguraian gula pada kondisi kecukupan oksigen
akan menghasilkan asam piruvat.
Setelah proses glikolisis, tahap selanjutnya dalam pembentukan energi yaitu siklus
krebs. Tahap awal dari siklus krebs yaitu terjadinya oksidasi dari asam piruvat yang
merupakan hasil dari glikolisis. Kemudian pembentukan koenzim atau asetil CoA yang
ditandai dengan adanya unit asetat dengan 2-C yang tersisa dan bergabung dengan suatu
senyawa yang mengandung belerang. Pada siklus krebs secara langsung dihasilkan satu
molekul ATP dari ADP dan asam suksinat. Fungsi utama siklus krebs dalam proses
respirasi adalah : (a) mereduksi NAD+ dan FAD menjadi NADH dan FADH2 yang
kemudian dioksidasi untuk menghasilkan ATP, (b) mensintesis ATP secara langsung
yaitu 1 molekul ATP untuk setiap molekul piruvat yang dioksidasi, (c) pembentukan
kerangka karbon yang dapat digunakan untuk sintesis asam-asam amino tertentu dan di
konversi menjadi senyawa yang lebih besar.

Berdasarkan adanya kandungan oksigen respirasi dapat dibedakan menjadi dua


yaitu respirasi aerobik dan anaerobik dengan adanya oksigen proses respirasi dapat
terjadi yang biasa disebut dengan respirasi aerobik dan jika tidak ada oksigen maka
disebut dengan respirasi anaerobik (Adirahmanto dkk, 2013). Respirasi aerobik adalah
proses respirasi yang membutuhkan oksigen dari udara bebas. Sedangkan, respirasi
anaerobik merupakan proses respirasi yang tidak memerlukan oksigen dari udara bebas,
tetapi dapat diperoleh oksigen dalam jaringan tanaman, atau dari proses metabolisme
yang lain. Respirasi anaerobik ini biasa disebut dengan proses permentasi. Perbedaan
nyata yang terletak antara proses respirasi aerobik dengan proses respirasi anaerobik
adalah sumber oksigen. Pada respirasi anaerob sumber oksigen berasal dari bahan
organik yag telah mengalami metabolisme. Sedangkan pada respirasi aerob sumber
oksigennya berasal dari udara bebas (Jumin, 2012).

Respirasi merupakan rangakian proses oksidasi, semakin banyak cadangan


makanan yang digunakan maka proses respirasi yang berjalan semakin lama juga.
Karbondioksida (CO2) merupakan hasil sampingan dari proses respirasi. Dalam kondisi
sistem tertutup, akumulasi karbondioksida dapat menghambat proses respirasi (idaryani
dkk, 2012). Respirasi dapat dianggap sebagai proses metabolisme untuk kerusakan
oksidatif pada substart organik menjadi molekul sederhana seperti CO2 dan H2O
dengan menghasilkan energi. Proses metabolisme ini melibatkan disintegrasi senyawa
organik kompleks seperti gula, asam organik, asam amino, dan asam lemak. Faktor
yang mempengaruhi laju respirasi terletak pada lingkungan
penyimpanan, terutama dengan mempertimbangkan nya suhu dan gas komposisi
kelembaban. (Barbosa dkk, 2011). Selain itu faktor eksternal lain yang mempengaruhi
proses respirasi yaitu komposisi yang terdapat di dalam udara. Karena didalam udara
mengandung senyawa senyawa yang dibutuhkan oleh tumbuhan seperti CO2dan
O2 (Lertsiriyothin, 2009).

Dalam proses perkecambahan pada tanaman respirasi memegang peran penting


dalam pertumbuhan tanaman dimana pada masa perkecambahan di dalam tumbuhan
terjadi proses penguraian bahan-bahan organik seperti karbohidrat, protein dan lemak
menjadi bentuk terlarut yang akan ditranslokasikan keseluruh titik tumbuh tanaman
(Nurshanti, 2013). Proses respirasi sangat dipengaruhi oleh suhu. Suhu merupakan
salah satu faktor eksternal yang sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan
tanaman. Dalam proses respirasi setiap tanaman membutuhkan suhu yang berbeda-beda
(Smith dan Dukes, 2012). Pada tumbuhan proses respirasi terjadi didalam organel
mitokondria. Proses respirasi ini memiliki pengaruh yang sangat penting dalam
perkecambahan dan pertumbuhan tanaman karena proses respirasi menghasilkan energi
yang akan digunakan oleh tumbuhan untuk memenuhi kebutuhannya dan juga
diperlukan pada saat proses fotosintesis (Shaban, 2013).

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris yang meneliti


tentang pengaruh suhu dan usia terhadap laju respirasi pada kecambah. Penelitian ini
dilakukan pada tanggal 27 Oktober 2017 di laboratorium biologi FMIPA Universitas
Negeri Malang. Metode pengukuran laju respirasi pada penelitian ini menggunakan
metode penghitungan kadar CO2 dengan titrasi. Alat-alat dan bahan yang digunakan
pada praktikum ini adalah neraca digitak, botol selai, alat titrasi, inkubator, kulkas, pipet
tetes, labu erlenmeyer 250 ml, gelas ukur 100 ml, lap meja, kecambah usia 2 hari,
kecambah usia 4 hari, larutan KOH 0,5 N, HCL 0,1 N, BaCl 0,5 N, indikator PP,
plastik, kain kasa, benang putih.
Prosedur penelitian pengukuran kecepatan transpirasi dilakukan dengan cara,
pertama menimbang kecambah kacang hijau yang mempunyai usia 2 hari dan 4 hari
masing-masing sebanyak 25 gram atau lebih (disesuaikan dengan tempatnya), kemudian
membungkusnya dengan kain kasa dan diikat dengan benang. Setelah itu, menyiapkan
botol selai dan mengisinya dengan KOH 0,5 N masing-masing botol sebanyak 100 ml.
Lalu, memasukkan dalam 2 botol selai (botol 1,2) bungkus kecambah kacang hijau
sebanyak 15-25 g dengan cara digantungkan dengan benang pada mulut botol. Dalam
tiga botol yang lain (botol 3,4) hanya diisikan larutan KOH 0,5 N sebagai control.
Kemudian menutup 4 botol selai tersebut dengan plastik secara rapat kemudian
meletakkan semua botol itu pada tempat yang sama. Sebelum itu masing-masing
perlakuan berilah label yang jelas. Selanjutnya tempatkan pada suhu ruangan atau
tempat yang sama. Menghentikan percobaan setelah 24 jam. Lalu, melakukan titrasi
semua larutan KOH yang ada di botol untuk menghitung banyaknya CO2 hasil respirasi
kecambahnya. Setelah itu, mencatat pula temperatur larutan KOH saat akan dititer.
Teknik pengumpulan data pada penelitian laju respirasi dengan menghitung
jumlah CO2 hasil respirasi pada suhu tertentu dibagi dengan masa inkubasi
menggunakan rumus:
Volume KOH awal (A) = volume KOH x 0,5
1000
Volume KOH sisa (B) = volume HCl x 0,1
1000
Jumlah KOH yang bereaksi dengan CO2 (D)
C = A-B
D = C x 0,5 grol
Jumlah CO2 hasil respirasi pada suhu tertentu (E)
E = 22,4 (suhu + 273) D
273
Volume CO2/ jam = E
Masa inkubasi
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian pengaruh suhu dan usia
kecambah terhadap kecepatan transpirasi adalah dengan membandingkan selisih volume
respirasi antara kecambah yang disimpan dalam suhu ruangan, inkubator dan kulkas
pada usia kecambah 2 hari dan 4 hari.

HASIL

Volume CO2 hasil respirasi dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut :

1. Penghitungan Volume CO2 hasil respirasi suhu 35 dengan usia kecambah 2 hari

Yang diketahui : Lama inkubasi (respirasi) = 23 jam

Larutan KOH 0,5 N . 86 ml

Larutan standar (peniter) = 0,1 N HCl

Reaksi : 2 KOH + CO2 K2CO3 + H2O

BaCl2 + K2CO3 BaCO3 + 2 KCl

Yang dititer : KOH sisa (yang tidak mengikat CO2)

KOH + HCl KCl + H2O


86
Konsentrasi KOH semula : 94 ml 0,5 N = 0,5 X 1000 grol = 0,043 grol

38,35
Konsentrasi KOH sisa : 52,9 ml 0, 1 N = 0,1 X grol = 0,003835 grol
1000

Jumlah KOH yang bereaksi dengan CO2 = 0,043 - 0,003835

= 0,039165 grol KOH

Konversi menjadi grol CO2 = 0,039165 x 0,5

= 0,0195825 grol CO2

22,4(35 + 273) 0,0195825


Jumlah CO2 hasil respirasi pada suhu tertentu = 273

= 0, 4948849231 grol

0,4948849231
Jumlah volume CO2 tiap jam = 23

= 0,0215167358 liter
2. Penghitungan Volume CO2 hasil respirasi suhu 35 dengan usia kecambah 4 hari

Yang diketahui : Lama inkubasi (respirasi) = 23 jam

Larutan KOH 0,5 N . 94 ml

Larutan standar (peniter) = 0,1 N HCl

Reaksi : 2 KOH + CO2 K2CO3 + H2O

BaCl2 + K2CO3 BaCO3 + 2 KCl

Yang dititer : KOH sisa (yang tidak mengikat CO2)

KOH + HCl KCl + H2O

94
Konsentrasi KOH semula : 94 ml 0,5 N = 0,5 X 1000 grol = 0,047 grol

52,9
Konsentrasi KOH sisa : 52,9 ml 0, 1 N = 0,1 X 1000 grol = 0,00529 grol

Jumlah KOH yang bereaksi dengan CO2 = 0,047- 0,00529

= 0,04171 grol KOH

Konversi menjadi grol CO2 = 0,04171 x 0,5

= 0,020855 grol CO2

22,4(35 + 273) 0,020855


Jumlah CO2 hasil respirasi pada suhu tertentu = 273

= 0, 5270432821 grol

0,5270432821
Jumlah volume CO2 tiap jam = 23

= 0,0229149253 liter
Tabel.1 Jumlah CO2 hasil respirasi pada botol tanpa kecambah (kontrol)

No Suhu/ temperatur (0C) Jumlah CO2 (L)


1 16 0,0253
2 28 0,0231
3 35 0,0261

Dalam tabel.1 menunjukkan jumlah CO2 yang dihasilkan pada botol tanpa
kecambah atau sebagai variabel kontrol. Jumlah CO2 yang paling banyak dihasilkan
ialah pada suhu 350C, sedangkan jumlah yang paling rendah yakni pada suhu 280C

Tabel.2 Jumlah CO2 hasil respirasi pada botol dengan kecambah usia 2 hari

No Suhu/ temperatur (0C) Jumlah CO2 (L)

1 16 0,0240
2 28 0,0202

3 35 0,0215

Pada tabel.2 menunjukkan jumlah CO2 yang dihasilkan pada botol dengan
kecambah usia 2 hari. Berdasarkan tabel ini jumlah CO2 yang dihasilkan paling banyak
yakni pada suhu 160C sedangkan paling rendah dihasilkan pada suhu 280C.

Tabel.3 Jumlah CO2 hasil respirasi pada botol dengan kecambah usia 4 hari

No Suhu/ temperatur (0C) Jumlah CO2 (L)


1 16 0,0244
2 28 0,0213
3 35 0,0229

Pada tabel.3 menunjukkan jumlah CO2 yang dihasilkan pada botol dengan
kecambah usia 4 hari. Dalam tabel tampak bahwa pada suhu 160C jumlah CO2
dihasilkan paling banyak, sedangkan pada suhu 280C CO2 yang dihasilkan paling
rendah.
Jika dibandingkan antara tabel.2 dan tabel.3, pada kecambah 4 hari
menghasilkan CO2 lebih banyak daripada kecambah 2 hari pada suhu yang sama antara
kedua kecambah yakni pada suhu160C, 280C, dan 350C. Pada botol yang tanpa
pemberian kecambah menunjukkan bahwa CO2 dihasilkan paling banyak pada suhu
350C sedangkan paling rendah pada 280C.
Gambar 1. Grafik hubungan antara laju respirasi dengan suhu kecambah usia 2 dan 4 hari

0.03

0.025

0.02 Kontrol
Kecambah berumur 2 hari
0.015
Kecambah berumur 4 hari
0.01

0.005

0
16 28 35

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini, mengamati proses respirasi pada kecambah kacang
hijau karena tumbuhan ini merupakan suatu organisme yang walaupun ia masih belum
berkembang dengan sempurna tetapi sudah bisa melakukan pernapasan, hal ini terbukti
dari hasil percobaan yang telah diamati dimana kecambah kacang hijau (Vigna radiate)
mampu melakukan respirasi. Kecambah melakukan pernapasan untuk mendapatkan
energi yang dilakukan dengan melibatkan gas oksigen (O2) sebagai bahan yang
diserap/diperlukan dan menghasilkan gas karbondioksida (CO2), air (H2O) dan
sejumlah energi (Davey dkk, 2004).
Langkah pertama yang dilakukan dalam percobaan ini dengan menimbang
kecambah kacang hijau, kemudian dibungkus dengan menggunakan kain kasa dan
diikat dengan benang. Kemudian memasukkan bungkusan kecambah kacang hijau
dengan cara digantungkan dengan benang pada mulut botol yang sudah diisi
menggunakan larutan KOH. Pada salah satu botol hanya diisikan larutan KOH sebagai
kontrol. Kemudian memasukkan botol yang lain pada suhu kamar (28C); memasukkan
botol yang lain dalam inkubator hingga diperoleh suhu 35C; dan memasukkan botol
yang lain di lemari es hingga mencapai suhu 16C. Kemudian didiamkan selama 23
jam.
Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh volume CO2 terlarut pada KOH
dengan usia 2 hari melalui perlakuan suhu yang berbeda menunjukkan bahwa pada suhu
16 C sebanyak 0.0240 L, suhu 28 C sebanyak 0.0202 L, dan suhu 35 C sebesar
0.0215. Sedangkan volume CO2 terlarut pada KOH denganusia 4 hari melalui
perlakuan suhu yang berbeda menunjukkan bahwa pada suhu 16 C sebanyak 0.0244 L,
suhu 28 C sebanyak 0.0213 L, dan suhu 35 C sebanyak 0.0229.

Dapat dilihat hasil respirasi CO2 pada tanaman yang bersuhu tinggi lebih banyak
dibandingkan dengan hasil respirasi CO2 tanaman bersuhu rendah. Hal ini sesuai dengan
pendapat Suyitno (2014) yang menyatakan bahwa saat suhu tinggi, maka kondisi
suhunya adalah konstan sehingga enzim yang berperan pada proses respirasi bekerja
dengan optimal, sehingga enzim dapat berperan dengan baik dalam mempercepat proses
respirasi yaitu pengubahan glukosa menjadi CO2, selain itu menurut Lovelles (1997)
pada suhu yang lebih tinggi, CO2 yang dihasilkan ketika proses respirasi akan lebih
banyak diikat oleh KOH. Pada suhu optimal enzim tidak mengalami denaturasi atau
kerusakan sehingga proses enzimatik akan berlangsung dengan baik. Sedangkan pada
suhu rendah kerja enzim tidak optimal sehingga proses enzimatik berlangsung lebih
lambat, CO2 yang dihasilkan pada proses respirasi lebih rendah yang menyebabkan
volume CO2 lebih sedikit diikat oleh KOH. Pada konsep lainnya selain suhu respirasi
juga dipengaruhi oleh usia, semakin tinggi usia hasil respirasi berupa CO2 semakin
menurun.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa suhu dan usia mempengaruhi laju
respirasi kecambah. Pada suhu tinggi, hasil respirasi berupa CO2 lebih banyak karena
merupakan suhu optimal dan KOH lebih banyak pula dalam mengikat CO2. Hal ini
didukung oleh pernyataan Krisdianto (2005) yang menyatakan bahwa faktor yang
berpengaruh terhadap respirasi tumbuhan adalah faktor lingkungan berupa suhu,
cahaya, keberadaan CO2 dan O2 di udara, dan faktor internal berupa usia, ukuran dan
genetik tumbuhan
Hasil kontrol pada suhu 16C memiliki laju respirasi sebesar 25.3 ml/menit,
pada kontrol suhu kamar (28C) memiliki laju respirasi sebesar 23.1 ml/menit, dan pada
suhu 35C mempunyai laju respirasi sebesar 26.1 ml/menit. Dari hasil yang telah di
dapatkan respirasi pada suhu tinggi (suhu inkubator) lebih banyak dibandingkan dengan
hasil respirasi CO2 pada botol jam pada suhu rendah. Hal ini dikarenakan pada suhu
tinggi (suhu inkubator) kondisi suhunya lebih konstan sehingga enzim yang berperan
pada proses respirasi bekerja dengan optimal, dan dapat berperan dengan baik dalam
mempercepat proses respirasi. Pada suhu yang lebih tinggi, CO2 yang dihasilkan pada
proses respirasi akan lebih banyak diikat oleh KOH. Pada suhu optimal enzim tidak
mengalami denaturasi atau mengalami kerusakan sehingga proses enzimatik akan
berlangsung dengan baik. Sedangkan pada suhu rendah kerja enzim tidak optimal
sehingga proses enzimatik berlangsung lebih lambat, CO2 yang dihasilkan pada proses
respirasi lebih rendah sehingga volume CO2 lebih sedikit diikat oleh KOH.
Salah satu faktor yang mempengaruhi laju respirasi yaitu perbedaan jenis
tanaman karena berbeda spesies tumbuhan mempunyai perbedaan metabolisme dan
kebutuhan respirasi yang berbeda pula. Tumbuhan muda menunjukkan laju respirasi
yang lebih tinggi dibanding dengan tumbuhan yang berusia lebih tua. Demikian pula
pada organ tumbuhan yang sedang dalam masa pertumbuhan (Yasa, 2009).

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan penelitian laju repirasi pada keadan suhu dan usia kecambah yang
berbeda dapat disimpulkan bahwa pada suhu yang lebih tinggi, enzim yang berperan
pada proses respirasi bekerja dengan optimal, sehingga enzim dapat berperan dengan
baik dalam mempercepat proses respirasi yaitu pengubahan glukosa menjadi CO2.
Jumlah CO2 yang dihasilkan ketika proses respirasi akan lebih banyak diikat oleh KOH
sehingga laju respirasi juga semakin cepat.

Saran yang dapat diajukan pada penelitian ini adalah selalu teliti dalam
perhitungan volume saat melakukan titrasi, dikarenakan jumlah volume titran
mempengaruhi keakuratan laju respirasi.
DAFTAR RUJUKAN

Davey, P.A., S, Hunt., G.J, Hymus., E.H, Delucia., B.G, Drake., D.F, Karnosky dan
S.P, Long. 2004. Respiratory oxygen uptake is not decreased by an
instaneous elevation of CO2, but is increase with long-term grow in the field
at elevated CO2. Plant Physiology (134): 520-527
Flamholz, A., Noor, E., Bar-Even, A., Liebermeister, W., dan Milo, R. 2013. Glycolytic
strategy as a tradeoff between energy yield and protein cost. PNAS June 11,
2013 vol. 110 no. 24 1003910044
Krisdianto, dkk. 2005. Penuntun Praktikum Biologi Umum. Banjarbaru: FMIPA
Universitas Lambung Mangkurat

Lovelles. A. R. 1997. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk daerah Tropik. Jakarta:


PT Gramedia

Salisbury, F. B. & Ross, W. C. 1992. Fisiologi Tumbuhan. Terjemahan oleh Lukman,


D. R.& Sumaryono 1995. Bandung: ITB

Suyitno, Ai. 2014. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan Dasar. Yogyakarta:


FMIPAUNY

Anda mungkin juga menyukai