Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGINDERAAN JAUH DAN INTERPRETASI CITRA


ACARA 1 (IDENTIFIKASI PENUTUP LAHAN PADA CITRA SECARA
VISUAL MANUAL DAN ALAT STEREOSKOP MENGGUNAKAN UNSUR-
UNSUR INTERPRETASI)
CITRA FOTO KOTA BANDAR LAMPUNG

Disusun Oleh :
Bimo Bramantio
15130340211

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
ACARA 1

Identifikasi Penutup Lahan pada Citra Secara Visual Manual Dan Alat
Stereoskop Menggunakan Unsur-Unsur Interpretasi

I. Tujuan
Melakukan identifikasi jenis tutupan lahan pada citra secara visual manual dan
alat stereoskop menggunakan unsur-unsur interpretasi.

II. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan meliputi :
- Stereoskop
- Spidol OHP
- Plastik Transparan
- Penggaris
- Selotip
- Penjepit Kertas
Bahan yang digunakan meliputi :
- Citra Satelit/Foto Udara

III. Tinjauan Pustaka


Interpretasi citra adalah perbuatan mengkaji foto udara dan atau citra dengan
maksud untuk mengidentifikasi obyek dan menilai arti pentingnya obyek
tersebut. (Estes dan Simonett dalam Sutanto, 1994:7). Pengertian citra dalam
bahasa inggris dapat diartikan sebagai image atau imagery, menurut Ford (1989)
image adalah gambaran suatu objek atau suatu perwujudan, dan suatu image
biasanya berupa sebuah peta, gambar atau foto. Imagery adalah gambaran visual
tenaga yang direkam menggunakan piranti penginderaan jauh. Menurut Lintz Jr.
dan Simonett dalam Sutanto (1994:7), ada tiga rangkaian kegiatan yang
diperlukan dalam pengenalan obyek yang tergambar pada citra, yaitu:
1. Deteksi
Deteksi merupakan suatu kegiatan pengamatan tentang adanya suatu objek,
misalnya pada gambaran sungai terdapat obyek yang bukan air.

2. Identifikasi
Identifikasi adalah upaya mencirikan obyek yang telah dideteksi dengan
menggunakan keterangan yang cukup. Misalnya berdasarkan bentuk, ukuran,
dan letaknya, obyek yang tampak pada sungai tersebut disimpulkan sebagai
perahu motor.

3. Analisis
Analisis yaitu pengumpulan keterangan lebih lanjut. Misalnya dengan
mengamati jumlah penumpangnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa perahu
tersebut perahu motor yang berisi dua belas orang.

Analisis dalam penginderaan jauh dilakukan dengan 2 cara yakni interpretasi


secara manual dan interpretasi secara digital. Pada analisis/interpretasi data
penginderaan jauh secara manual, cara perolehan datanya yakni dengan
melakukan rekaman/pemotretan objek di muka bumi dengan menggunakan
kamera dan media yang digunakan film, sehingga hasil perekaman atau
pemotretan yang diperoleh berupa foto udara.

Kemudian dari hasil perekaman dalam bentuk foto udara ini dilakukan analisis
dengan cara interpretasi foto udara secara visual. Dalam melakukan kegiatan
interpretasi citra, ada beberapa unsur yang digunakan sebagai pedoman dalam
melakukan deteksi, identifikasi untuk mengenali sebuah obyek. Unsur-unsur
tersebut jika disusun secara hirarki menurut tingkat kesulitan interpretasi akan
terlihat seperti pada gambar di bawah ini :
Gambar 1 : Susunan Hirarki Unsur Interpretasi Citra

Pengenalan obyek merupakan bagian penting dalam interpretasi citra. Prinsip


pengenalan obyek pada citra didasarkan pada penyelidikan karakteristik obyek
yang terdapat pada citra. Berbagai karakteristik untuk mengenali obyek pada
citra disebut unsur interpretasi citra, sebagai berikut:

1. Rona atau Warna


Rona ialah tingkat kegelapan atau tingkat kecerahan obyek pada citra,
sedangkan warna ialah wujud yang tampak oleh mata dengan menggunakan
spektrum sempit, lebih sempit dari spektrum tampak. Rona atau warna ialah
tingkat kegelapan atau kecerahan atas tingkat kecerahan objek yang terekam
pada foto udara. Rona ini sering dinyatakan dalam bentuk cerah, kelabu,
kelabu gelap, dan gelap. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi rona
pada citra, yaitu:
a. Karakteristik obyek
Karakterisitik obyek yang mempengaruhi rona antara lain :
- Permukaan kasar cenderung menimbulkan rona gelap pada citra karena
sinar yang datang mengalami hamburan hingga mengurangi pantulan
sinarnya.
- Obyek yang basah/lembab cenderung menghasilakn rona gelap.
- Pantulan obyek, misalnya perairan akan menghasilkan rona yang gelap.
Sedangkan perbukitan kapur akan menhasilkan rona yang terang.

b. Bahan yang digunakan


Jenis filem yang digunakan juga mempengaruhi rona pada citra, hal
dikarenakan setiap film juga mempunyai dan kepekaan kualitas tersendiri.

c. Pemrosesan Emulsi
Proses emulsi dapat menghasikan cetakan dengan hasil redup (mat),
setengah redup (semi mat) dan cetakan gilap (glossy). Cetakan glossy
menghasilkan rona yang cenderung terang sebaliknya cetakan redup
menghasilkan rona yang cenderung gelap.

d. Cuaca
Kondisi udara di atmosfer dapat menyebabkan citra terlihat memiliki rona
yang terang/gelap. Jika kondisi udara di atmosfer sangat lembab dan
berkabut akan menyebabkan rona pada citra cenderung gelap.

e. Letak Obyek dan waktu pemotretan


Letak obyek berkaitan dengan lintang dan bujur. Letak lintang menentukan
besarnya sudut datang sinar matahari. Waktu pemotretan juga
mempengaruhi sudut dating sinar matahari. Waktu pemotretan pada siang
hari cenderung akan menghasilkan rona yang lebih terang dibandingkan
dengan pemotretan pada sore/pagi hari.
2. Bentuk
Bentuk merupakan variabel yang memberikan konfigurasi atau kerangka
suatu objek sering langsung digambarkan atau dinyatakan dalam bentuk bulat,
empat segi panjang, segitiga dan lain sebagainya. Ada dua istilah mengenai
bentuk, yaitu :
1. Shape (bentuk umum/luar)
Merupakan bentuk secara umum atau dapat dikatakan bentuk sekilas dari
suatu obyek. Bentuk umum melihat ciri khas suatu obyek secara umum,
misal :
- Gunung dengan type strato berbentuk kerucut jika foto udara yang
digunakan berskala kecil.
2. Form (bentuk rinci)
Form merupakan bentuk yang bersifat lebih rinci, maksudnya dalam
bentuk umum suatu obyek masih ada bentuknya yang terlihat lebih rinci,
misal :
- Jika gunung berapi dengan tipe strato diamati dengan menggunakan foto
udara yang berskala lebih besar maka kelihatan bahwa sebenarnya
bentuknya tidak mutlak kerucut, tetapi masih ada bentuk-bentuk lain
yang lebih rinci.
- Gedung sekolah pada umumnya memiliki bentuk seperti huruf I, L, U
dan persegi panjang atau kotak.
- Tajuk pohon palma berbentuk bintang, tajuk pohon kerucut berbentuk
kerucut dan tajuk pohon bambu seperti buu-bulu.
- Bekas Meander sungai yang terpotong dapat dikenali sebagai dataran
rendah yang berbentuk tapal kuda dan kadang berisi air yang menjadi
danau tapal kuda (danau oxbow).
- Lapangan sepakbola yang memiliki lintasan lari berbentuk elips,
sedangkan yang tidak memiliki lintasan lari akan berbentuk persegi
panjang.
- Masjid dapat dikenali dari bentuknya yang relative persegi atau bentuk
khas pada kubahnya.

3. Ukuran
Ukuran adalah atribut objek pada foto udara yang antara lain berupa jarak,
luas, kemiringan, isi, dan tinggi objek. Objek merupakan fungsi skala dari
foto udara yang diinterpretasi, maka dalam melakukan pengukuran harus
senantiasa dikaitkan dengan skala foto udaranya.

4. Tekstur
Tekstur merupakan frekuensi perubahan rona pada citra atau pengulangan
rona kelompok obyek yang terlalu kecil untuk dibedakan secara individual.
Tekstur ini sering dinyatakan dengan tingkatan kasar, sedang, dan halus.

5. Pola
Pola atau susunan keruagan merupakan ciri yang menandai bagi banyak
obyek bentukan manusia dan bagi beberapa obyek alamiah lainnya.
Pernyataan pola ini sering dinyatakan sebagai kompak, teratur, tidak teratur,
atau agak teratur campuran.

6. Bayangan
Bayangan bersifat menyembunyikan detail atau objek yang ada di daerah
yang gelap. Bayangan sering menjadi kunci interpretasi bagi beberapa objek
yang justru lebih mudah dikenali dan lebih nampak dari bayangan, misalnya
untuk jenis vegetasi.

7. Situs
Bersamaan dengan asosiasi, situs dikelompokan dalam tingkat kerumitan
interpretasi yang lebih tinggi. Situs bukan merupakan ciri objek, melainkan
dalam kaitan dengan lingkungan sekitarnya, atau bisa disebutkan bahwa situs
adalah letak objek terhadap bentang darat atau letak objek terhadap objek lain
disekitarnya. Misalnya situs pohon kopi terletak di tanah kering karena
tanaman kopi memerlukan air yang baik.
Situs dapat diartikan sebagai :
- Letak suatu obyek terhadap obyek lain di sekitarnya (Estes dan Simonet,
1975). Van Zuidam menjelaskan pengertian ini dengan situasi atau situs
geografi, yang diartikan sebagai tempat kedudukan atau letak suatu obyek
terhadap obyek lain di sekitarnya. Misal pengaruh letak iklim terhadap
interpretasi citra untuk geomorfologi.
- Letak suatu obyek terhadap bentang darat (Estes dan Simonet, 1975),
seperti misalnya situs suatu obyek di rawa, di puncak bukit yang kering dan
di sepanjang tepi sungai. Van Zuidam menjelaskan pengertian ini dengan
situs topografi, yaitu letak suatu obyek dengan obyek lain di sekitarnya.

8. Asosiasi
Asosiasi dapat diartikan sebagai keterkaitan antara objek yang satu dengan
yang lain. Karena dengan keterkaitan ini, maka nampaknya suatu objek pada
foto udara sering merupakan petunjuk bagi adanya objek lain. Sebagai contoh,
stasiun kereta api berasosiasi dengan rel kereta api dan deretan gerbong kereta
api.

Kegiatan interpretasi citra sering dimulai dengan objek yang mudah dikenali
kearah yang sukar dikenali, atau sering dilakukan pengkajian dari kenampakan
umum ke yang khusus, hal ini bisa dilakukan selama tidak ada bias antara
kenampakan yang umum dan kenampakan khusus tersebut, akan tetapi yang
lebih baik adalah dilaksanakan secara bersama-sama, ada dua metode pengkaian
menurut Estes (1975), yakni :

1. Fishing expedition, dalam hal ini interpreter mengkaji semua kenampakan


sehingga sering dihasilkan data yang lebih banyak dari yang diperlukan.
2. Logical search, di sini interpreter hanya mengkaji objek secara selektif dimana
data yang diperlukan tergambar, metode ini lebih efisien dari fishing
expedition.

IV. Langkah Kerja


IV.I Manual
1. Ambil dan pilih citra satelit/foto udara yang akan di interpretasi.
2. Letakkan citra satelit/foto udara tersebut di atas meja praktikum.
3. Letakkan selembar plastik transparan di atas citra satelit/foto udara tersebut.
4. Jepit dengan penjepit kertas agar citra dan plastik transparan tidak bergeser.
5. Buat garis tepi dengan ukuran 3 cm atas 4 cm sisi kiri 3 cm sisi bawah dan 3
cm sisi kanan.
6. Lakukan identifikasi/interpretasi objek penutupan lahan yang tampak pada
citra satelit/foto udara tersebut dan gambar menggunakan spidol OHP.
7. Gunakan unsur-unsur interpretasi dalam melakukan identifikasi setiap
kenampakan penutup lahan.

IV.I Menggunakan Alat Stereoskop

1. Siapkan alat stereoskop di meja praktikum.


2. Ambil dan pilih 2 citra yang berurutan nomernya, misal 12 dengan 13 atau 12
dengan 11.
3. Letakan citra satelit/foto udara bertampalan di bawah stereoskop.
4. Pilih objek dalam 2 citra tersebut yang sama dan mudah dikenali, misalnya
pertigaan jalan.
5. Sesuaikan jarak antara kedua foto udara tersebut agar kenampakan tiga
dimensi terlihat jelas melalui stereoskop dengan cara menaruh jari telunjuk di
objek yang sama pada kedua citra kemudian digeser kesamping kanan dan kiri
lalu berhenti ketika jari terlihat menjadi satu dan gambar tampak 3 Dimensi.
6. Gunakan selotip untuk menantikan agar foto udara tidak bergerak pada saat
akan digunakan.
7. Letakkan kertas transparan di atas foto udara sebelah kanan.
8. Lakukan identifikasi/interpretasi penutup lahan yang tampak pada foto
tersebut menggunakan spidol OHP di plastik transparan.

V. Hasil Praktikum
Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada hari jumat 10 November 2017 dan
Selasa 14 November 2017 tersebut menghasilkan :
1. Peta tutupan lahan kota Bandar Lampung yang dibuat dengan cara Visual
Manual.
2. Peta tutupan lahan kota Bandar Lampung yang dibuat dengan cara Visual
menggunakan alat yang bernama stereoskop

Kemudian penulis akan melampirkan hasil praktikum berupa dua peta tutupan
lahan yang berbeda, yang akan dilampirkan pada halaman berikutnya.
VI. Pembahasan
Pada Praktikun pertama identifikasi Penutup Lahan Pada Citra Secara Visual
Manual Dan Alat Stereoskop Menggunakan Unsur-Unsur Interpretasi
dilaksanakan dua kali yaitu yang pertama pada hari jumat 10 November 2017
dan pada hari selasa 14 November 2017. Pada praktikum ini membahas
mengenai identifikasi penutup lahan pada citra secara visual menggunakan
unsur-unsur interpretasi yang diterapkan pada citra Kota Bandar Lampung.
Interpretasi yang dilakukan pada peta tersebut dilakukan dengan dua cara, cara
yang pertama yakni secara manual dengan menggunakan kemampuan mata
secara langsung tanpa menggunakan alat dan cara yang kedua menggunakan alat
yang bernama stereoskop untuk meliat peta secara steroskopis atau 3 dimensi.

Interpretasi yang dilakukan dengan menganalisis citra yang ada dengan


menggunakan unsur-unsur interpretasi yang nampak seperti bentuk, rona dan
warna, ukuran, pola, tekstur, bayangan, situs dan asosiasi. Dengan berdasarkan
inilah penulis membedakan objek tutupan lahan yaitu penggunaan lahan, vegetasi
lebat dan sedang, tubuh air seperti sungai dan danau serta lahan kosong yang ada
dalam citra kota bandar lampung. Citra yang digunakan bersumber dari
BPN(Badan Pertanahan Nasional) yang menampilkan citra Kota Bandar
Lampung.

Berdasarkan interpretasi yang telah dilakukan, didapatkan kenampakan berupa


tutupan lahan di Kota Bandar Lampung yaitu :
1. Kenampakan tutupan lahan pertama yang nampak dalam citra foto Kota
Bandar Lampung merupakan kenampakan Penggunaan lahan seperti Jalan-
jalan dan pemukiman yang nampak dalam citra. Berdasarkan interpretasi yang
dilakukan pada citra foto tersebut, kenampakan jalan yang ada pada Kota
Bandar Lampung terpantau lumayan padat dan disekitar jalan terdapat banyak
perumahan di sekelilingnya, dapat disimpulkan bahwa pola pemukiman di
kota bandar lampung berada disekitar jalan. Hal ini disebabkan karena jalan
merupakan akses untuk beraktifitas masyarakat.

Bangunan yang terdapat pada citra foto Kota Bandar Lampung tersurun rapih
dan dalam keadaan yang padat. Klasifkasi tutupan lahan tersebut berada pada
kategori bangunan dilihat dengan menggunakan unsur interpretasi berupa
bentuk, rona dan warna, pola, ukuran, tekstrur, dan beberapa unsur yang lain.
Jika dilihat dengan unsur-unsur interpretasi terentu, tutupan lahan berupa
bangunan yang terdapat di Kota Bandar Lampung memiliki keberagaman
bentuk dan kegunaan. Keberagaman tersebut terbagi atas bangunan berupa
rumah, sekolah, tempat belanja, rumah sakit, tempat makan dan lain
sebagainya. Hal tersebut dikarenakan oleh bentuk, ukuran, dan asosiasi yang
ditunjukan pada citra foto bermacam-macam yang tampak.

Bangunan yang terdapat di Kota Bandar Lampung mayoritas tersusun secara


rapih dan padat serta berada pada wilayah yang ramai bangunan lain dan
berada pada wilayah tepi jalan atau mengikuti alur jalan. Selain bangunan
yang padat, terdapat juga bangunan-bangunan yang terletak di daerah yang
tidak terlalu padat dan diselingi oleh tutupan lahan lain. Seperti yang telah
dijelaskan pada bagian sebelumnya, Kota Bandar Lampung merupakan pusat
dari berbagai kegiatan seperti di bidang pendidikan, perekonomian, maupun
pemerintahan. Oleh karena sebab tersebut, menjadikan Kota Bandar Lampung
sebagai kota yang padat dan memiliki banyak bangunan yang dijadikan
sebagai tempat tinggal, tempat pendidikan, maupun tempat melakukan
kegiatan pemerintahan dan pendidikan masyarakat umum.

2. Tutupan lahan yang kedua pada citra Kota Bandar Lampung berupa vegetasi.
Vegetasi merupakan bagian hidup yang tersusun dari tetumbuhan yang
menempati suatu ekosistem. Kenampakan vegetasi yang ada terbagi atas 2
macam yang diklasifikasikan berdasarkan kerapatan tutupan lahan vegetasi
tersebut yang nampak pada saat interpretasi manual dilakukan. Klasifikasi
vegetasi tersebut yaitu :
1) Vegetasi kerapatan rendah
Vegetasi kerapatan rendah yang nampak dalam citra foto Kota Bandar
Lampung terlihat pada hampir keseluruhan wilayah tersebut. Vegetasi yang
dimaksud tersebar pada keseluruhan wilayah dan mencakup wilayah-
wilayah yang tidak terlalu luas. Vegetasi tersebut banyak terdapat diantara
tutupan lahan lain/bangunan yanga da di sekitarnya. Macam-macam
vegetasi yang masuk ke dalam klasifikasi ini dapat berupa sawah/lapangan
terbuka. Klasifikasi vegetasi tersebut ditandai dengan unsur warna yang
terang.
2) Vegetasi kerapatan tinggi
Vegetasi kerapatan tinggi ditandai dengan unsur rona dan warna yang
nampak gelap dan menunjukan terkstur yang kasar. Vegetasi jenis ini
masih banyak juga yang terdapat pada wilayah citra foto Kota Bandar
Lampung. Vegetasi dengan kerapatan tinggi ini banyak terdapat di pinggir
pinggir kota hal ini dilihat pada salah satu bagian wilayah yang ada
dibagian timur laut jika dilihat dari bagian tengah citra foto. Lokasi
vegetasi tersebut lebih tepatnya sebagian berada pada tepi jalan dan berada
pada wilayah yang bersampingan dengan vegetasi kerapatan sedang,
sedangkan bagian yang lain berada pada bagian tepi jalan lainnya namun
diselingi/berbatasan dengan kenampakan bangunan disekitarnya.

3. Tutupan lahan ketiga yang nampak dalam citra Kota Bandar Lampung yaitu
kenampakan berupa tubuh air seperti danau, sungai dsb. Kenampakan tubuh
air yang ada hanya menunjukan satu tubuh air/satu aliran. Tubuh air yang ada
dalam citra hanya sedikit, hanya seperti danau kecil atau bahkan kolam.

4. Kenampakan yang keempat yaitu lahan kosong, lahan kosong adalah


kenamakan lahan yang tidak ditutupi vegetasi maupun perumahan. Jadi lahan
kosong ini berupa tanah lapang yang tidak ada vegetasi dan penggunaan lahan
disana.

Dalam melakukan interpretasi ini, penulis menggunakan dua metode yakni


secara manual langsung dengan mata dan menggunakan alat stereoskop. Penulis
merasakan kesulitan dan kemudahan dalam menggunakan kedua metode ini.
Dalam metode manual penulis dapat secara mudah menginterpretasi citra dan
menggambarkan citra kedalam plastik transparan namun kesulitan yang
ditemukan adalah tidak terlalu jelasnya objek yang ada dalam citra jadi terkadang
penulis salah menafsirkan objek tersebut. Apalagi ketika citra yang digunakan
sudah usang, sehingga menambah menyulitkan membedakan objek dengan
jamur-jamur yang ada dalam citra.

Kemudian dalam intepretasi citra menggubakan alat yaitu alat stereoskop,


awalnya sangat sulit dan agak membuat jengkel karena sulitnya menemukan 2
objek yang sama dalam dua citra yang berurutan kemudian ditambah sulitnya
menemukan titik fokus ketika menggeser kekanan maupun ke kiri dan seringnya
agak buram ketika belum fokus. Namun, setelah bersusah payah menggunakan
alat stereoskop dan menemukan titik fokus maka penulis melihat citra terlihat
lebih jelas ketika menggunakan alat bahkan terlihat 3 dimensi dan seolah-olah
kita berada di atas pesawat dan langsung melihat dari atas. Dan ketika
mengambar di atas plastik bening jadi lebih mudah membedakan objek karena
terlihat lebih jelas, tapi terkadang objek tiba-tiba terlihat blur dan mata terasa
cepat lelah.
VII. Kesimpulan
Pada intinya praktikum acara pertama ini adalah melakukan interpretasi tutupan
lahan padan citra, Kegiatan interpretasi adalah kegiatan menafsir, mengkaji,
mengidentifikasi, dan mengenali objek pada citra, selanjutnya menilai arti
penting dari objek tersebut. Kegiatan interpretasi yang dilakukan pada citra foto
Kota Bandar Lampung menghasilkan peta tutupan lahan berupa kenampakan
penggunaan lahan, vegetasi, tubuh air dan lahan kosong. Berdasarkan interpretasi
yang dilakukan, kenampakan tutupan lahan yang mendominasi wilayah Kota
Bandar Lampung berupa kenampakan vegetasi, dilanjutkan dengan kenampakan
penggunaan lahan berupa perumahan dan jalan, lalu kenampakan lahan kosong
dan yang paling sedikit adalah tubuh air.

Dalam melakukan interpretasi ini menggunakan dua metode yakni secara manual
langsung dengan mata dan menggunakan alat stereoskop. Penulis merasakan
kesulitan dan kemudahan dalam menggunakan kedua metode ini, namun secara
umum penulis lebih suka menggunakan interpretasi secara langsung karena citra
yang digunakan sudah lumayan bagus sehingga objek-objek terlihat jelas
mungkin hanya beberapa yang terlihat tidak jelas dan menggambarkan tutupan
lahan pada plastik transparan sangat mudah, namun kalau citranya rumit dan
agak sulit membedakan objek maka pilihan yang tepat menggunakan alat
stereoskop karena dapet membuat objek menjadi lebih jelas.
VIII. Daftar Pustaka

Ahmad Muhajir. 2011. Interpretasi foto udara dengan stereoskop. Diakses pada situs
https://belajargeomatika.wordpress.com/2011/04/30/interpretasi-foto-
udara-dengan-stereoskop/. Pada hari Selasa 14 November 2017,
pukul 16.00 WIB.

Suryantoro, Agus. 2013. Penginderaan Jauh Untuk geografi. Yogyakarta. Ombak.

Inquierer skeptical.2015. penginderaan jauh interpreatasi citra. Diakses pada situs


https://skepticalinquirer.wordpress.com/2015/07/05/penginderaan-
jauh-interpretasi-citra/. Pada hari Selasa 14 November 2017, pukul
16.53 WIB.

Gunarto Edi .2014. interprestasi citra. Diakses pada situs web


http://inderaja.blogspot.co.id/2007/11/interpretasi-citra.html. Pada
Hari Selasa 14 November 2017, pukul 16.30 WIB.

Nurlaila Ghopar I. 2014. membangun kunci interpretasi untuk beberapa jenis penutup
dan penggunaan lahan. Diakses pada situs web
http://geolaela.blogspot.co.id/2014/06/diary-gua.html. Pada Hari
Selasa 14 November 2017, pukul 17.15 WIB.
LAMPIRAN

Gambar 2 : Peta dan hasil interpretasi manual langsung

Gambar 3 : Saat melkukan intrepretasi manual


Gambar 4 : Menyiapkan Alat Stereoskop dan menaruh Pata

Gambar 5 : Interpretasi peta dengan alat stereoskop