Anda di halaman 1dari 28

PENGENALAN PENYEBAB DAN GEJALA PENYAKIT

TUMBUHAN

Nama : Maria Pricilia Gita P.P


NIM : B1A015068
Kelompok :1
Rombongan : II
Asisten : Bhisma Triwidianto

LAPORAN PRAKTIKUM FITOPATOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Patologi Tanaman atau Fitopatologi merupakan studi tentang organisme dan


faktor lingkungan yang menyebabkan suatu penyakit pada tumbuhan (Agrios, 2005).
Tumbuhan dikatakan sehat atau normal, apabila tumbuhan tersebut dapat
melaksanakan fungsi-fungsi fisiologisnya sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh
tumbuhan tersebut. Fungsi-fungsi tersebut meliputi pembelahan, diferensiasi dan,
perkembangan sel. Apabila tumbuhan diganggu patogen dan salah satu fungsi tersebut
terganggu sehingga terjadi penyimpangan dari keadaan normal, maka tumbuhan
menjadi sakit (Agrios, 1997).
Penyakit tumbuhan sudah ada sejak zaman dahulu, mungkin sejak munculnya
dunia tumbuh-tumbuhan di atas bumi ini. Buktinya terdapat pada fosil-fosil tumbuhan
yang ditemukan di zaman purba yang diketahui terdapat bercak-bercak penyakit.
Penyebab penyakit atau patogen terutama berasal dari jamur, bakteri, virus dan
nematoda. Penyakit tumbuhan dapat didefinisikan sebagai penyimpangan dari sifat
normal yang menyebabkan tumbuhan atau bagian dari suatu tumbuhan tidak dapat
melakukan tugas atau fungsi fisiologis seperti biasanya (Semangun, 1996). Fungsi-
fungsi tersebut meliputi pembelahan, diferensiasi dan perkembangan sel yang normal,
penyerapan air dan mineral dari tanah dan mentranslokasikannya keseluruh bagian
tumbuhan, fotosintes ke tempat-tempat penggunaan dan penyimpanannya,
metabolisme senyawa-senyawa yang disintesis, reproduksi dan penyediaan makanan
reproduksi (Agrios, 1997).
Penyakit tumbuhan hanya akan terjadi jika pada satu tempat terdapat tumbuhan
yang rentan, patogen virulen dan lingkungan yang sesuai. Penyakit tumbuhan tidak
akan terjadi jika patogen yang virulen bertemu dengan tumbuhan yang rentan, tetapi
lingkungan tidak membantu perkembangan patogen dan tidak meningkatkan
kerentanan tumbuhan (Semangun, 1996). Tumbuhan yang diganggu oleh patogen dan
salah satu fungsi fisiologisnya terganggu maka akan terjadi penyimpangan dari
keadaan normal yang menyebabkan tumbuhan menjadi sakit (Agrios, 1997). Sel dan
jaringan tumbuhan yang sakit biasanya menjadi lemah dan hancur oleh agensia
penyebab penyakit. Kemampuan sel dan jaringan untuk melaksanakan fungsi-fungsi
fisiologis yang normal menjadi menurun atau akan terhenti sama sekali dan sebagai
akibatnya tumbuhan tersebut pertumbuhannya akan terganggu atau mati (Yunasfi,
2002).
Tanaman yang terserang penyakit terkadang tidak dapat terdeteksi karena rasa
sakit dan ketidaknyamanan suatu tanaman tidak dapat terlihat. Selain itu, tanaman juga
tidak dapat berbicara atau berkomunikasi dengan manusia sehingga ini menjadi titik
kesulitan dalam mengetahui suatu tanaman sakit (Agrios, 2005). Penyakit tumbuhan
ditunjukan oleh keadaan patologis yang khas yang disebut gejala. Tanaman yang
terserang penyakit biasanya memiliki gejala maupun tanda-tanda alam. Oleh karena
itu, dengan memperhatikan gejala saja tidak dapat menentukan diagnosis dengan pasti,
maka perlu diperhatika tanda penyakit. Apabila tanaman diganggu oleh patogen atau
oleh kondisi lingkungan tertentu dan satu atau lebih fungsi-fungsi fisiologisnya
terganggu sehingga terjadi penyimpangan tertentu dari normal, maka tanaman itu
menjadi sakit. Mekanisme terjadinya sakit berbeda-beda sesuai dengan agensia
penyebabnya dan kadang- kadang dengan tanamannya (Agrios, 1997).

B. Tujuan

Tujuan acara praktikum kali ini adalah untuk mengetahui berbagai penyebab dan
gejala penyakit pada tumbuhan.
II. TELAAH PUSTAKA

Penyakit pada tumbuhan utamanya disebabkan oleh organisme hidup patogenik


(parasit) maupun faktor fisik. Penyebab penyakit dapat dibedakan menjadi penyebab
penyakit yang menular, tidak menular dan akibat serangan hama. Penyakit menular
merupakan penyakit yang dapat berkembang biak pada suatu pohon. Penyebab
penyakit ini dapat berkembang dan menyebar secara aktif dari satu pohon ke pohon
lain melalui tanah, pertautan akar, pertautan daun atau menyebar secara pasif dari satu
tanaman ke tanaman lain karena terbawa oleh angin atau aliran pada permukaan tanah,
selokan dan sungai dan beberapa jenis patogen dapat terbawa oleh serangga, nematoda
dan burung (Yunasfi, 2002).
Penyakit tumbuhan digolongkan menjadi dua golongan, yaitu penyakit abiotik
dan penyakit biotik. Penyakit abiotik adalah penyakit yang disebabkan oleh penyakit
noninfeksi atau penyakit yang tidak dapat ditularkan dari tumbuhan satu ke tumbuhan
yang lain. Patogen penyakit abiotik meliputi suhu tinggi, suhu rendah, kadar oksigen
yang tak sesuai, kelembaban udara yang tak sesuai, keracunan mineral, kekurangan
mineral, senyawa kimia alamiah beracun, senyawa kimia pestisida, polutan udara
beracun, hujan es, dan angin. Penyakit biotik adalah penyakit tumbuhan yang
disebabkan oleh penyakit infeksius bukan binatang dan dapat menular dari tumbuhan
satu ke tumbuhan yang lain (Sastrahidayat, 1990).
Patogen adalah organisme penyebab penyakit tumbuhan. Patogen menyebabkan
penyakit pada tumbuhan dengan melemahkan inangnya dengan cara menyerap
makanan secara terus-menerus dari sel inang untuk kebutuhannya. Penyebab sakit
bermacam-macam antara lain cendawan, bakteri, virus, kekurangan air, kekurangan
atau kelebihan unsur hara. Berbagai penyakit yang umumnya timbul misalnya bercak
daun, kudis, penyakit gosong, penyakit layu, penyakit karat dan penyakit embun
tepung. Penyebabnya berbeda-beda, misal penyakit layu dapat disebabkan oleh bakteri
ataupun jamur (Semangun, 1996). Ada tiga faktor yang mendukung timbulnya
penyakit yaitu tanaman inang, penyebab penyakit, dan faktor lingkungan. Tanaman
inang adalah tanaman yang diserang oleh patogen. Patogen ada dua yaitu fisiopath
yang bukan organisme dan parasit yang merupakan organisme seperti jamur, bakteri,
dan virus (Martoredjo, 1989). Fisiopath merupakan faktor lingkungan yang tidak tepat
bagi tanaman, misalnya suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi, adanya gas
beracun yang berasal dari pencemaran ataupun hasil samping metabolisme tanaman
itu sendiri, dan kurangnya unsur hara pada tanah (Pyenson, 1979). Penyebab penyakit
tumbuhan bermacam-macam antara lain jamur, bakteri, virus, viroid, nematoda,
ricketsia, fitoplasma, ganggang, protozoa, dan tumbuhan tingkat tinggi parasit. Salah
satu penyebab penyakit pada tanaman yang sering ditemukan adalah jamur. Jamur
adalah organisme yang tubuh vegetatifnya (struktur somatisnya) merupakan thalus
yang tidak mempunyai berkas pengangkutan. Struktur somatisnya biasanya berbentuk
benang halus bercabang-cabang, mempunyai dinding sel yang tersusun oleh khitin,
selulosa, serta mempunyai inti sejati. Patogen yang lainnya adalah virus dan bakteri.
Bakteri patogen mempunyai penyebaran dari tanaman satu ke tanaman yang lain
melalui air, serangga, hewan lain dan manusia (Triharso, 1996).

III. MATERI DAN METODE


A. Materi

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah mikroskop, kamera, tabel
pengamatan, dan alat tulis.

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah tujuh preparat awetan
mikroorganisme patogen pada tumbuhan yaitu Ustilago zeae, Plasmodiosphora
brassicae, Pycirularia sp., Phytophora infestans, Fusarium sp., Puccinia arachidis,
dan Puccinia graminis. Selain itu, ada sampel daun kangkung (Ipomea awuatica),
daun tomat (Solanum lycopersicum), daun jagung (Zea mays), daun bawang (Allium
sp.), daun pisang (Musa sp.), buah cabai (Capsicum annum), dan buah labu siam
(Sechium edule).

B. Metode

1. Pengamatan Preparat Awetan

Preparat awetan

Diamati di mikroskop

Diidentifikasi dan dicocokan dengan pustaka

Digambar

2. Pengamatan Penyebab dan Gejala Penyakit Tumbuhan

Sampel daun atau buah yang sakit

Diidentifikasi jenis, gejala, dan


penyebab penyakitnya

Sampel difoto. Jenis, gejala dan penyebab


penyakitnya ditulis di tabel pengamatan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

a b

1I
2
4

Gambar 4.1. (a) Preparat awetan dan (b) gambar skematis. Puccinia graminis
penyebab penyakit karat daun pada tanaman serealia (perbesaran
4x10). (1) Picnia (2) Aecia (3) Uredia (4) Telia
a b
12

Gambar 4.2. (a) Preparat awetan dan (b) gambar skematis. Ustilago zeae
penyebab penyakit gosong pada biji jagung (perbesaran 4x10). (1) Sel
inang (2) Spora
a B
]
[
2 [
3 [
1
[
[
[
[
[ gambar skematis. Plasmodiophora
Gambar 4.3. (a) Preparat awetan dan (b)
[
brassicae penyebab penyakit akar gada pada kubis-kubisan
(perbesaran 4x10). (1) Sel sehat (2) Spora (3) Sel yang terinfeksi
a b

3
2
Gambar 4.4. (a) Preparat awetan dan (b) gambar skematis. Pyricularia sp.
penyebab penyakit bercak daun pada daun jagung (perbesaran 4x10).
(1) Tulang daun (2) Spora (3) Sel inang

a b
1

2
3
4
Gambar 4.5. (a) Preparat awetan dan (b) gambar skematis. Phytophthora
infestans penyebab penyakit hawar daun pada tanaman kentang
(perbesaran 4x10). (1) Epidermis atas (2) Sel inang (3) Spora (4)
Epidermis bawah

a b

Gambar 4.6. (a) Preparat awetan dan (b) gambar skematis. Fusarium sp.
penyebab layu dan busuk pada tanaman sayuran (perbesaran 4x10).
(1) Hifa (2) Makrokonidia (3) Mikrokonidia
a b

Gambar 4.7. (a) Preparat awetan dan (b) gambar skematis. Puccinia arachidis
penyebab penyakit karat daun pada tanaman kacang-kacangan
(perbesaran 4x10). (1) Sel inang (2) Spora (3) Tulang daun

I II

Gambar 4.8. Preparat tumbuhan sakit. Daun Pisang (Musa sp.) terkena penyakit
bercak daun cordana oleh patogen Cordana musae. (I) Bagian tidak
terinfeksi. (II) Bagian terinfeksi.
II

Gambar 4.9. Preparat tumbuhan sakit. Daun Bawang (Allium fistulosum)


terkena penyakit layu oleh patogen Fusarium sp. (I) Bagian tidak
terinfeksi. (II) Bagian terinfeksi.

II

Gambar 4.10. Preparat tumbuhan sakit. Buah labu siam (Sechium endule)
terkena penyakit bulai pada labu siam oleh pathogen
Peronosclerospora maydis. (I) Bagian tidak terinfeksi. (II) Bagian
terinfeksi.

II

Gambar 4.11. Preparat tumbuhan sakit. Buah cabai (Capsicum annum) terkena
penyakit busuk buah oleh patogen Colletritricum sp. (I) Bagian tidak
terinfeksi. (II) Bagian terinfeksi.
II

Gambar 4.12. Preparat tumbuhan sakit. Daun jagung (Zea mays) terkena
penyakit karat daun oleh patogen Puccinia sorgii. (I) Bagian tidak
terinfeksi. (II) Bagian terinfeksi.

II

Gambar 4.13. Preparat tumbuhan sakit. Daun tomat (Solanum lycopersicum)


terkena penyakit bercak daunoleh patogen Alternaria solani. (I)
Bagian tidak terinfeksi. (II) Bagian terinfeksi.
II

Gambar 4.14. Preparat tumbuhan sakit. Daun kangkung (Ipomoea aquatica)


terkena penyakit bercak daun oleh patogen Xantomonas sp. (I) Bagian
tidak terinfeksi. (II) Bagian terinfeksi.

Tabel 4.1. Hasil Pengamatan Gejala Penyakit Tumbuhan Rombongan II

Jenis Gejala
Kelompok Nama Preparat Penyebab
Penyakit Penyakit
1 Daun bawang Layu Menguning & Fusarium sp.
(Allium layu secara
fistulosum) tiba-tiba
2 Daun Pisang Bercak Timbul bercak Cordana musae
(Musa sp.) daun bentuk bulat
Cordana telur
3 Buah labu siam Bulai Berlubang, Peronosclerospor
(Sechium endule) pada buah berwarna a maydis
labu siam cokelat
4 Buah cabai Busuk Buah Pytophthora sp.
(Capsicum pada buah mongering dan
annum) busuk
5 Daun jagung Karat Bercak kuning, Puccinia sorghi
(Zea mays) daun karat cokelat
6 Daun tomat Bercak Kekuningan, Alternaria solani
(Solanum daun layu, bintil
licopersicum) cokelat
7 Daun kangkung Bercak Bercak hitam Xanthomonas sp.
(Ipomoea daun berpola pada
aquatica) tepi daun
B. Pembahasan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, berbagai macam patogen dapat


menyebabkan pada tumbuhan. Umumnya, penyebab penyakit pada tumbuhan ada
sepuluh macam yaitu jamur, bakteri, virus, viroid, nematoda, ricketsia, fitoplasma,
ganggang, protozoa, dan tumbuhan tingkat tinggi parasit. Setiap macam penyebab
penyakit ini memiliki spesifikasi dan perusakan yang berbeda. Penjelasan untuk setiap
patogen penyebab penyakit menurut Agrios (1997) adalah sebagai berikut :
1. Jamur
Jamur atau fungi merupakan suatu bagian dari Thallophyta, yang karakteristiknya
berhubungan dengan tidak adanya klorofil sama sekali, sehingga tidak bisa untuk
melakukan asimilasi. Bagian tubuhnya yang bersifat vegetatif terdiri atas benang-
benang yang halus dan dinamakan hifa. Hifa-hifa ini merupakan miselium dimana ada
yang berserabut ada yang tidak. Lebih dari 8000 spesies jamur dapat menyebabkan
penyakit pada tumbuhan. Semua tumbuhan diserang oleh beberapa jenis jamur, dan
setiap jenis jamur parasit dapat menyerang satu atau banyak jenis tumbuhan. Jamur
menyebabkan gejala lokal atau gejala sistemik pada inangnya, dan gejala tersebut bisa
terjadi secara terpisah pada inang-inang yang berbeda, secara bersamaan pada inang
yang sama atau yang satu mengikuti yang lain pada inang yang sama. Umumnya jamur
menyebabkan nekrosis lokal atau nekrosis umum atau membunuh jaringan tumbuhan,
hipotropfi, dan hipoplasia (kerdil) organ-organ tumbuhan atau keseluruhan tumbuhan,
dan hiperplasia (pertumbuhan kerdil) bagian-bagain atau keseluruhan tumbuhan.
Contoh jamur yang dapat menyebabkan penyakit antara lain adalah sebagai yaitu
Ascomycetes, Basidiomycetes, Deuteromycetes, Phycomycetes. Contoh penyakit
yang ditimbulkan oleh patogen ini adalah penyakit karat daun (jamur Hemileia
vastatrix), penyakit bercak daun cercospora (jamur Cercospora coffeicola), penyakit
jamur upas (jamur Corticium salmonicolor).
2. Bakteri
Bakteri merupakan tumbuhan bersel satu dan berdinding sel, tetapi bersifat
prokariotik (tidak mempunyai membran inti). Bakteri mempunyai kemampuan
mereproduksi individu sel dalam jumlah sangat banyak dengan waktu singkat
sehingga menjadi penyebab penyakit yang mempunyai sifat merusak pada inang.
Penyebaran bakteri tidak melalui spora, sehingga secara adaptif tidak dapat disebarkan
melalui angin, akan tetapi bakteri patogenik mampu berpindah dengan perantara air,
percikan air hujan, binatang, dan manusia. Contoh bakteri yang umum dapat
menyebabkan penyakit pada tumbuhan yaitu dari genus Pseudomonas dan
Xanthomonas. Contoh penyakit yang disebabkan oleh pathogen bakteri, misalnya
Xanthomonas oryzae menyebabkan penyakit bercak pada daun padi, Serratia
marcescens menyebabkan penyakit kanker pada jeruk (Citrus cancer), yaitu rusaknya
pembuluh tapis batang jeruk.
3. Nematoda
Fitonematoda atau nematoda yang memarasit tanaman mempunyai ukuran yang
sangat kecil, memanjang dan berbentuk silinder. Nematoda non-parasit memakan
jamur, bakteri, nematoda lain atau serangga kecil yang hidup di tanah, sedangkan
nematoda parasit tanaman mempunyai struktur khusus yang disebut spear (lembing)
atau stylet (jarum). Berdasarkan perilaku, nematoda parasitik pohon dibagi menjadi
dua, yaitu nematoda ektoparasit, nematoda yang pada saat memarasit tanaman
tubuhnya tetap berada di luar akar dan hanya sebagian kecil dari tubuh nematoda yang
masuk ke dalam jaringan tumbuhan inang. Nematoda endoparasit, yaitu nematoda
yang saat memarasit tanaman, tubuhnya masuk, merusak dan melakukan reproduksi
di dalam akar tanaman. Contoh nematoda yaitu Meloidogyne sp., dan Paratylenchus
sp.
4. Virus
Virus merupakan organisme aseluler, dimana asam nuklead virus hanya terdiri
DNA atau RNA saja. Virus merupakan penyebab penyakit yang paling merusak, tidak
hanya terjadi pada tanaman, tetapi juga pada manusia dan ternak. Virus dapat
menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, mengurangi hasil produksi, bahkan
mampu menimbulkan kematian tanaman inang (penyakit CVPD pada jeruk). Contoh
virus adalah TMV (Tobacco Mozaic Virus) yang menyebabkan penyakit mozaik pada
tembakau menimbulkan bercak-bercak putih, menyerang permukaan daun tembakau.
5. Viroid
Viroid merupakan molekul kecil RNA sirkuler telanjang (tanpa kapsid) yang lebih
kecil dari virus. Viroid hanya berupa asam nukleat yang terdiri atas beberapa ratus
nukleotida dan tidak mengkode protein, tetapi mampu bereplikasi didalam sel inang
dengan menggunakan enzim seluler. Viroid biasanya menginfeksi tanaman. Molekul
RNA viroid akan mengganggu metabolisme sel dan mengacaukan sistem
pengendalian pertumbuhan sehingga meghambat pertumbuhan tanaman. Contoh
penyakit yang disebabkan oleh viroid pada tanaman, seperti potato spindle tuber viroid
(PSTVd) menyebabkan ubi kentang menggelendong, citrus exocortis viroid (CEVd)
menyebabkan buah jeruk kecil atau bungkil, chrysanthemun stunt menyebabkan bunga
krisan kerdil.
6. Ricketsia
Ricketsia adalah genus organisme non-motil, gram negatif, tidak memiliki bentuk
spora, termasuk bakteri pleomorfik yang dapat berbentuk coccus (diameter 0,1 m),
maupun batang (1-4 m). Ricketsia merupakan parasit obligat intraseluler. Ricketsia
akan masuk, tumbuh dan melakukan replikasi di dalam sitoplasma sel host eukariot
(sel endhotel), karena itu ricketsia tidak dapat hidup pada lingkungan tiruan yang tidak
bagus. Contoh spesiesnya ricketsia yaitu Ricetsialike bacterium yang menimbulkan
penyakit caplak atau bintil pada ubi-ubian atau tanaman yang buahnya di dalam tanah.
7. Fitoplasma
Fitoplasma, sebelumnya dikenal sebagai organisme yang menyerupai
Mycoplasma, adalah prokariota dalam kelas Mollicutes. Mereka mirip dengan bakteri
namun tidak mempunyai dinding sel yang kaku dan tidak dapat hidup bebas di
lingkungan sekitar dan belum dapat ditumbuhkan dalam kultur. Fitoplasma dijumpai
dalam sel-sel tabung tapis jaringan floem tanaman dan umumnya disebarkan oleh
wereng daun dan wereng batang pemakan floem. Fitoplasma merupakan parasit
obligat dan menyelesaikan daur hidupnya di dalam jaringan inang.
Fitoplasma menyebabkan penyakit pada berbagai tanaman inang. Gejala-gejala yang
biasanya disebabkan oleh fitoplasma ialah daun menjadi berwarna kuning,
pengerdilan, mati pucuk, ukuran daun berkurang atau kerdil, berfilodium, menghijau
(virescence) dan gigantisme (kuncup besar). Contoh fitoplasma yaitu Spiroplasma sp.
yang menyebabkan jagung dan jeruk kerdil dan juga MLO (Micoplasmalike
organism).
8. Ganggang
Alga atau ganggang merupakan protista yang bertalus memiliki pigmen dan
klorofil. Tubuhnya terdiri atas satu sel (uniseluler) dan ada pula yang banyak sel
(multiseluler), yang uniseluler umumnya sebagai fitoplankton sedang yang
multiseluler dapat hidup sebagai nekton, bentos. Habitat alga adalah air atau di tempat
basah, sebagai epifit atau sebagai endofit. Macam-macam ganggang yaitu
Euglunophyta, Chlorophyta (Ganggang Hijau), Pacophyta (Ganggang Cokelat),
Chhysophyta (Ganggang Pirang atau emas), rhodophyta (Ganggang merah) dan
Phyrrophyta (Ganggang Api). Ganggang ini biasanya akan mengikat atau menggulung
akar tanaman, contohnya yaitu Cephaloleuros sp.
9. Protozoa
Protozoa adalah binatang bersel satu, salah satu bentuk kehidupan paling
sederhana, yang memakan bakteri dan dapat bertindak sebagai parasit. Contoh
protozoa parasit lainnya adalah giardia dan toksoplasma. Spesies Phytomonas
leptavasorum menyebabkan buah busuk.
10. Tumbuhan tingkat tinggi parasit
Tumbuhan tingkat ini merupak tumbuhan yang berada pada tumbuhan lain
hidupnya, sehingga sifatnya sebagai parasit. Contohnya yaitu tali putri. Tanaman tali
putri atau Cassytha filiformis yaitu tumbuhnya merambat yang memiliki ukuran
pajang berserabut. Batang tanaman tali putri memiliki ukuran yang kecil berbentuk
seperti tali yang kusut bercabang banyak panjangnya dapat mencapai 8 m. Cassytha
filiformis menyebabkan tanaman terhalang pertumbuhannya karena tali putri
mengambil sari makanan dari tanaman inang dan melilitnya.
Mekanisme patogen melemahkan inangnya yaitu dengan beberapa cara yang
berbeda, tergantung tanaman dan bentuk patogennya. Patogen menyerang tanaman
karena membutuhkan senyawa yang dihasilkan oleh tanaman untuk kehidupannya.
Patogen yang menginfeksi tanaman harus dapat masuk ke dalam tanaman,
memanfaatkan senyawa nutrisi dan bertahan dari sistem pertahanan inang, untuk
mengambil senyawa dari tanaman, patogen harus mampu melewati penghalang fisik
(kutikula, dinding sel). Kadangkala senyawa tanaman tersebut tersedia dalam bentuk
yang tidak dapat dimanfaatkan secara langsung oleh patogen sehingga perlu dirombak
dahulu agar dapat diserap dan dimanfaatkan oleh patogen. Beberapa mekanisme yang
sering terjadi untuk melemahkan inangnya, patogen biasanya dengan cara menyerap
sari makanan secara terus-menerus dari sel inangnya untuk kebutuhan hidupnya, ada
juga yang menghentikan atau mengganggu proses metabolisme dari sel inang dengan
bermacam-macam senyawa yaitu toksin, enzim, dan zat pengatur tumbuh yang
disekresikan. Menghambat transportasi atau penyaluran zat makanan, hara, mineral
dan air melalui jaringan pengangkut. Mengkonsumsi kandungan sel inang setelah
terjadi kontak (Semangun, 2001).
Tumbuhan sakit menunjukkan gejala yang khusus. Gejala (symptom) adalah
perubahan-perubahan yang di tunjukkan oleh tmbuhan sebagai akibat adanya penyakit
(Wijaya, 2001). Timbulnya gejala penyakit disebabkan karena adanya interaksi antara
tanaman inang dan patogen. Patogen yang digunakan dalam praktikum ini ada tujuh,
yaitu :
Puccinia graminis merupakan penyebab penyakit karat daun pada tanaman
serealia. Gejalanya ditunjukkan dengan adanya bercak kuning kemerahan. Bercak-
bercak berwarna kuning dilingkari warna merah di sebelah bawah permukaan daun
yang sakit. Menurut Semangun (1996), Puccinia graminis mempunyai beberapa fase
dalam pertumbuhannya yaitu fase (0) atau picnia, dimana spora masih jauh dari
permukaan daun, fase (I) atau aecia, spora sudah dekat permukaan daun tapi masih
tertutup, fase (II) atau uredia yaitu spora sudah terbuka tapi belum keluar dan fase (III)
atau telia, dimana spora sudah terbuka dan sudah keluar. Picnia berbentuk botol atau
cakram, badan buah ini sebagai pembawa alat kelamin jamur yaitu spermatium (alat
kelamin jantan) dan hifa (alat kelamin betina). Aecia berbentuk seperti mangkuk atau
cawan yang menembus dinding epidermis daun. Uredia merupakan badan buah yang
sel-selnya membentuk urediospora di bawah epidermis yang kemudian mendesak
epidermis hingga rusak. Telia adalah sekelompok sel berinti dua yang membentuk
teliospora.
Ustilago zeae merupakan penyakit yang menyebabkan gosong pada jagung.
Ustilago dikenal sebaagai jamur api atau jamur hangus. Kumpulan sporanya berbentuk
seperti debu hangus atau jelaga. Spora jamur ini mudah terbawa oleh angina. Jamur
ini mempertahankan dirinya di dalam tanah dengan membentuk klamidospora.
Pengelolaan penyakit ini dapat dilakukan dengan menggunakan sanitasi, mebongkar
tanaman yang terinfeksi, menggunakan bibit yang sehat dan tidak mengambil bibit
yang terinfeksi, melakukan perawatan dengan fungisida, melakukan rotasi atau
pergiliran tanaman dan menanam varietas yang tahan dengan serangan Ustilago
(Agrios, 1997). Gejala yang ditimbulkan dari penyakit ini yaitu pada tongkol ditandai
dengan masuknya cendawan ini ke dalam biji sehingga terjadi pembengkakan dan
mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus terdesak
hingga pembungkus rusak dan kelenjar keluar dari pembungkus dan spora tersebar.
Menurut Wakman & Burhanuddin (2007), ada 3 penyebab penyakit gosong pada
jagung yaitu Ustilago zeae, Ustilago reiliana dan Ustilago oryzae. Ustilago zeae
memiliki teliosporanya (klamidospora) berbentuk bulat sampai elips, berwarna coklat
sampai hitam, diameter 8-11 m. Spora diploid ini tumbuh membentuk promiselium
dengan empat atau lebih sporidia. Infeksi dapat dilakukan langsung oleh hifa yang
tumbuh dari teliospora atau dari hasil fusi antara sporidia dan hifa.
Plasmodiophora brassicae merupakan penyebab penyakit akar gada pada kubis-
kubisan. Gejala yang ditimbulkan yaitu terjadi pembelahan sel yang menyebabkan
terbentuknya bintil pada akar. Menurut Indrayoga et al. (2013), penyakit akar gada
(Club root) merupakan penyakit yang disebabkan oleh patogen tular tanah
Plasmodiophora brassicae Worr., dimana patogen ini menyebabkan pembengkakan
pada jaringan akar dapat mengganggu fungsi akar seperti translokasi zat hara dan air
dari dalam tanah ke daun. Keadaan ini mengakibatkan tanaman layu, kerdil, kering
dan akhirnya mati. Daerah di Indonesia, penyakit ini menyebabkan kerusakan pada
tanaman kubis-kubisan sekitar 88,60% dan pada tanaman caisim sekitar 5,4264,81%.
Menurut Pracaya (1995), penyakit pada suatu sistem perakaran dengan gejala akar-
akarnya menjadi membesar dan menyatu seperti gada sehingga disebut akar gada atau
setiap akar membentuk seperti jari kaki sehingga disebut juga penyakit jari kaki.
Tanaman yang diserang akan menjadi kerdil dan warna daun menjadi abu-abu. Akar
yang pernah terinfeksi jika terkena infeksi sekunder bisa menjadi busuk. Menurut
Semangun (1996), Plasmodiophora brassicae termasuk ke dalam kelompok jamur
lendir. Jamur ini memiliki daur hidup rumit. Jamur ini membentuk spora yang
berbentuk bulat serta hialin. Spora ini dapat berkecambah dalam medium yang cocok,
membesar sampai melebihi ukurannya kemudian menjadi zoospora telanjang.
Pyricularia sp. merupakan penyebab penyakit bercak daun pada daun jagung.
Gejala dapat ditunjukkan dari bercak coklat tua mengering. Bercak daun mempunyai
tepi yang jelas, bergelang, berwarna coklat muda kekuningan, agak basah, lalu
mengering menjadi berwarna coklat keputihan dan berbintik hitam. Serangan parah
penyakit ini menyebabkan kerobohan tanaman (Semangun, 2001). Menurut Pracaya
(1995), Pycularia sp menyerang tanaman jagung terutama pada tongkolnya. Tongkol
yang diserang kelihatannya membengkak ada yang kecil dan ada yang besar, mula-
mula jamur ini berwarna keputihan sebab masih tertutup membrane, kemudian
berubah menjadi lebih tua, ungu muda dan menyerang tongkol, daun, kuncup-kuncup
buku pada batang, pada rangkaian bunga, dan bagian-bagian yang lain. Pembengkakan
telah masuk membran yang menutup menjadi kering dan pecah kemudian akan keluar
spora berbentuk tepung kering yang hitam. Jamur ini biasanya menginfeksi pada
tanaman jagung yang telah setinggi 30 cm-1,5 m dan tongkolnya baru keluar rumbai-
rumbai. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan menanam varietas resisten,
mengumpulkan dan membakar bahan tanaman yang terserang serta perlakuan benih
dengan baik dengan fungisida, tetapi prosedur ini tidak efektif jika tanah yang ditanami
mengandung spora jamur tersebut (Tjahjadi, 1989). Pengendalian penyakit gosong
yang dapat digunakan adalah varietas tahan, pestisida, rotasi tanaman dan perlakuan
benih.
Phytophthora infenstans merupakan penyakit hawar pada daun kentang yang
menyebabkan daun-daun yang terinfeksi penyakit ini memiliki bercak-bercak nekrotik
pada bagian tepi daun dan ujungnya. Phytophthora infenstans merupakan penyakit
tumbuhan yang disebabkan oleh jamur, ciri-cirinya memiliki miseliumnya interseluler,
tidak bersekat, mempunyai haustorium, konidiofor keluar dari mulut dan kulit.
Penyakit ini dapat dikendalikan dengan beberapa cara diantaranya yaitu dengan
menanam bibit yang sehat, menanam varietas yang tahan dengan serangan
Phytophthora infestans (Semangun, 1996). Menurut Pracaya (1995), Gejala yang
ditimbulkan dari penyakit hawar pada daun kentang yaitu daun yang sakit terlihat
adanya bercak-bercak pada ujung dan tepi daunnya dan dapat meluas kebawah serta
mematikan dalam waktu 1-4 hari jika udara lembab. Seluruh daun akan menghitam,
layu dan menjalar ke seluruh batang. Sisi bawah daun kelihatan jamur kelabu yang
terdiri dari konidiospora dengan konidianya. Umbinya juga dapat diserang sehingga
menjadi busuk basah maupun busuk kering. Permukaan umbi terdapat bercak yang
sedikit cekung sedalam 3-6 mm, warnanya coklat atau hitam keunguan dan bagian
yang terserang penyakit relatif keras (Pracaya, 1995).
Cendawan Fusarium sp. merupakan salah satu patogen penting pada tanaman
tomat. Keberadaan cendawan Fusarium sp. pada tanaman tomat bisa menyebabkan
tanaman tomat mengalami kerusakan dan kerugian secara ekonomi yang besar
(Soekarno et al., 2012). Gejala pertama dari penyakit Fusarium sp. adalah tulang daun
memucat terutama daun-daun sebelah atas, kadang-kadang daun sebelah bawah.
Tanaman menjadi kerdil dengan tangkai merunduk dan akhirnya layu keseluruhan,
jika tanaman dipotong dekat pangkal batang akan terlihat suatu cincin cokelat dari
berkas pembuluh (Susanna & Pratama, 2010). Pengelolaan dari penyakit yang
disebabkan oleh Fusarium sp. yaitu dengan melakukan penanaman varietas yang tahan
terhadap serangan Fusarium sp., pemakaian fungisida, mencegah infeksi tanah,
pelakuan tanah dan mengendalikan populasi nematoda (Sastrahidayat, 1990). Salah
satu pengendalian penyakit layu bakteri yang aman bagi lingkungan adalah dengan
penggunaan mikroba antagonis. Beberapa mikroba antagonis yang telah banyak
diteliti adalah Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens dan Trichoderma harzianum
(Hersanti et al., 2009). Menurut Semangun (1996), cendawan Fusarium akan
membentuk konidium pada suatu badan yang disebut sporodokium yang dibentuk
pada permukaan tangkai atau daun sakit pada tangkai yang sudah tua. Konidiofor
bercabang dan rata-rata mempunyai panjang 70 m, cabang-cabang samping biasanya
bersel satu, panjang sampai 14 m, konidium terbentuk pada ujung cabang utama dan
samping. Mikronidium bersel satu atau dua, hialin jorong atau agak memanjang
dengan ukuran 5 -7 x 2,5-3 m. Makrokonidium berbentuk sabit, bertangkai kecil,
kebanyakan bersel 4, berukuran 22- 36 x 4,5 m. Klamidospora bersel satu, jorong
atau bulat berukuran 7-13 x 7-8 m terbentuk di tengah hifa atau pada makrokonidium,
seringkali berpasangan. Konidia biasanya mempunyai 3-5 septa dan sel apikal yang
tipis serta dasarnya yang berbentuk kaki. Klamidosporanya dapat terbentuk tunggal
dan berpasangan (Ploetz, 1994).
Puccinia arachidis merupakan salah satu penyebab penyakit karat daun pada
kacang-kacangan. Penyakit ini disertai dengan bercak daun yang disebabkan oleh
Cercospora arachidiola. Penyakit ini merupakan penyakit yang kronis dan pada
serangan yang berat menyebakan penurunan hasil panen hingga 50%-60% tanaman
kacang. Penyebaran jamur karat ini terjadi melalui uredospore pada sisa brangkasan
atau polong terkontaminasi yang terbawa angin. Perkecambahan uredospora paling
banyak terjadi pada suhu 35C dengan kelembaban relatif 90%. Salah satu cara untuk
mengatasi penyakit karat daun ini dapat dilakukan dengan menggunakan benih dari
varietas yang toleran. Varietas kacang tanah yang tahan terhadap karat daun dapat
ditentukan dengan cepat yaitu, dengan melihat gejala serangan, apabila dalam waktu
kurang dari 50 hari setelah tanam gejala tersebut tampak, maka dapat dikatakan bahwa
varietas kacang tanah tersebut rentan terhadap serangan penyakit karat daun (Hasanah
et al., 2004).
Umumnya, tumbuhan yang sakit akan menunjukkan gejala yang khas. Gejala
(symptom) adalah perubahan yang ditunjukkan oleh tumbuhan itu sendiri akibat
adanya infeksi penyebab penyakit. Seringkali penyakit tertentu tidak hanya
menyebabkan munculnya satu gejala tetapi dapat juga berupa serangkaian gejala yang
disebut syndroma. Dengan memperhatikan gejala atau serangkaian gejala, seseorang
yang sudah berpengalaman akan dapat menentukan penyebab penyakit yang
menyerang tumbuhan tersebut. Gejala merupakan perubahan struktur morfologi,
anatomi ataupun fisiologi tanaman sebagai reaksi tanggapan terhadap patogen.
Kadang-kadang penyakit pada tumbuhan menunjukkan gejala yang sama. Oleh karena
itu, dengan memperhatikan gejala saja tidak dapat menentukan diagnosis dengan pasti,
maka perlu diperhatikan tanda penyakit. Tanda-tanda penyakit merupakan bagian atau
keseluruhan morfologi patogen yang terlihat pada bagian tumbuhan yang terserang
penyakit (Agrios, 1997). Menurut Brown & Ogle (1997), gejala pada tumbuhan yang
sakit dapat dikelompokkan menjadi empat macam yaitu:
1. Kematian dan hancurnya jaringan inang
2. Kelayuan, berlebihan dalam berbagai hal dan gelaja terkait.
3. Pertumbuhan dan differensiasi yang tidak normal
4. Penghilangan warna jaringan inang
Tanda penyakit merupakan struktur yang dibentuk oleh patogen selain gejala yang
terjadi pada tanaman. Tanda penyakit ini merupakan salah struktur yang dapat
membantu dalam rangka diagnosis penyakit tumbuhan. Tanda penyakit pada penyakit
yang disebabkan oleh jamur dapat berupa miselium atau struktur yang merupakan
modifikasi miselium (seperti rhisomorf, sklerotium), tubuh buah jamur, spora jamur.
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri tanda penyakit dapat berupa oose bakteri yang
merupakan kumpulan spora bakteri yang keluar dari jaringan tanaman. Beberapa
kasus, penyebab penyakit dapat menunjukkan gejala yang sama, sehingga diagnosis
tidak dapat dilakukan hanya dengan mengamati gejalanya saja. Sehingga, dalam hal
ini diperlukan adanya tanda (sign) dari penyakit yaitu semua pengenal dari penyakit
selain reaksi dari tanaman (selain gejala) yang dapat berupa struktur tubuh patogen
(tubuh buah, kumpulan spora, miselium, dll.), senyawa yang dikeluarkan oleh tanaman
sebagai reaksi tanaman akibat serangan patogen (blendok, lendir, dan lain-lain).
Berdasarkan tempat munculnya gejala, gejala dapat dibedakan menjadi gejala lokal
(setempat) atau gjala primer dan gejala sistemik atau gejala sekunder. Gejala lokal
adalah gejala yang terbatas pada lokasi tertentu yaitu pada tempat terjadinya infeksi,
seperti gejala yang berupa bercak, busuk, dll. Gejala sistemik adalah gejala yang
muncul bukan pada tempat yang terinfeksi akibat adanya gejala lokal (setempat),
seperti adanya gejala layu yang disebabkan karena adanya pembusukan pada akar.
Pembusukan pada akar adalah gejala lokal, sedangkan layunya tanaman adalah gejala
sistemik. Gejala sistemik dapat terjadi pada seluruh bagian tumbuhan seperti layu,
kerdil, perubahan warna daun (Agrios, 1997).
Gejala penyakit yang tampak terjadi karena adanya perubahan yang terjadi pada
sel. Umumnya, gejala dapat dilihat pada bagian luar tumbuhan akan tetapi ada
beberapa gejala yang baru dapat dilihat apabila tanaman tersebut dibelah (gejala
dalam). Berdasarkan tipe gejalanya, gejala penyakit dapat dibagi menjadi tiga tipe
pokok yaitu :
a. Gejala nekrotik, yaitu gejala yang terjadi akibat adanya kerusakan pada sel atau
bagian sel, atau matinya sel. Kenampakan gejala ini dapat berupa bercak,
pembusukan, eksudasi, layu, nekrosis, gosong.
b. Gejala hiperplastik, yaitu gejala yang terjadi akibat adanya pertumbuhan atau
perkembangan sel yang luar biasa. Kenampakan gejala ini dapat berupa
pertumbuhan yang luar biasa seperti gejala sapu, menggulung atau mengeriting,
kudis, tumor.
c. Gejala hipoplastik, yaitu gejala akibat terhambatnya pertumbuhan atau
perkembangan sel. Kenampakan gejala ini dapat berupa kerdil, etiolasi, dan
klorosis (Agrios, 1997).
Sampel daun pisang (Musa sp.) kelompok 1 menunjukkan gejala timbulnya
bercak berbentuk bulat telur. Menurut Semangun (1996), jenis penyakit ini disebut
bercak daun Cordana yang disebabkan oleh jamur Ascomycetes Cordana musae.
Gejala awalnya, Gejalanya, mula-mula timbul becak-becak jorong atau bulat telur,
kadang berbentuk berlian, kemudian membesar dan berwarna coklat pucat, dengan
tepi yang berwarna coklat kemerahan, dikelilingi halo berwarna kuning cerah.
Seringkali becak tampak bercincin-cincin, dan dapat terbentuk di sekeliling becak
sigatoka. Bercak dapat menjadi besar sekali, bahkan dikatakan bahwa panjangnya
dapat mencapai 10 cm. Bila yang terinfeksi tepi daun, becak dapat berbentuk sabit,
yang kemudian dapat memanjang menjadi coreng berwarna coklat pucat, yang dapat
meluas sampai ibu tulang daun (Semangun, 1996). Selain Cordana musae, penyakit
bercak pada daun pisang dapat pula disebabkan oleg Neocordana musae. Menurut
Hernandez-Restrepo et al. (2015), jamur ini memiliki ciri-ciri seperti miseliumnya
superfisial dan terbenam, hifanya halus, dan hialin berwarna coklat. Hifa intraselular
halus, hialin sampai coklat. Konidiosporanya berwarna coklat, halus, dengan ukuran
46-118,5 5-6,5 m. Terminal sel konidiogen dan kognitif, 15-72,5 5-9 m,
denticulate; panjang dentikel mencapai 2 m, lebar 0,5-1,5 m. Konidia obclavate,
pyriform, kebanyakan obovoid, dengan ukuran 14,5-19 8-11,5 m, 1-septat, dinding
tebal, berwarna coklat pucat, dasarnya lebih gelap, permukaannya rata, dan lebarnya
1-1,5 m.
Daun bawang (Allium sp.) memiliki gejala penyakit seperti daun menguning dan
layu tiba-tiba. Penyebab penyakit ini adalah jamur Fusarium sp. Gejala pertama dari
penyakit Fusarium sp. adalah tulang daun memucat terutama daun-daun sebelah atas,
kadang-kadang daun sebelah bawah. Tanaman menjadi kerdil dengan tangkai
merunduk dan akhirnya layu keseluruhan, jika tanaman dipotong dekat pangkal batang
akan terlihat suatu cincin cokelat dari berkas pembuluh (Susanna & Pratama, 2010).
Penyakit ini disebut layu Fusarium. Infeksi penyakit ini menyerang pada jaringan
pembuluh melalui akar. Jaringan xilem yang terserang infeksi akan berubah menjawa
warna coklat dan serangan ini merambat dengan cepat. Peredaran air ke daun
terhambat sehingga daun menguning dan layu. Cendawan membentuk polipeptida
(likomarasmin) yang menyebabkan gangguan pada permeabilitas membran plasma,
sehingga arus air dari akar hingga daun akan terhambat (Semangun, 1996).
Penyebab penyakit pada bulai pada buah labu siam (Sechium edule) disebabkan
oleh Peronasclerosora maydis. Gejala yang ditimbulkan yaitu buah berlubang
berwarna coklat. Menurut Agrios (1997), gejala khas penyakit bulai adalah adanya
warna khlorotik memanjang sejajar tulang daun dengan batas terlihat jelas antara daun
sehat. Bagian daun permukaan atas maupun bawah terdapat warna putih seperti tepung,
sangat jelas di pagi hari. Penyakit ini menyebabkan gejala sistemik dimana gejalanya
meluas ke seluruh bagian tanaman jagung serta menimbulkan gejala lokal (setempat).
Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua
daun akan terinfeksi. Tanaman terinfeksi penyakit bulai saat umur tanaman masih
muda umumnya tidak menghasilkan buah, tetapi bila terinfeksi saat tanaman sudah tua
masih dapat terbentuk buah, sekalipun buahnya kecil-kecil karena umumnya
pertumbuhan tanaman mengerdil (Semangun, 1996).
Penyakit busuk pada cabai (Capsicum annum), dimana cabai mengering dan
busuk, disebabkan oleh jamur Phytopthera sp. Terdapat dua macam penyakit busuk
yang biasa menyerang tanaman cabe, yakni busuk cabang dan busuk kuncup. Busuk
cabang pada tanaman cabe disebabkan oleh Phytophthora capsici. Menyerang saat
musim hujan dan penyebarannya sangat cepat. Busuk kuncup disebabkan oleh
cendawan Choanosearum sp. Penyakit ini masih jarang dijumpai di Indonesia.
Gejalanya, kuncup tanaman berwarna hitam dan lama kelamaan mati (Sutrisno, 2004).
Jenis penyakit yang menyerang daung jagung (Zea mays) adalah karat daun.
Gejala yang ditimbulkan adalah adanya bercak pada daun berwarna kuning karat.
Penyebab penyakit ini adalah jamur Puccinia sorghi. Menurut Wijaya (2001), gejala
tanaman jaugung yang terinfeksi karat adalah adanya pustul yang menyebar baik di
permukaan bawah atau atas daun, berwarna kekuningan hingga kecokelatan. Apabila
terjadi serangan berat maka daun akan menjadi kering. Puccinia sorghi membentuk
urediosorus panjang atau bulat panjang pada daun. Epidermis pecah sebagian dan
massa spora dibebaskan yang menyebabkan urediosorus berwarna coklat atau coklat
tua. Urediosorus yang masak berubah menjadi hitam bila teliospora terbentuk. P.
sorghi ditemukan pada kedua sisi permukaan daun, jaringan epidermis daun menutup
uredium sampai matang, dan banyak ditemukan pada daerah pegunungan atau dataran
tinggi. P. sorghi membentuk uredospora lebih gelap daripada P. polysora, P. sorghi
membentuk teliospora berdinding lebih tebal daripada P. polysora. Infeksi penyakit
ini biasanya berkembang pad amusim hujan atau kemarau (Semangun, 1996).
Daun tomat (Solanum lycopersicum) yang digunakan sebagai sampel
menunjukkan gejala penyakit, seperti daun kekuningan, layu, dan timbul bintil coklat.
Jenis penyakit yang ditunjukkan disebut pernyakit bercak coklat daun, dengan patogen
pembawanya yaitu jamur Alternria solani. Jamur ini menyerang daun tanaman tomat.
Awalnya, timbul bercak bersudut atau bulat berwarna coklat sampai hitam dengan
diamater 2-4 mm. Bercak tersebut menjadi nekrosis bergaris lingkar sepusat. Jaringan
nekrosis dikelilingi lingkaran berwarna kuning (sel klorosis). jika serangan mengganas
dapat berakibat bercak akan semakin membesar, kemudian menyatu sehingga daun
menguning, layu, dan mati. Apabila bunga terinfeksi penyakit tomat ini maka bunga
akan gugur atau rontok. Buah masak ataupun buah muda, jika terserang penyakit
tersebut maka akan busuk dan berwarna hitam, membentuk cekungan dan meluas
keseluruh bagian buah. Penyakit tomat ini umumnya dimulai dari ujung tangkai buah
(pangkal buah) dengan warna coklat tua, kemudian membentuk cekungan berdiamater
5-20 mm dan diselimuti massa spora berwarna hitam seperti beludru (Semangun,
1996). Tingginya laju infeksi yang terjadi pada tanaman tomat terjadi pada minggu
pertama dan kedua disebabkan karena tanaman pada waktu tersebut tanaman masih
muda. Kondisi tersebut membuat tanaman belum banyak memiliki kandungan
metabolit yang mampu memberikan perlawanan terhadap serangan patogen A. solani.
bahwa pada tomat terdapat berbagai metabolit sekunder antara lain senyawa fenolik,
phytoalexins, inhibitor protease, dan glycoalkaloids. Metabolit ini dapat melindungi
tanaman dari serangan hama atau patogen termasuk jamur, bakteri, virus, dan
serangga. Sebaliknya, saat kondis tanaman tua, kondisi tanaman tua yang diperlihatkan
pada pengamatan minggu kelima dan keenam dimana laju infeksi bertambah
menunjukkan bahwa tanaman dalam memproduksi senyawa atau metabolit sekunder
mulai berkurang. Selain itu, senyawa atau metabolit yang telah dihasilkan juga dapat
terdegradasi membentuk senyawa lainnya sehingga senyawa atau metabolit tersebut
tadak dapat berfungsi secara efektif menghambat pertumbuhan patogen (Kalay et al.,
2015).
Sampel terakhir yang digunakan adalah daun kangkung (Ipomea aquatica). Daun
ini menunjukkan gejala penyakit bercak daun, dengan adanya bercak hitam berpola
pada tepi daun. Diduga, penyebab penyakit ini ialah bakteri Xanthomonas sp. Awal
gejalanya, tepi daun berwarna kuning atau pucat kemudian akan meluas ke bagian
tengah dan bercak menjadi warna coklat. Selain bakteri Xanthomonas sp., penyebab
bercak daun pada daun kangkung dapat pula disebabkan oleh jamur Fusarium sp. Dan
jamur Cercospora bataticola (Sutrisno, 2004).

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa Puccinia graminis


menyebabkan penyakit karat daun pada tanaman serealia, Ustilago zeae menyebabkan
penyakit gosong pada jagung, Phytophthora infestans menyebabkan hawar daun pada
kentang, Plasmodiophora brassicae menyebabkan penyakit akar gada pada kubis-
kubisan, Fusarium sp. menyebabkan penyakit layu pada sayur-sayuran, Pyricularia
sp. menyebabkan penyakit bercak daun pada jagung, dan Puccinia arachdis
menyebabkan penyakit karat daun pada tanaman kacang-kacangan. Jenis penyakit
pada sampel daun pisang adalah bercak daun Cordana oleh jamur Cordana musae,
penyakit layu pada daun bawang disebabkan oleh jamur Fusarium sp., penyakit bulai
pada buah labu siam disebabkan oleh Peronasclerospora maydia, penyakit busuk pada
buah cabai disebabkan oleh jamur Phytophtora sp., penyakit karat daun pada daun
jagung disebabkan oleh Puccinia sorghi, penyakit bercak daun pada daun tomat
disebabkan oleh Alterria solani, dan penyakit bercak daun pada daun kangkung
disebabkan oleh bakteri Xanthomonas sp.

B. Saran
Sebaiknya, preparat awetan maupun sampel daun atau buah berpenyakit lebih
bervariasi lagi. Selain itu, identifikasi penyakit tumbuhan lebih teliti lagi agar
didapatkan patogen yang tepat.

DAFTAR REFERENSI

Agrios, G.N. 1997. Ilmu Penyakit Tumbuhan: Edisi Ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Agrios , .N. 2005. Plant Pathology 5th Edition. New York: Elsevier Academic Press.
Brown, J.F. & Ogle, H.J. 1997. Plant Pathogens and Plant Diseases. Australia:
Rockvale Publications.
Hasanah, R.W., Arief & Barus, J. 2004. Pengaruh Teknik Budidaya dan Produksi
Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.). Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan
Tropika, 4(2): 102-105.
Hersanti, R.T., Rupendi, A.P., Hanudin, B.M. & Gunawan, O.S. 2009. Penampisan
Fluorensens, Bacillus subtilis dan Trichorderma harzianum yang Bersifat
Antagonik terhadap Rolstonia solanacearum pada Tanaman Kentang. Jurnal
Agrikultural, 20(9): 198-203.
Hernndez-Restrepo, M., Groenewald, J.Z. & Crous, P.W. 2015. Neocordana gen.
nov., the causal organism of Cordana leaf spot on banana. Phytotaxa, 205(4): 229
238.
Indrayoga, M.P., Sudarma, I.M. & Puspawati, N.M. 2013. Identifikasi Jenis dan
Populasi Jamur Tanah pada Habitat Tanaman Kubis (Brassica oleracea L.) Sehat
dan Sakit Akar Gada pada Sentra Produksi Kubis di Kecamatan Baturiti Tabanan.
E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika, 2(3): 184-194.
Kalay, A.M., Patty, J. & Sinay, M. 2015. Perkembangan Alternaria solani pada Tiga
Varietas Tanaman Tomat. Jurnal Agrikultura , 26(1): 1-6.
Martoredjo, T. 1989. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan Bagian dari Perlindungan
Tanaman. Yogyakarta: Andi Offset.
Ploetz, R. C. 1994. Banana: Campedium of Tropical Fruits Disease. Minnesota: The
American Phytopathology Society Press.
Pracaya. 1995. Hama dan Penyakit Tanaman. Jakarta: Penebar Swadaya.
Pyenson, L. 1979. Fundamental Of Entomology and Plant Patology. New York: Avi
Publishing Co. Wasport Press.
Sastrahidayat, I. R. 1989. Penyakit-penyakit Tanaman Holtikultura di Indonesia.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Semangun, H. 1996. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Semangun, H. 2001. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Soekarno, B.P.W., Surono & Marhaenis, E. 2012. Potensi Ekstrak Kangkung sebagai
Biofungisida untuk Mengendalikan Penyakit Busuk Buah Fusarium pada Tomat.
Jurnal Fitopatologi Indonesia,8(5): 121-127.
Susanna, T.C. & Pratama, A. 2010. Dosis dan Frekuensi Kascing untuk Pengendalian
Layu Fusarium pada Tanaman Tomat. Jurnal Floratek, 5: 152-163.
Sutrisno. 2004. Pengelolaan Penyakit Tanaman. Bengkulu: Universitas Bengkulu.
Triharso. 1996. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Tjahjadi, N. 1995. Hama dan Penyakit Tanaman. Yogyakarta: Kanisius.
Wakman, W. & Burhanuddin. 2007. Pengelolaan Penyakit Prapanen Jagung. Maros:
Balai Penelitian Tanaman Serealia.
Wijaya. 2001. Hama dan Penyakit Tanaman Holtikultura. Kediri: Fakultas Pertanian
Universitas Kediri.
Yunasfi. 2002. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit dan
Penyakit lain yang Disebabkan oleh Jamur. Digital Library USU: Sumatera
Utara.