Anda di halaman 1dari 33

Laporan Praktikum

Elektronika Fisis Dasar I

ARUS BOLAK-BALIK

NAMA :WILLY HARDIANTHO


NIM :H211 15 315
KELOMPOK :V (LIMA)
TANGGAL PERCOBAAN : 27 SEPTEMBER 2016
ASISTEN : 1. DINA JUNIPUSPITA
2. HAFAZHAHNIAH I.

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR DAN INSTRUMENTASI


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Manusia sangat bergantung kepada listrik sehingga penting sekali
mengetahui tentang listrik agar kita dapat memanfaatkan listrik dengan lebih baik
untuk kesejahteraan manusia. Untuk arus bolak-balik (AC) atau Alternating
Current. Pada umumnya listrik arus bolak-balik ini banyak dipergunakan dalam
kehidupan sehari-hari misalnya sebagai penerangan rumah dan keperluan rumah
tangga lainnya seperti menjalankan kipas angin, setrika, dan lain-lain. Listrik arus
bolak-balik ini dihasilkan oleh sumber pembangkit tegangan listrik yang
dinamakan Generator Arus Bolak-balik yang terdapat pada pusat-pusat
pembangkit tenaga listrik. Dari Penerapan Arus listrik AC dan DC pasti memiliki
keuntungan dan kerugian. Jika kita menerapkan arus listrik AC kita dapat
merasakan keuntungan untuk transmisi dan pembagian tenaga listrik lebih mudah
menggunakan arus listrik bolak-balik dibandingkan arus listrik searah. Untuk
Kerugiannya, ketika arus primer AC berbalik arah sehingga terjadi kerugian
histeris. Hal ini disebabkan karena inti transformator tidak dapat mengubah arah
fluks magnetnya dengan seketika [1].
Sebagian besar penyaluran jarak jauh daya tegangan tinggi sekarang
menggunakan arus bolak-balik. Arus bolak-balik memiliki keunggulan utama
dalam hal energi yang dapat disalurkan dalam jarak jauh pada tegangan yang
tinggi dan arus rendah untuk menghindari kerugian energi dalam bentuk kalor
Joule. Arus tegangan yang tinggi ini kemudian dapat diubah, hampir tanpa
kehilangan energi, ke tegangan yang lebih rendah atau lebih aman dan bersesuaian
dengan ini ke arus yang lebih tinggi untuk penggunaan sehari-hari. Transformator
yang melakukan perubahan tegangan dan arus ini bekerja berdasarkan induksi
magnetik. Lebih dari 99 persen energi listrik yang digunakan sekarang di negara-
negara dihasilkan oleh generator listrik dalam bentuk arus bolak-balik. Adapun
alasan melakukan percobaan ini adalah untuk menunjang teori-teori yang sudah
didapatkan [1].
II.2 Ruang Lingkup
Dalam percobaan ini memfokuskan pengamatan terhadap perbandingan
tegangan dari rangkaian integrator, rangkaian differensiator dan rangkaian RLC
paralel maupun rangkaian RLC seri. Pada percobaan ini diamati tegangan
masukan dan tegangan keluaran pada rangkaian tersebut serta mengamati
karakteristik dari rangkaian integrator dan differensiator.
II.3 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui sifat dan karakteristik dari bentuk isyarat keluaran pada
differensiator dan integrator bila diberi masukan berupa isyarat persegi
2. Mengukur tanggapan amplitudo dan tanggapan fasa dari suatu sumber AC
tegangan tetap untuk tapis lolos rendah dan tapis lolos tinggi pada rangkaian
RC
3. Mengukur tanggapan amplitudo rangkaian RLC paralel terhadap sumber AC
sinus arus tetap.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Arus bolak-balik adalah arus yang arahnya berubah-ubah secara bergantian.


Pada suatu saat arah arus ke kanan, kemudian berubah menjadi ke kiri, kemudian
ke kanan, ke kiri, dan seterusnya. Contoh kurva arus bolak-balik tampak pada
Gambar II.1 [2]:

Gambar II.1 Contoh grafik arus bolak-balik [2].


Pada grafik (a) didapatkan arus bolak-balik yang berubah secara sinusoidal.
Setengah periode arus bergerak dalam satu arah dan setengah periode lainnya arus
bergerak dalam arah sebaliknya. Pada grafik (b) didapatkan arus bolak-balik yang
berubah secara persegi. Dalam setengah periode arus bergerak dalam satu arah
dan setengah periode lainnya arus bergerak dalam arah sebaliknya. Pada grafik (c)
didapatkan arus bolak-balik yang berubah dengan pola segitiga. Pada grafik (d)
didapatkan arus bolak-balik yang berubah secara transien [2].
Arus bolak-balik selain memiliki kelebihan juga memiliki kekurangan. Salah
satu contoh kecilnya yaitu trauma akibat sengatan listrik. Trauma akibat sengatan
listrik adalah kerusakan yang disebabkan oleh adanya aliran arus listrik yang
melewati tubuh manusia dan membakar jaringan ataupun menyebabkan
terganggunya fungsi organ dalam. Arus listrik yang mengalir ke dalam tubuh
manusia akan menghasilkan panas yang dapat membakar dan
menghancurkanjaringan tubuh. Tanda dan gejalanya meliputi luka bakar pada
kulit, kerusakan organ dalam dan jaringan lainnya, aritmia, serta gagal nafas [3].
Kejadian kecelakaan karena tersengat alus listrik pada manusia lebih sering
dikarenakan arus bolak-balik (AC) dibandingkan arus searah (DC). Manusia lebih
sensitif terhadap arus AC dibandingkan arus DC (sekitar 4-6 kali). Arus DC
menyebabkan satu kontraksi otot. Sedangkan arus AC menyebabkan kontraksi
otot yang kontinyu (tetani) dapat mencapai 40-110 kali /detik, sehingga
menyebabkan luka yang lebih parah [3].
Dalam terjadinya luka akibat arus listrik ada beberapa faktor yang
mempengaruhi antara lain intensitas, voltase, tahanan, arah arus, waktu, jenis
kelamin, berat badan, kondisi sekitar [3].
Tahun 2015 ada penelitian mengenai pengaruh arus searah dan arah bolak-
balik terhadap stimulasi otak dan ini disebut dengan Transcranial Electrical
Stimulation (TES). Transcranial Electrical Stimulation (TES) adalah istilah
umum yang meliputi beberapa teknik stimulasi otak non-invasif yang meliputi
arus searah,arusbolak-balikdangangguan acak stimulasi. Tes disampaikan dengan
menerapkan arus lemah untuk kulit kepala yang telah banyak dimanfaatkan untuk
memanipulasi rangsangan kortikal atau untuk berinteraksi dengan irama kortikal
endogen. Target stimulasi biasanya fokus ke daerah kortikal tunggal, dua
elektroda yang diperlukan untuk memungkinkan aliran arus. Kedua,
disebut referensi elektroda, biasanya diposisikan di atas area dan dianggap tidak
berperan aktif dalam eksperimen [4].
II.1 Arus Bolak-balik Sinusoidal
Bentuk arus bolak-balik yang paling sederhana adalah arus sinusoidal.
Kebergantungan arus terhadap waktu dapat dinyatakan oleh fungsi kosinus berikut
ini [2]:
2
= m cos ( + 0) (2.1)

dengan Im arus maksimum (amplitudo arus), T periode arus, t waktu, dan o fase
mula-mula (saat t = 0). Jika arus tersebut melewati sebuah hambatan, maka
tegangan antara dua ujung hambatan [2]:
2
= = ( m cos ( + 0))

2
= m cos ( + 0) (2.2)

dengan Vm= RImadalah amplitudo tegangan.

Gambar II.2 Contoh kurva tegangan dan arus bolak-balik [2].


II.2 Tegangan Rata-rata
Tegangan rata-rata didefinisikan sebagai berikut [2]:

1
= lim (2.3)

0

Untuk fungsi sinusoidal, perata-rataan di atas menghasilkan nilai yang sama


dengan perata-rataan selama satu periode saja. Jadi, tegangan rata-rata dapat
ditulis dalam bentuk [2]:

1
= (2.4)

0

Dengan menggunakan V pada persamaan (2.2) maka didapat [2]:



1 2 m 2
= m cos ( + 0) = m cos ( + 0) (2.5)

0 0

Untuk memudahkan penyelesaian integral di atas maka misalkan


2 2
+ 0 = = = (2.6)
2
Substitusi (2.6) ke dalam persamaan (2.5) diperoleh
m m m
= cos = cos = sin
2 2 2
m 2 2
= (sin ( + 0) ( 0 + 0))
2
m m
= [(2 + 0) sin(0 + 0)] = [sin(0) sin(0)] = 0 (2.7)
2 2
Jadi, nilai rata-rata tegangan bolak-balik sinusoidal adalah nol. Dengan
menggunakan I = V / R maka nilai rata-rata arus bolak balik adalah [2]:
0
= = =0 (2.8)

II.3 Tegangan Root Mean Square(RMS)
Nilai rata-rata tidak memberikan informasi yang lengkap tentang besaran
arus atau 68 tegangan. Berapapun amplitudo arus atau tegangan, nilai rata-rata
selalu nol. Besaran RMS (Root Mean Square) memberikan informasi yang lebih
lengkap tentang arus bolak-balik. Tegangan dan arus RMS didefinisikan sebagai
[2]:
rms = 2 (2.9)

rms = 2 (2.10)
Untuk tegangan bolak-balik sinusoidal,
m 2
2 = (2.11)
2
m 2
2 = (2.12)
2
Akhirnya, tegangan dan arus RMS menjadi

m 2 m
rms = 2 = = (2.13)
2 2
m
rms = (2.14)
2
II.4Tegangan Bolak Balik pada Dua Ujung Hambatan
Misalkan arus bolak-balik yang mengalir pada hambatan adalah [2]:
= m cos( + 0) (2.15)
Tegangan antara dua ujung hambatan dapat dicari dengan menggunakan
hukum Ohm
R = = m cos( + 0) (2.16)
Tampak bahwa arus dan tegangan berubah secara bersamaan. Dengan kata
lain arus dan tegangan antara dua ujung hambatan memiliki fase yang sama [2].

Gambar II.3 Arus bolak-balik melewati sebuah hambatan [2].


II.5 Tegangan antara Dua Ujung Kapasitor
Misalkan arus yang mengalir pada kapasitor juga memenuhi persamaan
(2.15) [2]:

Gambar II.4 Arus bolak-balik melewati sebuah kapasitor [2].


Tegangan antara dua ujung kapasitor adalah[2]:
= sin( + 0 ) (2.17)
dengan
1
= (2.18)

Besaran XC dinamakan reaktansi kapasitif.
Dengan aturan trigonometri didapatkan hubungan [2]:

sin( + 0 ) = cos ( + 0 ) (2.19)
2
Dengan demikian, tegangan antara dua ujung kapasitor dapat ditulis sebagai
[2]:

= cos ( + 0 ) (2.20)
2
Iniberartiteganganantaraduaujungkapasitormuncullebihlambatdaripadaarus.
Atauteganganpadakapasitormengikutiarusdenganketerlambatanfasa /2 [2]:
II.6 Tegangan antara Dua Ujung Induktor
Misalkan arus yang mengalir pada induktor juga memenuhi persamaan
(2.15) [2]:

Gambar II.5 Arus bolak-balik melewati sebuah induktor [2].


Tegangan antara dua ujung induktor adalah [2]:
= sin( + 0 ) (2.21)
dengan
= (2.22)
Besaran XL disebut reaktansi induktif.
Dengan aturan trigonometri didapatkan hubungan [2]:

sin( + 0 ) = cos ( + 0 + ) (2.23)
2
Tegangan antara dua ujung induktor dapat juga ditulis sebagai [2]:

= cos ( + 0 + ) (2.24)
2
II.7 Rangkaian Integrator
Rangkaian RC dapat juga digunakan sebagai rangkaian integrator seperti
ditunjukkan pada gambar (II.6). Secara umum berlaku [5]:
1 = + = (2.25)
Jika vCberharga sangat kecil dibandingkan dengan vR(yaitu j ika RC > T). Karena
tegangan kapasitor besarnya proporsional dengan integral i v1 / R ,
1 1
2 = 1 (2.26)

dan keluaran merupakan harga integral dari masukan [5].
Gambar II.6 Rangkaian Integrator
II.8 Rangkaian Diferensiator
Rangkaian RC pada gambar II.7 dapat berfungsi sebagai rangkaian
diferensiator, yaitu keluaran merupakan derivatif dari masukan. Untuk kasus
masukan tegangan berupa gelombang kotak, tegangan keluaran proporsional
dengan proses pemuatan dan pelucutan sebagai reaksi dari tegangan undakan (step
voltage). Dalam hal ini rangkaian RC berfungsi sebagai pengubah gelombang
kotak menjadi bentuk rangkaian pulsa jika konstanta waktu RC berharga lebih
kecil dibandingkan periode dari gelombang masukan [5].

Gambar II.7Rangkaian Diferensiator


Dengan melakukan pendekatan dan menggunakan hukum Kirchhoff tentang
tegangan diperoleh [5]:
1 = + (2.27)
Jika vRdianggap sangat kecil dibandingkan dengan vC. Karena iC= .dvC/dt,
1
2 = = = (2.28)

Terlihat bahwa keluaran (output) proporsional dengan derivatif dari
masukan (input) [5].
II.9 Inverter
Inverter merupakan suatu rangkaian yang dapat mengubah sumber tegangan
DC menjadi AC yang frekuensinya dapat diubah-ubah. Inverter disusun dari
perangkat elektronik yang mengatur daya DC, on, dan off sehingga dapat
menghasilkan daya luaran AC yang dapat dikontrol frekuensi maupun
tegangannya. Inverter ini selanjutnya digunakan untuk mencatu motor induksi.
Dengan adanya perubahan frekuensi ini akan menghasilkan perubahan kecepatan
putar dari motor induksi sesuai dengan persamaan [6]:
120
= (2.29)

Terdapat 3 jenis inverter, yaitu [6]:
1. Inverter sumber arus (Current Source Inverter-CSI)
2. Inverter tegangan variabel (Variable Voltage Inverter-VVI)
3. Inverter lebar pulsa termodulasi (Pulse Width Modulation-PWM).
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

III.1 Waktu dan Tempat


Percobaan ini dilakukan pada tanggal 27 September 2016, hari Selasa pukul
13.00-15.10 WITA di Laboratorium Elektronika Dasar dan Instrumentasi Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin.
III.2 Alat dan Bahan
III.2.1 Alat Beserta Fungsinya
Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
1. Osiloskop

Gambar III.1 Osiloskop


Osiloskop berfungsi untuk mengamati bentuk sinyal masukan dan keluaran
yang berupa tegangan.
2. Signal Generator

Gambar III.2 Signal Generator


Signal generator berfungsi sebagai sumber tegangan untuk dan untuk
mengatur frekuensi.
3. Kabel Jumper

Gambar III.3 Kabel Jumper


Kabel jumper berfungsi sebagai alat untuk menghubungkan komponen
dalam rangkaian.
4. Papan Rangkaian

Gambar III.4 Papan Rangkaian


Papan rangkaian berfungsi sebagai tempat untuk merangkai komponen
listrik (dalam hal ini tempat menancapkan kaki resistor, kapasitor dan kabel
jumper).
III.2.2 Bahan Beserta Fungsinya
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
1. Kapasitor

Gambar III.5 Kapasitor


Kapasitor berfungsi sebagai filter pasif yang mengatur frekuensi dan
sebagai tempat untuk menyimpan tegangan.
2. Resistor

Gambar III.6 Resistor


Resistor berfungsi sebagai filter pasif yang mempengaruhi frekuensi dan
sebagai penahan arus.
3. Induktor

Gambar III.7 Induktor


Induktor berfungsi sebagai filter pasif yang mengatur frekuensi dan
tegangan yang masuk dalam rangkaian serta untuk menghambat arus dan
tegangan yang masuk pada rangkaian.
III.3 Prosedur Percobaan
III.3.1 Rangkaian Integrator

(a) (b)
Gambar III.8 (a) Skema Rangkaian (b) Rangkaian Integrator
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan ini.
2. Mengkalibrasi Osiloskop.
3. Merangkai komponen yang dimulai dari pemasangan kapasitor dan resistor
pada papan rangkaian.
4. Memasang kabel jumper pada kaki resitor dan kapasitor.
5. Menyambungkan kutub positif channel 1osiloskop pada kabel jumper yang
terhubung kekaki resistor.
6. Menyambungkan kutub negatif channel 1 osiloskop pada kabel jumper yang
terhubung pada kaki negatif kapasitor.
7. Memasang kutub positif channel 2 osiloskop pada kabel jumper yang
terhubung pada kaki positif kapasitor.
8. Menyambungkan negatif channel 2 osiloskop pada kabel jumper yang
terhubung pada kaki negatif kapasitor.
9. Memasang kutub positif signal generator pada kabel jumper yang terhubung
pada kaki resistor.
10. Memasang kutub negatif signal generator pada kabel jumper yang terhubung
pada kaki negatif kapasitor.
III.3.2 Rangkaian Differensiator

(a) (b)
Gambar III.9 (a) Skema Rangkaian (b) Rangkaian Differensiator
1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Merangkai komponen resistor dan kapasitor pada papan rangkaian, sehingga
sesuai dengan rangkain diatas.
3. Mengkalibasi Osiloskop pada channel 1 dan channel 2, selanjutnya channel 1
akan menunjukkan nilai/bentuk tegangan keluaran pada rangkaian.
4. Memberi masukan pada rangkaian berupa isyarat gelombang persegi.
5. Mengamati bentuk isyarat gelombang yang terbentuk pada osiloskop.
6. Hitung tegangan yang dihasilkan pada saat frekuensi 100 Hz, 200 Hz, 500
Hz, 1000 Hz, 2000 Hz, dan 5000 Hz.
7. Mencatat hasil yang didapatkan dalam tabel yang telah disiapkan.
III.3.3 Rangkaian RLC Paralel

(a) (b)
Gambar III.10 (a) Skema Rangkaian (b) Rangkaian RLC Paralel
1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Mengkalibrasi Osiloskop.
3. Merangkai komponen listrik seperti induktor, kapasitor dan resistor pada
papan rangkaian.
4. Memasang kabel jumper pada kaki-kaki komponen.
5. Menyambungkan kutub positif signal generator kekabel jumper yang
terhubung pada kaki resistor.
6. Memasang kutub negatif signal generator ke kabel jumper yang terhubung
pada kaki induktor.
7. Menyambungkan kutub positif channel 1 osiloskop ke kabel jumper yang
terhubung ke kaki resistor.
8. Memasang kutub negatif channel 1 osiloskop ke kabel jumper yang
terhubung kekaki induktor.
9. Menyambungkan kutub positif channel 2 osiloskop kekabel jumper yang
terhubung pada kaki negatif kapasitor.
10. Memasang kutub negatif channel 2 osiloskop kekabel jumper yang terhubung
pada kaki induktor.
III.3.4 Rangkaian RLC Seri

(a) (b)
Gambar III.11 (a) Skema Rangkaian (b) Rangkaian RLC Seri
1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Mengkalibrasi Osiloskop.
3. Merangkai kapasitor, resistor dan induktor pada papan rangkaian.
4. Menyambung kutub positif channel 1 osiloskop pada kabel jumper yang
menghubungkan pada kaki resistor.
5. Menghubungkan kutub negatif channel 1 osiloskop pada kabel jumper yang
terhubung pada kaki resistor.
6. Memasang kutub positif channel 2 osiloskop pada kabel jumper yang
terhubung pada kaki induktor dan kapasitor.
7. Menyambungkan kutub negatif channel 2 osiloskop pada kabel jumper yang
terhubung pada kaki resistor.
8. Memasang kutub positif dan negatif signal generator pada kabel jumper yang
berbeda yang terhubung pada kaki resistor.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil
IV.1.1 Tabel Data
IV.1.1.1 Tabel Rangkaian Integrator
No Frekuensi Tegangan Masukan Tegangan Keluaran
( Hz ) ( Vin ) (V) ( Vout ) (V)
1 100 1 0,7
2 200 1 0,7
3 500 0,8 0,6
4 1000 0,75 0,5
5 2000 2,2 0,9
6 5000 1,6 0,9

IV.1.1.2 Tabel Rangkaian Differensiator


No Frekuensi Tegangan Masukan Tegangan Keluaran
( Hz ) ( Vin ) (V) ( Vout ) (V)
1 100 1 0,36
2 200 1 0,36
3 500 1 0,36
4 1000 0,7 0,34
5 2000 0,7 0,28
6 5000 0,36 0,2

IV.1.1.3 Tabel Rangkaian RLC Paralel


No Frekuensi Tegangan Masukan Tegangan Keluaran
( Hz ) ( Vin ) (V) ( Vout ) (V)
1 100 10-4 0,04
2 200 0,05 0,04
3 500 0,05 0,44
No Frekuensi Tegangan Masukan Tegangan Keluaran
(Hz) (Vin) (V) ( Vout ) (V)
4 1000 0,05 0,44
5 2000 5,5.10-4 0,01
6 5000 0,13 0,08

IV.1.1.4 Tabel Rangkaian RLC Seri


No Frekuensi Tegangan Masukan Tegangan Keluaran
( Hz ) ( Vin ) (V) ( Vout ) (V)
1 100 10-3 2.10-4
2 200 10-3 1,8.10-4
3 500 1,1.10-3 1,8.10-4
4 1000 1,1.10-3 1,6.10-4
5 2000 1,1.10-3 1,4.10-4
6 5000 1,05. 10-3 1,6.10-4

IV.1.2 Pengolahan Data


G=

a. Untuk menghitung penguatan tegangan dari rangkaian integrator


0,7
1. G = = 0,7
1
0,7
2. G = = 0,7
1
0,6
3. G = 0,8 = 0,75
0,5
4. G = 0,75 = 0,67
0,9
5. G = 2,2 = 0,409
0,9
6. G = 1,6 = 0,5625

b. Untuk menghitung penguatan tegangan dari rangkaian differensiator


0,36
1. G = = 0,36
1
0,36
2. G = = 0,36
1
0,36
3. G = = 0,36
1
0,34
4. G = = 0,485
0,7
0,28
5. G = = 0,4
0,7
0,2
6. G = 0,36 = 0,555

c. Untuk menghitung rangkaian RLC paralel


0,04
1. G = 0,0001 = 400
0,04
2. G = 0,05 = 0,8
0,44
3. G = 0,05 = 8,8
0,44
4. G = 0,05 = 8,8
0,01
5. G = 0,00055 = 18,18
0,08
6. G = 0,13 = 0,615

d. Untuk menghitung rangkaian RLC seri


0,0002
1. G = = 0,2
0,001
0,00018
2. G = = 0,18
0,001
0,00018
3. G = = 0,163
0,0011
0,00016
4. G = = 0,145
0,0011
0,00014
5. G = = 0,127
0,0011
0,00016
6. G = 0,00105 = 0,145

IV.1.3 Gambar dan Grafik


IV.1.3.1 Gambar
1. Vin dan Vout Rangkaian Integrator
a. 100 Hz
(a) Vin (b) Vout
b. 200 Hz

(a) Vin (b) Vout


c. 500 Hz

(a) Vin (b) Vout


d. 1000 Hz

(a) Vin (b) Vout


e. 2000 Hz

(a) Vin (b) Vout


f. 5000 Hz

(a) Vin (b) Vout


2. Vin dan VoutRangkaian Differensiator
a. 100 Hz

(a) Vin (b) Vout


b. 200 Hz

(a) Vin (b) Vout


c. 500 Hz

(a) Vin (b) Vout


d. 1000 Hz

(a) Vin (b) Vout


e. 2000 Hz

(a) Vin (b) Vout


3. Vin dan VoutRLC Paralel
a. 100 Hz

(a) Vin (b) Vout


b. 200 Hz

(a) Vin (b) Vout


c. 500 Hz

(a) Vin (b) Vout


d. 1000 Hz

(a) Vin (b) Vout


e. 2000 Hz

(a) Vin (b) Vout


f. 5000 Hz

(a) Vin (b) Vout


4. Vin dan Vout RLC Seri
a. 100 Hz

(a) Vin (b) Vout


b. 200 Hz

(a) Vin (b) Vout


c. 500 Hz

(b) Vin (b) Vout


d. 1000 Hz

(a) Vin (b) Vout


IV.1.3.2 Grafik
Integrator

2.5

2
tegangan (V)

1.5

1 Vin
Vout
0.5

0
100 200 500 1000 2000 5000
Frekuensi (Hz)

Differensiator

1.2

0.8
tegangan (V)

0.6
Vin
0.4
Series 2
0.2

0
100 200 500 1000 2000 5000
Frekuensi (Hz)
RLC Paralel

0.5
0.45
0.4
0.35
tegangan (V)

0.3
0.25
0.2 Vin
0.15 Vout
0.1
0.05
0
100 200 500 1000 2000 5000

Frekuensi (Hz)

RLC Seri

0.0012

0.001

0.0008
tegangan (V)

0.0006
Vin
0.0004 Vout

0.0002

0
100 200 500 1000 2000 5000

Frekuensi (Hz)
IV.2 Pembahasan
Dari hasil percobaan, dapat dilihat bahwa tanggapan dari rangkaian
integrator terhadap isyarat persegi memiliki bentuk segitiga yang berupa isyarat
keluaran, sedangkan tanggapan dari rangkaian differensiator bentuk isyarat mirip
dengan isyarat masukan, akan tetapi puncaknya miring. Hasil percobaan ini,
sesuai dengan teori dari tanggapan rangkaian integrator dan differensiator.
Pada rangkaian tapis lolos tinggi sama dengan model rangkaian RC pada
rangkaian differensiator. Namun, pada percobaan ini yang diukur adalah tegangan
keluaran dan tegangan masukannya. Frekuensi yang diberikan pada signal
generator yaitu dari 100 Hz hingga 5 KHz, sedangkan tegangan masukan dapat
dihitung pada channel 1 dan tegangan keluaran pada channel 2 osiloskop. Dapat
dilihat bahwa semakin besar frekuensi yang diberikan maka akan semakin besar
pula tegangan keluarannya. Namun, pada frekuensi 1000 Hz sampai 5000 Hz,
tegangan keluaran mengalami penurunan. Hal ini disebabkan beberapa faktor
yaitu alat yang digunakan tidak efisien lagi atau rusak dan dapat pula disebabkan
dari kesalahan pengamat dalam membaca hasil percobaan.
Pada rangkaian tapis lolos rendah frekuensi yang diberikan juga sama pada
rangkaian tapis lolos tinggi. Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan
bahwa semakin besar frekuensi yang diberikan maka tegangan keluarannya akan
semakin kecil. Namun, pada frekuensi 2000 Hz dan 5000 Hz, tegangan keluaran
mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan beberapa faktor yaitu alat yang
digunakan tidak efisien lagi atau rusak dan dapat pula disebabkan dari kesalahan
pengamat dalam membaca hasil percobaan. Pada frekuensi 100 Hz, 200 Hz, 500
Hz, dan 1000 Hz tegangan keluaran berturut-turut 0.7 V, 0.7 V, 0.6 V,dan 0.5 V.
Pada rangkaian RLC paralel juga diberi perlakuan yang sama seperti pada
rangkaian tapis lolos tinggi dan rangkaian tapis lolos rendah. Dari hasil percobaan
kesimpulan yang didapatkan sama seperti pada rangkaian tapis lolos tinggi yaitu
semakin besar frekuensi yang diberikan maka akan semakin besar pula tegangan
keluarannya. Pada frekuensi 100 Hz, 200 Hz, 500 Hz dan 1000 Hz diperoleh
tegangan keluaran berturut -turut 0.04 V, 0.04 V, 0.44 V dan 0.44 V. Namun pada
frekuensi 2000 Hz dan 5000 Hz, tegangan keluaran mengalami penurunan. Hal ini
disebabkan beberapa faktor yaitu alat yang digunakan tidak efisien lagi atau rusak
dan dapat pula disebabkan dari kesalahan pengamat dalam membaca hasil
percobaan.
Pada rangkaian RLC seri juga diberi perlakuan yang sama seperti pada
rangkaian tapis lolos tinggi, rangkaian tapis lolos rendah dan rangkaian RLC
paralel. Dari hasil percobaan kesimpulan yang didapatkan sama seperti pada
rangkaian tapis lolos rendah yaitu semakin besar frekuensi yang diberikan maka
tegangan keluarannya akan semakin kecil. Pada frekuensi 100 Hz, 200 Hz, 500
Hz, 1000 Hz dan 2000 Hz diperoleh tegangan keluaran berturut -turut 2.10-4V,
1,8.10-4V, 1,8.10-4V, 1,6.10-4V dan1,4.10-4V. Namun pada frekuensi 5000 Hz,
tegangan keluaran mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan beberapa faktor yaitu
alat yang digunakan tidak efisien lagi atau rusak dan dapat pula disebabkan dari
kesalahan pengamat dalam membaca hasil percobaan.
BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari percobaan ini yaitu ;
1. Bentuk isyarat keluaran dari rangkaian integrator yaitu gelombang segitiga
sedangkan isyarat keluaran dari rangkaian differensiator hampir sama dengan
isyarat masukan namun runcing pada puncak gelombangnya.
2. Untuk rangkaian tapis lolos rendah, frekuensi yang diberikan berbanding
terbalik dengan tegangan keluarannya yaitu semakin besar frekuensi yang
diberikan maka tegangan keluarannya akan semakin kecil, sedangkan tapis
lolos tinggi frekuensi dan tegangan keluarannya berbanding lurus yaitu
semakin besar frekuensi yang diberikan maka tegangan keluarannya akan
semakin besar pula.
3. Pada rangkaian RLC paralel frekuensi yang diberikan dengan tegangan
keluarannya berbanding lurus yaitu semakin besar frekuensi yang diberikan
maka semakin tegangan keluarannya akan semakin besar pula, sedangkan
rangkaian RLC seri frekuensi dan tegangan keluarannya berbanding terbalik
yaitu semakin besar frekuensi yang diberikan maka tegangan keluarannya
akan semakin kecil.
V.2 Saran
V.2.1 Saran untuk Laboratorium
Sebaiknya ruangan yang digunakan saat praktikum lebih luas agar praktikan
lebih leluasa bergerak dan tidak saling mengganggu dengan praktikan lain.
V.2.1 Saran untuk Asisten
Cara menjelaskan sudah cukup jelas dan mudah dimengerti. Terus
tingkatkan kemampuan mengajar.
DAFTAR PUSTAKA

[1]Giancoli, Douglas C. 2014. Fisika Edisi Ketujuh Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

[2]Abdullah, Mikrajuddin. 2007. Suplemen Materi Kuliah FI-1102Fisika Dasar


II. Bandung: ITB.

[3] Yunarvika, Vina. 2008.Hubungan Lama Paparan Arus Listrik Bolak-Balik di


Air terhadap Derajat Kerusakan Otot Jantung Tikus Wistar. Hlm. 5-8.

[4] Mehta, Arpan R. 2015. Montage Matters The Influence of Transcranial


Alternating Current Stimulation on Human Physiological Tremor. Brain
Stimulation, hlm. 499-508.

[5] Bishop, Owen. 2004. Dasar-dasar Elektronika. Jakarta: Erlangga.

[6] Djatmiko, Istanto W. 2009. Performansi Parameter Motor Induksi Tiga Fasa
dengan Sumber Tegangan dan Frekuensi Variabel. Jurnal Edukasi
Elektro, vol. 5, no.1, hlm. 19-28.