Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN REUMATHOID ATRITIS

1. KONSEP DASAR PENYAKIT


A. PENGERTIAN
Kata arthritis berasal dari dua kata Yunani. Pertama, arthron, yang berarti
sendi. Kedua, itis yang berarti peradangan. Secara harfiah, arthritis berarti radang
sendi. Sedangkan Reumatoid arthritis adalah suatu penyakit autoimun dimana
persendian (biasanya sendi tangan dan kaki) mengalami peradangan, sehingga terjadi
pembengkakan, nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam
sendi (Gordon, 2002).
Reumatoid arthritis adalah gangguan autoimun kronik yang menyebabkan
proses inflamasi pada sendi (Lemone & Burke, 2001).
Reumathoid atritis adalah penyakit imfalamsi non bakterial yang bersifat
sistemik, progresif, cenderung kronik dan menggenai sendi serta jaringan ikat
sendinsecara simetris. (Chairuddin,2003)

B. PENYEBAB
Penyebab utama kelainan ini tidak diketahui. Ada beberapa teori yang
dikemukakan mengenai penyebab rheumatoid atritis yaitu :

1. Infeksi Streptokokus hemolitikus dan Streptokokus non-hemolitikus


2. Endokrin
3. Autoimun
4. Metabolic
5. Faktor genetic serta factor lingkungan (pekerjaan dan psikososial)
Pada saat ini, rheumatoid atritis diduga disebabkan oleh fator autoimun dan
infeksi. Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II; faktor infeksi mungkin
disebabkan oleh virus dan organisme mikroplasma atau group difterioid yang
menghasilkan antigen kolagen tipe II dari tulang rawan sendi penderita.

Adapun Faktor risiko yang akan meningkatkan risiko terkena nya artritis reumatoid
adalah;
1. Jenis Kelamin.
Perempuan lebih mudah terkena AR daripada laki-laki. Perbandingannya
adalah 2-3:1.
2. Umur.
Artritis reumatoid biasanya timbul antara umur 40 sampai 60 tahun. Namun
penyakit ini juga dapat terjadi pada dewasa tua dan anak-anak (artritis
reumatoid juvenil)
3. Riwayat Keluarga.
Apabila anggota keluarga anda ada yang menderita penyakit artritis
Reumatoid maka anda kemungkinan besar akan terkena juga.
4. Merokok.
Merokok dapat meningkatkan risiko terkena artritis reumatoid.

C. EPIDEMOLOGI
Penyakit artritis rematoid merupakan suatu penyakit yang telah lama dikenal
dan tersebar diseluruh dunia serta melibatkan semua ras dan kelompok etnik. Artritis
rheumatoid sering dijumpai pada wanita, dengan perbandingan wanita denga pria
sebesar 3: 1. kecenderungan wanita untuk menderita artritis reumatoid dan sering
dijumpai remisi pada wanita yang sedang hamil, hal ini menimbulkan dugaan
terdapatnya faktor keseimbangan hormonal sebagai salah satu faktor yang
berpengaruh pada penyakit ini.
Prevalensi RA relatif konstan yaitu berkisar antara 0,5-1% di seluruh dunia
(Suarjana, 2009). Insiden dan prevalensi RA bervariasi berdasarkan lokasi geografis
dan diantara berbagai grup etnik dalam suatu negara. Misalnya, masyarakat asli
Ameika, Yakima, Pima, dan suku-suku Chippewa di Amerika Utara dilaporkan
memiliki rasio prevalensi dari berbagai studi sebesar 7%. Prevalensi ini merupakan
prevalensi tertinggi di dunia. Beda halnya, dengan studi pada populasi di Afrika dan
Asia yang menunjukkan prevalensi lebih rendah 10 sekitar 0,2%-0,4% (Longo, 2012).
Prevalensi RA di India dan di negara barat kurang lebih sama yaitu sekitar 0,75%
(Suarjana, 2009).
Sedangkan, di Jerman sekitar sepertiga orang menderita nyeri sendi kronik
mulai dari usia 20 tahun dan juga seperduanya berusia 40 tahun. Satu dari penyebab
utama nyeri yang timbul, dengan konsekuensi yang serius, merupakan RA . RA adalah
penyakit inflamasi reumatik yang paling sering dengan prevalensi 0,5% sampai 0,8%
pada populasi dewasa. Insidensinya meningkat seiring usia, 25 hingga 30 orang
dewasa per 100.000 pria dewasa dan 50 hingga 60 per 100.000 wanita dewasa
(Schneider, 2013). Studi RA di Negara Amerika Latin dan Afrika menunjukkan
predominansi angka kejadian pada wanita lebih besar dari pada laki-laki, dengan rasio
6-8:1 (Longo, 2012).
Di Cina, Indonesia dan Filipina prevalensinya kurang dari 0,4% baik didaerah
urban ataupun rural. Prevalensi RA yang hanya sebesar 1 sampai 2 % diseluruh dunia,
padawanita di atas 50 tahun prevalensinya meningkat hampir 5%. Puncakkejadian RA
terjadi pada usia 20-45 tahun. Berdasarkan penelitian para ahlidari universitas
Alabama, AS, wanita yang memderita RA mempunyaikemungkintan 60% lebih besar
untuk meninggal dibanding yang tidakmenderita penyakit tersebut (Afriyanti, 2011).

D. PATOFISIOLOGI
Pada Reumatoid arthritis, reaksi autoimun (yang dijelaskan sebelumnya)
terutama terjadi dalam jaringan sinovial. Proses fagositosis menghasilkan enzim-
enzim dalam sendi. Enzim-enzim tersebut akan memecah kolagen sehingga terjadi
edema, proliferasi membran sinovial dan akhirnya pembentukan pannus. Pannus akan
menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang. Akibatnya adalah
menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi. Otot akan turut
terkena karena serabut otot akan mengalami perubahan degeneratif dengan
menghilangnya elastisitas otot dan kekuatan kontraksi otot (Smeltzer & Bare, 2002).

Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema, kongesti


vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular. Peradangan yang berkelanjutan,
sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular kartilago dari sendi. Pada
persendian ini granulasi membentuk pannus, atau penutup yang menutupi kartilago.
Pannus masuk ke tulang sub chondria. Jaringan granulasi menguat karena radang
menimbulkan gangguan pada nutrisi kartilago artikuer. Kartilago menjadi nekrosis.

Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan sendi. Bila


kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara permukaan sendi, karena
jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis). Kerusakan kartilago dan tulang
menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau
dislokasi dari persendian. Invasi dari tulang sub chondrial bisa menyebkan
osteoporosis setempat.

Lamanya Reumatoid arthritis berbeda pada setiap orang ditandai dengan adanya
masa serangan dan tidak adanya serangan. Sementara ada orang yang sembuh dari
serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi. Namun pada sebagian kecil
individu terjadi progresif yang cepat ditandai dengan kerusakan sendi yang terus
menerus dan terjadi vaskulitis yang difus (Long, 1996).

Pathway

E. GEJALA KLINIS
Pasien-pasien dengan RA akan menunjukan tanda dan gejala seperti :

1. Nyeri persendian
2. Bengkak (Reumatoid nodule)
3. Kekakuan pada sendi terutama setelah bangun tidur pada pagi hari
4. Terbatasnya pergerakan
5. Sendi-sendi terasa panas
6. Demam (pireksia)
7. Anemia
8. Berat badan menurun
9. Kekuatan berkurang
10. Tampak warna kemerahan di sekitar sendi
11. Perubahan ukuran pada sendi dari ukuran normal
12. Pasien tampak anemik

Pada tahap yang lanjut akan ditemukan tanda dan gejala seperti :

1. Gerakan menjadi terbatas


2. Adanya nyeri tekan
3. Deformitas bertambah pembengkakan
4. Kelemahan
5. Depresi

Gejala Extraartikular :

1. Pada jantung : Reumatoid heard diseasure, Valvula lesion (gangguan


katub), Pericarditis, Myocarditis
2. Pada mata : Keratokonjungtivitis, Scleritis
3. Pada lympa : Lhymphadenopathy
4. Pada thyroid : Lyphocytic thyroiditis
5. Pada otot : Mycsitis

Ada beberapa gambaran klinis yang lazim ditemukan pada penderita artritis
reumatoid. Gambaran klinis ini tidak harus timbul sekaligus pada saat yang bersamaan
oleh karena penyakit ini memiliki gambaran klinis yang sangat bervariasi.

1. Gejala-gejala konstitusional, misalnya lelah, anoreksia, berat badan menurun


dan demam. Terkadang kelelahan dapat demikian hebatnya.
2. Poliartritis simetris terutama pada sendi perifer, termasuk sendi-sendi di
tangan, namun biasanya tidak melibatkan sendi-sendi interfalangs distal.
Hampir semua sendi diartrodial dapat terserang.
3. Kekakuan di pagi hari selama lebih dari 1 jam: dapat bersifat generalisata
tatapi terutama menyerang sendi-sendi. Kekakuan ini berbeda dengan
kekakuan sendi pada osteoartritis, yang biasanya hanya berlangsung selama
beberapa menit dan selalu kurang dari 1 jam.
4. Artritis erosif merupakan ciri khas penyakit ini pada gambaran radiologik.
Peradangan sendi yang kronik mengakibatkan erosi di tepi tulang dan ini dapat
dilihat pada radiogram.
5. Deformitas: kerusakan dari struktur-struktur penunjang sendi dengan
perjalanan penyakit. Pergeseran ulnar atau deviasi jari, subluksasi sendi
metakarpofalangeal, deformitas boutonniere dan leher angsa adalah beberapa
deformitas tangan yang sering dijumpai pada penderita. Pada kaki terdapat
protrusi (tonjolan) kaput metatarsal yang timbul sekunder dari subluksasi
metatarsal. Sendi-sendi besar juga dapat terserang dan mengalami
pengurangan kemampuan bergerak terutama dalam melakukan gerak ekstensi.
6. Nodula-nodula reumatoid adalah massa subkutan yang ditemukan pada sekitar
sepertiga orang dewasa penderita arthritis Reumatoid. Lokasi yang paling
sering dari deformitas ini adalah bursa olekranon (sendi siku ) atau di
sepanjang permukaan ekstensor dari lengan; walaupun demikian nodula-
nodula ini dapat juga timbul pada tempat-tempat lainnya. Adanya nodula-
nodula ini biasanya merupakan suatu petunjuk suatu penyakit yang aktif dan
lebih berat.
7. Manifestasi ekstra-artikular: artritis reumatoid juga dapat menyerang organ-
organ lain di luar sendi. Jantung (perikarditis), paru-paru (pleuritis), mata, dan
pembuluh darah dapat rusak.

Gejala umum Reumatoid arthritis datang dan pergi, tergantung pada tingkat
peradangan jaringan. Ketika jaringan tubuh meradang, penyakit ini aktif. Ketika
jaringan berhenti meradang, penyakit ini tidak aktif. Remisi dapat terjadi secara
spontan atau dengan pengobatan dan pada minggu-minggu terakhir bisa bulan atau
tahun. Selama remisi, gejala penyakit hilang dan orang-orang pada umumnya merasa
sehat ketika penyakit ini aktif lagi (kambuh) ataupun gejala kembali (Reeves, Roux &
Lockhart, 2001).

Ketika penyakit ini aktif gejala dapat termasuk kelelahan, kehilangan energi,
kurangnya nafsu makan, demam kelas rendah, nyeri otot dan sendi dan kekakuan. Otot
dan kekauan sendi biasanya paling sering di pagi hari. Disamping itu juga manifestasi
klinis Reumatoid arthritis sangat bervariasi dan biasanya mencerminkan stadium serta
beratnya penyakit. Rasa nyeri, pembengkakan, panas, eritema dan gangguan fungsi
merupakan gambaran klinis yang klasik untuk Reumatoid arthritis (Smeltzer & Bare,
2002). Gejala sistemik dari Reumatoid arthritis adalah mudah capek, lemah, lesu,
takikardi, berat badan menurun, anemia (Long, 1996).

Pola karakteristik dari persendian yang terkena adalah : mulai pada persendian
kecil di tangan, pergelangan, dan kaki. Secara progresif mengenai persendian, lutut,
bahu, pinggul, siku, pergelangan kaki, tulang belakang serviks, dan
temporomandibular. Awitan biasanya akut, bilateral dan simetris. Persendian dapat
teraba hangat, bengkak, kaku pada pagi hari berlangsung selama lebih dari 30 menit.
Deformitas tangan dan kaki adalah hal yang umum.

Jika ditinjau dari stadium penyakit, terdapat tiga stadium yaitu :

1. Stadium sinovitis
Pada stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang ditandai
hiperemi, edema karena kongesti, nyeri pada saat bergerak maupun istirahat,
bengkak dan kekakuan.
2. Stadium destruksi
Pada stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial terjadi juga
pada jaringan sekitarnya yang ditandai adanya kontraksi tendon.
3. Stadium deformitas
Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang kali,
deformitas dan gangguan fungsi secara menetap.

Keterbatasan fungsi sendi dapat terjadi sekalipun stadium pada penyakit yang
dini sebelum terjadi perubahan tulang dan ketika terdapat reaksi inflamasi yang akut
pada sendi-sendi tersebut. Persendian yang teraba panas, membengkak, tidak mudah
digerakkan dan pasien cendrung menjaga atau melinddungi sendi tersebut dengan
imobilisasi. Imobilisasi dalam waktu yang lama dapat menimbulkan kontraktur
sehingga terjadi deformitas jaringan lunak. Deformitas dapat disebabkan oleh
ketidaksejajajran sendi yang terjadi ketika sebuah tulang tergeser terhadap lainnya dan
menghilangkan rongga sendi (Smeltzer & Bare, 2002).

Adapun tanda dan gejala yang umum ditemukan atau sangat serius terjadi pada
lanjut usia menurut Buffer (2010), yaitu: sendi terasa kaku pada pagi hari, bermula
sakit dan kekakuan pada daerah lutut, bahu, siku, pergelangan tangan dan kaki, juga
pada jari-jari, mulai terlihat bengkak setelah beberapa bulan, bila diraba akan terasa
hangat, terjadi kemerahan dan terasa sakit/nyeri, bila sudah tidak tertahan dapat
menyebabkan demam, dapat terjadi berulang

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Tes serologi : Sedimentasi eritrosit meningkat, Darah bisa terjadi anemia dan
leukositosis, Reumatoid faktor, terjadi 50-90% penderita
2. Sinar X dari sendi yang sakit : menunjukkan pembengkakan pada jaringan lunak,
erosi sendi, dan osteoporosis dari tulang yang berdekatan ( perubahan awal )
berkembang menjadi formasi kista tulang, memperkecil jarak sendi dan
subluksasio. Perubahan osteoartristik yang terjadi secara bersamaan.
3. Scan radionuklida :mengidentifikasi peradangan sinovium
4. Artroskopi Langsung : Visualisasi dari area yang menunjukkan irregularitas/
degenerasi tulang pada sendi
5. Aspirasi cairan sinovial : mungkin menunjukkan volume yang lebih besar dari
normal: buram, berkabut, munculnya warna kuning ( respon inflamasi, produk-
produk pembuangan degeneratif ); elevasi SDP dan lekosit, penurunan viskositas
dan komplemen ( C3 dan C4 ).
6. Biopsi membran sinovial: menunjukkan perubahan inflamasi dan perkembangan
panas.
7. Pemeriksaan cairan sendi melalui biopsi, FNA (Fine Needle Aspiration) atau
atroskopi; cairan sendi terlihat keruh karena mengandung banyak leukosit dan
kurang kental dibanding cairan sendi yang normal.

Kriteria diagnostik Artritis Reumatoid adalah terdapat poli- arthritis yang simetris
yang mengenai sendi-sendi proksimal jari tangan dan kaki serta menetap sekurang-
kurangnya 6 minggu atau lebih bila ditemukan nodul subkutan atau gambaran erosi
peri-artikuler pada foto rontgen

Beberapa faktor yang turut dalam memeberikan kontribusi pada penegakan


diagnosis Reumatoid arthritis, yaitu nodul Reumatoid, inflamasi sendi yang
ditemukan pada saat palpasi dan hasil-hasil pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaaan
laboratorium menunjukkan peninggian laju endap darah dan factor Reumatoid yang
positif sekitar 70%; pada awal penyakit faktor ini negatif. Jumlah sel darah merah dan
komplemen C4 menurun. Pemeriksaan C- reaktifprotein (CRP) dan antibody
antinukleus (ANA) dapat menunjukan hasil yang positif. Artrosentesis akan
memperlihatkan cairan sinovial yang keruh, berwarna mirip susu atau kuning gelap
dan mengandung banyak sel inflamasi, seperti leukosit dan komplemen (Smeltzer &
Bare, 2002). Pemeriksaan sinar-X dilakukan untuk membantu penegakan diagnosis
dan memantau perjalanan penyakitnya. Foto rongen akan memperlihatkan erosi tulang
yang khas dan penyempitan rongga sendi yang terjadi dalam perjalanan penyakit
tersebut (Smeltzer & Bare, 2002).

G. PENATALAKSANAAN

Tujuan utama terapi adalah:

1. Meringankan rasa nyeri dan peradangan


2. memperatahankan fungsi sendi dan kapasitas fungsional maksimal penderita.
3. Mencegah atau memperbaiki deformitas

Program terapi dasar terdiri dari lima komponen dibawah ini yang merupakan sarana
pembantu untuk mecapai tujuan-tujuan tersebut yaitu:

1. Istirahat
2. Latihan fisik
3. Panas
4. Pengobatan
a. Aspirin (anti nyeri)dosis antara 8 s.d 25 tablet perhari, kadar salisilat
serum yang diharapakan adalah 20-25 mg per 100 ml
b. Natrium kolin dan asetamenofen meningkatkan toleransi saluran
cerna terhadap terapi obat
c. Obat anti malaria (hidroksiklorokuin, klorokuin) dosis 200 600
mg/hari mengatasi keluhan sendi, memiliki efek steroid sparing
sehingga menurunkan kebutuhan steroid yang diperlukan.
d. Garam emas
e. Kortikosteroid
5. Nutrisi diet untuk penurunan berat badan yang berlebih

Bila Reumatoid artritis progresif dan, menyebabkan kerusakan sendi, pembedahan


dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri dan memperbaiki fungsi. Pembedahan dan
indikasinya sebagai berikut:
a. Sinovektomi, untuk mencegah artritis pada sendi tertentu, untuk
mempertahankan fungsi sendi dan untuk mencegah timbulnya kembali
inflamasi.
b. Arthrotomi, yaitu dengan membuka persendian.
c. Arthrodesis, sering dilaksanakan pada lutut, tumit dan pergelangan
tangan.
d. Arthroplasty, pembedahan dengan cara membuat kembali dataran pada
persendian.

Terapi di mulai dengan pendidikan pasien mengenai penyakitnya dan penatalaksanaan


yang akan dilakukan sehingga terjalin hubungan baik antara pasien dan keluarganya
dengan dokter atau tim pengobatan yang merawatnya. Tanpa hubungan yang baik
akan sukar untuk dapat memelihara ketaatan pasien untuk tetap berobat dalam suatu
jangka waktu yang lama (Mansjoer, dkk. 2001).

Penanganan medik pemberian salsilat atau NSAID dalam dosis terapeutik.


Kalau diberikan dalam dosis terapeutik yang penuh, obat-obat ini akan memberikan
efek anti inflamasi maupun analgesik. Namun pasien perlu diberitahukan untuk
menggunakan obat menurut resep dokter agar kadar obat yang konsisten dalam darah
bisa dipertahankan sehingga keefektifan obat anti-inflamasi tersebut dapat mencapai
tingkat yang optimal (Smeltzer & Bare, 2002).

Kecenderungan yang terdapat dalam penatalaksanaan Reumatoid arthritis


menuju pendekatan farmakologi yang lebih agresif pada stadium penyakit yang lebih
dini. Kesempatan bagi pengendalian gejala dan perbaikan penatalaksanaan penyakit
terdapat dalam dua tahun pertama awitan penyakit tersebut (Smeltzer & Bare, 2002).

Menjaga supaya rematik tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari,


sebaiknya digunakan air hangat bila mandi pada pagi hari. Dengan air hangat
pergerakan sendi menjadi lebih mudah bergerak. Selain mengobati, kita juga bisa
mencegah datangnya penyakit ini, seperti: tidak melakukan olahraga secara
berlebihan, menjaga berat badan tetap stabil, menjaga asupan makanan selalu
seimbang sesuai dengan kebutuhan tubuh, terutama banyak memakan ikan laut.
Mengkonsumsi suplemen bisa menjadi pilihan, terutama yang mengandung Omega 3.
Didalam omega 3 terdapat zat yang sangat efektif untuk memelihara persendian agar
tetap lentur.
2. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
Data dasar pengkajian pasien tergantung padwa keparahan dan keterlibatan organ-organ
lainnya ( misalnya mata, jantung, paru-paru, ginjal ), tahapan misalnya eksaserbasi akut
atau remisi dan keberadaaan bersama bentuk-bentuk arthritis lainnya.
1. Aktivitas/ istirahat
Gejala :
Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stres pada
sendi; kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi bilateral dan
simetris.Limitasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu
senggang, pekerjaan,keletihan.
Tanda :
a. Malaise
b. Keterbatasan rentang gerak; atrofi otot, kulit, kontraktur/ kelaianan
pada sendi.
2. Kardiovaskuler
Gejala :
Fenomena Raynaud jari tangan/ kaki ( pucat intermitten, sianosis,
kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal).
3. Integritas ego
Gejala :
a. Faktor-faktor stres akut/ kronis: mis; finansial, pekerjaan,
ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan.
b. Keputusan dan ketidakberdayaan ( situasi ketidakmampuan ) Ancaman
pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi ( misalnya
ketergantungan pada orang lain).
4. Makanan/ cairan
Gejala:
a. Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/
cairan adekuat: mual, anoreksia
b. Kesulitan untuk mengunyah ( keterlibatan TMJ )
Tanda :
a. Penurunan berat badan
b. Kekeringan pada membran mukosa.
5. Hygiene
Gejala :
Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi.
6. Neurosensori
Gejala :
a. Kebas, semutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari
tangan.
b. Pembengkakan sendi simetris.
7. Nyeri/ kenyamanan
Gejala:
Fase akut dari nyeri ( mungkin tidak disertai oleh pembengkakan
jaringan lunak pada sendi ).
8. Keamanan
Gejala :
a. Kulit mengkilat, tegang, nodul subkutaneus.
b. Lesi kulit, ulkus kaki.
c. Kesulitan dalam ringan dalam menangani tugas/ pemeliharaan rumah
tangga.
d. Demam ringan menetap
e. Kekeringan pada meta dan membran mukosa.
9. Interaksi sosial
Gejala :
Kerusakan interaksi sosial dengan keluarga/ orang lain; perubahan
peran; isolasi.
10. Penyuluhan/ pembelajaran
Gejala :
a. Riwayat AR pada keluarga ( pada awitan remaja )
b. Penggunaan makanan kesehatan, vitamin, penyembuhan arthritis
tanpa pengujian.
c. Riwayat perikarditis, lesi katup, fibrosis pulmonal, pleuritis.
d. Pertimbangan : DRG Menunjukkan rerata lama dirawat : 4,8 hari.
e. Rencana Pemulanagan: Mungkin membutuhkan bantuan pada
transportasi, aktivitas perawatan diri, dan tugas/ pemeliharaan rumah
tangga.

Pemeriksaan fisik
1. Inspeksi dan palpasi persendian untuk masing-masing sisi (bilateral), amati
warna kulit, ukuran, lembut tidaknya kulit, dan pembengkakan.
2. Lakukan pengukuran passive range of mation pada sendi-sendi sinovial
a. Catat bila ada deviasi (keterbatasan gerak sendi)
b. Catat bila ada krepitasi
c. Catat bila terjadi nyeri saat sendi digerakkan
3. Lakukan inspeksi dan palpasi otot-otot skelet secara bilateral
a. Catat bia ada atrofi, tonus yang berkurang
b. Ukur kekuatan otot
4. Kaji tingkat nyeri, derajat dan mulainya
5. Kaji aktivitas/kegiatan sehari-hari
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut/ kronis b/d agen cedera biologis
2. Hambatan mobilitas fisik b/d gangguan muskuloskeletal
3. Defisit perawatan diri b/d gangguan muskuloskeletal
4. Kurang Pengetahuan b/d keterbatasan kognitif
5. Resiko infeksi b/d trauma

C. INTERVENSI

N DIAGNO TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC) RASIONAL


O SA
1 Nyeri Setelah dilakukan 1. Kaji keluhan 1. Membantu dalam
akut/ menentukan
tindakan keperawatan nyeri, catat
kronis b/d
agen selama ...x24 jam lokasi dan kebutuhan
cedera manajemen nyeri
diharapkan tidak ada intensitas
biologis
dan keefektifan
Keluhan nyeri, dengan (skala 0-10).
program
kriteria : Catat faktor-
2. Matras yang
1. Mampu mengontrol faktor yang
lembut/ empuk,
nyeri (tahu penyebab mempercepat bantal yang besar
nyeri, mampu dan tanda- akan mencegah
menggunakan tehnik tanda rasa pemeliharaan
nonfarmakologi untuk sakit non kesejajaran tubuh
mengurangi nyeri, verbal yang tepat,
mencari bantuan) 2. Berikan menempatkan

2. Melaporkan bahwa matras/ kasur stress pada sendi


yang sakit.
nyeri berkurang keras, bantal
Peninggian linen
dengan menggunakan kecil,.
tempat tidur
manajemen nyeri Tinggikan
menurunkan
3. Mampu mengenali linen tempat
tekanan pada sendi
nyeri (skala, intensitas, tidur sesuai yang
frekuensi dan tanda kebutuhan terinflamasi/nyeri
nyeri) 3. Tempatkan/ 3. Mengistirahatkan
pantau sendi-sendi yang
penggunaan sakit dan
4. Menyatakan rasa bantal, mempertahankan
nyaman setelah nyeri karung pasir, posisi netral.

berkurang gulungan Penggunaan brace


dapat menurunkan
5. Tanda vital dalam trokhanter,
nyeri dan dapat
rentang normal bebat, brace.
mengurangi
6. Tidak mengalami 4. Dorong
kerusakan pada
gangguan tidur untuk sering
sendi
mengubah 4. Mencegah
posisi,. Bantu terjadinya
untuk kelelahan umum
bergerak di dan kekakuan
tempat tidur, sendi.
sokong sendi Menstabilkan

yang sakit di sendi, mengurangi


gerakan/ rasa sakit
atas dan
pada sendi
bawah,
5. Panas
hindari
meningkatkan
gerakan yang
relaksasi otot, dan
menyentak. mobilitas,
5. Anjurkan menurunkan rasa
pasien untuk sakit dan
mandi air melepaskan
hangat atau kekakuan di pagi
mandi hari. Sensitivitas

pancuran pada panas dapat


dihilangkan dan
pada waktu
luka dermal dapat
bangun
disembuhkan
dan/atau pada
6. Meningkatkan
waktu tidur.
relaksasi/
Sediakan mengurangi nyeri
waslap 7. Meningkatkan
hangat untuk realaksasi,
mengompres mengurangi
sendi-sendi tegangan otot/
yang sakit spasme,

beberapa kali memudahkan


untuk ikut serta
sehari.
dalam terapi
Pantau suhu
8. Sebagai anti
air kompres,
inflamasi dan efek
air mandi,
analgesik ringan
dan dalam mengurangi
sebagainya. kekakuan dan
6. Berikan meningkatkan
masase yang mobilitas.
lembut 9. Rasa dingin dapat
7. Ajarkan menghilangkan

teknik non nyeri dan bengkak


selama periode
farmakologi
akut
(relaksasi,
distraksi,
relaksasi
progresif)
8. Beri obat
sebelum
aktivitas/
latihan yang
direncanakan
sesuai
petunjuk.
9. Kolaborasi:
Berikan obat-
obatan sesuai
petunjuk
(mis:asetil
salisilat)
10. Berikan
kompres
dingin jika
dibutuhkan

2 Hambatan Setelah dilakukan tindakan 1. Evaluasi/ 1. Tingkat aktivitas/


keperawatan selama ...x24
mobilitas lanjutkan latihan
jam diharapkan mobilitas
fisik b/d fisik baik dengan kriteria : pemantauan tergantung dari
1. Klien meningkat
gangguan tingkat perkembangan/
dalamaktivitasfisik.
muskulosk 2. Mengerti tujuan dari inflamasi/ rasa resolusi dari
peningkatan mobilitas
eletal sakit pada sendi peoses inflamasi.
3. Memverbalisasikan
perasaan dalam 2. Pertahankan 2. Istirahat sistemik
meningkatkan
istirahat tirah dianjurkan
kekuatan dan
kemampuan berpindah baring/ duduk selama
4. Memperagakan
jika diperlukan eksaserbasi akut
penggunaan alat Bantu
untuk mobilisasi jadwal aktivitas dan seluruh fase
(walker)
untuk penyakit yang
memberikan penting untuk
periode mencegah
istirahat yang kelelahan
terus menerus mempertahankan
dan tidur kekuatan
malam hari 3. empertahankan/
yang tidak meningkatkan
terganggu. fungsi sendi,
3. Bantu dengan kekuatan otot dan
rentang gerak stamina umum.
aktif/pasif, Catatan : latihan
demikiqan juga tidak adekuat
latihan resistif menimbulkan
dan isometris kekakuan sendi,
jika karenanya
aktivitas yang
memungkinkan berlebihan dapat
. merusak sendi.
4. Ubah posisi 4. Menghilangkan
dengan sering tekanan pada
dengan jumlah jaringan dan
personel cukup. meningkatkan
Demonstrasika sirkulasi.
n/ bantu tehnik Memepermudah
pemindahan perawatan diri
dan dan kemandirian
penggunaan pasien. Tehnik
bantuan pemindahan yang
mobilitas, mis, tepat dapat
trapeze mencegah
5. Posisikan robekan abrasi
dengan bantal, kulit.
kantung pasir, 5. Meningkatkan
gulungan stabilitas (
trokanter, mengurangi
bebat, brace resiko cidera )
6. Gunakan bantal dan
kecil/tipis di memerptahankan
bawah leher. posisi sendi yang
7. Dorong pasien diperlukan dan
mempertahanka kesejajaran
n postur tegak tubuh,
dan duduk mengurangi
tinggi, berdiri, kontraktor.
dan berjalan 6. Mencegah fleksi
8. Berikan leher.
lingkungan 7. Memaksimalkan
yang aman, fungsi sendi dan
misalnya
menaikkan mempertahankan
kursi, mobilitas.
menggunakan 8. Menghindari
pegangan cidera akibat
tangga pada kecelakaan/
toilet, jatuh.
penggunaan 9. Berguna dalam
kursi roda. memformulasika
9. Kolaborasi: n program
konsul dengan latihan/ aktivitas
fisoterapi. yang berdasarkan
10. Kolaborasi: pada kebutuhan
Berikan matras individual dan
busa/ pengubah dalam
tekanan. mengidentifikasi
11. Kolaborasi: kan alat.
berikan obat- 10. Menurunkan
obatan sesuai tekanan pada
indikasi jaringan yang
(steroid). mudah pecah
untuk
mengurangi
risiko imobilitas.
11. Mungkin
dibutuhkan untuk
menekan sistem
inflamasi akut.
3 Defisit per Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat 1. Mengidentifikasi
fungsi fisik tingkat bantuan
awatan tindakan keperawatan
2. Pertahankan /dukungan yang
diri b/d selama 3x24 jam mobilitas, diperlukan
kontrol
gangguan diharapkan klien dapat
terhadap 2. Mendukung
muskulosk mengatur kegiatan sehari- nyeri dan kemandirian
progran fisik/emosional
eletal hari, dengan criteria hasil:
latihan 3. Menyiapkan
1. Menyatakan 3. Kaji meningkatkan
hambatan kemandirian yang
kenyamanan terhadap
terhadap akan
kemampuan untuk partisipasi meningkatkan
dalam harga diri
melakukan ADLs
perawatan 4. Memberikan
2. Dapat melakukan diri, kesempatanuntuk
identifikasi dapat melakukan
ADLs dengan batuan
untuk aktivitas seccara
modifikasi mandiri
lingkungan
4. Identifikasi
untuk
perawatan
yang
diperlukan,
misalnya;lift,
peninggian
dudukan
toilet, kursi

4 Kurang Seelah diberikan asuhan 1. Kaji kemampuan 1. Mengetahui


keperawatan selama
Pengetahu pasien dalam respond an
...x24jam diharapakan
an b/d pengerahuan pasien dapat mengungkapkan kemampuan
bertambah dengan kriteria
keterbatas intruksi yang kognitif pasien
hasil
an kognitif 1. Pasien dan diberikan dalam menerima
keluarga
2. Berikan jadwal informasi
menyatakan
pemahaman obat yang di 2. Tindakan ini
tentang penyakit,
gunakan meliputi dapat
kondisi, prognosis
dan program nama obat, dosis, meningkatkan
pengobatan
tujuan dan efek koordinasi dan
2. Pasien dan
keluarga mampu samping kesadaran pasien
melaksanakan 3. Berikan terhadap
prosedur yang
informasi pengobatan yang
dijelaskan secara
benar mengenai alat- teratur
3. Pasien dan
alat bantu yang 3. mengurangi
keluarga mampu
menjelaskan mungkin paksaan untuk
kembali apa yang
dibutuhkan menggunakan
dijelaskan
perawat/tim 4. Jelaskan pada sendi dan
kesehatan lainnya
pasien menegenai memungkinkan
penyakit yang individu untuk
dialami. ikut serta secara
5. Dorong lebih nyaman
pemasukan diet dalam aktivitas
rendah purin dan yang dibutuhkan
cairan yang 4. memberikan
adekuat pengetahuan
pasien sehingga
dapat
menghindari
terjadinya
serangan
berulang
5. meningkatkan
penyembuhan.
5 Gangguan Setelah dilakukan tindakan 1. Dorong 1. Mengidentifikasi
keperawatan selama 3x24 pengungkapan bagaimana
Citra penyakit
jam diharapkan gangguan mengenai
Tubuh / citra tubuh berkurang masalah tentang mempengaruhi
dengan kriteria hasil : proses penyakit, persepsi diri dan
Perubahan interaksi dengan
1. Mengungkapkan harapan masa
Penampila peningkatan rasa depan. orang lain akan
percaya diri dalam 2. Diskusikan arti menentukan
n Peran kebutuhan
kemampuan untuk dari kehilangan/
berhubung menghadapi perubahan pada terhadap
penyakit, pasien/orang intervensi/
an dengan konseling lebih
perubahan pada terdekat.
perubahan gaya hidup, dan Memastikan lanjut
kemungkinan bagaimana 2. Isyarat verbal/non
kemampu verbal orang
keterbatasan pandangaqn
terdekat dapat
an untuk 2. Menyusun rencana pribadi pasien mempunyai
realistis untuk dalam pengaruh mayor
melaksana pada bagaimana
masa depan. memfungsikan
kan tugas- gaya hidup pasien
sehari-hari, memandang
tugas dirinya sendiri
termasuk aspek-
umum, aspek seksual. 3. Nyeri konstan akan
3. Diskusikan melelahkan, dan
peningkat perasaan marah
persepsi
an pasienmengenai dan bermusuhan
bagaimana orang umum terjadi
penggunaa 4. Dapat
terdekat
n energi, menerima menunjukkan
keterbatasan. emosional ataupun
ketidaksei metode koping
4. Akui dan terima
maladaptive,
mbangan perasaan berduka,
membutuhkan
bermusuhan,
mobilitas. intervensi lebih
ketergantungan.
lanjut
5. Perhatikan
5. Membantu pasien
perilaku menarik untuk
diri, penggunaan mempertahankan
menyangkal atau kontrol diri, yang
terlalu dapat
memperhatikan meningkatkan
perubahan perasaan harga diri
6. Susun batasan 6. Meningkatkan
pada perilaku mal perasaan harga
adaptif. Bantu diri, mendorong
pasien untuk kemandirian, dan
mengidentifikasi mendorong
perilaku positif berpartisipasi
yang dapat dalam terapi
membantu 7. Mempertahankan
koping penampilan yang
7. Ikut sertakan dapat
pasien dalam meningkatkan citra
merencanakan diri
perawatan dan 8. Memungkinkan
membuat jadwal pasien untuk
aktivitas merasa senang
8. Bantu dalam terhadap dirinya
kebutuhan sendiri.
perawatan yang Menguatkan
diperlukan perilaku positif.
9. Berikan bantuan Meningkatkan rasa
positif bila perlu. percaya diri
10. Kolaborasi: 9. Pasien/orang
Rujuk pada terdekat mungkin
konseling membutuhkan
psikiatri, mis: dukungan selama
perawat spesialis berhadapan
psikiatri, dengan proses
psikolog. jangka panjang/
11. Kolaborasi: ketidakmampuan
Berikan obat- 10. Mungkin
obatan sesuai dibutuhkan pada
petunjuk, mis; sat munculnya
anti ansietas dan depresi hebat
obat-obatan sampai pasien
peningkat alam mengembangkan
perasaan. kemapuan koping
12. Berikan yang lebih efektif
kesempatan untuk
mengidentifikasi
rasa takut/
kesalahan konsep
dan
menghadapinya
secara langsung