Anda di halaman 1dari 7

KOLEKSI SPESIMEN

Oleh:
Nama : Fajar Nur Sulistyahadi
NIM : B1A015091
Rombongan : VIII
Kelompok :6
Asisten : Faidatun Nimah

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN 1

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Koleksi spesimen merupakan aset ilmiah yang penting sebagai bahan


penelitian keanekaragaman fauna baik taraf nasional ataupun taraf internasional.
Kegiatan pengelolaan yang dapat dilakukanadalah proses pengawetan, peraratan,
perekaman data, pengawasan dalam penggunaan spesimen ilmiah. terdapat sekitar
2.700.000 spesimen hewan atau binatang sebagai koleksi ilmiah zoologi yang terdiri
atas 25.500 spesimen mamalia, 30.500 spesimen burung, 2.280.000 spesimen
serangga, 11.000 spesimen amfibi, 8.000 spesimen reptil, 140.000 spesimen ikan,
180.000 spesimen moluska dan sekitar 25.000 spesimen invertebrata lain (Sofyan,
2010).
Koleksi spesimen yaitu pengawetan yang digunakan dalam mempertahankan
organ spesimen. Manfaat dan dayaguna koleksi spesimen menurut Suhardjono
(1999), diantaranya yaitu:
1. Membantu dalam identifikasi atau mengenali jenisnya.
2. Mendiagnosa atau mendeskripsikan karakter pemiliknya.
3. Membantu mempelajari hubungan kekerabatan.
4. Mempelajari pola sebaran geografi.
5. Mempelajari pola musim keberadaanya.
6. Mengetahui habitat.
7. Mengetahui tumbuhan atau hewan inang.
8. Mengetahui biologi: perilaku, daur hidup.
Ilmuwan tidak dapat mengambil manfaat pada spesimen yang tidak
diawetkan. Kegiatan koleksi hewan perlu memperhatikan beberapa hal, diantaranya
jangan sampai menggangu keberadaan satwa langka atau merusak sisa-sisa
peninggalan. Sisa-sisa peninggalan tersebut dapat ditemukan di Museum-museum.
Museum menyediakan akses ke pada publik karena masyarakat tidak memiliki
pengetahuan yang spesifik tentang apa yang dilihat (Rae, 2014). Semua spesimen
koleksi harus diberi label yang berisi keterangan tantang nama spesies, lokasi
penemuan tanggal koleksi dan data lain yang diperlukan. Label harus ditulis ketika
spesimen diawetkan agar tidak terjadi kesalahan informasi mengenai spesies awetan
(Jasin, 1989).
B. Tujuan

Tujuan dari praktikum Koleksi Spesimen, antara lain:


1. Mengetahui berbagai teknik pengawetan spesimen.
2. Melakukan pengawetan terhadap hewan avertebrata dan vertebrata.
3. Membuat koleksi spesimen yang dapat bertahan lama.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Tjakrawidjaya (1999), koleksi spesimen yaitu pengawetan yang


digunakan dalam mempertahankan organ spesimen. Teknik koleksi dibedakan
menjadi dua yaitu koleksi basah dan koleksi kering. Koleksi basah adalah koleksi
yang disimpan dalam larutan pengawet ethanol 70%. Koleksi basah digunakan
untuk kelas Reptil dan Pisces. Sementara koleksi kering berupa tulang dan kulit yang
diawetkan dengan bahan kimia formalin atau boraks. Koleksi kering dilakukan untuk
hewan seperti kelas Mamalia, Amphibi dan Aves. Menurut Yayuk et al. (2010),
pengawetan hewan dapat dilakukan dengan cara-cara seperti berikut:
1. Pengawetan tulang (rangka)
Pembuatan preparat tulang dilakukan dengan terlebih dahulu membedah dan
menguliti spesimen hingga bersih dari kulitnya. Kemudian dilakukan perebusan
selama 30 menit hingga 2 jam agar memudahkan pemisahan otot dari rangka, lalu
didinginkan secara alami. Selanjutnya dibersihkan otot atau daging yang masih
menempel pada rangka dengan hati-hati sampai bersih, lalu dibersihkan dan
direndam dalam pemutih agar tulangnya putih bersih. Terakhir, ditata rapi, diberi
label, dan diidentifikasi.
2. Pengawetan insekta (insektarium)
Pembuatan preparat awetan insekta dilakukan dengan terlebih dahulu
mematikan serangga dengan cara serangga dimasukkan ke dalam botol atau toples
yang didalamnya telah diletakkan busa berkloroform, sebelumnya diletakkan
pembatas dari kertas yang agak tebal yang telah dibolong-bolongi agar serangga
tersebut mati tanpa terkena basahan kloroform. Setelah mati, bagian luar tubuh
serangga diolesi alkohol 70% lalu ditusuk dengan office pin atau jarum pentul,
ditancapkan pada sterofoam. Menurut Afifah et al. (2014), insektarium adalah
awetan serangga dengan bahan pengawet alkohol 96% dan formalin 5% yang
dikemas dalam bentuk koleksi media pembelajaran. Herbarium dan insektarium
sebelum digunakan penelitian terlebih dahulu telah divalidasi oleh pakar media,
sehingga diketahui layak atau tidak digunakan dalam penelitian. Media Insektarium
dapat membantu dalam mempelajari morfologi serangga secara langsung dengan
objek yang disajikan dalam media (Sulilo, 2015).
3. Pengawetan kering (taksidermi)
Taksidermi adalah salah satu teknik pengawetan untuk mumifikasi selama
berabad-abad (Dermici et al., 2012). Pembuatan preparat taksidermi dilakukan
dengan terlebih dahulu membius spesimen dengan kloroform atau eter. Spesimen
yang biasa dibuat taksidermi adalah Mamalia dan Aves. Setelah hewan mati, dibuat
torehan dari perut depan alat kelamin sampai dada, kemudian lukanya dibubuhi
tepung jagung. Setelahnya, hewan dikuliti menggunakan scalpel, dihilangkan lemak-
lemaknya, dam setelah bersih lalu boraks ditaburi dan gulungan kapas dibuat sebesar
atau sepanjang tubuh hewan lalu dimasukkan sebagai pengganti dagingnya.
Kemudian dibentuk seperti perawakannya saat masih hidup. Terakhir, bekas
torehannya dijahit, mulutnya dijahit segitiga.
4. Pengawetan basah
Spesimen yang biasa dibuat awetan basah biasanya bangsa Crustacea atau
hewan avertebrata lainnya. Pembuatannya terbilang cukup sederhana prosesnya.
Hewan dimatikan dengan kloroform atau eter, dibersihkan, lalu dimasukkan ke
dalam toples transparan berisi alkohol 70% yang sesuai ukuran atau lebih besar
ukurannya dari hewan tersebut. Biasanya dilengkapi dengan kaca transparan untuk
alas hewan agar tetap kedudukannya, kemudian diberi keterangan menggunakan
kertas kedap air.
BAB III. MATERI DAN METODE
A. Materi

Alat-alat yang digunakan pada praktikum acara Koleksi Spesimen adalah


jaring serangga, killing bottle, kapas, karton, pinset, office pin atau jarum, styrofoam
alat tulis dan kamera.
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum acara Koleksi Spesimen adalah
Chloroform, (Koleksi spesimen kelompok masing-masing).

B. Metode

Metode yang dilakukan pada praktikum acara Koleksi Spesimen Insektarium


adalah:
1. Serangga ditangkap dengan jaring serangga.
2. Dimasukkan kedalam killing bottle yang telah diberi chloroform.
3. Serangga yang telah mati segera dikeluarkan.
4. Sayap serangga dibuka disatu sisi dan dijepit dengan kertas kalkir dan jarum.
5. Serangga yang telah kaku segera diposisikan dengan menancapkan jarum pada
bagian thoraks dan samping tubuh serangga. Alas menggunakan styrofoam
6. Serangga diberi label.
7. Disimpan dalam tempat kering dan kedap udara.
8. Dibuat laporan dari hasil praktikum oleh praktikan.
DAFTAR REFERENSI

Afifah, N., Sudarmin & Widianti, T. 2014. Efektivitas Penggunaan Herbarium Dan
Insektarium Pada Tema Klasifikasi Makhluk Hidup Sebagai Suplemen Media
Pembelajaran IPA Terpadu Kelas VII Mts. Unnes Science Education Journal,
3(2), pp. 494-501.
Demirci, B., Gultiken M.E., Karayigit, M.O. dan Atalar, K. 2012. Is Frozen
Taxidermy an Alternative Method for Demonstration of Dermatopaties.
Eurasian Journal of Veterinary Sciences, 28(3), pp.172-176.
Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan Vertebrata dan Invertebrata. Surabaya: Sinar
Wijaya.
Rae, A. 2014.Exploring The Common Ground Between Organic Artifacts and
Natural History Specimens: We Share Problems Can We Share Solutions?.
Journal of Paleontological Techniques. Vol (13), pp. 101-110.
Sofyan, M.R. 2010. Pemaknaan Koleksi. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Suhardjono, Y.R. 1999. Buku Pegangan Pengelolaan Koleksi Spesimen Zoologi.
Bogor: LIPI Press.
Susilo, M. J. 2015. Analisis Kualitas Media Pembelajaran Insektarium dan
Herbarium untuk Mata Pelajaran Biologi Sekolah Menengah. Jurnal
BIOEDUKATIKA, Vol. 3 (1), pp. 10-15.
Tjakrawidjaya, F. 1999. Arsenic In Taxidermy Collections. Bogor: Puslitbang
Biologi.
Yayuk, S., Hartini, U. & Sartiami, E. 2010. Koleksi, Preservasi, Identifikasi, Kurasi
dan Manajemen Data. Bandung: Angkasa Duta.