Anda di halaman 1dari 4

Nama : Viky Yudi Alvian

NIM : 1520025051
Prodi : Kesehatan Masyarakat

HUBUNGAN ANTARA INFLASI, PENGANGGURAN, DAN PERTUMBUHAN


EKONOMI

1. Pengertian Inflasi
Inflasi (inflation) adalah kenaikan tingkat harga barang dan jasa secara umum
dalam jangka waktu tertentu. Tingkat inflasi dapat diestimasikan dengan mengukur
persentase perubahan dalam indeks harga konsumen yang mengindikasikan harga
dari sejumlah besar produk konsumen (Madura, 2007). Menurut Oner (2010), tingkat
kenaikan harga barang atau jasa yang dihitung dalam inflasi biasanya berskala
nasional. Tetapi inflasi juga dapat dihitung dalam skala kecil untuk beberapa
barang/jasa tertentu misalnya makanan dan jasa potong rambut. Apapun konteksnya,
inflasi merepresntasikan seberapa besar kenaikan harga suatu barang/jasa dalam
jangka waktu tertentu, umumnya dalam waktu satu tahun.

Menurut Saputra (2013), Secara umum, inflasi memiliki dampak positif dan
dampak negatif, tergantung pada derajat inflasi tersebut. Apabila inflasi itu ringan,
menurut kebanyakan ahli ekonomi inflasi tersebut justru mempunyai pengaruh yang
positif bagi perekonomian yaitu dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu
meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja.
Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, (hiperinflasi) keadaan perekonomian
menjadi kacau dan perekonomian menjadi lesu, orang menjadi tidak bersemangat
kerja, menabung atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat
dengan cepat, para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan
swasta serta kaum buruh akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga
sehingga hidup juga menjadi semakin terpuruk dari waktu ke waktu.

:Laju inflasi di sebuah negara dapat dikontrol dan dikendalikan. Laju inflasi
di sebuah negara dapat dikendalikan dengan melakukan beberapa hal seperti (1)
meningkatkan supply bahan pangan, (2) mengurangi defisit anggaran pendapatan dan
belanja negara, (3) meningkatkan cadangan devisa, dan (4) memperbaiki dan
meningkatkan kemampuan sisi penawaran agregat (Atmadja, 1999).

1
2. Pengertian Pengangguran
Menurut Gupta (2006), istilah pengangguran ditujukan kepada semua orang
yang tidak terikat secara penuh di dalam semua aktivitas yang produktif.
Pengangguran merupakan suatu keadaan yakni seseorang yang tergolong dalam
angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan tetapi mereka belum memperoleh
pekerjaan tersebut (Sukirno, 1994). Alghofari (2010) menyatakan bahwa terjadinya
pengangguran disebabkan oleh ketidakseimbangan antara jumlah pencari kerja
dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah tenaga
kerja yang ditawarkan lebih banyak dari jumlah tenaga kerja yang diminta.
Berdasarkan cirinya, pengangguran dibagi ke dalam empat kelompok (Sukirno,
1994) :
a. Pengangguran terbuka
Pengangguran yang disebabkan oleh pertumbuhan jumlah tenaga kerja
yang lebih tinggi dari jumlah pertumbuhan lapangan pekerjaan.
b. Pengangguran tersembunyi
Pengangguran ini terjadi ketika didapati bahwa jumlah perkerja dalam
suatu kegiatan ekonomi lebih banyak dari yang sebenarnya diperlukan.
Kelebihan tenaga kerja tersebut digolongkan sebagai pengangguran
tersembunyi. Contohnya, pelayan restoran yang lebih banyak dari yang
diperlukan dan keluarga peani dengan anggota keluarga yang besar yang
mengerjakan luas tanah yang sangat kecil.
c. Pengangguran bermusim
Pengangguran ini banyak terjadi pada sektor pertanian dan perikanan.
Contohnya, ketika musim kemarau petani tidak bisa mengerjakan
ladangnya karena kekurangan air dan nelayan tidak bisa melaut ketika
ombak di laut sedang tinggi. Apabila dalam masa tersebut petani dan
nelayan tidak melakukan pekerjaan lain, maka mereka dapat digolongkan
dalam pengangguran bermusim.
d. Setengah menganggur
Seseorang dapat digolongkan setengah menganggur ketika ia tidak bekerja
sepenuh waktu, dan jam kerja mereka dalah jauh lebih rendah dari orang

2
yang bekerja normal. Mereka mungkin hanya bekerja satu hingga dua hari
dalam seminggu.
3. Pengertian Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi adalah suatu perubahan tingkat kegiatan ekonomi yang
berlangsung dari tahun ke tahun (Sukirno, 2007). Pertumbuhan ekonomi
menunjukkan sejauh mana aktivitas perekonomian akan menghasilkan tambahan
pendapatan masyarakat pada suatu periode tertentu. Indikator yang digunakan untuk
mengukur pertumbuhan ekonomi adalah tingkat pertumbuhan Produk Domestik
Bruto (PDB). Alasan dipilihnya tingkat pertumbuhan PDB sebagai indikator
pertumbuhan ekonomi adalah PDB merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan
oleh seluruh aktivitas produksi di dalam perekonomian, hal ini berarti peningkatan
PDB juga mencerminkan peningkatan balas jasa kepada faktor-faktor produksi
tersebut (Mankiw dkk., 2006).
Pertumbuhan ekonomi di suatu negeara dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Ekonom klasik menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi, yaitu (1) jumlah penduduk, (2) jumlah stok barang dan
modal, (3) luas tanah dan kekayaan alam, (4) tingkat teknologi yang digunakan
(Kuncoro, 2004)
4. Hubungan Antara Inflasi, Pengangguran, dan Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu alat ukur kinerja perekonomian
di suatu negara, salah satunya di Indonesia. Tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata
Indonesia sempat menjadi salah satu yang tertinggi di dunia pada tahun 2009-2013
yaitu sebesar 5,9% mengalahkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, Eropa, dan
Jepang pada kurun waktu yang sama (Setneg, 2014). Di sisi lain, jumlah
pengangguran di Indonesia masih cukup banyak. Data BPS pada bulan Agustus 2013
menunjukkan sebanyak 7,39 juta jiwa penduduk Indonesia masih menganggur.
Selain itu, harga-harga barang kebutuhan pokok banyak dikeluhkan oleh masyarakat
meskipun tingkat inflasi di Indonesia pada tahun 2015 masih tergolong rendah yaitu
2,37% hingga bulan November (BPS, 2015). Oleh karena itu, hubungan antara
inflasi, pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi perlu dikaji secara mendalam.
Sebuah studi yang dilakukan oleh Pramesthi (2011) di Kabupaten Trenggalek
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang berbanding terbalik antara jumlah

3
pengangguran dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Hal ini didukung oleh teori
yang disampaikan oleh Murni (2006) yaitu meningkatnya pengangguran dapat
membuat pertumbuhan ekonomi menurun seiring dengan menurunnya daya beli
masyarakat yang menganggur tersebut, sehingga pengusaha mengurangi
investasinya.
Dalam studi yang sama, Pramesthi (2011) juga menyatakan bahwa terdapat
hubungan yang berbanding lurus antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Hal ini
disebabkan karena laju inflasi yang normal dapat mendorong kenaikan produksi.
Sebab, dalam keadaan inflasi biasanya kenaikan harga barang mendahului kenaikan
upah sehingga laba perusahaan meningkat. Meningkatnya laba perusahaan tersebut
akan mendorong kegiatan investasi. Sehingga, kesempatan kerja dan pendapatan
akan meningkat dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dari hasil pengolahan data, pengangguran dan inflasi mempunyai pengaruh
sebesar 77% (signifikan) terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Trenggalek.
Sehingga, dapat disimpulkan bahwa inflasi, pengangguran, dan pertumbuhan
ekonomi memiliki kaitan yang sangat erat (Pramesthi, 2011).