Anda di halaman 1dari 10

Istri Shalihah, Keutamaan dan Sifat-sifatnya

Disadur dari tulisan Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

Apa yang sering diangankan oleh kebanyakan laki-laki tentang wanita yang bakal
menjadi pendamping hidupnya? Cantik, kaya, punya kedudukan, karir bagus, dan baik
pada suami. Inilah keinginan yang banyak muncul. Sebuah keinginan yang lebih tepat
disebut angan-angan, karena jarang ada wanita yang memiliki sifat demikian.
Kebanyakan laki-laki lebih memperhatikan penampilan dzahir, sementara unsur akhlak
dari wanita tersebut kurang diperhatikan. Padahal akhlak dari pasangan hidupnya itulah
yang akan banyak berpengaruh terhadap kebahagiaan rumah tangganya.

Seorang muslim yang shalih, ketika membangun mahligai rumah tangga maka yang
menjadi dambaan dan cita-citanya adalah agar kehidupan rumah tangganya kelak
berjalan dengan baik, dipenuhi mawaddah wa rahmah, sarat dengan kebahagiaan,
adanya saling taawun (tolong menolong), saling memahami dan saling mengerti. Dia
juga mendamba memiliki istri yang pandai memposisikan diri untuk menjadi naungan
ketenangan bagi suami dan tempat beristirahat dari ruwetnya kehidupan di luar. Ia
berharap dari rumah tangga itu kelak akan lahir anak turunannya yang shalih yang
menjadi qurratu ayun (penyejuk mata) baginya.

Demikian harapan demi harapan dirajutnya sambil meminta kepada Ar-Rabbul Ala
(Allah Yang Maha Tinggi) agar dimudahkan segala urusannya.

Namun tentunya apa yang menjadi dambaan seorang muslim ini tidak akan terwujud
dengan baik terkecuali bila wanita yang dipilihnya untuk menemani hidupnya adalah
wanita shalihah. Karena hanya wanita shalihah yang dapat menjadi teman hidup yang
sebenarnya dalam suka maupun lara, yang akan membantu dan mendorong suaminya
untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Taala. Hanya dalam diri wanita shalihah
tertanam aqidah, tauhid, akhlak yang mulia dan budi pekerti yang luhur. Dia akan
berupaya taawun dengan suaminya untuk menjadikan rumah tangganya bangunan
yang kuat lagi kokoh guna menyiapkan generasi Islam yang diridhai Ar-Rahman.

1
Sebaliknya, bila yang dipilih sebagai pendamping hidup adalah wanita yang tidak
terdidik dalam agama[1] dan tidak berpegang dengan agama, maka dia akan menjadi
duri dalam daging dan musuh dalam selimut bagi sang suami. Akibatnya rumah tangga
selalu sarat dengan keruwetan, keributan, dan perselisihan. Istri seperti inilah yang
sering dikeluhkan oleh para suami, sampai-sampai ada di antara mereka yang berkata:
Aku telah berbuat baik kepadanya dan memenuhi semua haknya namun ia selalu
menyakitiku.

Duhai kiranya wanita itu tahu betapa besar hak suaminya, duhai kiranya dia tahu akibat
yang akan diperoleh dengan menyakiti dan melukai hati suaminya.! Namun dari mana
pengetahuan dan kesadaran itu akan didapatkan bila dia jauh dari pengajaran dan
bimbingan agamanya yang haq? Wallahu Al-Mustaan.

Keutamaan wanita shalihah


Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma meriwayatkan sabda Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam:

Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan[2] dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah
wanita shalihah. (HR. Muslim no. 1467)

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Umar ibnul Khaththab


radhiallahu anhu:

Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki,


yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya[3], bila diperintah[4]
akan mentaatinya[5], dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya. (HR. Abu Dawud
no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jamiush Shahih 3/57:
Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.)

Berkata Al-Qadhi Iyyadh rahimahullah: Tatkala Nabi Shallallahu alaihi wa sallam

2
menerangkan kepada para sahabatnya bahwa tidak berdosa mereka mengumpulkan
harta selama mereka menunaikan zakatnya, beliau memandang perlunya memberi
kabar gembira kepada mereka dengan menganjurkan mereka kepada apa yang lebih
baik dan lebih kekal yaitu istri yang shalihah yang cantik (lahir batinnya) karena ia akan
selalu bersamamu menemanimu. Bila engkau pandang menyenangkanmu, ia tunaikan
kebutuhanmu bila engkau membutuhkannya. Engkau dapat bermusyawarah dengannya
dalam perkara yang dapat membantumu dan ia akan menjaga rahasiamu. Engkau
dapat meminta bantuannya dalam keperluan-keperluanmu, ia mentaati perintahmu dan
bila engkau meninggalkannya ia akan menjaga hartamu dan memelihara/mengasuh
anak-anakmu. (Aunul Mabud, 5/57)

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah pula bersabda:

: . :
.

Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat
tinggal yang luas/lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang
nyaman. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek,
istri yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang
sempit. (HR. Ibnu Hibban dalam Al-Mawarid hal. 302, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil
dalam Al-Jamiush Shahih, 3/57 dan Asy-Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-
Shahihah no. 282)

Ketika Umar ibnul Khaththab radhiallahu anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam: Wahai Rasulullah, harta apakah yang sebaiknya kita miliki? Beliau
Shallallahu alaihi wa sallam menjawab:

Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang
senantiasa berdzikir dan istri mukminah yang akan menolongmu dalam perkara akhirat.
(HR. Ibnu Majah no. 1856, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam
Shahih Ibnu Majah no. 1505)

3
Cukuplah kemuliaan dan keutamaan bagi wanita shalihah dengan anjuran Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam bagi lelaki yang ingin menikah untuk mengutamakannya
dari yang selainnya. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


. :

Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya,
karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya
agama, engkau akan beruntung. (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)

Empat hal tersebut merupakan faktor penyebab dipersuntingnya seorang wanita dan ini
merupakan pengabaran berdasarkan kenyataan yang biasa terjadi di tengah manusia,
bukan suatu perintah untuk mengumpulkan perkara-perkara tersebut, demikian kata Al-
Imam Al-Qurthubi rahimahullah. Namun dzahir hadits ini menunjukkan boleh menikahi
wanita karena salah satu dari empat perkara tersebut, akan tetapi memilih wanita
karena agamanya lebih utama. (Fathul Bari, 9/164)


Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: ( ) , maknanya: yang sepatutnya

bagi seorang yang beragama dan memiliki muruah (adab) untuk menjadikan agama
sebagai petunjuk pandangannya dalam segala sesuatu terlebih lagi dalam suatu
perkara yang akan tinggal lama bersamanya (istri). Maka Rasulullah Shallallahu alaihi
wa sallam memerintahkan untuk mendapatkan seorang wanita yang memiliki agama di
mana hal ini merupakan puncak keinginannya. (Fathul Bari, 9/164)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: Dalam hadits ini ada anjuran untuk
berteman/bersahabat dengan orang yang memiliki agama dalam segala sesuatu karena
ia akan mengambil manfaat dari akhlak mereka (teman yang baik tersebut), berkah
mereka, baiknya jalan mereka, dan aman dari mendapatkan kerusakan mereka.
(Syarah Shahih Muslim, 10/52)

Sifat-sifat Istri Shalihah


Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

Wanita (istri) shalihah adalah yang taat lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada
dikarenakan Allah telah memelihara mereka. (An-Nisa: 34)

Dalam ayat yang mulia di atas disebutkan di antara sifat wanita shalihah adalah taat
kepada Allah dan kepada suaminya dalam perkara yang maruf[6] lagi memelihara
dirinya ketika suaminya tidak berada di sampingnya.

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sadi rahimahullah berkata: Tugas seorang istri
adalah menunaikan ketaatan kepada Rabbnya dan taat kepada suaminya, karena itulah
Allah berfirman: Wanita shalihah adalah yang taat, yakni taat kepada Allah Subhanahu
wa Taala, Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada. Yakni taat kepada suami
mereka bahkan ketika suaminya tidak ada (sedang bepergian, pen.), dia menjaga
suaminya dengan menjaga dirinya dan harta suaminya. (Taisir Al-Karimir Rahman,
hal.177)

Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menghadapi permasalahan dengan istri-


istrinya sampai beliau bersumpah tidak akan mencampuri mereka selama sebulan,
Allah Subhanahu wa Taala menyatakan kepada Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa
sallam:

Jika sampai Nabi menceraikan kalian[7], mudah-mudahan Tuhannya akan memberi


ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian, muslimat, mukminat,
qanitat, taibat, abidat, saihat dari kalangan janda ataupun gadis. (At-Tahrim: 5)

Dalam ayat yang mulia di atas disebutkan beberapa sifat istri yang shalihah yaitu:
Muslimat: wanita-wanita yang ikhlas (kepada Allah Subhanahu wa Taala), tunduk
kepada perintah Allah taala dan perintah Rasul-Nya.
a. Mukminat: wanita-wanita yang membenarkan perintah dan larangan Allah
Subhanahu wa Taala

5
b. Qanitat: wanita-wanita yang taat
c. Taibat: wanita-wanita yang selalu bertaubat dari dosa-dosa mereka, selalu
kembali kepada perintah (perkara yang ditetapkan) Rasulullah Shallallahu alaihi
wa sallam walaupun harus meninggalkan apa yang disenangi oleh hawa nafsu
mereka.
d. Abidat: wanita-wanita yang banyak melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu
wa Taala (dengan mentauhidkannya karena semua yang dimaksud dengan
ibadah kepada Allah Subhanahu wa Taala di dalam Al-Quran adalah tauhid,
kata Ibnu Abbas radhiallahu anhuma).
e. Saihat: wanita-wanita yang berpuasa. (Al-Jami li Ahkamil Quran, 18/126-127,
Tafsir Ibnu Katsir, 8/132)

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyatakan:

Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga
kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau
ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai. (HR. Ahmad 1/191,
dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami no. 660, 661)

Dari dalil-dalil yang telah disebutkan di atas, dapatlah kita simpulkan bahwa sifat istri
yang shalihah adalah sebagai berikut:
1. Mentauhidkan Allah Subhanahu wa Taala dengan mempersembahkan ibadah
hanya kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.
2. Tunduk kepada perintah Allah Subhanahu wa Taala, terus menerus dalam
ketaatan kepada-Nya dengan banyak melakukan ibadah seperti shalat, puasa,
bersedekah, dan selainnya. Membenarkan segala perintah dan larangan Allah
Subhanahu wa Taala.
3. Menjauhi segala perkara yang dilarang dan menjauhi sifat-sifat yang rendah.
4. Selalu kembali kepada Allah Subhanahu wa Taala dan bertaubat kepada-Nya
sehingga lisannya senantiasa dipenuhi istighfar dan dzikir kepada-Nya.
Sebaliknya ia jauh dari perkataan yang laghwi, tidak bermanfaat dan membawa

6
dosa seperti dusta, ghibah, namimah, dan lainnya.
5. Menaati suami dalam perkara kebaikan bukan dalam bermaksiat kepada Allah
Subhanahu wa Taala dan melaksanakan hak-hak suami sebaik-baiknya.
6. Menjaga dirinya ketika suami tidak berada di sisinya. Ia menjaga kehormatannya
dari tangan yang hendak menyentuh, dari mata yang hendak melihat, atau dari
telinga yang hendak mendengar. Demikian juga menjaga anak-anak, rumah,
dan harta suaminya.

Sifat istri shalihah lainnya bisa kita rinci berikut ini berdasarkan dalil-dalil yang
disebutkan setelahnya:

1. Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga
yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di
mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada
tangan suaminya seraya berkata: Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha. (HR. An-
Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy-Syaikh Al
Albani rahimahullah, no. 287)

2. Melayani suaminya (berkhidmat kepada suami) seperti menyiapkan makan


minumnya, tempat tidur, pakaian, dan yang semacamnya.

3. Menjaga rahasia-rahasia suami, lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan


intim antara dia dan suaminya. Asma bintu Yazid radhiallahu anha menceritakan dia
pernah berada di sisi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Ketika itu kaum lelaki dan
wanita sedang duduk. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bertanya: Barangkali ada
seorang suami yang menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya (saat
berhubungan intim), dan barangkali ada seorang istri yang mengabarkan apa yang

7
diperbuatnya bersama suaminya? Maka mereka semua diam tidak ada yang
menjawab. Aku (Asma) pun menjawab: Demi Allah! Wahai Rasulullah, sesungguhnya
mereka (para istri) benar-benar melakukannya, demikian pula mereka (para suami).
Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Jangan lagi kalian lakukan, karena yang demikian itu seperti syaithan jantan yang
bertemu dengan syaitan betina di jalan, kemudian digaulinya sementara manusia
menontonnya. (HR. Ahmad 6/456, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Adabuz
Zafaf (hal. 63) menyatakan ada syawahid (pendukung) yang menjadikan hadits ini
shahih atau paling sedikit hasan)

4. Selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga


bila suaminya memandang akan menyenangkannya. Rasulullah Shallallahu alaihi
wa sallam bersabda:

Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki,


yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan
mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya. (HR. Abu Dawud no.
1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jamiush Shahih 3/57: Hadits
ini shahih di atas syarat Muslim.)

5. Ketika suaminya sedang berada di rumah (tidak bepergian/safar), ia tidak


menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah sunnah yang dapat menghalangi
suaminya untuk istimta (bernikmat-nikmat) dengannya seperti puasa, terkecuali bila
suaminya mengizinkan. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak

8
sedang bepergian) kecuali dengan izinnya. (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no.
1026)

6. Pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan


kebaikannya, karena Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda:
Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah
kaum wanita yang kufur. Ada yang bertanya kepada beliau: Apakah mereka kufur
kepada Allah? Beliau menjawab: Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak
mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada
seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu
(yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata: Aku tidak pernah melihat darimu
kebaikan sama sekali. (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya
padahal dia membutuhkannya. (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa. Silsilah Al-Ahadits
Ash-Shahihah no. 289)

7. Bersegera memenuhi ajakan suami untuk memenuhi hasratnya, tidak


menolaknya tanpa alasan yang syari, dan tidak menjauhi tempat tidur suaminya,
karena ia tahu dan takut terhadap berita Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil
istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan) melainkan yang di langit murka
terhadapnya hingga sang suami ridha padanya. (HR. Muslim no.1436)

9
Apabila seorang istri bermalam dalam keadaan meninggalkan tempat tidur suaminya,
niscaya para malaikat melaknatnya sampai ia kembali (ke suaminya). (HR. Al-Bukhari
no. 5194 dan Muslim no. 1436)

Demikian yang dapat kami sebutkan dari keutamaan dan sifat-sifat istri shalihah,
mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Taala memberi taufik kepada kita agar dapat
menjadi wanita yang shalihah, amin.

Catatan kaki:
[1] Atau ia belajar agama namun tidak mengamalkannya
[2] Tempat untuk bersenang-senang (Syarah Sunan An-Nasai oleh Al-Imam As-Sindi rahimahullah, 6/69)
[3] Karena keindahan dan kecantikannya secara dzahir atau karena bagusnya akhlaknya secara batin atau
karena dia senantiasa menyibukkan dirinya untuk taat dan bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Taala
(Taliq Sunan Ibnu Majah, Muhammad Fuad Abdul Baqi, Kitabun Nikah, bab Afdhalun Nisa, 1/596, Aunul
Mabud, 5/56)
[4] Dengan perkara syari atau perkara biasa (Aunul Mabud, 5/56)
[5] Mengerjakan apa yang diperintahkan dan melayaninya (Aunul Mabud, 5/56)
[6] Bukan dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Taala, karena tidak ada ketaatan kepada
makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq.
[7] Allah Subhanahu wa Taala Maha Mengetahui bahwasanya Nabi-Nya tidak akan menceraikan istri-
istrinya (ummahatul mukminin), akan tetapi Allah Subhanahu wa Taala mengabarkan kepada ummahatul
mukminin tentang kekuasaan-Nya, bila sampai Nabi menceraikan mereka, Dia akan menggantikan untuk
beliau istri-istri yang lebih baik daripada mereka dalam rangka menakuti-nakuti mereka. Ini merupakan
pengabaran tentang qudrah Allah Subhanahu wa Taala dan ancaman untuk menakut-nakuti istri-istri Nabi ,
bukan berarti ada orang yang lebih baik daripada shahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam (Al-Jami li
Ahkamil Quran, 18/126) dan bukan berarti istri-istri beliau tidak baik bahkan mereka adalah sebaik-baik
wanita. Al-Qurthubi rahimahullah berkata: Permasalahan ini dibawa kepada pendapat yang mengatakan
bahwa penggantian istri dalam ayat ini merupakan janji dari Allah Subhanahu wa Taala untuk Nabi-Nya
Shallallahu alaihi wa sallam, seandainya beliau menceraikan mereka di dunia Allah Subhanahu wa Taala
akan menikahkan beliau di akhirat dengan wanita-wanita yang lebih baik daripada mereka. (Al-Jami li
Ahkamil Quran, 18/127)

disadur dari Majalah Asy Syariah, Vol. I/No. 12/1425H/2005

10