Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM

PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

PERCOBAAN III
ANALISIS SPEKTROMETRI LARUTAN CuS04

NAMA : SINDI ALVIONITA


NIM : H061 17 1307
GOLONGAN/KELOMPOK : H4 / VIII
HARI/ TANGGAL PERCOBAAN : RABU / 27 SEPTEMBER 2017
ASISTEN : NUR ATISAH

LABORATORIUM KIMIA DASAR


UNIT PELAKSANA TUGAS - MATA KULIAH UMUM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
LEMBAR PENGESAHAN
ANALISIS SPEKTROMETRI LARUTAN CuSO4

Disusun dan Diajukan Oleh:

SINDI ALVIONITA

H061 17 1307

Laporan ini telah diperiksa dan di setujui oleh:

Makassar, 27 September 2017

Asisten, Praktikan,

NUR ATISAH SINDI ALVIONITA

H311 13 020 H061 17 1307


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengukuran berdasarkan cahaya dan bentuk radiasi elektromagnetik lainnya

banyak digunakan di seluruh kimia analitik. Interaksi radiasi dan materi adalah

subjek ilmu yang disebut spektroskopi. Metode analisis spektroskopi didasarkan

pada pengukuran jumlah radiasi yang dihasilkan atau diserap oleh spesies molekuler

atau atomik yang diminati. Hal ini dapat mengklasifikasikan metode spektroskopi

sesuai dengan wilayah spektrum elektromagnetik yang terlibat dalam pengukuran.

Daerah spektrum yang telah digunakan meliputi sinar-, sinar-x, sinar ultraviolet

(Uv), sinar tampak, inframerah (IR), microwave, dan frekuensi radio (RF).

Spektroskopi telah memainkan peran penting dalam pengembangan teori atom

modern. Selain itu, metode spektrokimia telah menyediakan alat yang paling banyak

digunakan untuk menjelaskan struktur molekuler serta penentuan kuantitatif dan

kualitatif senyawa anorganik dan organik (Skoog dkk, 2004).

Spektra absorbs molekul direkam oleh spektrofotometer. Cahaya yang

berasal dari sumber diarahkan ke prisma atau kisi untuk memilih panjang gelombang

spesifik x, yang selanjutnya dilewatkan ke sampel di dalam suatu sel. Intensitas

cahaya yang ditransmisikan (dilewatkan) melalui sel sampel, Is, diukur. Untuk

menghilangkan efek akibat absorbsi atau pembauran cahaya oleh dinding sel, berkas

sinar datang sebenarnya dibelah ke dalam dua bagian, salah satunya dilewatkan pada

suatu sel rujukan (referensi) (Oxtoby dkk, 2003).

Oleh karena itu, praktikum ini dimaksudkan agar praktikan dapat

mengetahui dan memahami tentang spektroskopi dan pengaplikasiannya serta

menambah pengetahuan praktikan, terutama dalam penggunaan alat

spektrofotometer.
1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari percobaan ini adalah:

1. Bagaimana panjang gelombang maksimum pada serapan larutan CuSO4?

2. Bagaimana kurva kalibrasi pada larutan CuSO4?

3. Bagaimana konsentrasi tembaga dalam sampel larutan menggunakan

spektrofotometer?

1.3 Maksud dan Tujuan Percobaan

1.3.1 Maksud Percobaan

Mengetahui dan memahami penetapan kadar secara multikomponen campuran

senyawa dengan menggunakan analisis instrumen spektrofotometri UV.

1.3.2 Tujuan Percobaan

Adapun tujuan percobaan ini adalah:

1. Menentukan panjang gelombang maksimum serapan larutan CuSO4.

2. Membuat kurva kalibrasi larutan CuSO4.

3. Menentukan konsentrasi tembaga dalam sampel larutan menggunakan

Spektrofotometer

1.4 Prinsip Percobaan

Mencampurkan larutan CuSO4 dengan aquades untuk mengencerkan larutan.

Kemudian, menghitung konsentrasi larutan dengan menggunakan spektrofotometer.

I.5 Manfaat Percobaan

Adapun manfaat dari percobaan kali ini adalah praktikan dapat memahami

konsep spektrofotometri dan dapat menggunakan alat spektrofotometer dengan

benar.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Interaksi Radiasi dengan Materi

Radiasi berinteraksi dengan spesies kimia dan dapat memperoleh informasi

mengenai spesies tersebut. Interaksi ini dapat berupa refleksi, refraksi dan difraksi.

Cara interaksi dengan suatu sampel dapat dengan absorpsi, pemendaran

(luminenscence), emisi dan penghamburan (scattering), tergantung pada sifat

materi (Khopkar, 1990).

Pada absorbsi atom, atom dieksitasikan ke tingkat lebih tinggi, pada radiasi

UV dan tampak menyebabkan transisi elektron valensi dalam unsur (sinar-x

berinteraksi dengan elektron terdekat terhadap inti). Biasanya spektra absorbsi atom

merupakan puncak yang sempit. Sedangkan absorbsi molekul, molekul poliatom

dalam keadaan terkondensasi, akan membutuhkan energi lebih besar. Spektra

molekular pada daerah UV yang tampak dicirikan dengan pita absorbsi pada daerah

panjang gelombang tertentu (Khopkar, 1990).

2.2 Pengukuran Spektroskopik

Spektrofotometri UV-Vis adalah metode analisis berdasarkan interaksi antara

radiasi elektromagnetik ultra violet dekat dengan panjang gelombang 190-380 nm,

dan sinar tampak (380-780 nm) dengan memakai instrumen spektrofotometer dengan

suatu materi (senyawa). Metode ini berdasarkan penyerapan sinar ultraviolet maupun

sinar tampak yang menyebabkan terjadinya transisi elektron (perpindahan elektron

dari tingkat energi yang rendah ketingkat energi yang lebih tinggi). Apabila dua buah

atom saling berikatan dan membentuk molekul maka akan terjadi tumpang tindih dua

orbital dari kedua atom yang masing-masing mengandung satu elektron dan
kemudian terbentuk orbital molekul. Hukum kuantitatif yang terkait dikenal dengan

hukum Lambert-Beer. Menurut hukum Lambert-Beer (Octaviani dkk, 2014):

T = It /Io = 10 .c.b ....(1)

A = log I/T = .c.b (2)

Dimana T = transmitan, Io = intensitas sinar yang datang, It = intensitas

radiasi yang diteruskan, = absorbansi molar (L/mol.cm), c = konsentrasi

(mol/L), b = tebal larutan (cm) dan A = absorban.

Beberapa sumber radiasi polikromatik yang dipakai pada spektrofotometer

UV-Vis adalah lampu deuterium, lampu tungsten dan lampu merkuri. Sumber radiasi

tersebut akan mengeksitasi benda ke tingkat energi yang lebih tinggi. Benda atau

materi akan kembali ke tingkat energi yang lebih rendah atau ke dasarnya,

melepaskan foton dengan energi yang sesuai dengan perbedaan energi antara tingkat

tereksitasi dengan tingkat dasar rendah (Ocataviani dkk, 2014).

Pada spektrofotometri konvensional (derivat kenol), spektrum serapan

merupakan plot serapan (A) terhadap panjang gelombang (). Spektrum elektronik

biasanya memperlihatkan pita yang lebar. Pada metode derivatif, plot A terhadap

ini ditransformasikan menjadi plot dA/d untuk derivatif pertama dan d2A/d2

terhadap untuk derivatif kedua dan seterusnya. Metode spektrofotometri derivatif

merupakan metode manipulatif terhadap spektra pada spektrofotometri ultraviolet

dan cahaya tampak (UV-Vis) (Nurhidayati, 2007).

Penentuan panjang gelombang serapan maksimum yang lebar akan lebih

akurat menggunakan derivatisasi spektra. Proses yang terjadi dalam derivatisasi data

spektra adalah pendiferensialan kurva secara matematis yang tak lain adalah

menentukan kemiringan/gradien serapan antara panjang gelombang tertentu secara

menyeluruh. Spektrum derivatif dihasilkan oleh spektrofotometer yang dirancang

untuk melakukan transformasi elektronik. Derivatif dA/d didekati dengan


meningkatnya rasio A/, di mana A adalah perubahan serapan terhadap

perbedaan . Makin kecil , A/ makin mendekati derivatif sesungguhnya

dA/d. Selalu ada noise yang menutupi sinyal sampel sebagai konsekuensi efek

elektronik dan instrumen, bila dibuat sangat kecil noise akan mendominasi

derivatif. Mode derivatif pertama dan kedua adalah fitur standar microprocessor

spektrofotometer UV-VIS dan beberapa instrumen dilengkapi dengan mode derivatif

ketiga, keempat, kelima sampai dengan ketujuh. Perangkat lunak komputer juga

tersedia untuk mengolah data spektra UV-Vis sampai dengan derivat

kesembilan (Nurhidayati, 2007).

Spektroskopi menggunakan interaksi radiasi dengan materi untuk

mendapatkan informasi tentang sampel. beberapa unsur kimia ditemukan dengan

spektroskopi. Sampel biasanya dirangsang dengan cara tertentu dengan menerapkan

energi berupa panas, energi listrik, cahaya, partikel, atau reaksi kimia. Sebelum

menerapkan stimulus, analit didominasi dalam keadaan energi terendah atau keadaan

dasar. stimulus kemudian menyebabkan beberapa spesies analit menjalani transisi ke

energi yang lebih tinggi atau keadaan tereksitasi. kita memperoleh informasi tentang

analit dengan mengukur radiasi elektromagnetik yang dipancarkan saat sampel

kembali ke keadaan dasar atau dengan mengukur jumlah radiasi elektromagnetik

yang diserap sebagai hasil eksitasi (Skoog dkk, 2004).

Metode spektrofotometri derivatif dapat digunakan untuk menganalisis

kuantitatif zat dalam campuran yang spektrumnya mungkin tersembunyi dalam suatu

bentuk spektrum besar yang saling tumpang tindih dengan mengabaikan proses

pemisahan zat yang bertingkat-tingkat. Dasar perhitungan kuantitatif

spektrofotometri derivatif mengikuti hukum Lambert-Beer, dimana serapan derivatif

ke-n adalah (Nurhidayati, 2007):


d dn
= x 1 x c .(3)
d

Di mana:

A = serapan

= daya serap molar ( M-1 cm-1)

c = konsentrasi molar (M)

l = tebal sel (cm)

Secara teoritis dA/d adalah nol pada maks untuk pita pada spektrum

normal (spektrum derivat kenol). Spektrum derivatif kedua d2A/d2 terhadap

memiliki dua maksimum dengan sebuah minimum di antara keduanya, pada

maksimum pita spektrum asalnya. Pada prinsipnya tinggi puncak (dihitung dari

dnA/dn = 0) yang disebut dengan amplitudo proporsional dengan konsentrasi analit.

Untuk analisis kuantitatif, hanya amplitudo terhadap konsentrasi yang

diukur (Nurhidayati, 2007).

2.3 Spektroskopi Inframerah

Penemuan wilayah inframerah spektrum matahari dibuat pada tahun 1800

oleh Herschel, namun ia menolak untuk percaya bahwa "sinar panas" sama sekali

terkait dengan cahaya tampak. Baru pada tahun 1881 Abney dan Festing menemukan

bahwa berbagai cairan organik menunjukkan penyerapan pada panjang gelombang

inframerah tertentu (Siska, 2006).

Dua variasi instrumental dari spektroskopi IR yaitu metode dispersif yang

lebih tua, di mana prisma atau kisi dipakai untuk mendispersikan radiasi IR, dan

metode Fourier transform (FT) yang lebih akhir, yang menggunakan prinsip

interferometry. Kelebihan-kelebihan dari FT-IR mencakup persyaratan ukuran

sampel yang kecil perkembangan spektrum yang cepat, dan kemampuan untuk
menyimpan dan memanipulsai spektrum. Instrumen-instrumen dispersive modern

juga telah dilengkapi dengan mikrokomputer-mikrokomputer untuk penyimpanan

dan manipulasi spectrum. FT-IR teristimewa bermanfaat dalam meneliti paduan-

paduan polimer. Sementara paduan yang tidak dapat campur memperlihatkan suatu

spektrum IR yang merupakan superposisi dari spektrum homopolimer, spektrum

paduan yang dapat bercampur adalah superposisi dari tiga komponen, dua spektrum

homopolimer dan satu spektrum interaksi yang timbul dari interaksi kimia atau fisika

antara homopolimer-homopolimer (Stevens, 2001).

2.4 Spektroskopi Kolerasi Flouresensi

Ketersediaan mikroskop confokal dan fluorophores yang dikembangkan

secara khusus sementara secara rutin mendukung pencitraan simultan dari tiga atau

bahkan lebih banyak spesies molekuler dalam satu sel, kuantisasi dan pelokalannya

yang tepat merupakan persyaratan penting untuk semua penelitian tentang

komunikasi dan jaringan protein (Heinze dkk, 2004).

Konsep spektroskopi korelasi fluoresensi (FCS) diperkenalkan tiga dekade

yang lalu untuk mengukur fluktuasi intensitas partikel fluoresensi yang menyebarkan

koefisien dan konstanta laju kimia. Perbaikan teknik ini terhadap kepekaan molekul

tunggal dicapai dengan menggunakan sistem mikroskop yang berfokus dengan

tujuan numerik tinggi dan fotonaksi tunggal menghasilkan gelombang foto dioda

sebagai detektor. Konsep FCS didasarkan pada analisis korelasi fluoresensi dalam

volume pengamatan terbatas. Sensitivitas teknik untuk mendeteksi pengikatan dua

atau lebih komponen bergantung pada perubahan relatif massa pada saat mengikat.

Untuk sistem multikomponen yang terdiri dari reaktan dan produk yang diberi label

dengan pewarna berpendar yang sama, satu-satunya cara untuk membedakan produk

dari reaktan adalah ketika produk memiliki massa molekul yang berbeda dari reaktan

dengan suatu faktor (Hwang dkk, 2006).


BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan

Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan CuSO4 0,2 M,

akuades. tissue roll, sabun cair, dan sarung tangan.

3.2 Alat Percobaan

Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah spektrofotometer UV, labu

takar 50 mL, pipet gondok 5 mL, pipet gondok 10 mL, gelas ukur, bola pengisap,

botol semprot, dan pipet tetes.

3.3 Prosedur Percobaan

3.3.1 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Larutan CuSO4

Disediakan larutan CuSO4 dengan konsentrasi 0,2 M dan akuades sebagai blanko

atau referens. Larutan CuSO4 yang telah disiapkan kemudian dimasukkan ke dalam

kuvet (1) dan akuades ke dalam kuvet (2) dengan volume masing-masing tiga per

empat sel (kuvet). Kemudian, masukkan kuvet yang berisi akuades ke dalam tempat

sel alat, atur hingga serapan (A) menunjukkan angka nol. Selanjutnya, diganti blanko

dengan kuvet yang berisi larutan CuSO4, lalu diukur serapannya pada panjang

gelombang awal 540 nm. Lakukan kembali langkah-langkah sebelumnya untuk

pengukuran absorbansi larutan pada deretan panjang gelombang 540-620 nm.

Setelah itu, dibuatlah grafik hubungan antara panjang gelombang dengan absorbansi.

Serapan tertinggi pada panjang gelombang tertentu yang didapatkan merupakan

panjang gelombang serapan maksimum larutan CuSO4.

3.3.2 Pembuatan Kurva Kalibrasi

Dibuatlah deretan larutan CuSO4 dengan konsentrasi 0,002 M, 0,004 M, 0,006 M,


0,008 M, dan 0,01 M. Kemudian, diukur serapan masing-masing larutan tersebut

pada panjang gelombang maksimum. Digunakan akuades sebagai blanko atau

referens. Setelah pengukuran selesai, buatlah kurva yang menghubungkan antara

konsentrasi larutan CuSO4 dengan absorbansi terukur.

3.3.3 Penentuan Konsentrasi Larutan CuSO4

Diambil larutan CuSO4 yang belum diketahui konsentrasinya pada asisten.

Larutan tesebut kemudian dimasukkan ke dalam kuvet, setelah itu diukur

serapananya pada panjang gelombang maksimum. Sebelum pengukuran sampel,

serapan blanko atau referens diatur hingga menunjukkan angka nol. Plot serapan

larutan sampel terhadap konsentrasi pada kurva kalibrasi. Konsentrasi yang

ditunjukkan hasil plot tersebut adalah konsentrasi CuSO4 dalam larutan atau

digunakan persamaan regresi linier pada kurva untuk mengetahui konsentrasi larutan

tersebut.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Tabel 1. Data Pengukuran Absorbansi Sampel dan Larutan Standar

Konsentrasi (M) Absorbansi


0,002 0,325
0,004 0,618
0,006 0,86
0,008 0,94
0,01 1,09
Sampel 0,068

4.2 Penentuan Konsentrasi Sampel

Tabel 2. Penentuan Konsentrasi Tembaga Sulfat Sampel x

No Konsentrasi Absorbansi(y) xy x y (xy)


1 0,002 0,325 0,00065 0,000004 0,105625 4,225E-07
2 0,004 0,618 0,002472 0,000016 0,381924 6,1108E-06
3 0,006 0,86 0,00516 0,000036 0,7396 2,6626E-05
4 0,008 0,94 0,00752 0,000064 0,8836 5,655E-05
5 0,01 1,09 0,0109 0,0001 1,1881 0,00011881
0,03 3,833 0,026702 0,00022 3,298849 0,00020852

Keterangan:

x = Konsentrasi

y = Absorban

Jika persamaan y = ax+b maka :

a. Slope

n(xy)-(x)(y)
a=
n(x2 )-(x)2

5(0,026702)-(0,03)(3,833)
a= 2
5(0,00022)-(0,03)
0,13351-0,11499
a= 0,0011-0,0009

0,01852
A= 0,0002

A = 92,6

b. Intercept

(y)(x2 )-(x)(xy)
B= n(x2 )-(x)

(3,833)(0,00022)-(0,03)(0,026702)
B= 5(0,00022)-(0,03)

0,00084326-0,00080106
B= 0,0011-0,0009

0,0000422
B= 0,0002

B = 0,211

c. Ketetapan Kelurusan Grafik

R = tetapan kelurusan grafik

(n(xy)-(x)(y))
R = (n(x2)-(x)2 )(n(y2 )-(y)2 )

(5(0,026702)-(0,03)(3,833))
R = (5(0,00022)-(0,03)2 )(5(3,298849)-(3,833)2 )

(0,13351-0,11499)
R = (0,0011-0,0009)(16,494245-14,691889)

(0,01852)
R = (0,0002)(1,802356)

0,00034299
R = 0,000360471

R = 0,951505114

R = 0,975451236

Persamaan garis y = ax+b maka y = 92,6x + 0,211

Viskositas regresi

y1 = 92,6(0,002)+0,211
= 0,1852 + 0,211

=0,3962

y2 = 92,6(0,004)+0,211

= 0,3704 + 0,211

= 0,5814

y3 = 92,6(0,006) + 0,211

= 0,5556 + 0,211

= 0,7666

y4 = 92,6(0,008) + 0,211

= 0,7408 + 0,211

= 0,9518

y5 = 92,6(0,01) + 0,211

= 0,926 + 0,211

= 1,137

Grafik 1. Hubungan Antara Kensentrasi Viskositas Sebelum Regresi

Konsentrasi vs Viskositas
1.2

0.8

0.6 ABSORBANSI
KONSENTRASI
0.4

0.2

0
0.002 0.004 0.006 0.008 0.01
Grafik 2. Hubungan Antara Konsentrasi Viskositas Setelah Regresi

Konsentrasi vs viskositas
1.4

1.2

0.8
ABSORBANSI
0.6 KONSENTRASI
0.4

0.2

0
0.002 0.004 0.006 0.008 0.01

Berdasarkan grafik diperoleh persamaan:

y = ax + b

y = 92,6x + 0,211

Absorbsi sampel = 0,068

Sehingga konsentrasi kadar CuSO

y = ax + b

0,68 = 92,6x + 0,211

0,469 = 92,6x

x = 0,0050647948164147

Maka konsentrasi kadar CuSO = 0,0050647948164147

4.3 Pembahasan

Praktikum kali ini tentang penentuan konsentrasi tembaga dalam sampel

dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-vis. Pada awal percobaan,

terlebih dahulu dibuat larutan standar tembaga sulfat dengan konsentrasi 0,002 M,
0,004 M, 0,006 M, 0,008 M, dan 0,01 M. Dalam menentukan konsentrasi tembaga,

praktikan harus menentukan panjang gelombang maksimum pada masing-masing

standar, dengan mengamati nilai absorbansi yang didapatkan pada panjang

gelombang tertentu. Pada panjang gelombang maksimum, nilai absorbansi

merupakan yang paling besar, yang berarti kapasitas sinar radiasi yang diserap

paling banyak pada panjang gelombang tersebut. Namun sebelum itu,

nilai transmitan di 100 % akan terlebih dahulu dengan menggunakan blanko.

Spektrum dari blanko tersebut berbentuk garis lurus horizontal, yang menandakan

blanko tersebut tidak mengandung sampel, namun nyatanya spektrum dari blanko

berbentuk garis lurus horizontal, ini disebabkan karena blanko telah terkontaminasi

oleh zat lain.

Masing-masing larutan standar diukur absorbansinya pada panjang

gelombang tertentu, untuk menentukan panjang gelombang maksimum dari

masing-masing larutan standar tersebut. Larutan standar tembaga menunjukkan

panjang gelombang maksimum 580 nm dengan absorbansinya 0,08 M. Pada masing-

masing panjang gelombang maksimum ditentukan absorbansi larutan standar dan

absorbansi larutan sampel. Nilai absorbansi pada panjang gelombang maksimum ini

digunakan untuk menentukan konsentrasi tembaga melalui perhitungan.

Dalam menentukan konsentrasi tembaga (x), maka dicarilah nilai slope (a)

dan intercept (b) menggunakan rumus yang telah diberikan. Setelah mendapatkan

nilai dari slope dan intercept, maka dimasukkan nilai tersebut ke dalam persamaan

y = ax + b. Nilai absorbansi sampel yaitu 0,068 juga dimasukkan kedalam

persamaan. Sehingga dapat diperoleh nilai konsentrasi sampel sebesar

0,0050647948164147 M.

Kesalahan yang mungkin terjadi pada percobaan ini yaitu kurangnya


ketelitian dalam pembuatan larutan serta pengenceran yang kurang sempurna,

terjadinya serapan radiasi oleh sidik jari pada kuvet, sensitivitas alat, kuvet yang

kurang bersih, adanya serapan oleh pelarut, kuvet tergores, adanya gelembung atau

gas dalam lintasan radiasi panjang gelombang, kurangnya ketelitian praktikan dalam

pengamatan ataupun rusaknya spektrofotometri.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Setelah melakukan percobaan ini maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Panjang gelombang maksimum serapan suatu larutan dapat ditentukan

menggunakan prinsip spektroskopi dengan alat spektrofotometer.

2. Kurva kalibrasi dari suatu larutan menunjukan hubungan antara absorbansi dan

konsentrasi larutan tersebut.

3. Konsentrasi suatu sampel larutan dapat ditentukan menggunakan prinsip kerja

spektroskopi dengan alat spektrofotometer.

5.2 Saran

5.2.1 Saran untuk Percobaan

Sebaiknya pada percobaan selanjutnya yaitu mohon untuk diperjelas

praktikum selanjutnya.

5.2.2 Saran untuk Laboratorium

Beberapa alat laboratorium harus diganti karena sudah tidak memenuhi

standar dalam praktikum.


DAFTAR PUSTAKA

Heinze, K. G., Michael J., Petra S., 2004, Triple-Color Coincidence Analysis: One
Step Further in Following Higher Order Molecular Complex Formation,
Biophysical Journal, 86(1):506-516.

Hwang, L. C., Michael G., Theo L., Thorsten W., 2006, Simultaneous Multicolor
Fluorescence Cross-Correlation Spectroscopy to Detect Higher Order Molecular
Interactions Using Single Wavelength Laser Excitation, Biophysical Journal,
91(2):715-727.

Khopkar, S. M., 1990, Konsep Dasar Kimi Analitik, Universitas Indonesia, Jakarta.

Nurhidayati, L., 2007, Spektrofotometri Derivatif dan Aplikasinya dalam Bidang


Farmasi, Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, 3(1):1-9.

Octaviani, T., Any G., Hari S., 2014, Penetapan Kadar -Karoten Pada Beberapa
Jenis Cabe (Genus Capsicum) Dengan Metode Spektrofotometri Tampak,
Pharmaiana,4(2):101-109.

Oxtoby, Gillis, Nachtrieb, 2003, Kimia Modern Edisi Keempat Jilid Dua, Erlangga,
Jakarta.

Siska, P., 2006, University Chemistry, Pearson Education, United States of America.

Skoog, West, Holler, Crouch, 2004, Fundamentals of Analytical Chemistry Eight


Edition, Thomson Learning, Canada

Stevens, M. P., 2001, Kimia Polimer, 2001,Pradnya Paramita, Jakarta.