Anda di halaman 1dari 8

PERATURAN KEPALA BADAN PEMELIHARA KEAMANAN

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 6 TAHUN 2011


TENTANG

PENANGANAN TINDAK PIDANA RINGAN


(TIPIRING)

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPALA BADAN PEMELIHARA KEAMANAN


KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa setiap tindak pidana yang terjadi di berbagai wilayah


hukum NKRI harus ditangani secara konsisten dan konsekuen
termasuk tindak pidana ringan guna menjamin adanya kepatuhan
dan ketaatan hukum;

b. bahwa fungsi Samapta merupakan bagian integral dari


penegakan hukum khususnya penegakan hukum terbatas
terhadap perkara tindak pidana ringan yang ada di wilayahnya;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam


huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Kabaharkam
Polri tentang Penanganan Tindak Pidana Ringan (Tipiring);

Mengingat : Pasal 13 dan Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia


Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 2,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4168).

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN KEPALA BADAN PEMELIHARA KEAMANAN


POLRI TENTANG PENANGANAN TINDAK PIDANA RINGAN.

BAB I .....
2

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:

1. Tindak Pidana Ringan yang selanjutnya disingkat Tipiring adalah perkara yang
diancam dengan pidana penjara atau kurungan paling lama 3 bulan dan/atau
denda sebanyak-banyaknya tujuh ribu lima ratus rupiah dan penghinaan ringan
kecuali pelanggaran lalu lintas.

2. Acara Pemeriksaan Tindak Pidana Ringan adalah pemeriksaan yang dilakukan


oleh penyidik terhadap tersangka dan atas kuasa penuntut umum dalam waktu
tiga hari menyerahkan hasil pemeriksaan, tersangka, barang bukti dan saksi ke
sidang pengadilan.

3. Acara Pemeriksaan Cepat Tindak Pidana Ringan adalah pemeriksaan yang


dilakukan oleh penyidik terhadap tersangka dan atas kuasa penuntut umum
dalam waktu tiga hari menyerahkan hasil pemeriksaan, tersangka, barang bukti
dan saksi ke sidang pengadilan.

Pasal 2

Satuan kewilayahan yang bertanggungjawab atas penegakan hukum terbatas


terhadap penanganan tindak pidana ringan mulai tingkat Polsek/Polsekta/Polsek
Metro, Polres/Polresta/Polres Metro/Poltabes, Polwil/Polwiltabes dan Polda adalah
Satuan Samapta.

Pasal 3

Penanganan tindak pidana ringan ini bertujuan menjamin adanya kepatuhan dan
ketaatan hukum warga masyarakat.

BAB II

RUANG LINGKUP

Pasal 4

Ruang lingkup penanganan tindak pidana ringan terbatas pada penegakan hukum yang
dilakukan oleh satuan Sabhara

BAB III ......


3

BAB III

PELAKSANAAN

Paragraf Pertama
Tahap Persiapan

Pasal 5

(1) Menyusun rencana kegiatan.


(2) Menyiapkan kelengkapan administrasi penugasan.
(3) Melakukan koordinasi dengan Kejaksaan, Pengadilan dan Pemda setempat.

Pasal 6
Sebelum pelaksanaan penanganan penegakkan hukum terbatas terhadap perkara
Tipiring, Kepala Satuan melaksanakan Acara Pimpinan Pasukan (APP) kepada seluruh
anggota yang terlibat dengan menyampaikan :

a. gambaran situasi dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi selama


pelaksanaan penegakkan hukum terbatas;

b. gambaran situasi objek yang menjadi sasaran;

c. rencana tindakan yang akan dilakukan oleh petugas; dan

d. larangan dan kewajiban petugas.

Pasal 7

(1) Larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf d adalah :

a. melakukan tindakan kekerasan, penganiayaan, mengeluarkan kata-kata


kasar/kotor, ancaman, penghinaan terhadap tersangka/pelaku;

b. melakukan tindakan pelecehan dalam bentuk apapun terhadap


tersangka/pelaku; dan

c. tindakan lain yang dapat membahayakan keselamatan jiwa dan harta


benda.

(2) Kewajiban........
4

(2) Kewajiban sebagimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf d adalah :

a. menghormati harkat dan martabat setiap warga negara;

b. memperlakukan secara manusiawi setiap warga negara; dan

c. memegang teguh asas praduga tak bersalah.

Paragraf Kedua
Tahap Pelaksanaan

Pasal 8

(1) Dalam hal tertangkap tangan, cara bertindak terhadap penanganan pelanggaran
Tipiring adalah:
a. melakukan pemeriksaan terhadap pelanggaran yang terjadi;
b. membawa tersangka dan barang bukti ke markas satuan;
c. melakukan pemeriksaan terhadap tersangka dan saksi;
d. melakukan penyitaan barang bukti; dan
e. atas kuasa penuntut umum menghadapkan tersangka beserta barang
bukti ke sidang pengadilan.

(2) Dalam hal kegiatan rutin kepolisian, cara bertindak terhadap penanganan
pelanggaran Tipiring adalah:
a. mendatangi secara serentak tempat terjadinya pelanggaran;
b. melakukan pemeriksaan ada atau tidaknya pelanggaran yang terjadi;
c. membawa tersangka dan barang bukti ke markas satuan;
d. melakukan pemeriksaan terhadap tersangka dan saksi;
e. melakukan penyitaan barang bukti; dan
f. atas kuasa penuntut umum menghadapkan tersangka beserta barang
bukti ke sidang pengadilan;
(3) Dalam hal kegiatan gabungan, cara bertindak terhadap penanganan
pelanggaran Tipiring adalah:
a. menentukan........
5

a. menentukan sasaran yang dijadikan target kegiatan;


b. melakukan pembagian tugas;
c. mendatangi secara serentak tempat terjadinya pelanggaran;
d. melakukan pemeriksaan ada atau tidaknya pelanggaran yang terjadi;
e. membawa tersangka dan barang bukti ke markas satuan;
f. melakukan pemeriksaan terhadap tersangka dan saksi;
g. melakukan penyitaan barang bukti; dan
h. atas kuasa penuntut umum menghadapkan tersangka beserta barang
bukti ke sidang pengadilan atau sidang di tempat;

Paragraf Ketiga
Tahap Pengakhiran
Konsolidasi

Pasal 9

(1) Konsolidasi dilakukan oleh satuan Samapta dalam rangka mengakhiri kegiatan
penegakan hukum terbatas dengan melakukan pengecekan kekuatan personel,
perlengkapan dan hasil yang telah dicapai.

(2) Dalam rangka konsolidasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), apel
konsolidasi dilakukan oleh kepala satuan.

(3) Setelah selesai melaksanakan tugas penanganan Tipiring, seluruh satuan


kembali ke markas satuan masing-masing dengan tertib.

BAB IV .....
6

BAB IV
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 10

(1) Yang berwenang melakukan penyidikan Tipiring adalah anggota Sabhara


dan/atau Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang telah memiliki Surat Keputusan
Penyidik/Penyidik Pembantu.
(2) Pasal-Pasal yang merupakan pelanggaran Tipiring, tercantum dalam lampiran
yang tidak terpisahkan dari peraturan ini.
(3) Administasi penyidikan perkara Tipiring tercantum dalam lampiran yang tidak
terpisahkan dari peraturan ini.

BAB V
KOORDINASI DAN PENGENDALIAN
Pasal 11

(1) Kapolres/Kapolresta/Kapolres Metro/Kapoltabes Kapolda melakukan koordinasi


dengan Kepala Kejaksaan, Ketua Pengadilan dan Pemda setempat.
(2) Dalam hal tertangkap tangan, petugas Sabhara yang menangani pelanggaran
Tipiring melaporkan kepada kepala satuannya.
(3) Pengendalian dalam penanganan pelanggaran Tipiring berada pada Kepala
Satuan Sabhara.
(4) Kepala Satuan Sabhara melaporkan secara tertulis dan berjenjang tentang tugas
yang telah dilakukan.

BAB VI
PEMBIAYAAN

Pasal 12
Pembiayaan dalam kegiatan penanganan Tipiring dibebankan pada anggaran Polri.

BAB VII .....


7

BAB VII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 13

Pada saat peraturan ini mulai berlaku semua peraturan perundangundangan yang
berkaitan dengan Tipiring dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan
dengan peraturan ini.

Pasal 14

Peraturan Kepala Badan Pemelihara Keamanan Polri ini mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 13 Desember 2011

KEPALA BADAN PEMELIHARA KEAMANAN POLRI

Ttd

Drs. IMAM SUDJARWO, M.Si.


KOMISARIS JENDERAL POLISI
8

MARKAS BESAR
KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BADAN PEMELIHARA KEAMANAN

PENANGANAN TINDAK PIDANA RINGAN


( TIPIRING )

PERATURAN KABAHARKAM POLRI


NOMOR 6 TAHUN 2011 TANGGAL 13 DESEMBER 2011

Anda mungkin juga menyukai