Anda di halaman 1dari 5

16 Jul 2014 16:34

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
__________________________________________________
_________________________________________
30 Desember 2005

SURAT DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR S - 1112/PJ.322/2005

TENTANG

PERTANYAAN PENGENAAN PPN ATAS INSENTIF/BONUS

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan surat Saudara Nomor XXX tanggal 09 September 2005 hal sebagaimana
tersebut pada
pokok surat, dengan ini kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:

1. Surat Saudara pada dasarnya mengemukakan hal-hal sebagai berikut:


a. Kenyataan di lapangan pemberian insentif/bonus/hadiah dan penghargaan yang terjadi pada
beberapa produsen seperti ABC, BCA, PQR, dll kepada dealer/distributornya tidak
diperhitungkan secara jelas dan transparan dengan jumlah yang signifikan. Atas pemberian
insentif/bonus/hadiah dan penghargaan ini tidak dikenakan PPN tetapi hanya dipotong PPh
Pasal 21 untuk Wajib Pajak Pribadi atau PPh Pasal 23 untuk Wajib Pajak Badan, berdasarkan
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-12/PJ.43/2002 tentang Intensifikasi
Kewajiban Pemotong PPh dan PPN Dalam Rangka Peningkatan Potensi Perpajakan;
b. Saudara memohon penjelasan dan penegasan apakah atas pemberian insentif/bonus/hadiah
dan penghargaan, merupakan objek PPN mengingat margin Laba Kotor yang diperoleh
distributor hanya sekitar 5%. Seringkali terjadi margin tersebut lebih kecil bahkan hingga 0%,
sehingga Pajak Keluaran = Pajak Masukan. Kondisi tersebut menyebabkan PPN terutang lebih
kecil hingga nihil, padahal dealer menerima bonus/insentif/hadiah dan penghargaan.

2. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 Tentang Pajak Pertambahan Nilai
Barang Dan
Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000, diatur antara lain:
a. Pasal 1A ayat (1) huruf d, yang termasuk dalam pengertian penyerahan Barang Kena Pajak
adalah pemakaian sendiri dan atau pemberian cuma-cuma atas Barang Kena pajak.
Dalam memori penjelasan Pasal 1A ayat (1) huruf d disebutkan bahwa pemberian cuma-cuma
diartikan sebagai pemberian yang diberikan tanpa pembayaran baik barang produksi sendiri
maupun bukan produksi sendiri, antara lain pemberian contoh barang untuk promosi kepada
relasi atau pembeli.
b. Pasal 4, Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas:
- Huruf a, penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan
oleh Pengusaha;
- Huruf c, penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh
Pengusaha.

3. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-87/PJ./2002 tentang Pengenaan Pajak


Pertambahan
Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Pemakaian Sendiri dan atau Pemberian
cuma-cuma
Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak, antara lain mengatur:
a. Pasal 1 angka 3, dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini, yang dimaksud dengan
pemberian cuma-cuma adalah Barang Kena Pajak adalah pemberian yang diberikan tanpa
imbalan pembayaran baik barang produksi sendiri maupun bukan produksi sendiri, termasuk
pemberian contoh barang untuk promosi kepada relasi atau pembeli.
b. Pasal 4:
- Ayat (1), atas pemberian cuma-cuma Barang Kena Pajak baik yang dilakukan secara
tersendiri atau menyatu dengan barang yang dijual terutang Pajak Pertambahan Nilai
dan harus diterbitkan Faktur Pajak;
- Ayat (5), Dasar Pengenaan Pajak yang digunakan untuk menghitung besarnya Pajak
Pertambahan Nilai yang terutang adalah Harga Jual atau Penggantian setelah dikurangi
laba kotor.
c. Pasal 5 ayat (1), disamping dikenakan Pajak Pertambahan Nilai, atas pemakaian sendiri dan
atau pemberian cuma-cuma Barang Kena Pajak produksi sendiri yang tergolong mewah, juga
dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

4. Sesuai dengan pengertian dan peristilahan perdagangan insentif adalah penghargaan yang
diberikan
terhadap suatu subjek karena kinerja yang melampaui suatu standar yang telah ditetapkan.

5. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas serta memperhatikan isi surat Saudara pada angka 1
dengan ini
kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
a. Atas pemberian bonus/insentif/hadiah/penghargaan dari main dealer kepada dealer/distributor
sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan lainnya atau imbalan prestasi terutang PPN.
b. Dalam hal bonus/insentif/hadiah/penghargaan tersebut diberikan dalam bentuk Barang Kena
Pajak, maka atas pemberian bonus/insentif/hadiah/penghargaan tersebut termasuk dalam
kategori pemberian cuma-cuma dan atas penyerahannya terutang PPN dan PPnBM
sebagaimana dimaksud pada butir 4 di atas, serta harus diterbitkan Faktur Pajak.

Demikian disampaikan.

DIREKTUR PERATURAN PERPAJAKAN,

ttd.

HERRY SUMARDJITO
NIP 060061993
17 Jul 2014 11:26
SURAT DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR S - 976/PJ.52/2005

TENTANG

PENEGASAN PPN ATAS VOLUME DISCOUNT/RABAT SEBAGAI PENGURANG HARGA


JUAL KEPADA KONSUMEN

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan surat kami kepada Saudara :

- Nomor : S-350/PJ.52/2005 tanggal 27 April 2005 hal : Permohonan Penegasan Perlakuan PPN
atas
Pemberi Volume Discount, yang merupakan tanggapan atas surat Saudara Nomor : xxx tanggal
xxx
hal : Permohonan Penegasan perlakukan PPN atas Pemberian Volume Discount, dan

- Nomor : S-777/PJ.52/2005 tanggal 24 Agustus 2005 hal : Penegasan PPN atas Volume
Discount/Rabat
Sebagai Pengurang Harga Jual Kepada Pelanggan yang merupakan tangapan atas surat Saudara
Nomor xxx tanggal xxx hal : Permohonan Penegasan Volume Discount/Rabat sebagai Pengurang
dari
Harga Jual kepada Pelanggan Bukan Sebagai Komisi Penjualan;

dapat kami sampaikan beberapa hal yang perlu diluruhkan sebagai berikut :
1. Dalam surat-surat Saudara dikemukakan hal-hal sebagai berikut :
a. PT XXX (Saudara) memberikan volume discount kepada para pelanggan apabila pelanggan
telah mencapai volume target secara berkala, setiap tiga bulan atau enam bulan sesuai
dengan kesepakatan di dalam perjanjian kerja sama.
b. Pemberian volume discount ini mempunyai persamaan dengan pemberian rabat yang
diberikan oleh perusahaan Multi Level Marketing (MLM) kepada pelanggan (distributor), yaitu
dengan sistem jual putus, bukan konsinyasi. Pemberian rabat dilakukan dengan cara
menerbitkan Debit Note dan Faktur Pajak Standar untuk Pajak Pertambahan Nilainya oleh
pelanggan/dealer dan ditagihkan kepada perusahaan MLM yang bersangkutan.
c. Sehubungan dengan hal tersebut diatas Saudara mohon penegasan PPN atas perlakukan
pemberian volume discount kepada pelanggan Saudara.

2. Pasal 8 ayat (1) Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata
Cara
Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun
2000,
mengatur bahwa Wajib Pajak dengan kemauan sendiri dapat membetulkan Surat Pemberitahuan
yang
telah disampaikan dengan menyampaikan pernyataan tertulis dalam jangka waktu 2 (dua) tahun
sesudah berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak, dengan syarat Direktur
Jenderal Pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan.

3. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan
Pajak
Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-
undang Nomor 18 Tahun 2000, antara lain mengatur :
a. Pasal 1 angka 18, bahwa Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang
diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak, tidak
termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut Undang-undang ini dan potongan
harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak.
b. Pasal 1 angka 23, bahwa Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh
Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan
Jasa Kena Pajak, atau bukti pungutan pajak karena impor Barang Kena Pajak yang digunakan
oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
c. Pasal 4 huruf a, bahwa Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas penyerahan Barang Kena
Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha.
d. Pasal 13 ayat (1), bahwa Pengusaha Kena Pajak wajib membuat Faktur Pajak untuk setiap
penyerahan Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c atau huruf f
dan setiap penyerahan Jasa Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c.
e. Pasal 13 ayat (4), bahwa Saat pembuatan, bentuk, ukuran, pengadaan, tata cara
penyampaian, dan tata cara pembetulan Faktur Pajak diterapkan oleh Direktur Jenderal
Pajak.

4. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-549/PJ./2000 tentang Saat Pembuatan,


Bentuk,
Ukuran, Pengadaan, Tata Cara Penyampaian, dan Tata Cara Pembetulan Faktur Pajak Standar
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak
Nomor
PER-59/PJ./2005, antara lain mengatur :
a. Pasal 7 ayat (1), bahwa atas Faktur Pajak Standasr yang cacat, rusak atau salah dalam
pengisian atau penulisan sehingga tidak memenuhi ketentuan Pasal 13 ayat (5) Undang-
Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak
Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000, Pengusaha Kena Pajak yang menerbitkan Faktur Pajak
Standar tersebut dapat menerbitkan Faktur Pajak Standar Penggantian yang tata caranya
sebagaimana diatur dalam Lampiran III huruf A Keputusan ini.
b. Lampiran III huruf A tentang Tata Cara Pembetulan Faktur Pajak Standar Yang Rusak atau
Cacat atau Salah Dalam Pengisian atau Salah Dalam Penulisan antara lain mengatur :
1. Atas permintaan Pengusaha Kena Pajak pembeli atau penerima Jasa Kena Pajak atas
atas kemauan sendiri, terhadap Faktur Pajak yang rusak, cacat, salah dalam
pengisian, atau salah dalam penulisan, Pengusaha Kena Pajak penjual atau pemberi
Jasa Kena pajak membuat Faktur Pajak Standar Pengganti.
2. Pembetulan Faktur Pajak Standar yang rusak, cacat, salah pengisian atau salah dalam
penulisan tidak diperkenankan dengan cara menghapus atau mencoret, atau dengan
cara lain, selain dengan cara membuat Faktur Pajak Standar Pengganti sebagaimana
dimaksud dalam butir 1.
3. Penerbitan dan peruntukan Faktur Pajak Standar Pengganti dilakaksanakan seperti
Faktur Pajak Standar yang biasa.
4. Faktur Pajak Standar Pengganti sebagaimana dimaksud pada butir 1, diisi berdasarkan
keterangan yang seharusnya dan dilampiri dengan Faktur Pajak Standar yang rusak,
atau cacat atau salah dalam penulisan atau salah dalam pengisian tersebut.
5. Pada Faktur Pajak Standar Pengganti sebagaimana dimaksud pada butir 1,
dibubuhkan cap yang mencantumkan Kode, Nomor Seri dan tanggal Faktur Pajak
Standar yang diganti tersebut.
6. Faktur Pajak Standar Pengganti dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak
Pertambahan Nilai pada Masa Pajak yang sama dengan Masa Pajak dilaporkannya
Faktur Pajak yang diganti.
7. Penerbitan Faktur Pajak mengakibatkan adanya kewajiban untuk membetulkan Surat
Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai pada Masa Pajak terjadinya kesalahan
pembuatan Faktur Pajak Standar tersebut.

5. Berdasarkan ketentuan pada butir 2 sampai dengan butir 4 serta memperhatikan butir 1 dengan
ini
diberikan penegasan sebagai berikut :
a. Volume discount/rabat sebagaimana dimaksud pada butir 1 dapat mengurangi Dasar
Pengenaan Pajak sepanjang dicantumkan dalam Faktur Pajak.
b. Dengan diterbitkannya Debit Note oleh pelanggan Saudara, maka Saudara dapat
memperhitungkannya sebagai potongan harga dengan mencantumkan volume discount/rabat
tersebut pada Faktur Pajak.
c. Dalam hal Saudara hendak mengurangkan volume discount/rabat dari harga jual di dalam
Faktur Pajak yang telah Saudara terbitkan, Saudara dapat menerbitkan Faktur Pajak Standar
Pengganti atas Faktur Pajak yang telah diterbitkan sebelumnya, yang tata caranya diatur pada
butir 1.
d. Faktur Pajak Standar Pengganti diterbitkan paling lambat 2 (dua) tahun sejak tanggal Faktur
Pajak Standar yang diganti diterbitkan, sepanjang belum dilakukan pemeriksaan.
e. Penerbitan Faktur Pajak Pengganti mengakibatkan adanya kewajiban untuk membetulkan
Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai pada Masa Pajak terjadinya kesalahan
pembuatan Faktur Pajak Standar tersebut.
f. Perlakuan PPh atas volume discount/rabat tersebut diatas tetap mengacu kepada penegasan
yang telah diberikan pada surat nomor : S-1045/PJ.313/2004.

6. Dengan diterbitkannya surat ini, maka kedua penegasan sebelumnya (S-350/PJ.52/2005 dan
S-777/PJ.52/2005) dibatalkan.

Demikian untuk dimaklumi.

Direktur,

ttd.

A. Sjarifuddin Alsah
NIP 060044664