Anda di halaman 1dari 9

PENDAHULUAN

Swietenia macrophylla adalah pohon yang sangat besar, mencapai


ketinggian 30-40 m dan ketebalan diameter dapat mencapai 3-4 m. Meiliki batang
lurus dan silindris, kulit kasar, mengelupas kecil. S. macrophylla ditemukan di
semua tipe hutan, mulai dari tepi sabana hingga hutan hujan. Spesies ini memiliki
beberapa potensi gulma sebagai tanaman pengganggu pada hutan asli. Sebaiknya
tidak ditanam di daerah dengan potensi konservasi alam yang tinggi. Ketinggian:
0-1500 m, Suhu rata-rata tahunan minimal 11 C, suhu rata-rata 20-28C atau
maksimal 35C, curah hujan tahunan rata-rata 1600-2500 atau maksimal 4000
mm. Jenis tanah tempat tumbuh S. macrophylla tumbuh paling baik di tempat
yang berdrainase baik. Distribusi S. Macrophylla secara alami dapat ditemukan di
beberapa negara, seperti Belize, Bolivia, Brazil, Colombia, Costa Rica, Ecuador,
Guatemala, Honduras, Mexico, Nicaragua, Panama, Peru, Venezuela dan
ditemukan exotic pada beberapa tempat seperti Fiji, Haiti, India, Jamaica,
Malaysia, Nigeria, Philippines, Puerto Rico, Sierra Leone, Solomon Islands, Sri
Lanka, Trinidad and Tobago (Orwa et al., 2009)
Dikarenakan eksploitasi yang terus-menerus pada Swietenia macrophylla,
kemelimpahan spesies ini merosot. Konservasi plasma nutfah menjadi kebutuhan
untuk manajemen sevcara lestari dan sebagai sarana memelihara keanekaragaman
genetik untuk mencegah erosi genetik. Mahoni dapat diperbanyak secara vegetatif
dan generatif. Secara vegetatif mahoni dapat diperbanyak salah satunya dengan
tekhnik kultur jaringan. Menurut Surata, K dan Idris, M.M., (2001) Kultur
jaringan merupakan salah satu perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan cara
menumbuhkan bagian-bagian tertentu dari tanaman, seperti sel, jaringan dan
organ dalam kondisi yang aseptik dan secara in vitro. Kultur jaringan juga dapat
didefinisikan sebagai suatu teknik menumbuh kembangbiakkan bagian tanaman
dalam kondisi aseptik secara in vitro, yang dicirikan oleh kondisi kultur yang
aseptik, penggunaan media kultur buatan dengan kandungan nutrisi yang lengkap
dan zat pengatur tumbuh serta kondisi ruang kultur yang suhu dan
pencahayaannya terkontrol
Secara umum, produksi bibit melalui metode kultur jaringan memerlukan
beberapa tahap, yaitu (1) penyediaan bahan tanaman (eksplan) dari induk terpilih,
(2) sterilisasi eksplan yang akan ditanam pada media inisiasi, (3) penanaman pada
media untuk penggandaan atau multiplikasi tunas, (4) penanaman pada media
untuk perakaran atau pembentukan planlet, dan (5) aklimatisasi. Pada metode
perbanyakan untuk tanaman jati genjah, umumnya tidak dilakukan tahap
multiplikasi tunas dan perakaran tetapi diganti menjadi tahap induksi tunas dan
elongasi, sedangkan tahap perakaran dilakukan pada saat aklimatisasi. Metode ini
cukup sederhana dan mirip dengan cara perbanyakan dengan stek secara
konvensional. Oleh karena itu, metode perbanyakan jati genjah sering disebut
secara stek mikro. Keuntungan penggunaan metode ini adalah tanaman yang
dihasilkan stabil secara genetik (Sukmadjaja, D 2005).
Salah satu kunci keberhasilan untuk mendapatkan bahan tanaman yang
responsif dan dapat diperbanyak secara kultur in vitro adalah bahan tanaman yang
masih muda. Untuk tanaman kehutanan atau tanaman tahunan lainnya daya
tumbuh bahan yang akan ditanam sangat diperhatikan. Daya tumbuh tunas muda
akan hilang secara fisik apabila jarak antara ujung tunas dan akar semakin jauh
karena pertumbuhan. Pada tanaman tahunan dewasa, tunas muda yang memiliki
daya tumbuh tinggi (juvenil) sering muncul pada bagian tanaman yang dekat
dengan tanah atau sering disebut tunas air. Tunas juvenil dari tanaman berkayu
tahunan dewasa yang akan digunakan sebagai bahan tanaman untuk kultur
jaringan, juga dapat diperoleh dengan cara melakukan pemangkasan berat. Tunas
yang muncul setelah pemangkasan dapat digunakan sebagai bahan tanaman.
Selain itu, fase juvenil kadang-kadang dapat juga diinduksi dengan cara
melakukan penyemprotan tanaman dewasa dengan GA3 atau campuran antara
auksin dan GA3 (Sukmadjaja, D dan Mariska, I.,2003).
Salah satu faktor yang berpengaruh dalam keberhasilan kultur jaringan
adalah zat pengatur tumbuh. Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) merupakan senyawa
organik bukan hara, yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat,
dan dapat mengubah proses fisiologi tumbuhan. Fungsi ZPT tersebut adalah untuk
merangsang pertumbuhan morfogenesis dalam kultur sel, jaringan, dan organ.
Salah satu jenis auksin sintetik yang sering digunakan adalah NAA (Naphthalene
Acetic Acid) karena NAA mempunyai sifat lebih stabil dari pada IAA. Sedangkan
sitokinin yang sering digunakan dalam kultur jaringan adalah BAP, karena BAP
lebih tahan terhadap degradasi dan harganya lebih murah. Penggunaan zat
pengatur tumbuh tersebut bila digunakan dengan konsentrasi rendah akan
merangsang dan mempercepat proses pertumbuhan tanaman, dan sebaliknya bila
digunakan dalam jumlah besar / konsentrasi tinggi akan menghambat
pertumbuhan bahkan dapat mematikan tanaman. Untuk itu perlu dikaji
penggunaan konsentrasi zat pengatur tumbuh yang paling efektif dalam
merangsang morfogenesis tanaman (Nisak, K, dkk.,2012)
Kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuhkan organ jaringan
ataupun sel tanaman pada media kultur dalam kondisi aseptik. Keberhasilan
pembentukan tunas dalam kultur jaringan bergantung pada berbagai faktor, antara
lain media tumbuh, jenis dan kondisi fisiologis eksplan, serta zat pengatur tumbuh
yang digunakan. Proliferasi tunas pada tanaman berkayu biasanya sangat lambat,
sedangkan aplikasi zat pengatur tumbuh sitokinin dari golongan benzil adenin dan
kinetin belum dapat memacu pembentukan tunas secara optimal. Penemuan
senyawa baru thidiazuron pada tahun 1976 dapat mengatasi proliferasi tunas pada
berbagai tanaman, khususnya tanaman berkayu. Thidiazuron merupakan senyawa
kimia yang mempunyai aktivitas hampir sama dengan sitokinin, yaitu dapat
meningkatkan proliferasi tunas dan pembentukan embrio somatik. Thidiazuron
mempunyai aktivitas tinggi pada konsentrasi rendah, yaitu sekitar 0,1-0,5 mg/1.
(Lestari, E.G., 2015)
Kultur jaringan memiliki berbagai keunggulan diantaranya adalah
didapatkan bibit yang seragam serta bebas dari berbagai penyakit. Dalam teknik
kultur jaringan digunakan berbagai kombinasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dalam
media untuk mendapatkan hasil tanaman yang maksimal. Tiap jenis tanaman
memiliki respons yang berbeda terhadap zat pengatur tumbuh yang diberikan.
Dalam budidaya tanaman pucuk mahoni yang dilakukan secara in vitro, media
kultur jaringan pucuk mahoni secara umum adalah media MS dengan
penambahan ZPT tertentu untuk merangsang pertumbuhan pucuk mahoni
(Tukawa, N.D, dkk., 2013)
PEMBAHASAN

1. Metode Kultur Jaringan Mahoni


Bibit S. Macrophylla yang telah disemaikan di pasir. Baik nodal dan
internodalnya dengan panjang segmen sekitar 0,5 cm digunakan sebagai eksplan.
Segmen nodal dari tunas basal muda dari beberapa pohon berumur 10 tahun juga
digunakan dalam percobaan. Pada percobaan ini eksplan dicuci dengan air
mengalir dan permukaannya kemudian disterilkan 10 menit dalam 10 % (w/v)
larutan sodium hipoklorit yang disiapkan. Tween 20 ditambahkan sebagai agen
pembasah. Untuk mengurangi eksudasi senyawa fenolik ke media, segmen nodal
dari pepohonan direndam dalam air steril sekitar 2 jam setelah sterilisasi
permukaan. Segmen nodal bibit tidak memerlukan perawatan ini. Kultur jaringan
dari tunas pada kondisi in-vitro juga diuji respons pertumbuhannya.
Murashjge & Skoog (1962) menggunakan sukrosa 2% dan 0. 7% Difco
Bacto Agar. Macronutrien dikurangi menjadi setengah kekuatan untuk
menurunkan konsentrasi garam. Namun, konsentrasi amonium nitrat meningkat
menjadi 2g/l untuk meningkatkan tingkat nitrogen yang berkurang. Media
dilengkapi dengan konsentrasi dan kombinasi benzyladenine (BA) yang berbeda,
Indole-acetic acid (IAA), Indole-butyric acid (IBA), dan Kinetin (K). Semua
kultur dipertahankan pada suhu 22C to 25 C dengan panjang photoperiod
selama 16 jam Philiph white flouresence light pada 35-45mol.em -1. Diikuti
dengan 8 jam keadaan gelap. Setiap perlakuan diberi 10 ulangan dan setiap
percobaan diulang dua kali. Untuk studi histologis, jaringan yang dipilih dari
berbagai usia yang dikembangkan in-vitro diperbaiki dengan alkohol formalin
(1: 1: 18). Praktik standar diikuti untuk dehidrasi, mikrotoming dan pewarnaan
dengan hematoxylin dan eritrosin (Sass, 1968)

2. Hasil Kultur jaringan


Respon eksplan pada media IAA + K pada kombinasi faktorial 5 2: Eksplan
bibit dan juga yang pohon dari pohon berumur matang (10 tahun) diinokulasi ke
media IAA dan K (0, 1, 2, 5 dan 10 ppm masing-masing), dalam kombinasi
faktorial 52. Segmen nodal tunas muda yang dipotong dari pohon berumur 10
tahun tetap hijau tanpa banyak respon. Meskipun tunas aksilar pada beberapa
ulangan (IAA [0 sampai 2 ppm] dan tinggi K [5 sampai 10 ppm]) diperbesar
sampai batas tertentu, tetap tidak aktif dan tidak ada tunas yang dikembangkan.
Sekitar 600% dari replikasi berubah menjadi coklat sekitar 12 hari setelah
inokulasi dan tidak ada pertumbuhan lebih lanjut. Pertumbuhan juga lambat pada
segmen nodal dan internodal dari sumber pembibitan. Semua segmen tetap segar.
Eksplan pada media dengan IAA tinggi (5, 10 ppm) dan K (0 sampai 10 ppm)
mulai tumbuh 25 sampai 30 hari setelah inokulasi. Sekitar 70% dari kultur, bagian
tengah segmen membesar dan terjadi pembengkakan kecil yang berkembang saat
disubkultur ke media segar 40 hari setelah hari pertama inokulasi. Dalam kultur
jaringan sekitar 50 sampai 60 hari, banyak lobus kecil, kalus dikembangkan yang
diperbesar lebih lanjut dalam 60 sampai 70 hari (Gambar 1). Dalam semua kultur,
tunas aksiler tetap tidak aktif, dan tidak muncul sebagai tunas. Respon segmen
nodal pada media BA: Mengingat respon terbatas yang terlihat

Figure 1 to 8
Metode diatas merupakan upaya dilakukan untuk menginduksi beberapa tunas
dengan mengkulturkan segmen nodal baik dari bibit maupun pohon tua, di media
BA (0 sampai 10 ppm). Segmen nodal Dari pohon gagal merespons. Sekitar 50%
ulangan berubah menjadi cokelat 10 sampai 12 hari setelah inokulasi dan
selanjutnya mati. Dengan segmen nodal dari bibit, pertumbuhannya meningkat di
semua media yang digunakan. Pada media BA (0, 1 dan 1 ppm), tunas aksiler
tumbuh menjadi tunas sekitar 20 hari setelah inokulasi. Pertumbuhan tunas lambat
dan dalam waktu 14 hari sejak tumbuh daun mungil yang dikembangbiakkan.
Tidak ada perkembangan selanjutnya yang diamati, terlepas dari konsentrasi yang
digunakan.
Respon terbaik diperoleh pada media BA (2 dan 5 ppm). Tunas aksiler
tumbuh 10 hari setelah inokulasi, dengan setiap tunas menghasilkan sedikit coklat
kemerahan. Pertumbuhannya sangat kuat dan tunas berukuran 1,5 cm panjangnya
sekitar 25 sampai 30 hari, setelah itu laju pertumbuhan melambat, dan daun yang
lebih lemah gugur. Pada tahap ini, segmen tunas disubkultur ke media segar yang
memiliki komposisi yang sama. Jika tidak, tunas aksilaris baru akan tetap tidak
aktif dan tidak berdaun. Bahkan sebuah subkultur, hanya sedikit perpanjangan
tunas yang diamati dan tunas berkembang tidak berlipat ganda
Pada tunas aksial, kalus berkembang di daerah basal segmen dalam waktu
sekitar 2 minggu (Gambar 2). Pertumbuhan berlanjut lebih lanjut dan sekitar satu
bulan setelah inokulasi, lapisan permukaan pecah ringan pada lokus tertentu,
untuk melepaskan bintik-bintik kecil dari kalus bewarna keputihan dan gembur.
Ini disubkultur sekali dalam 3 minggu untuk mendorong pertumbuhan jaringan
lebih lanjut Sekitar 9 minggu setelah inokulasi pertama, tunas keputihan kecil
dikembangkan di permukaan kalus coklat. Beberapa di antaranya berkembang
menjadi tunas dengan keputihan atau daun berwarna pucat (Gambar 2, 3), dan
dalam 10 hari setelah kemunculan, daunnya kembali kehijauan. Tunas ini tumbuh
setinggi 1 sampai 3 cm dalam waktu 25 hari setelah kemunculan. Sekelompok 6-7
tunas terbentuk di sekitar satu rumpun kalus yang rapuh (Gbr.4, 5), dan tunas ini
dipotong untuk rooting. Setelah dipotong tunas matang, tunas baru diinduksi saat
rumpun kalus kecoklatan dan rapuh disubkultur ke media segar
Studi anatomis menunjukkan bahwa sekitar 10 sampai 12 hari setelah
inokulasi, periderm yang berbeda terbentuk pada permukaan luka segmen nodal
dan zona kambial reguler dimulai di bawah lapisan periferal yang rusak (Gambar
7). Tidak ada perubahan yang nyata yang diamati pada sel asli dalam hal
kehilangan isinya sebelum regenerasi kambium baru. Zona kambial yang
terbentuk sepenuhnya adalah 5 sampai 6 lapisan dalam dan menonjol (Gambar 8).
KESIMPULAN

1. Respon Kultur jaringan daun pada media BA


Daun muda yang dipotong dari tunas regenerasi diinokulasi ke media yang
dilengkapi BA (0 sampai 10 ppm). Kecuali untuk media yang dilengkapi
dengan BA (2,5 ppm) tidak ada respon yang diamati pada yang lain. Jaringan
daun menjadi coklat pada medium BA (10 ppm) dalam waktu sekitar4 hari
setelah inokulasi. Pertumbuhan trofik trofik terlihat pada tanaman eks di
media BA (2 ppm), sehingga batang daun melengkung menjadi banyak
lipatan. Di permukaan banyak pertumbuhan kecil juga diamati. Studi anatomis
menunjukkan dua pola pertumbuhan, (a) daun pisau dilipat ke atas karena
pertumbuhan yang berlebihan di daerah epidermis bawah dan, (b) lapisan
epidermal dan subepidermal bergelombang, membentuk banyak pertumbuhan
kecil. Pada titik-titik tertentu sel-sel mesofil juga terbagi, berkontribusi pada
forma tion pertumbuhan kecil. Masing-masing memiliki kelompok sel yang
aktif membelah.
2. Formasi plantlet: Tunas yang dipotong ditanam ke media IBA (2,5 dan 10
ppm) tujuannya untuk menginduksi rooting dan respons awalnya lambat. Pada
konsentrasi rendah (2 ppm), tidak ada akar yang dikembangkan, sedangkan
pada konsentrasi yang lebih tinggi (5 dan 10 ppm), hanya beberapa tunas yang
berakar pada sekitar 40 hari setelah inokulasi. Dalam setiap kasus, hanya akar
yang dihasilkan, tumbuh secara horizontal ke sumbu tunas, menyerupai akar
utama bibit
DAFTAR PUSTAKA

Deden Sukmadjaja. 2005. Embriogenesis Somatik Langsung Pada Tanaman


Cendana (Direct Somatic Embryogenesis On Sandalwood). Jurnal
Bioteknologi Pertanian, Vol.10, No 1 1-6

Lestari, G E 2015 Peran Thidiazuron Dalam Peningkatan Kemampuan


Proliferasitanaman Secara/A Vitro. Jurnal Penelitian Dan Pengembangan
Pertanian. Volume 34 Nomor 2, Juni 2015 Role Of Thidiazuron In
Enhanching In Vitro Shoot Proliferation

Nisak, K, Dkk.,2012. Pengaruh Kombinasi Konsentrasi ZPT NAA Dan BAP Pada
Kultur Jaringan Tembakau Nicotiana Tabacum Var. Prancak 95. Jurnal
Sains Dan Seni Pomits Vol. 1, No. 1, (2012) 1-6

Orwa C, A Mutua, Kindt R , Jamnadass R, S Anthony. 2009 Agroforestree


Database:a tree reference and selection guide version 4.0
(http://www.worldagroforestry.org/sites/treedbs/treedatabases.asp)

Sukmadjaja, D Dan Mariska, I.,2003. Perbanyakan Bibit Jati Melalui Kultur


Jarungan. Balai Penelitian Bioteknologi Dan Sumberdaya Genetik
Pertanian 2003

Surata, K Dan Idris, M.M., 2001. Status Penelitian Cendana Di Propinsi Nusa
Tenggara Timur. Berita Biologi, Volume 5, Nomor 5,

Tukawa, N.D, Dkk. 2013. Efektivitas 6-Furfuryl Amino Purine (Kinetin) Dan 6-
Benzylamino Purine (BAP) Pada Media MS Terhadap Pertumbuhan
Eksplan Pucuk Mahoni (Swietenia Mahagoni) Secara In Vitro. Lenterabio
Vol. 2 No.:6367