Anda di halaman 1dari 29

PETUNJUK PRAKTIKUM

KEANEKARAGAMAN HEWAN
(VERTEBRATA)

Disusun:
Sofia Ery Rahayu

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
2015

1
KATA PENGANTAR

Syukur alhamdullilah dipanjatkan ke hadirat Allah S.W.T. Atas limpahan rahmat,


taufik, hidayah dan ridloNya buku Petunjuk Praktikum matakuliah Keanekaragaman
Hewan materi Vertebrata ini dapat diselesaikan. Buku Petunjuk Praktikum ini diharapkan
dapat melatih para mahasiswa dalam melakukan identifikasi hewan Vertebrata.
Buku petunjuk praktikum Keanekaragaman Hewan materi Vertebrata menjelaskan
secara ringkas karakter-karakter dan prosedur dasar identifikasi hewan yang tergolong
Vertebrata dimulai dari ikan Chondrichtyes, Osteichtyes, Amphibia, Reptilia, Aves, dan
Mammalia. Prosedur identifikasi hewan yang dijelaskan dalam petunjuk paraktikum ini
hanya berdasarkan morfologi saja.
Akhirnya, semoga buku Petunjuk Praktikum Keanekaragaman Hewan materi
Vertebrata ini banyak membawa manfaat bagi para pemakai. Selanjutnya, demi makin
sempurnanya buku petunjuk praktikum ini sangat diharapkan masukan dan saran yang
bersifat membangun.

Malang, Februari 2015


Penulis

2
DAFTAR ISI

Halaman

Kata Pengantar ........................................................................................... 2


Daftar Isi..................................................................................................... 3
I. Kelas Pisces (Chondrichtyes) ............................................................... 4
II. Kelas Pisces (Osteichtyes) .................................................................... 6
III. Kelas Amphibia .................................................................................. 13
IV. Kelas Reptilia ..................................................................................... 20
V. Kelas Aves ......................................................................................... 25
VI. Kelas Mammalia ............................................................................... 27
Daftar Pustaka ......................................................................................... 28

3
I. KELAS PISCES (CONDRICHTYES)

Topik : IDENTIFIKASI IKAN TULANG RAWAN


Alat dan Bahan : Awetan basah ikan hiu dan ikan pari, serta loupe

Langkah Kerja:
1. Amati karakter-karakter yang dimiliki oleh ikan yang Saudara amati. Karakter-karakter
tersebut antara lain:
a. Habitat
b. Bentuk tubuh
c. Tipe sisik
d. Tipe ekor
e. Letak mulut
f. Bentuk linea lateralis
g. Letak celah insang
h. Jumlah celah insang
i. Karakter lain yang spesifik dari ikan yang diamati...

Gambar 1.1 Tipe Mulut Ikan (Sumber: Kottelat dkk. 1993)


Keterangan: a. Terminal, b. Sub-terminal, c. inferior, d. superior

4
Gambar 1.2. Tipe Ekor Ikan ( Sumber: Hickman, dkk. 2006)

2. Gambar bahan amatan Saudara dan uraikan karakter morfologi yang Saudara amati!

5
II. KELAS PISCES (OSTEICHTYES)

Topik : IDENTIFIKASI IKAN TULANG KERAS


Alat dan Bahan : Beberapa jenis ikan, mikroskop, loupe, kaca benda, kaca penutup,
penggaris/jangka sorong

Langkah Kerja:
1. Amati karakter-karakter yang dimiliki oleh ikan yang Saudara amati. Karakter-karakter
tersebut antara lain:
a. Habitat
b. Ada tidaknya sisik
c. Tipe sisik ikan
d. Bentuk tubuh (streamline, pipih dorso ventral, atau ..)
e. Sirip (tunggal atau berpasangan)
f. Nostril (berhubungan dengan cavum oris atau tidak)
g. Endosekeleton ( tulang rawan atau tulang sejati)
h. Memiliki operculum atau tidak
i. Memiliki barbel atau sungut
j. Tipe sirip ekor
k. Letak mulut
l. .........(Karakter lain yang dapat digunakan untuk identifikasi)
2. Pengukuran tubuh ikan
a. Panjang seluruhnya: jarak garis lurus antara ujung kepala bagian paling terminal
sampai ujung sirip ekor bagian paling ujung.
b. Panjang standar: jarak garis lurus antara ujung kepala bagian paling terminal sampai
pangkal sirip ekor. Pangkal sirip ekor dilihat dengan cara melekukkan sirip ekor.
c. Panjang kepala : jarak garis lurus antara ujung kepala bagian terminal sampai
bagian posterior operkulum
d. Panjang batang ekor:jarak garis lurus antara ujung dasar sirip anal dan pangkal sirip
ekor.
e. Panjang moncong: jarak garis lurus antara ujung terminal mlut sampai bagian
anterior mata
f. Tinggi sirip punggung: jarak pangkal sirip dorsal sampai ujung sirip dorsal
6
g. Panjang pangkal sirip punggung: jarak antara pangkal jari-jari pertama sampai jari-
jari terakhir bertemu dengan badan. Jarak ini diukur melalui dasar sirip.
h. Diameter mata : lebar mata
i. Tinggi batang ekor: diukur pada batang ekor pada tempat yang terendah
j. Tinggi badan: diukur dari tempat tertinggi pada badan ikan
k. Panjang sirip dada: jarak antara pangkal jari-jari pertama sampai jari-jari terakhir
bertemu dengan badan. Jarak ini diukur melalui dasar sirip.
l. Panjang sirip perut: jarak pangkal sirip perut sampai ujung sirip perut
Morfologi ikan dan cara pengukuran tubuh disajikan pada Gabar 2.1. Tipe sisik disajikan
pada Gambar 2.2.

Gambar 2.1 Morfolgi Ikan dan Ukuran yang Digunakan untuk Identifikasi (Sumber:
Kottelat dkk. 1993)
Keterangan: A. Sirip puggung, B. Sirip ekor, C. Gurat sisi, D. Lubang hidung, E. Sungut, F.
Sirip dada, G. Sirip perut, H. Sirip dubur. a). Panjang total, b). Panjang
standar, c). panjang kepala, d). Panjang batang ekor, e). Panjang moncong, f).
Tinggi sirip punggung, g). Panjang pangkal sirip punggung, h). Diamater mata,
i). tinggi batang ekor, j). Tinggi badang, k). Panjang sirip dada, l). Panjang sirip
perut.

Gambar 2.2 Sisik Ikan dan Bagiannya (Sumber: Kottelat dkk. 1993)

7
3. Penghitungan jari sirip
Ikan yang memiliki sirip yang berpasangan maka penghitungan jari-jari sirip dilakukan
pada sirip yang terletak sebelah kiri. Pada keadaan ini posisi ikan yaitu kepala ikan
terletak di sebelah kiri Saudara.
Jari-jari ikan terbagi dalam 2 macam yaitu jari-jari keras dan lemah. Jari-jari keras tidak
berbuku-buku, pejal (tidak berlobang), keras, tidak dapat dibengkokan, dan ujungnya
runcing. Jari-jari lemah mudah dibengkokan, berbuku-buku, mungkin sebagian keras
atau mengeras, pada satu sisinya dapat bergerigi, dan ujungnya bercabang/tidak
(Gambar 2.3).

Gambar 2.3 Bentuk Jari-jari Sirip Ikan (Sumber: Kottelat dkk. 1993)
Keterangan. A. Jari-jari sirip keras, B. Jari-jari sirip lunak.

a. Jari-jari keras: jumlahnya digambarkan dengan angka Romawi, meskipun jari-jari


itu pendek sekali atau rudimenter. Contohnya, jika sirip dorsal terdiri atas 10 jari-
jari keras maka ditulis D.X.
b. Jari-jari lemah: jumlahnya ditulis dengan angka Arab. Jika jari-jari paling depan,
biasanya pendek dan ujungnya tak bercabang (rudimenter) maka tidak dihitung,
tetapi jika panjang walaupun tak bercabang tetap dihitung.
Contoh jika sirip dorsal terdiri atas 2 bagian (Gambar 2.4). Jika Sirip depan terdiri 10
jari-jari keras dan sirip belakang terdiri 8 jari-jari lemah maka rumus jari siripnya
menjadi D.X.8.
Namun jika seandainya sirip dorsal yang berjari-jari keras terpisah dari yang berjari-jari
lemah, sehingga dapat dikatakan bahwa sirip dorsal ada dua buah maka rumus jari
siripnya menjadi D1.X. D2.8

8
Gambar 2.4 Sirip Dorsal (Sumber: Kottelat dkk. 1993)

Tipe lain dari sirip dorsal yaitu terdiri atas 2 bagian dan kedua bagian yaitu depan dan
belakang tidak terpisah (Gambar 2.5).

Gambar 2.5 Sirip Dorsal (Sumber: Kottelat dkk. 1993)

1) Jari-jari terakhir dari sirip dorsal dan sirip anal.


Pada sirip dorsal dan anal, jika dua jari-jari terakhir bercabang (seringkali
kelihatannya sebagai dua jari yang berdekatan) maka dihitung sebagai satu jari-jari
lemah.
2) Jari-jari sirip ekor
Biasanya rumus sirip ekor menggambarkan jumlah jari-jari lemah bercabang. Pada
ikan yang ekornya berjari-jari bercabang maka jumlah jari-jari sirip ini ditetapkan
sebanyak jumlah jari-jari yang bercabang ditambah 2.
3) Jari-jari sirip yang berpasangan
Pada sirip yang berpasangan dihitung semua jari-jarinya, termasuk yang terletak
pada sisi paling bawah atau paling sebelah dalam dari pangkal sirip. Oleh karena itu
untuk kegiatan ini seringkali diperlukan loupe.
Seringkali ditemukan bahwa jari-jari pertama sirip yang agak besar didahului oleh
sebuah jari-jari kecil yang merapat ke jari-jari besar tersebut, sehingga sebelum
menghitung jari-jari sirip maka dilakukan terlebih dahulu usaha pemisahannya. Jari-
jari yang berukuran kecil tersebut untuk sirip dada tetap dihitung, tetapi jika
ditemukan pada sirip perut maka tidak perlu dihitung.

9
4) Jari-jari sirip yang bersatu
Jika sirip perut bersatu menjadi satu sirip, maka biasanya masih tetap diketahui
bahwa sirip tersebut sebenarnya terdiri atas dua sirip. Oleh karena itu jari-jari sirip
yang dihitung hanya salah satu sirip saja.
5) Sirip lemak adalah sirip tipis tanpa jari-jari yang terletak sedikit di depan sirip ekor
(Gambar 2.6). Umumnya dimiliki ikan familia Siluriformes.

Gambar 2.6 Sirip Punggung dan Sirip Lemak (Sumber: Kottelat dkk. 1993)
Keterangan: A. Jari-jari sirip punggung, B. Sirip lemak pada sirip punggung

Tipe Sirip Ekor


Sirip ekor ikan memiliki berbagai tipe. Untuk melihatnya bentangkan secara hati-hati sirip
ekor ikan yang diamati. Gambar 2.7 memperlihatkan tipe sirip ikan.

Gambar 2.7 Tipe Sirip Ekor (Sumber: Kottelat dkk. 1993)


Keterangan: a. Membulat, b. Bersegi, c. sedikit cekung, d. Bentuk bulan sabit, e.
Bercagak, f. Meruncing, g. Lanset,
4. Penghitungan Sisik
a. Sisik pada Linea Lateralis
Bentuk linea literalis ikan bervariasi, ada yang hanya memiliki satu garis tetapi ada
juga yang lebih, ada yang lurus dan ada yang bengkok, mlengkung ke atas dan
kebawah. Jika seandainya ikan tidak memiliki linea literalis maka dihitung jumlah
sisik dimana umumnya letak linea literalis tersebut berada.

10
Penghitungan sisik pada linea literalis dimulai pada sisik yang terletak di belakang
lengkung bahu yang sama sekali tidak menyentuh lengkung bahu tersebut dan
berakhir pada pangkal ekor atau pada ruas tulang belakang bagian ekor yang terakhir.
Tempat ini dengan mudah dapat ditetapkan dengan cara menggoyang-goyangkan sirip
ekor dan pada pelipatan pangkal sirip ekor tersebut terletak ruas tulang belakang yang
dimaksud. Sisik yang terletak di atas pelipatan ini tidak dihitung.
b. Sisik di atas dan di bawah linea lateralis
- Cara menghitung sisik tersebut dengan menarik garis tegak lurus dari awal sirip
dorsal pertama sampai pertengahan dasar perut.
- Jika cara pertama tidak bisa karena garis tersebut melalui dasar sirip perut, maka
cara menghitung sisik yaitu dengan cara mengambil garis tegak mulai dari
dasar/akhir sirip perut menuju awal ke sirip dorsal.
- Cara lain yaitu dengan menentukan jumlah sisik di atas linea lateralis dimulai pada
permulaan sirip dorsal dan dihitung miring ke bawah dan ke balakang, sedangkan
sisik di bawah linea lateralis dimulai pada permulaan sirip anal dan dihitung miring
ke atas dan ke depan.
Pada semua cara tersebut sisik yang terletak tepat pada linea lateralis tidak dihitung.

Gambar 2.8 Penghitungan Sisik Utama (Sumber: Kottelat dkk. 1993)


5. Tulang-tulang Tambahan Tutup Insang
Insang ditutupi oleh tulang penutup insang. Pada ikan-ikan tertentu, sisi bawah tulang
tutup insangnya terdapat selaput tutup insang yang diperkuat dan digerak-gerakkan oleh
tambahan tutup insang yang terletak di dalamnya. Untuk identifikasi perlu diketahui
jumlah tulang-tulang tambahan tutup insang tersebut.

11
6. Letak Mulut Ikan
Letak mulut ikan bervariasi. Gambar 2.5 menyajikan tipe mulut ikan.

Gambar 2.9 Tipe Mulut Ikan (Sumber: Kottelat dkk. 1993)


Keterangan: a. Terminal, b. Sub-terminal, c. inferior, d. superior

7. Potongan Melintang Badan Ikan


Bentuk badan ikan bervariasi dan jika dipotong tubuh ikan tersebut akan terlihat seperti
Gambar 2.6.

Gambar 2.6 Potongan Melintang Badan Ikan (Sumber: Kottelat dkk. 1993)
Keterangan: a. Ramping bergeligir, b. Pipih tegak, c. Bundar, d. Pipih datar, e.
Sangat pipih

12
III. KELAS AMPHIBIA

Topik : IDENTIFIKASI KATAK dan KODOK


Alat dan Bahan : Katak sawah, kodok, katak pohon, loupe, penggaris/jangka sorong
Langkah Kerja:
Amati karakter-karakter yang dimiliki oleh hewan amphibia yang Saudara amati. Karakter-
karakter tersebut antara lain:
1. Bagian dorsal kepala dan cavum oris
a. ada tidaknya gigi vomer yang terletak diantara 2 choane dan gigi maxilla
b. gigi vomer berbentuk kerucut
c. ukuran gigi vomer lebih besar dibandingkan gigi maksila
d. ujung lidah berbentuk lancip, membulat, bifida/tidak
e. ada tidaknya kelenjar paratoid
f. ukuran kelenjar paratoid
g. bentuk kelenjar paratoid
h. kedudukan kelenjar paratoid
i. adanya tidaknya alur parietal
j. ada tidaknya alur supraorbital
k. diameter mata dan membran timpani
l. moncongnya menonjol melampaui/tidak rahang bawah
m. ada tidaknya kulit menanduk pada kelopak bagian atas

2. Jari-jari tangan dan kaki


a. ada tidaknya selaput renang pada jari-jari tangan dan kaki
b. jumlah jari-jari tangan dan kaki yang berselaput (berapa jari yang bebas dari selaput)
c. ada tidaknya selaput renang pada bagian luar jari-jari kaki ke-5 dan sepanjang tepi
luar lengan bawah dan kaki-kakinya
d. ujung jari-jari tangan dan kaki membentuk discus yang besar, sedikit melebar,
tumpul, atau lancip
e. ada tidaknya alur circum marginal pada ujung jari-jari
f. ada tidaknya tulang rawan intercalari diantara 2 ruas jari-jari terujung
g. ada tidaknya subarticular tubercle pada jari-jari tangan dan kaki
h. ada tidaknya metacarpal tubercle pada jari-jari tangan
13
i. ada tidaknya metatarsal tubercle pada jari-jari kaki
j. tumit tidak/mencapai/melampaui ujung moncong
3. Gelang pectoralis
Kedudukan tulang rawan epicoracoid satu terhadap yang lain.
a. Tipe archifera, jika tulang rawan epicoracoid yang sebelah menutupi yang lain
b. Tipe firmisterna, jika tulang rawan epicoracoid saling bertemu di tengah membentuk
satu garis
4. Karakter-karakter lain, antara lain:
a. ada tidaknya lipatan supratimpanum
b. ada tidaknya lipatan dorsolateral
c. kulit berbintil-bintil kasar atau halus
d. warna tubuh
e. dst .....
Untuk mencandra ciri-ciri yang dimiliki oleh spesimen yang diamati dapat melihat
Gambar 3.1.

Gambar 3.1. Ciri Morfologi Hewan Amphibia (Sumber: Iskandar, 1998)


Keterangan: a. Lipatan dorsolateral, b. Tympanum, c. moncong, d. Tonjolan kawin, e.
Selaput jari, f. Tonjolan antar ruas, g. Ujung jari licin, h. Ujung
berbentuk gada, i. ujung pipih dengan lekuk sirkum marginal, j. Ujung
seperti spatula, k. Ujung bercakar, l. kelenjar paratoid, m. alur

14
supraorbital, n. Gelang bahu arsiferal, o. Gelang bahu firmisternal, p.
Alur parietal.

5. Ukurlah beberapa bagian tubuh katak yang Saudara amati.Parameter morfometri


spesimen katak yang diamati diadopsi dari Wicesa (2013) dan disajikan pada Gambar
3.2.
a. SVL: pengukuran panjang tubuh dari ujung moncong sampai kloaka
b. NN: jarak antara kedua lubang hidung
c. IO: jarak antara kedua mata terdalam yaitu titik terdekat kedua mata
d. EW: jarak anatara kedua mata terluar yaitu titik terjauh kedua mata
e. HW: lebar kepala diukur dari tulang tympanum sisi kanan ke kiri
f. THL: panjang paha diukur dari kloaka sampai lutut
g. TFL: panjang tibia dan fibula diukur dari lutut sampai tibiotarsal yang ditekuk
h. ED: diameter mata
i. SL: panjang moncong diukur dari ujung moncong sampai kelopak mata
j. TD: diameter membran tympanum
k. HND: panjang telapak tangan diukur dari dasar turbekel sampai ujung jari ketiga
l. WD: pengukuran diameter piringan jari
m. FOT: panjang telapak kaki, diukur dari dasar turbekel metatarsal sampai ujung jari
kaki keempat

Gambar 3.2 Cara Morfometri Katak (Sumber: Biju dan Bossuyt, 2005 dalam Wicesa,
2013)
Keterangan: a. Panjang tubuh, b. Jarak antara lubang hidung, c. Jarak kedua mata
terdalam, d. Jarak mata terluar, e. Lebar kepala, f. Panjang paha, g.
Panjang tibia dan fibula, h. Diameter mata, i. Panjang moncong, j.
Diemeter membran timpani, k. Panjang telapak tangan, l. Diameter
piringan jari.

15
6. Bentuk tubuh katak bervariasi. Gambar 3.3, 3.4, dan 3.5 menyajikan gambar berbagai
bentuk tubuh katak.

Gambar 3.3 Bentuk Tubuh dari: A. Bufo melanosticus, B. Bufo asper, C. Leptophryne
borbonica, D. Leptophryne cruentata, E. & F. Leptobrachium hasseltii, G &
H. Megophrys montana (Sumber: Iskandar, 1998).

16
Gambar 3.4 Bentuk Tubuh dari: A & B. Kaloula baleata, C. Kalophrynus
pleurostigma, D. Kalophrynus minusculus, E. Microhyla achatina, F.
Microphyla palmipes, G. Rana catesbeiana, H. Xenopus laevis (Sumber:
Iskandar, 1998).

17
Gambar 3.5 Bentuk Tubuh dari: A & B. Huia masonii , C & D. Rana (Hylarana), E.
Fejervarya limnocharis, F. Fejervarya cancrivora, G & H. Limnonectes sp.
(Sumber: Iskandar, 1998).

18
Gambar 3.6 Bentuk Tubuh dari: A & B. Occidozyga , C & D. Philautus sp. , E& F.
Polypedates leucomystax, G. Rhacophorus sp., H. Rana (Hylarana) sp.
(Sumber: Iskandar, 1998).

19
BAB IV. KELAS REPTILIA

Topik : IDENTIFIKASI HEWAN REPTILIA


Alat dan Bahan : Beberapa jenis hewan Reptilia (kadal, cecak, tokek, kura-kura, ular),
loupe, penggaris/jangka sorong

Langkah Kerja:
Amati karakter-karakter yang dimiliki oleh hewan Reptilia yang Saudara amati. Karakter-
karakter tersebut antara lain:
1. Habitat
2. Pola warna tubuh
3. Sisik tubuh. Pola sisik dan jumlah sisik pada daerah kepala dan badan dari hewan
kelompok kadal dan ular dapat digunakan untuk identifikasi.
4. Karakteristik alat gerak
5. Bentuk dan ukuran tubuh. Hewan Reptilia terdiri atas beberapa ordo dan anggota dari
ordo tersebut memiliki bentuk yang berbeda satu dengan lainnya. Pengukuran tubuh
hewan Reptilia disajikan pada Gambar 4.1, 4.2, dan 4.3.
a. Hewan kura-kura, terrapin, dan penyu
Ukuran tubuh hewan kelompok kura-kura dengan cara mengukur panjang karapak
melalui garis tengah karapak (Gambar 5.1).

Gambar 4.1 Morfologi Hewan Reptilia Ordo Chelonia (Sumber: Indraneil,


2010)
Keterangan: SCL: Panjang karapak

20
b. Kadal
Penentuan ukuran tubuh meliputi pengukuran panjang tubuh (SVL) yang diukur
mulai ujung moncong sampai pangkal ekor (Gambar 4.2). Pengukuran panjang
ekor tidak terlalu penting karena hewan kadal terkadang melepaskan ekornya saat
terancam.

Gambar 4.2 Pengukuran Panjang Tubuh hewan Ordo Squamata (Sumber:


Indraneil, 2010)
Keterangan: SVL: Panjang tubuh mulaiujng moncong sampai pangkal
ekor

c. Ular
Pengukuran tubuh ular dilakukan dengan cara mengukur panjang total tubuh (TL)
dimulai dari ujung moncong sampai ujung ekor (Gambar 4.3).

Gambar 4.3 Panjang Total Tubuh(TL) (Sumber: Indraneil, 2010)

6. Morfologi dan Tipe Sisik.


a. Kura-kura dan penyu
Sisik menyusun bagian karapak (bagian dorsal) dan plastron (bagian ventral) tubuh.
Sisik tersebut tersusun secara spesifik dan penting untuk identifikasi (Gambar 4.4).

21
A B
Gambar4.4 Sisik Penyusun Karapak (A) dan Plastron (B) (Sumber: Indraneil,
2010)

b. Sisik kepala Kadal


Letak sisik dan ukurannya penting untuk identifikasi kelompok kadal. Letak dan
nama sisik sama pada sebagian besar squamata (Gambar 45.).

Gambar 4.5 Sisik Penyusun Kepala pada Sisi Lateral, Ventral dan Dorsal
kepala Lizard (Sumber: Indraneil, 2010)

22
c. Penghitungan Sisik Tubuh Ular
Sisik badan dibedakan atas sisik dorsal dan sisik ventral. Sisik dorsal menutupi
seluruh permukaan dorsal sampai ke lateral. Sisik tersebut relatif kecil dengan
permukaan halus atau berlunas. Pada umumnya sisik berukuran sama besar,
tetapikadang deretan tengah (sisik vertebral) lebih lebar. Penghitungan jumlah
barisan sisik tubuh ular dilakukan pada sisi dorsal tubuh antara kepala dan kloaka.
Sisik yang terletak di bagian ventral tubuh tidak perlu dihitung. Cara
menghitungnya seperti disajikan pada Gambar 4.6.

Gambar 4.6 Penghitungan Sisik Tubuh (Sumber: Indraneil, 2010)

d. Penghitungan Sisik Ekor Ular


Sisik pada bagian ekor yang perlu diperhatikan meliputi sisik anal dan sisik
subcaudal. Sisik anal merupakan sisik yang berjumlah satu atau sepasang dan
menutup celah anus (kloaka). Sisik subcaudal merupakan deretan sisik di sebelah
posterior sisik anal. Susunannay dapat satu deret dapat pula berpasangan atau
campuran dengan jumlah yang bervariasi. Penghitungan sisik subcaudal merupakan
jumlah sisik atau pasangan sisik (tergantung pada spesies) yang terletak di bagian
ventral ekor. Cara menghitungnya dimulai dari sisik yang terletak setelah sisik anal
sampai di depan sisik yang terletak di ujung ekor (Gambar 4.7).

Gambar 4.7 Sisik Ekor Ular (Sumber: Indraneil, 2010)

23
e. Sisik Kepala Ular
Sisik yang terletak di kepala dapat diidentifikasi berdasarkan bentuk dan letaknya
(Gambar 4.8)

A B
Gambar 4.8 Sisik Penyusun Kepala Ular Bagian Dorsal (A) dan Lateral (B)
(Sumber: Indraneil, 2010)

24
V. KELAS AVES

Topik : IDENTIFIKASI BURUNG


Alat dan Bahan : Beberapa jenis burung, mikroskop, loupe, kaca benda, kaca
penutup, penggaris/jangka sorong

Langkah Kerja:
1. Amati karakter-karakter yang dimiliki oleh ikan yang Saudara amati. Karakter-karakter
tersebut antara lain:
a. Habitat
b. Warna bulu bagian kepala, badan, sayap, ekor, bulu yang melingkari mata (jika
warna bulu berbeda).
c. Warna paruh
d. Warna kaki
e. Warna iris mata
f. Tipe paruh
g. Jumlah jari kaki
h. Tipe kaki
i. Karakter-karakter lain yang spesifik pada burung yang diamati.
Berikut disajikan Gambar morfologi burung dan bagian-bagian tubuhnya.

Gambar 5.1 Topografi Burung (Sumber: Mackinnon, 1990)

25
Gambar 5.2 Tipe Paruh Burung (Sumber: Verma, 1979)
Keterangan: A. Tipe pemakan biji; B. Tipe pemotong; C. Tipe pemakan buah; D. Tipe
pembuka dan penusuk; E. Tipe pemakan serangga; F. Tipe penangkap ikan; G. Tipe
pemahat kayu; H. Tipe penggali lumpur; I. Tipe penusuk bunga; J. Tipe berkantung;
K. Tipe spatula; L. Tipe penyaring air dan lumpur (Verma, 1979: 324-328).

Gambar 5.3 Tipe Kaki Burung (Sumber: Verma, 1979)


Keterangan: A. Tipe pelari; B. Tipe petengger; C. Tipe pemanjat; D. Tipe
pelekat; E. Tipe pencakar; F. Tipe pencengkeram; G. Tipe
perenang dan penyelam; H. Tipe perenang dan pendayung; I. Tipe
penjelajah

26
2. Bentangkan sayap sisi kanan, selajutnya hitunglah bulu sayap yang tergolong dalam
bulu sayap primer dan sekunder. Bulu sayap primer melekat pada tulang jari, sedangkan
bulu sayap sekunder melekat pada tulang radius. Jika ada bulu sayap burung yang
tanggal/rontok tetap dihitung dengan cara carilah tempat tumbuhnya bulu tersebut.
Berikut disajikan Gambar bentangan sayap burung.

Gambar 5.4 Bentangan Sayap Burung (Sumber: Mackinnon, 1990)


Keterangan: 16. Alula, 18. Bulu penutup sayap, 21. Bulu sayap tersier, 22. Bulu
sayap sekunder, 24. Bulu sayap primer

3. Bentangkan ekor burung, selanjutnya hitung jumlah bulu ekor burung (tektrises). Jika
ada bulu yang rontok tetap dihitung dengan cara carilah tempat tumbuhnya bulu
tersebut.
4. Ukurlah beberapa bagian tubuh burung yang Saudara amati.
a. Panjang paruh merupakan jarak antara pangkal paruh sampai ujung paruh.
b. Lebar paruh merupakan jarak antara sisi paruh kiri ke sisi paruh kanan.
c. Diameter mata
d. Panjang sayap merupakan jarak mulai dari pangkal bulu sayap sekunder sampai
bulu sayap primer yang terpanjang.
e. Bentangan sayap merupakan jarak antara sayap kiri dimulai ujung bulu sayap
primer sayap kiri yang terpanjang sampai ujung bulu primer sayap sisi kanan yang
terpanjang juga.
f. Panjang bulu ekor dengan mengukur mulai dari pangkal ekor sampai bulu ekor yang
terpanjang.
g. Panjang kaki mengukur panjang tarsus metatarsus.

27
VI. KELAS MAMMALIA

Topik : Pembuatan Tracak


Tujuan : Mengidentifikasi hewan Mammalia berdasarkan bentuk tracaknya
Alat dan Bahan : Timbangan tepung, sendok, baskom, kantung plastik, kalsium dan
semen putih.
Langkah Kerja.
1. Timbanglah kalsium dan semen putih dengan perbandingan 1:1. Selanjutnya masukkan
masing-masing bahan ke dalam kantung palstik (kedua bahan dimasukkan dalam
kantung plastik yang terpisah).
2. Carilah bekas injakan kaki hewan Mammalia seperti sapi, kambing, rusa, atau lainnya.
3. Campurkan bahan kalsium dan semen putih kemudian tambahkan air secukupnya
(jangan terlalu kental atau cair).
4. Tuang campuran kalsium dan semen putih tersebut ke dalam bekas jejak kaki hewan
Mammalia. Tunggu hingga setengah kering.
5. Ambil jejak kaki hewan tersebut dengan cara mengerok area tanah disekitar jejak kaki
hewan tersebut dengan mengikuti pola jejak kaki, selanjutnya dikering anginkan
sampai benar-banar kering.
6. Apabila setelah kering ternyata banyak tanah menempel di cetakan jejak kaki hewan
tersebut, maka cucilah dengan air secara hati-hati. Setelah itu dikeringanginkan
kembali.
7. Deskripsikan ciri-ciri cetakan jejak kaki hewan yang telah dibuat dan gambarlah
sketsanya.

28
DAFTAR PUSTAKA

Hickman, C.P., Roberts, L.S., Keen, S.L., Larson, A dan IAnson, H. 2006. Integrated
Principles of Zoology. Fourteenth Edition. Boston: Mc.Graw Hill Hinger Education.

Iskandar, D.T. 1998. Amfibi Jawa dan Bali. Puslitbang-LIPI.

Indraneil Das. 2010. A Field Guide To The Reptile of South-East Asia. London: New
Hollad Publishers (UK) Ltd.

Kottelat, M., Whitten, A.J., Kartikasari, S.N., dan Wirjoatmodjo, S. 1993. Ikan Air Tawar
Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi. Periplus Edition (HK) Ltd.

Mackinnon, J. 1990. Panduan Pengenalan Burung-burung di Jawa dan Bali. Yogyakarta:


Gadjah Mada University Press.

Verma, P.S. 1979. A Manual of Practical Zoology Chordates. Ram Nagar: S. Chand &
Company Ltd.

Wicesa, H.P. 2013. Studi Karakter Morfologi, Pola Distribusi, dan Preferensi Mikrohabitat
Katak Pohon Emas (Philautus aurifasiatus) di Taman Hutan Raya Raden Soerjo.
Skripsi. Tidak Diterbitkan. Jurusan Biologi FMIPA UM.

29