Anda di halaman 1dari 22

TUGAS COMPOUNDING DAN DISPENSING

RESEP NO 3

OLEH :
KELOMPOK III

WAYAN SHELIA DEVIANA 1708611046


A. A. SG. DEWI TRISNA DAMAYANTI 1708611047
IDA AYU PUTU SURYANTARI 1708611048
MADE RIRIN SUTHARINI 1708611049
PUPUT RHAMADANI HARFA 1708611050
NI WAYAN SATRIANI 1708611051
GUSTI AYU DESI DWIANTARI 1708611052
I GUSTI AGUNG GEDE MINANJAYA 1708611053
NI KADEK ARIANI 1708611054

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2017
I. RESEP
Seorang bayi, perempuan umur 9 bulan dengan berat badan 12 kg mengalami gejala
batuk berdahak (+), pilek (+), hidung tersumbat (+). Pasien sempat diberikan
parasetamol 1 hari yang lalu, dan pada hari ini suhu tubuh 370C. Gejala sudah
berlangsung selama 2 hari. Riwayat penyakit (-), riwayat pengobatan sebelumnya (-).
Oleh dokter pasien didiagnosis ISPA dan diberikan obat dengan resep.
Resep yang dibawa oleh pasien:
II. HASIL PEMBACAAN RESEP

Dr. XXX
SIP. 1234/B/2017
Alamat Praktek: Jalan Udayana No 1
Telp: 1234
7 Oktober 2017

R/ Alco drop No. I

3 dd gtt 0,9

R/ Mucos drop No. I

3 dd gtt 9 (0,4cc)

R/ Triamcort 1,5 mg

GG 1/5 tb

m.f. pulv. dtd No. XV

3 dd pulv I.

Nama:

Umur : 9 bln (L/P)

Alamat:
Obat jangan diganti tanpa seijin dokter
III. SKRINING RESEP
3.1 Skrining Administrasi Resep
Hasil skrining persyaratan administratif ditunjukkan pada tabel 1.
Tabel 1. Hasil skrining persyaratan administratif
Kelengkapan Resep Ada Tidak Ada
Identitas dokter Nama
SIP
Alamat praktek
No. Telepon
Superscriptio Simbol R/
Nama kota
Tanggal resep
Inscriptio Nama obat
Kekuatan/potensi obat
Jumlah obat
Bentuk sediaan obat
Signatura Frekuensi pemberian
Jumlah pemberian obat
Waktu minum obat
Informasi lain
Penutup Paraf
Tanda tangan
Identitas pasien Nama
Alamat
Umur
Jenis kelamin
Berat Badan dan Tinggi Badan

Berdasarkan hasil skrining terhadap resep diatas, komponen resep yang paling
essensial sudah tercantum untuk itu maka resep layak secara administratif dan bisa
dilayani.
3.2 Skrining Farmasetika
a. Bentuk sediaan
Bentuk sediaan yang tertulis dalam resep yaitu drop dan serbuk. Jika dilihat dari
umur pasien yang masih bayi umur 9 bulan, bentuk sediaan tersebut sudah sesuai dan
memudahkan pemberian kepada pasien.
b. Dosis
Ketepatan dosis yang diberikan pada resep tersebut ditentukan dengan melakukan
perhitungan terlebih dahulu, dimana berat badan pasien adalah 12 Kg. Berikut adalah
tabel yang menunjukkan perbandingan dosis obat pada resep dan dosis obat pada
pustaka yang selazimnya pasien terima:
Tabel 2. Perbandingan dosis pada resep dengan pustaka
Nama zat Dosis Lazim Dosis Maksimum
No.
aktif Resep Pustaka Resep Pustaka
Pseudoefedrin 0,9 mL Anak-anak: 2,7 mL Maksimal 4 x
1. HCl sekali 2-6 thn; 15 mg 3-4 sehari
(Alco drop) kali sehari (Anderson,
6-12 thn; 30 mg 3-4 2002)
kali sehari
Dewasa:
30-60 mg setiap 4-6
jam, maksimal 240
mg/hari
(Lacy et al., 2008)
Ambroxol 9 tetes <2 tahun: 60-120 27 tetes
2. HCl (0,4 mL) mg, diberikan 2-3 (0,12 mL)
(Mucos drop) sekali kali sehari (MIMS,
2016)
Dewasa:
60-120 mg/hari
dibagi dalam
pemberian 2 kali
sehari
(Lacy et al., 2008)
3. Triamcinolone 1,5 mg Dewasa: 4,5 mg
(Triamcort) sekali 4-48 mg/hari
(Sweetman, 2009)
4. Glyceryl 20 mg Anak-anak: 60 mg Tidak lebih dari
Guaiacolate sekali 6 bln-2 thn; 25-50 300 mg/hari
mg setiap 4 jam, (Medscape,
maksimal 300 2017)
mg/hari
(Lacy et al., 2008)

Berikut adalah perhitungan dosis masing-masing obat yang diberikan:


1) Pseudosefedrin HCl (Alco drop)
- Dosis Pustaka
Dewasa: 30-60 mg setiap 4-6 jam, maksimal 240 mg/hari
Perhitungan sekali pakai:
BB kg 2,2 pound
Da = 150 pound
Dosis Dewasa
12 kg 2,2 pound
Da = 30-60 mg
150 pound
Da = 5,28 10,56 mg
Perhitungan sehari pakai:
BB kg 2,2 pound
Da = 150 pound
Dosis Dewasa
12 kg 2,2 pound
Da = 240 mg
150 pound
Da = 42,24 mg
- Dosis Resep
Potensi obat = 7,5 mg/0,8 mL
Dosis pada resep = 0,9 mL sekali minum
= 7,5 mg/0,8 mL 0,9 mL
= 8,44 mg (untuk sekali minum)
Pemakaian 3x sehari = 25,32 mg/hari
2) Ambroxol drop Mucos
- Dosis Pustaka
Dewasa: 60-120 mg/hari dibagi dalam pemberian 2 kali sehari.
Perhitungan:
BB kg 2,2 pound
Da = 150 pound
Dosis Dewasa
12 kg 2,2 pound
Da = 60-120 mg
150 pound
Da = 10,56 21,12 mg
- Dosis Resep
Potensi obat = 15 mg/mL
Dosis pada resep = 0,4 mL sekali minum
= 15 mg/mL 0,4 mL
= 6 mg sekali minum
Pemakaian 3x sehari = 18 mg/hari

3) Triamcinolon (Triamcort)
- Dosis Pustaka
Dosis triamcinolone
Dewasa: 4-48 mg/hari
Perhitungan:
BB kg 2,2 pound
Da = 150 pound
Dosis Dewasa
12 kg 2,2 pound
Da = 4-48 mg
150 pound
Da = 0,704 8,448 mg

- Dosis Resep
Potensi obat = 4 mg/tablet
Dosis pada resep = 1,5 mg sekali minum
Pemakaian 3x sehari = 4,5 mg/hari
4) GG
- Dosis Pustaka
Dewasa: 200 400 mg setiap 4 jam, maksimal 2,4 gram/hari.
Perhitungan:
BB kg 2,2 pound
Da = 150 pound
Dosis Dewasa
12 kg 2,2 pound
Da = 200 - 400 mg
150 pound
Da = 35,2 70,4 mg
Perhitungan sehari pakai:
BB kg 2,2 pound
Da = 150 pound
Dosis Dewasa
12 kg 2,2 pound
Da = 2400 mg
150 pound
Da = 422,4 mg
- Dosis Resep
Potensi obat = 100 mg/ tab
Dosis pada resep = 1/5tab sekali minum
= 1/5 tab 100 mg
= 20 mg sekali minum
Pemakaian 3x sehari = 60 mg/hari

Tabel 3. Perhitungan dosis masing-masing obat


No. Nama zat aktif Dosis Resep Dosis Pustaka
Pseudoefedrin Sekali: 8,44 mg Sekali: 5,28 10,56 mg (setiap 4-6 jam)
1. HCl Sehari: 25,32 mg Maksimum Sehari: 42,24 mg
(Alco drop)
Ambroxol HCl Sekali: 6 mg Sekali: 5,28-10,56 mg (2 kali sehari)
2. (Mucos drop) Sehari: 18 mg Sehari: 10,56 21,12 mg
3. Triamcinolone Sekali: 1,5 mg Sekali: -
(Triamcort) Sehari: 4,5 mg Sehari: 0,704 8,448 mg
4. Glyceryl Sekali: 20 mg Sekali: 35,2 70,4 mg (setiap 4 jam)
Guaiacolate Sehari: 60 mg Maksimum Sehari: 422,4 mg

c. Inkompatibilitas
Dalam resep yang diberikan tidak terdapat masalah inkompatibilitas karena bentuk
sediaan yang dibuat dalam bentuk puyer karena tablet yang digerus bukan merupakan
tablet bersalut.
d. Stabilitas
Masing-masing sediaan tersebut cukup stabil pada suhu ruangan, yaitu pada suhu
15-30oC, dan kering. Penyimpanan ketiga sediaan tersebut sebaiknya dijauhkan dari
sinar matahari langsung.
e. Cara dan Lama Terapi
Pada resep pasien diberikan terapi pengobatan selama 10 hari, dan kemudian
dilakukan monitoring kondisi pasien untuk menentukan terapi selanjutnya. Dimana,
pengaturan penggunaannya adalah :
Pseudoefedrin HCl (Alco drop) diberikan sebanyak 0,9 mL sampai gejala
hidung tersumbat hilang.
Ambroxol HCl (Mucos drop) diberikan sebanyak 9 tetes atau 0,4 cc sampai
gejala batuk berdahak hilang.
Triamcinolone (Triamcort) diberikan selama 5 hari dengan pemberian sehari
sebanyak 3 kali, di mana masing-masing puyer mengandung 1,5 mg, sehingga
digunakan 5,6 tablet untuk digerus.
Glyceryl Guaiacolate diberikan selama 5 hari dengan pemberian sehari
sebanyak 3 kali, di mana masing-masing puyer mengandung 20 mg (1/5
tablet), sehingga digunakan 3 tablet untuk digerus.
3.3 Skrining Klinis
Anamnese kefarmasian secara umum dilakukan berdasarkan analisis terhadap obat
dan indikasi masing-masing obat yang diresepkan oleh dokter kepada pasien. Pada tabel
3 terdapat penjelasan mengenai skrining farmakologi terhadap masing-masing obat
yang telah diresepkan.
Tabel 4. Spesifikasi Obat yang diresepkan
Kesesuaian
Nama Kategori Efek
Kandungan Indikasi dengan
Sediaan Farmakologi Samping
resep
Alco Pseudoefedrin Dekongestan Hidung Hipertensi, Tepat
drop HCl (Depkes RI, tersumbat palpitasi, indikasi
2005) (Depkes RI, takikardi,
Dosis 2005) tremor,
dalam pusig,
resep: 0,9 konstipasi,
mL 3 kali mual dan
sehari muntah
(Lacy et
al., 2008)
Mucos Ambroxol Mukolitik Penyakit Efek pada Tepat
drop HCl (Linnisaa dan saluran Gastro indikasi
Wati, 2014) pernafasan Intestinal,
akut dan dan reaksi
Dosis kronis yang alergi
dalam disertai
resep: 9 sekresi
tetes atau bronkial
0,4 mL 3 yang
kali sehari abnormal
(Linnisaa
dan Wati,
2014)
Triamcort Triamcinolon Anti inflamasi Gangguan Aritmia, Pemberian

e (Nikookar et endokrin, bradikardi, Triamcort


al., 2014) gangguan ulcer, diberikan
Dosis rematik, mual, apabila
dalam penyakit muntah radang yang
resep: 1,5 kolagen, (Lacy et diderita oleh
mg 3 kali penyakit al., 2008) pasien sudah
sehari dermatologi cukup parah,
selama 5 , alergi, sehingga
hari penyakit perlu
(puyer) mata, didskusikan
penyakit dengan
pernafasan, dokter
penyakit kembali
neoplastic,
gastrointesti
nal
(Anonim,
2017)
GG Glyceryl Ekspektoran Meredakan Pusing, Tepat
Guaiacolate (Thompson et batuk mengan- indikasi
Dosis al., 2016) berdahak tuk, tetapi tidak
dalam (Thompson penurunan tepat pasien
resep: 20 et al., 2016) level asam
mg (1/5 urat, mual,
tab) 3 kali muntah,
sehari sakit perut
selama 5 (Lacy et
hari al., 2008)
(puyer)

3.4 Anamnese Kefarmasian


Dalam melakukan anamnese kefarmasian apoteker harus mampu mengumpulkan
data yang dapat dijadikan penunjang. Apoteker dapat bertanya kepada pasien maupun
pembawa resep terkait kondisi spesifik pasien melalui metode Three Prime Question.
Berdasarkan hasil dari metode tersebut, apoteker mencocokkan indikasi obat yang
diresepkan dengan gejala yang dialami pasien. Menurut WHO (2009), di Indonesia
keadaan batuk dan pilek sering ditemukan pada anak dan bayi akibat infeksi virus dan
biasanya dapat sembuh sendiri dan dengan didampingi perawatan suportif.

IV. Pemilihan Tatalaksana Terapi


Berdasarkan resep dan gejala pasien, di mana pada resep diresepkan Alco drop yang
diindikasikan untuk hidung tersumbat, Mucos drop yang diindikasikan sebagai
mukolitik, Triamcort sebagai antiinflamasi, dan GG sebagai ekspektoran dan
dihubungkan dengan crinical presentation berupa peningkatan suhu tubuh, batuk
berdahak, dan hidung tersumbat maka pasien mengalami common cold. Berikut
merupakan guidline terapi untuk pasien pediatric yang menderita common cold.

Tabel 5. Tatalaksana Terapi Common Cold pada Pediatri (CDC, 2015)


Management
Kondisi Epidemiologi Diagnosa
Terapi
Common cold ISPA bagian atas yang ISPA yang Penanganan
atau ISPA disebabkan oleh virus disebabkan oleh common cold, URI
bagian atas non- paling banyak Virus sering nonspesifik, dan
spesifik berlangsung selama 5-7 ditandai dengan penyakit batuk akut
hari. Pilek biasanya gejala hidung lebih difokuskan
berlangsung lama yaitu mampet dan pada penanganan
sekitar 10 hari. batuk. Biasanya simptomatik.
Setidaknya 200 virus debit nasal dimulai Antibiotik
bisa dengan jelas dan seharusnya tidak
menyebabkan common berubah selama diberikan untuk
cold. menderita penyakit. kondisi ini.
Demam, jika ada, Ada potensi
terjadi di awal bahaya dan tidak
penyakit. bermanfaat dari
obat OTC batuk dan
pilek pada anak <6
tahun. Obat ini
adalah salah satu
dari 20 obat teratas
menyebabkan
kematian pada anak
<5 tahun.
Kortikosteroid
inhaler dosis rendah
dan Prednisolon
oral tidak
memperbaiki hasil
terapi pada
anak tanpa asma.

V. ANALISIS IAO (Issue, Action, Outcome)


5.1 Analisis IAO
Tabel 6. Analisis IAO
No Issue Action Outcome
1. Pasien mengalami gejala batuk - Diberikan mukolitik - Batuk reda
berdahak untuk mengencerkan
dahak
2. Pasien mengalami pilek dan - Diberikan terapi - Pilek reda dan
hidung tersumbat dekongestan jalan nafas hidung
lancer
3. Pemberian GG pada pediatric - Berkonsultasi - GG tidak
dengan reflek batuk yang dengan dokter diberikan kepada
rendah bahwa GG dapat pasien
menyebabkan
volume sekresi pada
saluran nafas,
namun pada pasien
yang masih berumur
9 bulan, reflek
batuknya masih
rendah (Sweetman,
2009)
4. Penggunaan kortikosteroid - Dilakukan - Pemberian
pada pediatric berisiko tinggi konsultasi dengan Triamcort
mengalami beberapa efek dokter terkait tergantung dari
samping; dan kortikosteroid keparahan radang keparahan
dapat menyebabkan retardasi yang diderita oleh inflamasi pasien
pertumbuhan (Sweetman, pasien, sehingga setelah berdiskusi
2009) pemberian dengan dokter
Triamcort dapat
dipertimbangkan

VI. COMPOUNDING DAN DISPENSING


6.1 Penyiapan Sediaan Farmasi (Compounding)
a. Penyiapan obat
Resep yang telah melewati proses skrining administratif, skrining farmasetik dan
skrining klinis serta ketersediaan stok obat yang diminta di apotek, selanjutnya obat-
obat dalam resep disiapkan. Penyiapan sediaan farmasi dilakukan sesuai dengan permintaan pada
resep yang ditulis oleh dokter dan menghitung kesesuaian dosis dan tidak melebihi dosis
maksimum. Pada etiket diberikan keterangan yang meliputi nomor resep, tanggal, nama
pasien, frekuensi penggunaan obat dan waktu pemakaian obat.
- Alco drop disiapkan sebanyak 1 botol. Dilakukan pemeriksaan kemasan obat,
kesesuaian potensi obat, serta tanggal kadaluarsa obat. Kemudian diberikan
etiket putih yang berisi informasi: diminum 3 kali sehari sebanyak 0,9 mL
setelah makan. Pada etiket dituliskan nama dan fungsi obat yakni Alco drop
untuk obat hidung tersumbat. Pemakaian Alco drop dapat dihentikan apabila
gejala sudah hilang.
- Mucos drop disiapkan sebanyak 1 botol. Dilakukan pemeriksaan kemasan obat,
kesesuaian potensi obat, serta tanggal kadaluarsa obat. Kemudian diberikan
etiket putih yang berisi informasi: diminum 3 kali sehari 9 tetes (0,4 mL) setelah
makan. Pada etiket dituliskan nama dan fungsi obat yakni Mucos drop sebagai
pengencer dahak. Pemakaian Mucos drop dapat dihentikan apabila gejala sudah
hilang.
b. Etiket
Etiket Alco Drop (Etiket warna putih)

Etiket Mucos Drop (Etiket warna putih)

6.2 Penyerahan Sediaan Farmasi (Dispensing)


Obat yang telah disiapkan harus diperiksa kembali secara teliti oleh Apoteker
sebelum dilakukan penyerahan kepada pembawa resep (pasien atau pengantar pasien).
Setelah pemeriksaan kembali, Apoteker memanggil nama dan nomor tunggu pasien,
lalu melakukan pemeriksaan dan memverifikasi identitas pasien dan alamat pasien.
Apoteker juga hendaknya meminta nomor telepon pasien agar mudah dihubungi terkait
pemantauan pengobatan. Selanjutnya apoteker melakukan penyerahan obat kepada
pasien yang disertai dengan pemberian informasi obat. Pasien diminta untuk
mengulangi informasi yang diberikan terkait penggunaan obat untuk memastikan bahwa
pasien akan meminum obatnya dengan tepat. Kemudian sampaikan harga obat kepada
pasien sehingga dapat dibayar. Selanjutnya resep disimpan di Apotek pada tempatnya,
penyerahan obat yang diresepkan kepada pasien disertai dengan penggunaan KIE
mengenai indikasi obat, cara dan lama penggunaan obat, cara penyimpanan obat dan
ADR yang mungkin timbul saat pemakaian obat. Pemberian informasi terhadap terapi
farmakologi yaitu Alco drop dan Mucos drop diberikan sampai gejala hilang yaitu tidak
adanya hidung tersumbat dan batuk berdahak. Selain itu disampaikan juga kepada orang
tua pasien agar menghentikan pemakaian mucos jika terjadi reaksi alergi berupa
kemerahan pada kulit dan segera hubungi pusat kesehatan terdekat, mengingat surat
edaran BPOM Nomor SV.01.05.343.3.04.16.1498 tahun 2016 mengenai resiko reaksi
alergi yang ditimbulkan obat yang mengaandung ambroxol dan bromheksin (BPOM,
2016). Selain informasi mengenai terapi farmakologi, pemberian informasi non
farmakologi juga penting untuk dilakukan yaitu:
a. Bagi pasien yang diberikan ASI dapat diberikan ASI secara intensif karena ASI
memberikan faktor proteksi pada bayi selain untuk mencegah dehidrasi pasien.
b. Anjurkan untuk memperhatikan dan mengawasi adanya nafas cepat atau kesulitan
bernafas dan segera menuju ke fasilitas kesehatan jika terdapat gejala tersebut. Hal
ini juga semakin dikhawatirkan karena berdasarkan berat badan anak termasuk
kategori gizi lebih (WHO, 2005; Direktorat Bina Gizi, 2011).
c. Harus kembali berkonsultasi dengan dokter jika keadaan anak makin parah, atau
tidak bisa minum atau menyusui (WHO, 2005).
Disarankan kepada ibu pasien untuk menjaga kebersihan lingkungan disekitar anak agar
selalu bersih dan bebas dari asap rokok dan debu, hindarkan pasien dari udara dingin
misalnya penggunaan kipas angin dan AC (air conditioner). Selain itu, karena pasien
belum pernah memiliki riwayat pengobatan sebelumnya, sehingga alergi terhadap obat
belum diketahui, maka perlu disampaikan apabila terjadi hipersensitivitas meliputi
adanya gejala-gejala tambahan akibat penggunaan obat yang diberikan selama terapi
seperti mual, muntah, kulit kemerahan disarankan segera membawa pasien ke dokter.
DAFTAR PUSTAKA

Anderson. Philip O, J. E. Knoben, W. G. Troutman. 2002. Handbook of Clinical Drug


Data 10th Edition. McGraw-Hill.
Anonim. 2017. Triamcinolone. Available in http://www.dexa-medica.com/our-
product/prescriptions/ogb/Triamcinolone. Cited on: 08 Oktober 2017.
CDC. 2015. Pediatric Treatment Recommendations. Avaible on:
https://www.cdc.gov/getsmart/community/for-hcp/outpatient-hcp/pediatric-
treatment-rec.pdf. Cited on: 10 Oktober 2017
Covington, Tim R et al. 2004. Treating the Common Cold: An Expert Panel Consensus
Recommendation for Primary Care Clinicians. EBCME. Vol: 5(4).
Depkes RI. 2005. Pharmaceutical Care untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan.
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Direktorat Bina Gizi. 2011. Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L. 2008. Drug Information
Handbook. USA: AphA.
Linnisaa, U. H., dan S. E. Wati. 2014. Rasionalitas Peresepan Obat Batuk Ekspektoran
dan Antitusif di Apotek Jati Medika Periode Oktober-Desember 2012. IJMS.
Vol. 1 (1).
Medscape. 2017. Drug Interaction Checker. Online.
http://www.reference.medscape.com/drug-interactionchecker. Diakses tanggal 7
Oktober 2017.
MIMS. 2016. MIMS: Petunjuk Konsultasi. Edisi 15. Jakarta: BIP.
Nikookar, S. H., Enayati, A.A., Hagh, S.F.M., and B. Parsi. 2014. Comparison of
Therapeutic and Anti-Inflamatory Properties of Triamcinolone with Placebo
(Vitamin A) in Treatment of Paederus Associated Dermatitis. Iranian Journal of
Healt Sciene. Vol 2(3). PP 1-7.
Simasek, M., and D.A. Blandino. 2007. Treatment of the Common Cold. American
Academy of Family Physicians. Vol. 75 no. 4
Sweetman, S. C. 2009. Martindale: Thirty-Sixth Editon. USA: Pharmaceutical Press.
Thompson, G.A., Solomon, G., Albrecht, H.H., Reitberg, D.P., and E. Guenin. 2016.
Guaifenesin Pharmacokinetics Following Single-Dose Oral Administration in
Children Aged 2 to 17 Years. The Journal of Clinical Pharmacology. Vol. 56
(7), Pp 894-901.
WHO Indonesia. 2009. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Jakarta: WHO
WHO. 2005. WHO Child Growth Standards: Methods And Development. France:
Department of Nutrition for Health and Development.
Lampiran 1. Alur Pelayanan Resep

Skrining Resep
Pada resep, tidak tercantum tanggal pembuatan resep, waktu minum obat, identitas
pasien (nama, berat dan tinggi badan, jenis kelamin), serta tanda tangan dokter yang
menunjukkan keabsahan dari resep tersebut

Skrining Farmasetis
Pada resep, tidak tercantum kekuatan dari obat sediaan drop (Alco dan Mucos), hanya
dicantumkan jumlahnya saja tanpa mencantumkan satuan

Skrining Klinis
Pada resep, tidak ada obat yang kontra indikasi

Penetapan DRP

Penilaian Pengobatan yang Rasional


Pada pemilihan obat untuk pasien belum dapat dikatakan rasional karena adanya
penggunaan obat-obatan yang dirasa tidak perlu untuk diberikan. Penyebab dari ISPA
yang diderita pasien juga belum diketahui

Mengkomunikasikan ke dokter tentang masalah resep apabila diperlukan

Menyiapkan sediaan farmasi sesuai dengan permintaan pada resep


Apoteker menyediakan obat dan meracik obat berdasarkan pada resep dokter setelah
dilakukan konfirmasi pada penulis resep

Menghitung kesesuaian dosis dan tidak melebihi dosis maksimum. Obat tersedia
dalam dua bentuk yaitu drop dan puyer
Perlu dilakukan penyesuaian dosis, karena pasien meruapakan pasien bayi
Mencatat pengeluaran pada kartu stok

Menyiapkan etiket putih untuk obat dalam