Anda di halaman 1dari 76

UJI AKTIVITAS EKSTRAK AKAR NANGKA (Artocarcus

heterophyllus lamk.) SEBAGAI ANTIHIPERGLIKEMIA


PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG
DIINDUKSI STREPTOZOTOSIN DENGAN KOMBINASI
NIKOTINAMID

CHRISTOVAN BANGNGA ROGE

N111 13 326

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2017
UJI AKTIVITAS EKSTRAK AKAR NANGKA (Artocarcus
heterophyllus lamk.) SEBAGAI ANTIHIPERGLIKEMIA
PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG
DIINDUKSI STREPTOZOTOSIN DENGAN KOMBINASI
NIKOTINAMID

SKRIPSI

Untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat


untuk mencapai gelar sarjana

CHRISTOVAN BANGNGA ROGE


N111 13 326

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017

ii
iii
iv
v
UCAPAN TERIMA KASIH

Puji Tuhan, terima kasih untuk Tuhan Yesus Kristus atas penyertaan

dan hikmat yang Dia berikan selama penelitian dan penyusunan skripsi

penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir sebagai

mahasiswa di Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin dengan baik.

Meskipun banyak tantangan yang penulis lalui dalam penelitian dan

penyusunan skripsi ini, tetapi berkat dukungan doa dan bantuan dari

berbagai pihak, akhirnya penulis mampu menyelesaikan tugas akhir ini.

Oleh karenanya, pada kesempatan ini penulis tak lupa mengucapkan

banyak terima kasih kepada Bapak Firzan Nainu, S.Si., M.Biomed.Sc.,

Ph.D., Apt. sebagai pembimbing utama, Ibu Dr. Mufidah, S.Si., M.Si., Apt.

sebagai pembimbing pertama, dan Ibu Dra. Rosany Tayeb, M.Si., Apt.

sebagai pembimbing kedua yang telah rela meluangkan waktu untuk

membimbing, memotivasi, dan memeriksa laporan-laporan penulis mulai

dari awal perencanaan penelitian hingga selesainya penulisan skripsi ini.

Demikian pula penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada Dekan,

Wakil Dekan I, Wakil Dekan II, dan Wakil Dekan III, serta seluruh Bapak/Ibu

dosen Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin atas ilmu, nasihat, dan

motivasi yang diberikan selama proses perkuliahan, dan tak lupa pula untuk

seluruh staf pegawai Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin yang telah

membantu dalam proses administrasi selama perkuliahan dan penyusunan

tugas akhir penulis

vi
Rasa homat dan terimakasih kepada orang tua tercinta ayahanda

Nikolaus Andiang dan sosok wanita yang selalu dan setia disampingnya

sampai saat ini ibunda Bertha Bangnga. Mereka berdua selalu memberikan

dukungan dan nasihat bagi penulis sehinga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini tepat pada waktunya. Terimakasih pula buat saudara penulis,

Juventy Andiang dan sepupu penulis Yan stevi toding atas dukungan dan

doa untuk penulis.

Rekan-rekan di korps Asisten Fito Kimia Fakultas Farmasi

Universitas Hasanuddin atas dukungan dan bantuan yang telah diberikan,

serta Ibu Adriana Pidun sebagai laboran di Laboratorium Kimia Farmasi dan

ibu Cia sebagai laboran di Laboratorium Biofarmasi yang telah membantu

penulis dalam menyelesaikan penelitian ini. Penulis juga mengucapkan

terimakasih kepada kak Ismail, S.Si., M.Si., Apt., kak Lukman, kak Hendra,

dan rekan kerja penulis dalam penelitian ini Awaliah Ramadhani yang telah

membantu penulis dikala penulis mengalami kesulitan dalam mengerjakan

penelitian ini. Terimakasih pula buat sahabat terbaik dan terdekat penulis

Yuni Sukarsih yang selalu memberi dukungan dan membantu penulis

dalam penyusunan tugas akhir penulis.

Teman-teman Gengtor (Geng Toraja) yang tidak bisa disebutkan

satu per satu namanya yang membantu penulis dalam doa dan dukungan

selama masa penelitian penulis. Terimakasih pula buat saudara tumbuh

bersama KTB KINAWA (Kak Rein, Yadi, Luis, Rupin), kak Yanti, Kak Harter

yang sudah banyak memberikan dukungan bagi penulis. Teman-teman

vii
angkatan 2013 Theobromine Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin

terimakasih pula atas dukungan dan doa yang telah diberikan. Serta pihak

lain yang telah membantu penulis selama proses perkuliahan yang tidak

dapat penulis sebutkan satu persatu. Penulis tidak dapat membalas

kebaikan kalian semua, doa penulis biarlah Tuhan yang membalasnya.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak

kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan

saran yang membangun sangat diharapkan dari semua pihak. Akhir kata,

semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi setiap yang membacanya.

Makassar, 05 Mei 2017

Christovan Bangnga Roge

viii
Abstrak

Tanaman obat menjadi solusi yang dipilih sebagai pengobatan


antidiabetes. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek
antidiabetes ekstrak etanol akar nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.)
dalam kemampuannya untuk menurunkan kadar glukosa darah pada tikus
putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi streptozotosin (65 mg/kg BB) dan
nikotinamid (230 mg/kg BB). Hewan diabetes dibagi menjadi 5 kelompok
perlakuan yaitu kelompok kontrol negatif, kontrol positif glibenklamid 5
mg/kg BB, dan grup perlakuan ekstrak. Konsentrasi ekstrak yang
digunakan adalah 100 mg/kg BB, 200 mg/kg BB, dan 300 mg/kg BB.
Pemberian dilakukan setiap hari dan pemantauan kadar glukosa dilakukan
setiap tujuh hari dengan maksimal 21 hari. Penurunan kadar glukosa
darah dilihat dengan membandingkan kadar glukosa awal dengan kadar
glukosa darah hewan yang telah diberi perlakuan ekstrak atau
glibenklamid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pemberian dosis
ekstrak 100 mg/kg BB belum mampu dalam menurunkan kadar glukosa
darah, sedangkan ekstrak dengan dosis pemberian sebesar 200 mg/kg
BB dan 300 mg/kg BB efektif dalam menurunkan glukosa darah yang
menunjukkan bahwa ekstrak tersebut berpotensial sebagai agen
antihiperglikemik

Kata kunci: antihiperglikemia, Artocarpus heterophyllus Lamk.,


streptozotosin, nikotinamid, glibenklamid

ix
Abstract

Medicinal plants become an alternative solution as an antidiabetic


treatment. The aim of this research was to investigate the antidiabetic
effect of ethanol extract of jackfruit root (Artocarpus heterophyllus Lamk.)
to reduce blood glucose levels in rats (Rattus norvegicus) induced
streptozotocin (65 mg / kg BB) and nicotinamide (230 mg / kg BW).
Diabetic white rats were divided into 5 treatment groups: negative control
group, glibenclamide positive control 5 mg / kg BW, and extracts treatment
groups. The extract concentrations used were 100 mg/kg BB, 200 mg/kg
BB, and 300 mg/kg BB. Treatment was conducted daily and glucose
monitoring was carried out every seven days for maximum 21 st days.
Reduced blood glucose levels were seen by comparing baseline glucose
levels with blood glucose levels of rats treated with extracts or
glibenclamide. Results obtained in this research demonstrated that
dosage of 100 mg/kg BB extract was not able to decrease blood glucose
level, while extracts with dosage of 200 mg/kg BB and 300 mg/kg BB were
effective to reduce blood glucose level, suggesting that the extract are a
potential source of antihyperglycemic agent.

Keywords: antihyperglycemic, Artocarpus heterophyllus Lamk.,


streptozotocin, nicotinamide, glibenclamide

x
DAFTAR ISI

PERSETUJUAN .................................................................................. iii

PENGESAHAN .................................................................................. iv

PERNYATAAN ................................................................................... v

UCAPAN TERIMA KASIH .................................................................. vi

ABSTRAK ........................................................................................... ix

ABSTRACT ........................................................................................ x

DAFTAR ISI ........................................................................................ xi

DAFTAR TABEL ................................................................................. xiv

DAFTAR GAMBAR ............................................................................ xv

DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................... xvi

BAB I PENDAHULUAN .................................................................. 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................... 4

II.1 Uraian Tanaman ............................................................. 4

II.1.1 Klasifikasi Tanaman..................................................... 4

II.1.2 Nama Daerah .............................................................. 5

II.1.3 Morfologi Tanaman ...................................................... 5

II.1.4 Kandungan Senyawa dan Kegunaan .......................... 8

xi
II.2 Diabetes Melitus ............................................................ 9

II.2.1 Pengertian Diabetes Melitus ........................................ 9

II.2.2 Penyebab Diabetes Melitus ......................................... 10

II.2.3 Klasifikasi Diabetes Melitus ......................................... 12

II.2.4 Diagnosis dan Pemeriksaan Diabetes Melitus ............. 18

II.2.5 Komplikasi Diabetes Melitus ....................................... 19

II.3 Pengobatan Diabetes Melitus ......................................... 21

II.4 Streptozotosin ................................................................. 28

II.5 Nikotinamid ..................................................................... 31

II.6 Ekstraksi dan Maserasi................................................... 32

II.6.1 Ekstraksi ...................................................................... 32

II.6.2 Maserasi ...................................................................... 33

BAB III METODE PENELITIAN ........................................................ 34

III.1 Alat dan Bahan .............................................................. 34

III.2 Metode Kerja ................................................................. 34

III.2.1 Pengambilan dan Pengumpulan Sampel .................... 34

III.2.2 Pembuatan Ekstrak .................................................... 35

III.3 Pembuatan Bahan Penelitian ....................................... 35

III.3.1 Pembuatan Larutan Koloidal Natrium CMC 1% b/v ... 35


xii
III.3.2 Pembuatan Suspensi Glibenklamid ............................ 35

III.3.3 Pembuatan Suspensi Ekstrak Akar Nangka ............... 36

III.3.4 Pembuatan Buffer Sitrat pH 4.5 .................................. 36

III.3.5 Pembuatan Larutan Streptozotosin ............................ 36

III.3.6 Pembuatan Larutan Nikotinamid.. 37

III.4 Prosedur Percobaan ...................................................... 37

III.4.1 Pemilihan dan Penyiapan Hewan Uji .......................... 37

III.4.2 Perlakuan ................................................................... 37

III.5 Analisis Data .................................................................. 38

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................. 39

IV.1 Hasil Penelitian ............................................................. 39

IV.2 Pembahasan ................................................................. 40

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN................................................. 45

V.1 Kesimpulan .................................................................... 45

V.2 Saran.............................................................................. 45

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 46

Lampiran ............................................................................................ 49

xiii
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Klasifikasi Etiologik Diabetes Melitus ......................................... 12

2. Perbedaan DM tipe 1 dan DM tipe 2 .......................................... 15

3. Kadar Glukosa Darah Sewaktu dan Puasa Sebaga Patokan

Penyaring dan Diagnosis DM (mg/dL) ......................................... 19

4. Persen (%) Rendamen Ekstrak Etanol Akar Nangka (Artocarpus

heterophyllus Lamk.) .................................................................. 39

5. Persensi penurunan kadar glukosa darah pada tikus jantan

yang diinduksi streptozotosin-nikotinamid setelah

7, 14, dan 21 hari pemberian ekstrak akar nangka (Artocarpus

heterophyllus Lamk.) .................................................................. 40

xiv
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Diagram Alir Penanganan Diabetes Melitus ............................... 21

2. Struktur Kimia Streptozotosin a) dan betuk anomeric dari

streptozotosin b) analog dari streptozotosin -N-acetyl glucosamine

c) bagian sitotoksik dari STZ-N-methyl-N-nitrosourea ................ 30

3. Struktur Kimia Nikotinamid .......................................................... 31

4. Akar tanaman nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) ........... 54

5. Maserasi akar nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) ........... 54

6. Perajangan akar nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) ....... 54

7. Ekstrak etanol akar nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) ... 54

8. Penginduksian hiperglikemik menggunakan streptozotosin-

nikotinamid ................................................................................. 54

9. Pemerian ekstrak akar nangka dalam pengujian hipoglikemik .... 54

10. Pemeriksaan hipoglikemik menggunakan humalyzer ................ 55

xv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Skema kerja Ekstraksi Akar Nangka ......................................... 49

2. Skema Kerja Uji Aktivitas Antidiabetes ...................................... 50

3. Perhitungan ....................................................................................... 51

4. Dokumentasi Penelitian ............................................................. 54

5. Data Persen Penurunan Glukosa .............................................. 56

6. Analisis Statistik ........................................................................ 57

xvi
BAB I

PENDAHULUAN

Diabetes mellitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan

terjadinya kondisi hiperglikemik di dalam tubuh (kadar glukosa di atas 200

mg/dL) yang disebabkan oleh defisiensi insulin relative atau absolut (1,2).

Diabetes dibagi menjadi dua bagian berdasarkan kebutuhan atas insulin:

yaitu diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM atau tipe I) akibat dari

kerusakan sel beta pankreas yang mengarah pada kekurangan insulin dan

diabetes melitus tidak tergantung insulin (NIDDM atau tipe II) yang

mengarah pada resistensi insulin (2,3). Penderita diabetes mellitus akan

lebih berisiko mengalami komplikasi seperti penyakit makrovaskular

(penyakit jantung koroner, pembuluh darah perifer, dan stroke),

mikrovaskuler (neuropati, retinopati, dan nefropati) serta dapat beresiko

mengalami keduanya (makrovaskuler dan mikrovaskuler) yang

menyebabkan kaki diabetik (3).

Penanganan utama penyakit diabetes mellitus terfokus pada masalah

yang melatarbelakanginya yaitu melalui olahraga yang teratur, diet, terapi

insulin, dan obat antidiabetik oral (ADO). Namun, penggunaan obat

antidiabetik oral (ADO) tidak lepas dari efek samping yang ditimbulkan (4).

Oleh karena itu, pengobatan dengan tanaman obat menjadi solusi yang

dipilih sebagai alternatif dalam pengembangan obat baru yang lebih

1
2

potensial dan efektif dengan efek samping yang lebih rendah dibandingkan

dengan obat hipoglikemik oral lainnya (5).

Nangka adalah tanaman yang sering digunakan sebagai obat

tradisional di Asia Tenggara, Indonesia khususnya daerah Jawa. Tanaman

ini sudah sejak lama digunakan sebagai pengobatan tradisional untuk terapi

diare, diabetes, malaria, asma dan dermatitis (6). Beberapa spesies dari

tanaman nangka yang sering digunakan sebagai obat tradisional adalah

Artocarpus heterophyllus, Artocarpus altilis, Artocarpus hirsutus,

Artocarpus lakoocha dan Artocarpus camansi (7).

Melalui program Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (RISTOJA) tahun

2015 menunjukkan bahwa masyarakat etnis Wotu Kabupaten Luwu Timur

Provinsi Sulawesi Selatan menggunakan akar nangka secara turun-

temurun sebagai pengobatan diabetes mellitus. Artocarpus heterophyllus

Lamk. merupakan salah satu spesies dari tanaman nangka yang memiliki

aktivitas antioksidan, yang penting dalam mengontrol kadar glukosa darah

pasien diabetes mellitus (8). Kandungan kimia dari beberapa bagian

tanaman Nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) yaitu daun, akar, dan

kulit batang telah dilaporkan mengandung senyawa flavonoid (7). Penelitian

menunjukkan bahwa ekstrak batang nangka (Artocarpus heterophyllus

Lamk.) dengan dosis 200 mg/kgBB dan 400 mg/kgBB memiliki aktivitas

antidiabetes pada tikus yang diinduksi streptozotosin (9). Namun, penelitian

mengenai bagian akar dari nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) belum

dilaporkan terkait aktivitasnya dalam menurunkan kadar glukosa darah


3

pada tikus. Pada penelitian ini untuk mencapai kondisi hiperglikemia pada

tikus maka dilakukan penginduksi diabetes mellitus yaitu streptozotosin 65

mg/kg BB dan dengan kombinasi nikotinamid 230 mg/kg BB (10)

Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam

penelitian ini adalah apakah ekstrak akar nangka (Artocarpus heterophyllus

Lamk.) dapat menurunkan kadar glukosa darah pada tikus putih (Rattus

novergicus) yang diinduksi streptozotosin dikombinasikan dengan

nikotinamid. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas ekstrak

etanol akar nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) dalam menurunkan

kadar glukosa darah tikus putih yang diinduksi streptozotosin

dikombinasikan dengan nikotinamid.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Indonesia merupakan negara yang kaya akan tanaman obat

tradisional. Berbagai jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk

menurunkan kadar glukosa darah adalah tanaman nangka (Artocarpus

heterophyllus Lamk.) yang telah dibudidayakan sebagai upaya untuk

menanggulangi masalah kesehatan di Indonesia. Pengetahuan tentang

tanaman obat tradisional ini merupakan warisan budaya bangsa

berdasarkan pengalaman yang secara turun-temurun telah diwariskan

oleh generasi terdahulu kepada generasi berikutnya termasuk generasi

saat ini (6,7).

II.1. Uraian Tanaman

II. 1.1. Klasifikasi Tanaman (11)

Kedudukan tanaman nangka dalam sistematika (taksonomi)

tumbuhan adalah sebagai berikut.

Kerajaan : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Anak divisi : Angeospermae

Kelas : Magnoliopsida / dicotyledonae

Anak kelas : Hamamelididae

Bangsa : Urticales

Suku : Moraceae

Marga : Artocarpus

4
5

Jenis : Artocarpus heterophyllus Lamk.

II. 1.2. Nama Daerah (12)

Aceh : Panah

Batak : pinasa, sibodak, nangka atau naka

Dayak : baduh atau enaduh

Lampung : binaso, lamara atau malasa

Nias : naa

Timor : kuloh

Sunda dan Madura : nangka

II. 1.3. Morfologi Tanaman (12,13)

Pohon Artocarpus heterophyllus memiliki tinggi 10-15 m.

Batangnya tegak, berkayu, bulat, kasar dan berwarna hijau kotor. Daun

nangka tunggal, berseling, lonjong, memiliki tulang daun yang menyirip,

daging daun tebal, tepi rata, ujung runcing, panjang 5-15 cm, lebar 4-5

cm, tangkai panjang lebih kurang 2 cm dan berwarna hijau. Bunga nangka

merupakan bunga majemuk yang berbentuk bulir, berada di ketiak daun

dan berwarna kuning. Bunga jantan dan betinanya terpisah dengan

tangkai yang memiliki cincin, bunga jantan ada dibatang baru diantara

daun atau diatas bunga betina. Buah berwarna kuning ketika masak, oval,

dan berbiji coklat muda.

Daun terbentuk bulat telur dan panjang, tepi nya rata, tumbuh

secara berselang-seling, dan bertangkai pendek, permukaan atas daun

berwarna hijau tua mengkilap, kaku, dan permukaan bawah daun


6

berwarna hijau muda. Bunga tanaman nangka berukuran kecil, tumbuh

berkelompok secara rapat tersusun dalam tandan, bunga muncul dari

ketiak cabang atau pada cabang-cabang besar, bunga jantan dan betina

terdapat dalam satu pohon.

a. Akar

Akar tanaman nangka mempunyai struktur perakaran tunggang

berbentuk bulat panjang, menembus tanah cukup dalam. Akar

cabang dan bulu akarnya tumbuh ke segala arah

b. Batang dan cabang

Batang (caulis) tanaman nangka berbentuk bulat panjang, berkayu

keras dan tumbuhnya lurus dengan diameter (garis tengah) antara

30-100 cm, tergantung pada umur tanaman. Kulit batang umumnya

agak tebal dan berwarna keabuan-abuan. Cabang (ramus)

berbentuk bulat panjang, tumbuh mendatar atau tegak, tetapi

bentuk tajuk tanaman tidak teratur.

c. Daun (folium)

Daun berbentuk bulat telur dan panjang, tepinya rata, tumbuh

secara berselang-seling dan bertangkai pende. permukaan atas

daun berwarna hujau tua mengkilap, kaku, dan permukaan bawah

daun berwarna hijau muda

d. Bunga (flos)

Bunga tanaman nangka berukuran kecil, tumbuh berkelompok

secara rapat tersusun dalam tandan. Bunga muncul dari ketiak


7

cabang atau pada cabang-cabang besar. bunga jantan dan betina

terdapat dalam satu pohon (monoecus) sehingga bersifat

menyerbuk sendiri. bunga mangadung madu dan beraroma harum

yang dapat mengundang datangnya serangga atau kumbang

penyerbuk.

e. Buah (fructus)

Buah nangka berbentuk panjang atau longjong arau bulat,

berukuran besar, dan berduri lunak. Buah terbentuk dari rangkaian

bunga majemuk yang dari luar tampak seolah-olah seperti satu

sehingga disebut buah semu. Buah nangka sebenarnya adalah

tangkai buang yang tumbuh menebal, berdaging, dan besatu

dengan daun-daun bunga membentuk kulit buah. buah nangka

yang berukuran kecil, sebesar ibu jari orang dewasa disebut

babal. Babal tesebut membesar menjadi buah nangka muda yang

disebut gori. Buah muda (gori) lambat laun mencapai ukuran

maksimal dengan berat antara 20 kg 25 kg dan akhirnya matang

dan disebut buah nangka. Daging buah nangka umumnya tebal,

berwarna kuning, kuning pucat, kuning kemerah-merahan, atau

jingga. Buah nangka beraroma harum yang berasal dari kandungan

senyawa etil-butirat, berair dan rasanya manis.

f. Biji (semen)

Biji berbentuk bulat sampai lonjong, berukuran kecil dan berkeping

dua. Biji terdiri dari tiga lapis kulit, yakni kulit luar berwarna kuning
8

agak lunak, kulit liat berwarna putih, dan kulit ari berwarna cokelat

yang membungkus daging biji.

II. 1.4. Kandungan Senyawa dan Kegunaan (13,14,15,16)

Tanaman nangka daunnya mengandung saponin, flavonoid, dan

tannin sedangkan buahnya yang masih muda dan akarnya mengandung

saponin dan polifenol. Kandungan kimia dalam kayu adalah morin,

sianomaklurin (zat samak), flavon, dan tannin. Selain itu, dikulit kayunya

juga terdapat senyawa flavonoid yang baru, yakni morusin, artonin E,

sikloartobilosanton, dan artonol B.

Daun tanaman ini direkomendasikan oleh pengobatan ayur veda

sebagai obat antidiabetes karena ekstrak daun nangka member efek

hipoglikemi. Selain itu daun pohon nangka juga dapat digunakan sebagai

pelancar ASI, borok (obat luar), dan luka (obat luar). Daging buah nangka

muda (tewel) dimanfaatkan sebagai makanan sayuran yang mengandung

albuminoid dan karbohidrat. Sedangkan biji nangka dapat digunakan

sebagai obat batuk dan tonik.

Biji nangka dapat diolah menjadi tepung yang digunakan sebagai

bahan baku industri makanan (bahan makan campuran). Khasiat kayu

sebagai antispasmodik dan sedatif, daging buah sebagai ekspektoran,

daun sebagai laktagog. Getah kulit kayu juga telah digunakan sebagai

obat demam, obat cacing dan sebagai antiinflamasi. Pohon nangka dapat

dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Bioaktivitasnya terbukti secara


9

empirik sebagai antikanker, antivirus, antiinflamasi, antidiuretik, dan

antihipertensi.

II. 2. Diabetes Mellitus

II. 2.1. Pengertian Diabetes Mellitus

Diabetes berasal dari bahasa Yunani yang berarti mengalirkan

atau mengalihkan (siphon). Mellitus berasal dari bahasa latin yang

bermakna manis atau madu. Penyakit diabetes melitus dapat diartikan

individu yang mengalirkan volume urine yang banyak dengan kadar

glukosa tinggi. Diabetes melitus adalah penyakit hiperglikemia yang

ditandai dengan ketidakadaan absolute insulin atau penurunan relative

insensitivitas sel terhadap insulin (17).

Diabetes mellitus adalalah gangguan metabolisme yang secara

genetik dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa

hilangnya toleransi karbohidrat, jika telah berkembang penuh secara klinis

maka diabetes mellitus ditandai dengan hiperglikemia puasa dan

postprandial, aterosklerosis dan penyakit vaskular mikroangiopati (18).

Diabetes mellitus adalah kumpulan gejala yang timbul pada

seseorang akibat kadar glukosa darah yang tinggi yang disebabkan

jumlah hormone insulin kurang atau jumlah insulin cukup bahkan kadang-

kadang lebih, tetapi kurang efektif (19).

Diabetes Melitus (DM) adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai

berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang

menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan


10

pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan

dengan mikroskop elektron (20)

Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010,

diabetus merupakan suatu kelompok panyakit metabolik dengan

karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,

kerja insulin atau kedua-duanya. (22)

DM merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh

kelainan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia yang disebabkan

defisiensi insulin atau akibat kerja insulin yang tidak adekuat (23).

II. 2.2. Penyebab Diabetes Mellitus (24)

Penyebab diabetes mellitus sampai sekarang belum diketahui

dengan pasti tetapi umumnya diketahui karena kekurangan insulin adalah

penyebab utama dan faktor herediter memegang peranan penting

a. Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM)

Sering terjadi pada usia sebelum 30 tahun. Biasanya juga disebut

Juvenille Diabetes, yang gangguan ini ditandai dengan adanya

hiperglikemia (meningkatnya kadar gula darah). Faktor genetik dan

lingkungan merupakan faktor pencetus IDDM. Oleh karena itu

insiden lebih tinggi atau adanya infeksi virus (dari lingkungan)

misalnya coxsackievirus B dan streptococcus sehingga pengaruh

lingkungan dipercaya mempunyai peranan dalam terjadinya DM.

Virus atau mikroorganisme akan menyerang pulau pulau

langerhans pankreas, yang membuat kehilangan produksi insulin.


11

Dapat pula akibat respon autoimmune, dimana antibody sendiri

akan menyerang sel bata pankreas. Faktor herediter, juga

dipercaya memainkan peran munculnya penyakit ini.

b. Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)

Virus dan kuman leukosit antigen tidak nampak memainkan peran

terjadinya NIDDM. Faktor herediter memainkan peran yang sangat

besar. Riset melaporkan bahwa obesitas salah satu faktor

determinan terjadinya NIDDM sekitar 80% klien NIDDM adalah

kegemukan. Overweight membutuhkan banyak insulin untuk

metabolisme. Terjadinya hiperglikemia disaat pankreas tidak cukup

menghasilkan insulin sesuai kebutuhan tubuh atau saat jumlah

reseptor insulin menurun atau mengalami gangguan. Faktor resiko

dapat dijumpai pada klien dengan riwayat keluarga menderita DM

adalah resiko yang besar. Pencegahan utama NIDDM adalah

mempertahankan berat badan ideal. Pencegahan sekunder berupa

program penurunan berat badan, olah raga dan diet. Oleh karena

DM tidak selalu dapat dicegah maka sebaiknya sudah dideteksi

pada tahap awal tanda-tanda atau gejala yang ditemukan adalah

kegemukan, perasaan haus yang berlebihan, lapar, diuresis dan

kehilangan berat badan, bayi lahir lebih dari berat badan normal,

memiliki riwayat keluarga DM, usia diatas 40 tahun, bila ditemukan

peningkatan gula darah.


12

II. 2.3. Klasifikasi Diabetes Mellitus (4,21)

Klasifikasi Diabetes Melitus menurut PERKENI 2006 dalam dilihat

dalam tabel dibawah ini:

Tabel 1. Klasifikasi etiologik Diabetes Melitus

Jenis Etiologi

Tipe 1 Destruksi sel , umumnya menjurus

ke defisiensi insulin absolut

Autoimun

Idiopatik

Tipe 2 Bervariasi, mulai dari resistensi

insulin yang disertai defisiensi

insulin relatif hingga defek sekresi

insulin yang dibarengi resistensi

insulin

Tipe lain Defek genetik fungsi sel

Defek genetik kerja insulin

Penyakit eksokrin pancreas

Endokrinopati

Karena obat atau zat kimia

Infeksi

Sebab imunilogi (jarang)

Sindrom genetik lain yang

berkaitan dengan DM

Diabetes melitus Intoleransi glukosa yang timbul


13

gestasional atau terdeteksi pada kehamilan

pertama dan gangguan toleransi

glukosa setelah terminasi

kehamilan.

[Sumber: Arisman, 2010]

a. DM tipe 1, insulin dependent diabetes mellitus (IDDM)

Diabetes jenis ini terjadi akibat kerusakan sel pakreas. Dahulu, DM

tipe 1 disebut juga diabetes onset-anak (atau onset-remaja) dan diabetes

rentan ketosis (karena sering menimbulkan ketosis). Onset DM tipe 1

biasanya terjadi sebelum usia 25-30 tahun (tetapi tidak selalu demikian

karena orang dewasa dan lansia yang kurus juga dapat mengalami

diabetes jenis ini). Sekresi insulin mengalami defisiensi (jumlahnya sangat

rendah atau tidak ada sama sekali). Dengan demikian, tanpa pengobatan

dengan insulin (pengawasan dilakukan melalui pemberian insulin

bersamaan dengan adaptasi diet), pasien biasanya akan mudah

terjerumus ke dalam situasi ketoasidosis diabetik. Gejala biasanya muncul

secara mendadak, berat dan perjalanannya sangat progresif; jika tidak

diawasi, dapat berkembang menjadi ketoasidosis dan koma. Ketika

diagnose ditegakkan, pasien biasanya memiliki berat badan yang rendah.

Hasil tes deteksi antibodi Islet hanya bernilai sekitar 50-80% dan KGD

>140 mg/dL.

b. DM tipe 2, non-insulin dependent diabetes mellitus (NIDDM)

DM jenis ini disebut juga diabetes onset-matur (atau onset-dewasa)

dan diabetes resistan-ketosis (istilah NIDDM sebenarnya tidak tepat


14

karena 25% diabetes, pada kenyataannya, harus diobati dengan insulin;

bedanya mereka tidak memerlukan insulin sepanjang usia). DM tipe 2

merupakan penyakit familier yang mewakili kurang-lebih 85% kasus DM di

Negara maju, dengan prevalensi sangat tinggi (35% orang dewasa) pada

masyarakat yang mengubah gaya hidup tradisional menjadi modern.

DM tipe 2 mempunyai onset pada usia pertengahan (40-an tahun),

atau lebih tua, dan cenderung tidak berkembang kearah ketosis.

Kebanyakan penderita memiliki berat badan yang lebih. Atas dasar ini

pula, penyandang DM jenis ini dikelompokkan menjadi dua: (1) kelompok

obes dan (2) kelompok non-obes Kemungkinan untuk menderita DM tipe 2

akan berlipat ganda jika berat badan bertambah sebanyak 20% di atas

berat badan ideal dan usia bertambah 10 tahun atau di atas 40 tahun.

Gejala muncul perlahan-lahan dan biasanya ringan (kadang-kadang

bahkan belum menampakkan gejala selama bertahun-tahun) serta

progresivitas gejala berjalan lambat. Koma hiperosmolar dapat terjadi

pada kasus-kasus berat. Namun, ketoasidosis jarang sekali muncul,

kecuali pada kasus yang disertai stress atau infeksi. Kadar insulin

menurun atau bahkan tinggi, atau mungkin juga insulin bekerja tidak

efektif. Pengendaliannya boleh jadi hanya berupa diet dan (jika tidak ada

kontraindikasi) olahraga, atau dengan pemberian obat hipoglikemik.


15

Tabel 2. Perbedaan DM tipe 1 dan DM tipe 2

DM tipe 1 DM tipe 2

Onset Anak/dewasa muda Biasanya setelah usia

(<25 tahun) pertengahan

Proporsi <10% dari semua >90% dari semua

penyandang DM penyandang DM

Riwayat keluarga Tidak lazim Sangat lazim

Gejala Akut/sub-akut Lambat

Ketoasidosis Sering sekali Jarang, kecuali jika

sakit/stress

Antibody ICA, GAD Sangat sering positif Biasanya negatif

Obesitas saat onset Tidak obes Obes sebelum onset

Kaitan dengan HLA Ada Tidak ada

tipe tertentu

Kaitan dengan Kadang-kadang ada Tidak

penyakit autoimun

C-peptida darah/urin Sangat rendah Rendah/normal/tinggi

Kegunaan insulin Penyelawat nyawa Kadang-kadang

diperlukan sebagai

pengawasan gula darah

Penyebab Pankreas tidak mampu Produksi insulin masih

membuat insulin ada, tetapi sel target tidak

peka

Kegunaan diet Mengawasi gula darah Menurunkan BB (jadwal

(makan/jajan harus tidak harus ketat, kecuali


16

diatur kalau insulin juga

seputar pemberian diberikan)

insulin agar tidak terjadi

hipoglisemia)

Kegunaan latihan fisik Merangsang sirkulasi Membuat tubuh menjadi

dan membantu tubuh lebih peka terhadap

dalam penggunaan insulinnya sendiri, di

insulin samping menggunakan

energi untuk mengurangi

BB

[Sumber: Arisman, 2010]

c. DM tipe 3

Diabetes jenis ini dahulu kerap disebut diabetes sekunder, atau DM

tipe lain. Etiologi diabetes jenis ini, meliputi : (a) penyakit pada pankreas

yang merusak sel , seperti hemokromatosis, pankreatitis, fibrosis kistik;

(b) sindrom hormonal yang mengganggu sekresi dan/atau menghambat

kerja insulin, seperti akromegali, feokromositoma, dan sindrom Cushing;

(c) obat-obat yang menggangu sekresi insulin (fenitoin [Dilantin]) atau

menghambat kerja insulin (estrogen dan glukokortikoid); (d) kondisi

tertentu yang jarang terjadi, seperti kelainan pada reseptor insulin; dan (e)

sindrom genetik.
17

d. Diabetes Mellitus kehamilan (DMK)

Diabetes mellitus kehamilan didefenisikan sebagai setiap intoleransi

glukosa yang timbul atau terdeteksi pada kehamilan pertama, tanpa

memandang derajat intoleransi serta tidak memperhatikan apakah gejala

ini lenyap atau menetap selepas melahirkan. Diabetes jenis ini biasanya

muncul pada kehamilan trimester kedua dan ketiga. Kategori ini

mencakup DM yang terdiagnosa ketika hamil (sebelumnya tidak

diketahui). Wanita yang sebelumnya diketahui telah mengidap DM,

kemudian hamil, tidak termasuk ke dalam kategori ini.

e. Diabetes melitus terkait malnutrisi (DMMal)

Kategori ini diusulkan oleh WHO karena kasusnya banyak sekali

ditemukan di negara-negara sedang berkembang, terutama di wilayah

tropis. Diabetes jenis ini biasanya menampakkan gejala pada usia muda,

antara 10-40 tahun (lazimnya dibawah 30 tahun). Sebagian pasien

mengalami nyeri perut yang menjalar ke daerah punggung (gejala ini

mirip dengan pankreatitis). Ciri lainnya ialah BMI dibawah 20,

hiperglisemia derat sedang hingga berat, cendarung tidak berkembang

kearah ketosis (kecuali diikuti infeksi), dan (kadang-kadang) adanya

riwayat malnutrisi semasa bayi atau anak.

II. 2.4. Diagnosis dan pemeriksaan diabetes melitus (4,21,26)

Gejala klinis DM bersifat progresif, yang akan menimbulkan gejala

serius jika tidak terkendali. Keluhan awal mungkin hanya sekedar

peningkatan rasa haus (polidipsia) dan lapar (polifagia) serta pertambahan


18

volume/frekuensi berkemih (poliuria). Namun gejala klasik (polidipsia,

poliuria, dan penysutan berat bedan) ini tak selalu dikeluhkan, terutama

oleh lansia yang berumur diatas 65 tahun.

Ketika kadar glukosa berada pada konsentrasi 180 mg/dl, yang

berarti telah melampaui ambang ginjal (renal threshold), kelibihan glukosa

dalam aliran darah akan melimpah kedalam urin. Ginjal orang sehat,

bukan diabetes, mestinya mampu menyerap kembali glukosa yang ginjal.

Namun ginjal diabetes telah kehilangan kemampuan tersebut,

mengakibatkan diuresis osmotik yang kemudian tercermin sebagai poliuria

(berkemih berlebihan).

Pengeluaran urin secara berlebihan menyebabkan dehidrasi

karena glukosa yang keluar memerlukan air sebagai pelarut. Kondisi ini

tentu saja akan mengentalkan serum. Pengentalan serum ini kemudian

merangsang pusat rasa haus di hipotalamus sehingga menimbulkan

gejala berupa resa haus yang berlebihan (polidipsia). Tidak adanya atau

kurangnya insulin menyebabkan glukosa tidak dapat diserap oleh sel-sel

tubuh, terutama sel otot lurik. Keadaan ini mengakibatkan sel-sel tubuh

kelaparan karena tidak mampu menghasilkan energi, kondisi ini jelas

melelahkan dan melemahkan sipenderita. Akhirnya jika tidak ada pasokan

insulin eksogen atau jumlahnya terlalu sedikit dalam periode yang cukup

panjang berat badan pasien dipastikan menyusut lantaran kehabisan

energi.
19

Selain dengan keluhan, diagnosa DM harus ditegakkan

berdasarkan pemeriksaan kadar glukosa darah dengan cara enzimatik

dengan bahan darah plasma vena. Penggunaan bahan darah utuh (whole

blood), vena ataupun kapiler sesuai kondisi dengan memperhatikan

angka-angka kriteria diagnostik yang berbeda sesuai pembakuan WHO.

Sedangkan untuk tujuan pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan

dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler (Gustaviani,

2006; PERKENI, 2006).

Tabel 3. Kadar Glukosa Darah Sewaktu dan Puasa Sebagai Patokan Penyaring dan
Diagnosis DM (mg/dL)

Bukan Belum pasti Pasti

Kadar glukosa darah Plasma vena <100 100-199 200

sewaktu (mg/dL) Darah kapiler <90 90-199 200

Kadar glukosa darah Plasma vena <100 100-125 126

puasa (mg/dL) Darah kapiler <90 90-99 100

[Sumber: Arisman, 2010]

II.2.5. Komplikasi Diabetes Mellitus (25)

1. Tekanan darah tinggi

Kadar gula darah tinggi dalam jangka waktu yang lama dapat

menyebabkan gangguan kesehatan secara serius

- Dapat mempengaruhi pembuluh darah serta menimbulkan

serangan jantung, strok.

- Infeksi kandung kemih yang sering terjadi disebabkan oleh

kadar gula yang tinggi (tidak dikendalikan dengan baik) dan

menyebabkan kerusakan ginjal.


20

- Penyakit ginjal (nefropati)

2. Gangguan fungsi ginjal

Bila ginjal kehilangan kemampuan membuang zat-zat sisa, ginjal

juga akan kahilangan kemampuan mempertahankan protein dan

gula, sehingga protein dan gula terdeteksi di dalam urin dalam

jumlah yang besar. Jika melaui tes darah ditemukan urea, nitrogen,

dan kreatinin dalam jumlah besar, itu menunjukkan adanya

kerusakan ginjal.

3. Gangguan retina (retinopati)

Gangguan retina dapat disebabkan oleh penyakit atau kerusakan

kapiler darah di retina. Ganguan pada mata dapat menjadi masalah

yang kompleks dan berakhir pada retinopati, katarak prematur, dan

glaukoma. Retina adalah bagian mata yang menerima bayangan

dari benda yang kita liat yang dibentuk oleh system lensa mata.

Penyakit ini sering diderita oleh orang yang sudah lama menderita

diabetes.

4. Penyakit kulit

Dermopati diabetes adalah penyakit kulit yang paling umum muncul

pada penderita diabetes yaitu muncul lebab kecoklatan di kulit.

Penyakit ini merupakan akibat adanya perubahan pada kapiler

darah di kulit. Jika tidak segera diatasi maka prosesnya akan

berlangsung lebih cepat.


21

II.3. Pengobatan Diabetes Mellitus (4)

Pengobatan diabetes melitus bertujuan untuk memulihkan segala

proses metabolik sehingga kembali normal yang sekaligus mencegah atau

memperlambat munculnya komplkasi. Ketidakoptimalan diet dan berat

badan, ketidakteraturan berolahraga, serta kebiasaan merokok terbukti

sebagai pengganggu metabolisme (metabolic derangement). Gangguan

ini semakin parah apabila komplikasi mikro- dan makrovaskuler telah

terjadi. Tujuan pengobatan ini pada kenyataannya tidak mudah dicapai

sebab setiap orang mempunyai pola kegiatan yang khas. Oleh kerena itu

pengobatan DM jangan sekali-kali disama ratakan, tetapi harus dinilai

kasus per kasus. Singkatnya, pengolahan diabetes harus

mengedepankan pendekatan individual.

Terapi Nonfarmakologi Monoterapi dengan insulin


1. Pengobatan gizi medis 1. Kerja sedang: 2 kali sehari
Segera pertimbangkan 2. Kerja menengah + kerja
2. olahraga
insulin jika: pendek: dua kali sehari
1.Gejala sangat nyata 3. Inkesi multiple: 3 atau lebih
Gula darah tidak terkendali
2.Hiperglikemia berat 4. Kerja menengah/panjang +
3.Ketosis kerja pendek: sebelum
Terapi Farmakologik 4.Mungkin DM tipe 1 makan
1. Penghabatan -glukosidase 5.hamil 5. Pompa insulin
2. Biguanid berkesinambungan
3. Meglitinid
4. Sulfonylurea
5. Tiazolidindion

Gula darah tidak terkendali

Gula darah tidak terkendali


Kombinasi ADO Kombinasi ADO dan insulin

[Sumber: Arisman, 2010]

Gambar 1. Diagram Alir Penanganan Diabetes Melitus


22

1. Terapi Nonfarmakologi

a. Pengobatan Gizi Medis

Pengobatan gizi medis adalah upaya pertama penanganan DM

tipe 2 besama-sama dengan olahraga. Tujuan utamanya ialah: [1]

Mencapai dan mempertahakan status metabolic yang optimal,

seperti (a). kadar gula darah (sedapat mungkin berada dalam

batas normal, atau mendekati normal), yang bermanfaat untuk

mencegah (mengurangi resiko) komplikasi; (b). profil lipid dan

lipoprotein yang berpengaruh pada penyusutan resiko penyakit

mikrovaskuler; (c) tekanan darah yang berdampak pada

pereduksian resiko penyakit pembulu darah; [2] mencegah dan

mengobati penyulit kronis diabetes serta memodifikasi asupan zat

gizi dan gaya hidup setepat mungkin sehingga obesitas,

dislipidemia, penyakit jantung dan pembuluh darah, hipertensi, dan

nefropati dapat dicegah dan diobati; [3] memperbaiki derajat

kesehatan melalui memilih makanan sehat dan olahraga; [4]

menata kebutuhan gizi perorangan dengan mempertimbangkan

selera, budaya, dan gaya hidup.

Pada penderita DM tipe 1 yang berusia muda, pengobatan gizi

medis diarahkan pada pemenuhan kebutuhan akan energi dalam

jumlah yang tepat agar pertumbuhan dan perkembangan dapat

berlangsung normal, sembari pemberian suntikan insulin dengan


23

pola kegiatan fisik dan kebiasaan bersantap. Sementara pagi

penderita DM tipe 2 usia muda, upaya khusus ini ditujukan untuk

menggubah kebiasaan makan dan kegiatan fisik yang dapat

mereduksi resistensi insulin serta memperbaiki status metabolik.

b. Olahraga

Diabetes melitus adalah penyakit yang terikat oleh gen dan

gaya hidup. Reduksi insulin dilatarbelakangi oleh gen, sementara

resistensi insulin dipengaruhi oleh berbagai berbaagay gaya hidup.

Obesitas adalah salah satu contoh gaya hidup yang telah diyakini

banyak ahli sebagai penyebab primer yang independent.

Olahraga bukan hanya menipiskan tumpukan lemak disekitar

perut dan mengurangi berat bedan, tetapi juga berkhasiat

memperbaiki kepekaan insulin serta pengendalian gula darah.

Perbaikan kepekaan insulin adalah dampak dari pertambahan

afinitas reseptor insulin dan penurunan kebutuhan akan insulin itu

sendiri, sementara perbaikan pengendalian glukosa darah

mengarah pada penundaaan penebalan membran basal pembuluh

darah, penambahan massa tubuh tak berlemak.

Keberhasilan mengurangi berat badan hingga 10 kg bukan

hanya berarti sukses memperbaiki, tetapi juga (kemungkinan

besar) menormalkan kadar gula darah, disamping menurunkan

kadar trigliserida dan kolesterol total sekaligus meningkatkan

konsentrasi HDL. Semua itu tentu saja mengurangi dampak


24

glikosilasi dan oksidasi terhadap partikel LDL. Olahraga yang

teratur memang bermafaat untuk pemekaan insulin. Namun

pengendalian gulah darah tidak akan berhasil dengan olahraga

saja. Karena itu, upaya ini mesti dipadu dengan pengaturan diet

secara akurat. Pekanya insulin dan terkendalinya gula darah akan

berdampak pada perlambatan atau penundaan komplikasi DM.

2. Terapi farmakologi

Pemberian Antidiabetik Oral (ADO) dapat diberikan jika terapi

nonfarmakologi tidak berhasil dalam merunkan kadar glukosa darah

dalam waktu 6-12 minggu. Namun selama pemberian ADO, olahraga

dan diet tetap dilakukan. Obat-obat antidiabetik yang ada saat ini,

meskipun memberikan kontribusi besar dalam manajemen diabetes,

tetapi masih memiliki banyak keterbatasan terutama efek samping

yang ditimbulkan seperti hipoglikemia, peningkatan berat badan dan

ketidakmampuan untuk mencegah degenerasi pankreas atau

komplikasi diabetic yang berhubungan dengan stres oksidatif (Baynes

JW, 1999). Berdasarkan cara kerjanya, obat antidiabetik oral dibagi

menjadi tiga kelompok sebagai berikut:

1. Obat yang berfungsi sebagai perangsang sekresi insulin.

Contohnya preparat yang termasuk golongan ini, dan paling

banyak digunakan ialah sulfonylurea

2. Obat yang mempengaruhi kerja insulin, seperti metformin dan

tiazolidindion.
25

3. Obat yang menghambat penyerapan glukosa. Penghambatan -

glukosidase dan miglitol merupakan preparat golongan ini yang

banyak digunakan saat ini.

a. Glibenklamid (28,29,30,31,32,33)

Glibenklamid adalah antidiabetik oral generasi kedua dari golongan

sulfonilurea yang memperbaiki cara kerja glukosa melalui sekresi

insulin, aksi insulin, ataupun keduanya. Efek predominan dari

sulfonilurea berada pada sekresi insulin, sementara sensitifitas efek

terhadap insulin dapat dimediasi baik melalui perbaikan kontrol

metabolik atau melalui efek perifer secara langsung. Sulfonilurea juga

diketahui dapat mensekresikan hormon pankreas seperti somatostatin

dan glucagon.

Mekanisme aksi dari glibenklamid adalah membentuk ikatan dari

molekul obat dengan reseptor pada sel beta. Ikatan yang terbentuk

dapat merangsang keluarnya hormon insulin dari granul-granul sel

beta pulau Langerhans pada pankreas. Oleh karena itu, syarat

pemakaian glibenklamid pada penderita diabetes mellitusadalah jika

pankreas penderita diabetes masih dapat memproduksi insulin. Efek

samping antidiabetic oral golongan sulfonilurea umumnya ringan dan

frekuensinya rendah, antara lain gangguan saluran cerna dan

gangguan susunan syaraf pusat. Golongan sulfonilurea cenderung

meningkatkan berat badan. Bila pemberian dihentikan, obat akan

bersih dari serum sesudah 36 jam.


26

b. Metformin (4)

Metformin sebagai obat tunggal maupun dalam kombinasi dengan

antidiabetic oral lain dan/atau insulin, digunakan untuk mengobati

diabetes tipe 2. Obat ini merupakan golongan dari biguanid.

Mekanisme kerja dari obat metformin terbukti mampu mereduksi kadar

glukosa darah serta derajat hiperglisemia postprandial pada diabetes

tipe 2, tetapi tidak berpengaruh pada orang normal. Metformin telah

terbukti pula efektif dalam meredam aktivitas glukoneogenesis di hati

dengan jalan menggangu oksidasi asam laktat dan ambilan glukosa

oleh hati. Kemungkinan mekanisme lain dari obat ini ialah dengan cara

memperlambat penyerapan sambal mempercepat ambilan glukosa

oleh otot rangka.

Metformin dapat digunakan sebagai terapi pendamping dalam

pengobatan gizi medis, terutama bagi pasien obesitas atau mereka

yang tidak menampakkan respon optimal pada penggunaan

sulfonilurea. Selain itu metformin cenderung memperbaiki

hiperglisemia (puasa dan postprandial) maupun hipertrigliseridemia

pada diabetes yang obesitas tanpa pertambahan berat badan terkait

pemberian sulfonilurea dan insulin. Obat ini dikontraindikasikan jika

kadar kreatinin serum 1,5 mg/L (pada diabetes tipe 2) karena

metformin tidk mengalami metabolism dalam tubuh, dan diekskresikan

melaliu ginjal dalam bentuk utuh. Selain itu metformin tidak


27

diindikasikan bagi penderita diabetes tipe 1, pasien dengan infusiensi

hati, serta diabetes pecandu alkohol.

c. Tiazolidindion (4)

Tiazolidindion merupakan golongan obat antihiperglikemia yang

bekerja sebagai pemeka insulin, membuat tubuh (jaringan perifer)

menjadi lebih peka terhadap insulin. Preparat ini mengikat reseptor inti

yang disebut PPAR- (peroxisome proliferators-activated reseptor

gamma), mengetahui ekspresi sejumlah gen, serta mengatur

pelepasan adipokin (resistin dan adiponektin) dari adiposity atau sel

lemak. Pengikatan ini merangsang sekresi adiponektin yang

memekakan jaringan terhadap insulin, sembari menghambat sekresi

resistin.

Pengaruh tiazolidindion berupa peningkatan ekspresi GLUT 1 dan

4, penurunan kadar asam lemak bebas, pengurangan keluaran

glukosa hati, dan pertambahan diferensiasi sel-sel preadiposit menjadi

adiposity. Hasilnya, ambilan glukosa oleh oto rangka bertambah.

Contoh golongan obat ini adalah trioglitazon, rosiglitazon dan

pioglitazin.

d. Penghambat -glukosidase (4)

Penghambat -glukosidase secara kompetitif menghambat

menghambat enzim -glukosidase yang berfungsi mencerna tepung

dan sukrosa di dalam saluran cerna. Dengan kata lain, preparat

golongan ini menghambat pemecahan karbohidrat kompleks dan


28

memperlambat penyerapan monosakarida dari saluran cerna. Obat ini

dikontraindikasikan pada pengidap IBD (inflammatory bowel disease),

obstruksi usus persial, mereka yang mempunyai predisposisi obstruksi

usus, ulserasi kolon, serta gangguan saluran cerna lain.

Ada dua macam obat yang tersedia, yaitu akarbose dan

miglitol. Keduanya merupakan penghambat bagi alfa-amilase,

sukrase, serta (meskipun efeknya lemah) trehalase dan laktase.

Perbedaan mendasar dari kedua preparat ini terletak pada

keterserapannya. Massa molekul serta struktur akarbose mirip

dengan tetrasakarida, tetapi hanya sedikit (2%) yang mampu

melintasi membran mikrovili. Sementara itu, miglitol mempunyai

struktur yang sama seperti glukosa serta mudah terserap.

Persamaan keduanya ialah sama-sama bertugas memperlambat

penyerapan karbohidrat sembari menghalangi laju glisemia

postprandial. Golongan obat ini berhubungan dengan

hepatotoksisitas.

II. 4. Streptozotosin (10,33,34)

Streptozotocin, [2-deoxy-2- (3-methyl-3-nitrosurea) 1-D-

glukopiranosa], adalah obat penginduksi diabetes yang dihasilkan oleh

strain mikroba tanah Streptomyces achromogenes (bakteri gram positif).

Streptozotosin adalah aminoglikosida tidak biasa yang beris sekelompok

nitrosoamino dan ditemukan pasa pada tahun 1959 sebagai antibiotik,

sekarang dipasarkan sebagai obat generik. Kelompok nitrosoamino


29

memungkinkan metabolit untuk bertindak sebagai pendonor nitrat oksida

(NO). NO merupakan molekul penting yang terlibat dalam banyak proses

fisiologis dan patologis dalam tubuh.

Streptozotosin memiliki efek toksik selektif pada sel -pankreas

karena memiliki afinitas tinggi pada membran sel , kapasitas rendah

pada sel dalam mengikat radikal bebas, dan rasio NAD + / DNA rendah

karena streptozotosin terakumulasi dalam sel pankreas melalui

transpoter Glut2 yang akan menyebabkan alkilasi DNA dan nekrosis

ireversibel, juga akan merusak organ lain seperti ginjal, hati, dan usus.

Streptozotosin banyak digunakan untuk menginduksi diabetes pada model

hewan pengerat dengan menghambat sel O-GlcNAcase (5-10).

Streptozotosin memiliki empat sifat biologis penting yang dibuktikan

dengan antibiotiknya, sel (Beta) -cytotoxic, oncolytic, serta efek

onkogenik. Produk ini adalah antineoplastik Antibiotik dan terutama

digunakan dalam pengobatan tumor pankreas. Ini digunakan untuk

Pengobatan insulinoma ganas. Streptozotosin banyak digunakan untuk

menginduksi insulin-dependent (IDDM) dan diabetes mellitus non-insulin-

dependent (NIDDM). Memiliki berat molekul 265 g/mol, dengan rumus

molekul C8H15N3O7. Struktus molekulnya mirip dengan 2-deoksi-D-

glukosa dengan pengganti di C2 dengan kelompok N-metil-N-nitrosourea,

yang merupakan bagian efek sitotoksik dalam merusak sel beta.

Streptozotosin adalah senyawa nitrosourea glukosamin dengan gugu metil

terpasang disalah satu ujung dan sebuah molekul glukosa diujung lain.
30

a.

b. c.

[Sumber: Ghasemi A., Khalifi S., Jedi S., 2014]

Gambar 2. Struktur Kimia Streptozotosin a) dan betuk anomeric dari streptozotosin


b) analog dari streptozotosin -N-acetyl glucosamine c) bagian sitotoksik dari STZ-N-
methyl-N-nitrosourea

Dalam kasus kelarutan, STZ sangat larut dalam air, keton dan alkohol

yang lebih rendah, namun sedikit larut dalam pelarut organik polar. Produk

ini larut dalam air pada 50 mg / mL untuk memberikan larutan berwarna

kuning muda, dari yang jernih sampai agak keruh. Stabilitas maksimum

dari larutan STZ adalah pH 4. STZ bisa disimpan pada suhu 4C untuk

jangka pendek, tapi untuk kebutuhan penyimpanan dalam jangka panjang

disimpan pada suhu -20C karena stabil pada suhu ini selama kurang

lebih 2 tahun.

Larutan Streptozotosin (dalam buffer sitrat atau asetat, pH 4.5) harus

diberikan "segera" dan tidak lebih dari 15 sampai 20 menit setelah


31

pelarutan. Larutan streptootosin harus disiapkan sebelum digunakan,

karena produknya yang tidak stabil. Streptozotocin bersifat sitotoksik

terhadap sel pankreas dan pengaruhnya dapat dilihat dalam tujuh puluh

dua jam setelah pemberian tergantung pada dosis yang diberikan.

II. 5. Nikotinamid (10,34)

Nikotinamid (niacinamide), piridin-3-karboksamida, adalah turunan

vitamin B3 (niacin) dengan kapasitas sebagai antioksidan dalam

mengurangi efek sitotoksik dari streptozotosin. Nikotinamid memiliki rumus

struktur C6H6N2O dan berat molekul adalah 122.13 dalton.

[Sumber: Szkudelski T., 2012]


Gambar 3. Struktur Kimia Nikotinamid

Nikotinamid melindungi sel dengan melawan kerja dari

streptozotosin dengan beberapa mekanisme yaitu mengikat radikal bebas

oksigen dan NO, menghambat pengaktifan PARP, meningkatkan

regenerasi sel dan pertumbuhan sel islet dan menghambat apoptosis.

Selain itu, dapat bertindak sebagai akseptor gugus metil, yang

mengurangi metilasi DNA. Nikotinamid adalah agen sitoprotektif yang

menghambat apoptosis melalui pencegahan eksternalisasi posfatidilserin

dan degradasi DNA. Namun, telah dilaporkan bahwa pemberian

nikotinamid sebelum pemberian streptozotosin tidak berpengaruh pada


32

metilasi DNA dalam organ-organ kecuali dalam sel pankreas, yang

mengurangi metilasi DNA. Nikotinamid memiliki waktu paruh 9 jam dan

akan disekresikan dalam urin. NA dilarutkan dalam saline normal dan

biasanya diadministrasikan secara intraperitoneal.

Efek antidiabetogenik dari nikotinamid disebabkan dari peningkatan

NAD+ dalam sel-beta. NAD+ (nicotinamide adenine dinucleotida) adalah

metabolit utama dari nikotinamid. Metabolit ini berperan dalam dlam

berbagai proses fisiologis tubuh, termasuk produksi energi, sintesis asam

lemak, kolesterol dan steroid, stansduksi sinyal dan pemeliharan integritas

genom. Kerusakan dan kehancuran dari sel-beta dapat terjadi melalui

stress oksidatif. Peningkatan kadar ROS (Reaktive Oxigen Species) dalam

sel-beta dapat mengakibatkan kerusakan oksidatif pada DNA. Enzim poly

(ADP-ribose) polymerase atau PARP diyakini berperan dalam perbaikan

DNA. PARP menggunakan NAD+ sebagai substratnya. Dalam penurunan

tingkat NAD+, aktivitas PARP pada dasarnya menggunakan sebagian

besar seluler NAD+. Hal ini dapat mengakibatkan apoptosis sel.

Nikotinamid adalah inhibitor PARP dan juga memiliki aktivitas antioksidan.

Semua efek ini yang ditimbulkan dari nikotinamid dapat memainkan peran

sebagai antidiabetogenic (10).

II. 6. Ekstraksi dan Meserasi

II. 6.1. Ekstraksi (35)

Ekstraksi merupakan suatu proses penyarian suatu senyawa kimia

dari suatu bahan alam dengan menggunakan pelarut tertentu. Ekstraksi


33

biasa dilakukan dengan metode yang sesuai dengan sifat dan tujuan

ekstraksi. Pada proses ekstraksi ini dapat digunakan sampel dalam

keadaan segar atau yang telah dikeringkan terlebih dahulu, tergantung

pada sifat tumbuhan dan senyawa yang akan diisolasi.

II. 6.2. Maserasi (35)

Maserasi merupakan cara ekstraksi yang paling sederhana. Bahan

yang dihaluskan sesuai dengan syarat farmakope (umumnya terpotong-

potong atau berupa serbukkasar) disatukan dengan pengekstraksi.

Selanjutnya rendaman tersebut disimpan terlindung dari cahaya langsung

(mencegah reaksi yang dikatalis cahaya atau perubahan warna) dan

dikocok kembali. Waktu lamanya maserasi berbeda-beda antara 4-10 hari.

Secara teoritis pada suatu maserasi tidak memungkinkan terjadinya

ekstraksi absolute. Semakin besar perbandingan cairan pengekstraksi

terhadap simplisia, akan semakin banyak hasil yang diperoleh. Kelebihan

cara maserasi adalah alat yang digunakan sederhana dan dapat

digunakan untuk zat yang tahan dan tidak tahan pemanasan. Kelemahan

cara maserasi adalah banyak pelarut yang terpakai dan waktu yang

dibutuhkan cukup lama


BAB III

PELAKSSANAAN PENELITIAN

III.1 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan adalah oven simplisia, alat-alat gelas,

timbangan analitik (Sartorius), mikropipet (Socorex), microtube

(Eppendorf), centrifuge (Hettich), spoit (Onemed), kanula, rotary

evaporator (Heidolp), pH meter, humalyzer (Human3500), dan kandang

hewan.

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah akar nangka

(Artocarpus heterophyllus Lamk.), alkohol 70%, air suling, kertas saring,

Glucose-KIT, streptozotosin (Aladdin), glibenklamid, natrium sitrat, asam

sitrat, nikotinamid, dietil eter, dan pelet AD2.

III.2 Metode Kerja

III.2.1 Pengambilan dan Pengumpulan Sampel

Sampel penelitian yang digunakan berupa akar nangka (Artocarpus

heterophyllus Lamk.) yang diambil dari kabupaten Wotu (Luwu timur). Akar

nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) dicuci bersih dengan air mengalir,

disortasi basah, dirajang dan dikeringkan menggunakan oven simplisia

dengan suhu 40C hingga memenuhi persyaratan kadar air simplisia yang

telah ditentukan.

III.2.2 Pembuatan Ekstrak

Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi. Sampel akar nangka

(Artocarpus heterophyllus Lamk.) sebanyak 940 gram dimasukkan ke

34
35

dalam wadah maserasi dan ditambahkan pelarut etanol 70% dengan

perbandingan 1 bagian ekstrak : 10 bagian pelarut, dibiarkan selama 3x24

jam. Ekstrak cair disaring kemudian ampasnya diekstraksi kembali dengan

pelarut yang sama. Ekstrak yang diperoleh dikumpulkan kemudian

diuapkan pelarutnya menggunakan rotary evaporator lalu ekstrak kental

yang diperoleh dimasukkan ke dalam eksikator.

III.3 Pembuatan Bahan Penelitian

III.3.1 Pembuatan Larutan Koloidal Natrium CMC 1% b/v

Sebanyak 1 gram Natrium CMC dimasukkan sedikit demi sedikit ke

dalam labu erlenmeyer yang berisi air suling yang telah dipanaskan hingga

suhu 70C, sambil diaduk dengan pengadukan elektrik hingga terbentuk

larutan koloidal yang homogen, kemudian dimasukkan ke dalam labu

tentukur 100 ml dan volumenya dicukupkan hingga 100 ml menggunakan

air suling.

III.3.2 Pembuatan Suspensi Glibenklamid

Ditimbang sebanyak 20 tablet glibenklamid, kemudian dihitung bobot

rata-ratanya. Semua tablet dimasukkan kedalam lumpang dan digerus

hingga halus. Sebanyak 114,1 mg serbuk, mengandung 2,81 mg

glibenklamid disuspensikan dengan larutan koloidal NaCMC 1% b/v hingga

homogen. Kemudian dicukupkan volumenya sampai 25 ml dengan NaCMC

1% b/v.
36

III.3.3 Pembuatan Suspensi Ekstrak Akar Nangka

Ekstrak akar nangka dibuat dengan konsentrasi 100 mg/kg BB, 200

mg/kg BB, dan 300 mg/kg BB b/v. Pembuatan ekstrak dengan konsentrasi

100 mg/kg BB b/v dilakukan dengan cara ekstrak kental sebanyak 0,25

gram dimasukkan kedalam lumpang kemudian ditambahkan larutan

koloidal NaCMC 1% b/v sedikit demi sedikit hingga terdispersi homogen.

Campuran dimasukkan kedalam labu tentu ukur 25 ml dan cukupkan

volumenya dengan larutan koloidal NaCMC 1% sampai batas tanda.

Untuk pembuatan ekstrak dengan kosentrasi 200 mg/kg BB dan 300

mg/kg BB b/v, dilakukan dengan cara yang sama pada pembuatan

konsentrasi 100 mg/kg BB b/v. Penimbangan ekstrak dilakukan masing-

masing 0,5 gram dan 0,75 gram.

III.3.4 Pembuatan Buffer Sitrat pH 4,5

Ditimbang natrium sitrat sebanyak 1,4 gram dan asam sitrat 1 gram,

ditambahkan sebagian air suling hingga larut sempurna. Dimasukkan ke

dalam labu tentukur. Diukur pH larutan menggunakan pH meter dan diatur

hingga pH 4,5 dengan menambahkan asam sitrat sedikit demi sedikit dan

cukupkan volumenya hingga 50 ml.

III.3.5 Pembuatan Larutan Streptozotosin

Sebanyak 325 mg streptozotosin dilarutkan dengan buffer sitrat pH

4,5 sedikit demi sedikit hingga homogen di dalam labu tentu ukur 25 ml,

kemudian dicukupkan volumenya hingga 25 ml.


37

III.3.6 Pembuatan Larutan Nikotinamid

Sebanyak 1,16 gram nikotinamid dilarutkan dengan air suling sedikit

demi sedikit hingga homogen di dalam labu tentu ukur 25 ml, kemudian

dicukupkan volumenya hingga 25 ml.

III.4 Prosedur Percobaan

III.4.1 Pemilihan dan Penyiapan Hewan Uji

Hewan yang digunakan adalah tikus putih (Rattus novergicus) galur

Wistar yang berbadan sehat yang dapat diamati dari kondisi fisik, dan

perilakunya, dan memiliki berat badan antara 200-250 gram. Tikus

sebanyak 18 ekor dibagi dalam 6 kelompok perlakuan. Tikus diadaptasikan

pada kandang laboratorium Biofarmasi Universitas Hasanuddin yang sudah

didesinfeksi dengan alkohol 70%.

III.4.2 Perlakuan

Tikus diadaptasikan selama 7 hari dengan pakan standar pelet AD2,

tikus kemudian dipuasakan selama 10-16 jam dan kadar glukosa darah

puasa (GDP) diukur menggunakan humalyzer. Tikus kemudian diberi

nikotinamid sebanyak 230 mg/kg BB (46 mg / 200 gram) secara

intraperitonial (i.p). Setelah 15 menit, dilakukan induksi dengan

streptozotosin dilakukan sebanyak 65 mg/kg BB (13 mg / 200 gram) secara

intraperitonial (i.p). Tujuh puluh dua jam setelah penginduksian dilakukan

pengambilan darah untuk mengukur kadar glukosa darah (34). Tikus

dikategorikan hiperglikemia jika kadar glukosa darahnya diatas 126 mg/dL

(glukosa darah puasa) sehingga dapat digunakan pada pengujian


38

selanjutnya (4). Pemberian ekstrak uji dengan tiga variasi konsentrasi (100

mg/kg BB, 200 mg/kg BB, 300 mg/kg BB) dilakukan setiap hari selama tiga

seminggu kepada kelompok perlakuan. Kelompok kontrol negatif hanya

diberikan air suling. Kelompok kontrol positif diberikan glibenklamid sebagai

terapi pengobatan hiperglikemia, sedangkan kelompok kontrol normal tidak

diberikan pelakuan.

Pengambilan darah dilakukan melalui ekor dengan cara tikus

dianestesi terlebih dahulu menggunakan dietil eter, kemudian diambil

darahnya dengan bantuan spoit. Darah ditampung ke dalam tabung

microtube kemudian diukur kadar glukosa darah menggunakan humalyzer.

III.5 Analisis Data

Data hasil pengamatan yang diperoleh dianalisis secara statistik

menggunakan ANOVA satu arah untuk melihat pengaruh dari setiap

perlakuan yang diberikan. Perlakuan yang diberikan dapat dikatakan

berpengaruh signifikan apabila data hasil pengamatan menunjukkan nilai

Pvalue (0,05).
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Penelitian

Dari hasil ekstraksi 940 gram akar nangka (Artocarpus heterophyllus

Lamk.) yang telah dilakukan menggunakan metode penyarian ekstraksi

secara maserasi dan cairan penyari etanol 70 %. Adapun persen (%)

rendamen ekstrak yang diperoleh, yaitu:

Tabel 4. Persen (%) Rendamen Ekstrak Etanol Akar Nangka (Artocarpus heterophyllus
Lamk.)

Bobot simplisia kering Bobot ekstrak Persen rendamen


(gram) (gram) (%)
940 50,8226 5,4 %

Hasil pengukuran kadar glukosa darah tikus selama 21 hari

perlakuan dengan ekstrak etanol akar nangka (Artocarpus heterophyllus

Lamk.) pada tikus putih (Rattus novergicus) jantan yang telah diinduksi

streptozotosin-nikotinamid dapat dilihat pada tabel berikut ini.

39
40

Tabel 5. Presensi penurunan kadar glukosa darah pada tikus jantan yang diinduksi
streptozotosin-nikotinamid setelah 7,14, dan 21 hari pemberian ekstrak akar nangka
(Artocarpus heterophyllus Lamk.)

Rata-rata persen penurunan


Replikasi % Penurunan glukosa darah Standar
kelompok glukosa darah
data Deviasi
7 Hari 14 Hari 21 Hari 7 Hari 14 Hari 21 Hari
1 29.1062 41.9747 38.2311
Kontrol
2 -3.0323 20.7443 33.1495 -3.2158 18.7504 22.3010 13.8217
negatif
3 -35.721 -6.4676 -4.4776
1 36.2595 40.2035 44.6564
Kontrol
2 36.4864 45.9459 56.5637 42.1636 40.6705 50.2917 5.1779
positif
3 53.7448 35.8620 49.6551

Ekstrak 1 67.8822 4.4021 23.6780


Nangka
2 49.9462 -16.9355 -13.172 TBUD TBUD TBUD TBUD
(100 mg/kg
BB) 3 Mati Mati Mati

Ekstrak 1 21.6867 31.3253 36.6265


Nangka
2 34.7402 44.8051 53.8311 28.7949 42.6764 48.6476 10.1856
(200 mg/kg
BB) 3 29.9578 51.8987 55.4852

Ekstrak 1 8.9895 17.7700 52.6132


Nangka
2 5.4087 25.0153 60.0491 6.6878 19.0312 43.5708 18.7745
(300 mg/kg
BB) 3 5.6653 14.3083 18.0500
Keterangan:
TBUD = Tidak Bisa Untuk Dihitung

IV.2 Pembahasan

Diabetes melitus atau biasa disebut penyakit kencing manis

merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa

dalam darah. Hal ini disebabkan kerena penderita mengalami kalainan

metabolik akibat gangguan hormonal yang dapat menyebabkan

kurangnnya produksi hormon insulin atau penurunan sensitivitas jaringan

terhadap insulin. Penyakit ini dapat menumbulkan komplikasi kronik pada

mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian

ekstrak etanol akar nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) terhadap efek

hipoglikemia yang diberikan pada tikus putih (Rattus novergicus). Variasi


41

konsentrasi ekstrak etanol akar nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.)

yang digunakan adalah 100 mg/kg BB, 200 mg/kg BB, dan 300 mg/kg BB.

Streptozotosin 65 mg/kg BB dengan kombinasi nikotinamid 230 mg/kg BB

digunakan sebagai penginduksi diabetes melitus dan sebagai kontrol positif

digunakan glibenklamid dengan dosis 5 mg/kg BB.

Hewan yang digunakan pada penelitian ini adalah tikus putih (Rattus

novergicus) berkelamin jantan, dalam kondisi sehat, dan berat badannya

antara 200-250 gram. Tikus betina tidak digunakan karena memiliki sistem

hormonalnya yang tidak stabil dibandingkan dengan tikus jantan. Walaupun

demikian faktor variasi biologis dari hewan uji tidak dapat dihilangkan

sehingga dapat mempengaruhi hasil penelitian. Sebelum perlakuan, tikus

terlebih dahulu dipuasakan selama 10-16 jam untuk menghindari pengaruh

makanan pada saat dilakukan pengukuran kadar glukosa darah dan untuk

meningkatkan kecepatan absorpsi obat dan memudahkan pemerian sedian

secara oral.

Kondisi hiperglikemia pada hewan coba dicapai melaui

penginduksian dengan streptozotosin. Alasan penggunaan streptozotosin

sebagai penginduksi hiperglikemia dikarenakan streptozotosin dapat

mengganggu oksidasi glukosa, menurunkan sensitifitas insulin dan sekresi

insulin, dan menggangu transportasi glukosa dan aktifitas glukokinase pada

sel- pankreas. Umumnya induksi streptozotosin tunggal pada hewan coba

akan menghasilkan diabetes melitus tipe-1 (10,34). Penggunaan

streptozotosin sangat toksik terhadap sel- pankreas sehingga dapat


42

menyebabkan kematian sel-. Oleh karena itu penggunaan streptozotosin

65 mg/kg BB dikombinasikan dengan nikotinamid 230 mg/kg BB merupakan

langkah dalam mencegah kerusakan sel- secara permanen. Nikotinamid

merupakan agen antioksidan dalam mengurangi efek sitotoksik

streptozotosin sebab dapat meningkatkan regenerasi pertumbuhan sel-

dan menghambat apoptosis. Selain itu nikotinamid dapat bertindak sebagai

akseptor gugus metil yang mengurangi metilasi DNA sel- pankreas.

Sehingga diperoleh model diabetes melitus tipe-2 agar bisa dilakukan pada

pengujian selanjutnya. Pemberian streptozotosin-nikotinamid dilakukan

secara intraperitonial (10).

Hasil penelitian pada semua kelompok perlakuan sebelum dan

setelah induksi streptozotosin-nikotinamid menunjukkan persen

peningkatan kadar glukosa darah sebesar 131.04% Hal ini dibuktikan dari

analisis statistik dengan two way anova terhadap kadar glukosa darah

sebelum dan setelah induksi streptozotosin-nikotinamid menunjukkan

perbedaan yang signifikan (= 0,000 < 0,05) sehingga dapat dikatakan

bahwa metode penginduksian yang digunakan bisa menyebabkan diabetes

melitus. Kadar glukosa darah antar kelompok setelah pemberian

streptozotosin-nikotinamid berbeda tidak signifikan (= 0,627 > 0,05), hal

ini berarti kelompok perlakuan sudah homogen sebelum pemberian

ekstrak.

Kontrol positif dengan pemberian glibenklamid 5 mg/kg BB sebagai

terapi pengobatan diabetes melitus memberikan hasil yang baik dimana


43

terjadi penurunan kadar glukosa darah selama tiga minggu pada tikus yang

diinduksi streptozotosin-nikotinamid yaitu persen (%) penurunan pada hari

ke-7, ke-14, ke-21 masing-masing sebesar 42,16%, 40,67%, dan 50,29%.

Glibenklamid merupakan antidiabetik oral golongan sulfonilurea yang

memiliki daya kerja yang lebih kuat dibandingkan dengan obat antidiabetik

oral lainnya. Mekanisme kerja dari glibenklamid ialah menurunkan glukosa

darah dengan cara menstimulasi sekresi insulin pada sel- pankreas pada

pulau Langerhans kemudian menstimulasi pengubahan glukosa darah

menjadi glikogen (28).

Pemberian ekstrak sangat dipengaruhi oleh dosis. Hasil penelitian

pada ekstrak 100 mg/kg BB yang diberikan kepada tikus belum dapat

mencegah kerusakan sel -pankreas yang diakibatkan oleh streptozotosin.

Hal ini terbukti dari adanya salah satu hewan coba yang mengalami

kematian pada minggu pertama, sedangkan kedua hewan coba lainnya

memiliki kadar glukosa plasma yang masih sangat tinggi (300 mg/dL) dan

kadar glukosa darah tetap tinggi selama pemberian ekstrak.

Efek antihiperglikemik baru terlihat ketika pemberian ekstrak pada

dosis 200 mg/kg BB. Hal ini dibuktikan dengan adanya penurunan glukosa

darah setelah pemberian ekstrak selama satu minggu yaitu 28,79%.

Penurunan glukosa darah terus terjadi selama dua minggu berikutnya

masing-masing sebesar 42,67% dan 48,64% dan pada minggu ketiga

glukosa darah kembali normal. Konsentrasi ekstrak yang lebih besar

dengan pemberian ekstrak 300 mg/kg BB memiliki efek antihiperglikemik


44

yang lebih baik. Sayangnya, terjadi penyimpangan data pada salah satu

hewan uji yang tetap mengalami kondisi hiperglikemik (diabetes melitus)

setelah perlakuan ekstrak. Namun dengan melihat trend data yang ada

pada kedua hewan uji lainnya masih dapat disimpulkan bahwa pemberian

ekstrak dengan dosis yang lebih besar dapat memberikan efek

antihiperglikemik jauh lebih baik. Hal ini sejalan dengan penelitian

sebelumnya yang dilakukan oleh Priya (2012) yang menggunakan salah

satu bagian dari tanaman nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) yaitu

batang yang menunjukkan bahwa ekstrak batang nangka dengan dosis 200

mg/kg BB dan 400 mg/kg BB memiliki aktivitas antidiabetes pada tikus yang

diinduksi streptozotosin sebesar 19,2% dan 27,5% (9).


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan

bahwa ekstrak etanol akar nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.)

dengan dosis 100 mg/kg BB belum dapat menurunkan kadar glukosa darah

pada tikus hiperglikemik yang diakibatkan oleh induksi streptozotosin-

nikotinamid. Sedangkan ekstrak dengan dosis 200 mg/kg BB dan 300

mg/kg BB memiliki aktivitas sebagai antihiperglikemia dalam menurunkan

kadar glukosa darah.

V.2 Saran

Diperlukan penelitian lebih lanjut dalam pengujian immunohistokimia

untuk melihat mekanisme kerja dari ekstrak akar nangka (Artocarpus

heterophyllus Lamk.) dalam menanggulangi kerusakan dari sel- pankreas.

45
DAFTAR PUSTAKA

1. American Diabetes Association, 2011, Diagnosis and classification


of diabetes mellitus, Diabetes Care, 34: 62-69.

2. Mary M.J., Richard H.A., Pamela C.C., 2001, Farmakologi ulasan


bergambar edisi 2. Widya Medika, Jakarta, hal 259.

3. Ullah A., Khan A., Khan I., 2016, Diabetes mellitus and oxidative
stressA concise review, Saudi Pharmaceutical Journal; 24, 547
553.

4. Arisman, 2010, Obesitas, diabetes mellitus, & dislipidemia:


konsep, teori, dan penanganan aplikatif, Penerbit buku
kedokteran, Jakarta, hal 44-97.

5. Chandramohan G.S., Ignacimuthu K.V., Pugalendi. 2008. A novel


compound from Cascaria esculenta (Roxb) root and its effect on
carbohydrate metabolism in streptozotocin diabetic rats. European
J. Pharmacol 590 (1-3) : 437-443.

6. Jagtap U.B., Bapat V.A., 2010, Artocarpus: A review of its


traditional use, phytochemistry and pharmacology, J.
Ethnopharmacology 129: 142-166.

7. Hari A.K.G., Revikumar D.D., 2014, Artocarpus: A review of its


phytochemistry and pharmacology, J. Pharm. Search (1):7.

8. Biworo A., Tanjung E., Iskandar, Khairina, Suhartono, E., 2015,


Antidiabetic and antioxidant activity of jackfruit (Artocarpus
heterophyllus) extract, J. med and bioengineer; 4(4): 318-323.

9. Priya E.M., Gothandam K.M., Karthikeyan S., 2012, Antidiabetic


activity of Feronia limonia and Artocarpus heterophyllus in
streptozotocin induced diabetic rats, American journal of foot
technology 7(1): 43-49.

10. Szkudelski T., 2012, Streptozotocin-nicotinamide-induced diabetes


in the rat. Characteristics of the experimental model, J. society for
expermental biology and medicine; 237: 481-490.

11. Sidhu A.S., 2012, Jackfruit improvement in the Asia-Pacific region.


A status report, Bangkok-Thailand: APAARI (Asia-Pacific
Association of Agricultural Research Institutions), pp:13-15.

46
47

12. Rukmana R., 1997, Budi Daya Nangka, Yogyakarta: Kanisius, hal.
17-20.

13. Heyne, K., 1987, Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid II, Badan
Litbang Kehutanan, Jakarta, hal .111-114.

14. Johnny H.R., 1993, Inventaris Tanaman Obat Indonesia, Jilid II,
Jakarta, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
DepKes RI, hal. 59-60.

15. Candrika, 2006, Hypoglycaemic Action Of The Flavanoid Fraction


of Artocarpus heterophyllus Leaf, Afr. J. Trad. CAM, 3 (2): 42-50.

16. Ersam T., 2001, Senyawa Kimia Makromolekul beberapa


Tumbuhan Artocarpus Hutan Tropika Sumatera Barat, Disertasi
ITB, Bandung, hal. 106-112.

17. Corwin E., 2001, Buku Saku Patofisiologi, Jakarta: EGC, hal. 624-
630.

18. Price S.A., Lorraine Mc., Carty W., 2006, Patofisiologi: Konsep
Klinis Proses-proses Penyakit, Edisi 6, (terjemahan), Peter
Anugrah, EGC, Jakarta, hal. 1260-1261.

19. Waspadji S., 2006, Komplikasi Kronik Diabetes: Mekanisme


Terjadinya, Diagnosis, dan Strategi Pengelolaan. Dalam: Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi IV. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, hal. 1886-1888.

20. Arief M., 2004. Diabetes Melitus. Kapita Selekta Kedokteran, edisi
3, jilid I, Media Aesculapius FK UI, pp:580-588.

21. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, 2006, Konsensus


Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus tipe 2 di
Indonesia. Jakarta: PD PERKENI.

22. American Diabetes Association, 2010. Diagnosis and


Classification of Diabetes Mellitus. Diabetes Care Vol.33: 562-569.

23. Brunner and Suddarth. 2002. Patofisiologi Diabetes Melitus.


Dalam: Cyber Nurse. 2009. Konsep Diabetes Melitus.

24. Smeltzer C., Suzanne, Bare B.G., 2002. Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah. Alih Bahasa: dr. H. Y. Kuncara. Jakarta: EGC,
hal. 1220-1224.
48

25. Arora A., 2008, 5 langkah mencegah dan mengobati diabetes,


Penerbit PT Bhuana ilmu populer kelompok gramedia. Jakarta,
hal. 35-38.

26. Gustaviani R., 2006, Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes melitus


dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid III. Edisi keempat.
Balai Penerbit FK UI. Jakarta.

27. Luzi L., Pozza G., 1997, Glibenclamide: an old drug with a novel
mechanism of action, J of Acta Diabetologica, 34, 239-244.

28. Pfeifer M.A., Halter J.B., Graf R., Porte D.Jr., 1980, Potentiation Of
Insulin Secretion to Non-Glucose Stimuli in Normal Man by
Tolbutamide, Journal of Diabetes, 29, 335340.

29. Groop L., Luzi L., Melander A., Groop P. H., Ratheiser K.,
Simonson D.C., DeFronzo R.A., 1987, Different Effects of
Glyburide and Glipizideon Insulin Secretion and Hepatic Glucose
Production in Normal and NIDDM Subjects, Journal of Diabetes,
36, 1320-1328.

30. Eliasson L., Renstrom E., Ammala C., Berggren P.O., Bertorello
A.M., Bokvist K.,Chibalin A., Deeney J.T., Flatt P.R., Gabel J.,
Gromada J., Larsson O., Lindstrom P., Rhodes C. J., Rorsman P.,
1996, PKC-dependent stimulation of exocytosis by sulfonylureas
inpancreatic -cells, Science, 271, 813815.

31. Katzung B.G., 2006, Basic and Clinical Pharmacology, 10th Ed.,
McGraw-Hill, New York, hal 694-700.

32. Soegondo S., 2004, Prinsip Pengobatan Diabetes, Insulin dan


Obat Hipoglikemik Oral. Dalam: Penatalaksanaan Diabetes
Melitus Terpadu, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta.

33. Jayasimba B.G., Dwarakanath C.V., Swamy B.K., 2015,


Streptozotocin a diabetogenic agent in animal models, Ijppr.
Human; vol. 3(1): 253-268.

34. Ghasemi A., Khalifi S., Jedi S., 2014, Streptozotocin-nicotinamide-


induced rat model of type 2 diabetes, Acta physiological hungarica,
vol. 101(4): 408-420.
49

35. Badan POM RI, 2010, Acuan Sediaan Herbal, Vol. 5, Edisi I,
Direktorat ObatAsli Indonesia, Badan Pengawas Obat dan
Makanan Republik Indonesia,Jakarta, hal 30-31.
Lampiran 1. Skema Kerja Ekstraksi Akar Nangka

Akar nangka
(Artocarpus heterophyllus Lamk.)

- Sampel dicuci
- Disortasi
basah
- Dirajang
- dikeringkan

Serbuk akar nangka


(Artocarpus heterophyllus Lamk.)

Dimaserasi menggunakan etanol


70%

Ekstrak kental akar nangka


(Artocarpus heterophyllus Lamk.)

49
50

Lampiran 2. Skema Kerja Uji Aktivitas Antidiabetes

Tikus Putih
- Diadaptasikan selama 2 minggu
- Dipuasakan 10-16 jam, minum diberikan

Pemeriksaan Glukosa Darah Puasa (GDP)


menggunakan humalyzer

Induksi
Hiperglikemik

(i.p) - Nikotinamide 230 mg/kg BB


- 15 menit kemudian induksi streptozotosin 65 mg/kg BB

Setelah 72 jam, diukur kadar glukosa darah


mengunakan humalyzer

- Tikus dikelompokkan

Kontrol Negatif Kontrol Positif Ekstrak


(Induksi nikotinamid 230 + Glibenklamid 5 mg/kg + Ekstrak akar nangka
mg/kg BB dan Streptozotosin BB (Artocarpus hetecophyllus
65 mg/kg BB) Lamk.) 100, 200, 300 mg/kg BB

Analisis kada glukosa darah dengan humalyzer dilakukan


setelah 7 hari perlakuan selama 21 hari

Analisis Statistik

Pembahasan

Kesimpulan
51

Lampiran 3. Perhitungan

1. Persen Rendamen Ekstrak


% Rendamen = 100 %


= 100 %

= 5,4 %

2. Dosis dan Konsentrasi Perlakuan

A. Ekstrak Akar Nangka

- Dosis oral ekstrak akar nangka = 100 mg/ 70kg BB (20 mg/200 g BB)

- Penyiapan suspensi ekstrak akar nangka

- Volume pemberian tikus putih = 2 ml

- Konversi suspensi ekstrak = 20 mg/2 ml

- Sediaan stok = 25 ml

20mg 25mL
- Jumlah ekstrak yang ditimbang = = 250 mg
2mL

- Untuk ekstrak 200 mg/kg BB (40 mg/200 g BB)

40mg 25mL
Jumlah ekstrak yang ditimbang = = 500 mg
2mL

- Untuk ekstrak 300 mg/kg BB (40 mg/200 g BB)

60mg 25mL
Jumlah ekstrak yang ditimbang = = 750 mg
2mL

B. Streptozotocin

- Dosis yang digunakan = 65 mg/Kg BB (banyak tikus = 15)

- Volume pemberian tikus putih = 1 ml/200 g BB

- Konversi suspensi streptozotocin = 13 mg/1 ml/200 g BB


52

- Untuk 15 tikus = 13mg x 15 ml

= 195 mg/15 ml/200 g BB

- Sediaan stok = 25 ml

25mg 195mL
- Jumlah streptozotocin yang ditimbang = = 325 mg
15mL

BB
- Untuk tikus > 200 g BB = x 1 ml
200 g

C. Nicotinamid

- Dosis yang digunakan = 230 mg/Kg BB (banyak tikus = 15)

- Volume pemberian tikus putih = 2 ml/200 g BB

- Konversi suspensi streptozotocin = 46 mg/2 ml/200 g BB

- Untuk 15 tikus = 46 mg x 15 ml

= 690 mg/30ml/200 g BB

- Sediaan stok = 10 ml

10ml 690 mL
- Jumlah nicotinamid yang ditimbang = = 230 mg
30mL

BB
- Untuk tikus > 200 g BB = x 2 ml
200 g

D. Glibenklamid

- Konversi dosis Glibenklamid tikus dan manusia

- Dosis lazim untuk manusia = 5 mg

- Faktor konversi untuk tikus dengan bobot 200 g = 0,018

- Dosis konversi untuk tikus 200 g = 0,018 x 5 mg = 0,09 mg/200 g BB

tikus

- Penyiapan sediaan glibenklamid

- Volume pemberian maksimal oral untuk tikus 250 g = 5 ml


53

250 g
- Dosis untuk tikus 250 g = x 0,09 mg = 0,1125 mg
200 g

- Konversi sediaan Glibenklamid = 0,1125 mg/ml

- Sediaan stok dibuat sebanyak = 25 ml

- Jumlah glibenklamid yang dibuat = 0,01125 mg x 25 ml = 2,81 mg

- Perhitungan Glibenklamid yang setara dengan 2,81 mg

- Tablet Glibenklamid yang tersedia = tablet @ 5 mg

- Berat rata-rata = 203 mg

2,81mg
- Berat tablet yang ditimbang = x 203 mg
5mg

= 114,1 mg

Dosis oral Glibenklamid 0,09 mg/200 g BB tikus dibuat dengan cara

menimbang serbuk tablet sebanyak 114,1 mg (setara dengan 2,81 mg

glibenklamid) kemudian disuspensikan dengan Na-CMC 1 % b/v hingga 25 ml.


54

Lampiran 4. Dokumentasi Penelitian

Gambar 5. Akar tanaman nangka (Artocarpus Gambar 6. Maserasi akar nangka (Artocarpus
heterophyllus Lamk.) heterophyllus Lamk.)

Gambar 7. Perajangan akar nangka Gambar 8. Ekstrak etanol akar nangka


(Artocarpus heterophyllus Lamk.) (Artocarpus heterophyllus Lamk.)

Gambar 9. Penginduksian hiperglikemik Gambar 10. Pemerian ekstrak akar nangka


menggunakan streptozotosin- dalam pengujian hipoglikemik
nikotinamid
55

Gambar 11. Pemeriksaan hipoglikemik menggunakan humalyzer


56

Lampiran 5. Data Persen Penurunan Glukosa Darah

Glukosa Darah Setelah


Glukosa Glukosa % Penurunan Glukosa
Pemerian Ekstrak
Replikasi Darah Darah Darah
kelompok (mg/dL)
data Puasa Terinduksi
(mg/dL) (mg/dL) 14 21
H+7 H+14 H+21 7 Hari
Hari Hari
1.00 100.20 213.70 151.50 124.00 132.00 29.11 38.23 38.23
Kontrol 2.00 97.80 145.10 149.50 115.00 97.00 -3.03 20.74 33.15
negatif -
3.00 94.47 100.50 136.40 107.00 105.00 -6.47 -4.48
35.72
Rata-rata 97.49 153.10 145.80 115.33 111.33 -3.22 17.50 22.30
1.00 94.24 157.20 100.20 94.00 87.00 36.26 40.20 44.66
Kontrol
2.00 92.19 207.20 131.60 112.00 90.00 36.49 45.95 56.56
positif
3.00 98.66 145.00 67.07 93.00 73.00 53.74 35.86 49.66
Rata-rata 95.03 169.80 99.62 99.67 83.33 42.16 40.67 50.29
Ekstrak 1.00 94.45 383.90 123.30 367.00 293.00 67.88 4.40 23.68
Nangka
2.00 93.61 372.00 186.20 435.00 421.00 49.95 -16.94 -13.17
(100
mg/kg 3.00 94.23 182.40 mati mati mati TBUD TBUD TBUD
BB)
Rata-rata 94.10 312.77 154.75 401.00 357.00 TBUD TBUD TBUD
Ekstrak 1.00 93.55 166.00 130.00 114.00 105.20 21.69 31.33 36.63
Nangka
2.00 96.53 308.00 201.00 170.00 142.20 34.74 44.81 53.83
(200
mg/kg 3.00 97.40 237.00 166.00 114.00 105.50 29.96 51.90 55.49
BB)
Rata-rata 95.83 237.00 165.67 132.67 117.63 28.79 42.68 48.65
Ekstrak 1.00 92.81 143.50 130.60 118.00 68.00 8.99 17.77 52.61
Nangka 2.00 97.60 162.70 153.90 122.00 65.00 5.41 25.02 60.05
(300
mg/kg 3.00 92.18 379.50 358.00 325.20 311.00 5.67 14.31 18.05
BB)
Rata-rata 94.20 228.57 214.17 188.40 148.00 6.69 19.03 43.57

Keterangan:
TBUD = Tidak Bisa Untuk Dihitung
57

Lampiran 6. Analisis statistik

Tabel 6. Signifikansi antara kelompok hewan pada pemeriksaan glukosa darah puasa
dengan glukosa darah setelah induksi streptozotosin-nikotinamid

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable: Nilai Glukosa

Type III Sum of


Source df Mean Square F Sig.
Squares

Corrected Model 140256.485a 5 28051.297 6.509 .001

Intercept 746905.277 1 746905.277 173.306 .000

Kelompok tikus 23221.436 4 5805.359 1.347 .282

Waktu pemeriksaan 117035.050 1 117035.050 27.156 .000

Error 103433.997 24 4309.750

Total 990595.760 30

Corrected Total 243690.483 29

a. R Squared = .576 (Adjusted R Squared = .487)

Tabel 7. Signifikansi antara kelompok hewan yang setelah induksi streptozotosin-


nikotinamid

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable: Nilai Glukosa

Type III Sum of


Source df Mean Square F Sig.
Squares

Corrected Model 23221.436a 4 5805.359 .658 .627

Intercept 746905.277 1 746905.277 84.695 .000

Kelompok tikus 23221.436 4 5805.359 .658 .627

Error 220469.047 25 8818.762

Total 990595.760 30

Corrected Total 243690.483 29

Beri Nilai