Anda di halaman 1dari 15

PROPOSAL

PENGARUH PERSEPSI KEADILAN PAJAK TERHADAP PERILAKU


KEPATUHAN WAJIP PAJAK ORANG PRIBADI
(Studi Pada KPP Pratama Kendari )

DI SUSUN

OLEH

YETY NINGSY

BIC1 14 060

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2016
BAB I
PEDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Adanya Perubahan sistem perpajakan dari official assessment menjadi self
assessment memberikan dampak signifikan bagi sistem perpajakan di Indonesia.Self
assessment memberikan kepercayaan wajib pajak untuk mendaftar, menghitung,
membayar, dan melaporkan kewajiban perpajakannya sendiri, serta menuntut adanya
peran aktif dari masyarakat dalam pemenuhan kewajiban perpajakan. Kepatuhan
memenuhi kewajiban pajak secara sukarela merupakan tulang punggung dari self
assessment system.
Penerimaan pajak yang diterima jika tidak sesuai dengan jumlah seharusnya
yang diterima, akan menimbulkan adanya tax gap dalam sistem perpajakan yang
berjalan.Hal ini tercermin dari realisasi penerimaan pajak pada November 2015 yang
hanya mencapai Rp 876,975 triliun atau 67,76% dari target penerimaan pajak yang
ditetapkan sesuai APBN-P 2015 sebesar Rp 1.294,258 triliun.(www.pajak.go.id)
Menurut Jackson dan Milliron (Richardson, 2005), salah satu variabel
nonekonomi kunci dari perilaku kepatuhan pajak adalah dimensi keadilan pajak.
Menurut Vogel, Spicer, dan Becker (Richardson, 2005) pembayar pajak cenderung
untuk menghindari membayar pajak jika mereka menganggap sistem pajak tidak adil.
Hal tersebut menunjukkan pentingnya dimensi keadilan pajak sebagai variabel yang
mempengaruhi kepatuhan pembayar pajak.
Keadilan pajak tercermin dari kasus-kasus pajak yang adai. Mulai dari
penggelapan pajak yang dilakukan oleh pegawai pajak sendiri hingga kasus perusahaan
luar negeri yang tidak mau membayar pajak. Masih teringat mengenai kasus gayus
tambunan pada tahun 2010 yang merugikan Negara hingga Rp 300 Triliun, belum lagi
masalah Perusahaan Google yang sedang hangat karena sama sekali tidak mau
membayar Utang Pajak senilai Rp. 5 triliun setahun. Adanya kasus kasus pajak ini
membuat presepsi dan pola perilaku para wajib pajak berubah.
Menurut Gerbing (1988) yang mengukur keadilan pajak dilihat dari (1) keadilan
umum dan distribusi beban, (2) timbal balik pemerintah (3) Ketentuan-ketentuan
khusus, (4) Struktur tarif pajak, dan (5) kepentingan pribadi.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka peneliti ingin mengkaji
penelitian dengan judul: Pengaruh Persepsi Keadilan Pajak terhadap Kepatuhan
Pajak WP OP (Studi Pada KPP Pratama Kendari).

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
a. Bagaimana persepsi keadilan pajak pada kantor pelayanan pajak pratama
wilayah kota kendari ?
b. Bagaimana perilaku kepatuhan wajib pajak orang pribadi pada kantor
pelayanan pajak pratama wilayah kota kendari ?
c. Seberapa besar pengaruh persepsi keadilan pajak terhadap perilaku
kepatuhan wajib pajak orang pribadi pada kantor pelayanan pajak
pratama wilayah kota kendari ?

1.3 Tujuan Penelitian


a. untuk mengetahui persepsi keadilan pajak pada kantor pelayanan pajak
pratama wilayah kota kendari
b. untuk mengetahui perilaku kepatuhan wajib pajak orang pribadi pada kantor
pelayanan pajak pratama wilayah kota kendari
c. untuk mengetahui pengaruh persepsi keadilan pajak terhadap perilaku
kepatuhan wajib pajak orang pribadi pada kantor pelayanan pajak pratama
wilayah kota kendari

1.4 Manfaat Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah diatas, penelitian ini diharapkan dapat berguna
pada :
a. Kegunaan praktis
1. Bagi penulis
Penelitian ini diharapkan akan menambah wacana perpajakan terutama
dalam masalah kepatuhan wajib pajak orang pribadi.
2. Bagi KPP Pratama Kota Kendari
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sedikit masukan yang dapat
digunakan sebagai bahan referensi.
3. Bagi pihak lain
Dari hasil penelitian ini dapat menjadi penambahan informasi dan wawasan
yang berguna bagi yang membutuhkannya.
b. Kegunaan teoritis
Penulis sangat berharap hasil dari penelitian yang dilakukan dapat berguna bagi
dunia akuntansi khususnya dan disiplin ilmu lain pada umumnya, serta sebagai
sumbangan pemikiran yang diharapkan akan memperkaya ilmu pengetahuan dan
juga untuk menambah referensi yang akan dapat memberikan informasi bagi
kemungkinan adanya penelitian lebih lanjut.

1.5 Ruang Lingkup

Ruang lingkup dari penelitian ini mencakup keadilan pajak terhadap kepatuhan
wajib pajak objek pribadi
BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Pajak
2.1.1 Pengertian Pajak
Menurut Andriani dalam siti kurnia rahayu (2012:21) merumuskan :
Pajak adalah iuran Negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib
membayarnya menurut peraturan-peraturan dengan tidak mendapat prestasi kembali,
yang langsung dapat ditunjuk, dan kegunaannya adalah untuk membiayai pengeluaran-
pengeluaran umum berhubungan dengan tugas negara untuk menyelenggarakan
pemerintahan.
Menurut rochmad soemitro dalam siti kurnia rahayu (2012:22) merumuskan :
pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara (peralihan kekayaan dan sector partikullir
ke sector pemerintah) berdasarkan undang-undang (dapat dipaksakan) dengan tidak
mendapat jasa timbale (tegen prestasi), yang langsung dapat ditunjukan dan digunakan
untuk membiayai pengeluaran umum.
Suparmanto (2013) menjelaskan definisi pajak menurut Undang-Undang Nomor
16 tahun 2009 tentang perubahan keempat atas Undang-Undang Nomor 6 tahun 1983
tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan pada Pasal 1 ayat 1 berbunyi pajak
adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang
bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan
secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.

2.1.2 Fungsi Pajak


Fungsi pajak adalah kegunaan pokok, manfaat pokok pajak. Sebagai alat untuk
menentukan politik perekonomian, pajak memiliki kegunaan dan manfaat pokok dalam
meningkatkan kesejahteraan umum.
Menurut Mardiasmo (2006:10) pada umumya dikenal 2 macam fungsi pajak
yaitu :
1. Fungsi Budgetair, pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk
membiayai pengeluaran-pengeluarannya.
2. Fungsi Mengatur (regulerend), yaitu alat kebijakan pemerintah untuk
mencapai tujuan tertentu. Fungsi regulerend juga disebut fungsi
tambahan, karena fungsi regulerend hanya sebagai tambahan atas fungsi
utama pajak yaitu fungsi budgetair.

2.1.3 Asas Pemungutan Pajak


Dalam pemungutan pajak didasarkan pada asas-asas tertentu bagi fiskus
sehingga dengan asas ini Negara memberikan hak kepada dirinya sendiri. Untuk
memungut pajak dari penduduknya, yang pada hakekatnya memungut dengan paksa
(berdasarkan undang-undang) sebagian dar harta yang dimiliki penduduknya. Asas-asas
tersebut menurut nurmanto (2005:75) adalah :
1. Asas Domisili
Negara berhak mengenakan pajak atas seluruh penghasilan Wajib Pajak
yang bertempat tinggal di wilayahnya, baik penghasilan yang berasal dari
dalam maupun dari luar negeri. Asas ini berlaku untuk Wajib Pajak
dalam negeri.
2. Asas Sumber
Negara berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber di
wilayahnya tanpa memperhatikan tempat tinggal Wajib Pajak.
3. Asas Kebangsaan
Pengenaan pajak dihubungkan dengan kebangsaan suatu Negara.

2.1.4 Cara Pemungutan Pajak


Dalam hukum pajak menurut Prabowo (2004:5) dikenal tiga macam yang
memungut pajak atas suatu penghasilan atau kekayaan, yang dinamakan sistem nyata,
sistem fiktif, dan sistem campuran, dijelaskan sebagai berikut :
1. Stelsel Nyata/ril
Pengenaan pajak didasarkan pada objek (pengahasilan yang nyata), sehingga
pemungutannya baru dapat dilakukan pada akhir tahun pajak, yakni setelah
penghasilan yang sesungguhnya diketahui. Stelsel nyata mempunyai
kelebihan atai kebaikan dan kekurangan. Kebaikan stelsel ini adalah pajak
yang dikenakan lebih realistis. Sedangkan kelemahannya adalah pajak baru
dapat dikenakan pada akhir periode (setelah penghasilan riil diketahui)
2. Stelsel Anggapan
Pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan yang diatur oleh undang-
undang. Misalnya, penghasilan suatu tahhun dianggap sama dengan tahun
sebelumnya, sehingga pada awal tahun pajak sudah dapat ditetapkan
besarnya pajak yang terutang untuk tahun pajak berjalan. Kebaikan stelsel
ini adalah pajak dapat dibayar selama tahun berjalan, tanpa harus menunggu
pada akhir tahun. Sedangkan kelemahannya adalah pajak yang dibayar tidak
berdasarkan pada keadaan yang sesungguhnya.
3. Stelsel Campuran
Stelsel ini merupakan kombinasi antara stelsel nyata dan stelsel anggapan.
Pada awal tahun, besarnya pajak dihitung berdasarkan suatu anggapan,
kemudian pada akhir tahun besarnya pajak disesuaikan dengan keadaan yang
sebenarnya. Bila besarnya pajak menurut kenyataan lebih besar dari pada
pajak menurut anggapan, maka Wajib Pajak harus menambah. Sebaliknya,
jika lebih kecil kelebihannya dapat diminta kembali.

2.1.5 Persepsi Keadilan Pajak


Menurut Brutu dan Harto (2012:2) persepsi keadilan pajak adalah penilaian
seorang WP OP (Wajib Pajak Orang Pribadi) yang timbul dari kepentingan yang ada
dalam dirinya sendiri dan penilaian terhadap pemerintah terkait pengelolaan pajak.
Sedangkan Adam Smith dalam Mohammad Zain (2014: 25) Prinsip yang paling
utama dalam rangka pemungutan pajak adalah keadilan dalam perpajakan yang
dinyatakan dengan suatu pernyataan bahwa setiap warga negara hendaknya
berpartisipasi dalam pembiayaan pemerintah.

2.1.6 Kriteria Kepatuhan Wajib Pajak


Kewajiban dan hak perpajakan menurut Safri Nurmantu dalam Siti Kurnia
Rahayu (2006 : 112) dibagi ke dalam dua kepatuhan meliputi kepatuhan formal dan
kepatuhan material. Kepatuhan formal dan material ini lebih jelasnya diidentifikasi
kembali dalam Keputusan Menteri Keuangan No. 544/KMK.04/2000. Menurut
keputusan menteri keuangan No 544/KMK.04/2000. Yang dikutip dari siti kurnia
rahayu (2006:112) kepatuhan wajib pajak dapat diidentifikasi dari :
1. tepat waktu dalam menyampaikan SPT untuk semua jenis pajak dalam 2 tahun
terakhir
2. tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali telah
memperoleh izin untuk mengangsur atau menundapembayaran pajak
3. tidak pernah dijatuhi hukuman karena melakukan tindak pidana di bidang
perpajakan dalam jangka waktu 10 tahun terakhir
4. dalam 2 tahun terakhir menyelenggarakan pembukuan dan dalam hal terhadap
wajib pajak pernah dilakukan pemeriksaan, koreksi pada pemeriksaan yang
terakhir untuk masing-masing jenis pajak yang terutang paling banyak 5%
5. wajib pajak yang laporan keuangannya untuk 2 tahun terakhir diaudit oleh
akuntan publik dengan pendapat wajar tanpa pengecualian, atau pendapat
dengan pengecualian sepanjang tidak mempengaruhi laba rugi fiscal.

2.1.7 Pentingnya Kepatuhan Perpajakan


Masalah Kepatuhan Wajib Pajak adalah masalah penting di seluruh dunia, baik
di negara maju maupun negara berkembang. Karena jika Wajib Pajak tidak patuh maka
akan menimbulkan keinginan untuk melakukan tindakan penghindaran, pengelakan,
penyelundupan dan pelalaian pajakan
Menurut Forest dan sheffrin (Siti Kurnia Rahayu 2012:140) menjelaskan bahwa
sistem perpajakan yang simplying sangat penting kerena semakin kompleks sistem
pepajakan akan memberikan kengganan dan pemungutan pembayaran pajak sehingga
berpengaruh terhadap ketidakpatuhan Wajib Pajak. Kepatuhan Wajib Pajak menurut
Forest dan sheffrin (Siti Kurnia Rahayu 2012:140) dipengaruhi beberapa Faktor yaitu :
1. Kondisi sistem administrasi perpajakan suatu negara,
2. pelayanan pada Wajib Pajak,
3. penengah hukum perpajakan
4. Pemeriksaan pajak,dan
5. Tarif pajak

2.2 Kerangka Pikir


Setelah berkurangnya pendapatan minyak dan gas bumi, pajak menjadi sector
pendapatan Negara yang sangat penting. Mengingat pentingnya peranan pajak yang
merupakan salah satu penerimaan Negara dalam anggaran pendapatan dan belanja
Negara (APBN) dalam menunjang penyelenggaraan Negara menyebabkan pemerintah
mulai mengoptimalkan penerimaan yang berasal dari pajak. Penerimaan pajak
merupakan jumlah iuran yang dibayar oleh masyarakat dimana dipungut berdasarkan
undang-undang yang berlaku yang diterima oleh negara dalam suatu masa yang
nantinya digunakan oleh negara untuk membayar pengeluaran negara berupa
pemeliharaan berbagai fasilitas untuk digunakan oleh umum.
Dalam praktek pemungutan pajak di Indonesia, Wajib Pajak diberi
kepercayaan untuk melaksanakan suatu sistem dimana Wajib Pajak menghitung,
memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri pajak yang terutang, sehingga
melalui sistem ini administrasi perpajakan diharapkan dapat dilaksanakan dengan
lebih rapi, terkendali, sederhana, dan mudah untuk dipahami oleh anggota
masyarakat wajib pajak.
Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, Wajib Pajak menjadi
patuh secara sukarela pada saat mereka sadar bahwa institusi dalam hal ini DJP,
memperlakukan mereka dengan wajar dan adil. Lebih jauh lagi, Wajib Pajak yang
diakui sebagai Wajib Pajak patuh juga ingin mengetahui bagaimana aparat pajak
menghadapi para Wajib Pajak yang tidak patuh. Dengan cara ini, peraturan yang
responsif akan dapat mewujudkan kepercayaan dan keyakinan Wajib Pajak akan
ligitimasi sistem perpajakan kita. Dan dengan demikian akan timbulah kepatuhan pajak
Wajib Pajak yang sukarela pula. Untuk lebih jelasnya mengenai perbedaan dan
persamaan dengan penelitian terdahulu, maka dapat dilihat tabel 2.1 di bawah ini:

Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
No Nama Judul perbedaan persamaan
peneliti
1 Gunadi Fungsi 1. Tempat penelitian Objek pembahasannya
pemeriksaan 2. Tahun penelitian sama yaitu tentang
pajak terhadap 3. Subjek penelitian pemeriksaan pajak dan
peningkatan 4. Teknik kepatuhan wajib pajak
kepatuhan pajak pengumpulan
(tax compliance) data sekunder
2 Maria M. Pengaruh 1. Tempat penelitian Objek pembahasannya
ratna sari kepatuhan wajib 2. Tahun penelitian sama yaitu tentang
Ni nyoman pajak dan 3. Subjek penelitian kepatuhan wajib pajak
afrimayant pemeriksaan dan pemeriksaan pajak
i pajak terhadap secara badan periode
penerimaan pph 2004-2008
pasal 25/29 wajib
pajak badan pada
kpp pratama
kendari
3 Sukardi Kepatuhan wajib 1. Menggunakan 1. Meneliti tentang
(2003) pajak teknik statistic kepatuhan wajib
perseorangan yang berbeda pajak
dalam kaitannya yaitu non perseorangan
dengan self probability dalam kaitannya
assessment sampling dengan self
system (studi assessment
kasus wajib pajak system
di kota kendari) 2. Menggunakan
variable
independen dan
dependen yang
sama, yaitu
kepatuhan pajak
dan self
assessment
system
4 Ni Luh Meningkatkan 1. Menggunakan Meneliti tentang
Supadmi kepatuhan wajib teknik statistic meningkatkan kepatuhan
pajak melalui yang berbeda, wajib pajak menggunakan
kualitas yaitu regresi variable penelitian yang
pelayanan sederhana sama.
2. Menggunakan
variable
independen dan
dependen yang
berbeda, yaitu
kepatuhan wajib
pajak dan kualitas
pelayanan
5 Hikmat Pengaruh jumlah 1. Tempat penelitian Objek pembahasannya
wajib pajak 2. Tahun penelitian sama yaitu tentang
efektif pajak 3. Subjek penelitian 1. Jumlah wajib
penghasilan pasal pajak efektif
21 terhadap 2. Penerimaan pajak
penerinaan pajak penghasilan
penghasilan
(studi kasus pada
KPP pratama
kendari)

Berdasarkan kelima penelitian tersebut di atas yang membedakan dengan


penulis yaitu para peneliti sebelumnya menguji kepatuhan Wajib Pajak melalui
beberapa analisa risiko untuk mengetahui tingkat risikonya apakah akan berpengaruh
tinggi, cukup tinggi atau rendah terhadap ketidak patuhan Wajib Pajak, dan berbagai
strategi pemeriksaan pajak untuk mengukur tingkat kepatuhan Wajib Pajak, namun pada
penelitian-penelitian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa pentingnya mengukur
tingkat kepatuhan Wajib Pajak untuk dapat menjadi tolak ukur bagi kinerja DJP melalui
pemeriksaan pajak dan dapat menambah pendapatan negara.

Waluyo (2008:304) menjelaskan kontribusi pajak dalam mendanai pengeluaran


negara yang terus meningkat membutuhkan dukungan berupa kesadaran masyarakat
wajib pajak untuk memenuhi kewajibannya secara jujur dan bertanggung jawab.
Persepsi wajib pajak sangat penting untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak.

2.3 Hipotesis Penelitian


H1 : Persepsi keadilan pajak tentang keadilan umum dan distribusi beban
pajak berpengaruh positif terhadap perilaku kepatuhan pajak.
H2 : Persepsi keadilan pajak tentang timbal balik pemerintah berpengaruh
positif terhadap perilaku kepatuhan pajak.
H3 : Persepsi keadilan pajak tentang ketentuan-ketentuan khusus
berpengaruh positif terhadap perilaku kepatuhan pajak.
H4 : Persepsi keadilan pajak tentang struktur tarif pajak berpengaruh positif
terhadap perilaku kepatuhan pajak.
H5 : Persepsi keadilan pajak tentang kepentingan pribadi berpengaruh
positif terhadap perilaku kepatuhan pajak.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian

Objek dalam Penelitian ini adalah Wajib Pajak Orang Pribadi yang terdaftar di
KPP Pratama Kendari bertempat di Jalan Sao Sao No.188,Bende,Kendari,Sulawesi
Tenggara.

3.2 Jenis dan Sumber Data

3.2.1 Jenis Data

Jenis data dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua, yaitu :

1. Data Kualitatif dalam penelitian ini berupa uraian penjelasan dari variabel
penelitian dan objek yang diteliti.
2. Data Kuantitatif dalam penelitian ini adalah jawaban responden atas
pernyataan kuesioner yang diukur menggunakan skor dari skala Likert.

3.2.2 Sumber Data


Data dari penelitian ini berasal dari dua sumber, yaitu sebagai berikut :
1. Data Primer, yaitu jawaban wajib pajak orang pribadi yang terdaftar pada
KPP Pratama Kendari yang dikumpulkan melalui kuesioner.
2. Data Sekunder,yaitu data-data dokumen pada Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Kendari yakni profil dan sejarah Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Kendari

3.3 Metode Pengumpulan Data


1. Dokumentasi, yaitu data mengenai profil, struktur, visi dan misi KPP
Pratama Kendari.
2. Angket/Kuisioner, sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk
memperoleh informasi dari responden mengenai persepsi wajib pajak orang
pribadi mengenai keadilan pajak.

3.4 Populasi dan Sampel


3.4.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wajib pajak orang pribadi yang
terdaftar di KPP Pratama Kendari sebanyak 108.000 orang.
3.4.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan rumus slovin
sehingga menghasilkan 100 sampel. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik
convinience sampling, yaitu menyerahkan kuesioner tanpa pertimbangan tertentu,
kecuali responden adalah benar wajib pajak orang pribadi.

3.5 Metode Analisis


3.5.1 Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji Validitas dilakukan untuk memastikan bahwa masing-masing item dalam
instrument penelitian valid. Uji Reliabilitas digunakan untuk menguji konsistensi
kuisioner.

3.5.2 Uji Asumsi Klasik


3.5.2.1 Uji Multikolinearitas
Uji Mulkolinearitas bertujuan untuk menguji apakah di dalam model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas.
3.5.2.2 Uji Normalitas
Uji Normalitas data digunakan untuk menguji data variabel bebas (X) dan data
variabel terikat (Y) pada persamaan regresi yang dihasilkan.
3.5.2.3 Uji Heteroskedastisitas
Uji Heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah nilai dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan varians residual satu pengamatan yang lain (Ghozali,
2005:105).
3.5.3 Uji Hipotesis
Uji Hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji signifikan parameter
individual ( Uji T ) dan uji signifikan simultan ( Uji F ). Berdasar signifikansi, jika
signifikansi <0,05 maka H0 ditolak, ini berarti menyatakan bahwa semua variabel
independen atau bebas tidak mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap
variabel dependen atau terikat. Dan jika signifikansi > 0,05 maka H 0 diterima, ini berarti
menyatakan bahwa semua variabel independen atau bebas mempunyai pengaruh secara
bersama-sama terhadap variabel dependen atau terikat (Priyatno, 2012:137).

3.6 Definisi Operasional variabel


3.6.1 Variabel Independen
Persepsi keadilan pajak adalah penilaian seorang WP OP (Wajib Pajak Orang
Pribadi) yang timbul dari kepentingan yang ada dalam dirinya sendiri dan penilaian
terhadap pemerintah terkait pengelolaan pajak. Variabel ini sering disebut sebagai
variabel stimulus, prediktor, antecedent. Dalam bahasa Indonesia sering disebut variabel
bebas. variabel bebas adalah merupakan variable yang mempengaruhi atau yang
menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Dalam
penelitian ini variabel independennya adalah persepsi keadilan pajak.

3.6.2 Variabel Dependen


Kepatuhan Perpajakan merupakan Ketaatan, tunduk dan patuh serta
melaksanakan Ketentuan perpajakan. Variabel dependen sering disebut sebagai variabel
output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel
terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat,
karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini variabel dependennya adalah
perilaku kepatuhan wajib pajak.

Daftar Pustaka

Berutu, Dian Anggraeni. 2013. Persepsi Keadilan Pajak Terhadap Perilaku Kepatuhan
Wajib Pajak Orang Pribadi. Bandung : Universitas Diponegoro Direktorat
Jendral Pajak
Brandina, Renata Dian. 2015. Pengaruh Dimensi Keadilan Pajak Terhadap Tingkat
Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi. Malang : Universitas Brawijaya
Brotodihardjo, R. Santoso (2008). Pengantar Ilmu Hukum Pajak, Bandung : PT.
Refika Aditama.
Hartono, Jogiyanto. 2013. Metodologi Penelitian Bisnis. Edisi 6. Yogyakarta : BPFE
Hermawan, Agung. 2016. Pengaruh Persepsi Keadilan Pajak Terhadap Perilaku
Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (Studi Pada Kpp Pratama Bandung
Cibeunying).Bandung :Universitas Pasundan
Mardiasmo (2011). Perpajakan Edisi Revisi 2011, Yogyakarta : CV Andi Offset.
Menteri Keuangan Republik Indonesia, Peraturan Menteri Keuangan Republik
Indonesia PMK-162/PMK.011/2012 tentang Perubahan terbaru mengenai
tarif Pajak Penghasilan Tidak Kena Pajak.
Menteri Keuangan Republik Indonesia, Peraturan Menteri Keuangan Republik
Indonesia Nomor 192 tahun 2007 tentang Tatacara Penetapan Wajib Pajak
dengan Kriteria Tertentu Dalam Rangka Pengembalian Pendahuluan
Kelebihan Pembayaran Pajak
Menteri Keuangan Republik Indonesia, Peraturan Menteri Keuangan Republik
Indonesia Nomor 130 Tahun 2011 tentang Pemberian Fasilitas Pembebasan
atau Pengurangan Pajak Penghasilan Badan
Praja Astuti., Yani (2012). Pengaruh Persepsi Keadilan Pajak Terhadap Perilaku
Kepatuhan Wajib Pajak Badan di Indonesia. Skripsi Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia Program Studi Akuntansi
Samsurijal. ( Maret, 2016 ).Tidak Miliki NPWP Terancam Sanksi Pidana.
SultraKini.com.[online], Tersedia : http://www.sultrakini.com/berita/640.[ 22
Desember 2016 ]