Anda di halaman 1dari 86

LAPORAN KERJA PRAKTEK

PT. PUPUK SRIWIDJAJA PALEMBANG

PEMERIKSAAN NDT DENGAN METODE EDDY CURRENT


EXAMINATION PADA HEAT EXCHANGER 4A-1105-C
CO2 STRIPPER GAS REBOILER
PT. PUPUK SRIWIDJAJA

Dibuat Oleh :
DIKI YUNIKA
Email : dikiyuniks@gmail.com

JURUSAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2017
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. PUPUK SRIWIDJAJA PALEMBANG

PEMERIKSAAN NDT DENGAN METODE EDDY CURRENT


EXAMINATION PADA HEAT EXCHANGER 4A-1105-C
CO2 STRIPPER GAS REBOILER
PT. PUPUK SRIWIDJAJA

Oleh :
DIKI YUNIKA
03051281419089

JURUSAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2017
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. LatarBelakang

Dalam kehidupan sehari-hari banyak terlihat fenomena perpindahan panas


dari material atau fluida yang mempunyai temperatur lebih tinggi ke material atau
fluida yang mempunyai temperatur lebih rendah. Dalam dunia industri fenomena
perpindahan panas tersebut dimanfaatkan untuk keperluan proses dengan
menggunakan suatu alat yang biasa disebut sebagai penukar panas atau heat
exchanger. Heat exchanger merupakan alat yang digunakan sebagai media untuk
memindahkan panas dari fluida yang bertemperatur lebih tinggi menuju fluida
yang bertemperatur lebih rendah. Dalam aplikasinya alat ini digunakan untuk
menaikkan maupun menurunkan temperatur, dan juga mengubah fase fluida.
Salah satu tipe heat exchanger yang banyak digunakan di dunia industri adalah
shell and tube heat exchanger.
Alat penukar kalor sangat berpengaruh dalam industri terhadap keberhasilan
keseluruhan rangkaian proses, karena kegagalan operasi alat ini baik akibat
kegagalan mekanikal maupun opersional dapat menyebabkan berhentinya operasi
unit. Maka suatu alat penukar kalor ( Heat exchanger) dituntut untuk memiliki
kinerja yang baik agar dapat diperoleh hasil yang maksimal serta dapat
menunjang penuh terhadap suatu operasional unit. Salah satu karakteristik unjuk
kerja dari penukar panas ini adalah efektivitas penukar panas.
Pengujian NDT (Non destructive Testing) adalah pengujian yang sering
dilakukan untuk pengujian kualitas suatu produk. Kualitas produk merupakan
sesuatu yang penting karena nilai dan unjuk kerja produk yang diharapkan oleh
konsumen harus dipenuhi, suatu produk harus memenuhi persyaratan dan
ekonomis. NDT (Non destructive Testing) adalah salah satu metode yang dapat
menjamin kualitas suatu produk. Pengujian NDT (Non destructive Testing)
dimulai dari fabrikasi, instalasi, in service dan paska operasi. . Ada beberapa
metode NDT (Non destructive Testing) yang telah dikenal yaitu : Visual
Examination ,Magnetic Particle Examination , Liquid Penetrant Examination,
Eddy Current Examination, Radiographic Examination, Ultrasonic Examination
dan Acoustic Emission Examination, setiap pengujian NDT tersebut memiliki
keunggulan dan kelemahan masing-masing.
Dalam tulisan ini penulis akan membahas mengenai proses pengujian Heat
Exchanger dengan no item 4A-1105-C CO2 Stripper Gas Reboiler dengan
metode Eddy Current Examination dengan tujuan memberikan report apakah heat
exchanger tersebut masih layak untuk dipakai atau harus di retubing total sesuai
dengan standarnya.

1.2. Rumusan Masalah

Pokok bahasan yang di angkat di dalam tugas kerja praktik ini yaitu
menganalisa kerusakan (defect) pada tube-tube yang ada pada Heat Excanger 4A-
1105-C dengan menggunakan alat R/D Tech Multiscan MS5800.

1.3. Batasan Masalah

Untuk lebih memfokuskan proses kerja praktek maka pada analisa dan
pembahasan laporan ini, penulis membatasi masalah hanya pada hal yang
berkaitan dengan prosedur pengujian dan pemeriksaan Tube-tube Heat Excanger
4A-1105-C di AMMONIA P-4 dengan metode eddy current examination sesuai
dengan standar.

1.4. Tujuan Kerja Praktek

1.4.1. Tujuan Umum


1. Mengaplikasian ilmu pengetahuan yang didapatkan selama
perkuliahan di PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang.

2. Mengenal sejarah dan struktur organisasi di PT. Pupuk Sriwidjaja


Palembang.
3. Mengenal ruang lingkup pekerjaan di bidang inspeksi.

4. Memahami tahapan-tahapan dan proses yang harus dilalui dalam


pemeriksaan dan perbaikan unit didunia industri.

1.4.2. Tujuan Khusus

1. Memahami inspeksi eddy current dalam dunia industri besar.

2. Mendapatkan hasil analisa pengujian eddy current pada tube-tube Heat


Exchanger 4A-1105-C.

3. Mendapatkan hasil proses selanjutnya apakah Heat Exchanger tersebut


masih bisa di gunakan atau harus diganti.

4. Mampu menganalisa sinyal-sinyal yang timbul saat proses pembacaan


pada alat R/D Tech Multiscan MS5800,serta mampu membedakan
sinyal-sinyal tersebut apakah termasuk ke dalam kerusakan tube
(defect berupa hole,wall losses,corrosion,dll ) atau hanya sinyal yang
mengenai baffle plate .

1.5. Manfaat Kerja Praktek


1. Membantu memberikan perbekalan pengetahuan dan keterampilan
kepada setiap mahasiswa tentang kondisi yang terdapat di lapangan
secara nyata.
2. Membuka wawasan setiap mahasiswa dan mendapatkan pengetahuan
melalui praktek di lapangan.
3. Dapat mengetahui lebih mendalam mengenai dunia perinspeksian
khususnya eddy current examination pada tube heat exchanger.
4. Sebagai pengalaman mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja.
1.6. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kegiatan

Kerja Praktek di laksanakan selama 2 (dua) bulan, terhitung tanggal 01 Julii


2017 sampai dengan 01 September 2017. Dalam satu minggu terdiri dari 5 (lima)
hari kerja yaitu dimulai dari Senin sampai Jumat, mulai 07.30 16.30 WIB.
Waktu istirahat pukul 12.00 13.00 WIB (Senin-Kamis) dan pukul 11.00 13.30
WIB (Jumat).
BAB 2
TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

2.1. Sejarah dan Pekembangan PT. PUSRI


PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri) adalah perusahaan yang didirikan
sebagai pelopor produsen pupuk urea di Indonesia pada tanggal 24 Desember
1959 di Palembang Sumatera Selatan, dengan nama PT Pupuk Sriwidjaja
(Persero). Pusri memulai operasional usaha dengan tujuan utama untuk
melaksanakan dan menunjang kebijaksanaan dan program pemerintah di bidang
ekonomi dan pembangunan nasional, khususnya di industri pupuk dan kimia
lainnya. Sejarah panjang Pusri sebagai pelopor produsen pupuk nasional selama
lebih dari 50 tahun telah membuktikan kemampuan dan komitmen kami dalam
melaksanakan tugas penting yang diberikan oleh pemerintah.
Selain sebagai produsen pupuk nasional, Pusri juga mengemban tugas
dalam melaksanakan usaha perdagangan, pemberian jasa dan usaha lain yang
berkaitan dengan industri pupuk. Pusri bertanggung jawab dalam melaksanakan
distribusi dan pemasaran pupuk bersubsidi kepada petani sebagai bentuk
pelaksanaan Public Service Obligation (PSO) untuk mendukung program pangan
nasional dengan memprioritaskan produksi dan pendistribusian pupuk bagi petani
di seluruh wilayah Indonesia. Penjualan pupuk urea non subsidi sebagai
pemenuhan kebutuhan pupuk sektor perkebunan, industri maupun eksport
menjadi bagian kegiatan perusahaan yang lainnya diluar tanggung jawab
pelaksanaan Public Service Obligation (PSO).
Sebagai perusahaan yang bertanggung jawab atas kelangsungan industri
pupuk nasional, Pusri telah mengalami berbagai perubahan dalam manajemen dan
wewenang yang sangat berkaitan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah. Saat ini
Pusri secara resmi beroperasi dengan nama PT Pupuk Sriwidjaja Palembang
dengan tetap menggunakan brand dan merk dagang Pusri.
2.2. PROFIL PABRIK
Pembangunan fasilitas pabrik dari PUSRI I, II, III, IV, dan IB dilakukan
secara bertahap. Masing-masing pabrik dibangun dengan perencanaan matang
sesuai dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun yang dicanangkan oleh
Pemerintah Indonesia dan untuk memenuhi kebutuhan pupuk nasional yang terus
meningkat.

2.2.1. Pabrik IB

Gambar 2.1 Pabrik IB PT PUSRI Palembang


Sumber : PT Pupuk Sriwidjaja Palembang

Pabrik PUSRI IB merupakan pabrik yang dibangun sebagai pengganti


pabrik PUSRI I yang telah dinyatakan tidak efisien lagi. Tanggal 15 Januari 1990
merupakan Early Start Date untuk memulai kegiatan Process Engineering Design
Package. Tanggal 1 Mei 1990 merupakan effective date dari pelaksanaan
pembangunannya dan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal
22 Desember 1994. (Arsip PT.Pusri , 2013).
PUSRI IB adalah proyek pabrik baru dengan kapasitas produksi 446.000 ton
amonia per tahun dan 570.000 ton urea per tahun. Proyek ini menerapkan
teknologi proses pembuatan amonia dan urea hemat energi dengan efisiensi 30%
lebih hemat dari pabrik-pabrik PUSRI yang ada.
Ruang lingkup Pusri IB mencakup satu unit pabrik amonia berkapasitas
1.350 ton per hari atau 396.000 ton per tahun. Satu unit pabrik urea berkapasitas
1.725 ton per hari atau 570.000 ton per tahun dan satu unit utilitas, offsite dan
auxiliary. (Arsip PT.Pusri , 2013)

2.2.2. Pabrik II

Gambar 2.2 Pabrik II PT PUSRI Palembang


Sumber : PT Pupuk Sriwidjaja Palembang

PUSRI II adalah pabrik pupuk kedua yang dibangun oleh Pusri dan mulai
beroperasi pada tanggal 6 Agustus 1974. PUSRI II diresmikan oleh Presiden
Republik Indonesia pada tanggal 8 Agustus 1974 dengan kapasitas produksi
sebesar 380.000 metrik ton urea per tahun dan 218.000 metrik ton amonia per
tahun. (Arsip PT.Pusri , 2013)

2.2.3. Pabrik III

Gambar 2.3 Pabrik III PT PUSRI Palembang


Sumber : PT Pupuk Sriwidjaja Palembang
Proses perencanaan PUSRI III telah dimulai ketika pemerintah meresmikan
operasional PUSRI II sebagai langkah antisipasi meningkatnya kebutuhan pupuk.
Sebagai tindak lanjut dari keputusan pemerintah, tepat pada tanggal 21 Mei 1975
Menteri Perindustrian M Jusuf telah meresmikan Pemancangan Tiang Pertama
pembangunan Pabrik Pusri III.
Pabrik Pusri III memiliki kapasitas produksi 1.100 metrik ton amonia per
hari atau 330.000 setahun dan 1.725 metrik ton urea sehari atau 570.000 metrik
ton setahun. (Arsip PT.Pusri , 2013)

2.2.4. Pabrik IV

Gambar 2.4 Pabrik IV PT PUSRI Palembang


Sumber : PT Pupuk Sriwidjaja Palembang

Melalui Surat Keputusan No.17 tanggal 17 April 1975, Presiden Republik


Indonesia telah menugaskan kepada Menteri Perindustrian untuk segera
mengambil langkah-langkah persiapan guna melaksanakan pembangunan pabrik
Pusri IV. Pada tanggal 7 Agustus 1975 awal pembangunan PUSRI IV.
Pemancangan tiang pertama pembangunan pabrik PUSRI IV dilakukan di
Palembang oleh Menteri Perindustrian M Jusuf tanggal 25 Oktober 1975.
Pusri IV dibangun pada tahun 1977 dengan kapasitas produksi yang sama
dengan PUSRI III dengan kapasitas produksi 1.100 metrik tonamonia sehari, atau
330.000 metrik ton setahun dan 1.725 metrik ton urea sehari atau 570.000 metrik
ton setahun. (Arsip PT.Pusri , 2013)
2.3. VISI , MISI&MAKNA PERUSAHAAN
Pada tahun 2012, Pusri melakukan review terhadap Visi, Misi, Nilai, dan
Budaya Perusahaan. Proses review ini merupakan penyesuaian atas perubahan
posisi perusahaan sebagai anak perusahaan dari PT Pupuk Indonesia (Persero) dan
lingkup lingkungan bisnis perusahaan pasca spinoff.
Dasar pengesahan hasil analisa Visi, Misi, Tata Nilai dan Makna perusahaan
adalah Surat Keputusan Direksi No. SK/DIR/207/2012 tanggal 11 Juni 2012.
Visi
"Menjadi Perusahaan Pupuk Terkemuka Tingkat Regional"
Misi
"Memproduksi serta memasarkan pupuk dan produk agribisnis secara efisien,
berkualitas prima dan memuaskan pelanggan"
Makna Perusahaan
PUSRI untuk Kemandirian Pangan dan Kehidupan Yang Lebih Baik

2.4. MAKNALOGO DAN SEJARAH NAMA SRIWIDJAJA PADA


PERUSAHAAN

2.4.1. KERAJAAN MARITIM SRIWIDJAJA


Sejarah telah mencatat bahwa di abad ke-7 telah berdiri sebuah kerajaan
maritim yang sangat kuat yang bernama Sriwidjaja. Kerajaan ini memulai
kekuasaannya di Pulau Sumatera dan terus membentangkan kekuatannya dari
Sumatera ke Jawa, pesisir Kalimantan sampai Kamboja, Thailand Selatan,
Semenanjung Malaya, sebagian kawasan Indo China, dan telah melakukan
perdagangan luas dengan India dan daratan Cina. Nama dan pengaruh kerajaan ini
bahkan terdengar sampai ke penjuru dunia baik dalam kekuatan perdagangan,
agama, budaya, dan armadanya yang berjaya dan dapat menguasai kawasan
Samudera Hindia dan Pasifik.
Dalam Bahasa Sansekerta, Sri mempunyai arti bercahaya atau
gemilang, dan Widjaja berarti kemenangan atau kejayaan. Secara penuh,
nama Sriwidjaja mempunyai arti Kejayaan atau Kemenangan yang Gilang-
Gemilang. Kerajaan Bahari ini amat berkuasa dan berpengaruh dan dipimpin
oleh raja-raja keturunan dinasti Syailendra. Pusat perniagaan kerajaan ini dulu
dibangun di Bukit Siguntang yang berdiri di Muara Sungai Musi yang kini disebut
Palembang. Sebuah kebanggaan yang sekaligus menjadi tolak ukur bagi segenap
rakyat Indonesia, khususnya masyarakat Palembang untuk mewarisi kebesaran
sebuah sejarah.

2.4.2. NAMA PERUSAHAAN


Nama Sriwidjaja diabadikan di perusahaan ini untuk mengenang dan
mengangkat kembali masa kejayaan kerajaan maritim pertama di Indonesia yang
termahsyur di seluruh penjuru dunia. Sebuah penghormatan kepada leluhur yang
pernah membuktikan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar. Pendirian pabrik
pupuk dengan nama PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, adalah warisan yang
sekaligus menjadi visi bangsa Indonesia terhadap kekuatan, kesatuan, dan
ketahanan wawasan Nusantara. (Arsip PT.Pusri, 2013)

2.4.3. DETAIL ELEMEN VISUAL LOGO PERUSAHAAN

Gambar 2.5 Logo PT. Pupuk Sriwdjaja


Tabel 2.1. Penjelasan mengenai arti logo dari PT. Pupuk Sriwidjaja, sebagai
berikut:
Logo Makna
Lambang Pusri yang berbentuk huruf "U"
melambangkan singkatan "Urea". Lambang ini telah
terdaftar di Ditjen Haki Dep. Kehakiman & HAM No.
021391

Setangkai padi dengan jumlah butiran 24


melambangkan tanggal akte pendirian PT Pusri.

Butiran-butiran urea berwarna putih sejumlah 12,


melambangkan bulan Desember pendirian PT Pusri.

Setangkai kapas yang mekar dari kelopaknya. Butir


kapas yang mekar berjumlah 5 buah Kelopak yang
pecah berbentuk 9 retakan ini, melambangkan angka
59 sebagai tahun pendirian PT Pusri (1959).
Perahu Kajang, merupakan legenda rakyat dan ciri
khas kota Palembang yang terletak di tepian Sungai
Musi. Perahu Kajang juga diangkat sebagai merk
dagang PT Pupuk Sriwidjaja.

Kuncup teratai yang akan mekar, merupakan


imajinasi pencipta akan prospek perusahaan dimasa
datang.
Komposisi warna lambang kuning dan biru benhur
dengan dibatasi garis-garis hitam tipis (untuk lebih
menjelaskan gambar) yang melambangkan keagungan,
kebebasan cita-cita, serta kesuburan, ketenangan, dan
ketabahan dalam mengejar dan mewujudkan cita-cita
itu

(Arsip PT.Pusri, 2013)

2.5. MANAJEMEN STRUKTUR ORGANISASI


JAJARAN KOMISARIS :
Komisaris Utama : Achmad Tossin Sutawikara, SE, MM

Anggota : Najib Matjan


Spudnik Sujono Kamino
Hilman Taufik
Mustoha Iskandar

JAJARAN DIREKSI :
Direktur Utama : Mulyono Prawiro
Direktur Produksi : Ir. Filius Yuliandi
Direktur Komersil : Muhammad Romli HM
Direktur Teknik dan Pengembangan : Listyawan Adi Pratisto
Direktur SDM dan Umum : Bob Indiarto
Gambar 2.6 Bagan Struktur Organiasasi PT Pupuk Sriwidjaja
(Arsip PT.Pusri, 2013)
Gambar 2.7 Bagan Struktur Organisasi Departement Inspeksi Teknik
(Arsip PT Pusri, 2017)
BAB 3

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Non Destructive Test

Dalam pengujian logam ada beberapa metode diantaranya adalah metode


non destructive test. Non Destrtructive Testing (NDT) adalah aktivitas tes atau
inspeksi terhadap suatu benda untuk mengetahui adanya cacat, retak, atau
discontinuity lain tanpa merusak benda yang kita tes atau inspeksi. Pada dasarnya,
tes ini dilakukan untuk menjamin bahwa material yang kita gunakan masih aman
dan belum melewati Acceptance Criteria. Komponen suatu peralatan diusahakan
semaksimal mungkin tidak mengalami kegagalan (failure) selama masa
penggunaannya.NDT dilakukan paling tidak sebanyak dua kali. Pertama, selama
proses fabrikasi dan diakhir proses fabrikasi, untuk menentukan suatu komponen
dapat diterima setelah melalui tahap-tahap fabrikasi. NDT ini dijadikan sebagai
bagian dari kendali mutu komponen. Kedua, NDT dilakukan setelah komponen
digunakan dalam jangka waktu tertentu. Tujuannya adalah menemukan kegagalan
parsial sebelum melampaui damage tolerance-nya.
Untuk memastikan kualitas hasil pengelasan suatu instalasi atau
konstruksi memerlukan pemeriksaan pada tahap penyelesaian instalasi atau
konstruksi dan sebelum digunakan / beroperasi. Kondisi bahan dan sambungan
akan berubah selaras dengan jumlah penggunaan dan lamanya waktu pemakaian.
Untuk memastikan keamanan dan keselamatan penggunaan maka dibutuhkan
pemeriksaan secara berkala. Pengujian yang mudah, murah dan cepat untuk
keperluan ini menggunakan metode Uji Tanpa Rusak (Non Destructive Test).
Perkembangan teknologi NDT telah berkembang dengan pesat, sehingga jasa
layanan NDT pun harus mampu mengikuti perkembangannya.
Berdasarkan ASME V,Terdapat beberapa metode pengujian (NDT),yaitu :
1. Visual Examination 5. Eddy Current Examination
2. Liquid Penetrant Examination 6. Radiographic Examination
3. Magnetic Particle Examination 7. Acoustic Emission Examination
4. Ultrasonic Examination
40

3.1.1 Eddy Current Examination


Arus Eddy merupakan arus yang dihasilkan oleh induksi arus listrik bolak-
balik dalam sebuah material konduktor. Arus bolak-balik tersebut menghasilkan
medan magnetic bolak-balik. Arus induksi didalam material yang termodifikasi
akan menimbulkan perubahan nilai arus induksi saat melewati material yang diuji.
Pada saat arus melalui potongan kawat, medan magnet akan muncul di sekitar
kawat tersebut. Kekuatan dari medan magnet tersebut bergantung pada besarnya
arus yang dialirkan pada kawat.
Arus Eddy ini mengalir membentuk lingkaran yang terpusat dan tegak
lurus terhadap medan magnet yang dihasilkan oleh kumparan probe, arah
putarannya tergantung dari arah putaran kumparan probe. Diskontinuitas dapat
terdeteksi dengan posisi bersilangan terhadap arah arus Eddy pada material yang
diuji. Frekuensi bolak-balik arus Eddy ini bergantung pada frekuensi bolak-balik
yang dihasilkan oleh medan magnet pada kumparan probe.

Arus eddy merupakan arus listrik yang diinduksikan kedalam konduktor


dengan mengubah medan magnet konduktor tersebut. Sirkulasi pusaran arus ini
memiliki induktansi dan medan magnet. Medan ini dapat menyebabkan tolakan,
tarikan, dorongan, dan efek pemanasan.

Arus eddy terbentuk ketika terjadi perubahan letak konduktor dalam


sebuah medan magnet. Konduktor yang bergerak dalam sebuah medan magnet
yang tetap ataupun megan magnet yang berubah disekitar konduktor yang diam,
keduanya menyebabkan arus eddy terbentuk dalam konduktor tersebut. Arus eddy
menghasilkan losses resistif yang dapat mengubah beberapa bentuk energi, seperti
energi kinetik menjadi panas.

Arus Eddy berawal dari penemuan induksi elektromagnetik Michael


Faraday pada tahun 1831. Faraday adalah seorang ahli kimia di Inggris pada awal
1800an dan dikreditkan dengan penemuan induksi elektromagnetik, rotasi
elektromagnetik, efek magneto-optik, dimagnetisme, dan fenomena lainnya. .

1 Universitas Sriwijaya
Pada tahun 1879, ilmuwan lain bernama Hughes mencatat perubahan sifat sebuah
kumparan saat berkontak langsung dengan logam yang mempunyai konduktivitas
dan permeabilitas yang berbeda. Namun, tidak sampai Perang Dunia Kedua efek
ini dimanfaatkan secara praktis untuk uji material. Banyak sekali pekerjaan
dilakukan pada tahun 1950-an dan 60-an, terutama di industri pesawat terbang dan
nuklir. Saat ini pengujian arus Eddy banyak digunakan dan dipelajari dengan baik
oleh teknik inspeksi.

Eddy Current merupakan arus bolak-balik yang diinduksi kedalam bahan


induktif oleh medan magnetik bolak-balik. Beberapa modifikasi arus induksi
didalam material dapat dianalisa secara elektrik dan menunjukkan penyebab
kemungkinan modifikasi tersebut. Perubahan aliran arus Eddy Current dihasilkan
oleh adanya :
1. retak, lubang, rongga, porositas, inklusi, atau kerutan.
2. perubahan bentuk atau dimensi.
3. perubahan jarak antara probe dengan benda uji.
4. variasi komposisi dari benda uji.
5. perlakuan panas. Pengerjaan mekanik.
6. perubahan permeabilitas magnetic.
7. keadaan probe, seperti posisi ujung probe menempel pada permukaan
benda uji.

Arus eddy dihasilkan dalam setiap material konduksi elektrik dimana satu
medan magnetik yang bertukar-tukar (frekuensi mencakup dari 2KHz sampai
10MHz) sudah dihasilkan. Medan magnetik yang berubah-ubah ini dapat
dihasilkan di dalam benda kerja yang untuk diuji atas bantuan suatu kumparan
lingkaran yang diberi sumber listrik dengan suatu tegangan AC. Ketika arus bolak
balik diberlakukan bagi konduktor, seperti kawat tembaga, suatu medan magnetik
berkembang di dalam dan di sekitar konduktor. Medan magnetik ini memperluas
(terekspansi) ketika arus bolak balik naik ke maksimum dan turun (collapses)
ketika arus itu dikurangi menjadi kosong.

Universitas Sriwijaya
Arus induksi didalam material yang termodifikasi akan menimbulkan
perubahan nilai arus induksi yang melalui material tersebut. Perubahan arus
induksi dapat dapat dianalisa dan dapat menunjukkan kemungkinan modifikasi
dari material.Pada saat arus melalui potongan sebuah kawat, medan listrik akan
muncul disekitar kawat tersebut (gambar 3.6.). kekuatan dari medan magnet
tersebut bregantung pada besarnya arus yang dialirkan pada kawat. Jika kawat
membentuk kumparan, maka medan magnetic disekitar kumparan akan terlihat
seperti yang ditunjukkan pada gambar (3.7.) Apabila arah arus berubah, maka
yang mengalami perubahan dari medan magnetic adalah polaritasnya.

Gambar 3.1. Medan magnetic disekitar kawat konduktor


.

Gambar 3.2. Arah induksi magnetik


Gambar 3.3. Medan listrik di sekitar kumparan kawat

Universitas Sriwijaya
Prinsip Eddy Current didasarkan pada hokum Faraday yang menyatakan
bahwa pada saat sebuah konduktor dipotong garis-garis gaya dari medan magnetik
atau dengan kata lain, gaya elektromotif (EMF) akan terinduksi kedalam
konduktor. Besarnya EMF bergantung pada :

1. ukuran, kekuatan, dan kerapatan medan magnet.


2. kecepatan pada saat garis-garis gaya magnet dipotong.
3. kualitas konduktor.

Medan magnetic bolak-balik pada kumparan probe merupakan


perpindahan medan magnetik yang menghasilkan EMF pada konduktor. Medan
magnetik ini berbentuk lingkaran sehingga arus yang dihasilkan sebagai Eddy
Current juga berbentuk lingkaran. Kata Eddy menggambarkan bentuk lingkaran
dari arus induksi pada konduktor. Ukuran dari medan magnetik ditentukan oleh
ukuran dari kumparan probe, ferrite, dan pelindung kumparan. Sedangkan
kekuatan dari medan magnetik menyatakan jumlah lilitan dan arus dalam
kumparan probe. Proksimasi menyatakan jarak angkat terhadap benda uji (lift-off),
fill factor dan geometri dari desain kumparan probe. Kecepatan pada saat garis-
garis gaya adalah fungsi frekuensi, dan kualitas konduktor dinyatakan sebagai
konduktivitas, dan permeabilitas benda uji. Aliran Eddy Current dalam bentuk
jejak-jejak lingkaran dan medan magnetic ditunjukkan oleh gambar ( 3.9.)

(a)

Universitas Sriwijaya
(b)
Gambar ( 3.4 a & 3.4b ) Eddy current terinduksi dalam material konduktor

Eddy Current Examination adalah pengujian tanpa merusak yang


memanfaatkan arus Eddy yang mengalir pada material konduktor untuk
menemukan cacat pada material tersebut.
Teknik Eddy Current dapat dipakai untuk berbagai bentuk geometrik
antara lain kawat, pipa, batang, silinder, lembaran logam, dan bebtuk-bentuk
lainnya dari hasil pembentukan / permodelan seperti casting atau wrought stages
yang digunakan untuk :
1. Memantau teknik produksi
2. Mengetahui letak cacat sebelu dilakukan pengerjaan material
selanjutnya.
3. menguji kualitas akhir produk.
Teknik Eddy Current mampu mendeteksi diskontinuitas baik di
permukaan maupun dekat permukaan (sub surface) yang dikaitkan dengan
beberapa masalah produksi dan pengerjaan. Untuk NDT pesawat udara, teknik
Eddy Current terutama digunakan untuk:
1. mendeteksi retak pada permukaan.
2. mendeteksi retak pada sub-surface.
3. mendeteksi cacat korosi.

Universitas Sriwijaya
4. memperkirakan kerusakan oleh panas api.
Selain keempat kegunaan Eddy Current diatas, juga digunakan untu
mengukur tebal lapisan cat dan menguji konduktivitas pada aluminium.

3.1.1.1 Proses terbentuknya arus eddy

Untuk menghasilkan arus eddy yang


bertujuan inspeksi, digunakan "probe". Di
dalam probe, terdapat bahan konduktor
listrik panjang yang dibentuk menjadi
kumparan.

Gambar ( 3.5. ) Proses terbentuknya arus eddy bagian 1

Arus bolak-balik dialirkan di kumparan


pada frekuensi yang dipilih oleh teknisi
untuk jenis tes yang terlibat.
Frekuensi Tinggi : f>50kHz
Frekuensi Rendah : 50kHz>f>100kHz

Gambar ( 3.6.) Proses terbentuknya arus eddy bagian 2

Universitas Sriwijaya
Sebuah medan magnet terbentuk di dan
sekitar kumparan sebagai arus bolak-balik
yang mengalir melalui kumparan

Gambar ( 3.7. ) Proses terbentuknya arus eddy bagian 3

Ketika material konduktif ditempatkan di


pergeraklan medan magnet,Induksi
elektromagnetik akan terjadi dan Eddy
Current akan diinduksi pada material

Gambar ( 3.8.) Proses terbentuknya arus eddy bagian 4

Universitas Sriwijaya
Eddy current yang mengalir ke material
akan menghasilkan secondary medan
magnetnya sendiri yang berlawanan dengan
medan magnet primary kumparan

Seluruh proses induksi elektromagnetik ini


bertujuan menghasilkan Eddy Current yang
dapat terjadi dari beberapa ratus sampai
beberapa juta kali setiap detiknya,
tergantung pada frekuensi inspeksi

Gambar ( 3.9. ) Proses terbentuknya arus eddy bagian 4

Ketika terdapat cacat pada material, Eddy


Current akan terganggu, dan simpangan
arus ini yang kemudian dibaca oleh alat
ukur.

Gambar ( 3.10. ) Proses terbentuknya arus eddy bagian 5

Universitas Sriwijaya
3.1.1.2 Faktor Faktor yang Mempengaruhi Respon Arus Eddy

Beberapa faktor, diluar kecacatan, dapat mengakibatkan respon arus eddy.


Beberapa faktor utamanya, antara lain:

1. Konduktivitas Bahan

Konduktivitas sebuah bahan memiliki efek langsung pada aliran arus eddy.
Semakin baik konduktivitas bahan, maka akan semakin baik pula aliran arus
eddy pada permukaan bahan.

2. Permeabilitas
Permeabilitas dapat digambarkan sebagai seberapa mudah sebuah bahan
dapat dimagnetisasi.

3. Frekuensi
Respon arus eddy sangat dipengaruhi oleh frekuensi tes yang ditentukan,
untungnya hal ini merupakan sesuatu yang dapat kita kendalikan.

4. Geometri
Struktur geometri benda juga akan berefek pada respon arus eddy. Ketebalan
bahan yang lebih kecil daripada kedalaman penetrasi efektif juga berefek
pada respon arus eddy.

5. Kedekatan / Lift-off
Semakin dekat sebuah kumparan periksa pada permukaan, maka efek pada
kumparan tersebut akan semakin baik.

Universitas Sriwijaya
3.1.1.3 Skin Effect / Standard Depth of Penetration (SDP)

Skin Effect merupakan kecenderungan arus AC menjadi terdistribusi


kedalam sebuah konduktor sehingga kepadatan arus terbesarnya terdapat didekat
permukaan konduktor, dan berkurang sebanding dengan kedalaman konduktor.

Dalam perubahan medan yang sangat cepat, medan magnet tidak


sepenuhnya menembus bahan. Hal ini mengakibatkan terjadinya skin effect,
sehingga perhitungan tadi menjadi tidak valid. Tetapi, peningkatan frekuensi pada
medan yang tetap akan selalu menyebabkan peningkatan arus eddy.Kedalaman
tembus dapat dihitung dengan menggunakan rumusan:

Dimana,

= kedalaman penetrasi (m)

f = frekuensi (Hz)

= permeabilitas magnet bahan (H/m)

= konduktivitas listrik bahan (S/m)

Densitas arus eddy, dan kekuatan respon dari sebuah kecacatan, paling besar
terletak pada permukaan logam yang sedang diuji dan menurun sebanding dengan
kedalamannya. Secara matematis dapat didefinisikan sebagai kedalaman standar
penetrasi dimana arus eddy sebesar 37% dari nilai permukaan. Kedalaman
penetrasi dapat menurun ketika adanya peningkatan frekuensi, peningkatan
konduktivitas, dan peningkatan permeabilitas bahan. Kedalaman penetrasi
efektif biasanya didefnisikan sebesar tiga kali kedalaman standar, dimana
densitas arus eddy menurun sekitar 3% dari nilai permukaannya. Inilah kedalaman
yang dianggap tidak berpengaruh pada bidang arus eddy. Dari persamaan SDP,

Universitas Sriwijaya
seseorang dapat dengan mudah menafsirkan kedalaman penetrasi (delta)
berkurang dengan meningkatnya frekuensi, konduktivitas, permeabilitas (lihat
garis fluks di bawah). Dengan demikian, untuk mendeteksi cacat yang sangat
dangkal (retak, kekurangan) dalam material dan juga untuk mengukur ketebalan
lembaran tipis, frekuensi sangat tinggi harus digunakan (lihat garis fluks di
bawah). Demikian pula, untuk mendeteksi cacat sub-permukaan yang terkubur
dan untuk menguji bahan yang sangat konduktif / magnetik / tebal, frekuensi
rendah harus digunakan.

Gambar 3.11. Kontur fluxline isomagnetik teoritis

Universitas Sriwijaya
III.1.1.4 Instrumen / Instrumentasi untuk Pengujian Eddy Current

Instrumen Eddy Current pada dasarnya ditunjukkan oleh diagram pada


gambar ( 3.17 )

Gambar 3.12: Diagram blok instrument Eddy Current


1. Osilator menggunakan arus listrik antara 100 Hz dan 3 MHz atau lebih
besar, bergantung pada penggunaan.
2. Sirkuit jembatan (bridge circuit) bergantung pada karakteristik
kumparan.Hubungan antara voltase dan arus serta perbandingan amplitude
dipengaruhi oleh perubahab Eddy Current pada material yang berbatasan
dengan probe.Perubahan sinyal ini dilakukan untuk proses-proses
berikutnya.
3. Signal processing circuit menyaring, menguatkan, dan memisahkan sinyal
dari bridge circuit.
4. Tampilan sinyal (signal readout / display system) menunjukkan informasi
yang didapat oleh inspector. Untuk beberapa inspeksi tampilan tersebut
hanya cukup berupa amplitude atau fasa dari sinyal yang diproses. Dan
beberapa inspeksi tertentu system tampilan sinyal harus menunjukkan
amplitude dan fasa dari sinyal Eddy Current

Universitas Sriwijaya
3.1.1.5 Probe / Sensor untuk Pengujian Eddy Current

Pemilihan kumparan probe yang tepat penting dalam pengujian arus eddy,
karena instrumen penguji arus eddy yang efisien pun tidak dapat mencapai
banyak hal jika tidak mendapatkan informasi yang benar (yang
diinginkan) dari gulungan. Desain koil yang paling populer adalah:

1. Probe permukaan atau probe panekuk (dengan poros probe normal


ke permukaan), dipilih untuk pengujian pelat dan lubang baut baik
sebagai elemen penginderaan tunggal atau susunan - baik dalam
mode absolut maupun diferensial
2. Mengelilingi probe untuk pemeriksaan batang, batang dan tabung
dengan akses luar dan
3. Probe Bobbin untuk pemeriksaan pra-dan dalam-perawatan
penukar panas, genertor uap, tabung kondensor & lainnya dengan
akses bagian dalam. Penerima array bertahap juga memungkinkan
untuk deteksi dan ukuran yang disempurnakan.

Gambar 3.13.Jenis-jenis probe yang sering digunakan


Berikut merupakan penjelasan probe-probe yang digunakan pada eddy
current examination.:

Universitas Sriwijaya
Gambar 3.14. Surface coil Gambar 3.15. Encircling coil

Gambar 3.16. Encircling coil Gambar 3.17. Internal coil


Desain dan pengembangan probe arus eddy sangat penting karena
merupakan probe yang menentukan probabilitas deteksi dan reliabilitas
karakterisasi. Secara umum, cacat yang menyebabkan gangguan arus eddy
maksimum terdeteksi dengan sensitivitas tinggi. Bentuk, penampang, ukuran dan
konfigurasi koil bervariasi untuk merancang probe arus eddy untuk aplikasi
tertentu. Bergantung pada geometri komponen tiga jenis probe arus eddy yaitu.
Permukaan panekuk, probe pengepungan dan gelendong yang ditunjukkan pada
Gambar di atas Tiga jenis probe dapat dioperasikan secara absolut, diferensial
atau mode kirim-terima. Dalam mode absolut hanya satu koil yang digunakan
untuk mengubah dan merasakan arus eddy. Probe diferensial dengan dua
gulungan biasanya dililitkan dalam arah yang berlawanan, dan probe pengirim

Universitas Sriwijaya
menerima dengan kumparan penerima terpisah, menggunakan sirkuit jembatan
yang berbeda. Tipe absolut dan diferensial menunjukkan karakteristik yang
berbeda (Tabel.3.5) dan seleksi tergantung, terutama pada persyaratan inspeksi.
1. Probe Permukaan (Pancake)

Probe permukaan atau probe Pancake, probe atau probe jenis pensil
runcing, memungkinkan penentuan lokasi defek yang tepat. pengoperasian
mungkin dilakukan dengan tangan, dapat dipasang pada pemindai otomatis
atau mungkin diputar di sekitar untuk mendapatkan misalnya Pemindaian
heliks pada inspeksi tabung / batang. Probe permukaan memiliki sifat terarah
yaitu daerah dengan sensitivitas tinggi dan rendah (Tabel 2). Biasanya inti
ferit (silinder mutlak dan tipe diferensial) dan digunakan untuk meningkatkan
sensitivitas dan resolusi. Selain ferit, koil tembaga digunakan untuk tujuan
pelindung. Probe permukaan banyak digunakan dalam inspeksi pesawat
terbang untuk deteksi retak pada lubang pengikat dan untuk mendeteksi
korosi / pengelupasan kulit di lapisan tersembunyi. Bila komponen geometri
rumit, tidak jarang menggunakan pemandu probe, sepatu, mekanisme
keterpusatan untuk mempertahankan sensitivitas angkat dan deteksi seragam.
Probe permukaan dikembangkan untuk penggambaran EC, untuk pengukuran
kadar natrium cair dalam tangki baja dan juga untuk pengukuran ketebalan
lapisan
2. Probe keliling / melingkar

Probe yang melingkar digunakan untuk memeriksa batang, tabung dan


kabel. Dalam sebuah probe yang melingkar, koil berbentuk solenoida dimana
komponen ditempatkan. Dalam hal ini, seluruh permukaan melingkar luar
dari komponen yang ditutupi koil dipindai sekaligus, memberikan kecepatan
pemeriksaan yang tinggi. Probe ini tidak bisa mendeteksi kelainan melingkar
(Tabel 3.6) karena arus editan mengalir sejajar dengan mereka tanpa
mendapatkan Terdistorsi. Aplikasi industri dari probe melingkar yang populer
adalah inspeksi tabung kecepatan tinggi dari luar selama tahap pembuatan.

Universitas Sriwijaya
Probe mellingkar dikembangkan NDE dari tabung cladding berdinding tipis
dan tabung magnet generator berdinding tebal.

3. Bobbin probe

Probe ini adalah probe yang paling banyak digunakan pada inspeksi eddy
current. Probe Bobbin terdiri dari susunan koil dalam bentuk belitan di atas
gelendong, yang melewati komponen seperti tabung dan memindai seluruh
permukaan dalam satu kali. Aplikasi probe bobbin yang populer adalah
inspeksi multi-frekuensi berkecepatan tinggi dari tabung penukar panas di
tempat untuk mendeteksi retakan, penipisan dinding dan korosi pada tabung
serta di bawah daerah pelat pendukung. Sifat pengarah dari probe ini identik
dengan probe melingkar. Dalam beberapa kasus, probe tipe bobbin digunakan
untuk inspeksi lubang baut. Untuk pemeriksaan koomponen kritis, probe ini
mampu untk mendeteksi kerusakan yang berkaitan dengan deteksi dan lokasi
kerusakan melingkar dan pendek.
Tabel 3.1 Perbandingan probe arus eddy absolut dan diferensial

Tabel 3.2 Perbandingan probe permukaan dengan probe bobbin.


Surface Probe Bobbin Probe

Universitas Sriwijaya
Coil dipasang dengan sumbu tegak Kumparan sejajar dengan lingkar
lurus terhadap permukaan komponen komponen
Cacat permukaan terdeteksi dengan Dapat mendeteksi Cacat longitudinal
sensitivitas tinggi dibandingkan dengan atau transversal
cacat yang tetutup
Sensitivitas yang buruk untuk cacat Sensitivitas yang buruk untuk cacat
laminar melingkar
Sensitivitas menurun dengan Sensitivitas nol di tengah batang
kedalaman
Aplikasi populer meliputi inspeksi Aplikasi populer meliputi pengujian
pesawat terbang untuk retak lelah, tabung penukar panas, pemilahan
korosi dll dan pengukuran ketebalan material, pengukuran dimensi
lapisan
Parameter karakteristik, Pc digunakan Frekuensi karakteristik f / fg sangat
untuk desain sensor (scale modeling) populer untuk dinding Tipis-1, Dinding
tebal-4, Silinder-10
Pengujian bahan feromagnetik sulit di Medan jarak jauh, saturasi, metode
pinggir berbasis magnet permanen
dimungkinkan untuk tabung

Tabel 3.3. Tips dalam Pemilihan jenis Probe

Universitas Sriwijaya
3.1.1.6 Eddy Current Examination Procedure

Prosedur pengujian EC biasa melibatkan kalibrasi pertama. Cacat buatan


seperti pemotongan gergaji, lubang dasar datar, dan electro-discharge machining
(EDM) takik diproduksi dalam bahan dengan komposisi kimia dan geometri yang
serupa dengan komponen sebenarnya. Cacat alam yang ditandai dengan baik
seperti retak kelelahan akibat induksi servis dan retak korosi tegangan lebih
disukai, jika tersedia. Frekuensi uji, perolehan instrumen dan fungsi instrumen
lainnya dioptimalkan sehingga semua cacat buatan yang ditentukan terdeteksi,
misalnya dengan thresholding parameter sinyal EC yang sesuai seperti amplitudo
puncak ke puncak puncak dan sudut fasa. Dengan pengaturan instrumen yang
optimal, pengujian aktual dilakukan dan indikasi yang lebih besar dari tingkat
ambang dicatat rusak. Untuk kuantifikasi (karakterisasi) grafik kalibrasi induk,
mis. Antara parameter sinyal arus eddy dan ukuran cacat yang dihasilkan. Dalam
kasus tabung penukar panas ECT, grafik kalibrasi adalah antara kedalaman cacat
kalibrasi ASME (20%, 40%, 60%, 80% dan 100% dinding kehilangan lubang
rata-bawah) dan sudut fase sinyal. Untuk mendeteksi dan mengkarakterisasi cacat
pada pelat pendukung pengujian EC multi frekuensi, yang melibatkan
pencampuran sinyal dari frekuensi yang berbeda diikuti dan grafik kalibrasi yang
terpisah dihasilkan untuk menghitung kehilangan dinding.

Universitas Sriwijaya
Gambar 3.18. Perbandingan probe ketika di udara dan di tube

Kontur garis fluks magnetik dari probe arus eddy di udara, dalam tabung
Inconel dan di tabung yang dikelilingi oleh pelat pendukung baja karbon. Garis
fluks yang dikandung dibatasi oleh dinding tabung dan pelat pendukung.

3.1.1.7 Standar dalam Pengujian Eddy Current


Standar acuan digunakan untuk menyesuaikan deteksi sensitivitas alat
eddy current dari celah, konduktivitas, permeabilitas dan ketebalan bahan dll dan
juga untuk ukuran. Beberapa standar yang umum digunakan dalam pengujian arus
eddy adalah:
ASME, Section V, Article 8, Appendix ( 1 and 2 ), Electromagnetic (eddy
current) testing of heat exchanger tubes
BS 3889 (part 2A): 1986 (1991) Automatic eddy current testing of
wrought steel tubes
BS 3889 (part 213): 1966 (1987) Eddy current testing of non-ferrous
tubes

Universitas Sriwijaya
ASTM B 244 Method for measurement of thickness of anodic coatings of
aluminum and other nonconductive coatings on nonmagnetic base
materials with eddy current instruments
ASTM B 659 Recommended practice for measurement of thickness of
metallic coatings on nonmetallic substrates
ASTM E 215 Standardising equipment for electromagnetic testing of
seamless aluminium alloy tube
ASTM E 243 Electromagnetic (eddy current) testing of seamless copper
and copper alloy tubes
ASTM E 309 Eddy current examination of steel tubular products using
magnetic saturation
ASTM E 376 Measuring coating thickness by magnetic field oreddy
current (electromagnetic) test methods
ASTM E 426 Electromagnetic (eddy current) testing of seamless and
welded tubular products austenitic stainless steel and similar alloys
ASTM E 566 Electromagnetic (eddy current) sorting of ferrous metals
ASTM E 571 Electromagnetic (eddy current) examination of nickel and
nickel alloy tubular products
ASTM E 690 In-situ electromagnetic (eddy current) examination of non-
magnetic heat-exchanger tubes
ASTM E703 Electromagnetic (eddy current) sorting of non ferrous
metals
3.1.1.7 Kelebihan dan Kelemahan Pengujian Eddy Current

Beberapa kelebihan eddy current examination meliputi:


Sensitif terhadap crack kecil dan defect-defect lain.
Detects surface and near surface defects.
Memberikan hasil yang cepat.
Peralatannya sangat portable.
Dapat digunakan lebih dari sekedar untuk deteksi cacat.
Persiapan benda uji minimum.

Universitas Sriwijaya
Test probe tidak harus kontak dengan benda uji.
Dapat menginspeksi material konduktif yang bentuk dan
ukurannya kompleks.
Beberapa kelemahan eddy current examination meliputi:
Hanya bahan-bahan yang konduktif yang dapat diperiksa
Permukaan harus dapat diakses untuk pemeriksaan
Keterampilan dan pelatihan diperlukan lebih luas dibanding
teknik-teknik yang lain
Permukaan akhir dan kekasaran dapat mempersulit pemeriksaan
Buku rujukan diperlu untuk menyusun kerangka kerja
Kedalaman penetrasi dibatasi
Cacat-cacat seperti delaminasi yang paralel terhadap kumparan
kumparan pemeriksaan dan arah pemeriksaan scan tidak bisa
dideteksi

Universitas Sriwijaya
BAB 4
DESKRIPSI SISTEM

4.1. Pengertian Eddy Curent

Eddy Current merupakan salah satu metoda NDT (Non Destructive Testing) yang
aplikasinya banyak digunakan untuk pemeriksaan tubing seperti
:condenser,feedwater heater, heat exchanger, air conditioner yang terdapat pada
industry proses, power plant dan proses pendinginan. Disamping itu metoda eddy
current juga diaplikasikan untuk pemeriksaan surface dan subsurface diantaranya
banyak digunakan untuk pemeriksaan bagian-bagian pesawat terbang.
Eddy Current penggunaannya terbatas pada material non ferromagnetik saja ( Cu,
Cu-Ni, Al-Brass,duplex, Titanium, SS 304/316 dll). Untuk material ferromagnetic
( Carbon steel, duplex) digunakan metode lain seperti RFT, MFL dan IRIS
tergantung dari jenis material dan type dari tube yang akan diperiksa
Masing-masing aplikasi mempunyai kelebihan dan keunggulan yang tentunya
memerlukan pemahaman dan peralatan yang khusus sehingga diperlukan
pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk dapat melaksanakan pemeriksaan
eddy current dengan baik dan benar.
Disamping training yang sifatnya tersertifikasi dan terakreditasi, diperlukan
latihan yang terus menerus bagi setiap personel eddy current, baik secara sendiri
maupun secara team sehingga pemahaman teori dan praktek dapat ditingkatkan
sesuai dengan peralatan dan pengalaman yang ada (training yang tersertifikasi
misalnya ASNT tidak serta merta menghasilkan personel yang siap kerja
mengingat pelaksanaannya hanya 40 jam, sedangkan materi dan penguasaan
teknologi alat sangat komplek sehingga diperlukan latihan dan kemauan belajar
bagi inspektor).

4.2. Prinsip Kerja Eddy Current

Prinsip kerja eddy current merupakan proses induksi elektromagnetik.


Eksperimen awal tentang gejala magnet dan elektromagnetik dipelopori oleh

Universitas Sriwijaya
beberapa ilmuwan yaitu : Coulomb, Ampere, Faraday, Oersted, Maxwell, dan
Kelvin.
Dibawah ini disajikan beberapa ilustrasi mengenai beberapa eksperimen yang
berkaitan dengan induksi elektromagnetik :

Arah Ayunan

Magnet

Plat Konduktor
Gambar 4.1. Eksperimen Magnet Arago
B

Ip
e
A = konduktor (test coil)
B = konduktor (test obyek)
Ip = arus primer
Ie = arus sekunder / arus eddy
p = Medan Magnet Primer

p
p = Medan Magnet Sekunder
Ie
Gambar 4.2. Representasi Visual Parameter Elektromagnetik

Universitas Sriwijaya
Generator
Ip

Coil p
e
Ie
Gambar 4.3. Pembangkitan eddy current dalam test obyek

Ip

p
Ie
Gambar 4.4. Aliran Arus Induksi pada Material Selinder
Pembangkitan eddy current pada suatu material dipengaruhi oleh tiga faktor
utama yaitu :
a. Conductivity

b. Permeability
c. Dimensi

Universitas Sriwijaya
Ketiga faktor diatas merupakan pengaruh dari sifat yang dimiliki material yang
akan diperiksa Faktor tersebut akan berpengaruh terhadap pembangkitan arus
eddy pada material tersebut akibat adanya induksi elektromagnetik, artinya :
terjadinya perubahan terhadap salah satu atau lebih dari factor diatas akan
diidentifikasi sebagai perubahan sifat/kondisi material dari kondisi awal (ketidak
normalan atau cacat) dari material. Dan faktor-faktor diatas akan membatasi
penggunaan metoda eddy current pada material. Setiap material mempunyai nilai
conductivity dan permeability tertentu.
a. Conductivity dari suatu material dapat didefinisikan sebagai
kemampuandarimaterial tersebut untuk mengalirkan arus listrik. Dalam hal ini
material dapat dikelompokan dalam tiga kelompok yaitu : Konduktor, Semi
konduktor dan Isolator.
Untuk menstandard kan nilai conductivity suatu material oleh International
Electrochemical Commision satuan conductivity ditetapkan dalam satuan % IACS
(International Annealed Coper Standard). Dalam standard nya dinyatakan
bahwa material tembaga murni dengan panjang 1 m dan luas 1 mm2 pada suhu 200
C yang mempunyai resistensi sebesar 0.017241 ohm ditetapkan mempunyai nilai
conductivity sebesar 100%. Simbol dari conductivity adalah (sigma).
Untuk material lainnya penentuan nilai conductivity dipergunakan persamaan
sebagai berikut :
172.41
% IACS = = Resistivity (micro-ohm-cm) .. (1)

Faktor yang mempengaruhi nilai conductivity adalah :temperatur, perlakuan panas
(heat treatment), paduan (alloys), kekerasan (hardness), conductive coating, dan
tegangan sisa (residual stress).
b. Permeability merupakan kemampuan dari material untuk
dimagnetisasi atau secara eksperimen dapat dilihat sebagai kemudahan untuk
membentuk garis gaya atau kemudahan atom-atom untuk dapat bergabung. Nilai
permeability suatu material dirumuskan seperti dibawah ini dimana ditetapkan
udara mempunyai nilai permeability relatif sebesar 1.

Universitas Sriwijaya
= jumlah garis gaya yang diproduksi dengan material sebagai inti (2)
jumlah garis gaya yang diproduksi dengan udara sebagai inti

Dari penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa untuk material


nonferromagnetic ( Al (dan paduan), Al-Brass, Cu, Cu-Ni, Titanium, Inconel,
Stainless Steel (austenitic), SS 304,SS316) mempunyai nilai permeability lebih
kecil dari 1(satu), sedangkan material ferromagnetic (Carbon Steel,SS (feritic),
duplex, dll) mempunyai nilai permeability lebih besar dari 1 (satu). Sebagai
ilustrasi nilai permeability suatu material dapat dilihat pada kurva dibawah in

XL

Permeability
(Ferromagnetic material)

Air
Conductivity
(Non-Ferromagnetic material)
Z

100% IACS

Resistive component ( R )
Gambar 4.5. Kurva Permeability

c. Demensi merupakan salah satu factor yang mempengaruhi


pembangkitan eddycurrent. Faktor dimensi dapat berupa : ketebalan, perubahan
bentuk material dan cacat (discontinuity) material. Suatu material yang normal
(tidak ada cacat) mempunyai aliran arus eddy yang berbeda dengan material yang
terdapat cacatnya. Perbandingan perubahan inilah yang dipergunakan sebagai
bahan analisa dan diproses oleh alat untuk menentukan persentase ketidak
normalan suatu benda uji. Lebih lanjut akan dijelaskan dalam cara kerja peralatan

Universitas Sriwijaya
eddy current dan probe bobbin coil dalam mendeteksi cacat akibat adanya
perubahan geometri.

Dari peralatannya pembangkitan eddy current dipengaruhi oleh factor-factor :


medan elektromagnetik
frekuensi
coupling (jarak spasi antara coil dan material)
daya tembus (depth of penetration) dari material
Jenis koil yang digunakan
Medan elektromagnetik yang dibangkitkan sebanding dengan besarnya arus,
frekuensi, dan parameter coil. Parameter coil yang dimaksud adalah : induktansi,
diameter, panjang, ketebalan, jumlah gulungan, dan material inti.

0.8 (N r)2
..(3)
L =
6 r + 9 l + 10b l

b r

Faktor-faktor diatas mempengaruhi induksi eddy current dalam material.


Terdapat beberapa istilah dalam eddy current sebagai akibat faktor diatas seperti :
a. Liff Off.
b. Fill factor.
c. Depth of Penetration.
d. Edge Effect.

a. Lift off
Lift off merupakan kopeling elektromagnetik antara coil dengan material.
Kopeling tersebut berubah-ubah tergantung jarak coil dengan material. Jarak spasi
antara coil dengan material disebut Lift off. Lift off efek akan mempengaruhi
besarnya impedansi coil.

Universitas Sriwijaya
Air (0%)
Conductivity

XL Gbr Impedance plane diagram

Liff-Off 100% IACS

Resistance
Gambar 4.6. Hubungan antara udara, conductivity material, dan lift off

Gambar diatas menunjukan hubungan antara udara, conductivity material, dan lift
off. Medan elektromagnet paling kuat terjadi di dekat coil dan hilang pada jarak
tertentu dari coil. Fakta ini menyebabkan pembacaan efek lift off dapat terdeteksi
dengan perubahan jarak yang kecil saja antara coil dan material sehingga efek lift
off dapat dimanfaatkan untuk pemeriksaan cacat/retak dipermukaan.
b. Fill Factor

Fill Factor merupakan istilah yang dipergunakan seberapa bagus kopeling


antara test objek dengan test coil untuk material yang diperiksa berbentuk
lingkaran (seperti tubing, rod). Fill faktor ( dibaca eta) dinyatakan sebagai
rasio dari luas dimeter coil dengan luas diameter test obyek . Persamaanya
dapat dituliskan sebagai berikut :

Tubing

d2
t =
D2 D22
= Fill factor
d
Probe(Bobbin coil)
d = diameter probe (coil)
D1 D2 = diameter dalam tube

Gambar 4.7. Persamaan Fill Factor


c. Depth of Penetration (kedalaman)

Universitas Sriwijaya
Depth of Penetration kemampuan eddy current untuk penetrasi kedalam material.
Kemampuan penetrasi dipengaruhi oleh sifat fisika & metalurgi material
(conductivity, permeability) dan test coilnya sendiri ( frekuensi). Distribusi eddy
current dalam test material berubah secara eksponensial. Density eddy current
paling kuat (100%) terjadi dekat test coil.
Suatu titik dalam material dimana density eddy sebesar 37% disebut dengan
Standard Depth of Penetration

Density =
relative

f rel

= standard depth of penetration


K = kontantanta
1 = resistivity /conductivity
f = frekwensi
rel = permeability relatif
37%

Depth Gambar4.8. Standard Depth of Penetration


Depth of Penetration

d. Edge effect

Edge effect merupakan terjadinya distorsi eddy current akibat adanya pengaruh
dari tepi material dimana eddy current tidak mempunyai tempat untuk mengalir.
Adanya distorsi mengakibatkan kesalahan indikasi. Oleh sebab itulah diperlukan
desain probe yang khusus untuk mendeteksi cacat yang dekat dengan tepi
material.

4.3. Peralatan Eddy Current dan Cara Kerja

Universitas Sriwijaya
Lima bagian terpenting peralatan eddy current sehingga dapat perfungsi dengan
baik adalah :
Bagian eksitasi
Bagian modulasi (Coil)
Bagian penyiapan signal
Bagian analisa signal
Bagian tampilan signal

Diagram proses dapat presentasikan seperti dibawah ini :

Signal Demodulation
Modulation Preparation and Analysis

Excitation Coil Display


Test
Sine wave Object Detectors
Generator Analysis CRTs
Samplers Meters
Filters Recorders
Relays

Gambar 4.9 Diagram proses Eddy Current Speciment handling equipment


Current
Test Coil/Probe
Test coil merupakan alat/tools yang penting dalam pemeriksaan eddy current.
Secara garis besar probe dapat dibagi dalam 3 (tiga) kelompok utama yaitu :
1. Probe coil
2. Bobbin coil
3. Encircling coil
Probe Coil

Universitas Sriwijaya
Surface coil, probe coil, flat coil atau pancake coil adalah bentuk umum yang
dipergunakan untuk jenis probe coil. Probe coil digunakan untuk pemeriksaan
permukaan material (Surface & sub surface inspection). Gambar dibawah ini
menunjukan bentuk khas probe coil yang digunakan untuk scanning permukaan.
Surface coil

Test object
Gambar 4.10. Probe Coil
Encircling Coil
Encircling Coil, Outside Diameter Coil, dan feed-through coil adalah nama yang
umum digunakan untuk coil yang mengelilingi test object.

Test object
Coil

Crack
Gambar 4.11. Encircling Coil
Encircling coil digunakan untuk inspeksi material yang berbentuk
tabung,pipa atau batangan.

Bobbin Coil
Bobbin coil, Inside Diameter (ID) coil, inside coil adalah nama yang digunakan
untuk pemeriksaan tubing. Bobbin probe
Tubing

Gambar 4.12. Bobin Coil


Ditinjau dari rangkain coil (electrical connected) probe dapat dibagi dalam 3 (tiga
kategori yaitu : absolute, differential, dan hybrid coil.

Universitas Sriwijaya
Absolute coil
Absolute coil merupakan alat pengukuran yang tidak menggunakan referensi
langsung sebagai standard.Beberapa aplikasi yang menggunakan absolute coil
sperti pemeriksaan conductivity, permeability, dimensi dan kekerasan.

Differential coil
Differential coil menggunakan dua atau lebih coil yang saling berlawanan satu
sama lainnya. Differential coil dapat dikategorikan 2 (dua) jenis yaitu : self-
comparison differential dan external reference differential.

Hybrid coil
Hybrid coil merupakan coil yang terdiri dari dua coil dengan ukuran yang
sama atau tidak sama dan tidak diperlukan pemisah. Jenis dari hybrid coils adalah
: Driver/pickup, trhough-transmission, atau primary/secondary coil. Hibrid coil
terdiri dari excitation coil dan sensing coil

Excitation Coil Receiving Coil

To test circuit

Material

Gambar 4.13. Hybrid Coil

Cara Kerja

Universitas Sriwijaya
Cara kerja peralatan lebih jelas dapat dilihat seperti diagram diatas dimana proses
terbentuknya signal eddy current merupakan hasil urutan proses diatas. Proses
pembentukan signal lisajous pada bobbin coil :

Kedua koil pada posisi tidak ada cacat koil pertama mendeteksi
cacat

Kedua koil berada diantara cacat koil ke dua mendeteksi


cacat

Gambar 4.14. Proses Terbentuknya Signal


Eddy Curent

Kedua koil sudah melewati cacat

Universitas Sriwijaya
Uraian tampilan Lisajous diatas dapa diuraikan ke dalam bentuk strip-
chart seperti berikut
Vertikal Strip-Cart Horizontal Strip-Cart

- + - +

Gambar 4.15.Sinyal Eddy Current dalam bentuk strip-chart

Gambar 4.16. Uji Eddy Current pada heat exchanger di lapangan (Diambil pada
19 July 2017)

Universitas Sriwijaya
Gambar 4.17. Uji Eddy Current pada heat exchebger di lapangan (Diambil pada
19 July 2017)

Universitas Sriwijaya
4.4. Non Destructive Test Equipment
4.4.1 Mesin R/D Tech MultiScan MS 5800-ER ECT EXTENDED

Gambar 4.18. Alat yang di gunakan MultiScan MS 5800-ER ECT

Gambar 4.19. Spesifkasi R/D Tech Multi Scan (Sumber: Olympus)

Universitas Sriwijaya
4.4.2. Spesifikasi Probe yang digunakan
Mesin R/D Tech Multi Scan 5800-ER adalah alat yang digunakan pada
pengujian Eddy Current.Mesin ini berfungsi untuk membaca sinyal cacat yang
ada pada tube di heat exchanger melalui Probe.

Gambar 4.20. Probe yang digunakan saat pengujian dengan nomor


A-580-BS/HF-(5/16H)83FT-4PA
Probe yang digunakan saat pengujian adalah probe jenis Bobbin Probe dengan
spesifikasi : A-580-BS/HF-(5/16H)83FT-4PA kode probe 0,58

Tabel 4.1 Penjelasan spesifikasi dari Bobbin Probe

A580 Stainless steel Wire


BS British Standard
HF Hight Frequensi
5/16 Ukuran probe untuk Heavy Wall
83 ft Panjang Probe
0.58 Diameter Probe 7,9375 mm
4PA 4 tembaga inti / 4 Pin Amphenol
type Bobbin Probe

Universitas Sriwijaya
4.4.3 Spesifikasi Tube Kalibrasi Standar yang di pakai

2 3 4 5 6 7

1 8 9 10
Gambar 4.21.Tube kalibrasi yang digunakan

Keterangan gambar : 1. 4x Pitting/hole 20% OD 5 mm


2. Pitting/hole 40% OD 5 mm
3. Pitting/hole 60% OD 3 mm
4. Pitting/hole 80% OD 2 mm
5. Pitting/hole 100% OD 2.5 mm
6. Pitting/hole 100% OD 1.5 mm
7. Pitting/hole 100% OD 1. mm
8. Groove 20% OD 13.5 mm
9. Groove 20% OD 3.5 mm
10. Groove 20% ID 3.5 mm

Universitas Sriwijaya
Gambar 4.22.Tube kalibrasi yang digunakan pada saat pengujian.
Spesifikasi tube kalibrasi :

Material SS-304
Bwg 15
Panjang 6180mm
Thickness 1,829mm
Diameter
Resistivity 72.00ohm/cm

4.4.4 Cara Mengkalibrasi alat R/D Tech Multi Scan

1. Persiapkan Alat mulai dari tube kalibrasi,probe yang di pakai ( Main Probe
dan Probe Referensi ),Laptop yang terhubung ke R/D Tech Multi
Scan,dongle,dll.
2. Hidupkan laptop dan alat R/D Tech Multi Scan.
3. Sambungkan main probe ke socket main probe yang tersedia pada alat dan
sambungkan probe referensi ke socket probe referensi yang tersedia pada
alat.
4. Ujung Probe referensi (yang akan berkontak langsung dengan tube )
dimasukkan ke tube referensi yang tidak memiliki cacat sama sekali
namun memiliki material yang sama dengan tube yang akan di test.
5. Pada layar laptop,jalankan software MultiView R/D Tech 6.0 .Untuk
langkah-langkah membuat pengaturan baru pada software sesuai urutan
berikut :
New setup Calibration Tube
Suggested Frequency Defect Codes
Channels Channel Calibration

Universitas Sriwijaya
6. Prosedur kalibrasi selanjutnya ialah dengan menentukan Optimal
Frequency
1

2
3
4

6 7

Gambar 4.23. Optimal Frequency dialog box

Pada bagian ini berfungsi untuk mengatur jenis tube yang akan di inspeksi di
lapangan, berikut penjelasannya :
1. Pada bagian ini berfungsi untuk menentukan material tube yang akan
diperiksa, bisa dilihat di Table spesifikasi Tube Kalibrasi (Ex:
material tube di lapangan adalah Stainless Steel 304)
2. Bagian ini berfungsi untuk menjelaskan standard electrical resitivity
yang di miliki material,bisa dilihat pada Tabel 4.3( Ex: Standard
electrical resitivity Stainless Stell 304 adalah 72 micro-ohm per cm)
3. Bagian ini berfungsi untuk menentukan thickness tube yang akan
diperiksa, Standard ketebalan tube adalah BWG ( Ex: Tube BWG 14
mempunyai thickness 1.829 mm)
4. Bagian ini berfungsi untuk menunjukkan Frekuensi Tube yang akan
diperiksa

Universitas Sriwijaya
untuk menetukan Frekuensi ada rumusnya.
F90 = 3
t2
= electrical resitivity (-cm)
t = Thickness (mm)
F = Frekuensi (kHz)
(Ex: Material dengan Thickness 1.829 dan electrical resitivity 72 -cm
mempunyai frekuensi 65 kHz)
5. Bagian ini berfungsi untuk menentukan jenis Probe yang dipakai (Ex:
Probe yang dipakai pada pengujian ini adalah Probe Bobbin)
6. Bagian ini berfungsi untuk menunjukkan jalur probe internal/external
(Ex: Probe melalui internal tube)
7. Bagian ini berfungsi menetukan berapa Connector yang dipakai (Ex:
Pengujian Tube SS 340 menggunakan 4 Connector)

Kalau sudah ditentukan semua Klik Next untuk melanjutkan kalibrasi new
interface pada Software MultiView R/D Tech 6.0.

3
4

Gambar 4.24 Kalibrasi Channels dialog box (Diambil Pada 11 Agustus 2017)

Universitas Sriwijaya
Pada bagian ini berfungsi untuk mengatur channel frekuensi pada tube yang akan
di inspeksi di lapangan, berikut penjelasannya :
1. Untuk menetukan F180 menggunakan rumus
F180= 2.15 F90
2. Untuk menetukan F90 menggunakan rumus
F90 = 3
t2
3. Untuk menetukan F90/2 menggunakan rumus
F90/2= F45
4. Untuk menetukan F90/8 = F90/8 menggunakan rumus F90/8.

5. Bagian ini berfungsi untuk menghilangkan sinyal Baffles pada tube.

Kalau sudah ditentukan semua Klik Next untuk melanjutkan kalibrasi


SoftwareMultiView R/D Tech 6.0.

1 2
3 4

5
6
7
8

Gambar 4.25 Calibration tube dialog box (Diambil Pada 11 Agustus 2017)

Universitas Sriwijaya
Tabel 4.2 Penjelasan gambar pada Calibration tube dialog box
No Nama Cacat Keterangan
material
1. Pitting/Hole Cacat lubang yang kehilangan material sebesar
100% 100%.

2. 80% OD Cacat lubang yang kehilangan material di luar tube


sebesar 80%.
3. 60% OD Cacat lubang yang kehilangan material di luar tube
sebesar 60%.
4. 40% OD Cacat lubang yang kehilangan material di luar tube
sebesar 40%.
5. 4 X 20% OD 4 x Cacat lubang yang kehilangan material di luar
tube sebesar 20%.
6. Groove 20% Cacat groove yang kehilangan material di luar tube
OD sebesar 20%.
7. Groove 10% Cacat groove yang kehilangan material didalam tube
ID sebesar 10%.
8. Steel Support Penahan dari tube (baffle).

Sinyal yang didapat oleh alat R/D Tech Multi Scan diteruskan ke Software
MultiView R/D Tech 6.0 untuk meihat dan menentukan ada atau tidak nya cacat
pada tube.

Gambar 4.26. Software MultiView R/D Tech 6.

Universitas Sriwijaya
7. Proses pengkalibrasian selanjutnya dengan memasukkan ujung main probe
(coil) ke dalam tube kalibrasi disertai dengan meng scan kerusakan yang
ada pada tube kalibrasi tersebut.Sinyal cacat yang didapat selanjutnya akan
berupa sinyal-sinyal seperti pada gambar berikut.

Gambar 4.27. Contoh Signal Eddy Current dari Calibration Tube Standard

1
2
3
4
5
6
7
8

10

Gambar 4.28. Contoh Signal Eddy Current dari Calibration Tube Standard
Universitas Sriwijaya
Penjelasan Sinyal yang timbul pada saat pemeriksaan tube kalibrasi yang terdapat
dalam gambar IV.30. :

1. Adalah Groove 20% ID 3.5 mm


2. Adalah Groove 20% OD 3.5 mm
3. Adalah Groove 20% OD 13.5 mm
4. Adalah Pitting/hole 100% OD 1. mm
5. Adalah Pitting/hole 100% OD 1.5 mm
6. Adalah Pitting/hole 100% OD 2.5 mm
7. Adalah Pitting/hole 80% OD 2 mm
8. Adalah Pitting/hole 60% OD 3 mm
9. Adalah Pitting/hole 40% OD 5 mm
10. Adalah 4x Pitting/hole 20% OD 5 mm

4.4.5 Data dan spesifikasi Heat Exchanger 4A-1105-C CO2 Stripper Gas
Reboiler

Spesifikasi :
Heat Exchanger
4A-1105-C CO2 Tube side Shell Side
Temp. design 274 C 149 C
Tekanan design 31.6 KG/CM 5.3 KG/CM
Hidro. Test 47.4 KG/CM -
Pneumatik Test - 7 kg/cm
Manufacture F.B.M

TUBE
- Size : 3/4" ( 19,05 ) OD x 16 BWG ( 1,651 mm )
- Panjang : 9144 mm Length.
- Material : ASTM- A 213 TP-304L
- Qty : 1375 U-Tube

Tube Sheet
- Size : 1960 mm OD x 205 mm Thick.
- Diam. Of Tube Holes : 19.25 0.05 mm.
- Material : SS-304

Universitas Sriwijaya
4.5. Eddy Current Formulla

1. Formula untuk menghitung Frekuensi primer

F90 = 3 ....... (4)


t2

F180= 2.15 F90


F45= F90/2
F90/8 = F90/8

= electrical resitivity (-cm)


t = Thickness (mm)
F = Frekuensi (kHz)

2. Formula untuk menghitng electrical resitivity of tube material

= 172.41 .....(5)
% IACS

= electrical resitivity (-cm)


% IACS = Tube material conductivity

3. Formula untuk menghitung effective depth of penetration


= 50 x ..... (6)

= Depth (mm)
= Resitivity
f = frequensi (kHz)
rel = relative permeability

Universitas Sriwijaya
4.6. Electrical Properties of Some Common Materials

Tabel 4.3 Electrical Properties of Some Common Material

MATERIAL1 RESISTIVITY2 CONDUCTIVITY3


(cm) % IACS
Copper 1.7 100.00

Admiralty Brass 6.9 25.00


Aluminium Brass 7.5 23.00
Navel Brass 6.6 26.00
Aluminium Bronze 12.3 14.00

Copper Nickel 90/10 18.9 9.10


Copper Nickel 70/30 37.5 4.60

Stainless Steel 304 72.0 2.39


Stainless Steel 316 74.0 2.33
Stainless Steel 321 72.0 2.39
Stainless Steel 347-348 73.0 2.36

Titanium (99%) 48.6 54.8 3.12 3.55


Hastelloy-C 132.6 1.30
Inconel 600 101.4 1.70
Inconel 690 114.9 1.50
Incoloy 825 114.9 1.50
Monel 48.2 3.58
Aluminium (99.9) 2.8 61.30
Aluminium 6061 T6 4.0 43.00
Aluminium 7076 T6 5.2 33.00

Tabel 4.4 BWG tube

BAB 5

Universitas Sriwijaya
METODOLOGI KERJA PRAKTEK

5.1 Desain Kerja Praktek

Kerja praktek dilakukan dengan melakukan analisis material dan tube pada system
Heat exchanger tepatnya pada HE 4A-1105-C CO2 Stripper Gas. Analisis dilakukan
untuk mengidentifikasi jenis probe yang sesuai maupun teknik pengujian yang digunakan
pada sistem tersebut. Setelah mendapatkan data-data yang diperlukan, maka dilakukan
analisis lanjut pada tiap-tiap komponen. Analisis tiap komponen dapat memudahkan
analisis sistem secara keseluruhan.

5.2. Ruang Lingkup dan Batasan Kerja Praktek

Kerja praktek ini mempertimbangkan kondisi setiap masuk komponen dan keluar
komponen. Proses analisis dimulai dari tiap komponen sehingga bisa dilakukan analisis
secara keseluruhan. Dalam hal ini parameter-parameter yang dikaji meliputi: Jenis
material, Jenis heat exchanger,jenis probe yang dgunakan,alat pengujian,tube
kalibrasi,standar yang digunakan dan lain lain.

5.3. Sumber Data


Data-data yang digunakan dalam analisis ini nantinya adalah data-data yang
meliputi:
1. Data non teknis yang didapat Melalui wawancara, yaitu dengan menanyakan
langsung kepada teknisi, para pekerja, dan pembimbing di lapangan.
2. Data teknis di PT. PUPUK SRIWIDJAJA meliputi: Spesifikasi heat exchanger
(material,jumbah tube dll),spesifikasi alat yang digunakan,spesifikasi tube
kalibrasi,standar yang di gunakan dan lain-lain.

5.4. Analisis dan Pengelolahan Data

Universitas Sriwijaya
Data-data yang didapat kemudian dikaji guna untuk mengetahui unjuk kerja dan
seberapa banyak tube yang mengalami cacat dan seberapa banyak tube yang harus di
plug agar tidak mempengaruhi proses HE selanjutnya.

5.5. Prosedur Pelaksanaan Studi Kasus


Adapun tahap-tahap Kerja praktek yang dilakukan dapat dilihat pada diagram
berikut ini.
MULAI

Indentifikasi masalah dan menetapkan


tujuan penelitian

` STUDI AWAL
Studi literatur

PENGUMPULAN DATA
- Data Heat Exchanger (Diameter Tube,jumblah tube,material
tube dll.)
- Data Alat yang digunakan (spesifikasi alat yang di gunakan ,jenis
probe,material probe,tube kalibrasi,diameter alat dll.)

PENGOLAHAN DATA:
Simulasi data statistik (komputerisasi)

ANALISIS DATA

KESIMPULAN

SELESAI
Gambar 5.1. diagram alir penelitian
5.6. Penjelasan Diagram
5.6.1. Indentifikasi masalah dan menetapkan tujuan penelitian

Universitas Sriwijaya
Pada awal kerja praktek, penulis melakukan peninjauan dan pengamatan
terhadap system repair Heat exchanger, mulai dari pembongkaran tube, pembersihan
tube,Leak test pada tube,dll
5.6.2. Studi literature
Untuk mendapatkan informasi yang berkenaan dalam penyelesaian masalah ini,
maka dilakukan studi literatur.Informasi berkenaan masalah ini diperoleh dari buku-
buku dan jurnal-jurnal maupun internet serta data-data dari perusahaan yang
berhubungan dengan sistem Eddy current examination pada tube Heat exchanger
secara umum yang diperoleh dari berbagai sumber.
5.4.3. Metode Pengerjaan

Metode pengerjaan yang dilakukan adalah studi literatur yang didukung oleh
data pendukung yang digunakan untuk memasukkan data-data yang di butuhkan
kedalam software R/D Tech MultiScan MS 5800-ER ECT meliputi:
1. Data Heat Exchanger (Spesifikasi HE,diameter tube,jumblah
tube,material tube dll.)
2. Data Alat yang digunakan (spesifikasi alat yang di gunakan ,jenis
probe,material probe,tube kalibrasi,diameter alat dll.)
3. Melakukan pemeriksaan secara langsung dengan alat R/D Tech MultiScan
MS 5800-ER ECT.(dengan catatan sudah dilakukan kalibrasi alat
sebelumnya ).
4. Pengumpulan data tube-tube pada HE yang di input langsung ke dalam
software yang selanjutnya di analisa apakah tube-tube tersebut mengalami
defect atau tidak.

5.7. Hasil yang diharapkan


Setelah dilakukan tahapan-tahapan pengumpulan data penelitian, diharapkan
akan mendapat hasil yaitu data statistic kerusakan tiap-tiap tube pada heat exchanger
tersebut sehingga didapatkan kesimpulan bahwa Heat exchanger tersebut masih layak
pakai atau harus diganti total.
BAB 6
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

6.1. Pembuatan new interface pada software Multi View R/D Tech 6.0

Universitas Sriwijaya
Dalam bab ini akan disajikan analisis data dan pembahasan dari pengujian ECT
(Eddy Current Testing) untuk mendeteksi adanya defect pada tube heat exchanger 4A-
1105-C CO2 Stripper Gas Reboiler yang telah dilakukan sebelumnya. Seluruh rangkaian
pengujian dilakukan dengan mengacu pada metodologi penelitian yang dijelaskan pada
bab sebelumnya. Kondisi yang terjadi pada saat pengujian adalah dilakukannya
pengkalibrasian ulang dan pembuatan pengaturan baru atau folder penyimpanan baru
pada software Multi View R/D Tech 6.0 ,adapun langkah langkah nya sebagai berikut :

8. Persiapkan Alat mulai dari HE( pemeriksaan dilakukan pada saat Turn Around ),
Probe yang di pakai ( Main Probe dan Probe Referensi ),Laptop yang terhubung
ke R/D Tech Multi Scan,dongle,dll.
9. Hidupkan laptop dan alat R/D Tech Multi Scan.
10. Sambungkan main probe ke socket main probe yang tersedia pada alat dan
sambungkan probe referensi ke socket probe referensi yang tersedia pada alat.
11. Ujung Probe referensi (yang akan berkontak langsung dengan tube ) dimasukkan
ke tube referensi yang tidak memiliki cacat sama sekali namun memiliki material
yang sama dengan tube yang akan di test.
12. Pada layar laptop,jalankan software MultiView R/D Tech 6.0 .Untuk langkah-
langkah membuat pengaturan baru pada software sesuai urutan berikut :
New setup
Suggested Frequency
Channels
Calibration Tube
Defect Codes
Channel Calibration
13. Pada New setup dialog box di isi sesuai gambar

Universitas Sriwijaya
Gambar 6.1. New setup dialog box
1. Name : Di isi sesuai keinginan
2. Description : Di isi Pemeriksaan eddy current test pada Heat Exchanger 4A-
1105-C CO2
3. Device : Dipilih MS 5800
4. Technology : Pilih metode apa yang dipakai,pada pemeriksaan ini yang di
pakai ialah eddy current test.
14. Pada menu Suggested Frequency dialog box

Gambar
1. Pilih material tube6.2. Suggested
pada Frequency
list option Click editdialog box
jika dibutuhkan.Dalam
pemeriksaan kali ini di pilih material stainless steel SS 304

Universitas Sriwijaya
2. Masukkan data resistivity dan thickness.(Lihat Table 4.3)
Pada table tersebut untuk material SS304 nilai Resistivity nya adalah 72.0
cm dan Conductivity nya 2.39 %IACS.
3. Masukkan data thickness yang di gunakan. pemeriksaan kali ini di pilih
BWG 16 dan mempunyai thickness 1.651 mm) lihat pada Tabel 4.4 BWG
tube untuk mencari OD tube,ID tube dan lain-lain.
4. pilih type dari probe yang digunakan,dan pilih berapa jumblah pin connector
yang ada.
15. Pada menu Channels dialog box for a bobbin probe

Gambar 6.3. Channels dialog box for a bobbin probe

1. Kasih centang pada box yang disediakan (pada step ini tidak perlu mengubah
pengaturan yang tersedia karena sudah di atur oleh sistem).
Jika harus dicari pada step di atas dapat dengan menggunakan rumus
berikut :
6. Untuk menetukan F180 menggunakan rumus
F180= 2.15 F90 = (2,15)( 79,24276) = 170,371934
7. Untuk menetukan F90 menggunakan rumus
F90 = 3 (3)(72,0 cm)
2
= = 79,24276
1.651

8. Untuk menetukan F90/2 menggunakan rumus


F90/2= F45 = ( 79,24276/2) = 39,62138
9. Untuk menetukan F90/8 menggunakan rumus
F9/8 = ( 79,24276/8) = 9,905345

Universitas Sriwijaya
16. Step selanjutnya adalah memasukkan data kalibrasi tube,pada Calibration tube
dialog box

Gambar 6.4. Calibration tube dialog box

1. Beri semua centang pada jenis defect yang ingin di deteksi mulai dari 100%
hole sampai dengan steel support.Jangan lupa untuk member nama pada
defect yang di inginkan.Lalu klik next.
17. Step selanjutnya adalah menu Defect codes

1. Isi nama defect yang di inginkan.contoh defect 1 diisi dengan DSI(Distorted


Gambar 6.5. Defect codes box
Support Indication),WLL(Wall
Losses),BLG(Bulge),ERO(Erosion),CRK(Cracking) dll.

18. Pada step terakhir ialah masuk ke menu Channel Calibration dialog box

Universitas Sriwijaya
Gambar 6.6. Channel Calibration dialog box
1. Pada step ini tidak perlu mengubah pengaturan yang tersedia karena sudah di
atur oleh sistem
Sinyal yang didapat oleh alat R/D Tech Multi Scan diteruskan ke
Software MultiView R/D Tech 6.0 untuk meihat dan menetukan ada atau tidak
nya cacat pada tube.

Gambar 6.7. Software MultiView R/D Tech 6.


19. Proses selanjutnya ialah melakukan pemeriksaan pada tube HE yang di inginkan
dengan menekan scan pada layar laptop,sembari dengan memasukkan probe ke
dalam tube pada HE yang akan di periksa.
20. Hasil dari tiap-tiap tube HE yang mengalami defect di edit dan di beri keterangan
( cacat apa yang terjadi pada tube tersebut ).lalu dimasukan ke dalam software
CARTO yang akan menampilkan hasil keseluruhan proses.

Universitas Sriwijaya
Gambar 6.8. Hasil report yang ditampilkan dalam software carto

6.2. Hasil Pengujian pada Tube Heat Exchanger


Pada sub-bab ini akan ditampilkan hasil pengujian meliputi hasil dokumentasi
dan Sinyal-sinyal yang diterima oleh alat PER TIAP-TIAP TUBE YANG
MENGALAMI KERUSAKAN baik berupa wall losses atau pun Pitting pada Heat
Exchanger 4A-1105-C yang di periksa. Data ketinggian sinyal yang disajikan berdasarkan
perubahan jarak retak bawah permukaan (subsurface crack) terhadap permukaan benda
yang diuji untuk masing-masing spesimen sehingga akan terlihat pengaruh variasi jarak
retak bawah permukaan yang ada pada setiap spesimen terhadap perubahan ketinggian
sinyal yang didapat.

Universitas Sriwijaya
Tube Number/Column

Row

Gambar 6.9. Final Report Untuk ECT 1105C

Gambar di atas adalah hasil pemeriksaan tube heat exchanger 4A-1105-C yang dilakukan
langsung di lapangan oleh inspector dengan metode eddy current Examination mengacu
pada standar ASME, Section V, Article 8, Appendix ( 1 and 2 ), Electromagnetic (eddy
current) testing of heat exchanger tubes.Dimana pada hasil report nya mengindikasikan
bahwa terdapat 10 tube yang harus di plug karena standar pada tube HE kehilangan
material lebih dari 60% harus di non aktifkan.
( Efri Firmansyah.2017)
6.2.1. Tube Heat Exchanger yang mengalami 0<Defect<=20

Universitas Sriwijaya
Tube yang mengalami penipisan dari luar OD
Tube yang mengalami 0<Defect<=20 sebanyak 84 Tube,diambil sampel gambar
pada row 1 column 43 sebagai berikut :

Gambar 6.10. Final Report Untuk ECT 1105C pada tube row 1 column 43

Pada tube HE dengan row 1 column 43 telah terjadi penipisan material dari luar
(wall losses) sebesar 5 % dari thickness awal pada posisi 4.430m sepanjang 0.12m.Jika
dihitung dari thickness awal tube yang besarnya 1.829 mm maka kehilangan material dari
luar ini sebesar 1.829 x 5% = 0.009145 mm.

Tube yang mengalami penipisan dari dalam ID

Universitas Sriwijaya
Tube yang mengalami 0<Defect<=20 sebanyak 84 Tube,diambil sampel gambar pada
row 6 column 38 sebagai berikut :

Gambar 6.11. Final Report Untuk ECT 1105C pada tube row 6 column 38

Pada tube HE dengan row 6 column 38 telah terjadi penipisan material dari dalam
(wall losses) sebesar 6% dari thickness awal pada posisi 4.1205m sepanjang 0.16m.Jika
dihitung dari thickness awal tube yang besarnya 1.829 mm maka kehilangan material dari
luar ini sebesar 1.829 x 6 % = 0.10974 mm.

6.2.2. Tube Heat Exchanger yang mengalami 20<Defect<=40

Tube yang mengalami 20<Defect<=40 sebanyak 68 Tube,diambil sampel gambar


pada row 2 column 47 sebagai berikut :

Universitas Sriwijaya
Gambar 6.12. Final Report Untuk ECT 1105C pada tube row 2 column 47

Pada tube HE dengan row 2 column 47 telah terjadi penipisan material dari luar
(wall losses) sebesar 39 % dari thickness awal pada posisi 4.0680m sepanjang 0.07m.Jika
dihitung dari thickness awal tube yang besarnya 1.829 mm maka kehilangan material
dari luar ini sebesar 1.829 x 39% = 0,71331 mm

6.2.3. Tube Heat Exchanger yang mengalami 40<Defect<=60

Tube yang mengalami 40<Defect<=60 sebanyak 50 Tube,diambil sampel gambar


pada row 4 column 49 sebagai berikut :

Universitas Sriwijaya
Gambar 6.13. Final Report Untuk ECT 1105C pada tube row 4 column 49

Pada tube HE dengan row 4 column 49 telah terjadi penipisan material dari luar
(wall losses) sebesar 48 % dari thickness awal pada posisi 5.0690m sepanjang 0.27m.Jika
dihitung dari thickness awal tube yang besarnya 1.829 mm maka kehilangan material dari
luar ini sebesar 1.829 x 48% = 0,87792 mm

6.2.4. Tube Heat Exchanger yang mengalami 60<Defect<=80

Tube yang mengalami 60<Defect<=80 sebanyak 9 Tube,diambil sampel gambar


pada row 9 column 52 sebagai berikut :

Universitas Sriwijaya
Gambar 6.14. Final Report Untuk ECT 1105C pada tube row 9 column 52

Pada tube HE dengan row 9 column 52 telah terjadi penipisan material dari luar
(wall losses) sebesar 61 % dari thickness awal pada posisi 7.2273M sepanjang 0.30m.Jika
dihitung dari thickness awal tube yang besarnya 1.829 mm maka kehilangan material dari
luar ini sebesar 1.829 x 61% = 1,11569 mm.

6.2.5. Tube Heat Exchanger yang mengalami 80<Defect<=100

Tube yang mengalami 80<Defect<=100 sebanyak 1 Tube,diambil sampel gambar


pada row 3 column 52 sebagai berikut :

Universitas Sriwijaya
Gambar 6.15. Final Report Untuk ECT 1105C pada tube row 3 column 52

Pada tube HE dengan row 3 column 52 telah terjadi penipisan material dari luar
(wall losses) sebesar 82 % dari thickness awal pada posisi 5.1483M sepanjang 0.34m.Jika
dihitung dari thickness awal tube yang besarnya 1.829 mm maka kehilangan material dari
luar ini sebesar 1.829 x 82% = 1,49978 mm.
Jika mengacu pada keadaan standar tube yang mengatakan bahwa Jika sebuah tube
mengalami kehilangan material/thickness sebesar 60%-100% maka tube tersebut harus di
non aktifkan,baik berupa di plug atau pun dig anti dengan tube yang baru.
6.2.6. Tube Heat Exchanger yang tidak terdeteksi kerusakan
Tube yang tidak terdeteksi adanya kerusakan material ialah sebanyak 2842
Tube,diambil sampel gambar pada row 1 column 35 sampai dengan column 38 sebagai
berikut :

Universitas Sriwijaya
Gambar 6.16. Final Report Untuk ECT 1105C pada tube row 1 column 35-38.
Pada tube HE dengan row 1 column 35 sampai dengan column 38 tidak terdeteksi
adanya kerusakan pada material tersebut baik berupa wall losses,pitting ataupun cacat
lainya
6.2.7. Tube Heat Exchanger yang tidak dilakukan pemeriksaan(plugged)
Tube yang tidak dilakukan pemeriksaan adalah sebanyak 56 tube.,diambil sampel
gambar pada row 2 column 14 sampai dengan column 38 sebagai berikut :

Gambar 6.17. Final Report Untuk ECT 1105C pada tube row 2 column 14
Pada tube ini tidak bisa dilakukan pemeriksaan karena probe yang masuk ke
dalam tube akan terhalang oleh plugg.

Universitas Sriwijaya
Gambar 6.18. Distribution of tubes by wall losses.

Gambar distribution of tubes by wall losses di atas menunjukan pembagian tube


berdasarkan ada tidaknya kerusakan material tube yang didapatkan dari hasil pengujian
langsung terhadap specimen uji (Tube Heat exchanger 4A-1105-C CO2 Stripper Gas
Reboiler).Jumblah keseluruhan tube yang di periksa dengan menggunakan metode Eddy
Current Examination ini adalah sebanyak 2.750 batang tube,dengan rincian tube yang
tidak mengalami kerusakan(wall losses) sebanyak 2.538 batang tube atau jika di
persentasikan sebanyak 87,1% batang tube yang masih murni atau tidak mengalami
kerusakan. Tube yang mengalami kerusakan(wall losses) antara 0<Defect<=20
sebanyak 84 buah atau 2.9% dari total tube. Tube yang mengalami kerusakan(wall
losses) antara 20<Defect<=40 sebanyak 68 buah atau 2.3% dari total tube. Tube yang
mengalami kerusakan(wall losses) antara 40<Defect<=60 sebanyak 50 buah atau 1.7%
dari total tube. Tube yang mengalami kerusakan(wall losses) antara 60<Defect<=80
sebanyak 9 buah atau 0.3% dari total tube. Tube yang mengalami kerusakan(wall losses)
antara 820<Defect<=100 sebanyak 1 buah atau 0.% dari total tube.

Universitas Sriwijaya
BAB 7
KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan
Berdasarkan dari studi kasus dan pembahasan yang telah dilakukan, maka
dapat disimpulkan bahwa:
1) Analisa kerusakan material yang terjadi pada Heat Exchanger 4A-
1105-C CO2 Stripper Gas Reboiler dengan menggunakan metode
eddy current examination yang memakai alat R/D Tech MultiScan MS
5800-ER serta software MultiView R/D Tech 6.0 didapatkan rincian
sebagai berikut:

Jika dilihat dari banyak nya kerusakan per tube.


Tube yang mengalami 80<Defect<=100 sebanyak 1 Tube.
Tube yang mengalami 60<Defect<=80 sebanyak 9 Tube.
Tube yang mengalami 40<Defect<=60 sebanyak 50 Tube.
Tube yang mengalami 20<Defect<=40 sebanyak 68 Tube.
Tube yang mengalami 0<Defect<=20 sebanyak 84 Tube.
Tube yang tidak dilakukan pemeriksaan adalah sebanyak 56
tube( di plug).
Tube yang tidak terdeteksi adanya kerusakan material ialah
sebanyak 2842 tube

Jika dilihat dari persentase distribusi wall loses.


Tube yang tidak terdeteksi adanya kerusakan (wall losses)
sebesar 92.3%(gabungan antara tube yang di plugg dengan
tube yang masih murni.
Tube yang mengalami kerusakan (wall losses) antara
0<Defect<=20 sebesar 2.9% dari total tube.
Tube yang mengalami kerusakan (wall losses) antara
20<Defect<=40 sebesar 2.3% dari total tube.

Universitas Sriwijaya
Tube yang mengalami kerusakan (wall losses) antara
40<Defect<=60 sebesar 1.7% dari total tube.
Tube yang mengalami kerusakan (wall losses) antara
60<Defect<=80 sebesar 0.3% dari total tube.
Tube yang mengalami kerusakan (wall losses) antara
80<Defect<=100 sebesar 0.0% dari total tube.

2) Pada hasil report yang di dapatkan setelah di lakukan pemeriksaan


tube terkait dan juga telah di lakukan analisa pada bab sebelumnya
,tube yang harus di plugg atau di nonaktifkan sebanyak 10 batang tube
(60<Defect<=80 dan 80<Defect<=100 ). karena standar pada tube
Heat Exchanger untuk eddy current examination kehilangan material
lebih dari 60% tube tersebut harus di non aktifkan atau di ganti.
Secara garis besar jika dilihat dari banyak nya tube yang tidak
terindikasi cacat (92.3%) maka Heat Exchanger 4A-1105-C CO2
Stripper Gas Reboiler tersebut tidak perlu di lakukan penggantian /
Retubing.
7.2. Saran
Saran saran yang dapat disampaikan setelah pelaksanaan kerja praktek di
PT. Pupuk Sriwidjaja adalah sebagai berikut :
1) Sebelum melakukan NDT Eddy Current Examination perlu untuk
mempelajari literatur-literatur yang berhubungan dengan NDT,baik
berupa apa itu arus elektromagnet,arus eddy,proses terbentuknya arus
eddy dan lain-lain agar pada saat pengujian dasar-dasar ilmu yang
mengenai eddy current examination ini sudah di pahami sebelumnya.
2) Perlu adanya transfer knowladge kepada mekanik, dimana segala
proses yang melibatkan Heat Exchanger ini harus dicacat pada hampir
tiap harinya. Agar tidak terjadi unscheduled shutdown yang
diakibatkan dari kebocoran pada tube-tube tersebut yang akan
berakibat membahayakan dan mengurangi efisiensi dari Heat
Exchanger 4A-1105-C CO2 Stripper Gas Reboiler

Universitas Sriwijaya
3) Pada saat pemeriksaan eddy current ini harus mengacu pada standar
yang berlaku dalam hal ini ASME, Section V, Article 8, Appendix ( 1
and 2 ), Electromagnetic (eddy current) testing of heat exchanger
tubes lah yang di pakai.

Universitas Sriwijaya
DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2008.ECT Inspection Technique.New York.Olympus.


Arjawa,Ketut.2004.Tubing Inspection Technique.Indonesia:Solus Infiniti Prima
Arjawa,Ketut. 2004.Work Shop Tube Inspection Dengan Menggunakan Eddy
Current.Indonesia:Pdf file.
ASME B31.Minimum Wall Thickness of Pipe. New York, 2000, Revision 2003.
ASME Handbook.Table A-1 Maximum Allowble Strees Value. New York, 2000.
ASME. 2010. Article 8, Appendix 1: Eddy current examination method for
installed non-ferromagnetic steam generator heat exchanger tubing. New
York: ASME Press
ASTM A192 Sec II.Specification For Seamless Carbon Steel Boiler Tubes For
High-Pressure Service. New York, 2001, Revision 2003.
Callister.JR William D .1940.Material Science and Egineering. John Wiley &
Sons.Canada.Jr. 4 fourth edition.
Departemen Inspeksi Teknik.2015.Direktorat Teknik dan Pengembangan.
Palembang: PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang
Errata.2004. Calculation of Heater-Tube Thickness in Petroleum Refineries.USA:
American Petroleum Institute
Hasbiama. Buku Panduan Pegawai PT. Pupuk Sriwidjaja, Palembang, 2000.
Perry, R.H. 1984.Chemical Engineering Handbook. 6th ed, Mc. Graw Hill,inc.
Rizal, Andrian.Buku Panduan Pegawai PT. Pupuk Sriwidjaja, Palembang, 2011.
Smith, J.M. and H.C. Van Ness. 1987,Introduction to Chemical Engineering
Thermodinamics. 4th edition. Singapore, Mc. Graw Hill, inc.

Butuh versi lengkap ? (Daptar isi,daptar tabel,Lampiran,Dll)


Email me ! : dikiyuniks@gmail.com

Universitas Sriwijaya