Anda di halaman 1dari 18

OSTEOMA

Etiologi osteoma tidak diketahui, kebanyakan penyebab dari osteoma ini disebabkan oleh
factor trauma iritasi kronis, kelainan congenital dimana terjadi pertumbuhan tulang pada garis
tengah dari palatum, infeksi, kebiasaan-kebiasaan makan yang aneh seperti halnya orang yang
mengunyah tembakau bisa menyebabkan suatu keadaan hyperostosis dan perkembangan yang
tidak normal dari gigi. Tidak ada yang menunjukkan etiologi yang pasti terjadinya osteoma.
Penyebab pasti osteoma belum diketahui, tetapi ada beberapa teori :
1. Teori perkembangan:
Conheim, seperti yang dilaporkan Akamatsu mengatakan bahwa tumor biasanya terbentuk di
antara dua jaringan tulang yang berdekatan dengan asal embrionik yang berbeda. Di antara dua
tulang yang berbeda ini terdapat sel embrionik yang terperangkap yang memicu proliferasi
tulang yang berlebihan.
2. Teori kongenital:
Manifestasi klinis terjadi ketika pertumbuhan tulang meningkat dengan adanya tulang embrionik
misalnya pada saat pubertas.
3. Teori trauma:
Komplikasi dari trauma pada tulang temporal dapat menimbulkan proses inflamasi pada tulang
seperti periostitis, yang merangsang pembentukan osteoma.
4. Teori infeksi:
Infeksi dapat memicu pertumbuhan osteoma dengan merangsang proliferasi osteoblas pada garis
mukoperiostium.
5. Teori hormonal:
Peningkatan aktifitas osteoblas periostium, dirangsang oleh mekanisme endokrin
6. Faktor herediter

Meskipun tidak ada penyebab tumor tulang yang pasti, ada beberapa factor yang berhubungan
dan memungkinkan menjadi factor penyebab terjadinya tumor tulang yang meliputi:
1. Genetik.
Beberapa kelainan gentik dikaitkan dengan terjadinya keganasna tulang, misalnya sarcoma
jaringan lunak atau soft tissue sarcoma (STS). Dari data penelitian diduga mutasi genetic pada
sel induk mesinkin dapat menimbulkan sarcoma. Ada beberapa gen yang sudah diketahui
,mempunyaiperanan dalam kejadian sarcoma, antara lain gen RB-1 dan p53. Mutasi p53
mempunyai peranan yang jelas dalam terjadinya STS. Gen lain yang juga diketahui mempunyai
peranan adalah gen MDM-2 (Murine DoubelMinute 2). Gen ini dapat mnghasilkan suatu protein
yang dapat mengikat pada gen p53 yang telah mutasi dan menginaktivitas gen tersebut.
2. Radiasi.
Keganasan jaringan lunak dapat terjadi pada daerah tubuh yang terpapar radiasi seperti pada
klien karsinoma mamma dan limfoma maligna yang mendapat radioterapi.Halperin
dkk.memperkirakan resiko terjadinya sarcoma pada klien penyakit Hodgkin yang diradiasi
adalah 0,9 %. Terjadinya keganasan jaringan lunak dan bone sarcoma akibat pemaparan radiasi
sudah dketahui sejak 1922. Walaupun jarang ditemukan, prognosisnya buruk dan umumnya high
grade.Tumor yang sering ditemukan akibat radiasi adalah malignant fibrous histiocytoma (MFH)
dan angiosarkoma atau limfangiosarkoma.Jarak waktu antara rdiasi dan terjadinya sarcoma
diperkirakan sekitar 11 tahun.
3. Bahan Kimia.
Bahan kimia seperti Dioxindan Phenoxyherbicide diduga dapat menimbulkan sarkoma, tetapi
belum dapat dibuktikan.Pemaparan terhadap torium dioksida (Thorotrast), suatu bahan kontras,
dapat menimbulkan angiosarkoma, pada hepar, selain itu, abses juga diduga dapat menimbulkan
mosotelioma, sedangkan polivilin klorida dapat menyebabkan angiosarkoma hepatik.
4. Trauma
Sekitar 30 % kasus keganassan pada jaringan lunak mempunyai riwayat trauma.Walaupun
sarkoma kadang-kadang timbul pada jaringan sikatriks lama, luka bakar, dan riwayat trauma,
semua ini tidak pernah dapat dibuktikan.
5. Limfedema kronis.
Limfedema akibat operasi atu radiasi dapat menimbulkan limfangiosarkoma dan kasus
limfangiosarkoma dapa estremitas superior ditemukan pada klien karsinoma mamma yang
mendapat radioterapi pasca-mastektomi.
6. Infeksi.
Keganasan pada jaringan luank dan tulang dapat juga disebabkan oleh infeksi parasit, yaitu
filariasis.Pada klien limfedema kronis akibat obstruksi, filariais dapat menimbulkan
limfangiosrakoma.

1. Patofisiologi Osteoma
Adanya tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak diinvasi oleh sel tumor. Timbul
reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik yaitu proses destruksi atau penghancuran
tulang dan respon osteoblastik atau proses pembentukan tulang. Terjadi destruksi tulang lokal..
Pada proses osteoblastik, karena adanya sel tumor maka terjadi penimbunan periosteum tulang
yang baru dekat tempat lesi terjadi, sehingga terjadi pertumbuhan tulang yang abortif.
Adanya tumor tulang Jaringan lunak di invasi oleh tumor, Reaksi tulang normal, Osteolitik
(destruksi tulang), Osteoblastik (pembentukan tulang) destruksi tulang lokal, Periosteum tulang
yang baru dapat tertimbun dekat tempat lesi, Pertumbuhan tulang yang abortif.
Kelainan congenital, Genetic, Gender / jenis kelamin, Usia, Rangsangan fisik berulang,
Hormon, Infeksi, Gaya hidup, karsinogenik (bahan kimia, virus, radiasi) dapat menimbulkan
tumbuh atau berkembangnya sel tumor. Sel tumor dapat bersifat benign (jinak) atau bersifat
malignant (ganas).
Sel tumor pada tumor jinak bersifat tumbuh lambat, sehingga tumor jinak pada umumnya
tidak cepat membesar. Sel tumor mendesak jaringan sehat sekitarnya secara serempak sehingga
terbentuk simpai (serabut pembungkus yang memisahkan jaringan tumor dari jaringan sehat).
Oleh karena bersimpai maka pada umumnya tumor jinak mudah dikeluarkan dengan cara
operasi.
Sel tumor pada tumor ganas (kanker) tumbuh cepat, sehingga tumor ganas pada umumnya
cepat menjadi besar. Sel tumor ganas tumbuh menyusup ke jaringan sehat sekitarnya, sehingga
dapat digambarkan seperti kepiting dengan kaki-kakinya mencengkeram alat tubuh yang terkena.
Disamping itu sel kanker dapat membuat anak sebar (metastasis) ke bagian alat tubuh lain yang
jauh dari tempat asalnya melalui pembuluh darah dan pembuluh getah bening dan tumbuh
kanker baru di tempat lain. Penyusupan sel kanker ke jaringan sehat pada alat tubuh lainnya
dapat merusak alat tubuh tersebut sehingga fungsi alat tersebut menjadi terganggu.
Kanker adalah sebuah penyakit yang ditandai dengan pembagian sel yang tidak teratur dan
kemampuan sel-sel ini untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan
langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh
(metastasis). Pertumbuhan yang tidak teratur ini menyebabkan kerusakan DNA, menyebabkan
mutasi di gen vital yang mengontrol pembagian sel, dan fungsi lainnya (Tjakra, Ahmad. 1991).

2. Manifestasi Klinis Osteoma


Umumnya osteoma jarang ditemukan dirongga mulut, dan apabila ditemukan dilaporkan
bahwa lebih banyak menyerang rahang bawah dari pada rahang atas. Ia mempunyai gejala klinik
yang sama seperti perjalanan tumor jinak pada umumnya, Osteoma dapat dapat di identifikasi
pada usia 20 sampai dengan 50 tahun, tetapi bisa juga ditemukan pada usia yang lebih muda atau
bahkan pada usia yang lebih tua. .Multipel osteoma dirahang sama seperti osteoma yang terjadi
di tulang-tulang panjang dan tulang tengkorak.
Adapun gambaran klinik dari osteoma adalah:
o Asymptomatis
o Pertumbuhan lambat, sehingga pasien datang ke dokter sudah dalam keadaan
yang lanjut. Perabaan keras seperti tulang dan bertangkai.
o Tidak nyeri pada tumor.
o Tidak terjadi perubahan pada bentuk wajah kecuali jika lesi tersebut telah meluas
dan membesar .
Osteoma bisa terjadi di mandibula atau maxilla, sepanjang tulang-tulang wajah dan tulang-
tulang tengkorak, juga bisa terdapat dalam sinus-sinus paranasalis. Gejal-gejala yang
menyertainya adalah: sakit kepala, sinusitis yang berulang-ulang keluhan-keluhan opthalmologi.
1. Osteoma Tulang Temporal
Osteoma tulang temporal pada umumnya tanpa gejala, Gejala klinik osteoma tulang temporal
tergantung pada lokasi dan ukuran tumor. Jika pada tulang skuamosa atau mastoid, akan
menimbulkan kelainan bentuk berupa benjolan keras pada retroaurikula, tidak nyeri, dan tumbuh
lambat. Pemeriksaan makroskopis menggambarkan zona yang berbatas tegas dengan hiperostosis
homogen dengan karakteristik pertumbuhan keluar lempeng tulang yang padat, tunggal,
permukaan rata, bertangkai dan tidak infiltratif.
2. Osteoma Sinus Maksilaris
Osteoma pada sinus maksilaris ini tumbuh lambat dan tidak memberikan / menunjukkan gejala
khusus, tetapi dapat menunjukkan gejala juga tergantung pada lokasi dan onset. Pada daerah
anterior, akan menunjukkan deformitas pada wajah. Bila pertumbuhan terus berlanjut, dapat
menyebabkan obstruksi ostium sinus atau cavum nasi yang nantinya dapat menjadi mukokel.
Selain itu akan muncul pula gejala nyeri, bengkak, sinusitis dan hidung berdarah. Jarang
ditemukan osteoma menembus rongga orbita dan menyebabkan diplopia, ptosis, dan penurunan
visus.
3. Osteoma Pada Lingua
Pada banyak kasus jarang didapati gejala, tapi dapat juga ditemukan bahwa pasien mengeluh
tersedak, mual dan sulit makan (disfagia).
4. Multiple Osteoma Pada Kraniofasial
Osteoma biasanya tidak menimbulkan keluhan, tapi tidak jarang juga ditemui pasien yang
mengeluh sakit kepala, invasi dan deformitas orbita, pneumocephalus dengan rhinorrhe dan
meningitis (Haddad et al., 1997). Terapi untuk osteoma ini adalah bedah reseksi dan diulangi
sampai tidak ada sisa lagi.

3. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan Pasien Osteoma


Sebaiknya penanganan (terapi dan evaluasi) kasus osteoma yang membutuhkan koreksi yang
dilakukan oleh:
1. Ahli bedah mulut, karena membutuhkan koreksi akibat perluasan tumor kerongga
mulut.
2. Ahli penyakit THT, bila dibutuhkan koreksi akibat perluasan kerongga hidung
Prognosa
Penatalaksanaan tergantung pada tipe dan fase dari tumor tersebut saat didiagnosis.Tujuan
penatalaksanaan secara umum meliputi pengangkatan tumor, pencegahan amputasi jika
memungkinkan dan pemeliharaan fungsi secara maksimal dari anggota tubuh atau ekstremitas
yang sakit. Penatalaksanaan meliputi :
1. Pembedahan
2. Kemoterapi
3. Radioterapi
4. Terapi kombinasi.
Protokol kemoterapi yang digunakan biasanya meliputi adriamycin (doksorubisin) cytoksan
dosis tinggi (siklofosfamid) atau metrotexate dosis tinggi (MTX) dengan leukovorin. Agen ini
mungkin digunakan secara tersendiri atau dalam kombinasi.Bila terdapat hiperkalsemia,
penanganan meliputi hidrasi dengan pemberian cairan normal intravena, diurelika, mobilisasi
dan obat-obatan seperti fosfat, mitramisin, kalsitonin atau kortikosteroid, (Gale, 1999).
1. Osteoma Tulang Temporal
Penatalaksanaan osteoma pada tulang temporal tergantung pada beberapa faktor seperti ukuran
tumor, mempunyai gejala maka dilakukan tindakan konservatif dengan memantau gejala klinik
dan diikuti dengan pemeriksaan tomografi. Pada kasus yang terdapat gejala neurologi, perluasan
ke struktur yang berdekatan, dan perubahan estetik maka diindikasikan untuk pengangkatan
tumor.
2. Osteoma Sinus Maksilaris
Osteoma pada sinus maksilaris diindikasikan untuk di bedah apabila sudah memenuhi lebih dari
50% rongga sinus, alasan kosmetik, keterbatasan atau kehilangan fungsi. Jadi penatalaksanaan
osteoma pada rongga sinus maksilaris ini adalah dengan mengambil seluruh jaringannya.
3. Osteoma Pada Lingua
Pada osteoma di lidah, diagnosis dapat ditegakkan dengan mengirimkan massa yang sebelumnya
didapatkan dari pemeriksaan fisik ke laboratorium anatomi. Pada kasus osteoma lidah. Pada
osteoma ini, terapi dilakukan dengan bedah eksisi.

4. Multiple Osteoma Pada Kraniofasial


Penatalaksanaan osteoma tergantung pada beberapa faktor seperti ukuran tumor, mempunyai
gejala maka dilakukan tindakan konservatif dengan memantau gejala klinik dan diikuti dengan
pemeriksaan tomografi. Pada kasus yang terdapat gejala neurologi, perluasan ke struktur yang
berdekatan, dan perubahan estetik maka diindikasikan untuk pengangkatan tumor.
Tindakan keperawatan
1. Manajemen nyeri
Teknik manajemen nyeri secara psikologik (teknik relaksasi napas dalam, visualisasi, dan
bimbingan imajinasi ) dan farmakologi ( pemberian analgetika ).

2. Mengajarkan mekanisme koping yang efektif


Motivasi klien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan mereka, dan berikan dukungan
secara moril serta anjurkan keluarga untuk berkonsultasi ke ahli psikologi atau rohaniawan.
3. Memberikan nutrisi yang adekuat
Berkurangnya nafsu makan, mual, muntah sering terjadi sebagai efek samping kemoterapi dan
radiasi, sehingga perlu diberikan nutrisi yang
adekuat. Antiemetika dan teknik relaksasi dapat mengurangi reaksi gastrointestinal. Pemberian
nutrisi parenteral dapat dilakukan sesuai dengan indikasi dokter.
4. Pendidikan kesehatan
Pasien dan keluarga diberikan pendidikan kesehatan tentang kemungkinan terjadinya komplikasi,
program terapi, dan teknik perawatan luka di rumah.
( Smeltzer. 2001: 2350 )

4. Pemeriksaan Diagnostik Osteoma


Diagnosis didasarkan pada riwayat, pemeriksaan fisik, dan penunjang diagnosis seperti CT,
mielogram, asteriografi, MRI, biopsi, dan pemeriksaan biokimia darah dan urine. Pemeriksaan
foto toraks dilakukan sebagai prosedur rutin serta untuk follow-up adanya stasis pada paru-paru.
Fosfatase alkali biasanya meningkat pada sarkoma osteogenik. Hiperkalsemia terjadi pada
kanker tulang metastasis dari payudara, paru, dan ginjal. Gejala hiperkalsemia meliputi
kelemahan otot, keletihan, anoreksia, mual, muntah, poliuria, kejang dan koma. Hiperkalsemia
harus diidentifikasi dan ditangani segera. Biopsi bedah dilakukan untuk identifikasi histologik.
Biopsi harus dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran dan kekambuhan yang terjadi
setelah eksesi tumor. ( Rasjad. 2003 )
1. Osteoma Tulang Temporal
Pemeriksaan penunjang untuk osteoma pada tulang temporal adalah rontgen kranium, tomografi
komputer dan magnetik resonansi. Pada rontgen kranium tampak gambaran radiolusen dengan
kalsifikasi sentral dan dapat meluas keluar dari tulang aslinya. Tomografi komputer merupakan
pemeriksaan untuk diagnosis, dengan rekonstruksi tiga dimensi akan menghasilkan lokasi
anatomi yang lebih baik, ukuran dan rencana pengangkatan tumor. Gambaran osteoma
menunjukkan radiolusen, terbatas pada jaringan tulang dan diliputi oleh bagian sklerotik pada
radioopak. Pencitraan resonansi magnetik berguna untuk melihat inflamasi jaringan di sekitar
lesi.
2. Osteoma Sinus Maksilaris
Untuk pemeriksaan penunjang dapat digunakan CT-scan dan MRI dimana CT akan
menunjukkan massa yang mirip kepadatan tulang kortikal normal. Sedangkan pada MRI dapat
dilihat osteoma gading dan osteoma dewasa.
3. Multiple Osteoma Pada Kraniofasial
Osteoma pada tulang temporal jarang ditemukan dan biasanya terjadi pada wanita yang dalam
suatu kasus didapati osteoma pada telinga bagian tengah. Secara mikroskopik, osteoma di tandai
dengan lamela densa dengan kanalis haversian. Stroma intratrabekular mengandung osteoblas,
fibroblas dan giant sel tanpa sel hemaptopetik (Fenton et al,. 1996).
Sedangkan pada pemeriksaan radiografi, osteoma dapat ditegakkan dengan ct-scan. CT-scan
3D mempunyai visualisasi yang sangat baik untuk melihat osteoma. Potongan aksial dan koronal
menunjukkan lokasi pasti osteoma.
5. Komplikasi Osteoma
Komplikasi operasi dapat terjadi rekuren, paralise nervus fasial, tuli sensorineural,
perdarahan, meningitis, tromboflebitis serta komplikasi oftalmologi terutama pada tumor yang
menutup sinus sigmoid.
Osteoma mempunyai prognosis yang baik. Tumor ini jarang rekuren dan tidak berpotensi
menjadi ganas.
Komplikasi dapat terjadi di luar sinus seperti diplopia, ephipora, dan kebutaan. Pembedahan
osteoma biasanya dapat mengembalikan penglihatan menjadi normal lagi.
Apabila tumor telah bermetastase (menyebar), maka akan dapat menyerang organ tubuh
sekitar sehingga akan terjadi keabnormalan fungsi seluruh organ.
Bagi tumor ganas, akan dapat mengakibatkan kematian yang dikarenakan merusak semua sel
organ tubuh.

6. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Osteoma


Tomi (14 th) adalah murid sekolah sepak bola. Dengan tinggi badan 165cm dengan BB awal
50. Sejak 4 bulan ini timbul bengkak di lutut kanan Tomi dengan BB saat ini 45 kg. Awalnya
tomi jatuh saat main bola. Kemudian timbul pembengkakan diataslututnya dan ditambah
keluhan nyeri saat beraktifitas. Orang tuanya menganggap lutut tomi terkilir, dan dibawa
berurut kedukun .Semakin lama pembengkakan itu semakin besar dan badan semakin kurus.
Melihat keadaan tomi yang semakin memburuk, ayah Tomi membawanya berobat kerumah sakit.
Dokter melakukan pemeriksaan dan mendapat adanya pembengkakan diatas lutut tomi dengan
diameter 20 cm, keras dan terlihat adanya venektasia. Pada pangkal paha kanan belum terdapa
tpembengkakan kelenjar limfe. Dokter menduga tomi menderita tumor ganas tulang, sehingga
dokter memeriksa seluruh tubuh tomi untuk mencari apakah ada metastase ke organ lainnya.
Selanjutnya dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan rontgen paha, lutut dan
dada.Dokter radiologi melihat adanya gambaran sun ray appereance dan codman triangle.
Dokter kemudian merencanakan open biopsy, sehingga nanti bias ditentukan diagnosis dan
penatalaksanaan yang lebih tepat.

1. Data Fokus

Data Subjektif Data Objektif

1. Klien mengatakan sejak 4 1. Kesadaran klien


bulan ini timbul bengkak di lutut composmentis
kanannya. 2. Pada pemeriksaan fisik
2. Klien mengatakan jatuh didapatkan adanya pembengkakan
saat main bola, kemudian timbul diatas lutut klien dengan diameter
pembengkakan diatas lututnya. 20cm, keras dan terlihat adanya
3. Orangtua klien venektasia.
menganggap lutut klien terkilir 3. Pada pemeriksaan
dan dibawa berurut ke dukun. radiologi, terlihat adanya
4. Orangtua klien gambaran sun ray appereance
mengatakan semakin lama dan Codman Triangle
pembengkakan itu semakin besar
dan badan semakin kurus.

Data Tambahan

Data Subjektif Data Objektif

1. Kemungkinan 1. Kemungkinan ditemukan makanan


klien mengatakan nyeri klien hanya setengah porsi yang dihabiskan
pada paha kanannya. 2. Kemungkinan ditemukan keluarga
2. Kemungkinan dan klien terlihat cemas
klien mengatakan sulit 3. Kemungkinan TTV klien:
menggerakkan kaki 0
S : 36 C
kanannya RR : 18 x/m,
3. Kemungkinan N : 80 x/m
klien mengatakan tidak TD : 120/80 mmHg
nafsu makan 4. Onset = terbentur batu
4. Kemungkinan Paliatif = jatuh saat bermain
orangtua klien mengatakan Qualitatif = berat
BB sebelumnya 50kg, BB Region = diatas lutut
sekarang 45 kg. Scala = 8
5. Kemungkinan Time = digerakkan (berjalan & berlari)
orangtua klien mengatakan 5. Pada pemeriksaan fisik
tidak mengetahui tentang kemungkinan ditemukan:
penyakit yang diderita Inspeksi: terdapat tonjolan/pembengkakan
klien, dan cara pada femur dextra
penanganannya. Palpasi: teraba pembengkakan pada femur
6. IMT = 16,53 (N = dextra klien dengan diameter 20cm, massa yang
18 -24) besar, batasnya jelas, dan nyeri jika ditekan.
6. Pada pemeriksaan laboratorium
kemungkinan ditemukan:
Hb: 10 gr/dl
Leukosit: 17.000 ul
LED: meningkat (110mm/jam)
7. Pada pemeriksaan diagnostic
kemungkinan ditemukan:
Gambaran radiologis : Penonjolan seperti
bunga kol (cauliflower), Pedunculated
osteokondroma di bagian distal yang melebar
dengan permukaan berbenjol-benjol(hook
exositosis), memiliki ukuran 10cm.
CT-Scan: tumor berada di ekstraoseus
MRI: tumor berada di ekstraoseus dan
berekspansi ke jaringan lunak.

2. Analisa Data
No Data Diagnosa Etiologi

1. DS: Nyeri Kompresi/destruksi


1. Klien mengatakan sejak 4 jaringan saraf, obstruksi
bulan ini timbul bengkak di lutut jaras saraf atau
kanannya. inflmasi, serta efek
2. Kemungkinan klien samping berbagai agen
mengatakan nyeri pada paha terapi saraf.
kanannya.
3. Kemungkinan klien
mengatakan sulit menggerakkan
kaki kanannya
DO:
1. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan adanya
pembengkakan diatas lutut klien
dengan diameter 20cm, keras dan
terlihat adanya venektasia.
2. Onset = terbentur batu
Paliatif = jatuh saat bermain
Qualitatif = berat
Region = diatas lutut
Scala = 8
Time = digerakkan (berjalan & berlari)

3. Kemungkinan TTV klien:


0
S : 36 C
RR : 18 x/m,
N : 80 x/m
TD : 120/80 mmHg
4. Pada pemeriksaan
diagnostic kemungkinan
ditemukan:
Gambaran radiologis :
Penonjolan seperti bunga kol
(cauliflower), Pedunculated
osteokondroma di bagian distal yang
melebar dengan permukaan berbenjol-
benjol(hook exositosis), memiliki
ukuran 10cm.
CT-Scan: tumor berada di
ekstraoseus
MRI: tumor berada di
ekstraoseus dan berekspansi ke jaringan
lunak.

2. DS: Hambatan Penurunan rentang


1. Klien mengatakan sejak 4 mobilitas gerak, deformitas
bulan ini timbul bengkak di lutut fisik skeletal,
kanannya. nyeri/ketidaknyamanan,
2. Klien mengatakan jatuh intoleransi terhadap
saat main bola, kemudian timbul aktifitas atau penurunan
pembengkakan diatas lututnya. kekuatan otot
3. Kemungkinan klien
mengatakan nyeri pada paha
kanannya.
4. Kemungkinan klien
mengatakan sulit menggerakkan
kaki kanannya
DO:
1. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan adanya
pembengkakan diatas lutut klien
dengan diameter 20cm, keras dan
terlihat adanya venektasia.
2. Kemungkinan TTV klien:
S : 360 C
RR : 18 x/m,
N : 80 x/m
TD : 120/80 mmHg
3. Pada pemeriksaan
diagnostic kemungkinan
ditemukan:
Gambaran radiologis :
Penonjolan seperti bunga kol
(cauliflower), Pedunculated
osteokondroma di bagian distal yang
melebar dengan permukaan berbenjol-
benjol(hook exositosis), memiliki
ukuran 10cm.
CT-Scan: tumor berada di
ekstraoseus
MRI: tumor berada di
ekstraoseus dan berekspansi ke jaringan
lunak.

3. DS: Resiko Status hipermetabolik,


1. Orangtua klien ketidak kemoterapi, radiasi,
mengatakan semakin lama seimbangan pembedahan, distress
pembengkakan itu semakin besar nutrisi: emosional, keletihan,
dan badan semakin kurus. kurang dari atau control nyeri
2. Kemungkinan klien kebutuhan buruk.
mengatakan tidak nafsu makan tubuh
3. Kemungkinan orangtua
klien mengatakan BB
sebelumnya 55 kg, BB sekarang
50 kg.
DO:
1. Kemungkinan ditemukan
makanan klien hanya setengah
porsi yang dihabiskan
2. Kemungkinan ditemukan
keluarga dan klien terlihat cemas
3. Kemungkinan TTV klien:
S : 360 C
RR : 18 x/m,
N : 80 x/m
TD : 120/80 mmHg
IMT =
4. Pada pemeriksaan
laboratorium kemungkinan
ditemukan:
Hb: 10 gr/dl
Leukosit: 17.000 ul
LED: meningkat (110mm/jam)

4. DS: Kurang Salah persepsi, kurang


1. Orangtua klien pengetahuan informasi.
menganggap lutut klien terkilir dan
dan dibawa berurut ke dukun. informasi
2. Orangtua klien
mengatakan semakin lama
pembengkakan itu semakin besar
dan badan semakin kurus.
3. Kemungkinan orangtua
klien mengatakan tidak
mengetahui tentang penyakit
yang diderita klien, dan cara
penanganannya.
DO:
1. Kemungkinan ditemukan
keluarga dan klien terlihat cemas
2. Kemungkinan TTV klien:
0
S : 36 C
RR : 18 x/m,
N : 80 x/m
TD : 120/80 mmHg

2. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri b.d kompresi/destruksi jaringan saraf, obstruksi jaras saraf atau inflmasi,
serta efek samping berbagai agen terapi saraf.
2. Hambatan mobilitas fisik b.d penurunan rentang gerak, deformitas skeletal,
nyeri/ketidaknyamanan, intoleransi terhadap aktifitas atau penurunan kekuatan otot.
3. Resiko ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d status
hipermetabolik, kemoterapi, radiasi, pembedahan, distress emosional, keletihan, atau
control nyeri buruk.
4. Kurang pengetahuan dan informasi b.d salah persepsi, kurang informasi.

2. Intervensi
1. Dx. Kep 1 : Nyeri b.d kompresi/destruksi jaringan saraf,
obstruksi jaras saraf atau inflmasi, serta efek samping berbagai agen
terapi saraf.
Intervensi Rasional

Mandiri :
1. Kaji nyeri, missal lokasi 1. Informasi memberikan data
nyeri, frekuensi, durasi, dasar untuk mengevaluasi
dan intensitas (skala 1-10), serta kebutuhan / keefektifanintervensi.
tindakan penghilang nyeri yang
digunakan.
2. Ketidaknyamanan adalah
2. Evaluasi terapi tertentu umum, (misal nyeri insisi, kulit
missal pembedahan, radiasi, tebakar, nteri punggung bawah,
kemoterapi, bioterapi. Ajarkan sakit kepala), tergantung pada
pada klien /orang terdekat apa prosedur yang digunakan.
yang diharapkan.
3. Meningkatkan relaksasi
dan membantu memfokuskan
3. Tingkat kenyamanan kemabli perhatian.
dasar (missal teknik relaksasi,
visualisasi, bimbingan
imajinasi) dan aktivitas hiburan 4. Memungkinkan klien untuk
(missal music, televisi). berpartisipasi secara aktif dan
meningkatkan rasa control.
4. Dorong penggunan
keterampilan manajemen nyeri
(missal teknik relaksasi
visualisasi, bimbingan 5. Tujuannya adalah control
imajinasi), tertawa, music, dan rasa nyeri maksimum dengan
sentuhan terapeutik. pengaruh minimum pada aktivitas
kegiatan sehari-hari.
5. Evaluasi penghilang
nyeri/control.
1. Rencana terorganisasi
mengembangkankesempatan untuk
control nyeri. Teritama dengan
nyeri kronis, klien/orang terdekat
Kolaborasi harus aktif menjadi partisipan
1. Kembangkan rncana dalam manajemen nyeri dirumah.
manajemen nyeri bersama klien
dengan tim medis. 2. Nyeri adalah komplikasi
tersering dari kanker, meskipun
respon indivvidu berbeda. Saat
perubahan penyakit/pengobatan
terjadi penilaian dosis dan
2. Berikan analgesic sesuai pemberian akan dilakukan.
dengan indikasi, missal morfin, (catatan: adiksi atau
metadon, atau campuran ketergantungan pada obat bukan
narkotik IV khusus. Pastikan masalah).
hal tersebut hanya untuk
memberikan analgesic dalam 3. Analgesic di control klien
sehari. Ganti dari analgesic sehingga pemebrian oabt tepat
kerja pendek menjadi kerja waktu, mecegah fluktuasi pada
panjang bila ada indikasi. intensitas nyeri. Sering diberikan
dengan dosis total rendah melalui
3. Berikan/instruksikan metode konensional.
penggunaanPatient Controlled
Analgesia (PCA) dengan tepat. 4. Munggkin digunakan pada
nyeri berat yang tidak berespon
pada tindakan lain.

4. Siapkan/bantu prosedur,
missal blok saraf, kordotomi,
dan mieolotomi komisura.
2. Dx Kep 2 : Hambatan mobilitas fisik b.d penurunan rentang
gerak, deformitas skeletal, nyeri/ketidaknyamanan, intoleransi
terhadap aktifitas atau penurunan kekuatan otot.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam, diharapkan mobilisasi klien
membaik
KH : Klien mampu:
Mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya/ pembatasan kontraktur.
Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari dan/ atau kompensasi
bagian tubuh.
Mendemonstrasikan tehnik/ perilaku yang memungkinkan melakukan aktivitas
Intervensi
1. Evaluasi/ lanjutkan pemantauan tingkat inflamasi/ rasa sakit pada sendi
R : Tingkat aktivitas/ latihan tergantung dari perkembangan/ resolusi dari peoses inflamasi
2. Pertahankan istirahat tirah baring/ duduk jika diperlukan jadwal aktivitas untuk
memberikan periode istirahat yang terus menerus dan tidur malam hari yang tidak
terganmggu.
R : Istirahat sistemik dianjurkan selama eksaserbasi akut dan seluruh fase penyakit yang penting
untuk mencegah kelelahan mempertahankan kekuatan
3. Bantu dengan rentang gerak aktif/pasif, demikiqan juga latihan resistif dan
isometris jika memungkinkan
R : Mempertahankan/ meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina umum. Catatan :
latihan tidak adekuat menimbulkan kekakuan sendi, karenanya aktivitas yang berlebihan dapat
merusak sendi
4. Ubah posisi dengan sering dengan jumlah personel cukup. Demonstrasikan/ bantu
tehnik pemindahan dan penggunaan bantuan mobilitas, mis, trapeze
R : Menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi. Mempermudah perawatan
diri dan kemandirian pasien. Tehnik pemindahan yang tepat dapat mencegah robekan abrasi kulit
5. Posisikan dengan bantal, kantung pasir, gulungan trokanter, bebat, brace
R: Meningkatkan stabilitas ( mengurangi resiko cidera ) dan memerptahankan posisi sendi yang
diperlukan dan kesejajaran tubuh, mengurangi kontraktor)
6. Gunakan bantal kecil/tipis di bawah leher.
R : Mencegah fleksi leher
7. Dorong pasien mempertahankan postur tegak dan duduk tinggi, berdiri, dan
berjalan
R : Memaksimalkan fungsi sendi dan mempertahankan mobilitas
8. Berikan lingkungan yang aman, misalnya menaikkan kursi, menggunakan
pegangan tangga pada toilet, penggunaan kursi roda.
R : Menghindari cidera akibat kecelakaan/ jatuh
9. Kolaborasi: konsul dengan fisoterapi.
R : Berguna dalam memformulasikan program latihan/ aktivitas yang berdasarkan pada
kebutuhan individual dan dalam mengidentifikasikan alat
10. Kolaborasi: Berikan matras busa/ pengubah tekanan.
R : Menurunkan tekanan pada jaringan yang mudah pecah untuk mengurangi risiko imobilitas)
11. Kolaborasi: berikan obat-obatan sesuai indikasi (steroid).
R : Mungkin dibutuhkan untuk menekan sistem inflamasi akut.

3. Dx Kep 3 : Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh bd status


hipermetabolik, konsekuensi ; kemoterapi, radiasi, pembedahan;
distress emosional, keletihan atau control nyeri buruk.
Intervensi Rasional

Mandiri
1. Pantau intake makanan 1. Mengidentifikasi
setap hari, biarkan klien kekuatan/defisiensi nutrisi.
menyimpan buku harian tentang
makanan sesuai indikasi
2. Membantu dalam
2. Ukur tinggu badan (TB), identifikasi malnutisi protein-
berat badan (BB), dan ketebalan kalori, khususnya bila BB dan
lipatan kulit triseps atau dengan pengukuran antropometrik
antropometrik lainnya. Pastikan kurang dari normal.
jumlah penurunan BB saat ini.
3. Kebutuahan metabolic
3. Dorong klien untuk jaringgan ditingkatkan, begitu
makan diet tinggi kalori kaya juga cairan (untuk
nutrient, dengan intake cairan menghilangkan produk sisa).
yang adekuat. Dorong Suplemen berguna untuk
penggunaan suplemen dan makan mempertahankan masukan
sedikit tapi sering. kalori dan protein.

4. Mual/muntah
4. Identifikasi klien yang psikogenik terjadi sebelum
mengalami anoreksia kemoterapi mulai, secara
mual/muntah yang diantisipasi. umum tidak berespon
terhadap obat antiemetic.
Perubahan lingkungan
pengobatan atau rutintas klien
pada malam hari pengobatan
mungkin efektif.
5. Ciptakan suasana makan
malam yang menyenangkan, 5. Membuat waktu
dorong klien untuk berbagi makan lebih menyenangkan,
makanan dengan keluarga/teman. yang dapat meningkatkan
masukan.
Kolaborasi
1. Tinjau tulang
pemeriksaan laboratorium sesuai
indikasi, missal jumlah limfosit 1. Membantu
total, tranferin serum dan mengidentifikasi derajat
albumin. ketidakseimbangan
biokimia/malnutrisi dan
memengaruhi
2. Berikan obat-obat sesuai pemilihan intervensi diet.
indikasi:
Fenotiazin, misal proklorperazin 2. Obat-oabt sesuai
(compazine), tietilperazine (torecan), indikasi:
antidopaminergik, missal Umumnya antiemetic bekerja
metoklorpramid (reglan), ondensetron untuk memengaruhi stimulasi pusat
(zofran). muntah dan kemoreseptor
Vitamin, khususnya A,D, E, dan mentringeragen, juga bertindak secara
B6. perifer untuk mengahmbat peristaltic.
Mencegah kekurangan
karenan penurunan absorpsi vitamin
larut dalam lemak. Defisiensi B6dapat
memperberat/mengeksaserbasi
depresi, peka rangsang.

4. Dx Kep 4 : Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar tentang


penyekit, prognosis, dan kebutuhan perawatan) bd kurang informasi,
salah interpreatsi informasi, mitos, tidak mengenal sumber informasi
atau keterbatasan kognitif.
Intervensi Rasional

Mandiri
1. Tinjau ulang dengan 1. Memvalisasi tingkat
klien/orang terdekat tentang pemahaman saat ini,
pemahaman diagnosis, mengidentifikasi kebutuhan
alternative penobatan dan sifat belajar, dan memberikan dasar
harapan. pengetahuan diaman kliem
membuat keputusan berdasarkan
informasi.
2. Tentukan persepsi klen
tentang kanker dan pengobatan 2. Membantu identifikasi
kanker, tanyakan pengalaman ide, sikap, rasa takut, kesalahan
sebelum/sesudah menderita konsepsi, dan kesenjangan
kanker atau pengalaman orang pengetahuan tentang kanker.
lain tentang kanker.

3. Berika materi tertulis


tentang kanker, pengobatan, 3. Ansietas dan berpikir
dan ketersediaan system terus-menerus dengan pikiran
pendukung. tentang kehidupan dan kematian
sering memengaruhi kemampuan
klien untuk mengasimilasi
informasi adekuat. Materi tertulis,
yang dibawa pulang e,berikan
penguatan dan klarifikasi tentang
informasi sesuai kebutuhan klien.

4. Tinjau ulang aturan 4. Meningkatkan


pengobatan khusus dan kemampuan untuk mengatur
penggunaan obat yang dijual perawatan diri dan menghindari
bebas. resiko komplikasi, reaksi/interaksi
obat.

5. Rujuk pada sumber- 5. Meningkatkan


sumber komunitas sesuai kemampuan perawatan mandiri
indikasi, missal pelayanan dan kemadirian optimal.
social (bila ada). Mempertahankan klien dalam
situasi yang diinginkan/dirumah.

6. Meningkatkan
6. Tinjau ulang bersama kesejahteraan, memudahkan
klienorang terdekat pentingnya pemulihan, dan memungkinkan
mempertahankan status nutrisi klien menoleransi pengobatan.
optimal.
7. Identifikasi dini dan
7. Tinjau tanda dan pengobatan dapat membatasi
gejala, kebutuhan evaluasi beratnya komplikasi.
medis, missal infeksi,
perlambatan penyembuhan,
reaksi obat, peningkatan nyeri.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol. 3. Edisi 8. Jakarta: EGC.
Carpenito, J.L. 1999. Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan Edisi 2 (terjemahan). Jakarta:
EGC.
Corwin, Elizabeth J. 2007. Buku Saku Patofisiologi. Edisi 3 Revisi. Jakarta: EGC.
Doenges, Marilynn E. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC.
Jong D. W. (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. Jakarta : EGC
Lukman & Nurna Ningsih.. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta : Salemba
Medika
Mutaqqin, Arif. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal.
Jakarta : EGC.
NANDA International. Diagnosis Keperawatan. 2011. Jakarta: EGC.
Price, Sylvia A. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi 6. Volume 2. Jakarta:
EGC
Schrock, Theodore. (1996). Ilmu Bedah Edisi VII.. Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzanne c. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah vol.3. Jakarta : EGC
Syaifudin. Anatomi Fisiologi. Jakarta: EGC
Tambayong, Jan. (2002). Patofisiologi. Jakarta: EGC
Wilkinson, Judith M. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Dengan Intervensi NIC dan Kriteria
hasil NOC. Edisi 7. Jakarta: EGC.