Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan pasien
dan peran perawat dalam upaya penyembuhan pasien menjadi sangat penting.
Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien.
Termasuk salah satunya dalam perawatan pasien saat pre operasi. Perawatan pre
operasi dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir
saat pasien dikirim ke meja operasi. Perawatan pre operasi yang efektif dapat
mengurangi resiko post operasi, salah satu prioritas keperawatan pada periode ini
adalah mengurangi kecemasan pasien.
Pasien pra operasi juga dapat mengalami berbagai kecemasan, terutama
kecemasan terhadap anestesi, nyeri, sesuatu yang buruk akan terjadi dan kematian,
rasa takut/khawatir, ancaman lain terhadap citra tubuh dapat timbul karena ketidak
tahuan pasien. Selain ketakutan-ketakutan di atas pasien sering mengalami
kekhawatiran masalah finansial, tanggung jawab terhadap keluarga dan kewajiban
dalam pekerjaan yang ditinggalkan selama operasi. Hal tersebut dapat
menyebabakan kecemasan pada pasien. Individu yang akan menjalani pembedahan
akan menerima anastesi terlebih dahulu baik anastesi umum, regional (spinal dan
epidural), atau lokal tergantung jenis pembedahan apa yang akan dijalaninya
(Potter & Perry, 2006).
Anastesi adalah suatu keadaan narkosis, analgesia, relaksasi dan hilangnya
refleks. Anastesi umum biasanya digunakan pada prosedur bedah mayor yang
umumnya diberikan melalui jalur IV dan inhalasi, sedangkan anastesi regional
(spinal dan epidural) diberikan dengan cara menyuntikkan agen/ obat anastetik
disekitar saraf, dan anastesi lokal biasanya digunakan dalam prosedur minor
(Smeltzer & Bare, 2008). Anestesi regional saat ini semakin berkembang dan
makin luas pemakaiannya dibidang anestesi. Mengingat berbagai keuntungan yang
ditawarkan, di antaranya relatif murah, pengaruh sistemik yang minimal,
menghasilkan analgesia yang adekuat dan kemampuan mencegah respon stress
secara lebih sempurna. Anestesi regional khususnya anestesi spinal telah digunakan
secara luas lebih dari seratus tahun dan teknik ini dapat digunakan untuk prosedur
pembedahan daerah abdomen bagian bawah, daerah perineum dan ekstremitas
bawah. Anestesi spinal dilakukan dengan cara menyuntikkan obat anestesi lokal ke
dalam ruang subaraknoid untuk mendapatkan analgesia setinggi dermatom tertentu
sesuai yang diinginkan.
Operasi yang dilakukan di Rumah Sakit Wava husada dimulai januari 2015
sampai juli 2016 sebanyak 4.928 operasi. Pada tahun 2015 sebanyak dimana 80,8%
menggunakan anestesi regional dan sisanya 19,2% menggunakan anestesi lokal dan
general. Sedangkan pada tahun 2016 mulai bulan januari sampai juli dimana
sebanyak 81,6% menggunakan anestesi regional dan sisanya 18,4% menggunakan
anestesi lokal dan general. Anestesi regional yang digunakan adalah anestesi spinal

1
2

(SAB). Dari data pengkajian pra bedah yang dilakukan kepada pasien yang akan
melakukan operasi dengan anastesi regional ditemukan bahwa mereka mengalami
kecemasan yang disebabkan karena: 1) pembiusannya diinjeksi di punggung dan
hanya separuh badan serta masih bisa sadar dalam proses pembedahan, 2) belum
pernah melakukan pembedahan sebelumnya, 3) operasinya tidak lancar.
Operasi dapat menimbulkan kecemasan baik bagi pasien maupun keluarga
sehingga perawat dan tenaga kesehatan lain perlu memberi perhatian pada upaya
mengurangi kecemasan sekaligus menurunkan resiko operasi yang dapat timbul.
Persiapan pra operasi penting sekali untuk memperkecil resiko operasi, karena hasil
akhir suatu pembedahan sangat bergantung pada penilaian keadaan penderita dan
persiapan pra operasi yang telah dilakukan. Dari jurnal (C. Soltner, 2011)
mengatakan bahwa kunjungan dokter atau asisten anestesi sebelum operasi secara
signifikan mengurangi kecemasan pasien dibandingkan dengan mereka yang hanya
bertemu di kamar operasi.
Salah satu cara untuk mengurangi kecemasan bisa dilakukan dengan musik.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Aizid Rizem (2011) telah membuktikan
bahwa musik klasik dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit dan
meningkatkan kecerdasan, terutama bagi janin dan anak usia balita. Dalam hal ini,
salah satu contoh musik yang telah dipercaya dan terbukti kebenarannya adalah
musik Mozart. Musik klasik karya musisi Wolfgang Amadeus Mozart ini telah
dikenal sebagai musik yang mencerdaskan dan menyehatkan. Tidak hanya itu, para
ahli telah merekomendasikan musik Mozart bagi para ibu hamil supaya anak
mereka lahir dan tumbuh menjadi anak yang cerdas.
Sementara ini belum ada terapi musik yang digunakan di Rumah Sakit Wava
Husada, hanya menggunakan tehnik relaksasi dan distraksi saja. Berdasarkan
uraian di atas dan melihat keadaan yang terjadi di lokasi penelitian maka kami
mengambil penelitian dengan judul Pengaruh Pemberian Terapi Musik Terhadap
Tingkat Kecemasan Pasien Yang Akan Menjalani Prosedur Anestesi Subarachnoid
Block di RS. Wava Husada Kepanjen Kabupaten Malang.

1.2 Rumusan Masalah


Bardasarkan uraian di atas, maka yang menjadi perumusan masalah dalam
penelitian ini adalah :
1. Bagaimana tingkat kecemasan pasien yang akan menjalani prosedur anestesi
subarachnoid block sebelum diberikan terapi musik klasik di RS. Wava Husada
Kepanjen Kabupaten Malang.
2. Bagaimana tingkat kecemasan pasien yang akan menjalani prosedur anestesi
subarachnoid block setelah diberikan terapi musik klasik di RS. Wava Husada
Kepanjen Kabupaten Malang.
3. Pengaruh pemberian terapi musik terhadap tingkat kecemasan pasien yang akan
menjalani prosedur anestesi subarachnoid block di RS. Wava Husada
Kepanjen Kabupaten Malang.
3

1.3 Tujuan Penelitian


1.2.1 Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk melihat adakah pengaruh pemberian
terapi musik klasik terhadap tingkat kecemasan pasien yang akan menjalani
prosedur anestesi subarachnoid block di RS. Wava Husada Kepanjen
Kabupaten Malang.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui tingkat kecemasan pasien yang akan menjalani prosedur
anestesi subarachnoid block sebelum diberikan terapi musik klasik di RS.
Wava Husada Kepanjen Kabupaten Malang.
2. Mengetahui tingkat kecemasan pasien yang akan menjalani prosedur
anestesi subarachnoid block setelah diberikan terapi musik klasik di RS.
Wava Husada Kepanjen Kabupaten Malang.
3. Untuk menganalisa pengaruh pemberian terapi musik terhadap tingkat
kecemasan pasien yang akan menjalani prosedur anestesi subarachnoid
block di RS. Wava Husada Kepanjen Kabupaten Malang.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Bagi Peneliti
Untuk meningkatkan pengetahuan peneliti dan dapat memberikan
informasi mengenai hubungan antara pemberian terapi musik klasik
terhadap tingkat kecemasan pasien yang akan menjalani prosedur anestesi
subarachnoid block.
1.4.2 Bagi Pihak Pemerintah (Dinas Kesehatan)
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan terhadap pihak
pemerintah sehingga bisa mengeluarkan kebijakan terkait pemberian terapi
musik klasik bagi pasien untuk lebih mengurangi tingkat kecemasannya.
Kebijakan tersebut nantinya bisa diterrapkan di seluruh Rumah Sakit yang
berada di kota dan kabupaten Malang.
1.4.3 Bagi Perawat Bedah dan Perawat Anestesi
Sebagai acuan bahwa masyarakat pasien yang akan menjalani prosedur
anestesi subarachnoid block di RS. Wava Husada Kepanjen Kabupaten
Malang membutuhkan berberapa terapi khususnya terapi musik klasik
untuk mengurangi tingkat kecemasannya. Perawat bedah unit Kamar
Operasi Rumah Sakit Wava Husada diharapkan dapat berperan sebagai
pelaksana, pendidik, andministrator, pembaharu dan konselor untuk
mengurangi tingkat kecemasan pasien.
1.4.4 Bagi Responden atau Pasien Yang Akan Menjalani Prosedur Operasi
Sebagai hiburan dan relaksasi sebelum melakukan tindakan anestesi
subarachnoid block. Dan diharapkan tingkat kecemasan pasien akan
berkurang.