Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH TEKNOLOGI BAHAN

ASPAL

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Teknologi Bahan


Dosen Pembimbing: Eva Azhra Latifa, ST, MT.

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 6
1. 4115110027 ANSELLIA SEPTARINI
2. 411511000 ARIF YAKUS MAHADI
3. 411511000 IRVANDY YERMAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL D4 KONSENTRASI JALAN TOL


POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME, karena atas berkat dan
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu dan
semaksimal mungkin.
Dalam makalah ini penulis membahas Aspal, suatu bahan bentuk padat atau
setengah padat berwarna hitam sampai coklat gelap, bersifat perekat (cementitious)
yang akan melembek dan meleleh bila dipanasi, tersusun terutama dari sebagian besar
bitumen yang kesemuanya terdapat dalam bentuk padat atau setengah padat dari alam
atau dari hasil pemurnian minyak bumi, atau merupakan campuran dari bahan
bitumen dengan minyak bumi atau derivatnya.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mahasiswa yang
mengikuti mata kuliah Teknologi Bahan serta untuk memperdalam wawasan
mahasiswa mengenai aspal dan penggunaannya dalam bidang teknik sipil.
Makalah ini tidak mungkin dapat kami selesaikan tampa bimbingan dari Ibu
Eva Azhara, selaku dosen mata kuliah Teknologi Bahan. Untuk itu kami
mengucapkan terima kasih kepada Ibu Eva. Penulis juga mengucapkan terima kasih
kepada rekan-rekan 1-JT yang senantiasa memberikan dukungannya sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah ini.
Demikian yang dapat penulis sampaikan. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi para pembacanya. Atas perhatiannya penulis ucapkan terima kasih.

Depok, 2 Mei 2016

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Landasan Teori


Menurut Spesifikasi Khusus Interim yang mengatur tentang tata cara
Pengerjaan beton tembak (shotcrete). Mengacu pada ilmu beton yang di khususkan
menjadi beton shotcrete.

1.2 Manfaat
a. Dapat menambah ilmu pengetahuan dan pemahaman mengenai aspal
b. Mengetahui jenis-jenis aspal dan pemanfaatan sesuai fungsinya
c. Memberikan informasi tentang perkembangan aspal
d. Mengetahui cara-cara pengujian aspal

1.3 Tujuan Pembelajaran


Makalah ini bertujuan untuk menambah wawasan para pembaca, khususnya
para mahasiswa prodi Perancangan Jalan dan Jembatan Konsentrasi Jalan Tol,
jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Jakarta, agar dapat menerapkan ilmu
pengetahuan yang di dapat dalam praktek kerja di lapangan serta dapat menerapkan
model pembelajaran kooperatif yang sesuai dengan tingkat perkembangan mahasiswa
dan materi pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Aspal


Bitumen adalah zat perekat (cementitious) berwarna hitam atau gelap, yang dapat
diperoleh di alam ataupun sebagai hasil produksi. Bitumen terutama mengandung
senyawa hidrokarbon seperti aspal, tar, atau pitch
Aspal adalah suatu bahan bentuk padat atau setengah padat berwarna hitam
sampai coklat gelap, bersifat perekat (cementitious) yang akan melembek dan meleleh
bila dipanasi, tersusun terutama dari sebagian besar bitumen yang kesemuanya
terdapat dalam bentuk padat atau setengah padat dari alam atau dari hasil pemurnian
minyak bumi, atau merupakan campuran dari bahan bitumen dengan minyak bumi
atau derivatnya
Tar adalah material berwarna coklat atau hitam, berbentuk cair atau semi
padat, dengan unsur utama bitumen sebagai hasil konsedat dalam destilasi destruktif
dari batubara, minyak bumi, atau material organik lainnya.
Pitch didefinisikan sebagai material perekat (cementitious) padat , berwarna
hitam atau coklat tua, yang berbentuk cair jika dipanaskan. Pitch diperoleh sebagai
residu dari destilasi fraksional tar. Tar dan pitch tidak diperoleh di alam, tetapi
merupakan produk kimiawi.
Dari ketiga material pengikat di atas, aspal merupakan material yang umum
digunakan untuk bahan pengikat agregat, oleh karena itu seringkali bitumen disebut
pula sebagai aspal.
Aspal merupakan bahan perekat termoplastis, yaitu pada suhu ruang bersifat
keras atau padat tetapi akan menjadi plastis atau encer apabila temperaturnya
dinaikkan, dan akan menjadi keras kembali apabila suhunya diturunkan.

2.2 Jenis Aspal


Berdasarkan sumbernya, aspal dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu aspal
alam dan aspal buatan (aspal minyak). Aspal alam yaitu aspal yang didapat secara
langsung dari alam, dan dapat dipakai langsung atau diolah terlebih dahulu,
sedangkan aspal minyak adalah aspal hasil sampingan yang merupakan residu dari
pengilangan minyak bumi.
1.Aspal Alam
Aspal alam sumbernya ada yang berasal dari gunung seperti aspal di Pulau
Buton, dan ada pula yang diperoleh di danau seperti di Trinidad. Aspal alam terbesar
di dunia terdapat di Trinidad, berupa aspal danau (Trinidad Lake Aspalt).
Indonesia memiliki sumber aspal alam di Pulau Buton, yang berupa aspal gunung,
terkenal dengan nama Asbuton. Asbuton merupakan campuran antara bitumen dengan
bahan mineral lainnya dalam bentuk batuan. Karena asbuton merupakan material
yang ditemukan begitu saja di alam, maka kadar bitumen yang dikandungnya sangat
bervariasi dari rendah sampai tinggi. Produk asbuton dapat dibagi menjadi dua
kelompok yaitu :
1) Produk asbuton yang masih mengandung material filler, seperti asbuton
kasar,asbuton halus,asbuton mikro, dan butonite mastik asphalt.
2) Produk asbuton yang telah dimurnikan menjadi aspal murni melalui proses
ekstrasi atau proses kimiawi
2.Aspal Minyak

Aspal minyak adalah aspal yang merupakan residu destilasi minyak bumi.
Setiap minyak bumi dapat menghasilkan residu jenis asphaltic base crude oil yang
banyak mengandung aspal, parafin base crude oil yang banyak mengandung paraffin,
atau mixed base crude oil yang mengandung campuran antara paraffin dan aspal.
Untuk perkerasan jalan umumnya digunakan aspal minyak jenis asphaltic base crude
oil.
Gambar di bawah ini memberikan ilustrasi tentang proses destilasi minyak
bumi. Bensin (gasoline), minyak tanah (kerosene), dan solar (minyak diesel)
merupakan hasil destilasi pada temperatur yang berbeda-beda, sedangkan aspal
merupakan residunya. Residu aspal berbentuk padat, tetapi melalui pengolahan hasil
residu ini dapat pula berbentuk cair atau emulsi pada pada temperatur ruang. Jadi, jika
dilihat bentuknya pada temperatur ruang, maka aspal dibedakan atas aspal padat,
aspal cair, dan aspal amulsi.
Aspal padat adalah aspal yang berbentuk padat atau semi padat pada suhu
ruang dan menjadi cair jika dipanaskan. Aspal padat dikenal juga dengan nama aspal
keras (asphalt cement). Oleh karena aspal keras bentuknya padat atau keras maka
dalam pemakainnya harus dipanaskan terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai
bahan pengikat agregat.
Aspal cair (cut back asphalt) yaitu aspal yang berbentuk cair pada suhu
ruang. Aspal cair merupakan aspal keras yang dicairkan dengan bahan pencair dari
hasil penyulingan minyak bumi seperti minyak tanah, bensin, atau solar. Bahan
pencair membedakan aspal cair menjadi :
a) Rapid curing cut back asphalt (RC), yaitu aspal cair dengan bahan
pencair bensin. RC merupakan aspal cair yang paling cepat menguap.
b) Medium curing cut back asphalt (MC), yaitu aspal cair dengan bahan
pencair minyak tanah (kerosene).
c) Slow curing cut back asphalt (SC), yaitu aspal cair dengan bahan
pencair solar (minyak diesel). SC merupakan aspal cair yang paling
lambat menguap.
Aspal emulsi (emulsified asphalt) adalah suatu campuran aspal dengan air dan
bahan pengemulsi, yang dilakukan di pabrik pencampur. Aspal emulsi ini lebih cair
daripada aspal cair. Di dalam aspal emulsi, butir-butir aspal larut dalam air. Untuk
menghindari butiran aspal saling menarik membentuk butir-butir yang lebih besar,
maka butiran tersebut diberi muatan listrik.

Emulsifer
Agent

Air Aspal

Aspal Emulsi Bersifat


koloid
buatan
(suspensi)

Berdasarkan muatan listrik yang dikandungnya, aspal emulsi dapat dibedakan


atas
a) Aspal kationik disebut juga aspal emulsi asam, merupakan aspal emulsi yang
butiran aspalnya bermuatan arus listrik positip.
b) Aspal anionik disebut juga aspal emulsi alkali, merupakan aspal emulsi yang
butiran aspalnya bermuatan negatif.
c) Aspal Nonionik merupakan aspal emulsi yang tidak mengalami ionisasi,
berarti aspal emulsi tersebut tidak bermuatan.
Berdasarkan kecepatan mengerasnya, aspal emulsi dapat dibedakan atas :
a) Rapid Setting (RS), aspal yang mengandung sedikit bahan pengemulsi
sehingga pengikatan yang terjadi cepat, dan aspal cepat menjadi padat atau
keras kembali.
b) Medium Setting (MS)
c) Slow Setting (SS), jenis aspal emulsi yang paling lambat mengeras.
2.3 Fungsi Aspal Sebagai Material Perkerasan Jalan

Aspal yang digunakan sebagai material perkerasan jalan berfungsi sebagai


berikut:
1. Bahan pengikat, memberikan ikatan yang kuat antara aspal dan agregat dan
antara sesama aspal
2. Bahan Pengisi, mengisi rongga antar butir agregat dan pori-pori yang ada
dalam butir agregat itu sendiri.
Untuk dapat memenuhi fungsi aspal itu dengan baik, maka aspal haruslah
memiliki sifat adhesi dan kohesi yang baik, serta pada saat dilaksanakan mempunyai
tingkat kekentalan tertentu.
Penggunaan aspal pada perkerasan jalan dapat melalui dicampurkan pada
agregat sebelum dihamparkan (prahampar), seperti lapisan beton aspal atau
disiramkan pada lapisan agregat yang telah dipadatkan dan ditutupi oleh agregat yang
lebih halus (pascahampar), seperti perkerasan penetrasi makadam atau pelaburan.
Fungsi utama aspal untuk kedua jenis pembentukan perkerasan yaitu
perkerasan pencampuran prahampar dan pascahampar itu berbeda. Pada proses
prahampar aspal yang dicampurkan dengan agregat akan membungkus atau
menyelimuti butir-butir agregat, mengisi pori antar butir, dan meresap ke dalam pori
masing-masing butir.
Pada proses pasca hampar, aspal disiramkan pada lapisan agregat yang telah
dipadatkan, lalu diatasnya ditaburi butiran agregat halus. Pada proses ini aspal akan
meresap ke dalam pori-pori antar butir agregat dibawahnya. Fungsi utamanya adalah
menghasikan lapisan perkerasan bagian atas yang kedap air dan tidak mengikat
agregat sampai ke bagian bawah.

Ilustrasi tentang fungsi aspal untuk setiap butir agregat digambarkan pada
Ilustrasi fungsi aspal pada lapisan perkerasan prahampar dan pasca hampar

Sketsa perbedaan fungsi aspal pada lapisan perkerasan jalan (Silvia Herman)

Dengan adanya aspal dalam campuran diharapkan diperoleh lapisan


perkerasan yang kedap air sehingga mampu melayani arus lalu lintas selama masa
pelayanan jalan. Oleh karena itu aspal haruslah mempunyai daya tahan (tidak cepat
rapuh) terhadap cuaca, dan mempunyai sifat adhesi dan kohesi yang baik.

2.4 Pengertian Aspal Beton (Hot Mix Asphalt)

Aspal Beton (Hotmix) adalah campuran agregat kasar, agregat halus, dan bahan
pengisi ( Filler ) dengan bahan pengikat aspal dalam kondisi suhu tinggi (panas)
dengan komposisi yang diteliti dan diatur oleh spesifikasi teknis.

Campuran aspal panas adalah suatu campuran perkerasan jalan lentur yang terdiri
dari agregat kasar, agregat halus, filler, dan bahan pengikat aspal dengan
perbandingan-perbandingan tertentu dan dicampurkan dalam kondisi panas. Di
Indonesia jenis campuran aspal panas yang lazim digunakan antara lain : Aspal Beton,
Hot RoIIed Sheet (HRS), dan Split Mastic Asphalt (SMA). Banyak dilakukan
percobaan-percobaan dengan menambahkan bahan tambahan untuk meningkatkan
mutu perkerasan. Studi kepustakaan tentang penambahan bahan tambahan
memberikan pengaruh terhadap karakteristik masing-masing jenis campuran aspal
panas.
Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa setiap bahan tambahan memberikan
hasil yang berbeda-beda terhadap nilai stabilitas Marshall, flow, Void In Mix, Void
Filled Bitumen dan Marshall Ouotient. Untuk campuran aspal beton bahan tambahan
polyetilene dan lateks KKK 20 kadar 2% memberikan hasil yang memenuhi
spesifikasi aspal beton (kecuali parameter Marshall Quotient), pada Hot Rolled Sheet
bahan tambahan lateks KKK 20, gilsonite dan bahan yang mengandung bahan dasar
semen memberikan hasil yang memenuhi seluruh syarat spesifikasi HRS B, dan pada
campuran Split Mastic Asphalt aditif Viatop dan Vestoplast memberikan hasil yang
memenuhi syarat spesifikasi Split Mastic Asphalt.

1. Aplikasi Aspal Beton

Aspal Beton (Hotmix) secara luas digunakan sebagai lapisan


permukaan konstruksi jalan dengan lalu lintas berat, sedang, ringan, dan
lapangan terbang, dalam kondisi segala macam cuaca.

2. Jenis Aspal Beton

Berdasarkan bahan yang digunakan dan kebutuhan desain konstruksi


jalan aspal Beton mempunyai beberapa jenis Antara Lain :

a. Asphalt Traeted Base ( ATB ) dengan tebal minimum 5 cm digunakan


sebagai lapis pondasi atas konstruksi jalan dengan lalu lintas berat / tinggi.
b. Binder Course ( BC ) dengan tebal minimum 4 cm biasanya digunakan
sebagai lapis kedua sebelum wearing course.
c. Wearing Course ( AC ) / Laston dengan tebal penggelaran minimum 4
Cm digunakan sebagai lapis permukaan jalan dengan lalu lintas berat.
d. Hot Roller Sheet ( HRS ) / Lataston / laston 3 dengan tebal
penggelaran minimum 3 s/d 4 cm digunakan sebagai lapis permukaan
konstruksi jalan dengan lalu lintas sedang.
e. Fine Grade ( FG ) dengan tebal minimum 2,8 cm maks 3 cm bisanya
digunakan untuk jalan perumahan dengan beban rendah.
f. Sand Sheet dengan tebal Maximum 2,8 cm biasanya digunakan untuk jalan
perumahan dan perparkiran.
3. Kelebihan Aspal Beton ( HOTMIX )

1. Lapisan konstruksi Aspal beton tidak peka terhadap air, (kedap air )
2. Dapat dilalui kendaraan setelah pelaksanaan penghamparan .
3. Mempunyai sifat flexible sehingga mempunyai kenyamanan bagi pengendara.
4. Waktu pekerjaan yang relatif sangat cepat sehingga terciptanya efesiensi
waktu.
5. Stabilitas yang tinggi sehingga dapat menahan beban lalu lintas tanpa
terjadinya deformasi.
6. Tahan lama terhadap gesekan lalu lintas dan cuaca.
7. Pemeliharaan yang relative mudah dan murah.
8. Ekonomis.

2.5 Pengujian

1. Uji Penetrasi
Langkah Kerja Pengujian Penetrasi

1. Tuang bahan uji ke kap penetrasi, diamkan 1 - 2 jam pada suhu ruang
2. Rendam dalam bak air 25 oC, selama 1 - 2 jam
3. Bersihkan jarum penetrasi dan pasang pada alat uji
4. Letakkan pemberat 50 gr pada pemegang jarum
5. Pindahkan contoh ke dalam bak air kecil 25oC.
6. Atur jarum hingga bertemu dengan permukaan benda uji (aspal).
7. Lepaskan jarum selama 5 + 0,1 detik.
8. Tekan penunjuk penetrometer dan baca angka penetrasinya.
9. Angkat jarum perlahan-lahan, lakukan pengujian 3 kali, tiap titik
pemeriksaan dan bagian tepi kap + 1 cm.
2. Uji Daktilitas

Langkah kerja Pengujian Daktilitas


1. Lapisi cetakan dengan campuran talk, pasanglah cetakan dakilitas di atas plat
dasar
2. Tuang bahan uji dalam cetakan dari ujung ke ujung hingga penuh berlebih.
3. Dinginkan cetakan pada suhu ruang selama 30 - 40 menit.
4. Rendam di dalam bak perendam bersuhu 25oC selama 30 menit, ratakan
contoh dengan spatula
5. Diamkan benda uji pada suhu 25oC dalam bak perendam selama 85 90
menit.
6. Lepaskan benda uji dari plat dasar dan sisi -sisi cetakan. Pasang benda uji
pada mesin uji dan tarik benda uji sampai putus
7. Bacalah jarak antara pemegang benda uji pada saat benda uji putus (cm)
3. Uji Titik Lembek

Langkah Kerja Pengujian Titik Lembek


1. Panaskan aspal + 25 gr hingga cair
2. Letakkan 2 buah cincin di atas pelat kuningan yang telah diolesi talk-
gliserol
3. Tuang contoh ke dalam ring cetakan diamkan pada suhu ruang selama 30
menit.
4. Ratakan permukaan contoh dengan pisau.
5. Pasang kedua benda uji ,
6. Masukkan pada bejana gelas berisi air suling bersuhu 5 + 1oC
7. Rendam di dalam air pada suhu 5 oC selama 15 menit
8. Pasang termometer khusus untuk penentuan titik lembek
9. Letakkan bola baja di atas benda uji
10. Panaskan bejana dengan kenaikan suhu air 5 oC/menit,
11. Atur kecepatan pemanasan untuk 3 menit pertama 5 oC + 0,5 per menit
12.Catat temperatur yang ditunjukkan saat bola baja jatuh
4. Uji Titik Nyala dan Titik Bakar
Langkah Kerja Pengujian Titik Nyala (Flash Point)
1. Panaskan contoh aspal + 100 gr pada 140oC sampai cukup cair.
2. Isilah cawan Cleaveland sampai garis batas dan hilangkan gelembung udara.
Letakkan cawan di atas plat pemanas, atur letak sumber panas
3. Letakkan nyala penguji, Gantungkan termometer diatas dasar cawan.
Atur posisi thermometer.
4. Tempatkan penahan angin, nyalakan sumber pemanas, atur hingga Kenaikan
suhu 15 + 1 oC/menit sampai mencapai suhu 56 oC di bawah titik nyala
perkiraan.
5. Atur kecepatan pemanasan 5 - 6 oC/menit pada suhu antara 56 oC dan 28oC di
bawah titik nyala perkiraan. Nyalakan nyala penguji dan atur diameter nyala
penguji.
6. Putar nyala penguji hingga melalui permukaan cawan (dari tepi ke tepi cawan)
dalam waktu 1 detik, Ulangi setiap kenaikan 2oC sampai terlihat nyala singka.
Baca suhu pada termometer dan catat.
5. Uji Vikositas

Langkah Kerja Pengujian Vikositas

1. Tempatkan tabung berisi benda uji dengan mengguanakan alat penjepit ke


wadah pemanas, kemudian tempatkan viscometer tepat diatas wadah pemanas.
2. Pasang spindel ke viskometer dan turunkan viscometer hingga spindel masuk
kedalam benda uji, biarkan aspal sampai mencapai temperature pengujian
yang konstan selam 15 menit.
3. Jalankan viskometer sesuai petunjuk operasionalnya, kemudian catat tiga
pembacaan setiap 60 detik dari masing-masing temperature pengujian.
4. Lakukan prosedur yang sama untuk setiap temperature pengujian yang
diinginkan.
5. Kalikan faktor viskositas dengan pembacaan viskometer untuk mendapatkan
viskositas dalam centipois (cP).
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Aspal

3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA